Menentukan Weton Kemerdekaan Catalunya 0 663

Netijen mungkin akan sedikit asing ketika mendengar kata Catalunya. Akhir-akhir ini, nama itu kerap muncul dalam berbagai bahasan, dari  berita media sampai topik cangkruk diskusi santai.

Penggemar klub sepakbola Barcelona dan Espanyol (kalau ada) harusnya tak usah ditanya soal itu. Memang, kedua klub itu berasal dari Catalunya, sebuah daerah otonom di pinggiran Spanyol, yang kini sedang bersungguh-sungguh ingin merdeka dari negeri matador itu. Bahkan, 1 Oktober lalu, pemerintah di sana menggelar referendum (di Indonesia lumrah disebut coblosan) untuk mengepul suara rakyat: kalian mau merdeka atau tidak?

Sebanyak 90% dari total pemilih, tanpa tedeng aling-aling—tentunya dibarengi dengan ucapan basmalah—mendukung penuh kemerdekaan daerah itu. Maka, bila benar-benar berdaulat, pada pagelaran Piala Dunia selanjutnya dan seterusnya, kita bisa menonton Gerard Pique, Sergio Busquets, Cesc Fabregas dkk bermain dengan jersey garis-garis Catalunya yang mirip parpol itu.

Namun, referendum itu dianggap tidak sah oleh pemerintahan Spanyol sebab angka partisipasi hanya mencapai 43% dari sekitar 7 juta jiwa. Pemerintah tak sedang main-main dalam memperingatkan warga untuk berhenti menyatakan merdeka. Pantas saja, dengan bisikan revolusi yang bikin was-was macam itu, represi aparat kerap digunakan. Bentrokan pun berulang kali terjadi antara aparat dengan warga, hingga seringkali berbuah korban.

Spanyol sampai sekarang—dan selamanya—tak akan pernah berniat melepas daerah ‘emas’ itu. Mafhum, Catalunya menyumbang pendapatan dan devisa negara terbesar pertama (18,8 %), mengalahkan ibukota Madrid (17,6%). Dengan aliran duit yang sangat potensial seperti Meikarta, penulis berani bertaruh negara manapun tidak akan rela melepasnya. Kecuali, satu negara yang pernah kecolongan dua pulau plus satu provinsi yang telah jadi negara….

Warga Catalunya juga ngotot ingin pisah, sebab secara historis dan kultural telah jauh berbeda dengan Spanyol. Sejarah dengan cermat merekam konflik panjang antar Catalunya dan Spanyol, yang di era modern dijewantahkan dalam El Classico—pertandingan sepakbola termahal di dunia. Barcelona digadang-gadang mewakili semangat rakyat Catalan untuk pembebasan, sedang Real Madrid ialah wujud otoritas Spanyol yang arogan.

 

Hari Baik

Terlepas jadi merdeka atau tidak, biasanya Netijen—dengan segala kuasanya itu—akan mulai bersangka-sangka, turut membayangkan tanggal kemerdekaan bagi Catalunya. Seandainya saja warga Catalan tak naif, bisa saja mereka iseng-iseng browsing di internet tentang hari baik untuk mengadakan referendum atau proklamasi sekalian.

Bahkan, kalau mau sedikit repot, warga Catalan bisa tanya-tanya wong Jowo soal penentuan hari baik macam lamaran, nikah, pindah rumah, cari kerja, sunatan, tes ELPT dan segenap hajatan lain. Biasanya mereka memakai sistem weton atau penanggalan yang membagi hari jadi lima: legi, pahing, pon, wage, kliwon. Sistem ini umum digunakan untuk tanda kelahiran seseorang, sekaligus ramalan nasib baik-buruk.

Dalam penentuan hari, masyarakat Jawa juga menggabungkan weton ke penanggalan yang lebih modern. Lima hari itu disandingkan dengan Senin-Minggu ala Masehi. Sehingga, pengucapannya akan lebih mudah dipahami, seperti Senin Legi, Rabu Pahing, Jumat Kliwon. Plus, perayaan hari ulang tahun (baca: weton) versi tradisional ini lebih cepat, yakni tiap 35 hari sekali.

Berikut adalah beberapa rekomendasi hari agar Carles Puigdemont, pemimpin Catalan, punya pilihan bila sewaktu-waktu jadi merdeka:

Senin Wage, agar negara bisa memiliki laju pertumbuhan yang josh. Wage atau ­age-age berarti ‘cepat-cepatlah!’. Ditambah, Senin adalah saat di mana semangat buruh pekerja telah pulih dari libur akhir pekan.

Minggu Legi, sebab tiada hari kemerdekaan yang lebih baik dibanding digelar di hari Minggu. Asyiknya lagi, legi bisa melambangkan suatu kenangan yang manis.

Jumat Kliwon, biar terdengar seram bagi negara-negara lain.

Selain itu, tanggal kemerdekaan juga bisa dihitung 35 hari sejak hari ulang tahun Spanyol. Mbok ya, supaya terkesan tidak durhaka. Atau, coba pilih dari salah satu tanggal ultah pemain Barcelona—tentunya jangan orang Argentina itu, bisa-bisa tidak sesuai dengan visi negara yang berdikari.

Atau, ada baiknya para pemimpin Catalan itu langsung berkunjung ke Jawa, mencari tetua yang masih hafal sistem weton.

Aduh, untuk sistem kalender macam itu jangan cari di sini. Penulis takut tulisan ini jadi bid’ah…

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Kamuh yang Anti Incess Syahrini 0 227

Sebagai tim pembela Syahrini yang fanatik, akhirnya saya toh harus angkat bicara. Saya tak punya kalimat pembuka yang paling kuat selain manifesto ini: kamuh-kamuh yang dibeking Luna Maya itu sudah melakukan penistaan kelas berat kepada Princess kami!

Bagaimana mungkin cinta Princess diatur-atur? Bukankah Aa Reino Barack sudah memberi komitmennya kepada Incess kami dan bukan Luna Maya[k]?

Sini, kuberitahu pelajaran berharga dan prinsip nomor satu: manusia tak punya kekuatan barang sedikitpun untuk menyetir cinta sesamanya. Tak pernah ada agama yang berani memasang badan untuk sebuah keyakinan atas Tuhan yang melepaskan diri dari tanggung jawab atas perasaan dan hati umatnya. Bahkan Habibana Rizieq saja, di masa belio masih sehat dan bebas (ehem), tak pernah menggugat soal ini.

Oh ya, lupa, tapi ini dengan asumsi bahwa ikatan Syahrini-Reino sungguh karena cinta loh yaa. Dan tentu saja saya harus yakin bahwa cinta mereka sungguhlah ada dan bukan sekadar rupiah belaka. BUKAN SEKADAR.

Sudahlah, mending situ kembali ke habitat nggak mutu dan ekosistem receh yang sudah situ hidupi bertahun-tahun. Dari orang-orang macam ini, yang hidupnya Senin-Kemis itu, apa kapasitasnya mengomentari—apalagi menista—junjungan kami Fatimah Syahrini Jaelani yang termasyhur? Hidupnya berantakan kok berani-berani menakar kadar cinta idola? Apakah mereka tak pernah menghayati lagu “Sesuatuuuuu” yang sungguh populer di kalangan [k]anak muda itu?

Telah terpampang nyata dalam khatulistiwa perasaan seluruh umat Indonesia bahwa Incess adalah salah seorang yang amat berpengaruh. Dan pengaruh itu merentang sampai pada bagaimana kita menyibukkan diri dalam menolak atau membelanya. Merepotkan diri dalam nyinyir dan puja-puji. Seperti surat terbuka ini…

(Surat ini dibuka dengan gairah menyala tapi ditutup dengan loyo… Sudahlah, namanya juga hidup: antara pesona dan derita kadang beda tipis bingit).

 

Salam hangat,

dari pemuja Syahrini di suatu sore yang murungnya mewakili hati Luna Maya. (Bingung yo ben.)

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 191

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Editor Picks