Pengkhianatan atas Pengkhianatan Gerakan 30 September 0 839

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Keributan para handai-taulan netizen di seputar bulan September selalu mudah ditebak. Apa lacur, isu komunisme dan penumpasan PKI jadi kembang lambe lagi. Tahun ini, Negara lewat Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, menganjurkan dan mensponsori pemutaran massif film horor sejarah Pengabdi Setan Pengkhianatan Gerakan 30 September. Bagi pembaca yang belum menonton, adegan puteri jenderal yang raup darah orang tuanya adalah adegan yang boleh diadu dengan potongan scene paling seram Annabelle:

tilikkarya

Dari mana awal mula gagasan film ini?
Ia bermula tatkala Orde Baru merasa harus meluncurkan versi resmi dari kronologis cerita Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) yang, tentu saja, memihak peran penting TNI dibawah komando Soeharto. Melalui film besutan Arifin C Noer, Pengkhianatan Gerakan 30 September, gambaran PKI, ideologi komunisme dan peristiwa Gestapu digambarkan sedemikian rupa dengan kesan seram dan menyudutkan. Komunisme distigmatisasi sebagai ideologi anti-Tuhan, sehingga tindak-tanduknya di film tersebut—seperti menyilet tubuh Jenderal, berpesta, menyiksa, hingga membunuh—direpresentasikan sebagai perwujudan ke-anti-Tuhan-an tersebut.

Untuk memberikan legitimasi atas upaya pendisiplinan wacana komunisme melalui film, pemerintah menerbitkan perundang-undangan mengenai pedoman sensor pada tahun 1977 untuk membatasi ruang gerak perfilman nasional, sebagaimana diulas Krishna Sen & David T. Hill (2000). Sebuah mekanisme represif berupa sensor akhirnya dijalankan untuk mengawal peredaran isi film agar tidak menyimpang dari kehendak dominan. Maka, disamping menunjukkan kepada publik bagaimana hegemoni dijalankan melalui film propaganda anti-komunisme, tindakan-tindakan represif juga telah disiapkan oleh rezim untuk memotong film-film yang ‘bandel’ melalui badan sensor. Apesnya, dulu tak ada internet, media sosial, dan netijen yang cerewet.

Secara umum, opini publik dibentuk dan diarahkan melalui media massa, untuk menciptakan persetujuan dan kepatuhan massal tentang suatu sejarah menurut versi penguasa. Media massa dalam segala bentuknya, dimanfaatkan sebagai instrumen untuk menanamkan wacana anti-Komunisme, termasuk di dalamnya adalah film. Film Pengkhianatan Gerakan 30 September misalnya, dicatat oleh Sen & Hill sebagai film yang diwajibkan untuk ditonton di sekolah-sekolah dan departemen pemerintahan, dan dari pertengahan tahun 1980 hingga tahun 1997 diputar tiap tahun bertepatan pada tanggal 30 September di TVRI, serta direlai diseluruh stasiun televisi yang ada.

Ajaib! Kini kita sedang didorong untuk kembali di jaman itu. Pemuda-pemudi harus menenggak lagi film ini. Wajib, Fardhu’ain.

Tabiat Negara yang anti-komunis berlanjut bahkan dalam konteks politik menjelang Reformasi. Beberapa hari saja sebelum kejatuhan Soeharto dari jabatan kepresidenannya, sebuah gerakan anti komunis masih sempat disasarkan kepada media yang memihak pada nilai-nilai komunisme. Bagi pembaca yang tak malas, silakan googling gerakan yang dinamai “Aliansi Anti Komunis” (AAK), yang terdiri dari beragam kelompok kanan dan berhaluan konservatif-revivalis-islamis. Tindakan ini ialah ekspresi bagaimana civil society dibawah koordinasi rezim masih berakar pada trauma-trauma atas komunisme. Trauma inilah yang kemudian dapat dikemudikan bertahun-tahun, bahkan hingga dalam hitungan hari jatuhnya rezim Orde Baru.

Tekanan anti-komunisme merentang lebih jauh hingga kini, jauh setelah Orde Baru resmi ditebang. Debat konyol yang mempertanyakan kembali apakah gerakan komunisme masih ada atau tidak belakangan mengemuka di Indonesia Lawyer Club. Program diskusi yang dipandu Karni Ilyas—pemred TV One bersuara Doraemon—ini menyoal film Pengkhianatan yang dibahas bersama tokoh-tokoh dengan kesimpulan yang bisa diduga: memperkuat prasangka kebangkitan bahaya laten komunisme.

Itu sebabnya, mendiskusikan komunisme di Indonesia berarti mendiskusikan frustrasi itu sendiri. Usaha untuk membuka kembali upaya rekonsiliasi antara negara dan korban pembantaian senantiasa menemui beberapa kendala. Pertama, pembantaian orang-orang yang diduga bagian dari Partai Komunis Indonesia tak pernah menjadi perhatian serius negara. Harapan sempat menyembul tatkala presiden Abdurrahman Wahid hendak mencabut TAP MPRS tentang pelarangan Marxisme-Leninisme No. XXV/MPR/1966, meski lalu pupus di tengah jalan karena ditentang MPR. Harapan lainnya adalah wacana UU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang, lagi-lagi, tak begitu jelas nasibnya hingga kini.

Kedua, komunis dan komunisme justru makin populer karena ia simbol paling mudah dan ringkas untuk dipakai sebagai label stigmatisasi. Dalam perpolitikan, makin wajar kini andai seorang elite mendakwa kompetitornya sebagai komunis tanpa memerlukan bukti dan verifikasi, sebagaimana terjadi pada presiden Joko Widodo dalam pertarungan pemilu lalu. Label itu dikukuhkan oleh historiografi melalui buku-buku sejarah di bangku sekolah yang masih enggan untuk memberi data dan fakta proporsional tentang peristiwa 1965. Terhadap stigmatisasi yang terang-terang keliru ini, negara tak pernah beringsut dari sikap diamnya.

Ketiga, keterbukaan selalu dilawan dengan ketertutupan. Membuka ruang diskusi atas pembantaian 1965 selalu ditutup dengan kekhawatiran bahwa itu semua akan membangkitkan luka lama. Anehnya, dari mana datangnya pemikiran bahwa luka itu telah tertutup dan sembuh? Dimana logikanya sebuah peristiwa besar dengan akibat ratusan ribu orang mati (bahkan jutaan, dalam versi lain) disebut dalam kepura-puraan sebagai luka yang telah sembuh lalu kini ditakutkan akan terbuka kembali?

Pembaca, sampeyan boleh menonton film apa pun, termasuk Pengkhianatan. Tapi pembaca sebaiknya tak “berkhianat” pada akal sehat: satu wacana atau ide yang diputar terus-menerus di kepala kita tak pernah menyehatkan. Ada banyak film lain yang membantu perspektif untuk tetap utuh dan melengkapi lubang di sana-sini. Dua film sineas Joshua Oppenheimer, Jagal (The Act of Killing) dan Senyap (Look of Silence) sebaiknya juga dipertimbangkan untuk dilihat. Dua film Oppenheimer itu bertolak dari konteks pembantaian 1965 di Sumatera Utara, dan melakukan pembacaan ulang atas sejarah itu dari konteks kekinian.

Film lain, besutan Nan T. Achnas, Pasir Berbisik yang dibintangi mbak Dian Sastro juga bisa ditimbang. Film Gie dan Sang Penari, keduanya disutradari Riri Riza, juga memotret komunisme dalam nuansa yang lain. Mau film populer dengan warna horor? Silakan tengok Lentera Merah. Ada mbak Laudya Chintya Bella yang menjadi wartawan kiri yang bangkit dari kubur dan menuntut balas.

Pegiat anti-komunisme mungkin terlalu banyak dihantui mbak Bella: paranoia atas mereka yang mati lalu kembali.

Rendy Pahrun Wadipalapa

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengapa ‘Bohemian Rhapsody’ Harus Berterimakasih pada Freddie Mercury 0 635

Kita perlu sangat berterimakasih pada Freddie Mercury. Peringatan ini diberikan penulis sedini mungkin, karena memang itulah hakikat hajat hidup tulisan ini dan jawaban atas hobimu yang kudu banget nontonin semua film hits di bioskop.

Sejak rilis 24 Oktober di kota kelahiran Queen dan 31 Oktober di Indonesia, Bohemian Rhapsody menjadi buah bibir tua-muda bahkan dipakai sebagai modus terkini ngajak areké nge-date. Jadi, semoga tulisan ini tidak menjadikan kawan-kawan pembaca urung menonton.

Teriring dalam tulisan ini, penulis ingin berbagi pengalaman menonton selama lebih kurang 130 menit. Penulis datang dengan ekspetasi tinggi akan dipuaskan betul oleh film ini. Setiap menitnya harus mencengangkan dan setiap adegannya harus mengagumkan. Ekspetasi ini tidak terlalu tinggi untuk biopik band sekelas Queen kan?

Namun, sayang seribu sayang, penulis harus rangkum Bohemian Rhapsody sebagai: remaja galau yang bingung mau bercerita tentang apa. Di awal, kental sekali keinginan pembuat film untuk mengangkat kisah bagaimana Queen terbentuk. Bermula dari band Smile di sebuah klub kecil yang sedang frustasi karena ditinggal vokalisnya. Lalu bergabunglah Farrokh Bulsara alias Freddie Mercury mengisi posisi vokalis utama, ditambah bassist John Deacon, lengkap dengan Brian May pada gitar dan Roger Taylor pada drum.

Perjalanan mereka dilanjutkan dengan penampilan dari panggung ke panggung, hingga kisah menjual van untuk rekaman lagu di studio yang singkat cerita membuat mereka meneken kontrak dengan EMI Records. Tapi, saudara-saudara sekalian perlu dicatat bahwa perjalanan sakral band kelas kakap ini akan sangat diganggu oleh fokus kisah pada Freddie.

Barangkali, Freddie sebagai vokalis utama memang layak untuk diberi porsi cerita lebih banyak daripada personil lainnya. Selain karena dirinya cerdas, perfeksionis, dan flamboyan setidaknya ada tiga unsur yang membuat kepribadian Freddie menjadi ramuan yang sangat seksi untuk diangkat menjadi premis utama.

Pertama, identitas Freddie yang adalah keturunan Persia penganut kepercayaan Zoroastian dan tinggal menetap di Inggris. Kedua, konflik interaksi keluarga bagaimana Freddie sebagai anak laki-laki yang tidak bisa memenuhi ekspetasi orang tuanya untuk tidak berkarir di musik melainkan bekerja ‘normal’. Ketiga, pencarian jati diri Freddie akan identitas gendernya.

Yang ketiga itu kontroversial dan jadi bahan ampuh untuk mengulik pergolakan batinnya. Memang digambarkan bagaimana Freddie awal mulanya menjalin kisah dengan Mary Austin, memenuhi ideologi dominan tentang hubungan heteroseksual.

Namun, perlahan pergeseran Freddie yang mulai menjalin kasih dengan kaum brewok dijelentrehkan secara simbolis, yang puncaknya pada pertengkarannya dengan Mary. Pada adegan itulah, klise layaknya formula film bergenre drama sekadar dipenuhi. Adegan dipercepat sampai perubahan penampilan Freddie untuk memotong rambut dan menumbuhkan kumis, simbol-simbol pengakuan diri sebagai homoseksual.

Jika saja adegan sebelumnya tidak loncat-loncat ke tur-tur Queen dan lebih berani menguliti konflik internal Freddie atas konstruksi identitasnya sebagai gay, tentu emosi penonton bisa lebih maksimal dibangkitkan. Adegan-adegan Freddie yang tenggelam dalam rasa kesepian di balik aksi panggungnya yang mampu menyihir penonton itu, sayangnya digambarkan terlalu singkat.

Baru saja penonton disuruh bersimpati pada sosok Freddie yang frustasi, eh adegan dilempar lagi pada penampilan Queen. Baru saja penonton diajak menikmati peluh Queen menggarap Bohemian Rhapsody, eh adegan berpetualang lagi kembali ke Freddie.

Jika benar film ini berniat menyajikan perjalanan karir Queen, rupanya penulis naskah tergoda imannya oleh pesona Freddie. Padahal, kalau boleh jujur, bahkan tidak butuh Queen atau embel-embel Bohemian Rhapsody untuk membuat film ini menjadi a great success. Tapi jika benar film ini adalah biopik Queen, mana kisah tentang pribadi personil-personil lainnya? Apa memang benar, ‘your majesty’dari Queen hanya Freddie seorang?

Kalau pun Freddie dituhankan di film ini, selayaknya ia dihantar sebagai otak utama di balik ke-gendheng-an Bohemian Rhapsody agar dapat menjawab judul film. Jika direnungkan, bukankah film yang judulnya Bohemian Rhapsody hendaknya menggali proses kreatif penulisan lagu. Atau paling tidak menjawab spekulasi nyinyir citizen (karena di tahun 1975 belum tercipta makhluk namanya netijen) mengenai makna misterius di balik Mamamia, Scaramouce, Fandango, Figaro, dan Bismillah dan nada serba opera.

Atau penceritaan yang komprehensif bagaimana 24 trek pita kaset aus karena berkali-kali merekam bagian lirik ‘Galileo’ agar mendapat pitch sempurna seperti yang dimau Freddie. Adegan ini hadir, tapi persentasenya dalam cerita menduduki kasta sudra.

Atau lanjutkan juga dengan bagaimana perjalanan lagu ini menolak habis-habisan status quo format komersil durasi 3 menit, lompatan nada yang easy listening, dan mengandung refren. Bagaimana perjalanan lagu ini lantas mampu mendobrak selera pasar dan menjadi karya magis yang lestari hingga puluhan tahun. Bohemian Rhapsody yang magis nyatanya tidak terlalu dielu-elukan sebagaimana ia dijadikan judul film.

Lagu edan berdurasi hampir 6 menit yang awalnya ditolak mentah-mentah dan kemudian berhasil bertahan di 10 besar tangga lagu Amerika rupanya lebih penting diceritakan sebagai prestasi Queen daripada misteri dan ritual yang terjadi di studio di Wales selama 70 jam pembuatan lagu tersebut.

Pada akhirnya, film ini tidak lebih dari kisah sukses sebuah band rock asal Inggris dan wahana karaoke para penggemar akut lagu-lagu Queen yang tidak-bisa-tidak sing along ‘Bohemian Rhapsody’, ‘Radio Gaga’, dan‘We are the Champion’ saat adegan Live Aid 1985. Gara-gara itulah, katanya film ini tetap layak ditonton. Bagi penulis, Anda tetap bisa nonton film ini supaya film garapan 20th Century Fox yang memakan drama selama 10 tahun produksi ini bisa balik modal.

Bagi penulis, satu-satunya yang menyelamatkan film ini adalah Freddie Mercury dengan segala pergolakan batin, keluarga, identitas, dan orientasi seksualnya. Kalau bukan karena Freddie, penulis kesulitan benar mengidentifikasi motivasi dan tingkat kepuasan terhadap film ini.

Penghormatan dan terima kasih harus diberikan sebesar-besarnya pada si jenius, Freddie Mercury. Kalau bukan karena beliau, Bohemian Rhapsody sebagai lagu maupun film adalah karya biasa-biasa saja yang mungkin tidak layak dikenang lintas generasi.

 

(Catatan tambahan: Penulis harus banget menghabiskan waktu 1×24 jam disertai doa dan puasa demi menyelesaikan tulisan ini saking mindernya dengan Queen beserta jajaran fansnya.)

‘The Incredibles 2’ dan Kesetaraan Jender 0 443

Oleh: Michelle Florencia*

Yak, akhirnya setelah sekian lama, The Incredibles 2 telah tayang di bioskop terdekat! Sudah pasti anak-anak generasi 90-an yang kini sudah bukan anak-anak lagi atau bahkan sudah punya anak bernostalgia massal. Pasalnya, akhirnya Disney merilis sekuel dari The Incredibles (14/6) setelah 14 tahun!

Film animasi tiga dimensi ini bercerita tentang Helen, yang awalnya bersikeras hidup normal setelah adanya larangan bagi superhero mendapat misi untuk melanjutkan pekerjaannya itu. Sementara, Bob  harus menggantikan peran Helen sebagai ibu rumah tangga. Keluarga super tersebut akhirnya “terpaksa” menanggalkan status masyarakat normal mereka ketika Helen berada dalam ancaman. Ya kira-kira seperti itulah isinya. Saya tidak mau banyak cerita, takut dibilang spoiler.

Dari sinopsis yang saya paparkan di atas, barangkali pembaca telah menemukan perbedaannya dengan The Incredibles? Ya! Helen atau Elastigirl lebih mendominasi. Selain itu, Disney memilih wanita sebagai musuh utama dari keluarga manusia super ini. Peran wanita begitu mendominasi. Disney rupanya menyuntikkan kampanye kesetaraan jender pada anak-anak zaman now dan zaman 90-an.

Kemampuan Elastigirl dalam caruk tak diragukan lagi, bahkan dikatakan bahwa ia lebih teliti dan lebih “bersih” ketimbang Mr. Incredible dan Frozone. Apabila kita bandingkan aksi Mr. Incredible di The Incredibles dan Elastigirl di The Incredibles 2, ibu dari tiga anak ini memang lebih smart dan lebih berhati-hati.

Berbeda dengan film superheroes seperti The Avengers, The Justice League, The Dark Knight Rises, dan lain-lain di mana peran superhero wanita tidak begitu signifikan. Superhero wanita juga banyak diekspose kecantikan dan keseksiannya – contohnya Wonder Woman yang selalu tukaran pakai rok mini atau Catwoman yang menyempatkan diri catokan dan gincuan padahal beberapa jam lagi bom atom bakal meledakkan Gotham.

Nggak salah sih, tapi itulah persepsi superhero yang tertanam oleh sineas Hollywood kebanyakan. Disney mendobrak pemikiran orang pada umumnya mengenai superhero wanita di film-film superheroes: cantik, bodi bohay, belum kawin, sekadar membantu, dan buat seger-segeran. The Incredibles 2 mengajak kita mengganti paradigma tersebut dan membuktikan bahwa wanita bisa berperan besar seperti pria.

Pun begitu dengan pemilihan villain wanita. Wanita yang dianggap sosok halus, penurut, dan lemah ternyata mampu menjadi sosok yang keras, ambisius, bahkan jahanam sekalipun kalau ia mau. Wanita adalah manusia seperti halnya laki-laki, ia bisa menjadi apapun yang ia inginkan bahkan kriminal kelas kakap sekalipun.

Lalu, diceritakan bagaimana Bob keteteran menjalani peran ibu. Mulai dari menyiapkan sarapan untuk Violet dan Dash, membuat bubur, nyuapin, ngudang, sampai membuat Jack Jack tidur – apalagi dia bukan bayi biasa – hingga berurusan dengan matematika dan persoalan percintaan Violet yang membuat putri satu-satunya tersebut nesu padanya. Bahkan, Bob tidak tidur ketika menjalankan peran gandanya itu.

Film ini ingin menyadarkan mereka yang suka memandang sebelah mata ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Mengurus anak seolah-olah dianggap sebagai kerjaan enteng. Ternyata, sangat susah. Yangg dilakukan Bob hanyalah seupil dari kompleksnya kerjaan ibu rumah tanga. Belum bersih-bersih rumah, merumuskan anggaran, beli barang-barang rumah tangga yang habis, melerai anak-anak yang bertengkar, dan sebagainya.

Selain itu, film ini juga mengingatkan bahwa mendidik dan mengurusi perkembangan anak bukan hanya tugas ibu. Sering kali pria mengira perannya  hanya bekerja, mengantar anak, dan mengajak bermain. Mengajari anak saat mengerjakan PR, menyiapkan sarapan, dan soal cinta-cintaan anak itu tugas ibu saja karena seharian di rumah. Padahal, ayah juga harus mengambil peran tersebut.

Saya menanti-nantikan kapan sineas Indonesia berani menggebrak film anak-anak yang hanya berisikan mimpi, persahabatan dan kekeluargaan belaka. Sesekali disisipi isu-isu sosial seperti kesetaraan jender.

Isu kesetaraan jender bukan hanya terjadi pada orang dewasa saja, namun semua kalangan. Saya ingat ketika SD selalu anak laki-laki yang menjadi ketua kelas. Lalu, saat SMP selalu kaum Adam yang menjadi ketua OSIS dan wanita sebagai wakilnya. Alasannya? Karena sudah jadi tradisi laki-laki pemimpinnya, perempuan jadi wakilnya. Bahkan, jawaban teman saya ketika saya menanyakan hal ini lebih biadab. Katanya kalau cewek jadi ketua terus cowok jadi wakilnya, nanti wakilnya nggak kerja. Makanya, cowok yang jadi ketua. Kalau gitu, dari awal pilih yang rajin, enak banget ya karena jendernya, malas dianggap wajar. Modyar akal sehatnya.

Nilai-nilai seperti ini harus kita rombak. Penting bagi anak tahu tentang kesetaraan jender, karena pada hakikatnya manusia diciptakan setara.  Penanaman akan hal ini kepada anak dari dini jauh lebih mudah ketimbang ketika mereka dewasa. Film animasi bisa menjadi pilihan tepat bagi Pembaca untuk mengajari anak-anak tentang kesetaraan jender karena semua anak pasti suka film animasi.

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Editor Picks