Mengapa Misuh Penting untuk Jiwa Raga Bangsa 2 3663

Pembaca, mustahil bisa dipercaya kalau situ adalah manusia yang tak pernah mengumpat. Pembaca paling alim sekalipun, yang ideologinya amar makruf nahi munkar, anti-phustun, bahkan yang jargon hidupnya kerja, kerja, kerja, tak mungkin selalu lolos menangkis jengkel. Bahwa lantas ada semacam teknik menekan dalam-dalam dorongan misuh dan mengumpat, adalah soal lain. Tapi, seperti kata Pram (?), manusia sudah njancuk sejak dalam pikiran (mbuh Pram sing endi iki).

Adalah Benjamin Bergen, seorang linguis Amerika, dalam buku provokatif What The F (2016), yang mengkaji pisuhan di negara-negara Amerika, Eropa, dan Asia Pasifik, dan lalu memeringkat kadar toleransi orang terhadap pisuhan tertentu. Bergen melihat unsur relatifitas dalam bahasa pisuhan. Kita tak bisa menyepakati bahwa Asu secara eksklusif mengekspresikan kemarahan belaka. Pada beberapa momen, kita menggunakannya untuk melayani beberapa ekspresi kita: perasaan kagum, suka, dekat, sakit, bahkan romantis. Pujian terhadap gadis cantik pun bisa terwakili: ayune ncen asuuu pol.

Kata umpatan lain juga mengalami relatifitasnya, bergantung kultur tertentu.

Tapi satu hal harus digarisbawahi: misuh menolong kebuntuan psikis orang yang kehabisan kata-kata dalam menyalurkan ekspresi tertentu. Kalau jempol cantengen pembaca dilindas truk, atau bisul dilempar martil, apalagi calon gubernur idola dihina lawan, tentu ekspresi “aduh” kurang kaffah dibanding “diancuukk”. Orang lain bahkan bisa mengumpat sambil menyebut nama Tuhannya—seperti pula disebut oleh Bergen.

Kita sejak awal tak pernah bisa menjawab mengapa kepuasan tertentu pada pisuhan tak bisa diganti dan ditemukan padanannya pada kata yang lain. Sejak kecil, pisuhan tetiba saja diwariskan tanpa kita tahu muasalnya.

Untuk menjawab ini, Bergen mengkaji pula tradisi manusia Sanskrit hingga linguis modern dalam mendokumentasikan suara dan gestur mulut yang menghasilkan bunyi-bunyian tertentu. Artikulasi bunyi konsonan dalam susunan tertentu inilah yang menimbulkan efek psikologis kepuasan dalam kata-kata umpatan dan pisuhan. Pembaca lihat kombinasi huruf j, n, c, dan k, yang sangat kuat dan ditekan lebih dalam khususnya pada huruf c. Atau periksa kombinasi k, n, t, dan l, yang menitik-beratkan pada huruf k dan t. Komposisi huruf ini mengeksploitasi bibir, pangkal tenggorokan, dan juga gerak rahang ketika mengucapkan. Dibantu oleh paduan huruf vokal yang biasanya bunyinya dipanjangkan. Hasilnya: kepuasan tiada tara dalam misuh.

Pada kultur tertentu, terdapat pula derajat kekasaran dan ketepatan pisuhan. Di kota seribu pisuhan macam Surabaya, yang disebut pisuhan terkasar sangat berbeda dengan wilayah lain. Umpatan andalan Jakarta macam “Anjing”, tak akan ada gaungnya jika diucap di kota Pahlawan. Ringan saja dan malah, umpatan ala Jakarta itu cenderung unyu, kalau bukan girly. Bandingkan “anjing”-nya Jakarta dengan “mbokne ancuk”-nya Surabaya.

Sensor Budaya

Kendati banyak menolong kita karena keterbatasan bahasa dalam ekspresi manusia yang sangat kaya, pisuhan disensor atas nama norma dan moralitas. Pada ruang-ruang khusus, semua kosakata pisuhan tak boleh hadir sama sekali. Ini bisa dipahami karena yang profan harus diperhadapkan dan diperlawankan pada yang sakral. Misalnya, jancuk tak boleh hadir dalam semua ceramah agama. Maka ketika Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) atau almarhum Priyo Aljabar membunyikan Jancuk dalam siaran dan diskusi berkonteks agama, banyak yang tak terima. Meski kadang, penolakan itu dilandasi kurang matangnya kita dalam melihat relatifitas pisuhan. Jancuknya Emha bisa jadi berbeda dengan jancuknya pengendara di jalan Gedangan, Sidoarjo (macetnya asu!). Relatifitas keduanya membedakan: jika yang satu diikhtiarkan untuk mendekatkan penceramah dan jamaahnya, yang kedua dimaksudkan untuk mengutuki kemacetan. Apa boleh buat.

Apapun itu, pembaca, kita telanjur menyepakati aturan moral ini. Meski demikian, pisuhan tak akan musnah oleh aturan apapun yang tertulis di muka bumi—yang benar-benar sanggup melarang orang misuh—selama Tuhan belum menciptakan kata lain yang sepadan mengganti pisuhan.

Seperti kata Pram di awal tulisan, bukan? Mbuh Pram sing endi..

Previous ArticleNext Article

2 Comments

  1. Wooaaah… 😮
    Mlongo saya membacanya. Separuh yg pertama tidak setuju dg penulis, tetapi karena disertakan ulasan dari sudut pandang bahasa, alhasil separuh yg kedua terpaksa mencoba menerima.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 144

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Asmara Putra Presiden dan Kita yang Suka Kepo 0 279

Kaesang selingkuh??!!

Ini sih bukan cuma bahan omongan netijen di media sosial, tapi juga persoalan kita semua!

Persoalan ini menempati posisi teratas trending topic di linimasa media sosial. Bermula dari unggahan akun gosip junjungan kita semua, Lambe Turah, dan dikonfirmasi oleh beberapa postingan feed dan story akun melia_lau yang merupakan ibunda dari Felicia, pacarnya Mas Kaesang.

Pendek cerita, Kaesang dinyatakan menghilang tanpa kabar alias ghosting, lalu ketahuan jalan dengan perempuan lain. Naasnya, perempuan lain itu pegawainya sendiri. Bilang WOW gak nih?

Oh, betapa runyamnya persoalan ini bagi bangsa dan negara. Mendadak kita semua mengurusi persoalan asmara putra presiden. Setelah ini, wartawan infotainment yang brutal itu akan menyerbu istana, menghujani Jokowi dengan pertanyaaan personal seputar anak bungsunya.

Untuk sementara, istana hanya akan sibuk menjawabi persoalan ini, dan melupakan penanganan corona, atau urusan Moeldoko dan Demokrat.

Tapi, menurut hemat penulis, setidaknya ada sejumlah poin andai-andai yang bisa diserap dari peristiwa ini.

 

Kalau saja selingkuhnya di tempat yang tepat

Kata teman-teman saya sih, tempat terbaik di ibukota untuk selingkuh adalah Kuningan City. Konon, mal ini selalu sepi walau akhir pekan. Pun di dalamnya disewa oleh tenant ternama dengan harga diskon semua. Niscaya selingkuh aman dan hemat jika mbaké minta dibelikan baju baru.

Atau di Blok M misalnya. Pusat belanja yang hampir sekarat. Di mana penjualnya hanya fokus melariskan dagangan, tak peduli siapa yang sedang kencan, entah beneran pasangan atau simpanan.

Kalau di Surabaya, Anda bisa mengajak mbaké ke DTC. Bisa sekalian blusukan pelaku UMKM yang sesungguhnya. Siapa tahu mau studi banding.

Sayangnya, Mas Kaesang, kita ini memang hidup di zaman edan. Pacaran dengan pacar orang kurang afdol rasanya jika belum diposting ke media sosial, entah untuk apa tujuannya. Mungkin, untuk menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan khalayak.

 

Kalau saja Kaesang bukan anak pleciden

Pasti kisah drama asmara ini akan biasa-biasa saja. Kaesang juga hanyalah mas-mas biasa usia 20-an yang suka main mobel lejen dan papji. Tapi status sebagai anak orang nomor satu di Indonesia ini menjadikan beban moral berat harus ditanggungnya.

Padahal, semua hubungan tentu punya masalah dan bisa saja menemui akhirnya. Semua dari kita pasti pernah mengalami ghosting, baik jadi korban atau pelakunya. Kaesang pun manusia adanya, yang bisa mengalami hal-hal tersebut. Bukan karena anak presiden, terus Kaesang jadi manusia paling sempurna dan idaman.

Kita semua ini kan pernah berdosa, cuma belum ketahuan boroknya aja. Tapi ya beginilah tabiat kita menjadi manusia. Menghakimi, menghujat, seakan-akan kita orang paling benar di dunia.

 

Kalau saja semua ini hanya prank

Siapa tahu kan, Kaesang butuh ide konten baru di akun Youtube-nya. Siapa tahu semua drama ini memang disiapkan untuk melamar Felicia di Desember 2021, seperti yang dijanjikannya pada keluarga.

Atta dan Aurel saja habis putus tiba-tiba mengumumkan pernikahan. Siapa tahu kan, yang satu ini juga bernasib demikian.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks