Atlet Tinju Main Bola dan Akibat-akibat dari Pukulannya 0 896

Oleh: Satrio Bagus Prabowo

Sudahlah, Indonesia tak akan masuk Piala Dunia.

Itu yang saya sadari hari ini. Indonesia mustahil menjadi satu dari 32 kontestan pesta sepak bola terbesar sejagad raya. Bukan karena bobroknya timnas Indonesia. Bukan juga karena Egy Maulana Vikri, sang Messi-nya Valentino ‘Jebret’ Simanjuntak ingin berganti bendera kebangsaan.

Kita tak pantas mendapat tiket Piala Dunia karena atmosfir sepakbola di Indonesia masih sangat menyedihkan, mungkin juga memalukan. Bagaimana tidak, dalam kurun waktu dua hari, sudah terjadi dua kali kericuhan menyangkut sepakbola Indonesia.

Pada 10 Oktober 2017, olahraga sepakbola diwarnai kekerasan layaknya UFC. Pertandingan keras nan kasar tersaji saat PSBK Blitar kontra Persewangi Banyuwangi di Stadion Kanjuruhan, Malang. Aksi brutal kedua kesebelasan dalam percobaan mengambil bola dari lawan lebih mirip hantaman Connor McGregor saat menghabisi Nate Diaz.

Bayangkan saja pada detik ke 26 wasit Suhardiyanto sudah mengeluarkan kartu merah untuk Didik Ariyanto (pemain Persewangi), disusul kartu merah untuk Aditya Wahyudi (PSBK) di menit ke 3, serta Deki Rolias Candra (Persewangi) pada menit 15.

Setelah itu, pertandingan sepak bola tetap dilanjutkan meski berubah menjadi pertandingan sepak tanpa bola. Aksi kasar masih terus terjadi seakan kedua kubu tak mengerti aturan. Pada akhirnya pertandingan terpaksa dihentikan pada menit ke 86 karena kericuhan semakin menjadi-jadi: melibatkan pemain, pemain cadangan juga pelatih dan staff. Persewangi yang merasa dikecewakan memilih untuk mengambil aksi Walk-out dari pertandingan ini.

Bagi saya, ada yang salah dalam pembinaan atlet di kedua tim. Nampaknya baik PSBK maupun Persewangi seharusnya berubah menjadi sasana tinju ketimbang klub  sepakbola. Setidaknya mereka dapat mencetak atlet untuk meneruskan kiprah Chris John mengharumkan nama bangsa di olahraga adu pukul. Atau mungkin keduanya memang merekrut juara Tarung Genggong di kota masing-masing untuk bermain sepakbola. Ya seperti yang kita tahu, ‘animal instinct’ memang sukar untuk ditahan.

Dari kota Malang, berlanjut ke Bogor. Laga Persita Tangerang melawan PSMS Medan tertanggal 11 Oktober 2017 juga menyajikan hal yang sebelas duabelas. Lebih parahnya, kali ini aparat negara yang terlibat. Kejadian bermula saat Persita Tangerang berhasil dikalahkan PSMS Medan. Ratusan suporter Persita Tangerang turun ke lapangan untuk melakukan protes kepada pihak manajemen klub Persita. Namun kejadian memanas setelah ratusan suporter tadi diserang oleh suporter PSMS Medan yang rata-rata menggunakan seragam kaos olahraga khas TNI. Lemparan batu oleh suporter PSMS ini menjadi semakin membabi buta lantaran anak-anak dan wanita menjadi sasarannya. The beautiful game berubah menjadi kengerian dan mimpi buruk bagi suporter Persita.

Padahal, belum ada seminggu Tentara Nasional Indonesia baru saja berulang tahun yang ke 72. Dalam acara tersebut TNI menggunakan semboyan “Bersama Rakyat, TNI Kuat!”. Namun agaknya semboyan tersebut boleh diubah menjadi “Melawan Rakyat, TNI Kuat!”. Ironisnya lagi, komandan upacara saat HUT TNI tersebut adalah Yang Terhormat, Sang Calon Gubernur Sumatera Utara, Bapak Edy Rahmayadi, yang tak lain dan tak bukan saat ini merangkap sebagai Ketua PSSI (maruk amat). Hal ini menjadi menarik untuk ditunggu mengingat sanksi apa yang akan diberlakukan oleh PSSI atas kejadian tersebut.

Pada akhirnya saya pribadi hanya bisa mengelus dada melihat sepakbola tanah air. Jika dalam satu pekan ini kita disuguhi berbagai pemberitaan sepakbola luar tentang berhasilnya beberapa negara lolos Piala Dunia, maka di pekan yang sama sepakbola Indonesia masih saja berkutat dengan hal-hal primitif.

Percuma mimpi Piala Dunia!

*Selain hobi futsal, Satrio Bagus Prabowo juga menghidupi sepak bola sebagai topik skripsinya. Mahasiswa tingkat akhir sebuah kampus di Surabaya.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kegundahan Sederhana yang Disebabkan Kartu Nama 1 181

Jika Mas Robbyan Abel sudah bercerita tentang pergulatan mahasiswa tingkat akhir yang nggak tahan kudu mentas, kali ini izinkan hamba bercerita tentang satu tahap di atasnya: pengalaman kerja.

Beberapa waktu yang lalu, saya adalah job seeker, melamar sana-sini dan dipanggil untuk wawancara di perusahaan impian. Di tiap wawancara itu, saya tentu bertemu dengan pelamar lainnya. Di situ, terjadi perkenalan dan perbincangan basa-basi, khas warga Endonesah. Tujuannya jelas, siapa tahu jadi teman kantor saat kami sama-sama diterima. Kalaupun salah satu dari kami tidak beruntung, paling tidak sudah memperluas relasi.

Dalam perkenalan singkat itu, supaya tetap berkawan hingga kemudian hari, saya biasanya yang lebih duluan meminta kontak. Bukan nomor handphone, apalagi alamat rumah.

Saya tanyakan nama akun Instagram-nya.

Pada sebuah tes wawancara kerja, saya bertemu seorang pelamar lain yang ketika saya tanyai akun Instagram-nya, mengaku tidak punya. Saya lantas kaget. Hari gini, gak main Instagram? Padahal, menurut survei awur-awuran versi penulis, anak milenial macam kita ini paling suka menggunakan media sosial Instagram.

Perlu bukti? Kini kebutuhan hidup anak-anak muda adalah mencari tempat nongkrong dan liburan yang Instagram-able. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan istilah itu. Sama seperti munculnya sebutan selebgram, jabatan yang patut diberikan pada mereka yang punya eksposur tinggi di jagad aplikasi berlogo kamera warna pelangi ini. Lantas berikutnya, jumlah followers, like, dan comment kemudian jadi komoditas dan kebutuhan hidup, selain uang tentunya (yang lagi-lagi untuk beli minum di tempat nongkrong yang Instagram-able).

Akibat kenalan baru saya ini tadi nggak punya Instagram, pilihan terakhir bagi saya adalah bertanya media sosial lain apa yang dia mainkan. Ternyata ia punya Twitter, syukurlah. Walau tentu meninggalkan pertanyaan dalam benak, bagaimana kawan saya ini bisa survive di antara teman se-gengnya ketika yang lain sedang ngumpul dan update story di Instagram, sementara dia nggak?

Cerita lain, setelah sebulan bekerja, saya bertemu banyak narasumber yang usianya beragam. Pengalaman lain lagi saya alami. Saat berkenalan dan meminta nomor HP narasumber, mereka menyodorkan barang yang tentu sama sekali asing bagi arek-arek lahiran tahun 2010-an ke atas: kartu nama.

Peristiwa ini membuat saya canggung. Sudah menyiapkan HP, membuat kontak baru di buku telepon HP, bersiap mengetikkan nomor si narasumber, eh dia nyodorin kartu nama. Bahkan, saking lumrahnya barang ini di era hidup si narasumber, mereka bertanya balik apa saya ada kartu nama yang bisa dipertukarkan. Entah harus malu atau bangga, mengaku di hadapan narasumber kalau saya anak milenial: generasi yang sudah tidak punya atau bahkan tidak tahu apa urgensi membuat kartu nama pribadi.

Tapi, saya bukan generasi yang sama sekali nggak kenal kartu nama. Sependek ingatan, saya pernah saling bertukar kartu nama dengan teman-teman di bangku SD. Kala itu, kami suka membuat kartu nama dengan warna dan gambar kartun favorit. Kartu nama di zaman itu jadi sebuah artefak penanda prestis, sangat ikonik, butuh dipamerkan dan dipertukarkan, layaknya kertas binder.

Lambat laun, kartu nama bagi anak seusia saya mulai ditinggalkan. Lantas, peristiwa kartu nama dengan narasumber itu membuat saya bertanya-tanya dalam sukma: apakah memang sudah sejauh itu ketimpangan zaman milenial dengan generasi yang lahir sebelumnya? Kalau saya yang hampir 23 tahun ini saja sudah merasa ada gap gara-gara kartu nama, ndaniyo anake Raditya Dika karo Raisa?

Pertanyaan selanjutnya, salahkah bila kami tak punya kartu nama, dan punya cara berbeda dalam berkenalan dan berkorespondensi? Toh, perkenalan via dunia digital tidak mengurangi substansi dan etika.

Selain jadi komoditas pasar dan target kampanye politik, nasib milenial memang senantiasa jadi kambing hitam atas tuduhan-tuduhan “anak zaman sekarang mana ngerti…”atau “let’s confuse kids nowadays”.

Oalah Gusti, salah ta aku lahire saiki?

Foto: Deedee86 (Pixabay)

(Masih) Perlunya Demonstrasi di Saat Demokrasi Dikebiri 0 135

Oleh: Nabiilah Ulinnuha*

Tulisan ini dibuat teruntuk kalian yang hampir menyerah pada Indonesia, menolak percaya pada pemerintah, dan berharap bisa mengurus pindah kewarganegaraan dengan mudah.

Bukan lagi fenomena baru bahwa hadirnya media sosial memindahkan kanal informasi. Di zaman sekarang, mahasiswa dan pelajar tak perlu menyisihkan uang jajan buat beli koran atau bawa tape kemana-mana agar tak ketinggalan berita baru. Bermodalkan smartphone di genggaman tangan, dua media konvensional itu tentu bukan tandingan.

Bangun tidur, ritualnya adalah buka feed Instagram dan Twitter untuk cek kabar terbaru. Yang lebih nggenah, mungkin membuka kanal berita online gratisan, atau yang harga langganannya masih lebih murah dari paket data. Apa-apa serba mudah, kan? Berkat mbah gugel, kita tak perlu lagi kepo berita pagi ini dengan bertanya kesana-kemari. Tinggal buka layar ponsel saja, dan buka Kalikata ketik di mesin pencarian, voila!Tercerahkan”-lah kita.

Sama hal dengan informasi yang berpindah kanal utamanya, demokrasi pun mulai muncul dalam ruang baru bernama ‘media sosial’. Melalui ratusan tweets viral yang mengeluhkan keadaan, tergambar wajah sebuah kebebasan. Mulai dari kondisi terbaru yang terjadi di gedung KPK hingga gerakan tak setuju pada RUU PKS. Belum lagi situasi genting pada Kebakaran Hutan Liar, serta ketidakadilan bagi masyarakat di timur Indonesia.

Beragam postingan di Instagram tentang kondisi Indonesia terkini seolah saling tak mau kalah. Sebab siapapun bisa berbagi informasi. Demokrasi tumpah ruah di ruang-ruang tanpa sekat.

Masyarakat mulai menyukai hal-hal mudah. Demokrasi tak selalu harus turun ke jalanan. Mahasiswa zaman sekarang lebih suka memilih jalur lebih damai lewat diplomasi, atau menulis pada kolom opini. Yang lebih mudah lagi, tentunya menulis tweet dan membagikan foto kondisi terbaru lewat Instagram.

Rasa-rasanya masyarakat sudah seharusnya mulai bosan dengan pola ini. Sudah berteriak pada berbagai platform media, tapi kok rasanya wakil rakyat seolah bisu dan tuli?

Seharusnya apresiasi tinggi patut diberikan pada ratusan mahasiswa yang mengerumuni gedung pemerintah untuk menagih janji. Di saat-saat genting ini, dan di tengah gempuran alternatif cara “menyuarakan” tuntutan, mereka jadi pahlawan garda terdepan yang berjuang bagi demokrasi dengan langkah-langkah tradisional namun efektif bikin pemerintah rodhok panik.

Mari kita buka kenangan setahun lalu, saat Ketua BEM UI berikan Jokowi kartu kuning. Pembicaraan tentang pro dan kontra sempat bergulir di media sosial. Begitu banyak yang ngedumel. Memalukan, katanya. Mahasiswa kok tidak paham etika. Para netizen yang mahabenar, tidakkah kalian sadar, dulu dan kini, masih juga suka mencaci habis mahasiswa saat turun ke jalanan? Bikin macet, kata kalian. Terlalu anarkis dan mengganggu stabilitas Negara, kata kalian juga.

Barangkali, kita harus mengingat kembali pesan founding fathers bangsa ini. Bung Karno pernah menggaungkan “jasmerah”: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nampaknya pesan ini sungguh selalu relevan pada setiap zaman.

Kali ini penulis mengajak untuk mengingat kembali peristiwa 1998. Tanpa pengorbanan mahasiswa, Orde Baru tak akan mungkin digulingkan. Mereka, para aktivis, termasuk mahasiswa yang tumpah ruah ke jalanan, rela hilang tanpa dikenang namanya. Aksi mereka yang heroik adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia masih berani berjuang walau tak memiliki senjata di tangan. Dan rupanya bentuk aksi ini masih turun dari zaman ke zaman.

Persetan dengan kemacetan dan keamanan! Hari ini, kebebasan dikebiri habis-habisan. Tikus-tikus berdasi di gedung parlemen negara melanggengkan kekuasaannya terang-terangan. Berbagai diskusi sudah menemui jalan buntu. Apakah kemudian gaungan emosi dari gawaimu itu benar dapat merubah nasib bangsa ini?

Mereka yang sekarang sedang berjuang di jalanan nyaris belum mendapat titik terang. Jangankan memberi solusi dan menenangkan massa, menemui mereka pun pemerintah masih enggan. Justru di hari-hari inilah, demokrasi butuh lebih banyak lagi demonstrasi. Sudah selayaknya kita belajar dari sejarah, bahwa yang menang adalah yang tak pernah berhenti berjuang. Sebab pemimpin kita saat ini sungguh masa bodo bila sejatinya telah berubah jiwa jadi pecundang. Asal kekuasaan masih mereka pegang, sepertinya tak ada yang mereka takuti.

 

*Penulis adalah mahasiswa yang suka kopi, sajak, tapi kurang lengkap bila tak ditemani ‘kamu’ yang sekarang hilang. Berzodiak Gemini, oleh sebab itu orangnya ruwet.

Foto: Wanti Anugrah

Editor Picks