Apa yang Salah dari Kematian Choirul Huda? 0 718

Dunia sepakbola nasional kembali terguncang. Tak lama, setelah beberapa kasus bentrok digelar antar tim dan suporter—apalagi yang melibatkan aparat hijau-hijau itu—merebaklah aroma duka dari lapangan.

Choirul Huda, kiper Persela Lamongan, meninggal purnatugas sebagai pesepakbola sejati pada 15 Oktober lalu. Ia mengalami insiden tabrakan dengan rekan setim, Ramon Rodriguez, serta striker Semen Padang, Marcel Sacramento. Setelah melakukan penyelamatan bola, kaki bek dan penyerang itu sama-sama menubruk dada Choirul. Kiper itu sempat kewalahan berdiri, lalu ambruk kehabisan nafas.

Tim medis langsung mak jebul turun ke lapangan untuk melakukan pertolongan pertama. Melihat kondisinya tak sadar, mereka segera saja menandu sang kiper menuju ambulans. Dalam perjalanan, ia sempat sadar dan mengeluh sakit di dada. Sesampainya di rumah sakit, nyawanya tak lagi bisa diselamatkan.

Babak akhir pertandingan berakhir dengan skor kemenangan 2-1 bagi Persela, disertai absennya sang legenda untuk selama-lamanya. Tuhan telah mencukupkan pengabdiannya selama 18 tahun kepada tim Lamongan itu.

Lantas, etiskah menghardik para pemain yang ‘turut’ menumbangkan Choirul?

Sepakbola ialah permainan dengan segala aturan yang terbentang di atas rerumputannya. Konsekuensi pastilah timbul dari sikap dan kelakuan para pemain, wasit, suporter, juga siapapun yang terlibat. Menang-kalah, damai-bentrok cedera-wal afiyat sampai akhir pertandingan, hingga pemain yang ngambek tentu adalah kejadian-kejadian yang tidak bisa ditolak. Semua bagian dari proses, patut dinikmati.

Tetapi, tanpa sebuah manajemen pertandingan yang profesional, maka kita sebagai pribumi tak boleh bersikap patut. Mentang-mentang negara kita sedang tanggung, dari hukum, politik, ekonomi, dan tetek-bengeknya, lantas kita bisa bilang ‘yoweslah’.

Para pengamat sepakbola—mayoritas netizen, menyalahkan kinerja tim medis yang tergesa-gesa mengangkut Choirul Huda menuju ambulans. Sebab, boleh jadi ia bisa diselamatkan di tempat kejadian, tepat dengan melihat indikasi kehabisan nafas. Bila lidahnya tertelan, langkah pertama yang wajib dilakukan ialah dengan menariknya keluar. Hal ini untuk mengantisipasi tertutupnya saluran tenggorokan.

John Terry dan Fernando Torres, dua-duanya mantan punggawa Chelsea, sama-sama pernah mengalami kejadian serupa. Berkat kesigapan dan pengetahuan medis yang matang, para pemain turut membantu mereka keluar dari kepungan malaikat maut.

Profesionalitas tim medis serta manajemen liga akhirnya jadi bulan-bulanan netijen. Apalagi, Liga Gojek-Traveloka ini dinilai tak lebih baiknya dibanding liga-liga tarkam terdahulu. Mafhum, dunia lapangan hijau di Indonesia masih merangkak dari hantaman birokrasi lalu yang bikin ajur. Tetapi jangan kuatir, pimpinan PSSI saat ini benar-benar peduli kok. Peduli dengan jabatan.

 

Refleksi

Tentu, kita juga tak bisa sekonyong-konyong menyalahkan tim medis yang sedang gupuh saat itu. Pembaca pasti juga akan panik melihat orang sekarat di depan mata. Tanpa pengetahuan dan pembawaan diri yang tepat, penanganan medis hanya akan sia-sia. (Diam juga tidak disarankan, sih.)

Tim medis yang seperti itu, bisa jadi ialah cerminan dari kebiasaan masyarakat. Kita biasa melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa, seorang deadliner yang idealis, gemar mengutuk denting jam yang mengejar-ngejar. Tipikal mahasiswa jaman now.

Atau, seringkali kita jumpai—bahkan lakukan—para pengemudi motor yang secara teknis menerobos lampu merah, namun hatinya berkata lain: ah, enggak melanggar kok, aku lagi buru-buru. Bu Risma sudah tentu paham dengan kondisi ini, hingga mencetuskan program E-Tilang bagi driver nakal macam itu.

Bahkan, untuk penanganan kecelakaan di jalan, misalnya. Berlandaskan asas empati dan kemanusiaan yang selalu dijunjung tinggi, para korban kecelakaan itu langsung dipindah ke tempat yang lebih aman—tanpa ada polisi atau pihak medis. Kepanikan ini bisa berujung pada tindakan yang merugikan, di mana sidik jari penolong bisa keliru diidentifikasi sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Pada negara-negara yang tidak tanggung, lebih maju, pengetahuan medis merupakan prioritas. Meski bukan bekerja dalam ranah medis, minimal warga biasa akan mengerti bagaimana menangani sebuah kejadian yang mempertaruhkan nyawa.

Semoga masyarakat tak lagi mengabdi pada setan ketergesa-gesaan serta mengutamakan pengetahuan yang matang. Semoga Choirul Huda ialah orang terakhir yang berkorban karena bola. Innalillahi wa innailaihi rojiuun.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Analisis Sok Serius Atas Mahasiswa dan Panduan Memahami Selebaran Tadi Pagi 0 300

Sebuah selebaran mampir di tanganku, diantar seorang lelaki muda dengan mata berbinar.

“Dibaca, Mas!”

Sebetulnya itu basa-basi saja, tapi mungkin lelaki ini agak meragukan tampang-tampang tipikal yang dikira masa bodoh dan mempersetankan selebaran macam begini. Tentu saja ia salah, meskipun agak sedikit benar pada bagian ‘bodoh’ dan ‘setan’.

Kulirik agak setengah hati selebaran yang masih hangat dan licin dari fotokopian itu. Tulisannya hitam, tebal, dan besar:

QUO VADIS MAHASISWA?

Saya pastikan sekali lagi untuk tidak keliru membaca. Ini penting, pembaca yang budiman, sebab orang macam apa hari ini yang masih: 1) mempertanyakan mahasiswa; dan 2) menganggap mahasiswa ada?!

Bukankah sudah sedemikian jelas dan telanjang bahwa tak ada lagi itu mahasiswa, kecuali jika merujuk kumpulan manusia yang hilir-mudik di gedung itu-itu saja? Orang-orang ini uniknya bukan main. Mereka tahan dalam kepura-puraan, menghidupi rutinitas yang mereka sendiri tak mengerti betul untuk apa, dan menuntut banyak sekali hal—terlalu banyak bahkan—yang amat lacur.

Jadi aku tak tahu apa maksudnya pertanyaan besar dalam selebaran itu.

Lebih-lebih ketika penulisnya menerapkan kaidah satir, yang menyindir-nyindir dan menipu pembacanya seolah-olah sang penulis beraksi serius. (Atau justru ia memang berlagak serius?) Masih relevankah mencoba menggali ulang dan mengais jawaban yang tersisa dari misteri itu pada masa sekarang—masa tatkala senja mendarat cepat di kepala kelompok-kelompok ingusan yang hobi liburan dan jajan? Pada mereka yang ‘rupamu ketulung gadget-mu’?

Atau sebetulnya ada yang tak kutahu dari mereka? Atau sebetulnya ada argumentasi yang dapat diandalkan untuk membela diri? Yaa… misalnya, bahwa hobi liburan harus dikerjakan demi membahagiakan mama yang terus-menerus cerewet di rumah. Kalau bukan, ya demi merawat hubungan romantik dengan pacar di zaman postmodern yang penuh instabilitas ini. Begitu?

Kau tahu kan, di mana letak kelompok ini ketika sejarah konflik politik makin mengeras dan beringas seperti sekarang? Di mana mereka sewaktu tempatnya belajar disergap banyak nian jebakan kapitalisme pendidikan? Atau di mana mereka ketika nyaris semua data-data pembangunan menggilas orang-orang yang terpinggir dan dipinggirkan?

Laki-laki muda bertas selempang itu masih berdiri membagi-bagikan selebaran, berjarak barang selemparan batu saja dari tempatku terduduk. Matanya masih berbinar tapi suaranya pelan, seperti berada di persimpangan antara semangat dan keputusasaan.

Sore lekas mengepung kampus yang tampak murung itu. Dan di sana aku berhenti membaca kalimat-kalimat berikutnya, yang bisa kutebak isi dan arahnya. Kulipat selebarannya dan meluncurlah ia ke saku. Suatu hari akan kukeluarkan kembali, ketika ruh mereka yang telah lama minggat sudah balik lagi.

Solusi untuk Kekecewaan Netijen atas Debat Pilpres 2019 0 299

Tak perlulah menunggu 24 jam berlalu untuk menyimpulkan ketidakpuasan khalayak masyarakat Endonesa dengan jalannya Debat Capres-Cawapres 2019 seri pertama tempo hari. Wong belum dimulai saja netijen sudah berebut saling menuduh kok! (Persis seperti performa kedua paslon di panggung debat kemarin.)

Indikator ‘mboseni’ jadi tajuk utama pidato-pidato tertulis rakyat dunia maya di kanal media sosial masing-masing. Maka, tidak heran jika para moderator debat kini kudu banget menyapa mereka dengan sebutan ‘warganet’ secara spesifik. Sebab, nonton netijen tonjok-tonjokan via live chat bisa jadi lebih seru ketimbang debat berkisi-kisi kemarin.

Penulis mengamati lalu lintas online dan menemukan minimal tiga tipe penonton debat Endonesa. Satu, warganet fanatik. Tipe ini bersorak kapan saja paslon dukungannya berbicara. Tidak peduli omongan bodoh kekanakan atau tidak, mereka merayakan argumen paslon tersebut dan mendiskreditkan argumen paslon lawan, meskipun kadang-kadang sing diomong sakjane podho intine.

Dua, warganet semi-teredukasi. Ini adalah golongan unik yang punya kesantunan cukup dan kesadaran mumpuni bahwa sebenarnya kedua paslon pancene podho wae. Meski demikian, spesies satu ini umumya sudah menetapkan jagoan pribadinya dan hanya menonton debat untuk mengonfirmasi bahwa pilihannya sudah tepat. Kemampuan mereka untuk nyelimur  tidak diragukan di kala paslon jagoannya kelihatan nggak menguasai topik. Caranya, mencari cocokologi supaya bisa membela paslonnya di hadapan warganet kubu satunya.

Tiga, warganet super-teredukasi. Nama lain golongan ini adalah golongan plegmatis-utopis. Didominasi oleh mereka yang doyan banget nonton tontonan luar negeri, golongan ini gemar sekali memuja dan mengonsumsi apa-apa yang dari luar Indonesia—biasa, dengan merujuk negara-negara “maju” saja—dan memicingkan mata untuk persoalan-persoalan genting di negaranya sendiri. Boro-boro mencari tahu dan mengomparasi keabsahan data argumen para paslon, umumnya ketertarikan politik mereka berhenti seraya mengucap kalimat, “Tuh kan. Ya gini ini Indonesia, politiknya kotor. Capres nggak ada yang bener. Mending gue tinggal di negara XXX daripada disalahin karena golput.

Padahal, dengan mayoritas kaum milenial-belum-cukup-dewasa, tipe terakhir ini cukup banyak jumlahnya. Sumbangan suaranya tidak bisa dianggap kecil, apalagi sumbangan partisipasi politiknya di masa depan. Sungguh eman bahwa justru tipe inilah yang memiliki keberjarakan paling lebar dengan persoalan politik dan hukum Indonesia.

Tapi di sisi lain, mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan juga. Dari debat kemarin saja, kedua paslon terang-terangan kalah telak untuk mengelaborasi visi-misi mereka secara konseptual dan rinci seperti yang dilakukan Nurhadi-Aldo, hehe. Alhasil, performa kedua pasangan bukan hanya mengecewakan bagi mereka yang teredukasi secara politik, melainkan juga para pendukung, tim sukses, dan tim kampanye masing-masing.

Penulis juga paham, andaikata memang kedua paslon tampil all out dan argumennya “saling terkam”, bisa-bisa bacok-bacokan kedua kubu jadi lebih panas. Skak mat emang jadi capres-cawapres 2019 – yang senantiasa harus diingatkan lagi dan lagi untuk kampanye damai.

 

Ya Sudah Begini Saja

Di tahun 2016 lalu, penulis menemukan fenomena internet yang lucu bin ajaib, unik bin geli, sekaligus mampu jadi solusi mujarab. Ditemukan di sebuah dimensi yang biasa dieksplorasi warganet super-teredukasi, penulis menyimpulkan bahwa ini pastilah sesuatu yang bisa banget menarik hati (dan suara) para netijen plegmatis-utopis. Temuan ini berjudul “Anies x Sandi Fanfiction”, sebuah naskah bromance.

Sebagian pembaca mungkin sudah familiar dengan istilah ini, namun sebagian lain mungkin tidak. Bromance, atau yang merupakan singkatan dari brother dan romance, adalah sebuah genre kultur populer yang merayakan dan mengomersilkan kemesraan antara lelaki dengan lelaki lainnya.

Bukti-bukti nyata lain dari keberadaan fenomena ini adalah berkembangnya fanfiction atau fiksi fantasi di situs-situs online penggemar. Mulai dari tayangan televisi, anime, grup idola, hingga selebriti, para fans ini memasang-masangkan dua atau lebih tokoh laki-laki dalam satu cerita, umumnya dengan tema asmara. Skalanya sangat lebar, mulai dari cinta vanila hingga hardcore romance, yang tentunya demi kepuasan fantasi para penggemar semata.

Bukti selanjutnya adalah membludaknya video bromance moments yang mengompilasikan momen-momen kedekatan selebriti laki-laki K-Pop di Yutub. Mulai dari yang rangkul-rangkulan sampai yang—yah apa aja ada lah ya. Video-video tersebut ditonton ratusan ribu bahkan jutaan orang, dengan kolom komentar didominasi pujian dan ekspresi gemes. Berani taruhan, nyaris separuh dari total penonton itu adalah fans dari Indonesia, yang hobi cekikikan di atas kasur tengah malam menyaksikan para idolanya bertingkah mesra satu sama lain.

Mungkin di sinilah keunggulan Sandi-Prabowo dibanding Jokowi-Ma’ruf. Segelintir rakjat berhasil dibuat jerit-jerit dengan aksi mesra mereka kemarin, lengkap dengan setelan jas necis ala oppa-oppa kaya dari drama Korea. Sepertinya, salah satu alasan keberadaan sejumlah fiksi fan macam ‘Anies x Sandi’ adalah karena Sandiaga Uno memang orang yang boyfriend goal bingits. Lihat saja, dengan pasangan barunya—ehem—Sandi bahkan berani pijet-pijetan di depan umum! Apalagi setelah Prabowo mencuit kalau doi bisa tidur nyenyak setelahnya… Kyah! Mana bisa otak-otak fangirl tidak berfantasi?!

Begini lho maksudnya. Janganlah hal-hal seperti bromance ini lalu dilihat sebagai penistaan budaya bangsa, apalagi degradasi moral para milenial, sebagaimana kerap diujar para orang tua (dan polisi moral). Lihatlah ini sebagai sebuah ekspresi kedekatan antara satu pribadi dengan pribadi lain. Lihatlah ini sebagai sebuah cara baru saling mencintai dan mengapresiasi sesama manusia, yang sesuai dengan cita-cita bangsa untuk hidup rukun tanpa banyak masalah.

Bromance, sebagai ekspresi baru cinta dan kedamaian, juga bisa jadi jalan tengah bagi persoalan capres-cawapres 2019 saat ini. Tim kampanye yang buntu jalan bisa banget mengeksplorasi cara ini untuk mem-branding paslonnya. Siapa sih, yang nggak suka menyaksikan dua orang yang berkomitmen menggenggam negara selama bertahun-tahun bisa dekat dan mesra satu sama lain? Sama seperti sejoli yang cubit-cubitan, dorong-dorongan, rangkul-rangkulan, sambil memandang mata satu sama lain dengan senyum mengembang.

Minimal, bromance ini seenggaknya bisa lah menarik mata dan hati dan suara tipe warganet ketiga tadi. Lumayan kan untuk memerbaiki image paslon pasca-debat pertama dan mencairkan ketegangan hari-hari ini? Sudah menarik, kyuti, damai pula. Komplit!

Editor Picks