Mengapa Misuh Penting untuk Jiwa Raga Bangsa 2 1444

Pembaca, mustahil bisa dipercaya kalau situ adalah manusia yang tak pernah mengumpat. Pembaca paling alim sekalipun, yang ideologinya amar makruf nahi munkar, anti-phustun, bahkan yang jargon hidupnya kerja, kerja, kerja, tak mungkin selalu lolos menangkis jengkel. Bahwa lantas ada semacam teknik menekan dalam-dalam dorongan misuh dan mengumpat, adalah soal lain. Tapi, seperti kata Pram (?), manusia sudah njancuk sejak dalam pikiran (mbuh Pram sing endi iki).

Adalah Benjamin Bergen, seorang linguis Amerika, dalam buku provokatif What The F (2016), yang mengkaji pisuhan di negara-negara Amerika, Eropa, dan Asia Pasifik, dan lalu memeringkat kadar toleransi orang terhadap pisuhan tertentu. Bergen melihat unsur relatifitas dalam bahasa pisuhan. Kita tak bisa menyepakati bahwa Asu secara eksklusif mengekspresikan kemarahan belaka. Pada beberapa momen, kita menggunakannya untuk melayani beberapa ekspresi kita: perasaan kagum, suka, dekat, sakit, bahkan romantis. Pujian terhadap gadis cantik pun bisa terwakili: ayune ncen asuuu pol.

Kata umpatan lain juga mengalami relatifitasnya, bergantung kultur tertentu.

Tapi satu hal harus digarisbawahi: misuh menolong kebuntuan psikis orang yang kehabisan kata-kata dalam menyalurkan ekspresi tertentu. Kalau jempol cantengen pembaca dilindas truk, atau bisul dilempar martil, apalagi calon gubernur idola dihina lawan, tentu ekspresi “aduh” kurang kaffah dibanding “diancuukk”. Orang lain bahkan bisa mengumpat sambil menyebut nama Tuhannya—seperti pula disebut oleh Bergen.

Kita sejak awal tak pernah bisa menjawab mengapa kepuasan tertentu pada pisuhan tak bisa diganti dan ditemukan padanannya pada kata yang lain. Sejak kecil, pisuhan tetiba saja diwariskan tanpa kita tahu muasalnya.

Untuk menjawab ini, Bergen mengkaji pula tradisi manusia Sanskrit hingga linguis modern dalam mendokumentasikan suara dan gestur mulut yang menghasilkan bunyi-bunyian tertentu. Artikulasi bunyi konsonan dalam susunan tertentu inilah yang menimbulkan efek psikologis kepuasan dalam kata-kata umpatan dan pisuhan. Pembaca lihat kombinasi huruf j, n, c, dan k, yang sangat kuat dan ditekan lebih dalam khususnya pada huruf c. Atau periksa kombinasi k, n, t, dan l, yang menitik-beratkan pada huruf k dan t. Komposisi huruf ini mengeksploitasi bibir, pangkal tenggorokan, dan juga gerak rahang ketika mengucapkan. Dibantu oleh paduan huruf vokal yang biasanya bunyinya dipanjangkan. Hasilnya: kepuasan tiada tara dalam misuh.

Pada kultur tertentu, terdapat pula derajat kekasaran dan ketepatan pisuhan. Di kota seribu pisuhan macam Surabaya, yang disebut pisuhan terkasar sangat berbeda dengan wilayah lain. Umpatan andalan Jakarta macam “Anjing”, tak akan ada gaungnya jika diucap di kota Pahlawan. Ringan saja dan malah, umpatan ala Jakarta itu cenderung unyu, kalau bukan girly. Bandingkan “anjing”-nya Jakarta dengan “mbokne ancuk”-nya Surabaya.

Sensor Budaya

Kendati banyak menolong kita karena keterbatasan bahasa dalam ekspresi manusia yang sangat kaya, pisuhan disensor atas nama norma dan moralitas. Pada ruang-ruang khusus, semua kosakata pisuhan tak boleh hadir sama sekali. Ini bisa dipahami karena yang profan harus diperhadapkan dan diperlawankan pada yang sakral. Misalnya, jancuk tak boleh hadir dalam semua ceramah agama. Maka ketika Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) atau almarhum Priyo Aljabar membunyikan Jancuk dalam siaran dan diskusi berkonteks agama, banyak yang tak terima. Meski kadang, penolakan itu dilandasi kurang matangnya kita dalam melihat relatifitas pisuhan. Jancuknya Emha bisa jadi berbeda dengan jancuknya pengendara di jalan Gedangan, Sidoarjo (macetnya asu!). Relatifitas keduanya membedakan: jika yang satu diikhtiarkan untuk mendekatkan penceramah dan jamaahnya, yang kedua dimaksudkan untuk mengutuki kemacetan. Apa boleh buat.

Apapun itu, pembaca, kita telanjur menyepakati aturan moral ini. Meski demikian, pisuhan tak akan musnah oleh aturan apapun yang tertulis di muka bumi—yang benar-benar sanggup melarang orang misuh—selama Tuhan belum menciptakan kata lain yang sepadan mengganti pisuhan.

Seperti kata Pram di awal tulisan, bukan? Mbuh Pram sing endi..

Previous ArticleNext Article

2 Comments

  1. Wooaaah… 😮
    Mlongo saya membacanya. Separuh yg pertama tidak setuju dg penulis, tetapi karena disertakan ulasan dari sudut pandang bahasa, alhasil separuh yg kedua terpaksa mencoba menerima.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Met Gala 2018 dan Kegilaan-kegilaannya 0 339

Oleh: Michelle Florencia*

Met Gala adalah salah satu acara tahunan yang paling dinanti-nantikan insan fesyen dunia. Bagaimana tidak? Acara yang yang sudah 70 tahun terakhir diselenggarakan ini bertabur bintang-bintang Hollywood yang mengenakan kostum super wow rancangan desainer kelas dunia.

Acara yang diinisiasi oleh Eleanor Lambert ini sebenarnya merupakan acara penggalangan dana untuk The Costume Institute dan pameran kostum di Metropolitan Museum of Art (Met), New York. Namun, tidak ada yang tahu pasti – selain tamu undangan pastinya – bagaimana suasana acara Met Gala sendiri dikarenakan acara ini tertutup bagi media dan para undangan juga tidak diperbolehkan mengunggah foto maupun video seputar acara Met Gala untuk menjaga ekslusifitasnya.

Di tahun 2018, Met Gala diselenggarakan pada Seni n (7/5) di New York Metropolitan Museum of Art. Met Gala kali ini merupakan pembuka pameran terbesar yang pernah dibuat The Costume Institute. Mengangkat tema Heavenly Bodies: Fashion and The Catholic Imagination, ekshibisi ini begitu menarik karena bekerjasama dengan keuskupan Vatikan untuk memamerkan benda-benda gereja Vatikan. Tak hanya itu, para desainer kenamaan seperti Jeanne Lanvin, Karl Lagerfeld, John Galliano, Jean Paul Gaultier, dan nama-nama besar lainnya turut serta memamerkan rancangan mereka yang terinspirasi dari simbol-simbol Katolik.

Penulis menilai Met Gala merupakan salah satu acara yang paling gila, terutama Met Gala 2018. Bagaimana tidak? Pertama, harga tiket acara ini adalah USD 30.000/tamu atau Rp 405.000.000 (dengan asumsi kurs Rp 13.500/USD). Itu untuk teko thok, gurung nek mesen mejo. Apabila ingin memesan satu meja, maka tamu tersebut harus membayar USD 275.000 hingga USD 500.000. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp 3.712.500.000 hingga Rp 6.750.000.000—jumlah yang cukup untuk beli pisang naget dan ayam geprek seumur hidup!

Apabila Pembaca merasa punya uang segitu, jangan kepedean dulu bisa datang ke acara ini! Yang diundang hanyalah selebritis top Hollywood, donatur acara, para desainer tersohor dunia, super model kenamaan, dan perwakilan label busana atau aksesoris mewah yang bersedia menyumbang dana. Tak hanya itu, semua tamu undangan harus disetujui oleh Nyah Anna Wintour, pemimpin redaksi majalah Vogue dan juga ketua acara Met Gala. Kalau Pembaca masih seorang mahasiswa yang tinggal di kos-kosan yang hanya bisa ngadem dan numpang wifi di perpus kampus (gratisan), barangkali bisa tidur dulu untuk datang ke acara ini dalam mimpi.

Beauty is pain menjadi selogan bagi para undangan, terutama tamu undangan wanita. Lihat saja Blake Lively  dengan gaun Versace-nya yang super panjang , rawan keselimpet, nyeret-nyeret, dan mau nggak mau rela “mengepel” lantai museum bisa dibilang jadi cleaning service dadakan. Penulis juga sangat mengapresiasi kekuatan dan kekekaran punggung Katy Perry yang memikul sayap dengan ukuran buto. Belum lagi Rihanna yang mampu tetap tegak berdiri saat mengenakan dress, cape, dan topi ala paus yang penuh dengan borci-borci (kosakata ala emak-emak Pasar Atum untuk menyebut payet) rancangan Maison Margiela yang kalau ditotal  barangkali bisa sampai belasan kilogram. Tak kalah hebat, Sarah Jessica Parker mampu menahan beban dari pajangan rumah yang dijadikan bando oleh Dolce and Gabbana itu demi mengalihkan fokus agar tidak terpaku pada wajahnya yang botox-nya tidak merata itu. Penulis saja sudah ngomel-ngomel karena bahu suka salah urat kalau bawa laptop di tas. Luar biasa memang kekuatan para wanita di Met Gala 2018!

Kegilaan selanjutnya ialah keberanian Andrew Bolton, kurator The Costume Institute dan sesosok pencetus tema-tema Met Gala dalam beberapa tahun terakhir, dalam menentukan tema Met Gala tahun ini, yaitu Heavenly Bodies: Fashion and Catholic Imagination. Presiden Kebudayaan Vatikan, Gianfranco Ravasi sendiri bersyukur atas diangkatnya tema ini, sebab artinya simbol Katolik masih bisa menyentuh orang lain.

Tapi, akibat mencetuskan ide kontroversial ini, ia harus bolak-balik New York-Vatikan sebanyak 10 kali dalam satu tahun terakhir! Dikutip dari Tirto, Bolton menjalin relasi dengan lima orang pastur pejabat gereja dan menteri kebudayaan Vatikan untuk bisa meminjam busana pastur, mahkota yang dikenakan Paus, dan benda-benda gereja lainnya. Total ada lebih dari 40 benda yang biasa tersimpan di dalam tempat penyimpanan perlengkapan ekaristi (sakristi) di sebuah gereja di Vatikan. Berani buat ide gila, harus berani kerja gila!

Tak hanya membuat Bolton bolak-balik New York-Vatikan sampai mbulak, tema yang menyentuh ranah keagamaan ini juga menimbulkan kontroversi. Penulis paparkan terakhir karena merupakan klimaks dari kegilaan acara ini. Ide suangar nun gendeng ini  rupanya tidak disambut baik oleh beberapa selebritis, dan bahkan ingin memboikot Met Gala 2018. Dikutip dari Vogue, tema ini jadi kontroversi karena fesyen dinilai tak pantas disandingkan dengan hal-hal yang dianggap sakral atau suci. Tapi, menurut Bolton hal itu lumrah saja, “Ini menegaskan kesetiaan pada agama, eksistensi, dan perbedaan agama,” tukasnya.

Yang jelas, apabila ingin mengangkat tema keagamaan, harusnya pihak Met Gala tetap menjaga kesucian agama itu sendiri. Tak pantas rasanya apabila mengenakan pakaian bertema agamis, tapi dibuat seperti pakaian yang kekurangan kain dan bikin orang salah fokus. Entah bagaimana jadinya kalau acara semacam ini diselenggarakan di Indonesia. Gurung diselenggarakno wes dicekal disek. Hehehe….

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Sembilan Dosa Bocah Milenial 1 320

Redaksi kali ini memuat hal menarik: panduan ringkas memahami karakteristik masyarakat milenial! Barangsiapa hendak mengikuti tren yang terjadi (juga mungkin keganjilan-keganjilannya), bolehlah disimak:

1. Raimu ketulung mobilmu.

Begitulah kira-kira perumpaan paling sahih untuk menggambarkan skala prioritas para milenial. Mereka menghidupi nilai dimana penampilan adalah segalanya. Sebetulnya tak cuma dandanan luar, tapi juga keseluruhan atribut yang dapat dilekatkan dan dapat meningkatkan status sosial. Pengeluaran per bulan untuk mendandani diri adalah prioritas nomor satu. Pomade, baju branded (preloved rapopo sing penting Zara), sepatu, lipstick (musti matte biar kalo mimik di gelas tanpa bekas), mobil (kredit dijabani pokoke pantes, minimal Agya Ayla) dan seterusnya.

2. Hape apel krowak sebagai sekte agama

Milenial melihat ponsel sebagai ritus baru beragama. Rutin dihayati dan disayang-sayang. Coba periksa dimanapun mereka berada, ponsel tak pernah absen dipelukan. Mulai bobo cantik sampai menjelang cawik, hape tak lepas di genggaman. Merek didominasi apel krowak, tapi isi aplikasi paling melip hanya game, youtube atau instant messenger (karena memang mampunya mengoperasikan itu, mohon dimaklumi). Sesekali diisi fasilitas editing foto, biar aduhai kalau selfie diunggah ke media sosial.

3. Nongkrong sampe mbulak

Kapanpun harus disisakan waktu luang. Ini ciri yang sangat kentara, sebab milenial senantiasa mencari sekeras-kerasnya waktu luang, sekalipun di tengah kesibukan maha padat. Nongki-nongki sambil isep Vape biasanya menjadi pilihan. Sekedar di kafe kelas menengah, atau sampai kelas atas, yang menunya punya prinsip ra enak ra popo sing penting instagrammable. Kadang karena ingin dinilai memahami selera elite, pergilah mereka ke Setarbak—yang andai kopinya dituker dengan kapal api 2.500 rupiah pun milenial tak sadar beda rasanya. Pokoke nggaya!

 4. My trip my adventure, mak crit mak plekentur

Banyak milenial ababil yang tega menabung banyak untuk dihabiskan seluruhnya demi vakansi. Liburan ini konon adalah pelarian semi-intelektual: kembali pada alam, menghayati ciptaan Tuhan, menepi ke pantai, kontemplasi ke pegunungan, dan segudang alasan-alasan gombal mbelgedhes. Intine kepingin hura-hura kok harus repot mencari alasan filosofis. Tiket kereta api atau pesawat bisa di-booking jauh-jauh hari. Kalau perlu sampai ke luar negeri, biar kaffah liburannya, Havana o nana. Singapore gakpapalah, lumayan bisa poto-poto di depan singa muntah. Atau negeri-negeri eksotis lainnya, agar bisa wisata kuliner unik-unik, lalu bikin vlog, atau story. Tujuannya jelas: mari dipamerkan ke handai-taulan ngenes yang melas  di media sosial.

5. Isolasi sosyel

Milenial acapkali mengisolasi dirinya atau kumpulan gengnya dari orang lain. Asyik-asyik sendiri, galo-galo sendiri dan kalau berkumpul, menu utama selalu ghibah. Jarang bertemu atau sulit membuka diri dari kelompok lain. Akibatnya, tak ada tradisi dalam diri mereka untuk merekat secara sosial, saling tegur sapa, memahami secara intens dunia sosialnya. Mungkin sudah terlalu lelah masturbasi dengan identitasnya sendiri.

6. Susah setia
Para millenial ini senang hidup tanpa pilihan, jadi nihilis ben filosofis. Tiada kuasa mereka bertahan lebih dari 2 jam hanya mengerjakan satu kegiatan. Bosenan. Sebentar buka Line, beberapa menit kemudian pindah ke instagram, lalu twitteran. Bentar-bentar buka pintu dapur, buka kulkas, gak ada apa-apa, dikit-dikit mie instan lagi. Ini dapat dipahami kerena mereka hanya menunggang tren yang amat sementara. Setelah tren gaya itu perlahan mereda, berpindahlah mereka ke wilayah lain. Milenial adalah orang-orang yang nomaden dalam bergaya.

7. Antologi quotes berjalan
Kutap-kutip kalimat indah antologi biar keliatan sentimentil. Kalau bisa jangan hanya jadi antologi berjalan; jadilah kamus, atau perpustakaan sekalian. Ini demi perbendaharaan kata-kata mutiara yang jitu untuk melengkapi caption foto instagram selfie di bawah pohon rindang yang korelasinya tentu bernilai nol. Atau jadi senjata mutakhir untuk merayu mbak’e, berjajarlah amunisi gombalan Dilan sampai Ditto, tinggal dipilih sesuai situasi. Tentu yang diutamakan bukan quotes berbau masalah politik-ekonomi-sosial, apalagi religi. Semua berputar pada ranah romansa, satu-satunya aspek kehidupan yang paling dikuasai millenials. Cinta-cintaan, menghindar dari mantan. Ncen kakehan gaya. Mbayar iuran kas kelas ae sek kredit.

8. Cenayang Nirkabel

Hanya bermodalkan kuota internet, itu pun kadang numpang tethering, milenial bisa tahu aktifitas terbaru dari teman-temannya (baca: following dan follower). Milenial mengumpulkan pundi-pundi informasi itu dari story, postingan, tweet, dan seabrek fitur medsos lain. Jelas sekali, nuansa nongki cantik jadi tidak diwarnai dengan saling menanyakan kabar, tapi sekedar klarifikasi. Kondisi ini menuntut milenial untuk selaluup to date. Asu tenan.

9. Ra ngurus dapuranmu

“Situ sapah kok ngurusi hidup eike?” Begitulah filosofi hidup milenial. Maksudnya ingin tampil independen dan mandiri, tapi sering tersesat pada apatisme. Maksudnya berupaya mendobrak konservatisme nilai-nilai, tapi meleset ke kebodohan. Sangat sensitif pada privasi, dan menjadi paranoid agar hidupnya tak diinterupsi oleh orang lain. Sebaliknya, karena terlalu berkonsentrasi pada diri sendiri, individu milenial mengabaikan dunia lain. Orang lain adalah antah berantah. Yang penting urusan diri sendiri beres, situ mau jumpalitan juga terserah. Sangat cuek dan masa bodoh.

Itu tadi sembilan ulasan dari kami. Jika ada bantahan atau tambahan, bolehlah dikirimkan pada kami. Siapa tau juru bicara milenial tersinggung. Hehehe

 

 

Editor Picks