Apa yang Salah dari Kematian Choirul Huda? 0 1216

Dunia sepakbola nasional kembali terguncang. Tak lama, setelah beberapa kasus bentrok digelar antar tim dan suporter—apalagi yang melibatkan aparat hijau-hijau itu—merebaklah aroma duka dari lapangan.

Choirul Huda, kiper Persela Lamongan, meninggal purnatugas sebagai pesepakbola sejati pada 15 Oktober lalu. Ia mengalami insiden tabrakan dengan rekan setim, Ramon Rodriguez, serta striker Semen Padang, Marcel Sacramento. Setelah melakukan penyelamatan bola, kaki bek dan penyerang itu sama-sama menubruk dada Choirul. Kiper itu sempat kewalahan berdiri, lalu ambruk kehabisan nafas.

Tim medis langsung mak jebul turun ke lapangan untuk melakukan pertolongan pertama. Melihat kondisinya tak sadar, mereka segera saja menandu sang kiper menuju ambulans. Dalam perjalanan, ia sempat sadar dan mengeluh sakit di dada. Sesampainya di rumah sakit, nyawanya tak lagi bisa diselamatkan.

Babak akhir pertandingan berakhir dengan skor kemenangan 2-1 bagi Persela, disertai absennya sang legenda untuk selama-lamanya. Tuhan telah mencukupkan pengabdiannya selama 18 tahun kepada tim Lamongan itu.

Lantas, etiskah menghardik para pemain yang ‘turut’ menumbangkan Choirul?

Sepakbola ialah permainan dengan segala aturan yang terbentang di atas rerumputannya. Konsekuensi pastilah timbul dari sikap dan kelakuan para pemain, wasit, suporter, juga siapapun yang terlibat. Menang-kalah, damai-bentrok cedera-wal afiyat sampai akhir pertandingan, hingga pemain yang ngambek tentu adalah kejadian-kejadian yang tidak bisa ditolak. Semua bagian dari proses, patut dinikmati.

Tetapi, tanpa sebuah manajemen pertandingan yang profesional, maka kita sebagai pribumi tak boleh bersikap patut. Mentang-mentang negara kita sedang tanggung, dari hukum, politik, ekonomi, dan tetek-bengeknya, lantas kita bisa bilang ‘yoweslah’.

Para pengamat sepakbola—mayoritas netizen, menyalahkan kinerja tim medis yang tergesa-gesa mengangkut Choirul Huda menuju ambulans. Sebab, boleh jadi ia bisa diselamatkan di tempat kejadian, tepat dengan melihat indikasi kehabisan nafas. Bila lidahnya tertelan, langkah pertama yang wajib dilakukan ialah dengan menariknya keluar. Hal ini untuk mengantisipasi tertutupnya saluran tenggorokan.

John Terry dan Fernando Torres, dua-duanya mantan punggawa Chelsea, sama-sama pernah mengalami kejadian serupa. Berkat kesigapan dan pengetahuan medis yang matang, para pemain turut membantu mereka keluar dari kepungan malaikat maut.

Profesionalitas tim medis serta manajemen liga akhirnya jadi bulan-bulanan netijen. Apalagi, Liga Gojek-Traveloka ini dinilai tak lebih baiknya dibanding liga-liga tarkam terdahulu. Mafhum, dunia lapangan hijau di Indonesia masih merangkak dari hantaman birokrasi lalu yang bikin ajur. Tetapi jangan kuatir, pimpinan PSSI saat ini benar-benar peduli kok. Peduli dengan jabatan.

 

Refleksi

Tentu, kita juga tak bisa sekonyong-konyong menyalahkan tim medis yang sedang gupuh saat itu. Pembaca pasti juga akan panik melihat orang sekarat di depan mata. Tanpa pengetahuan dan pembawaan diri yang tepat, penanganan medis hanya akan sia-sia. (Diam juga tidak disarankan, sih.)

Tim medis yang seperti itu, bisa jadi ialah cerminan dari kebiasaan masyarakat. Kita biasa melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa, seorang deadliner yang idealis, gemar mengutuk denting jam yang mengejar-ngejar. Tipikal mahasiswa jaman now.

Atau, seringkali kita jumpai—bahkan lakukan—para pengemudi motor yang secara teknis menerobos lampu merah, namun hatinya berkata lain: ah, enggak melanggar kok, aku lagi buru-buru. Bu Risma sudah tentu paham dengan kondisi ini, hingga mencetuskan program E-Tilang bagi driver nakal macam itu.

Bahkan, untuk penanganan kecelakaan di jalan, misalnya. Berlandaskan asas empati dan kemanusiaan yang selalu dijunjung tinggi, para korban kecelakaan itu langsung dipindah ke tempat yang lebih aman—tanpa ada polisi atau pihak medis. Kepanikan ini bisa berujung pada tindakan yang merugikan, di mana sidik jari penolong bisa keliru diidentifikasi sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Pada negara-negara yang tidak tanggung, lebih maju, pengetahuan medis merupakan prioritas. Meski bukan bekerja dalam ranah medis, minimal warga biasa akan mengerti bagaimana menangani sebuah kejadian yang mempertaruhkan nyawa.

Semoga masyarakat tak lagi mengabdi pada setan ketergesa-gesaan serta mengutamakan pengetahuan yang matang. Semoga Choirul Huda ialah orang terakhir yang berkorban karena bola. Innalillahi wa innailaihi rojiuun.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cetak Pemimpin Jalur Indie ala Ketua Kelas 0 100

Oleh: Edeliya Relanika*

 

Pernahkah salah seorang teman kuliahmu nyeletuk seperti ini:

”Eh kamu ngapain aja sih selama ini? Enggak gabut apa enggak ikut kepanitiaan atau organisasi di kampus?”

Kalau iya, selamat! Berarti kita masih berada dalam satu lingkaran konspirasi, hehe.

Rupanya berorganisasi di lingkup internal kampus tidak selamanya menjadi passion membara bagi sebagian mahasiswa. Ada yang fokus di organisasi masyarakat luar kampus dan ada juga yang mengembangkan kemampuan survival—dari kerasnya persaingan jadi budak kapital pasca lulus kuliah.

Jujur, saya ingin memberikan opini jalur alternatif terkait glorifikasi organisasi mahasiswa internal atau eksternal kampus sebagai sarana paling tepat memunculkan sari-sari kepemimpinan yang valid, no debat! Sebenarnya, ada banyak cara untuk menyemai jiwa kepemimpinan di lingkungan kampus. Salah satunya dengan menjadi ketua atau koordinator kelas secara sukarela.

Asal kalian pahami hikmahnya, menjadi ketua atau koordinator kelas itu adalah salah satu ajang penempa mental kepemimpinan dengan studi kasus yang tidak mengada-ada. Sini saya coba jelaskan dengan lebih terstruktur, sistematis, dan holistik:

 

Hadapi Berbagai Macam Karakter Dosen dengan Diplomatis

Brace yourself untuk menghadapi berbagai macam karakter dosen yang mengejutkan (seperti mainan Kinderj*y yang gak sebanding dengan mahalnya). Karena sebagai ketua atau koordinator kelas, kalian harus mampu menjembatani arahan dari dosen dengan aspirasi teman-teman sekelas.

Siapkan juga armor sekokoh milik Iron Man dan hati sekuat Superman di pilem Man of Steel. Seriusan deh, agar kalian tidak tumbang saat diberi amanah yang ngadi-ngadi atau terkena teguran hingga membuat klean PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) saat jadi ketua atau koordinator kelas.

 

Belajar Skill Manajemen Krisis Lebih Dini

Biasanya ini terjadi ketika ada dosenmu memberikan tugas — yang membuat anak satu kelas wasted dalam satu malam. Mau tidak mau, kalian harus mengumumkannya ke teman sekelas.

Seremnya nih, siap-siap kalian diprotes dan diumpat teman sekelasmu (akibat tidak terima dan sanggup dengan penugasan amsyong tersebut).

Agar terhindar dari dampratan bertubi-tubi, kalian harus menyusun strategi tertentu dalam mengumumkan tugas dari dosen. Kayak gimana contohnya? Ya cari sendiri dumz! Calon peminpin harus kreatif dalam mencari solusi!

 

Cari Tipe Jiwa Kepemimpinan yang Cocok Untukmu

Mengacu pada teori karakter personal dalam mempersuasi khalayak (dari seorang profesor di bidang Komunikasi asal Amerika serikat bernama Richard M. Perloff), kita bisa mengetahui ada tiga jenis karakter khalayak. Yaitu mereka yang suka dengan pendekatan kognitif tinggi (kritis banget), mereka yang pandai menyesuaikan diri pada situasi apa pun (seorang yang easy-going), dan mereka yang suka dengan ungkapan bersifat dogmatis (saklek/kolot gitu).

Agar setiap ucapan kalian minimal didengar dengan seksama, sesuaikan pesan yang akan disampaikan dengan karakter rata-rata anak di kelas. Walaupun ini agak ndakik, tapi semoga berguna ya ilmunya hehe.

 

Latihan Kerja Keras Bagai Quda

Terakhir nich, kalau lihat anak organisasi sering pulang larut (kadang sampai pagi lagi) karena ada acara kepanitiaan, ketua kelas juga akan mengalami hal serupa (walaupun gak terlalu ekstrem). Misalnya datang paling pagi kalau ada kelas pagi, terus pulang paling malam kalau ada kelas malam. Ya, mau gimana lagi, ketua kelas kan jadi ajudannya dosen hehehe.

 

Keuntungan lain menjadi ketua atau koordinator kelas adalah bisa jadi suatu saat kalian ditawari kerja proyek penelitian bareng dosen. Tentu dengan syarat bahwa kinerja kalian sangat memuaskan di mata dosen tersebut. Menang banyak bukhaan?

 

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Tinggal di Gresik, dan menghasilkan karya dari hobi menulis, salah satunya “Antroposen” di Gramedia Writing Project (Instagram: @edeliyarerelala).

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Mengulang Pesan Boedi Oetomo untuk Gak Gampang Insekyur dengan Perbedaan 0 100

Oleh : Novirene Tania*

 

Tepat sudah 113 tahun kita terus mengulang momentum perayaan yang kita sebut “Hari Kebangkitan Nasional”. Buat kalian yang mungkin lupa mengapa hari kemarin penting, yuk mari merapat – kita ulang kembali ceramah guru sejarah kita dari SD sampai SMA!

Hari Kebangkitan Nasional menjadi salah satu hari penting buat bangsa ini, karena di sanalah awal mula perjuangan menghilangkan kubu. Di bawah inisiatif sekelompok pemuda STOVIA – mahasiswa kedokteran yang punya rasa peduli besar bagi sejarah nasional, semua perbedaan yang ada dihimpun dalam satu kesatuan.

Tanpa memandang perbedaan, tidak lagi peduli kamu dan aku darimana dan siapa kita. Jelas ini pesan yang perlu kembali digaungkan, saat dewasa ini isu perbedaan masih hangat jadi pemicu konflik antargolongan.

Gak hanya itu, kalo dipikir-pikir, 20 Mei juga membawa pesan yang tidak kalah penting: jangan gampang insekyur sama perbedaan.

Buat kita yang hidup pasca kemerdekaan dan terbiasa dengar kata “persatuan”, tentu bukan jadi barang asing. Sangat beda kondisinya saat Boedi Oetomo menggagas persatuan di tengah kelompok antarsuku masih dominan membawa semangat perjuangan masing-masing.

Andai saja saat itu dokumen sejarah bisa dengan detail menjelaskan berapa kali Boedi Oetomo rapat dan diskusi sampai sepakat bersatu di bawah bendera “persatuan nasional“, gak kebayang notulennya setebal apa.

Belum lagi dengan drama setuju tidak setuju yang pasti menimbulkan perdebatan alot. Ini tentu jelas beda dengan forum keluarga besar yang sekadar membahas liburan mau ke mana karena kemanapun opsinya asal ada waktu dan uang ya gas wae.

Kondisi ini bertolakbelakang dengan topik insekyur yang lagi rame banget dibahas. Lihat kiri kanan beda tujuan, beda strategi, bahkan beda hasil, langsung insekyur. Tambah insekyur lagi kalau merasa berjuangnya sama-sama, tapi hasilnya kok beda.

Bahkan tragisnya, jangankan berembug soal persatuan seperti Boedi Oetomo, kita-kita yang hobinya insekyur biasanya otomatis menjauhi lingkaran pertemanan. Peer pressure, istilahnya.

Daripada terus terbebani dengan kemajuan dia, mungkin baiknya memang buat circle sendiri aja,” ini jadi opsi terakhir para makhluk yang terjangkit insekyur.

Coba deh perhatikan dengan seksama, betulkah kita jadi tampak tidak terbiasa dengan perbedaan? Padahal kita bilangnya percaya banget kalo perbedaan itu indah pol no debat membuat kita kaya dan semakin kuat.

Semoga tulisan ini bisa jadi selingan refleksi kita selain posting ucapan selamat hari kebangkitan nasional dari organisasi kita masing-masing, mumpung momennya tepat.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks