Pengkhianatan atas Pengkhianatan Gerakan 30 September 0 1257

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Keributan para handai-taulan netizen di seputar bulan September selalu mudah ditebak. Apa lacur, isu komunisme dan penumpasan PKI jadi kembang lambe lagi. Tahun ini, Negara lewat Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, menganjurkan dan mensponsori pemutaran massif film horor sejarah Pengabdi Setan Pengkhianatan Gerakan 30 September. Bagi pembaca yang belum menonton, adegan puteri jenderal yang raup darah orang tuanya adalah adegan yang boleh diadu dengan potongan scene paling seram Annabelle:

tilikkarya

Dari mana awal mula gagasan film ini?
Ia bermula tatkala Orde Baru merasa harus meluncurkan versi resmi dari kronologis cerita Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) yang, tentu saja, memihak peran penting TNI dibawah komando Soeharto. Melalui film besutan Arifin C Noer, Pengkhianatan Gerakan 30 September, gambaran PKI, ideologi komunisme dan peristiwa Gestapu digambarkan sedemikian rupa dengan kesan seram dan menyudutkan. Komunisme distigmatisasi sebagai ideologi anti-Tuhan, sehingga tindak-tanduknya di film tersebut—seperti menyilet tubuh Jenderal, berpesta, menyiksa, hingga membunuh—direpresentasikan sebagai perwujudan ke-anti-Tuhan-an tersebut.

Untuk memberikan legitimasi atas upaya pendisiplinan wacana komunisme melalui film, pemerintah menerbitkan perundang-undangan mengenai pedoman sensor pada tahun 1977 untuk membatasi ruang gerak perfilman nasional, sebagaimana diulas Krishna Sen & David T. Hill (2000). Sebuah mekanisme represif berupa sensor akhirnya dijalankan untuk mengawal peredaran isi film agar tidak menyimpang dari kehendak dominan. Maka, disamping menunjukkan kepada publik bagaimana hegemoni dijalankan melalui film propaganda anti-komunisme, tindakan-tindakan represif juga telah disiapkan oleh rezim untuk memotong film-film yang ‘bandel’ melalui badan sensor. Apesnya, dulu tak ada internet, media sosial, dan netijen yang cerewet.

Secara umum, opini publik dibentuk dan diarahkan melalui media massa, untuk menciptakan persetujuan dan kepatuhan massal tentang suatu sejarah menurut versi penguasa. Media massa dalam segala bentuknya, dimanfaatkan sebagai instrumen untuk menanamkan wacana anti-Komunisme, termasuk di dalamnya adalah film. Film Pengkhianatan Gerakan 30 September misalnya, dicatat oleh Sen & Hill sebagai film yang diwajibkan untuk ditonton di sekolah-sekolah dan departemen pemerintahan, dan dari pertengahan tahun 1980 hingga tahun 1997 diputar tiap tahun bertepatan pada tanggal 30 September di TVRI, serta direlai diseluruh stasiun televisi yang ada.

Ajaib! Kini kita sedang didorong untuk kembali di jaman itu. Pemuda-pemudi harus menenggak lagi film ini. Wajib, Fardhu’ain.

Tabiat Negara yang anti-komunis berlanjut bahkan dalam konteks politik menjelang Reformasi. Beberapa hari saja sebelum kejatuhan Soeharto dari jabatan kepresidenannya, sebuah gerakan anti komunis masih sempat disasarkan kepada media yang memihak pada nilai-nilai komunisme. Bagi pembaca yang tak malas, silakan googling gerakan yang dinamai “Aliansi Anti Komunis” (AAK), yang terdiri dari beragam kelompok kanan dan berhaluan konservatif-revivalis-islamis. Tindakan ini ialah ekspresi bagaimana civil society dibawah koordinasi rezim masih berakar pada trauma-trauma atas komunisme. Trauma inilah yang kemudian dapat dikemudikan bertahun-tahun, bahkan hingga dalam hitungan hari jatuhnya rezim Orde Baru.

Tekanan anti-komunisme merentang lebih jauh hingga kini, jauh setelah Orde Baru resmi ditebang. Debat konyol yang mempertanyakan kembali apakah gerakan komunisme masih ada atau tidak belakangan mengemuka di Indonesia Lawyer Club. Program diskusi yang dipandu Karni Ilyas—pemred TV One bersuara Doraemon—ini menyoal film Pengkhianatan yang dibahas bersama tokoh-tokoh dengan kesimpulan yang bisa diduga: memperkuat prasangka kebangkitan bahaya laten komunisme.

Itu sebabnya, mendiskusikan komunisme di Indonesia berarti mendiskusikan frustrasi itu sendiri. Usaha untuk membuka kembali upaya rekonsiliasi antara negara dan korban pembantaian senantiasa menemui beberapa kendala. Pertama, pembantaian orang-orang yang diduga bagian dari Partai Komunis Indonesia tak pernah menjadi perhatian serius negara. Harapan sempat menyembul tatkala presiden Abdurrahman Wahid hendak mencabut TAP MPRS tentang pelarangan Marxisme-Leninisme No. XXV/MPR/1966, meski lalu pupus di tengah jalan karena ditentang MPR. Harapan lainnya adalah wacana UU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang, lagi-lagi, tak begitu jelas nasibnya hingga kini.

Kedua, komunis dan komunisme justru makin populer karena ia simbol paling mudah dan ringkas untuk dipakai sebagai label stigmatisasi. Dalam perpolitikan, makin wajar kini andai seorang elite mendakwa kompetitornya sebagai komunis tanpa memerlukan bukti dan verifikasi, sebagaimana terjadi pada presiden Joko Widodo dalam pertarungan pemilu lalu. Label itu dikukuhkan oleh historiografi melalui buku-buku sejarah di bangku sekolah yang masih enggan untuk memberi data dan fakta proporsional tentang peristiwa 1965. Terhadap stigmatisasi yang terang-terang keliru ini, negara tak pernah beringsut dari sikap diamnya.

Ketiga, keterbukaan selalu dilawan dengan ketertutupan. Membuka ruang diskusi atas pembantaian 1965 selalu ditutup dengan kekhawatiran bahwa itu semua akan membangkitkan luka lama. Anehnya, dari mana datangnya pemikiran bahwa luka itu telah tertutup dan sembuh? Dimana logikanya sebuah peristiwa besar dengan akibat ratusan ribu orang mati (bahkan jutaan, dalam versi lain) disebut dalam kepura-puraan sebagai luka yang telah sembuh lalu kini ditakutkan akan terbuka kembali?

Pembaca, sampeyan boleh menonton film apa pun, termasuk Pengkhianatan. Tapi pembaca sebaiknya tak “berkhianat” pada akal sehat: satu wacana atau ide yang diputar terus-menerus di kepala kita tak pernah menyehatkan. Ada banyak film lain yang membantu perspektif untuk tetap utuh dan melengkapi lubang di sana-sini. Dua film sineas Joshua Oppenheimer, Jagal (The Act of Killing) dan Senyap (Look of Silence) sebaiknya juga dipertimbangkan untuk dilihat. Dua film Oppenheimer itu bertolak dari konteks pembantaian 1965 di Sumatera Utara, dan melakukan pembacaan ulang atas sejarah itu dari konteks kekinian.

Film lain, besutan Nan T. Achnas, Pasir Berbisik yang dibintangi mbak Dian Sastro juga bisa ditimbang. Film Gie dan Sang Penari, keduanya disutradari Riri Riza, juga memotret komunisme dalam nuansa yang lain. Mau film populer dengan warna horor? Silakan tengok Lentera Merah. Ada mbak Laudya Chintya Bella yang menjadi wartawan kiri yang bangkit dari kubur dan menuntut balas.

Pegiat anti-komunisme mungkin terlalu banyak dihantui mbak Bella: paranoia atas mereka yang mati lalu kembali.

Rendy Pahrun Wadipalapa

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Panduan Nonton ‘Mantan Manten’ 0 559

Sebagai film Indonesia yang lagi-lagi bercerita tentang perempuan, Mantan Manten karya Visinema Pictures menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu umat feminis. Apalagi, film ini bakal mengangkat adat Jawa, yang walaupun sudah mendominasi media kita, tapi tetap menarik jika ada produser film yang mau mengupasnya lebih dalam.

Untuk itu, penulis yang baik hati ini tidak akan membocorkan alur cerita apalagi endingnya kepada pembaca yang berniat menonton (toh trailer sudah mengambil bagian ini hehe). Alih-alih, penulis justru bakal membagi panduan menonton bagi pembaca sekalian.

 

  1. Gak usah sedia tisu

Karena bercerita tentang mantan yang manten, tidak membuat film ini lantas membuat kita teraduk-aduk emosinya, air mata mengucur deras tak henti. Siapa sih yang gak pernah ditinggal nikah sama mantannya? Ini adalah kasus yang paling jamak didapati dalam kisah romansa remaja bangsa yang labil ini :(.

Tapi, barang sebentar kita mau mengarungi gejolak perasaan Mbak Yasnina—yang diperankan Atiqah Hasiholan—ditinggal tunangannya menikah dengan orang lain, adegan nangis-nangisan malah cepat sekali berganti ke adegan lainnya. Baru saja ingin menyelami perasaan serba bingung dan gak enaknya Surya antara memilih Yasnina atau keputusan bapaknya, kita dihadapkan pada sikap kekanakannya dan cenderung menyebalkan.

Penulis juga kesulitan betul menghargai peran Budhe Marjanti yang dihormati sebagai dukun manten itu. Kesakralan hidupnya menjalani puasa dan semedi tidak sempat dihadirkan, diburu dengan durasi film 1 jam 42 menit itu. Pun film ini absen menampilkan adegan pertengkaran batin bapaknya Surya, Iskandar, yang akhirnya menelan pil pahit karena gengsi meminta Yasnina jadi dukun manten buat anaknya.

Emosi dilempar ke sana kemari. Diakhiri tanpa permisi. Diminta ganti ketika kita sedang menikmati. Padahal sudah tersedia 1 pak tisu di tas penulis, berjaga-jaga siapa tahu scene-scene tertentu menguras air mata. Baru mau nangis, eh sudah ganti scene lagi. Haduuuh!

 

  1. Gak usah berharap tinggi-tinggi

Ingat sodara-sodara, tidak semua film bertujuan mendidik! Gak usah berekspektasi tinggi pula bahwa paes dan adat nikah mantenan ala Jawa bakal dikupas tuntas di film ini. Malahan, posisinya menjadi trivial.

Sungguh hebat, Yasnina yang hidup tanpa latar belakang tradisi yang jelas di panti asuhan, bisa belajar paes Jawa dan bahkan jadi dukun manten keluarga keraton Solo dalam kurun waktu 3 bulan. Lebih hebat lagi, Yasnina berani merias istri mantannya, padahal emosinya masih belum stabil untuk menerima fakta pahit itu. Dikisahkan ia juga masih emosi meledak-ledak ketika tahu mantannya akan menikah dengan orang lain. Lah kok njelalah, Nina tiba-tiba berubah jadi sosok yang tenang waktu membetulkan beskap Surya yang kekecilan itu. Kapan berubahnya, cah ayu?

Jangan-jangan, Mbak Nina—panggilan sayang Yasnina—ini lagi pansos. Kisah hidup dan cinta dia kalau diunggah netijen tamu undangan mantenan Surya ke media sosial dengan hestek #JusticeForNina pasti laku keras, menuai simpati di mana-mana. Tiba-tiba Nina terkenal, jadi influencer dan motivator dadakan, serta mendapat banyak orderan endorse online shop abal-abal.

Oh ya, Iskandar, si bapaknya Surya, ceritanya memegang teguh adat Jawa. Dia hanya percaya Budhe Marjanti sebagai dukun manten maha-sakti sak Indonesia raya. Saking taatnya pada tradisi, dia rela lo menerima Nina sebagai orang yang diwarisi tugas paes manten anaknya, walaupun awalnya menyimpan dendam kesumat padanya, entah karena apa. Tapi kalau-kalau dia pemegang teguh adat dan memiliki spiritualitas yang baik, kok sampai hati betul Iskandar demi bisnis mengkhianati calon mantunya sendiri? Apakah berkhianat termasuk jihad? Sungguh janggal.

 

  1. Gak perlu nonton sampai habis

Bukankah judul sudah menceritakan semuanya? Pokoknya ini cerita tentang mantan yang manten. Namanya juga mantan, berarti dia mantennya bukan dengan si pemeran utama. Dari scene pertama, ketika Surya melamar Nina, kita sudah tahu bahwa di akhir nanti mereka gak akan bersama. Bodo amat dengan nasibnya yang kelak akan ditipu calon mertua sendiri.

Pun kalau dia adalah wanita karir hebat, bisa-bisanya harta habis tanpa sedikit pun bersisa. Katanya lulusan amerika, bangun karir dari nol, dapat banyak penghargaan (sebagaimana dikisahkan di dinding panti asuhan), bisa-bisanya teledor dan tidak punya aset sama sekali, kalaupun punya belum balik nama lagi. Masak iya sih, manajer investasi terkenal tidak punya tim pengacara pribadi dan tidak tahu cara investasi bagi dirinya sendiri?

Nina boleh deal dengan banyak  klien perusahaan raksasa, tapi kalah dengan ibu-ibu dukun manten di pegunungan Temanggung. Kalah pula dengan akal-akalan bapak tua yang menipu karir dan jalan cintanya. Di mana Nina yang pintar lobi-lobian itu ketika berhadapan dengan budhe dan Pak Iskandar? Mangkane to Mbak, keseimbangan IQ, EQ, dan SQ itu penting!

 

Demikian panduan nonton ini telah dibuat. Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan pembaca sekalian karena film Mantan Manten masih bisa ditemui di bioskop-bioskop kesayangan Anda!

 

Salam hangat, penggemar arwah suami Budhe Marjanti; bapak tua yang dibayar cuma buat senyum dan manggut-manggut sepanjang filem.

‘Yowis Ben 2’: Film Band-band-an yang Yowislah 0 1044

Setamat Bayu dan kawan-kawan menempuh masa sekolah, tibalah mereka pada tantangan hidup berikutnya: lanjut kuliah atau kerja.

Belum sempat daftar kuliah bersama gadis kecintaan, boneka Susan, Bayu keburu disalip Roy yang—dengan mudahnya—mengajak Susan melanjutkan pendidikan di Jerman. Tak cukup dibuat jatuh oleh kandasnya hubungan, ia terancam masa kontrak rumah yang hampir habis. Bayu dibuat pusing. Satu-satunya jalan keluar ialah dengan membesarkan band-nya, Yowis Ben.

Jika ingin jujur berbicara film tentang band di Indonesia, apalagi yang berformat komedi, bisa dikatakan ada dua hal yang tidak mampu dilepaskan: persoalan wanita dan pertarungan idealisme. Plot pertama, tokoh utama berusaha mengejar gadis idaman lalu tanpa sengaja melupakan band; sedang di lain sisi, ada personil lain yang ketimpa masalah sehingga harus meninggalkan band. Atau plot kedua, band butuh panggung untuk berkembang, sedangkan realitanya, tak semua band mampu membawa semangat idealisnya, hingga harus berkongsi dengan pasar; personil lain ada yang setuju ada pula yang tidak.

Film Yowis Ben 2 tetap terjebak pola semacam itu. Melanjutkan kesuksesan dari film pertama, Fajar Nugros dan Bayu Skak mendamba lebih. Maka jadilah mereka merekrut nama-nama besar macam Anya Geraldine, Andovi dan Jovial da Lopez, serta sederet artis lain. Demi pasar yang lebih luas, mereka pun memaksakan memadukan bahasa Jawa dan Sunda, meski tak paham juga mengapa sebenarnya mereka harus ke Bandung (sekalian aja ke Jakarta, cuk).

Dua puluh menit pertama menonton, film ini masih terasa masuk akal. Beragam problem muncul, dari masalah galau remaja hingga persoalan finansial, juga ketidakbecusan Cak Jon mengurus Yowis Ben. Sampailah mereka bertemu Cak Jim, seorang manajer artis profesional yang mengaku sudah mengorbitkan banyak band dan berniat membesarkan Yowis Ben.

Bagaimana caranya? Dengan mengirim mereka ke Bandung! Alasannya, karena dari sana—dan seolah-olah hanya dari sana saja—banyak band bisa terkenal. Sementara Jawa Timur, latar belakang yang awalnya mengangkat betapa idealisnya film ini, iklimnya ternyata nggak bagus buat ngartis.

Memasuki setengah film, kacau. Banyak logika cerita yang tumpang tindih. Bagaimana mungkin para orang tua personil band ini bisa percaya lulusan SMA bisa bertahan hidup di kota orang—mek bondho percoyo ke Cak Jim yang bahkan belum pernah mereka temui?

Bagaimana juga Mia, istri Yayan, bisa menyusul ke Bandung tanpa sepengetahuan si suami? Sedangkan di awal film, Yayan mengaku kesulitan secara finansial karena pendapatan dari band tak sebesar yang diharapkan. Oh… mungkin karena Mia—ternyata si suami cukup bodoh sampai nggak tahu—adalah anak tentara yang asli Bandung. (Cuuk, serius?)

Ke-mbulet-an ditambah lagi dengan kehadiran Stevie di Bandung, yang juga tak memerbaiki masalah apapun, selain demi kontrak Devina Aurel yang belum habis di film ini. Apa cuma biar bisa pegang-pegangan sama Nando?

Kalaupun ingin menunjukkan sisi Islam yang syar’i melalui pernikahan muda Mia-Yayan, justru penggambaran dalam film ini bisa jadi bumerang. Baik Mia maupun Yayan masing-masing tak mampu menjalani kedewasaan, selain dengan memarahi Yowis Ben karena nggak bangun shubuhan. Atau, saat Mia memilih tidur berdua dengan suami ketimbang dengan Stevie, sehingga tak tersisa lagi kamar buat Bayu dkk.

Karakter kekanak-kanakan ini diperparah dengan kondisi Yayan yang belum mapan secara finansial namun nekat menikah. Bisa jadi, pernikahan muda, yang selama ini sering digaungkan berpotensi rapuh oleh karena manten yang belum matang secara usia, memang benar berbahaya.

Kemunculan Asih juga jadi pertanyaan besar. Bagi orang-orang selevel pengusaha Markobar martabak yang ramai dan laris manis, Asih harusnya tak perlu lagi kuliah jauh di Malang, apalagi mendaftar di IKIP yang notabene nggak nyambung dengan usahanya. Bahkan bagi perempuan se-geulis dan setajir dia, lelaki macam Bayu normalnya cuma seliweran depan mata. Tapi toh film ini punya Bayu sehingga, mau tak mau, Anya harus bersedia mesra-mesraan sama anak band yang nggak jelas juntrungannya (jiancuk tenan).

Bayu pun, yang awalnya digambarkan megap-megap lantaran kondisi ibunya yang jualan pecel, dihimpit hutang kontrakan selama tiga tahun, biaya kuliah, dan masalah finansial sampai bikin nekat ke Bandung, ternyata masih sempat kencan dengan pengusaha martabak! Ada baiknya, bapaknya Asih menambah jam workout supaya akal sehatnya makin segar. Maksudnya, biar nggak langsung menerima orang asing yang datang di waktu-waktu tak wajar. Apa coba yang pembaca lakukan jika melihat seorang lelaki main ke rumah malam-malam, melompati tembok, ngaku ingin beli martabak, namun ternyata cuma modus biar bisa colek-colekan tepung sama Anya Geraldine?

Selain beragam logika cerita yang aneh, kemunculan figur wanita kurang lebih hanya dimanfaatkan sebagai gimmick semata. Seolah-olah benar kata Stevie, “Arek band-band-an iku lak mesti wedhokan ae”. Kalau di film pertama dengan cewek yang ini, di film kedua pasti cewek ini pergi dan diganti cewek lain. Siklus yang sama bakal terjadi pula di film ketiga.

The Tarix Jabrix (2008, 2009, 2011) dengan band The Changcuters, sama-sama menggunakan formula tersebut. Hanya saja, Yowis Ben menambah perbendaharaan bahasa lokal sebagai fondasi cerita maupun aksentuasi guyonan. Tanpa bahasa Jawa, film ini bagaikan Real Madrid tanpa Zidane soto tanpa kunyit; jadinya akan lain cerita.

Di luar kesia-siaan itu, rasanya sinema Indonesia masih dan tetap perlu diperkaya dengan tontonan dengan yang memadukan penggunaan bahasa lokal—yang tentunya tanpa dibumbui stereotip aneh. Biar filem kita isinya tak melulu lu gua lu gua lu gua lu gua lu gua…

Ciuuukk, ajur tenan.

Editor Picks