Kemunculan Generasi Pemuja Kerang Ajaib dan Sekte-sektenya 0 14676

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

“Apakah aku boleh makan banyak?”

“Ya”

“Apakah aku tetap kurus tanpa diet?”

“Ya”

“Apakah aku boleh clubbing?”

“Ya”

Apakah mama akan mengijinkan?

“Ya”

Selain Tuhan, tebak siapa yang bisa selalu menjawab secara lurus dan pasti, tanpa banyak alasan dan kemunafikan, seperti itu? Jika saja ada sosok nyata di semesta ini yang dapat menghindarkan kita dari kebingungan akan pengambilan keputusan, secara gamblang menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’, dan masih dalam batasan waras, pasti hidup jadi lebih ringkas. Dan kini ia hadir dalam bentuk Linechat bot bernama Kerang Ajaib.

Baru saja lahir kurang dari satu semester yang lalu, namanya sudah melejit di telinga para pemuda belia, dibahas sampai titik darah penghabisan di berbagai group chat dunia maya. Terhitung sampai hari ini, robot Line ini sudah punya lebih dari 400 ribu adders! Untuk versi lainnya yang diproduksi di Jerman (The Magic Shells) bahkan sudah menyentuh angka 1 juta download sejak September tahun ini.

Sesungguhnya Kerang Ajaib ini bukan pendatang baru. Kartun masa kecil kita garapan Nickelodeon, Spongebob Squarepants-lah yang memperkenalkan Kerang Ajaib sebagai bintang tamu. Ia hadir di episode berjudul ‘Club Spongebob’, berdurasi 25 menit dan merupakan serial pada season 3, yang dirilis pada 12 Juli 2002. Alkisah, dalam episode kemunculan Kerang Ajaib ini, diceritakan tokoh Spongebob, Patrick, dan Squidward terjebak dalam hutan antah-berantah dan hanya mengandalkan panduan Kerang Ajaib untuk menentukan segala keputusan agar dapat bertahan hidup dalam alam liar itu.

Adegan itu selalu mengundang tawa, dan itulah mungkin sebabnya gagasan Kerang Ajaib ditawarkan pada generasi milenial zaman ini. Beruntungnya, si Kerang justru digandrungi walau dalam bentuk media digital. Mungkin karena kehadiran Kerang Ajaib di berbagai platform canggih genggaman tangan ini jadi bentuk romantisme remaja-remaja tanggung pada kartun favorit mereka saat masih balita.

Adapun Kerang Ajaib sebagai Line chatbot yang sedang naik daun ini juga bukan fenomena baru. Fasilitas bot (singkatan dari robot) ini punya fitur menjawab otomatis dengan keyword yang sudah ditentukan oleh si pemilik akun. Untuk membuat bot ini tidak sembarangan. Seseorang harus punya hosting untuk menyimpan script jawaban bot dan sertifikat SSL (Secure Socket Layer) yang menjamin keamanan data transaksi online. Dalam beberapa website yang menawarkan jasa pembuatan bot ini, seseorang harus rela merogoh kocek hingga ratusan ribu (Wow!).

Ada banyak kawan-kawan seperjuangan si Kerang. Misalnya ada Jemma, Hi Yuri, Pablow, Qiwi Portal, Yuu, dan masih banyak lagi. Kehadirannya makin menjamur dan realitanya berbanding lurus dengan pertambahan peminatnya. Kita jadi teringat akan dedengkotan chatbot lahiran 2002, SimSimi, yang sudah terlebih dahulu mengawali karirnya. Menurut catatan sejarahnya, SimSimi berasal dari kosakata Korea, simsim, yang artinya bosan. Kemunculan adik-adiknya SimSimi ini kemudian dapat semakin menjelaskan kepada kita fenomena mengapa kawan virtual semacam ini dibutuhkan dunia.

Benarlah ramalan orang tua tentang dunia digital yang membuat kita semakin jadi manusia edan. Seakan kehabisan alternatif hiburan, seorang sahabat artifisial (lama-lama pendamping hidup bo’ongan) jadi kebutuhan primer untuk mengusir bosan. Bahkan di zaman yang serba menampilkan kesibukan (seperti iklannya Meikarta) ini, netizen masih saja merasa bosan dan butuh penghibur yang setia. Melakukan percakapan dengan chatbot menjadi obat mujarab untuk mengusir kesendirian manusia era ini.

Entah harus menghargai kemajuan zaman atau malah ngenes, kehadiran chatbot seperti Kerang Ajaib menjadi suatu pemujaan yang pantas. Generasi baperan dan bingungan ini butuh jawaban pasti sesederhana ‘ya’ dan ‘tidak’. Kegilaan ini tentu tidak hadir sekonyong-konyong seperti munculnya setan di film horor Indonesia yang musiknya bikin kaget. Mungkin, ketika dunia nyata tak mampu memberikan jawaban PASTI, para generasi penerus bangsa ini terpaksa mencarinya di dunia maya. Entah jawaban pasti dari siapa yang mereka harapkan.

Bahkan, parahnya, Instagram kini juga semakin menunjukkan ketidakpuasannya menciptakan kebiasaan ‘dikit-dikit update’ di kalangan penggunanya. Hari-hari ini, kita bisa memindai aktivitas sambil memberi polling atas dua pilihan jawaban, meminta bantuan kepada followers untuk memilihkan jawaban melalui Instagram stories ketika kita bingung untuk memilih. Alih-alih iseng, penyediaan fitur-fitur alternatif jawaban yang dibuat oleh creator teknologi semakin menjelaskan manusia abad ini yang haus akan KEPASTIAN.

Fenomena ini boleh jadi merebak lantaran politisi yang suka mbulet ketika diwawancara di media massa. Pemirsa pasti mendamba betul jika Setya Novanto bisa menjawab segamblang ini:

“Apakah Bapak suka korupsi?”

“Ya”

“Apakah Bapak kemarin sandiwara sakit (gangguan ngorok) untuk menghindari KPK?”

“Ya”

“Apakah Bapak sungguh-sungguh makan duit korupsi e-KTP?”

“Ya”

Selain itu, (mungkin) juga adanya fenomena kehausan pemuda-pemudi akan doi yang tidak banyak alasan ‘aku mau fokus belajar’ atau ‘kayaknya kamu terlalu baik buat aku’ dan memimpikan skenario jawaban seperti ini:

“Apakah kamu mau jadi pacarku?”

“Tidak”

“Apakah kamu suka memainkan perasaanku?”

“Ya”

“Apakah karena aku jelek?”

“Ya”

Mungkin, kita harus berterimakasih pada Kerang Ajaib yang menyelamatkan jiwa-jiwa galau yang butuh kepastian ini. Sesuai dengan namanya, ia secara ajaib juga mengusir kehampaan karena arek’e gak bales chat. Dan secara ajaib pula, mungkin si Kerang bakal menjadi agama yang lebih dipercaya khalayak umum, menjadi sabda yang lebih diamini daripada ceramah kyai, atau nasihat yang lebih dituruti ketimbang omelan mama.

Akhir kata, puja Kerang Ajaib!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bocoran Soal KPU dalam Kesahihan Tata Hukum Debaters 0 137

Di era ini, banyak muncul pekerjaan baru seperti supir ojek online hingga influencer media sosial. Namun, tak sedikit pula pekerjaan lawas yang masih bertahan. Kita patut bersyukur masih bisa menemui loper koran dan teller bank, dua pekerjaan yang kayaknya terancam punah kalau kita terus-terusan semakin menghamba pada virtual.

Selain itu, ditengarai calo penyedia kunci jawaban soal ujian juga masih terus lestari. Selama ujian masih ada, eksistensi mereka tetap abadi!

Namun, juru pembocor soal ini gak laku di Debat Pilpres 17 Januari 2019 besok. Lah wong KPU sudah membocorkan pertanyaan debat pada masing-masing pasangan calon. Kerja panelis merumuskan pertanyaan sudah di ujung deadline. Semuanya demi Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi supaya bisa memelajari contekannya sambil latihan ngomong di depan cermin sebelum bertemu Ira Koesno dan Imam Priyono di panggung “panas” nanti.

Keputusan KPU ini lantas menuai pro-kontra. Mulai dari drama antar tim pemenangan yang menjemukan, hingga netizen yang selalu hobi sekadar mengingatkan. Simpulnya, KPU dinilai tidak bijak.  Peserta debat jadi tidak benar-benar teruji. Segala dalih KPU ngalor-ngidul yang katanya ingin ‘mengedepankan konten debat, bukan show’ dimentahkan sudah. ‘Ra mashok blas!

Sesungguhnya, kebijakan KPU ini lahir karena fenomena lebih melekatnya di benak kita ketokohan paslon ketimbang visi-misinya. Kita lebih tahu “Game of Thrones-nya Jokowi dan Prabowo ikut natalan ketimbang program kerja yang ditawarkan keduanya. Miris!

Namun, di luar itu, masyarakat kita memang naturnya punya tingkat kepedulian yang tinggi. Saking tingginya, segala macam benda baik yang hidup maupun mati jadi sasaran omelan. Jadi, tidak perlu heran jika bocoran soal KPU ini pun jadi bahan nyinyir. Lah wong warna celana dalam mbak-mbak ayu saja habis dimakan kok.

Padahal memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat sangatlah lumrah. Dalam tata hukum debaters, sebut saja dalam dapur Asian Parliamentary, ada dua macam mosi debat yaitu prepared motion dan impromptu motion.

Prepared motion adalah mosi atau topik debat yang diberitahukan jauh sebelum perdebatan dilangsungkan. Kalau dalam lomba, biasanya separah-parahnya akan diberikan dua atau tiga hari sebelum. Jadi peserta dimungkinkan untuk riset dari berbagai literatur, fisik maupun internet.

Sedangkan impromptu motion maksudnya adalah topik debat spontan, diberikan beberapa menit sebelum memulai debat. Iya, udah macem pacar yang ngasih surprise birthday present, bikin deg-degan isinya. Kita tidak pernah tahu akan dapat topik debat yang seperti apa, walaupun tidak terlepas dari lingkup tema. Walau begitu, akan tetap ada waktu case building bagi peserta, alias mempersiapkan kerangka dan strategi bicara.

Wah berarti lebih gampang yang prepared motion dong ya daripada impromptu? Lah rumangsamu!

Keduanya punya level tantangan yang berbeda. Prepared motion tentu menuntut ketepatan data dan kedalaman analisa. Karena sudah diberi waktu yang lebih untuk mempersiapkan, nek pancet debate ora cetha yo nemen! Demikian pula impromptu motion memang menggoda seluas apa wawasan yang dimiliki peserta debat, serta kepandaian menyusun logika dan taktik “perang” dalam sempitnya waktu.

Kalau dalam debat, tipe mosi manakah yang paling sering dipakai? Jawabannya adalah dua-duanya. Seimbang. Sama seperti Tuhan ketika menjawab doamu, kadang dikabulkan, kadang bodo amat, hehe. Nah, jika penerapan dua tipe mosi ini berlaku di lomba-lomba debat anak sekolahan, memangnya nggak boleh KPU melakukan hal serupa? Makanya, kita ini jadi netizen jangan kayak doi kalau lagi marah, nggak mau denger penjelasan dulu.

Seperti biasa, debat terbuka capres-cawapres akan terbagi menjadi beberapa termin mulai dari visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, debat antar paslon, hingga closing statement. Nah yang disodorkan adalah pertanyaan panelis sejumlah lima buah. Sedangkan pada sistem di hari H nanti, pasangan calon akan mengambil undian dan hanya mendapatkan salah satu pertanyaan. Mau nggak mau mereka harus mempersiapkan jawaban terbaik dari kelimanya, karena nggak tahu bakal dapat pertanyaan yang mana. Jadi, walaupun prepared motion juga gak segampang itu Fergusso!

Toh masih ada pula sesi saling bertanya antar paslon. Nah, ini termasuk tipe pertanyaan impromptu. Mosok ya mereka janjian pertanyaan dulu kalau sudah begitu.

Mbok jangan suudzon dulu! Jangan-jangan personil KPU tipenya humoris, suka ngasih prank. Dikasih kisi-kisi lima, taunya yang keluar soal nomor enam, yaaahh kena deh! Persis seperti kamu yang dulu merasa diplokothoi sama kisi-kisi soal UNAS.

Intinya, janganlah kita ini suka menyalahkan, apalagi menyalahkan KPU. Sakno lho, mumet ndas’e! Persoalan kardus suara pun sudah kamu jadikan bahan olok, sekarang ditambah lagi. Jahat memang kalian, hiks. 🙁

Pokoknya, apapun kata netizen, kami segenap debaters siap pasang badan untuk membela KPU! Dengan ini, kami telah menyatakan, sistem debat KPU ini sudah sesuai dengan tata hukum debaters yang berlaku.

Nasib Naas Jerman yang Dilibas KorSel 0 185

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Per 27 Juni, tepatnya sejak Panser Jerman keok dilibas Oppa Korea Selatan di Piala Dunia, ada beberapa perubahan besar dalam persepakbolaan – dan mungkin juga – sejarah dunia.

Bagaimana tidak? Jerman adalah petahana Piala Dunia 2014. Kualitas pemain teruji dan track record merumput di Piala Dunia tidak perlu diragukan lagi. Sang langganan semifinal sejak 1938. Setidak-tidaknya kita berharap tinggi musti lolos 16 besar. Boleh dibilang wonder team. Uber alles deh pokoknya. Sedang lawannya, Taeguk Warriors asal Korea Selatan sama sekali antitesis semua itu. No offense loh, Oppa 🙁

Akal sehat jelas memprediksi kemenangan mudah Die Mannschaft atas Taeguk Warriors. Lah ndalah, njeketek, eng ing eng… Kenyataannya Jerman keok, plonga-plongo dihabisi Korea Selatan. Skor telak, 2-0. Gak mashookkk!

Dari awal sebenarnya posisi Jerman terbaca. Tiket melaju ke babak lanjutan dipertaruhkan, maka mereka menyerang terus. Kemungkinan tipis untuk lolos perlu dikejar. Sedang Korsel oleh karena dua kekalahan sebelumnya kontra Swedia dan Meksiko, sudah pasti angkat kaki meski menang atau kalah lawan Jerman malam itu. Tapi toh Korsel tetap on-fire, sampai peluit panjang mereka solid bertahan terus. Dari sini, kita mudah membaca siapa yang ngoyo dan siapa yang got nothing to lose.

Sepanjang pertandingan, Jerman betul menyerang tapi meleset melulu. Entah tidak cocok dengan angin di Rusia apa bagaimana. Melelahkan melihat permainan Jerman, gol tidak kunjung dibuat. Peluang banyak terbuang.

Apa karena ekspektasi penonton yang terlalu tinggi? Apa karena Jerman terlalu percaya diri?? Atau apakah memang mitos kutukan petahana pildun itu nyata adanya? Apakah Jerman memang ditakdirkan bernasib sama seperti Italia, Belanda, dan Spanyol? Sukses angkat trofi juara dunia lalu gagal mempertahankannya gelarnya? Saking mengerikannya kutukan itu, petahana bisa tersepak bahkan saat masih fase penyisihan grup.

Salam saya untuk kiper Korea yang telah bolak-balik menyelamatkan gawang. Juga pada pemain Korea sekalian yang dengan ciamik menghalau bola masuk jaring. Sampai paruh pertama, telur belum juga pecah. Pertahanan Korea Selatan belum bisa dikoyak. Menit ke-60 sekian, keadaan makin genting. Jerman tidak kunjung membuat angka, tiket lanjut dan mempertahankan gelar jadi terasa jauh. (Sebentar, nasib buruk ini apakah karena Jerman bermain di tanah Rusia? Saat Perang Dunia Kedua mereka kan…. *mulai cocoklogi).

Ritme permainan semakin terasa berat dan mendebarkan saat memasuki waktu tambahan. Jerman sudah kepayahan dan putus asa, permainan makin kacau. Korea Selatan konsisten dan merebut momentum lalu berhasil memecah kebuntuan. Skor satu untuk Korea Selatan. Rekaman Video Assistant Referees (VAR) dipakai untuk memutuskan apa gol itu sah atau tidak, sebab awalnya dikira off-side oleh wasit. Selebrasi Korsel bikin Jerman makin kalang kabut. Padahal pemain bintangnya turun. Mueller, Gomez, Oezil, dan Khedira dikerahkan agar segera cetak skor.

Tembakan banyak yang meleset. Terasa moril Jerman sudah merosot. Sampai-sampai, kiper Jerman, Neuer, meninggalkan pos jaganya. Mungkin karena sumpek rekan satu timnya tidak kunjung mencetak skor. Dirinya ikut merumput sampai begitu dekat dengan gawang Korea Selatan. Waktu tambahan sisa satu menit. Korea Selatan kembali mengoyak gawang Jerman yang ditinggalkan tak dijaga itu. Gol kembali dibuat.

Remek dan nelangsa lah Jerman diinjak Korea Selatan. Sisa waktu tidak cukup untuk membuat keajaiban. Panser kita angkat kaki. Kutukan telah tuntas terlaksana. Taeguk Warriors kalah, tapi bakal pulang ke negeranya dan disambut bak pahlawan.

Oppa dan Hyung telah menindas habis bule-bule Eropa itu. Sejarah telah mencatat itu. Daebak! Kemenangan atas Jerman juga berarti telah terjadi kemajuan pada persepakbolaan Korea Selatan di kancah dunia. Mereka telah jadi simbol untuk persebakbolaan Asia. Kini, mereka tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Terbukti pertahanan Korea jelas rapi dan mampu mengimbangi Jerman yang terus menyerang. Tidak kalah kualitas dengan si Panser.

Saya sendiri pendukung Jerman, tapi jujur diam-diam menantikan Korea Selatan menjebol gawang Jerman. Mungkin karena saya merasa terwakili sebagai sesama Asia. Sebab kan selama ini sepak bola rasa-rasanya hanya milik Eropa dan Amerika Latin. Ya kan, tim-tim itu saja toh yang menang. Tim-tim itu lagi yang dijagokan.

Boleh jadi, ini pecut untuk Indonesia agar empat tahun lagi bisa lolos kualifikasi Piala Dunia, lalu mungkin mampu menang telak 2-0 atas Inggris atau Spanyol. Siapa tahu?

Tanpa muluk-muluk, mungkin uji coba dulu dengan sapu bersih kemenangan di Asian Games tahun ini?

*Penulis adalah mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi Surabaya. Doyan nonton dan traktiran.

Editor Picks