Kisah Suami-Istri dan Fakta Jika Gelar Honoris Causa Memang Guuampaaang 0 1765

Tok tok… Tok tok…

Suara pintu diketuk memecah kenyamanan di siang hari itu. Aku dan suamiku yang sedang menonton televisi berdua seketika terlonjak dari lesakan sofa, berpandangan satu sama lain. Jantung kami berdegup kencang tiba-tiba.

“Apa itu mereka?” tanya suamiku.

“Sepertinya iya,” jawabku penuh nada kekhawatiran, “Mereka bilang akan mendatangimu. Tapi tidak kusangka secepat ini!”

Tok… tok…

“Permisi!” Suara berat dan tegas terdengar tak jauh dari jendela depan, “Apa ada orang di rumah?”

Oh sungguh… Belum pernah kami rasakan suasana setegang ini.

“Sana! Sembunyi!” seruku dalam bisik. Kudorong suamiku pergi dari ruang tamu. Ia berlari ke belakang, mungkin menuju kamar.

Cepat-cepat kusisir rambut dengan jari dan kurapikan dasterku. Televisi kubiarkan menyala, sambil perlahan kudatangi pintu rumahku. Tanganku yang sedikit gemetar memutar gagang dan menarik daun pintu, menampakkan dua sosok laki-laki tegap. Satu berseragam polisi dan satu berjas hitam.

“Iya, Pak?”

“Selamat siang,” si polisi memberi salam, “Apa benar ini kediaman Bapak Lukman Harja?”

“Benar, Pak. Ada keperluan apa ya?”

“Kami dari Universitas Milenial, Bu.” Yang berjas menawarkan tangan untuk kujabat, “Perkenalkan, saya Abdi, dosen Fakultas Informasi. Apakah Ibu istri dari Pak Lukman?”

“B-benar, Pak.”

“Pak Lukman ada di rumah?” Sambil bertanya, ia pasti sudah membaca keraguanku, karena kalimat selanjutnya, “Tenang saja, Bu, suami Ibu tidak ada masalah apa-apa. Sebaliknya, kami justru datang membawa kabar baik untuk suami Ibu.”

“M-maksudnya bagaimana?” tanyaku bingung, “Anda yang kemarin telepon, bukan?”

“Benar sekali. Kami ingin bicara soal pekerjaan Bapak. Sudah lama kami berusaha mengontak Pak Lukman tanpa hasil. Beliau selalu me-reject telepon kami. Dan kemarin adalah kedua kalinya Ibu mengangkat telepon dari kami setelah yang pertama berminggu-minggu lalu,” jelasnya, “Bagaimana, Bu? Bisa kami menemui Pak Lukman?”

Kucermati lagi kedua tamu tersebut dari atas sampai bawah. Mereka memang tidak terlihat semengancam suara si Abdi kalau didengarkan lewat telepon. Akhirnya, kupersilakan mereka masuk. Sambil mengarahkan mereka duduk di ruang tamu, aku masih berusaha mengingat. Apakah mereka pernah punya koneksi dengan Lukman? Mengingat sudah bertahun-tahun kami berdua menyembunyikan pekerjaan suamiku itu.

Dan sudah bertahun-tahun tidak ada yang tahu.

“Pak… Sepertinya mereka orang baik-baik saja kok,” ucapku pada suami seraya mendatanginya di kamar, “Ditemui saja dulu.”

“Kamu yakin?” tanyanya, yang kubalas dengan anggukan. Maka dengan meyakinkan diri, ia berjalan menuju ruang tamu, berkenalan sebentar dengan kedua tamu, dan ikut duduk di sana. Aku di sebelahnya.

“Pak Lukman,” Abdi memulai, “Langsung saja ya. Apakah benar Bapak yang membuat pesan ini?”

Abdi mengangkat ponsel pintarnya dan menghadapkan layarnya ke kami. Barisan alfabet yang begitu kami kenal pun menyapa kami.

Pulang dari kerja… kasur di kamarku hilang.
Dicari-cari ke sana sini …. bingung…. masa sih kasur ada yang curi???
terus lewat mana?? padahal pintu dikunci semua..!!!
Ya Allah…….. Ternyata ketutupan sprei.
Yaa Allah…Alhamdulillah ketemu…

Sambil menelan ludah, suamiku mengiyakan, “B-benar, Pak…”

“Bagaimana dengan ini?” Abdi melanjutkan, menggeser layar ponselnya dengan jari, “Ini juga buatan Bapak?”

KAKEK NENEK DI KTR IMIGRASI
Sepasang kakek-nenek akan mengikuti perjalanan tour luar negeri,
sehingga mereka harus ke ktr Imigrasi unt mengurus keperluan paspor.
Waktu pengisian formulir keimigrasian, nenek bingung dgn bahasa Inggris.
Nenek tanya pd peserta lain disebelahnya. Surname, first name, middle name & date of birth.
Pas di tulisan SEX, nenek malu bertanya sebelahnya,
Sambil berbisik bertanya pd kakek “Kek, kalo Sex dijawab apa ya?”
Jawab Kakek sambil berbisik: “Tulis aja, UDAH JARANG” …

“Benar, Pak,” suara suamiku sudah mulai bergetar, “Saya buatnya untuk iseng aja kok, Pak.”

Bapak Lukman tidak perlu khawatir,” ucap Abdi menenangkan, “Tidak perlu juga merahasiakan pekerjaan Bapak. Kami tahu selama ini Bapak sudah membuat ratusan pesan seperti ini. Kami di sini datang untuk mengapresiasi karya Bapak ini.”

“M-maksud Anda, Pak?”

Abdi mengeluarkan sebuah map dari tas kerjanya lalu membukanya di atas meja. “Ini statistik lalu lintas pesan-pesan buatan Bapak melalui internet,” terang Abdi sambil jarinya menyusuri garis-garis merah di sebuah grafik yang aku tidak mengerti, “Setiap pesan Bapak sudah di-share ratusan juta kali melalui media-media jejaring sosial, Pak. Ratusan juta kali! Paling sering lewat WhatsApp dan Facebook.”

“Lalu, ada apa Pak dengan itu?” aku bertanya.

“Sembilan puluh tujuh persen dari angka tersebut adalah sumbangsih dari bapak-bapak dan ibu-ibu usia di atas 45 tahun yang mulai gandrung internet. Tanpa Bapak dan Ibu sadari, Pak Lukman telah sangat berjasa, membantu mereka untuk bisa melek internet. Berkat pesan-pesan Bapak, mereka jadi rajin membuka grup-grup chat dan belajar mengoperasikan aplikasi smartphone. Bahkan saat aplikasi mereka di-update, mereka mau dan mampu belajar menyesuaikan diri dengan pengaturan aplikasi yang baru. Sungguh! Kemajuan luar biasa untuk generasi Y, mengingat mereka tidak pernah mengalami proses belajar digital seperti anak-anak jaman sekarang! Bapak telah menghindarkan mereka dari kegaptekan melalui hiburan! Sungguh cara yang cerdas!”

Aku dan suamiku hanya bisa melongo.

Belum selesai kami memahami maksud omongan Abdi, ia melanjutkan,

“Karena itu universitas kami memutuskan untuk memberi gelar doktor honoris causa kepada Bapak Lukman, atas sumbangsih Bapak terhadap penerimaan internet masyarakat di Indonesia.”

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 144

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Asmara Putra Presiden dan Kita yang Suka Kepo 0 279

Kaesang selingkuh??!!

Ini sih bukan cuma bahan omongan netijen di media sosial, tapi juga persoalan kita semua!

Persoalan ini menempati posisi teratas trending topic di linimasa media sosial. Bermula dari unggahan akun gosip junjungan kita semua, Lambe Turah, dan dikonfirmasi oleh beberapa postingan feed dan story akun melia_lau yang merupakan ibunda dari Felicia, pacarnya Mas Kaesang.

Pendek cerita, Kaesang dinyatakan menghilang tanpa kabar alias ghosting, lalu ketahuan jalan dengan perempuan lain. Naasnya, perempuan lain itu pegawainya sendiri. Bilang WOW gak nih?

Oh, betapa runyamnya persoalan ini bagi bangsa dan negara. Mendadak kita semua mengurusi persoalan asmara putra presiden. Setelah ini, wartawan infotainment yang brutal itu akan menyerbu istana, menghujani Jokowi dengan pertanyaaan personal seputar anak bungsunya.

Untuk sementara, istana hanya akan sibuk menjawabi persoalan ini, dan melupakan penanganan corona, atau urusan Moeldoko dan Demokrat.

Tapi, menurut hemat penulis, setidaknya ada sejumlah poin andai-andai yang bisa diserap dari peristiwa ini.

 

Kalau saja selingkuhnya di tempat yang tepat

Kata teman-teman saya sih, tempat terbaik di ibukota untuk selingkuh adalah Kuningan City. Konon, mal ini selalu sepi walau akhir pekan. Pun di dalamnya disewa oleh tenant ternama dengan harga diskon semua. Niscaya selingkuh aman dan hemat jika mbaké minta dibelikan baju baru.

Atau di Blok M misalnya. Pusat belanja yang hampir sekarat. Di mana penjualnya hanya fokus melariskan dagangan, tak peduli siapa yang sedang kencan, entah beneran pasangan atau simpanan.

Kalau di Surabaya, Anda bisa mengajak mbaké ke DTC. Bisa sekalian blusukan pelaku UMKM yang sesungguhnya. Siapa tahu mau studi banding.

Sayangnya, Mas Kaesang, kita ini memang hidup di zaman edan. Pacaran dengan pacar orang kurang afdol rasanya jika belum diposting ke media sosial, entah untuk apa tujuannya. Mungkin, untuk menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan khalayak.

 

Kalau saja Kaesang bukan anak pleciden

Pasti kisah drama asmara ini akan biasa-biasa saja. Kaesang juga hanyalah mas-mas biasa usia 20-an yang suka main mobel lejen dan papji. Tapi status sebagai anak orang nomor satu di Indonesia ini menjadikan beban moral berat harus ditanggungnya.

Padahal, semua hubungan tentu punya masalah dan bisa saja menemui akhirnya. Semua dari kita pasti pernah mengalami ghosting, baik jadi korban atau pelakunya. Kaesang pun manusia adanya, yang bisa mengalami hal-hal tersebut. Bukan karena anak presiden, terus Kaesang jadi manusia paling sempurna dan idaman.

Kita semua ini kan pernah berdosa, cuma belum ketahuan boroknya aja. Tapi ya beginilah tabiat kita menjadi manusia. Menghakimi, menghujat, seakan-akan kita orang paling benar di dunia.

 

Kalau saja semua ini hanya prank

Siapa tahu kan, Kaesang butuh ide konten baru di akun Youtube-nya. Siapa tahu semua drama ini memang disiapkan untuk melamar Felicia di Desember 2021, seperti yang dijanjikannya pada keluarga.

Atta dan Aurel saja habis putus tiba-tiba mengumumkan pernikahan. Siapa tahu kan, yang satu ini juga bernasib demikian.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks