Mengapa Misuh Penting untuk Jiwa Raga Bangsa 2 2287

Pembaca, mustahil bisa dipercaya kalau situ adalah manusia yang tak pernah mengumpat. Pembaca paling alim sekalipun, yang ideologinya amar makruf nahi munkar, anti-phustun, bahkan yang jargon hidupnya kerja, kerja, kerja, tak mungkin selalu lolos menangkis jengkel. Bahwa lantas ada semacam teknik menekan dalam-dalam dorongan misuh dan mengumpat, adalah soal lain. Tapi, seperti kata Pram (?), manusia sudah njancuk sejak dalam pikiran (mbuh Pram sing endi iki).

Adalah Benjamin Bergen, seorang linguis Amerika, dalam buku provokatif What The F (2016), yang mengkaji pisuhan di negara-negara Amerika, Eropa, dan Asia Pasifik, dan lalu memeringkat kadar toleransi orang terhadap pisuhan tertentu. Bergen melihat unsur relatifitas dalam bahasa pisuhan. Kita tak bisa menyepakati bahwa Asu secara eksklusif mengekspresikan kemarahan belaka. Pada beberapa momen, kita menggunakannya untuk melayani beberapa ekspresi kita: perasaan kagum, suka, dekat, sakit, bahkan romantis. Pujian terhadap gadis cantik pun bisa terwakili: ayune ncen asuuu pol.

Kata umpatan lain juga mengalami relatifitasnya, bergantung kultur tertentu.

Tapi satu hal harus digarisbawahi: misuh menolong kebuntuan psikis orang yang kehabisan kata-kata dalam menyalurkan ekspresi tertentu. Kalau jempol cantengen pembaca dilindas truk, atau bisul dilempar martil, apalagi calon gubernur idola dihina lawan, tentu ekspresi “aduh” kurang kaffah dibanding “diancuukk”. Orang lain bahkan bisa mengumpat sambil menyebut nama Tuhannya—seperti pula disebut oleh Bergen.

Kita sejak awal tak pernah bisa menjawab mengapa kepuasan tertentu pada pisuhan tak bisa diganti dan ditemukan padanannya pada kata yang lain. Sejak kecil, pisuhan tetiba saja diwariskan tanpa kita tahu muasalnya.

Untuk menjawab ini, Bergen mengkaji pula tradisi manusia Sanskrit hingga linguis modern dalam mendokumentasikan suara dan gestur mulut yang menghasilkan bunyi-bunyian tertentu. Artikulasi bunyi konsonan dalam susunan tertentu inilah yang menimbulkan efek psikologis kepuasan dalam kata-kata umpatan dan pisuhan. Pembaca lihat kombinasi huruf j, n, c, dan k, yang sangat kuat dan ditekan lebih dalam khususnya pada huruf c. Atau periksa kombinasi k, n, t, dan l, yang menitik-beratkan pada huruf k dan t. Komposisi huruf ini mengeksploitasi bibir, pangkal tenggorokan, dan juga gerak rahang ketika mengucapkan. Dibantu oleh paduan huruf vokal yang biasanya bunyinya dipanjangkan. Hasilnya: kepuasan tiada tara dalam misuh.

Pada kultur tertentu, terdapat pula derajat kekasaran dan ketepatan pisuhan. Di kota seribu pisuhan macam Surabaya, yang disebut pisuhan terkasar sangat berbeda dengan wilayah lain. Umpatan andalan Jakarta macam “Anjing”, tak akan ada gaungnya jika diucap di kota Pahlawan. Ringan saja dan malah, umpatan ala Jakarta itu cenderung unyu, kalau bukan girly. Bandingkan “anjing”-nya Jakarta dengan “mbokne ancuk”-nya Surabaya.

Sensor Budaya

Kendati banyak menolong kita karena keterbatasan bahasa dalam ekspresi manusia yang sangat kaya, pisuhan disensor atas nama norma dan moralitas. Pada ruang-ruang khusus, semua kosakata pisuhan tak boleh hadir sama sekali. Ini bisa dipahami karena yang profan harus diperhadapkan dan diperlawankan pada yang sakral. Misalnya, jancuk tak boleh hadir dalam semua ceramah agama. Maka ketika Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) atau almarhum Priyo Aljabar membunyikan Jancuk dalam siaran dan diskusi berkonteks agama, banyak yang tak terima. Meski kadang, penolakan itu dilandasi kurang matangnya kita dalam melihat relatifitas pisuhan. Jancuknya Emha bisa jadi berbeda dengan jancuknya pengendara di jalan Gedangan, Sidoarjo (macetnya asu!). Relatifitas keduanya membedakan: jika yang satu diikhtiarkan untuk mendekatkan penceramah dan jamaahnya, yang kedua dimaksudkan untuk mengutuki kemacetan. Apa boleh buat.

Apapun itu, pembaca, kita telanjur menyepakati aturan moral ini. Meski demikian, pisuhan tak akan musnah oleh aturan apapun yang tertulis di muka bumi—yang benar-benar sanggup melarang orang misuh—selama Tuhan belum menciptakan kata lain yang sepadan mengganti pisuhan.

Seperti kata Pram di awal tulisan, bukan? Mbuh Pram sing endi..

Previous ArticleNext Article

2 Comments

  1. Wooaaah… 😮
    Mlongo saya membacanya. Separuh yg pertama tidak setuju dg penulis, tetapi karena disertakan ulasan dari sudut pandang bahasa, alhasil separuh yg kedua terpaksa mencoba menerima.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penobatan untuk Jentelmen Pemilu 2019 0 168

Pemilu sudah lewat hampir seminggu. Hasil hitung resmi dari KPU masih ditunggu. Tapi hasil hitung cepat yang muncul dan dibahas secara berlebihan di tipi-tipi sudah bisa bikin sebagian bersorak atau sebagian lain menangis tergugu.

Kontestasi boleh selesai, tapi kadang rakyat kita susah lepas dari polarisasi. Di tengah pertengkaran dan tuduh-tuduhan, kita tidak boleh lupa bahwa di balik Pemilu 2019, terdapat sosok-sosok keren yang patut kita beri penghargaan. Berikut ini adalah daftar nominasi penobatan gelar “gentleman” pada Pemilu 2019

 

Sandiaga “Ganteng” Salahuddin Uno

Bagaimana tidak? Sebanyak 1.550 titik kampanye di Indonesia sudah ia kunjungi. Publik harus mencatat effort menyapa dan menjadi idola emak-emak ini pencapaian luar biasa. Ia juga telah menjual saham dan merugi banyak demi membiayai kampanye. Bahkan di puncak akhir perjuangannya, ia terkena serangan cegukan persis setelah hasil survei hitung cepat menunjukkan dirinya dan Prabski kalah.

Walau demikian, ia adalah orang paling kuat se-Indonesia. Dari sekian banyak penderitaan yang menimpanya, dia tetap saja ganteng, kaya, beristri cantik, dan terkenal. Dia adalah inspirasi para proletar agar senantiasa pantang menyerah dalam berjuang. Atau barangkali kemujurannya adalah takdir dari Sang Kuasa.

 

Agus Harimurti Yudhoyono alias AHaYe

Penerus trah eSBeYe ini citranya sempat hancur di Pilkada DKI 2017. Namun ini semata-mata karena ibu-bapake sing melok ae. Idenya untuk bikin rumah apung masih jadi catatan visi paling terkenang sepanjang sejarah Pilkada. Tapi harus diakui, usahanya untuk bangkit dan membangun kembali serpihan citra dirinya yang tercecer itu harus diacungi jempol.

Kini, ia mulai merintis dan membangun citra baik sebagai sosok yang berwibawa, dan ini yang paling penting: ganteng. Jawaban-jawabannya bijak dan santun saat dihadapkan pada fakta lembaga survei, yang (katanya) menyatakan koalisinya kalah berperang. Pengalaman militer dan beberapa tahun kejeblos di politik menjadi guru yang berharga buatnya.

Selain dinobatkan sebagai “gentleman” Pemilu 2019, mari kita nobatkan dia sebagai lawan paling menyeramkan di 2024 kelak. Kita tunggu performamu Mas!

 

Nicholas Saputra

Sosok ini adalah yang paling unggul dari pria-pria lainnya. Elektabilitasnya di 17 April melebihi lembaga-lembaga survei quick count manapun. Walau terkenal sebagai pebinor sejak “AADC” hingga “Adu Rayu”, gak ngurus, yang penting dia tetep ganteng lagi tepat janji.

Dia menghapus foto selfie pertama sepanjang hidupnya di Instagram dalam waktu 1×24 jam. Janji itu ia tepati sesuai caption foto yang ia tuliskan sendiri.

Tapi yang pasti, momen itu jadi 24 jam terindah dan susah dilupakan dalam hidup wanita-wanita bangsa ini. Maka jadilah hari itu dikenang sebagai hari “gerakan screenshoot foto Nicholas” tingkat nasional.

 

Demikianlah deretan laki-laki pengisi nominasi penobatan “gentleman” Pemilu 2019. Pengumuman pemenang telah dilakukan dan berlaku sampai selama-lamanya. Adapun jika pembaca memiliki deretan pria ganteng dan gagah lainnya, bisa ditambahkan melalui kolom komentar.

“Hepi Ending” Drama Pilpres 2019 1 249

Oleh: Michelle Florencia*

Akhirnya, drama panjang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 nan panas—tidak, tidak sepanas hawa Surabaya—dan menguras emosi serta energi ini sudah memasuki babak akhir. Akhirnya saat-saat yang begitu dinanti datang juga. Pada tanggal 17 April 2019, rakyat Indonesia Raya akhirnya menyumbangkan partisipasi dan suaranya di TPS.

Sedikit trobek, kisah drama “Jokowi vs. Prabowo Jilid 2” ini memiliki konflik yang rumit. Permusuhan diwarnai dengan saling adu kritik, manuver para aktor politik, saling lempar hoaks, dan hingga para pendukung kedua paslon, Cebong dan Kampret ikutan ribut di sosial media. Belum lagi media milik politisi terus-terusan mengompori situasi ini. Tak heran, kisah panjang ini membuat segelintir orang begitu penat, lebih penat daripada menonton kisah dua sejoli fenomenal Fitri dan Farrel.

Bak kisah drama lainnya, Pilpres 2019 ini berakhir dengan bahagia. Bagaimana tidak? Kedua paslon yang berseteru itu menang! Luar biasa sekali, barangkali hanya Indonesia yang bisa punya dua pemenang untuk kursi nomor satu di pemerintahannya

Tidak sia-sia keduanya melakukan effort yang luar biasa. Keliling Indonesia Raya, meninggalkan jabatan (Ma’ruf Amin meninggalkan jabatan ketua MUI dan Sandiaga Uno meninggalkan jabatan Wagub DKI Jekardah) untuk PDKT ke partai sana-sini, belusukan ke pasar-pasar sambil wawancara emak-emak, hingga yang terberat: abang ganteng Sandiaga Uno mengikhlaskan rekeningnya terkuras hingga puluhan miliar demi amanah rakyat. Alhamdulillah. Sungguh terbayar usaha Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi.

Jokowi-Ma’ruf Amin dinyatakan menang dalam perhitungan cepat dari enam lembaga survei di Indonesia, yaitu Litbang Kompas, Indo Barometer, LSI Denny JA, CSIS-Cyrus, Charta Pollitika, dan Konsepindo. Dari survei-survei ini, banyak yang menanggap Jokowi-Ma’ruf Amin menjadi pemenang tunggal dalam kontestasi ini. Media interneisyenel seperti CNN sudah memberitakan bahwa Jokowi-Ma’ruf akan menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden selanjutnya.

Haduh, sungguh kasihan mereka hanya mengetahui kebenaran setengah-setengah. Padahal, pemenangnya kan ada dua!

Prabowo-Sandi juga mendeklarasikan kemenangannya dalam Pemilu tahun ini. Tak main-main, deklarasi itu dilakukan sebanyak tiga kali! Mohon maaf, Cebong jangan sok mencibir presiden kita! Beliau menang berdasarkan REAL COUNT yang dilakukan oleh tim internal Badan Pemenangan Nasional. Sekali lagi, REAL COUNT! Jokowi mah apa atuh, cuma menang berdasarkan quick count.

Dari real count dari BPN yang disebut Mbah Amien Rais sebagai “survey diam-diam itu”, Prabowo-Sandi mendapat suara sebesar 62%. Mungkin kita tahunya real count itu hanya dilakukan oleh KPU, ya? Yasudahlah, presiden mah bebas! Tapi sayang sekali, belum satupun pemimpin negara lain yang menelpon Pak Prabowo untuk mengucapkan selamat meski sudah tiga kali mendeklarasikan kemenangannya. Mungkin PR Prabowo-Sandi sekarang adalah menjadi lebih gercep mengabarkan kemenangan ini kepada media luar.

Karena ada dua pemenang, mari kita beri saran bagaimana baiknya mereka harus memimpin. Kedua kubu kelompok baiknya bergantian shift seperti penjaga toko di mol. Jokowi-Ma’ruf Amin shift pagi, Prabowo-Sandi shift malam. Biar adil. Selain itu, Jokowi-Ma’ruf Amin baiknya mengurusi perihal infrastruktur, agama, dan revolusi mental, sementara Prabowo-Sandi akan mengurusi perekonomian, pertahanan, dan pertambangan. (Ini mimpin negara kenapa kayak kerja kelompok, sih?!)

Bayangkan bila hal di atas terjadi beneran! Seperti slogan kita, yakni gotong royong, ini Jokowi bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan mudah dengan bantuan Prabowo. Pokoknya tetap harus menjaga ketertiban, perdamaian, dan tak terpancing provokasi! Okurrr!

 

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Editor Picks