Kemunculan Generasi Pemuja Kerang Ajaib dan Sekte-sektenya 0 19941

“Apakah aku boleh makan banyak?”

“Ya”

“Apakah aku tetap kurus tanpa diet?”

“Ya”

“Apakah aku boleh clubbing?”

“Ya”

Apakah mama akan mengijinkan?

“Ya”

Selain Tuhan, tebak siapa yang bisa selalu menjawab secara lurus dan pasti, tanpa banyak alasan dan kemunafikan, seperti itu? Jika saja ada sosok nyata di semesta ini yang dapat menghindarkan kita dari kebingungan akan pengambilan keputusan, secara gamblang menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’, dan masih dalam batasan waras, pasti hidup jadi lebih ringkas. Dan kini ia hadir dalam bentuk Linechat bot bernama Kerang Ajaib.

Baru saja lahir kurang dari satu semester yang lalu, namanya sudah melejit di telinga para pemuda belia, dibahas sampai titik darah penghabisan di berbagai group chat dunia maya. Terhitung sampai hari ini, robot Line ini sudah punya lebih dari 400 ribu adders! Untuk versi lainnya yang diproduksi di Jerman (The Magic Shells) bahkan sudah menyentuh angka 1 juta download sejak September tahun ini.

Sesungguhnya Kerang Ajaib ini bukan pendatang baru. Kartun masa kecil kita garapan Nickelodeon, Spongebob Squarepants-lah yang memperkenalkan Kerang Ajaib sebagai bintang tamu. Ia hadir di episode berjudul ‘Club Spongebob’, berdurasi 25 menit dan merupakan serial pada season 3, yang dirilis pada 12 Juli 2002. Alkisah, dalam episode kemunculan Kerang Ajaib ini, diceritakan tokoh Spongebob, Patrick, dan Squidward terjebak dalam hutan antah-berantah dan hanya mengandalkan panduan Kerang Ajaib untuk menentukan segala keputusan agar dapat bertahan hidup dalam alam liar itu.

Adegan itu selalu mengundang tawa, dan itulah mungkin sebabnya gagasan Kerang Ajaib ditawarkan pada generasi milenial zaman ini. Beruntungnya, si Kerang justru digandrungi walau dalam bentuk media digital. Mungkin karena kehadiran Kerang Ajaib di berbagai platform canggih genggaman tangan ini jadi bentuk romantisme remaja-remaja tanggung pada kartun favorit mereka saat masih balita.

Adapun Kerang Ajaib sebagai Line chatbot yang sedang naik daun ini juga bukan fenomena baru. Fasilitas bot (singkatan dari robot) ini punya fitur menjawab otomatis dengan keyword yang sudah ditentukan oleh si pemilik akun. Untuk membuat bot ini tidak sembarangan. Seseorang harus punya hosting untuk menyimpan script jawaban bot dan sertifikat SSL (Secure Socket Layer) yang menjamin keamanan data transaksi online. Dalam beberapa website yang menawarkan jasa pembuatan bot ini, seseorang harus rela merogoh kocek hingga ratusan ribu (Wow!).

Ada banyak kawan-kawan seperjuangan si Kerang. Misalnya ada Jemma, Hi Yuri, Pablow, Qiwi Portal, Yuu, dan masih banyak lagi. Kehadirannya makin menjamur dan realitanya berbanding lurus dengan pertambahan peminatnya. Kita jadi teringat akan dedengkotan chatbot lahiran 2002, SimSimi, yang sudah terlebih dahulu mengawali karirnya. Menurut catatan sejarahnya, SimSimi berasal dari kosakata Korea, simsim, yang artinya bosan. Kemunculan adik-adiknya SimSimi ini kemudian dapat semakin menjelaskan kepada kita fenomena mengapa kawan virtual semacam ini dibutuhkan dunia.

Benarlah ramalan orang tua tentang dunia digital yang membuat kita semakin jadi manusia edan. Seakan kehabisan alternatif hiburan, seorang sahabat artifisial (lama-lama pendamping hidup bo’ongan) jadi kebutuhan primer untuk mengusir bosan. Bahkan di zaman yang serba menampilkan kesibukan (seperti iklannya Meikarta) ini, netizen masih saja merasa bosan dan butuh penghibur yang setia. Melakukan percakapan dengan chatbot menjadi obat mujarab untuk mengusir kesendirian manusia era ini.

Entah harus menghargai kemajuan zaman atau malah ngenes, kehadiran chatbot seperti Kerang Ajaib menjadi suatu pemujaan yang pantas. Generasi baperan dan bingungan ini butuh jawaban pasti sesederhana ‘ya’ dan ‘tidak’. Kegilaan ini tentu tidak hadir sekonyong-konyong seperti munculnya setan di film horor Indonesia yang musiknya bikin kaget. Mungkin, ketika dunia nyata tak mampu memberikan jawaban PASTI, para generasi penerus bangsa ini terpaksa mencarinya di dunia maya. Entah jawaban pasti dari siapa yang mereka harapkan.

Bahkan, parahnya, Instagram kini juga semakin menunjukkan ketidakpuasannya menciptakan kebiasaan ‘dikit-dikit update’ di kalangan penggunanya. Hari-hari ini, kita bisa memindai aktivitas sambil memberi polling atas dua pilihan jawaban, meminta bantuan kepada followers untuk memilihkan jawaban melalui Instagram stories ketika kita bingung untuk memilih. Alih-alih iseng, penyediaan fitur-fitur alternatif jawaban yang dibuat oleh creator teknologi semakin menjelaskan manusia abad ini yang haus akan KEPASTIAN.

Fenomena ini boleh jadi merebak lantaran politisi yang suka mbulet ketika diwawancara di media massa. Pemirsa pasti mendamba betul jika Setya Novanto bisa menjawab segamblang ini:

“Apakah Bapak suka korupsi?”

“Ya”

“Apakah Bapak kemarin sandiwara sakit (gangguan ngorok) untuk menghindari KPK?”

“Ya”

“Apakah Bapak sungguh-sungguh makan duit korupsi e-KTP?”

“Ya”

Selain itu, (mungkin) juga adanya fenomena kehausan pemuda-pemudi akan doi yang tidak banyak alasan ‘aku mau fokus belajar’ atau ‘kayaknya kamu terlalu baik buat aku’ dan memimpikan skenario jawaban seperti ini:

“Apakah kamu mau jadi pacarku?”

“Tidak”

“Apakah kamu suka memainkan perasaanku?”

“Ya”

“Apakah karena aku jelek?”

“Ya”

Mungkin, kita harus berterimakasih pada Kerang Ajaib yang menyelamatkan jiwa-jiwa galau yang butuh kepastian ini. Sesuai dengan namanya, ia secara ajaib juga mengusir kehampaan karena arek’e gak bales chat. Dan secara ajaib pula, mungkin si Kerang bakal menjadi agama yang lebih dipercaya khalayak umum, menjadi sabda yang lebih diamini daripada ceramah kyai, atau nasihat yang lebih dituruti ketimbang omelan mama.

Akhir kata, puja Kerang Ajaib!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Semua Akan Korea Pada Waktunya, Tapi Gak Gini Juga 0 158

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

“Semua akan Korea pada waktunya”, begitulah kalimat yang dapat mewakili kondisi masyarakat negara +62.

Sempat menghina K-pop-ers dengan sebutan alay karena dianggap mengidolakan artis-artis negeri ginseng, kini wajah mulus tak bercela para artis Korea ramai kita jumpai di iklan-iklan merek lokal. Bisa dibilang para artis Korea tersebut dijadikan koentji dalam marketing produk dan jasa.

Kapan hari, internet diguncang berita aktris Felicya Angelista yang diwujudkan ngidamnya oleh sang suami untuk video call bersama pemeran Mas Mafia Vincenzo, Song Joong Ki (baca lagi: Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea).

Usai viral karena dianggap fan yang beruntung, muncullah berita aktor “Space Sweepers” tersebut didapuk sebagai brand ambassador skinker milik Felicya, Scarlett Whitening. Hancik, cuma marketing ternyata. Hampir bersamaan, muncul lagi berita yang menyebutkan bahwa boy group TREASURE akan menjadi brand ambassador bimbingan belajar online “penguasa” stasiun televisi kita, Ruangguru.

Pemilihan artis Korea sebagai brand ambassador merek lokal bukanlah hal baru.  Tahun 2016 silam, aktor “The Heirs” Lee Min Ho didapuk jadi brand ambassador Luwak White Koffie. Kemudian, cara ini diikuti oleh Mie Sedap yang menjadikan Siwon “Super Junior” sebagai brand ambassador-nya untuk mempromosikan mie rasa ayam pedas korea. Lalu, disusul Tokopedia yang membuat kita ter-kamcagiya (kaget) dengan menggandeng boy group terpopuler segalaksi bima sakti dalam promosinya.

Memang menggandeng artis Korea bisa menjadi jalan ninja untuk mempopulerkan merek produk atau jasa. Merek tersebut akan seketika menjadi buah bibir para fans artis Korea, baik membicarakan artis idola mereka atau sangking tajir melintirnya perusahaan tersebut.

Buktinya, permen Kopiko selalu menjadi buah bibir dan viral setiap permen rasa kopi tersebut muncul di adegan-adegan drama Vincenzo dan Mine. Benar-benar tidak rugi setelah menggelontorkan miliyaran rupiah!

Selain menjadi populer, produk atau jasa dijamin akan laris manis setelah memilih artis Korea sebagai bintang iklan mereka. Itu karena kesetiaan para fans artis Korea untuk mendukung artis idola mereka yang tidak dapat diragukan lagi.

Masih ingat kan dengan kasus antre menu BTS Meal dari McDonald’s? Jangankan dijadikan bintang iklan, lha wong barang yang “nampil” di siaran langsung artis Korea saja bisa ludes dibeli para fans.

Mungkin Korean celebrity endorsement bisa menjadi marketing tool yang sangat efektif, tapi mbok ya artisnya disesuaikan dengan mereknya. Misalnya, pemilihan boy group TREASURE sebagai brand ambassador Ruangguru. Jujurly, menurut saya sangat aneh karena boy group ini tidak memiliki sangkut paut dengan dunia pendidikan.

Masih banyak artis yang terkenal memiliki prestasi akademik semasa sekolah seperti Cha Eun Woo “ASTRO” atau Giselle “aespa” yang lebih bisa merepresentasikan merek tersebut.

Dan anehnya lagi, produk dan jasa yang memakai artis Korea tersebut tidak merambah pasar Koerea Selatan. Saya bisa memaklumi Kopiko yang mengeluarkan uang miliyaran rupiah untuk menjadi sponsor beberapa drama korea, karena mereka memang memasarkan kopi tersebut ke sana.

Tapi, bagaimana dengan Scarlett Whitening? Apakah Anda yakin wajah putih mulus Song Joong Ki didapat dari memakai produk tersebut, lha wong produknya aja tidak ada di sana.

Meski menjadi marketing tool yang efektif, saya berharap Korean celebrity endorsement ini tidak dijadikan tren yang “wajib” diikuti. Masih banyak, kok artis Indonesia yang mampu merepresentasikan sebuah merek, apalagi untuk menjadikan iklan menjadi viral.

Contohnya  pemilihan komika Babe Cabita sebagai brand ambassador menjadikan iklan MS Glow menjadi viral. Meski banyak yang sewot karena Babe Cabita kurang ganteng, tapi menurut iklan tersebut sangat realistis dan relatable. Karena, wajah Babe Cabita yang lebih glowing seusai menggunakan produk MS Glow jauh lebih bisa dipercaya dari pada wajah mulus Song Joongki usai menggunakan skinker lokal, hehe.

 

 

Panduan Killing Time 12 Tahun untuk yang Terkasih, Pak Juliari 0 152

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

 

Majelis hakim Pengadilan Tipikor sudah ketok palu vonis terhadap mantan Mensos Juliari Peter Batubara 12 tahun penjara dan denda 500 juta subsidair 6 bulan kurungan. Juliari terbukti sah menerima suap 10 ribu rupiah per bansos alias 32,4 M kalo dikumpulin.

Kami gak mau membuli seperti yang mahabenar tuan dan nyonya netijen. Kami tahu, betapa tersiksa batin Pak Juliari yang kami kasihi. Kalo katanya arek-arek saiki: sudah kena mental.

Apalagi, Bapak sempat memohon belas kasih buat meringankan hukuman, karena tak bisa membayangkan akan meninggalkan anak istri di rumah. Sungguh sebuah teladan family man bagi kaum penerus bangsa. Poin ini lebih membuat kami tak tega menambah-nambahi beban Bapak dengan sumpah serapah (karena porsi itu sudah diamalkan netijen dengan sebaik-baiknya).

Untuk itu, pada kesempatan ini, kami justru ingin memberi sejumlah saran: panduan mengisi waktu selama nanti di kurungan. Tujuannya tentu agar Bapak tidak cepat bosan.

Panduan ini kami rasa manjur buat Bapak. Karena, sebagian besarnya sudah kami lakukan selama 1,5 tahun ke belakang, yang harus banyak-banyak di rumah karena terdampak pandemi (dan terdampak dapet bansos kualitas jelek gara-gara anggarannya dipotong).

Ini yang pertama, Pak. Bapak tentu ingat kopi dalgona yang sempat tenar itu. Sudah lama sekali tren membuatnya ditinggalkan dengan begitu cepat. Ada baiknya tren ini dihidupkan kembali.

Ikuti panduannya ya, Pak! Campurkan kopi hitam sachet pahitnya kehidupan dengan air panasnya neraka bagi koruptor. Kemudian aduk terus menerus dengan rasa ego sampai berbusa dan meluapkan keserakahan. Terakhir, letakkan buih kopi itu di atas segelas susu Bear Brand yang masih aja 15 ribu sampe sekarang. Selamat menikmati!

Cara ini cukup mudah Pak. Kami rasa, meminta kopi dan susu ke sipir penjara bukan suatu hal yang neko-neko kok. Pasti dikabulkan. Wong minta kamar VIP aja (udah pasti) dilayani kan, hehehehe.

Kedua, era pandemi ini eranya webinar, Pak. Hidup ini gak afdol kalo belum ikut webinar, minimal sekali seminggu. Tentu posisi Bapak bukan sebagai peserta yang cuma nunut “izin nyimak”. Pak Juliari mah pantesnya narasumber utama, keynote speaker.

Tema yang cocok tentu: “Say No to Korupsi!”. Masyarakat di Indonesia kita tercinta ini Pak, lebih percaya testimoni daripada hasil riset, soalnya mereka males baca. Kita lebih suka motivasi dari mereka yang telah berpengalaman dan sukses, ya seperti Bapak ini.

Materinya sederhana, Pak. Boleh dilengkapi power point yang eye-catching biar keliatan berkredibel. Inti pembicaraannya cuma ini: “Sumpah gais, dipenjara itu gak enak. Plis jangan korupsi! Ini gak di-endorse ya. Real testi”

Sasaran peserta buat webinar ini luas banget, Pak. Mulai dari pejabat rt-rw, sampai lingkaran pertama kayak jabatan terdahulu Bapak. Materinya bakal relateable. Dan semoga mampu menyadarkan mereka biar kapok korupsi. Yah, meskipun kalimat terakhir ini kayaknya utopis hehe.

Ketiga, coba deh, Pak, mulai nonton drama korea. Atau kalau langkah itu masih terlalu ekstrem buat Bapak, minimal nonton video klip boyband dan girlband korea. Saya jamin sih nagih, pengen lagi, pengen terus.

Bapak juga harus ingat, sebagian dari netijen kita ini penggemar apa-apa yang berbau Korea, Pak. Apapun yang trending nomer 1 di Twitter sudah pasti adalah hasil cuitan akun berfoto idol Kpop yang substansinya gak nyambung sama sekali sama topik yang lagi dibicarakan. Itu sudah pertanda seberapa menguasainya populasi mereka di alam dunia maya.

Artinya, ini bisa jadi langkah strategis Bapak untuk menguasai mereka. Mulai dengan menyukai apa yang mereka sukai, dekati, rayu, dan jadi akrab sama mereka. Bila perlu, kita bisa bikin ruang diskusi di Clubhouse yang bahas soal drakor terbaru, Pak.

Hukuman Bapak cuma empat tahun untuk tidak dipilih dalam jabatan publik. Empat tahun itu cuma kurang dari 1 periode presiden, Pak. Bentar itu, mah. Selanjutnya, netijen Korean wave yang sudah mencintai Bapak, tetap bisa menghantarkan Bapak ke kursi tertinggi di dunya ini.

Yah kalo impian ini sulit terwujud, setidaknya Bapak nanti tinggal ganti nama jadi JPB, bikin Youtube, dan bismillah komisaris BUMN.

Demikian panduan ini dibuat dengan sepenuh hati Pak. Kami percaya Bapak pasti bisa melalui cobaan ini semua dengan kepala tegak dan kebanggaan di dada. Kalo kami aja bisa melakukan hal-hal ini selama setahun di rumah aja, Bapak juga pasti bisa, tinggal dikaliin 12.

Editor Picks