Cangkruk Mahasiswa adalah Cangkruknya Borjuis! 0 1950

Indonesia mungkin masih tegak berdiri karena dihidupi oleh warung dan cangkruk. Nama-nama legendaris warung Jawa Timuran macam Giras, Selir, warung pangku, dan sejenisnya tentu tak asing lagi.

Dalam masyarakat Jawa, kegiatan berkumpul dan mengobrol ditambah cemilan-kopi, lumrah disebut cangkruk. Biasanya mengambil tempat di warung kopi (Setarbak bukan termasuk warung dan bukan termasuk kopi, ia gaya hidup!), pada waktu-waktu selepas kerja, atau saat pasca arisan atau pengajian, atau mungkin ketika meronda. Cangkruk adalah aktivitas menghabiskan waktu dengan mendiskusikan sesuatu yang penting dan tak penting, bahkan merencanakan pergerakan suatu hajatan.

Istilah ini mulanya dikenal di kalangan masyarakat pedesaan, meski secara tak disangka akhirnya pun merambat di kalangan urban. Warung kopi dan angkringan menjamur, menyamai laju para pekerja yang tumbuh di kota. Warung adalah tempat sampah penumpahan penat bagi umat yang tak kebagian tiket hidup enak di apartemen.

Jangan tanya apa yang terjadi di lingkungan kampus: cangkruk menjadi sebuah keniscayaan dan agama baru. Mahasiswa rasanya tak afdol, belum terpenuhi rukunnya, bila belum pernah melakukan cangkruk barang sekalipun dalam hidupnya. Sebab pada kegiatan itulah, orang bisa membahas apapun; dari urusan akademik, pergerakan hingga cinta—sementara kuliah mulai membikin jemu dan tak membangkitkan gairah.

Masing-masing kalangan menerjemahkan konsep cangkruk secara berbeda. Mahasiswa, seringkali memanfaatkan cangkruk sebagai medium pembentukan gagasan—yang kadang berakhir dengan pergerakan, atau tidak sama sekali. Kaum pekerja, membangun loyalitas matang pada warung-warung kopi, agar bisa ngebon lagi sebab pekerjaan sehari-hari sudah lebih dari melelahkan. Bisa juga, mereka memulai pergerakan dari sana, menuntut hak-hak tertunda—yaaa sekedar mengamankan perut.

Jika Jürgen Habermas, salah seorang teoris komunikasi dengan konsep tindakan komunikatif menangkap gejala coffeeshop di Eropa sebagai ruang obrolan orang-orang borjuis, maka fenomena cangkruk tak lain adalah kritik atasnya. Cangkruk didefinisikan menjadi ruang diskusi bagi orang-orang kelas menengah ke bawah, sebagai instrumen untuk menampung komentar mereka atas hidup yang pelik. Bisa jadi, cita-cita ruang publik Habermas terwujud melalui kegiatan itu, tanpa ada intervensi kepentingan terhadap obrolan yang terlintas di sana-sini. Ia menjadi kegiatan sakral yang turun temurun.

 

Gerak Tunduk

Tapi tidak juga. Cangkruk rupanya makin menyekat masyarakat ke kalangan tertentu saja. Bagi kalangan atas, istilah norak itu diartikulasikan untuk kegiatan nongkrong di coffeshop pinggir jalan, beralaskan tanah, kadang kemproh bukan main. Orang-orang borjuis konon tak tahan dengan tempat menyedihkan macam itu.

Otokritik itu kian diperparah dengan kehadiran teknologi, bahkan di ranah kehidupan paling subtil. Pembaca tentu maklum, bahwa sekarang ini adalah saat-saat di mana teknologi makin berkuasa, sementara kapasitas hati dan pikiran mentok di itu-itu saja. Konsekuensi yang timbul dari sana ada pada konstelasi pergaulan tingkat remaja nanggung hingga remaja tahap akhir. Gampangnya akses virtual serta bejibunnya aplikasi online seakan mengubah perilaku mereka jadi mengamini sabda mashyur: mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Cangkruk turut jadi korbannya!

Mahasiswa-mahasiswa gaul itu membeli kopi bukan untuk cangkruk, tapi menghabisi waktu mereka untuk sebuah trivia: internet. Setelah mendapat meja/spot yang nyaman, lebih-lebih bila ada koneksi wifi tersambung, ritual itu akan segera dimulai: kepala saling tunduk pada ponsel masing-masing, jemari akan tumpang tindih dengan layar, dan mata jelalatan sana sini membaca teks. Oh, dan obrolan baru akan dimulai lima menit kemudian—saat pesanan datang.

Setelah tiga puluh menit membicarakan sesuatu yang penting—atau tidak sama sekali—ritual itu akan berulang. Kali ini akan ada yang dengan nekat membuka Mobile Legend mobile games, dengan suara tuing tuing yang bising. Bila obrolan menemui kebuntuan, ritus ini akan berlangsung hingga bermenit-menit kemudian, sampai cemilan habis di atas meja.

Begitulah…tidak pernah ada yang mengajari prosesi semacam itu, semua terjadi alamiah. Seolah publik benar-benar dibuat paham oleh para aplikasi itu, dibaptis menjadi jemaat yang tunduk pada aturan peribadatan online. Jelas saja, kebiasaan baru macam ini menyalahi ritual perkongkowan yang lebih dulu ada, duluuu sekali, saat Mbah Google kerjaannya cuma bantuin masyarakat cari-cari solusi.

Dengan pencapaian umat yang tiada tara itu, orang-orang hanya perlu duduk manis untuk bisa mendapat hiburan; pencerahan batiniah bagi jiwa-jiwa pekerja kayak kita ini. Anak-anak setingkat sekolah dasar sudah tak perlu lagi repot-repot keluar rumah saat menuju senja, membawa bola plastik bersama rekan sejawat, lalu membangun tiang gawang dengan sandal hasil rengekan ke mama. Aduh, untuk permainan norak bin kampungan semacam itu, rasanya sudah mulai tak menarik lagi. Isin pol.

Sssst, padahal penulis juga bagian dari jemaat virtual. Tabik.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Huru-Hara Anti-masker di Negeri Pak Trump 0 86

Oleh: Deanita Nurkhalisa*

 

Kisah datang dari Amerika Serikat (AS), negeri nun jauh dengan jumlah penderita terkonfirmasi Covid-19 terbanyak di level global mencapai titik tertinggi 3,4 juta kasus, 67 ribu kasus baru dan total kematian sebanyak 136 ribu jiwa. Ketika tak kunjung tampak terobosan signifikan dalam penanganan kasus, pada saat yang sama muncul pula sikap meremehkan yang datang dari berbagai kelompok, dari awam hingga figur berpengaruh. Anjuran dan nasihat kesehatan dimentahkan oleh gerakan anti-masker.

Gerakan anti-masker (anti-mask) menuai perhatian semenjak persyaratan lockdown perlahan diangkat dan fasilitas umum kembali dibuka dengan ketentuan wajib seperti pengenaan masker. Mereka menentang keras pendapat ilmiah, seperti dari Central for Disease Control and Prevention (CDC) yang meyakinkan publik bahwa penggunaan masker mengurangi risiko penularan. Tindakan ini sejalan dengan istilah keren ‘flatten the curve’, merebahkan kurva jumlah penderita dengan menginstruksikan penggunaan masker atau sarana pencegahan lain demi menekan laju Covid-19.

Kerumunan anti-masker mencuri perhatian atas apa yang mereka lakukan di pusat-pusat perbelanjaan, provokasi demonstrasi, maupun menyuarakan aspirasi lewat pertemuan dewan kota. Bentuk protes terhadap mandat penggunaan masker juga ditunjukkan melalui ejekan penggunaan masker berbentuk jaring (mesh mask) yang tentunya tidak melindungi wajah dari partikel berbahaya. Di Roseville, Sacramento, seorang warga mengencingi lantai toko Verizon Store karena menolak diusir meninggalkan toko akibat tidak mengenakan masker.

Di kesempatan tertentu, sekelompok anti-maskers meneriakkan kalimat ‘I can’t breathe’ (‘aku ra isa ambegan’) yang sebelumnya menjadi slogan solidaritas gerakan Black Lives Matter, mengutip kalimat terakhir George Floyd sebelum ia menjadi korban rasisme yang dilakukan aparat kepolisian di AS. Ironisnya, kalimat tersebut diinisiasi oleh anggota dewan kota Scottsdale, Arizona, pada aksi protes pengenaan masker akhir bulan lalu. Fakta-fakta itu menunjukkan egoisme, ketidakpekaan, dan minimnya empati dalam kelompok protes tersebut.

Klaim utama kelompok antimasker adalah bahwa kewajiban penggunaan masker oleh pemerintah ‘merenggut hak asasi dan kebebasan atas tubuh’ atau ‘perbudakan, penundukan, dan penaklukan’ oleh negara atas warga.

Beberapa pernyataan ini mengherankan karena beberapa alasan.

Adanya pandemi global memerlukan pencegahan yang dalam jangka panjang dapat memberikan hasil efektif, apabila dilakukan dengan benar dan secara massal untuk mencegah penularan. Tujuan untuk kebaikan bersama tersebut yang menjadi dasar pemerintah menggalakkan penggunaan masker. Tidak ada yang dapat menjamin seseorang akan dapat terinfeksi atau bahkan menginfeksi orang lain. Namun, tindakan pencegahan dapat membantu menurunkan risiko tersebut.

Masker bukanlah simbol atas penaklukan, apalagi menempatkan penggunanya sebagai ‘budak’, melainkan hanyalah sebuah alat penghalau partikel berbahaya di udara agar tubuh manusia tidak terinfeksi. Tidak ada anggapan implisit rasis atau misoginis yang ditemukan dari pengenaan masker. Pun bukanlah wujud dari agenda politis pihak oposisi untuk tujuan tertentu.

Tindakan pencegahan di masa pandemi ini tidak seharusnya menjadi isu politis maupun konspiratif yang dapat memecah opini. Dibutuhkan solidaritas, empati dan kebesaran hati untuk bergerak saling melindungi demi berakhirnya pandemi. Hal tersebut juga harus diiringi oleh informasi yang sesuai dan data yang cukup serta kemampuan berdialog secara efektif berdasarkan fakta yang ada. Bukan didasari sentimen apapun seperti pandangan politik, sehingga perdebatan mengenai pengenaan masker setidaknya dapat dilakukan secara substantif dan tidak sewenang-wenang.

Begitu juga dengan figur pemerintah yang memiliki pengaruh signifikan ke masyarakat. Sudah seharusnya mereka menyediakan edukasi, jaminan dan kepastian yang dibutuhkan oleh masyarakat agar negara tetap utuh dalam menghadapi krisis pandemi global.

 

*)Mahasiswi yang senang puisi, kucing, dan antariksa. Terbuka atas masukan atau cuma basa-basi lewat akun Instagram @ohitsjustdenit.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Tips Buat Para Penganggur di Masa Pandemi 1 176

Oleh: Putu Gadis Arvia Puspa*

Karena tulisan ini terbit sehari setelah hari kemerdekaan, maka penulis hendak mengucapkan: dirgahayu Indonesiaku yang ke tujuh puluh lima! 17 Agustus-an tahun ini terasa sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Indonesia dan dunia sedang menghadapi perang pandemi Covid-19.

Atmosfer orang ketika batuk akan berubah. Perlahan akan timbul rasa cemas kemudian diantisipasi penyebaran virusnya oleh masyarakat dengan mundur beberapa langkah, lengkap dengan masker yang sudah menempel di wajah.

Dari segi ekonomi, tentu ada yang kehilangan pekerjaan. Dari segi hubungan kedekatan, bisa juga kehilangan pasangannya. Yang paling tragis adalah sampai kehilangan orang tua dan keluarga tercinta. Semuanya membekaskan luka dan duka.

Tahun 2020 ini benar-benar menguji kesabaran, kewaspadaan dan kemampuan adaptif kita sebagai mahluk hidup untuk tetap berjuang walau rasanya hidup ini bagai kiamat. Masalah itu akan selalu ada, sehingga menjadi tantangan untuk diri sendiri dan bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaannya.

Sama juga seperti artikel ini yang sengaja ditulis H-1 hari kemerdekaan Indonesia biar kerasa vibes-nya kayak lagi mempersiapkan proklamasi di Renglasdengklok bareng Bung Karno. Ihiy. Yaaaa anggap saja ini seperti proklamasi versi saya. Secara ini tulisan pertama saya kalo jadi terbit di Kalikata (red: jadi terbit kok, tapi butuh waktu buat ngeditnya aja, hehe).

Pintu kamar saya tutup rapat. Pertanda saatnya beraksi mencari inspirasi dan pengalaman baru di internet. Saking lamanya di rumah, saya biasanya jadi terlalu dalam menjelajah internet, akhirnya jadi lupa waktu, lupa makan, tapi tetap mandi kok.

Gilak! Rasanya tuh kayak bener-bener pusing sih. Mata kabur, punggung pegal, kaki keram. Tapi, diri ini tetap asyik seharian baca-baca artikel, main gartic bareng teman, typing test, dan nonton TikTok. Pengen sih nonton Netflix, tapi gak punya duit buat langganan. Yaudah, manfaatkan apa yang bisa ditonton saja dulu, di mana lagi kalau bukan di Youtubeee. Karena Youtube Youtube Youtube lebih dari Tv boom! Ea.

Kangen sebenarnya sama lambe-lambe di tongkrongan yang bilang “Udah tau belom, kalo si itu… bla bla bla bla“, nggosip. Tidak ada yang bisa mengalahkan asyiknya bisa bersosialisasi sekaligus diskusi. Kurang lebih sama lah ya kayak Chaerul Saleh dan kawan-kawan yang ngumpul buat diskusi politik di masa itu.

Tapi situasi sekarang kan susah ya kalo mau diskusi seaysik itu. Harus chat dulu, nunggu di-read, share link, saling debat pake paragraph panjang-panjang. Itupun cepet-cepetan ngetik ya kan. Belom lagi urusan sinyal. Story tellingnya kurang dapet gitu loh. Ekspresi dan nada suara teman kita itu ga bisa lagi untuk menendang gejolak emosi jiwa kompetitif dari kaum yang suka keributan ini.

Ada sih alternatif misalnya pake Zoom, Google Meet, dan platform video call lainnya buat ngatasin masalah tadi. Tapi tetep aja rasanya gak afdol gitu kalo ga ketemu langsung. Huhhh..

Ngomongin internet, kasus kan lagi banyak nih yang viralnya bukan main di medsos. Apalagi momentumnya sekarang orang lagi di rumah aja, jadi tingkat fokusnya dalam menyimak berita terkini lebih tinggi, ya walaupun belum tentu tajam.

Ketidakseriusan sejak awal pemerintah dalam menghadapi pandemi akhirnya makin merusak dan membakar emosi dari harapan rakyat. Transparansi selalu dituntut guna mengetahui kenyataan, namun ditahan dengan niat agar tidak menghawatirkan rakyat.

Baru-baru ini, juga ada kabar seorang aktivis pegiat HAM diminta mengembalikan beasiswa senilai 773 juta dari LPDP. Netijen pun berasumsi, hal ini diduga kuat sebagai upaya terbaru untuk menekan Veronica Koman berhenti melakukan advokasi HAM Papua.

Kasus lain lagi, berbagai kekerasan seksual yang mulai terkuak. Ini semua berkat pengakuan para korban yang akhirnya berani speak up di media sosial.

Ada pula kenyataan bahwa politik dinasti yang kian ramai mengisi pilkada Indonesia. Pun, tragedi kecurangan pada seleksi masuk perguruan tinggi negeri hingga sekolah kedinasan. Di sisi lain, dampak buruk akibat Covid-19 di hampir semua sektor secara global, semakin mengancam dan menghantui negara kita untuk resesi ekonomi.

Tidak cukup sampai di situ, saya pun sempat menengok Twitter, yang juga baru-baru ini menjadi tempat ajang demo online oleh mahasiswa Unair dalam menyuarakan isi hati. Isu ini juga jadi trending di media sosial: soal tuntutan penurunan UKT.

Di balik semua masalah yang memaksa otak kita untuk berpikir sok kritis, tentu ada juga banyak hal trending yang bisa membuat kita tetap terhibur, terinspirasi, sampai speechless. Misalnya lalu lintas TikTok yang kini makin populer, karena dianggap lebih seru. Aplikasi yang satu ini bikin auto menggerakan saraf manusia untuk joget ala TikTok (bahkan sudah dianggap cabang tarian). Terkadang, kontennya juga dinilai bermanfaat karena informatif.

Makin banyak orang-orang kreatif yang memamerkan karyanya di tengah pandemic ini. Misalnya Lathi challenge yang hypenya super dimana-mana. Mulai dari jadi backsound time lapse orang gambar animasi baju adat Indonesia lewat ipad, sampai backsound make up oleh Jharnabhagwani. Kalo di Twitter abang Fiersa Besari, terakhir Lathi dipake buat senam sama ibu ibu.

Untungnya, di hari kesekian menghabiskan waktu di rumah, tentu saja saya melakukan berbagai aktivitas yang sudah saya sebutkan tadi. Berbeda dengan video Youtube Sobat Miskin Official dengan konten “2 jam gak ngapa-ngapain” (dan saya pun kena prank nonton videonya sampai habis), yang bikin saya mikir “kok ada-ada aja ya ide orang di tengah pandemi ini”.

Sebagai pengamat Youtube, saya mau sedikit berpesan pada para pembaca. Menghabiskan waktu di rumah aja memang membosankan, tapi ada banyak hal yang bisa dilakukan kok. Kreativitas kita yang tanpa batas masih bisa ditampung dengan konten audio visual, dan dipublikasikan di Youtube atau media sosial lainnya. Tapi, memang harus serba hati-hati dengan derasnya informasi, karena bisa bikin pusing sendiri.

Yang terpenting, jangan sampai gara gara stock anime atau film atau drama korea habis, kalian malah mengisi waktu luang dengan membuat prank aneh-aneh atau video cringe “ara ara”. Mending review film ae lah! Kalo gak, mukbang atau ASMR. Atau nonton Youtube Got Talentnya SkinnyIndonesian24, juga bisa jadi pilihan.

 

*) Penonton setia Youtube, drama korea, kartun, dan anime, tapi ga terlalu. Tujuan utama dalam hidup adalah untuk mencapai moksa. Mata sipit belum tentu Cina, siapa tahu Bali.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks