Aksi Damai Pencemburu Berjamaah untuk Chelsea Islan 0 855

Indonesia pasca-Raisa adalah Indonesia era Chelsea Islan.

Tapi tanah air kita ini rupanya harus patah hati kembali karena Chelsea punya pacar baru! Sosok gadis muda belia ini mendadak jadi idola. Dan hebatnya, ia mampu membuat semua orang jadi posesif!

Sejak debut pertama di tahun 2013, bidadari yang dilahirkan dengan nama Chelsea Elizabeth Islan ini langsung meroket. Semua dibuktikan dengan kualitas akting yang (katanya) menakjubkan—belum lagi digenapi dengan segudang prestasi di berbagai ajang. Ditambah, ia lahir dari kandungan ibunya yang berdarah Amerika, sekaligus menahbiskannya untuk bisa disebut ‘indo’. Pembaca tahu kan, bagi orang Indonesia gelar ini sama keramatnya dengan gelar keturunan keraton.

Atas dasar segala kesempurnaan itulah, Chelsea menyihir tiap mata jomblo-jomblo yang masih menggelandangkan hatinya. Chelsea adalah amunisi yang prospektif untuk diluncurkan di dunia hiburan demi merebut restu khalayak. Dan restu itu tak hanya sekedar melicinkan karirnya, tetapi juga menjawab misteri mengapa jomblo-jomblo itu jadi gandrung. Itulah yang secara revolusioner membuat bangsa sepakat menobatkan Chelsea sebagai ‘wanita idaman’ sejak abad ini (dan untuk selamanya sampai maut memisahkan). Kalau kamu mau jadi wanita seutuhnya, contohlah Chelsea! Dan ingat, menyangkali itu termasuk dalam penistaan.

Kini, jomblo-jomblo itu dibikin ambyar hatinya lantaran Chelsea sudah melegitimasi terisinya hati oleh Daffa Wardhana (pun kita mengenal nama ini karena ibunya artis). Netizen mulai meributkan banyak hal mulai dari fakta karena anaknya Marini Zurmanis itu berondong, LDR, sampai percintaan beda agama di antara keduanya (ngapain sih). Bahkan, pasangan ini mulai diramalkan menjadi #HariPatahHatiNasional jilid kedua setelah the royal wedding of Raisa-Hamish.

Itu sebabnya, aksi damai pencemburu berjamaah terhadap dibajaknya aset bangsa di tangan laki-laki lain tak akan bisa diterima, apapun alasannya! Massa harus dimobilisasi, hati wajib mulai dilatih. Bukan untuk merelakan, tapi untuk melawan!

Kami menyarankan barisan demonstran untuk memilih tanggal cantik sebelum turun ke jalan.

 

Tuhan Media

Kita abai pada kenyataan bahwa media bagai tuhan untuk menentukan selera dan panutan kita. Chelsea adalah kesempurnaan yang tidak secara polos lahir dari rakyat dan untuk rakyat. Begitu lenturnya kriteria kecantikan seorang wanita, tetapi media membentuk persepsi kita agar percaya bahwa ‘cantik adalah Chelsea’, tanpa koma. Media memaksa kita untuk percaya pada segala stigma kecantikan yang dikonstruksinya. Untuk kemudian para wanita ini dijadikan mitos komoditas tentang definisi cantik.

Tak dapat disangkal, perfilman Indonesia—yang mau tak mau berkiblat pada Hollywood—membelah manusia menjadi dua golongan: artis dan yang bukan artis. Kelompok pertama tentu saja menduduki kasta yang lebih tinggi. Yang bukan artis adalah orang biasa, sedangkan mereka yang ‘disertifikasi’ artis pantas (lebih tepatnya harus) dipuja.

Di sisi lain, dalam sistem ke-artis-an yang terbuka ini, mereka yang datang dari kalangan ‘bukan artis’ berhak dan berkesempatan mengubah nasib. Orang-orang yang merasa rakyat jelata rela berjuang mati-matian memviralkan dirinya agar jadi artis. Untuk perihal ini, jabatan artis ironisnya begitu mudah diberikan (ini bukan soal doktor honoris causa).

Sungguh malang nasib kita sesungguhnya. Dunia seni dan perfilman yang maha-eksklusif menjadi dangkal oleh karena insan media fokus mencuri hati dengan pemanfaatan individu-individu yang di-artiskan. Sebab, karya bukan lagi yang utama, melainkan apapun dihalalkan untuk menjadi jualan.

Itulah mengapa, jangan kaget jika urusan hati dan perkara domestik lebih sering mencuat di media ketimbang pencapaian para artis kita. Polemik lokal ini menjadi seksi hanya karena mereka artis. Kabar burung kedekatan Chelsea dengan Deva Mahendra, Chicco Jerikho, dan Bastian Steel diumbar begitu hebat (padahal apa bedanya dengan kamu yang suka gonta-ganti pacar).

Penggemar sudah kelewat fanatik, merasa memiliki, menjelma posesif. Chelsea harus dilindungi. Bahwa ada laki-laki yang mendekat harus diseleksi. Semua keterikatan kita pada sosok Chelsea diciptakan, didukung, dan semakin dilanggengkan oleh media. Bersiaplah ia akan semakin sering diberitakan, dipakai dalam iklan-iklan komersil, muncul di setiap layar lebar Indonesia. Soal urusan percintaannya adalah bumbu yang semakin pas untuk kian menggendutkan rekening manajemen, produser, dan para bos-bos dunia hiburan.

Tapi ini semua toh bukan salah Chelsea. Ini adalah potret dari kita yang naif; sementara media menggerogoti kehambaan kita pada ramuan ‘sosok artis rupawan’ plus ‘masalah pribadinya’.

Maka, warganet dan pembaca yang budiman, haruslah diamini bahwa Chelsea bukan milik dirinya lagi, tapi menjadi pekerja media. Ia juga milik para pencemburu itu.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Daftar Komunitas Progresif yang Sebaiknya Dibentuk Selain “Indonesia Tanpa Pacaran” 0 137

Sudah lama sekali sejak 2015, komunitas Indonesia Tanpa Pacaran (ITP) bergerak bersama ribuan massanya di Indonesia dengan tekad mencegah perbuatan zina. Ribuan massa ini biasanya berkumpul dalam sebuah acara seminar yang menguak kunci kebahagiaan, yakni yang menurut mereka tiada lain adalah menikah. Bisa dibilang semacam acara Take Me Out versi Syariah.

Menurut hukum, menikah di Indonesia harus melibatkan laki-laki dan perempuan yang sudah berusia 21 tahun, sementara yang berusia kurang dari itu atau baru menginjak usia 19 tahun wajib mengantungi restu orang tua atau wali. Namun, apakah pernikahan tersebut berlangsung tidak di bawah tekanan orang tua yang ingin anaknya lebih bahagia dengan juragan tambang misalnya atau mafia sawit, itu adalah soal lain. Aturan ini terdengar sederhana memang, kendati syarat yang pertama masih bisa diperdebatkan. Namun, yang seringkali kemudian menjadi perkara adalah: “sulitnya mencari orang yang mau diajak menikah.”

Kesulitan inilah yang akhirnya dibaca oleh La Ode Munafar sebagai peluang memperoleh amal di dunia untuk dibawa kelak ke akhirat. Dengan membentuk ITP, La Ode berupaya mempertemukan orang-orang yang merasa kesulitan dalam mencari pasangannya. Untuk menggunakan jasa yang ditawarkan La Ode melalui komunitasnya itu, orang-orang cukup membayar murah kok bila dibandingkan dengan manfaat yang akan diperoleh. Sekitar 180 ribu rupiah kalau merujuk pada artikel di Tirto.id. Pokoknya murahlah. Setidaknya terjangkau oleh mereka yang jarang menggunakan uangnya karena hanya hidup sendiri.

Pun dalam hal ini, La Ode membantu negara untuk membuat stabil perekonomian masyarakat. Bayangkan saja, bila seseorang sudah berpacaran selama setengah dekade, namun berakhir putus karena alasan terlalu baik misalnya. Bila setiap minggunya orang baik ini terlanjur menghabiskan lima ratus ribu untuk berkencan, maka pengeluarannya dalam sebulan adalah satu setengah juta. Selebihnya hitung saja sendiri. Nah, daripada uang tersebut terbuang sia-sia, sebaiknya dipakai buat menikah saja langsung. Bahkan menurut data yang dimuat dalam media sosial Instagram ITP (@indonesiatanpapacaran), setidaknya butuh lima juta rupiah saja untuk memenuhi segala kebutuhan menikah.

Segala aktivitas progresif yang dilakukan ITP ini patut mendapat apresiasi dalam berbagai bentuk. Termasuk mengakui La Ode dan ITP-nya sebagai inspirasi bagi orang-orang lain yang juga ingin membuat komunitas yang progresif. Kemampuan menerawang apa yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini adalah fondasi pembentukan komunitas. Mungkin seperti komunitas-komunitas berikut yang belum ada di Indonesia dan semestinya harus ada:

  1. Indonesia Tanpa Tukang Parkir Curang (ITTPC)

Indonesia Tanpa Tukang Parkir Curang sepertinya bisa menjadi ladang progresif selanjutnya bagi orang-orang yang ingin mengikuti jejak La Ode. Tukang parkir curang merupakan masalah serius dan belum ditemukan antidotnya sampai tulisan ini dibuat.

Dikatakan curang karena mereka tak terlihat ada ketika kita sedang bersiap-siap parkir. Namun, secara mengejutkan ada di dekat motor saat kita sudah bersiap pergi, lalu datang sambil meniup peluit dan melempar tatapan intimidatif.

Kalau ITTPC sudah dibentuk, bisa jadi akan disediakan tukang parkir dengan keuletan kerja yang luar biasa bagus yang rela dibayar seikhlasnya, sekalipun dengan fatihah.

 

  1. Indonesia Tanpa Paku Liar (ITPL)

Nah, saya kira ini juga patut diberi perhatian lebih. Sudah sering kita mengalami ini. Misalnya saat sedang terburu-buru menuju tempat kerja, tapi tiba-tiba ban motor yang kita kendarai bocor karena sebuah paku telah melubanginya. Maka, tak ada solusi lagi selain menambalnya ke tukang tambal ban yang sudah pasti berada tidak jauh dari tempat kejadian perkara. Atau, ketika sedang asyik mengitari kota sama doi sambil ngobrol tentang rencana-rencana masa depan, eh di tengah jalan terpaksa turun dari motor karena ban motor pecah, ya solusinya sama seperti kasus pertama.

Mari kita bayangkan seandainya paku-paku itu dibersihkan setiap hari oleh sekelompok orang yang mau meluangkan waktunya demi keselamatan kita di jalan, pasti ini akan menjadi amal yang baik pula bagi mereka. Mungkin, nanti anggota keluarga La Ode mau ekspansi dengan membentuk komunitas baru, maka inilah jawabannya. Pahala akan terhampar sepanjang jalan yang dibersihkan dari paku liar.

 

  1. Indonesia Tanpa Corona dan Oligarki (ITCDO)

Saya kira komunitas ini tak perlu dijelaskan apa yang melatarbelakangi pembentukannya. Semua akan paham dan bersolidaritas untuk membangunnya. Yang jelas, sama seperti La Ode dengan ITP-nya, bisa jadi tempat memetik rizki dan amal untuk dibawa ke akhirat. Hanya saja yang membedakannya, untuk terlibat di dalamnya, rasanya kita tak perlu membayar sepeser pun. Cukup dengan tekad dan kesadaran manusiawi.

 

  1. Indonesia Tanpa Indonesia Tanpa Pacaran

La Ode, perlu Anda ketahui, bahwa komunitas yang Anda dirikan dengan nama Indonesia Tanpa Pacaran ini telah banyak sekali mengundang pertengkaran. Buanyak alasannya. Pokoknya tidak jauh-jauh dari pertanyaan: “Sebenarnya pengetahuan Islam dan gender macam apa yang ingin Anda bentuk dalam komunitas ini?”

Nah, daripada komunitas Anda membuat umat Islam menjadi terpecah-belah, alangkah lebih baiknya Anda bubarkan saja komunitas ini. Saya rasa ini adalah sebijak-bijaknya cara untuk menghindari pertengkaran dan dosa. Ini saran yang saya peroleh di media sosial berkat para netijen budiman, lho. Suara netijen adalah suara kebenaran.

 

Btw, La Ode Munafar, pasti setiap ada seminar ITP selalu dapat tiket free pass, ya kan? Kalau boleh tahu, cita-cita mau punya istri berapa? Nggak sekalian buat komunitas Indonesia Tanpa Perselingkuhan? Hehehe…

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Sinetron Absurd ala Indonesia dan Khasiat Mujarabnya 0 103

Menahun sudah segenap rakjat bertanya-tanya, sebagaimanapun kami juga (lihat tulisan: ‘Logika Hello Kitty Rebus vs Drama Korea’), kenapa sinetron Indonesia kok modelannya begitu-begitu terus? Bukannya semakin waktu semakin baik, malah semakin absurd. Adegan-adegannya super duper konyol out of the box. Mulai dari boneka Hello Kitty direbus sampai seorang wanita yang berteriak panik dikerubutin buaya CGI.

Tak mau kalah, latar tempat pun ikut jadi bahan humor tersendiri. Bagaimana ceritanya istana kahyangan seorang dewi kepercayaan Jawa berhiaskan patung-patung megah bergaya Yunani, lengkap dengan pose-pose melankolis seraya menutup sebagian anggota tubuh? Atau bagaimana bisa yang dikata para tokoh sebagai “diskotik top” adalah ruangan yang dindingnya cuma berbalut kain hitam dan lampu kerlap-kerlip macam hiasan pohon natal?

Sebelum kita melanjutkan protas-protes ria ini, mungkin ada baiknya kita hening sejenak dan berpikir ulang. Apa betul keadaaan sinetron Indonesia yang seperti ini nih sungguh-sungguh jelek dan mutlak pol negatifnya? Apa benar akar masalahnya hanya ada pada masalah kejar tayang dan keterbatasan proses produksinya, sehingga pilihan-pilihan adegan sedemikian “progresif nan alternatif” boleh langsung diambil gambar?

Memang, jika dilihat dari sisi lain, di zaman penuh kehausan akan aktualisasi brand dan bacok-bacokan antar-netijen, semakin aneh sebuah adegan berarti semakin tinggi kemungkinannya untuk bisa viral. Itu juga bisa jadi salah satu “reward” bagi tim produser yang mungkin harus senantiasa kalang-kabut di balik penayangan tiap episode.

Tapi toh kita kerap mendapati situasi di mana sebuah keluarga berkumpul dengan tatapan tanpa kedipan, melekat kuat di layar TV, menonton adegan-adegan “konyol” tersebut dengan mata berkaca-kaca atau bibir yang mewek-mewek.

Sebuah adegan yang bagi kita langsung bikin tepok jidat, ternyata sebegitu serius bagi mereka. Sebuah adegan yang bagi kita hanya pantas dlirik satu kali, untuk langsung divonis sebagai ‘tayangan tak bermutu’, ternyata sanggup membikin orang lain nangis kejer atau berok-berok sambil lempar piring karena saking gumush-nya sama si tokoh jahat. Lalu reaksi mereka itu membuat kita tertawa karena lucunya, atau bagi yang lebih keji lagi, karena gobloknya.

Kita sendiri bisa dengan sombong bangga mengumumkan pada jagad raya, “Sori, ya. Aku cuma mau pakai merk ini, ini, dan ini karena value perusahaannya sesuai sama value aku”. Atau, “Selera aku tuh yang begini, nih. Kalau yang kayak gitu, em… nggak sesuai lah sama karakter aku”.

Maka boleh juga dong kita mengakui bahwa sinetron Indonesia, sejungkirbalik apapun logika yang ada di dalamnya, amatlah nggathuk sama pasarnya. Jangan-jangan, nilai dalam sinetron lucu-lucu ini sungguh mencerminkan nilai yang sama dalam kehidupan penggemarnya sehari-hari?

Bolehlah kita bilang adegan jenazah yang sudah dipocong kemudian terlempar dalam mesin molen itu kejadian ajaib. Tapi jika kemudian kita lihat keseharian mereka, bukankah hal-hal tak kalah ajaib juga sering terjadi?

Diiming-imingi kerjaan “enak”, tanpa perlu syarat ijazah dan pengalaman kerja, menggiring mereka pada situasi banting-tulang, pagi sampai tengah malam 7 hari seminggu. Beberapa di antara mereka sampai bertaruh keamanan diri, ketika terpaksa harus melakukan tindakan ilegal atau melawan hukum demi menjalankan apa kata bos. Ketika digaji cuma dapat sekian repes, nominal upah yang saking super ajaibnya sampai tak masuk akal dan nurani. Bekerja tanpa kontrak resmi, dan ketika terjadi kecelakaan kerja atau bahkan sampai meninggal, tidak mendapat pertanggungjawaban yang pantas.

Belum lagi jika masih ditambah kasak-kusuk, “Salah sendiri, dia mau sih kerja nggak bener begitu”. Kalau sudah begini, bukankah bibir-bibir yang demikian berujar sama saja durjananya dengan molen yang menggiling si pocong nahas?

Sama halnya dengan persoalan plot. Dalam sinetron ‘serial istri tersakiti’ misalnya. Banyak yang jadi gatal gara-gara kisahnya selalu dan melulu tentang suami yang “direbut” perempuan lain. Apa tidak bisa menemukan alur cerita lain? Kita senantiasa berharap seri selanjutnya akan hadir dengan penyajian yang berbeda. Ternyata memang berbeda… pemainnya, busananya, dan setting lokasinya. Plotnya sama.

Demikian pula dengan kehidupan para penonton setianya. Dalam setiap hari, minggu, dan bulan, mereka bekerjakeras berusaha meningkatkan derajat hidup. Atau minimal, supaya bisa sedikit menabung. Senangnya bukan main jika dapat lebihan pendapatan harian. Tapi penyakit yang muncul karena kelelahan bekerja membuat cuan ekstra itu harus direlakan demi pengobatan. Atau kalau sekarang, anaknya tiba-tiba butuh dibelikan kuota bejibun buat sekolah online. Tabungan amblas. Hidup akhirnya segitu-segitu aja.

Oke. Ada yang bilang kalau kualitas plot yang stagnan dalam sinetron adalah buah dari episode yang mulur-mulur macam keju pizza masih anget. Bisa jadi benar. Namun bukankah kehidupan mereka rasanya juga seperti itu? Berpanjang-panjang dan tak menentu. Seiring datangnya hari, bukannya semakin besar harapan dalam hati mereka, hidup justru makin bikin angkat tangan.

Ya sudahlah… Terserah dunia ini mau seperti apa. Apapun yang terjadi besok ya dihadapi saja. Kalau bagus ya syukur. Kalau nggak ya sudah… pasrah saja.’

Maka, dalam perkara stagnansi opera sabun negara zamrud khatulistiwa ini, sesungguhnya siapa yang akhirnya menginspirasi siapa?

Apakah tim produser selalu bertolak dari kehidupan nyata para pemirsanya, yang secerdas mungkin ditangkap dan diterjemahkan dalam bahasa layar kaca dengan segala keterbatasan yang menghadang? Atau stagnansi ini akhirnya dibentuk terbentuk demi mengobati perih luka dalam hati pemirsanya?

Supaya kalau hidup mereka gitu-gitu aja, tak kunjung menemui solusi, sering dibuat kalah-kalahan, serta nampak seperti benang membundel yang rumit dan tak berujung… ya sudah, tidak masalah.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks