Mengabdikan Selera untuk ‘Pengabdi Setan’? 4 15208

Sudah pasti ini film yang kini paling diburu. Bukan saja karena warga di sini doyan menenggak film-film horor, tetapi juga karena gempita promosi dan cerlangnya reputasi Joko Anwar sebagai sutradara.

Ini film remake, dan rasanya penonton masa kini belum pernah menonton film aslinya di tahun 1980.

Penulis menangkap kecerdasan dalam pilihan remake ini. Pengabdi Setan dalam zamannya adalah film yang sanggup meluruskan jalan hidup penulis yang sering belok-belok ini: mendorong kebutuhan untuk shalat. Apalagi dalam adegan-adegan Him Damsyik yang terkenang tiap menjelang bobo’. Kalau tak ingin mbun-mbunan dicucup dhemit, shalatlah (kadang mantera tag line ini terdengar asu sekali. Tapi manjur!). Versi Joko Anwar sebelas dua belas. Ada dilema moral yang diajukan untuk mengobati situasi perdhemitan dengan agama.

Kedua versi film bertitik-tolak dari kesamaan peristiwa: keluarga yang tak religius, dan keberjarakannya dengan persentuhan agama. Mungkin pada saat yang sama hendak dikatakan juga, bahwa kita telah tiba pada suatu periode sekularisasi—ra sholat ra popo sing penting aku numpak Ninja. Dari sini plot dibangun, dan kengerian diruapkan.

Saya tak tahu apakah Joko Anwar bermaksud menyindir soal sekularisasi ini pada konteks sekarang, ketika orang makin sadar bahwa urusan agama tak boleh diatur siapapun. Atau, ia bergerak lebih jauh dengan mempermainkan ide ketaatan beragama (mungkin juga fanatisme) yang masih juga gagal dalam menyelesaikan soal-soal hidup modern. Itu mungkin sebab mengapa Pengabdi Setan menaifkan diri dengan ide klasik bahwa agamalah pegangan yang diandalkan demi menyelesaikan segala soal, bahkan mayat hidup sekalipun. Suatu kenaifan yang sesungguhnya tak termaafkan.

Setting film ini adalah keluarga dengan ekonomi mampu. Kesan pilihan baju, tatanan artistik, dan atribut lain, memang mencirikan sentimen kehidupan Eropa yang kental. Pembaca mungkin terheran mengapa begini? Mungkin juga karena harus ada penekanan yang meyakinkan tentang modernitas, agar nanti bisa dibenturkan telak-telak dengan agama. Harus ada lawan sepadan yang membuat kehadiran agama menjadi penting, dan perlawanannya dengan setan menjadi enak ditonton. Urusan gaib dan relasinya dengan agama, Indonesia jagonya. Tentang ini bolehlah membaca buku lama Clifford Geertz tentang mitos Jawa dalam Religion of Java.

Tapi seperti biasa, kelemahan film-film Indonesia adalah mutu akting. Celah ini terjadi lagi pada kegagapan aktor-aktris mengeksekusi peran. Kekakuan bicara, tonasi suara, dan artikulasi dialog sering patah karena mereka diminta untuk bicara dengan gaya wong lawas. Ekspresi dingin dan suara yang dalam juga kurang mantap.

Lubang ini ditutup oleh sinematografi yang baik. Wajar saja sebetulnya, mengingat kita telah tiba di zaman baru dengan teknologi baru dan pendidikan sinematografi yang lebih baik. Ini bukan sikap pelit apresiasi, tapi memang sudah nasibnya begitu. Apalagi kalau bicara ongkos produksi (konon 5 miliar). Sudah pasti semua nominal bejibun itu ditarget habis dengan hasil mutu gambar yang baik.

Hal lain: pemerannya terlalu ganteng dan terlalu cantik!

Ini kelemahan mendasar sekali. Coba beri daftar dan deretkan di film mana di Indonesia ini yang aktor-aktrisnya tak ganteng dan jauh dari definisi cantik?

Oke, bolehlah pembaca berkelit, “tapi ganteng cantik kan relatif”. Tapi kalau ada yang ngomong bahwa Tara Basro dan Ayu Laksmi jelek, mbulak, dan punya dapuran ajur, tentu tak juga bisa diterima. Film-film lain Joko Anwar memang acapkali menyembunyikan kurangnya mutu akting lewat penggunaan aktor-aktris rupawan.

Apapun kelemahannya, industri film hari ini hanya mengabdi pada selera. Setan paling seram di layar teater kita hanya bisa dibunuh secara harfiah oleh selera. Kalau kita tak suka nonton, pocong, genderuwo, dalbo, danyang, tuyul, bisa apa? Rapi film dan Ram Punjabi arep lapo?

Kita-lah sesungguhnya yang ditakuti oleh setan-setan itu. Oleh sutradara dan aktor-aktris tampan itu. Lha, tuhan dalam industri liberal, kan selalu dalam wujud pasar. Dan itu rupa kita semua.

 

Previous ArticleNext Article

4 Comments

    1. Boleh juga disebut begitu, mas Indra. Meski menurutku bahasa reboot lebih bermakna merendah. Anyway, kuundang kamu menulis.

  1. saya kok kurang sreg ya dibilang agama menjadi penyelesaian masalah di film PS 2017 ini… lhawong ada tokoh ustadz yg ndak berkontribusi apapun. malah mati untuk sebab yg tak jelas. ini jadi beda dgn semangat religius di film tahun 1980. malah menurut saya, film ini tidak menjual aspek cerita. film ini cuma jualan aspek teror yg memang keren banget dibanding film2 horor selama ini.

    1. Ya betul tak berkontribusi. Tp tetap film ini mengajukan pola lama dikotomi agama dan dhemit. Ini tetaplah titik tolak yg repetitif, kendatipun pak ustad modyar juga akhirnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 680

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Panduan Nonton ‘Mantan Manten’ 0 510

Sebagai film Indonesia yang lagi-lagi bercerita tentang perempuan, Mantan Manten karya Visinema Pictures menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu umat feminis. Apalagi, film ini bakal mengangkat adat Jawa, yang walaupun sudah mendominasi media kita, tapi tetap menarik jika ada produser film yang mau mengupasnya lebih dalam.

Untuk itu, penulis yang baik hati ini tidak akan membocorkan alur cerita apalagi endingnya kepada pembaca yang berniat menonton (toh trailer sudah mengambil bagian ini hehe). Alih-alih, penulis justru bakal membagi panduan menonton bagi pembaca sekalian.

 

  1. Gak usah sedia tisu

Karena bercerita tentang mantan yang manten, tidak membuat film ini lantas membuat kita teraduk-aduk emosinya, air mata mengucur deras tak henti. Siapa sih yang gak pernah ditinggal nikah sama mantannya? Ini adalah kasus yang paling jamak didapati dalam kisah romansa remaja bangsa yang labil ini :(.

Tapi, barang sebentar kita mau mengarungi gejolak perasaan Mbak Yasnina—yang diperankan Atiqah Hasiholan—ditinggal tunangannya menikah dengan orang lain, adegan nangis-nangisan malah cepat sekali berganti ke adegan lainnya. Baru saja ingin menyelami perasaan serba bingung dan gak enaknya Surya antara memilih Yasnina atau keputusan bapaknya, kita dihadapkan pada sikap kekanakannya dan cenderung menyebalkan.

Penulis juga kesulitan betul menghargai peran Budhe Marjanti yang dihormati sebagai dukun manten itu. Kesakralan hidupnya menjalani puasa dan semedi tidak sempat dihadirkan, diburu dengan durasi film 1 jam 42 menit itu. Pun film ini absen menampilkan adegan pertengkaran batin bapaknya Surya, Iskandar, yang akhirnya menelan pil pahit karena gengsi meminta Yasnina jadi dukun manten buat anaknya.

Emosi dilempar ke sana kemari. Diakhiri tanpa permisi. Diminta ganti ketika kita sedang menikmati. Padahal sudah tersedia 1 pak tisu di tas penulis, berjaga-jaga siapa tahu scene-scene tertentu menguras air mata. Baru mau nangis, eh sudah ganti scene lagi. Haduuuh!

 

  1. Gak usah berharap tinggi-tinggi

Ingat sodara-sodara, tidak semua film bertujuan mendidik! Gak usah berekspektasi tinggi pula bahwa paes dan adat nikah mantenan ala Jawa bakal dikupas tuntas di film ini. Malahan, posisinya menjadi trivial.

Sungguh hebat, Yasnina yang hidup tanpa latar belakang tradisi yang jelas di panti asuhan, bisa belajar paes Jawa dan bahkan jadi dukun manten keluarga keraton Solo dalam kurun waktu 3 bulan. Lebih hebat lagi, Yasnina berani merias istri mantannya, padahal emosinya masih belum stabil untuk menerima fakta pahit itu. Dikisahkan ia juga masih emosi meledak-ledak ketika tahu mantannya akan menikah dengan orang lain. Lah kok njelalah, Nina tiba-tiba berubah jadi sosok yang tenang waktu membetulkan beskap Surya yang kekecilan itu. Kapan berubahnya, cah ayu?

Jangan-jangan, Mbak Nina—panggilan sayang Yasnina—ini lagi pansos. Kisah hidup dan cinta dia kalau diunggah netijen tamu undangan mantenan Surya ke media sosial dengan hestek #JusticeForNina pasti laku keras, menuai simpati di mana-mana. Tiba-tiba Nina terkenal, jadi influencer dan motivator dadakan, serta mendapat banyak orderan endorse online shop abal-abal.

Oh ya, Iskandar, si bapaknya Surya, ceritanya memegang teguh adat Jawa. Dia hanya percaya Budhe Marjanti sebagai dukun manten maha-sakti sak Indonesia raya. Saking taatnya pada tradisi, dia rela lo menerima Nina sebagai orang yang diwarisi tugas paes manten anaknya, walaupun awalnya menyimpan dendam kesumat padanya, entah karena apa. Tapi kalau-kalau dia pemegang teguh adat dan memiliki spiritualitas yang baik, kok sampai hati betul Iskandar demi bisnis mengkhianati calon mantunya sendiri? Apakah berkhianat termasuk jihad? Sungguh janggal.

 

  1. Gak perlu nonton sampai habis

Bukankah judul sudah menceritakan semuanya? Pokoknya ini cerita tentang mantan yang manten. Namanya juga mantan, berarti dia mantennya bukan dengan si pemeran utama. Dari scene pertama, ketika Surya melamar Nina, kita sudah tahu bahwa di akhir nanti mereka gak akan bersama. Bodo amat dengan nasibnya yang kelak akan ditipu calon mertua sendiri.

Pun kalau dia adalah wanita karir hebat, bisa-bisanya harta habis tanpa sedikit pun bersisa. Katanya lulusan amerika, bangun karir dari nol, dapat banyak penghargaan (sebagaimana dikisahkan di dinding panti asuhan), bisa-bisanya teledor dan tidak punya aset sama sekali, kalaupun punya belum balik nama lagi. Masak iya sih, manajer investasi terkenal tidak punya tim pengacara pribadi dan tidak tahu cara investasi bagi dirinya sendiri?

Nina boleh deal dengan banyak  klien perusahaan raksasa, tapi kalah dengan ibu-ibu dukun manten di pegunungan Temanggung. Kalah pula dengan akal-akalan bapak tua yang menipu karir dan jalan cintanya. Di mana Nina yang pintar lobi-lobian itu ketika berhadapan dengan budhe dan Pak Iskandar? Mangkane to Mbak, keseimbangan IQ, EQ, dan SQ itu penting!

 

Demikian panduan nonton ini telah dibuat. Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan pembaca sekalian karena film Mantan Manten masih bisa ditemui di bioskop-bioskop kesayangan Anda!

 

Salam hangat, penggemar arwah suami Budhe Marjanti; bapak tua yang dibayar cuma buat senyum dan manggut-manggut sepanjang filem.

Editor Picks