Cangkruk Mahasiswa adalah Cangkruknya Borjuis! 0 1853

Indonesia mungkin masih tegak berdiri karena dihidupi oleh warung dan cangkruk. Nama-nama legendaris warung Jawa Timuran macam Giras, Selir, warung pangku, dan sejenisnya tentu tak asing lagi.

Dalam masyarakat Jawa, kegiatan berkumpul dan mengobrol ditambah cemilan-kopi, lumrah disebut cangkruk. Biasanya mengambil tempat di warung kopi (Setarbak bukan termasuk warung dan bukan termasuk kopi, ia gaya hidup!), pada waktu-waktu selepas kerja, atau saat pasca arisan atau pengajian, atau mungkin ketika meronda. Cangkruk adalah aktivitas menghabiskan waktu dengan mendiskusikan sesuatu yang penting dan tak penting, bahkan merencanakan pergerakan suatu hajatan.

Istilah ini mulanya dikenal di kalangan masyarakat pedesaan, meski secara tak disangka akhirnya pun merambat di kalangan urban. Warung kopi dan angkringan menjamur, menyamai laju para pekerja yang tumbuh di kota. Warung adalah tempat sampah penumpahan penat bagi umat yang tak kebagian tiket hidup enak di apartemen.

Jangan tanya apa yang terjadi di lingkungan kampus: cangkruk menjadi sebuah keniscayaan dan agama baru. Mahasiswa rasanya tak afdol, belum terpenuhi rukunnya, bila belum pernah melakukan cangkruk barang sekalipun dalam hidupnya. Sebab pada kegiatan itulah, orang bisa membahas apapun; dari urusan akademik, pergerakan hingga cinta—sementara kuliah mulai membikin jemu dan tak membangkitkan gairah.

Masing-masing kalangan menerjemahkan konsep cangkruk secara berbeda. Mahasiswa, seringkali memanfaatkan cangkruk sebagai medium pembentukan gagasan—yang kadang berakhir dengan pergerakan, atau tidak sama sekali. Kaum pekerja, membangun loyalitas matang pada warung-warung kopi, agar bisa ngebon lagi sebab pekerjaan sehari-hari sudah lebih dari melelahkan. Bisa juga, mereka memulai pergerakan dari sana, menuntut hak-hak tertunda—yaaa sekedar mengamankan perut.

Jika Jürgen Habermas, salah seorang teoris komunikasi dengan konsep tindakan komunikatif menangkap gejala coffeeshop di Eropa sebagai ruang obrolan orang-orang borjuis, maka fenomena cangkruk tak lain adalah kritik atasnya. Cangkruk didefinisikan menjadi ruang diskusi bagi orang-orang kelas menengah ke bawah, sebagai instrumen untuk menampung komentar mereka atas hidup yang pelik. Bisa jadi, cita-cita ruang publik Habermas terwujud melalui kegiatan itu, tanpa ada intervensi kepentingan terhadap obrolan yang terlintas di sana-sini. Ia menjadi kegiatan sakral yang turun temurun.

 

Gerak Tunduk

Tapi tidak juga. Cangkruk rupanya makin menyekat masyarakat ke kalangan tertentu saja. Bagi kalangan atas, istilah norak itu diartikulasikan untuk kegiatan nongkrong di coffeshop pinggir jalan, beralaskan tanah, kadang kemproh bukan main. Orang-orang borjuis konon tak tahan dengan tempat menyedihkan macam itu.

Otokritik itu kian diperparah dengan kehadiran teknologi, bahkan di ranah kehidupan paling subtil. Pembaca tentu maklum, bahwa sekarang ini adalah saat-saat di mana teknologi makin berkuasa, sementara kapasitas hati dan pikiran mentok di itu-itu saja. Konsekuensi yang timbul dari sana ada pada konstelasi pergaulan tingkat remaja nanggung hingga remaja tahap akhir. Gampangnya akses virtual serta bejibunnya aplikasi online seakan mengubah perilaku mereka jadi mengamini sabda mashyur: mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Cangkruk turut jadi korbannya!

Mahasiswa-mahasiswa gaul itu membeli kopi bukan untuk cangkruk, tapi menghabisi waktu mereka untuk sebuah trivia: internet. Setelah mendapat meja/spot yang nyaman, lebih-lebih bila ada koneksi wifi tersambung, ritual itu akan segera dimulai: kepala saling tunduk pada ponsel masing-masing, jemari akan tumpang tindih dengan layar, dan mata jelalatan sana sini membaca teks. Oh, dan obrolan baru akan dimulai lima menit kemudian—saat pesanan datang.

Setelah tiga puluh menit membicarakan sesuatu yang penting—atau tidak sama sekali—ritual itu akan berulang. Kali ini akan ada yang dengan nekat membuka Mobile Legend mobile games, dengan suara tuing tuing yang bising. Bila obrolan menemui kebuntuan, ritus ini akan berlangsung hingga bermenit-menit kemudian, sampai cemilan habis di atas meja.

Begitulah…tidak pernah ada yang mengajari prosesi semacam itu, semua terjadi alamiah. Seolah publik benar-benar dibuat paham oleh para aplikasi itu, dibaptis menjadi jemaat yang tunduk pada aturan peribadatan online. Jelas saja, kebiasaan baru macam ini menyalahi ritual perkongkowan yang lebih dulu ada, duluuu sekali, saat Mbah Google kerjaannya cuma bantuin masyarakat cari-cari solusi.

Dengan pencapaian umat yang tiada tara itu, orang-orang hanya perlu duduk manis untuk bisa mendapat hiburan; pencerahan batiniah bagi jiwa-jiwa pekerja kayak kita ini. Anak-anak setingkat sekolah dasar sudah tak perlu lagi repot-repot keluar rumah saat menuju senja, membawa bola plastik bersama rekan sejawat, lalu membangun tiang gawang dengan sandal hasil rengekan ke mama. Aduh, untuk permainan norak bin kampungan semacam itu, rasanya sudah mulai tak menarik lagi. Isin pol.

Sssst, padahal penulis juga bagian dari jemaat virtual. Tabik.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagi Mereka, Antirasisme Tak Lebih dari Sekadar Konten 0 159

George Floyd, pria berkulit hitam yang meninggal karena lehernya ditindih kaki petugas pulisi berkulit putih Minneapolis, AS menimbulkan gelombang protes. Bahkan ribuan warga AS teramasuk selebritis sudah bodo amat dengan korona dan ‘stay at home.

Mereka turun ke jalan untuk memprotes diskriminasi terhadap warga berkulit hitam dan menuntut  pemerintah agar pelaku pembunuhan segera diadili. Di media sosial juga ramai postingan penuh empati yang dibungkus amarah warga net mengenai kasus yang tak kunjung menemukan titik cerah itu.

Louis Vuitton sebagai merek legendaris pun terkena bola api amarah netizen karena marketing masif tas terbarunya ‘Pont 9’. Merek asal Paris ini membayar sejumlah artis dan fashion influencer di seluruh dunia untuk promosi di Instagram.

Namun, tak ada postingan yang menunjukkan empati mereka terhadap isu rasisme yang sedang panas itu. Alhasil, merek high-end ini pun dikecam netizen dan pesohor seperti Emily Ratajkowski karena dinilai tak peka dengan isu sosial. Tak hanya dikecam, pada 31 Mei lalu, butik Louis Vuitton di Oregon dijarah oleh massa.

Tak mau menjadi sasaran amukan massa, merek-merek lain akhirnya memposting foto prihatin terhadap kasus ini dan menyuarakan antirasisme. Diawali dari Versace, lalu dilanjut oleh Dior, Alexander McQueen, dan merek-merek beken lainnya.

Dari observasi kecil-kecilan saya, hingga saat ini, hanya Louis Vuitton yang masih bersih dari postingan antirasisme. Ya sudah, terserah dia.

Saya mengira masalah sudah beres. Ternyata, kasus Louis Vuitton hanyalah appetizer dari masalah empati dan antirasisme yang ada di dunia yang fana ini. Seperti yang tertulis di lirik lagu penyanyi indie terpopuler se-Indonesia, Kekeyi, “ucapanmu manis di bibir saja”, pun juga dengan kampanye antirasisme dari selebgram dan merek-merek kedagingan ini. Rupanya, postingan mereka sebatas wacana yang tidak dipraktikkan di dunia nyata.

Celine, merek asal Perancis ini memposting foto bahwa ia mengecam segala bentuk diskriminasi. Ia juga menuliskan di kepsyen “#BLACKLIVESMATTER” sebagai cherry on top.

Postingan ini diprotes oleh seorang fashion stylist, Jason Bolden. Hal ini dikarenakan Heidi Slimane, sang creative director, enggan mendandani seebritis berkulit hitam, kecuali stylist mereka berkulit putih.

Merek di bawah naungan LVMH ini selalu – semenjak kursi creative director diduduki oleh Heidi Slimane – memiliki jumlah model berkulit hitam di setiap shownya. Pada koleksi musim gugur 2020 misalnya, hanya ada 10 model berkulit hitam dari 111 model (9 persen). Sosok model berkulit hitam sangat jarang ditemui di feed Instagramnya.

Selanjutnya, ada kasus dari L’oréal . Merek mek-ap ini mengunggah foto di Instagram dan twit di Twitter yang intinya melawan segala bentuk diskriminasi warna kulit. Munroe Bergdorf, seorang model berkulit hitam, sontak memberikan tanggapan sinis kepada L’oréal. Rupanya, iapernah didapuk sebagai modelnya pada 2017. Sayangnya, ia dipecat usai menyuarakan protes terhadap white supremacy di Facebook.

Zimmermann, merek pakaian bergaya bohemian ini masuk ke dalam daftar pihak-pihak yang cari aman usai kasus Louis Vuitton. Sama dengan kasus-kasus di atas, merek asal Sydney ini mengatakan bahwa intinya ia berkomitmen untuk melawan praktik-praktik diskriminasi.

Namun, mereka-mereka yang pernah bekerja dan magang di sana angkat bicara. Mereka mengatakan bahwa pekerja kulit hitam kerap kali mendapat diskriminasi dan sering dipojokkan. Tak hanya itu, Zimmermann juga menerapkan beauty standard perempuan berkulit putih Eropa.

Lalu Kris Schitzel, selebgram Rusia yang berfoto di tengah pendemo sambil membawa tulisan “BLACK LIVES MATTER”.  Ia menerima hujatan usai video behind the scene “pemotretan” untuk foto tersebut beredar. Terlihat ia menata pose sedemikian rupa sambil membenarkan gaunnya.

Memang tak seniat video Brojabro dengan sayap Victoria’s Secret-nya saat aksi unjuk rasa mahasiswa di Surabaya silam, namun video tersebut sudah dapat membuat kita menyimpulkan bahwa ternyata gerakan yang ia lakukan tak lebih dari kebutuhan produksi konten di medsos.

Last but not least, kasus yang menyeret perempuan paling berpengaruh di dunia fashion saat ini, Anna Wintour. Vogue AS, majalah ternama yang dikepalai oleh Wintour ini di media sosialnya aktif  menyuarakan Black Lives Matter. Namun, pada Rabu (10/6) lalu, wanita yang mendapat julukan “Nuclear Wintour” ini meminta maaf atas minimnya kesempatan bekerja bagi orang berkulit hitam di kantornya.

Pernyataan tersebut membuat beberapa mantan pekerja berkulit hitam di Vogue angkat bicara di Twitter. Mereka mengungkapkan perlakuan tidak menyenangkan dari Wintour dan pekerja lain. Mulai dari di-bully, hingga gaji yang lebih sedikit harus mereka telan selama bekerja di majalah yang dijuluki fashion bible tersebut.

Miris sekali ya, ketika empati kita sangat dibutuhkan di masa ini, ternyata hanya dijadikan konten guna menaikkan citra mereka, biar seakan-akan peduli dengan isu rasisme. Tuntutan netijen yang begitu besar untuk menampilkan konten empati, malah membuat sejumlah pihak menganggapnya sebagai formalitas belaka.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Renungan Seonggok Pemuja Online Shop 0 77

Sudah hampir 3 bulan kita dihajar kampanye urban yang telah menjadi gaya hidup: #dirumahaja. Walau sebentar kita tak perlu merasa terkurung lagi, tatanan kehidupan yang baru hampir terbentuk dari babak hidup kemarin.

Semua aktivitas lantas dilakukan dari tempat ternyaman, entah sofa atau bahkan tempat tidur, termasuk belanja online.

Mau ke supermarket sebenarnya bisa sih. Toh supermarket dan pasar adalah salah satu ragam bisnis yang senantiasa terkecualikan dengan boleh tetap bernapas, demi mengisi logistik masyarakat.

Tapi sebagian dari kita yang tidak termakan teori konspirasi JRX percaya virus corona ada, menjadi was-was dan meminimalisir kegiatan keluar rumah, sekalipun sekadar untuk berbelanja.  Sebisa mungkin di rumah, menghindari kerumunan, memenuhi bujukan anjuran pemerintah. Beraktivitas di luar rumah menjadi suatu kegiatan yang bahkan mulai terasa asing.

Kita patut bersyukur, bahwa sebelum corona memutuskan untuk mengusik kehidupan kita, teknologi market place sudah berkembang sedemikian rupa. Peluangnya bahkan makin merambah di situasi seperti sekarang ini.

Semua-semua saja dibeli online. Mulai dari susu hingga pisau dapur, dari sayur-mayur hingga cairan pewangi pakaian, kaos kaki impor Cina atau HP hasil pasar gelap, semua dimungkinkan hanya dengan sentuhan jari di gawai.

Bahkan kata teman-teman saya, selama menikmati PSBB di rumah, membuka aplikasi online shop sudah jadi habitus baru yang tak terhindarkan. Ajaibnya, online shop kini berkembang fungsinya, sampai-sampai ikut jadi pereda kebosanan. Ia menjadi obat mujarab atas panas nan jenuhnya hati atau menghindarkan diri dari potensi termakan hoax di grup WhatsApp keluarga.

Namun, ada akibat fatal yang tak kuasa kita taklukkan. Kita tak bisa hanya sekadar “cuci mata” di aplikasi belanja online. Kita susah untuk menolak check out habis keranjang belanja virtual tanpa ampun. Kalau sudah begini, online shop berubah wajah. Justru ialah musuh bebuyutan dompet tipismu.

Pun online shop menghantar kita pada berbagai belahan dan jurang pengalaman. Kadang membeli barang yang mungkin gak terlalu berdayaguna, hanya karena promo dan kode voucher, yang setelah dibeli dan dibayar malah menyesal. Persis kayak habis putus, lalu pengen balikan karena mantan tiba-tiba jadi lebih cakep setelah putus.

Tren online shop sudah merasuk sejak beberapa tahun ke belakang, tapi popularitasnya melonjak dan bahkan menjadi adikuasa yang padanya kita makin menghamba.

Ia hanyalah substitusi emol-emol dan café dengan menu-menu dengan bahasa enggresan ndakik-ndakik. Menggeser rejeki dari mbak-mbak SPG dan mas-mas barista, ke para kurir dan mamang-mamang packaging paket. Merekalah yang memastikan belanjaan kita sampai persis di depan pintu rumah.

Online shop adalah pemain pengganti, dari perasaan tak sabar menunggu antrian kasir di toko, ke perasaan dag-dig-dug tak sabar menunggu teriakan “paket” di depan gerbang rumah.

Begitu pula dengan penggunaan e-wallet dan m-banking yang tersedia di platform e-commerce, yang membuat jasa penukar uang pinggiran jalan gigit jari, teknisi IT start-up digital pesta pora, serta mahasiswa informatika kini jadi kandidat calon mantu idaman, menggantikan dokter yang semakin gak bisa ketemu keluarganya di masa sekarang.

Mungkin ini yang dinamakan “new normal”, sebuah istilah yang sudah sangat lacur penggunaannya dalam konversesyen tiap harinya. Kebaruan yang dianggap normal. Namun juga kenormalan lama yang dibuatkan bentuk barunya. Kebiasaan baru rakjat untuk berbelanja, dan segala lika-liku di baliknya, jadi salah satu bab tak terelakkan di dalamnya.

Editor Picks