Kemunculan Generasi Pemuja Kerang Ajaib dan Sekte-sektenya 0 17513

“Apakah aku boleh makan banyak?”

“Ya”

“Apakah aku tetap kurus tanpa diet?”

“Ya”

“Apakah aku boleh clubbing?”

“Ya”

Apakah mama akan mengijinkan?

“Ya”

Selain Tuhan, tebak siapa yang bisa selalu menjawab secara lurus dan pasti, tanpa banyak alasan dan kemunafikan, seperti itu? Jika saja ada sosok nyata di semesta ini yang dapat menghindarkan kita dari kebingungan akan pengambilan keputusan, secara gamblang menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’, dan masih dalam batasan waras, pasti hidup jadi lebih ringkas. Dan kini ia hadir dalam bentuk Linechat bot bernama Kerang Ajaib.

Baru saja lahir kurang dari satu semester yang lalu, namanya sudah melejit di telinga para pemuda belia, dibahas sampai titik darah penghabisan di berbagai group chat dunia maya. Terhitung sampai hari ini, robot Line ini sudah punya lebih dari 400 ribu adders! Untuk versi lainnya yang diproduksi di Jerman (The Magic Shells) bahkan sudah menyentuh angka 1 juta download sejak September tahun ini.

Sesungguhnya Kerang Ajaib ini bukan pendatang baru. Kartun masa kecil kita garapan Nickelodeon, Spongebob Squarepants-lah yang memperkenalkan Kerang Ajaib sebagai bintang tamu. Ia hadir di episode berjudul ‘Club Spongebob’, berdurasi 25 menit dan merupakan serial pada season 3, yang dirilis pada 12 Juli 2002. Alkisah, dalam episode kemunculan Kerang Ajaib ini, diceritakan tokoh Spongebob, Patrick, dan Squidward terjebak dalam hutan antah-berantah dan hanya mengandalkan panduan Kerang Ajaib untuk menentukan segala keputusan agar dapat bertahan hidup dalam alam liar itu.

Adegan itu selalu mengundang tawa, dan itulah mungkin sebabnya gagasan Kerang Ajaib ditawarkan pada generasi milenial zaman ini. Beruntungnya, si Kerang justru digandrungi walau dalam bentuk media digital. Mungkin karena kehadiran Kerang Ajaib di berbagai platform canggih genggaman tangan ini jadi bentuk romantisme remaja-remaja tanggung pada kartun favorit mereka saat masih balita.

Adapun Kerang Ajaib sebagai Line chatbot yang sedang naik daun ini juga bukan fenomena baru. Fasilitas bot (singkatan dari robot) ini punya fitur menjawab otomatis dengan keyword yang sudah ditentukan oleh si pemilik akun. Untuk membuat bot ini tidak sembarangan. Seseorang harus punya hosting untuk menyimpan script jawaban bot dan sertifikat SSL (Secure Socket Layer) yang menjamin keamanan data transaksi online. Dalam beberapa website yang menawarkan jasa pembuatan bot ini, seseorang harus rela merogoh kocek hingga ratusan ribu (Wow!).

Ada banyak kawan-kawan seperjuangan si Kerang. Misalnya ada Jemma, Hi Yuri, Pablow, Qiwi Portal, Yuu, dan masih banyak lagi. Kehadirannya makin menjamur dan realitanya berbanding lurus dengan pertambahan peminatnya. Kita jadi teringat akan dedengkotan chatbot lahiran 2002, SimSimi, yang sudah terlebih dahulu mengawali karirnya. Menurut catatan sejarahnya, SimSimi berasal dari kosakata Korea, simsim, yang artinya bosan. Kemunculan adik-adiknya SimSimi ini kemudian dapat semakin menjelaskan kepada kita fenomena mengapa kawan virtual semacam ini dibutuhkan dunia.

Benarlah ramalan orang tua tentang dunia digital yang membuat kita semakin jadi manusia edan. Seakan kehabisan alternatif hiburan, seorang sahabat artifisial (lama-lama pendamping hidup bo’ongan) jadi kebutuhan primer untuk mengusir bosan. Bahkan di zaman yang serba menampilkan kesibukan (seperti iklannya Meikarta) ini, netizen masih saja merasa bosan dan butuh penghibur yang setia. Melakukan percakapan dengan chatbot menjadi obat mujarab untuk mengusir kesendirian manusia era ini.

Entah harus menghargai kemajuan zaman atau malah ngenes, kehadiran chatbot seperti Kerang Ajaib menjadi suatu pemujaan yang pantas. Generasi baperan dan bingungan ini butuh jawaban pasti sesederhana ‘ya’ dan ‘tidak’. Kegilaan ini tentu tidak hadir sekonyong-konyong seperti munculnya setan di film horor Indonesia yang musiknya bikin kaget. Mungkin, ketika dunia nyata tak mampu memberikan jawaban PASTI, para generasi penerus bangsa ini terpaksa mencarinya di dunia maya. Entah jawaban pasti dari siapa yang mereka harapkan.

Bahkan, parahnya, Instagram kini juga semakin menunjukkan ketidakpuasannya menciptakan kebiasaan ‘dikit-dikit update’ di kalangan penggunanya. Hari-hari ini, kita bisa memindai aktivitas sambil memberi polling atas dua pilihan jawaban, meminta bantuan kepada followers untuk memilihkan jawaban melalui Instagram stories ketika kita bingung untuk memilih. Alih-alih iseng, penyediaan fitur-fitur alternatif jawaban yang dibuat oleh creator teknologi semakin menjelaskan manusia abad ini yang haus akan KEPASTIAN.

Fenomena ini boleh jadi merebak lantaran politisi yang suka mbulet ketika diwawancara di media massa. Pemirsa pasti mendamba betul jika Setya Novanto bisa menjawab segamblang ini:

“Apakah Bapak suka korupsi?”

“Ya”

“Apakah Bapak kemarin sandiwara sakit (gangguan ngorok) untuk menghindari KPK?”

“Ya”

“Apakah Bapak sungguh-sungguh makan duit korupsi e-KTP?”

“Ya”

Selain itu, (mungkin) juga adanya fenomena kehausan pemuda-pemudi akan doi yang tidak banyak alasan ‘aku mau fokus belajar’ atau ‘kayaknya kamu terlalu baik buat aku’ dan memimpikan skenario jawaban seperti ini:

“Apakah kamu mau jadi pacarku?”

“Tidak”

“Apakah kamu suka memainkan perasaanku?”

“Ya”

“Apakah karena aku jelek?”

“Ya”

Mungkin, kita harus berterimakasih pada Kerang Ajaib yang menyelamatkan jiwa-jiwa galau yang butuh kepastian ini. Sesuai dengan namanya, ia secara ajaib juga mengusir kehampaan karena arek’e gak bales chat. Dan secara ajaib pula, mungkin si Kerang bakal menjadi agama yang lebih dipercaya khalayak umum, menjadi sabda yang lebih diamini daripada ceramah kyai, atau nasihat yang lebih dituruti ketimbang omelan mama.

Akhir kata, puja Kerang Ajaib!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Seharusnya Kita Tanggapi Pelantikan Menteri 0 294

Kita semua setuju 2 hal ini sebagai persoalan utama bangsa:
1. Mau keluar dari grup Whatsapp, tapi sungkan, akhirnya di-mute aja
2. Pilpres-pilpresan nan sangat melelahkan

Bagaimana tidak? Proses dari penentuan capres-cawapres, kampanye, pemilu, sampai finalisasi kabinet memakan waktu lebih dari 1 tahun, terlama sepanjang sejarah. Pemilu periode ini memang yang terbesar korbannya, yang harus dicatat dalam sejarah.

Pun harus dicatat pula bahwa kali ini, baik eksekutif maupun legislatif pilihan kalean semuah, diisi orang-orang dari partai sama di pucuk pimpinannya. Kecuali MPR, yang yaaah… ketuanya juga dari kubu koalisi.

Beli 01, gratis 02. Begitu katanya arek-arek di social media. Prabowo, capres 2 periode berturut-turut yang sangat macho dan mantap jadi oposisi selama ini, kini “ciut”, memilih “bertahan hidup”, naik satu “gerbong (MRT)” yang sama dengan lawannya, Jokowi, di Kabinet Indonesia Maju.

Keputusan petinggi Gerindra tersebut, yang jelas menyuratkan sikap politik partai ini, menghasilkan reaksi dari rakyat. Ada yang kecewa berat, ada pula yang kecewa sangat berat.

Yang kecewa-kecewa itu kebanyakan mengimpikan Prabowo, pahlawan junjungannya itu, tetap jadi oposisi saja. Tentu tetap dengan semangat mempertahankan check and balances agar tetap berjalan di pemerintahan. Eh, tapi ujung-ujungnya si doi luluh juga, merapat ke sisi istana.

Walau begitu, Prabowo dan kawan-kawan Gerindra-nya berjanji untuk tetap kritis walau mendukung pemerintahan. Sungguh sebuah semangat dan prinsip yang patriotik. Walau kita tak tahu, apa dan bagaimana definisi serta batasan “sikap kritis” itu.

Tak hanya Prabowo, sejumlah deretan menteri yang diumumkan 3 hari sesudah pelantikan Jokowi-Ma’ruf ini, membuat netijen kaget… dan nyinyir.

Nadiem Makarim, yang tak punya bekgron tersertifikasi di bidang pendidikan dan kebudayaan itu, justru jadi Mendikbud. Zainudin Amali, yang suka jalan pagi dan berenang itu, ditunjuk jadi Menpora. Bu Susi, putri laut kebanggaan rakjat itu, tak melaju lagi dan alih-alih kursinya diisi Edhy Prabowo, waketum Gerindra.

Hal paling memuakkan bagi saya bukanlah soal masih banyak deretan nama lain yang mengejutkan. Tapi, karena kita semua merasa tiba-tiba paling mahir menganalisa wawasan dan kapabilitas bapak-ibu menteri ini. Kita tiba-tiba menjadi paling ahli di antara yang ahli.

Seluruh warga dunia maya kini merasa punya kekuatan untuk mengemukakan pendapatnya. Nge-twit, bikin status, bikin video klarifikasi, membuat daftar nama ideal yang seharusnya dipilih Jokowi. Tak peduli itu masih bursa calon, atau bahkan setelah pelantikan sekalipun.

Kenapa kok yang ini gak dipertahankan dan malah didepak? Padahal bagus banget loh kerjanya.”

“Kenapa Jokowi tetep milih si ini sih?

Ocehan-ocehan kayak begini bahkan tak hanya muncul di linimasa media sosial, atau bertengger di grup Whatsapp yang kita sungkan buat keluarnya.

Masih mending kalau argumen yang disampaikan didasari analisis track record dan tantangan bidang yang bersangkutan dalam kondisi terkini. Lah wong kadang penilaiannya sangat subjektif. Bahkan terkesam memendam dendam kesumat pada sebagian orang yang sempat dikenal secara personal.

Seberapa jauh sih kalian kenal mereka dan pemetaan kursi menteri? Seberapa jauh pengamatan kalian pada latar belakang situasi kondisi, persoalan, dan tantangan bidang-bidang kementerian?

Mereka yang hari ini telah dilantik telah menunjukkan performa terbaiknya. Entah berhasil berprestasi di periode sebelumnya, hingga dipinang jadi menteri lagi. Entah karena telah bertekun dalam bidang profesinya. Atau karena pandai memanfaatkan resources dan lobi-lobian politik.

Satu-satunya cara untuk bisa menilai menteri sesungguhnya hanya dari hasil karyanya nanti. Pun reshuffle-reshuffle-an tak bisa jadi ukuran. Siapa yang pernah tahu kalau reshuffle bukan semata-mata karena “kemandulan” produktivitas menteri? Bisa jadi kan karena konsensus dan sikut-menyikut koalisi-oposisi parpol?

Lantas apa yang bisa kita lakukan sebagai bangsa? Apakah diam saja dan tak boleh proaktif mengawal pemerintah?

Demokratis boleh, sok tahu jangan. Ati-ati aja. Negara mana sih yang suka rakyatnya terlalu pinter? Apa-apa yang ‘terlalu’ itu gak baik bagi kesehatan.

Pada akhirnya, hidup bernegara ini memang harus dihadapi dengan santuy. Jangan terlalu banyak mikiri! Apa gak capek 1 tahun belakangan ini ngurusi Jokowi terooooos?

Mari kita senderkan punggung, nonton sertijab menteri-menteri ini dari layar kaca! Sembari menikmati buah salak yang dikupas Nia Ramadhani.

 

Foto: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia (setneg.go.id)

Kegundahan Sederhana yang Disebabkan Kartu Nama 1 313

Jika Mas Robbyan Abel sudah bercerita tentang pergulatan mahasiswa tingkat akhir yang nggak tahan kudu mentas, kali ini izinkan hamba bercerita tentang satu tahap di atasnya: pengalaman kerja.

Beberapa waktu yang lalu, saya adalah job seeker, melamar sana-sini dan dipanggil untuk wawancara di perusahaan impian. Di tiap wawancara itu, saya tentu bertemu dengan pelamar lainnya. Di situ, terjadi perkenalan dan perbincangan basa-basi, khas warga Endonesah. Tujuannya jelas, siapa tahu jadi teman kantor saat kami sama-sama diterima. Kalaupun salah satu dari kami tidak beruntung, paling tidak sudah memperluas relasi.

Dalam perkenalan singkat itu, supaya tetap berkawan hingga kemudian hari, saya biasanya yang lebih duluan meminta kontak. Bukan nomor handphone, apalagi alamat rumah.

Saya tanyakan nama akun Instagram-nya.

Pada sebuah tes wawancara kerja, saya bertemu seorang pelamar lain yang ketika saya tanyai akun Instagram-nya, mengaku tidak punya. Saya lantas kaget. Hari gini, gak main Instagram? Padahal, menurut survei awur-awuran versi penulis, anak milenial macam kita ini paling suka menggunakan media sosial Instagram.

Perlu bukti? Kini kebutuhan hidup anak-anak muda adalah mencari tempat nongkrong dan liburan yang Instagram-able. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan istilah itu. Sama seperti munculnya sebutan selebgram, jabatan yang patut diberikan pada mereka yang punya eksposur tinggi di jagad aplikasi berlogo kamera warna pelangi ini. Lantas berikutnya, jumlah followers, like, dan comment kemudian jadi komoditas dan kebutuhan hidup, selain uang tentunya (yang lagi-lagi untuk beli minum di tempat nongkrong yang Instagram-able).

Akibat kenalan baru saya ini tadi nggak punya Instagram, pilihan terakhir bagi saya adalah bertanya media sosial lain apa yang dia mainkan. Ternyata ia punya Twitter, syukurlah. Walau tentu meninggalkan pertanyaan dalam benak, bagaimana kawan saya ini bisa survive di antara teman se-gengnya ketika yang lain sedang ngumpul dan update story di Instagram, sementara dia nggak?

Cerita lain, setelah sebulan bekerja, saya bertemu banyak narasumber yang usianya beragam. Pengalaman lain lagi saya alami. Saat berkenalan dan meminta nomor HP narasumber, mereka menyodorkan barang yang tentu sama sekali asing bagi arek-arek lahiran tahun 2010-an ke atas: kartu nama.

Peristiwa ini membuat saya canggung. Sudah menyiapkan HP, membuat kontak baru di buku telepon HP, bersiap mengetikkan nomor si narasumber, eh dia nyodorin kartu nama. Bahkan, saking lumrahnya barang ini di era hidup si narasumber, mereka bertanya balik apa saya ada kartu nama yang bisa dipertukarkan. Entah harus malu atau bangga, mengaku di hadapan narasumber kalau saya anak milenial: generasi yang sudah tidak punya atau bahkan tidak tahu apa urgensi membuat kartu nama pribadi.

Tapi, saya bukan generasi yang sama sekali nggak kenal kartu nama. Sependek ingatan, saya pernah saling bertukar kartu nama dengan teman-teman di bangku SD. Kala itu, kami suka membuat kartu nama dengan warna dan gambar kartun favorit. Kartu nama di zaman itu jadi sebuah artefak penanda prestis, sangat ikonik, butuh dipamerkan dan dipertukarkan, layaknya kertas binder.

Lambat laun, kartu nama bagi anak seusia saya mulai ditinggalkan. Lantas, peristiwa kartu nama dengan narasumber itu membuat saya bertanya-tanya dalam sukma: apakah memang sudah sejauh itu ketimpangan zaman milenial dengan generasi yang lahir sebelumnya? Kalau saya yang hampir 23 tahun ini saja sudah merasa ada gap gara-gara kartu nama, ndaniyo anake Raditya Dika karo Raisa?

Pertanyaan selanjutnya, salahkah bila kami tak punya kartu nama, dan punya cara berbeda dalam berkenalan dan berkorespondensi? Toh, perkenalan via dunia digital tidak mengurangi substansi dan etika.

Selain jadi komoditas pasar dan target kampanye politik, nasib milenial memang senantiasa jadi kambing hitam atas tuduhan-tuduhan “anak zaman sekarang mana ngerti…”atau “let’s confuse kids nowadays”.

Oalah Gusti, salah ta aku lahire saiki?

Foto: Deedee86 (Pixabay)

Editor Picks