Narasi Kegenitan Intelektual Kampus 0 1757

Mari terbuka dan bertanya: apa gairah yang paling dihidupi oleh generasi milenial?

Mereka yang kini mengisi bangku SMA dan mahasiswa, apakah sungguh masih ada imajinasi keras macam demonstrasi, diskusi, dan pergerakan lain? Apa masih tersisa bayangan ideal tentang apa dan bagaimana menjadi aktipis—ejaan ini dipakai untuk mengantisipasi lidah menclek macam penulis.

Penjelmaan aktipis bermuara ketika mahasiswa menjalani proses pengkaderan semasa berstatus sebagai Maba (mahasiswa Baru). Boleh jadi pada masa-masa seperti ini pemikiran kiri macam Marxis hingga pikiran kanan macam Khilafah pun mulai dijejalkan. Pada tahap awal, ide-ide ini ditanamkan dalam pikiran maba, dirawat, hingga tumbuh menjadi bahan dialektis yang suatu waktu dipanen untuk memenuhi hasrat bersuara. Di sana bersemi kegenitan intelektual.

Ndilalah saat-saat seperti perkuliahan, forum diskusi lintas keilmuan, pun ideologi, menjadi lahan aktualisasi guna membentuk identitas: doi anak kiri. Tradisi onani intelektual ini  bahkan mampu menggeser ide-ide yang turun kasta hanya sebagai pelengkap yang trivial.

Tentu sebuah penghinaan yang dilematis terhadap baginda Karl Marx atau Mirza Ghulam Ahmad (nama yang terakhir ini memang agak sulit disebut, lidah mendadak kelu). Tidak sulit memang jika mau dibayangkan kalau revolusi dari generasi milenial muncul dengan presentasi gaya modern. Misal, penyerangan terhadap kapitalis secara online melalui status di media sosial; mengkampanyekan untuk berhenti mengikuti langkah tidak tertebak Iphone; atau memberi stimulus melalui lagu-lagu rap si-keren Young Lex CS yang penuh otokritik (aku penuh dosyaahhh).

Saya tidak segan angkat topi setiap diselenggarakannya pertunjukan yang menyerbu peringatan nasional dengan pembacaan puisi oleh para aktipis kampus. Khususnya ketika hari-hari besar di bulan September-Oktober. Tapi, ayolah… apa sikap intelektual kampusan terhadap agenda pemutaran bersama besar-besaran atas film horor Pengkhianatan G30S PKI? Apa malah mahasiswanya kepingin antre casting karena siapa tau bisa maen bareng aktor serba bisa, Reza Rahadian?

Jadi Begini

Pembaca yang budiman, pada masa sekarang, bermain media sosial adalah rutinitas yang musti terpenuhi. Minimal 2-3 jam perhari (sumprit, ini angka paling moderat…jam yang dihabiskan penulis berkali lipat ketimbang 2-3 jam). Meski ruang publik jenis ini juga terkolonisasi sama halnya dengan media tradisional (Tv, Radio, Koran), justru di dalam media sosial pancaran demokrasi lebih benderang.

Namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa penjajahan dalam media sosial yang menggunakanaliran amunisi hoax lepas dari perlawanan. Demokrasi digital memberi harapan baru bagi milenial untuk setidaknya bersuara ketika status maba belum cukup menjual di media sekaliber Kompa*. Tapi seperti simalakama, media sosial pula yang berperan amat besar bagi tumbuh suburnya kegenitan itu sendiri.

Tapi kita tak adil jika menutup mata sama sekali pada peluang baik yang diciptakan dari demokrasi digital ini. Apalagi tidak lama ini penulis membaca sebuah ajakan di media sosial untuk melakukan “Aksi Online” terkait berbagai kasus. Inovasi tersebut dikembangkan netijen secara kolektif dan swadaya tanpa kepemilikan sejarah intelektual seorang tokoh. Fenomena yang jelas-jelas sedang berusaha membuat instrumen baru dari aktivitas intelektual yang disesuaikan seiring hadirnya new media. Josh!

Jangan berasumsi bahwa cara ini terkesan eksperimental. Cara ini sudah terbukti dapat mengerahkan massa dengan jumlah mega. Walau harus diakui terkadang aksi online tidak sering menelurkan hasil dan cenderung cuma bersifat narsistik.

Contoh paling terdepan saat ini ialah #HariPatahHatiNasional. Berdasarkan pengamatan terakhir saya (yang sering ngimpi kawin bareng Raisa) sebagai tanggung jawab milenial dan membaca 2-3 refrensi online, aksi tersebut tercatat sebagai 10 besar trending Topic di twitter dengan jumlah lebih dari 20 ribu tweet.

Saya sedang berusaha meyakinkan diri untuk sekedar membayangkan jumlah tweet yang diperoleh atas pernikahan sepasang sempurna itu dilampaui oleh antusiasme pembahasan tentang Marxis atau sejarah terkait tragedi 1965-1966 secara komprehensif.

Jadi begini, handai taulan, segenerasi milenials, saya tidak sungguh-sungguh ingin mengkambing-hitamkan kelompok atau mengkhianati keadaan. Saya hanya bersedih atas hilangnya kecurigaan dan daya kritis terhadap zaman beserta ilusi-ilusinya yang terkonsumsi.

Padahal tidak bisa dipungkiri jika kita sangat berpotensi menjadi roda kencang revolusi. Mungkinkah kesadaran kita membaca marxis melulu bentuk kegembiraan intelektual sesaat? Dan/atau sebuah artikulasi dari penyesuaian iklim kampus yang memaksa kita memikul tanggung jawab sebagai mahasiswa pionir bangsa? Na’udzubillahimindzalik.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

“Gak Sengaja”, Hukum Indonesia, dan Pelakor di Drama Koriyah 0 139

Mau ngumpulin orang-orang yang kecewa dengan hukuman satu tahun para terdakwa penyiram air keras Novel Baswedan, sambil memperingatkan bahwa tulisan ini mengandung sedikit sepoiler drama.

(Penulis masih nggak tahu apa faedah ngumpulin orang-orang secara virtual begini. Nggak tahu lagi ada Corona apa?!)

Beberapa hari lalu, jaksa penuntut umum mengajukan hukuman kurungan 12 bulan bagi Rahmat Kadir Mahulette dan Rony Bugis. Mereka disebut melakukan penganiayaan berat dengan menyiram cairan asam sulfat kepada penyidik senior KPK, Novel Baswedan, sepulang sholat subuh 3 tahun silam. Kita tentu tidak bisa lupa, bahwa kejadian itu menyebabkan Novel kehilangan sebagian indra penglihatannya.

Dari pengajuan hukuman jaksa itu, banyak warga negeri ini yang meradang. Caci maki terhadap hukum Indonesia diajukan melalui laman media sosial, satu-satunya media yang dapat digunakan untuk nyampah aktualisasi diri. Kita semua lantas kecewa dengan sistem hukum Indonesia yang sudah sejak lama memihak pada sang empunya jabatan dan materi.

Tak lupa kita bernostalgia, mengenang betapa heroiknya KPK sebagai lembaga antirasuah, penghapus noda korupsi membandel negeri ini. Kita bersimpatik sungguh pada Novel, seorang yang bahkan ketemu apalagi nraktir semangkuk bakso buat kita aja gak pernah.

Pernyataan “ketidaksengajaan” yang muncul di persidangan dan akhirnya diduga kuat meringankan tuntutan hukum terdakwa itu, dijadikan konten oleh yang mengaku influencer. Betapa kata “gak sengaja” kini ramai dijual, menduduki trending topic. Kita menertawai kata tersebut. Hukum negara ini kita anggap jenaka.

Peristiwa ini memang menjadi pertanda bahwa masyarakat kita, walau nampak di taraf hanya peduli bikin TikTok dan challenge-challenge sembarang kalir di medsos, rupanya juga menaruh perhatian pada persoalan hukum dan politik negeri. Tentu ini kemajuan di satu sisi.

Kemudahan informasi dan akses yang diberikan teknologi membuat kita bisa membaca, menelaah, dan menganalisa kronologi perjalanan kasus Novel. Semua mendadak menjadi pengamat politik dan sarjana hukum jalur Twitter dengan diktat hukumonline.com.

Kita merasa menjadi makhluk paling suci jika ada yang mengusik kehidupan serdadu utama pemberantas korupsi. Kita merasa menjadi kaum yang paling berhak menentukan bahwa 1 tahun saja tak cukup. Kita ingin terdakwa dan otak di balik rencana jahat ini hidup menderita, berharap hakim memvonis hukuman seumur hidup.

Sama seperti kelakuan kita pada tokoh fiksi Yeo Da Kyung, karakter pelakor di drama Korea terlaris tahun ini: The World of Married. Penonton Indonesia ingin sang pelakor hidup menderita atas segala dosa yang diperbuat. Segenap mereka tidak terima melihat ending cerita Da Kyung yang tetap baik-baik saja, hidup dalam gelimang harta.

Kalau bisa, tak hanya meneror akun Instagram sang aktris, netijen gemas ingin menyurati sutradara, agar dibuatkan satu saja scene memuat adegan penyiraman air keras pada sang pelakor. Mungkin dengan berakhirnya wajah Da Kyung yang rusak, baru penonton bisa benar-benar puas (lha kok jadi kayak plot sinetron Endonesah?!).

Yang penonton lupa, Yeo Da Kyung, seorang gadis usia 20-an yang hamil di luar nikah dengan suami orang, telah menghabiskan masa mudanya, tak sempat mengejar cita-citanya, hanya karena nuruti mangan cinta dan janji manis bojone wong liyo.

Dari drama ini, kita lupa belajar tentang kehidupan. Hanya terfokus untuk belajar mengawasi suami ketika keluar rumah agar ia tak selingkuh. Kita lupa belajar bahwa apapun keputusan yang kita buat, telah menemui konsekuensinya masing-masing. Tak ada yang paling berhak menilai apakah ganjaran perbuatan sudah cukup memberatkan atau tidak.

Demikianlah kacamata kita yang sempit. Gak sengaja menertawai kebodohan orang lain, tanpa sadar bahwa perlakuan kita pun tak jauh lebih baik. Kita sengaja memilih satu-dua fakta kesalahan orang lain. Tapi juga sengaja mengabaikan nilai-nilai yang sebaiknya kita petik dan pelajari, agar kesalahan yang sama tak terulang pada hidup kita.

Lha wong menilai drama yang fiktif saja kita sengaja memilih poin yang hanya mau kita dengar, apalagi dalam kehidupan nyata. Hehe.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Apakah Kekeyi Pernah Menggoreskan Luka pada Kita? 0 399

Saya tak tahu apa yang membuat Kekeyi (dengan nama panjang Rahmawati Kekeyi Putri Cantika) banyak dibicarakan—dan sebagian besarnya dihina—di media.

Tentu saja orang bisa dengan sangat mudah melempar tai kucing ke media sosial, menyumpahserapahi dengan bebas tanpa khawatir diciduk, bersembunyi dalam nama samar. Tapi saya tak bisa memahami mengapa orang demikian bernafsu untuk mencibiri apa saja yang ada pada Kekeyi.

Berdomisili di Nganjuk dan dikenal karena mula-mula memanfaatkan perangkat make-up sederhana untuk memoles wajah, popularitas Kekeyi melesat ke mana-mana.

Ia bukan saja terlibat dalam kisah cinta yang pilu (dan dituding settingan tapi menguras emosi dan air mata), tapi juga bicara ngawur dalam banyak acara, dilukiskan sebagai perempuan rakus dalam tayangan-tayangan review kuliner, dan sejenisnya.

Tapi lalu justru di sini kita baru tiba pada soal sesungguhnya: mengapa kita punya energi untuk memasak kalimat-kalimat pahit untuk disemburkan padanya?

Jika pun tak ada faedah yang didapat dari apapun yang ia lakukan, sedangkah ia pernah menggores luka dan sakit hati yang demikian dalam pada kita? Hingga yang tersisa adalah makian tak berbatas, hingga pada suatu wawancara, ia katakan sendiri betapa pedihnya hidupnya meratapi kepungan makian?

Dan beberapa hari lalu, dengan suara yang pas-pasan (tak terlalu buruk disandingkan dengan mutu pengisi suara konser amal para pejabat tempo hari), video musik Kekeyi mengguncang jagad Youtube. Ia torehkan namanya sebagai yang teratas, sebagai yang paling banyak ditonton. Ia singkirkan pesohor lain.

Dan justru sebab itulah, angin cibiran berlipat-lipat. Bahkan videonya sempat dihapus oleh Youtube, menyoal duit yang berbalut hak cipta, sampai akhirnya dikembalikan lagi.

Saya menduga kuat, bahwa kita memang tak pernah mau menerima sebuah kenyataan bahwa siapapun orang yang kita sangka gagal, pada akhirnya sangat mungkin membuktikan sebaliknya. Kita tak bisa menerima fakta bahwa mengapa ‘yang begitu saja’ dapat melesat.

Ada sejurus dengki yang menuntut kompensasi bahwa kesuksesan dan keterkenalan yang tak pantas, harus diganjar dengan sebuah hukuman lain: digempur serapah dan hina-dina.

Dan gejala semacam ini adalah gejala yang mengendap dalam batin kita semua yang memang tak pernah bisa keluar dari kebuntuan nasib hidup. Kita merengek dan diam-diam protes keras pada mereka yang kita kira tak pernah pantas dibanding mutu kita sendiri.

Bukankah ini pertanda betapa kita sendiri adalah kumpulan orang-orang yang telah begitu lama kalah? Begitu lama haus pada kemenangan, hingga tak sanggup merelakan sebuah citra kemenangan itu diraih oleh orang yang ‘jauh lebih kalah’ ketimbang kita.

Mungkin itu pula sebabnya mengapa kita hobi sekali memandang-mandangi Youtuber membeli sebuah mobil miliaran seperti memborong kerupuk kalengan di warkop. Sangat tergila-gila pada acara kunjungan ke rumah-rumah mewah selebriti.

Kita suka dan memuja itu semua semata-mata karena ‘mereka lebih pantas dari kita’. Tidak peduli sebermutu apa nasihat dan obrolan di sana.

Tapi kita tak pernah bisa menerima kepantasan itu disematkan pada Kekeyi, yang demikian anomali, begitu berbeda, begitu kampung.

Mungkin di sanalah peluang satu-satunya Kekeyi: bahwa daya jual utamanya adalah kelemahan-kelemahannya—sebuah resep dahulu kala yang pernah sukses dipakai oleh politisi kita. Dengan jargon ‘dia adalah kita’, dan kini menjadi ‘dia adalah segala-galanya yang harus dibela’.

Editor Picks