Cangkruk Mahasiswa adalah Cangkruknya Borjuis! 0 1491

Indonesia mungkin masih tegak berdiri karena dihidupi oleh warung dan cangkruk. Nama-nama legendaris warung Jawa Timuran macam Giras, Selir, warung pangku, dan sejenisnya tentu tak asing lagi.

Dalam masyarakat Jawa, kegiatan berkumpul dan mengobrol ditambah cemilan-kopi, lumrah disebut cangkruk. Biasanya mengambil tempat di warung kopi (Setarbak bukan termasuk warung dan bukan termasuk kopi, ia gaya hidup!), pada waktu-waktu selepas kerja, atau saat pasca arisan atau pengajian, atau mungkin ketika meronda. Cangkruk adalah aktivitas menghabiskan waktu dengan mendiskusikan sesuatu yang penting dan tak penting, bahkan merencanakan pergerakan suatu hajatan.

Istilah ini mulanya dikenal di kalangan masyarakat pedesaan, meski secara tak disangka akhirnya pun merambat di kalangan urban. Warung kopi dan angkringan menjamur, menyamai laju para pekerja yang tumbuh di kota. Warung adalah tempat sampah penumpahan penat bagi umat yang tak kebagian tiket hidup enak di apartemen.

Jangan tanya apa yang terjadi di lingkungan kampus: cangkruk menjadi sebuah keniscayaan dan agama baru. Mahasiswa rasanya tak afdol, belum terpenuhi rukunnya, bila belum pernah melakukan cangkruk barang sekalipun dalam hidupnya. Sebab pada kegiatan itulah, orang bisa membahas apapun; dari urusan akademik, pergerakan hingga cinta—sementara kuliah mulai membikin jemu dan tak membangkitkan gairah.

Masing-masing kalangan menerjemahkan konsep cangkruk secara berbeda. Mahasiswa, seringkali memanfaatkan cangkruk sebagai medium pembentukan gagasan—yang kadang berakhir dengan pergerakan, atau tidak sama sekali. Kaum pekerja, membangun loyalitas matang pada warung-warung kopi, agar bisa ngebon lagi sebab pekerjaan sehari-hari sudah lebih dari melelahkan. Bisa juga, mereka memulai pergerakan dari sana, menuntut hak-hak tertunda—yaaa sekedar mengamankan perut.

Jika Jürgen Habermas, salah seorang teoris komunikasi dengan konsep tindakan komunikatif menangkap gejala coffeeshop di Eropa sebagai ruang obrolan orang-orang borjuis, maka fenomena cangkruk tak lain adalah kritik atasnya. Cangkruk didefinisikan menjadi ruang diskusi bagi orang-orang kelas menengah ke bawah, sebagai instrumen untuk menampung komentar mereka atas hidup yang pelik. Bisa jadi, cita-cita ruang publik Habermas terwujud melalui kegiatan itu, tanpa ada intervensi kepentingan terhadap obrolan yang terlintas di sana-sini. Ia menjadi kegiatan sakral yang turun temurun.

 

Gerak Tunduk

Tapi tidak juga. Cangkruk rupanya makin menyekat masyarakat ke kalangan tertentu saja. Bagi kalangan atas, istilah norak itu diartikulasikan untuk kegiatan nongkrong di coffeshop pinggir jalan, beralaskan tanah, kadang kemproh bukan main. Orang-orang borjuis konon tak tahan dengan tempat menyedihkan macam itu.

Otokritik itu kian diperparah dengan kehadiran teknologi, bahkan di ranah kehidupan paling subtil. Pembaca tentu maklum, bahwa sekarang ini adalah saat-saat di mana teknologi makin berkuasa, sementara kapasitas hati dan pikiran mentok di itu-itu saja. Konsekuensi yang timbul dari sana ada pada konstelasi pergaulan tingkat remaja nanggung hingga remaja tahap akhir. Gampangnya akses virtual serta bejibunnya aplikasi online seakan mengubah perilaku mereka jadi mengamini sabda mashyur: mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Cangkruk turut jadi korbannya!

Mahasiswa-mahasiswa gaul itu membeli kopi bukan untuk cangkruk, tapi menghabisi waktu mereka untuk sebuah trivia: internet. Setelah mendapat meja/spot yang nyaman, lebih-lebih bila ada koneksi wifi tersambung, ritual itu akan segera dimulai: kepala saling tunduk pada ponsel masing-masing, jemari akan tumpang tindih dengan layar, dan mata jelalatan sana sini membaca teks. Oh, dan obrolan baru akan dimulai lima menit kemudian—saat pesanan datang.

Setelah tiga puluh menit membicarakan sesuatu yang penting—atau tidak sama sekali—ritual itu akan berulang. Kali ini akan ada yang dengan nekat membuka Mobile Legend mobile games, dengan suara tuing tuing yang bising. Bila obrolan menemui kebuntuan, ritus ini akan berlangsung hingga bermenit-menit kemudian, sampai cemilan habis di atas meja.

Begitulah…tidak pernah ada yang mengajari prosesi semacam itu, semua terjadi alamiah. Seolah publik benar-benar dibuat paham oleh para aplikasi itu, dibaptis menjadi jemaat yang tunduk pada aturan peribadatan online. Jelas saja, kebiasaan baru macam ini menyalahi ritual perkongkowan yang lebih dulu ada, duluuu sekali, saat Mbah Google kerjaannya cuma bantuin masyarakat cari-cari solusi.

Dengan pencapaian umat yang tiada tara itu, orang-orang hanya perlu duduk manis untuk bisa mendapat hiburan; pencerahan batiniah bagi jiwa-jiwa pekerja kayak kita ini. Anak-anak setingkat sekolah dasar sudah tak perlu lagi repot-repot keluar rumah saat menuju senja, membawa bola plastik bersama rekan sejawat, lalu membangun tiang gawang dengan sandal hasil rengekan ke mama. Aduh, untuk permainan norak bin kampungan semacam itu, rasanya sudah mulai tak menarik lagi. Isin pol.

Sssst, padahal penulis juga bagian dari jemaat virtual. Tabik.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Analisis Sok Serius Atas Mahasiswa dan Panduan Memahami Selebaran Tadi Pagi 0 300

Sebuah selebaran mampir di tanganku, diantar seorang lelaki muda dengan mata berbinar.

“Dibaca, Mas!”

Sebetulnya itu basa-basi saja, tapi mungkin lelaki ini agak meragukan tampang-tampang tipikal yang dikira masa bodoh dan mempersetankan selebaran macam begini. Tentu saja ia salah, meskipun agak sedikit benar pada bagian ‘bodoh’ dan ‘setan’.

Kulirik agak setengah hati selebaran yang masih hangat dan licin dari fotokopian itu. Tulisannya hitam, tebal, dan besar:

QUO VADIS MAHASISWA?

Saya pastikan sekali lagi untuk tidak keliru membaca. Ini penting, pembaca yang budiman, sebab orang macam apa hari ini yang masih: 1) mempertanyakan mahasiswa; dan 2) menganggap mahasiswa ada?!

Bukankah sudah sedemikian jelas dan telanjang bahwa tak ada lagi itu mahasiswa, kecuali jika merujuk kumpulan manusia yang hilir-mudik di gedung itu-itu saja? Orang-orang ini uniknya bukan main. Mereka tahan dalam kepura-puraan, menghidupi rutinitas yang mereka sendiri tak mengerti betul untuk apa, dan menuntut banyak sekali hal—terlalu banyak bahkan—yang amat lacur.

Jadi aku tak tahu apa maksudnya pertanyaan besar dalam selebaran itu.

Lebih-lebih ketika penulisnya menerapkan kaidah satir, yang menyindir-nyindir dan menipu pembacanya seolah-olah sang penulis beraksi serius. (Atau justru ia memang berlagak serius?) Masih relevankah mencoba menggali ulang dan mengais jawaban yang tersisa dari misteri itu pada masa sekarang—masa tatkala senja mendarat cepat di kepala kelompok-kelompok ingusan yang hobi liburan dan jajan? Pada mereka yang ‘rupamu ketulung gadget-mu’?

Atau sebetulnya ada yang tak kutahu dari mereka? Atau sebetulnya ada argumentasi yang dapat diandalkan untuk membela diri? Yaa… misalnya, bahwa hobi liburan harus dikerjakan demi membahagiakan mama yang terus-menerus cerewet di rumah. Kalau bukan, ya demi merawat hubungan romantik dengan pacar di zaman postmodern yang penuh instabilitas ini. Begitu?

Kau tahu kan, di mana letak kelompok ini ketika sejarah konflik politik makin mengeras dan beringas seperti sekarang? Di mana mereka sewaktu tempatnya belajar disergap banyak nian jebakan kapitalisme pendidikan? Atau di mana mereka ketika nyaris semua data-data pembangunan menggilas orang-orang yang terpinggir dan dipinggirkan?

Laki-laki muda bertas selempang itu masih berdiri membagi-bagikan selebaran, berjarak barang selemparan batu saja dari tempatku terduduk. Matanya masih berbinar tapi suaranya pelan, seperti berada di persimpangan antara semangat dan keputusasaan.

Sore lekas mengepung kampus yang tampak murung itu. Dan di sana aku berhenti membaca kalimat-kalimat berikutnya, yang bisa kutebak isi dan arahnya. Kulipat selebarannya dan meluncurlah ia ke saku. Suatu hari akan kukeluarkan kembali, ketika ruh mereka yang telah lama minggat sudah balik lagi.

Solusi untuk Kekecewaan Netijen atas Debat Pilpres 2019 0 298

Tak perlulah menunggu 24 jam berlalu untuk menyimpulkan ketidakpuasan khalayak masyarakat Endonesa dengan jalannya Debat Capres-Cawapres 2019 seri pertama tempo hari. Wong belum dimulai saja netijen sudah berebut saling menuduh kok! (Persis seperti performa kedua paslon di panggung debat kemarin.)

Indikator ‘mboseni’ jadi tajuk utama pidato-pidato tertulis rakyat dunia maya di kanal media sosial masing-masing. Maka, tidak heran jika para moderator debat kini kudu banget menyapa mereka dengan sebutan ‘warganet’ secara spesifik. Sebab, nonton netijen tonjok-tonjokan via live chat bisa jadi lebih seru ketimbang debat berkisi-kisi kemarin.

Penulis mengamati lalu lintas online dan menemukan minimal tiga tipe penonton debat Endonesa. Satu, warganet fanatik. Tipe ini bersorak kapan saja paslon dukungannya berbicara. Tidak peduli omongan bodoh kekanakan atau tidak, mereka merayakan argumen paslon tersebut dan mendiskreditkan argumen paslon lawan, meskipun kadang-kadang sing diomong sakjane podho intine.

Dua, warganet semi-teredukasi. Ini adalah golongan unik yang punya kesantunan cukup dan kesadaran mumpuni bahwa sebenarnya kedua paslon pancene podho wae. Meski demikian, spesies satu ini umumya sudah menetapkan jagoan pribadinya dan hanya menonton debat untuk mengonfirmasi bahwa pilihannya sudah tepat. Kemampuan mereka untuk nyelimur  tidak diragukan di kala paslon jagoannya kelihatan nggak menguasai topik. Caranya, mencari cocokologi supaya bisa membela paslonnya di hadapan warganet kubu satunya.

Tiga, warganet super-teredukasi. Nama lain golongan ini adalah golongan plegmatis-utopis. Didominasi oleh mereka yang doyan banget nonton tontonan luar negeri, golongan ini gemar sekali memuja dan mengonsumsi apa-apa yang dari luar Indonesia—biasa, dengan merujuk negara-negara “maju” saja—dan memicingkan mata untuk persoalan-persoalan genting di negaranya sendiri. Boro-boro mencari tahu dan mengomparasi keabsahan data argumen para paslon, umumnya ketertarikan politik mereka berhenti seraya mengucap kalimat, “Tuh kan. Ya gini ini Indonesia, politiknya kotor. Capres nggak ada yang bener. Mending gue tinggal di negara XXX daripada disalahin karena golput.

Padahal, dengan mayoritas kaum milenial-belum-cukup-dewasa, tipe terakhir ini cukup banyak jumlahnya. Sumbangan suaranya tidak bisa dianggap kecil, apalagi sumbangan partisipasi politiknya di masa depan. Sungguh eman bahwa justru tipe inilah yang memiliki keberjarakan paling lebar dengan persoalan politik dan hukum Indonesia.

Tapi di sisi lain, mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan juga. Dari debat kemarin saja, kedua paslon terang-terangan kalah telak untuk mengelaborasi visi-misi mereka secara konseptual dan rinci seperti yang dilakukan Nurhadi-Aldo, hehe. Alhasil, performa kedua pasangan bukan hanya mengecewakan bagi mereka yang teredukasi secara politik, melainkan juga para pendukung, tim sukses, dan tim kampanye masing-masing.

Penulis juga paham, andaikata memang kedua paslon tampil all out dan argumennya “saling terkam”, bisa-bisa bacok-bacokan kedua kubu jadi lebih panas. Skak mat emang jadi capres-cawapres 2019 – yang senantiasa harus diingatkan lagi dan lagi untuk kampanye damai.

 

Ya Sudah Begini Saja

Di tahun 2016 lalu, penulis menemukan fenomena internet yang lucu bin ajaib, unik bin geli, sekaligus mampu jadi solusi mujarab. Ditemukan di sebuah dimensi yang biasa dieksplorasi warganet super-teredukasi, penulis menyimpulkan bahwa ini pastilah sesuatu yang bisa banget menarik hati (dan suara) para netijen plegmatis-utopis. Temuan ini berjudul “Anies x Sandi Fanfiction”, sebuah naskah bromance.

Sebagian pembaca mungkin sudah familiar dengan istilah ini, namun sebagian lain mungkin tidak. Bromance, atau yang merupakan singkatan dari brother dan romance, adalah sebuah genre kultur populer yang merayakan dan mengomersilkan kemesraan antara lelaki dengan lelaki lainnya.

Bukti-bukti nyata lain dari keberadaan fenomena ini adalah berkembangnya fanfiction atau fiksi fantasi di situs-situs online penggemar. Mulai dari tayangan televisi, anime, grup idola, hingga selebriti, para fans ini memasang-masangkan dua atau lebih tokoh laki-laki dalam satu cerita, umumnya dengan tema asmara. Skalanya sangat lebar, mulai dari cinta vanila hingga hardcore romance, yang tentunya demi kepuasan fantasi para penggemar semata.

Bukti selanjutnya adalah membludaknya video bromance moments yang mengompilasikan momen-momen kedekatan selebriti laki-laki K-Pop di Yutub. Mulai dari yang rangkul-rangkulan sampai yang—yah apa aja ada lah ya. Video-video tersebut ditonton ratusan ribu bahkan jutaan orang, dengan kolom komentar didominasi pujian dan ekspresi gemes. Berani taruhan, nyaris separuh dari total penonton itu adalah fans dari Indonesia, yang hobi cekikikan di atas kasur tengah malam menyaksikan para idolanya bertingkah mesra satu sama lain.

Mungkin di sinilah keunggulan Sandi-Prabowo dibanding Jokowi-Ma’ruf. Segelintir rakjat berhasil dibuat jerit-jerit dengan aksi mesra mereka kemarin, lengkap dengan setelan jas necis ala oppa-oppa kaya dari drama Korea. Sepertinya, salah satu alasan keberadaan sejumlah fiksi fan macam ‘Anies x Sandi’ adalah karena Sandiaga Uno memang orang yang boyfriend goal bingits. Lihat saja, dengan pasangan barunya—ehem—Sandi bahkan berani pijet-pijetan di depan umum! Apalagi setelah Prabowo mencuit kalau doi bisa tidur nyenyak setelahnya… Kyah! Mana bisa otak-otak fangirl tidak berfantasi?!

Begini lho maksudnya. Janganlah hal-hal seperti bromance ini lalu dilihat sebagai penistaan budaya bangsa, apalagi degradasi moral para milenial, sebagaimana kerap diujar para orang tua (dan polisi moral). Lihatlah ini sebagai sebuah ekspresi kedekatan antara satu pribadi dengan pribadi lain. Lihatlah ini sebagai sebuah cara baru saling mencintai dan mengapresiasi sesama manusia, yang sesuai dengan cita-cita bangsa untuk hidup rukun tanpa banyak masalah.

Bromance, sebagai ekspresi baru cinta dan kedamaian, juga bisa jadi jalan tengah bagi persoalan capres-cawapres 2019 saat ini. Tim kampanye yang buntu jalan bisa banget mengeksplorasi cara ini untuk mem-branding paslonnya. Siapa sih, yang nggak suka menyaksikan dua orang yang berkomitmen menggenggam negara selama bertahun-tahun bisa dekat dan mesra satu sama lain? Sama seperti sejoli yang cubit-cubitan, dorong-dorongan, rangkul-rangkulan, sambil memandang mata satu sama lain dengan senyum mengembang.

Minimal, bromance ini seenggaknya bisa lah menarik mata dan hati dan suara tipe warganet ketiga tadi. Lumayan kan untuk memerbaiki image paslon pasca-debat pertama dan mencairkan ketegangan hari-hari ini? Sudah menarik, kyuti, damai pula. Komplit!

Editor Picks