Narasi Kegenitan Intelektual Kampus 0 1999

Mari terbuka dan bertanya: apa gairah yang paling dihidupi oleh generasi milenial?

Mereka yang kini mengisi bangku SMA dan mahasiswa, apakah sungguh masih ada imajinasi keras macam demonstrasi, diskusi, dan pergerakan lain? Apa masih tersisa bayangan ideal tentang apa dan bagaimana menjadi aktipis—ejaan ini dipakai untuk mengantisipasi lidah menclek macam penulis.

Penjelmaan aktipis bermuara ketika mahasiswa menjalani proses pengkaderan semasa berstatus sebagai Maba (mahasiswa Baru). Boleh jadi pada masa-masa seperti ini pemikiran kiri macam Marxis hingga pikiran kanan macam Khilafah pun mulai dijejalkan. Pada tahap awal, ide-ide ini ditanamkan dalam pikiran maba, dirawat, hingga tumbuh menjadi bahan dialektis yang suatu waktu dipanen untuk memenuhi hasrat bersuara. Di sana bersemi kegenitan intelektual.

Ndilalah saat-saat seperti perkuliahan, forum diskusi lintas keilmuan, pun ideologi, menjadi lahan aktualisasi guna membentuk identitas: doi anak kiri. Tradisi onani intelektual ini  bahkan mampu menggeser ide-ide yang turun kasta hanya sebagai pelengkap yang trivial.

Tentu sebuah penghinaan yang dilematis terhadap baginda Karl Marx atau Mirza Ghulam Ahmad (nama yang terakhir ini memang agak sulit disebut, lidah mendadak kelu). Tidak sulit memang jika mau dibayangkan kalau revolusi dari generasi milenial muncul dengan presentasi gaya modern. Misal, penyerangan terhadap kapitalis secara online melalui status di media sosial; mengkampanyekan untuk berhenti mengikuti langkah tidak tertebak Iphone; atau memberi stimulus melalui lagu-lagu rap si-keren Young Lex CS yang penuh otokritik (aku penuh dosyaahhh).

Saya tidak segan angkat topi setiap diselenggarakannya pertunjukan yang menyerbu peringatan nasional dengan pembacaan puisi oleh para aktipis kampus. Khususnya ketika hari-hari besar di bulan September-Oktober. Tapi, ayolah… apa sikap intelektual kampusan terhadap agenda pemutaran bersama besar-besaran atas film horor Pengkhianatan G30S PKI? Apa malah mahasiswanya kepingin antre casting karena siapa tau bisa maen bareng aktor serba bisa, Reza Rahadian?

Jadi Begini

Pembaca yang budiman, pada masa sekarang, bermain media sosial adalah rutinitas yang musti terpenuhi. Minimal 2-3 jam perhari (sumprit, ini angka paling moderat…jam yang dihabiskan penulis berkali lipat ketimbang 2-3 jam). Meski ruang publik jenis ini juga terkolonisasi sama halnya dengan media tradisional (Tv, Radio, Koran), justru di dalam media sosial pancaran demokrasi lebih benderang.

Namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa penjajahan dalam media sosial yang menggunakanaliran amunisi hoax lepas dari perlawanan. Demokrasi digital memberi harapan baru bagi milenial untuk setidaknya bersuara ketika status maba belum cukup menjual di media sekaliber Kompa*. Tapi seperti simalakama, media sosial pula yang berperan amat besar bagi tumbuh suburnya kegenitan itu sendiri.

Tapi kita tak adil jika menutup mata sama sekali pada peluang baik yang diciptakan dari demokrasi digital ini. Apalagi tidak lama ini penulis membaca sebuah ajakan di media sosial untuk melakukan “Aksi Online” terkait berbagai kasus. Inovasi tersebut dikembangkan netijen secara kolektif dan swadaya tanpa kepemilikan sejarah intelektual seorang tokoh. Fenomena yang jelas-jelas sedang berusaha membuat instrumen baru dari aktivitas intelektual yang disesuaikan seiring hadirnya new media. Josh!

Jangan berasumsi bahwa cara ini terkesan eksperimental. Cara ini sudah terbukti dapat mengerahkan massa dengan jumlah mega. Walau harus diakui terkadang aksi online tidak sering menelurkan hasil dan cenderung cuma bersifat narsistik.

Contoh paling terdepan saat ini ialah #HariPatahHatiNasional. Berdasarkan pengamatan terakhir saya (yang sering ngimpi kawin bareng Raisa) sebagai tanggung jawab milenial dan membaca 2-3 refrensi online, aksi tersebut tercatat sebagai 10 besar trending Topic di twitter dengan jumlah lebih dari 20 ribu tweet.

Saya sedang berusaha meyakinkan diri untuk sekedar membayangkan jumlah tweet yang diperoleh atas pernikahan sepasang sempurna itu dilampaui oleh antusiasme pembahasan tentang Marxis atau sejarah terkait tragedi 1965-1966 secara komprehensif.

Jadi begini, handai taulan, segenerasi milenials, saya tidak sungguh-sungguh ingin mengkambing-hitamkan kelompok atau mengkhianati keadaan. Saya hanya bersedih atas hilangnya kecurigaan dan daya kritis terhadap zaman beserta ilusi-ilusinya yang terkonsumsi.

Padahal tidak bisa dipungkiri jika kita sangat berpotensi menjadi roda kencang revolusi. Mungkinkah kesadaran kita membaca marxis melulu bentuk kegembiraan intelektual sesaat? Dan/atau sebuah artikulasi dari penyesuaian iklim kampus yang memaksa kita memikul tanggung jawab sebagai mahasiswa pionir bangsa? Na’udzubillahimindzalik.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Panduan Nyinyir Berhadiah ala Fahri Hamzah 0 252

Pertama-tama, saya ingin memberi selamat kepada Fahri Hamzah atas prestasi yang ditorehkan  baru-baru ini (13/8). Politikus Partai Gelora ini baru saja menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Naraya 2020 dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) . Tentu ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa, bahkan politikus – yang kini menjadi komisaris Pertamina –  yang tegas melawan korupsi seperti Basuki Tjahaja Purnama pun belum pernah mendapat award super bergengsi ini.

Penghargaan ini sendiri diberikan kepada Fahri Hamzah lantaran keaktivannya dalam “mengkritik” pemerintahan Jokowi. Menurut Fahri, penghargaan yang ia terima dapat dijadikan pelajaran bagi semua orang dalam pemerintahan supaya menghormati kritik. Selain itu, ia menilai bahwa penghargaan ini merupakan bukti bahwa pemerintah tetap menghargai kritik.

Tumben lihat Fahri Hamzah memuji pemerintah? Iya, saya juga baru kali ini baca komentar positif tentang pemerintah dari Fahri Hamzah.

Selama ini, anggota DPR RI yang satu ini dikenal sebagai politikus yang nyinyir, doyan mengkritik apapun yang dilakukan pemerintah. Bahkan, warga net menjulukinya sebagai Lord Fahri karena hanya dialah yang serba benar di negeri +62 ini.

Akan tetapi, pandangan warga net tersebut berbeda di mata Jokowi. Bagi Jokowi, ke-nyinyir-an Lord Fahri merupakan kekritisan yang sangat dibutuhkan pemerintah. Setiap butir dari kesewotan yang dilontarkan Lord Fahri bisa menjadi feedback negatif dan juga input bagi kebijakan-kebijakannya.

Berita Lord Fahri yang meraih penghargaan ini tak pelak menjadi trending di media sosial. Banyak yang kaget kenapa teman “duet” nyinyir Fadli Zon ini bisa mendapat penghargaan dari Jokowi. Banyak yang berasumsi ini adalah akal-akalan rezim pemerintah untuk membuat Fahri Hamzah “sungkan” mengkritiknya.

Dilansir dari Tempo.co, ia menampik dugaan netizen tersebut. Ia mengatakan bahwa dengan dipilihnya ia sebagai penerima penghargaan tidak akan menghentikannya menjadi nyinyir kritis. Ia menambahkan bahwa ia akan terus mengkritik karena presidennya menghargai kritik.

Seharusnya kita dapat melihat hal ini dalam sisi positif. Award yang diraih Lord Fahri ini membukakan mata kita bahwa nyinyir tak selamanya buruk. Tahu tempe kah kamu? Untuk menjalankan sistem agar tetap on the track, sistem tersebut butuh sekali feedback negatif. Maka dari itu, pemerintah (baca: Jokowi) memberi penghargaan sebagai ucapan terima kasih karena membantu sistem pemerintahannya tidak keluar jalur.

Setelah tahu nyinyir rupanya tidak selalu negatif, apakah kita juga boleh nyinyir juga seperti Lord Fahri?

Tentu boleh, tapi coba tanyakan dulu dirimu. Apakah Pembaca yang budiman ini konglomerat penyumbang pajak terbanyak? Petinggi Partai? Anggota DPR? Atau punya pengaruh terhadap kelanggengan kekuasaan rezim pemerintah?

Kalau status Anda tidak memenuhi yang saya sebut di atas, mohon maaf Anda belum bisa “nyinyir yang baik” seperti Lord Fahri. Sekadar mengingatkan, kalau tidak punya posisi atau pengaruh, masih ada UU ITE serta pasal penghinaan presiden yang mengawasi jari dan bibir nyinyir Anda. Hehehe…

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Bagaimana Kita dan Media Membungkus Gilang 0 579

Cerita murung bermula dari cuitan akun Twitter @m_fikris yang menceritakan kronologi bagaimana seorang laki-laki muda, dari suatu kampus kondang di Surabaya, melakukan pelecehan seksual secara verbal melalui pesan elektronik. Kisah pahit itu dijuduli dengan judul bombastis, macam portal berita onlen: “Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset dari Mahasiswa PTN di SBY”. Lantas, satu negara ini sejenak melupakan corona, berpindah gandrung pada ‘Gilang’, nama yang disebut-sebut menjadi pelaku pelecehan.

Cerita bertopik seks semacam ini, pembaca tahu, dengan cepat sambung-menyambung, berbalas, dan dibagikan secara meluas di linimasa. Tak hanya ramai di media sosial, yang bahkan sempat menduduki tingkatan teratas trending topic, ia ramai menjadi buah bibir tetangga, hingga agenda pemberitaan media massa.

Selain soal menumbuhkan kewaspadaan bersama, tapi lalu mengapa media, dan juga kita, sangat berambisi pada cerita-cerita semacam ini? Ada beberapa hal yang penulis ajukan di sini.

Pertama, media kita memang mudah sekali terangsang mengangkat berita-berita berbau seks. Apalagi ada anomali yang baru, fetish atau dorongan seksual dalam konteks kasus Gilang ini unik: napsu melihat orang yang dibungkus seperti pocong dengan kain jarik. Sayangnya, pembawaan berita berputar-putar pada fenomena, bahkan mengungkap sejarah Gilang yang sudah sering melakukan tindakan asusila.

Tapi, kemalasan media membuatnya lupa memberi pendalaman perspektif psikologis atasnya. Apakah benar memang fetish? Atau justru gangguan kejiwaan lainnya yang tak berhubungan dengan seksualitas?

Ah, jangan heran, media kita kan memang dari dulu begitu. Sejak zaman Orde Baru, kita sudah di-ninabobo-kan dengan berita konflik pertumpahan darah dan SEKS, supaya pemerintah tidak perlu repot-repot menjawabi pemberitaan yang mengkritisi kinerjanya.

Kedua, kita sepakat – jika memang ini adalah kasus pelecehan seksual – selalu bak gunung es. Korban-korban Gilang lainnya, yang telah menjadi target operasi bertahun-tahun silam, baru terungkap semuanya, ketika ada satu orang yang berani bicara. Kita memang patut berterima kasih (jika memang baik budi niatnya) pada si pembuat thread pada mulanya.

Demikian pula dengan kasus pelecehan seksual yang sudah-sudah. Entah itu pedofilia, pelecehan dalam keluarga, bahkan dalam konteks pria-wanita, selalu membuat sang korban tak berani bicara. Sebaliknya, korban lebih banyak dirundung, dituduh menggoda dengan pakaian terbuka.

Karena memang, belum ada hukum di negeri ini yang mampu melindungi korban pelecehan seksual. Kalaupun ada kasus yang terungkap ke permukaan dan diproses hukum, ia haruslah viral terlebih dahulu di media sosial (dengan mempermalukan korban 2 kali lipat), agar bisa ditindak pakai ‘Sang Maha-benar’ UU ITE, yang tak pernah benar-benar menggasak betapa brengseknya tindakan pelecehan itu sendiri. Benar apa kata sjw-sjw feminis: RUU PKS harus segera disahkan!

Ketiga, persoalan Gilang ini tak bisa hanya dilihat soal orientasi seksual yang melenceng. Kita sepakat bahwa hal tersebut adalah kemerdekaan hak setiap orang. Yang jadi persoalan, cara Gilang – jika, sekali lagi, memang benar fetish – dalam mengajak si korban memuaskan birahinya.

Gilang menggunakan kata-kata yang manipulatif, membohongi anak-anak yang lebih muda darinya agar mau membantunya mengerjakan ‘tugas kuliah’. Ia juga mendekati orang-orang yang tak ia kenal sebelumnya, dengan bahasa perkenalan yang cenderung superior, dominan, sekaligus minim etika. Unggah-ungguh berkenalan, ngobrol, dan meminta tolong pada orang yang baru dikenal seharusnya milik kita semua, terlepas dari apapun pilihan jalan hidup dan orientasi seksualnya.

Keempat, pendapat netijen yang bermunculan akhir-akhir ini justru bernada mengolok karena menganggap Gilang pantas mendapatkannya. Ejekan itu berkedok guyonan, bahkan nama-nama besar seperti Babe Cabita – yang kemudian banyak dihujat netijen juga – ikut-ikutan menertawakan tindakan Gilang. Selain itu, kamu dan saya, mulut kita semua sudah sibuk ngrasani bersama teman-teman tentang betapa tak warasnya Gilang.

Kita tidak sadar, bahwa diri sendiri ini juga sami mawon: menjauhi dan mencibir entah korban entah pelaku, entah juga orang-orang macam Gilang; tapi lupa bersimpati, mendekati, mencari akar masalah, dan menyelesaikannya bersama-sama. Memang benar, gotong-royong yang diajarkan founding fathers kita hanya tinggal klise sekarang (lihat tulisan: ‘Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif’).

Pada akhirnya, soal bungkus-membungkus ini memang bukan milik Gilang dan rektorat kampusnya yang sibuk memberi pernyataan sikap semata. Ini juga masalah kita semua, yang sudah lama dibungkus rasa egois dan gengsi, menutup mata dan telinga pada persoalan sosial di sekitar kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks