Mahabenar Warganet dengan Segala Meme-nya 0 1612

Masih tentang ribut-ribut Papa Setnov tempo hari. Kali ini Firmansyah NU, perawi sejarah dari kampus beken Surabaya, menyumbang gagasannya tentang kisruh politik itu. Silakan disimak.

 

…yang tersisa dari gaduh-riuh Setya Novanto apa?

Kita bisa mulai dari penjelasan tentang kemenangan teknologi komunikasi dan informasi, yang berhasil mengubah secara radikal pola hidup orang yang mulanya berdikari menjadi serba-tergantung pegangan hidup.

Gawai berhasil meraih peringkat pertama sebagai benda yang pertama kali di pegang setelah bangun tidur. Alih-alih berdo’a; untuk urusan mandi, menolong ibu membersihkan tempat tidur (bacanya jangan sambil nyanyi) saja seringkali tidak terealisir. Ia berhasil membalik keadaan menjadi barang dengan prioritas tertinggi manusia setelah sejenak jiwa melepaskan diri dari raganya. Entah, fenomena tersebut kita maknai sebagai berkah atau kutuk.

Bangun tidur saya pun sama seperti bangunnya putra-putri ibu pertiwi: mencabut gawai dari kuasa charger, lalu men-scrolldown notifikasi sambil menyapu habis berita di timeline.

Pembaca tentu ingat bagaimana nabi partai politik Indonesia, Setya Novanto dihadirkan secara virtual lewat deretan quote-quote penghias meme. Posisi ketua dewan yang terhormat seketika itu runtuh di hadapan warganet dengan segala justifikasi. Pembaca bisa menengok karya anak negeri tersebut dalam jejaring sosial apapun bertagar #thepowerofsetnov

Pembuat meme mungkin sedang mengamalkan petuah dari Rene Descartes, “Yen kowe gawe uthekmu, followermu nambah”. Kesimpulan pengamatan saya terhadap kumpulan meme tersebut adalah sebagai respon ekpresif rakyat Indonesia setelah meledaknya era Orde Baru.

Tanggapan kreatif rakyat indonesia yang nongol di setiap timeline linimasa kita adalah reaksi deretan daftar perilaku sang Papa dalam menjalani kehidupannya yang fana ini. Dari beberapa meme yang saya amati, gambar tersebut sengaja menunjukkan kalau Papa memiliki kesaktian luar biasa. Konsekuensi logis dari adanya meme tersebut memberi pemahaman akan macetnya saluran kritik yang komprehensif, sehingga lebih bermakna sebagai keputusasaan yang sering tidak didengar. Kita selesai dalam melihat realitas tersebut dengan asumsi: Papa salah dan harus segera diadili, Papa melipir dari panggilan KPK, Papa sakti dan tidak bisa diancam, KPK adalah korban kesaktian Papa.

Sudah, tidak ada alternatif lain dari permasalahan diatas. Jadi, secepat itukah kita puas?

Terlepas apakah Papa benar-benar kelelahan mengurusi rakyat sampai-sampai jatuh sakit dan  tak berdaya melawan komplikasi penyakit yang diderita, bahkan mendadak sembuh setelah putusan peradilan dibacakan, ia adalah poli_tikus handal. Keberhasilannya beberapa kali lolos dari ancaman bui menunjukkan kelihaiannya dalam bermain politik. Kalau kita kembalikan konsep dasar politik kepada bahasa terbaik menurut Al-Qur’an, politik berarti As-siyaasat. Dengan demikian Papa berhasil menang siasat, menang siasat tidak bisa menjadi indikator kesaktian seseorang. KPK kalah cerdas. KPK harus segera bermuhasabah demi tujuan mulianya, yakni mencabut korupsi sampai ke akar.

Budaya meme, senyatanya tidak membuat kita semakin jelas dalam melihat suatu fenomena. Saya lebih setuju jika keberadaan meme hanya untuk menvulgarkan fenomena, tidak lebih. Selain itu, meme juga bisa menumpulkan pisau analisis kita terhadap suatu realitas. Kita terlalu cepat menyimpulkan suatu hal karena meme.

Saya sepakat dengan Slavoj Zizek yang dengan sembrono ingin membalik tesis kesebelas Marx. Jika Marx berpendapat bahwa: “Filsuf sekarang hanya bisa menafsirkan dunia dan tidak pernah mengubahnya”. Maka Zizek mengusulkan: “Di abad ke-20 ini, kita mencoba mengubah dunia terlalu cepat. Waktunya menafsirkannya lagi dan mulai berfikir”.

Mikir. Mikir.

Yaa..Zizek mirip-mirip sama Cak Lontong laah.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengulang Pesan Boedi Oetomo untuk Gak Gampang Insekyur dengan Perbedaan 0 85

Oleh : Novirene Tania*

 

Tepat sudah 113 tahun kita terus mengulang momentum perayaan yang kita sebut “Hari Kebangkitan Nasional”. Buat kalian yang mungkin lupa mengapa hari kemarin penting, yuk mari merapat – kita ulang kembali ceramah guru sejarah kita dari SD sampai SMA!

Hari Kebangkitan Nasional menjadi salah satu hari penting buat bangsa ini, karena di sanalah awal mula perjuangan menghilangkan kubu. Di bawah inisiatif sekelompok pemuda STOVIA – mahasiswa kedokteran yang punya rasa peduli besar bagi sejarah nasional, semua perbedaan yang ada dihimpun dalam satu kesatuan.

Tanpa memandang perbedaan, tidak lagi peduli kamu dan aku darimana dan siapa kita. Jelas ini pesan yang perlu kembali digaungkan, saat dewasa ini isu perbedaan masih hangat jadi pemicu konflik antargolongan.

Gak hanya itu, kalo dipikir-pikir, 20 Mei juga membawa pesan yang tidak kalah penting: jangan gampang insekyur sama perbedaan.

Buat kita yang hidup pasca kemerdekaan dan terbiasa dengar kata “persatuan”, tentu bukan jadi barang asing. Sangat beda kondisinya saat Boedi Oetomo menggagas persatuan di tengah kelompok antarsuku masih dominan membawa semangat perjuangan masing-masing.

Andai saja saat itu dokumen sejarah bisa dengan detail menjelaskan berapa kali Boedi Oetomo rapat dan diskusi sampai sepakat bersatu di bawah bendera “persatuan nasional“, gak kebayang notulennya setebal apa.

Belum lagi dengan drama setuju tidak setuju yang pasti menimbulkan perdebatan alot. Ini tentu jelas beda dengan forum keluarga besar yang sekadar membahas liburan mau ke mana karena kemanapun opsinya asal ada waktu dan uang ya gas wae.

Kondisi ini bertolakbelakang dengan topik insekyur yang lagi rame banget dibahas. Lihat kiri kanan beda tujuan, beda strategi, bahkan beda hasil, langsung insekyur. Tambah insekyur lagi kalau merasa berjuangnya sama-sama, tapi hasilnya kok beda.

Bahkan tragisnya, jangankan berembug soal persatuan seperti Boedi Oetomo, kita-kita yang hobinya insekyur biasanya otomatis menjauhi lingkaran pertemanan. Peer pressure, istilahnya.

Daripada terus terbebani dengan kemajuan dia, mungkin baiknya memang buat circle sendiri aja,” ini jadi opsi terakhir para makhluk yang terjangkit insekyur.

Coba deh perhatikan dengan seksama, betulkah kita jadi tampak tidak terbiasa dengan perbedaan? Padahal kita bilangnya percaya banget kalo perbedaan itu indah pol no debat membuat kita kaya dan semakin kuat.

Semoga tulisan ini bisa jadi selingan refleksi kita selain posting ucapan selamat hari kebangkitan nasional dari organisasi kita masing-masing, mumpung momennya tepat.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi 0 114

Apakah hanya saya saja di sini yang sudah sulit percaya ulasan influencer Indonesia? Sudah bukan sekali dua kali saya kemakan omongan influencer Indonesia. Sumpah jujur, guys, beneran gak bohong, aku udah kapok cari rekomendasi dari influencer negeri +62.

Entah kenapa influencer Indonesia suka melebih-lebihkan fakta kalau mengulas suatu produk. Apa yang dikatakan mereka rupanya tak sesuai fakta dan kenyataan yang ada.

Belakangan ini saya tertarik mempelajari parfum-parfuman di internet. Lalu, saya mencari ulasan tentang eau de parfum yang agak terjangkau lewat video seorang youtuber. Bisa dibilang youtuber ini masih micro influencer. Menurut jurnal yang saya baca, micro influencer merupakan opinion leader yang baik untuk mempengaruhi keputusan pembelian. Apalagi, dalam mengulas produk tersebut, youtuber ini tidak dibayar, melainkan membeli dengan uangnya sendiri. Jadi, saya rasa, lambenya masih kredibel lah.

Saat ia mengulas sebuah parfum, tertariklah saya untuk membeli parfum tersebut. Youtuber tersebut dapat mendeskripsikan aroma dari notes parfum tersebut dengan cukup baik dan meyakinkan.

“Hmm yang ini ada vanilla-vanillanya. Lama-lama wanginya enak, soft, elegant gitu, katanya sambil mencium pergelangan tangannya yang sudah disemprot parfum.

Sebagai pecinta vanilla, gourmand, dan oriental notes, saya tertarik untuk membeli parfum tersebut seketika. Apalagi katanya wangi vanillanya kuat. Tanpa pikir panjang akhirnya saya membeli parfum yang katanya bau vanilla banget itu.

Setelah saya beli dan semprot ke tangan saya, saya endus-endus baunya, hmm…. Ini kan bau Adi Jasa (rumah duka terbesar di Surabaya). Dari top notes hingga base notes-nya membentuk aroma bunga sedap malam yang mulai kecoklatan alias sudah tidak segar. Alhasil, bau badan saya mirip karangan bunga ucapan duka cita yang sudah tiga hari bertengger di rumah duka. Bahkan meski sudah tersisa base notes, masih tidak tercium aroma vanilla sama sekali.

Ini bukan yang pertama. Sebelumnya ada youtuber yang mengulas eau de parfum lokal dengan berkata, “sungguan ini enak banget, wanginya mirip permen tapi yang mewah gitu, guys. Kalian pasti suka.” Setelah saya cium, baunya sangat identik dengan aroma permen Alpenlibe rasa susu dan stroberi. Ya sudah, mungkin Mbak Youtuber tersebut merasa permen yang ada di Indomaret ini sangat mewah.

Selanjutnya, saya pernah membeli masker wajah karena kena “racun” selebgram. Saya tertarik setelah melihat wajahnya jadi lebih cerah dan bersih.

Tuh, lihat muka aku jadi bersih banget, OMG!” Katanya sambil mendekatkan wajahnya ke kamera.

Setelah saya coba, memang wajah saya langsung seputih Song Hye Kyo. Namun, bukan karena sel-sel kulit mati yang terangkat, melainkan sisa-sisa masker clay tersebut tidak bisa hilang dari muka saya meski sudah dibilas berkali-kali.

Tapi setidaknya, saya masih mengapresiasi influencer yang menjerumuskan saya tadi. Setidaknya, ia bisa mendeskripsikan barang tersebut dengan “baik”.

Lain halnya dengan influencer G yang mendeskripsikan parfum seperti ini “kalau yang ini baunya kayak bau cewek-cewek kaya yang baru keluar dari toko baju mewah, ngerti kan, ya, lo maksud gue?” Ya gimana kita bisa ngerti kalau Anda menjelaskan seperti ini, Maemunah?!

Dari sini saya menarik kesimpulan bahwa banyak dari influencer Indonesia yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup sebagai influencer dalam bidang tersebut. Padahal dalam kelas public speaking, mempresentasikan topik di luar kemampuan kita adalah BIG NO. Akibatnya ya begini ini, jadi misleading dan menyesatkan audiens.

Selain kesal dengan ulasan yang tak sesuai fakta, saya juga heran kenapa gaya mengulas para influencer ini sama. Dengan mata mendelik, nada naik, dan penekanan di semua kata, seakan berusaha keras membuat audiens tertarik. Ditambah template, “ih beneran, guys ini enak banget,” “gak bohong kalian harus coba,” “sumpah gak bohong, kalian pasti suka“, dan semacamnya.

Joe Navarro, seorang ahli body language asal America Serikat mengatakan bahwa orang yang tidak jujur akan berusaha “keras” untuk membuat Anda percaya. Usaha seperti apa? Bisa dalam bentuk ekspresi yang berlebihan, mengulang kata, dan menambahkan bumbu penyedap pada kalimat.

Contohnya influencer kuliner yang bilang enak aja harus pake “sumpah sumpah, enak banget gak bohong, serius gue mau mati,” sambil melotot dan dengan penekatan di setiap huruf. Harusnya dijelaskan yang bikin enak apa, rasanya seperti apa, bumbunya apa saja. Kalau memang enak beneran, masa tidak bisa mendeskripsikan? Apalagi sudah menyandang title sebagai influencer yang harusnya punya pengetahuan lebih tentang kuliner dari orang awam.

Mungkin secuil ilmu dari Navarro ini bisa jadi guideline kita untuk memilah mana ulasan yang valid dan tidak dengan melihat cara influencer tersebut berbicara.

Selain itu, sebisa mungkin jangan hanya mengandalkan satu influencer, apalagi kalau influencer tersebut bekerja sama dalam paid partnership, endorsement, apalagi kalau sudah didapuk jadi brand ambassador. Biasanya ulasan sudah tidak objektif lagi.

Carilah video ulasan sebanyak-banyaknya dari influencer berbeda! Kalau bisa, influencer yang memang memiliki pengetahuan mumpuni dalam bidang tersebut.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks