Lagu Mesra Teruntuk Setnov: Wake Me Up When September Ends 0 748

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Ketika Saya Tidur

Saya pernah bercita-cita ingin tidur sepanjang tahun, sibuk membangun kota sendiri di alam mimpi, dengan gunung es-nya Freud menggantung jadi menara di pusat peta. Sambil membayangkan rencana APBD lima tahun ke depan, saya memilih sebat rokok bersepeda mengelilingi menara itu layaknya ritual tawaf, melakukan sapaan ringan pada warga yang sibuk berdagang pentol, sempol, dan cimol. Kalo sampe ada yang invest modal ke bakul-bakul itu, dengan indikasi mengarah ke kapitalisasi, saya bakal tolak mentah-mentah: Go to hell with your aid!

 Dalam suasana (sok-sokan) psikoanalis semacam itu, saya mudah saja mikir yang aneh-aneh. Sebab, saya perlu sejenak menghindari tugas-tugas kampus yang suka caper, bahkan bisa bikin mata sipit. Alih-alih keren, teman-teman akan membully saya habis-habisan dengan sebutan chibumi (chinese x pribumi).

Jadwal tidur dan bangun akan saya tentukan kira-kira seperti ini. Mulai tidur di pertengahan Desember, ketika musim kawin sudah surut dan mangga mulai ranum. Di bulan-bulan ini, saljuhujan akan sering datang sehingga saya tak perlu kuatir banjir dan kehujanan. Alarm akan saya pasang di bulan April, saat musim panas lagi seksi-seksinya.

Berhubung musim panas di negara ini kok ndak seru-seru amat, malah cenderung sumpek, akhirnya saya putuskan alarm sesuai dengan tembang milik Green Day saja: Wake Me Up When September Ends.Sepertinya cocok juga dengan lagu hitsnya Vina Panduwinata, September Ceria. Pun, senada harapan saya untuk bisa tidur sepanjang tahun—supaya kota di alam barzah mimpi saya bisa maju seperti Meikarta.

Sekarang Sudah Oktober

 Malam hari tanggal 30 September, pukul sebelas lebih sepuluh, rumah saya digedor seakan-akan saya melewatkan jadwal ronda. Ketika mama membuka pintu dan menyambut dengan muka bantal, para tamu tak sopan itu lantas masuk dengan sepatu berdecit, di atas ubin yang masih separuh jadi. Mereka langsung saja menerkam gagang pintu kamar, sontak, membukanya dengan separuh curiga. Spontan saja, karena saya kaget, satu kalimat meluncur tanpa terpikir:saya bukan Nasution, Jenderal!

 Rupanya, adegan di atas tidak jadi saya masukkan wishlist alarm bangun, karena takut menyamai salah satu scene film terkenal. Akhirnya saya bangun biasa-biasa saja, dengan matahari yang mengintip tepat di balik tirai kamar, dan suara muazin bertaut di surau samping rumah. Kalender juga nampak hanya kelewat satu malam, serta kota yang saya impikan itu mungkin sudah dibeli para saudagar negeri bambu.

Saya tertidur pulas ketika: semalaman film Pengkhianatan G30S PKI diputar di salah stasiun televisi swasta serta komando untuk memutarnya serentak di berbagai kampung pada hari itu juga, satu hari setelah demonstrasi besar-besaran 299 menuntut dicabutnya Perppu Ormas, dan saat itu juga Setya Novanto, untuk kesekian kalinya lolos dari jeratan hukum.

Mama yang lebih dulu bangun di sepertiga malam hampir saya salah-salahkan hanya karena saya kelewatan menyaksikan tiga momen sejarah itu. Meski terdengar lebay, namun toh tetap saja saya ini jasmerah, tetap harus merawat ingatan bangsa! Lagian, dengan fenomena macam itu, tidak mungkin saya ingin melewati hari-hari dengan tidur pagi lagi, atau saya akan dicap sebagai pemuda yang kudet, cuih.

Padahal saya sangat mengimpi-impikan menonton film garapan Arifin C. Noer itu bersama keluarga, di rumah melalui pesawat televisi, bukannya laptop dengan layar separuh nyala saya ini. Pernah sih, saya mengunduh film itu, namun resolusinya minim sekali dan tidak bisa di-skip—kalau ada adegan seksualnya bagaimana, kan urusan sensor masih belum sampai ke file online. Dengan nobar, apalagi ditemani ngobrol santai di ruang tengah, belajar sejarah tak perlulah sampai harus ngotot berdebat. Toh, energi sudah banyak terkuras di ruang-ruang kuliah.

Apalagi massa demonstrasi dengan energi yang tak habis-habisnya itu,dari 411, 212, 313, 14045, 147, hingga 299, woah, mana ada mahasiswa yang tahan aksi rutin seperti itu. Paling-paling, cuma di bulan-bulan tertentu saja, ealah, dengan massa terbatas pula. Justru, bejubel anggota ormas dari beragam daerah di tanah air itu patut mendapat apresiasi selayaknya agent of change­-nya mahasiswa. Kalau persepsi masyarakat se-nusantara saja dapat diubah terkait seorang pemimpin, bagaimana tidak, suatu saat mereka bisa memimpin dan mengubah negeri ini? InsyaAllah. Itupun kalau Bang Setnov sudah tak berhasrat njabat lagi.

Omong-omong soal satu tokoh paling ‘diobrolkeun’ se-jagad maya itu, rasanya kok kita harus mulai berterima kasih sama beliau. Ayo, coba saja, kalau tak ada beliau, mungkin sampai 2017 ini dompet kita masih diisi sama KTP konvensional yang nggak keren itu. Plastik laminating-nya itu lho, duh, kayak id card acara kampus aja. Kalau e-KTP kan sudah ada chip, mirip sama sim card di hape. Biar saat bule nanya, hey, what’s that? Kita bisa pamer dengan jawab, hello sir, this is our identity card, thank you!

 Papa yang satu itu, ndak usah lah disuruh-suruh ke pengadilan. Toh ujungnya beliau jatuh sakit kan, kasian. Jangan sampai nanti beliau makin ngambek, langsung daftar travel, berangkat umrah lah dia—menyusul kasus yang sudah-sudah. Lagian, sudah tau JokowiSetnov kebal hukum, masih saja orang-orang ngeyel menangkap dia. Lihat sendiri, kan, rakyat jadi ngedumel lagi.

Jam Tidur

Rasanya memang saya harus segera mewujudkan rencana tidur itu. Kali ini, alasannya tidak lagi jam merem yang berkurang karena tugas kampus atau habisnya musim mangga. Lagipula, saya jadi berharap menjumpai fenomena di atas dalam mimpi saya, yang barangkali seru sebab di sana boleh jadi tak ada agama, politik, bahkan negara. Saya cuma ingin memastikan, bakul pentol, sempol, dan cimol masih berjualan di sekitar tugu es, tanpa takut kena pajak.

 

Tolong bangunkan saya.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Beberapa Masalah Super Penting dalam Hidup Kita 1 421

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Kurang lebih sebulan lalu, kita ditimpa musibah berupa ledakan bom yang terjadi di Surabaya. Berjenis-jenis analisis termuntahkan di atasnya. Mulai dari kecurigaan terhadap agenda politik sampai saling menyalahkan antar kelompok beragama. Sadarkah kita, bahwa diskusi tersebut menjauhkan substansi dari kandungan peristiwa yang sebenar-benarnya adalah masalah besar tentang kemanusiaan. Bukan sekadar agenda politik atau kesempatan menampakkan citra melalui modus belasungkawa.

Tidak lama setelah itu, kita dihebohkan kembali karena seorang penyanyi dangdut perempuan mendapat perlakuan tidak sopan dari seorang pemain sepak bola klub nasional. Menurut berita yang beredar, atlet tersebut meminta doi agar datang ke tempat peristirahatannya dengan pakaian serba terbuka. Tidak terima dengan permintaan itu karena merasa direndahkan, si penyanyi dangdut pun membagikan pengalamannya di media sosial sebagai bentuk pembelajaran bagi siapapun agar kelak lebih bersikap sopan pada orang yang baru dikenalnya.

Tidak juga berhenti sampai di situ, masalah ini menimbulkan pro-kontra. Ada yang mendukung reaksi penyanyi dangdut tersebut sebagai bentuk perlawanan kaum perempuan, ada yang tidak menerima karena dianggap terlalu berlebihan dan memang sewajarnya penyanyi dangdut mendapat perlakuan begitu.

Selanjutnya, kita berdebat tentang ‘aplikasi goblok’ berisi video-video aneh dari netijen. Banyak yang mengatakan bahwa generasi yang menghidupi aplikasi ini sudah kehilangan akal mencari hiburan, tidak seperti generasi lama yang membuat tawa tidak perlu pakai aplikasi atau kuota internet. Apalagi mengorbankan akal sehat. Tolong, semangat perdebatan antara kedua kelompok ini tidak bisa dipertemukan. Selera dan kebahagiaan sama-sama tak terukur.

Pernahkah kelompok yang membenci ‘aplikasi goblok’ itu berpikir, bahwa, para anak-anak kecil, dan remaja, yang membuat video kreatif di dalamnya sedang berusaha mengasah kemampuan mereka, sedang berusaha berkarya dalam bidang yang mereka sukai. Video-video mereka nyaris selalu mengundang tawa, dan proses produksinya membutuhkan niat serta kreatifitas tinggi. Hanya karena perbedaan selera humor, kalian merasa mampu menguasai apa-apa yang benar? Apa-apa yang lucu dan apa-apa yang menyedihkan? Tahan sebentar.

Terakhir. Belum lama ini, ya, belum lama ini, hilangnya sebuah foto di Instagram menandingi diskusi hilangnya aktivis ‘98 maupun para korban ‘65. Adalah bapak reformasi kita, Amien Rais, yang tetiba mendadak girly setelah mengetahui bahwa unggahan fotonya yang memerlihatkan kebersamaan beliau dengan sahabat Prabowo dan Rizieq hilang tanpa musabab. Sempat ada rencana jika peristiwa penghilangan paksa oleh Instagram ini akan didudukkan ke Mahkamah Internasional. Luar biasa.

Kita patut menyanjung daya kritis yang dimiliki oleh bapak Amien dan kawan-kawannya. Kecurigaan beliau pada penguasa tidak butuh diuji lagi. Sudah terbukti, beliau berhasil menjadi bagian dari sejarah tumbangnya Orde Baru. Dan hingga saat ini, beliau terus memerjuangkan cita-cita reformasi yang telah dititipkan padanya duapuluh tahun lalu. Sekali lagi, kita tetap perlu memuji konsistensinya dalam hal mencurigai kekuasaan, betapapun ganjilnya itu. Suatu kemampuan yang sukar ditemukan pada waktu sekarang.

Kita sudah kenyang dengan isu-isu trivia, bahkan untuk lebaran kesekian kalinya, semestinya kita sudah paham harus berbuat bagaimana, apalagi menjelang pilpres yang mengakibatkan arus propaganda semakin meruncing. Kita juga sudah bosan dengan isu-isu berbalut agama. Sudah saatnya kita mengistirahatkan semuanya. Rebahkan sebentar sikap politik kita, tidak peduli golongan kecebong atau golongan kampret. Pokoknya semua harus menikmati ketupat dengan tentram.

Antara seluruh peristiwa yang mengurai di sekitar kita, manakah yang paling berpengaruh terhadap cara berpikir kita? Adakah peristiwa yang menentukan nasib baik dan buruk kita kedepannya? Atau sebenarnya kita sudah tidak mampu membedakan, mana peristiwa yang memang perlu disikapi dengan serius dan mana peristiwa tak penting yang hanya perlu direspon sekadarnya saja? Atau kita sudah terbiasa berdebat karena kondisi-kondisi di atas terus menghantam kesabaran kita untuk bersuara, sehingga secara naluriah saja setiap munculnya fenomena, kita langsung saja menempatkan diri sebagai kelompok Pro/Kontra? Mbohlah.

Bagaimana Sebaiknya Kita Mengenang Minggu, 13 Mei 2018? 0 316

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Menentukan Bingkai Untuk Mencatat Sejarah

Hemat penulis, Minggu, 13 Mei 2018 kemungkinan besar akan melekat di ingatan warga Surabaya dan Indonesia. Mungkin juga kemudian akan diperingati dengan emosional dan mengharu-biru setiap tahunnya mulai dari sekarang. Mungkin pula dengan mengheningkan cipta, teatrikal atau entah akan seperti apa.

Mungkin saja.

Hanya kemudian, akan diingat dan diperingati sebagai apa dan bagaimana menjadi cukup penting untuk dijadikan bahan pikir. Apakah Minggu, 13 Mei 2018 akan diingat sebagai hari dimana Surabaya dan Indonesia diguncang bom teror tertubi-tubi, yang lantas membuat warganya takut dan terpecah belah?

Atau kemungkinan lain, dimana Minggu, 13 Mei 2018 akan diingat sebagai hari barisan kemanusiaan Surabaya dan Indonesia bersatu dan bangkit dalam semangat keberanian dan bersama mengecam kebiadaban terorisme?

Menurut penulis, ini adalah pilihan genting dan krusial untuk segera diambil. Mengapa? Karena penting untuk menentukan bagaimana cara kita mengingat Minggu 13 Mei 2018 oleh sebab, tentu ingatan itu akan berkorelasi langsung dengan sikap. Sikap yang nantinya akan menentukan seperti apa dan bagaimana kita ke depan. Sikap yang akan membentuk bagaimana sejarah tercatat.

Awal mulanya berakar dari ingatan yang kita bingkai hari ini. Kemudian, bagaimana sebaiknya kita membingkai ingatan itu?

Yang Terjadi Hari Itu

Menurut penulis ada beberapa hal yang bisa membantu kita menentukan pilihan itu, berangkat dari apa saja yang terjadi di Minggu pagi pukul 06.30 di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), GKI Diponegoro, dan GPPS Sawahan. Tiga bom bunuh diri meledak di tiga gereja itu. Bersusul-susulan dalam jeda tiga puluh menit. Korban meninggal tercatat 13 orang dan puluhan lain luka-luka.

Rombongan Presiden Joko Widodo bersama Kapolri Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Din Syamsuddin, Mahfud MD, dan Wiranto langsung terbang dari Jakarta dan meninjau gereja-gereja Surabaya yang diledakkan. Semuanya mengecam kebiadaban terorisme dan mengimbau agar masyarakat tidak takut. Didampingi pula Tri Rismaharini dan Soekarwo saat memberi pernyataan di RS Bhayangkara pada (13/5) sore.

Selang sehari, Kapolri Tito Karnavian memastikan ketiganya adalah lanjutan kasus kerusuhan di Mako Brimob, Jakarta yang selidik punya selidik berafiliasi pula dengan gerakan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid, pendukung utama ISIS di Indonesia.
Pelaku pengeboman adalah keluarga Dita Oepriarto dan Puji Kuswanti beserta empat orang anak mereka. Dita adalah ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya. Ia baru pulang dari Suriah, dan diketahui bertempat tinggal di Wonorejo Asri Blok K/22, Rungkut, Surabaya.
Hingga malam turun pukul 21.30, sebuah bom teror lain meledak di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Esok harinya, Senin 14 Mei 2018, kembali terjadi peledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya. Berselang beberapa saat, pecah baku tembak antara polisi dan komplotan teroris di kawasan Urang Agung dan Puri Maharani  Sidoarjo.

Soal kronologi yang lebih mendetail, pembaca tentulah sudah mahfum. Media apapun mengabari kita dengan breaking news yang terus-menerus. Penulis yakin, pembaca Kalikata pasti  mengikuti apa yang terjadi.

Lalu apa?

Soal Menentukan dan Membentuk Bingkai

Kembali pada tujuan tulisan ini, bagaimana kita membingkai segala rangkaian kejadian teror ini untuk kemudian kita ingat?

Tentu saja harus kembali dari apa yang terjadi pula di Minggu, 13 Mei 2018. Tidak hanya kekejian, tapi kemanusiaan pun tersaji begitu indah dan mengharukan kemarin. Membantu kita menentukan bingkai sejarah, dan membentuk ingatan yang harus dirawat.

Karena perlu kita ingat, selain para pelaku pengeboman, keberadaan pahlawan-pahlawan kemanusiaan yang juga gugur kemarin adalah antitesis, tandingan dari kebengisan teroris. Mereka tidak boleh sekalipun dilupakan. Aloysius Bayu dan Yesaya Bayang, dua sosok pahlawan kemanusiaan yang bisa membantu kita mengingat Minggu, 13 Mei 2018 dalam bingkai yang heroik dan kental nuansa humanisme. Keduanya wafat saat pasang badan menghadang pelaku pengeboman, lantas ikut meledak.

Mati syahid mereka adalah bukti, manusia dapat menjadi perisai -bahkan dalam artian harfiah- bagi sesamanya. Kemanusiaan tidak sirna. Kematian mereka pun bukan hanya berbuah kegagalan teroris meledakkan bom di dalam gedung gereja. Pun lebih dari keselamatan jemaat yang masih di dalam gereja saat itu. Heroisme Aloysius Bayu dan Yesaya Bayang, laksana bara semangat kemanusiaan yang membakar semua yang hidup dan terinspirasi oleh kisah mereka berdua. Menguatkan kita yang takut dan hampir paranoid.

Juga perlu disoroti solidaritas warga Surabaya yang atas inisiatif sendiri, berbondong-bondong mendatangi kantor PMI untuk donor darah. Dikabarkan antrean mengular panjang sejak pagi, sebanyak 600 lebih orang bersimpati segera setelah gereja-gereja meledak. Mereka datang tentu dengan satu harapan, agar darahnya bisa mengaliri nadi korban dan menyelamatkan sesama. Menyambung hidup mereka yang hampir dicerabut oleh bahan peledak dan jihad yang salah kaprah.

Tak lupa juga dukungan moril dan doa di sosial media, pun dengan tagar #SuroboyoWani, #Kamitidaktakut, dan #TerorisJancok yang digunakan untuk menciptakan konsolidasi rasa.

Kemarin, tidak seorang pun dibiarkan menghadapi kekacauan ini sendirian. Seluruh warga Surabaya dan Indonesia ada untuk saling menguatkan dan mendukung. Esensi kesatuan tercipta, pun keberanian bangkit untuk bersama melawan terorisme yang berani-beraninya menginjakkan kaki di Surabaya. Atmosfir kebersamaannya begitu terasa, bahkan cukup kuat untuk menenangkan hati yang ketar-ketir karena kabar bom yang terus ditemukan.

Simpati yang mengalir pun tidak henti-hentinya. Doa-doa dilantunkan, elemen-elemen masyarakat dan mahasiswa berkumpul dalam aksi solidaritas dan doa bersama di Tugu Pahlawan. Juga jauh-jauh dari Vatikan. Paus Fransiskus mengajak seluruh umat Katolik sedunia mendoakan dan bersimpati pada Surabaya. Dukungan dam doa datang bahkan dari yang jauh sekalipun. Begitulah kemanusiaan bekerja. Begitulah seharusnya ketika manusia menjadi manusia.

Lalu Akhirnya..

Sampai di sini, sudahkah Pembaca menentukan bingkai apa yang sebaiknya digunakan? Ingatan macam apa yang harus dirawat dan dijaga? Juga sikap apa yang harus ditumbuh-kembangkan pasca Minggu, 13 Mei 2018?

Pembaca, semoga kita selalu memilih kemanusiaan

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Berminat pada isu-isu keperempuanan dan gender.

Editor Picks