Narasi Kegenitan Intelektual Kampus 0 1034

Mari terbuka dan bertanya: apa gairah yang paling dihidupi oleh generasi milenial?

Mereka yang kini mengisi bangku SMA dan mahasiswa, apakah sungguh masih ada imajinasi keras macam demonstrasi, diskusi, dan pergerakan lain? Apa masih tersisa bayangan ideal tentang apa dan bagaimana menjadi aktipis—ejaan ini dipakai untuk mengantisipasi lidah menclek macam penulis.

Penjelmaan aktipis bermuara ketika mahasiswa menjalani proses pengkaderan semasa berstatus sebagai Maba (mahasiswa Baru). Boleh jadi pada masa-masa seperti ini pemikiran kiri macam Marxis hingga pikiran kanan macam Khilafah pun mulai dijejalkan. Pada tahap awal, ide-ide ini ditanamkan dalam pikiran maba, dirawat, hingga tumbuh menjadi bahan dialektis yang suatu waktu dipanen untuk memenuhi hasrat bersuara. Di sana bersemi kegenitan intelektual.

Ndilalah saat-saat seperti perkuliahan, forum diskusi lintas keilmuan, pun ideologi, menjadi lahan aktualisasi guna membentuk identitas: doi anak kiri. Tradisi onani intelektual ini  bahkan mampu menggeser ide-ide yang turun kasta hanya sebagai pelengkap yang trivial.

Tentu sebuah penghinaan yang dilematis terhadap baginda Karl Marx atau Mirza Ghulam Ahmad (nama yang terakhir ini memang agak sulit disebut, lidah mendadak kelu). Tidak sulit memang jika mau dibayangkan kalau revolusi dari generasi milenial muncul dengan presentasi gaya modern. Misal, penyerangan terhadap kapitalis secara online melalui status di media sosial; mengkampanyekan untuk berhenti mengikuti langkah tidak tertebak Iphone; atau memberi stimulus melalui lagu-lagu rap si-keren Young Lex CS yang penuh otokritik (aku penuh dosyaahhh).

Saya tidak segan angkat topi setiap diselenggarakannya pertunjukan yang menyerbu peringatan nasional dengan pembacaan puisi oleh para aktipis kampus. Khususnya ketika hari-hari besar di bulan September-Oktober. Tapi, ayolah… apa sikap intelektual kampusan terhadap agenda pemutaran bersama besar-besaran atas film horor Pengkhianatan G30S PKI? Apa malah mahasiswanya kepingin antre casting karena siapa tau bisa maen bareng aktor serba bisa, Reza Rahadian?

Jadi Begini

Pembaca yang budiman, pada masa sekarang, bermain media sosial adalah rutinitas yang musti terpenuhi. Minimal 2-3 jam perhari (sumprit, ini angka paling moderat…jam yang dihabiskan penulis berkali lipat ketimbang 2-3 jam). Meski ruang publik jenis ini juga terkolonisasi sama halnya dengan media tradisional (Tv, Radio, Koran), justru di dalam media sosial pancaran demokrasi lebih benderang.

Namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa penjajahan dalam media sosial yang menggunakanaliran amunisi hoax lepas dari perlawanan. Demokrasi digital memberi harapan baru bagi milenial untuk setidaknya bersuara ketika status maba belum cukup menjual di media sekaliber Kompa*. Tapi seperti simalakama, media sosial pula yang berperan amat besar bagi tumbuh suburnya kegenitan itu sendiri.

Tapi kita tak adil jika menutup mata sama sekali pada peluang baik yang diciptakan dari demokrasi digital ini. Apalagi tidak lama ini penulis membaca sebuah ajakan di media sosial untuk melakukan “Aksi Online” terkait berbagai kasus. Inovasi tersebut dikembangkan netijen secara kolektif dan swadaya tanpa kepemilikan sejarah intelektual seorang tokoh. Fenomena yang jelas-jelas sedang berusaha membuat instrumen baru dari aktivitas intelektual yang disesuaikan seiring hadirnya new media. Josh!

Jangan berasumsi bahwa cara ini terkesan eksperimental. Cara ini sudah terbukti dapat mengerahkan massa dengan jumlah mega. Walau harus diakui terkadang aksi online tidak sering menelurkan hasil dan cenderung cuma bersifat narsistik.

Contoh paling terdepan saat ini ialah #HariPatahHatiNasional. Berdasarkan pengamatan terakhir saya (yang sering ngimpi kawin bareng Raisa) sebagai tanggung jawab milenial dan membaca 2-3 refrensi online, aksi tersebut tercatat sebagai 10 besar trending Topic di twitter dengan jumlah lebih dari 20 ribu tweet.

Saya sedang berusaha meyakinkan diri untuk sekedar membayangkan jumlah tweet yang diperoleh atas pernikahan sepasang sempurna itu dilampaui oleh antusiasme pembahasan tentang Marxis atau sejarah terkait tragedi 1965-1966 secara komprehensif.

Jadi begini, handai taulan, segenerasi milenials, saya tidak sungguh-sungguh ingin mengkambing-hitamkan kelompok atau mengkhianati keadaan. Saya hanya bersedih atas hilangnya kecurigaan dan daya kritis terhadap zaman beserta ilusi-ilusinya yang terkonsumsi.

Padahal tidak bisa dipungkiri jika kita sangat berpotensi menjadi roda kencang revolusi. Mungkinkah kesadaran kita membaca marxis melulu bentuk kegembiraan intelektual sesaat? Dan/atau sebuah artikulasi dari penyesuaian iklim kampus yang memaksa kita memikul tanggung jawab sebagai mahasiswa pionir bangsa? Na’udzubillahimindzalik.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 340

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Surat untuk Bu Pemred dan Semua Anak Jakarte 0 123

Jokowi yang baru-baru saja melempar isu ibukota baru harus bertanggung jawab pada banyak hal. Mula-mula, ehm, ya tentang tuduhan bahwa “Jakarta baru” di Borneo sana adalah semacam pembelokan isu. Tapi tuduhan macam ini biasanya diselesaikan oleh buzzer-buzzer aktip kreatip, jadi kita skip untuk sementara.

Soal serius dari ini: siapa yang mengobati sakit hati Bu Demes yang sudah telanjur tinggal di Jakarta, dan ketika lagi sayang-sayangnya malah ditinggal minggat status ke-ibukota-annya? Berlaku pula teruntuk pesohor-pesohor yang menjadi besar nyali artisnya lantaran status ibukota.

Saya pernah suatu ketika menyimak obrolan superior mahasiswa “lo-gue” yang di telinga bikin geli tapi menarik. Mereka membahas mengapa hidup di Jakarta “ngangenin”, kendati macetnya sungguh luar bioskop, belum lagi polutan-polutan yang biadab. Kata salah satu tokoh dalam obrolan itu (tampaknya ia salah satu selebgram, dilihat dari alis mata dan warna semir rambutnya yang, ehm, keluar lintasan): “..yaa gimana2 jakarta tuh pusat. Lo mo ngomong macet kek, tapi semua-mua dari sana”.

Asoi betul logikanya. Dan dalam beberapa hal betul.

Tapi apa yang ditawarkan Jokowi dari perpindahan Ibukota? Atau sebetulnya tak perlu resep penawar apa-apa bagi mereka yang sudah telanjur sayang? Bagi mereka yang sudah kepalang mengadu nasib di Jakarta? Atau, yang paling gaswat, jangan-jangan tak perlu solusi apapun tentang ini karena perpindahan itu ada atau tiadanya tak punya dampak apapun?

Apa mau syahrini pindah ke Kaltim dan menjadi artis bau tambang? Atau sinetron-sinetron menjadi belepotan dan pada akhirnya membuat semacam reality show “apa dan bagaimana hidup di tengah tambang”?

Jika pada akhirnya perpindahan ibukota Cuma soal pindah status, yaa lalu yang berpindah apanya. Apakah tak ada cara lain yang lebih elegan untuk bakar duit?

Skian dan terima gadis.

 

Joni Locke

Belajar filsahwat, merantau ke negeri jauh.

Editor Picks