Jika Netizen Jadi Sutradara 0 1984

Mari melintasi imajinasi! Jika akses menjadi sutradara perlu matang pengalaman, maka setidaknya kita masih punya jalan untuk berandai-andai. Terutama di era ini, bak ‘tuhan’, siapa pun yang memiliki kesempatan atas media sosial berhak ‘menciptakan dunia’. Hal-hal paling mustahil pun jadi nyata. Sebut saja anak balita yang sudah punya akun pribadi Instagram dan masalah domestik artis yang naik jadi top trending topic bukan bahasa asing lagi kini.

Maka, semoga judul di atas tak terlalu berlebihan. Karena memang netizen punya otoritas penuh untuk menciptakan ‘film’nya sendiri.

Jangan katakan pekerjaan mereka hanya mencari sensasi dan kemudian tak bisa menggali peningkatan diri. Mereka mengolah gagasan dengan cara menyenangkan, misalnya menggarap meme. Jika boleh meminjam definisi dari Richard Dawkins, ia menyebut meme sebagai bentuk transmisi budaya melalui replikasi ide, gagasan, yang merasuk ke dalam kognisi manusia. Dalam prakteknya kemudian, meme hadir sebagai gambar yang diberi tautan teks dan bersifat kontekstual serta menjadi sebuah gaya komunikasi baru di kalangan warga net.

Para pembuat meme ini kemudian – dirasa sangat layak menurut penulis – untuk disebut sebagai lumbung penyumbang karya kreatif bagi industri zaman ini. Mereka lah yang mencipta tren berdasar apa yang sedang ramai diperbincangkan khalayak. Atau bahkan, mereka sendiri yang meramu tren itu, dari tiada menjadi berada, ‘iseng-iseng berhadiah’. Jika kita sibuk membicarakannya, mereka justru hadir dengan karya.

Bayangkan saja, hingga detik ini, ada berapa banyak tren meme yang sudah melalangbuana dalam linimasa kita. Mulai dari ‘sudah kuduga’ hingga ‘eta terangkanlah’. Dari musim ‘mantan,maafkan aku yang dulu’ sampai ‘om telolet om’. Semua istilah baru dalam media sosial ini lantas menjadi top search karena eksistensi dan kesediaan para pembuat meme dalam mengaduk-aduk ide.

Lantas, para wanita bumi ini tak perlu bingung mencari ‘yang peka’. Lihat saja para pencipta meme ini! Bagi mereka, sumber ide mudah saja dijumpai layaknya oksigen. Mereka mencari tahu isu-isu teraktual di sekitar, memberinya sentuhan humor, menambahkan rasa personal, diolah jadi mahakarya. Memakai istilah Everett M. Rogers dalam Diffusion of Innovation, mereka inilah yang disebut innovators, yang hanya 2,5% dari populasi manusia dunia.Innovators adalah mereka yang secara aktif sebagai information-seeker tentang ide-ide terbaru.

Bagaimana tidak, perjalanan cinta Raisa-Hamish saja bisa diolah menjadi berbagai alternatif meme. Mulai dari #HariPatahHatiNasional sampai yang paling nakal sekalipun: membayangkan malam pertama mereka. Belum lagi di ladang politik, pembuat meme ini jauh lebih beringas, sebab supporternya makin radikal (karena bukankah politik sudah sebanding agama ketika sampai pada perjuangan?). Maka, jangan heran bila di momen September ceria ini, netizen lagi-lagi tak jera memunculkan isu lama yang penuh darah luka: G30S PKI.

Indonesia yang selalu komunis-phobia atau PKI-phobia ini dilandasi pro-kontra terkait pemutaran kembali film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI yang berbelit. Justru, meme kocak memenuhi laman media sosial, tak jadi membuat kita berseteru beradu argumen. Salah satunya adalah plesetan poster film seperti ini.

Karya yang lantas tidak-mungkin-tidak mengundang tawa ini bukan akibat penyakit pengangguran akut para pembuat meme. Jika ditelaah, apresiasi terbesar justru harus kita berikan atas kejelian remake poster ini. Seluruh font dan komponen poster dibuat sama persis, kemudian mengganti wajah semua aktor dengan wajah Reza Rahadian. Ada dua isu besar yang berhasil dibawa ke permukaan oleh si pembuat yang mengaku sebagai @bangbenson.

Pertama, tentu saja isu film dokumenter sarat propagranda ini. Sungguh bukan rahasia lagi jika film ini memang sebagai ajang unjuk gigi Presiden Soeharto agar dianggap pahlawan. Remake dengan cara jenaka yang satu ini sejenak membuat kita istirahat dari diskusi serius ide tentang pemutaran kembali film ini, screening setiap menjelang 30 September, semua tentang PKI dan PKI, dan seterusnya.

Kedua, wajah Reza Rahadian sebagai kandidat terkuat pengisi remake poster ini. Aktor yang sudah berkarir lebih dari satu dekade ini sudah dihafal penggemar sinema Indonesia mulai dari jabang bayi hingga kakek-nenek. Bagaimana tidak, ia selalu menjadi pemeran di film-film terbaik Indonesia misalnya sebagai Tjokroaminoto dan Habibie. Selain itu, sosoknya memang selalu nampang mendominasi perfilman tanah air.

Walau dilengkapi dengan sederetan prestasi sepertinya tak lagi membuat Reza Rahadian jadi idola eksklusif di film-film Indonesia. Sehingga jika netizen jadi sutradara, reka adegan remake film karya Arifin C. Noer berdurasi empat jam ini layaknya akan laku keras jika diperankan Reza Rahadian.Entah menimbulkan tawa pahit atau patah hati remuk redam bagi khalayak di luar sana, isu tentang Reza Rahadian yang mendominasi wajah film Indonesia bisa jadi potongan hilang yang semakin pas untuk mengisi serba-serbi G30S PKI.

Selain itu, masih banyak juga potongan adegan dalam film ini yang dijadikan meme. Kesemuanya diseret dalam konteks hidup kekinian, disambungkan dan disandingkan dengan gaya pikir era milenial. Berikut ini contoh-contoh tampilan adegan film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI rebornjika netizen yang jadi sutradaranya.

Pada akhirnya, di luar segala perdebatan sengit antara pihak yang setuju dan tidak setuju tentang pemutaran kembali film terlaris di tahun 1984-1985 ini, para pembuat meme menyadarkan kita bahwa tertawa itu perlu. Yang paling penting, berandai-andai jadi sutradaranya juga perlu, selagi tak dipungut biaya apalagi dimintai saham oleh ‘Papa’.

Terwujud sudah mantra ‘ada-ada saja ulah netizen’. Alih-alih dianggap ‘kurang kerjaan’, mereka rela menggapai gagasan, mengejar isu, dan menyajikan karya layak tawa.

 

-Putri Demes Dharmesty-

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 144

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Asmara Putra Presiden dan Kita yang Suka Kepo 0 279

Kaesang selingkuh??!!

Ini sih bukan cuma bahan omongan netijen di media sosial, tapi juga persoalan kita semua!

Persoalan ini menempati posisi teratas trending topic di linimasa media sosial. Bermula dari unggahan akun gosip junjungan kita semua, Lambe Turah, dan dikonfirmasi oleh beberapa postingan feed dan story akun melia_lau yang merupakan ibunda dari Felicia, pacarnya Mas Kaesang.

Pendek cerita, Kaesang dinyatakan menghilang tanpa kabar alias ghosting, lalu ketahuan jalan dengan perempuan lain. Naasnya, perempuan lain itu pegawainya sendiri. Bilang WOW gak nih?

Oh, betapa runyamnya persoalan ini bagi bangsa dan negara. Mendadak kita semua mengurusi persoalan asmara putra presiden. Setelah ini, wartawan infotainment yang brutal itu akan menyerbu istana, menghujani Jokowi dengan pertanyaaan personal seputar anak bungsunya.

Untuk sementara, istana hanya akan sibuk menjawabi persoalan ini, dan melupakan penanganan corona, atau urusan Moeldoko dan Demokrat.

Tapi, menurut hemat penulis, setidaknya ada sejumlah poin andai-andai yang bisa diserap dari peristiwa ini.

 

Kalau saja selingkuhnya di tempat yang tepat

Kata teman-teman saya sih, tempat terbaik di ibukota untuk selingkuh adalah Kuningan City. Konon, mal ini selalu sepi walau akhir pekan. Pun di dalamnya disewa oleh tenant ternama dengan harga diskon semua. Niscaya selingkuh aman dan hemat jika mbaké minta dibelikan baju baru.

Atau di Blok M misalnya. Pusat belanja yang hampir sekarat. Di mana penjualnya hanya fokus melariskan dagangan, tak peduli siapa yang sedang kencan, entah beneran pasangan atau simpanan.

Kalau di Surabaya, Anda bisa mengajak mbaké ke DTC. Bisa sekalian blusukan pelaku UMKM yang sesungguhnya. Siapa tahu mau studi banding.

Sayangnya, Mas Kaesang, kita ini memang hidup di zaman edan. Pacaran dengan pacar orang kurang afdol rasanya jika belum diposting ke media sosial, entah untuk apa tujuannya. Mungkin, untuk menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan khalayak.

 

Kalau saja Kaesang bukan anak pleciden

Pasti kisah drama asmara ini akan biasa-biasa saja. Kaesang juga hanyalah mas-mas biasa usia 20-an yang suka main mobel lejen dan papji. Tapi status sebagai anak orang nomor satu di Indonesia ini menjadikan beban moral berat harus ditanggungnya.

Padahal, semua hubungan tentu punya masalah dan bisa saja menemui akhirnya. Semua dari kita pasti pernah mengalami ghosting, baik jadi korban atau pelakunya. Kaesang pun manusia adanya, yang bisa mengalami hal-hal tersebut. Bukan karena anak presiden, terus Kaesang jadi manusia paling sempurna dan idaman.

Kita semua ini kan pernah berdosa, cuma belum ketahuan boroknya aja. Tapi ya beginilah tabiat kita menjadi manusia. Menghakimi, menghujat, seakan-akan kita orang paling benar di dunia.

 

Kalau saja semua ini hanya prank

Siapa tahu kan, Kaesang butuh ide konten baru di akun Youtube-nya. Siapa tahu semua drama ini memang disiapkan untuk melamar Felicia di Desember 2021, seperti yang dijanjikannya pada keluarga.

Atta dan Aurel saja habis putus tiba-tiba mengumumkan pernikahan. Siapa tahu kan, yang satu ini juga bernasib demikian.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks