Daftar Profesi yang Ngenes dan Kurang Perhatian 0 845

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Dokter adalah profesi yang berada di nomor pertama dari daftar cita-cita masa kanak. Selanjutnya astronot, akuntan, bos kantoran, dan punya pabrik playstation. Paling tidak punya rental sendiri supaya terkenal di sekolahan. Pembaca yang budiman, sesungguhnya negara ini masih memerlukan banyak profesi lain sebagai kontributor kemajuan. Tanpa berlama-lama, berikut adalah profesi yang semoga saja tidak sepi peminat:

 

Barista Giras

Giras, burjo, angkringan, atau apapun sebutannya, di setiap daerah tempat semacam ini tidak pernah absen. Giras kerap dijadikan markasnya aktipis, tempat beristirahatnya buruh pabrik, sampai menjadi tujuan bolos para pelajar. Giras selalu memiliki yang namanya Barista, entah apa menyebutnya, tapi istilah ini paling mendekati benar. Percayalah, mereka memiliki kemampuan dan ciri khas masing-masing. Contoh, ada Barista memiliki kemampuan membuat kopi dengan rasa yang ideal, tapi tidak komunikatif dengan pengunjung, kalau diajak ngobrol terkesan introvert. Sebaliknya, ada Barista yang sok asik – sampai kehidupan pribadi pengunjung ditelusuri, rasa kopi tidak menjadi prioritas, yang penting ada filosofinya.

 

Tukang Tambal Ban

Selain paku kehidupan yang senantiasa menguji ketabahan, paku jalanan pun kadang sengaja ditebar tak jarang membuat kita mengelus dada. Berterimakasihlah pada Tukang Tambal Ban, mereka dengan ekhlas menunduk berlama-lama untuk menambal setiap kecil lubang yang menggembosi semangat kita – mereka menambal keresahan kita. Sudah berapa pasang kekasih yang terganggu saat ena-ena di jalanan akibat ban bocor? Sudah berapa jumlah dari mereka yang diselamatkan Tukang Tambal Ban? Adegan dramatis dorong motor tidak akan berakhir tanpa profesi ini. Sungguh. Bayangkan saja profesi ini tak pernah ada, mau dorong motor sampai mana para kekasih yang gagal ena-ena itu?

 

Peronda

Peronda mempunyai tugas mulia di jaman yang serba mengkhawatirkan ini. Mereka ialah pemecah sunyi: sudah pernah terkejut mendengar tiang listrik seperti dilempar batu saat tengah malam? Kalau belum, bisa dipastikan tidur kalian terlalu sore. Meski peronda tidak berpotensi membuat qalean menjadi kaya, karena bayaranya hanya kopi dan rokok senja, tapi siapa sangka kalau profesi yang paling dicintai masyarakat ini telah dijamin posisinya di surga? Lho, kok? Jadi begini, saya ada cerita di kampung, namanya Amaq (bapak) Segab, dulu rumah amaq Segab pernah hampir dibobol maling karena rencananya ingin naik haji santer terdengar hingga ke kampung tetangga. Berita ini yang barangkali menjadi niatan buruk para penjahat ingin mengambil uang haji amaq Segab. Benar saja, seminggu sebelum keberangkatan, empat orang pencuri berhasil digagalkan aksinya oleh seorang peronda bernama Idris, konon ia memang memiliki kesaktian warisan. Tapi  berkat Idris, amaq Segab bisa berangkat haji tanpa masalah. Sepulangnya haji, amaq Segab banyak bercerita jika setiap selesai sholat di Makkah, nama Idris tak pernah luput dari do’anya. Wallahua’lam Bishawab.

 

Tukang Isi Korek Gas

Jika para aktivis anti-rokok mempunyai visi untuk membebaskan udara dari asap rokok, pilihannya ada dua; hancurkan pabrik rokok atau jangan biarkan TIKG (Tukang Isi Korek Gas) buka lapak. Selesai. Di luar dari semua visi itu kita patut berterimakasih pada TIKG, walau urgensi dari keberadaan mereka masih abu-abu, tapi mereka memiliki tempat tersendiri di hati para penggemar korek. Seberapa dalam kesedihan seorang pecinta korek saat benda kesayangannya itu kehilangan fungsi? Masih untung kehilangan fungsi, ada yang sampai hilang beneran. Korek adalah manifestasi kenangan seseorang yang sudah lama mengalami jatuh-bangun dan asam-garam kehidupan. Korek selain fungsinya untuk memberi cahaya bagi jalan gelap, korek juga bermanfaat sebagai alat penambah teman. Di Indonesia sendiri, jumlah perokok mencapai sepertiga jumlah penduduk, yakni 36,4 persen. Setidaknya antara sekian banyak perokok, 5 persen tidak membawa korek. Dan di sana qalean para penggemar korek berkesempatan menjadi penyelamat mereka. Lebih jauh lagi, para perokok dan penggemar korek harus benar-benar berterimakasih pada TIKG, tanpa mereka, pertemanan kalian tidak akan dimulai.

 

Tukang Patri

Saya, anda, emak-emak, mari sama-sama kita menunduk mengucapkan rasa hormat pada Tukang Patri yang selalu menyelamatkan setiap masakan kita di rumah. Betapa berjasanya mereka dengan hadir sebagai orang pertama yang bilamana panci mengalami kebocoran. Sudah berpuluh-puluh tahun Tukang Patri menempati posisi penting dalam wilayah domestik, jika pecinta korek dan perokok menjalin hubungan erat dengan TIKG, dalam hal ini, emak-emak dan Tukang Patri pun demikian. Bukan bermaksud menyinggung feminis yang tidak pernah mau menerima posisi perempuan di dapur, saya hanya ingin memaparkan fakta lain dari mapannya budaya patriarkis ini: bahwa tukang patri sesungguhnya menempati posisi lebih domestik dari perempuan, lebih radikal dari apa yang feminis kritik selama rentang abad 20. Jika feminis menganggap wilayah domestik yang didominasi perempuan adalah hasil dari konstruksi budaya patriarkis, bisakah mereka menjawab siapa yang mengkonstruksi posisi bapak Tukang Patri? Tidak lain dan tidak bukan perempuan itu sendiri kok terkesan eksklusif. Kita juga wajib berterimakasih pada Tukang Patri, tanpa mereka, tidak ada lagi yang mampu menahan perempuan di dapur. Sebab kalau perempuan ikut kerja di pabrik, kantor, atau industri lain, itu hanya akan menguntungkan kapitalis. Karena saya masih percaya, keterampilan dan ketelatenan perempuan adalah bakat yang sedang diburu oleh para pemodal. Cukuplah Tukang Patri dan para perempuan menyiapkan masakan untuk tenaga-tenaga revolusioner di masa depan.

 

Sebelumnya pembaca yang budiman, saya tidak bermaksud menjadi provokator dari/untuk pihak manapun. Tapi begini lah, segelintir profesi yang ada di negara kita ini perlu dilestarikan. Mereka mempunyai peran penting dalam wilayah-wilayah terabaikan untuk perubahan yang progresif. Terimakasih.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bocoran Soal KPU dalam Kesahihan Tata Hukum Debaters 0 136

Di era ini, banyak muncul pekerjaan baru seperti supir ojek online hingga influencer media sosial. Namun, tak sedikit pula pekerjaan lawas yang masih bertahan. Kita patut bersyukur masih bisa menemui loper koran dan teller bank, dua pekerjaan yang kayaknya terancam punah kalau kita terus-terusan semakin menghamba pada virtual.

Selain itu, ditengarai calo penyedia kunci jawaban soal ujian juga masih terus lestari. Selama ujian masih ada, eksistensi mereka tetap abadi!

Namun, juru pembocor soal ini gak laku di Debat Pilpres 17 Januari 2019 besok. Lah wong KPU sudah membocorkan pertanyaan debat pada masing-masing pasangan calon. Kerja panelis merumuskan pertanyaan sudah di ujung deadline. Semuanya demi Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi supaya bisa memelajari contekannya sambil latihan ngomong di depan cermin sebelum bertemu Ira Koesno dan Imam Priyono di panggung “panas” nanti.

Keputusan KPU ini lantas menuai pro-kontra. Mulai dari drama antar tim pemenangan yang menjemukan, hingga netizen yang selalu hobi sekadar mengingatkan. Simpulnya, KPU dinilai tidak bijak.  Peserta debat jadi tidak benar-benar teruji. Segala dalih KPU ngalor-ngidul yang katanya ingin ‘mengedepankan konten debat, bukan show’ dimentahkan sudah. ‘Ra mashok blas!

Sesungguhnya, kebijakan KPU ini lahir karena fenomena lebih melekatnya di benak kita ketokohan paslon ketimbang visi-misinya. Kita lebih tahu “Game of Thrones-nya Jokowi dan Prabowo ikut natalan ketimbang program kerja yang ditawarkan keduanya. Miris!

Namun, di luar itu, masyarakat kita memang naturnya punya tingkat kepedulian yang tinggi. Saking tingginya, segala macam benda baik yang hidup maupun mati jadi sasaran omelan. Jadi, tidak perlu heran jika bocoran soal KPU ini pun jadi bahan nyinyir. Lah wong warna celana dalam mbak-mbak ayu saja habis dimakan kok.

Padahal memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat sangatlah lumrah. Dalam tata hukum debaters, sebut saja dalam dapur Asian Parliamentary, ada dua macam mosi debat yaitu prepared motion dan impromptu motion.

Prepared motion adalah mosi atau topik debat yang diberitahukan jauh sebelum perdebatan dilangsungkan. Kalau dalam lomba, biasanya separah-parahnya akan diberikan dua atau tiga hari sebelum. Jadi peserta dimungkinkan untuk riset dari berbagai literatur, fisik maupun internet.

Sedangkan impromptu motion maksudnya adalah topik debat spontan, diberikan beberapa menit sebelum memulai debat. Iya, udah macem pacar yang ngasih surprise birthday present, bikin deg-degan isinya. Kita tidak pernah tahu akan dapat topik debat yang seperti apa, walaupun tidak terlepas dari lingkup tema. Walau begitu, akan tetap ada waktu case building bagi peserta, alias mempersiapkan kerangka dan strategi bicara.

Wah berarti lebih gampang yang prepared motion dong ya daripada impromptu? Lah rumangsamu!

Keduanya punya level tantangan yang berbeda. Prepared motion tentu menuntut ketepatan data dan kedalaman analisa. Karena sudah diberi waktu yang lebih untuk mempersiapkan, nek pancet debate ora cetha yo nemen! Demikian pula impromptu motion memang menggoda seluas apa wawasan yang dimiliki peserta debat, serta kepandaian menyusun logika dan taktik “perang” dalam sempitnya waktu.

Kalau dalam debat, tipe mosi manakah yang paling sering dipakai? Jawabannya adalah dua-duanya. Seimbang. Sama seperti Tuhan ketika menjawab doamu, kadang dikabulkan, kadang bodo amat, hehe. Nah, jika penerapan dua tipe mosi ini berlaku di lomba-lomba debat anak sekolahan, memangnya nggak boleh KPU melakukan hal serupa? Makanya, kita ini jadi netizen jangan kayak doi kalau lagi marah, nggak mau denger penjelasan dulu.

Seperti biasa, debat terbuka capres-cawapres akan terbagi menjadi beberapa termin mulai dari visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, debat antar paslon, hingga closing statement. Nah yang disodorkan adalah pertanyaan panelis sejumlah lima buah. Sedangkan pada sistem di hari H nanti, pasangan calon akan mengambil undian dan hanya mendapatkan salah satu pertanyaan. Mau nggak mau mereka harus mempersiapkan jawaban terbaik dari kelimanya, karena nggak tahu bakal dapat pertanyaan yang mana. Jadi, walaupun prepared motion juga gak segampang itu Fergusso!

Toh masih ada pula sesi saling bertanya antar paslon. Nah, ini termasuk tipe pertanyaan impromptu. Mosok ya mereka janjian pertanyaan dulu kalau sudah begitu.

Mbok jangan suudzon dulu! Jangan-jangan personil KPU tipenya humoris, suka ngasih prank. Dikasih kisi-kisi lima, taunya yang keluar soal nomor enam, yaaahh kena deh! Persis seperti kamu yang dulu merasa diplokothoi sama kisi-kisi soal UNAS.

Intinya, janganlah kita ini suka menyalahkan, apalagi menyalahkan KPU. Sakno lho, mumet ndas’e! Persoalan kardus suara pun sudah kamu jadikan bahan olok, sekarang ditambah lagi. Jahat memang kalian, hiks. 🙁

Pokoknya, apapun kata netizen, kami segenap debaters siap pasang badan untuk membela KPU! Dengan ini, kami telah menyatakan, sistem debat KPU ini sudah sesuai dengan tata hukum debaters yang berlaku.

Menulis Kondisi Penulis dan Membaca Kondisi Pembaca 0 276

Banyak penulis—kita sebut saja begitu—terpangkas semangat menulisnya akibat kesulitan membagi porsi antara kapan harus bekerja untuk yang abadi dan kapan harus bekerja untuk yang fana. Menulis dalam definisi puitisnya, adalah bekerja untuk keabadian (selebihnya akan kita temukan sendiri). Jenis-jenis penulis pun tidak sedikit. Penulis puisi, penulis cerpen, penulis berita, penulis maya, penulis skripsi, penulis miskin, penulis kaya, dan sebagainya.

Dalam diskusi di forum-forum literasi, sering disebutkan bahwa minat membaca buku semakin menurun, sejak minat membaca visual dianggap lebih dominan. Anggapan yang tidak hanya mematahkan semangat para penulis dalam proses produktifnya ini, juga mematahkan semangat penerbit buku dalam mencari tulisan-tulisan yang berkualitas.

Gejolak di atas memang pernah terasa nyata ketika toko-toko buku ternama memamerkan buku-buku yang berasal dari penulis dengan kualitas karya yang kurang serius. Contoh kasus, seorang penulis dituntut oleh penerbitnya agar menghasilkan minimal dua buku dalam waktu singkat. Padahal hal ini bisa berdampak pada tenaga penulis tersebut saat melakukan proses kreatif dan berdampak pula pada tulisan yang dihasilkannya. Atau penulis yang melahirkan buku dengan tema-tema ala kadarnya, semata-mata untuk memuaskan selera pasar hiburan.

Akan tetapi, tidak lama ini, dunia literasi kita menemukan angin segar. Dengan munculannya penerbit-penerbit independen yang berdiri di luar arus pasar hiburan mainstream. Tidak sedikit dari mereka memasarkan produknya hanya melalui internet atau media sosial. Keberadaan mereka membuka ruang yang lebih lebar bagi para penulis baru dengan tema yang kemungkinan lebih inovatif. Artinya, selain memberi ruang yang lebih lebar bagi para penulis, penerbit independen juga berpotensi memberi kesempatan bagi buku-buku marxis kiri yang mana peredarannya diawasi oleh negara ormas. Hehehe…

Namun, dilemanya adalah: bolehkah kita menyebut gerakan kiri atau ide-ide progresif yang dimanifestasikan ke dalam sebuah karya literasi sebagai bentuk komodifikasi. Ketika banyak buku bernuansa kiri mempunyai harga yang fantastis. Harga-harga yang bahkan sulit dijangkau oleh pelaku revolusioner itu sendiri. Tidak hanya melalui buku, kaos, topi, tas kecil, dan berbagai jenis atribut lainnya, mengandung semacam upaya pembentukan identitas yang berlebihan. Sedang di sisi lain, banyak rakjat kecil dengan terpaksa mengenakan kaos pemberian partai demi keberlangsungan hidup mereka yang mulai kehilangan esensi.

Fenomena ini kemudian direspon oleh media-media alternatif yang menyebar di internet. Media yang menghadirkan tulisan-tulisan dengan biaya cetak dan ongkos akses Rp 0 bagi siapa saja. Termasuk media alternatif yang sedang anda baca sekarang ini.

Media yang coba menjadi jawaban lain atas, ketidaksembarangan orang dapat berkarya, karya dapat diterbitkan, dan harga dapat dibayar. Dengan demikian, kita pun tidak boleh menyalahkan keadaan ketika masyarakat lebih tertarik mengkonsumsi media online ketimbang media cetak.

Sekarang, penulis dan pembaca perlu saling memberi pengertian satu sama lain. Bahwa, visi kedua pekerjaan ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan hidup atau memenuhi gaya hidup. Kedua pekerjaan ini adalah usaha merawat kesadaran yang perlahan mulai tergerus oleh hal-hal trivial yang sedang mendominasi isi pikiran kita. Pertanyaan selanjutnya: kesadaran seperti apa yang perlu kita bela sebagai penulis atau pembaca? Tentu saja adalah kesadaran bahwa di dunia ini kita hidup bukan untuk diri sendiri.

Jadi ini salahnya siapa? Salahnya remaja yang memperlakukan Marxis sebagai budaya populer, bukan budaya kritis.

Editor Picks