Jika Netizen Jadi Sutradara 0 1696

Mari melintasi imajinasi! Jika akses menjadi sutradara perlu matang pengalaman, maka setidaknya kita masih punya jalan untuk berandai-andai. Terutama di era ini, bak ‘tuhan’, siapa pun yang memiliki kesempatan atas media sosial berhak ‘menciptakan dunia’. Hal-hal paling mustahil pun jadi nyata. Sebut saja anak balita yang sudah punya akun pribadi Instagram dan masalah domestik artis yang naik jadi top trending topic bukan bahasa asing lagi kini.

Maka, semoga judul di atas tak terlalu berlebihan. Karena memang netizen punya otoritas penuh untuk menciptakan ‘film’nya sendiri.

Jangan katakan pekerjaan mereka hanya mencari sensasi dan kemudian tak bisa menggali peningkatan diri. Mereka mengolah gagasan dengan cara menyenangkan, misalnya menggarap meme. Jika boleh meminjam definisi dari Richard Dawkins, ia menyebut meme sebagai bentuk transmisi budaya melalui replikasi ide, gagasan, yang merasuk ke dalam kognisi manusia. Dalam prakteknya kemudian, meme hadir sebagai gambar yang diberi tautan teks dan bersifat kontekstual serta menjadi sebuah gaya komunikasi baru di kalangan warga net.

Para pembuat meme ini kemudian – dirasa sangat layak menurut penulis – untuk disebut sebagai lumbung penyumbang karya kreatif bagi industri zaman ini. Mereka lah yang mencipta tren berdasar apa yang sedang ramai diperbincangkan khalayak. Atau bahkan, mereka sendiri yang meramu tren itu, dari tiada menjadi berada, ‘iseng-iseng berhadiah’. Jika kita sibuk membicarakannya, mereka justru hadir dengan karya.

Bayangkan saja, hingga detik ini, ada berapa banyak tren meme yang sudah melalangbuana dalam linimasa kita. Mulai dari ‘sudah kuduga’ hingga ‘eta terangkanlah’. Dari musim ‘mantan,maafkan aku yang dulu’ sampai ‘om telolet om’. Semua istilah baru dalam media sosial ini lantas menjadi top search karena eksistensi dan kesediaan para pembuat meme dalam mengaduk-aduk ide.

Lantas, para wanita bumi ini tak perlu bingung mencari ‘yang peka’. Lihat saja para pencipta meme ini! Bagi mereka, sumber ide mudah saja dijumpai layaknya oksigen. Mereka mencari tahu isu-isu teraktual di sekitar, memberinya sentuhan humor, menambahkan rasa personal, diolah jadi mahakarya. Memakai istilah Everett M. Rogers dalam Diffusion of Innovation, mereka inilah yang disebut innovators, yang hanya 2,5% dari populasi manusia dunia.Innovators adalah mereka yang secara aktif sebagai information-seeker tentang ide-ide terbaru.

Bagaimana tidak, perjalanan cinta Raisa-Hamish saja bisa diolah menjadi berbagai alternatif meme. Mulai dari #HariPatahHatiNasional sampai yang paling nakal sekalipun: membayangkan malam pertama mereka. Belum lagi di ladang politik, pembuat meme ini jauh lebih beringas, sebab supporternya makin radikal (karena bukankah politik sudah sebanding agama ketika sampai pada perjuangan?). Maka, jangan heran bila di momen September ceria ini, netizen lagi-lagi tak jera memunculkan isu lama yang penuh darah luka: G30S PKI.

Indonesia yang selalu komunis-phobia atau PKI-phobia ini dilandasi pro-kontra terkait pemutaran kembali film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI yang berbelit. Justru, meme kocak memenuhi laman media sosial, tak jadi membuat kita berseteru beradu argumen. Salah satunya adalah plesetan poster film seperti ini.

Karya yang lantas tidak-mungkin-tidak mengundang tawa ini bukan akibat penyakit pengangguran akut para pembuat meme. Jika ditelaah, apresiasi terbesar justru harus kita berikan atas kejelian remake poster ini. Seluruh font dan komponen poster dibuat sama persis, kemudian mengganti wajah semua aktor dengan wajah Reza Rahadian. Ada dua isu besar yang berhasil dibawa ke permukaan oleh si pembuat yang mengaku sebagai @bangbenson.

Pertama, tentu saja isu film dokumenter sarat propagranda ini. Sungguh bukan rahasia lagi jika film ini memang sebagai ajang unjuk gigi Presiden Soeharto agar dianggap pahlawan. Remake dengan cara jenaka yang satu ini sejenak membuat kita istirahat dari diskusi serius ide tentang pemutaran kembali film ini, screening setiap menjelang 30 September, semua tentang PKI dan PKI, dan seterusnya.

Kedua, wajah Reza Rahadian sebagai kandidat terkuat pengisi remake poster ini. Aktor yang sudah berkarir lebih dari satu dekade ini sudah dihafal penggemar sinema Indonesia mulai dari jabang bayi hingga kakek-nenek. Bagaimana tidak, ia selalu menjadi pemeran di film-film terbaik Indonesia misalnya sebagai Tjokroaminoto dan Habibie. Selain itu, sosoknya memang selalu nampang mendominasi perfilman tanah air.

Walau dilengkapi dengan sederetan prestasi sepertinya tak lagi membuat Reza Rahadian jadi idola eksklusif di film-film Indonesia. Sehingga jika netizen jadi sutradara, reka adegan remake film karya Arifin C. Noer berdurasi empat jam ini layaknya akan laku keras jika diperankan Reza Rahadian.Entah menimbulkan tawa pahit atau patah hati remuk redam bagi khalayak di luar sana, isu tentang Reza Rahadian yang mendominasi wajah film Indonesia bisa jadi potongan hilang yang semakin pas untuk mengisi serba-serbi G30S PKI.

Selain itu, masih banyak juga potongan adegan dalam film ini yang dijadikan meme. Kesemuanya diseret dalam konteks hidup kekinian, disambungkan dan disandingkan dengan gaya pikir era milenial. Berikut ini contoh-contoh tampilan adegan film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI rebornjika netizen yang jadi sutradaranya.

Pada akhirnya, di luar segala perdebatan sengit antara pihak yang setuju dan tidak setuju tentang pemutaran kembali film terlaris di tahun 1984-1985 ini, para pembuat meme menyadarkan kita bahwa tertawa itu perlu. Yang paling penting, berandai-andai jadi sutradaranya juga perlu, selagi tak dipungut biaya apalagi dimintai saham oleh ‘Papa’.

Terwujud sudah mantra ‘ada-ada saja ulah netizen’. Alih-alih dianggap ‘kurang kerjaan’, mereka rela menggapai gagasan, mengejar isu, dan menyajikan karya layak tawa.

 

-Putri Demes Dharmesty-

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Kita dan Media Membungkus Gilang 0 479

Cerita murung bermula dari cuitan akun Twitter @m_fikris yang menceritakan kronologi bagaimana seorang laki-laki muda, dari suatu kampus kondang di Surabaya, melakukan pelecehan seksual secara verbal melalui pesan elektronik. Kisah pahit itu dijuduli dengan judul bombastis, macam portal berita onlen: “Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset dari Mahasiswa PTN di SBY”. Lantas, satu negara ini sejenak melupakan corona, berpindah gandrung pada ‘Gilang’, nama yang disebut-sebut menjadi pelaku pelecehan.

Cerita bertopik seks semacam ini, pembaca tahu, dengan cepat sambung-menyambung, berbalas, dan dibagikan secara meluas di linimasa. Tak hanya ramai di media sosial, yang bahkan sempat menduduki tingkatan teratas trending topic, ia ramai menjadi buah bibir tetangga, hingga agenda pemberitaan media massa.

Selain soal menumbuhkan kewaspadaan bersama, tapi lalu mengapa media, dan juga kita, sangat berambisi pada cerita-cerita semacam ini? Ada beberapa hal yang penulis ajukan di sini.

Pertama, media kita memang mudah sekali terangsang mengangkat berita-berita berbau seks. Apalagi ada anomali yang baru, fetish atau dorongan seksual dalam konteks kasus Gilang ini unik: napsu melihat orang yang dibungkus seperti pocong dengan kain jarik. Sayangnya, pembawaan berita berputar-putar pada fenomena, bahkan mengungkap sejarah Gilang yang sudah sering melakukan tindakan asusila.

Tapi, kemalasan media membuatnya lupa memberi pendalaman perspektif psikologis atasnya. Apakah benar memang fetish? Atau justru gangguan kejiwaan lainnya yang tak berhubungan dengan seksualitas?

Ah, jangan heran, media kita kan memang dari dulu begitu. Sejak zaman Orde Baru, kita sudah di-ninabobo-kan dengan berita konflik pertumpahan darah dan SEKS, supaya pemerintah tidak perlu repot-repot menjawabi pemberitaan yang mengkritisi kinerjanya.

Kedua, kita sepakat – jika memang ini adalah kasus pelecehan seksual – selalu bak gunung es. Korban-korban Gilang lainnya, yang telah menjadi target operasi bertahun-tahun silam, baru terungkap semuanya, ketika ada satu orang yang berani bicara. Kita memang patut berterima kasih (jika memang baik budi niatnya) pada si pembuat thread pada mulanya.

Demikian pula dengan kasus pelecehan seksual yang sudah-sudah. Entah itu pedofilia, pelecehan dalam keluarga, bahkan dalam konteks pria-wanita, selalu membuat sang korban tak berani bicara. Sebaliknya, korban lebih banyak dirundung, dituduh menggoda dengan pakaian terbuka.

Karena memang, belum ada hukum di negeri ini yang mampu melindungi korban pelecehan seksual. Kalaupun ada kasus yang terungkap ke permukaan dan diproses hukum, ia haruslah viral terlebih dahulu di media sosial (dengan mempermalukan korban 2 kali lipat), agar bisa ditindak pakai ‘Sang Maha-benar’ UU ITE, yang tak pernah benar-benar menggasak betapa brengseknya tindakan pelecehan itu sendiri. Benar apa kata sjw-sjw feminis: RUU PKS harus segera disahkan!

Ketiga, persoalan Gilang ini tak bisa hanya dilihat soal orientasi seksual yang melenceng. Kita sepakat bahwa hal tersebut adalah kemerdekaan hak setiap orang. Yang jadi persoalan, cara Gilang – jika, sekali lagi, memang benar fetish – dalam mengajak si korban memuaskan birahinya.

Gilang menggunakan kata-kata yang manipulatif, membohongi anak-anak yang lebih muda darinya agar mau membantunya mengerjakan ‘tugas kuliah’. Ia juga mendekati orang-orang yang tak ia kenal sebelumnya, dengan bahasa perkenalan yang cenderung superior, dominan, sekaligus minim etika. Unggah-ungguh berkenalan, ngobrol, dan meminta tolong pada orang yang baru dikenal seharusnya milik kita semua, terlepas dari apapun pilihan jalan hidup dan orientasi seksualnya.

Keempat, pendapat netijen yang bermunculan akhir-akhir ini justru bernada mengolok karena menganggap Gilang pantas mendapatkannya. Ejekan itu berkedok guyonan, bahkan nama-nama besar seperti Babe Cabita – yang kemudian banyak dihujat netijen juga – ikut-ikutan menertawakan tindakan Gilang. Selain itu, kamu dan saya, mulut kita semua sudah sibuk ngrasani bersama teman-teman tentang betapa tak warasnya Gilang.

Kita tidak sadar, bahwa diri sendiri ini juga sami mawon: menjauhi dan mencibir entah korban entah pelaku, entah juga orang-orang macam Gilang; tapi lupa bersimpati, mendekati, mencari akar masalah, dan menyelesaikannya bersama-sama. Memang benar, gotong-royong yang diajarkan founding fathers kita hanya tinggal klise sekarang (lihat tulisan: ‘Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif’).

Pada akhirnya, soal bungkus-membungkus ini memang bukan milik Gilang dan rektorat kampusnya yang sibuk memberi pernyataan sikap semata. Ini juga masalah kita semua, yang sudah lama dibungkus rasa egois dan gengsi, menutup mata dan telinga pada persoalan sosial di sekitar kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Menangisi Gagalnya Nobar di Bioskop 0 288

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia, sudah fix menunda pembukaan bioskop yang seharusnya terjadwal 29 Juli ini, sampai waktu yang belum ditentukan. Tentu saja niatnya baik: demi memutus mata rantai penularan COVID-19, yang makin hari angkanya makin naik gak karu-karuan.

Di kolom ini tentu saja kita tidak perlu membahas efektivitas kebijakan menahan pembukaan sejumlah tempat hiburan malam dan bioskop, namun membiarkan tempat wisata lain (yang lebih banyak digunakan untuk pesepeda dadakan) tetap beroperasi.

Yang jelas, sebagian dari kita tentu mengeluh dalam hati. Rasanya bak diberi harapan tapi diputus tiba-tiba. Setelah lebih dari seribu bioskop di 52 kota di Indonesia tutup sejak 26 Maret 2020, mengurung jiwa-jiwa hedon kita. Berbulan-bulan loh gak nonton bioskop! Rasanya mau mati, kalau katanya influencer review makanan. Se-introvert-introvert-nya saya (maaf ngaku-ngaku), saya pun sama dengan kalian: rindu nonton bioskop.

Saya paham betul anyep-nya ketawa sendirian sepanjang nonton film genre komedi, dan sepinya menangis sendiri saat nonton adegan yang mengharukan. Saya sadar betul betapa gak mbois-nya nonton film di layar kecil HP, atau paling banter di layar laptop 14 inci. Saya juga gak bisa merasakan sensasi spiker D*lby all around you, apalagi layar Imax yang segede lapangan futsal itu.

Kita tentu rindu rasa-rasa ketika baru masuk gedung bioskop, mendengar teriakan mas-mas penjual popcorn supaya kita tertarik beli dagangannya, berasa artis yang disoraki fans. Kita tentu kangen sekali perjuangan mencari promo tiket melalui platform daring. Kita mungkin rindu rasa balap-balapan pre-order booking kursi untuk penayangan premiere film kesayangan yang sudah kita tunggu-tunggu serialnya.

Sudah lama juga ya rasanya gak makan popcorn, yang gara-gara saking asyiknya sampai habis duluan sebelum filmnya mulai. Sampai lupa rasanya pamer foto tiket nobar bioskop film yang sedang hype di Instagram Story—yang kalau teman-teman kita kebetulan sudah nonton duluan, kita wajib ancam mereka dengan segenap kekuatan jiwa-raga supaya mereka tidak spoiler.

Tentu jadi kerinduan bersama pula buat pegangan tangan dengan kekasih sepanjang film berlangsung—apalagi kalau filmnya horor (wes ngakuo ae, aku yo eruh modusmu!)—untuk saling menyalurkan rasa hangat tubuh, meminimalisir begitu br*ngs*knya dinginnya AC gedung teater. Hal sesederhana tertawa bersama penonton lain di adegan-adegan konyol, atau berteriak bersama ketika ada jumpscare, semua itu bikin kangen.

Kita semua memang bersedih dan tak kunjung kelar mengeluh dengan tertundanya pembukaan bioskop ini. Mengutuki dalam hati: koronah gatheeeel! Walau sebenarnya sudah ada Netflix yang sudah dibuka blokirnya oleh Indihome, atau aplikasi lain (dan website streaming ilegal yang belum diblokir pemerintah) yang bisa diakses, menambal kerinduan-kerinduan kita akan nobar di bioskop.

Tapi mungkin gara-gara kita sibuk berduka, kita sampai lupa ada yang nasibnya lebih terkatung-katung.

Ketua Umum Asosisasi Produser Film Indonesia menyebut, ada sekitar 15 proyek film yang gagal produksi tahun ini. Hal ini tentu berdampak pula bagi para sutradara dan kisah produksi mereka. Mulai dari Joko Anwar sampai Livi Zheng, semua gigit jari.

Para aktor dan aktris, walau setenar Reza Rahadian dan Tara Basro sekalipun, di masa begini, pupus sudah seluruh jadwal syuting yang telah tersusun rapi sepanjang tahun 2020. Jangan lupa keseluruhan kru film, yang dalam sekali pembuatan film, bisa ada 80-100 orang bahkan lebih. Bisa jadi, side job supir G*jek sempat melintas di benak mereka (atau bahkan ada yang sudah merealisasikannya) demi menyambung hidup.

“Loh kan filmnya bisa tayang secara onlen”. Mulut gampang bicara. Tapi bagaimana menggaji kru film dan biaya produksi yang bermiliar-miliar hanya dengan online streaming? Bagaimana caranya menutup kekurangan biaya 80-90 persen yang selama ini didapatnya dari bioskop?

Juga mereka, para reviewer atau kritikus film, tak lagi punya bahan untuk dikomentari. Tak lagi mereka mengirim tulisan untuk media, di mana juga berarti hilangnya sebagian besar penghasilan (dan passion) mereka.

Mbak-mbak penyobek tiket nontonmu, mereka yang membersihkan sampah bekas popcorn yang kamu tinggalkan begitu saja di kursi, tukang pel kamar mandi eks-eks-wan, mereka semua juga ingin kembali ke bioskop. Mereka yang harus dirumahkan, kena pengurangan gaji, atau bahkan PHK, semua sama kangennya dengan bioskop seperti kita, gaes!

Tapi, berbeda dengan kamu semua yang rindu mencari hiburan di tengah kebosanan, mereka ingin kembali ke bioskop karena rindu kembali bekerja.

Kata Kakak Anji: “Corona gak semengerikan itu kok”. Mungkin benar bagi sebagian orang, tapi tidak bagi mereka, para pejuang seni garda terdepan dan pekerja kreatif, yang sama sekali kehilangan pekerjaannya gara-gara Corona.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks