Menentukan Weton Kemerdekaan Catalunya 0 767

Netijen mungkin akan sedikit asing ketika mendengar kata Catalunya. Akhir-akhir ini, nama itu kerap muncul dalam berbagai bahasan, dari  berita media sampai topik cangkruk diskusi santai.

Penggemar klub sepakbola Barcelona dan Espanyol (kalau ada) harusnya tak usah ditanya soal itu. Memang, kedua klub itu berasal dari Catalunya, sebuah daerah otonom di pinggiran Spanyol, yang kini sedang bersungguh-sungguh ingin merdeka dari negeri matador itu. Bahkan, 1 Oktober lalu, pemerintah di sana menggelar referendum (di Indonesia lumrah disebut coblosan) untuk mengepul suara rakyat: kalian mau merdeka atau tidak?

Sebanyak 90% dari total pemilih, tanpa tedeng aling-aling—tentunya dibarengi dengan ucapan basmalah—mendukung penuh kemerdekaan daerah itu. Maka, bila benar-benar berdaulat, pada pagelaran Piala Dunia selanjutnya dan seterusnya, kita bisa menonton Gerard Pique, Sergio Busquets, Cesc Fabregas dkk bermain dengan jersey garis-garis Catalunya yang mirip parpol itu.

Namun, referendum itu dianggap tidak sah oleh pemerintahan Spanyol sebab angka partisipasi hanya mencapai 43% dari sekitar 7 juta jiwa. Pemerintah tak sedang main-main dalam memperingatkan warga untuk berhenti menyatakan merdeka. Pantas saja, dengan bisikan revolusi yang bikin was-was macam itu, represi aparat kerap digunakan. Bentrokan pun berulang kali terjadi antara aparat dengan warga, hingga seringkali berbuah korban.

Spanyol sampai sekarang—dan selamanya—tak akan pernah berniat melepas daerah ‘emas’ itu. Mafhum, Catalunya menyumbang pendapatan dan devisa negara terbesar pertama (18,8 %), mengalahkan ibukota Madrid (17,6%). Dengan aliran duit yang sangat potensial seperti Meikarta, penulis berani bertaruh negara manapun tidak akan rela melepasnya. Kecuali, satu negara yang pernah kecolongan dua pulau plus satu provinsi yang telah jadi negara….

Warga Catalunya juga ngotot ingin pisah, sebab secara historis dan kultural telah jauh berbeda dengan Spanyol. Sejarah dengan cermat merekam konflik panjang antar Catalunya dan Spanyol, yang di era modern dijewantahkan dalam El Classico—pertandingan sepakbola termahal di dunia. Barcelona digadang-gadang mewakili semangat rakyat Catalan untuk pembebasan, sedang Real Madrid ialah wujud otoritas Spanyol yang arogan.

 

Hari Baik

Terlepas jadi merdeka atau tidak, biasanya Netijen—dengan segala kuasanya itu—akan mulai bersangka-sangka, turut membayangkan tanggal kemerdekaan bagi Catalunya. Seandainya saja warga Catalan tak naif, bisa saja mereka iseng-iseng browsing di internet tentang hari baik untuk mengadakan referendum atau proklamasi sekalian.

Bahkan, kalau mau sedikit repot, warga Catalan bisa tanya-tanya wong Jowo soal penentuan hari baik macam lamaran, nikah, pindah rumah, cari kerja, sunatan, tes ELPT dan segenap hajatan lain. Biasanya mereka memakai sistem weton atau penanggalan yang membagi hari jadi lima: legi, pahing, pon, wage, kliwon. Sistem ini umum digunakan untuk tanda kelahiran seseorang, sekaligus ramalan nasib baik-buruk.

Dalam penentuan hari, masyarakat Jawa juga menggabungkan weton ke penanggalan yang lebih modern. Lima hari itu disandingkan dengan Senin-Minggu ala Masehi. Sehingga, pengucapannya akan lebih mudah dipahami, seperti Senin Legi, Rabu Pahing, Jumat Kliwon. Plus, perayaan hari ulang tahun (baca: weton) versi tradisional ini lebih cepat, yakni tiap 35 hari sekali.

Berikut adalah beberapa rekomendasi hari agar Carles Puigdemont, pemimpin Catalan, punya pilihan bila sewaktu-waktu jadi merdeka:

Senin Wage, agar negara bisa memiliki laju pertumbuhan yang josh. Wage atau ­age-age berarti ‘cepat-cepatlah!’. Ditambah, Senin adalah saat di mana semangat buruh pekerja telah pulih dari libur akhir pekan.

Minggu Legi, sebab tiada hari kemerdekaan yang lebih baik dibanding digelar di hari Minggu. Asyiknya lagi, legi bisa melambangkan suatu kenangan yang manis.

Jumat Kliwon, biar terdengar seram bagi negara-negara lain.

Selain itu, tanggal kemerdekaan juga bisa dihitung 35 hari sejak hari ulang tahun Spanyol. Mbok ya, supaya terkesan tidak durhaka. Atau, coba pilih dari salah satu tanggal ultah pemain Barcelona—tentunya jangan orang Argentina itu, bisa-bisa tidak sesuai dengan visi negara yang berdikari.

Atau, ada baiknya para pemimpin Catalan itu langsung berkunjung ke Jawa, mencari tetua yang masih hafal sistem weton.

Aduh, untuk sistem kalender macam itu jangan cari di sini. Penulis takut tulisan ini jadi bid’ah…

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 340

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Surat untuk Bu Pemred dan Semua Anak Jakarte 0 124

Jokowi yang baru-baru saja melempar isu ibukota baru harus bertanggung jawab pada banyak hal. Mula-mula, ehm, ya tentang tuduhan bahwa “Jakarta baru” di Borneo sana adalah semacam pembelokan isu. Tapi tuduhan macam ini biasanya diselesaikan oleh buzzer-buzzer aktip kreatip, jadi kita skip untuk sementara.

Soal serius dari ini: siapa yang mengobati sakit hati Bu Demes yang sudah telanjur tinggal di Jakarta, dan ketika lagi sayang-sayangnya malah ditinggal minggat status ke-ibukota-annya? Berlaku pula teruntuk pesohor-pesohor yang menjadi besar nyali artisnya lantaran status ibukota.

Saya pernah suatu ketika menyimak obrolan superior mahasiswa “lo-gue” yang di telinga bikin geli tapi menarik. Mereka membahas mengapa hidup di Jakarta “ngangenin”, kendati macetnya sungguh luar bioskop, belum lagi polutan-polutan yang biadab. Kata salah satu tokoh dalam obrolan itu (tampaknya ia salah satu selebgram, dilihat dari alis mata dan warna semir rambutnya yang, ehm, keluar lintasan): “..yaa gimana2 jakarta tuh pusat. Lo mo ngomong macet kek, tapi semua-mua dari sana”.

Asoi betul logikanya. Dan dalam beberapa hal betul.

Tapi apa yang ditawarkan Jokowi dari perpindahan Ibukota? Atau sebetulnya tak perlu resep penawar apa-apa bagi mereka yang sudah telanjur sayang? Bagi mereka yang sudah kepalang mengadu nasib di Jakarta? Atau, yang paling gaswat, jangan-jangan tak perlu solusi apapun tentang ini karena perpindahan itu ada atau tiadanya tak punya dampak apapun?

Apa mau syahrini pindah ke Kaltim dan menjadi artis bau tambang? Atau sinetron-sinetron menjadi belepotan dan pada akhirnya membuat semacam reality show “apa dan bagaimana hidup di tengah tambang”?

Jika pada akhirnya perpindahan ibukota Cuma soal pindah status, yaa lalu yang berpindah apanya. Apakah tak ada cara lain yang lebih elegan untuk bakar duit?

Skian dan terima gadis.

 

Joni Locke

Belajar filsahwat, merantau ke negeri jauh.

Editor Picks