Menentukan Weton Kemerdekaan Catalunya 0 708

Netijen mungkin akan sedikit asing ketika mendengar kata Catalunya. Akhir-akhir ini, nama itu kerap muncul dalam berbagai bahasan, dari  berita media sampai topik cangkruk diskusi santai.

Penggemar klub sepakbola Barcelona dan Espanyol (kalau ada) harusnya tak usah ditanya soal itu. Memang, kedua klub itu berasal dari Catalunya, sebuah daerah otonom di pinggiran Spanyol, yang kini sedang bersungguh-sungguh ingin merdeka dari negeri matador itu. Bahkan, 1 Oktober lalu, pemerintah di sana menggelar referendum (di Indonesia lumrah disebut coblosan) untuk mengepul suara rakyat: kalian mau merdeka atau tidak?

Sebanyak 90% dari total pemilih, tanpa tedeng aling-aling—tentunya dibarengi dengan ucapan basmalah—mendukung penuh kemerdekaan daerah itu. Maka, bila benar-benar berdaulat, pada pagelaran Piala Dunia selanjutnya dan seterusnya, kita bisa menonton Gerard Pique, Sergio Busquets, Cesc Fabregas dkk bermain dengan jersey garis-garis Catalunya yang mirip parpol itu.

Namun, referendum itu dianggap tidak sah oleh pemerintahan Spanyol sebab angka partisipasi hanya mencapai 43% dari sekitar 7 juta jiwa. Pemerintah tak sedang main-main dalam memperingatkan warga untuk berhenti menyatakan merdeka. Pantas saja, dengan bisikan revolusi yang bikin was-was macam itu, represi aparat kerap digunakan. Bentrokan pun berulang kali terjadi antara aparat dengan warga, hingga seringkali berbuah korban.

Spanyol sampai sekarang—dan selamanya—tak akan pernah berniat melepas daerah ‘emas’ itu. Mafhum, Catalunya menyumbang pendapatan dan devisa negara terbesar pertama (18,8 %), mengalahkan ibukota Madrid (17,6%). Dengan aliran duit yang sangat potensial seperti Meikarta, penulis berani bertaruh negara manapun tidak akan rela melepasnya. Kecuali, satu negara yang pernah kecolongan dua pulau plus satu provinsi yang telah jadi negara….

Warga Catalunya juga ngotot ingin pisah, sebab secara historis dan kultural telah jauh berbeda dengan Spanyol. Sejarah dengan cermat merekam konflik panjang antar Catalunya dan Spanyol, yang di era modern dijewantahkan dalam El Classico—pertandingan sepakbola termahal di dunia. Barcelona digadang-gadang mewakili semangat rakyat Catalan untuk pembebasan, sedang Real Madrid ialah wujud otoritas Spanyol yang arogan.

 

Hari Baik

Terlepas jadi merdeka atau tidak, biasanya Netijen—dengan segala kuasanya itu—akan mulai bersangka-sangka, turut membayangkan tanggal kemerdekaan bagi Catalunya. Seandainya saja warga Catalan tak naif, bisa saja mereka iseng-iseng browsing di internet tentang hari baik untuk mengadakan referendum atau proklamasi sekalian.

Bahkan, kalau mau sedikit repot, warga Catalan bisa tanya-tanya wong Jowo soal penentuan hari baik macam lamaran, nikah, pindah rumah, cari kerja, sunatan, tes ELPT dan segenap hajatan lain. Biasanya mereka memakai sistem weton atau penanggalan yang membagi hari jadi lima: legi, pahing, pon, wage, kliwon. Sistem ini umum digunakan untuk tanda kelahiran seseorang, sekaligus ramalan nasib baik-buruk.

Dalam penentuan hari, masyarakat Jawa juga menggabungkan weton ke penanggalan yang lebih modern. Lima hari itu disandingkan dengan Senin-Minggu ala Masehi. Sehingga, pengucapannya akan lebih mudah dipahami, seperti Senin Legi, Rabu Pahing, Jumat Kliwon. Plus, perayaan hari ulang tahun (baca: weton) versi tradisional ini lebih cepat, yakni tiap 35 hari sekali.

Berikut adalah beberapa rekomendasi hari agar Carles Puigdemont, pemimpin Catalan, punya pilihan bila sewaktu-waktu jadi merdeka:

Senin Wage, agar negara bisa memiliki laju pertumbuhan yang josh. Wage atau ­age-age berarti ‘cepat-cepatlah!’. Ditambah, Senin adalah saat di mana semangat buruh pekerja telah pulih dari libur akhir pekan.

Minggu Legi, sebab tiada hari kemerdekaan yang lebih baik dibanding digelar di hari Minggu. Asyiknya lagi, legi bisa melambangkan suatu kenangan yang manis.

Jumat Kliwon, biar terdengar seram bagi negara-negara lain.

Selain itu, tanggal kemerdekaan juga bisa dihitung 35 hari sejak hari ulang tahun Spanyol. Mbok ya, supaya terkesan tidak durhaka. Atau, coba pilih dari salah satu tanggal ultah pemain Barcelona—tentunya jangan orang Argentina itu, bisa-bisa tidak sesuai dengan visi negara yang berdikari.

Atau, ada baiknya para pemimpin Catalan itu langsung berkunjung ke Jawa, mencari tetua yang masih hafal sistem weton.

Aduh, untuk sistem kalender macam itu jangan cari di sini. Penulis takut tulisan ini jadi bid’ah…

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Perlunya Studi Banding dengan Oppa Seungri 0 274

Oleh: Michelle Florencia*

Sebelumnya, tulisan ini bukan untuk membela Seungri ‘BIGBANG’. #sekadarmengingatkan.

Sekitar tiga atau dua bulan terakhir ini, K-Popers generasi dua (sing wis rodok tuek) pasti sedang sibuk menonton the real-life Korean drama yang sungguh membikin syok sekaligus miris. Apalagi kalau bukan drama skandal salah satu personel boygroup ‘BIGBANG’, Seungri?

Member termuda ini terlibat dalam skandal suap, peredaran narkoba di dalam klub malam Burning Sun, kekerasan, pelecehan seksual, lobi investor dengan jasa escorts, hingga kabarnya ia juga nyambih jadi germo.

Pada awalnya, masih banyak fans yang memberi dukungan pada Seungri untuk tetap kuat kala menghadapi masalah ini (termasuk saya). Apalagi, Seungri berjanji akan kooperatif menjalani pemeriksaan. Namun, semakin dikupas, semakin terlihat boroknya. Rupanya kasus ini tak sesepele yang saya kira.

Kalau pembaca yang budiman membaca isi grup chat Seungri dan kawan-kawan di Kakao Talk, sungguh biadab apa yang mereka lakukan kepada para perempuan muda yang dijadikan alat pemuas hasrat seksual mereka. Tak heran bila saat ini, Seungri menjadi manusia paling dibenci di Korea Selatan dan di-bully habis-habisan oleh netijen, terutama netijen Korea yang terkenal jahanamnya.

Seperti sewajarnya manusia normal yang terkena masalah–apalagi menjadi pemberitaan di seantero bumi–Seungri tampil di publik dengan wajah pucat dan terlihat ketakutan. Seungri yang biasanya cerewet, kini hanya berbicara seadanya. Saat pria yang dijuluki ‘Panda’ ini berada di kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan, ia meminta maaf atas keributan yang ia buat. Meski secara implisit ia membela dirinya tak bersalah, ia mengatakan akan kooperatif untuk membantu polisi menyelesaikan kasus ini.

Terlepas tulus tidaknya, setidaknya Seungri masih tahu diri. Sesuai dengan judul yang diharapkan click-bait ini, mari kita bandingkan Seungri dengan para manusia kulit tebal berrompi oranye, alias tersangka KPK.

Janganlah ngarep mereka mengatakan mau kooperatif dalam penyidikan, malu saja tidak! Eh, malah cengengesan dan ngaku-ngaku dizolimi. Yang paling ekstrem, ada yang sampai produksi drama nabrak tiang listrik dengan benjol segede bakpao Chik-Yen (iku benjol opo tumor?). Saya rasa tak usah disebut namanya, toh para pembaca pasti otomatis tahu yang saya maksud ini Setya Novanto.

Kalau Seungri, beberapa minggu setelah kemunculannya di kantor polisi, dikeluarkannyalah sebuah berita yang mengguncang cakrawala dunia maya. Lewat akun Instagram pribadinya, ia mengumumkan mundur dari industri hiburan. Alasannya pensiun dari dunia yang membesarkan namanya itu tak lain, tak bukan, dan memang benar karena mega-skandalnya. Bahkan, rumor yang beredar, ia bukan secara sukarelawan keluar dari dunia hiburan, namun dikeluarkan oleh agensinya, YG Entertainment. Terlepas sukarela atau dipecat, setidaknya Seungri menampilkan dirinya di depan publik sebagai sosok yang tahu diri.

Sungguh mahaironis dengan yang terjadi di negara kita yang masih ber-flower alias berkembang ini. Apabila Seungri cabut dari karirnya sebagai artis lantaran sadar bahwa dosanya tak terampuni, eh lah kok mantan napi korupsi Endonesah malah dengan pedenya nyaleg? Ditandatangani pula oleh ketua partai.

Bahkan, meskipun ICW (Indonesia Corruption Watch) sudah mengumumkan daftar nama para mantan napi, dan netijen juga sudah bereaksi—perlu diingat, netijen Indonesia hampir sama jahanamnya dengan netijen Korea—tak satupun dari mereka ada yang malu dan mundur nyaleg! Alemong!

Memang KPU tidak membuat peraturan yang melarang mantan napi nyaleg, tapi ini masalah malu dan tahu diri, coy! Kalau Prabowo and the gang teriaknya Indonesia krisis keuangan, sesungguhnya, yang lebih darurat kita hadapi ini krisis malu dan tahu diri!

Bayangkan, bagaimana bisa mereka tahu tugas sebagai anggota legislatif kalau diri saja tidak tahu? Apa ‘malu’ dan ‘tahu diri’ sudah digadaikan untuk mencari modal politik? Mohon presiden berikutnya mengimpor malu, jika berkenan, karena realitanya pejabat kita masih banyak yang kekurangan stok malu.

Asu-dahlah, saya akhiri saja ke-julid-an ini. Sebab kalau dilanjutkan, eyke takut tercyduq polisi dengan bekal tuduhan UU ITE. Gitu, shay

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Surat Terbuka untuk Kamuh yang Anti Incess Syahrini 0 289

Sebagai tim pembela Syahrini yang fanatik, akhirnya saya toh harus angkat bicara. Saya tak punya kalimat pembuka yang paling kuat selain manifesto ini: kamuh-kamuh yang dibeking Luna Maya itu sudah melakukan penistaan kelas berat kepada Princess kami!

Bagaimana mungkin cinta Princess diatur-atur? Bukankah Aa Reino Barack sudah memberi komitmennya kepada Incess kami dan bukan Luna Maya[k]?

Sini, kuberitahu pelajaran berharga dan prinsip nomor satu: manusia tak punya kekuatan barang sedikitpun untuk menyetir cinta sesamanya. Tak pernah ada agama yang berani memasang badan untuk sebuah keyakinan atas Tuhan yang melepaskan diri dari tanggung jawab atas perasaan dan hati umatnya. Bahkan Habibana Rizieq saja, di masa belio masih sehat dan bebas (ehem), tak pernah menggugat soal ini.

Oh ya, lupa, tapi ini dengan asumsi bahwa ikatan Syahrini-Reino sungguh karena cinta loh yaa. Dan tentu saja saya harus yakin bahwa cinta mereka sungguhlah ada dan bukan sekadar rupiah belaka. BUKAN SEKADAR.

Sudahlah, mending situ kembali ke habitat nggak mutu dan ekosistem receh yang sudah situ hidupi bertahun-tahun. Dari orang-orang macam ini, yang hidupnya Senin-Kemis itu, apa kapasitasnya mengomentari—apalagi menista—junjungan kami Fatimah Syahrini Jaelani yang termasyhur? Hidupnya berantakan kok berani-berani menakar kadar cinta idola? Apakah mereka tak pernah menghayati lagu “Sesuatuuuuu” yang sungguh populer di kalangan [k]anak muda itu?

Telah terpampang nyata dalam khatulistiwa perasaan seluruh umat Indonesia bahwa Incess adalah salah seorang yang amat berpengaruh. Dan pengaruh itu merentang sampai pada bagaimana kita menyibukkan diri dalam menolak atau membelanya. Merepotkan diri dalam nyinyir dan puja-puji. Seperti surat terbuka ini…

(Surat ini dibuka dengan gairah menyala tapi ditutup dengan loyo… Sudahlah, namanya juga hidup: antara pesona dan derita kadang beda tipis bingit).

 

Salam hangat,

dari pemuja Syahrini di suatu sore yang murungnya mewakili hati Luna Maya. (Bingung yo ben.)

Editor Picks