Kisah Suami-Istri dan Fakta Jika Gelar Honoris Causa Memang Guuampaaang 0 943

Tok tok… Tok tok…

Suara pintu diketuk memecah kenyamanan di siang hari itu. Aku dan suamiku yang sedang menonton televisi berdua seketika terlonjak dari lesakan sofa, berpandangan satu sama lain. Jantung kami berdegup kencang tiba-tiba.

“Apa itu mereka?” tanya suamiku.

“Sepertinya iya,” jawabku penuh nada kekhawatiran, “Mereka bilang akan mendatangimu. Tapi tidak kusangka secepat ini!”

Tok… tok…

“Permisi!” Suara berat dan tegas terdengar tak jauh dari jendela depan, “Apa ada orang di rumah?”

Oh sungguh… Belum pernah kami rasakan suasana setegang ini.

“Sana! Sembunyi!” seruku dalam bisik. Kudorong suamiku pergi dari ruang tamu. Ia berlari ke belakang, mungkin menuju kamar.

Cepat-cepat kusisir rambut dengan jari dan kurapikan dasterku. Televisi kubiarkan menyala, sambil perlahan kudatangi pintu rumahku. Tanganku yang sedikit gemetar memutar gagang dan menarik daun pintu, menampakkan dua sosok laki-laki tegap. Satu berseragam polisi dan satu berjas hitam.

“Iya, Pak?”

“Selamat siang,” si polisi memberi salam, “Apa benar ini kediaman Bapak Lukman Harja?”

“Benar, Pak. Ada keperluan apa ya?”

“Kami dari Universitas Milenial, Bu.” Yang berjas menawarkan tangan untuk kujabat, “Perkenalkan, saya Abdi, dosen Fakultas Informasi. Apakah Ibu istri dari Pak Lukman?”

“B-benar, Pak.”

“Pak Lukman ada di rumah?” Sambil bertanya, ia pasti sudah membaca keraguanku, karena kalimat selanjutnya, “Tenang saja, Bu, suami Ibu tidak ada masalah apa-apa. Sebaliknya, kami justru datang membawa kabar baik untuk suami Ibu.”

“M-maksudnya bagaimana?” tanyaku bingung, “Anda yang kemarin telepon, bukan?”

“Benar sekali. Kami ingin bicara soal pekerjaan Bapak. Sudah lama kami berusaha mengontak Pak Lukman tanpa hasil. Beliau selalu me-reject telepon kami. Dan kemarin adalah kedua kalinya Ibu mengangkat telepon dari kami setelah yang pertama berminggu-minggu lalu,” jelasnya, “Bagaimana, Bu? Bisa kami menemui Pak Lukman?”

Kucermati lagi kedua tamu tersebut dari atas sampai bawah. Mereka memang tidak terlihat semengancam suara si Abdi kalau didengarkan lewat telepon. Akhirnya, kupersilakan mereka masuk. Sambil mengarahkan mereka duduk di ruang tamu, aku masih berusaha mengingat. Apakah mereka pernah punya koneksi dengan Lukman? Mengingat sudah bertahun-tahun kami berdua menyembunyikan pekerjaan suamiku itu.

Dan sudah bertahun-tahun tidak ada yang tahu.

“Pak… Sepertinya mereka orang baik-baik saja kok,” ucapku pada suami seraya mendatanginya di kamar, “Ditemui saja dulu.”

“Kamu yakin?” tanyanya, yang kubalas dengan anggukan. Maka dengan meyakinkan diri, ia berjalan menuju ruang tamu, berkenalan sebentar dengan kedua tamu, dan ikut duduk di sana. Aku di sebelahnya.

“Pak Lukman,” Abdi memulai, “Langsung saja ya. Apakah benar Bapak yang membuat pesan ini?”

Abdi mengangkat ponsel pintarnya dan menghadapkan layarnya ke kami. Barisan alfabet yang begitu kami kenal pun menyapa kami.

Pulang dari kerja… kasur di kamarku hilang.
Dicari-cari ke sana sini …. bingung…. masa sih kasur ada yang curi???
terus lewat mana?? padahal pintu dikunci semua..!!!
Ya Allah…….. Ternyata ketutupan sprei.
Yaa Allah…Alhamdulillah ketemu…

Sambil menelan ludah, suamiku mengiyakan, “B-benar, Pak…”

“Bagaimana dengan ini?” Abdi melanjutkan, menggeser layar ponselnya dengan jari, “Ini juga buatan Bapak?”

KAKEK NENEK DI KTR IMIGRASI
Sepasang kakek-nenek akan mengikuti perjalanan tour luar negeri,
sehingga mereka harus ke ktr Imigrasi unt mengurus keperluan paspor.
Waktu pengisian formulir keimigrasian, nenek bingung dgn bahasa Inggris.
Nenek tanya pd peserta lain disebelahnya. Surname, first name, middle name & date of birth.
Pas di tulisan SEX, nenek malu bertanya sebelahnya,
Sambil berbisik bertanya pd kakek “Kek, kalo Sex dijawab apa ya?”
Jawab Kakek sambil berbisik: “Tulis aja, UDAH JARANG” …

“Benar, Pak,” suara suamiku sudah mulai bergetar, “Saya buatnya untuk iseng aja kok, Pak.”

Bapak Lukman tidak perlu khawatir,” ucap Abdi menenangkan, “Tidak perlu juga merahasiakan pekerjaan Bapak. Kami tahu selama ini Bapak sudah membuat ratusan pesan seperti ini. Kami di sini datang untuk mengapresiasi karya Bapak ini.”

“M-maksud Anda, Pak?”

Abdi mengeluarkan sebuah map dari tas kerjanya lalu membukanya di atas meja. “Ini statistik lalu lintas pesan-pesan buatan Bapak melalui internet,” terang Abdi sambil jarinya menyusuri garis-garis merah di sebuah grafik yang aku tidak mengerti, “Setiap pesan Bapak sudah di-share ratusan juta kali melalui media-media jejaring sosial, Pak. Ratusan juta kali! Paling sering lewat WhatsApp dan Facebook.”

“Lalu, ada apa Pak dengan itu?” aku bertanya.

“Sembilan puluh tujuh persen dari angka tersebut adalah sumbangsih dari bapak-bapak dan ibu-ibu usia di atas 45 tahun yang mulai gandrung internet. Tanpa Bapak dan Ibu sadari, Pak Lukman telah sangat berjasa, membantu mereka untuk bisa melek internet. Berkat pesan-pesan Bapak, mereka jadi rajin membuka grup-grup chat dan belajar mengoperasikan aplikasi smartphone. Bahkan saat aplikasi mereka di-update, mereka mau dan mampu belajar menyesuaikan diri dengan pengaturan aplikasi yang baru. Sungguh! Kemajuan luar biasa untuk generasi Y, mengingat mereka tidak pernah mengalami proses belajar digital seperti anak-anak jaman sekarang! Bapak telah menghindarkan mereka dari kegaptekan melalui hiburan! Sungguh cara yang cerdas!”

Aku dan suamiku hanya bisa melongo.

Belum selesai kami memahami maksud omongan Abdi, ia melanjutkan,

“Karena itu universitas kami memutuskan untuk memberi gelar doktor honoris causa kepada Bapak Lukman, atas sumbangsih Bapak terhadap penerimaan internet masyarakat di Indonesia.”

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Met Gala 2018 dan Kegilaan-kegilaannya 0 339

Oleh: Michelle Florencia*

Met Gala adalah salah satu acara tahunan yang paling dinanti-nantikan insan fesyen dunia. Bagaimana tidak? Acara yang yang sudah 70 tahun terakhir diselenggarakan ini bertabur bintang-bintang Hollywood yang mengenakan kostum super wow rancangan desainer kelas dunia.

Acara yang diinisiasi oleh Eleanor Lambert ini sebenarnya merupakan acara penggalangan dana untuk The Costume Institute dan pameran kostum di Metropolitan Museum of Art (Met), New York. Namun, tidak ada yang tahu pasti – selain tamu undangan pastinya – bagaimana suasana acara Met Gala sendiri dikarenakan acara ini tertutup bagi media dan para undangan juga tidak diperbolehkan mengunggah foto maupun video seputar acara Met Gala untuk menjaga ekslusifitasnya.

Di tahun 2018, Met Gala diselenggarakan pada Seni n (7/5) di New York Metropolitan Museum of Art. Met Gala kali ini merupakan pembuka pameran terbesar yang pernah dibuat The Costume Institute. Mengangkat tema Heavenly Bodies: Fashion and The Catholic Imagination, ekshibisi ini begitu menarik karena bekerjasama dengan keuskupan Vatikan untuk memamerkan benda-benda gereja Vatikan. Tak hanya itu, para desainer kenamaan seperti Jeanne Lanvin, Karl Lagerfeld, John Galliano, Jean Paul Gaultier, dan nama-nama besar lainnya turut serta memamerkan rancangan mereka yang terinspirasi dari simbol-simbol Katolik.

Penulis menilai Met Gala merupakan salah satu acara yang paling gila, terutama Met Gala 2018. Bagaimana tidak? Pertama, harga tiket acara ini adalah USD 30.000/tamu atau Rp 405.000.000 (dengan asumsi kurs Rp 13.500/USD). Itu untuk teko thok, gurung nek mesen mejo. Apabila ingin memesan satu meja, maka tamu tersebut harus membayar USD 275.000 hingga USD 500.000. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp 3.712.500.000 hingga Rp 6.750.000.000—jumlah yang cukup untuk beli pisang naget dan ayam geprek seumur hidup!

Apabila Pembaca merasa punya uang segitu, jangan kepedean dulu bisa datang ke acara ini! Yang diundang hanyalah selebritis top Hollywood, donatur acara, para desainer tersohor dunia, super model kenamaan, dan perwakilan label busana atau aksesoris mewah yang bersedia menyumbang dana. Tak hanya itu, semua tamu undangan harus disetujui oleh Nyah Anna Wintour, pemimpin redaksi majalah Vogue dan juga ketua acara Met Gala. Kalau Pembaca masih seorang mahasiswa yang tinggal di kos-kosan yang hanya bisa ngadem dan numpang wifi di perpus kampus (gratisan), barangkali bisa tidur dulu untuk datang ke acara ini dalam mimpi.

Beauty is pain menjadi selogan bagi para undangan, terutama tamu undangan wanita. Lihat saja Blake Lively  dengan gaun Versace-nya yang super panjang , rawan keselimpet, nyeret-nyeret, dan mau nggak mau rela “mengepel” lantai museum bisa dibilang jadi cleaning service dadakan. Penulis juga sangat mengapresiasi kekuatan dan kekekaran punggung Katy Perry yang memikul sayap dengan ukuran buto. Belum lagi Rihanna yang mampu tetap tegak berdiri saat mengenakan dress, cape, dan topi ala paus yang penuh dengan borci-borci (kosakata ala emak-emak Pasar Atum untuk menyebut payet) rancangan Maison Margiela yang kalau ditotal  barangkali bisa sampai belasan kilogram. Tak kalah hebat, Sarah Jessica Parker mampu menahan beban dari pajangan rumah yang dijadikan bando oleh Dolce and Gabbana itu demi mengalihkan fokus agar tidak terpaku pada wajahnya yang botox-nya tidak merata itu. Penulis saja sudah ngomel-ngomel karena bahu suka salah urat kalau bawa laptop di tas. Luar biasa memang kekuatan para wanita di Met Gala 2018!

Kegilaan selanjutnya ialah keberanian Andrew Bolton, kurator The Costume Institute dan sesosok pencetus tema-tema Met Gala dalam beberapa tahun terakhir, dalam menentukan tema Met Gala tahun ini, yaitu Heavenly Bodies: Fashion and Catholic Imagination. Presiden Kebudayaan Vatikan, Gianfranco Ravasi sendiri bersyukur atas diangkatnya tema ini, sebab artinya simbol Katolik masih bisa menyentuh orang lain.

Tapi, akibat mencetuskan ide kontroversial ini, ia harus bolak-balik New York-Vatikan sebanyak 10 kali dalam satu tahun terakhir! Dikutip dari Tirto, Bolton menjalin relasi dengan lima orang pastur pejabat gereja dan menteri kebudayaan Vatikan untuk bisa meminjam busana pastur, mahkota yang dikenakan Paus, dan benda-benda gereja lainnya. Total ada lebih dari 40 benda yang biasa tersimpan di dalam tempat penyimpanan perlengkapan ekaristi (sakristi) di sebuah gereja di Vatikan. Berani buat ide gila, harus berani kerja gila!

Tak hanya membuat Bolton bolak-balik New York-Vatikan sampai mbulak, tema yang menyentuh ranah keagamaan ini juga menimbulkan kontroversi. Penulis paparkan terakhir karena merupakan klimaks dari kegilaan acara ini. Ide suangar nun gendeng ini  rupanya tidak disambut baik oleh beberapa selebritis, dan bahkan ingin memboikot Met Gala 2018. Dikutip dari Vogue, tema ini jadi kontroversi karena fesyen dinilai tak pantas disandingkan dengan hal-hal yang dianggap sakral atau suci. Tapi, menurut Bolton hal itu lumrah saja, “Ini menegaskan kesetiaan pada agama, eksistensi, dan perbedaan agama,” tukasnya.

Yang jelas, apabila ingin mengangkat tema keagamaan, harusnya pihak Met Gala tetap menjaga kesucian agama itu sendiri. Tak pantas rasanya apabila mengenakan pakaian bertema agamis, tapi dibuat seperti pakaian yang kekurangan kain dan bikin orang salah fokus. Entah bagaimana jadinya kalau acara semacam ini diselenggarakan di Indonesia. Gurung diselenggarakno wes dicekal disek. Hehehe….

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Sembilan Dosa Bocah Milenial 1 320

Redaksi kali ini memuat hal menarik: panduan ringkas memahami karakteristik masyarakat milenial! Barangsiapa hendak mengikuti tren yang terjadi (juga mungkin keganjilan-keganjilannya), bolehlah disimak:

1. Raimu ketulung mobilmu.

Begitulah kira-kira perumpaan paling sahih untuk menggambarkan skala prioritas para milenial. Mereka menghidupi nilai dimana penampilan adalah segalanya. Sebetulnya tak cuma dandanan luar, tapi juga keseluruhan atribut yang dapat dilekatkan dan dapat meningkatkan status sosial. Pengeluaran per bulan untuk mendandani diri adalah prioritas nomor satu. Pomade, baju branded (preloved rapopo sing penting Zara), sepatu, lipstick (musti matte biar kalo mimik di gelas tanpa bekas), mobil (kredit dijabani pokoke pantes, minimal Agya Ayla) dan seterusnya.

2. Hape apel krowak sebagai sekte agama

Milenial melihat ponsel sebagai ritus baru beragama. Rutin dihayati dan disayang-sayang. Coba periksa dimanapun mereka berada, ponsel tak pernah absen dipelukan. Mulai bobo cantik sampai menjelang cawik, hape tak lepas di genggaman. Merek didominasi apel krowak, tapi isi aplikasi paling melip hanya game, youtube atau instant messenger (karena memang mampunya mengoperasikan itu, mohon dimaklumi). Sesekali diisi fasilitas editing foto, biar aduhai kalau selfie diunggah ke media sosial.

3. Nongkrong sampe mbulak

Kapanpun harus disisakan waktu luang. Ini ciri yang sangat kentara, sebab milenial senantiasa mencari sekeras-kerasnya waktu luang, sekalipun di tengah kesibukan maha padat. Nongki-nongki sambil isep Vape biasanya menjadi pilihan. Sekedar di kafe kelas menengah, atau sampai kelas atas, yang menunya punya prinsip ra enak ra popo sing penting instagrammable. Kadang karena ingin dinilai memahami selera elite, pergilah mereka ke Setarbak—yang andai kopinya dituker dengan kapal api 2.500 rupiah pun milenial tak sadar beda rasanya. Pokoke nggaya!

 4. My trip my adventure, mak crit mak plekentur

Banyak milenial ababil yang tega menabung banyak untuk dihabiskan seluruhnya demi vakansi. Liburan ini konon adalah pelarian semi-intelektual: kembali pada alam, menghayati ciptaan Tuhan, menepi ke pantai, kontemplasi ke pegunungan, dan segudang alasan-alasan gombal mbelgedhes. Intine kepingin hura-hura kok harus repot mencari alasan filosofis. Tiket kereta api atau pesawat bisa di-booking jauh-jauh hari. Kalau perlu sampai ke luar negeri, biar kaffah liburannya, Havana o nana. Singapore gakpapalah, lumayan bisa poto-poto di depan singa muntah. Atau negeri-negeri eksotis lainnya, agar bisa wisata kuliner unik-unik, lalu bikin vlog, atau story. Tujuannya jelas: mari dipamerkan ke handai-taulan ngenes yang melas  di media sosial.

5. Isolasi sosyel

Milenial acapkali mengisolasi dirinya atau kumpulan gengnya dari orang lain. Asyik-asyik sendiri, galo-galo sendiri dan kalau berkumpul, menu utama selalu ghibah. Jarang bertemu atau sulit membuka diri dari kelompok lain. Akibatnya, tak ada tradisi dalam diri mereka untuk merekat secara sosial, saling tegur sapa, memahami secara intens dunia sosialnya. Mungkin sudah terlalu lelah masturbasi dengan identitasnya sendiri.

6. Susah setia
Para millenial ini senang hidup tanpa pilihan, jadi nihilis ben filosofis. Tiada kuasa mereka bertahan lebih dari 2 jam hanya mengerjakan satu kegiatan. Bosenan. Sebentar buka Line, beberapa menit kemudian pindah ke instagram, lalu twitteran. Bentar-bentar buka pintu dapur, buka kulkas, gak ada apa-apa, dikit-dikit mie instan lagi. Ini dapat dipahami kerena mereka hanya menunggang tren yang amat sementara. Setelah tren gaya itu perlahan mereda, berpindahlah mereka ke wilayah lain. Milenial adalah orang-orang yang nomaden dalam bergaya.

7. Antologi quotes berjalan
Kutap-kutip kalimat indah antologi biar keliatan sentimentil. Kalau bisa jangan hanya jadi antologi berjalan; jadilah kamus, atau perpustakaan sekalian. Ini demi perbendaharaan kata-kata mutiara yang jitu untuk melengkapi caption foto instagram selfie di bawah pohon rindang yang korelasinya tentu bernilai nol. Atau jadi senjata mutakhir untuk merayu mbak’e, berjajarlah amunisi gombalan Dilan sampai Ditto, tinggal dipilih sesuai situasi. Tentu yang diutamakan bukan quotes berbau masalah politik-ekonomi-sosial, apalagi religi. Semua berputar pada ranah romansa, satu-satunya aspek kehidupan yang paling dikuasai millenials. Cinta-cintaan, menghindar dari mantan. Ncen kakehan gaya. Mbayar iuran kas kelas ae sek kredit.

8. Cenayang Nirkabel

Hanya bermodalkan kuota internet, itu pun kadang numpang tethering, milenial bisa tahu aktifitas terbaru dari teman-temannya (baca: following dan follower). Milenial mengumpulkan pundi-pundi informasi itu dari story, postingan, tweet, dan seabrek fitur medsos lain. Jelas sekali, nuansa nongki cantik jadi tidak diwarnai dengan saling menanyakan kabar, tapi sekedar klarifikasi. Kondisi ini menuntut milenial untuk selaluup to date. Asu tenan.

9. Ra ngurus dapuranmu

“Situ sapah kok ngurusi hidup eike?” Begitulah filosofi hidup milenial. Maksudnya ingin tampil independen dan mandiri, tapi sering tersesat pada apatisme. Maksudnya berupaya mendobrak konservatisme nilai-nilai, tapi meleset ke kebodohan. Sangat sensitif pada privasi, dan menjadi paranoid agar hidupnya tak diinterupsi oleh orang lain. Sebaliknya, karena terlalu berkonsentrasi pada diri sendiri, individu milenial mengabaikan dunia lain. Orang lain adalah antah berantah. Yang penting urusan diri sendiri beres, situ mau jumpalitan juga terserah. Sangat cuek dan masa bodoh.

Itu tadi sembilan ulasan dari kami. Jika ada bantahan atau tambahan, bolehlah dikirimkan pada kami. Siapa tau juru bicara milenial tersinggung. Hehehe

 

 

Editor Picks