Cerita Saya (Generasi Akad) Menonton Konser Payung Teduh: ‘Akad

Apa yang perlu dijelaskan ketika warung, mal, toko buku, kampus, kantin, apotek, pegadaian, secara rukun memutar lagu berjudul Akad kepunyaan Payung Teduh itu hingga memonopoli alam bawah sadar calon penerus bangsa – memantik perasaan jomblo – penanti kepastian?

Sekarang coba lah duduk untuk sekedar melakukan eksperimen yang memungkinkan sampeyan bisa dengan mudah mendengar lagu Akad. Yakni dengan mencari tempat dimana tempat tersebut diisi oleh para remaja (karena kata pemuda hanya untuk pejoeang). Niscaya akan terdengar lagu Akad – Setidaknya cara ini bisa membantu saya menjelaskan sedikit banyak tentang Generasi Akad.

Jadi begini

 Ceritanya dimulai ketika saya mau nonton konser Payung Teduh yang sepanggung dengan Stars and Rabbit. Kolaborasi sempurna jika dinilai dari perspektif musik apalagi ini menjadi penampakan dari kemajuan musik indie-lokal kita. Setelah sekian lama pasrah mendengar kangen band, dan lebih ekstrem lagi, sampai tahap mengadaptasi gaya berpenampilan vokalisnya: dari rambut sampai sandal.

Acara tersebut berlangsung di Sutos (Surabaya Town Square), sabtu malam – seminggu sebelum tanggal 30 September yang penuh curiga. Bagi sampeyan yang belum mengerti Sutos itu tempat macam apa, tenang, akan saya beri gambaran sederhana dengan tetap menjaga tutur dan kode etik jurnalistik.

Sutos adalah salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya. Sebagai pemuas sifat konsumtif masyarakat Surabaya, tentunya adalah tugas bagi Sutos untuk menyediakan berbagai barang yang diinginkan masyarakat: dari yang tidak enak tapi mahal hingga yang murah tapi nakal. Sutos tidak pernah menutup diri apabila ada pihak yang ingin bekerjasama untuk menggelar acara di tempatnya. Dan termasuk acara konser musik.

Nah! Saat itu saya telah bersiap sejak ba’da maghrib untuk meluncur ke tkp. Mengantisipasi kemacetan dan pokoknya menghindari kemungkinan terburuk. Jarak dari sarang saya ke Sutos kira-kira 1 jam. Itu pun kalau tidak macet dan ada yang mau mengalah untuk berjalan kaki di trotoar, atau setidaknya jangan pakai mobil kalau penumpangnya cuma 1. Cok!

Eh, ternyata, prediksi saya mbeleset dan agenda orang-orang yang niatnya sama seperti saya sudah 9 langkah lebih depan di pintu Sutos. Ramainya penonton Payung Teduh – Stars & Rabbit mengalahkan jumlah penonton film horor G30S di Makorem Suryakencana Bogor.

Kalau saya yang jadi panitia nobar film horor itu, saya hadirkan Payung Teduh menjadi bintang tamu. Dan remaja yang mulanya tidak berani nonton, terpaksa bersabar sembari menunggu lagu kebangsaan mereka: Akad. Tapi maklum lah, pasti panitia ini gak mampu berpikir secerdas saya.

Sebagai penggemar yang hakiki, saya berusaha untuk tidak menyerah hanya karena merasa tak sanggup berada di tengah keramaian penonton lain atau mundur karena mal adalah tempat haram bagi mahasiswa yang sudah selesai membaca marxis. Saya parkir motor agak jauh dari Sutos karena sudah tidak memungkinkan lagi untuk parkir di tempat yang mereka sediakan. Akhirnya saya mengikhlaskan diri berjalan kaki di trotoar (setiap langkah terhitung pahala).

Dan sampeyan tahu bagaimana raut wajah pengendara mobil yang sedang terjebak kemacetan di depan sana? Khususnya yang cuma nyetir sendiri tanpa ditemani orang di dalamnya (itu pasti jomblo yang sengaja bawa mobil buat mancing calon gebetan)? Mereka marah-marah! Ajaib! Mereka yang berkontribusi atas persoalan ini lho kok malah emosi. Mereka membiarkan diri untuk dicatat menjadi bagian persoalan sejarah. Na’udzubillahimindzalik.

Tidak sampai di situ, ketika saya masuk ke pintu sutos, saya melihat kerumunan remaja yang seenak endasnya saling sapa dan mengobrol hingga menambah kemacetan padahal mereka tahu kalau tempat mereka diam berdiri itu arus keluar/masuk pengunjung. Seandainya bang Is dan neng Elda Suryani membaca tulisan saya ini, mereka akan tahu alasan saya mengapa memutuskan kembali ke sarang dan tidak jadi menonton.

Alhasil, saya cuma bisa melihat rekaman singkat yang dibagikan teman-teman kampus di media sosial. Betapa beruntungnya mereka yang mendapat posisi terdepan. Saya pulang dengan kekecewaan atas diri saya yang tidak yakin, tidak usaha, dan tidak sampai ini. Tetapi saya coba bertanya dalam hati dan memandang dari sisi moderat: apakah sebenarnya saya beruntung karena tidak terjebak di dalam pancingan kapitalis itu? Kalau saya masuk berarti ada kemungkinan saya lapar dan harus makan di sana. Lha, kan di sana makanannya enggak enak tapi mahal. Sekalinya murah, tapi nakal. Yasudahlah…