Aksi Damai Pencemburu Berjamaah untuk Chelsea Islan 0 1078

Indonesia pasca-Raisa adalah Indonesia era Chelsea Islan.

Tapi tanah air kita ini rupanya harus patah hati kembali karena Chelsea punya pacar baru! Sosok gadis muda belia ini mendadak jadi idola. Dan hebatnya, ia mampu membuat semua orang jadi posesif!

Sejak debut pertama di tahun 2013, bidadari yang dilahirkan dengan nama Chelsea Elizabeth Islan ini langsung meroket. Semua dibuktikan dengan kualitas akting yang (katanya) menakjubkan—belum lagi digenapi dengan segudang prestasi di berbagai ajang. Ditambah, ia lahir dari kandungan ibunya yang berdarah Amerika, sekaligus menahbiskannya untuk bisa disebut ‘indo’. Pembaca tahu kan, bagi orang Indonesia gelar ini sama keramatnya dengan gelar keturunan keraton.

Atas dasar segala kesempurnaan itulah, Chelsea menyihir tiap mata jomblo-jomblo yang masih menggelandangkan hatinya. Chelsea adalah amunisi yang prospektif untuk diluncurkan di dunia hiburan demi merebut restu khalayak. Dan restu itu tak hanya sekedar melicinkan karirnya, tetapi juga menjawab misteri mengapa jomblo-jomblo itu jadi gandrung. Itulah yang secara revolusioner membuat bangsa sepakat menobatkan Chelsea sebagai ‘wanita idaman’ sejak abad ini (dan untuk selamanya sampai maut memisahkan). Kalau kamu mau jadi wanita seutuhnya, contohlah Chelsea! Dan ingat, menyangkali itu termasuk dalam penistaan.

Kini, jomblo-jomblo itu dibikin ambyar hatinya lantaran Chelsea sudah melegitimasi terisinya hati oleh Daffa Wardhana (pun kita mengenal nama ini karena ibunya artis). Netizen mulai meributkan banyak hal mulai dari fakta karena anaknya Marini Zurmanis itu berondong, LDR, sampai percintaan beda agama di antara keduanya (ngapain sih). Bahkan, pasangan ini mulai diramalkan menjadi #HariPatahHatiNasional jilid kedua setelah the royal wedding of Raisa-Hamish.

Itu sebabnya, aksi damai pencemburu berjamaah terhadap dibajaknya aset bangsa di tangan laki-laki lain tak akan bisa diterima, apapun alasannya! Massa harus dimobilisasi, hati wajib mulai dilatih. Bukan untuk merelakan, tapi untuk melawan!

Kami menyarankan barisan demonstran untuk memilih tanggal cantik sebelum turun ke jalan.

 

Tuhan Media

Kita abai pada kenyataan bahwa media bagai tuhan untuk menentukan selera dan panutan kita. Chelsea adalah kesempurnaan yang tidak secara polos lahir dari rakyat dan untuk rakyat. Begitu lenturnya kriteria kecantikan seorang wanita, tetapi media membentuk persepsi kita agar percaya bahwa ‘cantik adalah Chelsea’, tanpa koma. Media memaksa kita untuk percaya pada segala stigma kecantikan yang dikonstruksinya. Untuk kemudian para wanita ini dijadikan mitos komoditas tentang definisi cantik.

Tak dapat disangkal, perfilman Indonesia—yang mau tak mau berkiblat pada Hollywood—membelah manusia menjadi dua golongan: artis dan yang bukan artis. Kelompok pertama tentu saja menduduki kasta yang lebih tinggi. Yang bukan artis adalah orang biasa, sedangkan mereka yang ‘disertifikasi’ artis pantas (lebih tepatnya harus) dipuja.

Di sisi lain, dalam sistem ke-artis-an yang terbuka ini, mereka yang datang dari kalangan ‘bukan artis’ berhak dan berkesempatan mengubah nasib. Orang-orang yang merasa rakyat jelata rela berjuang mati-matian memviralkan dirinya agar jadi artis. Untuk perihal ini, jabatan artis ironisnya begitu mudah diberikan (ini bukan soal doktor honoris causa).

Sungguh malang nasib kita sesungguhnya. Dunia seni dan perfilman yang maha-eksklusif menjadi dangkal oleh karena insan media fokus mencuri hati dengan pemanfaatan individu-individu yang di-artiskan. Sebab, karya bukan lagi yang utama, melainkan apapun dihalalkan untuk menjadi jualan.

Itulah mengapa, jangan kaget jika urusan hati dan perkara domestik lebih sering mencuat di media ketimbang pencapaian para artis kita. Polemik lokal ini menjadi seksi hanya karena mereka artis. Kabar burung kedekatan Chelsea dengan Deva Mahendra, Chicco Jerikho, dan Bastian Steel diumbar begitu hebat (padahal apa bedanya dengan kamu yang suka gonta-ganti pacar).

Penggemar sudah kelewat fanatik, merasa memiliki, menjelma posesif. Chelsea harus dilindungi. Bahwa ada laki-laki yang mendekat harus diseleksi. Semua keterikatan kita pada sosok Chelsea diciptakan, didukung, dan semakin dilanggengkan oleh media. Bersiaplah ia akan semakin sering diberitakan, dipakai dalam iklan-iklan komersil, muncul di setiap layar lebar Indonesia. Soal urusan percintaannya adalah bumbu yang semakin pas untuk kian menggendutkan rekening manajemen, produser, dan para bos-bos dunia hiburan.

Tapi ini semua toh bukan salah Chelsea. Ini adalah potret dari kita yang naif; sementara media menggerogoti kehambaan kita pada ramuan ‘sosok artis rupawan’ plus ‘masalah pribadinya’.

Maka, warganet dan pembaca yang budiman, haruslah diamini bahwa Chelsea bukan milik dirinya lagi, tapi menjadi pekerja media. Ia juga milik para pencemburu itu.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kita Hanyalah Penonton di Reshuffle Menteri 0 243

Semua mata tertuju pada Pak Jokowi dan Kyai Ma’ruf, yang melangkah dengan heroik ke hadapan media di beranda Istana. Sore itu konferensi pers berjalan diiringi harap cemas 200 juta lebih rakyat Indonesia. Semua karena berbagai peristiwa naas yang menimpa negara akhir-akhir ini.

Mulai dari Corona yang tak kunjung selesai, sampai 2 menteri korup dalam waktu bersamaan. Untuk itu, semua sedang menantikan langkah tegas Pak Presiden melengkapi tubuh kabinetnya.

6 nama baru kemudian diumumkan, mengisi dan/atau menggantikan nama-nama lama, menjabat menteri di era kedua Joko Widodo ini. Seperti biasa, kabar baru seperti penunjukan menteri ini menimbulkan beragam percakapan menarik di kalangan kita, rakyat jelata.

Pertama, di grup whatsapp saya menemukan sebuah meme yang bunyinya begini: “coblos Jokowi-Ma’ruf, bonus Prabowo-Sandi”. Kalimat dalam meme ini memang tidak asing. Dulu pernah keluar sejak aksi Jokowi dan Prabowo yang dengan mesranya naik satu gerbong MRT, hingga penunjukan Prabowo sebagai menteri pertahanan. Meme ini hangat dan relevan dimunculkan kembali, setelah nama Mas ganteng Sandiaga Salahuddin Uno yang ditunjuk sebagai Menparekraf, menggantikan Wishnutama.

Ini mungkin menjadi sejarah penting bagi perjalanan demokrasi Indonesia, di mana rival capres-cawapres yang menimbulkan berbagai drama india selama paling tidak 10 tahun terakhir ini, malah masuk dan merasuk menjadi satu kabinet. Sungguh dunia ini maha terbolak-balik, lawan jadi kawan, dan begitu pula sebaliknya.

Komentar yang muncul atas meme ini juga beragam, dan ada satu yang menarik perhatian saya: “semua akan cebong pada waktunya”. Ini suatu ironi. Kita sendiri yang sering mengeluh betapa melelahkannya perdebatan cebong vs kampret yang tak pernah berhenti. Tapi tanpa sadar, kita sendirilah yang mempopulerkannya, terus-terusan menggaungkannya, membicarakannya, mengomentarinya, dan menjadikannya wacana yang mencuat di ruang media sosial.

Situ tahu kan, kalau suatu trending topic di dunia maya, akan dijadikan agenda setting media mainstream juga. Jadi ya jangan heran, jika persaingan dua kubu akan tetap abadi. Lah wong kita sendiri yang terus menyebarkan meme-meme semacam ini. Sementara elit politik kita sibuk bernegosiasi dan ketawa hahahihi.

Kedua, seperti biasa reshuffle menteri menjadikan kita pakarnya pakar dan ahlinya ahli. Kita menganalisis dengan seksama rekam jejak, imej, dan prospek keenam nama menteri baru Jokowi ini. Kita mendadak jadi paling tahu alasan mengapa Wishnutama digantikan Sandi, sang pelopor giat UMKM Oke-oce. Kita mendadak menilai betapa tak punya pengalaman si Budi Gunadi di bidang kesehatan, tapi justru menggantikan menkes kesayangan Mbak Najwa Shihab, Terawan Agus Putranto, yang katanya kerja dalam diam di balik layar (mbuh layar tancep RT piro).

Kita juga tiba-tiba memuji-muji keputusan Jokowi dalam memilih Tri Rismaharini menjadi mensos, sang walikota kondang yang sukses mengijo-royo-royo-kan Surabaya. Kita mendadak sok tahu, berpikir sosok Risma paling pas untuk memberantas korupsi miris yang baru saja dilakukan pejabat sebelumnya, Juliari Batubara, hanya karena track record-nya yang tegas marah-marah ketika tamannya dirusak. Ingat ya, JIKA TAMANNYA DIRUSAK! (mbuh perkoro liyane)

Sementara itu kita mengenyampingkan bahwa fakta bahwa kursi menteri adalah bagi-bagi jatah partai politik. Mensos adalah jatahnya anak buah Megawati Soekarnoputri. Dan lantas kita jadi dibutakan imej tokoh politik yang selama ini sudah dipotret baik oleh media.

Ketiga, pidato penuh makna Mendag yang baru. Posisi menteri perdagangan diisi Muhammad Lutfi, seorang berpengalaman yang sering langganan menduduki kursi kabinet, dengan jabatan yang sama di masa silam.

Saya perhatikan betul pidatonya yang ternyata semakin mendekati akhir, malah semakin menyakiti hati saya sebagai rakyat biasa-biasa aja ini. Dengan gagah ia sampaikan rasa tanggung jawab besar membawa perekonomian nasional di tengah masa sulit pandemi. Pidato dilengkapi analogi bak pujangga melamar kekasih. Katanya, Mendag adalah wasit pertandingan tinju, pembeli dan penjual adalah petinjunya, dan rakyat adalah penontonnya. Ingat ya, RAKYAT ADALAH PENONTON!

Pak Mendag yang terhormat, bagaimana bisa negara demokrasi di mana rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi – setidaknya ini yang saya tahu dari pelajaran PPKN waktu SMP dulu – mosok cuma jadi penonton? Bagaimana sang promotor pertandingan tinju berhak menggelar acaranya di mana dan kapan saja, menentukan siapa wasitnya, petinju gontok-gontokan bertaruh nyawa, dan kita yang hanya penonton ini pasif dan tak berdaya, selain daripada memendam emosi melihat pertikaian, menaruh judi karena taruhan, atau ujung-ujungnya chaos antar pendukung.

Omongan Pak Mendag Lutfi ini memang problematis, tapi banyak benarnya. Bahwa kita, rakyat sebagai tingkatan terendah dalam rantai makanan perpolitikan Indonesia ini, hanya asyik menonton. Paling banter ya hanya bikin status WA atau story Instagram “hayo siapa yang kemarin bertengkar sampai putus kongsi gara-gara beda pilihan 01 dan 02?” sambil saling menertawakan satu sama lain. Tak lebih dan tak kurang.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Kita Semua Benar Kecuali Mbak Denise 0 450

Cukup satu Denise Chariesta untuk mengacak-ngacak jiwa miskin kami.

Video berdurasi tak sampai satu menit itu menggegerkan linimasa media sosial dan mengundang tangan-tangan gatal kita untuk berkomentar. Dalam video itu, Mbak Denise dan teman-temannya mendeklarasikan diri sebagai orang kaya, dan hobi nongkrong di mall mevvah.

Di situ, mereka juga berucap, “kalau kalian (orang miskin) nongkrongnya di pinggiran, ya?”. Sebagaimana tabiat yang mudah emosi, sepertinya kalimat inilah yang kemudian membakar hati sebagian besar kita, para netijen.

Komentar yang terkirim beraneka ragam. Ada yang memaki, menasehati, memberi ayat-ayat suci, bahkan mendoakan celaka kepada Mbak Denise dan teman-temannya yang wajahnya nampang di video itu.

“Di atas langit masih ada langit. Gak usah sombong!”

Ini salah satunya. Lantas, beragam perbandingan dengan orang-orang yang dianggap lebih kaya, dimasukkan. “si A aja kaya gak pernah sombong dan norak kayak situ”. Barangkali kita semua yang salah. Berharap orang kaya harus berperilaku manis, anggun, lemah lembut, dan tidak pamer kepunyaannya.

Kita yang terlalu berharap, menuntut gambaran ideal pada seluruh orang berduit. Kita salut dan memberi jempol bagi mereka orang kaya yang naiknya Ferrari, tapi mau makan bakso malang di pinggiran jalan.

Mungkin juga, kita dimabukkan oleh cerita hepi ending dongeng anak-anak. Di mana kisah-kisah pangeran atau putri raja, yang selalu membela rakyat kecil, ingin hidup sederhana, diciptakan sedemikian rupa protagonis oleh sang sutradara.

Layaknya tokoh dongeng tersebut, kita menuntut orang-orang kaya agar jadi teladan sikap bagi kita, kaum kelas menengah. Mereka harusnya mengajarkan bersyukur, bukannya takabur! Bahwa harta di dunia ini juga datangnya dari Sang Kuasa, bukan semata-mata kerja keras di dunia!

“Sudah disindir sultan masih aja gak tahu malu!”

Kalimat ini juga muncul setelah deretan artis tanah air mengunggah video tanggapan. Bukankah kita sedang berperilaku tak adil pada Mbak Denise. Sementara itu, nama kondang lain semacam Denny Cagur, Raffi Ahmad, Andre Taulany, yang kalian agung-agungkan karena konten rumah besar dan koleksi motor mahal; kita bela mati-matian.

Bahkan, doa-doa baik agar mereka tetap sehat, sukses, dan bertambah kaya, tak segan-segan kita daraskan. Alih-alih menasehati agar tak pamer kekayaan, kita malah mendambakan punya rumah besar dan bergelimang harta layaknya mereka.

“Report akunnya biar gak berseliweran di timeline kita”

Sudah tahun 2020 dan masih banyak dari kita yang gak paham logika algoritma media sosial. Semakin sering kita melihat akun serupa, semakin sering berkomentar di konten yang sejenis, semakin sering pula wajah Mbak Denise muncul di rekomendasi timeline kita. Ya gak heran, lha wong yang kita tonton artis-artis yang sedang menunjukkan koleksi-koleksi mewahnya. Media sosial kan juga membaca habitus kita.

“Ini kan lagi masa susah pandemi,banyak yang di-PHK dan ekonomi lagi sulit, kok malah menyinggung orang yang ekonomi rendah sih Mbak!”

Baik sekali budi orang ini. Tapi siapa sih kita ini yang berhak menghakimi dan menyuruh orang untuk berperilaku “baik” sesuai ukuran kita? Ada banyak cara untuk mengabaikan konten yang menyakiti hati kita, ketimbang nyocoti wong, sok-sokan jadi polisi moral dan berlagak membela kepentingan kaum tertindas, padahal belum tentu yang kita lakukan berdampak juga pada orang-orang yang seharusnya dibela.

“Ih, belajar ngomong huruf R dulu sana!”

Kecenderungan kita jika tak bisa lagi mencari kesalahan orang, adalah menyerang hal-hal yang sifatnya personal, walau gak nyambung-nyambung amat dengan permasalahan utama. Tujuannya tentu menjatuhkan karakternya, karena bagi kita dia pantas mendapatkannya. Kita jadi sibuk menghakimi dan mengejek kelemahan orang lain karena merasa tersinggung, tanpa sadar bahwa kita juga bisa saja menyakitihatinya.

Lagi pula, penulis sebagai bagian dari anggota aktif komunitas Persatuan Cadel Indonesia menyatakan sikap: bahwa kalimat kami masih bisa terdengar jelas konsep dan konteksnya, walau tidak dengan artikulasi yang semestinya. Kami mengecam keras ejekan semacam ini! (lho kok melok-melok tersinggung)

“Enaknya ‘dipake’ dan diewe rame-rame, nih!”

Ini mungkin komentar kita yang ter-epic. Ini adalah senjata terakhir kita dalam menjatuhkan karakter seseorang. Sebab kita orang Indonesia yang mengaku beradat ketimuran ini, tak bisa melepaskan pandang pada soal seputar selangkangan. Dan bahwa kita ini adalah orang-orang yang merasa berhak melepaskan syahwat seenak jidat. Bahwa logika ini sudah terbalik-balik dan melenceng dari persoalan utama, lain soal.

Terlepas dari ini semua, kita mungkin lupa hakikat awal pembuatan video ini. Kita bebas mengekspresikan diri melalui aplikasi paling mukhtahir mengusir kebosanan: TikTok. Kita tiba-tiba bisa njoged walau bukan penari profesional. Kita menunjukkan ekspresi wajah lucu dan belajar meningkatkan kepercayaan diri. Tak ada yang menghalangi kita.

Tapi begitu ada satu konten Denise yang congkak hati, yang juga tak dilarang agama dan negara, kita olok habis-habisan. Selamat tinggal freedom of speech! Kita semua boleh bersenang-senang, bahkan cari duit dariTikTok, kecuali Denise!

Bisnis-bisnis Denise yang sangar itu, coffee shop-nya dengan kemasan nampak premium yang harganya bikin melongo kaum proletar macam kita, florist-nya yang jadi langganan banyak pesohor nasional itu. Kedua store-nya boleh jadi berlokasi di Pacific Place, mall paling beken di Jakarta Selatan, yang masuk ke lobinya aja bikin minder dan berkeliling ke food court-nya bikin hati ciut akibat tak familiar dengan nama-nama tenant makanannya.

Paling-paling semuanya itu cuma tipu-tipu dan hasil ngutang! Ya kan? Ngaku kamu, Mbak Denise!

– jeritan hati netijen sing ngopine nang warkop giras, nukokno kembang pacare nang Kayoon

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks