Aksi Damai Pencemburu Berjamaah untuk Chelsea Islan 0 1146

Indonesia pasca-Raisa adalah Indonesia era Chelsea Islan.

Tapi tanah air kita ini rupanya harus patah hati kembali karena Chelsea punya pacar baru! Sosok gadis muda belia ini mendadak jadi idola. Dan hebatnya, ia mampu membuat semua orang jadi posesif!

Sejak debut pertama di tahun 2013, bidadari yang dilahirkan dengan nama Chelsea Elizabeth Islan ini langsung meroket. Semua dibuktikan dengan kualitas akting yang (katanya) menakjubkan—belum lagi digenapi dengan segudang prestasi di berbagai ajang. Ditambah, ia lahir dari kandungan ibunya yang berdarah Amerika, sekaligus menahbiskannya untuk bisa disebut ‘indo’. Pembaca tahu kan, bagi orang Indonesia gelar ini sama keramatnya dengan gelar keturunan keraton.

Atas dasar segala kesempurnaan itulah, Chelsea menyihir tiap mata jomblo-jomblo yang masih menggelandangkan hatinya. Chelsea adalah amunisi yang prospektif untuk diluncurkan di dunia hiburan demi merebut restu khalayak. Dan restu itu tak hanya sekedar melicinkan karirnya, tetapi juga menjawab misteri mengapa jomblo-jomblo itu jadi gandrung. Itulah yang secara revolusioner membuat bangsa sepakat menobatkan Chelsea sebagai ‘wanita idaman’ sejak abad ini (dan untuk selamanya sampai maut memisahkan). Kalau kamu mau jadi wanita seutuhnya, contohlah Chelsea! Dan ingat, menyangkali itu termasuk dalam penistaan.

Kini, jomblo-jomblo itu dibikin ambyar hatinya lantaran Chelsea sudah melegitimasi terisinya hati oleh Daffa Wardhana (pun kita mengenal nama ini karena ibunya artis). Netizen mulai meributkan banyak hal mulai dari fakta karena anaknya Marini Zurmanis itu berondong, LDR, sampai percintaan beda agama di antara keduanya (ngapain sih). Bahkan, pasangan ini mulai diramalkan menjadi #HariPatahHatiNasional jilid kedua setelah the royal wedding of Raisa-Hamish.

Itu sebabnya, aksi damai pencemburu berjamaah terhadap dibajaknya aset bangsa di tangan laki-laki lain tak akan bisa diterima, apapun alasannya! Massa harus dimobilisasi, hati wajib mulai dilatih. Bukan untuk merelakan, tapi untuk melawan!

Kami menyarankan barisan demonstran untuk memilih tanggal cantik sebelum turun ke jalan.

 

Tuhan Media

Kita abai pada kenyataan bahwa media bagai tuhan untuk menentukan selera dan panutan kita. Chelsea adalah kesempurnaan yang tidak secara polos lahir dari rakyat dan untuk rakyat. Begitu lenturnya kriteria kecantikan seorang wanita, tetapi media membentuk persepsi kita agar percaya bahwa ‘cantik adalah Chelsea’, tanpa koma. Media memaksa kita untuk percaya pada segala stigma kecantikan yang dikonstruksinya. Untuk kemudian para wanita ini dijadikan mitos komoditas tentang definisi cantik.

Tak dapat disangkal, perfilman Indonesia—yang mau tak mau berkiblat pada Hollywood—membelah manusia menjadi dua golongan: artis dan yang bukan artis. Kelompok pertama tentu saja menduduki kasta yang lebih tinggi. Yang bukan artis adalah orang biasa, sedangkan mereka yang ‘disertifikasi’ artis pantas (lebih tepatnya harus) dipuja.

Di sisi lain, dalam sistem ke-artis-an yang terbuka ini, mereka yang datang dari kalangan ‘bukan artis’ berhak dan berkesempatan mengubah nasib. Orang-orang yang merasa rakyat jelata rela berjuang mati-matian memviralkan dirinya agar jadi artis. Untuk perihal ini, jabatan artis ironisnya begitu mudah diberikan (ini bukan soal doktor honoris causa).

Sungguh malang nasib kita sesungguhnya. Dunia seni dan perfilman yang maha-eksklusif menjadi dangkal oleh karena insan media fokus mencuri hati dengan pemanfaatan individu-individu yang di-artiskan. Sebab, karya bukan lagi yang utama, melainkan apapun dihalalkan untuk menjadi jualan.

Itulah mengapa, jangan kaget jika urusan hati dan perkara domestik lebih sering mencuat di media ketimbang pencapaian para artis kita. Polemik lokal ini menjadi seksi hanya karena mereka artis. Kabar burung kedekatan Chelsea dengan Deva Mahendra, Chicco Jerikho, dan Bastian Steel diumbar begitu hebat (padahal apa bedanya dengan kamu yang suka gonta-ganti pacar).

Penggemar sudah kelewat fanatik, merasa memiliki, menjelma posesif. Chelsea harus dilindungi. Bahwa ada laki-laki yang mendekat harus diseleksi. Semua keterikatan kita pada sosok Chelsea diciptakan, didukung, dan semakin dilanggengkan oleh media. Bersiaplah ia akan semakin sering diberitakan, dipakai dalam iklan-iklan komersil, muncul di setiap layar lebar Indonesia. Soal urusan percintaannya adalah bumbu yang semakin pas untuk kian menggendutkan rekening manajemen, produser, dan para bos-bos dunia hiburan.

Tapi ini semua toh bukan salah Chelsea. Ini adalah potret dari kita yang naif; sementara media menggerogoti kehambaan kita pada ramuan ‘sosok artis rupawan’ plus ‘masalah pribadinya’.

Maka, warganet dan pembaca yang budiman, haruslah diamini bahwa Chelsea bukan milik dirinya lagi, tapi menjadi pekerja media. Ia juga milik para pencemburu itu.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dukun Abal-abal dan Fitnah pada Genderuwo Nakal 0 158

Oleh: Yogi Dwi Pradana*

 

Nasib tragis dialami seorang bocah perempuan berusia 7 tahun bernama Aisyah. Ia menjadi sebuah korban percobaan dukun abal-abal di Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Aisyah meninggal dunia setelah disuruh memakan cabai dan bunga mahoni oleh dukun abal-abal tersebut, serta ia diminta menenggelamkan kepala di dalam air untuk mengetahui apakah benar Aisyah ini keturunan genderuwo atau bukan.

Kisah ini tragis, tapi juga aneh. Sebab, setahu saya dari cerita rakjat, genderuwo tidak seiseng itu untuk merasuki anak kecil dan membuatnya jadi nakal. Salah satunya adalah Mbah Wagini dari Alas Purwo. Ia diyakini sebagai seorang keturunan genderuwo dengan seluruh badannya ditumbuhi bulu lebat.

Walaupun terlihat menakutkan, Mbah Wagini di alam gaib adalah makhluk yang dipuja. Begitu kata Eyang Ratih, pengasuhnya sejak kecil. Dan dia tidak nakal ya, ingat. Gak semua genderuwo seperti kata dukun abal-abal itu.

Poin lain yang mengherankan bagi saya dari peristiwa ini adalah, motivasi sang orang tua membawa Aisyah ke dukun. Tentu, setelah bertahun-tahun mengasuhnya, mereka sampai pada titik lelah, sehingga tak sanggup lagi mengatasi kenakalan si anak dengan kekuatannya sendiri.

Padahal, bukankah 7 tahun adalah usia normal anak bersikap aktif dan banyak tingkah misalnya, jika demikian yang dikategorikan nakal oleh kebanyakan orang. Di usia ini, anak sudah siap masuk ke jenjang sekolah dasar dan siap beradaptasi dengan hal-hal yang baru ia temui. Justru peranan orang tua dalam mendidik anak di usia ini sangat penting.

Menurut saya yang belum punya anak ini, masih ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendidik anak nakal usia 7 tahun. Misalnya, mengedepankan komunikasi dengan anak. Aktif berbincang untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan si anak. Selanjutnya, ajak anak untuk terbiasa mengatasi masalah secara bersama-sama. Orang tua tugasnya kan membimbing, bukan cuma ngasih makan.

Beberapa poin yang saya sebut tadi, ujungnya adalah agar orang tua bisa mengenali sisi emosi anak. Kalau orang tua kesusahan, “anak nakal” seharusnya bisa diatasi oleh ahlinya. Konsultasi ke psikolog misalnya.

Anak yang nakal seharusnya mendapat edukasi dari orang tua, bukan malah dibawa ke dukun untuk dirukiyah. Kan kita semua tahu, sudah banyak kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika menyelesaikan masalah dengan dukun.

Salah satu kisah soal ini datang Nanang (bukan nama sebenarnya) dari Tasikmalaya, Jawa Barat yang mengaku sebagai dukun. Alih-alih mengobati pasien, Nanang meminta pasien-pasien yang datang padanya untuk melayani hasrat seksualnya.

Eits, tapi tidak semua dukun itu abal-abal dan nol keahlian ya. Nyuwun pangapunten Mbah Dukun! Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk melarang pembaca datang ke dukun (semua kembali ke kepercayaan masing-masing).

Tapi dari pengalaman ini kita belajar, untuk mengatasi persoalan dengan hati dan wawasan yang luas. Jika sudah mentok dengan usaha sendiri, baiknya memang datang ke pakar dengan ilmu yang pasti-pasti aja.

 

*)Seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di organisasi Susastra KMSI UNY, bergiat di komunitas sastra Lampu Tidurmu, dan menjadi penulis artikel di UNY Community.

*) Ilustrasi oleh Brigitha Aidha Jannah

Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 153

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks