Lagu Mesra Teruntuk Setnov: ‘Wake Me Up When September Ends’ 0 1675

Ketika Saya Tidur

Saya pernah bercita-cita ingin tidur sepanjang tahun, sibuk membangun kota sendiri di alam mimpi, dengan gunung es-nya Freud menggantung jadi menara di pusat peta. Sambil membayangkan rencana APBD lima tahun ke depan, saya memilih sebat rokok bersepeda mengelilingi menara itu layaknya ritual tawaf, melakukan sapaan ringan pada warga yang sibuk berdagang pentol, sempol, dan cimol. Kalo sampe ada yang invest modal ke bakul-bakul itu, dengan indikasi mengarah ke kapitalisasi, saya bakal tolak mentah-mentah: Go to hell with your aid!

 Dalam suasana (sok-sokan) psikoanalis semacam itu, saya mudah saja mikir yang aneh-aneh. Sebab, saya perlu sejenak menghindari tugas-tugas kampus yang suka caper, bahkan bisa bikin mata sipit. Alih-alih keren, teman-teman akan membully saya habis-habisan dengan sebutan chibumi (chinese x pribumi).

Jadwal tidur dan bangun akan saya tentukan kira-kira seperti ini. Mulai tidur di pertengahan Desember, ketika musim kawin sudah surut dan mangga mulai ranum. Di bulan-bulan ini, saljuhujan akan sering datang sehingga saya tak perlu kuatir banjir dan kehujanan. Alarm akan saya pasang di bulan April, saat musim panas lagi seksi-seksinya.

Berhubung musim panas di negara ini kok ndak seru-seru amat, malah cenderung sumpek, akhirnya saya putuskan alarm sesuai dengan tembang milik Green Day saja: Wake Me Up When September Ends.Sepertinya cocok juga dengan lagu hitsnya Vina Panduwinata, September Ceria. Pun, senada harapan saya untuk bisa tidur sepanjang tahun—supaya kota di alam barzah mimpi saya bisa maju seperti Meikarta.

Sekarang Sudah Oktober

 Malam hari tanggal 30 September, pukul sebelas lebih sepuluh, rumah saya digedor seakan-akan saya melewatkan jadwal ronda. Ketika mama membuka pintu dan menyambut dengan muka bantal, para tamu tak sopan itu lantas masuk dengan sepatu berdecit, di atas ubin yang masih separuh jadi. Mereka langsung saja menerkam gagang pintu kamar, sontak, membukanya dengan separuh curiga. Spontan saja, karena saya kaget, satu kalimat meluncur tanpa terpikir:saya bukan Nasution, Jenderal!

 Rupanya, adegan di atas tidak jadi saya masukkan wishlist alarm bangun, karena takut menyamai salah satu scene film terkenal. Akhirnya saya bangun biasa-biasa saja, dengan matahari yang mengintip tepat di balik tirai kamar, dan suara muazin bertaut di surau samping rumah. Kalender juga nampak hanya kelewat satu malam, serta kota yang saya impikan itu mungkin sudah dibeli para saudagar negeri bambu.

Saya tertidur pulas ketika: semalaman film Pengkhianatan G30S PKI diputar di salah stasiun televisi swasta serta komando untuk memutarnya serentak di berbagai kampung pada hari itu juga, satu hari setelah demonstrasi besar-besaran 299 menuntut dicabutnya Perppu Ormas, dan saat itu juga Setya Novanto, untuk kesekian kalinya lolos dari jeratan hukum.

Mama yang lebih dulu bangun di sepertiga malam hampir saya salah-salahkan hanya karena saya kelewatan menyaksikan tiga momen sejarah itu. Meski terdengar lebay, namun toh tetap saja saya ini jasmerah, tetap harus merawat ingatan bangsa! Lagian, dengan fenomena macam itu, tidak mungkin saya ingin melewati hari-hari dengan tidur pagi lagi, atau saya akan dicap sebagai pemuda yang kudet, cuih.

Padahal saya sangat mengimpi-impikan menonton film garapan Arifin C. Noer itu bersama keluarga, di rumah melalui pesawat televisi, bukannya laptop dengan layar separuh nyala saya ini. Pernah sih, saya mengunduh film itu, namun resolusinya minim sekali dan tidak bisa di-skip—kalau ada adegan seksualnya bagaimana, kan urusan sensor masih belum sampai ke file online. Dengan nobar, apalagi ditemani ngobrol santai di ruang tengah, belajar sejarah tak perlulah sampai harus ngotot berdebat. Toh, energi sudah banyak terkuras di ruang-ruang kuliah.

Apalagi massa demonstrasi dengan energi yang tak habis-habisnya itu,dari 411, 212, 313, 14045, 147, hingga 299, woah, mana ada mahasiswa yang tahan aksi rutin seperti itu. Paling-paling, cuma di bulan-bulan tertentu saja, ealah, dengan massa terbatas pula. Justru, bejubel anggota ormas dari beragam daerah di tanah air itu patut mendapat apresiasi selayaknya agent of change­-nya mahasiswa. Kalau persepsi masyarakat se-nusantara saja dapat diubah terkait seorang pemimpin, bagaimana tidak, suatu saat mereka bisa memimpin dan mengubah negeri ini? InsyaAllah. Itupun kalau Bang Setnov sudah tak berhasrat njabat lagi.

Omong-omong soal satu tokoh paling ‘diobrolkeun’ se-jagad maya itu, rasanya kok kita harus mulai berterima kasih sama beliau. Ayo, coba saja, kalau tak ada beliau, mungkin sampai 2017 ini dompet kita masih diisi sama KTP konvensional yang nggak keren itu. Plastik laminating-nya itu lho, duh, kayak id card acara kampus aja. Kalau e-KTP kan sudah ada chip, mirip sama sim card di hape. Biar saat bule nanya, hey, what’s that? Kita bisa pamer dengan jawab, hello sir, this is our identity card, thank you!

 Papa yang satu itu, ndak usah lah disuruh-suruh ke pengadilan. Toh ujungnya beliau jatuh sakit kan, kasian. Jangan sampai nanti beliau makin ngambek, langsung daftar travel, berangkat umrah lah dia—menyusul kasus yang sudah-sudah. Lagian, sudah tau JokowiSetnov kebal hukum, masih saja orang-orang ngeyel menangkap dia. Lihat sendiri, kan, rakyat jadi ngedumel lagi.

Jam Tidur

Rasanya memang saya harus segera mewujudkan rencana tidur itu. Kali ini, alasannya tidak lagi jam merem yang berkurang karena tugas kampus atau habisnya musim mangga. Lagipula, saya jadi berharap menjumpai fenomena di atas dalam mimpi saya, yang barangkali seru sebab di sana boleh jadi tak ada agama, politik, bahkan negara. Saya cuma ingin memastikan, bakul pentol, sempol, dan cimol masih berjualan di sekitar tugu es, tanpa takut kena pajak.

 

Tolong bangunkan saya.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengapa Pejabat Emoh dengan Media dan Memilih Channel Deddy Corbuzier 0 302

Pejabat atau pemerintah atau orang-orang penting seperti selebriti sekalipun, dari dulu takut dengan media. Sebab apapun pernyataan yang muncul dari mulut, tentu akan dikutip dan dijadikan judul berita, dari sudut beragam rupa, tergantung siapa wartawannya dan di media mana ia bekerja. Bahkan ketika si figur publik diam saja, bahasa tubuhnya tetap akan jadi berita, lengkap dengan kutipan narasumber ahli pembaca mimik wajah.

Tapi ada satu rahasia: sampai sekarang mereka-mereka ini masih takut dengan media.

Buktinya, mereka lebih mudah ditemui tampil di Youtube sekarang. Seorang teman wartawan dengar-dengar sempat sebel dengan seorang sosok penting. Katanya berhari-hari mengejarnya demi wawancara tak kunjung digubris. Begitu diundang Om Deddy Corbuzier untuk “wan tu tri klos de dor”, langsung mau ngomong panjang lebar dengan durasi 1 jam.

Pembaca tahu kan, channel Om Deddy itu memang ajaib. Di kursi potkesnya, segala macam menteri mulai dari yang kemudian digotong KPK, sampai Lord Luhut, sudah pernah duduk dan bercengkeramah di sana. Bahkan terakhir, sejumlah media mainstream sampai mengutip omongan Luhut dari Youtube Om Deddy, soal cara penanganan corona di Indonesia.

Beberapa orang yang dulu kita temui tenar sekali di layar kaca, sekarang bahkan membangun kanal Youtube sendiri. Buanyak contohnya. Saya rasa pembaca bahkan salah satu subscribernya. Mulai Raffi Ahmad sampai Bambang Soesatyo Ketua MPR RI, kini bikin channel sendiri.

Setidaknya, penulis membaca fenomena ini sebagai berikut:

Pertama, karena mereka-mereka ini tahu siapa target yang disasarnya. Kaum milenial sampai generasi Z dan Alpha. Mereka yang sudah mulai, bahkan sama sekali, meninggalkan media mainstream. Mereka yang menghabiskan hari-hari berselancar di media sosial. Mereka-mereka ini, terlebih para pejabat publik, berusaha meraih perhatian mereka dengan turut aktif bermedsos. Tentu untuk membangun citra baik.

Sebut saja Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang selalu jadi tempat menumpahkan sumpah serapah penyebab banjir, macet, dan episentrum covid-nya ibu kota. Baru kali ini saya lihat Anies marah-marah (loh kok niru-niru mantan walikotaku seh) pada pemimpin perusahaan non-esensial yang masih buka di kala PPKM Darurat mengharuskan 100 persen WFH.

Aksi itu bukan terekam di layar kaca berita loh ya, tapi di story Instargram-nya. Hal ini terjadi di tengah iritnya humas pemprov membagi agenda harian sidak-sidak gubernur pada awak media.

Belum lagi Khofifah Indar Parawansa, bunda-ne arek-arek, yang baru saja mengunggah foto tak biasa di akun Instagramnya. Bukan program kerja, melainkan tangkapan layar balas-balasan komennya dengan seorang netijen pemuda patah hati. Pendekatan yang sama juga sudah lama dilakukan Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng, dan terlebih Ridwan Kamil, Gubernur Jabar.

Mereka paham betul bagaimana bahasa yang harus digunakan pada para muda, dan topik apa saja yang menarik dibahas. Eh ralat, mungkin merekanya gak paham, setidaknya tim jubir, tim staf khusus ahli komunikasi, atau tim kampanye 2024-nya yang paham strategi memenangkan hati rakjat.

Hal kedua, ya tetap bermuara pada kesimpulan pejabat takut dengan media. Podcast para youtuber bisa menjadi pelarian yang paling tepat. Sebab hanya di medsos-lah, pejabat-pejabat ini bisa dengan bebas ngobrol soal musik favorit, hobi, bahkan love story. Hanya di sana, mereka bisa libur sejenak dari pertanyaan-pertanyaan memuakkan wartawan media mainstream yang tak pernah lelah “menyudutkan” (baca: mengkritisi).

Tapi gak apa-apa. Saya rasa, media mainstream tak perlu ikut-ikutan gaya youtuber agar disukai masyarakat atau membuat pejabat mau diwawancarai. Media cukup menjadi dirinya sendiri. Sebab apapun dalam kue kehidupan di dunya ini punya potongan dan porsinya masing-masing.

Media idealnya memang pilar keempat demokrasi dengan segala kekakuan prinsip, struktur, dan etika profesinya. Sementara medsos harus tetap ada pada pondasinya untuk membuat masyarakat kita berproses.

Masyarakat kita bisa tetap kok memilih media mainstream sebagai jujugan utama, landasan teori dan mewacanakan diskursus, yang kemudian bisa direalisasikan dalam tukar pendapat di medsos yang tak ada ambang batasnya, kecuali UU ITE.

Tapi, hal yang barusan saya bicarakan di atas itu kayaknya ya hanya harapan kita saja. Hari-hari ini, pembaca semua tahu, media mainstream dan media sosial sudah dikapitalisasi, jika tak terlalu kasar kita menyebutnya dimonopoli, oleh mereka yang berduit dan berkuasa saja, tak mampu membuat kita bebas mencerna dan berbagi wawasan.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Indonesia Harus Mencetak Lebih Banyak Duta 0 328

Judul tulisan ini bukan sekadar bercanda. Kalimat dalam judul saya tuliskan karena kenyataannya, pada titik ini, Indonesia sudah banyak sekali merekrut duta baru.

Sebut saja dua duta masker dari Bekasi dan Surabaya. Mereka bukan datang dari kalangan orang-orang yang punya wawasan mendalam soal pandemi COVID-19, ataupun influencer yang suka mempromosikan protokol kesehatan.

Alkisah seorang pemuda masjid di Bekasi yang memantik adu mulut karena seorang jamaah pakai masker saat salat. Menurut kepercayaannya, dalam Al-Qur’an tak ada ajaran untuk pakai masker saat menjalankan ibadah.

Sementara itu, dari Surabaya, seorang pemuda di suatu mall dengan bangga memamerkan dirinya yang tak pakai masker, dan justru berteriak mengolok-olok pengunjung lain yang taat prokes.

Pembaca sudah tahu kan, apa kelanjutan kisah dari dua orang itu? Keduanya malah dinobatkan jadi duta masker. Hal inilah yang membuat sebagian dari masyarakat naik pitam.

Dari mana logika para pembuat kebijakan dan yang mengangkat mereka menjadi duta berasal? Bagaimana bisa, seorang pelanggar malah diangkat menjadi duta yang harusnya menjadi contoh bagi orang lain? Begitu paling tidak yang juga dikatakan Om Deddy Corbuzier di salah satu potkes “close the door”-nya.

Eits, tapi cara ini tak sepenuhnya salah, loh! Dalam ilmu psikologi, ada yang namanya reward atau penghargaan, dan punishment atau hukuman. Penelitian menyebut, memberi penghargaan lebih efektif daripada menjatuhi hukuman. Gak percaya? Sini saya jelaskan.

Menurut ilmu neuroscience untuk menjelaskan reward, seseorang akan berusaha keras dan melakukan suatu aksi. Ada sinyal di otak yang dipantik oleh neuron dopaminergik di bagian otak tengah yang bergerak ke motor cortex, dan memengaruhi aksi atau perilaku kita.

Mangkanya waktu kecil, kita diiming-imingi orang tua akan dibelikan es krim kalau nilai matematika bagus. Kita lalu berusaha keras untuk belajar siang-malam, mengerjakan soal ujian dengan sungguh-sungguh, agar meraih penghargaan yang telah dijanjikan orang tua.

Sebaliknya, punishment membuat seseorang berusaha untuk menghindari bahaya dengan cara tidak melakukan suatu aksi. Sinyal di otak yang terjadi hampir sama ketika kita memproses reward. Bedanya, punishment membuat sebuah efek “freeze” di otak, sehingga kita tidak jadi melakukan suatu tindakan.

Misalnya, kita diperingati orang tua untuk tidak suka memanjat pagar agar tidak jatuh. Karena kita tahu jika jatuh menyebabkan sakit, berdarah, dan luka, maka kita tak jadi melakukannya.

Nah, dari kedua reaksi otak dan aksi yang ditimbulkannya, peneliti tersebut menyebut otak lebih mudah menerima informasi positif ketimbang negatif. Artinya, ya manusia normal akan lebih mengejar reward dan menjalankan aksi, ketimbang menghindari aksi untuk tidak mendapat punsihment.

Sudah banyak contohnya kata ilmuan. Misalnya orang akan lebih mudah untuk dimotivasi berolahraga dan makan makanan sehat dengan sejumlah reward kecil berupa hadiah, daripada diingatkan tentang bahaya obesitas dan penyakit. Selain itu, masih buanyak contoh penelitian tentang persoalan ini.

Paling mudah lihat ke diri sendiri saja. Kita lebih suka diberi pujian (reward) oleh bos saat kerjaan kita baik. Kita jadi ingin terus-terusan kerja maksimal agar dipuji lagi. Sebaliknya, kita jadi bekerja makin males-malesan dan setengah hati, ketika terus-terusan diberi punishment oleh atasan. (hehe maaf curhat pengalaman pribadi)

Hal yang sama sebenarnya berlaku pada si duta masker, atau duta-duta lain termasuk Duta Sheila on 7. (sorry iki dicoret wae soale guyonane garing koyok bapack-bapack komplek)

Memberi jabatan sebagai duta sama saja dengan memberi penghargaan baru. Sekaligus justru menjadi tanggung jawab. Sebab, setelah menjadi duta, seseorang akan sadar bahwa dirinya menjadi panutan atau tolok ukur masyarakat.

Seperti pemuda di Bekasi yang bernama Nawir itu. Ia kini mengambil hikmah dari ribut-ribut soal masker dan salat itu. Kini ia jadi aktivis mengingatkan jamaah agar memakai masker sebelum memasuki area masjid. Bahkan ia membagi-bagikan secara gratis masker dan hand sanitizer.

Jika dibina baik-baik, pemuda-pemuda pengikut konspirasi elit global yang tak percaya COVID-19 bisa berubah 180 derajat, justru menjadi pelaku protokol kesehatan yang paling taat.

Jangan-jangan, Indonesia harus mulai memikirkan kembali mengapa rakyatnya sulit sekali memakai masker dan menjaga jarak. Seluruh sanksi sosial dan denda para pelanggar prokes mungkin tak cukup efektif. Justru sebaliknya, sediakan saja dana untuk mengangkat duta-duta baru. Selamat mencoba!

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Editor Picks