Menjelang Dilantik, Om Anies Seharusnya Mimik Thai Tea Dulu 0 1333

Thai tea oh, thai tea

Khasiatnya seharusnya diketahui oleh om Anies sebelum dilantik.

Pembaca mungkin tahu betapa ajaib minuman berwarna jingga (oranye, kalau kata orang Indonesia) ini. Tahu-tahu saja, kita sering lihat namanya tertera dalam daftar menu di mana-mana. Mulai dari restoran, gerai minuman, tempat nongki, sampai dijajakan dalam kemasan botol kecil oleh para mahasiswa.

Sebenarnya, minuman ini bukan resep baru. Terima kasih pada DDTT (merk diinisial supaya tidak dikira endorse), teh Thailand ini jadi ngetren amat di kalangan masyarakat menengah ke atas Indonesia dalam beberapa bulan terakhir.

Rasanya: manis-manis gimanaaa gitu…

Siapa yang menyangka, bahwa ternyata asal-muasal Thai tea sendiri masih acap kali diperdebatkan. Teh Thailand yang benar-benar orisinil dipercaya tidak mengandung susu sama sekali, melainkan hanya seduhan rerempah seperti cengkeh, bunga lawang, biji tamarin, dan kapulaga. Jika benar begitu, entah yang sering kita jumpai di mal-mal ini teh Thailand KW seratus atau teh Thailand yang sengaja dibaur krimer bejibun biar pantas jadi adiknya gurin–si “teh hijau” yang katanya *uhuk* antioksidan tapi *uhuk* banyak gulanya.

Penulis yang patah hati oleh segala kepalsuan ini lalu mencoba mencari resep teh Thailand asli tradisional, yang disebut Cha Dum Yen. Rupanya, khasiat dari Cha Dum Yen nggak main-main, lho! Banyak sekali manfaatnya bagi tubuh, terutama untuk orang yang banyak kesibukan dan sering menghabiskan energi untuk berpikir. Wah… berarti, minuman ini cocok sekali untuk masyarakat urban yang padat kegiatan.

Apalagi pejabat di kota metropolitan.

Apalagi para politisi.

Apalagi gubernur. Atau eh, calon gubernur. Om Anies misalnya, yang bakal dilantik jadi gubernur ibukota kurang dari seminggu lagi. Mulai sekarang hingga nanti waktu sudah jadi gubernur, bolehlah Om Anies minum Thai tea setiap pagi sebelum bekerja. Habis, banyak sekali khasiatnya buat Om Anies (mungkin buat Kak Sandi juga).

Berikut ini tiga manfaat Teh Thailand untuk Om Anies.

 

Teh Thailand Bisa Kurangi Efek Alergi

Kandungan flavonoid yang ada dalam teh Thailand bisa meningkatkan perlindungan tubuh, dengan meminimalisir efek keracunan dan terjadinya peradangan. Cocok untuk orang yang memiliki alergi atau pantangan khusus.

Berarti, teh Thailand cocok juga untuk Om Anies yang punya alergi berat sama reklamasi pantai utara Jakarta. Siapa tahu, nanti-nanti kalau ternyata reklamasi tetap harus berlanjut, karena toh AMDAL sudah dibuat dengan sah, dan Jakarta memang butuh peremajaan ekstra sebagai pusat perekonomian Indonesia, Pak Anies tidak sampai gatal-gatal atau bahkan jatuh sakit. Kalau yang ini sih, kayaknya cocok juga buat Eggi Sudjana.

 

Teh Thailand Bisa Mengurangi Risiko Kolesterol Tinggi

Karena bisa mengurangi jumlah kolesterol lemak dalam aliran darah, teh Thailand juga manjur untuk mengurangi risiko kanker, diabetes, stroke, serta serangan jantung. Sehingga, minuman ini aman dikonsumsi mereka yang terlanjur menjalani pola hidup tidak sehat.

Dalam kasus Om Anies, ancaman kesehatan semacam ini bisa jadi menyerang beliau kala merealisasikan integrasi angkutan umum Jakarta. Kan bahaya, kalau tiba-tiba Om Anies terkena stroke atau serangan jantung saking syoknya dihadapkan dengan nyali tembok preman penguasa angkutan umum Jakarta. Semoga saja, Kak Sandi juga rajin mengajak Om (Ca)gub senam biar kebugaran tubuhnya selalu terjaga.

  

Teh Thailand Bisa Menyingkirkan Mata Panda

Fakta satu ini lebih sangar lagi. Selain diminum, teh Thailand juga bisa dijadikan kompres untuk mengurangi peradangan mata. Peradangan yang biasa disebut ‘mata panda’ ini kerap mendekorasi wajah sewaktu pemiliknya mengalami gangguan mata, atau lebih lazim lagi, kurang tidur.

Ramuan teh Thailand ini berarti juga harus siap di sisi Om Anies. Terutama di saat pusing-pusingnya beliau mencari siapa-siapa yang mau membantunya bagi-bagi rumah DP 0 rupiah. Kalau nggak begadang cari permodal, ya paling begadang menanggapi rakyat yang protas-protes, “Kok syarat dan ketentuannya banyak?”

 

Yah… Begitulah. Pokoknya penulis tetap ngotot kalau minum Thai tea itu nggak cuma gaul, tapi juga banyak faedahnya. Yang penting Thai tea-nya beneran, bukan yang KW.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 259

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Solusi untuk Kekecewaan Netijen atas Debat Pilpres 2019 0 344

Tak perlulah menunggu 24 jam berlalu untuk menyimpulkan ketidakpuasan khalayak masyarakat Endonesa dengan jalannya Debat Capres-Cawapres 2019 seri pertama tempo hari. Wong belum dimulai saja netijen sudah berebut saling menuduh kok! (Persis seperti performa kedua paslon di panggung debat kemarin.)

Indikator ‘mboseni’ jadi tajuk utama pidato-pidato tertulis rakyat dunia maya di kanal media sosial masing-masing. Maka, tidak heran jika para moderator debat kini kudu banget menyapa mereka dengan sebutan ‘warganet’ secara spesifik. Sebab, nonton netijen tonjok-tonjokan via live chat bisa jadi lebih seru ketimbang debat berkisi-kisi kemarin.

Penulis mengamati lalu lintas online dan menemukan minimal tiga tipe penonton debat Endonesa. Satu, warganet fanatik. Tipe ini bersorak kapan saja paslon dukungannya berbicara. Tidak peduli omongan bodoh kekanakan atau tidak, mereka merayakan argumen paslon tersebut dan mendiskreditkan argumen paslon lawan, meskipun kadang-kadang sing diomong sakjane podho intine.

Dua, warganet semi-teredukasi. Ini adalah golongan unik yang punya kesantunan cukup dan kesadaran mumpuni bahwa sebenarnya kedua paslon pancene podho wae. Meski demikian, spesies satu ini umumya sudah menetapkan jagoan pribadinya dan hanya menonton debat untuk mengonfirmasi bahwa pilihannya sudah tepat. Kemampuan mereka untuk nyelimur  tidak diragukan di kala paslon jagoannya kelihatan nggak menguasai topik. Caranya, mencari cocokologi supaya bisa membela paslonnya di hadapan warganet kubu satunya.

Tiga, warganet super-teredukasi. Nama lain golongan ini adalah golongan plegmatis-utopis. Didominasi oleh mereka yang doyan banget nonton tontonan luar negeri, golongan ini gemar sekali memuja dan mengonsumsi apa-apa yang dari luar Indonesia—biasa, dengan merujuk negara-negara “maju” saja—dan memicingkan mata untuk persoalan-persoalan genting di negaranya sendiri. Boro-boro mencari tahu dan mengomparasi keabsahan data argumen para paslon, umumnya ketertarikan politik mereka berhenti seraya mengucap kalimat, “Tuh kan. Ya gini ini Indonesia, politiknya kotor. Capres nggak ada yang bener. Mending gue tinggal di negara XXX daripada disalahin karena golput.

Padahal, dengan mayoritas kaum milenial-belum-cukup-dewasa, tipe terakhir ini cukup banyak jumlahnya. Sumbangan suaranya tidak bisa dianggap kecil, apalagi sumbangan partisipasi politiknya di masa depan. Sungguh eman bahwa justru tipe inilah yang memiliki keberjarakan paling lebar dengan persoalan politik dan hukum Indonesia.

Tapi di sisi lain, mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan juga. Dari debat kemarin saja, kedua paslon terang-terangan kalah telak untuk mengelaborasi visi-misi mereka secara konseptual dan rinci seperti yang dilakukan Nurhadi-Aldo, hehe. Alhasil, performa kedua pasangan bukan hanya mengecewakan bagi mereka yang teredukasi secara politik, melainkan juga para pendukung, tim sukses, dan tim kampanye masing-masing.

Penulis juga paham, andaikata memang kedua paslon tampil all out dan argumennya “saling terkam”, bisa-bisa bacok-bacokan kedua kubu jadi lebih panas. Skak mat emang jadi capres-cawapres 2019 – yang senantiasa harus diingatkan lagi dan lagi untuk kampanye damai.

 

Ya Sudah Begini Saja

Di tahun 2016 lalu, penulis menemukan fenomena internet yang lucu bin ajaib, unik bin geli, sekaligus mampu jadi solusi mujarab. Ditemukan di sebuah dimensi yang biasa dieksplorasi warganet super-teredukasi, penulis menyimpulkan bahwa ini pastilah sesuatu yang bisa banget menarik hati (dan suara) para netijen plegmatis-utopis. Temuan ini berjudul “Anies x Sandi Fanfiction”, sebuah naskah bromance.

Sebagian pembaca mungkin sudah familiar dengan istilah ini, namun sebagian lain mungkin tidak. Bromance, atau yang merupakan singkatan dari brother dan romance, adalah sebuah genre kultur populer yang merayakan dan mengomersilkan kemesraan antara lelaki dengan lelaki lainnya.

Bukti-bukti nyata lain dari keberadaan fenomena ini adalah berkembangnya fanfiction atau fiksi fantasi di situs-situs online penggemar. Mulai dari tayangan televisi, anime, grup idola, hingga selebriti, para fans ini memasang-masangkan dua atau lebih tokoh laki-laki dalam satu cerita, umumnya dengan tema asmara. Skalanya sangat lebar, mulai dari cinta vanila hingga hardcore romance, yang tentunya demi kepuasan fantasi para penggemar semata.

Bukti selanjutnya adalah membludaknya video bromance moments yang mengompilasikan momen-momen kedekatan selebriti laki-laki K-Pop di Yutub. Mulai dari yang rangkul-rangkulan sampai yang—yah apa aja ada lah ya. Video-video tersebut ditonton ratusan ribu bahkan jutaan orang, dengan kolom komentar didominasi pujian dan ekspresi gemes. Berani taruhan, nyaris separuh dari total penonton itu adalah fans dari Indonesia, yang hobi cekikikan di atas kasur tengah malam menyaksikan para idolanya bertingkah mesra satu sama lain.

Mungkin di sinilah keunggulan Sandi-Prabowo dibanding Jokowi-Ma’ruf. Segelintir rakjat berhasil dibuat jerit-jerit dengan aksi mesra mereka kemarin, lengkap dengan setelan jas necis ala oppa-oppa kaya dari drama Korea. Sepertinya, salah satu alasan keberadaan sejumlah fiksi fan macam ‘Anies x Sandi’ adalah karena Sandiaga Uno memang orang yang boyfriend goal bingits. Lihat saja, dengan pasangan barunya—ehem—Sandi bahkan berani pijet-pijetan di depan umum! Apalagi setelah Prabowo mencuit kalau doi bisa tidur nyenyak setelahnya… Kyah! Mana bisa otak-otak fangirl tidak berfantasi?!

Begini lho maksudnya. Janganlah hal-hal seperti bromance ini lalu dilihat sebagai penistaan budaya bangsa, apalagi degradasi moral para milenial, sebagaimana kerap diujar para orang tua (dan polisi moral). Lihatlah ini sebagai sebuah ekspresi kedekatan antara satu pribadi dengan pribadi lain. Lihatlah ini sebagai sebuah cara baru saling mencintai dan mengapresiasi sesama manusia, yang sesuai dengan cita-cita bangsa untuk hidup rukun tanpa banyak masalah.

Bromance, sebagai ekspresi baru cinta dan kedamaian, juga bisa jadi jalan tengah bagi persoalan capres-cawapres 2019 saat ini. Tim kampanye yang buntu jalan bisa banget mengeksplorasi cara ini untuk mem-branding paslonnya. Siapa sih, yang nggak suka menyaksikan dua orang yang berkomitmen menggenggam negara selama bertahun-tahun bisa dekat dan mesra satu sama lain? Sama seperti sejoli yang cubit-cubitan, dorong-dorongan, rangkul-rangkulan, sambil memandang mata satu sama lain dengan senyum mengembang.

Minimal, bromance ini seenggaknya bisa lah menarik mata dan hati dan suara tipe warganet ketiga tadi. Lumayan kan untuk memerbaiki image paslon pasca-debat pertama dan mencairkan ketegangan hari-hari ini? Sudah menarik, kyuti, damai pula. Komplit!

Editor Picks