Antara Voluntarisme, Buzzer dan Keberpihakan 0 1099

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Pembaca ingat beberapa hari ini Presiden Jokowi dituduh macam-macam karena mengundang para selebtwit ke istana? Kelompok seberang menganggap ini sebagai “balas budi” Jokowi atas jasa mereka sebagai buzzer. Benar-tidaknya tudingan itu bukanlah urusan kita, biarlah itu abadi di hati masing-masing.

Tapi begini, sekalipun banyak mudharat dan remuknya kohesi sosial yang tak terbayangkan, salah satu kabar baik dari kompetisi super panas pemilu(kada) adalah tumbuhnya voluntarisme politik. Pendek kata, di sana telah tercipta sikap kesukarelaan, tanpa bayaran dan iming-iming lain. Salurannya bisa macam-macam, termasuk media sosial, termasuk twitter, facebook, dan sejenisnya, termasuk yang dikelola oleh para buzzer itu.

Siapapun barangkali bersepakat jika tingginya sikap voluntaristik atau kesukarelawanan telah mendorong cukup harapan untuk masa depan politik. Dengan itu, situasi politik hari ini tak lagi melulu dibaca secara sinis sebagai pesta pora tim sukses. Sebab, jika tim sukses mempraktikkan langkah dan tekanan-tekanan politik “resmi”, maka relawan menawarkan sebuah spontanisme, suatu refleks politik alamiah yang bebas dari manipulasi. Pergeseran penting ini menguatkan kembalinya kesadaran politik setelah dalam beberapa episode pemilu sebelumnya kesadaran itu terpelanting pada apatisme.

Lha, tapi bagaimana kalau fenomena buzzer itu adalah efek samping dari sikap voluntaristik? Bagaimana kalau mereka ternyata bagian dari tim sukses? Bagaimana kalau, menyitir om Pram, mereka sudah berpihak “sejak dalam pikiran”? Apa betul mereka-mereka ini tak ada faedahnya?

 

Antitesa Elite

Tumbuh-kembang dari psikologi politik voluntarisme disumbang sebagian besar oleh keyakinan bahwa politik tak boleh dilihat sebagai situs mati; ia harus dirawat dan diperbaiki, oleh tangan “kita” sendiri. Dalam voluntarisme, politik didefinisikan ulang dengan penekanan pada dua kata kunci: perubahan dan “kita”. (Note: pembaca, hamba sesungguhnya malu menggunakan istilah “kita”, karena sejak lama hamba cuma modal dengkul dan biasa titip absen di tiap hajatan pemilu. Harap maklum).

Persis di situ persoalan menyembul, seberapa kuatkah ikatan “kita”? Dan jika kata kunci pertama tak terpenuhi, apa yang lantas dikerjakan oleh “kita”?

Tarikan historis tentang apatisme dapat terlacak mudah sebagai balasan atas politik represif Orde Baru. Orang malas terlibat politik karena khawatir direcoki aparat, dikuntit, dan paling apes, diculik. Tetapi, pelacakan atas voluntarisme dan gejala kemunculannya tidak mudah diidentifikasi. Tidak ada organisasi resmi yang terikat dengan partai atau elite, pun tak ada garis komando struktural atau anggaran dasar yang bisa dikenali. Gejalanya muncul tanpa peringatan, kreatif, dan spontan.

Penting dicatat, ada satu ciri mencolok yang membedakannya dari gerakan politik lain: non-elite. Kalau sampeyan periksa nama-nama seleb dunia maya, yang ngaku jadi relawan dan pada akhirnya juga menjelma menjadi buzzer, sebagian besarnya dari orang-orang biasa, yang kebetulan punya modal cerewet. Mereka bukan elite politik.

Dalam hubungannya dengan itu, voluntarisme sebetulnya mendapatkan tantangan serius justru dari dalam dirinya sendiri. Dalam imajinasi sebagian besar anak muda volunteer, tidak gampang membayangkan sekaligus membandingkan keterbukaan politik masa sekarang dan kesempatan partisipasi di dalamnya, dengan apa yang pernah terjadi pada masa Orde Baru. Kesulitan ini bukannya merugikan. Tanpa bekal pengalaman politik itu, imajinasi tak lengkap ini justru menguntungkan karena berhasil memutus ketergantungan referensial atas masa lalu, dan mengalihkannya ke bayangan masa depan. Orientasi ke depan—dan bukan ke belakang—ini memberi dasar kuat sebuah gerakan voluntaristik, yang tak pernah bisa dicapai oleh elite dalam periode mana pun.

Maka, jika mode orientasi ke depan ini dipakai sebagai titik berangkat, sudah tentu sikap voluntarisme ingin menghapus keragu-raguan yang kerap muncul, bahwa gerak menggebu voluntarisme akan berhenti setelah misi pemenangan pemilu tercapai. Ini sebabnya, voluntarisme tak tertarik untuk bergabung ke dalam lingkaran kekuasaan, dan sebagaimana watak dasarnya, ia memilik sikap menjaga jarak secara harfiah. Artinya, berbeda dengan sikap jaga-jarak kelompok oposisi yang dilahirkan dari kekalahan atas perebutan sumber daya politik, voluntarisme sejak awal tak pernah bercita-cita untuk terlibat masuk secara intens ke dalam struktur politik, sehingga kritisisme dalam situasi jaga-jarak yang dihasilkannya jauh lebih genuine. Paragraf barusan ini memang seperti doa. Amin

Jika kelompok oposisi terikat dengan logika kekuasaan beserta atribut kompromi di dalamnya, semangat voluntaristik muncul dari keleluasaan. Kelompok ini akan menjadi cerewet, kritis, dan sukar dipukul balik. Bahkan sebuah upaya represif dan paling sistematis sekalipun akan kesulitan untuk mendisiplinkan gerakan kreatif yang sporadis, mencair, anonim, dan dikerjakan secara massif. Ini menjelaskan mengapa Jonru bisa melenggang dengan berani tanpa pernah terjerat hukum, meski belakangan ia keder juga diancam pelaporan penghinaan.

Voluntarisme, dengan demikian, adalah kondisi yang sangat langka dalam konstelasi politik modern yang cenderung pragmatis, lebih-lebih pada konteks Indonesia yang bertahun-tahun kering ide-ide politik. Selain memberi kesempatan baru bagi publik dalam mereposisi hubungannya vis a vis negara, voluntarisme juga menjadi alarm politik bagi pragmatisme itu sendiri. Meski ada saja buzzer dan para sukarelawan yang akhirnya dengan ngelunjak meminta jatah kekuasaan ini itu, tapi pada ghalibnya ia tetap dibutuhkan: minimal sebagai penyedia panggung perdebatan. Indonesia, pembaca tahu, adalah negeri yang telah lama absen dalam perdebatan.

Kini muncul kelompok yang luar biasa kritis dan militan, yang tanpa lelah siap mencereweti siapapun yang dianggap menyimpang.

 

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Semua Akan Korea Pada Waktunya, Tapi Gak Gini Juga 0 249

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

“Semua akan Korea pada waktunya”, begitulah kalimat yang dapat mewakili kondisi masyarakat negara +62.

Sempat menghina K-pop-ers dengan sebutan alay karena dianggap mengidolakan artis-artis negeri ginseng, kini wajah mulus tak bercela para artis Korea ramai kita jumpai di iklan-iklan merek lokal. Bisa dibilang para artis Korea tersebut dijadikan koentji dalam marketing produk dan jasa.

Kapan hari, internet diguncang berita aktris Felicya Angelista yang diwujudkan ngidamnya oleh sang suami untuk video call bersama pemeran Mas Mafia Vincenzo, Song Joong Ki (baca lagi: Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea).

Usai viral karena dianggap fan yang beruntung, muncullah berita aktor “Space Sweepers” tersebut didapuk sebagai brand ambassador skinker milik Felicya, Scarlett Whitening. Hancik, cuma marketing ternyata. Hampir bersamaan, muncul lagi berita yang menyebutkan bahwa boy group TREASURE akan menjadi brand ambassador bimbingan belajar online “penguasa” stasiun televisi kita, Ruangguru.

Pemilihan artis Korea sebagai brand ambassador merek lokal bukanlah hal baru.  Tahun 2016 silam, aktor “The Heirs” Lee Min Ho didapuk jadi brand ambassador Luwak White Koffie. Kemudian, cara ini diikuti oleh Mie Sedap yang menjadikan Siwon “Super Junior” sebagai brand ambassador-nya untuk mempromosikan mie rasa ayam pedas korea. Lalu, disusul Tokopedia yang membuat kita ter-kamcagiya (kaget) dengan menggandeng boy group terpopuler segalaksi bima sakti dalam promosinya.

Memang menggandeng artis Korea bisa menjadi jalan ninja untuk mempopulerkan merek produk atau jasa. Merek tersebut akan seketika menjadi buah bibir para fans artis Korea, baik membicarakan artis idola mereka atau sangking tajir melintirnya perusahaan tersebut.

Buktinya, permen Kopiko selalu menjadi buah bibir dan viral setiap permen rasa kopi tersebut muncul di adegan-adegan drama Vincenzo dan Mine. Benar-benar tidak rugi setelah menggelontorkan miliyaran rupiah!

Selain menjadi populer, produk atau jasa dijamin akan laris manis setelah memilih artis Korea sebagai bintang iklan mereka. Itu karena kesetiaan para fans artis Korea untuk mendukung artis idola mereka yang tidak dapat diragukan lagi.

Masih ingat kan dengan kasus antre menu BTS Meal dari McDonald’s? Jangankan dijadikan bintang iklan, lha wong barang yang “nampil” di siaran langsung artis Korea saja bisa ludes dibeli para fans.

Mungkin Korean celebrity endorsement bisa menjadi marketing tool yang sangat efektif, tapi mbok ya artisnya disesuaikan dengan mereknya. Misalnya, pemilihan boy group TREASURE sebagai brand ambassador Ruangguru. Jujurly, menurut saya sangat aneh karena boy group ini tidak memiliki sangkut paut dengan dunia pendidikan.

Masih banyak artis yang terkenal memiliki prestasi akademik semasa sekolah seperti Cha Eun Woo “ASTRO” atau Giselle “aespa” yang lebih bisa merepresentasikan merek tersebut.

Dan anehnya lagi, produk dan jasa yang memakai artis Korea tersebut tidak merambah pasar Koerea Selatan. Saya bisa memaklumi Kopiko yang mengeluarkan uang miliyaran rupiah untuk menjadi sponsor beberapa drama korea, karena mereka memang memasarkan kopi tersebut ke sana.

Tapi, bagaimana dengan Scarlett Whitening? Apakah Anda yakin wajah putih mulus Song Joong Ki didapat dari memakai produk tersebut, lha wong produknya aja tidak ada di sana.

Meski menjadi marketing tool yang efektif, saya berharap Korean celebrity endorsement ini tidak dijadikan tren yang “wajib” diikuti. Masih banyak, kok artis Indonesia yang mampu merepresentasikan sebuah merek, apalagi untuk menjadikan iklan menjadi viral.

Contohnya  pemilihan komika Babe Cabita sebagai brand ambassador menjadikan iklan MS Glow menjadi viral. Meski banyak yang sewot karena Babe Cabita kurang ganteng, tapi menurut iklan tersebut sangat realistis dan relatable. Karena, wajah Babe Cabita yang lebih glowing seusai menggunakan produk MS Glow jauh lebih bisa dipercaya dari pada wajah mulus Song Joongki usai menggunakan skinker lokal, hehe.

 

 

Panduan Killing Time 12 Tahun untuk yang Terkasih, Pak Juliari 0 252

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

 

Majelis hakim Pengadilan Tipikor sudah ketok palu vonis terhadap mantan Mensos Juliari Peter Batubara 12 tahun penjara dan denda 500 juta subsidair 6 bulan kurungan. Juliari terbukti sah menerima suap 10 ribu rupiah per bansos alias 32,4 M kalo dikumpulin.

Kami gak mau membuli seperti yang mahabenar tuan dan nyonya netijen. Kami tahu, betapa tersiksa batin Pak Juliari yang kami kasihi. Kalo katanya arek-arek saiki: sudah kena mental.

Apalagi, Bapak sempat memohon belas kasih buat meringankan hukuman, karena tak bisa membayangkan akan meninggalkan anak istri di rumah. Sungguh sebuah teladan family man bagi kaum penerus bangsa. Poin ini lebih membuat kami tak tega menambah-nambahi beban Bapak dengan sumpah serapah (karena porsi itu sudah diamalkan netijen dengan sebaik-baiknya).

Untuk itu, pada kesempatan ini, kami justru ingin memberi sejumlah saran: panduan mengisi waktu selama nanti di kurungan. Tujuannya tentu agar Bapak tidak cepat bosan.

Panduan ini kami rasa manjur buat Bapak. Karena, sebagian besarnya sudah kami lakukan selama 1,5 tahun ke belakang, yang harus banyak-banyak di rumah karena terdampak pandemi (dan terdampak dapet bansos kualitas jelek gara-gara anggarannya dipotong).

Ini yang pertama, Pak. Bapak tentu ingat kopi dalgona yang sempat tenar itu. Sudah lama sekali tren membuatnya ditinggalkan dengan begitu cepat. Ada baiknya tren ini dihidupkan kembali.

Ikuti panduannya ya, Pak! Campurkan kopi hitam sachet pahitnya kehidupan dengan air panasnya neraka bagi koruptor. Kemudian aduk terus menerus dengan rasa ego sampai berbusa dan meluapkan keserakahan. Terakhir, letakkan buih kopi itu di atas segelas susu Bear Brand yang masih aja 15 ribu sampe sekarang. Selamat menikmati!

Cara ini cukup mudah Pak. Kami rasa, meminta kopi dan susu ke sipir penjara bukan suatu hal yang neko-neko kok. Pasti dikabulkan. Wong minta kamar VIP aja (udah pasti) dilayani kan, hehehehe.

Kedua, era pandemi ini eranya webinar, Pak. Hidup ini gak afdol kalo belum ikut webinar, minimal sekali seminggu. Tentu posisi Bapak bukan sebagai peserta yang cuma nunut “izin nyimak”. Pak Juliari mah pantesnya narasumber utama, keynote speaker.

Tema yang cocok tentu: “Say No to Korupsi!”. Masyarakat di Indonesia kita tercinta ini Pak, lebih percaya testimoni daripada hasil riset, soalnya mereka males baca. Kita lebih suka motivasi dari mereka yang telah berpengalaman dan sukses, ya seperti Bapak ini.

Materinya sederhana, Pak. Boleh dilengkapi power point yang eye-catching biar keliatan berkredibel. Inti pembicaraannya cuma ini: “Sumpah gais, dipenjara itu gak enak. Plis jangan korupsi! Ini gak di-endorse ya. Real testi”

Sasaran peserta buat webinar ini luas banget, Pak. Mulai dari pejabat rt-rw, sampai lingkaran pertama kayak jabatan terdahulu Bapak. Materinya bakal relateable. Dan semoga mampu menyadarkan mereka biar kapok korupsi. Yah, meskipun kalimat terakhir ini kayaknya utopis hehe.

Ketiga, coba deh, Pak, mulai nonton drama korea. Atau kalau langkah itu masih terlalu ekstrem buat Bapak, minimal nonton video klip boyband dan girlband korea. Saya jamin sih nagih, pengen lagi, pengen terus.

Bapak juga harus ingat, sebagian dari netijen kita ini penggemar apa-apa yang berbau Korea, Pak. Apapun yang trending nomer 1 di Twitter sudah pasti adalah hasil cuitan akun berfoto idol Kpop yang substansinya gak nyambung sama sekali sama topik yang lagi dibicarakan. Itu sudah pertanda seberapa menguasainya populasi mereka di alam dunia maya.

Artinya, ini bisa jadi langkah strategis Bapak untuk menguasai mereka. Mulai dengan menyukai apa yang mereka sukai, dekati, rayu, dan jadi akrab sama mereka. Bila perlu, kita bisa bikin ruang diskusi di Clubhouse yang bahas soal drakor terbaru, Pak.

Hukuman Bapak cuma empat tahun untuk tidak dipilih dalam jabatan publik. Empat tahun itu cuma kurang dari 1 periode presiden, Pak. Bentar itu, mah. Selanjutnya, netijen Korean wave yang sudah mencintai Bapak, tetap bisa menghantarkan Bapak ke kursi tertinggi di dunya ini.

Yah kalo impian ini sulit terwujud, setidaknya Bapak nanti tinggal ganti nama jadi JPB, bikin Youtube, dan bismillah komisaris BUMN.

Demikian panduan ini dibuat dengan sepenuh hati Pak. Kami percaya Bapak pasti bisa melalui cobaan ini semua dengan kepala tegak dan kebanggaan di dada. Kalo kami aja bisa melakukan hal-hal ini selama setahun di rumah aja, Bapak juga pasti bisa, tinggal dikaliin 12.

Editor Picks