Daftar Profesi yang Ngenes dan Kurang Perhatian 0 1341

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Dokter adalah profesi yang berada di nomor pertama dari daftar cita-cita masa kanak. Selanjutnya astronot, akuntan, bos kantoran, dan punya pabrik playstation. Paling tidak punya rental sendiri supaya terkenal di sekolahan. Pembaca yang budiman, sesungguhnya negara ini masih memerlukan banyak profesi lain sebagai kontributor kemajuan. Tanpa berlama-lama, berikut adalah profesi yang semoga saja tidak sepi peminat:

 

Barista Giras

Giras, burjo, angkringan, atau apapun sebutannya, di setiap daerah tempat semacam ini tidak pernah absen. Giras kerap dijadikan markasnya aktipis, tempat beristirahatnya buruh pabrik, sampai menjadi tujuan bolos para pelajar. Giras selalu memiliki yang namanya Barista, entah apa menyebutnya, tapi istilah ini paling mendekati benar. Percayalah, mereka memiliki kemampuan dan ciri khas masing-masing. Contoh, ada Barista memiliki kemampuan membuat kopi dengan rasa yang ideal, tapi tidak komunikatif dengan pengunjung, kalau diajak ngobrol terkesan introvert. Sebaliknya, ada Barista yang sok asik – sampai kehidupan pribadi pengunjung ditelusuri, rasa kopi tidak menjadi prioritas, yang penting ada filosofinya.

 

Tukang Tambal Ban

Selain paku kehidupan yang senantiasa menguji ketabahan, paku jalanan pun kadang sengaja ditebar tak jarang membuat kita mengelus dada. Berterimakasihlah pada Tukang Tambal Ban, mereka dengan ekhlas menunduk berlama-lama untuk menambal setiap kecil lubang yang menggembosi semangat kita – mereka menambal keresahan kita. Sudah berapa pasang kekasih yang terganggu saat ena-ena di jalanan akibat ban bocor? Sudah berapa jumlah dari mereka yang diselamatkan Tukang Tambal Ban? Adegan dramatis dorong motor tidak akan berakhir tanpa profesi ini. Sungguh. Bayangkan saja profesi ini tak pernah ada, mau dorong motor sampai mana para kekasih yang gagal ena-ena itu?

 

Peronda

Peronda mempunyai tugas mulia di jaman yang serba mengkhawatirkan ini. Mereka ialah pemecah sunyi: sudah pernah terkejut mendengar tiang listrik seperti dilempar batu saat tengah malam? Kalau belum, bisa dipastikan tidur kalian terlalu sore. Meski peronda tidak berpotensi membuat qalean menjadi kaya, karena bayaranya hanya kopi dan rokok senja, tapi siapa sangka kalau profesi yang paling dicintai masyarakat ini telah dijamin posisinya di surga? Lho, kok? Jadi begini, saya ada cerita di kampung, namanya Amaq (bapak) Segab, dulu rumah amaq Segab pernah hampir dibobol maling karena rencananya ingin naik haji santer terdengar hingga ke kampung tetangga. Berita ini yang barangkali menjadi niatan buruk para penjahat ingin mengambil uang haji amaq Segab. Benar saja, seminggu sebelum keberangkatan, empat orang pencuri berhasil digagalkan aksinya oleh seorang peronda bernama Idris, konon ia memang memiliki kesaktian warisan. Tapi  berkat Idris, amaq Segab bisa berangkat haji tanpa masalah. Sepulangnya haji, amaq Segab banyak bercerita jika setiap selesai sholat di Makkah, nama Idris tak pernah luput dari do’anya. Wallahua’lam Bishawab.

 

Tukang Isi Korek Gas

Jika para aktivis anti-rokok mempunyai visi untuk membebaskan udara dari asap rokok, pilihannya ada dua; hancurkan pabrik rokok atau jangan biarkan TIKG (Tukang Isi Korek Gas) buka lapak. Selesai. Di luar dari semua visi itu kita patut berterimakasih pada TIKG, walau urgensi dari keberadaan mereka masih abu-abu, tapi mereka memiliki tempat tersendiri di hati para penggemar korek. Seberapa dalam kesedihan seorang pecinta korek saat benda kesayangannya itu kehilangan fungsi? Masih untung kehilangan fungsi, ada yang sampai hilang beneran. Korek adalah manifestasi kenangan seseorang yang sudah lama mengalami jatuh-bangun dan asam-garam kehidupan. Korek selain fungsinya untuk memberi cahaya bagi jalan gelap, korek juga bermanfaat sebagai alat penambah teman. Di Indonesia sendiri, jumlah perokok mencapai sepertiga jumlah penduduk, yakni 36,4 persen. Setidaknya antara sekian banyak perokok, 5 persen tidak membawa korek. Dan di sana qalean para penggemar korek berkesempatan menjadi penyelamat mereka. Lebih jauh lagi, para perokok dan penggemar korek harus benar-benar berterimakasih pada TIKG, tanpa mereka, pertemanan kalian tidak akan dimulai.

 

Tukang Patri

Saya, anda, emak-emak, mari sama-sama kita menunduk mengucapkan rasa hormat pada Tukang Patri yang selalu menyelamatkan setiap masakan kita di rumah. Betapa berjasanya mereka dengan hadir sebagai orang pertama yang bilamana panci mengalami kebocoran. Sudah berpuluh-puluh tahun Tukang Patri menempati posisi penting dalam wilayah domestik, jika pecinta korek dan perokok menjalin hubungan erat dengan TIKG, dalam hal ini, emak-emak dan Tukang Patri pun demikian. Bukan bermaksud menyinggung feminis yang tidak pernah mau menerima posisi perempuan di dapur, saya hanya ingin memaparkan fakta lain dari mapannya budaya patriarkis ini: bahwa tukang patri sesungguhnya menempati posisi lebih domestik dari perempuan, lebih radikal dari apa yang feminis kritik selama rentang abad 20. Jika feminis menganggap wilayah domestik yang didominasi perempuan adalah hasil dari konstruksi budaya patriarkis, bisakah mereka menjawab siapa yang mengkonstruksi posisi bapak Tukang Patri? Tidak lain dan tidak bukan perempuan itu sendiri kok terkesan eksklusif. Kita juga wajib berterimakasih pada Tukang Patri, tanpa mereka, tidak ada lagi yang mampu menahan perempuan di dapur. Sebab kalau perempuan ikut kerja di pabrik, kantor, atau industri lain, itu hanya akan menguntungkan kapitalis. Karena saya masih percaya, keterampilan dan ketelatenan perempuan adalah bakat yang sedang diburu oleh para pemodal. Cukuplah Tukang Patri dan para perempuan menyiapkan masakan untuk tenaga-tenaga revolusioner di masa depan.

 

Sebelumnya pembaca yang budiman, saya tidak bermaksud menjadi provokator dari/untuk pihak manapun. Tapi begini lah, segelintir profesi yang ada di negara kita ini perlu dilestarikan. Mereka mempunyai peran penting dalam wilayah-wilayah terabaikan untuk perubahan yang progresif. Terimakasih.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 156

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 179

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks