Nastak, Nasbung dan Pencarian Jangkar Politik Rasial 0 1493

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Kapan kita boleh bermimpi tentang pasukan nasbung dan nastak bersatu, hidup damai, dan saling mencintai?

Dunia politik kita yang sudah pengap, bertambah ciut setelah pasukan-pasukan ini memproklamirkan perang. Medannya? Pembaca tentu sudah tau di mana bisa menemukan mereka.

Pasca pembelajaran yang amat penting pada bejibun kasus rasisme di pilkada DKI Jakarta lampau, kita tahu bahwa ada kelompok-kelompok yang menghidupi intoleransi macam ini. Nasbung nastak berkelahi tanpa henti, bahkan acap turut serta dalam keruwetan politik rasial. Karena kelewat dramatis, kosakata baru macam “Jonruisasi” pun kini hadir mengisi perbincangan di forum-forum maya.

Pembaca, anda boleh berkelit bahwa elite kita sudah cukup sensitif dan politik kita telah sepenuh-penuhnya santun, tapi pembaca juga musti waspada jika pendapat macam ini bisa terpelanting pada kepolosan berpikir.

Komentar rasisme yang terlontar dari tokoh-tokoh publik harus segera dibaca bukan semata-mata perkara silap lidah (lapsus linguae), melainkan datang dari kemungkinan rendahnya pengalaman multikultural dan kesesatan persepsional. Sulitnya, mengapa netijen macam nastak dan nasbung juga ikut-ikutan kepeleset lidah di isu rasial macam ini? Arie Kriting beruntung bisa tetap melucu dengan materi kulit gelap dan isu kesukuan. Lantas, apa nasbung-nastak harus ikut kursus untuk mendewasakan pemikiran rasial pada Arie si Kriting itu?

Penjelasan paling mudah mengapa semua terjadi adalah lantaran rasisme telah menjadi teknologi provokasi politik yang paling tua sekaligus universal. Keterampilan mengendalikan politik rasial dilatih pula oleh jam terbang. Bagaimana potret sejarah kita dalam mengendalikan ini?

 

Dipelihara

Pembaca pastilah tahu jika terminologi nastak-nasbung diciptakan dengan nuansa antagonistik, meski terdengar seperti lelucon. Mereka “tercipta” pada sekitaran 2014, waktu dimana pemilihan presiden dihelat. Fanatisme dimunculkan dan publik sengaja dibelah (atau membelah?) ke dalam dua kategori fans kandidat, Joko Widodo atau Prabowo Subianto. Kampanye massif yang dilakukan para pendukung Prabowo—dengan konsumsi utama nasi bungkus—akhirnya memunculkan istilah “panasbung”, pasukan nasi bungkus. Tak lama setelahnya, serangan balik pada fans Jokowi dilancarkan oleh Fadli Zon—timses Prabowo, mirip bintang iklan Daia—yang  mendeklarasikan istilah “panastak”, pasukan nasi kotak.

Ada sekurang-kurangnya tiga hal mengapa politik ras terus-menerus dipelihara dengan sengaja. Pertama, mayoritas kelas berkuasa masih ragu-ragu dalam memutuskan sikapnya terhadap rasisme. Sebagai metode provokasi yang murah, rasisme diberi tempat guna memberikan efek yang luas dan mendalam untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Bagi masyarakat dengan tipikal sentimentil, informasi apapun yang dibingkai (framed) dalam nuansa rasis bukan hanya akan mudah diserap oleh pikiran penerima, melainkan juga mudah untuk ditransmisikan ke kelompoknya. Lalu lintas informasi semacam ini begitu mudah ditemui dalam medan kontestasi politik yang melibatkan masyarakat trans-kultural.

Kedua, bertolak dari pengalaman kolonialisme di masa lampau, dunia politik pribumi—jika istilah ini masih diijinkan untuk digunakan—selalu ditempatkan paling bawah dalam hirarki kekuasaan. Orang-orang ndeso macam kita ini selalu diletakkan dalam posisi paling mencelat dari struktur keseluruhan. Kita melihat bahwa situasi ini terus-menerus mengendap dalam ingatan dan diwariskan turun-temurun—termasuk diwariskan disana ingatan-ingatan negatif yang menyulitkan generasi selanjutnya dalam memaafkan dan memetik hikmah sejarah. Ironisnya, diakui atau tidak rasisme jugalah yang diandalkan dalam memberikan penjelasan yang “membakar” perasaan nasionalisme tatkala harus berhadapan dengan penjajah. Kenangan buruk atas ras-ras tertentu itu mengental hingga hari ini.

Ketiga, rasisme juga bertumbuh-kembang dari kesenjangan jarak sosial yang riskan berbelok pada kecemburuan. Konon, orang-orang yang sudah kepepet hidupnya menjadi sasaran empuk kampanye rasial. Sentimen kecemburuan terhadap etnis lain yang “dituduh” kaya semakin menjatuhkan harga diri. Reaksinya mudah ditebak: orang akan emosi dan elite politik kita suka bermain-main dengan emosi. Pada sisi yang lain, celakanya, akar perkara ini tidak pernah mampu diatasi dengan memuaskan sehingga terus melebarnya kesenjangan berarti juga menajamnya kecemburuan. Rasisme pada gilirannya hanya menjadi pelarian ekspresif bagi kelompok lemah yang tidak mampu menjelaskan ketertindasan posisinya dibandingkan kelompok lain. Tradisi toleran pada segala macam kebiasaan, budaya, dan agama, mudah tumbang oleh rasa frustasi.

Keterhimpitan secara sosial dan ekonomi yang tidak ingin diakui, kemudian mendapatkan jawabannya yang paling ringkas melalui pengambinghitaman orang lain untuk melepaskan stres. Sindrom rendah diri ditukar dengan menyalahkan kelompok pesaing. Negara pun telah turut andil dalam menciptakan kelompok-kelompok yang merasa dilupakan dan kebingungan mencari akar persoalannya sehingga lari pada rasisme. Oleh sebab itu, perjuangan yang efektif melawan rasisme harus disertai dengan perjuangan melawan krisis sosio-ekonomi.

Kabar buruknya, negara terlalu lamban dan tidak memiliki prosedur standar dalam membereskan aksi politik rasisme. Pembaca bisa bayangkan, kita kini hidup dalam situasi dimana forum online, media sosial, grup whatssapp atau line, diisi oleh perdebatan, kadang tolol, tentang siapa yang seharusnya jadi presiden. Ruang publik ditebang demi saling tuding antara seteru abadi nastak-nasbung.

Sementara itu, kabar baiknya kedewasaan mulai tampak kendati samar-samar. Kesadaran multikultural kelas menengah punya andil cukup besar dalam mengatasi kelihaian pawai-pawai rasis. Masih untung ada orang-orang yang sayang waktu dan tak meladeni perdebatan rasial, tetapi memilih untuk menulis secara jernih. Tempo hari ada yang menyorongkan ide tentang calon pemimpin pribumi. Ide keblinger ini direspons oleh puja-puji, dan beberapa cacian. Tapi tak ada respons yang memuaskan sebelum muncul tulisan antropologis tentang “nenek moyang” di Jawa, yang ternyata secara fisik jauh dari bayangan kita semua yang mengklaim sebagai paling pribumi ketimbang yang lain. Keberuntungan kita ada pada orang-orang semacam ini, yang masih waras. Di mana peran kampus? Kok diem?

Meski kelas menengah (yang amat cerewet itu!) masih memegang dominasi atas tumbuhnya kesadaran ini, tetapi upaya keras untuk memberi jarak reflektif atas kebiasaan-kebiasaan buruk yang terwariskan turun-temurun tentu harus diberi pujian.

Kita menanti, sebentar lagi pemilihan presiden 2019 tiba. Apakah dilema nasbung-nastak mulai sembuh dan move on, atau makin parah karena sindrom pilpres dan bayaran sebagai buzzer?

 

Rendy Pahrun Wadipalapa

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Beberapa Masalah Super Penting dalam Hidup Kita 1 402

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Kurang lebih sebulan lalu, kita ditimpa musibah berupa ledakan bom yang terjadi di Surabaya. Berjenis-jenis analisis termuntahkan di atasnya. Mulai dari kecurigaan terhadap agenda politik sampai saling menyalahkan antar kelompok beragama. Sadarkah kita, bahwa diskusi tersebut menjauhkan substansi dari kandungan peristiwa yang sebenar-benarnya adalah masalah besar tentang kemanusiaan. Bukan sekadar agenda politik atau kesempatan menampakkan citra melalui modus belasungkawa.

Tidak lama setelah itu, kita dihebohkan kembali karena seorang penyanyi dangdut perempuan mendapat perlakuan tidak sopan dari seorang pemain sepak bola klub nasional. Menurut berita yang beredar, atlet tersebut meminta doi agar datang ke tempat peristirahatannya dengan pakaian serba terbuka. Tidak terima dengan permintaan itu karena merasa direndahkan, si penyanyi dangdut pun membagikan pengalamannya di media sosial sebagai bentuk pembelajaran bagi siapapun agar kelak lebih bersikap sopan pada orang yang baru dikenalnya.

Tidak juga berhenti sampai di situ, masalah ini menimbulkan pro-kontra. Ada yang mendukung reaksi penyanyi dangdut tersebut sebagai bentuk perlawanan kaum perempuan, ada yang tidak menerima karena dianggap terlalu berlebihan dan memang sewajarnya penyanyi dangdut mendapat perlakuan begitu.

Selanjutnya, kita berdebat tentang ‘aplikasi goblok’ berisi video-video aneh dari netijen. Banyak yang mengatakan bahwa generasi yang menghidupi aplikasi ini sudah kehilangan akal mencari hiburan, tidak seperti generasi lama yang membuat tawa tidak perlu pakai aplikasi atau kuota internet. Apalagi mengorbankan akal sehat. Tolong, semangat perdebatan antara kedua kelompok ini tidak bisa dipertemukan. Selera dan kebahagiaan sama-sama tak terukur.

Pernahkah kelompok yang membenci ‘aplikasi goblok’ itu berpikir, bahwa, para anak-anak kecil, dan remaja, yang membuat video kreatif di dalamnya sedang berusaha mengasah kemampuan mereka, sedang berusaha berkarya dalam bidang yang mereka sukai. Video-video mereka nyaris selalu mengundang tawa, dan proses produksinya membutuhkan niat serta kreatifitas tinggi. Hanya karena perbedaan selera humor, kalian merasa mampu menguasai apa-apa yang benar? Apa-apa yang lucu dan apa-apa yang menyedihkan? Tahan sebentar.

Terakhir. Belum lama ini, ya, belum lama ini, hilangnya sebuah foto di Instagram menandingi diskusi hilangnya aktivis ‘98 maupun para korban ‘65. Adalah bapak reformasi kita, Amien Rais, yang tetiba mendadak girly setelah mengetahui bahwa unggahan fotonya yang memerlihatkan kebersamaan beliau dengan sahabat Prabowo dan Rizieq hilang tanpa musabab. Sempat ada rencana jika peristiwa penghilangan paksa oleh Instagram ini akan didudukkan ke Mahkamah Internasional. Luar biasa.

Kita patut menyanjung daya kritis yang dimiliki oleh bapak Amien dan kawan-kawannya. Kecurigaan beliau pada penguasa tidak butuh diuji lagi. Sudah terbukti, beliau berhasil menjadi bagian dari sejarah tumbangnya Orde Baru. Dan hingga saat ini, beliau terus memerjuangkan cita-cita reformasi yang telah dititipkan padanya duapuluh tahun lalu. Sekali lagi, kita tetap perlu memuji konsistensinya dalam hal mencurigai kekuasaan, betapapun ganjilnya itu. Suatu kemampuan yang sukar ditemukan pada waktu sekarang.

Kita sudah kenyang dengan isu-isu trivia, bahkan untuk lebaran kesekian kalinya, semestinya kita sudah paham harus berbuat bagaimana, apalagi menjelang pilpres yang mengakibatkan arus propaganda semakin meruncing. Kita juga sudah bosan dengan isu-isu berbalut agama. Sudah saatnya kita mengistirahatkan semuanya. Rebahkan sebentar sikap politik kita, tidak peduli golongan kecebong atau golongan kampret. Pokoknya semua harus menikmati ketupat dengan tentram.

Antara seluruh peristiwa yang mengurai di sekitar kita, manakah yang paling berpengaruh terhadap cara berpikir kita? Adakah peristiwa yang menentukan nasib baik dan buruk kita kedepannya? Atau sebenarnya kita sudah tidak mampu membedakan, mana peristiwa yang memang perlu disikapi dengan serius dan mana peristiwa tak penting yang hanya perlu direspon sekadarnya saja? Atau kita sudah terbiasa berdebat karena kondisi-kondisi di atas terus menghantam kesabaran kita untuk bersuara, sehingga secara naluriah saja setiap munculnya fenomena, kita langsung saja menempatkan diri sebagai kelompok Pro/Kontra? Mbohlah.

Bagaimana Sebaiknya Kita Mengenang Minggu, 13 Mei 2018? 0 310

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Menentukan Bingkai Untuk Mencatat Sejarah

Hemat penulis, Minggu, 13 Mei 2018 kemungkinan besar akan melekat di ingatan warga Surabaya dan Indonesia. Mungkin juga kemudian akan diperingati dengan emosional dan mengharu-biru setiap tahunnya mulai dari sekarang. Mungkin pula dengan mengheningkan cipta, teatrikal atau entah akan seperti apa.

Mungkin saja.

Hanya kemudian, akan diingat dan diperingati sebagai apa dan bagaimana menjadi cukup penting untuk dijadikan bahan pikir. Apakah Minggu, 13 Mei 2018 akan diingat sebagai hari dimana Surabaya dan Indonesia diguncang bom teror tertubi-tubi, yang lantas membuat warganya takut dan terpecah belah?

Atau kemungkinan lain, dimana Minggu, 13 Mei 2018 akan diingat sebagai hari barisan kemanusiaan Surabaya dan Indonesia bersatu dan bangkit dalam semangat keberanian dan bersama mengecam kebiadaban terorisme?

Menurut penulis, ini adalah pilihan genting dan krusial untuk segera diambil. Mengapa? Karena penting untuk menentukan bagaimana cara kita mengingat Minggu 13 Mei 2018 oleh sebab, tentu ingatan itu akan berkorelasi langsung dengan sikap. Sikap yang nantinya akan menentukan seperti apa dan bagaimana kita ke depan. Sikap yang akan membentuk bagaimana sejarah tercatat.

Awal mulanya berakar dari ingatan yang kita bingkai hari ini. Kemudian, bagaimana sebaiknya kita membingkai ingatan itu?

Yang Terjadi Hari Itu

Menurut penulis ada beberapa hal yang bisa membantu kita menentukan pilihan itu, berangkat dari apa saja yang terjadi di Minggu pagi pukul 06.30 di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), GKI Diponegoro, dan GPPS Sawahan. Tiga bom bunuh diri meledak di tiga gereja itu. Bersusul-susulan dalam jeda tiga puluh menit. Korban meninggal tercatat 13 orang dan puluhan lain luka-luka.

Rombongan Presiden Joko Widodo bersama Kapolri Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Din Syamsuddin, Mahfud MD, dan Wiranto langsung terbang dari Jakarta dan meninjau gereja-gereja Surabaya yang diledakkan. Semuanya mengecam kebiadaban terorisme dan mengimbau agar masyarakat tidak takut. Didampingi pula Tri Rismaharini dan Soekarwo saat memberi pernyataan di RS Bhayangkara pada (13/5) sore.

Selang sehari, Kapolri Tito Karnavian memastikan ketiganya adalah lanjutan kasus kerusuhan di Mako Brimob, Jakarta yang selidik punya selidik berafiliasi pula dengan gerakan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid, pendukung utama ISIS di Indonesia.
Pelaku pengeboman adalah keluarga Dita Oepriarto dan Puji Kuswanti beserta empat orang anak mereka. Dita adalah ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya. Ia baru pulang dari Suriah, dan diketahui bertempat tinggal di Wonorejo Asri Blok K/22, Rungkut, Surabaya.
Hingga malam turun pukul 21.30, sebuah bom teror lain meledak di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Esok harinya, Senin 14 Mei 2018, kembali terjadi peledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya. Berselang beberapa saat, pecah baku tembak antara polisi dan komplotan teroris di kawasan Urang Agung dan Puri Maharani  Sidoarjo.

Soal kronologi yang lebih mendetail, pembaca tentulah sudah mahfum. Media apapun mengabari kita dengan breaking news yang terus-menerus. Penulis yakin, pembaca Kalikata pasti  mengikuti apa yang terjadi.

Lalu apa?

Soal Menentukan dan Membentuk Bingkai

Kembali pada tujuan tulisan ini, bagaimana kita membingkai segala rangkaian kejadian teror ini untuk kemudian kita ingat?

Tentu saja harus kembali dari apa yang terjadi pula di Minggu, 13 Mei 2018. Tidak hanya kekejian, tapi kemanusiaan pun tersaji begitu indah dan mengharukan kemarin. Membantu kita menentukan bingkai sejarah, dan membentuk ingatan yang harus dirawat.

Karena perlu kita ingat, selain para pelaku pengeboman, keberadaan pahlawan-pahlawan kemanusiaan yang juga gugur kemarin adalah antitesis, tandingan dari kebengisan teroris. Mereka tidak boleh sekalipun dilupakan. Aloysius Bayu dan Yesaya Bayang, dua sosok pahlawan kemanusiaan yang bisa membantu kita mengingat Minggu, 13 Mei 2018 dalam bingkai yang heroik dan kental nuansa humanisme. Keduanya wafat saat pasang badan menghadang pelaku pengeboman, lantas ikut meledak.

Mati syahid mereka adalah bukti, manusia dapat menjadi perisai -bahkan dalam artian harfiah- bagi sesamanya. Kemanusiaan tidak sirna. Kematian mereka pun bukan hanya berbuah kegagalan teroris meledakkan bom di dalam gedung gereja. Pun lebih dari keselamatan jemaat yang masih di dalam gereja saat itu. Heroisme Aloysius Bayu dan Yesaya Bayang, laksana bara semangat kemanusiaan yang membakar semua yang hidup dan terinspirasi oleh kisah mereka berdua. Menguatkan kita yang takut dan hampir paranoid.

Juga perlu disoroti solidaritas warga Surabaya yang atas inisiatif sendiri, berbondong-bondong mendatangi kantor PMI untuk donor darah. Dikabarkan antrean mengular panjang sejak pagi, sebanyak 600 lebih orang bersimpati segera setelah gereja-gereja meledak. Mereka datang tentu dengan satu harapan, agar darahnya bisa mengaliri nadi korban dan menyelamatkan sesama. Menyambung hidup mereka yang hampir dicerabut oleh bahan peledak dan jihad yang salah kaprah.

Tak lupa juga dukungan moril dan doa di sosial media, pun dengan tagar #SuroboyoWani, #Kamitidaktakut, dan #TerorisJancok yang digunakan untuk menciptakan konsolidasi rasa.

Kemarin, tidak seorang pun dibiarkan menghadapi kekacauan ini sendirian. Seluruh warga Surabaya dan Indonesia ada untuk saling menguatkan dan mendukung. Esensi kesatuan tercipta, pun keberanian bangkit untuk bersama melawan terorisme yang berani-beraninya menginjakkan kaki di Surabaya. Atmosfir kebersamaannya begitu terasa, bahkan cukup kuat untuk menenangkan hati yang ketar-ketir karena kabar bom yang terus ditemukan.

Simpati yang mengalir pun tidak henti-hentinya. Doa-doa dilantunkan, elemen-elemen masyarakat dan mahasiswa berkumpul dalam aksi solidaritas dan doa bersama di Tugu Pahlawan. Juga jauh-jauh dari Vatikan. Paus Fransiskus mengajak seluruh umat Katolik sedunia mendoakan dan bersimpati pada Surabaya. Dukungan dam doa datang bahkan dari yang jauh sekalipun. Begitulah kemanusiaan bekerja. Begitulah seharusnya ketika manusia menjadi manusia.

Lalu Akhirnya..

Sampai di sini, sudahkah Pembaca menentukan bingkai apa yang sebaiknya digunakan? Ingatan macam apa yang harus dirawat dan dijaga? Juga sikap apa yang harus ditumbuh-kembangkan pasca Minggu, 13 Mei 2018?

Pembaca, semoga kita selalu memilih kemanusiaan

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Berminat pada isu-isu keperempuanan dan gender.

Editor Picks