Kisah Suami-Istri dan Fakta Jika Gelar Honoris Causa Memang Guuampaaang 0 1218

Tok tok… Tok tok…

Suara pintu diketuk memecah kenyamanan di siang hari itu. Aku dan suamiku yang sedang menonton televisi berdua seketika terlonjak dari lesakan sofa, berpandangan satu sama lain. Jantung kami berdegup kencang tiba-tiba.

“Apa itu mereka?” tanya suamiku.

“Sepertinya iya,” jawabku penuh nada kekhawatiran, “Mereka bilang akan mendatangimu. Tapi tidak kusangka secepat ini!”

Tok… tok…

“Permisi!” Suara berat dan tegas terdengar tak jauh dari jendela depan, “Apa ada orang di rumah?”

Oh sungguh… Belum pernah kami rasakan suasana setegang ini.

“Sana! Sembunyi!” seruku dalam bisik. Kudorong suamiku pergi dari ruang tamu. Ia berlari ke belakang, mungkin menuju kamar.

Cepat-cepat kusisir rambut dengan jari dan kurapikan dasterku. Televisi kubiarkan menyala, sambil perlahan kudatangi pintu rumahku. Tanganku yang sedikit gemetar memutar gagang dan menarik daun pintu, menampakkan dua sosok laki-laki tegap. Satu berseragam polisi dan satu berjas hitam.

“Iya, Pak?”

“Selamat siang,” si polisi memberi salam, “Apa benar ini kediaman Bapak Lukman Harja?”

“Benar, Pak. Ada keperluan apa ya?”

“Kami dari Universitas Milenial, Bu.” Yang berjas menawarkan tangan untuk kujabat, “Perkenalkan, saya Abdi, dosen Fakultas Informasi. Apakah Ibu istri dari Pak Lukman?”

“B-benar, Pak.”

“Pak Lukman ada di rumah?” Sambil bertanya, ia pasti sudah membaca keraguanku, karena kalimat selanjutnya, “Tenang saja, Bu, suami Ibu tidak ada masalah apa-apa. Sebaliknya, kami justru datang membawa kabar baik untuk suami Ibu.”

“M-maksudnya bagaimana?” tanyaku bingung, “Anda yang kemarin telepon, bukan?”

“Benar sekali. Kami ingin bicara soal pekerjaan Bapak. Sudah lama kami berusaha mengontak Pak Lukman tanpa hasil. Beliau selalu me-reject telepon kami. Dan kemarin adalah kedua kalinya Ibu mengangkat telepon dari kami setelah yang pertama berminggu-minggu lalu,” jelasnya, “Bagaimana, Bu? Bisa kami menemui Pak Lukman?”

Kucermati lagi kedua tamu tersebut dari atas sampai bawah. Mereka memang tidak terlihat semengancam suara si Abdi kalau didengarkan lewat telepon. Akhirnya, kupersilakan mereka masuk. Sambil mengarahkan mereka duduk di ruang tamu, aku masih berusaha mengingat. Apakah mereka pernah punya koneksi dengan Lukman? Mengingat sudah bertahun-tahun kami berdua menyembunyikan pekerjaan suamiku itu.

Dan sudah bertahun-tahun tidak ada yang tahu.

“Pak… Sepertinya mereka orang baik-baik saja kok,” ucapku pada suami seraya mendatanginya di kamar, “Ditemui saja dulu.”

“Kamu yakin?” tanyanya, yang kubalas dengan anggukan. Maka dengan meyakinkan diri, ia berjalan menuju ruang tamu, berkenalan sebentar dengan kedua tamu, dan ikut duduk di sana. Aku di sebelahnya.

“Pak Lukman,” Abdi memulai, “Langsung saja ya. Apakah benar Bapak yang membuat pesan ini?”

Abdi mengangkat ponsel pintarnya dan menghadapkan layarnya ke kami. Barisan alfabet yang begitu kami kenal pun menyapa kami.

Pulang dari kerja… kasur di kamarku hilang.
Dicari-cari ke sana sini …. bingung…. masa sih kasur ada yang curi???
terus lewat mana?? padahal pintu dikunci semua..!!!
Ya Allah…….. Ternyata ketutupan sprei.
Yaa Allah…Alhamdulillah ketemu…

Sambil menelan ludah, suamiku mengiyakan, “B-benar, Pak…”

“Bagaimana dengan ini?” Abdi melanjutkan, menggeser layar ponselnya dengan jari, “Ini juga buatan Bapak?”

KAKEK NENEK DI KTR IMIGRASI
Sepasang kakek-nenek akan mengikuti perjalanan tour luar negeri,
sehingga mereka harus ke ktr Imigrasi unt mengurus keperluan paspor.
Waktu pengisian formulir keimigrasian, nenek bingung dgn bahasa Inggris.
Nenek tanya pd peserta lain disebelahnya. Surname, first name, middle name & date of birth.
Pas di tulisan SEX, nenek malu bertanya sebelahnya,
Sambil berbisik bertanya pd kakek “Kek, kalo Sex dijawab apa ya?”
Jawab Kakek sambil berbisik: “Tulis aja, UDAH JARANG” …

“Benar, Pak,” suara suamiku sudah mulai bergetar, “Saya buatnya untuk iseng aja kok, Pak.”

Bapak Lukman tidak perlu khawatir,” ucap Abdi menenangkan, “Tidak perlu juga merahasiakan pekerjaan Bapak. Kami tahu selama ini Bapak sudah membuat ratusan pesan seperti ini. Kami di sini datang untuk mengapresiasi karya Bapak ini.”

“M-maksud Anda, Pak?”

Abdi mengeluarkan sebuah map dari tas kerjanya lalu membukanya di atas meja. “Ini statistik lalu lintas pesan-pesan buatan Bapak melalui internet,” terang Abdi sambil jarinya menyusuri garis-garis merah di sebuah grafik yang aku tidak mengerti, “Setiap pesan Bapak sudah di-share ratusan juta kali melalui media-media jejaring sosial, Pak. Ratusan juta kali! Paling sering lewat WhatsApp dan Facebook.”

“Lalu, ada apa Pak dengan itu?” aku bertanya.

“Sembilan puluh tujuh persen dari angka tersebut adalah sumbangsih dari bapak-bapak dan ibu-ibu usia di atas 45 tahun yang mulai gandrung internet. Tanpa Bapak dan Ibu sadari, Pak Lukman telah sangat berjasa, membantu mereka untuk bisa melek internet. Berkat pesan-pesan Bapak, mereka jadi rajin membuka grup-grup chat dan belajar mengoperasikan aplikasi smartphone. Bahkan saat aplikasi mereka di-update, mereka mau dan mampu belajar menyesuaikan diri dengan pengaturan aplikasi yang baru. Sungguh! Kemajuan luar biasa untuk generasi Y, mengingat mereka tidak pernah mengalami proses belajar digital seperti anak-anak jaman sekarang! Bapak telah menghindarkan mereka dari kegaptekan melalui hiburan! Sungguh cara yang cerdas!”

Aku dan suamiku hanya bisa melongo.

Belum selesai kami memahami maksud omongan Abdi, ia melanjutkan,

“Karena itu universitas kami memutuskan untuk memberi gelar doktor honoris causa kepada Bapak Lukman, atas sumbangsih Bapak terhadap penerimaan internet masyarakat di Indonesia.”

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penobatan untuk Jentelmen Pemilu 2019 0 168

Pemilu sudah lewat hampir seminggu. Hasil hitung resmi dari KPU masih ditunggu. Tapi hasil hitung cepat yang muncul dan dibahas secara berlebihan di tipi-tipi sudah bisa bikin sebagian bersorak atau sebagian lain menangis tergugu.

Kontestasi boleh selesai, tapi kadang rakyat kita susah lepas dari polarisasi. Di tengah pertengkaran dan tuduh-tuduhan, kita tidak boleh lupa bahwa di balik Pemilu 2019, terdapat sosok-sosok keren yang patut kita beri penghargaan. Berikut ini adalah daftar nominasi penobatan gelar “gentleman” pada Pemilu 2019

 

Sandiaga “Ganteng” Salahuddin Uno

Bagaimana tidak? Sebanyak 1.550 titik kampanye di Indonesia sudah ia kunjungi. Publik harus mencatat effort menyapa dan menjadi idola emak-emak ini pencapaian luar biasa. Ia juga telah menjual saham dan merugi banyak demi membiayai kampanye. Bahkan di puncak akhir perjuangannya, ia terkena serangan cegukan persis setelah hasil survei hitung cepat menunjukkan dirinya dan Prabski kalah.

Walau demikian, ia adalah orang paling kuat se-Indonesia. Dari sekian banyak penderitaan yang menimpanya, dia tetap saja ganteng, kaya, beristri cantik, dan terkenal. Dia adalah inspirasi para proletar agar senantiasa pantang menyerah dalam berjuang. Atau barangkali kemujurannya adalah takdir dari Sang Kuasa.

 

Agus Harimurti Yudhoyono alias AHaYe

Penerus trah eSBeYe ini citranya sempat hancur di Pilkada DKI 2017. Namun ini semata-mata karena ibu-bapake sing melok ae. Idenya untuk bikin rumah apung masih jadi catatan visi paling terkenang sepanjang sejarah Pilkada. Tapi harus diakui, usahanya untuk bangkit dan membangun kembali serpihan citra dirinya yang tercecer itu harus diacungi jempol.

Kini, ia mulai merintis dan membangun citra baik sebagai sosok yang berwibawa, dan ini yang paling penting: ganteng. Jawaban-jawabannya bijak dan santun saat dihadapkan pada fakta lembaga survei, yang (katanya) menyatakan koalisinya kalah berperang. Pengalaman militer dan beberapa tahun kejeblos di politik menjadi guru yang berharga buatnya.

Selain dinobatkan sebagai “gentleman” Pemilu 2019, mari kita nobatkan dia sebagai lawan paling menyeramkan di 2024 kelak. Kita tunggu performamu Mas!

 

Nicholas Saputra

Sosok ini adalah yang paling unggul dari pria-pria lainnya. Elektabilitasnya di 17 April melebihi lembaga-lembaga survei quick count manapun. Walau terkenal sebagai pebinor sejak “AADC” hingga “Adu Rayu”, gak ngurus, yang penting dia tetep ganteng lagi tepat janji.

Dia menghapus foto selfie pertama sepanjang hidupnya di Instagram dalam waktu 1×24 jam. Janji itu ia tepati sesuai caption foto yang ia tuliskan sendiri.

Tapi yang pasti, momen itu jadi 24 jam terindah dan susah dilupakan dalam hidup wanita-wanita bangsa ini. Maka jadilah hari itu dikenang sebagai hari “gerakan screenshoot foto Nicholas” tingkat nasional.

 

Demikianlah deretan laki-laki pengisi nominasi penobatan “gentleman” Pemilu 2019. Pengumuman pemenang telah dilakukan dan berlaku sampai selama-lamanya. Adapun jika pembaca memiliki deretan pria ganteng dan gagah lainnya, bisa ditambahkan melalui kolom komentar.

“Hepi Ending” Drama Pilpres 2019 1 249

Oleh: Michelle Florencia*

Akhirnya, drama panjang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 nan panas—tidak, tidak sepanas hawa Surabaya—dan menguras emosi serta energi ini sudah memasuki babak akhir. Akhirnya saat-saat yang begitu dinanti datang juga. Pada tanggal 17 April 2019, rakyat Indonesia Raya akhirnya menyumbangkan partisipasi dan suaranya di TPS.

Sedikit trobek, kisah drama “Jokowi vs. Prabowo Jilid 2” ini memiliki konflik yang rumit. Permusuhan diwarnai dengan saling adu kritik, manuver para aktor politik, saling lempar hoaks, dan hingga para pendukung kedua paslon, Cebong dan Kampret ikutan ribut di sosial media. Belum lagi media milik politisi terus-terusan mengompori situasi ini. Tak heran, kisah panjang ini membuat segelintir orang begitu penat, lebih penat daripada menonton kisah dua sejoli fenomenal Fitri dan Farrel.

Bak kisah drama lainnya, Pilpres 2019 ini berakhir dengan bahagia. Bagaimana tidak? Kedua paslon yang berseteru itu menang! Luar biasa sekali, barangkali hanya Indonesia yang bisa punya dua pemenang untuk kursi nomor satu di pemerintahannya

Tidak sia-sia keduanya melakukan effort yang luar biasa. Keliling Indonesia Raya, meninggalkan jabatan (Ma’ruf Amin meninggalkan jabatan ketua MUI dan Sandiaga Uno meninggalkan jabatan Wagub DKI Jekardah) untuk PDKT ke partai sana-sini, belusukan ke pasar-pasar sambil wawancara emak-emak, hingga yang terberat: abang ganteng Sandiaga Uno mengikhlaskan rekeningnya terkuras hingga puluhan miliar demi amanah rakyat. Alhamdulillah. Sungguh terbayar usaha Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi.

Jokowi-Ma’ruf Amin dinyatakan menang dalam perhitungan cepat dari enam lembaga survei di Indonesia, yaitu Litbang Kompas, Indo Barometer, LSI Denny JA, CSIS-Cyrus, Charta Pollitika, dan Konsepindo. Dari survei-survei ini, banyak yang menanggap Jokowi-Ma’ruf Amin menjadi pemenang tunggal dalam kontestasi ini. Media interneisyenel seperti CNN sudah memberitakan bahwa Jokowi-Ma’ruf akan menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden selanjutnya.

Haduh, sungguh kasihan mereka hanya mengetahui kebenaran setengah-setengah. Padahal, pemenangnya kan ada dua!

Prabowo-Sandi juga mendeklarasikan kemenangannya dalam Pemilu tahun ini. Tak main-main, deklarasi itu dilakukan sebanyak tiga kali! Mohon maaf, Cebong jangan sok mencibir presiden kita! Beliau menang berdasarkan REAL COUNT yang dilakukan oleh tim internal Badan Pemenangan Nasional. Sekali lagi, REAL COUNT! Jokowi mah apa atuh, cuma menang berdasarkan quick count.

Dari real count dari BPN yang disebut Mbah Amien Rais sebagai “survey diam-diam itu”, Prabowo-Sandi mendapat suara sebesar 62%. Mungkin kita tahunya real count itu hanya dilakukan oleh KPU, ya? Yasudahlah, presiden mah bebas! Tapi sayang sekali, belum satupun pemimpin negara lain yang menelpon Pak Prabowo untuk mengucapkan selamat meski sudah tiga kali mendeklarasikan kemenangannya. Mungkin PR Prabowo-Sandi sekarang adalah menjadi lebih gercep mengabarkan kemenangan ini kepada media luar.

Karena ada dua pemenang, mari kita beri saran bagaimana baiknya mereka harus memimpin. Kedua kubu kelompok baiknya bergantian shift seperti penjaga toko di mol. Jokowi-Ma’ruf Amin shift pagi, Prabowo-Sandi shift malam. Biar adil. Selain itu, Jokowi-Ma’ruf Amin baiknya mengurusi perihal infrastruktur, agama, dan revolusi mental, sementara Prabowo-Sandi akan mengurusi perekonomian, pertahanan, dan pertambangan. (Ini mimpin negara kenapa kayak kerja kelompok, sih?!)

Bayangkan bila hal di atas terjadi beneran! Seperti slogan kita, yakni gotong royong, ini Jokowi bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan mudah dengan bantuan Prabowo. Pokoknya tetap harus menjaga ketertiban, perdamaian, dan tak terpancing provokasi! Okurrr!

 

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Editor Picks