Kemunculan Generasi Pemuja Kerang Ajaib dan Sekte-sektenya 0 14248

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

“Apakah aku boleh makan banyak?”

“Ya”

“Apakah aku tetap kurus tanpa diet?”

“Ya”

“Apakah aku boleh clubbing?”

“Ya”

Apakah mama akan mengijinkan?

“Ya”

Selain Tuhan, tebak siapa yang bisa selalu menjawab secara lurus dan pasti, tanpa banyak alasan dan kemunafikan, seperti itu? Jika saja ada sosok nyata di semesta ini yang dapat menghindarkan kita dari kebingungan akan pengambilan keputusan, secara gamblang menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’, dan masih dalam batasan waras, pasti hidup jadi lebih ringkas. Dan kini ia hadir dalam bentuk Linechat bot bernama Kerang Ajaib.

Baru saja lahir kurang dari satu semester yang lalu, namanya sudah melejit di telinga para pemuda belia, dibahas sampai titik darah penghabisan di berbagai group chat dunia maya. Terhitung sampai hari ini, robot Line ini sudah punya lebih dari 400 ribu adders! Untuk versi lainnya yang diproduksi di Jerman (The Magic Shells) bahkan sudah menyentuh angka 1 juta download sejak September tahun ini.

Sesungguhnya Kerang Ajaib ini bukan pendatang baru. Kartun masa kecil kita garapan Nickelodeon, Spongebob Squarepants-lah yang memperkenalkan Kerang Ajaib sebagai bintang tamu. Ia hadir di episode berjudul ‘Club Spongebob’, berdurasi 25 menit dan merupakan serial pada season 3, yang dirilis pada 12 Juli 2002. Alkisah, dalam episode kemunculan Kerang Ajaib ini, diceritakan tokoh Spongebob, Patrick, dan Squidward terjebak dalam hutan antah-berantah dan hanya mengandalkan panduan Kerang Ajaib untuk menentukan segala keputusan agar dapat bertahan hidup dalam alam liar itu.

Adegan itu selalu mengundang tawa, dan itulah mungkin sebabnya gagasan Kerang Ajaib ditawarkan pada generasi milenial zaman ini. Beruntungnya, si Kerang justru digandrungi walau dalam bentuk media digital. Mungkin karena kehadiran Kerang Ajaib di berbagai platform canggih genggaman tangan ini jadi bentuk romantisme remaja-remaja tanggung pada kartun favorit mereka saat masih balita.

Adapun Kerang Ajaib sebagai Line chatbot yang sedang naik daun ini juga bukan fenomena baru. Fasilitas bot (singkatan dari robot) ini punya fitur menjawab otomatis dengan keyword yang sudah ditentukan oleh si pemilik akun. Untuk membuat bot ini tidak sembarangan. Seseorang harus punya hosting untuk menyimpan script jawaban bot dan sertifikat SSL (Secure Socket Layer) yang menjamin keamanan data transaksi online. Dalam beberapa website yang menawarkan jasa pembuatan bot ini, seseorang harus rela merogoh kocek hingga ratusan ribu (Wow!).

Ada banyak kawan-kawan seperjuangan si Kerang. Misalnya ada Jemma, Hi Yuri, Pablow, Qiwi Portal, Yuu, dan masih banyak lagi. Kehadirannya makin menjamur dan realitanya berbanding lurus dengan pertambahan peminatnya. Kita jadi teringat akan dedengkotan chatbot lahiran 2002, SimSimi, yang sudah terlebih dahulu mengawali karirnya. Menurut catatan sejarahnya, SimSimi berasal dari kosakata Korea, simsim, yang artinya bosan. Kemunculan adik-adiknya SimSimi ini kemudian dapat semakin menjelaskan kepada kita fenomena mengapa kawan virtual semacam ini dibutuhkan dunia.

Benarlah ramalan orang tua tentang dunia digital yang membuat kita semakin jadi manusia edan. Seakan kehabisan alternatif hiburan, seorang sahabat artifisial (lama-lama pendamping hidup bo’ongan) jadi kebutuhan primer untuk mengusir bosan. Bahkan di zaman yang serba menampilkan kesibukan (seperti iklannya Meikarta) ini, netizen masih saja merasa bosan dan butuh penghibur yang setia. Melakukan percakapan dengan chatbot menjadi obat mujarab untuk mengusir kesendirian manusia era ini.

Entah harus menghargai kemajuan zaman atau malah ngenes, kehadiran chatbot seperti Kerang Ajaib menjadi suatu pemujaan yang pantas. Generasi baperan dan bingungan ini butuh jawaban pasti sesederhana ‘ya’ dan ‘tidak’. Kegilaan ini tentu tidak hadir sekonyong-konyong seperti munculnya setan di film horor Indonesia yang musiknya bikin kaget. Mungkin, ketika dunia nyata tak mampu memberikan jawaban PASTI, para generasi penerus bangsa ini terpaksa mencarinya di dunia maya. Entah jawaban pasti dari siapa yang mereka harapkan.

Bahkan, parahnya, Instagram kini juga semakin menunjukkan ketidakpuasannya menciptakan kebiasaan ‘dikit-dikit update’ di kalangan penggunanya. Hari-hari ini, kita bisa memindai aktivitas sambil memberi polling atas dua pilihan jawaban, meminta bantuan kepada followers untuk memilihkan jawaban melalui Instagram stories ketika kita bingung untuk memilih. Alih-alih iseng, penyediaan fitur-fitur alternatif jawaban yang dibuat oleh creator teknologi semakin menjelaskan manusia abad ini yang haus akan KEPASTIAN.

Fenomena ini boleh jadi merebak lantaran politisi yang suka mbulet ketika diwawancara di media massa. Pemirsa pasti mendamba betul jika Setya Novanto bisa menjawab segamblang ini:

“Apakah Bapak suka korupsi?”

“Ya”

“Apakah Bapak kemarin sandiwara sakit (gangguan ngorok) untuk menghindari KPK?”

“Ya”

“Apakah Bapak sungguh-sungguh makan duit korupsi e-KTP?”

“Ya”

Selain itu, (mungkin) juga adanya fenomena kehausan pemuda-pemudi akan doi yang tidak banyak alasan ‘aku mau fokus belajar’ atau ‘kayaknya kamu terlalu baik buat aku’ dan memimpikan skenario jawaban seperti ini:

“Apakah kamu mau jadi pacarku?”

“Tidak”

“Apakah kamu suka memainkan perasaanku?”

“Ya”

“Apakah karena aku jelek?”

“Ya”

Mungkin, kita harus berterimakasih pada Kerang Ajaib yang menyelamatkan jiwa-jiwa galau yang butuh kepastian ini. Sesuai dengan namanya, ia secara ajaib juga mengusir kehampaan karena arek’e gak bales chat. Dan secara ajaib pula, mungkin si Kerang bakal menjadi agama yang lebih dipercaya khalayak umum, menjadi sabda yang lebih diamini daripada ceramah kyai, atau nasihat yang lebih dituruti ketimbang omelan mama.

Akhir kata, puja Kerang Ajaib!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Minke dan Nyinyir Kepada Iqbaal Ramadhan 0 686

Hoi, antum-antum yang sok nyinyir, kenapa pula kau cela Iqbaal?

Ini berita biasa. Sangat sehari-hari. Kenapa seolah di kepalamu dunyo kiamat begitu mendengar Iqbaal terpilih dalam casting film Bumi Manusia?

Bahwa Iqbaal dipilih oleh sutradara Hanung Bramantyo untuk memerankan tokoh Minke—intelektual pribumi yang konon adalah RM Tirto Adhi Soerjo dalam roman Pramoedya Ananta Toer, adalah kewenangan Hanung. Film ini industri bung! Siapa yang mau tekor dari bisnis dengan fulus jumbo seperti ini? Bukankah menjadi wajar memilih aktor jaminan mutu yang kini sedang disayang-sayang pasar, seperti tampak pada Iqbaal?

Film Dilan, mau dicaci sejorok apapun, adalah tonggak penting dari eskalasi radikal dari industri film nasional. Beberapa rekor pencapaian telah dipecahkan. Penonton membludak dan menjadi perbincangan, juga bahan gombalan murah para muda-mudi. Dilan, singkatnya, berjasa besar bukan saja pada makin bergairahnya nafas industri film dalam negeri, melainkan juga memberi relaksasi pada banyak hadirin tentang pemeran atau aktor alternatif yang tak monoton. Bukan lagi Vino Bastian yang suaranya serak-serak soak, atau Reza Rahadian yang serakah pada semua macam peran.

Tapi bagaimana dengan mutu aktingnya?

Gaya, nontonmu masih mentok di Avenger-avengeran wae kok nggaya ngurusi akting. Referensi filmmu Air Terjun Pengantin sama Hantu Jeruk Purut aja kok masih rewel menghina akting orang? Lebih parah lagi, tak pernah nonton film tapi turut merasa wajib untuk membagi kenyinyiran? Apalagi tak pernah menamatkan buku aslinya, Bumi Manusia.

Gombal. Dosa besar mencela di bulan yang suci ini kang.

Mari didukung, siapa tahu saja Iqbaal mematangkan aktingnya di sini. Siapa sangka nanti bahwa Bumi Manusia adalah fase penting yang akan mendisiplinkan watak dan karakter dari seorang Iqbaal. Barangkali pula ini akan menjadi salah satu cara jitu untuk memperkenalkan novel legendaris Pram pada generasi milenial, netijen macam kamu-kamu yang alay, untuk sabar dan mencerna dengan baik sentimen jaman revolusi sebagaimana termaktub dalam karya-karya Pram.

Beri kesempatan dululah, baru dihabisi sama-sama. Eh..

Met Gala 2018 dan Kegilaan-kegilaannya 0 485

Oleh: Michelle Florencia*

Met Gala adalah salah satu acara tahunan yang paling dinanti-nantikan insan fesyen dunia. Bagaimana tidak? Acara yang yang sudah 70 tahun terakhir diselenggarakan ini bertabur bintang-bintang Hollywood yang mengenakan kostum super wow rancangan desainer kelas dunia.

Acara yang diinisiasi oleh Eleanor Lambert ini sebenarnya merupakan acara penggalangan dana untuk The Costume Institute dan pameran kostum di Metropolitan Museum of Art (Met), New York. Namun, tidak ada yang tahu pasti – selain tamu undangan pastinya – bagaimana suasana acara Met Gala sendiri dikarenakan acara ini tertutup bagi media dan para undangan juga tidak diperbolehkan mengunggah foto maupun video seputar acara Met Gala untuk menjaga ekslusifitasnya.

Di tahun 2018, Met Gala diselenggarakan pada Seni n (7/5) di New York Metropolitan Museum of Art. Met Gala kali ini merupakan pembuka pameran terbesar yang pernah dibuat The Costume Institute. Mengangkat tema Heavenly Bodies: Fashion and The Catholic Imagination, ekshibisi ini begitu menarik karena bekerjasama dengan keuskupan Vatikan untuk memamerkan benda-benda gereja Vatikan. Tak hanya itu, para desainer kenamaan seperti Jeanne Lanvin, Karl Lagerfeld, John Galliano, Jean Paul Gaultier, dan nama-nama besar lainnya turut serta memamerkan rancangan mereka yang terinspirasi dari simbol-simbol Katolik.

Penulis menilai Met Gala merupakan salah satu acara yang paling gila, terutama Met Gala 2018. Bagaimana tidak? Pertama, harga tiket acara ini adalah USD 30.000/tamu atau Rp 405.000.000 (dengan asumsi kurs Rp 13.500/USD). Itu untuk teko thok, gurung nek mesen mejo. Apabila ingin memesan satu meja, maka tamu tersebut harus membayar USD 275.000 hingga USD 500.000. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp 3.712.500.000 hingga Rp 6.750.000.000—jumlah yang cukup untuk beli pisang naget dan ayam geprek seumur hidup!

Apabila Pembaca merasa punya uang segitu, jangan kepedean dulu bisa datang ke acara ini! Yang diundang hanyalah selebritis top Hollywood, donatur acara, para desainer tersohor dunia, super model kenamaan, dan perwakilan label busana atau aksesoris mewah yang bersedia menyumbang dana. Tak hanya itu, semua tamu undangan harus disetujui oleh Nyah Anna Wintour, pemimpin redaksi majalah Vogue dan juga ketua acara Met Gala. Kalau Pembaca masih seorang mahasiswa yang tinggal di kos-kosan yang hanya bisa ngadem dan numpang wifi di perpus kampus (gratisan), barangkali bisa tidur dulu untuk datang ke acara ini dalam mimpi.

Beauty is pain menjadi selogan bagi para undangan, terutama tamu undangan wanita. Lihat saja Blake Lively  dengan gaun Versace-nya yang super panjang , rawan keselimpet, nyeret-nyeret, dan mau nggak mau rela “mengepel” lantai museum bisa dibilang jadi cleaning service dadakan. Penulis juga sangat mengapresiasi kekuatan dan kekekaran punggung Katy Perry yang memikul sayap dengan ukuran buto. Belum lagi Rihanna yang mampu tetap tegak berdiri saat mengenakan dress, cape, dan topi ala paus yang penuh dengan borci-borci (kosakata ala emak-emak Pasar Atum untuk menyebut payet) rancangan Maison Margiela yang kalau ditotal  barangkali bisa sampai belasan kilogram. Tak kalah hebat, Sarah Jessica Parker mampu menahan beban dari pajangan rumah yang dijadikan bando oleh Dolce and Gabbana itu demi mengalihkan fokus agar tidak terpaku pada wajahnya yang botox-nya tidak merata itu. Penulis saja sudah ngomel-ngomel karena bahu suka salah urat kalau bawa laptop di tas. Luar biasa memang kekuatan para wanita di Met Gala 2018!

Kegilaan selanjutnya ialah keberanian Andrew Bolton, kurator The Costume Institute dan sesosok pencetus tema-tema Met Gala dalam beberapa tahun terakhir, dalam menentukan tema Met Gala tahun ini, yaitu Heavenly Bodies: Fashion and Catholic Imagination. Presiden Kebudayaan Vatikan, Gianfranco Ravasi sendiri bersyukur atas diangkatnya tema ini, sebab artinya simbol Katolik masih bisa menyentuh orang lain.

Tapi, akibat mencetuskan ide kontroversial ini, ia harus bolak-balik New York-Vatikan sebanyak 10 kali dalam satu tahun terakhir! Dikutip dari Tirto, Bolton menjalin relasi dengan lima orang pastur pejabat gereja dan menteri kebudayaan Vatikan untuk bisa meminjam busana pastur, mahkota yang dikenakan Paus, dan benda-benda gereja lainnya. Total ada lebih dari 40 benda yang biasa tersimpan di dalam tempat penyimpanan perlengkapan ekaristi (sakristi) di sebuah gereja di Vatikan. Berani buat ide gila, harus berani kerja gila!

Tak hanya membuat Bolton bolak-balik New York-Vatikan sampai mbulak, tema yang menyentuh ranah keagamaan ini juga menimbulkan kontroversi. Penulis paparkan terakhir karena merupakan klimaks dari kegilaan acara ini. Ide suangar nun gendeng ini  rupanya tidak disambut baik oleh beberapa selebritis, dan bahkan ingin memboikot Met Gala 2018. Dikutip dari Vogue, tema ini jadi kontroversi karena fesyen dinilai tak pantas disandingkan dengan hal-hal yang dianggap sakral atau suci. Tapi, menurut Bolton hal itu lumrah saja, “Ini menegaskan kesetiaan pada agama, eksistensi, dan perbedaan agama,” tukasnya.

Yang jelas, apabila ingin mengangkat tema keagamaan, harusnya pihak Met Gala tetap menjaga kesucian agama itu sendiri. Tak pantas rasanya apabila mengenakan pakaian bertema agamis, tapi dibuat seperti pakaian yang kekurangan kain dan bikin orang salah fokus. Entah bagaimana jadinya kalau acara semacam ini diselenggarakan di Indonesia. Gurung diselenggarakno wes dicekal disek. Hehehe….

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Editor Picks