Apa yang Salah dari Kematian Choirul Huda? 0 795

Dunia sepakbola nasional kembali terguncang. Tak lama, setelah beberapa kasus bentrok digelar antar tim dan suporter—apalagi yang melibatkan aparat hijau-hijau itu—merebaklah aroma duka dari lapangan.

Choirul Huda, kiper Persela Lamongan, meninggal purnatugas sebagai pesepakbola sejati pada 15 Oktober lalu. Ia mengalami insiden tabrakan dengan rekan setim, Ramon Rodriguez, serta striker Semen Padang, Marcel Sacramento. Setelah melakukan penyelamatan bola, kaki bek dan penyerang itu sama-sama menubruk dada Choirul. Kiper itu sempat kewalahan berdiri, lalu ambruk kehabisan nafas.

Tim medis langsung mak jebul turun ke lapangan untuk melakukan pertolongan pertama. Melihat kondisinya tak sadar, mereka segera saja menandu sang kiper menuju ambulans. Dalam perjalanan, ia sempat sadar dan mengeluh sakit di dada. Sesampainya di rumah sakit, nyawanya tak lagi bisa diselamatkan.

Babak akhir pertandingan berakhir dengan skor kemenangan 2-1 bagi Persela, disertai absennya sang legenda untuk selama-lamanya. Tuhan telah mencukupkan pengabdiannya selama 18 tahun kepada tim Lamongan itu.

Lantas, etiskah menghardik para pemain yang ‘turut’ menumbangkan Choirul?

Sepakbola ialah permainan dengan segala aturan yang terbentang di atas rerumputannya. Konsekuensi pastilah timbul dari sikap dan kelakuan para pemain, wasit, suporter, juga siapapun yang terlibat. Menang-kalah, damai-bentrok cedera-wal afiyat sampai akhir pertandingan, hingga pemain yang ngambek tentu adalah kejadian-kejadian yang tidak bisa ditolak. Semua bagian dari proses, patut dinikmati.

Tetapi, tanpa sebuah manajemen pertandingan yang profesional, maka kita sebagai pribumi tak boleh bersikap patut. Mentang-mentang negara kita sedang tanggung, dari hukum, politik, ekonomi, dan tetek-bengeknya, lantas kita bisa bilang ‘yoweslah’.

Para pengamat sepakbola—mayoritas netizen, menyalahkan kinerja tim medis yang tergesa-gesa mengangkut Choirul Huda menuju ambulans. Sebab, boleh jadi ia bisa diselamatkan di tempat kejadian, tepat dengan melihat indikasi kehabisan nafas. Bila lidahnya tertelan, langkah pertama yang wajib dilakukan ialah dengan menariknya keluar. Hal ini untuk mengantisipasi tertutupnya saluran tenggorokan.

John Terry dan Fernando Torres, dua-duanya mantan punggawa Chelsea, sama-sama pernah mengalami kejadian serupa. Berkat kesigapan dan pengetahuan medis yang matang, para pemain turut membantu mereka keluar dari kepungan malaikat maut.

Profesionalitas tim medis serta manajemen liga akhirnya jadi bulan-bulanan netijen. Apalagi, Liga Gojek-Traveloka ini dinilai tak lebih baiknya dibanding liga-liga tarkam terdahulu. Mafhum, dunia lapangan hijau di Indonesia masih merangkak dari hantaman birokrasi lalu yang bikin ajur. Tetapi jangan kuatir, pimpinan PSSI saat ini benar-benar peduli kok. Peduli dengan jabatan.

 

Refleksi

Tentu, kita juga tak bisa sekonyong-konyong menyalahkan tim medis yang sedang gupuh saat itu. Pembaca pasti juga akan panik melihat orang sekarat di depan mata. Tanpa pengetahuan dan pembawaan diri yang tepat, penanganan medis hanya akan sia-sia. (Diam juga tidak disarankan, sih.)

Tim medis yang seperti itu, bisa jadi ialah cerminan dari kebiasaan masyarakat. Kita biasa melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa, seorang deadliner yang idealis, gemar mengutuk denting jam yang mengejar-ngejar. Tipikal mahasiswa jaman now.

Atau, seringkali kita jumpai—bahkan lakukan—para pengemudi motor yang secara teknis menerobos lampu merah, namun hatinya berkata lain: ah, enggak melanggar kok, aku lagi buru-buru. Bu Risma sudah tentu paham dengan kondisi ini, hingga mencetuskan program E-Tilang bagi driver nakal macam itu.

Bahkan, untuk penanganan kecelakaan di jalan, misalnya. Berlandaskan asas empati dan kemanusiaan yang selalu dijunjung tinggi, para korban kecelakaan itu langsung dipindah ke tempat yang lebih aman—tanpa ada polisi atau pihak medis. Kepanikan ini bisa berujung pada tindakan yang merugikan, di mana sidik jari penolong bisa keliru diidentifikasi sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Pada negara-negara yang tidak tanggung, lebih maju, pengetahuan medis merupakan prioritas. Meski bukan bekerja dalam ranah medis, minimal warga biasa akan mengerti bagaimana menangani sebuah kejadian yang mempertaruhkan nyawa.

Semoga masyarakat tak lagi mengabdi pada setan ketergesa-gesaan serta mengutamakan pengetahuan yang matang. Semoga Choirul Huda ialah orang terakhir yang berkorban karena bola. Innalillahi wa innailaihi rojiuun.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

(Masih) Perlunya Demonstrasi di Saat Demokrasi Dikebiri 0 75

Oleh: Nabiilah Ulinnuha*

Tulisan ini dibuat teruntuk kalian yang hampir menyerah pada Indonesia, menolak percaya pada pemerintah, dan berharap bisa mengurus pindah kewarganegaraan dengan mudah.

Bukan lagi fenomena baru bahwa hadirnya media sosial memindahkan kanal informasi. Di zaman sekarang, mahasiswa dan pelajar tak perlu menyisihkan uang jajan buat beli koran atau bawa tape kemana-mana agar tak ketinggalan berita baru. Bermodalkan smartphone di genggaman tangan, dua media konvensional itu tentu bukan tandingan.

Bangun tidur, ritualnya adalah buka feed Instagram dan Twitter untuk cek kabar terbaru. Yang lebih nggenah, mungkin membuka kanal berita online gratisan, atau yang harga langganannya masih lebih murah dari paket data. Apa-apa serba mudah, kan? Berkat mbah gugel, kita tak perlu lagi kepo berita pagi ini dengan bertanya kesana-kemari. Tinggal buka layar ponsel saja, dan buka Kalikata ketik di mesin pencarian, voila!Tercerahkan”-lah kita.

Sama hal dengan informasi yang berpindah kanal utamanya, demokrasi pun mulai muncul dalam ruang baru bernama ‘media sosial’. Melalui ratusan tweets viral yang mengeluhkan keadaan, tergambar wajah sebuah kebebasan. Mulai dari kondisi terbaru yang terjadi di gedung KPK hingga gerakan tak setuju pada RUU PKS. Belum lagi situasi genting pada Kebakaran Hutan Liar, serta ketidakadilan bagi masyarakat di timur Indonesia.

Beragam postingan di Instagram tentang kondisi Indonesia terkini seolah saling tak mau kalah. Sebab siapapun bisa berbagi informasi. Demokrasi tumpah ruah di ruang-ruang tanpa sekat.

Masyarakat mulai menyukai hal-hal mudah. Demokrasi tak selalu harus turun ke jalanan. Mahasiswa zaman sekarang lebih suka memilih jalur lebih damai lewat diplomasi, atau menulis pada kolom opini. Yang lebih mudah lagi, tentunya menulis tweet dan membagikan foto kondisi terbaru lewat Instagram.

Rasa-rasanya masyarakat sudah seharusnya mulai bosan dengan pola ini. Sudah berteriak pada berbagai platform media, tapi kok rasanya wakil rakyat seolah bisu dan tuli?

Seharusnya apresiasi tinggi patut diberikan pada ratusan mahasiswa yang mengerumuni gedung pemerintah untuk menagih janji. Di saat-saat genting ini, dan di tengah gempuran alternatif cara “menyuarakan” tuntutan, mereka jadi pahlawan garda terdepan yang berjuang bagi demokrasi dengan langkah-langkah tradisional namun efektif bikin pemerintah rodhok panik.

Mari kita buka kenangan setahun lalu, saat Ketua BEM UI berikan Jokowi kartu kuning. Pembicaraan tentang pro dan kontra sempat bergulir di media sosial. Begitu banyak yang ngedumel. Memalukan, katanya. Mahasiswa kok tidak paham etika. Para netizen yang mahabenar, tidakkah kalian sadar, dulu dan kini, masih juga suka mencaci habis mahasiswa saat turun ke jalanan? Bikin macet, kata kalian. Terlalu anarkis dan mengganggu stabilitas Negara, kata kalian juga.

Barangkali, kita harus mengingat kembali pesan founding fathers bangsa ini. Bung Karno pernah menggaungkan “jasmerah”: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nampaknya pesan ini sungguh selalu relevan pada setiap zaman.

Kali ini penulis mengajak untuk mengingat kembali peristiwa 1998. Tanpa pengorbanan mahasiswa, Orde Baru tak akan mungkin digulingkan. Mereka, para aktivis, termasuk mahasiswa yang tumpah ruah ke jalanan, rela hilang tanpa dikenang namanya. Aksi mereka yang heroik adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia masih berani berjuang walau tak memiliki senjata di tangan. Dan rupanya bentuk aksi ini masih turun dari zaman ke zaman.

Persetan dengan kemacetan dan keamanan! Hari ini, kebebasan dikebiri habis-habisan. Tikus-tikus berdasi di gedung parlemen negara melanggengkan kekuasaannya terang-terangan. Berbagai diskusi sudah menemui jalan buntu. Apakah kemudian gaungan emosi dari gawaimu itu benar dapat merubah nasib bangsa ini?

Mereka yang sekarang sedang berjuang di jalanan nyaris belum mendapat titik terang. Jangankan memberi solusi dan menenangkan massa, menemui mereka pun pemerintah masih enggan. Justru di hari-hari inilah, demokrasi butuh lebih banyak lagi demonstrasi. Sudah selayaknya kita belajar dari sejarah, bahwa yang menang adalah yang tak pernah berhenti berjuang. Sebab pemimpin kita saat ini sungguh masa bodo bila sejatinya telah berubah jiwa jadi pecundang. Asal kekuasaan masih mereka pegang, sepertinya tak ada yang mereka takuti.

 

*Penulis adalah mahasiswa yang suka kopi, sajak, tapi kurang lengkap bila tak ditemani ‘kamu’ yang sekarang hilang. Berzodiak Gemini, oleh sebab itu orangnya ruwet.

Foto: Wanti Anugrah

Poster-poster Lucu yang Nggak Lucu-lucu Amat 0 190

Kata seorang dosen Unair yang menjadi staf ahli di salah satu kementerian, demonstrasi adalah ajang rekreasi, diversi, maupun hiburan bersama teman-teman baik satu kampus maupun dari kampus lain. Ia menganalogikan demo dengan permainan bagi anak-anak seusia mahasiswa. Benar, per-ma-i-nan.

Pernyataan ini boleh jadi refleksi atas pengalaman masa muda beliau. Ketika mahasiswa lain sibuk berorasi, mengepalkan tangan ke udara, berteriak, bahkan mawas diri bila tiba-tiba aparat bertindak represif, beliau mungkin sedang berdiri di bawah rindangnya pohon mangga pinggir jalan sambil jajan cilok atau es degan—obat manjur waktu demo. Ini hanya misal, jangan tersinggung.

Saya hanya baca pernyataan ini dengan tersenyum-senyum. Beginikah instruksi pemerintah pada seluruh pamong aparaturnya, yaitu untuk mengerdilkan semangat demonstrasi yang dibangun oleh lebih dari puluhan ribu mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia? Melalui reduksi makna demonstrasi sebagai kritik, apakah pemerintah berharap masyarakat tak mengacuhkannya?

Tidak, asumsi itu sangat salah dari berbagai perspektif. Alih-alih buang muka pada demo seperti demo di depan Bawaslu, seluruh elemen masyarakat malah terlibat aktif. Ada yang berdonasi untuk logistik, membagi makanan dan minuman gratis di sekitar area aksi, bahkan berada di baris terdepan seperti yang dilakukan serikat buruh dan tani.

Kemegahan aksi di mayoritas daerah terbukti tak hanya milik mahasiswa semata. Aspirasi rakyat ‘dititipkan’ pada pundak mereka, sehingga otomatis, aksi di pertengahan September ini murni berasal dari gundahnya rakyat atas potensi masalah yang bisa timbul di masa depan bilamana sederet undang-undang yang ngawur bikinnya itu diberlakukan. Tapi apa iya, kegelisahan itu mengacu pada satu titik yang sama?

Dari antara sekian tuntutan aksi itu, ada tuntutan untuk segera mengesahkan UU P-KS (Penghapusan Kekerasan Seksual). UU ini digadang-gadang mampu melindungi perempuan sebagai pihak yang rentan terhadap kekerasan/pelecehan seksual. Sebab, realita hukum di Indonesia dinilai getir: korban kekerasan seksual hampir dipastikan tak punya kekuatan hukum apapun.

Tuntutan ini mungkin yang paling banyak dilupakan oleh para peserta aksi, atau setidaknya dituliskan dalam poster-poster mereka. Seolah, yang ada di kepala mereka pokoknya DPR juancuk, guoblok, turu thok kerjone, dan tulisan seperti ini hampir ada di setiap mata memandang. Dari sekian pasal RUU-KUHP, yang selalu disinggung oleh demonstran adalah ra iso kenthu (tidak bisa bersetubuh alias ‘seks bebas’), ‘DPR ngapain ngurusin selangkangan’, dan lain sebagainya. Bahkan, ada poster oleh para perempuan dari salah satu universitas Islam di Surabaya, bertuliskan—luar biasa bodohnya, “Timbang ngurus RUU mending kenthu” juga “Susuku gede gak masuk RUU”.

(Twitter)

Duh, GustiSaya ndak habis pikir.

Saya curiga mereka inilah ‘penumpang gelap’ yang sebenarnya: orang-orang yang tidak tahu substansi aksi, tuntutan macam apa yang dibawa ke hadapan pemerintah, bahkan mungkin lupa fungsi poster. Kata Pram—sebetulnya males pakai kutipan ini, tapi yoweslah, seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Kalau dalam kepala saja sudah tidak ada konsep itu, bagaimana bisa kita membayangkan penghapusan kekerasan seksual di tingkat praktik?

Menurut seorang dosen UGM yang dulu pernah ikut menurunkan rezim Orde Baru, generasi demonstran 2019 memiliki strategi berbeda dengan 1998. Jika dulu generasi mahasiswa 1998 memiliki poster-poster bernada serius dan cenderung puitis, generasi 2019 identik dengan kerecehannya. Poster-poster ‘lucu’ dihadirkan bukan tanpa sebab, bahkan bisa jadi tak mempunyai muatan kritik yang kuat. Mungkin kita harus mengingat-ingat lagi fungsi media sosial ya toh? Ajang pamer nggak, sih?

Malfungsi media sosial menjadi etalase seni (yeek, males) dan pertunjukan membuat mahasiswa unyu-unyu nan gemash juga harus memroduksi konten poster yang jenius. Biar tak kalah dengan demonstrasi di berbagai daerah yang lain. Alih-alih menyadari bahwa mahasiswa punya daya gempur yang masif bagi pemerintahan, kelompok mahasiswa seperti ini malah bikin demonstasi jadi studio foto bagi para “produsen konten Instagram”.

Selamat, bapak dosen. Anda mungkin benar bahwa demonstrasi hanya sekelas wisata ke Songgoriti.

 

Foto: Wanti Anugrah

Editor Picks