Kisah Suami-Istri dan Fakta Jika Gelar Honoris Causa Memang Guuampaaang 0 1182

Tok tok… Tok tok…

Suara pintu diketuk memecah kenyamanan di siang hari itu. Aku dan suamiku yang sedang menonton televisi berdua seketika terlonjak dari lesakan sofa, berpandangan satu sama lain. Jantung kami berdegup kencang tiba-tiba.

“Apa itu mereka?” tanya suamiku.

“Sepertinya iya,” jawabku penuh nada kekhawatiran, “Mereka bilang akan mendatangimu. Tapi tidak kusangka secepat ini!”

Tok… tok…

“Permisi!” Suara berat dan tegas terdengar tak jauh dari jendela depan, “Apa ada orang di rumah?”

Oh sungguh… Belum pernah kami rasakan suasana setegang ini.

“Sana! Sembunyi!” seruku dalam bisik. Kudorong suamiku pergi dari ruang tamu. Ia berlari ke belakang, mungkin menuju kamar.

Cepat-cepat kusisir rambut dengan jari dan kurapikan dasterku. Televisi kubiarkan menyala, sambil perlahan kudatangi pintu rumahku. Tanganku yang sedikit gemetar memutar gagang dan menarik daun pintu, menampakkan dua sosok laki-laki tegap. Satu berseragam polisi dan satu berjas hitam.

“Iya, Pak?”

“Selamat siang,” si polisi memberi salam, “Apa benar ini kediaman Bapak Lukman Harja?”

“Benar, Pak. Ada keperluan apa ya?”

“Kami dari Universitas Milenial, Bu.” Yang berjas menawarkan tangan untuk kujabat, “Perkenalkan, saya Abdi, dosen Fakultas Informasi. Apakah Ibu istri dari Pak Lukman?”

“B-benar, Pak.”

“Pak Lukman ada di rumah?” Sambil bertanya, ia pasti sudah membaca keraguanku, karena kalimat selanjutnya, “Tenang saja, Bu, suami Ibu tidak ada masalah apa-apa. Sebaliknya, kami justru datang membawa kabar baik untuk suami Ibu.”

“M-maksudnya bagaimana?” tanyaku bingung, “Anda yang kemarin telepon, bukan?”

“Benar sekali. Kami ingin bicara soal pekerjaan Bapak. Sudah lama kami berusaha mengontak Pak Lukman tanpa hasil. Beliau selalu me-reject telepon kami. Dan kemarin adalah kedua kalinya Ibu mengangkat telepon dari kami setelah yang pertama berminggu-minggu lalu,” jelasnya, “Bagaimana, Bu? Bisa kami menemui Pak Lukman?”

Kucermati lagi kedua tamu tersebut dari atas sampai bawah. Mereka memang tidak terlihat semengancam suara si Abdi kalau didengarkan lewat telepon. Akhirnya, kupersilakan mereka masuk. Sambil mengarahkan mereka duduk di ruang tamu, aku masih berusaha mengingat. Apakah mereka pernah punya koneksi dengan Lukman? Mengingat sudah bertahun-tahun kami berdua menyembunyikan pekerjaan suamiku itu.

Dan sudah bertahun-tahun tidak ada yang tahu.

“Pak… Sepertinya mereka orang baik-baik saja kok,” ucapku pada suami seraya mendatanginya di kamar, “Ditemui saja dulu.”

“Kamu yakin?” tanyanya, yang kubalas dengan anggukan. Maka dengan meyakinkan diri, ia berjalan menuju ruang tamu, berkenalan sebentar dengan kedua tamu, dan ikut duduk di sana. Aku di sebelahnya.

“Pak Lukman,” Abdi memulai, “Langsung saja ya. Apakah benar Bapak yang membuat pesan ini?”

Abdi mengangkat ponsel pintarnya dan menghadapkan layarnya ke kami. Barisan alfabet yang begitu kami kenal pun menyapa kami.

Pulang dari kerja… kasur di kamarku hilang.
Dicari-cari ke sana sini …. bingung…. masa sih kasur ada yang curi???
terus lewat mana?? padahal pintu dikunci semua..!!!
Ya Allah…….. Ternyata ketutupan sprei.
Yaa Allah…Alhamdulillah ketemu…

Sambil menelan ludah, suamiku mengiyakan, “B-benar, Pak…”

“Bagaimana dengan ini?” Abdi melanjutkan, menggeser layar ponselnya dengan jari, “Ini juga buatan Bapak?”

KAKEK NENEK DI KTR IMIGRASI
Sepasang kakek-nenek akan mengikuti perjalanan tour luar negeri,
sehingga mereka harus ke ktr Imigrasi unt mengurus keperluan paspor.
Waktu pengisian formulir keimigrasian, nenek bingung dgn bahasa Inggris.
Nenek tanya pd peserta lain disebelahnya. Surname, first name, middle name & date of birth.
Pas di tulisan SEX, nenek malu bertanya sebelahnya,
Sambil berbisik bertanya pd kakek “Kek, kalo Sex dijawab apa ya?”
Jawab Kakek sambil berbisik: “Tulis aja, UDAH JARANG” …

“Benar, Pak,” suara suamiku sudah mulai bergetar, “Saya buatnya untuk iseng aja kok, Pak.”

Bapak Lukman tidak perlu khawatir,” ucap Abdi menenangkan, “Tidak perlu juga merahasiakan pekerjaan Bapak. Kami tahu selama ini Bapak sudah membuat ratusan pesan seperti ini. Kami di sini datang untuk mengapresiasi karya Bapak ini.”

“M-maksud Anda, Pak?”

Abdi mengeluarkan sebuah map dari tas kerjanya lalu membukanya di atas meja. “Ini statistik lalu lintas pesan-pesan buatan Bapak melalui internet,” terang Abdi sambil jarinya menyusuri garis-garis merah di sebuah grafik yang aku tidak mengerti, “Setiap pesan Bapak sudah di-share ratusan juta kali melalui media-media jejaring sosial, Pak. Ratusan juta kali! Paling sering lewat WhatsApp dan Facebook.”

“Lalu, ada apa Pak dengan itu?” aku bertanya.

“Sembilan puluh tujuh persen dari angka tersebut adalah sumbangsih dari bapak-bapak dan ibu-ibu usia di atas 45 tahun yang mulai gandrung internet. Tanpa Bapak dan Ibu sadari, Pak Lukman telah sangat berjasa, membantu mereka untuk bisa melek internet. Berkat pesan-pesan Bapak, mereka jadi rajin membuka grup-grup chat dan belajar mengoperasikan aplikasi smartphone. Bahkan saat aplikasi mereka di-update, mereka mau dan mampu belajar menyesuaikan diri dengan pengaturan aplikasi yang baru. Sungguh! Kemajuan luar biasa untuk generasi Y, mengingat mereka tidak pernah mengalami proses belajar digital seperti anak-anak jaman sekarang! Bapak telah menghindarkan mereka dari kegaptekan melalui hiburan! Sungguh cara yang cerdas!”

Aku dan suamiku hanya bisa melongo.

Belum selesai kami memahami maksud omongan Abdi, ia melanjutkan,

“Karena itu universitas kami memutuskan untuk memberi gelar doktor honoris causa kepada Bapak Lukman, atas sumbangsih Bapak terhadap penerimaan internet masyarakat di Indonesia.”

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 259

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Solusi untuk Kekecewaan Netijen atas Debat Pilpres 2019 0 345

Tak perlulah menunggu 24 jam berlalu untuk menyimpulkan ketidakpuasan khalayak masyarakat Endonesa dengan jalannya Debat Capres-Cawapres 2019 seri pertama tempo hari. Wong belum dimulai saja netijen sudah berebut saling menuduh kok! (Persis seperti performa kedua paslon di panggung debat kemarin.)

Indikator ‘mboseni’ jadi tajuk utama pidato-pidato tertulis rakyat dunia maya di kanal media sosial masing-masing. Maka, tidak heran jika para moderator debat kini kudu banget menyapa mereka dengan sebutan ‘warganet’ secara spesifik. Sebab, nonton netijen tonjok-tonjokan via live chat bisa jadi lebih seru ketimbang debat berkisi-kisi kemarin.

Penulis mengamati lalu lintas online dan menemukan minimal tiga tipe penonton debat Endonesa. Satu, warganet fanatik. Tipe ini bersorak kapan saja paslon dukungannya berbicara. Tidak peduli omongan bodoh kekanakan atau tidak, mereka merayakan argumen paslon tersebut dan mendiskreditkan argumen paslon lawan, meskipun kadang-kadang sing diomong sakjane podho intine.

Dua, warganet semi-teredukasi. Ini adalah golongan unik yang punya kesantunan cukup dan kesadaran mumpuni bahwa sebenarnya kedua paslon pancene podho wae. Meski demikian, spesies satu ini umumya sudah menetapkan jagoan pribadinya dan hanya menonton debat untuk mengonfirmasi bahwa pilihannya sudah tepat. Kemampuan mereka untuk nyelimur  tidak diragukan di kala paslon jagoannya kelihatan nggak menguasai topik. Caranya, mencari cocokologi supaya bisa membela paslonnya di hadapan warganet kubu satunya.

Tiga, warganet super-teredukasi. Nama lain golongan ini adalah golongan plegmatis-utopis. Didominasi oleh mereka yang doyan banget nonton tontonan luar negeri, golongan ini gemar sekali memuja dan mengonsumsi apa-apa yang dari luar Indonesia—biasa, dengan merujuk negara-negara “maju” saja—dan memicingkan mata untuk persoalan-persoalan genting di negaranya sendiri. Boro-boro mencari tahu dan mengomparasi keabsahan data argumen para paslon, umumnya ketertarikan politik mereka berhenti seraya mengucap kalimat, “Tuh kan. Ya gini ini Indonesia, politiknya kotor. Capres nggak ada yang bener. Mending gue tinggal di negara XXX daripada disalahin karena golput.

Padahal, dengan mayoritas kaum milenial-belum-cukup-dewasa, tipe terakhir ini cukup banyak jumlahnya. Sumbangan suaranya tidak bisa dianggap kecil, apalagi sumbangan partisipasi politiknya di masa depan. Sungguh eman bahwa justru tipe inilah yang memiliki keberjarakan paling lebar dengan persoalan politik dan hukum Indonesia.

Tapi di sisi lain, mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan juga. Dari debat kemarin saja, kedua paslon terang-terangan kalah telak untuk mengelaborasi visi-misi mereka secara konseptual dan rinci seperti yang dilakukan Nurhadi-Aldo, hehe. Alhasil, performa kedua pasangan bukan hanya mengecewakan bagi mereka yang teredukasi secara politik, melainkan juga para pendukung, tim sukses, dan tim kampanye masing-masing.

Penulis juga paham, andaikata memang kedua paslon tampil all out dan argumennya “saling terkam”, bisa-bisa bacok-bacokan kedua kubu jadi lebih panas. Skak mat emang jadi capres-cawapres 2019 – yang senantiasa harus diingatkan lagi dan lagi untuk kampanye damai.

 

Ya Sudah Begini Saja

Di tahun 2016 lalu, penulis menemukan fenomena internet yang lucu bin ajaib, unik bin geli, sekaligus mampu jadi solusi mujarab. Ditemukan di sebuah dimensi yang biasa dieksplorasi warganet super-teredukasi, penulis menyimpulkan bahwa ini pastilah sesuatu yang bisa banget menarik hati (dan suara) para netijen plegmatis-utopis. Temuan ini berjudul “Anies x Sandi Fanfiction”, sebuah naskah bromance.

Sebagian pembaca mungkin sudah familiar dengan istilah ini, namun sebagian lain mungkin tidak. Bromance, atau yang merupakan singkatan dari brother dan romance, adalah sebuah genre kultur populer yang merayakan dan mengomersilkan kemesraan antara lelaki dengan lelaki lainnya.

Bukti-bukti nyata lain dari keberadaan fenomena ini adalah berkembangnya fanfiction atau fiksi fantasi di situs-situs online penggemar. Mulai dari tayangan televisi, anime, grup idola, hingga selebriti, para fans ini memasang-masangkan dua atau lebih tokoh laki-laki dalam satu cerita, umumnya dengan tema asmara. Skalanya sangat lebar, mulai dari cinta vanila hingga hardcore romance, yang tentunya demi kepuasan fantasi para penggemar semata.

Bukti selanjutnya adalah membludaknya video bromance moments yang mengompilasikan momen-momen kedekatan selebriti laki-laki K-Pop di Yutub. Mulai dari yang rangkul-rangkulan sampai yang—yah apa aja ada lah ya. Video-video tersebut ditonton ratusan ribu bahkan jutaan orang, dengan kolom komentar didominasi pujian dan ekspresi gemes. Berani taruhan, nyaris separuh dari total penonton itu adalah fans dari Indonesia, yang hobi cekikikan di atas kasur tengah malam menyaksikan para idolanya bertingkah mesra satu sama lain.

Mungkin di sinilah keunggulan Sandi-Prabowo dibanding Jokowi-Ma’ruf. Segelintir rakjat berhasil dibuat jerit-jerit dengan aksi mesra mereka kemarin, lengkap dengan setelan jas necis ala oppa-oppa kaya dari drama Korea. Sepertinya, salah satu alasan keberadaan sejumlah fiksi fan macam ‘Anies x Sandi’ adalah karena Sandiaga Uno memang orang yang boyfriend goal bingits. Lihat saja, dengan pasangan barunya—ehem—Sandi bahkan berani pijet-pijetan di depan umum! Apalagi setelah Prabowo mencuit kalau doi bisa tidur nyenyak setelahnya… Kyah! Mana bisa otak-otak fangirl tidak berfantasi?!

Begini lho maksudnya. Janganlah hal-hal seperti bromance ini lalu dilihat sebagai penistaan budaya bangsa, apalagi degradasi moral para milenial, sebagaimana kerap diujar para orang tua (dan polisi moral). Lihatlah ini sebagai sebuah ekspresi kedekatan antara satu pribadi dengan pribadi lain. Lihatlah ini sebagai sebuah cara baru saling mencintai dan mengapresiasi sesama manusia, yang sesuai dengan cita-cita bangsa untuk hidup rukun tanpa banyak masalah.

Bromance, sebagai ekspresi baru cinta dan kedamaian, juga bisa jadi jalan tengah bagi persoalan capres-cawapres 2019 saat ini. Tim kampanye yang buntu jalan bisa banget mengeksplorasi cara ini untuk mem-branding paslonnya. Siapa sih, yang nggak suka menyaksikan dua orang yang berkomitmen menggenggam negara selama bertahun-tahun bisa dekat dan mesra satu sama lain? Sama seperti sejoli yang cubit-cubitan, dorong-dorongan, rangkul-rangkulan, sambil memandang mata satu sama lain dengan senyum mengembang.

Minimal, bromance ini seenggaknya bisa lah menarik mata dan hati dan suara tipe warganet ketiga tadi. Lumayan kan untuk memerbaiki image paslon pasca-debat pertama dan mencairkan ketegangan hari-hari ini? Sudah menarik, kyuti, damai pula. Komplit!

Editor Picks