Cangkruk Mahasiswa adalah Cangkruknya Borjuis! 0 1367

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Indonesia mungkin masih tegak berdiri karena dihidupi oleh warung dan cangkruk. Nama-nama legendaris warung Jawa Timuran macam Giras, Selir, warung pangku, dan sejenisnya tentu tak asing lagi.

Dalam masyarakat Jawa, kegiatan berkumpul dan mengobrol ditambah cemilan-kopi, lumrah disebut cangkruk. Biasanya mengambil tempat di warung kopi (Setarbak bukan termasuk warung dan bukan termasuk kopi, ia gaya hidup!), pada waktu-waktu selepas kerja, atau saat pasca arisan atau pengajian, atau mungkin ketika meronda. Cangkruk adalah aktivitas menghabiskan waktu dengan mendiskusikan sesuatu yang penting dan tak penting, bahkan merencanakan pergerakan suatu hajatan.

Istilah ini mulanya dikenal di kalangan masyarakat pedesaan, meski secara tak disangka akhirnya pun merambat di kalangan urban. Warung kopi dan angkringan menjamur, menyamai laju para pekerja yang tumbuh di kota. Warung adalah tempat sampah penumpahan penat bagi umat yang tak kebagian tiket hidup enak di apartemen.

Jangan tanya apa yang terjadi di lingkungan kampus: cangkruk menjadi sebuah keniscayaan dan agama baru. Mahasiswa rasanya tak afdol, belum terpenuhi rukunnya, bila belum pernah melakukan cangkruk barang sekalipun dalam hidupnya. Sebab pada kegiatan itulah, orang bisa membahas apapun; dari urusan akademik, pergerakan hingga cinta—sementara kuliah mulai membikin jemu dan tak membangkitkan gairah.

Masing-masing kalangan menerjemahkan konsep cangkruk secara berbeda. Mahasiswa, seringkali memanfaatkan cangkruk sebagai medium pembentukan gagasan—yang kadang berakhir dengan pergerakan, atau tidak sama sekali. Kaum pekerja, membangun loyalitas matang pada warung-warung kopi, agar bisa ngebon lagi sebab pekerjaan sehari-hari sudah lebih dari melelahkan. Bisa juga, mereka memulai pergerakan dari sana, menuntut hak-hak tertunda—yaaa sekedar mengamankan perut.

Jika Jürgen Habermas, salah seorang teoris komunikasi dengan konsep tindakan komunikatif menangkap gejala coffeeshop di Eropa sebagai ruang obrolan orang-orang borjuis, maka fenomena cangkruk tak lain adalah kritik atasnya. Cangkruk didefinisikan menjadi ruang diskusi bagi orang-orang kelas menengah ke bawah, sebagai instrumen untuk menampung komentar mereka atas hidup yang pelik. Bisa jadi, cita-cita ruang publik Habermas terwujud melalui kegiatan itu, tanpa ada intervensi kepentingan terhadap obrolan yang terlintas di sana-sini. Ia menjadi kegiatan sakral yang turun temurun.

 

Gerak Tunduk

Tapi tidak juga. Cangkruk rupanya makin menyekat masyarakat ke kalangan tertentu saja. Bagi kalangan atas, istilah norak itu diartikulasikan untuk kegiatan nongkrong di coffeshop pinggir jalan, beralaskan tanah, kadang kemproh bukan main. Orang-orang borjuis konon tak tahan dengan tempat menyedihkan macam itu.

Otokritik itu kian diperparah dengan kehadiran teknologi, bahkan di ranah kehidupan paling subtil. Pembaca tentu maklum, bahwa sekarang ini adalah saat-saat di mana teknologi makin berkuasa, sementara kapasitas hati dan pikiran mentok di itu-itu saja. Konsekuensi yang timbul dari sana ada pada konstelasi pergaulan tingkat remaja nanggung hingga remaja tahap akhir. Gampangnya akses virtual serta bejibunnya aplikasi online seakan mengubah perilaku mereka jadi mengamini sabda mashyur: mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Cangkruk turut jadi korbannya!

Mahasiswa-mahasiswa gaul itu membeli kopi bukan untuk cangkruk, tapi menghabisi waktu mereka untuk sebuah trivia: internet. Setelah mendapat meja/spot yang nyaman, lebih-lebih bila ada koneksi wifi tersambung, ritual itu akan segera dimulai: kepala saling tunduk pada ponsel masing-masing, jemari akan tumpang tindih dengan layar, dan mata jelalatan sana sini membaca teks. Oh, dan obrolan baru akan dimulai lima menit kemudian—saat pesanan datang.

Setelah tiga puluh menit membicarakan sesuatu yang penting—atau tidak sama sekali—ritual itu akan berulang. Kali ini akan ada yang dengan nekat membuka Mobile Legend mobile games, dengan suara tuing tuing yang bising. Bila obrolan menemui kebuntuan, ritus ini akan berlangsung hingga bermenit-menit kemudian, sampai cemilan habis di atas meja.

Begitulah…tidak pernah ada yang mengajari prosesi semacam itu, semua terjadi alamiah. Seolah publik benar-benar dibuat paham oleh para aplikasi itu, dibaptis menjadi jemaat yang tunduk pada aturan peribadatan online. Jelas saja, kebiasaan baru macam ini menyalahi ritual perkongkowan yang lebih dulu ada, duluuu sekali, saat Mbah Google kerjaannya cuma bantuin masyarakat cari-cari solusi.

Dengan pencapaian umat yang tiada tara itu, orang-orang hanya perlu duduk manis untuk bisa mendapat hiburan; pencerahan batiniah bagi jiwa-jiwa pekerja kayak kita ini. Anak-anak setingkat sekolah dasar sudah tak perlu lagi repot-repot keluar rumah saat menuju senja, membawa bola plastik bersama rekan sejawat, lalu membangun tiang gawang dengan sandal hasil rengekan ke mama. Aduh, untuk permainan norak bin kampungan semacam itu, rasanya sudah mulai tak menarik lagi. Isin pol.

Sssst, padahal penulis juga bagian dari jemaat virtual. Tabik.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Beberapa Masalah Super Penting dalam Hidup Kita 1 420

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Kurang lebih sebulan lalu, kita ditimpa musibah berupa ledakan bom yang terjadi di Surabaya. Berjenis-jenis analisis termuntahkan di atasnya. Mulai dari kecurigaan terhadap agenda politik sampai saling menyalahkan antar kelompok beragama. Sadarkah kita, bahwa diskusi tersebut menjauhkan substansi dari kandungan peristiwa yang sebenar-benarnya adalah masalah besar tentang kemanusiaan. Bukan sekadar agenda politik atau kesempatan menampakkan citra melalui modus belasungkawa.

Tidak lama setelah itu, kita dihebohkan kembali karena seorang penyanyi dangdut perempuan mendapat perlakuan tidak sopan dari seorang pemain sepak bola klub nasional. Menurut berita yang beredar, atlet tersebut meminta doi agar datang ke tempat peristirahatannya dengan pakaian serba terbuka. Tidak terima dengan permintaan itu karena merasa direndahkan, si penyanyi dangdut pun membagikan pengalamannya di media sosial sebagai bentuk pembelajaran bagi siapapun agar kelak lebih bersikap sopan pada orang yang baru dikenalnya.

Tidak juga berhenti sampai di situ, masalah ini menimbulkan pro-kontra. Ada yang mendukung reaksi penyanyi dangdut tersebut sebagai bentuk perlawanan kaum perempuan, ada yang tidak menerima karena dianggap terlalu berlebihan dan memang sewajarnya penyanyi dangdut mendapat perlakuan begitu.

Selanjutnya, kita berdebat tentang ‘aplikasi goblok’ berisi video-video aneh dari netijen. Banyak yang mengatakan bahwa generasi yang menghidupi aplikasi ini sudah kehilangan akal mencari hiburan, tidak seperti generasi lama yang membuat tawa tidak perlu pakai aplikasi atau kuota internet. Apalagi mengorbankan akal sehat. Tolong, semangat perdebatan antara kedua kelompok ini tidak bisa dipertemukan. Selera dan kebahagiaan sama-sama tak terukur.

Pernahkah kelompok yang membenci ‘aplikasi goblok’ itu berpikir, bahwa, para anak-anak kecil, dan remaja, yang membuat video kreatif di dalamnya sedang berusaha mengasah kemampuan mereka, sedang berusaha berkarya dalam bidang yang mereka sukai. Video-video mereka nyaris selalu mengundang tawa, dan proses produksinya membutuhkan niat serta kreatifitas tinggi. Hanya karena perbedaan selera humor, kalian merasa mampu menguasai apa-apa yang benar? Apa-apa yang lucu dan apa-apa yang menyedihkan? Tahan sebentar.

Terakhir. Belum lama ini, ya, belum lama ini, hilangnya sebuah foto di Instagram menandingi diskusi hilangnya aktivis ‘98 maupun para korban ‘65. Adalah bapak reformasi kita, Amien Rais, yang tetiba mendadak girly setelah mengetahui bahwa unggahan fotonya yang memerlihatkan kebersamaan beliau dengan sahabat Prabowo dan Rizieq hilang tanpa musabab. Sempat ada rencana jika peristiwa penghilangan paksa oleh Instagram ini akan didudukkan ke Mahkamah Internasional. Luar biasa.

Kita patut menyanjung daya kritis yang dimiliki oleh bapak Amien dan kawan-kawannya. Kecurigaan beliau pada penguasa tidak butuh diuji lagi. Sudah terbukti, beliau berhasil menjadi bagian dari sejarah tumbangnya Orde Baru. Dan hingga saat ini, beliau terus memerjuangkan cita-cita reformasi yang telah dititipkan padanya duapuluh tahun lalu. Sekali lagi, kita tetap perlu memuji konsistensinya dalam hal mencurigai kekuasaan, betapapun ganjilnya itu. Suatu kemampuan yang sukar ditemukan pada waktu sekarang.

Kita sudah kenyang dengan isu-isu trivia, bahkan untuk lebaran kesekian kalinya, semestinya kita sudah paham harus berbuat bagaimana, apalagi menjelang pilpres yang mengakibatkan arus propaganda semakin meruncing. Kita juga sudah bosan dengan isu-isu berbalut agama. Sudah saatnya kita mengistirahatkan semuanya. Rebahkan sebentar sikap politik kita, tidak peduli golongan kecebong atau golongan kampret. Pokoknya semua harus menikmati ketupat dengan tentram.

Antara seluruh peristiwa yang mengurai di sekitar kita, manakah yang paling berpengaruh terhadap cara berpikir kita? Adakah peristiwa yang menentukan nasib baik dan buruk kita kedepannya? Atau sebenarnya kita sudah tidak mampu membedakan, mana peristiwa yang memang perlu disikapi dengan serius dan mana peristiwa tak penting yang hanya perlu direspon sekadarnya saja? Atau kita sudah terbiasa berdebat karena kondisi-kondisi di atas terus menghantam kesabaran kita untuk bersuara, sehingga secara naluriah saja setiap munculnya fenomena, kita langsung saja menempatkan diri sebagai kelompok Pro/Kontra? Mbohlah.

Bagaimana Sebaiknya Kita Mengenang Minggu, 13 Mei 2018? 0 316

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Menentukan Bingkai Untuk Mencatat Sejarah

Hemat penulis, Minggu, 13 Mei 2018 kemungkinan besar akan melekat di ingatan warga Surabaya dan Indonesia. Mungkin juga kemudian akan diperingati dengan emosional dan mengharu-biru setiap tahunnya mulai dari sekarang. Mungkin pula dengan mengheningkan cipta, teatrikal atau entah akan seperti apa.

Mungkin saja.

Hanya kemudian, akan diingat dan diperingati sebagai apa dan bagaimana menjadi cukup penting untuk dijadikan bahan pikir. Apakah Minggu, 13 Mei 2018 akan diingat sebagai hari dimana Surabaya dan Indonesia diguncang bom teror tertubi-tubi, yang lantas membuat warganya takut dan terpecah belah?

Atau kemungkinan lain, dimana Minggu, 13 Mei 2018 akan diingat sebagai hari barisan kemanusiaan Surabaya dan Indonesia bersatu dan bangkit dalam semangat keberanian dan bersama mengecam kebiadaban terorisme?

Menurut penulis, ini adalah pilihan genting dan krusial untuk segera diambil. Mengapa? Karena penting untuk menentukan bagaimana cara kita mengingat Minggu 13 Mei 2018 oleh sebab, tentu ingatan itu akan berkorelasi langsung dengan sikap. Sikap yang nantinya akan menentukan seperti apa dan bagaimana kita ke depan. Sikap yang akan membentuk bagaimana sejarah tercatat.

Awal mulanya berakar dari ingatan yang kita bingkai hari ini. Kemudian, bagaimana sebaiknya kita membingkai ingatan itu?

Yang Terjadi Hari Itu

Menurut penulis ada beberapa hal yang bisa membantu kita menentukan pilihan itu, berangkat dari apa saja yang terjadi di Minggu pagi pukul 06.30 di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), GKI Diponegoro, dan GPPS Sawahan. Tiga bom bunuh diri meledak di tiga gereja itu. Bersusul-susulan dalam jeda tiga puluh menit. Korban meninggal tercatat 13 orang dan puluhan lain luka-luka.

Rombongan Presiden Joko Widodo bersama Kapolri Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Din Syamsuddin, Mahfud MD, dan Wiranto langsung terbang dari Jakarta dan meninjau gereja-gereja Surabaya yang diledakkan. Semuanya mengecam kebiadaban terorisme dan mengimbau agar masyarakat tidak takut. Didampingi pula Tri Rismaharini dan Soekarwo saat memberi pernyataan di RS Bhayangkara pada (13/5) sore.

Selang sehari, Kapolri Tito Karnavian memastikan ketiganya adalah lanjutan kasus kerusuhan di Mako Brimob, Jakarta yang selidik punya selidik berafiliasi pula dengan gerakan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid, pendukung utama ISIS di Indonesia.
Pelaku pengeboman adalah keluarga Dita Oepriarto dan Puji Kuswanti beserta empat orang anak mereka. Dita adalah ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya. Ia baru pulang dari Suriah, dan diketahui bertempat tinggal di Wonorejo Asri Blok K/22, Rungkut, Surabaya.
Hingga malam turun pukul 21.30, sebuah bom teror lain meledak di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Esok harinya, Senin 14 Mei 2018, kembali terjadi peledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya. Berselang beberapa saat, pecah baku tembak antara polisi dan komplotan teroris di kawasan Urang Agung dan Puri Maharani  Sidoarjo.

Soal kronologi yang lebih mendetail, pembaca tentulah sudah mahfum. Media apapun mengabari kita dengan breaking news yang terus-menerus. Penulis yakin, pembaca Kalikata pasti  mengikuti apa yang terjadi.

Lalu apa?

Soal Menentukan dan Membentuk Bingkai

Kembali pada tujuan tulisan ini, bagaimana kita membingkai segala rangkaian kejadian teror ini untuk kemudian kita ingat?

Tentu saja harus kembali dari apa yang terjadi pula di Minggu, 13 Mei 2018. Tidak hanya kekejian, tapi kemanusiaan pun tersaji begitu indah dan mengharukan kemarin. Membantu kita menentukan bingkai sejarah, dan membentuk ingatan yang harus dirawat.

Karena perlu kita ingat, selain para pelaku pengeboman, keberadaan pahlawan-pahlawan kemanusiaan yang juga gugur kemarin adalah antitesis, tandingan dari kebengisan teroris. Mereka tidak boleh sekalipun dilupakan. Aloysius Bayu dan Yesaya Bayang, dua sosok pahlawan kemanusiaan yang bisa membantu kita mengingat Minggu, 13 Mei 2018 dalam bingkai yang heroik dan kental nuansa humanisme. Keduanya wafat saat pasang badan menghadang pelaku pengeboman, lantas ikut meledak.

Mati syahid mereka adalah bukti, manusia dapat menjadi perisai -bahkan dalam artian harfiah- bagi sesamanya. Kemanusiaan tidak sirna. Kematian mereka pun bukan hanya berbuah kegagalan teroris meledakkan bom di dalam gedung gereja. Pun lebih dari keselamatan jemaat yang masih di dalam gereja saat itu. Heroisme Aloysius Bayu dan Yesaya Bayang, laksana bara semangat kemanusiaan yang membakar semua yang hidup dan terinspirasi oleh kisah mereka berdua. Menguatkan kita yang takut dan hampir paranoid.

Juga perlu disoroti solidaritas warga Surabaya yang atas inisiatif sendiri, berbondong-bondong mendatangi kantor PMI untuk donor darah. Dikabarkan antrean mengular panjang sejak pagi, sebanyak 600 lebih orang bersimpati segera setelah gereja-gereja meledak. Mereka datang tentu dengan satu harapan, agar darahnya bisa mengaliri nadi korban dan menyelamatkan sesama. Menyambung hidup mereka yang hampir dicerabut oleh bahan peledak dan jihad yang salah kaprah.

Tak lupa juga dukungan moril dan doa di sosial media, pun dengan tagar #SuroboyoWani, #Kamitidaktakut, dan #TerorisJancok yang digunakan untuk menciptakan konsolidasi rasa.

Kemarin, tidak seorang pun dibiarkan menghadapi kekacauan ini sendirian. Seluruh warga Surabaya dan Indonesia ada untuk saling menguatkan dan mendukung. Esensi kesatuan tercipta, pun keberanian bangkit untuk bersama melawan terorisme yang berani-beraninya menginjakkan kaki di Surabaya. Atmosfir kebersamaannya begitu terasa, bahkan cukup kuat untuk menenangkan hati yang ketar-ketir karena kabar bom yang terus ditemukan.

Simpati yang mengalir pun tidak henti-hentinya. Doa-doa dilantunkan, elemen-elemen masyarakat dan mahasiswa berkumpul dalam aksi solidaritas dan doa bersama di Tugu Pahlawan. Juga jauh-jauh dari Vatikan. Paus Fransiskus mengajak seluruh umat Katolik sedunia mendoakan dan bersimpati pada Surabaya. Dukungan dam doa datang bahkan dari yang jauh sekalipun. Begitulah kemanusiaan bekerja. Begitulah seharusnya ketika manusia menjadi manusia.

Lalu Akhirnya..

Sampai di sini, sudahkah Pembaca menentukan bingkai apa yang sebaiknya digunakan? Ingatan macam apa yang harus dirawat dan dijaga? Juga sikap apa yang harus ditumbuh-kembangkan pasca Minggu, 13 Mei 2018?

Pembaca, semoga kita selalu memilih kemanusiaan

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Berminat pada isu-isu keperempuanan dan gender.

Editor Picks