Cerita Saya (Generasi Akad) Menonton Konser Payung Teduh: ‘Akad’ 0 1311

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Apa yang perlu dijelaskan ketika warung, mal, toko buku, kampus, kantin, apotek, pegadaian, secara rukun memutar lagu berjudul Akad kepunyaan Payung Teduh itu hingga memonopoli alam bawah sadar calon penerus bangsa – memantik perasaan jomblo – penanti kepastian?

Sekarang coba lah duduk untuk sekedar melakukan eksperimen yang memungkinkan sampeyan bisa dengan mudah mendengar lagu Akad. Yakni dengan mencari tempat dimana tempat tersebut diisi oleh para remaja (karena kata pemuda hanya untuk pejoeang). Niscaya akan terdengar lagu Akad – Setidaknya cara ini bisa membantu saya menjelaskan sedikit banyak tentang Generasi Akad.

Jadi begini

 Ceritanya dimulai ketika saya mau nonton konser Payung Teduh yang sepanggung dengan Stars and Rabbit. Kolaborasi sempurna jika dinilai dari perspektif musik apalagi ini menjadi penampakan dari kemajuan musik indie-lokal kita. Setelah sekian lama pasrah mendengar kangen band, dan lebih ekstrem lagi, sampai tahap mengadaptasi gaya berpenampilan vokalisnya: dari rambut sampai sandal.

Acara tersebut berlangsung di Sutos (Surabaya Town Square), sabtu malam – seminggu sebelum tanggal 30 September yang penuh curiga. Bagi sampeyan yang belum mengerti Sutos itu tempat macam apa, tenang, akan saya beri gambaran sederhana dengan tetap menjaga tutur dan kode etik jurnalistik.

Sutos adalah salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya. Sebagai pemuas sifat konsumtif masyarakat Surabaya, tentunya adalah tugas bagi Sutos untuk menyediakan berbagai barang yang diinginkan masyarakat: dari yang tidak enak tapi mahal hingga yang murah tapi nakal. Sutos tidak pernah menutup diri apabila ada pihak yang ingin bekerjasama untuk menggelar acara di tempatnya. Dan termasuk acara konser musik.

Nah! Saat itu saya telah bersiap sejak ba’da maghrib untuk meluncur ke tkp. Mengantisipasi kemacetan dan pokoknya menghindari kemungkinan terburuk. Jarak dari sarang saya ke Sutos kira-kira 1 jam. Itu pun kalau tidak macet dan ada yang mau mengalah untuk berjalan kaki di trotoar, atau setidaknya jangan pakai mobil kalau penumpangnya cuma 1. Cok!

Eh, ternyata, prediksi saya mbeleset dan agenda orang-orang yang niatnya sama seperti saya sudah 9 langkah lebih depan di pintu Sutos. Ramainya penonton Payung Teduh – Stars & Rabbit mengalahkan jumlah penonton film horor G30S di Makorem Suryakencana Bogor.

Kalau saya yang jadi panitia nobar film horor itu, saya hadirkan Payung Teduh menjadi bintang tamu. Dan remaja yang mulanya tidak berani nonton, terpaksa bersabar sembari menunggu lagu kebangsaan mereka: Akad. Tapi maklum lah, pasti panitia ini gak mampu berpikir secerdas saya.

Sebagai penggemar yang hakiki, saya berusaha untuk tidak menyerah hanya karena merasa tak sanggup berada di tengah keramaian penonton lain atau mundur karena mal adalah tempat haram bagi mahasiswa yang sudah selesai membaca marxis. Saya parkir motor agak jauh dari Sutos karena sudah tidak memungkinkan lagi untuk parkir di tempat yang mereka sediakan. Akhirnya saya mengikhlaskan diri berjalan kaki di trotoar (setiap langkah terhitung pahala).

Dan sampeyan tahu bagaimana raut wajah pengendara mobil yang sedang terjebak kemacetan di depan sana? Khususnya yang cuma nyetir sendiri tanpa ditemani orang di dalamnya (itu pasti jomblo yang sengaja bawa mobil buat mancing calon gebetan)? Mereka marah-marah! Ajaib! Mereka yang berkontribusi atas persoalan ini lho kok malah emosi. Mereka membiarkan diri untuk dicatat menjadi bagian persoalan sejarah. Na’udzubillahimindzalik.

Tidak sampai di situ, ketika saya masuk ke pintu sutos, saya melihat kerumunan remaja yang seenak endasnya saling sapa dan mengobrol hingga menambah kemacetan padahal mereka tahu kalau tempat mereka diam berdiri itu arus keluar/masuk pengunjung. Seandainya bang Is dan neng Elda Suryani membaca tulisan saya ini, mereka akan tahu alasan saya mengapa memutuskan kembali ke sarang dan tidak jadi menonton.

Alhasil, saya cuma bisa melihat rekaman singkat yang dibagikan teman-teman kampus di media sosial. Betapa beruntungnya mereka yang mendapat posisi terdepan. Saya pulang dengan kekecewaan atas diri saya yang tidak yakin, tidak usaha, dan tidak sampai ini. Tetapi saya coba bertanya dalam hati dan memandang dari sisi moderat: apakah sebenarnya saya beruntung karena tidak terjebak di dalam pancingan kapitalis itu? Kalau saya masuk berarti ada kemungkinan saya lapar dan harus makan di sana. Lha, kan di sana makanannya enggak enak tapi mahal. Sekalinya murah, tapi nakal. Yasudahlah…

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagi Mereka, Antirasisme Tak Lebih dari Sekadar Konten 0 157

George Floyd, pria berkulit hitam yang meninggal karena lehernya ditindih kaki petugas pulisi berkulit putih Minneapolis, AS menimbulkan gelombang protes. Bahkan ribuan warga AS teramasuk selebritis sudah bodo amat dengan korona dan ‘stay at home.

Mereka turun ke jalan untuk memprotes diskriminasi terhadap warga berkulit hitam dan menuntut  pemerintah agar pelaku pembunuhan segera diadili. Di media sosial juga ramai postingan penuh empati yang dibungkus amarah warga net mengenai kasus yang tak kunjung menemukan titik cerah itu.

Louis Vuitton sebagai merek legendaris pun terkena bola api amarah netizen karena marketing masif tas terbarunya ‘Pont 9’. Merek asal Paris ini membayar sejumlah artis dan fashion influencer di seluruh dunia untuk promosi di Instagram.

Namun, tak ada postingan yang menunjukkan empati mereka terhadap isu rasisme yang sedang panas itu. Alhasil, merek high-end ini pun dikecam netizen dan pesohor seperti Emily Ratajkowski karena dinilai tak peka dengan isu sosial. Tak hanya dikecam, pada 31 Mei lalu, butik Louis Vuitton di Oregon dijarah oleh massa.

Tak mau menjadi sasaran amukan massa, merek-merek lain akhirnya memposting foto prihatin terhadap kasus ini dan menyuarakan antirasisme. Diawali dari Versace, lalu dilanjut oleh Dior, Alexander McQueen, dan merek-merek beken lainnya.

Dari observasi kecil-kecilan saya, hingga saat ini, hanya Louis Vuitton yang masih bersih dari postingan antirasisme. Ya sudah, terserah dia.

Saya mengira masalah sudah beres. Ternyata, kasus Louis Vuitton hanyalah appetizer dari masalah empati dan antirasisme yang ada di dunia yang fana ini. Seperti yang tertulis di lirik lagu penyanyi indie terpopuler se-Indonesia, Kekeyi, “ucapanmu manis di bibir saja”, pun juga dengan kampanye antirasisme dari selebgram dan merek-merek kedagingan ini. Rupanya, postingan mereka sebatas wacana yang tidak dipraktikkan di dunia nyata.

Celine, merek asal Perancis ini memposting foto bahwa ia mengecam segala bentuk diskriminasi. Ia juga menuliskan di kepsyen “#BLACKLIVESMATTER” sebagai cherry on top.

Postingan ini diprotes oleh seorang fashion stylist, Jason Bolden. Hal ini dikarenakan Heidi Slimane, sang creative director, enggan mendandani seebritis berkulit hitam, kecuali stylist mereka berkulit putih.

Merek di bawah naungan LVMH ini selalu – semenjak kursi creative director diduduki oleh Heidi Slimane – memiliki jumlah model berkulit hitam di setiap shownya. Pada koleksi musim gugur 2020 misalnya, hanya ada 10 model berkulit hitam dari 111 model (9 persen). Sosok model berkulit hitam sangat jarang ditemui di feed Instagramnya.

Selanjutnya, ada kasus dari L’oréal . Merek mek-ap ini mengunggah foto di Instagram dan twit di Twitter yang intinya melawan segala bentuk diskriminasi warna kulit. Munroe Bergdorf, seorang model berkulit hitam, sontak memberikan tanggapan sinis kepada L’oréal. Rupanya, iapernah didapuk sebagai modelnya pada 2017. Sayangnya, ia dipecat usai menyuarakan protes terhadap white supremacy di Facebook.

Zimmermann, merek pakaian bergaya bohemian ini masuk ke dalam daftar pihak-pihak yang cari aman usai kasus Louis Vuitton. Sama dengan kasus-kasus di atas, merek asal Sydney ini mengatakan bahwa intinya ia berkomitmen untuk melawan praktik-praktik diskriminasi.

Namun, mereka-mereka yang pernah bekerja dan magang di sana angkat bicara. Mereka mengatakan bahwa pekerja kulit hitam kerap kali mendapat diskriminasi dan sering dipojokkan. Tak hanya itu, Zimmermann juga menerapkan beauty standard perempuan berkulit putih Eropa.

Lalu Kris Schitzel, selebgram Rusia yang berfoto di tengah pendemo sambil membawa tulisan “BLACK LIVES MATTER”.  Ia menerima hujatan usai video behind the scene “pemotretan” untuk foto tersebut beredar. Terlihat ia menata pose sedemikian rupa sambil membenarkan gaunnya.

Memang tak seniat video Brojabro dengan sayap Victoria’s Secret-nya saat aksi unjuk rasa mahasiswa di Surabaya silam, namun video tersebut sudah dapat membuat kita menyimpulkan bahwa ternyata gerakan yang ia lakukan tak lebih dari kebutuhan produksi konten di medsos.

Last but not least, kasus yang menyeret perempuan paling berpengaruh di dunia fashion saat ini, Anna Wintour. Vogue AS, majalah ternama yang dikepalai oleh Wintour ini di media sosialnya aktif  menyuarakan Black Lives Matter. Namun, pada Rabu (10/6) lalu, wanita yang mendapat julukan “Nuclear Wintour” ini meminta maaf atas minimnya kesempatan bekerja bagi orang berkulit hitam di kantornya.

Pernyataan tersebut membuat beberapa mantan pekerja berkulit hitam di Vogue angkat bicara di Twitter. Mereka mengungkapkan perlakuan tidak menyenangkan dari Wintour dan pekerja lain. Mulai dari di-bully, hingga gaji yang lebih sedikit harus mereka telan selama bekerja di majalah yang dijuluki fashion bible tersebut.

Miris sekali ya, ketika empati kita sangat dibutuhkan di masa ini, ternyata hanya dijadikan konten guna menaikkan citra mereka, biar seakan-akan peduli dengan isu rasisme. Tuntutan netijen yang begitu besar untuk menampilkan konten empati, malah membuat sejumlah pihak menganggapnya sebagai formalitas belaka.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Renungan Seonggok Pemuja Online Shop 0 73

Sudah hampir 3 bulan kita dihajar kampanye urban yang telah menjadi gaya hidup: #dirumahaja. Walau sebentar kita tak perlu merasa terkurung lagi, tatanan kehidupan yang baru hampir terbentuk dari babak hidup kemarin.

Semua aktivitas lantas dilakukan dari tempat ternyaman, entah sofa atau bahkan tempat tidur, termasuk belanja online.

Mau ke supermarket sebenarnya bisa sih. Toh supermarket dan pasar adalah salah satu ragam bisnis yang senantiasa terkecualikan dengan boleh tetap bernapas, demi mengisi logistik masyarakat.

Tapi sebagian dari kita yang tidak termakan teori konspirasi JRX percaya virus corona ada, menjadi was-was dan meminimalisir kegiatan keluar rumah, sekalipun sekadar untuk berbelanja.  Sebisa mungkin di rumah, menghindari kerumunan, memenuhi bujukan anjuran pemerintah. Beraktivitas di luar rumah menjadi suatu kegiatan yang bahkan mulai terasa asing.

Kita patut bersyukur, bahwa sebelum corona memutuskan untuk mengusik kehidupan kita, teknologi market place sudah berkembang sedemikian rupa. Peluangnya bahkan makin merambah di situasi seperti sekarang ini.

Semua-semua saja dibeli online. Mulai dari susu hingga pisau dapur, dari sayur-mayur hingga cairan pewangi pakaian, kaos kaki impor Cina atau HP hasil pasar gelap, semua dimungkinkan hanya dengan sentuhan jari di gawai.

Bahkan kata teman-teman saya, selama menikmati PSBB di rumah, membuka aplikasi online shop sudah jadi habitus baru yang tak terhindarkan. Ajaibnya, online shop kini berkembang fungsinya, sampai-sampai ikut jadi pereda kebosanan. Ia menjadi obat mujarab atas panas nan jenuhnya hati atau menghindarkan diri dari potensi termakan hoax di grup WhatsApp keluarga.

Namun, ada akibat fatal yang tak kuasa kita taklukkan. Kita tak bisa hanya sekadar “cuci mata” di aplikasi belanja online. Kita susah untuk menolak check out habis keranjang belanja virtual tanpa ampun. Kalau sudah begini, online shop berubah wajah. Justru ialah musuh bebuyutan dompet tipismu.

Pun online shop menghantar kita pada berbagai belahan dan jurang pengalaman. Kadang membeli barang yang mungkin gak terlalu berdayaguna, hanya karena promo dan kode voucher, yang setelah dibeli dan dibayar malah menyesal. Persis kayak habis putus, lalu pengen balikan karena mantan tiba-tiba jadi lebih cakep setelah putus.

Tren online shop sudah merasuk sejak beberapa tahun ke belakang, tapi popularitasnya melonjak dan bahkan menjadi adikuasa yang padanya kita makin menghamba.

Ia hanyalah substitusi emol-emol dan café dengan menu-menu dengan bahasa enggresan ndakik-ndakik. Menggeser rejeki dari mbak-mbak SPG dan mas-mas barista, ke para kurir dan mamang-mamang packaging paket. Merekalah yang memastikan belanjaan kita sampai persis di depan pintu rumah.

Online shop adalah pemain pengganti, dari perasaan tak sabar menunggu antrian kasir di toko, ke perasaan dag-dig-dug tak sabar menunggu teriakan “paket” di depan gerbang rumah.

Begitu pula dengan penggunaan e-wallet dan m-banking yang tersedia di platform e-commerce, yang membuat jasa penukar uang pinggiran jalan gigit jari, teknisi IT start-up digital pesta pora, serta mahasiswa informatika kini jadi kandidat calon mantu idaman, menggantikan dokter yang semakin gak bisa ketemu keluarganya di masa sekarang.

Mungkin ini yang dinamakan “new normal”, sebuah istilah yang sudah sangat lacur penggunaannya dalam konversesyen tiap harinya. Kebaruan yang dianggap normal. Namun juga kenormalan lama yang dibuatkan bentuk barunya. Kebiasaan baru rakjat untuk berbelanja, dan segala lika-liku di baliknya, jadi salah satu bab tak terelakkan di dalamnya.

Editor Picks