Menjelang Dilantik, Om Anies Seharusnya Mimik Thai Tea Dulu 0 1769

Thai tea oh, thai tea

Khasiatnya seharusnya diketahui oleh om Anies sebelum dilantik.

Pembaca mungkin tahu betapa ajaib minuman berwarna jingga (oranye, kalau kata orang Indonesia) ini. Tahu-tahu saja, kita sering lihat namanya tertera dalam daftar menu di mana-mana. Mulai dari restoran, gerai minuman, tempat nongki, sampai dijajakan dalam kemasan botol kecil oleh para mahasiswa.

Sebenarnya, minuman ini bukan resep baru. Terima kasih pada DDTT (merk diinisial supaya tidak dikira endorse), teh Thailand ini jadi ngetren amat di kalangan masyarakat menengah ke atas Indonesia dalam beberapa bulan terakhir.

Rasanya: manis-manis gimanaaa gitu…

Siapa yang menyangka, bahwa ternyata asal-muasal Thai tea sendiri masih acap kali diperdebatkan. Teh Thailand yang benar-benar orisinil dipercaya tidak mengandung susu sama sekali, melainkan hanya seduhan rerempah seperti cengkeh, bunga lawang, biji tamarin, dan kapulaga. Jika benar begitu, entah yang sering kita jumpai di mal-mal ini teh Thailand KW seratus atau teh Thailand yang sengaja dibaur krimer bejibun biar pantas jadi adiknya gurin–si “teh hijau” yang katanya *uhuk* antioksidan tapi *uhuk* banyak gulanya.

Penulis yang patah hati oleh segala kepalsuan ini lalu mencoba mencari resep teh Thailand asli tradisional, yang disebut Cha Dum Yen. Rupanya, khasiat dari Cha Dum Yen nggak main-main, lho! Banyak sekali manfaatnya bagi tubuh, terutama untuk orang yang banyak kesibukan dan sering menghabiskan energi untuk berpikir. Wah… berarti, minuman ini cocok sekali untuk masyarakat urban yang padat kegiatan.

Apalagi pejabat di kota metropolitan.

Apalagi para politisi.

Apalagi gubernur. Atau eh, calon gubernur. Om Anies misalnya, yang bakal dilantik jadi gubernur ibukota kurang dari seminggu lagi. Mulai sekarang hingga nanti waktu sudah jadi gubernur, bolehlah Om Anies minum Thai tea setiap pagi sebelum bekerja. Habis, banyak sekali khasiatnya buat Om Anies (mungkin buat Kak Sandi juga).

Berikut ini tiga manfaat Teh Thailand untuk Om Anies.

 

Teh Thailand Bisa Kurangi Efek Alergi

Kandungan flavonoid yang ada dalam teh Thailand bisa meningkatkan perlindungan tubuh, dengan meminimalisir efek keracunan dan terjadinya peradangan. Cocok untuk orang yang memiliki alergi atau pantangan khusus.

Berarti, teh Thailand cocok juga untuk Om Anies yang punya alergi berat sama reklamasi pantai utara Jakarta. Siapa tahu, nanti-nanti kalau ternyata reklamasi tetap harus berlanjut, karena toh AMDAL sudah dibuat dengan sah, dan Jakarta memang butuh peremajaan ekstra sebagai pusat perekonomian Indonesia, Pak Anies tidak sampai gatal-gatal atau bahkan jatuh sakit. Kalau yang ini sih, kayaknya cocok juga buat Eggi Sudjana.

 

Teh Thailand Bisa Mengurangi Risiko Kolesterol Tinggi

Karena bisa mengurangi jumlah kolesterol lemak dalam aliran darah, teh Thailand juga manjur untuk mengurangi risiko kanker, diabetes, stroke, serta serangan jantung. Sehingga, minuman ini aman dikonsumsi mereka yang terlanjur menjalani pola hidup tidak sehat.

Dalam kasus Om Anies, ancaman kesehatan semacam ini bisa jadi menyerang beliau kala merealisasikan integrasi angkutan umum Jakarta. Kan bahaya, kalau tiba-tiba Om Anies terkena stroke atau serangan jantung saking syoknya dihadapkan dengan nyali tembok preman penguasa angkutan umum Jakarta. Semoga saja, Kak Sandi juga rajin mengajak Om (Ca)gub senam biar kebugaran tubuhnya selalu terjaga.

  

Teh Thailand Bisa Menyingkirkan Mata Panda

Fakta satu ini lebih sangar lagi. Selain diminum, teh Thailand juga bisa dijadikan kompres untuk mengurangi peradangan mata. Peradangan yang biasa disebut ‘mata panda’ ini kerap mendekorasi wajah sewaktu pemiliknya mengalami gangguan mata, atau lebih lazim lagi, kurang tidur.

Ramuan teh Thailand ini berarti juga harus siap di sisi Om Anies. Terutama di saat pusing-pusingnya beliau mencari siapa-siapa yang mau membantunya bagi-bagi rumah DP 0 rupiah. Kalau nggak begadang cari permodal, ya paling begadang menanggapi rakyat yang protas-protes, “Kok syarat dan ketentuannya banyak?”

 

Yah… Begitulah. Pokoknya penulis tetap ngotot kalau minum Thai tea itu nggak cuma gaul, tapi juga banyak faedahnya. Yang penting Thai tea-nya beneran, bukan yang KW.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Panduan Nyinyir Berhadiah ala Fahri Hamzah 0 252

Pertama-tama, saya ingin memberi selamat kepada Fahri Hamzah atas prestasi yang ditorehkan  baru-baru ini (13/8). Politikus Partai Gelora ini baru saja menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Naraya 2020 dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) . Tentu ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa, bahkan politikus – yang kini menjadi komisaris Pertamina –  yang tegas melawan korupsi seperti Basuki Tjahaja Purnama pun belum pernah mendapat award super bergengsi ini.

Penghargaan ini sendiri diberikan kepada Fahri Hamzah lantaran keaktivannya dalam “mengkritik” pemerintahan Jokowi. Menurut Fahri, penghargaan yang ia terima dapat dijadikan pelajaran bagi semua orang dalam pemerintahan supaya menghormati kritik. Selain itu, ia menilai bahwa penghargaan ini merupakan bukti bahwa pemerintah tetap menghargai kritik.

Tumben lihat Fahri Hamzah memuji pemerintah? Iya, saya juga baru kali ini baca komentar positif tentang pemerintah dari Fahri Hamzah.

Selama ini, anggota DPR RI yang satu ini dikenal sebagai politikus yang nyinyir, doyan mengkritik apapun yang dilakukan pemerintah. Bahkan, warga net menjulukinya sebagai Lord Fahri karena hanya dialah yang serba benar di negeri +62 ini.

Akan tetapi, pandangan warga net tersebut berbeda di mata Jokowi. Bagi Jokowi, ke-nyinyir-an Lord Fahri merupakan kekritisan yang sangat dibutuhkan pemerintah. Setiap butir dari kesewotan yang dilontarkan Lord Fahri bisa menjadi feedback negatif dan juga input bagi kebijakan-kebijakannya.

Berita Lord Fahri yang meraih penghargaan ini tak pelak menjadi trending di media sosial. Banyak yang kaget kenapa teman “duet” nyinyir Fadli Zon ini bisa mendapat penghargaan dari Jokowi. Banyak yang berasumsi ini adalah akal-akalan rezim pemerintah untuk membuat Fahri Hamzah “sungkan” mengkritiknya.

Dilansir dari Tempo.co, ia menampik dugaan netizen tersebut. Ia mengatakan bahwa dengan dipilihnya ia sebagai penerima penghargaan tidak akan menghentikannya menjadi nyinyir kritis. Ia menambahkan bahwa ia akan terus mengkritik karena presidennya menghargai kritik.

Seharusnya kita dapat melihat hal ini dalam sisi positif. Award yang diraih Lord Fahri ini membukakan mata kita bahwa nyinyir tak selamanya buruk. Tahu tempe kah kamu? Untuk menjalankan sistem agar tetap on the track, sistem tersebut butuh sekali feedback negatif. Maka dari itu, pemerintah (baca: Jokowi) memberi penghargaan sebagai ucapan terima kasih karena membantu sistem pemerintahannya tidak keluar jalur.

Setelah tahu nyinyir rupanya tidak selalu negatif, apakah kita juga boleh nyinyir juga seperti Lord Fahri?

Tentu boleh, tapi coba tanyakan dulu dirimu. Apakah Pembaca yang budiman ini konglomerat penyumbang pajak terbanyak? Petinggi Partai? Anggota DPR? Atau punya pengaruh terhadap kelanggengan kekuasaan rezim pemerintah?

Kalau status Anda tidak memenuhi yang saya sebut di atas, mohon maaf Anda belum bisa “nyinyir yang baik” seperti Lord Fahri. Sekadar mengingatkan, kalau tidak punya posisi atau pengaruh, masih ada UU ITE serta pasal penghinaan presiden yang mengawasi jari dan bibir nyinyir Anda. Hehehe…

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Bagaimana Kita dan Media Membungkus Gilang 0 579

Cerita murung bermula dari cuitan akun Twitter @m_fikris yang menceritakan kronologi bagaimana seorang laki-laki muda, dari suatu kampus kondang di Surabaya, melakukan pelecehan seksual secara verbal melalui pesan elektronik. Kisah pahit itu dijuduli dengan judul bombastis, macam portal berita onlen: “Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset dari Mahasiswa PTN di SBY”. Lantas, satu negara ini sejenak melupakan corona, berpindah gandrung pada ‘Gilang’, nama yang disebut-sebut menjadi pelaku pelecehan.

Cerita bertopik seks semacam ini, pembaca tahu, dengan cepat sambung-menyambung, berbalas, dan dibagikan secara meluas di linimasa. Tak hanya ramai di media sosial, yang bahkan sempat menduduki tingkatan teratas trending topic, ia ramai menjadi buah bibir tetangga, hingga agenda pemberitaan media massa.

Selain soal menumbuhkan kewaspadaan bersama, tapi lalu mengapa media, dan juga kita, sangat berambisi pada cerita-cerita semacam ini? Ada beberapa hal yang penulis ajukan di sini.

Pertama, media kita memang mudah sekali terangsang mengangkat berita-berita berbau seks. Apalagi ada anomali yang baru, fetish atau dorongan seksual dalam konteks kasus Gilang ini unik: napsu melihat orang yang dibungkus seperti pocong dengan kain jarik. Sayangnya, pembawaan berita berputar-putar pada fenomena, bahkan mengungkap sejarah Gilang yang sudah sering melakukan tindakan asusila.

Tapi, kemalasan media membuatnya lupa memberi pendalaman perspektif psikologis atasnya. Apakah benar memang fetish? Atau justru gangguan kejiwaan lainnya yang tak berhubungan dengan seksualitas?

Ah, jangan heran, media kita kan memang dari dulu begitu. Sejak zaman Orde Baru, kita sudah di-ninabobo-kan dengan berita konflik pertumpahan darah dan SEKS, supaya pemerintah tidak perlu repot-repot menjawabi pemberitaan yang mengkritisi kinerjanya.

Kedua, kita sepakat – jika memang ini adalah kasus pelecehan seksual – selalu bak gunung es. Korban-korban Gilang lainnya, yang telah menjadi target operasi bertahun-tahun silam, baru terungkap semuanya, ketika ada satu orang yang berani bicara. Kita memang patut berterima kasih (jika memang baik budi niatnya) pada si pembuat thread pada mulanya.

Demikian pula dengan kasus pelecehan seksual yang sudah-sudah. Entah itu pedofilia, pelecehan dalam keluarga, bahkan dalam konteks pria-wanita, selalu membuat sang korban tak berani bicara. Sebaliknya, korban lebih banyak dirundung, dituduh menggoda dengan pakaian terbuka.

Karena memang, belum ada hukum di negeri ini yang mampu melindungi korban pelecehan seksual. Kalaupun ada kasus yang terungkap ke permukaan dan diproses hukum, ia haruslah viral terlebih dahulu di media sosial (dengan mempermalukan korban 2 kali lipat), agar bisa ditindak pakai ‘Sang Maha-benar’ UU ITE, yang tak pernah benar-benar menggasak betapa brengseknya tindakan pelecehan itu sendiri. Benar apa kata sjw-sjw feminis: RUU PKS harus segera disahkan!

Ketiga, persoalan Gilang ini tak bisa hanya dilihat soal orientasi seksual yang melenceng. Kita sepakat bahwa hal tersebut adalah kemerdekaan hak setiap orang. Yang jadi persoalan, cara Gilang – jika, sekali lagi, memang benar fetish – dalam mengajak si korban memuaskan birahinya.

Gilang menggunakan kata-kata yang manipulatif, membohongi anak-anak yang lebih muda darinya agar mau membantunya mengerjakan ‘tugas kuliah’. Ia juga mendekati orang-orang yang tak ia kenal sebelumnya, dengan bahasa perkenalan yang cenderung superior, dominan, sekaligus minim etika. Unggah-ungguh berkenalan, ngobrol, dan meminta tolong pada orang yang baru dikenal seharusnya milik kita semua, terlepas dari apapun pilihan jalan hidup dan orientasi seksualnya.

Keempat, pendapat netijen yang bermunculan akhir-akhir ini justru bernada mengolok karena menganggap Gilang pantas mendapatkannya. Ejekan itu berkedok guyonan, bahkan nama-nama besar seperti Babe Cabita – yang kemudian banyak dihujat netijen juga – ikut-ikutan menertawakan tindakan Gilang. Selain itu, kamu dan saya, mulut kita semua sudah sibuk ngrasani bersama teman-teman tentang betapa tak warasnya Gilang.

Kita tidak sadar, bahwa diri sendiri ini juga sami mawon: menjauhi dan mencibir entah korban entah pelaku, entah juga orang-orang macam Gilang; tapi lupa bersimpati, mendekati, mencari akar masalah, dan menyelesaikannya bersama-sama. Memang benar, gotong-royong yang diajarkan founding fathers kita hanya tinggal klise sekarang (lihat tulisan: ‘Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif’).

Pada akhirnya, soal bungkus-membungkus ini memang bukan milik Gilang dan rektorat kampusnya yang sibuk memberi pernyataan sikap semata. Ini juga masalah kita semua, yang sudah lama dibungkus rasa egois dan gengsi, menutup mata dan telinga pada persoalan sosial di sekitar kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks