Cerita Saya (Generasi Akad) Menonton Konser Payung Teduh: ‘Akad’ 0 1843

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Apa yang perlu dijelaskan ketika warung, mal, toko buku, kampus, kantin, apotek, pegadaian, secara rukun memutar lagu berjudul Akad kepunyaan Payung Teduh itu hingga memonopoli alam bawah sadar calon penerus bangsa – memantik perasaan jomblo – penanti kepastian?

Sekarang coba lah duduk untuk sekedar melakukan eksperimen yang memungkinkan sampeyan bisa dengan mudah mendengar lagu Akad. Yakni dengan mencari tempat dimana tempat tersebut diisi oleh para remaja (karena kata pemuda hanya untuk pejoeang). Niscaya akan terdengar lagu Akad – Setidaknya cara ini bisa membantu saya menjelaskan sedikit banyak tentang Generasi Akad.

Jadi begini

 Ceritanya dimulai ketika saya mau nonton konser Payung Teduh yang sepanggung dengan Stars and Rabbit. Kolaborasi sempurna jika dinilai dari perspektif musik apalagi ini menjadi penampakan dari kemajuan musik indie-lokal kita. Setelah sekian lama pasrah mendengar kangen band, dan lebih ekstrem lagi, sampai tahap mengadaptasi gaya berpenampilan vokalisnya: dari rambut sampai sandal.

Acara tersebut berlangsung di Sutos (Surabaya Town Square), sabtu malam – seminggu sebelum tanggal 30 September yang penuh curiga. Bagi sampeyan yang belum mengerti Sutos itu tempat macam apa, tenang, akan saya beri gambaran sederhana dengan tetap menjaga tutur dan kode etik jurnalistik.

Sutos adalah salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya. Sebagai pemuas sifat konsumtif masyarakat Surabaya, tentunya adalah tugas bagi Sutos untuk menyediakan berbagai barang yang diinginkan masyarakat: dari yang tidak enak tapi mahal hingga yang murah tapi nakal. Sutos tidak pernah menutup diri apabila ada pihak yang ingin bekerjasama untuk menggelar acara di tempatnya. Dan termasuk acara konser musik.

Nah! Saat itu saya telah bersiap sejak ba’da maghrib untuk meluncur ke tkp. Mengantisipasi kemacetan dan pokoknya menghindari kemungkinan terburuk. Jarak dari sarang saya ke Sutos kira-kira 1 jam. Itu pun kalau tidak macet dan ada yang mau mengalah untuk berjalan kaki di trotoar, atau setidaknya jangan pakai mobil kalau penumpangnya cuma 1. Cok!

Eh, ternyata, prediksi saya mbeleset dan agenda orang-orang yang niatnya sama seperti saya sudah 9 langkah lebih depan di pintu Sutos. Ramainya penonton Payung Teduh – Stars & Rabbit mengalahkan jumlah penonton film horor G30S di Makorem Suryakencana Bogor.

Kalau saya yang jadi panitia nobar film horor itu, saya hadirkan Payung Teduh menjadi bintang tamu. Dan remaja yang mulanya tidak berani nonton, terpaksa bersabar sembari menunggu lagu kebangsaan mereka: Akad. Tapi maklum lah, pasti panitia ini gak mampu berpikir secerdas saya.

Sebagai penggemar yang hakiki, saya berusaha untuk tidak menyerah hanya karena merasa tak sanggup berada di tengah keramaian penonton lain atau mundur karena mal adalah tempat haram bagi mahasiswa yang sudah selesai membaca marxis. Saya parkir motor agak jauh dari Sutos karena sudah tidak memungkinkan lagi untuk parkir di tempat yang mereka sediakan. Akhirnya saya mengikhlaskan diri berjalan kaki di trotoar (setiap langkah terhitung pahala).

Dan sampeyan tahu bagaimana raut wajah pengendara mobil yang sedang terjebak kemacetan di depan sana? Khususnya yang cuma nyetir sendiri tanpa ditemani orang di dalamnya (itu pasti jomblo yang sengaja bawa mobil buat mancing calon gebetan)? Mereka marah-marah! Ajaib! Mereka yang berkontribusi atas persoalan ini lho kok malah emosi. Mereka membiarkan diri untuk dicatat menjadi bagian persoalan sejarah. Na’udzubillahimindzalik.

Tidak sampai di situ, ketika saya masuk ke pintu sutos, saya melihat kerumunan remaja yang seenak endasnya saling sapa dan mengobrol hingga menambah kemacetan padahal mereka tahu kalau tempat mereka diam berdiri itu arus keluar/masuk pengunjung. Seandainya bang Is dan neng Elda Suryani membaca tulisan saya ini, mereka akan tahu alasan saya mengapa memutuskan kembali ke sarang dan tidak jadi menonton.

Alhasil, saya cuma bisa melihat rekaman singkat yang dibagikan teman-teman kampus di media sosial. Betapa beruntungnya mereka yang mendapat posisi terdepan. Saya pulang dengan kekecewaan atas diri saya yang tidak yakin, tidak usaha, dan tidak sampai ini. Tetapi saya coba bertanya dalam hati dan memandang dari sisi moderat: apakah sebenarnya saya beruntung karena tidak terjebak di dalam pancingan kapitalis itu? Kalau saya masuk berarti ada kemungkinan saya lapar dan harus makan di sana. Lha, kan di sana makanannya enggak enak tapi mahal. Sekalinya murah, tapi nakal. Yasudahlah…

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengulang Pesan Boedi Oetomo untuk Gak Gampang Insekyur dengan Perbedaan 0 85

Oleh : Novirene Tania*

 

Tepat sudah 113 tahun kita terus mengulang momentum perayaan yang kita sebut “Hari Kebangkitan Nasional”. Buat kalian yang mungkin lupa mengapa hari kemarin penting, yuk mari merapat – kita ulang kembali ceramah guru sejarah kita dari SD sampai SMA!

Hari Kebangkitan Nasional menjadi salah satu hari penting buat bangsa ini, karena di sanalah awal mula perjuangan menghilangkan kubu. Di bawah inisiatif sekelompok pemuda STOVIA – mahasiswa kedokteran yang punya rasa peduli besar bagi sejarah nasional, semua perbedaan yang ada dihimpun dalam satu kesatuan.

Tanpa memandang perbedaan, tidak lagi peduli kamu dan aku darimana dan siapa kita. Jelas ini pesan yang perlu kembali digaungkan, saat dewasa ini isu perbedaan masih hangat jadi pemicu konflik antargolongan.

Gak hanya itu, kalo dipikir-pikir, 20 Mei juga membawa pesan yang tidak kalah penting: jangan gampang insekyur sama perbedaan.

Buat kita yang hidup pasca kemerdekaan dan terbiasa dengar kata “persatuan”, tentu bukan jadi barang asing. Sangat beda kondisinya saat Boedi Oetomo menggagas persatuan di tengah kelompok antarsuku masih dominan membawa semangat perjuangan masing-masing.

Andai saja saat itu dokumen sejarah bisa dengan detail menjelaskan berapa kali Boedi Oetomo rapat dan diskusi sampai sepakat bersatu di bawah bendera “persatuan nasional“, gak kebayang notulennya setebal apa.

Belum lagi dengan drama setuju tidak setuju yang pasti menimbulkan perdebatan alot. Ini tentu jelas beda dengan forum keluarga besar yang sekadar membahas liburan mau ke mana karena kemanapun opsinya asal ada waktu dan uang ya gas wae.

Kondisi ini bertolakbelakang dengan topik insekyur yang lagi rame banget dibahas. Lihat kiri kanan beda tujuan, beda strategi, bahkan beda hasil, langsung insekyur. Tambah insekyur lagi kalau merasa berjuangnya sama-sama, tapi hasilnya kok beda.

Bahkan tragisnya, jangankan berembug soal persatuan seperti Boedi Oetomo, kita-kita yang hobinya insekyur biasanya otomatis menjauhi lingkaran pertemanan. Peer pressure, istilahnya.

Daripada terus terbebani dengan kemajuan dia, mungkin baiknya memang buat circle sendiri aja,” ini jadi opsi terakhir para makhluk yang terjangkit insekyur.

Coba deh perhatikan dengan seksama, betulkah kita jadi tampak tidak terbiasa dengan perbedaan? Padahal kita bilangnya percaya banget kalo perbedaan itu indah pol no debat membuat kita kaya dan semakin kuat.

Semoga tulisan ini bisa jadi selingan refleksi kita selain posting ucapan selamat hari kebangkitan nasional dari organisasi kita masing-masing, mumpung momennya tepat.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi 0 115

Apakah hanya saya saja di sini yang sudah sulit percaya ulasan influencer Indonesia? Sudah bukan sekali dua kali saya kemakan omongan influencer Indonesia. Sumpah jujur, guys, beneran gak bohong, aku udah kapok cari rekomendasi dari influencer negeri +62.

Entah kenapa influencer Indonesia suka melebih-lebihkan fakta kalau mengulas suatu produk. Apa yang dikatakan mereka rupanya tak sesuai fakta dan kenyataan yang ada.

Belakangan ini saya tertarik mempelajari parfum-parfuman di internet. Lalu, saya mencari ulasan tentang eau de parfum yang agak terjangkau lewat video seorang youtuber. Bisa dibilang youtuber ini masih micro influencer. Menurut jurnal yang saya baca, micro influencer merupakan opinion leader yang baik untuk mempengaruhi keputusan pembelian. Apalagi, dalam mengulas produk tersebut, youtuber ini tidak dibayar, melainkan membeli dengan uangnya sendiri. Jadi, saya rasa, lambenya masih kredibel lah.

Saat ia mengulas sebuah parfum, tertariklah saya untuk membeli parfum tersebut. Youtuber tersebut dapat mendeskripsikan aroma dari notes parfum tersebut dengan cukup baik dan meyakinkan.

“Hmm yang ini ada vanilla-vanillanya. Lama-lama wanginya enak, soft, elegant gitu, katanya sambil mencium pergelangan tangannya yang sudah disemprot parfum.

Sebagai pecinta vanilla, gourmand, dan oriental notes, saya tertarik untuk membeli parfum tersebut seketika. Apalagi katanya wangi vanillanya kuat. Tanpa pikir panjang akhirnya saya membeli parfum yang katanya bau vanilla banget itu.

Setelah saya beli dan semprot ke tangan saya, saya endus-endus baunya, hmm…. Ini kan bau Adi Jasa (rumah duka terbesar di Surabaya). Dari top notes hingga base notes-nya membentuk aroma bunga sedap malam yang mulai kecoklatan alias sudah tidak segar. Alhasil, bau badan saya mirip karangan bunga ucapan duka cita yang sudah tiga hari bertengger di rumah duka. Bahkan meski sudah tersisa base notes, masih tidak tercium aroma vanilla sama sekali.

Ini bukan yang pertama. Sebelumnya ada youtuber yang mengulas eau de parfum lokal dengan berkata, “sungguan ini enak banget, wanginya mirip permen tapi yang mewah gitu, guys. Kalian pasti suka.” Setelah saya cium, baunya sangat identik dengan aroma permen Alpenlibe rasa susu dan stroberi. Ya sudah, mungkin Mbak Youtuber tersebut merasa permen yang ada di Indomaret ini sangat mewah.

Selanjutnya, saya pernah membeli masker wajah karena kena “racun” selebgram. Saya tertarik setelah melihat wajahnya jadi lebih cerah dan bersih.

Tuh, lihat muka aku jadi bersih banget, OMG!” Katanya sambil mendekatkan wajahnya ke kamera.

Setelah saya coba, memang wajah saya langsung seputih Song Hye Kyo. Namun, bukan karena sel-sel kulit mati yang terangkat, melainkan sisa-sisa masker clay tersebut tidak bisa hilang dari muka saya meski sudah dibilas berkali-kali.

Tapi setidaknya, saya masih mengapresiasi influencer yang menjerumuskan saya tadi. Setidaknya, ia bisa mendeskripsikan barang tersebut dengan “baik”.

Lain halnya dengan influencer G yang mendeskripsikan parfum seperti ini “kalau yang ini baunya kayak bau cewek-cewek kaya yang baru keluar dari toko baju mewah, ngerti kan, ya, lo maksud gue?” Ya gimana kita bisa ngerti kalau Anda menjelaskan seperti ini, Maemunah?!

Dari sini saya menarik kesimpulan bahwa banyak dari influencer Indonesia yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup sebagai influencer dalam bidang tersebut. Padahal dalam kelas public speaking, mempresentasikan topik di luar kemampuan kita adalah BIG NO. Akibatnya ya begini ini, jadi misleading dan menyesatkan audiens.

Selain kesal dengan ulasan yang tak sesuai fakta, saya juga heran kenapa gaya mengulas para influencer ini sama. Dengan mata mendelik, nada naik, dan penekanan di semua kata, seakan berusaha keras membuat audiens tertarik. Ditambah template, “ih beneran, guys ini enak banget,” “gak bohong kalian harus coba,” “sumpah gak bohong, kalian pasti suka“, dan semacamnya.

Joe Navarro, seorang ahli body language asal America Serikat mengatakan bahwa orang yang tidak jujur akan berusaha “keras” untuk membuat Anda percaya. Usaha seperti apa? Bisa dalam bentuk ekspresi yang berlebihan, mengulang kata, dan menambahkan bumbu penyedap pada kalimat.

Contohnya influencer kuliner yang bilang enak aja harus pake “sumpah sumpah, enak banget gak bohong, serius gue mau mati,” sambil melotot dan dengan penekatan di setiap huruf. Harusnya dijelaskan yang bikin enak apa, rasanya seperti apa, bumbunya apa saja. Kalau memang enak beneran, masa tidak bisa mendeskripsikan? Apalagi sudah menyandang title sebagai influencer yang harusnya punya pengetahuan lebih tentang kuliner dari orang awam.

Mungkin secuil ilmu dari Navarro ini bisa jadi guideline kita untuk memilah mana ulasan yang valid dan tidak dengan melihat cara influencer tersebut berbicara.

Selain itu, sebisa mungkin jangan hanya mengandalkan satu influencer, apalagi kalau influencer tersebut bekerja sama dalam paid partnership, endorsement, apalagi kalau sudah didapuk jadi brand ambassador. Biasanya ulasan sudah tidak objektif lagi.

Carilah video ulasan sebanyak-banyaknya dari influencer berbeda! Kalau bisa, influencer yang memang memiliki pengetahuan mumpuni dalam bidang tersebut.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks