Mengapa Nana, Kemana Nana? (Mengawal Sebulan Kepergian Si Primadona dari Layar Kaca)

Genap sebulan sudah sejak episode pamungkas Mata Najwa yang diberi judul ‘Catatan Tanpa Titik’ 30 Agustus lalu. Terhitung semenjak itu, khalayak semesta raya mengaku patah hati. Bahkan yang lebih radikal, mereka bilang tak punya alasan menonton televisi lagi karena tumbangnya salah satu (tapi bisa jadi satu-satunya) program berkualitas di tanah air.

Banyak yang menyayangkan keputusan – yang katanya jeda itu – setelah tujuh tahun Mata Najwa digemari pemirsa dan 17 tahun tuan rumahnya melalangbuana di dunia jurnalistik, lebih tepatnya di perusahaan media (Pak Brengos).

Alih-alih benar-benar menghilang dari peradaban, Najwa kini hanya pindah media. Mudah sekali menjumpainya di berbagai platform dunia maya, mengintip segala kesibukannya sebagai Duta Baca, atau bahkan membuat ‘Mata Najwa mini’ melalui media sosialnya. Terhitung sudah dua kali wawancara dengan pejabat publik ia lakukan. Setelah Masinton Pasaribu (anggota Pansus KPK) yang naik tayang 21 September, kemudian merambah ke ‘Emaknya Duit’ (Sri Mulyani Indrawati) 28 September. Singkat kata, toh Najwa tidak mungkin akan dirindukan lagi, wong dia selalu ADA.

Menarik pembahasan pada masa lalu dan kepribadiannya, Najwa dan segala hal tentangnya selalu menyita perhatian. Acaranya keliling pelosok Indonesia sampai ke mancanegara, tak pernah sepi peminat bahkan meraih Rekor MURI. Kegilaan ini bisa semakin tak terperikan apabila tidak ada iktikad baik dari Najwa untuk megurung diri sebagai jurnalis, bukan artis (sehingga tidak ada fanbasefandomfangirl, dan fanboy). Lalu kemudian, mengundang sukma kita untuk bertanya-tanya, apa yang membuat Najwa dibuntuti penggemar (yang militan)?

Pertama, baiklah harus diakui serta wajib mengagumi kecerdasan, ketajaman, dan kekritisan wanita Virgo ini saat melempar pertanyaan kepada para pemuka teras Senayan. Tidak bisa dipungkiri, bahkan para pejabat seringkali mangkir jika dipanggil karena takut digurui. Atau yang lebih parah, citra baik terkuliti karena gagal menjalankan amunisi politisi: menjawab sok diplomatis jika sudah di depan Nana. Istilahnya, kyainya para pejabat sudah kalah telak dengan jampi-jampi Nana sebelum ‘manggung’.

Kedua, ini yang paling penting, Nana adalah primadona dalam panggung talkshow terbaik sejagad raya ini. Jika talkshow politik di televisi berlogo rajawali ini dibawakan oleh jurnalis lain yang sama kapabilitasnya, kita tak bisa menjamin bahwa rakyat akan tetap mencinta sehebat menggilai Mata Najwa. Ini semua adalah faktor seorang Najwa, walau pada akhirnya kita harus salut akan sikap membuminya yang menyebut-nyebut nama Citra (si produser) dan kawan-kawan tim di balik layar.

Jika kita berandai-andai – tak masalah jika sedikit nakal – kalau Quraish Shihab bukan abinya Nana, apakah Mata Najwa tetap akan jadi program talkshow terbaik? Kalau bukan Nana, apakah stasiun televisi milik petinggi partai (anteknya rezim kotak-kotak) itu bisa naik daun karena program unggulannya?

Najwa memang punya aura ajaib, harus diakui. Pasalnya jika disandingkan dengan Andini Effendi, Aviani Malik, Zilvia Iskandar, dan jurnalis senior wanita lainnya jebolan perusahaan pers yang sama, mereka belum seberapa. Bahkan, akui saja jika nama-nama barusan harus diketikkan pada kolom pencarian Google terlebih dahulu untuk pembaca sekalian dapat mengenalinya.

Segala faktor keindahan yang melekat pada Nana inilah yang kemudian dijadikan senjata jitu bagi stasiun televisi (yang beruntungnya) jadi payung pelindungnya untuk menembakkan peluru-peluru, membuat penonton keblinger dan tersihir mantranya, jadi tergila-gila dan kecanduan nonton setiap malam Rabu menjemput.

Menilik lebih lanjut, pertanyaan kemudian yang muncul adalah: mengapa harus sekarang? Seakan timing resignnya Nana setelah episode Novel Baswedan adalah yang maha-tepat. Kemudian pemirsa budiman jadi berspekulasi ala-ala ‘grup Whatsapp’. Mulai dari kemungkinan ada intervensi politik setelah wawancara penyidik senior KPK itu, sampai Nana mungkin mau pindah stasiun televisi sebelah. Atau yang lebih lucu lagi, Nana mungkin dilamar Jokowi jadi menteri! Tebak-tebakan ini merebak di kalangan warga, sembari yang dibicarakan baru saja piknik ke Bangkok.

Tanpa kita sadari, pola yang sama juga pernah ditunjukkan personil lainnya. Satu dekade lalu, stasiun televisi yang sama ini juga kehilangan ‘buruh’ unggulannya Andy F. Noya. Dengan versi yang lebih ekstrim, Andy berhenti ketika baru genap setahun Kick Andy berdiri dan setelah 40 tahun perjuangannya berdarah-darah sebagai ‘kuli tinta’. Justru keluar dari korporasi, ia merintis Kick Andy Foundation dan kini tak pernah absen tetap menduduki kursi host program tiap Jumat itu.

Sekali lagi berandai-andai, apakah Nana akan menganut pola yang sama?

Dalam buku biografinya, Andy mengaku ingin keluar dari comfort zonenya sebagai pimpinan redaktur tertinggi, alasan yang sama dengan yang diakui seorang Najwa Shihab di mata dunia. Andy mengundurkan diri tepat ketika karirnya di awang-awang dan ketika programnya terlanjur dicintai masyarakat, motif yang sama kok juga terjadi pada Mata Najwa. Jangan-jangan…

Spekulasi, ramalan, dan gossip bisa saja diciptakan netizen (yang katanya pengangguran). Yang terlanjur menghamba pada Mata Najwa tentu saja secara radikal menangisi kepergian yang sudah sebulan ini. Sisanya, mari kita tunggu apa kelanjutan si primadona! Ke mana lagi ia akan menyerbu ‘mangsa’?