Jika Netizen Jadi Sutradara 0 1138

Mari melintasi imajinasi! Jika akses menjadi sutradara perlu matang pengalaman, maka setidaknya kita masih punya jalan untuk berandai-andai. Terutama di era ini, bak ‘tuhan’, siapa pun yang memiliki kesempatan atas media sosial berhak ‘menciptakan dunia’. Hal-hal paling mustahil pun jadi nyata. Sebut saja anak balita yang sudah punya akun pribadi Instagram dan masalah domestik artis yang naik jadi top trending topic bukan bahasa asing lagi kini.

Maka, semoga judul di atas tak terlalu berlebihan. Karena memang netizen punya otoritas penuh untuk menciptakan ‘film’nya sendiri.

Jangan katakan pekerjaan mereka hanya mencari sensasi dan kemudian tak bisa menggali peningkatan diri. Mereka mengolah gagasan dengan cara menyenangkan, misalnya menggarap meme. Jika boleh meminjam definisi dari Richard Dawkins, ia menyebut meme sebagai bentuk transmisi budaya melalui replikasi ide, gagasan, yang merasuk ke dalam kognisi manusia. Dalam prakteknya kemudian, meme hadir sebagai gambar yang diberi tautan teks dan bersifat kontekstual serta menjadi sebuah gaya komunikasi baru di kalangan warga net.

Para pembuat meme ini kemudian – dirasa sangat layak menurut penulis – untuk disebut sebagai lumbung penyumbang karya kreatif bagi industri zaman ini. Mereka lah yang mencipta tren berdasar apa yang sedang ramai diperbincangkan khalayak. Atau bahkan, mereka sendiri yang meramu tren itu, dari tiada menjadi berada, ‘iseng-iseng berhadiah’. Jika kita sibuk membicarakannya, mereka justru hadir dengan karya.

Bayangkan saja, hingga detik ini, ada berapa banyak tren meme yang sudah melalangbuana dalam linimasa kita. Mulai dari ‘sudah kuduga’ hingga ‘eta terangkanlah’. Dari musim ‘mantan,maafkan aku yang dulu’ sampai ‘om telolet om’. Semua istilah baru dalam media sosial ini lantas menjadi top search karena eksistensi dan kesediaan para pembuat meme dalam mengaduk-aduk ide.

Lantas, para wanita bumi ini tak perlu bingung mencari ‘yang peka’. Lihat saja para pencipta meme ini! Bagi mereka, sumber ide mudah saja dijumpai layaknya oksigen. Mereka mencari tahu isu-isu teraktual di sekitar, memberinya sentuhan humor, menambahkan rasa personal, diolah jadi mahakarya. Memakai istilah Everett M. Rogers dalam Diffusion of Innovation, mereka inilah yang disebut innovators, yang hanya 2,5% dari populasi manusia dunia.Innovators adalah mereka yang secara aktif sebagai information-seeker tentang ide-ide terbaru.

Bagaimana tidak, perjalanan cinta Raisa-Hamish saja bisa diolah menjadi berbagai alternatif meme. Mulai dari #HariPatahHatiNasional sampai yang paling nakal sekalipun: membayangkan malam pertama mereka. Belum lagi di ladang politik, pembuat meme ini jauh lebih beringas, sebab supporternya makin radikal (karena bukankah politik sudah sebanding agama ketika sampai pada perjuangan?). Maka, jangan heran bila di momen September ceria ini, netizen lagi-lagi tak jera memunculkan isu lama yang penuh darah luka: G30S PKI.

Indonesia yang selalu komunis-phobia atau PKI-phobia ini dilandasi pro-kontra terkait pemutaran kembali film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI yang berbelit. Justru, meme kocak memenuhi laman media sosial, tak jadi membuat kita berseteru beradu argumen. Salah satunya adalah plesetan poster film seperti ini.

Karya yang lantas tidak-mungkin-tidak mengundang tawa ini bukan akibat penyakit pengangguran akut para pembuat meme. Jika ditelaah, apresiasi terbesar justru harus kita berikan atas kejelian remake poster ini. Seluruh font dan komponen poster dibuat sama persis, kemudian mengganti wajah semua aktor dengan wajah Reza Rahadian. Ada dua isu besar yang berhasil dibawa ke permukaan oleh si pembuat yang mengaku sebagai @bangbenson.

Pertama, tentu saja isu film dokumenter sarat propagranda ini. Sungguh bukan rahasia lagi jika film ini memang sebagai ajang unjuk gigi Presiden Soeharto agar dianggap pahlawan. Remake dengan cara jenaka yang satu ini sejenak membuat kita istirahat dari diskusi serius ide tentang pemutaran kembali film ini, screening setiap menjelang 30 September, semua tentang PKI dan PKI, dan seterusnya.

Kedua, wajah Reza Rahadian sebagai kandidat terkuat pengisi remake poster ini. Aktor yang sudah berkarir lebih dari satu dekade ini sudah dihafal penggemar sinema Indonesia mulai dari jabang bayi hingga kakek-nenek. Bagaimana tidak, ia selalu menjadi pemeran di film-film terbaik Indonesia misalnya sebagai Tjokroaminoto dan Habibie. Selain itu, sosoknya memang selalu nampang mendominasi perfilman tanah air.

Walau dilengkapi dengan sederetan prestasi sepertinya tak lagi membuat Reza Rahadian jadi idola eksklusif di film-film Indonesia. Sehingga jika netizen jadi sutradara, reka adegan remake film karya Arifin C. Noer berdurasi empat jam ini layaknya akan laku keras jika diperankan Reza Rahadian.Entah menimbulkan tawa pahit atau patah hati remuk redam bagi khalayak di luar sana, isu tentang Reza Rahadian yang mendominasi wajah film Indonesia bisa jadi potongan hilang yang semakin pas untuk mengisi serba-serbi G30S PKI.

Selain itu, masih banyak juga potongan adegan dalam film ini yang dijadikan meme. Kesemuanya diseret dalam konteks hidup kekinian, disambungkan dan disandingkan dengan gaya pikir era milenial. Berikut ini contoh-contoh tampilan adegan film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI rebornjika netizen yang jadi sutradaranya.

Pada akhirnya, di luar segala perdebatan sengit antara pihak yang setuju dan tidak setuju tentang pemutaran kembali film terlaris di tahun 1984-1985 ini, para pembuat meme menyadarkan kita bahwa tertawa itu perlu. Yang paling penting, berandai-andai jadi sutradaranya juga perlu, selagi tak dipungut biaya apalagi dimintai saham oleh ‘Papa’.

Terwujud sudah mantra ‘ada-ada saja ulah netizen’. Alih-alih dianggap ‘kurang kerjaan’, mereka rela menggapai gagasan, mengejar isu, dan menyajikan karya layak tawa.

 

-Putri Demes Dharmesty-

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 225

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Nasib Naas Jerman yang Dilibas KorSel 0 227

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Per 27 Juni, tepatnya sejak Panser Jerman keok dilibas Oppa Korea Selatan di Piala Dunia, ada beberapa perubahan besar dalam persepakbolaan – dan mungkin juga – sejarah dunia.

Bagaimana tidak? Jerman adalah petahana Piala Dunia 2014. Kualitas pemain teruji dan track record merumput di Piala Dunia tidak perlu diragukan lagi. Sang langganan semifinal sejak 1938. Setidak-tidaknya kita berharap tinggi musti lolos 16 besar. Boleh dibilang wonder team. Uber alles deh pokoknya. Sedang lawannya, Taeguk Warriors asal Korea Selatan sama sekali antitesis semua itu. No offense loh, Oppa 🙁

Akal sehat jelas memprediksi kemenangan mudah Die Mannschaft atas Taeguk Warriors. Lah ndalah, njeketek, eng ing eng… Kenyataannya Jerman keok, plonga-plongo dihabisi Korea Selatan. Skor telak, 2-0. Gak mashookkk!

Dari awal sebenarnya posisi Jerman terbaca. Tiket melaju ke babak lanjutan dipertaruhkan, maka mereka menyerang terus. Kemungkinan tipis untuk lolos perlu dikejar. Sedang Korsel oleh karena dua kekalahan sebelumnya kontra Swedia dan Meksiko, sudah pasti angkat kaki meski menang atau kalah lawan Jerman malam itu. Tapi toh Korsel tetap on-fire, sampai peluit panjang mereka solid bertahan terus. Dari sini, kita mudah membaca siapa yang ngoyo dan siapa yang got nothing to lose.

Sepanjang pertandingan, Jerman betul menyerang tapi meleset melulu. Entah tidak cocok dengan angin di Rusia apa bagaimana. Melelahkan melihat permainan Jerman, gol tidak kunjung dibuat. Peluang banyak terbuang.

Apa karena ekspektasi penonton yang terlalu tinggi? Apa karena Jerman terlalu percaya diri?? Atau apakah memang mitos kutukan petahana pildun itu nyata adanya? Apakah Jerman memang ditakdirkan bernasib sama seperti Italia, Belanda, dan Spanyol? Sukses angkat trofi juara dunia lalu gagal mempertahankannya gelarnya? Saking mengerikannya kutukan itu, petahana bisa tersepak bahkan saat masih fase penyisihan grup.

Salam saya untuk kiper Korea yang telah bolak-balik menyelamatkan gawang. Juga pada pemain Korea sekalian yang dengan ciamik menghalau bola masuk jaring. Sampai paruh pertama, telur belum juga pecah. Pertahanan Korea Selatan belum bisa dikoyak. Menit ke-60 sekian, keadaan makin genting. Jerman tidak kunjung membuat angka, tiket lanjut dan mempertahankan gelar jadi terasa jauh. (Sebentar, nasib buruk ini apakah karena Jerman bermain di tanah Rusia? Saat Perang Dunia Kedua mereka kan…. *mulai cocoklogi).

Ritme permainan semakin terasa berat dan mendebarkan saat memasuki waktu tambahan. Jerman sudah kepayahan dan putus asa, permainan makin kacau. Korea Selatan konsisten dan merebut momentum lalu berhasil memecah kebuntuan. Skor satu untuk Korea Selatan. Rekaman Video Assistant Referees (VAR) dipakai untuk memutuskan apa gol itu sah atau tidak, sebab awalnya dikira off-side oleh wasit. Selebrasi Korsel bikin Jerman makin kalang kabut. Padahal pemain bintangnya turun. Mueller, Gomez, Oezil, dan Khedira dikerahkan agar segera cetak skor.

Tembakan banyak yang meleset. Terasa moril Jerman sudah merosot. Sampai-sampai, kiper Jerman, Neuer, meninggalkan pos jaganya. Mungkin karena sumpek rekan satu timnya tidak kunjung mencetak skor. Dirinya ikut merumput sampai begitu dekat dengan gawang Korea Selatan. Waktu tambahan sisa satu menit. Korea Selatan kembali mengoyak gawang Jerman yang ditinggalkan tak dijaga itu. Gol kembali dibuat.

Remek dan nelangsa lah Jerman diinjak Korea Selatan. Sisa waktu tidak cukup untuk membuat keajaiban. Panser kita angkat kaki. Kutukan telah tuntas terlaksana. Taeguk Warriors kalah, tapi bakal pulang ke negeranya dan disambut bak pahlawan.

Oppa dan Hyung telah menindas habis bule-bule Eropa itu. Sejarah telah mencatat itu. Daebak! Kemenangan atas Jerman juga berarti telah terjadi kemajuan pada persepakbolaan Korea Selatan di kancah dunia. Mereka telah jadi simbol untuk persebakbolaan Asia. Kini, mereka tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Terbukti pertahanan Korea jelas rapi dan mampu mengimbangi Jerman yang terus menyerang. Tidak kalah kualitas dengan si Panser.

Saya sendiri pendukung Jerman, tapi jujur diam-diam menantikan Korea Selatan menjebol gawang Jerman. Mungkin karena saya merasa terwakili sebagai sesama Asia. Sebab kan selama ini sepak bola rasa-rasanya hanya milik Eropa dan Amerika Latin. Ya kan, tim-tim itu saja toh yang menang. Tim-tim itu lagi yang dijagokan.

Boleh jadi, ini pecut untuk Indonesia agar empat tahun lagi bisa lolos kualifikasi Piala Dunia, lalu mungkin mampu menang telak 2-0 atas Inggris atau Spanyol. Siapa tahu?

Tanpa muluk-muluk, mungkin uji coba dulu dengan sapu bersih kemenangan di Asian Games tahun ini?

*Penulis adalah mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi Surabaya. Doyan nonton dan traktiran.

Editor Picks