Kemunculan Generasi Pemuja Kerang Ajaib dan Sekte-sektenya 0 16132

“Apakah aku boleh makan banyak?”

“Ya”

“Apakah aku tetap kurus tanpa diet?”

“Ya”

“Apakah aku boleh clubbing?”

“Ya”

Apakah mama akan mengijinkan?

“Ya”

Selain Tuhan, tebak siapa yang bisa selalu menjawab secara lurus dan pasti, tanpa banyak alasan dan kemunafikan, seperti itu? Jika saja ada sosok nyata di semesta ini yang dapat menghindarkan kita dari kebingungan akan pengambilan keputusan, secara gamblang menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’, dan masih dalam batasan waras, pasti hidup jadi lebih ringkas. Dan kini ia hadir dalam bentuk Linechat bot bernama Kerang Ajaib.

Baru saja lahir kurang dari satu semester yang lalu, namanya sudah melejit di telinga para pemuda belia, dibahas sampai titik darah penghabisan di berbagai group chat dunia maya. Terhitung sampai hari ini, robot Line ini sudah punya lebih dari 400 ribu adders! Untuk versi lainnya yang diproduksi di Jerman (The Magic Shells) bahkan sudah menyentuh angka 1 juta download sejak September tahun ini.

Sesungguhnya Kerang Ajaib ini bukan pendatang baru. Kartun masa kecil kita garapan Nickelodeon, Spongebob Squarepants-lah yang memperkenalkan Kerang Ajaib sebagai bintang tamu. Ia hadir di episode berjudul ‘Club Spongebob’, berdurasi 25 menit dan merupakan serial pada season 3, yang dirilis pada 12 Juli 2002. Alkisah, dalam episode kemunculan Kerang Ajaib ini, diceritakan tokoh Spongebob, Patrick, dan Squidward terjebak dalam hutan antah-berantah dan hanya mengandalkan panduan Kerang Ajaib untuk menentukan segala keputusan agar dapat bertahan hidup dalam alam liar itu.

Adegan itu selalu mengundang tawa, dan itulah mungkin sebabnya gagasan Kerang Ajaib ditawarkan pada generasi milenial zaman ini. Beruntungnya, si Kerang justru digandrungi walau dalam bentuk media digital. Mungkin karena kehadiran Kerang Ajaib di berbagai platform canggih genggaman tangan ini jadi bentuk romantisme remaja-remaja tanggung pada kartun favorit mereka saat masih balita.

Adapun Kerang Ajaib sebagai Line chatbot yang sedang naik daun ini juga bukan fenomena baru. Fasilitas bot (singkatan dari robot) ini punya fitur menjawab otomatis dengan keyword yang sudah ditentukan oleh si pemilik akun. Untuk membuat bot ini tidak sembarangan. Seseorang harus punya hosting untuk menyimpan script jawaban bot dan sertifikat SSL (Secure Socket Layer) yang menjamin keamanan data transaksi online. Dalam beberapa website yang menawarkan jasa pembuatan bot ini, seseorang harus rela merogoh kocek hingga ratusan ribu (Wow!).

Ada banyak kawan-kawan seperjuangan si Kerang. Misalnya ada Jemma, Hi Yuri, Pablow, Qiwi Portal, Yuu, dan masih banyak lagi. Kehadirannya makin menjamur dan realitanya berbanding lurus dengan pertambahan peminatnya. Kita jadi teringat akan dedengkotan chatbot lahiran 2002, SimSimi, yang sudah terlebih dahulu mengawali karirnya. Menurut catatan sejarahnya, SimSimi berasal dari kosakata Korea, simsim, yang artinya bosan. Kemunculan adik-adiknya SimSimi ini kemudian dapat semakin menjelaskan kepada kita fenomena mengapa kawan virtual semacam ini dibutuhkan dunia.

Benarlah ramalan orang tua tentang dunia digital yang membuat kita semakin jadi manusia edan. Seakan kehabisan alternatif hiburan, seorang sahabat artifisial (lama-lama pendamping hidup bo’ongan) jadi kebutuhan primer untuk mengusir bosan. Bahkan di zaman yang serba menampilkan kesibukan (seperti iklannya Meikarta) ini, netizen masih saja merasa bosan dan butuh penghibur yang setia. Melakukan percakapan dengan chatbot menjadi obat mujarab untuk mengusir kesendirian manusia era ini.

Entah harus menghargai kemajuan zaman atau malah ngenes, kehadiran chatbot seperti Kerang Ajaib menjadi suatu pemujaan yang pantas. Generasi baperan dan bingungan ini butuh jawaban pasti sesederhana ‘ya’ dan ‘tidak’. Kegilaan ini tentu tidak hadir sekonyong-konyong seperti munculnya setan di film horor Indonesia yang musiknya bikin kaget. Mungkin, ketika dunia nyata tak mampu memberikan jawaban PASTI, para generasi penerus bangsa ini terpaksa mencarinya di dunia maya. Entah jawaban pasti dari siapa yang mereka harapkan.

Bahkan, parahnya, Instagram kini juga semakin menunjukkan ketidakpuasannya menciptakan kebiasaan ‘dikit-dikit update’ di kalangan penggunanya. Hari-hari ini, kita bisa memindai aktivitas sambil memberi polling atas dua pilihan jawaban, meminta bantuan kepada followers untuk memilihkan jawaban melalui Instagram stories ketika kita bingung untuk memilih. Alih-alih iseng, penyediaan fitur-fitur alternatif jawaban yang dibuat oleh creator teknologi semakin menjelaskan manusia abad ini yang haus akan KEPASTIAN.

Fenomena ini boleh jadi merebak lantaran politisi yang suka mbulet ketika diwawancara di media massa. Pemirsa pasti mendamba betul jika Setya Novanto bisa menjawab segamblang ini:

“Apakah Bapak suka korupsi?”

“Ya”

“Apakah Bapak kemarin sandiwara sakit (gangguan ngorok) untuk menghindari KPK?”

“Ya”

“Apakah Bapak sungguh-sungguh makan duit korupsi e-KTP?”

“Ya”

Selain itu, (mungkin) juga adanya fenomena kehausan pemuda-pemudi akan doi yang tidak banyak alasan ‘aku mau fokus belajar’ atau ‘kayaknya kamu terlalu baik buat aku’ dan memimpikan skenario jawaban seperti ini:

“Apakah kamu mau jadi pacarku?”

“Tidak”

“Apakah kamu suka memainkan perasaanku?”

“Ya”

“Apakah karena aku jelek?”

“Ya”

Mungkin, kita harus berterimakasih pada Kerang Ajaib yang menyelamatkan jiwa-jiwa galau yang butuh kepastian ini. Sesuai dengan namanya, ia secara ajaib juga mengusir kehampaan karena arek’e gak bales chat. Dan secara ajaib pula, mungkin si Kerang bakal menjadi agama yang lebih dipercaya khalayak umum, menjadi sabda yang lebih diamini daripada ceramah kyai, atau nasihat yang lebih dituruti ketimbang omelan mama.

Akhir kata, puja Kerang Ajaib!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Seharusnya Kita Sikapi RKUHP 1 138

 

Saya tahu, masih banyak yang dirundung duka atas wafatnya KPK (lihat tulisan sebelumnya: ‘Polemik Hubungan Asmara KPK‘). Tapi, karena hidup ini terus berjalan, mari kita move on… menuju kesedihan berikutnya!

Perlu diingat, 24 September besok, rencananya petinggi senayan akan membawa RKUHP ke rapat paripurna. Satu set produk hukum bawaan kolonial itu akan diperbarui.

Yang perlu menjadi poin keprihatinan bukanlah karena banyaknya pasal bermasalah. Namun ada yang jauh lebih penting: riuh redamnya media kita atas perdebatan pro-kontra pengesahan RKUHP ini.

Dari sisi pemerintah yang mengajukan undang-undang, tiada pernah ada penjelasan gamblang yang mudah diakses oleh masyarakat. Mengapa pasal ini dan itu ditambahkan, dipaksa ada, dikurangi, dan atau dihilangkan. Mengapa begitu genting dan terburu-buru sekali revisi di masa akhir jabatan DPR periode ini. Minim sekali layar untuk menjelaskan ini.

Sementara itu, koalisi masyarakat yang mengkritik keras aksi DPR ini, berusaha mencari celah untuk bicara. Mulai dari long march dan orasi besar-besaran yang mengundang peliputan di depan gedung DPR, sampai yang kecil-kecilan di CFD ibukota.

Pun, kelompok ini mencoba menyuarakan pendapatnya secara lebih luas. Satu-satunya akses yang mudah dan cepat adalah media sosial. Ketika media massa punya limit dan filter ketat untuk menyeleksi pendapat mana yang bisa masuk.

Fungsi edukasi hukum pada masyarakat, justru diambil oleh kelompok-kelompok kecil ini. Kita tidak pernah tahu apa itu RKUHP dan beberapa jumlah pengubahan pasalnya, kalau jurnalis dan netijen tidak koar-koar di media online. Hal ini tentu berimplikasi baik dalam meningkatkan kesadaran publik tentang isu RKUHP.

Tapi di sisi lain, penjelasan tentang pasal-pasal yang dianggap bermasalah itu tidak menyeluruh. Siapapun yang punya akun dan pengikut di media sosial mengungkap pendapatnya, disukai dan dibagikan. Begitu seterusnya, sehingga tidak tahu harus percaya yang mana, karena kredibilitas dan tingkat akurasi yang semu di dunia digital ini. Duh Gusti, aku ngelu.

Pasal-pasal yang dianggap bermasalah, dibahas sebagian dengan cara masing-masing orang. Semua berlomba-lomba membenarkan pendapatnya di media sosial. Sebagian digital content creator mungkin berhasil secara jeli mengupas dari segi ilmu hukum dan implikasinya bagi masyarakat. Tapi sekali lagi, sudahkah pendapat netijen itu juga didasari riset literatur dan wawasan atas histori keputusan hukum di Indonesia?

Suara mereka mengatakan, sejumlah pasal akan mengkriminalisasi perzinaan, pornografi, LGBT, gelandangan, hingga penyebaran ajaran marxisme-komunisme. Mereka menyebut pasal-pasal RKUHP akan menghalangi kebebasan berpendapat dan merampas privasi bangsa. Lebih-lebih, mereka mengklaim RKUHP adalah bentuk kemunduran dan bahkan matinya demokrasi.

Opini telah tergiring ke satu sudut pandang. Kita dibuat bersedih hati karena percaya RKUHP yang disahkan akan membuat satu Indonesia runtuh. Kita diminta percaya oleh media sosial hari ini, bahwa RKUHP gak ada bagus-bagusnya. Benarkah?

Penulis yakin, seburuk-buruknya DPR, paling tidak mereka sekolah tinggi dan sadar hukum, mahir analisa dan berpolitik. Tentu RKUHP hadir bukan tanpa alasan. Entah karena demi kebaikan dan penyesuaian hukum dengan perubahan zaman. Atau hanya sekadar politik lobi-lobian dan semata para penguasa yang lagi hajatan.

Pokoknya, penulis ‘percaya’ RKUHP bukan proyek iseng dan tiba-tiba muncul lah. Pasti ada pasal-pasal yang menunjukkan kemajuan demokrasi negeri ini! Eh, ya gak sih? Kuamini saja, deh. Karena Tuhan bersabda: “Berbahagialah orang yang tidak melihat, namun percaya”. Hehe.

Rakyat bagian demonstrasi ini berteriak menuduh DPR punya kepentingan untuk mempermudah koruptor, baik di RKUHP maupun UU Permasyarakatan yang baru disahkan (walau kenyataannya jelas ae iyo lah). Tapi, bukankah kelompok yang menolak ini juga punya kepentingan?

Secara alamiah, kebebasan yang dibatasi itu tentu membuat tidak nyaman. Waktu sekolah dulu, kita tentu gelisah karena harus berseragam rapi, lengkap dengan dasi dan sabuk.

Barangkali, mereka yang menolak adalah yang merasa tidak bisa lagi ena-ena dengan bebas, tidak bisa bikin meme-meme lucu tentang presiden, tidak bisa lagi asik nongkrong baca Daskapital di warung kopi sambil bersabda “agama itu candu, mending jadi agnostik”.

Kita tiba-tiba membandingkan hukuman bagi koruptor yang diberi pembebasan bersyarat, sementara pemilik dan penyebar pornografi dihukum 10 tahun. Menurut kita, ini tidak adil.

Sujiwo Tejo pernah bersua “tiap ada pejabat korup yang di-OTT, tiba-tiba kita mencibir dan merasa paling suci, hanya karena bentuk dosa yang kita lakukan berbeda dari mereka”. Kira-kira demikian kita-kita ini. Sok memaki DPR sebagai tukang bohong, padahal hingga dini hari mereka masih berjuang arisan di ruang rapat. Sementara itu, kita lupa kalau kegiatan memaki, juga tidak kalah berdosanya.

Yang jelas, masyarakat kita ini pelupa. Seperti lupa kalau dulu batu akik pernah berjaya, demikian pula akan alpa bahwa DPR di hari-hari akhirnya dengan sangat sakti mengesahkan sejumlah undang-undang yang katanya bakal merobohkan Indonesia. Ketika ibukota nanti sudah di Kalimantan, masyarakat bakal lupa kalau pernah mengolok Jokowi atas ide gilanya.

Mungkin besok-besok, masyarakat kita akan banyak-banyak bersyukur, bahwa kebijakan hari-hari terakhir ini pernah dibuat.

Parade Isu Seksi Jelang Peringatan G30S 0 92

Helloh gess, September telah tiba. Ini bulannya hura-hura tentang trauma. Pasti kamu sudah hapal: sebentar lagi kita akan menyimak debat seolah-olah tentang peristiwa 1965. Tapi sedihnya, tulisan ini bukan ke sana.

Kita akan mencoba merunut isu-isu apa yang hadir, coba dihadirkan, atau dipaksa dihadirkan, menjelang peringatan G30S. Isu-isu yang, yaaa, sesuai tradisi, akan memanas dan sering setiap tahunnya merepotkan rejim. Berikut isunya:

  • Perpindahan Ibukota
  • Livi Zheng
  • Djarum yang disetop audisinya oleh KPAI
  • Jokowi main sama putunya
  • Iuran BPJS naik
  • Esemka diresmikan

Apalagi gess?

Ohya, ini penting karena beberapa sebab. Pertama, mengamati isu-isu “tak penting” justru menjadi sangat penting hari ini untuk melihat bagaimana strategi kekuasaan memainkan lalu-lintas diskusi dan menginterupsi tiap isu. Kalau ente jeli, akan tampak bagaimana pengendalian atas persepsi kita dimainkan dan dikonsentrasikan pada hal-hal tertentu, agar hal-hal lain dapat diminimalkan dampaknya.

Tentu saja arahnya dapat ditebak: mendebat Livi Zheng jauh lebih aman ketimbang ente didatangi Kivlan Zen untuk membeberkan rencana kebangkitan PKI. Atau bicara memindah ibukota lebih asyik daripada memperdebatkan jumlah korban sebetulnya pada genosida 65 duluuu sekali.

Kedua, dari isu-isu tersebut, kesemuanya saksess menjadi tren perbincangan. Esemka, BPJS, dan Ibukota berkaitan langsung dengan agenda pemerintah. Perpindahan ibukota yang terparah, terlalu kentara digunakan sebagai “umpan peluru”, seolah-olah ide ini dilempar untuk dihabisi. BPJS dan Esemka sebelas dua belas, memancing sekaligus mengepung orang dengan kontroversi agar terus-menerus diperdebatkan.

Jadi, mari nanti kita tengok menjelang tumbangnya waktu dan mendekatnya tanggal 30, barang sampah apa saja yang akan dihamburkan oleh media kita.

Tapi toh dibawa santai saja! Kadang-kadang terlalu serius juga tak baik bagi kesehatan jiwa.

 

Annabelle Rukhiyat

Selain menekuni permakelaran tanah, penulis juga magang sebagai penjaga ponten.

Editor Picks