Daftar Profesi yang Ngenes dan Kurang Perhatian 0 1512

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Dokter adalah profesi yang berada di nomor pertama dari daftar cita-cita masa kanak. Selanjutnya astronot, akuntan, bos kantoran, dan punya pabrik playstation. Paling tidak punya rental sendiri supaya terkenal di sekolahan. Pembaca yang budiman, sesungguhnya negara ini masih memerlukan banyak profesi lain sebagai kontributor kemajuan. Tanpa berlama-lama, berikut adalah profesi yang semoga saja tidak sepi peminat:

 

Barista Giras

Giras, burjo, angkringan, atau apapun sebutannya, di setiap daerah tempat semacam ini tidak pernah absen. Giras kerap dijadikan markasnya aktipis, tempat beristirahatnya buruh pabrik, sampai menjadi tujuan bolos para pelajar. Giras selalu memiliki yang namanya Barista, entah apa menyebutnya, tapi istilah ini paling mendekati benar. Percayalah, mereka memiliki kemampuan dan ciri khas masing-masing. Contoh, ada Barista memiliki kemampuan membuat kopi dengan rasa yang ideal, tapi tidak komunikatif dengan pengunjung, kalau diajak ngobrol terkesan introvert. Sebaliknya, ada Barista yang sok asik – sampai kehidupan pribadi pengunjung ditelusuri, rasa kopi tidak menjadi prioritas, yang penting ada filosofinya.

 

Tukang Tambal Ban

Selain paku kehidupan yang senantiasa menguji ketabahan, paku jalanan pun kadang sengaja ditebar tak jarang membuat kita mengelus dada. Berterimakasihlah pada Tukang Tambal Ban, mereka dengan ekhlas menunduk berlama-lama untuk menambal setiap kecil lubang yang menggembosi semangat kita – mereka menambal keresahan kita. Sudah berapa pasang kekasih yang terganggu saat ena-ena di jalanan akibat ban bocor? Sudah berapa jumlah dari mereka yang diselamatkan Tukang Tambal Ban? Adegan dramatis dorong motor tidak akan berakhir tanpa profesi ini. Sungguh. Bayangkan saja profesi ini tak pernah ada, mau dorong motor sampai mana para kekasih yang gagal ena-ena itu?

 

Peronda

Peronda mempunyai tugas mulia di jaman yang serba mengkhawatirkan ini. Mereka ialah pemecah sunyi: sudah pernah terkejut mendengar tiang listrik seperti dilempar batu saat tengah malam? Kalau belum, bisa dipastikan tidur kalian terlalu sore. Meski peronda tidak berpotensi membuat qalean menjadi kaya, karena bayaranya hanya kopi dan rokok senja, tapi siapa sangka kalau profesi yang paling dicintai masyarakat ini telah dijamin posisinya di surga? Lho, kok? Jadi begini, saya ada cerita di kampung, namanya Amaq (bapak) Segab, dulu rumah amaq Segab pernah hampir dibobol maling karena rencananya ingin naik haji santer terdengar hingga ke kampung tetangga. Berita ini yang barangkali menjadi niatan buruk para penjahat ingin mengambil uang haji amaq Segab. Benar saja, seminggu sebelum keberangkatan, empat orang pencuri berhasil digagalkan aksinya oleh seorang peronda bernama Idris, konon ia memang memiliki kesaktian warisan. Tapi  berkat Idris, amaq Segab bisa berangkat haji tanpa masalah. Sepulangnya haji, amaq Segab banyak bercerita jika setiap selesai sholat di Makkah, nama Idris tak pernah luput dari do’anya. Wallahua’lam Bishawab.

 

Tukang Isi Korek Gas

Jika para aktivis anti-rokok mempunyai visi untuk membebaskan udara dari asap rokok, pilihannya ada dua; hancurkan pabrik rokok atau jangan biarkan TIKG (Tukang Isi Korek Gas) buka lapak. Selesai. Di luar dari semua visi itu kita patut berterimakasih pada TIKG, walau urgensi dari keberadaan mereka masih abu-abu, tapi mereka memiliki tempat tersendiri di hati para penggemar korek. Seberapa dalam kesedihan seorang pecinta korek saat benda kesayangannya itu kehilangan fungsi? Masih untung kehilangan fungsi, ada yang sampai hilang beneran. Korek adalah manifestasi kenangan seseorang yang sudah lama mengalami jatuh-bangun dan asam-garam kehidupan. Korek selain fungsinya untuk memberi cahaya bagi jalan gelap, korek juga bermanfaat sebagai alat penambah teman. Di Indonesia sendiri, jumlah perokok mencapai sepertiga jumlah penduduk, yakni 36,4 persen. Setidaknya antara sekian banyak perokok, 5 persen tidak membawa korek. Dan di sana qalean para penggemar korek berkesempatan menjadi penyelamat mereka. Lebih jauh lagi, para perokok dan penggemar korek harus benar-benar berterimakasih pada TIKG, tanpa mereka, pertemanan kalian tidak akan dimulai.

 

Tukang Patri

Saya, anda, emak-emak, mari sama-sama kita menunduk mengucapkan rasa hormat pada Tukang Patri yang selalu menyelamatkan setiap masakan kita di rumah. Betapa berjasanya mereka dengan hadir sebagai orang pertama yang bilamana panci mengalami kebocoran. Sudah berpuluh-puluh tahun Tukang Patri menempati posisi penting dalam wilayah domestik, jika pecinta korek dan perokok menjalin hubungan erat dengan TIKG, dalam hal ini, emak-emak dan Tukang Patri pun demikian. Bukan bermaksud menyinggung feminis yang tidak pernah mau menerima posisi perempuan di dapur, saya hanya ingin memaparkan fakta lain dari mapannya budaya patriarkis ini: bahwa tukang patri sesungguhnya menempati posisi lebih domestik dari perempuan, lebih radikal dari apa yang feminis kritik selama rentang abad 20. Jika feminis menganggap wilayah domestik yang didominasi perempuan adalah hasil dari konstruksi budaya patriarkis, bisakah mereka menjawab siapa yang mengkonstruksi posisi bapak Tukang Patri? Tidak lain dan tidak bukan perempuan itu sendiri kok terkesan eksklusif. Kita juga wajib berterimakasih pada Tukang Patri, tanpa mereka, tidak ada lagi yang mampu menahan perempuan di dapur. Sebab kalau perempuan ikut kerja di pabrik, kantor, atau industri lain, itu hanya akan menguntungkan kapitalis. Karena saya masih percaya, keterampilan dan ketelatenan perempuan adalah bakat yang sedang diburu oleh para pemodal. Cukuplah Tukang Patri dan para perempuan menyiapkan masakan untuk tenaga-tenaga revolusioner di masa depan.

 

Sebelumnya pembaca yang budiman, saya tidak bermaksud menjadi provokator dari/untuk pihak manapun. Tapi begini lah, segelintir profesi yang ada di negara kita ini perlu dilestarikan. Mereka mempunyai peran penting dalam wilayah-wilayah terabaikan untuk perubahan yang progresif. Terimakasih.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan untuk Jangan Keburu Alergi terhadap Soal Hitungan di Tes Seleksi Kerja 0 123

Mengapa musti sulit belajar matematika dari TK sampai SMA? Sedang di kehidupan nyata cuma untuk menghitung uang kembalian, itupun sekarang sudah ada kalkulator? Telanjur capek-capek belajar dari bilangan eksponen, matriks, trigonometri, sampai geometri, gak bakalan dipakai buat bekal hidup!

Barangkali banyak dari Pembaca budiman yang beranggapan demikian. Apalagi kalau Pembaca bekerja atau berkuliah di luar jalur sains, pasti setuju kalau belajar matematika sampai muntah cecek ternyata tak berguna. Ada juga yang kesal dengan sistem seleksi calon karyawan yang menggunakan soal matematika (dalam TPA), sehingga kembali bertemu angka-angka brengsek itu.

Terlanjur move on dari matematika saat kuliah, banyak teman saya yang kaget harus kembali belajar matematika untuk kerja, sebal harus kembali berhadapan dengan musuhnya saat sekolah dulu. Dan itu termasuk saya. Namun, seorang pelanggan toko mengirim wahyu yang mengubah (dengan radikal dan revolusioner) pandangan-pandangan saya.

Suatu hari, seorang laki-laki tambun datang ke toko saya untuk membeli kaca untuk dekorasi kafenya. Ia minta dipotongkan kaca berbentuk segitiga sama kaki dengan alas 1 meter dan panjang kaki sebesar 20 cm. Sontak saya dan orang tua saya kaget dengan kompak.

“Mana bisa, Mas? Kan alasnya semeter, kalau sisinya 20 cm dong jadinya gini?” Jelas Mama saya sambil menunjukkan bentuk sisi segitiga yang tidak bisa menyatu. Ya, mirip pacaran berda agama.

Orang itupun nampak bingung.  “Berapa bisanya? Kalau 30 cm bisa gak?” Tanya orang tersebut.

“Ya gak bisa, Mas. Paling nggak sisi-sisinya semeter, nanti jadinya segitiga sama sisi,” jawab Papa saya.

Bukannya merasa tercerahkan, orang tersebut masih nampak bingung dengan urusan segitiganya. Padahal, selama sekolah, kita sudah mati-matian dihajar oleh segitiga. Dari yang paling sederhana, mencari keliling, hingga utak-atik sisi dan sudut menggunakan trigonometri. Kalaupun semisal mas-mas tersebut hanya lulusan SD, seharusnya ia sudah pernah belajar jenis-jenis segitiga, sifat-sifat segitiga, dan triple pythagoras.

Untuk mencari sisi yang pas untuk segitiga mas-mas tersebut sendiri cukup mudah. Yang paling gampang bisa menyamakan sisi kaki dengan sisi alasnya. Atau, kalau mas-mas tersebut kekeuh dengan bentuk segitiga sama kaki, bisa menggunakan angka triple pythagoras dan hasilnya adalah 130 cm.

Kejadian ini menunjukkan saya bahwa problem matematika di kehidupan sehari-hari tidak melulu soal uang. Selain masalah logika sederhana seperti tadi, pengetahuan matematis juga akan dijuji saat Anda mengerjakan tes IQ atau tes potensi akademik (TPA). Tes-tes itu, pembaca tahu, banyak diajukan dalam tes seleksi kerja atau CPNS.

“Lho, kan tidak semua orang dikaruniai kecerdasan numerikal?”

Yak, benar memang. Tes IQ sendiri juga banyak menuai kontra karena dianggap hanya melihat kecerdasan numerikal, linguistik, dan spasial. Tapi, bukan berarti Anda memilih untuk alergi apalagi fobia dengan urusan angka.

Saya sendiri menyarankan Anda untuk sesekali mengerjakan soal matematika sederhana seperti soal-soal TPA tatkala menganggur. Tenang, ini bukan rekomendasi abal-abal seperti inpluenser lokal (Baca: Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi). Tersebab, saya sudah melakukan riset kecil-kecilan mengenai kecerdasan.

Banyak teman saya yang lesu putus asa saat harus kembali belajar matematika untuk bisa mengerjakan TPA saat melamar pekerjaan. Sifat alergi itu datang lantaran pikiran mereka hanya dibayangi oleh bejibun angka-angka, tanpa tahu tujuan dari tes tersebut.

Secara sains, mengerjakan soal seperti ini terbukti meningkatkan IQ Anda. Dengan mengulas lagi pelajaran yang sudah usang, ikatan antar saraf otak Anda akan kembali terjalin dan menguat. Hubungan antar syaraf (sinapsis) pada otak inilah yang menentukan kecerdasan manusia.

Peningkatan IQ ini tidak hanya terkait kecerdasan numerikal saja. Setidaknya menurut pengalaman saya, mengerjakan soal TPA meningkatkan kemampuan menganalisis pola-pola dalam sebuah masalah, dan kemudian mencari solusinya. Mungkin, inilah mengapa banyak sekali perusahaan dan instansi yang menggunakan soal TPA untuk menyeleksi calon karyawan. Sekali lagi, bukan melihat kecerdasan numerikal namun identifikasi pola dalam masalah dan mencari solusinya.

Selain meningkatkan kecerdasan, belajar matematika juga melatih ketelitian. Saya rasa untuk poin ini, Anda sudah mengerti. Hal ini karena hasil yang benar tidak akan didapatkan apabila terdapat kesalahan dalam menghitung.

Di samping menguji ketelitian, mengerjakan soal matematika juga menguji kesabaran.  Tak jarang kita harus menghitung ulang saat tidak menemukan jawaban kita di pilihan jawaban…

Dan yang terakhir itu adalah manfaat tak terelakan, minimal meningkatkan kapasitas imej Anda di mata anak-anak kelak. Bayangkan bila suatu hari nanti anak-anak Anda meminta bantuan mengerjakan soal matematika sederhana, tetapi Anda tidak bisa mengerjakannya….

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Ibadah yang Tertinggal di Ramadhan: Refleksi Diri Bagi Golongan Sok Sibuk 0 183

Oleh: Edeliya Relanika*

 

*Peringatan: Ini bukan artikel dakwah, jadi jangan cari petunjuk religi di bacaan ini

 

Yah, tak terasa Ramadhan di tahun 2021 sudah berlalu. Lebaran bahkan sudah lewat lebih dari seminggu lalu. Tapi kok hidup tetep gini-gini aja, gak ada fitri-fitrinya. Sedih rasanya harus melewatkan Ramadhan dengan begitu cepat—yang tentu saja masih digandeng mesra sama si COVID-19.

Selama Ramadhan kemarin, aku telah tertimbun oleh beratnya tugas kuliah dan proyek kepenulisan. Bukan karena aku jadi materialis dan sekonyong-konyong berorientasi pada pencapaian duniawi, aku juga banyak mulai memikirkan hal yang bahkan belum disadari pada Ramadhan beberapa tahun ke belakang:

Kehilangan kesempatan beribadah Ramadhan saat kita beranjak dewasa, akibat disibukkan dengan pencapaian duniawi yang paradoksal.

Menjadi lebih tua nyatanya bisa membuat kita jadi lebih sibuk pada hal-hal profan. Jika diputar ke sisi lainnya, pencapaian duniawi itu toh juga akan berhenti saat kita meninggal dunia. Mungkin warisan pencapaian itu masih akan tersimpan dan dinikmati oleh keturunan kita. Namun, apakah pencapaian duniawi itu akan menina bobokkan kita di alam kubur?

Mudah saja bagi orang dewasa muda hingga tua untuk memafhumkan pelewatan beberapa ritual ibadah Ramadhan—yang biasa rutin dijalankan ketika waktu lebih muda dahulu. Sebelum aku menjadi lebih tua dan semakin malas beribadah (karena sok sibuk banyak kerjaan), ada beberapa poin catatan pribadi yang mungkin bisa relate dengan para pembaca Kalikata, dan mungkin bisa diterapkan di Ramadhan tahun depan: (karena sesungguhnya Ramadhan tiap tahun harusnya membuat kita manusia yang lebih baik khan, azeq)

Tidak skip ibadah lima waktu salat fardu saat di tengah hari berpuasa.

Dengan alasan banyak tugas dan pekerjaan lainnya (masih yang bersifat duniawi), banyak dari golongan sok sibuk (((seperti aku dan kamu))) yang seringkali lalai untuk melaksanakan salat fardu lima waktu secara full time. Nah, itu ibadah wajib jangan sampai kalian skip kayak iklan di YouTube yang masih belum premium.

 

Kalau tugas ber-deadline tengah malam, mending coba salat Tarawih dulu saja.

Kalau kalian memiliki waktu luang sekitar pukul 7 hingga 9 malam, sempatkanlah untuk salat Tarawih. Bukannya malah latihan joget Tiktok biar masuk fyp. Kalau masih ada tanggungan tugas gimana dong, kak? Coba saja tugas tersebut diselesaikan di pagi, siang, atau sore harinya.

 

Jangan suka begadang nugas atau kerja hingga waktu sahur, lalu jadi kelelawar dan bobok hingga waktu berbuka puasa.

Ini sih dilema para pelajar (apalagi mahasiswa) dan pekerja lainnya. Udah skip banyak ibadah Ramadan dengan alasan kecapaian, eh tapi malah kuat begadang kerja hingga sahur. Kalau kasusnya seperti itu, cobalah kalian pikir ulang. Untuk nugas saja kuat; mengapa untuk ibadah sebentar saja malah banyak alasan? Xixixi.

 

Coba mendaras ayat-ayat Alquran secara konsisten, walau tak sampai puluhan ayat jumlahnya.

Bagi kalian yang berniat untuk membaca Alquran walau pun tidak khatam, tidak apa-apa. Belajarlah konsisten untuk tak luput memaknai isi Alquran. Kalau bisa khatam Alquran di bulan Ramadhan, tentu lebih baik lagi! Biar tiap tahun ada faedahnya Ramadhan kita.

 

Jangan lupa banyak beramal dan bersabar.

Kemenangan Hari Raya nanti akan menjadi lebih bermakna, apabila Ramadan ini dapat kita jalankan dengan beban yang diringankan bersama ikhtiar serta qonaah.

 

Catatan refleksi ini kuharap akan terus berakar dan bertumbuh; dalam menyadarkan kekhilafan kita yang suka skip berbagai ritual ibadah di bulan Ramadhan. Semangat berubah untuk lebih baik boleh-boleh saja berkembang, namun jangan dengan kemalasan diri pada golongan sok sibuk seperti kita hehehe.

Tumben banget Kalikata serius.

 

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Tinggal di Gresik, dan menghasilkan karya dari hobi menulis, salah satunya “Antroposen” di Gramedia Writing Project (Instagram: @edeliyarerelala).

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks