Lagu Mesra Teruntuk Setnov: ‘Wake Me Up When September Ends’ 0 963

Ketika Saya Tidur

Saya pernah bercita-cita ingin tidur sepanjang tahun, sibuk membangun kota sendiri di alam mimpi, dengan gunung es-nya Freud menggantung jadi menara di pusat peta. Sambil membayangkan rencana APBD lima tahun ke depan, saya memilih sebat rokok bersepeda mengelilingi menara itu layaknya ritual tawaf, melakukan sapaan ringan pada warga yang sibuk berdagang pentol, sempol, dan cimol. Kalo sampe ada yang invest modal ke bakul-bakul itu, dengan indikasi mengarah ke kapitalisasi, saya bakal tolak mentah-mentah: Go to hell with your aid!

 Dalam suasana (sok-sokan) psikoanalis semacam itu, saya mudah saja mikir yang aneh-aneh. Sebab, saya perlu sejenak menghindari tugas-tugas kampus yang suka caper, bahkan bisa bikin mata sipit. Alih-alih keren, teman-teman akan membully saya habis-habisan dengan sebutan chibumi (chinese x pribumi).

Jadwal tidur dan bangun akan saya tentukan kira-kira seperti ini. Mulai tidur di pertengahan Desember, ketika musim kawin sudah surut dan mangga mulai ranum. Di bulan-bulan ini, saljuhujan akan sering datang sehingga saya tak perlu kuatir banjir dan kehujanan. Alarm akan saya pasang di bulan April, saat musim panas lagi seksi-seksinya.

Berhubung musim panas di negara ini kok ndak seru-seru amat, malah cenderung sumpek, akhirnya saya putuskan alarm sesuai dengan tembang milik Green Day saja: Wake Me Up When September Ends.Sepertinya cocok juga dengan lagu hitsnya Vina Panduwinata, September Ceria. Pun, senada harapan saya untuk bisa tidur sepanjang tahun—supaya kota di alam barzah mimpi saya bisa maju seperti Meikarta.

Sekarang Sudah Oktober

 Malam hari tanggal 30 September, pukul sebelas lebih sepuluh, rumah saya digedor seakan-akan saya melewatkan jadwal ronda. Ketika mama membuka pintu dan menyambut dengan muka bantal, para tamu tak sopan itu lantas masuk dengan sepatu berdecit, di atas ubin yang masih separuh jadi. Mereka langsung saja menerkam gagang pintu kamar, sontak, membukanya dengan separuh curiga. Spontan saja, karena saya kaget, satu kalimat meluncur tanpa terpikir:saya bukan Nasution, Jenderal!

 Rupanya, adegan di atas tidak jadi saya masukkan wishlist alarm bangun, karena takut menyamai salah satu scene film terkenal. Akhirnya saya bangun biasa-biasa saja, dengan matahari yang mengintip tepat di balik tirai kamar, dan suara muazin bertaut di surau samping rumah. Kalender juga nampak hanya kelewat satu malam, serta kota yang saya impikan itu mungkin sudah dibeli para saudagar negeri bambu.

Saya tertidur pulas ketika: semalaman film Pengkhianatan G30S PKI diputar di salah stasiun televisi swasta serta komando untuk memutarnya serentak di berbagai kampung pada hari itu juga, satu hari setelah demonstrasi besar-besaran 299 menuntut dicabutnya Perppu Ormas, dan saat itu juga Setya Novanto, untuk kesekian kalinya lolos dari jeratan hukum.

Mama yang lebih dulu bangun di sepertiga malam hampir saya salah-salahkan hanya karena saya kelewatan menyaksikan tiga momen sejarah itu. Meski terdengar lebay, namun toh tetap saja saya ini jasmerah, tetap harus merawat ingatan bangsa! Lagian, dengan fenomena macam itu, tidak mungkin saya ingin melewati hari-hari dengan tidur pagi lagi, atau saya akan dicap sebagai pemuda yang kudet, cuih.

Padahal saya sangat mengimpi-impikan menonton film garapan Arifin C. Noer itu bersama keluarga, di rumah melalui pesawat televisi, bukannya laptop dengan layar separuh nyala saya ini. Pernah sih, saya mengunduh film itu, namun resolusinya minim sekali dan tidak bisa di-skip—kalau ada adegan seksualnya bagaimana, kan urusan sensor masih belum sampai ke file online. Dengan nobar, apalagi ditemani ngobrol santai di ruang tengah, belajar sejarah tak perlulah sampai harus ngotot berdebat. Toh, energi sudah banyak terkuras di ruang-ruang kuliah.

Apalagi massa demonstrasi dengan energi yang tak habis-habisnya itu,dari 411, 212, 313, 14045, 147, hingga 299, woah, mana ada mahasiswa yang tahan aksi rutin seperti itu. Paling-paling, cuma di bulan-bulan tertentu saja, ealah, dengan massa terbatas pula. Justru, bejubel anggota ormas dari beragam daerah di tanah air itu patut mendapat apresiasi selayaknya agent of change­-nya mahasiswa. Kalau persepsi masyarakat se-nusantara saja dapat diubah terkait seorang pemimpin, bagaimana tidak, suatu saat mereka bisa memimpin dan mengubah negeri ini? InsyaAllah. Itupun kalau Bang Setnov sudah tak berhasrat njabat lagi.

Omong-omong soal satu tokoh paling ‘diobrolkeun’ se-jagad maya itu, rasanya kok kita harus mulai berterima kasih sama beliau. Ayo, coba saja, kalau tak ada beliau, mungkin sampai 2017 ini dompet kita masih diisi sama KTP konvensional yang nggak keren itu. Plastik laminating-nya itu lho, duh, kayak id card acara kampus aja. Kalau e-KTP kan sudah ada chip, mirip sama sim card di hape. Biar saat bule nanya, hey, what’s that? Kita bisa pamer dengan jawab, hello sir, this is our identity card, thank you!

 Papa yang satu itu, ndak usah lah disuruh-suruh ke pengadilan. Toh ujungnya beliau jatuh sakit kan, kasian. Jangan sampai nanti beliau makin ngambek, langsung daftar travel, berangkat umrah lah dia—menyusul kasus yang sudah-sudah. Lagian, sudah tau JokowiSetnov kebal hukum, masih saja orang-orang ngeyel menangkap dia. Lihat sendiri, kan, rakyat jadi ngedumel lagi.

Jam Tidur

Rasanya memang saya harus segera mewujudkan rencana tidur itu. Kali ini, alasannya tidak lagi jam merem yang berkurang karena tugas kampus atau habisnya musim mangga. Lagipula, saya jadi berharap menjumpai fenomena di atas dalam mimpi saya, yang barangkali seru sebab di sana boleh jadi tak ada agama, politik, bahkan negara. Saya cuma ingin memastikan, bakul pentol, sempol, dan cimol masih berjualan di sekitar tugu es, tanpa takut kena pajak.

 

Tolong bangunkan saya.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Poster-poster Lucu yang Nggak Lucu-lucu Amat 0 183

Kata seorang dosen Unair yang menjadi staf ahli di salah satu kementerian, demonstrasi adalah ajang rekreasi, diversi, maupun hiburan bersama teman-teman baik satu kampus maupun dari kampus lain. Ia menganalogikan demo dengan permainan bagi anak-anak seusia mahasiswa. Benar, per-ma-i-nan.

Pernyataan ini boleh jadi refleksi atas pengalaman masa muda beliau. Ketika mahasiswa lain sibuk berorasi, mengepalkan tangan ke udara, berteriak, bahkan mawas diri bila tiba-tiba aparat bertindak represif, beliau mungkin sedang berdiri di bawah rindangnya pohon mangga pinggir jalan sambil jajan cilok atau es degan—obat manjur waktu demo. Ini hanya misal, jangan tersinggung.

Saya hanya baca pernyataan ini dengan tersenyum-senyum. Beginikah instruksi pemerintah pada seluruh pamong aparaturnya, yaitu untuk mengerdilkan semangat demonstrasi yang dibangun oleh lebih dari puluhan ribu mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia? Melalui reduksi makna demonstrasi sebagai kritik, apakah pemerintah berharap masyarakat tak mengacuhkannya?

Tidak, asumsi itu sangat salah dari berbagai perspektif. Alih-alih buang muka pada demo seperti demo di depan Bawaslu, seluruh elemen masyarakat malah terlibat aktif. Ada yang berdonasi untuk logistik, membagi makanan dan minuman gratis di sekitar area aksi, bahkan berada di baris terdepan seperti yang dilakukan serikat buruh dan tani.

Kemegahan aksi di mayoritas daerah terbukti tak hanya milik mahasiswa semata. Aspirasi rakyat ‘dititipkan’ pada pundak mereka, sehingga otomatis, aksi di pertengahan September ini murni berasal dari gundahnya rakyat atas potensi masalah yang bisa timbul di masa depan bilamana sederet undang-undang yang ngawur bikinnya itu diberlakukan. Tapi apa iya, kegelisahan itu mengacu pada satu titik yang sama?

Dari antara sekian tuntutan aksi itu, ada tuntutan untuk segera mengesahkan UU P-KS (Penghapusan Kekerasan Seksual). UU ini digadang-gadang mampu melindungi perempuan sebagai pihak yang rentan terhadap kekerasan/pelecehan seksual. Sebab, realita hukum di Indonesia dinilai getir: korban kekerasan seksual hampir dipastikan tak punya kekuatan hukum apapun.

Tuntutan ini mungkin yang paling banyak dilupakan oleh para peserta aksi, atau setidaknya dituliskan dalam poster-poster mereka. Seolah, yang ada di kepala mereka pokoknya DPR juancuk, guoblok, turu thok kerjone, dan tulisan seperti ini hampir ada di setiap mata memandang. Dari sekian pasal RUU-KUHP, yang selalu disinggung oleh demonstran adalah ra iso kenthu (tidak bisa bersetubuh alias ‘seks bebas’), ‘DPR ngapain ngurusin selangkangan’, dan lain sebagainya. Bahkan, ada poster oleh para perempuan dari salah satu universitas Islam di Surabaya, bertuliskan—luar biasa bodohnya, “Timbang ngurus RUU mending kenthu” juga “Susuku gede gak masuk RUU”.

(Twitter)

Duh, GustiSaya ndak habis pikir.

Saya curiga mereka inilah ‘penumpang gelap’ yang sebenarnya: orang-orang yang tidak tahu substansi aksi, tuntutan macam apa yang dibawa ke hadapan pemerintah, bahkan mungkin lupa fungsi poster. Kata Pram—sebetulnya males pakai kutipan ini, tapi yoweslah, seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Kalau dalam kepala saja sudah tidak ada konsep itu, bagaimana bisa kita membayangkan penghapusan kekerasan seksual di tingkat praktik?

Menurut seorang dosen UGM yang dulu pernah ikut menurunkan rezim Orde Baru, generasi demonstran 2019 memiliki strategi berbeda dengan 1998. Jika dulu generasi mahasiswa 1998 memiliki poster-poster bernada serius dan cenderung puitis, generasi 2019 identik dengan kerecehannya. Poster-poster ‘lucu’ dihadirkan bukan tanpa sebab, bahkan bisa jadi tak mempunyai muatan kritik yang kuat. Mungkin kita harus mengingat-ingat lagi fungsi media sosial ya toh? Ajang pamer nggak, sih?

Malfungsi media sosial menjadi etalase seni (yeek, males) dan pertunjukan membuat mahasiswa unyu-unyu nan gemash juga harus memroduksi konten poster yang jenius. Biar tak kalah dengan demonstrasi di berbagai daerah yang lain. Alih-alih menyadari bahwa mahasiswa punya daya gempur yang masif bagi pemerintahan, kelompok mahasiswa seperti ini malah bikin demonstasi jadi studio foto bagi para “produsen konten Instagram”.

Selamat, bapak dosen. Anda mungkin benar bahwa demonstrasi hanya sekelas wisata ke Songgoriti.

 

Foto: Wanti Anugrah

Privasi Siapa yang Dibela di RKUHP? 1 79

Saya jurnalis (profesional untuk 2 bulan terakhir). Saya terlibat di dalam peliputan aksi mahasiswa yang berakhir rusuh di hari pertama rapat paripurna, 24 September. Saya saksi mata ketika mereka mulai merapat di gerbang DPR, orasi, bakar ban, sampai akhirnya water canon plus gas air mata menyerang, dan saya sebagai anak pupuk bawang tentu lari menyelamatkan diri.

Selain UU KPK yang sudah disahkan itu, saya mendengar dan membaca semua demonstran menggarisbawahi RKUHP (yang telah saya bahas di tulisan lalu: ‘Bagaimana Seharusnya Kita Sikapi RKUHP‘). Banyak pasal yang dianggap bermasalah (kita harus akui ini). Terutama teriakan privasi kita yang (katanya) semakin dirampas negara.

Di sisi lain, suatu kali saya juga untuk kedua kalinya mewawancarai artis (walau definisi ‘artis’ bagi saya masih sangat debatable). Saya sih sebenarnya males. Kalau gak karena permintaan kantor, kapabilitas ‘orang yang sering nongol di tv’ untuk menjawab angle berita masih jadi pertanyaan besar bagi saya.

Saya berusaha memancing diskusi dengan mbak artis. Melempar pertanyaan reflektif serta menghindari pertanyaan dangkal dan tak bermutu. Berharap jawaban bisa mendalam dan melontarkan ide-ide cemerlang bagi para fans yang nanti menonton hasil wawancara ini.

Ternyata realita tidak seindah ekspetasi, kawan-kawan! Doi menjawab semua pertanyaan umum saya dengan mengasosiakannya pada dirinya seorang. Demikian pula wartawan lain justru menyiram air garam pada luka, nyamber dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggali urusan pribadi dan keluarga mbak artis.

Ketimbang menjawab pertanyaan saya tentang tren berlibur saat ini, destinasi wisata yang ciamik di Indonesia, dan sebagainya; si artis lebih suka menjawab rencana liburannya bersama suami dan anak, preferensinya dalam menggunakan layanan aplikasi penyedia perjalanan, dan kawan-kawan pertanyaan lainnya.

Saya gak tahu, di sini siapa yang salah. Pasalnya, wartawan membutuhkan jawaban bersifat pribadi itu untuk membuat tulisan yang mengundang klik di website medianya. Sebaliknya, jawaban-jawaban yang melulu soal diri dan pribadi si artis mungkin sudah jadi template wajib dalam ekosistem infotainment. Barangkali, justru memang saya yang salah nyemplung ke dunia wawancara dengan orang-orang jenis ini. Salah yang gagal paham dan gagal menaruh harapan.

Demikian pula dengan kelakuan rakyat yang suka sekali mengonsumsi berita-berita macam ini. Tentu lebih ringan ketimbang ikut repot memutar otak tentang persoalan bangsa ini.

Dari sini, mari kita merenungkan lagi. Apakah benar privasi kita terancam karena RKUHP? Apakah kita lupa, bahwa privasi bangsa ini sudah ternodai sejak dulu kala? Sejak kehidupan pribadi bintang layar kaca jadi konsumsi publik. Bahkan, hal ini juga berlaku pada tokoh-tokoh politik kita.

Masyarakat kan lebih ingat kisah cinta dan kehidupan keluarga sejahtera Almarhum B.J. Habibie ketimbang karya N-250 dan perjuangannya merintis BPPT. Kita lebih ingat tato menteri dan menteri loncat pagar. Kita lebih paham sneaker, jaket, sepeda, moge, dan cucu Jokowi.

Gak usah jauh-jauh juga. Ketika nongkrong bersama teman, teman lain yang tidak kelihatan batang hitungnya jadi bahan gosip, kan? Saat bepergian, belanja, minum kopi di kedai dengan nama lucu-lucu, gatal juga tanganmu uptade di Insta Story. Jangan lupa bubuhkan lokasi, biar disangka anak gaul. Lha kok saiki guayamu sak langit, sok memperjuangkan privasi?

Kan tentu ironis, memperjuangkan privasi, orientasi seksual, dunia malam, urusan seks dan percintaan, tapi abai kalau selama ini juga tak punya batasan dalam menjaga rahasia diri ke dunia maya. Jadi privasi siapa yang kalian bela?

Editor Picks