Jika Netizen Jadi Sutradara 0 1247

Mari melintasi imajinasi! Jika akses menjadi sutradara perlu matang pengalaman, maka setidaknya kita masih punya jalan untuk berandai-andai. Terutama di era ini, bak ‘tuhan’, siapa pun yang memiliki kesempatan atas media sosial berhak ‘menciptakan dunia’. Hal-hal paling mustahil pun jadi nyata. Sebut saja anak balita yang sudah punya akun pribadi Instagram dan masalah domestik artis yang naik jadi top trending topic bukan bahasa asing lagi kini.

Maka, semoga judul di atas tak terlalu berlebihan. Karena memang netizen punya otoritas penuh untuk menciptakan ‘film’nya sendiri.

Jangan katakan pekerjaan mereka hanya mencari sensasi dan kemudian tak bisa menggali peningkatan diri. Mereka mengolah gagasan dengan cara menyenangkan, misalnya menggarap meme. Jika boleh meminjam definisi dari Richard Dawkins, ia menyebut meme sebagai bentuk transmisi budaya melalui replikasi ide, gagasan, yang merasuk ke dalam kognisi manusia. Dalam prakteknya kemudian, meme hadir sebagai gambar yang diberi tautan teks dan bersifat kontekstual serta menjadi sebuah gaya komunikasi baru di kalangan warga net.

Para pembuat meme ini kemudian – dirasa sangat layak menurut penulis – untuk disebut sebagai lumbung penyumbang karya kreatif bagi industri zaman ini. Mereka lah yang mencipta tren berdasar apa yang sedang ramai diperbincangkan khalayak. Atau bahkan, mereka sendiri yang meramu tren itu, dari tiada menjadi berada, ‘iseng-iseng berhadiah’. Jika kita sibuk membicarakannya, mereka justru hadir dengan karya.

Bayangkan saja, hingga detik ini, ada berapa banyak tren meme yang sudah melalangbuana dalam linimasa kita. Mulai dari ‘sudah kuduga’ hingga ‘eta terangkanlah’. Dari musim ‘mantan,maafkan aku yang dulu’ sampai ‘om telolet om’. Semua istilah baru dalam media sosial ini lantas menjadi top search karena eksistensi dan kesediaan para pembuat meme dalam mengaduk-aduk ide.

Lantas, para wanita bumi ini tak perlu bingung mencari ‘yang peka’. Lihat saja para pencipta meme ini! Bagi mereka, sumber ide mudah saja dijumpai layaknya oksigen. Mereka mencari tahu isu-isu teraktual di sekitar, memberinya sentuhan humor, menambahkan rasa personal, diolah jadi mahakarya. Memakai istilah Everett M. Rogers dalam Diffusion of Innovation, mereka inilah yang disebut innovators, yang hanya 2,5% dari populasi manusia dunia.Innovators adalah mereka yang secara aktif sebagai information-seeker tentang ide-ide terbaru.

Bagaimana tidak, perjalanan cinta Raisa-Hamish saja bisa diolah menjadi berbagai alternatif meme. Mulai dari #HariPatahHatiNasional sampai yang paling nakal sekalipun: membayangkan malam pertama mereka. Belum lagi di ladang politik, pembuat meme ini jauh lebih beringas, sebab supporternya makin radikal (karena bukankah politik sudah sebanding agama ketika sampai pada perjuangan?). Maka, jangan heran bila di momen September ceria ini, netizen lagi-lagi tak jera memunculkan isu lama yang penuh darah luka: G30S PKI.

Indonesia yang selalu komunis-phobia atau PKI-phobia ini dilandasi pro-kontra terkait pemutaran kembali film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI yang berbelit. Justru, meme kocak memenuhi laman media sosial, tak jadi membuat kita berseteru beradu argumen. Salah satunya adalah plesetan poster film seperti ini.

Karya yang lantas tidak-mungkin-tidak mengundang tawa ini bukan akibat penyakit pengangguran akut para pembuat meme. Jika ditelaah, apresiasi terbesar justru harus kita berikan atas kejelian remake poster ini. Seluruh font dan komponen poster dibuat sama persis, kemudian mengganti wajah semua aktor dengan wajah Reza Rahadian. Ada dua isu besar yang berhasil dibawa ke permukaan oleh si pembuat yang mengaku sebagai @bangbenson.

Pertama, tentu saja isu film dokumenter sarat propagranda ini. Sungguh bukan rahasia lagi jika film ini memang sebagai ajang unjuk gigi Presiden Soeharto agar dianggap pahlawan. Remake dengan cara jenaka yang satu ini sejenak membuat kita istirahat dari diskusi serius ide tentang pemutaran kembali film ini, screening setiap menjelang 30 September, semua tentang PKI dan PKI, dan seterusnya.

Kedua, wajah Reza Rahadian sebagai kandidat terkuat pengisi remake poster ini. Aktor yang sudah berkarir lebih dari satu dekade ini sudah dihafal penggemar sinema Indonesia mulai dari jabang bayi hingga kakek-nenek. Bagaimana tidak, ia selalu menjadi pemeran di film-film terbaik Indonesia misalnya sebagai Tjokroaminoto dan Habibie. Selain itu, sosoknya memang selalu nampang mendominasi perfilman tanah air.

Walau dilengkapi dengan sederetan prestasi sepertinya tak lagi membuat Reza Rahadian jadi idola eksklusif di film-film Indonesia. Sehingga jika netizen jadi sutradara, reka adegan remake film karya Arifin C. Noer berdurasi empat jam ini layaknya akan laku keras jika diperankan Reza Rahadian.Entah menimbulkan tawa pahit atau patah hati remuk redam bagi khalayak di luar sana, isu tentang Reza Rahadian yang mendominasi wajah film Indonesia bisa jadi potongan hilang yang semakin pas untuk mengisi serba-serbi G30S PKI.

Selain itu, masih banyak juga potongan adegan dalam film ini yang dijadikan meme. Kesemuanya diseret dalam konteks hidup kekinian, disambungkan dan disandingkan dengan gaya pikir era milenial. Berikut ini contoh-contoh tampilan adegan film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI rebornjika netizen yang jadi sutradaranya.

Pada akhirnya, di luar segala perdebatan sengit antara pihak yang setuju dan tidak setuju tentang pemutaran kembali film terlaris di tahun 1984-1985 ini, para pembuat meme menyadarkan kita bahwa tertawa itu perlu. Yang paling penting, berandai-andai jadi sutradaranya juga perlu, selagi tak dipungut biaya apalagi dimintai saham oleh ‘Papa’.

Terwujud sudah mantra ‘ada-ada saja ulah netizen’. Alih-alih dianggap ‘kurang kerjaan’, mereka rela menggapai gagasan, mengejar isu, dan menyajikan karya layak tawa.

 

-Putri Demes Dharmesty-

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 340

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Surat untuk Bu Pemred dan Semua Anak Jakarte 0 124

Jokowi yang baru-baru saja melempar isu ibukota baru harus bertanggung jawab pada banyak hal. Mula-mula, ehm, ya tentang tuduhan bahwa “Jakarta baru” di Borneo sana adalah semacam pembelokan isu. Tapi tuduhan macam ini biasanya diselesaikan oleh buzzer-buzzer aktip kreatip, jadi kita skip untuk sementara.

Soal serius dari ini: siapa yang mengobati sakit hati Bu Demes yang sudah telanjur tinggal di Jakarta, dan ketika lagi sayang-sayangnya malah ditinggal minggat status ke-ibukota-annya? Berlaku pula teruntuk pesohor-pesohor yang menjadi besar nyali artisnya lantaran status ibukota.

Saya pernah suatu ketika menyimak obrolan superior mahasiswa “lo-gue” yang di telinga bikin geli tapi menarik. Mereka membahas mengapa hidup di Jakarta “ngangenin”, kendati macetnya sungguh luar bioskop, belum lagi polutan-polutan yang biadab. Kata salah satu tokoh dalam obrolan itu (tampaknya ia salah satu selebgram, dilihat dari alis mata dan warna semir rambutnya yang, ehm, keluar lintasan): “..yaa gimana2 jakarta tuh pusat. Lo mo ngomong macet kek, tapi semua-mua dari sana”.

Asoi betul logikanya. Dan dalam beberapa hal betul.

Tapi apa yang ditawarkan Jokowi dari perpindahan Ibukota? Atau sebetulnya tak perlu resep penawar apa-apa bagi mereka yang sudah telanjur sayang? Bagi mereka yang sudah kepalang mengadu nasib di Jakarta? Atau, yang paling gaswat, jangan-jangan tak perlu solusi apapun tentang ini karena perpindahan itu ada atau tiadanya tak punya dampak apapun?

Apa mau syahrini pindah ke Kaltim dan menjadi artis bau tambang? Atau sinetron-sinetron menjadi belepotan dan pada akhirnya membuat semacam reality show “apa dan bagaimana hidup di tengah tambang”?

Jika pada akhirnya perpindahan ibukota Cuma soal pindah status, yaa lalu yang berpindah apanya. Apakah tak ada cara lain yang lebih elegan untuk bakar duit?

Skian dan terima gadis.

 

Joni Locke

Belajar filsahwat, merantau ke negeri jauh.

Editor Picks