Narasi Kegenitan Intelektual Kampus 0 970

Mari terbuka dan bertanya: apa gairah yang paling dihidupi oleh generasi milenial?

Mereka yang kini mengisi bangku SMA dan mahasiswa, apakah sungguh masih ada imajinasi keras macam demonstrasi, diskusi, dan pergerakan lain? Apa masih tersisa bayangan ideal tentang apa dan bagaimana menjadi aktipis—ejaan ini dipakai untuk mengantisipasi lidah menclek macam penulis.

Penjelmaan aktipis bermuara ketika mahasiswa menjalani proses pengkaderan semasa berstatus sebagai Maba (mahasiswa Baru). Boleh jadi pada masa-masa seperti ini pemikiran kiri macam Marxis hingga pikiran kanan macam Khilafah pun mulai dijejalkan. Pada tahap awal, ide-ide ini ditanamkan dalam pikiran maba, dirawat, hingga tumbuh menjadi bahan dialektis yang suatu waktu dipanen untuk memenuhi hasrat bersuara. Di sana bersemi kegenitan intelektual.

Ndilalah saat-saat seperti perkuliahan, forum diskusi lintas keilmuan, pun ideologi, menjadi lahan aktualisasi guna membentuk identitas: doi anak kiri. Tradisi onani intelektual ini  bahkan mampu menggeser ide-ide yang turun kasta hanya sebagai pelengkap yang trivial.

Tentu sebuah penghinaan yang dilematis terhadap baginda Karl Marx atau Mirza Ghulam Ahmad (nama yang terakhir ini memang agak sulit disebut, lidah mendadak kelu). Tidak sulit memang jika mau dibayangkan kalau revolusi dari generasi milenial muncul dengan presentasi gaya modern. Misal, penyerangan terhadap kapitalis secara online melalui status di media sosial; mengkampanyekan untuk berhenti mengikuti langkah tidak tertebak Iphone; atau memberi stimulus melalui lagu-lagu rap si-keren Young Lex CS yang penuh otokritik (aku penuh dosyaahhh).

Saya tidak segan angkat topi setiap diselenggarakannya pertunjukan yang menyerbu peringatan nasional dengan pembacaan puisi oleh para aktipis kampus. Khususnya ketika hari-hari besar di bulan September-Oktober. Tapi, ayolah… apa sikap intelektual kampusan terhadap agenda pemutaran bersama besar-besaran atas film horor Pengkhianatan G30S PKI? Apa malah mahasiswanya kepingin antre casting karena siapa tau bisa maen bareng aktor serba bisa, Reza Rahadian?

Jadi Begini

Pembaca yang budiman, pada masa sekarang, bermain media sosial adalah rutinitas yang musti terpenuhi. Minimal 2-3 jam perhari (sumprit, ini angka paling moderat…jam yang dihabiskan penulis berkali lipat ketimbang 2-3 jam). Meski ruang publik jenis ini juga terkolonisasi sama halnya dengan media tradisional (Tv, Radio, Koran), justru di dalam media sosial pancaran demokrasi lebih benderang.

Namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa penjajahan dalam media sosial yang menggunakanaliran amunisi hoax lepas dari perlawanan. Demokrasi digital memberi harapan baru bagi milenial untuk setidaknya bersuara ketika status maba belum cukup menjual di media sekaliber Kompa*. Tapi seperti simalakama, media sosial pula yang berperan amat besar bagi tumbuh suburnya kegenitan itu sendiri.

Tapi kita tak adil jika menutup mata sama sekali pada peluang baik yang diciptakan dari demokrasi digital ini. Apalagi tidak lama ini penulis membaca sebuah ajakan di media sosial untuk melakukan “Aksi Online” terkait berbagai kasus. Inovasi tersebut dikembangkan netijen secara kolektif dan swadaya tanpa kepemilikan sejarah intelektual seorang tokoh. Fenomena yang jelas-jelas sedang berusaha membuat instrumen baru dari aktivitas intelektual yang disesuaikan seiring hadirnya new media. Josh!

Jangan berasumsi bahwa cara ini terkesan eksperimental. Cara ini sudah terbukti dapat mengerahkan massa dengan jumlah mega. Walau harus diakui terkadang aksi online tidak sering menelurkan hasil dan cenderung cuma bersifat narsistik.

Contoh paling terdepan saat ini ialah #HariPatahHatiNasional. Berdasarkan pengamatan terakhir saya (yang sering ngimpi kawin bareng Raisa) sebagai tanggung jawab milenial dan membaca 2-3 refrensi online, aksi tersebut tercatat sebagai 10 besar trending Topic di twitter dengan jumlah lebih dari 20 ribu tweet.

Saya sedang berusaha meyakinkan diri untuk sekedar membayangkan jumlah tweet yang diperoleh atas pernikahan sepasang sempurna itu dilampaui oleh antusiasme pembahasan tentang Marxis atau sejarah terkait tragedi 1965-1966 secara komprehensif.

Jadi begini, handai taulan, segenerasi milenials, saya tidak sungguh-sungguh ingin mengkambing-hitamkan kelompok atau mengkhianati keadaan. Saya hanya bersedih atas hilangnya kecurigaan dan daya kritis terhadap zaman beserta ilusi-ilusinya yang terkonsumsi.

Padahal tidak bisa dipungkiri jika kita sangat berpotensi menjadi roda kencang revolusi. Mungkinkah kesadaran kita membaca marxis melulu bentuk kegembiraan intelektual sesaat? Dan/atau sebuah artikulasi dari penyesuaian iklim kampus yang memaksa kita memikul tanggung jawab sebagai mahasiswa pionir bangsa? Na’udzubillahimindzalik.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 299

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Nasib Naas Jerman yang Dilibas KorSel 0 263

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Per 27 Juni, tepatnya sejak Panser Jerman keok dilibas Oppa Korea Selatan di Piala Dunia, ada beberapa perubahan besar dalam persepakbolaan – dan mungkin juga – sejarah dunia.

Bagaimana tidak? Jerman adalah petahana Piala Dunia 2014. Kualitas pemain teruji dan track record merumput di Piala Dunia tidak perlu diragukan lagi. Sang langganan semifinal sejak 1938. Setidak-tidaknya kita berharap tinggi musti lolos 16 besar. Boleh dibilang wonder team. Uber alles deh pokoknya. Sedang lawannya, Taeguk Warriors asal Korea Selatan sama sekali antitesis semua itu. No offense loh, Oppa 🙁

Akal sehat jelas memprediksi kemenangan mudah Die Mannschaft atas Taeguk Warriors. Lah ndalah, njeketek, eng ing eng… Kenyataannya Jerman keok, plonga-plongo dihabisi Korea Selatan. Skor telak, 2-0. Gak mashookkk!

Dari awal sebenarnya posisi Jerman terbaca. Tiket melaju ke babak lanjutan dipertaruhkan, maka mereka menyerang terus. Kemungkinan tipis untuk lolos perlu dikejar. Sedang Korsel oleh karena dua kekalahan sebelumnya kontra Swedia dan Meksiko, sudah pasti angkat kaki meski menang atau kalah lawan Jerman malam itu. Tapi toh Korsel tetap on-fire, sampai peluit panjang mereka solid bertahan terus. Dari sini, kita mudah membaca siapa yang ngoyo dan siapa yang got nothing to lose.

Sepanjang pertandingan, Jerman betul menyerang tapi meleset melulu. Entah tidak cocok dengan angin di Rusia apa bagaimana. Melelahkan melihat permainan Jerman, gol tidak kunjung dibuat. Peluang banyak terbuang.

Apa karena ekspektasi penonton yang terlalu tinggi? Apa karena Jerman terlalu percaya diri?? Atau apakah memang mitos kutukan petahana pildun itu nyata adanya? Apakah Jerman memang ditakdirkan bernasib sama seperti Italia, Belanda, dan Spanyol? Sukses angkat trofi juara dunia lalu gagal mempertahankannya gelarnya? Saking mengerikannya kutukan itu, petahana bisa tersepak bahkan saat masih fase penyisihan grup.

Salam saya untuk kiper Korea yang telah bolak-balik menyelamatkan gawang. Juga pada pemain Korea sekalian yang dengan ciamik menghalau bola masuk jaring. Sampai paruh pertama, telur belum juga pecah. Pertahanan Korea Selatan belum bisa dikoyak. Menit ke-60 sekian, keadaan makin genting. Jerman tidak kunjung membuat angka, tiket lanjut dan mempertahankan gelar jadi terasa jauh. (Sebentar, nasib buruk ini apakah karena Jerman bermain di tanah Rusia? Saat Perang Dunia Kedua mereka kan…. *mulai cocoklogi).

Ritme permainan semakin terasa berat dan mendebarkan saat memasuki waktu tambahan. Jerman sudah kepayahan dan putus asa, permainan makin kacau. Korea Selatan konsisten dan merebut momentum lalu berhasil memecah kebuntuan. Skor satu untuk Korea Selatan. Rekaman Video Assistant Referees (VAR) dipakai untuk memutuskan apa gol itu sah atau tidak, sebab awalnya dikira off-side oleh wasit. Selebrasi Korsel bikin Jerman makin kalang kabut. Padahal pemain bintangnya turun. Mueller, Gomez, Oezil, dan Khedira dikerahkan agar segera cetak skor.

Tembakan banyak yang meleset. Terasa moril Jerman sudah merosot. Sampai-sampai, kiper Jerman, Neuer, meninggalkan pos jaganya. Mungkin karena sumpek rekan satu timnya tidak kunjung mencetak skor. Dirinya ikut merumput sampai begitu dekat dengan gawang Korea Selatan. Waktu tambahan sisa satu menit. Korea Selatan kembali mengoyak gawang Jerman yang ditinggalkan tak dijaga itu. Gol kembali dibuat.

Remek dan nelangsa lah Jerman diinjak Korea Selatan. Sisa waktu tidak cukup untuk membuat keajaiban. Panser kita angkat kaki. Kutukan telah tuntas terlaksana. Taeguk Warriors kalah, tapi bakal pulang ke negeranya dan disambut bak pahlawan.

Oppa dan Hyung telah menindas habis bule-bule Eropa itu. Sejarah telah mencatat itu. Daebak! Kemenangan atas Jerman juga berarti telah terjadi kemajuan pada persepakbolaan Korea Selatan di kancah dunia. Mereka telah jadi simbol untuk persebakbolaan Asia. Kini, mereka tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Terbukti pertahanan Korea jelas rapi dan mampu mengimbangi Jerman yang terus menyerang. Tidak kalah kualitas dengan si Panser.

Saya sendiri pendukung Jerman, tapi jujur diam-diam menantikan Korea Selatan menjebol gawang Jerman. Mungkin karena saya merasa terwakili sebagai sesama Asia. Sebab kan selama ini sepak bola rasa-rasanya hanya milik Eropa dan Amerika Latin. Ya kan, tim-tim itu saja toh yang menang. Tim-tim itu lagi yang dijagokan.

Boleh jadi, ini pecut untuk Indonesia agar empat tahun lagi bisa lolos kualifikasi Piala Dunia, lalu mungkin mampu menang telak 2-0 atas Inggris atau Spanyol. Siapa tahu?

Tanpa muluk-muluk, mungkin uji coba dulu dengan sapu bersih kemenangan di Asian Games tahun ini?

*Penulis adalah mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi Surabaya. Doyan nonton dan traktiran.

Editor Picks