Lagu Mesra Teruntuk Setnov: ‘Wake Me Up When September Ends’ 0 1304

Ketika Saya Tidur

Saya pernah bercita-cita ingin tidur sepanjang tahun, sibuk membangun kota sendiri di alam mimpi, dengan gunung es-nya Freud menggantung jadi menara di pusat peta. Sambil membayangkan rencana APBD lima tahun ke depan, saya memilih sebat rokok bersepeda mengelilingi menara itu layaknya ritual tawaf, melakukan sapaan ringan pada warga yang sibuk berdagang pentol, sempol, dan cimol. Kalo sampe ada yang invest modal ke bakul-bakul itu, dengan indikasi mengarah ke kapitalisasi, saya bakal tolak mentah-mentah: Go to hell with your aid!

 Dalam suasana (sok-sokan) psikoanalis semacam itu, saya mudah saja mikir yang aneh-aneh. Sebab, saya perlu sejenak menghindari tugas-tugas kampus yang suka caper, bahkan bisa bikin mata sipit. Alih-alih keren, teman-teman akan membully saya habis-habisan dengan sebutan chibumi (chinese x pribumi).

Jadwal tidur dan bangun akan saya tentukan kira-kira seperti ini. Mulai tidur di pertengahan Desember, ketika musim kawin sudah surut dan mangga mulai ranum. Di bulan-bulan ini, saljuhujan akan sering datang sehingga saya tak perlu kuatir banjir dan kehujanan. Alarm akan saya pasang di bulan April, saat musim panas lagi seksi-seksinya.

Berhubung musim panas di negara ini kok ndak seru-seru amat, malah cenderung sumpek, akhirnya saya putuskan alarm sesuai dengan tembang milik Green Day saja: Wake Me Up When September Ends.Sepertinya cocok juga dengan lagu hitsnya Vina Panduwinata, September Ceria. Pun, senada harapan saya untuk bisa tidur sepanjang tahun—supaya kota di alam barzah mimpi saya bisa maju seperti Meikarta.

Sekarang Sudah Oktober

 Malam hari tanggal 30 September, pukul sebelas lebih sepuluh, rumah saya digedor seakan-akan saya melewatkan jadwal ronda. Ketika mama membuka pintu dan menyambut dengan muka bantal, para tamu tak sopan itu lantas masuk dengan sepatu berdecit, di atas ubin yang masih separuh jadi. Mereka langsung saja menerkam gagang pintu kamar, sontak, membukanya dengan separuh curiga. Spontan saja, karena saya kaget, satu kalimat meluncur tanpa terpikir:saya bukan Nasution, Jenderal!

 Rupanya, adegan di atas tidak jadi saya masukkan wishlist alarm bangun, karena takut menyamai salah satu scene film terkenal. Akhirnya saya bangun biasa-biasa saja, dengan matahari yang mengintip tepat di balik tirai kamar, dan suara muazin bertaut di surau samping rumah. Kalender juga nampak hanya kelewat satu malam, serta kota yang saya impikan itu mungkin sudah dibeli para saudagar negeri bambu.

Saya tertidur pulas ketika: semalaman film Pengkhianatan G30S PKI diputar di salah stasiun televisi swasta serta komando untuk memutarnya serentak di berbagai kampung pada hari itu juga, satu hari setelah demonstrasi besar-besaran 299 menuntut dicabutnya Perppu Ormas, dan saat itu juga Setya Novanto, untuk kesekian kalinya lolos dari jeratan hukum.

Mama yang lebih dulu bangun di sepertiga malam hampir saya salah-salahkan hanya karena saya kelewatan menyaksikan tiga momen sejarah itu. Meski terdengar lebay, namun toh tetap saja saya ini jasmerah, tetap harus merawat ingatan bangsa! Lagian, dengan fenomena macam itu, tidak mungkin saya ingin melewati hari-hari dengan tidur pagi lagi, atau saya akan dicap sebagai pemuda yang kudet, cuih.

Padahal saya sangat mengimpi-impikan menonton film garapan Arifin C. Noer itu bersama keluarga, di rumah melalui pesawat televisi, bukannya laptop dengan layar separuh nyala saya ini. Pernah sih, saya mengunduh film itu, namun resolusinya minim sekali dan tidak bisa di-skip—kalau ada adegan seksualnya bagaimana, kan urusan sensor masih belum sampai ke file online. Dengan nobar, apalagi ditemani ngobrol santai di ruang tengah, belajar sejarah tak perlulah sampai harus ngotot berdebat. Toh, energi sudah banyak terkuras di ruang-ruang kuliah.

Apalagi massa demonstrasi dengan energi yang tak habis-habisnya itu,dari 411, 212, 313, 14045, 147, hingga 299, woah, mana ada mahasiswa yang tahan aksi rutin seperti itu. Paling-paling, cuma di bulan-bulan tertentu saja, ealah, dengan massa terbatas pula. Justru, bejubel anggota ormas dari beragam daerah di tanah air itu patut mendapat apresiasi selayaknya agent of change­-nya mahasiswa. Kalau persepsi masyarakat se-nusantara saja dapat diubah terkait seorang pemimpin, bagaimana tidak, suatu saat mereka bisa memimpin dan mengubah negeri ini? InsyaAllah. Itupun kalau Bang Setnov sudah tak berhasrat njabat lagi.

Omong-omong soal satu tokoh paling ‘diobrolkeun’ se-jagad maya itu, rasanya kok kita harus mulai berterima kasih sama beliau. Ayo, coba saja, kalau tak ada beliau, mungkin sampai 2017 ini dompet kita masih diisi sama KTP konvensional yang nggak keren itu. Plastik laminating-nya itu lho, duh, kayak id card acara kampus aja. Kalau e-KTP kan sudah ada chip, mirip sama sim card di hape. Biar saat bule nanya, hey, what’s that? Kita bisa pamer dengan jawab, hello sir, this is our identity card, thank you!

 Papa yang satu itu, ndak usah lah disuruh-suruh ke pengadilan. Toh ujungnya beliau jatuh sakit kan, kasian. Jangan sampai nanti beliau makin ngambek, langsung daftar travel, berangkat umrah lah dia—menyusul kasus yang sudah-sudah. Lagian, sudah tau JokowiSetnov kebal hukum, masih saja orang-orang ngeyel menangkap dia. Lihat sendiri, kan, rakyat jadi ngedumel lagi.

Jam Tidur

Rasanya memang saya harus segera mewujudkan rencana tidur itu. Kali ini, alasannya tidak lagi jam merem yang berkurang karena tugas kampus atau habisnya musim mangga. Lagipula, saya jadi berharap menjumpai fenomena di atas dalam mimpi saya, yang barangkali seru sebab di sana boleh jadi tak ada agama, politik, bahkan negara. Saya cuma ingin memastikan, bakul pentol, sempol, dan cimol masih berjualan di sekitar tugu es, tanpa takut kena pajak.

 

Tolong bangunkan saya.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 195

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 219

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks