Mengabdikan Selera untuk Pengabdi Setan? 4 6229

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Sudah pasti ini film yang kini paling diburu. Bukan saja karena warga di sini doyan menenggak film-film horor, tetapi juga karena gempita promosi dan cerlangnya reputasi Joko Anwar sebagai sutradara.

Ini film remake, dan rasanya penonton masa kini belum pernah menonton film aslinya di tahun 1980.

Penulis menangkap kecerdasan dalam pilihan remake ini. Pengabdi Setan dalam zamannya adalah film yang sanggup meluruskan jalan hidup penulis yang sering belok-belok ini: mendorong kebutuhan untuk shalat. Apalagi dalam adegan-adegan Him Damsyik yang terkenang tiap menjelang bobo’. Kalau tak ingin mbun-mbunan dicucup dhemit, shalatlah (kadang mantera tag line ini terdengar asu sekali. Tapi manjur!). Versi Joko Anwar sebelas dua belas. Ada dilema moral yang diajukan untuk mengobati situasi perdhemitan dengan agama.

Kedua versi film bertitik-tolak dari kesamaan peristiwa: keluarga yang tak religius, dan keberjarakannya dengan persentuhan agama. Mungkin pada saat yang sama hendak dikatakan juga, bahwa kita telah tiba pada suatu periode sekularisasi—ra sholat ra popo sing penting aku numpak Ninja. Dari sini plot dibangun, dan kengerian diruapkan.

Saya tak tahu apakah Joko Anwar bermaksud menyindir soal sekularisasi ini pada konteks sekarang, ketika orang makin sadar bahwa urusan agama tak boleh diatur siapapun. Atau, ia bergerak lebih jauh dengan mempermainkan ide ketaatan beragama (mungkin juga fanatisme) yang masih juga gagal dalam menyelesaikan soal-soal hidup modern. Itu mungkin sebab mengapa Pengabdi Setan menaifkan diri dengan ide klasik bahwa agamalah pegangan yang diandalkan demi menyelesaikan segala soal, bahkan mayat hidup sekalipun. Suatu kenaifan yang sesungguhnya tak termaafkan.

Setting film ini adalah keluarga dengan ekonomi mampu. Kesan pilihan baju, tatanan artistik, dan atribut lain, memang mencirikan sentimen kehidupan Eropa yang kental. Pembaca mungkin terheran mengapa begini? Mungkin juga karena harus ada penekanan yang meyakinkan tentang modernitas, agar nanti bisa dibenturkan telak-telak dengan agama. Harus ada lawan sepadan yang membuat kehadiran agama menjadi penting, dan perlawanannya dengan setan menjadi enak ditonton. Urusan gaib dan relasinya dengan agama, Indonesia jagonya. Tentang ini bolehlah membaca buku lama Clifford Geertz tentang mitos Jawa dalam Religion of Java.

Tapi seperti biasa, kelemahan film-film Indonesia adalah mutu akting. Celah ini terjadi lagi pada kegagapan aktor-aktris mengeksekusi peran. Kekakuan bicara, tonasi suara, dan artikulasi dialog sering patah karena mereka diminta untuk bicara dengan gaya wong lawas. Ekspresi dingin dan suara yang dalam juga kurang mantap.

Lubang ini ditutup oleh sinematografi yang baik. Wajar saja sebetulnya, mengingat kita telah tiba di zaman baru dengan teknologi baru dan pendidikan sinematografi yang lebih baik. Ini bukan sikap pelit apresiasi, tapi memang sudah nasibnya begitu. Apalagi kalau bicara ongkos produksi (konon 5 miliar). Sudah pasti semua nominal bejibun itu ditarget habis dengan hasil mutu gambar yang baik.

Hal lain: pemerannya terlalu ganteng dan terlalu cantik!

Ini kelemahan mendasar sekali. Coba beri daftar dan deretkan di film mana di Indonesia ini yang aktor-aktrisnya tak ganteng dan jauh dari definisi cantik?

Oke, bolehlah pembaca berkelit, “tapi ganteng cantik kan relatif”. Tapi kalau ada yang ngomong bahwa Tara Basro dan Ayu Laksmi jelek, mbulak, dan punya dapuran ajur, tentu tak juga bisa diterima. Film-film lain Joko Anwar memang acapkali menyembunyikan kurangnya mutu akting lewat penggunaan aktor-aktris rupawan.

Apapun kelemahannya, industri film hari ini hanya mengabdi pada selera. Setan paling seram di layar teater kita hanya bisa dibunuh secara harfiah oleh selera. Kalau kita tak suka nonton, pocong, genderuwo, dalbo, danyang, tuyul, bisa apa? Rapi film dan Ram Punjabi arep lapo?

Kita-lah sesungguhnya yang ditakuti oleh setan-setan itu. Oleh sutradara dan aktor-aktris tampan itu. Lha, tuhan dalam industri liberal, kan selalu dalam wujud pasar. Dan itu rupa kita semua.

 

Previous ArticleNext Article

4 Comments

    1. Boleh juga disebut begitu, mas Indra. Meski menurutku bahasa reboot lebih bermakna merendah. Anyway, kuundang kamu menulis.

  1. saya kok kurang sreg ya dibilang agama menjadi penyelesaian masalah di film PS 2017 ini… lhawong ada tokoh ustadz yg ndak berkontribusi apapun. malah mati untuk sebab yg tak jelas. ini jadi beda dgn semangat religius di film tahun 1980. malah menurut saya, film ini tidak menjual aspek cerita. film ini cuma jualan aspek teror yg memang keren banget dibanding film2 horor selama ini.

    1. Ya betul tak berkontribusi. Tp tetap film ini mengajukan pola lama dikotomi agama dan dhemit. Ini tetaplah titik tolak yg repetitif, kendatipun pak ustad modyar juga akhirnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masih Ada Amerika di Wakanda 0 323

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Tulisan ini adalah untuk mengulas bagaimana buah pikir penulis terhadap Wakanda land yang (baju kokonya) jadi gandrungan baru masyarakat dunia pecinta film. Tulisan ini sengaja dituliskan justru setelah euforia sudah berlalu, supaya ulasan ini tidak jadi spoiler bagi kawan-kawan pembaca nan budiman (alasan tok, ngomong wae gak mood nulis).

Kemunculan people colored dalam berbagai karakter film jebolan negeri Paman Sam akhir-akhir ini memberi kita harapan baru bahwa keterbukaan serta kesetaraan semakin nyata. Marvel yang seluruh pahlawannya berkulit putih, rambut pirang, hidung mancung, dan mata biru – atau gampangnya disebut orang Indonesia sebagai bule – kini berani menampilkan T’Challa alias Black Panther sebagai pahlawan asal Afrika.

Tentu usaha mengangkat harkat martabat dunia ketiga ke permukaan layar lebar ini mengundang sambutan baik dari umat manusia (mboh umat seng endi). Terutama dalam film dengan rate 7.8/10 IMDb dan menguasai Box Office Amerika Serikat ini, unsur Afrika dan figur orang kulit hitam dengan segala kebudayaannya sungguh terasa kental. Mulai dari seluruh aktornya – pun masih menyisakan satu lakon Amerika yang jadi pupuk bawang – latar tempat, pakaian, bahasa, musik, hingga font yang digunakan sepanjang film. Semuanya membawa kita seakan-akan percaya dibawa tenggelam dalam budaya asli benua yang dicap termiskin di dunia itu.

Sepintas, kita tentu memuji-muji Amerika atas keberaniannya mengekspos Afrika ke media, suatu tindakan yang selama ini mustahil. Kita dimanjakan dengan tayangan yang berbeda sama sekali, mengentaskan kita atas tuduhan film Amerika yang monoton. Kita puas dan tak mampu beranjak dari kursi penonton hingga dua trailer setelah credit title usai ditampilkan di bioskop – membuat mas-mas petugas bioskop menunggui kita dengan tatapan harap untuk segera angkat kaki. Tapi, who the hell is America sehingga kita pantas untuk memuja-muja atas sukses besarnya dalam Black Panther?

Michael O’Shaughnessy (1951) memberi penjelasan tentang ideologi dominan dan hegemoni dalam kaitannya dengan media. Ideologi sebagai nilai dan kepercayaan seperti dikutip dari Althusser (dengan pijakan pemikiran Mbah Marx tentu saja) diciptakan dan disebarluaskan oleh kelompok berkuasa dalam sebuah tatanan sosial. Ideologi ini kemudian diterima dan dipercaya oleh banyak orang, terutama kelompok yang dianggap sebagai kelas bawah. Ideologi ini bukan suatu standar ideal untuk kemaslahatan umat tentu saja. Ideologi dominan digelar untuk merawat kekuasaan ‘ruling class’.

Sementara Antonio Gramsci menjabarkan konsensus sebagai cara agar orang menyetujui suatu nilai, termasuk ideologi dominan. Inilah yang disebut hegemoni, sebuah proses negosiasi untuk mempertahankan kekuasaan. Hegemoni adalah suatu bentuk penjajahan baru, dengan memberikan kesempatan bagi warga seakan-akan mereka mendapat kebebasan. Memberi ‘hadiah’ kepada kelompok bawahan, dengan syarat kelompok dominan tetap berkuasa.

Saudara-saudara, sayangnya, peran penanaman ideologi dominan sebagai bentuk hegemoni diambil alih oleh kekuatan terbesar sepanjang sejarah: MEDIA. Media yang diawali dari peradaban kelas atas akan terus dan selamanya mendukung ideologi kaum dominan. Kaum dominan di sini bisa diartikan beraneka ragam seperti kultur orang kulit putih, kelas ekonomi menengah-atas, laki-laki, dan sebagainya.

Dalam tulisan ini, khususnya Amerika sebagai negara demokrasi terbesar di dunia – yang oonnya kita agungkan sebagai kiblat membangun negara demokrasi – adalah aktor utama penyebar ideologi dominan yang kini kita yakini bagai agama. Bahwa Amerika adalah negara besar, negara kuat, negara yang tak terkalahkan, sumber segala kehidupan.

Bagaimana bisa wacana ini merasuk dalam film Black Panther padahal ia justru menampilkan kaum terbelakang? Kawan, sayangnya, seperti disebutkan O’Shaughnessy, media justru memberi kesempatan bagi kaum kelas bawah untuk muncul dan dielu-elukan, memberikan kebebasan sebagian agar mereka muncul, tetapi “will never allow power to be completely taken away from them” (O’Shaughnessy 1951, 189).

Hal ini nampak dari penggambaran negeri Wakanda sebagai kerjaaan antah-berantah yang barbar, hidup tertutup, tidak pernah membangun diplomasi dengan dunia. Bahkan, secara kejam Amerika membuat posisi Afrika yang kaya sumber daya alam itu sebagai SERAKAH, hanya menyimpan kekuatan untuk kesejahteraan mereka sendiri: tidak mau vibranium disebarkan ke seluruh dunia.

Wakanda sebagai representasi Afrika kemudian disindir hanya ‘jago kandang’, nampak jelas dari sabda T’Challa “I am the King of Wakanda, not the King of every people” (maaf kalau quotenya salah ya). Mungkin, dalam hal ini Amerika juga tengah menyindir negara-negara lain yang dianggap ‘tidak mau berbagi rezeki’, melalui Afrika sebagai ‘kambing hitam’, hiks kasian bingits. Atau semata-mata hanya ‘gertakan sambel’nya Amerika untuk menutupi ketakutan berlebihan mereka akan negara-negara superpower lainnya.

Pun Wakanda di akhir cerita yang digambarkan membuka diri pada dunia, tergambar dengan adegan pidatonya di PBB – yang oh lagi-lagi produk Amerika dan bermarkas di Amerika. Itu pun, lagi-lagi Wakanda mengambil langkah diplomasi karena diberi stimulus serangan N’Jadaka a.k.a Killmonger, seakan-akan mereka tidak secara sadar dan memiliki kematangan berpikir tanpa gertakan. Maaf ya, sepertinya penulis dalam nyinyiran hari ini sedang sensi dengan Amerika, selain sama doi.

Sesungguhnya, masih banyak diskursus lain yang menarik untuk dibahas. Misal, Nakiya dan Okoye sebagai jenderal beserta anak buahnya yang butak-butak sebagai ksatria wanita tangguh. Biarlah para pejuang kesetaraan gender dan pencadu feminisme akut yang akan membahasnya.

Yang pasti, kawan-kawan masih akan dibujuki Marvel sepanjang tahun ini. Masih ada Infinity War, Ant Man, dan hegemoni-hegemoni lainnya yang siap sedia ditanamkan pada benak Anda sekalian. Masih ada 35 hingga 60 ribu duit ping sewu (ini harga tiket nonton normal di mall-mall beken Surabaya) dihamburkan demi melihat Amerika masih, akan, dan selamanya menguasai dunia. Hehe.

Jangan Nonton Dilan, Berat! 2 908

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Jangan nonton Dilan! Berat. Biar aku saja!

Kalimat ini diletakkan di awal tulisan dengan kesengajaan dan kecentilan luar biasa. Namun, penulis pun tahu kalau kalimat ini sama sekali tidak mengurungkan niatan warga sekalian untuk berbondong-bondong menyerbu tiket nonton Dilan walau harus duduk di baris kedua dari depan. Kalimat tersebut barang tentu kalah telak dari kesaktian pesona Iqbaal Ramadhan didampingi Vanesha Prescilla yang menghiasi layar lebar seantero bioskop Indonesia saat ini.

Walau larangan sudah disematkan pada hulu tulisan ini, sudah tentu percuma sama sekali. Persis seperti kalimat peringatan pada bungkus rokok, gak mempan.

Pada suatu kesempatan, penulis memberanikan diri menguji ketahanan mulut agar tidak misuh-misuh menemui Dilan dalam bentuk visual. Selama ini, sosok – yang sudah pasti FIKSI – ini hanya bisa digilai remaja tanah air dalam bentuk tulisan kalimat-kalimat sakti Pidi Baiq belaka.

Setelah menonton, penulis kemudian menyimpulkan: tiada kejutan di film Dilan 1990. Semoga ulasan ini tidak menyebabkan fans Dilan menyerbu penulis.

Yang pertama, karakter dan alur cerita yang sangat mudah ditebak. Tiada pengembangan, apalagi plot twist sejauh 110 menit mata memandang. Cerita akan bermula dari Milea dewasa yang melakukan flashback, terlempar jauh ke tahun 1990  saat pertama kali bertemu Dilan. Segala kutipan-kutipan nun gombal Dilan seperti di novel lengkap sudah.

Karakter Rani, Wati, Nandan, Piyan, Anhar, Ibu, Ayah, Bunda, beserta jajarannya hadir full team. Barangkali, Fajar Bustomi juga takut masuk dalam lingkaran cyber-bullying kalau-kalau satu bagian saja menodai alur rangkaian yang sudah susah payah dibangun Pidi Baiq sebagai novelist dengan karya best seller.

Akibatnya, penonton jadi tahu persis setiap jahitan adegan, apa yang mesti terjadi dari satu scene ke scene lain. Jika adegan masih berhenti di Kang Adi, berarti filmnya masih lama, dan pantat saya makin gatal untuk segera beranjak dari bangku penonton.

Hal ini menjadi makin berbahaya bagi sebuah pembuatan karya film dalam sejarah. Penulis memprediksi terjadi peningkatan jumlah penonton yang nyinyir, sok tahu, dan spoiler akut di dalam bioskop. Mengingat jumlah pembaca novel Dilan yang hafal tiap adegan dalam tiap lembarnya sudah setara jumlah kerugian negara kasus korupsi e-ktp. Kalau jumlah penonton yang suka meninggalkan sampah sembarangan seusai pemutaran jangan ditanya, pancet wakeh.

Kedua, bahwa film Dilan 1990 akan memiliki sekuel selanjutnya yaitu Dilan 1991 tentu tidak mengejutkan bagi penulis. Sama seperti Marvell yang tiada henti berproduksi, pasar remaja imut-imut Indonesia yang sudah terlanjut gandrung dan bahkan memimpikan seorang Dilan ada di kehidupan nyata jadi sasaran empuk. Selama Pidi Baiq yang digandeng Max Pictures masih waras, membuat sekuel lanjutan adalah keputusan maha tepat dan SANGAT WAJAR.

By the way, sesungguhnya Dilan 1990 yang kalian banggakan bersama tidak seburuk itu. Bukannya tak ada kejutan sama sekali. Dalam beberapa bagian, toh film ini mampu membuat penonton dalam bioskop berseru-seru gemas sama personil CJR itu.

Pertama, performa Iqbaal sebagai Dilan hadir menggemaskan. Sudah cukup membuat para remaja putri yang belum sama sekali ranum tersipu-sipu malu. Perannya ketika menjadi panglima tempur geng motor cukup berhasil merepresentasikan gesture dan ekspresi bad boy.

Walaupun sesungguhnya Iqbaal masih terlalu rapi untuk merepresentasikan Dilan yang seharusnya lebih lusuh dan lebih urak’an, kita harus mengapresiasi usahanya untuk keluar dari zona nyaman, dari anak manis yang suka belajar berperan jadi anak nakal dan suka tawuran. Tapi, siapa ya yang mengasumsikan bahwa Iqbaal adalah anak baik-baik yang sangat jauh dari karakter Dilan yang diperankannya? Apakah media kita? Apakah kalimat pembawa acara infotaiment kita? Entahlah. Oh ya, agar netizen tidak marah, gambaran ini hanya katanya penulis kok. Pembaca berhak tidak setuju dan memberi balasan pada tulisan selanjutnya, hehe.

Kedua, penulis juga cukup kecewa nih dengan perawakan Warung Bi Eem yang nampak sekelas dengan Warung Oen di Malang yang menjajakan es krim harga super mahal. Tebak-tebak berhadiah, Bi Eem tidak jual es teh tapi ice tea, tidak sedia kopi hitam tapi luwak white coffee (eh maaf kok sebut merk).

Mungkin untuk mengurangi resiko terjadi tawuran sungguhan, dan resiko para aktor yang jijik menginjakkan kaki di tempat kumuh, didesainlah Warung Bi Eem yang terlalu mewah ini. Untuk ukuran tempat nongkrong berandalan yang sering dijadikan tempat merokok dan berjudi, munculnya bangunan mapan yang melatari adegan Dilan seperi ini tentu mengejutkan.

Ketiga, kehadiran Ridwan Kamil. Ini barangkali sebagai konsensus paling menguntungkan baginya setelah membantu menutup jalanan Bandung yang super padat untuk kepentingan syuting. Kemunculan ini tentu demi memenuhi amanah rakyat agar Kang Emil tetap jadi sosok kepala daerah ganteng nan gaul favorit kita semua. Plus, untuk menambah popularitasnya dalam survei-survei Pilkada.

Keempat, sebagian dari penonton yang kebetulan satu studio dengan penulis kemarin adalah para mamud (baca: mama muda). Selain jadi serbuan remaja-remaja berseragam biru putih, para ibu-ibu sosialita tiada mau ketinggalan ketenaran Dilan. Apapun motivasinya, para mama muda ini berpesan pada sekalian warga Indonesia, jangan pertontonkan Dilan pada anak di bawah umur. “Nanti dewasa sebelum waktunya,” begitu ujar seorang ibu muda dengan fashion OOTD di toilet bioskop sebuah mall beken di Surabaya (pesan ini bisa dituliskan karena penulis habis nguping obrolan mereka).

Kejutan keempat adalah bahwa saya pun jadi manusia yang bersedia menghabiskan waktu dan materi untuk ikut jadi saksi film selera rakyat ini. Tapi pengalaman ini menjadi berarti sebab alasan mengapa Dilan tidak sesuai dengan usia dan pola pikir saya terjawab sudah.

Oya, film ini juga semakin memberi konfirmasi kepada kita bahwa sebentar lagi, drama cinta monyet di bangku sekolah yang diperbuat anak dan keponakan Anda akan semakin menjamur akibat didukung secara moril oleh Dilan 1990.

Jangan baca tulisan ini! Berat, banyak spoilernya. Biar Pidi Baiq saja yang baca!

Oh maaf, peringatannya kok baru di akhir tulisan ya, hehe.

(Oh iya, ada lagi yang terlewat, wajah Milea yang campuran orang Bandung dan Sumatera Barat kok sepertinya malah hadir keindo-indoan ya? Atau ini hanya perasaan penulis? Ya udah deh, penulis sepertinya salah lihat. Jadi tidak usah dibahas ya, hehe)

 

Editor Picks