Menjelang Dilantik, Om Anies Seharusnya Mimik Thai Tea Dulu 0 1412

Thai tea oh, thai tea

Khasiatnya seharusnya diketahui oleh om Anies sebelum dilantik.

Pembaca mungkin tahu betapa ajaib minuman berwarna jingga (oranye, kalau kata orang Indonesia) ini. Tahu-tahu saja, kita sering lihat namanya tertera dalam daftar menu di mana-mana. Mulai dari restoran, gerai minuman, tempat nongki, sampai dijajakan dalam kemasan botol kecil oleh para mahasiswa.

Sebenarnya, minuman ini bukan resep baru. Terima kasih pada DDTT (merk diinisial supaya tidak dikira endorse), teh Thailand ini jadi ngetren amat di kalangan masyarakat menengah ke atas Indonesia dalam beberapa bulan terakhir.

Rasanya: manis-manis gimanaaa gitu…

Siapa yang menyangka, bahwa ternyata asal-muasal Thai tea sendiri masih acap kali diperdebatkan. Teh Thailand yang benar-benar orisinil dipercaya tidak mengandung susu sama sekali, melainkan hanya seduhan rerempah seperti cengkeh, bunga lawang, biji tamarin, dan kapulaga. Jika benar begitu, entah yang sering kita jumpai di mal-mal ini teh Thailand KW seratus atau teh Thailand yang sengaja dibaur krimer bejibun biar pantas jadi adiknya gurin–si “teh hijau” yang katanya *uhuk* antioksidan tapi *uhuk* banyak gulanya.

Penulis yang patah hati oleh segala kepalsuan ini lalu mencoba mencari resep teh Thailand asli tradisional, yang disebut Cha Dum Yen. Rupanya, khasiat dari Cha Dum Yen nggak main-main, lho! Banyak sekali manfaatnya bagi tubuh, terutama untuk orang yang banyak kesibukan dan sering menghabiskan energi untuk berpikir. Wah… berarti, minuman ini cocok sekali untuk masyarakat urban yang padat kegiatan.

Apalagi pejabat di kota metropolitan.

Apalagi para politisi.

Apalagi gubernur. Atau eh, calon gubernur. Om Anies misalnya, yang bakal dilantik jadi gubernur ibukota kurang dari seminggu lagi. Mulai sekarang hingga nanti waktu sudah jadi gubernur, bolehlah Om Anies minum Thai tea setiap pagi sebelum bekerja. Habis, banyak sekali khasiatnya buat Om Anies (mungkin buat Kak Sandi juga).

Berikut ini tiga manfaat Teh Thailand untuk Om Anies.

 

Teh Thailand Bisa Kurangi Efek Alergi

Kandungan flavonoid yang ada dalam teh Thailand bisa meningkatkan perlindungan tubuh, dengan meminimalisir efek keracunan dan terjadinya peradangan. Cocok untuk orang yang memiliki alergi atau pantangan khusus.

Berarti, teh Thailand cocok juga untuk Om Anies yang punya alergi berat sama reklamasi pantai utara Jakarta. Siapa tahu, nanti-nanti kalau ternyata reklamasi tetap harus berlanjut, karena toh AMDAL sudah dibuat dengan sah, dan Jakarta memang butuh peremajaan ekstra sebagai pusat perekonomian Indonesia, Pak Anies tidak sampai gatal-gatal atau bahkan jatuh sakit. Kalau yang ini sih, kayaknya cocok juga buat Eggi Sudjana.

 

Teh Thailand Bisa Mengurangi Risiko Kolesterol Tinggi

Karena bisa mengurangi jumlah kolesterol lemak dalam aliran darah, teh Thailand juga manjur untuk mengurangi risiko kanker, diabetes, stroke, serta serangan jantung. Sehingga, minuman ini aman dikonsumsi mereka yang terlanjur menjalani pola hidup tidak sehat.

Dalam kasus Om Anies, ancaman kesehatan semacam ini bisa jadi menyerang beliau kala merealisasikan integrasi angkutan umum Jakarta. Kan bahaya, kalau tiba-tiba Om Anies terkena stroke atau serangan jantung saking syoknya dihadapkan dengan nyali tembok preman penguasa angkutan umum Jakarta. Semoga saja, Kak Sandi juga rajin mengajak Om (Ca)gub senam biar kebugaran tubuhnya selalu terjaga.

  

Teh Thailand Bisa Menyingkirkan Mata Panda

Fakta satu ini lebih sangar lagi. Selain diminum, teh Thailand juga bisa dijadikan kompres untuk mengurangi peradangan mata. Peradangan yang biasa disebut ‘mata panda’ ini kerap mendekorasi wajah sewaktu pemiliknya mengalami gangguan mata, atau lebih lazim lagi, kurang tidur.

Ramuan teh Thailand ini berarti juga harus siap di sisi Om Anies. Terutama di saat pusing-pusingnya beliau mencari siapa-siapa yang mau membantunya bagi-bagi rumah DP 0 rupiah. Kalau nggak begadang cari permodal, ya paling begadang menanggapi rakyat yang protas-protes, “Kok syarat dan ketentuannya banyak?”

 

Yah… Begitulah. Pokoknya penulis tetap ngotot kalau minum Thai tea itu nggak cuma gaul, tapi juga banyak faedahnya. Yang penting Thai tea-nya beneran, bukan yang KW.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 130

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 366

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Editor Picks