Narasi Kegenitan Intelektual Kampus 0 1145

Mari terbuka dan bertanya: apa gairah yang paling dihidupi oleh generasi milenial?

Mereka yang kini mengisi bangku SMA dan mahasiswa, apakah sungguh masih ada imajinasi keras macam demonstrasi, diskusi, dan pergerakan lain? Apa masih tersisa bayangan ideal tentang apa dan bagaimana menjadi aktipis—ejaan ini dipakai untuk mengantisipasi lidah menclek macam penulis.

Penjelmaan aktipis bermuara ketika mahasiswa menjalani proses pengkaderan semasa berstatus sebagai Maba (mahasiswa Baru). Boleh jadi pada masa-masa seperti ini pemikiran kiri macam Marxis hingga pikiran kanan macam Khilafah pun mulai dijejalkan. Pada tahap awal, ide-ide ini ditanamkan dalam pikiran maba, dirawat, hingga tumbuh menjadi bahan dialektis yang suatu waktu dipanen untuk memenuhi hasrat bersuara. Di sana bersemi kegenitan intelektual.

Ndilalah saat-saat seperti perkuliahan, forum diskusi lintas keilmuan, pun ideologi, menjadi lahan aktualisasi guna membentuk identitas: doi anak kiri. Tradisi onani intelektual ini  bahkan mampu menggeser ide-ide yang turun kasta hanya sebagai pelengkap yang trivial.

Tentu sebuah penghinaan yang dilematis terhadap baginda Karl Marx atau Mirza Ghulam Ahmad (nama yang terakhir ini memang agak sulit disebut, lidah mendadak kelu). Tidak sulit memang jika mau dibayangkan kalau revolusi dari generasi milenial muncul dengan presentasi gaya modern. Misal, penyerangan terhadap kapitalis secara online melalui status di media sosial; mengkampanyekan untuk berhenti mengikuti langkah tidak tertebak Iphone; atau memberi stimulus melalui lagu-lagu rap si-keren Young Lex CS yang penuh otokritik (aku penuh dosyaahhh).

Saya tidak segan angkat topi setiap diselenggarakannya pertunjukan yang menyerbu peringatan nasional dengan pembacaan puisi oleh para aktipis kampus. Khususnya ketika hari-hari besar di bulan September-Oktober. Tapi, ayolah… apa sikap intelektual kampusan terhadap agenda pemutaran bersama besar-besaran atas film horor Pengkhianatan G30S PKI? Apa malah mahasiswanya kepingin antre casting karena siapa tau bisa maen bareng aktor serba bisa, Reza Rahadian?

Jadi Begini

Pembaca yang budiman, pada masa sekarang, bermain media sosial adalah rutinitas yang musti terpenuhi. Minimal 2-3 jam perhari (sumprit, ini angka paling moderat…jam yang dihabiskan penulis berkali lipat ketimbang 2-3 jam). Meski ruang publik jenis ini juga terkolonisasi sama halnya dengan media tradisional (Tv, Radio, Koran), justru di dalam media sosial pancaran demokrasi lebih benderang.

Namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa penjajahan dalam media sosial yang menggunakanaliran amunisi hoax lepas dari perlawanan. Demokrasi digital memberi harapan baru bagi milenial untuk setidaknya bersuara ketika status maba belum cukup menjual di media sekaliber Kompa*. Tapi seperti simalakama, media sosial pula yang berperan amat besar bagi tumbuh suburnya kegenitan itu sendiri.

Tapi kita tak adil jika menutup mata sama sekali pada peluang baik yang diciptakan dari demokrasi digital ini. Apalagi tidak lama ini penulis membaca sebuah ajakan di media sosial untuk melakukan “Aksi Online” terkait berbagai kasus. Inovasi tersebut dikembangkan netijen secara kolektif dan swadaya tanpa kepemilikan sejarah intelektual seorang tokoh. Fenomena yang jelas-jelas sedang berusaha membuat instrumen baru dari aktivitas intelektual yang disesuaikan seiring hadirnya new media. Josh!

Jangan berasumsi bahwa cara ini terkesan eksperimental. Cara ini sudah terbukti dapat mengerahkan massa dengan jumlah mega. Walau harus diakui terkadang aksi online tidak sering menelurkan hasil dan cenderung cuma bersifat narsistik.

Contoh paling terdepan saat ini ialah #HariPatahHatiNasional. Berdasarkan pengamatan terakhir saya (yang sering ngimpi kawin bareng Raisa) sebagai tanggung jawab milenial dan membaca 2-3 refrensi online, aksi tersebut tercatat sebagai 10 besar trending Topic di twitter dengan jumlah lebih dari 20 ribu tweet.

Saya sedang berusaha meyakinkan diri untuk sekedar membayangkan jumlah tweet yang diperoleh atas pernikahan sepasang sempurna itu dilampaui oleh antusiasme pembahasan tentang Marxis atau sejarah terkait tragedi 1965-1966 secara komprehensif.

Jadi begini, handai taulan, segenerasi milenials, saya tidak sungguh-sungguh ingin mengkambing-hitamkan kelompok atau mengkhianati keadaan. Saya hanya bersedih atas hilangnya kecurigaan dan daya kritis terhadap zaman beserta ilusi-ilusinya yang terkonsumsi.

Padahal tidak bisa dipungkiri jika kita sangat berpotensi menjadi roda kencang revolusi. Mungkinkah kesadaran kita membaca marxis melulu bentuk kegembiraan intelektual sesaat? Dan/atau sebuah artikulasi dari penyesuaian iklim kampus yang memaksa kita memikul tanggung jawab sebagai mahasiswa pionir bangsa? Na’udzubillahimindzalik.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 200

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 444

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Editor Picks