Mengapa Misuh Penting untuk Jiwa Raga Bangsa 2 1846

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Pembaca, mustahil bisa dipercaya kalau situ adalah manusia yang tak pernah mengumpat. Pembaca paling alim sekalipun, yang ideologinya amar makruf nahi munkar, anti-phustun, bahkan yang jargon hidupnya kerja, kerja, kerja, tak mungkin selalu lolos menangkis jengkel. Bahwa lantas ada semacam teknik menekan dalam-dalam dorongan misuh dan mengumpat, adalah soal lain. Tapi, seperti kata Pram (?), manusia sudah njancuk sejak dalam pikiran (mbuh Pram sing endi iki).

Adalah Benjamin Bergen, seorang linguis Amerika, dalam buku provokatif What The F (2016), yang mengkaji pisuhan di negara-negara Amerika, Eropa, dan Asia Pasifik, dan lalu memeringkat kadar toleransi orang terhadap pisuhan tertentu. Bergen melihat unsur relatifitas dalam bahasa pisuhan. Kita tak bisa menyepakati bahwa Asu secara eksklusif mengekspresikan kemarahan belaka. Pada beberapa momen, kita menggunakannya untuk melayani beberapa ekspresi kita: perasaan kagum, suka, dekat, sakit, bahkan romantis. Pujian terhadap gadis cantik pun bisa terwakili: ayune ncen asuuu pol.

Kata umpatan lain juga mengalami relatifitasnya, bergantung kultur tertentu.

Tapi satu hal harus digarisbawahi: misuh menolong kebuntuan psikis orang yang kehabisan kata-kata dalam menyalurkan ekspresi tertentu. Kalau jempol cantengen pembaca dilindas truk, atau bisul dilempar martil, apalagi calon gubernur idola dihina lawan, tentu ekspresi “aduh” kurang kaffah dibanding “diancuukk”. Orang lain bahkan bisa mengumpat sambil menyebut nama Tuhannya—seperti pula disebut oleh Bergen.

Kita sejak awal tak pernah bisa menjawab mengapa kepuasan tertentu pada pisuhan tak bisa diganti dan ditemukan padanannya pada kata yang lain. Sejak kecil, pisuhan tetiba saja diwariskan tanpa kita tahu muasalnya.

Untuk menjawab ini, Bergen mengkaji pula tradisi manusia Sanskrit hingga linguis modern dalam mendokumentasikan suara dan gestur mulut yang menghasilkan bunyi-bunyian tertentu. Artikulasi bunyi konsonan dalam susunan tertentu inilah yang menimbulkan efek psikologis kepuasan dalam kata-kata umpatan dan pisuhan. Pembaca lihat kombinasi huruf j, n, c, dan k, yang sangat kuat dan ditekan lebih dalam khususnya pada huruf c. Atau periksa kombinasi k, n, t, dan l, yang menitik-beratkan pada huruf k dan t. Komposisi huruf ini mengeksploitasi bibir, pangkal tenggorokan, dan juga gerak rahang ketika mengucapkan. Dibantu oleh paduan huruf vokal yang biasanya bunyinya dipanjangkan. Hasilnya: kepuasan tiada tara dalam misuh.

Pada kultur tertentu, terdapat pula derajat kekasaran dan ketepatan pisuhan. Di kota seribu pisuhan macam Surabaya, yang disebut pisuhan terkasar sangat berbeda dengan wilayah lain. Umpatan andalan Jakarta macam “Anjing”, tak akan ada gaungnya jika diucap di kota Pahlawan. Ringan saja dan malah, umpatan ala Jakarta itu cenderung unyu, kalau bukan girly. Bandingkan “anjing”-nya Jakarta dengan “mbokne ancuk”-nya Surabaya.

Sensor Budaya

Kendati banyak menolong kita karena keterbatasan bahasa dalam ekspresi manusia yang sangat kaya, pisuhan disensor atas nama norma dan moralitas. Pada ruang-ruang khusus, semua kosakata pisuhan tak boleh hadir sama sekali. Ini bisa dipahami karena yang profan harus diperhadapkan dan diperlawankan pada yang sakral. Misalnya, jancuk tak boleh hadir dalam semua ceramah agama. Maka ketika Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) atau almarhum Priyo Aljabar membunyikan Jancuk dalam siaran dan diskusi berkonteks agama, banyak yang tak terima. Meski kadang, penolakan itu dilandasi kurang matangnya kita dalam melihat relatifitas pisuhan. Jancuknya Emha bisa jadi berbeda dengan jancuknya pengendara di jalan Gedangan, Sidoarjo (macetnya asu!). Relatifitas keduanya membedakan: jika yang satu diikhtiarkan untuk mendekatkan penceramah dan jamaahnya, yang kedua dimaksudkan untuk mengutuki kemacetan. Apa boleh buat.

Apapun itu, pembaca, kita telanjur menyepakati aturan moral ini. Meski demikian, pisuhan tak akan musnah oleh aturan apapun yang tertulis di muka bumi—yang benar-benar sanggup melarang orang misuh—selama Tuhan belum menciptakan kata lain yang sepadan mengganti pisuhan.

Seperti kata Pram di awal tulisan, bukan? Mbuh Pram sing endi..

Previous ArticleNext Article

2 Comments

  1. Wooaaah… 😮
    Mlongo saya membacanya. Separuh yg pertama tidak setuju dg penulis, tetapi karena disertakan ulasan dari sudut pandang bahasa, alhasil separuh yg kedua terpaksa mencoba menerima.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 343

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 274

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks