Mengabdikan Selera untuk ‘Pengabdi Setan’?

Sudah pasti ini film yang kini paling diburu. Bukan saja karena warga di sini doyan menenggak film-film horor, tetapi juga karena gempita promosi dan cerlangnya reputasi Joko Anwar sebagai sutradara.

Ini film remake, dan rasanya penonton masa kini belum pernah menonton film aslinya di tahun 1980.

Penulis menangkap kecerdasan dalam pilihan remake ini. Pengabdi Setan dalam zamannya adalah film yang sanggup meluruskan jalan hidup penulis yang sering belok-belok ini: mendorong kebutuhan untuk shalat. Apalagi dalam adegan-adegan Him Damsyik yang terkenang tiap menjelang bobo’.

Kalau tak ingin mbun-mbunan dicucup dhemit, shalatlah (kadang mantera tag line ini terdengar asu sekali. Tapi manjur!). Versi Joko Anwar sebelas dua belas. Ada dilema moral yang diajukan untuk mengobati situasi perdhemitan dengan agama.

Kedua versi film bertitik-tolak dari kesamaan peristiwa: keluarga yang tak religius, dan keberjarakannya dengan persentuhan agama. Mungkin pada saat yang sama hendak dikatakan juga, bahwa kita telah tiba pada suatu periode sekularisasi—ra sholat ra popo sing penting aku numpak Ninja. Dari sini plot dibangun, dan kengerian diruapkan.

Saya tak tahu apakah Joko Anwar bermaksud menyindir soal sekularisasi ini pada konteks sekarang, ketika orang makin sadar bahwa urusan agama tak boleh diatur siapapun. Atau, ia bergerak lebih jauh dengan mempermainkan ide ketaatan beragama (mungkin juga fanatisme) yang masih juga gagal dalam menyelesaikan soal-soal hidup modern.

Itu mungkin sebab mengapa Pengabdi Setan menaifkan diri dengan ide klasik bahwa agamalah pegangan yang diandalkan demi menyelesaikan segala soal, bahkan mayat hidup sekalipun. Suatu kenaifan yang sesungguhnya tak termaafkan.

Setting film ini adalah keluarga dengan ekonomi mampu. Kesan pilihan baju, tatanan artistik, dan atribut lain, memang mencirikan sentimen kehidupan Eropa yang kental. Pembaca mungkin terheran mengapa begini? Mungkin juga karena harus ada penekanan yang meyakinkan tentang modernitas, agar nanti bisa dibenturkan telak-telak dengan agama.

Harus ada lawan sepadan yang membuat kehadiran agama menjadi penting, dan perlawanannya dengan setan menjadi enak ditonton. Urusan gaib dan relasinya dengan agama, Indonesia jagonya. Tentang ini bolehlah membaca buku lama Clifford Geertz tentang mitos Jawa dalam Religion of Java.

Tapi seperti biasa, kelemahan film-film Indonesia adalah mutu akting. Celah ini terjadi lagi pada kegagapan aktor-aktris mengeksekusi peran. Kekakuan bicara, tonasi suara, dan artikulasi dialog sering patah karena mereka diminta untuk bicara dengan gaya wong lawas. Ekspresi dingin dan suara yang dalam juga kurang mantap.

Lubang ini ditutup oleh sinematografi yang baik. Wajar saja sebetulnya, mengingat kita telah tiba di zaman baru dengan teknologi baru dan pendidikan sinematografi yang lebih baik. Ini bukan sikap pelit apresiasi, tapi memang sudah nasibnya begitu. Apalagi kalau bicara ongkos produksi (konon 5 miliar). Sudah pasti semua nominal bejibun itu ditarget habis dengan hasil mutu gambar yang baik.

Hal lain: pemerannya terlalu ganteng dan terlalu cantik!

Ini kelemahan mendasar sekali. Coba beri daftar dan deretkan di film mana di Indonesia ini yang aktor-aktrisnya tak ganteng dan jauh dari definisi cantik?

Oke, bolehlah pembaca berkelit, “tapi ganteng cantik kan relatif”. Tapi kalau ada yang ngomong bahwa Tara Basro dan Ayu Laksmi jelek, mbulak, dan punya dapuran ajur, tentu tak juga bisa diterima.

Film-film lain Joko Anwar memang acapkali menyembunyikan kurangnya mutu akting lewat penggunaan aktor-aktris rupawan.

Apapun kelemahannya, industri film hari ini hanya mengabdi pada selera. Setan paling seram di layar teater kita hanya bisa dibunuh secara harfiah oleh selera. Kalau kita tak suka nonton, pocong, genderuwo, dalbo, danyang, tuyul, bisa apa? Rapi film dan Ram Punjabi arep lapo?

Kita-lah sesungguhnya yang ditakuti oleh setan-setan itu. Oleh sutradara dan aktor-aktris tampan itu. Lha, tuhan dalam industri liberal, kan selalu dalam wujud pasar. Dan itu rupa kita semua.