Mengapa Misuh Penting untuk Jiwa Raga Bangsa 2 2102

Pembaca, mustahil bisa dipercaya kalau situ adalah manusia yang tak pernah mengumpat. Pembaca paling alim sekalipun, yang ideologinya amar makruf nahi munkar, anti-phustun, bahkan yang jargon hidupnya kerja, kerja, kerja, tak mungkin selalu lolos menangkis jengkel. Bahwa lantas ada semacam teknik menekan dalam-dalam dorongan misuh dan mengumpat, adalah soal lain. Tapi, seperti kata Pram (?), manusia sudah njancuk sejak dalam pikiran (mbuh Pram sing endi iki).

Adalah Benjamin Bergen, seorang linguis Amerika, dalam buku provokatif What The F (2016), yang mengkaji pisuhan di negara-negara Amerika, Eropa, dan Asia Pasifik, dan lalu memeringkat kadar toleransi orang terhadap pisuhan tertentu. Bergen melihat unsur relatifitas dalam bahasa pisuhan. Kita tak bisa menyepakati bahwa Asu secara eksklusif mengekspresikan kemarahan belaka. Pada beberapa momen, kita menggunakannya untuk melayani beberapa ekspresi kita: perasaan kagum, suka, dekat, sakit, bahkan romantis. Pujian terhadap gadis cantik pun bisa terwakili: ayune ncen asuuu pol.

Kata umpatan lain juga mengalami relatifitasnya, bergantung kultur tertentu.

Tapi satu hal harus digarisbawahi: misuh menolong kebuntuan psikis orang yang kehabisan kata-kata dalam menyalurkan ekspresi tertentu. Kalau jempol cantengen pembaca dilindas truk, atau bisul dilempar martil, apalagi calon gubernur idola dihina lawan, tentu ekspresi “aduh” kurang kaffah dibanding “diancuukk”. Orang lain bahkan bisa mengumpat sambil menyebut nama Tuhannya—seperti pula disebut oleh Bergen.

Kita sejak awal tak pernah bisa menjawab mengapa kepuasan tertentu pada pisuhan tak bisa diganti dan ditemukan padanannya pada kata yang lain. Sejak kecil, pisuhan tetiba saja diwariskan tanpa kita tahu muasalnya.

Untuk menjawab ini, Bergen mengkaji pula tradisi manusia Sanskrit hingga linguis modern dalam mendokumentasikan suara dan gestur mulut yang menghasilkan bunyi-bunyian tertentu. Artikulasi bunyi konsonan dalam susunan tertentu inilah yang menimbulkan efek psikologis kepuasan dalam kata-kata umpatan dan pisuhan. Pembaca lihat kombinasi huruf j, n, c, dan k, yang sangat kuat dan ditekan lebih dalam khususnya pada huruf c. Atau periksa kombinasi k, n, t, dan l, yang menitik-beratkan pada huruf k dan t. Komposisi huruf ini mengeksploitasi bibir, pangkal tenggorokan, dan juga gerak rahang ketika mengucapkan. Dibantu oleh paduan huruf vokal yang biasanya bunyinya dipanjangkan. Hasilnya: kepuasan tiada tara dalam misuh.

Pada kultur tertentu, terdapat pula derajat kekasaran dan ketepatan pisuhan. Di kota seribu pisuhan macam Surabaya, yang disebut pisuhan terkasar sangat berbeda dengan wilayah lain. Umpatan andalan Jakarta macam “Anjing”, tak akan ada gaungnya jika diucap di kota Pahlawan. Ringan saja dan malah, umpatan ala Jakarta itu cenderung unyu, kalau bukan girly. Bandingkan “anjing”-nya Jakarta dengan “mbokne ancuk”-nya Surabaya.

Sensor Budaya

Kendati banyak menolong kita karena keterbatasan bahasa dalam ekspresi manusia yang sangat kaya, pisuhan disensor atas nama norma dan moralitas. Pada ruang-ruang khusus, semua kosakata pisuhan tak boleh hadir sama sekali. Ini bisa dipahami karena yang profan harus diperhadapkan dan diperlawankan pada yang sakral. Misalnya, jancuk tak boleh hadir dalam semua ceramah agama. Maka ketika Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) atau almarhum Priyo Aljabar membunyikan Jancuk dalam siaran dan diskusi berkonteks agama, banyak yang tak terima. Meski kadang, penolakan itu dilandasi kurang matangnya kita dalam melihat relatifitas pisuhan. Jancuknya Emha bisa jadi berbeda dengan jancuknya pengendara di jalan Gedangan, Sidoarjo (macetnya asu!). Relatifitas keduanya membedakan: jika yang satu diikhtiarkan untuk mendekatkan penceramah dan jamaahnya, yang kedua dimaksudkan untuk mengutuki kemacetan. Apa boleh buat.

Apapun itu, pembaca, kita telanjur menyepakati aturan moral ini. Meski demikian, pisuhan tak akan musnah oleh aturan apapun yang tertulis di muka bumi—yang benar-benar sanggup melarang orang misuh—selama Tuhan belum menciptakan kata lain yang sepadan mengganti pisuhan.

Seperti kata Pram di awal tulisan, bukan? Mbuh Pram sing endi..

Previous ArticleNext Article

2 Comments

  1. Wooaaah… 😮
    Mlongo saya membacanya. Separuh yg pertama tidak setuju dg penulis, tetapi karena disertakan ulasan dari sudut pandang bahasa, alhasil separuh yg kedua terpaksa mencoba menerima.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 258

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Nasib Naas Jerman yang Dilibas KorSel 0 248

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Per 27 Juni, tepatnya sejak Panser Jerman keok dilibas Oppa Korea Selatan di Piala Dunia, ada beberapa perubahan besar dalam persepakbolaan – dan mungkin juga – sejarah dunia.

Bagaimana tidak? Jerman adalah petahana Piala Dunia 2014. Kualitas pemain teruji dan track record merumput di Piala Dunia tidak perlu diragukan lagi. Sang langganan semifinal sejak 1938. Setidak-tidaknya kita berharap tinggi musti lolos 16 besar. Boleh dibilang wonder team. Uber alles deh pokoknya. Sedang lawannya, Taeguk Warriors asal Korea Selatan sama sekali antitesis semua itu. No offense loh, Oppa 🙁

Akal sehat jelas memprediksi kemenangan mudah Die Mannschaft atas Taeguk Warriors. Lah ndalah, njeketek, eng ing eng… Kenyataannya Jerman keok, plonga-plongo dihabisi Korea Selatan. Skor telak, 2-0. Gak mashookkk!

Dari awal sebenarnya posisi Jerman terbaca. Tiket melaju ke babak lanjutan dipertaruhkan, maka mereka menyerang terus. Kemungkinan tipis untuk lolos perlu dikejar. Sedang Korsel oleh karena dua kekalahan sebelumnya kontra Swedia dan Meksiko, sudah pasti angkat kaki meski menang atau kalah lawan Jerman malam itu. Tapi toh Korsel tetap on-fire, sampai peluit panjang mereka solid bertahan terus. Dari sini, kita mudah membaca siapa yang ngoyo dan siapa yang got nothing to lose.

Sepanjang pertandingan, Jerman betul menyerang tapi meleset melulu. Entah tidak cocok dengan angin di Rusia apa bagaimana. Melelahkan melihat permainan Jerman, gol tidak kunjung dibuat. Peluang banyak terbuang.

Apa karena ekspektasi penonton yang terlalu tinggi? Apa karena Jerman terlalu percaya diri?? Atau apakah memang mitos kutukan petahana pildun itu nyata adanya? Apakah Jerman memang ditakdirkan bernasib sama seperti Italia, Belanda, dan Spanyol? Sukses angkat trofi juara dunia lalu gagal mempertahankannya gelarnya? Saking mengerikannya kutukan itu, petahana bisa tersepak bahkan saat masih fase penyisihan grup.

Salam saya untuk kiper Korea yang telah bolak-balik menyelamatkan gawang. Juga pada pemain Korea sekalian yang dengan ciamik menghalau bola masuk jaring. Sampai paruh pertama, telur belum juga pecah. Pertahanan Korea Selatan belum bisa dikoyak. Menit ke-60 sekian, keadaan makin genting. Jerman tidak kunjung membuat angka, tiket lanjut dan mempertahankan gelar jadi terasa jauh. (Sebentar, nasib buruk ini apakah karena Jerman bermain di tanah Rusia? Saat Perang Dunia Kedua mereka kan…. *mulai cocoklogi).

Ritme permainan semakin terasa berat dan mendebarkan saat memasuki waktu tambahan. Jerman sudah kepayahan dan putus asa, permainan makin kacau. Korea Selatan konsisten dan merebut momentum lalu berhasil memecah kebuntuan. Skor satu untuk Korea Selatan. Rekaman Video Assistant Referees (VAR) dipakai untuk memutuskan apa gol itu sah atau tidak, sebab awalnya dikira off-side oleh wasit. Selebrasi Korsel bikin Jerman makin kalang kabut. Padahal pemain bintangnya turun. Mueller, Gomez, Oezil, dan Khedira dikerahkan agar segera cetak skor.

Tembakan banyak yang meleset. Terasa moril Jerman sudah merosot. Sampai-sampai, kiper Jerman, Neuer, meninggalkan pos jaganya. Mungkin karena sumpek rekan satu timnya tidak kunjung mencetak skor. Dirinya ikut merumput sampai begitu dekat dengan gawang Korea Selatan. Waktu tambahan sisa satu menit. Korea Selatan kembali mengoyak gawang Jerman yang ditinggalkan tak dijaga itu. Gol kembali dibuat.

Remek dan nelangsa lah Jerman diinjak Korea Selatan. Sisa waktu tidak cukup untuk membuat keajaiban. Panser kita angkat kaki. Kutukan telah tuntas terlaksana. Taeguk Warriors kalah, tapi bakal pulang ke negeranya dan disambut bak pahlawan.

Oppa dan Hyung telah menindas habis bule-bule Eropa itu. Sejarah telah mencatat itu. Daebak! Kemenangan atas Jerman juga berarti telah terjadi kemajuan pada persepakbolaan Korea Selatan di kancah dunia. Mereka telah jadi simbol untuk persebakbolaan Asia. Kini, mereka tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Terbukti pertahanan Korea jelas rapi dan mampu mengimbangi Jerman yang terus menyerang. Tidak kalah kualitas dengan si Panser.

Saya sendiri pendukung Jerman, tapi jujur diam-diam menantikan Korea Selatan menjebol gawang Jerman. Mungkin karena saya merasa terwakili sebagai sesama Asia. Sebab kan selama ini sepak bola rasa-rasanya hanya milik Eropa dan Amerika Latin. Ya kan, tim-tim itu saja toh yang menang. Tim-tim itu lagi yang dijagokan.

Boleh jadi, ini pecut untuk Indonesia agar empat tahun lagi bisa lolos kualifikasi Piala Dunia, lalu mungkin mampu menang telak 2-0 atas Inggris atau Spanyol. Siapa tahu?

Tanpa muluk-muluk, mungkin uji coba dulu dengan sapu bersih kemenangan di Asian Games tahun ini?

*Penulis adalah mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi Surabaya. Doyan nonton dan traktiran.

Editor Picks