Daftar Profesi yang Ngenes dan Kurang Perhatian 0 986

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Dokter adalah profesi yang berada di nomor pertama dari daftar cita-cita masa kanak. Selanjutnya astronot, akuntan, bos kantoran, dan punya pabrik playstation. Paling tidak punya rental sendiri supaya terkenal di sekolahan. Pembaca yang budiman, sesungguhnya negara ini masih memerlukan banyak profesi lain sebagai kontributor kemajuan. Tanpa berlama-lama, berikut adalah profesi yang semoga saja tidak sepi peminat:

 

Barista Giras

Giras, burjo, angkringan, atau apapun sebutannya, di setiap daerah tempat semacam ini tidak pernah absen. Giras kerap dijadikan markasnya aktipis, tempat beristirahatnya buruh pabrik, sampai menjadi tujuan bolos para pelajar. Giras selalu memiliki yang namanya Barista, entah apa menyebutnya, tapi istilah ini paling mendekati benar. Percayalah, mereka memiliki kemampuan dan ciri khas masing-masing. Contoh, ada Barista memiliki kemampuan membuat kopi dengan rasa yang ideal, tapi tidak komunikatif dengan pengunjung, kalau diajak ngobrol terkesan introvert. Sebaliknya, ada Barista yang sok asik – sampai kehidupan pribadi pengunjung ditelusuri, rasa kopi tidak menjadi prioritas, yang penting ada filosofinya.

 

Tukang Tambal Ban

Selain paku kehidupan yang senantiasa menguji ketabahan, paku jalanan pun kadang sengaja ditebar tak jarang membuat kita mengelus dada. Berterimakasihlah pada Tukang Tambal Ban, mereka dengan ekhlas menunduk berlama-lama untuk menambal setiap kecil lubang yang menggembosi semangat kita – mereka menambal keresahan kita. Sudah berapa pasang kekasih yang terganggu saat ena-ena di jalanan akibat ban bocor? Sudah berapa jumlah dari mereka yang diselamatkan Tukang Tambal Ban? Adegan dramatis dorong motor tidak akan berakhir tanpa profesi ini. Sungguh. Bayangkan saja profesi ini tak pernah ada, mau dorong motor sampai mana para kekasih yang gagal ena-ena itu?

 

Peronda

Peronda mempunyai tugas mulia di jaman yang serba mengkhawatirkan ini. Mereka ialah pemecah sunyi: sudah pernah terkejut mendengar tiang listrik seperti dilempar batu saat tengah malam? Kalau belum, bisa dipastikan tidur kalian terlalu sore. Meski peronda tidak berpotensi membuat qalean menjadi kaya, karena bayaranya hanya kopi dan rokok senja, tapi siapa sangka kalau profesi yang paling dicintai masyarakat ini telah dijamin posisinya di surga? Lho, kok? Jadi begini, saya ada cerita di kampung, namanya Amaq (bapak) Segab, dulu rumah amaq Segab pernah hampir dibobol maling karena rencananya ingin naik haji santer terdengar hingga ke kampung tetangga. Berita ini yang barangkali menjadi niatan buruk para penjahat ingin mengambil uang haji amaq Segab. Benar saja, seminggu sebelum keberangkatan, empat orang pencuri berhasil digagalkan aksinya oleh seorang peronda bernama Idris, konon ia memang memiliki kesaktian warisan. Tapi  berkat Idris, amaq Segab bisa berangkat haji tanpa masalah. Sepulangnya haji, amaq Segab banyak bercerita jika setiap selesai sholat di Makkah, nama Idris tak pernah luput dari do’anya. Wallahua’lam Bishawab.

 

Tukang Isi Korek Gas

Jika para aktivis anti-rokok mempunyai visi untuk membebaskan udara dari asap rokok, pilihannya ada dua; hancurkan pabrik rokok atau jangan biarkan TIKG (Tukang Isi Korek Gas) buka lapak. Selesai. Di luar dari semua visi itu kita patut berterimakasih pada TIKG, walau urgensi dari keberadaan mereka masih abu-abu, tapi mereka memiliki tempat tersendiri di hati para penggemar korek. Seberapa dalam kesedihan seorang pecinta korek saat benda kesayangannya itu kehilangan fungsi? Masih untung kehilangan fungsi, ada yang sampai hilang beneran. Korek adalah manifestasi kenangan seseorang yang sudah lama mengalami jatuh-bangun dan asam-garam kehidupan. Korek selain fungsinya untuk memberi cahaya bagi jalan gelap, korek juga bermanfaat sebagai alat penambah teman. Di Indonesia sendiri, jumlah perokok mencapai sepertiga jumlah penduduk, yakni 36,4 persen. Setidaknya antara sekian banyak perokok, 5 persen tidak membawa korek. Dan di sana qalean para penggemar korek berkesempatan menjadi penyelamat mereka. Lebih jauh lagi, para perokok dan penggemar korek harus benar-benar berterimakasih pada TIKG, tanpa mereka, pertemanan kalian tidak akan dimulai.

 

Tukang Patri

Saya, anda, emak-emak, mari sama-sama kita menunduk mengucapkan rasa hormat pada Tukang Patri yang selalu menyelamatkan setiap masakan kita di rumah. Betapa berjasanya mereka dengan hadir sebagai orang pertama yang bilamana panci mengalami kebocoran. Sudah berpuluh-puluh tahun Tukang Patri menempati posisi penting dalam wilayah domestik, jika pecinta korek dan perokok menjalin hubungan erat dengan TIKG, dalam hal ini, emak-emak dan Tukang Patri pun demikian. Bukan bermaksud menyinggung feminis yang tidak pernah mau menerima posisi perempuan di dapur, saya hanya ingin memaparkan fakta lain dari mapannya budaya patriarkis ini: bahwa tukang patri sesungguhnya menempati posisi lebih domestik dari perempuan, lebih radikal dari apa yang feminis kritik selama rentang abad 20. Jika feminis menganggap wilayah domestik yang didominasi perempuan adalah hasil dari konstruksi budaya patriarkis, bisakah mereka menjawab siapa yang mengkonstruksi posisi bapak Tukang Patri? Tidak lain dan tidak bukan perempuan itu sendiri kok terkesan eksklusif. Kita juga wajib berterimakasih pada Tukang Patri, tanpa mereka, tidak ada lagi yang mampu menahan perempuan di dapur. Sebab kalau perempuan ikut kerja di pabrik, kantor, atau industri lain, itu hanya akan menguntungkan kapitalis. Karena saya masih percaya, keterampilan dan ketelatenan perempuan adalah bakat yang sedang diburu oleh para pemodal. Cukuplah Tukang Patri dan para perempuan menyiapkan masakan untuk tenaga-tenaga revolusioner di masa depan.

 

Sebelumnya pembaca yang budiman, saya tidak bermaksud menjadi provokator dari/untuk pihak manapun. Tapi begini lah, segelintir profesi yang ada di negara kita ini perlu dilestarikan. Mereka mempunyai peran penting dalam wilayah-wilayah terabaikan untuk perubahan yang progresif. Terimakasih.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

(Masih) Perlunya Demonstrasi di Saat Demokrasi Dikebiri 0 75

Oleh: Nabiilah Ulinnuha*

Tulisan ini dibuat teruntuk kalian yang hampir menyerah pada Indonesia, menolak percaya pada pemerintah, dan berharap bisa mengurus pindah kewarganegaraan dengan mudah.

Bukan lagi fenomena baru bahwa hadirnya media sosial memindahkan kanal informasi. Di zaman sekarang, mahasiswa dan pelajar tak perlu menyisihkan uang jajan buat beli koran atau bawa tape kemana-mana agar tak ketinggalan berita baru. Bermodalkan smartphone di genggaman tangan, dua media konvensional itu tentu bukan tandingan.

Bangun tidur, ritualnya adalah buka feed Instagram dan Twitter untuk cek kabar terbaru. Yang lebih nggenah, mungkin membuka kanal berita online gratisan, atau yang harga langganannya masih lebih murah dari paket data. Apa-apa serba mudah, kan? Berkat mbah gugel, kita tak perlu lagi kepo berita pagi ini dengan bertanya kesana-kemari. Tinggal buka layar ponsel saja, dan buka Kalikata ketik di mesin pencarian, voila!Tercerahkan”-lah kita.

Sama hal dengan informasi yang berpindah kanal utamanya, demokrasi pun mulai muncul dalam ruang baru bernama ‘media sosial’. Melalui ratusan tweets viral yang mengeluhkan keadaan, tergambar wajah sebuah kebebasan. Mulai dari kondisi terbaru yang terjadi di gedung KPK hingga gerakan tak setuju pada RUU PKS. Belum lagi situasi genting pada Kebakaran Hutan Liar, serta ketidakadilan bagi masyarakat di timur Indonesia.

Beragam postingan di Instagram tentang kondisi Indonesia terkini seolah saling tak mau kalah. Sebab siapapun bisa berbagi informasi. Demokrasi tumpah ruah di ruang-ruang tanpa sekat.

Masyarakat mulai menyukai hal-hal mudah. Demokrasi tak selalu harus turun ke jalanan. Mahasiswa zaman sekarang lebih suka memilih jalur lebih damai lewat diplomasi, atau menulis pada kolom opini. Yang lebih mudah lagi, tentunya menulis tweet dan membagikan foto kondisi terbaru lewat Instagram.

Rasa-rasanya masyarakat sudah seharusnya mulai bosan dengan pola ini. Sudah berteriak pada berbagai platform media, tapi kok rasanya wakil rakyat seolah bisu dan tuli?

Seharusnya apresiasi tinggi patut diberikan pada ratusan mahasiswa yang mengerumuni gedung pemerintah untuk menagih janji. Di saat-saat genting ini, dan di tengah gempuran alternatif cara “menyuarakan” tuntutan, mereka jadi pahlawan garda terdepan yang berjuang bagi demokrasi dengan langkah-langkah tradisional namun efektif bikin pemerintah rodhok panik.

Mari kita buka kenangan setahun lalu, saat Ketua BEM UI berikan Jokowi kartu kuning. Pembicaraan tentang pro dan kontra sempat bergulir di media sosial. Begitu banyak yang ngedumel. Memalukan, katanya. Mahasiswa kok tidak paham etika. Para netizen yang mahabenar, tidakkah kalian sadar, dulu dan kini, masih juga suka mencaci habis mahasiswa saat turun ke jalanan? Bikin macet, kata kalian. Terlalu anarkis dan mengganggu stabilitas Negara, kata kalian juga.

Barangkali, kita harus mengingat kembali pesan founding fathers bangsa ini. Bung Karno pernah menggaungkan “jasmerah”: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nampaknya pesan ini sungguh selalu relevan pada setiap zaman.

Kali ini penulis mengajak untuk mengingat kembali peristiwa 1998. Tanpa pengorbanan mahasiswa, Orde Baru tak akan mungkin digulingkan. Mereka, para aktivis, termasuk mahasiswa yang tumpah ruah ke jalanan, rela hilang tanpa dikenang namanya. Aksi mereka yang heroik adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia masih berani berjuang walau tak memiliki senjata di tangan. Dan rupanya bentuk aksi ini masih turun dari zaman ke zaman.

Persetan dengan kemacetan dan keamanan! Hari ini, kebebasan dikebiri habis-habisan. Tikus-tikus berdasi di gedung parlemen negara melanggengkan kekuasaannya terang-terangan. Berbagai diskusi sudah menemui jalan buntu. Apakah kemudian gaungan emosi dari gawaimu itu benar dapat merubah nasib bangsa ini?

Mereka yang sekarang sedang berjuang di jalanan nyaris belum mendapat titik terang. Jangankan memberi solusi dan menenangkan massa, menemui mereka pun pemerintah masih enggan. Justru di hari-hari inilah, demokrasi butuh lebih banyak lagi demonstrasi. Sudah selayaknya kita belajar dari sejarah, bahwa yang menang adalah yang tak pernah berhenti berjuang. Sebab pemimpin kita saat ini sungguh masa bodo bila sejatinya telah berubah jiwa jadi pecundang. Asal kekuasaan masih mereka pegang, sepertinya tak ada yang mereka takuti.

 

*Penulis adalah mahasiswa yang suka kopi, sajak, tapi kurang lengkap bila tak ditemani ‘kamu’ yang sekarang hilang. Berzodiak Gemini, oleh sebab itu orangnya ruwet.

Foto: Wanti Anugrah

Privasi Siapa yang Dibela di RKUHP? 1 79

Saya jurnalis (profesional untuk 2 bulan terakhir). Saya terlibat di dalam peliputan aksi mahasiswa yang berakhir rusuh di hari pertama rapat paripurna, 24 September. Saya saksi mata ketika mereka mulai merapat di gerbang DPR, orasi, bakar ban, sampai akhirnya water canon plus gas air mata menyerang, dan saya sebagai anak pupuk bawang tentu lari menyelamatkan diri.

Selain UU KPK yang sudah disahkan itu, saya mendengar dan membaca semua demonstran menggarisbawahi RKUHP (yang telah saya bahas di tulisan lalu: ‘Bagaimana Seharusnya Kita Sikapi RKUHP‘). Banyak pasal yang dianggap bermasalah (kita harus akui ini). Terutama teriakan privasi kita yang (katanya) semakin dirampas negara.

Di sisi lain, suatu kali saya juga untuk kedua kalinya mewawancarai artis (walau definisi ‘artis’ bagi saya masih sangat debatable). Saya sih sebenarnya males. Kalau gak karena permintaan kantor, kapabilitas ‘orang yang sering nongol di tv’ untuk menjawab angle berita masih jadi pertanyaan besar bagi saya.

Saya berusaha memancing diskusi dengan mbak artis. Melempar pertanyaan reflektif serta menghindari pertanyaan dangkal dan tak bermutu. Berharap jawaban bisa mendalam dan melontarkan ide-ide cemerlang bagi para fans yang nanti menonton hasil wawancara ini.

Ternyata realita tidak seindah ekspetasi, kawan-kawan! Doi menjawab semua pertanyaan umum saya dengan mengasosiakannya pada dirinya seorang. Demikian pula wartawan lain justru menyiram air garam pada luka, nyamber dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggali urusan pribadi dan keluarga mbak artis.

Ketimbang menjawab pertanyaan saya tentang tren berlibur saat ini, destinasi wisata yang ciamik di Indonesia, dan sebagainya; si artis lebih suka menjawab rencana liburannya bersama suami dan anak, preferensinya dalam menggunakan layanan aplikasi penyedia perjalanan, dan kawan-kawan pertanyaan lainnya.

Saya gak tahu, di sini siapa yang salah. Pasalnya, wartawan membutuhkan jawaban bersifat pribadi itu untuk membuat tulisan yang mengundang klik di website medianya. Sebaliknya, jawaban-jawaban yang melulu soal diri dan pribadi si artis mungkin sudah jadi template wajib dalam ekosistem infotainment. Barangkali, justru memang saya yang salah nyemplung ke dunia wawancara dengan orang-orang jenis ini. Salah yang gagal paham dan gagal menaruh harapan.

Demikian pula dengan kelakuan rakyat yang suka sekali mengonsumsi berita-berita macam ini. Tentu lebih ringan ketimbang ikut repot memutar otak tentang persoalan bangsa ini.

Dari sini, mari kita merenungkan lagi. Apakah benar privasi kita terancam karena RKUHP? Apakah kita lupa, bahwa privasi bangsa ini sudah ternodai sejak dulu kala? Sejak kehidupan pribadi bintang layar kaca jadi konsumsi publik. Bahkan, hal ini juga berlaku pada tokoh-tokoh politik kita.

Masyarakat kan lebih ingat kisah cinta dan kehidupan keluarga sejahtera Almarhum B.J. Habibie ketimbang karya N-250 dan perjuangannya merintis BPPT. Kita lebih ingat tato menteri dan menteri loncat pagar. Kita lebih paham sneaker, jaket, sepeda, moge, dan cucu Jokowi.

Gak usah jauh-jauh juga. Ketika nongkrong bersama teman, teman lain yang tidak kelihatan batang hitungnya jadi bahan gosip, kan? Saat bepergian, belanja, minum kopi di kedai dengan nama lucu-lucu, gatal juga tanganmu uptade di Insta Story. Jangan lupa bubuhkan lokasi, biar disangka anak gaul. Lha kok saiki guayamu sak langit, sok memperjuangkan privasi?

Kan tentu ironis, memperjuangkan privasi, orientasi seksual, dunia malam, urusan seks dan percintaan, tapi abai kalau selama ini juga tak punya batasan dalam menjaga rahasia diri ke dunia maya. Jadi privasi siapa yang kalian bela?

Editor Picks