Jika Netizen Jadi Sutradara 0 1055

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Mari melintasi imajinasi! Jika akses menjadi sutradara perlu matang pengalaman, maka setidaknya kita masih punya jalan untuk berandai-andai. Terutama di era ini, bak ‘tuhan’, siapa pun yang memiliki kesempatan atas media sosial berhak ‘menciptakan dunia’. Hal-hal paling mustahil pun jadi nyata. Sebut saja anak balita yang sudah punya akun pribadi Instagram dan masalah domestik artis yang naik jadi top trending topic bukan bahasa asing lagi kini.

Maka, semoga judul di atas tak terlalu berlebihan. Karena memang netizen punya otoritas penuh untuk menciptakan ‘film’nya sendiri.

Jangan katakan pekerjaan mereka hanya mencari sensasi dan kemudian tak bisa menggali peningkatan diri. Mereka mengolah gagasan dengan cara menyenangkan, misalnya menggarap meme. Jika boleh meminjam definisi dari Richard Dawkins, ia menyebut meme sebagai bentuk transmisi budaya melalui replikasi ide, gagasan, yang merasuk ke dalam kognisi manusia. Dalam prakteknya kemudian, meme hadir sebagai gambar yang diberi tautan teks dan bersifat kontekstual serta menjadi sebuah gaya komunikasi baru di kalangan warga net.

Para pembuat meme ini kemudian – dirasa sangat layak menurut penulis – untuk disebut sebagai lumbung penyumbang karya kreatif bagi industri zaman ini. Mereka lah yang mencipta tren berdasar apa yang sedang ramai diperbincangkan khalayak. Atau bahkan, mereka sendiri yang meramu tren itu, dari tiada menjadi berada, ‘iseng-iseng berhadiah’. Jika kita sibuk membicarakannya, mereka justru hadir dengan karya.

Bayangkan saja, hingga detik ini, ada berapa banyak tren meme yang sudah melalangbuana dalam linimasa kita. Mulai dari ‘sudah kuduga’ hingga ‘eta terangkanlah’. Dari musim ‘mantan,maafkan aku yang dulu’ sampai ‘om telolet om’. Semua istilah baru dalam media sosial ini lantas menjadi top search karena eksistensi dan kesediaan para pembuat meme dalam mengaduk-aduk ide.

Lantas, para wanita bumi ini tak perlu bingung mencari ‘yang peka’. Lihat saja para pencipta meme ini! Bagi mereka, sumber ide mudah saja dijumpai layaknya oksigen. Mereka mencari tahu isu-isu teraktual di sekitar, memberinya sentuhan humor, menambahkan rasa personal, diolah jadi mahakarya. Memakai istilah Everett M. Rogers dalam Diffusion of Innovation, mereka inilah yang disebut innovators, yang hanya 2,5% dari populasi manusia dunia.Innovators adalah mereka yang secara aktif sebagai information-seeker tentang ide-ide terbaru.

Bagaimana tidak, perjalanan cinta Raisa-Hamish saja bisa diolah menjadi berbagai alternatif meme. Mulai dari #HariPatahHatiNasional sampai yang paling nakal sekalipun: membayangkan malam pertama mereka. Belum lagi di ladang politik, pembuat meme ini jauh lebih beringas, sebab supporternya makin radikal (karena bukankah politik sudah sebanding agama ketika sampai pada perjuangan?). Maka, jangan heran bila di momen September ceria ini, netizen lagi-lagi tak jera memunculkan isu lama yang penuh darah luka: G30S PKI.

Indonesia yang selalu komunis-phobia atau PKI-phobia ini dilandasi pro-kontra terkait pemutaran kembali film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI yang berbelit. Justru, meme kocak memenuhi laman media sosial, tak jadi membuat kita berseteru beradu argumen. Salah satunya adalah plesetan poster film seperti ini.

Karya yang lantas tidak-mungkin-tidak mengundang tawa ini bukan akibat penyakit pengangguran akut para pembuat meme. Jika ditelaah, apresiasi terbesar justru harus kita berikan atas kejelian remake poster ini. Seluruh font dan komponen poster dibuat sama persis, kemudian mengganti wajah semua aktor dengan wajah Reza Rahadian. Ada dua isu besar yang berhasil dibawa ke permukaan oleh si pembuat yang mengaku sebagai @bangbenson.

Pertama, tentu saja isu film dokumenter sarat propagranda ini. Sungguh bukan rahasia lagi jika film ini memang sebagai ajang unjuk gigi Presiden Soeharto agar dianggap pahlawan. Remake dengan cara jenaka yang satu ini sejenak membuat kita istirahat dari diskusi serius ide tentang pemutaran kembali film ini, screening setiap menjelang 30 September, semua tentang PKI dan PKI, dan seterusnya.

Kedua, wajah Reza Rahadian sebagai kandidat terkuat pengisi remake poster ini. Aktor yang sudah berkarir lebih dari satu dekade ini sudah dihafal penggemar sinema Indonesia mulai dari jabang bayi hingga kakek-nenek. Bagaimana tidak, ia selalu menjadi pemeran di film-film terbaik Indonesia misalnya sebagai Tjokroaminoto dan Habibie. Selain itu, sosoknya memang selalu nampang mendominasi perfilman tanah air.

Walau dilengkapi dengan sederetan prestasi sepertinya tak lagi membuat Reza Rahadian jadi idola eksklusif di film-film Indonesia. Sehingga jika netizen jadi sutradara, reka adegan remake film karya Arifin C. Noer berdurasi empat jam ini layaknya akan laku keras jika diperankan Reza Rahadian.Entah menimbulkan tawa pahit atau patah hati remuk redam bagi khalayak di luar sana, isu tentang Reza Rahadian yang mendominasi wajah film Indonesia bisa jadi potongan hilang yang semakin pas untuk mengisi serba-serbi G30S PKI.

Selain itu, masih banyak juga potongan adegan dalam film ini yang dijadikan meme. Kesemuanya diseret dalam konteks hidup kekinian, disambungkan dan disandingkan dengan gaya pikir era milenial. Berikut ini contoh-contoh tampilan adegan film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI rebornjika netizen yang jadi sutradaranya.

Pada akhirnya, di luar segala perdebatan sengit antara pihak yang setuju dan tidak setuju tentang pemutaran kembali film terlaris di tahun 1984-1985 ini, para pembuat meme menyadarkan kita bahwa tertawa itu perlu. Yang paling penting, berandai-andai jadi sutradaranya juga perlu, selagi tak dipungut biaya apalagi dimintai saham oleh ‘Papa’.

Terwujud sudah mantra ‘ada-ada saja ulah netizen’. Alih-alih dianggap ‘kurang kerjaan’, mereka rela menggapai gagasan, mengejar isu, dan menyajikan karya layak tawa.

 

-Putri Demes Dharmesty-

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 271

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks