Pengkhianatan atas Pengkhianatan Gerakan 30 September 0 686

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Keributan para handai-taulan netizen di seputar bulan September selalu mudah ditebak. Apa lacur, isu komunisme dan penumpasan PKI jadi kembang lambe lagi. Tahun ini, Negara lewat Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, menganjurkan dan mensponsori pemutaran massif film horor sejarah Pengabdi Setan Pengkhianatan Gerakan 30 September. Bagi pembaca yang belum menonton, adegan puteri jenderal yang raup darah orang tuanya adalah adegan yang boleh diadu dengan potongan scene paling seram Annabelle:

tilikkarya

Dari mana awal mula gagasan film ini?
Ia bermula tatkala Orde Baru merasa harus meluncurkan versi resmi dari kronologis cerita Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) yang, tentu saja, memihak peran penting TNI dibawah komando Soeharto. Melalui film besutan Arifin C Noer, Pengkhianatan Gerakan 30 September, gambaran PKI, ideologi komunisme dan peristiwa Gestapu digambarkan sedemikian rupa dengan kesan seram dan menyudutkan. Komunisme distigmatisasi sebagai ideologi anti-Tuhan, sehingga tindak-tanduknya di film tersebut—seperti menyilet tubuh Jenderal, berpesta, menyiksa, hingga membunuh—direpresentasikan sebagai perwujudan ke-anti-Tuhan-an tersebut.

Untuk memberikan legitimasi atas upaya pendisiplinan wacana komunisme melalui film, pemerintah menerbitkan perundang-undangan mengenai pedoman sensor pada tahun 1977 untuk membatasi ruang gerak perfilman nasional, sebagaimana diulas Krishna Sen & David T. Hill (2000). Sebuah mekanisme represif berupa sensor akhirnya dijalankan untuk mengawal peredaran isi film agar tidak menyimpang dari kehendak dominan. Maka, disamping menunjukkan kepada publik bagaimana hegemoni dijalankan melalui film propaganda anti-komunisme, tindakan-tindakan represif juga telah disiapkan oleh rezim untuk memotong film-film yang ‘bandel’ melalui badan sensor. Apesnya, dulu tak ada internet, media sosial, dan netijen yang cerewet.

Secara umum, opini publik dibentuk dan diarahkan melalui media massa, untuk menciptakan persetujuan dan kepatuhan massal tentang suatu sejarah menurut versi penguasa. Media massa dalam segala bentuknya, dimanfaatkan sebagai instrumen untuk menanamkan wacana anti-Komunisme, termasuk di dalamnya adalah film. Film Pengkhianatan Gerakan 30 September misalnya, dicatat oleh Sen & Hill sebagai film yang diwajibkan untuk ditonton di sekolah-sekolah dan departemen pemerintahan, dan dari pertengahan tahun 1980 hingga tahun 1997 diputar tiap tahun bertepatan pada tanggal 30 September di TVRI, serta direlai diseluruh stasiun televisi yang ada.

Ajaib! Kini kita sedang didorong untuk kembali di jaman itu. Pemuda-pemudi harus menenggak lagi film ini. Wajib, Fardhu’ain.

Tabiat Negara yang anti-komunis berlanjut bahkan dalam konteks politik menjelang Reformasi. Beberapa hari saja sebelum kejatuhan Soeharto dari jabatan kepresidenannya, sebuah gerakan anti komunis masih sempat disasarkan kepada media yang memihak pada nilai-nilai komunisme. Bagi pembaca yang tak malas, silakan googling gerakan yang dinamai “Aliansi Anti Komunis” (AAK), yang terdiri dari beragam kelompok kanan dan berhaluan konservatif-revivalis-islamis. Tindakan ini ialah ekspresi bagaimana civil society dibawah koordinasi rezim masih berakar pada trauma-trauma atas komunisme. Trauma inilah yang kemudian dapat dikemudikan bertahun-tahun, bahkan hingga dalam hitungan hari jatuhnya rezim Orde Baru.

Tekanan anti-komunisme merentang lebih jauh hingga kini, jauh setelah Orde Baru resmi ditebang. Debat konyol yang mempertanyakan kembali apakah gerakan komunisme masih ada atau tidak belakangan mengemuka di Indonesia Lawyer Club. Program diskusi yang dipandu Karni Ilyas—pemred TV One bersuara Doraemon—ini menyoal film Pengkhianatan yang dibahas bersama tokoh-tokoh dengan kesimpulan yang bisa diduga: memperkuat prasangka kebangkitan bahaya laten komunisme.

Itu sebabnya, mendiskusikan komunisme di Indonesia berarti mendiskusikan frustrasi itu sendiri. Usaha untuk membuka kembali upaya rekonsiliasi antara negara dan korban pembantaian senantiasa menemui beberapa kendala. Pertama, pembantaian orang-orang yang diduga bagian dari Partai Komunis Indonesia tak pernah menjadi perhatian serius negara. Harapan sempat menyembul tatkala presiden Abdurrahman Wahid hendak mencabut TAP MPRS tentang pelarangan Marxisme-Leninisme No. XXV/MPR/1966, meski lalu pupus di tengah jalan karena ditentang MPR. Harapan lainnya adalah wacana UU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang, lagi-lagi, tak begitu jelas nasibnya hingga kini.

Kedua, komunis dan komunisme justru makin populer karena ia simbol paling mudah dan ringkas untuk dipakai sebagai label stigmatisasi. Dalam perpolitikan, makin wajar kini andai seorang elite mendakwa kompetitornya sebagai komunis tanpa memerlukan bukti dan verifikasi, sebagaimana terjadi pada presiden Joko Widodo dalam pertarungan pemilu lalu. Label itu dikukuhkan oleh historiografi melalui buku-buku sejarah di bangku sekolah yang masih enggan untuk memberi data dan fakta proporsional tentang peristiwa 1965. Terhadap stigmatisasi yang terang-terang keliru ini, negara tak pernah beringsut dari sikap diamnya.

Ketiga, keterbukaan selalu dilawan dengan ketertutupan. Membuka ruang diskusi atas pembantaian 1965 selalu ditutup dengan kekhawatiran bahwa itu semua akan membangkitkan luka lama. Anehnya, dari mana datangnya pemikiran bahwa luka itu telah tertutup dan sembuh? Dimana logikanya sebuah peristiwa besar dengan akibat ratusan ribu orang mati (bahkan jutaan, dalam versi lain) disebut dalam kepura-puraan sebagai luka yang telah sembuh lalu kini ditakutkan akan terbuka kembali?

Pembaca, sampeyan boleh menonton film apa pun, termasuk Pengkhianatan. Tapi pembaca sebaiknya tak “berkhianat” pada akal sehat: satu wacana atau ide yang diputar terus-menerus di kepala kita tak pernah menyehatkan. Ada banyak film lain yang membantu perspektif untuk tetap utuh dan melengkapi lubang di sana-sini. Dua film sineas Joshua Oppenheimer, Jagal (The Act of Killing) dan Senyap (Look of Silence) sebaiknya juga dipertimbangkan untuk dilihat. Dua film Oppenheimer itu bertolak dari konteks pembantaian 1965 di Sumatera Utara, dan melakukan pembacaan ulang atas sejarah itu dari konteks kekinian.

Film lain, besutan Nan T. Achnas, Pasir Berbisik yang dibintangi mbak Dian Sastro juga bisa ditimbang. Film Gie dan Sang Penari, keduanya disutradari Riri Riza, juga memotret komunisme dalam nuansa yang lain. Mau film populer dengan warna horor? Silakan tengok Lentera Merah. Ada mbak Laudya Chintya Bella yang menjadi wartawan kiri yang bangkit dari kubur dan menuntut balas.

Pegiat anti-komunisme mungkin terlalu banyak dihantui mbak Bella: paranoia atas mereka yang mati lalu kembali.

Rendy Pahrun Wadipalapa

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bertaruh pada Iqbaal: Kita Buktikan Nanti di Bioskop 0 466

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Disclaimer: iya, ini akan jadi taruhan yang sinis. Tapi toh masih dalam batasannya. Terutama calon penonton perempuan, jujur sajalah dengan niatmu datang-duduk di depan layar lebar.

Pembaca, mari kita buka tulisan ini dengan tiga taruhan. Kita buktikan nanti di bioskop. Oke, kita mulai.

Satu, Bumi Manusia nanti akan lebih banyak ditonton perempuan. Kenapa? Karena ada Dilan. Mampus kau diremuk rindu! Ah, panglima tempurku, dilanku. Hmm. Bahkan sudah muncul meme yang bertuliskan “Dialah Minkeku 1920”. Uh. Tolong poo, ya Gusti..

Dua, penonton nanti akan berduyun-duyun, berjamaah ke gedung bioskop untuk menunaikan ibadah Iqbaal. Kenapa? Karena doi udah pasti jaminan selera, baru lulus college di Amiriki, kemarin jadi Dilan dan sekarang Minke pula! Uh.. beruntungnya terlahir ganteng nan cerdas. Jangan lupa bersyukur, Bal.
Lumayan buat bahan cuci mata, kan? *Belum lagi kalau ada meet and greetnya juga. Beh, banjirlah bioskop itu dengan gelombang perempuan fanatik dan histeris ingin menjamah Dilan! Eh, Iqbaal..

Huh, bisa dibayangkan!
Tiga, penggemar Pramoedya yang membaca Bumi Manusia kemungkinan akan kecewa dengan usaha adaptasi ini. Kemungkinan. Sekali lagi, pembuktiannya hanya nanti ketika tayang.
Ada beberapa alasan. Terutama jelas soal eksekusinya, penyajian dan pendalaman karakternya, dialog-dialog dan penjiwaannya, penggambaran suasana dan latarnya, hubungan dan penonjolan karakter-karakternya, isu-isu kolonialisme dan feodalisme serta intrik-intrik cinta dan latar belakang karakter mereka hingga jadi seperti itu.

Semua hal itu yang begitu membuat Bumi Manusia hidup. Parahnya, jika justru penonton datang menonton semata-mata karena Iqbaal jadi Minke. Nah ini yang kacau, jangan sampai terjadi! Karena lantas bagaimana Nyai Ontosoroh alias Sanikem? Jean Marais? Robert Mellema dan Babah Ah Tjong? Darsam juga? Maiko? Bagaimana mereka ditampilkan? Penulis menantikan bagaimana Falcon Pictures dan Hanung, tak lupa Salman Aristo meramu semua karakter itu? Bukan hanya Minke sebagai pemeran utama, loh ya. Kan jelas kalau mereka-mereka itu bukan sekedar tokoh pendukung toh. Minke dibentuk menjadi Minke yang kita -pembaca Bumi Manusia- kenal oleh sebab perjumpaan dengan semua karakter-karakter itu.

Kekhawatiran penulis, Bumi Manusia ini nanti rawan sekali mengeksploitasi hanya hubungan Minke dan Annelies saja. Dua alasan. Satu, mengingat Falcon dan dua film terakhir keluaran mereka yang menawarkan kisah cinta-cintaan. Dua, karena hubungan Minke dan Annelies yang memang manis sekali. Itu yang jadi kekhawatiran.

Tidak penting ini film soal apa. Masa bodoh ini siapa penulisnya. Persetan juga dengan tetraloginya. Uh, satu serinya saja 500 halaman, siapa mau baca? Koran saja tidak disentuh, mana mungkin baca Pram?
Yang penting Iqbaal, Iqbaal, dan Iqbaal. Yang penting tembus enam juta penonton dalam seminggu. Yang penting viral. Yang penting untung.
*Yang penting tiketnya saya bayar sendiri, saya update, sukur-sukur meet&greet bisa foto bareng Iqbaal, saya senang. Masalah buat Anda? 

Jika sampai itu yang terjadi, Pram bisa jadi murka dari kuburnya. Yakin. Meskipun akhirnya memang diapresiasi dan digarap orang Indonesia sendiri. Mungkin juga mengutuki produser, sutradara, rumah produksi, penulis skenario semua kru sampai pemeran-pemerannya. Semua.
Semua itu terbayangkan jika pada  akhirnya, karyanya “didagangkan” saja, dipancing orang datang dengan pemeran yang menggoda iman. Apalagi cuma menang tampang. Kacau.

Begini, bukan maksud penulis menghakimi Iqbaal. Hei, soal kamu ganteng memang bener, Bal!
Kekhawatiran ini muncul karena melihat bagaimana Dilan 1990 dan Teman Tapi Menikah disajikan, cukup miris. Jelas itu strategi Falcon. Aktor-aktris jaminan selera pasar yang sanggup menggaet penonton digathuk-gathukno, promosi dibesar-besarkan dan padahal toh filmnya tidak sefantastis itu.
Mengadaptasi novel legendaris dari penulis yang legendaris pula tentu tidak mudah. Makanya, kekhawatiran wajar saja kalau muncul, kan?

Semoga karena pertaruhan yang besar dan beresiko ini, Hanung bisa mengarahkan dengan baik dan memuaskan. Semoga juga Salman Aristo menggarap skenarionya dengan benar. Semoga karena ini karya Pramoedya Ananta Toer kemudian penggarapannya tidak main-main!
Intinya, penulis hanya mewanti-wanti. Ini bukan film cinta-cintaan tok. Ada baiknya pembaca segera membaca novelnya dulu, Bumi Manusia, sebelum melihat filmnya. Jangan membaca setelah menonton, banyak bohongnya kalau itu. Agar dapat tahu dan bersama-sama merasakan, siapa Minke dan bagaimana dia sebenarnya dengan pertemuan langsung dengannya melalui Bumi Manusia. Agar pembaca dapat berkenalan dan mengenal siapa Annelies, Nyai Ontosoroh, Robert Mellema, Jean Marais, Magda Peters, Doktor Hartinet, dan cerita-cerita hidup mereka dan keadaan saat itu. Saat-saat akhir abad 19.

Sungguh, jangan hanya datang karena ada iming-iming Iqbaal Ramadhan. Sekali lagi jangan! Gak ridho..
Diimpeni Pram!

P.S. : Taruhannya buka bersama, tempat dan waktu janjian aja. Ehe. Tapi ya jumlah terbatas, karena modalnya juga terbatas.

*Penulis adalah mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi Surabaya. Doyan nonton dan traktiran.

 

Mencari Wewangian di Muka Bumi: Review Aroma Karsa Dewi Lestari 0 265

Oleh: Polikarpus Ivan*

Tulisan ini dibuat atas subyektifitas penulis menelaah rentetan kalimat yang kaya akan aroma buku. Novel ke-12 karya Dewi Lestari, Aroma Karsa, ini berhasil membius sebagian besar pembaca dan sejawat penulis dengan keterpaduan imajinasi dan realitas. Keberhasilan Dee itu direngkuh dari proses riset selama 4 tahun. Salah satunya dengan cara membuat sebuah akun digital tribe di Facebook.

Dee memberikan pendekatan dengan mengirimkan cerbung setiap part-nya ke pembaca yang tergabung dalam akun media sosial tersebut. Komentar yang diberikan oleh netizen inilah yang menjadi salah satu alasan untuk selalu merevisi novel Aroma Karsa hingga mencapai cita-rasa yang sempurna. Pola cerita sekuel yang dihadirkan ini disatukan dalam novel cetaknya yang dirilis pada bulan Maret tahun 2018. Dee memang dikenal sebagai penulis yang inspiratif dan tabah dalam berproses. Ketabahannya mampu merealisasikan imajinasi yang liar namun tetap terasa akrab bagi para pembaca.

Ini cerita tentang tokoh unik Jati Wesi, seorang pemulung yang terampil dengan hidung tikus yang dimilikinya. Segala aroma datang menghardik hidung Jati tanpa pernah minta izin. Akibat kekuatan yang dimilikinya itu, Jati merasa berbeda dengan teman-teman pemulung yang lain di TPA Bantar Gebang. Perbedaan itu membawanya untuk memulai untaian perjalanan hidup yang besar dalam pencarian jati diri Jati Wesi.

Sensitifitas Hidung Tikus milik Jati, membuatnya mudah mengenali dan memilah macam-macam aroma. Mulai dari yang paling menakutkan seperti bangkai bayi hingga yang menyejukkan seperti parfum-parfum terpopuler yang ia produksi ulang di toko parfum Attarwalla. Syahdan, ia lantas diberi tugas oleh Raras Prayagung: menemukan bunga wangi Puspa Karsa sekaligus mencari ‘rumah’.

Dee menarasikan 2 ruang yang berbeda antara di TPA Bantar gebang dan rumah mewah milik Raras Prayagung, pemilik produk parfum Kemara. Kedua ruang ini memiliki tempo kehidupan yang berbeda jika dibandingkan dengan tayangan opera sabun yang digandrungi sebagian besar ibu rumah tangga. Tidak seperti opera sabun Indonesia yang mempertemukan mereka dengan suatu kebetulan yang dipaksakan, ruang ini berjalan berirama hingga mencapai keterpaduan ketika Jati menjadi bagian dari keluarga Raras Prayagung. Jurang kelas itu luntur dengan settingan logis yang menjadi grand design antara masing-masing karakter yang ada. Jati juga menemukan cinta kepada makhluk yang masih ‘satu jenis’ dengannya. Kepekaan mereka terhadap bau membawa romansa tersendiri yang tentu dengan tujuan akhir mencari ‘rumah’. Macam aroma yang dihadirkan Dee seakan merangsek masuk kehidupan pembaca dengan berhasil membaui tubuh kita, parfum kita atau jati diri kita. Aroma itu menyerahkan diri dalam setiap kelikir kehidupan Jati.

Penekanan spiritual diceriterakan pada bagian pencarian bunga Puspa Karsa. Dee menarasikan obsesi Raras untuk mencari bunga itu dengan melakukan segala cara, salah satunya memaksa orang terdekatnya. Menjadi seorang Presiden Direktur Kemara tidak lagi menarik bagi Raras, seolah itu hanya batu loncatan untuk memenuhi ambisinya yang lain. Ambisi pencarian Puspa Karsa untuk direproduksi dalam botol kaca diyakini sebagai denyut terakhir yang akan melanggengkan Kemara sepanjang masa. Berdasar lontar kuno milik Janirah, neneknya, dan penemuan prasasti di Planggatan, Raras yakin bahwa Puspa Karsa bukanlah sebuah legenda. Data-data lain menunjukkan bahwa Puspa Karsa terletak pada jalan pendakian tengah Gunung Lawu, yang konon katanya sebagai tempat pertama turunnya dewa-dewi di pulau Jawa. Dee menggambarkan sosok Raras yang serba ada, kaya luar biasa masih bisa terpengaruh oleh hal klenik yang digaungkan oleh nenek moyangnya. Seakan menjadi penanda bagi orang-orang kaya yang mungkin masih mengandalkan pesugihan untuk melanggengkan harta mereka. Fenomena itu masih sering dijumpai di beberapa gunung keramat di Jawa seperti Gunung Lawu atau Gunung Kawi. Di dunia modern seperti sekarang ini, masih banyak lumbung-lumbung aliran animisme dan dinamisme bagi para pengikutnya yang setia.

Setiap awal, akhir, titik, jeda memberikan ruang reflektifitas akan relevansi yang dapat ditarik dari imajinasi dan realitas novel Aroma Karsa. Kekuatan dalam membangun cerita menjadi tolak ukur Dee untuk tidak memberikan celah irasional kepada para pembaca ketika mewacanakan hal yang berbau legenda. Entah, memang bakat ini anugerah atau perlu latihan yang cukup lama. Dee telah berhasil menjadi legenda baru dalam dunia penulisan yang menyeimbangkan antara yang khayalan dan kenyataan.

*Selain sebagai mahasiswa di Perguruan Tinggi Surabaya, Poli–begitu jejaka ini biasa disapa–juga aktif dalam kajian dan produksi sinema. 

Editor Picks