Kisah Suami-Istri dan Fakta Jika Gelar Honoris Causa Memang Guuampaaang 0 1084

Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Tok tok… Tok tok…

Suara pintu diketuk memecah kenyamanan di siang hari itu. Aku dan suamiku yang sedang menonton televisi berdua seketika terlonjak dari lesakan sofa, berpandangan satu sama lain. Jantung kami berdegup kencang tiba-tiba.

“Apa itu mereka?” tanya suamiku.

“Sepertinya iya,” jawabku penuh nada kekhawatiran, “Mereka bilang akan mendatangimu. Tapi tidak kusangka secepat ini!”

Tok… tok…

“Permisi!” Suara berat dan tegas terdengar tak jauh dari jendela depan, “Apa ada orang di rumah?”

Oh sungguh… Belum pernah kami rasakan suasana setegang ini.

“Sana! Sembunyi!” seruku dalam bisik. Kudorong suamiku pergi dari ruang tamu. Ia berlari ke belakang, mungkin menuju kamar.

Cepat-cepat kusisir rambut dengan jari dan kurapikan dasterku. Televisi kubiarkan menyala, sambil perlahan kudatangi pintu rumahku. Tanganku yang sedikit gemetar memutar gagang dan menarik daun pintu, menampakkan dua sosok laki-laki tegap. Satu berseragam polisi dan satu berjas hitam.

“Iya, Pak?”

“Selamat siang,” si polisi memberi salam, “Apa benar ini kediaman Bapak Lukman Harja?”

“Benar, Pak. Ada keperluan apa ya?”

“Kami dari Universitas Milenial, Bu.” Yang berjas menawarkan tangan untuk kujabat, “Perkenalkan, saya Abdi, dosen Fakultas Informasi. Apakah Ibu istri dari Pak Lukman?”

“B-benar, Pak.”

“Pak Lukman ada di rumah?” Sambil bertanya, ia pasti sudah membaca keraguanku, karena kalimat selanjutnya, “Tenang saja, Bu, suami Ibu tidak ada masalah apa-apa. Sebaliknya, kami justru datang membawa kabar baik untuk suami Ibu.”

“M-maksudnya bagaimana?” tanyaku bingung, “Anda yang kemarin telepon, bukan?”

“Benar sekali. Kami ingin bicara soal pekerjaan Bapak. Sudah lama kami berusaha mengontak Pak Lukman tanpa hasil. Beliau selalu me-reject telepon kami. Dan kemarin adalah kedua kalinya Ibu mengangkat telepon dari kami setelah yang pertama berminggu-minggu lalu,” jelasnya, “Bagaimana, Bu? Bisa kami menemui Pak Lukman?”

Kucermati lagi kedua tamu tersebut dari atas sampai bawah. Mereka memang tidak terlihat semengancam suara si Abdi kalau didengarkan lewat telepon. Akhirnya, kupersilakan mereka masuk. Sambil mengarahkan mereka duduk di ruang tamu, aku masih berusaha mengingat. Apakah mereka pernah punya koneksi dengan Lukman? Mengingat sudah bertahun-tahun kami berdua menyembunyikan pekerjaan suamiku itu.

Dan sudah bertahun-tahun tidak ada yang tahu.

“Pak… Sepertinya mereka orang baik-baik saja kok,” ucapku pada suami seraya mendatanginya di kamar, “Ditemui saja dulu.”

“Kamu yakin?” tanyanya, yang kubalas dengan anggukan. Maka dengan meyakinkan diri, ia berjalan menuju ruang tamu, berkenalan sebentar dengan kedua tamu, dan ikut duduk di sana. Aku di sebelahnya.

“Pak Lukman,” Abdi memulai, “Langsung saja ya. Apakah benar Bapak yang membuat pesan ini?”

Abdi mengangkat ponsel pintarnya dan menghadapkan layarnya ke kami. Barisan alfabet yang begitu kami kenal pun menyapa kami.

Pulang dari kerja… kasur di kamarku hilang.
Dicari-cari ke sana sini …. bingung…. masa sih kasur ada yang curi???
terus lewat mana?? padahal pintu dikunci semua..!!!
Ya Allah…….. Ternyata ketutupan sprei.
Yaa Allah…Alhamdulillah ketemu…

Sambil menelan ludah, suamiku mengiyakan, “B-benar, Pak…”

“Bagaimana dengan ini?” Abdi melanjutkan, menggeser layar ponselnya dengan jari, “Ini juga buatan Bapak?”

KAKEK NENEK DI KTR IMIGRASI
Sepasang kakek-nenek akan mengikuti perjalanan tour luar negeri,
sehingga mereka harus ke ktr Imigrasi unt mengurus keperluan paspor.
Waktu pengisian formulir keimigrasian, nenek bingung dgn bahasa Inggris.
Nenek tanya pd peserta lain disebelahnya. Surname, first name, middle name & date of birth.
Pas di tulisan SEX, nenek malu bertanya sebelahnya,
Sambil berbisik bertanya pd kakek “Kek, kalo Sex dijawab apa ya?”
Jawab Kakek sambil berbisik: “Tulis aja, UDAH JARANG” …

“Benar, Pak,” suara suamiku sudah mulai bergetar, “Saya buatnya untuk iseng aja kok, Pak.”

Bapak Lukman tidak perlu khawatir,” ucap Abdi menenangkan, “Tidak perlu juga merahasiakan pekerjaan Bapak. Kami tahu selama ini Bapak sudah membuat ratusan pesan seperti ini. Kami di sini datang untuk mengapresiasi karya Bapak ini.”

“M-maksud Anda, Pak?”

Abdi mengeluarkan sebuah map dari tas kerjanya lalu membukanya di atas meja. “Ini statistik lalu lintas pesan-pesan buatan Bapak melalui internet,” terang Abdi sambil jarinya menyusuri garis-garis merah di sebuah grafik yang aku tidak mengerti, “Setiap pesan Bapak sudah di-share ratusan juta kali melalui media-media jejaring sosial, Pak. Ratusan juta kali! Paling sering lewat WhatsApp dan Facebook.”

“Lalu, ada apa Pak dengan itu?” aku bertanya.

“Sembilan puluh tujuh persen dari angka tersebut adalah sumbangsih dari bapak-bapak dan ibu-ibu usia di atas 45 tahun yang mulai gandrung internet. Tanpa Bapak dan Ibu sadari, Pak Lukman telah sangat berjasa, membantu mereka untuk bisa melek internet. Berkat pesan-pesan Bapak, mereka jadi rajin membuka grup-grup chat dan belajar mengoperasikan aplikasi smartphone. Bahkan saat aplikasi mereka di-update, mereka mau dan mampu belajar menyesuaikan diri dengan pengaturan aplikasi yang baru. Sungguh! Kemajuan luar biasa untuk generasi Y, mengingat mereka tidak pernah mengalami proses belajar digital seperti anak-anak jaman sekarang! Bapak telah menghindarkan mereka dari kegaptekan melalui hiburan! Sungguh cara yang cerdas!”

Aku dan suamiku hanya bisa melongo.

Belum selesai kami memahami maksud omongan Abdi, ia melanjutkan,

“Karena itu universitas kami memutuskan untuk memberi gelar doktor honoris causa kepada Bapak Lukman, atas sumbangsih Bapak terhadap penerimaan internet masyarakat di Indonesia.”

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasib Naas Jerman yang Dilibas KorSel 0 185

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Per 27 Juni, tepatnya sejak Panser Jerman keok dilibas Oppa Korea Selatan di Piala Dunia, ada beberapa perubahan besar dalam persepakbolaan – dan mungkin juga – sejarah dunia.

Bagaimana tidak? Jerman adalah petahana Piala Dunia 2014. Kualitas pemain teruji dan track record merumput di Piala Dunia tidak perlu diragukan lagi. Sang langganan semifinal sejak 1938. Setidak-tidaknya kita berharap tinggi musti lolos 16 besar. Boleh dibilang wonder team. Uber alles deh pokoknya. Sedang lawannya, Taeguk Warriors asal Korea Selatan sama sekali antitesis semua itu. No offense loh, Oppa 🙁

Akal sehat jelas memprediksi kemenangan mudah Die Mannschaft atas Taeguk Warriors. Lah ndalah, njeketek, eng ing eng… Kenyataannya Jerman keok, plonga-plongo dihabisi Korea Selatan. Skor telak, 2-0. Gak mashookkk!

Dari awal sebenarnya posisi Jerman terbaca. Tiket melaju ke babak lanjutan dipertaruhkan, maka mereka menyerang terus. Kemungkinan tipis untuk lolos perlu dikejar. Sedang Korsel oleh karena dua kekalahan sebelumnya kontra Swedia dan Meksiko, sudah pasti angkat kaki meski menang atau kalah lawan Jerman malam itu. Tapi toh Korsel tetap on-fire, sampai peluit panjang mereka solid bertahan terus. Dari sini, kita mudah membaca siapa yang ngoyo dan siapa yang got nothing to lose.

Sepanjang pertandingan, Jerman betul menyerang tapi meleset melulu. Entah tidak cocok dengan angin di Rusia apa bagaimana. Melelahkan melihat permainan Jerman, gol tidak kunjung dibuat. Peluang banyak terbuang.

Apa karena ekspektasi penonton yang terlalu tinggi? Apa karena Jerman terlalu percaya diri?? Atau apakah memang mitos kutukan petahana pildun itu nyata adanya? Apakah Jerman memang ditakdirkan bernasib sama seperti Italia, Belanda, dan Spanyol? Sukses angkat trofi juara dunia lalu gagal mempertahankannya gelarnya? Saking mengerikannya kutukan itu, petahana bisa tersepak bahkan saat masih fase penyisihan grup.

Salam saya untuk kiper Korea yang telah bolak-balik menyelamatkan gawang. Juga pada pemain Korea sekalian yang dengan ciamik menghalau bola masuk jaring. Sampai paruh pertama, telur belum juga pecah. Pertahanan Korea Selatan belum bisa dikoyak. Menit ke-60 sekian, keadaan makin genting. Jerman tidak kunjung membuat angka, tiket lanjut dan mempertahankan gelar jadi terasa jauh. (Sebentar, nasib buruk ini apakah karena Jerman bermain di tanah Rusia? Saat Perang Dunia Kedua mereka kan…. *mulai cocoklogi).

Ritme permainan semakin terasa berat dan mendebarkan saat memasuki waktu tambahan. Jerman sudah kepayahan dan putus asa, permainan makin kacau. Korea Selatan konsisten dan merebut momentum lalu berhasil memecah kebuntuan. Skor satu untuk Korea Selatan. Rekaman Video Assistant Referees (VAR) dipakai untuk memutuskan apa gol itu sah atau tidak, sebab awalnya dikira off-side oleh wasit. Selebrasi Korsel bikin Jerman makin kalang kabut. Padahal pemain bintangnya turun. Mueller, Gomez, Oezil, dan Khedira dikerahkan agar segera cetak skor.

Tembakan banyak yang meleset. Terasa moril Jerman sudah merosot. Sampai-sampai, kiper Jerman, Neuer, meninggalkan pos jaganya. Mungkin karena sumpek rekan satu timnya tidak kunjung mencetak skor. Dirinya ikut merumput sampai begitu dekat dengan gawang Korea Selatan. Waktu tambahan sisa satu menit. Korea Selatan kembali mengoyak gawang Jerman yang ditinggalkan tak dijaga itu. Gol kembali dibuat.

Remek dan nelangsa lah Jerman diinjak Korea Selatan. Sisa waktu tidak cukup untuk membuat keajaiban. Panser kita angkat kaki. Kutukan telah tuntas terlaksana. Taeguk Warriors kalah, tapi bakal pulang ke negeranya dan disambut bak pahlawan.

Oppa dan Hyung telah menindas habis bule-bule Eropa itu. Sejarah telah mencatat itu. Daebak! Kemenangan atas Jerman juga berarti telah terjadi kemajuan pada persepakbolaan Korea Selatan di kancah dunia. Mereka telah jadi simbol untuk persebakbolaan Asia. Kini, mereka tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Terbukti pertahanan Korea jelas rapi dan mampu mengimbangi Jerman yang terus menyerang. Tidak kalah kualitas dengan si Panser.

Saya sendiri pendukung Jerman, tapi jujur diam-diam menantikan Korea Selatan menjebol gawang Jerman. Mungkin karena saya merasa terwakili sebagai sesama Asia. Sebab kan selama ini sepak bola rasa-rasanya hanya milik Eropa dan Amerika Latin. Ya kan, tim-tim itu saja toh yang menang. Tim-tim itu lagi yang dijagokan.

Boleh jadi, ini pecut untuk Indonesia agar empat tahun lagi bisa lolos kualifikasi Piala Dunia, lalu mungkin mampu menang telak 2-0 atas Inggris atau Spanyol. Siapa tahu?

Tanpa muluk-muluk, mungkin uji coba dulu dengan sapu bersih kemenangan di Asian Games tahun ini?

*Penulis adalah mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi Surabaya. Doyan nonton dan traktiran.

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Editor Picks