Mengabdikan Selera untuk ‘Pengabdi Setan’? 4 12291

Sudah pasti ini film yang kini paling diburu. Bukan saja karena warga di sini doyan menenggak film-film horor, tetapi juga karena gempita promosi dan cerlangnya reputasi Joko Anwar sebagai sutradara.

Ini film remake, dan rasanya penonton masa kini belum pernah menonton film aslinya di tahun 1980.

Penulis menangkap kecerdasan dalam pilihan remake ini. Pengabdi Setan dalam zamannya adalah film yang sanggup meluruskan jalan hidup penulis yang sering belok-belok ini: mendorong kebutuhan untuk shalat. Apalagi dalam adegan-adegan Him Damsyik yang terkenang tiap menjelang bobo’. Kalau tak ingin mbun-mbunan dicucup dhemit, shalatlah (kadang mantera tag line ini terdengar asu sekali. Tapi manjur!). Versi Joko Anwar sebelas dua belas. Ada dilema moral yang diajukan untuk mengobati situasi perdhemitan dengan agama.

Kedua versi film bertitik-tolak dari kesamaan peristiwa: keluarga yang tak religius, dan keberjarakannya dengan persentuhan agama. Mungkin pada saat yang sama hendak dikatakan juga, bahwa kita telah tiba pada suatu periode sekularisasi—ra sholat ra popo sing penting aku numpak Ninja. Dari sini plot dibangun, dan kengerian diruapkan.

Saya tak tahu apakah Joko Anwar bermaksud menyindir soal sekularisasi ini pada konteks sekarang, ketika orang makin sadar bahwa urusan agama tak boleh diatur siapapun. Atau, ia bergerak lebih jauh dengan mempermainkan ide ketaatan beragama (mungkin juga fanatisme) yang masih juga gagal dalam menyelesaikan soal-soal hidup modern. Itu mungkin sebab mengapa Pengabdi Setan menaifkan diri dengan ide klasik bahwa agamalah pegangan yang diandalkan demi menyelesaikan segala soal, bahkan mayat hidup sekalipun. Suatu kenaifan yang sesungguhnya tak termaafkan.

Setting film ini adalah keluarga dengan ekonomi mampu. Kesan pilihan baju, tatanan artistik, dan atribut lain, memang mencirikan sentimen kehidupan Eropa yang kental. Pembaca mungkin terheran mengapa begini? Mungkin juga karena harus ada penekanan yang meyakinkan tentang modernitas, agar nanti bisa dibenturkan telak-telak dengan agama. Harus ada lawan sepadan yang membuat kehadiran agama menjadi penting, dan perlawanannya dengan setan menjadi enak ditonton. Urusan gaib dan relasinya dengan agama, Indonesia jagonya. Tentang ini bolehlah membaca buku lama Clifford Geertz tentang mitos Jawa dalam Religion of Java.

Tapi seperti biasa, kelemahan film-film Indonesia adalah mutu akting. Celah ini terjadi lagi pada kegagapan aktor-aktris mengeksekusi peran. Kekakuan bicara, tonasi suara, dan artikulasi dialog sering patah karena mereka diminta untuk bicara dengan gaya wong lawas. Ekspresi dingin dan suara yang dalam juga kurang mantap.

Lubang ini ditutup oleh sinematografi yang baik. Wajar saja sebetulnya, mengingat kita telah tiba di zaman baru dengan teknologi baru dan pendidikan sinematografi yang lebih baik. Ini bukan sikap pelit apresiasi, tapi memang sudah nasibnya begitu. Apalagi kalau bicara ongkos produksi (konon 5 miliar). Sudah pasti semua nominal bejibun itu ditarget habis dengan hasil mutu gambar yang baik.

Hal lain: pemerannya terlalu ganteng dan terlalu cantik!

Ini kelemahan mendasar sekali. Coba beri daftar dan deretkan di film mana di Indonesia ini yang aktor-aktrisnya tak ganteng dan jauh dari definisi cantik?

Oke, bolehlah pembaca berkelit, “tapi ganteng cantik kan relatif”. Tapi kalau ada yang ngomong bahwa Tara Basro dan Ayu Laksmi jelek, mbulak, dan punya dapuran ajur, tentu tak juga bisa diterima. Film-film lain Joko Anwar memang acapkali menyembunyikan kurangnya mutu akting lewat penggunaan aktor-aktris rupawan.

Apapun kelemahannya, industri film hari ini hanya mengabdi pada selera. Setan paling seram di layar teater kita hanya bisa dibunuh secara harfiah oleh selera. Kalau kita tak suka nonton, pocong, genderuwo, dalbo, danyang, tuyul, bisa apa? Rapi film dan Ram Punjabi arep lapo?

Kita-lah sesungguhnya yang ditakuti oleh setan-setan itu. Oleh sutradara dan aktor-aktris tampan itu. Lha, tuhan dalam industri liberal, kan selalu dalam wujud pasar. Dan itu rupa kita semua.

 

Previous ArticleNext Article

4 Comments

    1. Boleh juga disebut begitu, mas Indra. Meski menurutku bahasa reboot lebih bermakna merendah. Anyway, kuundang kamu menulis.

  1. saya kok kurang sreg ya dibilang agama menjadi penyelesaian masalah di film PS 2017 ini… lhawong ada tokoh ustadz yg ndak berkontribusi apapun. malah mati untuk sebab yg tak jelas. ini jadi beda dgn semangat religius di film tahun 1980. malah menurut saya, film ini tidak menjual aspek cerita. film ini cuma jualan aspek teror yg memang keren banget dibanding film2 horor selama ini.

    1. Ya betul tak berkontribusi. Tp tetap film ini mengajukan pola lama dikotomi agama dan dhemit. Ini tetaplah titik tolak yg repetitif, kendatipun pak ustad modyar juga akhirnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan Mengapa Dilan dan Milea Memang Harus Putus 0 804

PERINGATAN: Analisis quasi-baper ini sedikit-banyak memuat sepoiler!

Baru hari pertama rilis, film Dilan 1991 sudah diserbu 800 ribu penonton. Dari pengamatan penulis, rasio penggemar Dilan ini merata di semua kalangan. Mulai dari pasangan kasmaran yang ingin madakno rupo, siswi-siswi gemes berseragam pramuka, segerombol pria dewasa yang diduga ingin berguru gombalan cinta dari Dilan, hingga mahasiswa proletar yang cari promo diskonan tiket bioskop seperti saya.

Eits, di tulisan kali ini, tenang aja, penulis tidak akan menghujat film seperti yang lalu (Baca: Jangan Nonton Dilan, Berat!). Toh sebenarnya kami sebagai tim redaksi Kalikata ini suangat suayang sama Dilan. Kami kagum betul dengan frasa “rindu itu berat” ala pemimpin geng motor itu, menjadikannya panutan dan referensi di kala buntu mau nulis kalimat apa lagi hehe.

Sesungguhnya, film Dilan 1991 ini sepintas memang terlihat remeh-temeh, menceritakan kisah cinta anak remaja yang tidak peduli berapa banyak uang rakyat yang dimakan Mbah Harto maupun pemberontakan Somalia yang tengah membara. Maklum, anak milenial seperti kita begini mana ngerti masa pacaran via telepon. Namun, jika kita mau, film ini sesungguhnya bisa jadi bahan diskusi yang menarik.

Selepas menonton, penulis mencoba membuka diskusi dengan pertanyaan: Jadi siapa yang bener, Milea atau Dilan? Ada yang menjawab Milea, tapi belum ada yang jadi #teamDilan. Berikut ini jabarannya.

Film ini bermula dengan kondisi seusai Dilan memproklamasikan hari jadiannya dengan Milea, sebagaimana diceritakan pada pilem pertama dengan latar tempat warung Bi E’em. Adegan-adegan boncengan motor hujan-hujanan tanpa helm, bincang malu-malu lewat sambungan telepon, hingga kejadian penuh pertengkaran dan cucuran air mata semua ada. Lengkap bin komplit.

Bandelnya Dilan dengan geng motornya juga masih tidak beranjak dari tubuhnya. Hal inilah yang kemudian menimbulkan konflik antara dua sejoli ini.

Kita pasti setuju Milea berlaku benar rasional dengan tindakannya melarang Dilan terlibat dalam geng motor. Sebab tidak hanya nongkrong di pinggir jalan dengan mogenya, geng Dilan ini termasuk yang aktif melakukan balas dendam dan suka perkelahian layaknya netizen di linimasa. Sebagai pacar yang baik dan lembut hatinya, sudah barang pasti melindungi keselamatan jiwa sang kekasih. Apalagi Dilan sampai dua kali tertangkap polisi, dan seorang teman gengnya bahkan meninggal dunia karena dikeyorok.

Namun, Dilan juga dalam posisi yang menang ketika ia memilih tidak lagi menjalin kasih dengan Milea karena merasa dikekang. Geng motor adalah passion, hobi sehidup semati yang harus dan tetap melekat dengan Dilan, baik dengan atau tanpa Milea. Pacar mana yang mau dijauhkan dari hal-hal yang disukainya?

Lantas, siapa yang patut dipersalahkan di antara mereka berdua?

Menurut hemat penulis, Dilan dan Milea memang sebaiknya putus saja. Apa yang terjadi di film Dilan 1991 ini seharusnya jadi teladan bagi kita semua. Milea memang sebaiknya memilih laki-laki seperti Mas Herdin: pria gagah, pekerja kantoran dengan gaji yang menjanjikan, berpenampilan rapi, sopan santun dan beretika, serta bukan anggota geng motor yang terancam hilang dan tertembak secara misterius. Sementara Dilan memang tidak pantas mendapatkan Milea yang tidak bisa diajak beradu gombal atau melempar kalimat lucu-lucu ketika suasana per-geng-motor-an sedang genting.

Kita adalah Milea ketika tidak mau dengar pendapat orang sekitar tentang pacar kita. Dilan itu cowok terbaik di dunia, cerdas walau cadas, setia walau jahil adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kita adalah Dilan ketika kita lebih sibuk jatuh cinta dengan fisik dan mudah mengumbar puisi janji ketimbang menguji keyakinan diri terhadap pasangan.

Dilan dan Milea adalah kita semua. Kadang kita jatuh cinta setengah mati hingga tidak bisa menyebutkan alasan mengapa kita mencintai pasangan. Kadang kita terlalu kesemsem dengan kondisi yang sudah serba nyaman. Kita lengah hanya gara-gara kondisi latar belakang keluarga yang sama agama, suku, budaya, dan ekonominya. Padahal, yang tidak kalah penting adalah keserasian pemikiran dan visi-misi di antara berdua yang menjalani hubungan. Kesamaan frame of reference dan field of experience hendaknya jadi pertimbangan utama.

Jadi, alasan mengapa Dilan dan Milea harus putus adalah karena mereka tidak saling cocok. Hendaknya kita semua berhenti meminta mereka berdua rujuk, apalagi mengajukan kampanye #saveDilanMilea.

Omelan-omelan Baru Berkat ‘Aquaman’ 0 301

Kemarin akhirnya penulis menaati sihir-sihir netizen untuk segera menonton film terbaik sepanjang sejarah DC Comics, Aquaman. Nyatanya, dalam 143 menit kita disajikan paduan gambar serba apik garapan Warner Bross Pictures di tangan sutradara yang tepat, James Wan. Petualangan bersama manusia amfibi nan gondrong ini tidak langsung dihadirkan lewat adegan berantem pake ototnya, yang serba bikin hati mbak-mbak gemes dagdigdug gak karuan. Bahkan jauh sebelum itu, cerita dimulai dari Arthur Curry, si tokoh utama, dalam tahapan belum sama sekali terencana di benak kedua orang tuanya.

Kali ini, penulis tidak punya cukup amunisi untuk ngomeli film ini. Pertama, karena penulis takut dihajar fans berat DC Extended Universe. Kedua, karena nyatanya film ini menghibur banget, walaupun mudah dilupakan sepulang keluar dari pintu Exit gedung bioskop lantaran formulasi film hero yang ya-gitu-itu (loh kok sidone ngomel?).

Penulis cukup memberikan satu alasan besar mengapa kamu harus nonton film ini. Tidak lain tidak bukan, adalah supaya cukup menampar kamu dengan kebiasaan yang acuh tak acuh dengan kondisi bumi dan lingkungan. Hehe.

Alkisah Arthur Curry adalah putra sulung Atlanna, Ratu Atlantis, hasil dari perkawinan silang dengan manusia biasa akibat kabur dari perjodohan. Tapi pada akhirnya laut tetap menjemput dan pernikahan yang semestinya tetap terjadi. Lahirlah putra kedua, Orm, yang pada masa mendatang berambisi menjadi penguasa lautan, menyatukan berbagai kerajaan untuk melawan manusia daratan. Alasannya satu, karena bangsa manusia yang terus-terusan mencemari laut. Hmm kon. Ya opo gak kesindir awakmu?

Untuk menyegarkan ingatan kita bersama, Indonesia sebagai negara mayoritas lautan digadang-gadang sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. Bahkan Indonesia sudah dapat berbagai macam sempritan kecaman dari mana-mana.

Sebuah penelitian oleh Indonesia, Amerika Serikat, Australia, dan Kanada menunjukkan 26 bagian per 100 meter persegi terumbu karang Indonesia tercemar limbah plastik. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat sampah plastik yang dihasilkan rakjat mencapai 24.500 ton per hari.Sampeyan semua tahu kan, kalau sampah plastik butuh lebih dari 20 tahun untuk akhirnya benar-benar terurai? 79% dari jumlah itu hanya berakhir di TPA. 80% ikan terkontaminasi sekitar 8-9 biji kecil-kecil plastik. Plastik-plastik itu kemudian turut memercepat kematian penyu sebesar 50%.

Pertanyaannya, kok bisa sampai separah ini kondisi persampahan di laut Indonesia?

Jawabnya sederhana, karena konsumsi produk berkemasan plastik, terutama dari food and beverage–karena orang kita suka makan kali ya–yang terlalu buanyak di daratan ini. Kedua, karena ya begonya kita aja suka buang sampah di kali, pantai, atau laut.

Segala usaha sebenarnya sudah dilakukan pemerintah kita. Pernah ingat kan di awal 2016 ketika keramahan mbak-mbak minimarket berubah menjengkelkan dengan pertanyaan plus-plus ‘Pakai kantong kresek bayar 200 rupiah ya kak?’, selain ‘Nambah pulsanya sekalian?’ atau ‘Kuenya lagi promo beli dua gratis satu’. Peraturan dari KLHK itu bertahan tidak lebih lama dari hubunganmu dengan arek’e, sekitar tiga bulan saja. Pun sama tragisnya dengan pelajaran lingkungan hidup di sekolah, yang membuat sekolah rela beli tiga macam tong sampah supaya siswanya belajar memilah sampah. Ketika sampai di TPA, ya semua nyampur jadi satu.

Sampai akhirnya, muncullah solusi baru, yaitu peniadaan sedotan plastik di berbagai resto fast food. Peluang ini dilihat betul dengan menghadirkan mahakarya stainless steel straw, yang penggunaannya kerap kali dipamerkan arek-arek di story Instagram mereka biar kelihatan kayak aktivis lingkungan. Sedotan logam yang harganya bervariasi mulai dari belasan hingga puluhan ribu rupiah itu katanya tidak mengandung BisphenoIA (BPA) yang biasa terkandung di sedotan plastik, sehingga mengurangi resiko kegagalan reproduksi, diabetes, dan serangan jantung.

Selain menawarkan kesehatan dan reuseable-ness, sedotan logam ini akhirnya mulai mewabah, menjelma jadi tren kekinian. Jika pembaca adalah penggemar berat sedotan ini lantaran cinta pada Fishermen, Trench, Brine, dan kawan-kawannya, penulis hargai betul. Yang patut dicurigai adalah yang punya motif-motif lain. Misalnya, karena rasa terpaksa akibat setarbak dan mekdi mengeluarkan produk gelas langsung cucup. Ya sudah kan, akhirnya berpasrah lagi kita pada produk-produk kapitalis ini.Penulis juga makin curiga, film Aquaman ini pada akhirnya bisa dimanfaatkan untuk soft selling buat stainless straw, meningkatkan awareness dan menyasar conviction konsumen. Sayangnya, kita terjebak dengan perasaan seakan-akan telah turut berpartisipasi dalam kampanye ‘say no to plastic’ di balik gelas-gelas teh cantik dan kopi manja dengan paduan elemen stainless straw dan sedikit effort untuk menjadikannya Instagramable. Ya, penulis berdoa semoga tidak.

Anyway, film Aquaman ini menurut hemat penulis setidaknya turut melanggengkan plot favorit perfilman yang kudu banget pakai formula konflik cinta terlarang. Film ini turut menghidupkan imajinasi jombloers di luar sana, berharap bujang lapuk yang kesepian di tepian ombak tiba-tiba dapet rejeki wanita cantik yang terdampar. Doa baik penulis untukmu, semoga scene serupa terjadi atas kita semua, dan tidak ada lagi diksi ‘cinta terlarang’, baik di dunia manusia darat maupun perairan, hiks.

Editor Picks