Mengapa Nana, Kemana Nana? (Mengawal Sebulan Kepergian Si Primadona dari Layar Kaca) 0 1234

Genap sebulan sudah sejak episode pamungkas Mata Najwa yang diberi judul ‘Catatan Tanpa Titik’ 30 Agustus lalu. Terhitung semenjak itu, khalayak semesta raya mengaku patah hati. Bahkan yang lebih radikal, mereka bilang tak punya alasan menonton televisi lagi karena tumbangnya salah satu (tapi bisa jadi satu-satunya) program berkualitas di tanah air. Banyak yang menyayangkan keputusan – yang katanya jeda itu – setelah tujuh tahun Mata Najwa digemari pemirsa dan 17 tahun tuan rumahnya melalangbuana di dunia jurnalistik, lebih tepatnya di perusahaan media (Pak Brengos).

Alih-alih benar-benar menghilang dari peradaban, Najwa kini hanya pindah media. Mudah sekali menjumpainya di berbagai platform dunia maya, mengintip segala kesibukannya sebagai Duta Baca, atau bahkan membuat ‘Mata Najwa mini’ melalui media sosialnya. Terhitung sudah dua kali wawancara dengan pejabat publik ia lakukan. Setelah Masinton Pasaribu (anggota Pansus KPK) yang naik tayang 21 September, kemudian merambah ke ‘Emaknya Duit’ (Sri Mulyani Indrawati) 28 September. Singkat kata, toh Najwa tidak mungkin akan dirindukan lagi, wong dia selalu ADA.

Menarik pembahasan pada masa lalu dan kepribadiannya, Najwa dan segala hal tentangnya selalu menyita perhatian. Acaranya keliling pelosok Indonesia sampai ke mancanegara, tak pernah sepi peminat bahkan meraih Rekor MURI. Kegilaan ini bisa semakin tak terperikan apabila tidak ada iktikad baik dari Najwa untuk megurung diri sebagai jurnalis, bukan artis (sehingga tidak ada fanbase, fandom, fangirl, dan fanboy). Lalu kemudian, mengundang sukma kita untuk bertanya-tanya, apa yang membuat Najwa dibuntuti penggemar (yang militan)?

Pertama, baiklah harus diakui serta wajib mengagumi kecerdasan, ketajaman, dan kekritisan wanita Virgo ini saat melempar pertanyaan kepada para pemuka teras Senayan. Tidak bisa dipungkiri, bahkan para pejabat seringkali mangkir jika dipanggil karena takut digurui. Atau yang lebih parah, citra baik terkuliti karena gagal menjalankan amunisi politisi: menjawab sok diplomatis jika sudah di depan Nana. Istilahnya, kyainya para pejabat sudah kalah telak dengan jampi-jampi Nana sebelum ‘manggung’.

Kedua, ini yang paling penting, Nana adalah primadona dalam panggung talkshow terbaik sejagad raya ini. Jika talkshow politik di televisi berlogo rajawali ini dibawakan oleh jurnalis lain yang sama kapabilitasnya, kita tak bisa menjamin bahwa rakyat akan tetap mencinta sehebat menggilai Mata Najwa. Ini semua adalah faktor seorang Najwa, walau pada akhirnya kita harus salut akan sikap membuminya yang menyebut-nyebut nama Citra (si produser) dan kawan-kawan tim di balik layar.

Jika kita berandai-andai – tak masalah jika sedikit nakal – kalau Quraish Shihab bukan abinya Nana, apakah Mata Najwa tetap akan jadi program talkshow terbaik? Kalau bukan Nana, apakah stasiun televisi milik petinggi partai (anteknya rezim kotak-kotak) itu bisa naik daun karena program unggulannya?

Najwa memang punya aura ajaib, harus diakui. Pasalnya jika disandingkan dengan Andini Effendi, Aviani Malik, Zilvia Iskandar, dan jurnalis senior wanita lainnya jebolan perusahaan pers yang sama, mereka belum seberapa. Bahkan, akui saja jika nama-nama barusan harus diketikkan pada kolom pencarian Google terlebih dahulu untuk pembaca sekalian dapat mengenalinya.

Segala faktor keindahan yang melekat pada Nana inilah yang kemudian dijadikan senjata jitu bagi stasiun televisi (yang beruntungnya) jadi payung pelindungnya untuk menembakkan peluru-peluru, membuat penonton keblinger dan tersihir mantranya, jadi tergila-gila dan kecanduan nonton setiap malam Rabu menjemput.

Menilik lebih lanjut, pertanyaan kemudian yang muncul adalah: mengapa harus sekarang? Seakan timing resignnya Nana setelah episode Novel Baswedan adalah yang maha-tepat. Kemudian pemirsa budiman jadi berspekulasi ala-ala ‘grup Whatsapp’. Mulai dari kemungkinan ada intervensi politik setelah wawancara penyidik senior KPK itu, sampai Nana mungkin mau pindah stasiun televisi sebelah. Atau yang lebih lucu lagi, Nana mungkin dilamar Jokowi jadi menteri! Tebak-tebakan ini merebak di kalangan warga, sembari yang dibicarakan baru saja piknik ke Bangkok.

Tanpa kita sadari, pola yang sama juga pernah ditunjukkan personil lainnya. Satu dekade lalu, stasiun televisi yang sama ini juga kehilangan ‘buruh’ unggulannya Andy F. Noya. Dengan versi yang lebih ekstrim, Andy berhenti ketika baru genap setahun Kick Andy berdiri dan setelah 40 tahun perjuangannya berdarah-darah sebagai ‘kuli tinta’. Justru keluar dari korporasi, ia merintis Kick Andy Foundation dan kini tak pernah absen tetap menduduki kursi host program tiap Jumat itu.

Sekali lagi berandai-andai, apakah Nana akan menganut pola yang sama?

Dalam buku biografinya, Andy mengaku ingin keluar dari comfort zonenya sebagai pimpinan redaktur tertinggi, alasan yang sama dengan yang diakui seorang Najwa Shihab di mata dunia. Andy mengundurkan diri tepat ketika karirnya di awang-awang dan ketika programnya terlanjur dicintai masyarakat, motif yang sama kok juga terjadi pada Mata Najwa. Jangan-jangan…

Spekulasi, ramalan, dan gossip bisa saja diciptakan netizen (yang katanya pengangguran). Yang terlanjur menghamba pada Mata Najwa tentu saja secara radikal menangisi kepergian yang sudah sebulan ini. Sisanya, mari kita tunggu apa kelanjutan si primadona! Ke mana lagi ia akan menyerbu ‘mangsa’?

 

-Putri Demes Dharmesty-

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Panduan Nonton ‘Mantan Manten’ 0 503

Sebagai film Indonesia yang lagi-lagi bercerita tentang perempuan, Mantan Manten karya Visinema Pictures menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu umat feminis. Apalagi, film ini bakal mengangkat adat Jawa, yang walaupun sudah mendominasi media kita, tapi tetap menarik jika ada produser film yang mau mengupasnya lebih dalam.

Untuk itu, penulis yang baik hati ini tidak akan membocorkan alur cerita apalagi endingnya kepada pembaca yang berniat menonton (toh trailer sudah mengambil bagian ini hehe). Alih-alih, penulis justru bakal membagi panduan menonton bagi pembaca sekalian.

 

  1. Gak usah sedia tisu

Karena bercerita tentang mantan yang manten, tidak membuat film ini lantas membuat kita teraduk-aduk emosinya, air mata mengucur deras tak henti. Siapa sih yang gak pernah ditinggal nikah sama mantannya? Ini adalah kasus yang paling jamak didapati dalam kisah romansa remaja bangsa yang labil ini :(.

Tapi, barang sebentar kita mau mengarungi gejolak perasaan Mbak Yasnina—yang diperankan Atiqah Hasiholan—ditinggal tunangannya menikah dengan orang lain, adegan nangis-nangisan malah cepat sekali berganti ke adegan lainnya. Baru saja ingin menyelami perasaan serba bingung dan gak enaknya Surya antara memilih Yasnina atau keputusan bapaknya, kita dihadapkan pada sikap kekanakannya dan cenderung menyebalkan.

Penulis juga kesulitan betul menghargai peran Budhe Marjanti yang dihormati sebagai dukun manten itu. Kesakralan hidupnya menjalani puasa dan semedi tidak sempat dihadirkan, diburu dengan durasi film 1 jam 42 menit itu. Pun film ini absen menampilkan adegan pertengkaran batin bapaknya Surya, Iskandar, yang akhirnya menelan pil pahit karena gengsi meminta Yasnina jadi dukun manten buat anaknya.

Emosi dilempar ke sana kemari. Diakhiri tanpa permisi. Diminta ganti ketika kita sedang menikmati. Padahal sudah tersedia 1 pak tisu di tas penulis, berjaga-jaga siapa tahu scene-scene tertentu menguras air mata. Baru mau nangis, eh sudah ganti scene lagi. Haduuuh!

 

  1. Gak usah berharap tinggi-tinggi

Ingat sodara-sodara, tidak semua film bertujuan mendidik! Gak usah berekspektasi tinggi pula bahwa paes dan adat nikah mantenan ala Jawa bakal dikupas tuntas di film ini. Malahan, posisinya menjadi trivial.

Sungguh hebat, Yasnina yang hidup tanpa latar belakang tradisi yang jelas di panti asuhan, bisa belajar paes Jawa dan bahkan jadi dukun manten keluarga keraton Solo dalam kurun waktu 3 bulan. Lebih hebat lagi, Yasnina berani merias istri mantannya, padahal emosinya masih belum stabil untuk menerima fakta pahit itu. Dikisahkan ia juga masih emosi meledak-ledak ketika tahu mantannya akan menikah dengan orang lain. Lah kok njelalah, Nina tiba-tiba berubah jadi sosok yang tenang waktu membetulkan beskap Surya yang kekecilan itu. Kapan berubahnya, cah ayu?

Jangan-jangan, Mbak Nina—panggilan sayang Yasnina—ini lagi pansos. Kisah hidup dan cinta dia kalau diunggah netijen tamu undangan mantenan Surya ke media sosial dengan hestek #JusticeForNina pasti laku keras, menuai simpati di mana-mana. Tiba-tiba Nina terkenal, jadi influencer dan motivator dadakan, serta mendapat banyak orderan endorse online shop abal-abal.

Oh ya, Iskandar, si bapaknya Surya, ceritanya memegang teguh adat Jawa. Dia hanya percaya Budhe Marjanti sebagai dukun manten maha-sakti sak Indonesia raya. Saking taatnya pada tradisi, dia rela lo menerima Nina sebagai orang yang diwarisi tugas paes manten anaknya, walaupun awalnya menyimpan dendam kesumat padanya, entah karena apa. Tapi kalau-kalau dia pemegang teguh adat dan memiliki spiritualitas yang baik, kok sampai hati betul Iskandar demi bisnis mengkhianati calon mantunya sendiri? Apakah berkhianat termasuk jihad? Sungguh janggal.

 

  1. Gak perlu nonton sampai habis

Bukankah judul sudah menceritakan semuanya? Pokoknya ini cerita tentang mantan yang manten. Namanya juga mantan, berarti dia mantennya bukan dengan si pemeran utama. Dari scene pertama, ketika Surya melamar Nina, kita sudah tahu bahwa di akhir nanti mereka gak akan bersama. Bodo amat dengan nasibnya yang kelak akan ditipu calon mertua sendiri.

Pun kalau dia adalah wanita karir hebat, bisa-bisanya harta habis tanpa sedikit pun bersisa. Katanya lulusan amerika, bangun karir dari nol, dapat banyak penghargaan (sebagaimana dikisahkan di dinding panti asuhan), bisa-bisanya teledor dan tidak punya aset sama sekali, kalaupun punya belum balik nama lagi. Masak iya sih, manajer investasi terkenal tidak punya tim pengacara pribadi dan tidak tahu cara investasi bagi dirinya sendiri?

Nina boleh deal dengan banyak  klien perusahaan raksasa, tapi kalah dengan ibu-ibu dukun manten di pegunungan Temanggung. Kalah pula dengan akal-akalan bapak tua yang menipu karir dan jalan cintanya. Di mana Nina yang pintar lobi-lobian itu ketika berhadapan dengan budhe dan Pak Iskandar? Mangkane to Mbak, keseimbangan IQ, EQ, dan SQ itu penting!

 

Demikian panduan nonton ini telah dibuat. Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan pembaca sekalian karena film Mantan Manten masih bisa ditemui di bioskop-bioskop kesayangan Anda!

 

Salam hangat, penggemar arwah suami Budhe Marjanti; bapak tua yang dibayar cuma buat senyum dan manggut-manggut sepanjang filem.

‘Yowis Ben 2’: Film Band-band-an yang Yowislah 0 985

Setamat Bayu dan kawan-kawan menempuh masa sekolah, tibalah mereka pada tantangan hidup berikutnya: lanjut kuliah atau kerja.

Belum sempat daftar kuliah bersama gadis kecintaan, boneka Susan, Bayu keburu disalip Roy yang—dengan mudahnya—mengajak Susan melanjutkan pendidikan di Jerman. Tak cukup dibuat jatuh oleh kandasnya hubungan, ia terancam masa kontrak rumah yang hampir habis. Bayu dibuat pusing. Satu-satunya jalan keluar ialah dengan membesarkan band-nya, Yowis Ben.

Jika ingin jujur berbicara film tentang band di Indonesia, apalagi yang berformat komedi, bisa dikatakan ada dua hal yang tidak mampu dilepaskan: persoalan wanita dan pertarungan idealisme. Plot pertama, tokoh utama berusaha mengejar gadis idaman lalu tanpa sengaja melupakan band; sedang di lain sisi, ada personil lain yang ketimpa masalah sehingga harus meninggalkan band. Atau plot kedua, band butuh panggung untuk berkembang, sedangkan realitanya, tak semua band mampu membawa semangat idealisnya, hingga harus berkongsi dengan pasar; personil lain ada yang setuju ada pula yang tidak.

Film Yowis Ben 2 tetap terjebak pola semacam itu. Melanjutkan kesuksesan dari film pertama, Fajar Nugros dan Bayu Skak mendamba lebih. Maka jadilah mereka merekrut nama-nama besar macam Anya Geraldine, Andovi dan Jovial da Lopez, serta sederet artis lain. Demi pasar yang lebih luas, mereka pun memaksakan memadukan bahasa Jawa dan Sunda, meski tak paham juga mengapa sebenarnya mereka harus ke Bandung (sekalian aja ke Jakarta, cuk).

Dua puluh menit pertama menonton, film ini masih terasa masuk akal. Beragam problem muncul, dari masalah galau remaja hingga persoalan finansial, juga ketidakbecusan Cak Jon mengurus Yowis Ben. Sampailah mereka bertemu Cak Jim, seorang manajer artis profesional yang mengaku sudah mengorbitkan banyak band dan berniat membesarkan Yowis Ben.

Bagaimana caranya? Dengan mengirim mereka ke Bandung! Alasannya, karena dari sana—dan seolah-olah hanya dari sana saja—banyak band bisa terkenal. Sementara Jawa Timur, latar belakang yang awalnya mengangkat betapa idealisnya film ini, iklimnya ternyata nggak bagus buat ngartis.

Memasuki setengah film, kacau. Banyak logika cerita yang tumpang tindih. Bagaimana mungkin para orang tua personil band ini bisa percaya lulusan SMA bisa bertahan hidup di kota orang—mek bondho percoyo ke Cak Jim yang bahkan belum pernah mereka temui?

Bagaimana juga Mia, istri Yayan, bisa menyusul ke Bandung tanpa sepengetahuan si suami? Sedangkan di awal film, Yayan mengaku kesulitan secara finansial karena pendapatan dari band tak sebesar yang diharapkan. Oh… mungkin karena Mia—ternyata si suami cukup bodoh sampai nggak tahu—adalah anak tentara yang asli Bandung. (Cuuk, serius?)

Ke-mbulet-an ditambah lagi dengan kehadiran Stevie di Bandung, yang juga tak memerbaiki masalah apapun, selain demi kontrak Devina Aurel yang belum habis di film ini. Apa cuma biar bisa pegang-pegangan sama Nando?

Kalaupun ingin menunjukkan sisi Islam yang syar’i melalui pernikahan muda Mia-Yayan, justru penggambaran dalam film ini bisa jadi bumerang. Baik Mia maupun Yayan masing-masing tak mampu menjalani kedewasaan, selain dengan memarahi Yowis Ben karena nggak bangun shubuhan. Atau, saat Mia memilih tidur berdua dengan suami ketimbang dengan Stevie, sehingga tak tersisa lagi kamar buat Bayu dkk.

Karakter kekanak-kanakan ini diperparah dengan kondisi Yayan yang belum mapan secara finansial namun nekat menikah. Bisa jadi, pernikahan muda, yang selama ini sering digaungkan berpotensi rapuh oleh karena manten yang belum matang secara usia, memang benar berbahaya.

Kemunculan Asih juga jadi pertanyaan besar. Bagi orang-orang selevel pengusaha Markobar martabak yang ramai dan laris manis, Asih harusnya tak perlu lagi kuliah jauh di Malang, apalagi mendaftar di IKIP yang notabene nggak nyambung dengan usahanya. Bahkan bagi perempuan se-geulis dan setajir dia, lelaki macam Bayu normalnya cuma seliweran depan mata. Tapi toh film ini punya Bayu sehingga, mau tak mau, Anya harus bersedia mesra-mesraan sama anak band yang nggak jelas juntrungannya (jiancuk tenan).

Bayu pun, yang awalnya digambarkan megap-megap lantaran kondisi ibunya yang jualan pecel, dihimpit hutang kontrakan selama tiga tahun, biaya kuliah, dan masalah finansial sampai bikin nekat ke Bandung, ternyata masih sempat kencan dengan pengusaha martabak! Ada baiknya, bapaknya Asih menambah jam workout supaya akal sehatnya makin segar. Maksudnya, biar nggak langsung menerima orang asing yang datang di waktu-waktu tak wajar. Apa coba yang pembaca lakukan jika melihat seorang lelaki main ke rumah malam-malam, melompati tembok, ngaku ingin beli martabak, namun ternyata cuma modus biar bisa colek-colekan tepung sama Anya Geraldine?

Selain beragam logika cerita yang aneh, kemunculan figur wanita kurang lebih hanya dimanfaatkan sebagai gimmick semata. Seolah-olah benar kata Stevie, “Arek band-band-an iku lak mesti wedhokan ae”. Kalau di film pertama dengan cewek yang ini, di film kedua pasti cewek ini pergi dan diganti cewek lain. Siklus yang sama bakal terjadi pula di film ketiga.

The Tarix Jabrix (2008, 2009, 2011) dengan band The Changcuters, sama-sama menggunakan formula tersebut. Hanya saja, Yowis Ben menambah perbendaharaan bahasa lokal sebagai fondasi cerita maupun aksentuasi guyonan. Tanpa bahasa Jawa, film ini bagaikan Real Madrid tanpa Zidane soto tanpa kunyit; jadinya akan lain cerita.

Di luar kesia-siaan itu, rasanya sinema Indonesia masih dan tetap perlu diperkaya dengan tontonan dengan yang memadukan penggunaan bahasa lokal—yang tentunya tanpa dibumbui stereotip aneh. Biar filem kita isinya tak melulu lu gua lu gua lu gua lu gua lu gua…

Ciuuukk, ajur tenan.

Editor Picks