Menjelang Dilantik, Om Anies Seharusnya Mimik Thai Tea Dulu 0 1945

Thai tea oh, thai tea

Khasiatnya seharusnya diketahui oleh om Anies sebelum dilantik.

Pembaca mungkin tahu betapa ajaib minuman berwarna jingga (oranye, kalau kata orang Indonesia) ini. Tahu-tahu saja, kita sering lihat namanya tertera dalam daftar menu di mana-mana. Mulai dari restoran, gerai minuman, tempat nongki, sampai dijajakan dalam kemasan botol kecil oleh para mahasiswa.

Sebenarnya, minuman ini bukan resep baru. Terima kasih pada DDTT (merk diinisial supaya tidak dikira endorse), teh Thailand ini jadi ngetren amat di kalangan masyarakat menengah ke atas Indonesia dalam beberapa bulan terakhir.

Rasanya: manis-manis gimanaaa gitu…

Siapa yang menyangka, bahwa ternyata asal-muasal Thai tea sendiri masih acap kali diperdebatkan. Teh Thailand yang benar-benar orisinil dipercaya tidak mengandung susu sama sekali, melainkan hanya seduhan rerempah seperti cengkeh, bunga lawang, biji tamarin, dan kapulaga. Jika benar begitu, entah yang sering kita jumpai di mal-mal ini teh Thailand KW seratus atau teh Thailand yang sengaja dibaur krimer bejibun biar pantas jadi adiknya gurin–si “teh hijau” yang katanya *uhuk* antioksidan tapi *uhuk* banyak gulanya.

Penulis yang patah hati oleh segala kepalsuan ini lalu mencoba mencari resep teh Thailand asli tradisional, yang disebut Cha Dum Yen. Rupanya, khasiat dari Cha Dum Yen nggak main-main, lho! Banyak sekali manfaatnya bagi tubuh, terutama untuk orang yang banyak kesibukan dan sering menghabiskan energi untuk berpikir. Wah… berarti, minuman ini cocok sekali untuk masyarakat urban yang padat kegiatan.

Apalagi pejabat di kota metropolitan.

Apalagi para politisi.

Apalagi gubernur. Atau eh, calon gubernur. Om Anies misalnya, yang bakal dilantik jadi gubernur ibukota kurang dari seminggu lagi. Mulai sekarang hingga nanti waktu sudah jadi gubernur, bolehlah Om Anies minum Thai tea setiap pagi sebelum bekerja. Habis, banyak sekali khasiatnya buat Om Anies (mungkin buat Kak Sandi juga).

Berikut ini tiga manfaat Teh Thailand untuk Om Anies.

 

Teh Thailand Bisa Kurangi Efek Alergi

Kandungan flavonoid yang ada dalam teh Thailand bisa meningkatkan perlindungan tubuh, dengan meminimalisir efek keracunan dan terjadinya peradangan. Cocok untuk orang yang memiliki alergi atau pantangan khusus.

Berarti, teh Thailand cocok juga untuk Om Anies yang punya alergi berat sama reklamasi pantai utara Jakarta. Siapa tahu, nanti-nanti kalau ternyata reklamasi tetap harus berlanjut, karena toh AMDAL sudah dibuat dengan sah, dan Jakarta memang butuh peremajaan ekstra sebagai pusat perekonomian Indonesia, Pak Anies tidak sampai gatal-gatal atau bahkan jatuh sakit. Kalau yang ini sih, kayaknya cocok juga buat Eggi Sudjana.

 

Teh Thailand Bisa Mengurangi Risiko Kolesterol Tinggi

Karena bisa mengurangi jumlah kolesterol lemak dalam aliran darah, teh Thailand juga manjur untuk mengurangi risiko kanker, diabetes, stroke, serta serangan jantung. Sehingga, minuman ini aman dikonsumsi mereka yang terlanjur menjalani pola hidup tidak sehat.

Dalam kasus Om Anies, ancaman kesehatan semacam ini bisa jadi menyerang beliau kala merealisasikan integrasi angkutan umum Jakarta. Kan bahaya, kalau tiba-tiba Om Anies terkena stroke atau serangan jantung saking syoknya dihadapkan dengan nyali tembok preman penguasa angkutan umum Jakarta. Semoga saja, Kak Sandi juga rajin mengajak Om (Ca)gub senam biar kebugaran tubuhnya selalu terjaga.

  

Teh Thailand Bisa Menyingkirkan Mata Panda

Fakta satu ini lebih sangar lagi. Selain diminum, teh Thailand juga bisa dijadikan kompres untuk mengurangi peradangan mata. Peradangan yang biasa disebut ‘mata panda’ ini kerap mendekorasi wajah sewaktu pemiliknya mengalami gangguan mata, atau lebih lazim lagi, kurang tidur.

Ramuan teh Thailand ini berarti juga harus siap di sisi Om Anies. Terutama di saat pusing-pusingnya beliau mencari siapa-siapa yang mau membantunya bagi-bagi rumah DP 0 rupiah. Kalau nggak begadang cari permodal, ya paling begadang menanggapi rakyat yang protas-protes, “Kok syarat dan ketentuannya banyak?”

 

Yah… Begitulah. Pokoknya penulis tetap ngotot kalau minum Thai tea itu nggak cuma gaul, tapi juga banyak faedahnya. Yang penting Thai tea-nya beneran, bukan yang KW.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasib Pegawai KPK Kritis dan Doa untuk Mereka 0 159

Kemarin 1.271 pegawai KPK yang lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) akhirnya sudah dilantik. Kini mereka resmi jadi abdi negara, meninggalkan 75 yang tak lolos.

Tim dokumenter dengan jejaring sangar macam Watchdoc dan kesayangan kita semua, Najwa Shihab, sudah mewawancarai mereka, mengungkap kejanggalan TWK. Pertanyaan-pertanyaan aneh macam urusan rumah tangga, perceraian, gaya pacaran, hingga aliran agama muncul selama sesi tes seleksi wawancara.

Masalahnya, 75 orang yang tidak lolos ini bukan sembarangan personil. Dari antara 75 orang itu, 13 di antaranya adalah penyidik yang berperan penting sebagai lokomotif penggerak berjalannya KPK selama ini. Sebut saja Novel Baswedan, yang kita semua tahu telah berhasil mengungkap kasus besar macam korupsi e-KTP dengan dalang Setya Novanto. Ada pula Rizka Anungnata, penyidik kasus benih lobster yang menyeret mantan Menteri KKP, Edhy Prabowo. Sampai Ronal Paul, yang tengah menangani kasus buron yang ghosting satu negeri ini, Harun Masiku.

Orang-orang ini kini tak bisa melanjutkan kasusnya, dinonaktifkan karena tak lolos tes, bahkan terancam termasuk dari 51 orang yang katanya tak lagi bisa dibina. Dalam kata lain yang lebih mudah namun kasar, sama saja dengan orang bebal.

Orang-orang berprestasi ini mungkin cerminan dari orang kritis. Di satu sisi, Indonesia ini sangat butuh orang-orang kritis agar bisa maju memperbaiki sistem dan mentalitas yang terlanjur bobrok. Tapi atas nama kestabilan, orang-orang macam inilah yang dianggap sebagai penghancur dan pembangkang. Termasuk dalam logika bisnis korporasi, pegawai yang ndablek atau berani melawan pemimpinnya pasti ditendang.

Susah dong ya jadi orang kritis di negara ini? Ya memang bakal susah kalau kamu terlalu radikal, berani bicara dan melawan yang salah. Lantas apa yang harus dilakukan?

Kalau kata pepatah, diam adalah emas. Itu mungkin akan sangat berlaku buat kalian-lalian yang punya pemikiran revolusioner. Jangan keburu emosi dulu! Diam memang tak selamanya baik, dan malah berujung malapetaka karena mendiamkan sesuatu yang salah. Kalau kata mantan komisioner KPK dan pengurus PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas: “membiarkan kejahatan itu sama artinya dengan melakukan kejahatan”.

Saya jadi teringat suatu kisah penyebaran dan perjalanan agama Kristen di Jepang. Alkisah, agama Katolik disebarkan pertama kali oleh misionaris Jesuit dari Portugal tahun 1560-an. Lambat laun, jumlah penganut Kristen bertambah banyak dan pesat. Penguasa politik Jepang merasa terancam dan memutuskan untuk menumpas mereka.

Larangan beribadah ditetapkan. Bahkan memerintahkan semua umat Kristiani menginjak fumie, lempengan tembaga bergambar Yesus disalib pada papan kayu. Tujuannya jelas, untuk mematahkan kepercayaan mereka. Sejarah mengatakan ada sekitar 2 ribu orang meninggal menjadi martirkarena menolak menginjak fumie, tetap setia pada imannya.  Which is (cielah gaya bahasa jaksel), keren.

Tapi, tak sedikit pula yang memilih ingkar, mereka injak fumie, dan tetap hidup. Mereka berpura-pura meninggalkan agamanya, tapi tetap beribadah secara diam-diam. Mereka lah yang membuat penganut Kristiani masih ada di Jepang sampai sekarang. Coba bayangin kalau semua memilih jadi “pahlawan” dan rela mati, mungkin agama Katolik akan benar-benar punah.

Kisah ini saya lihat hampir sama dengan yang terjadi di KPK hari ini. Harapannya, ada beberapa dari 1200 yang lolos TWK itu, adalah orang-orang yang diam-diam “nurut”, menjawab dengan cara aman tes-tes wawancara yang diajukan asesor. Mereka menyembunyikan jati diri kritis, demi bertahan hidup, tetap berada dalam sistem lembaga pemberantas korupsi, dan membawa integritas ke depan. Jika benar demikian, kita tak perlu khawatir KPK akan ambruk.

Lalu bagaimana dengan 51 pegawai yang tak lagi bisa dibina itu? Perjuangan di luar KPK untuk memberantas korupsi masih panjang. Bisa melalui organisasi, lembaga bantuan hukum, dan bertindak sebagai pengamat atau penasehat. Sebab, berlian tetap bisa bersinar di mana saja walaupun ditempa sedemikian rupa. Semoga.

 

*)Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Dukun Abal-abal dan Fitnah pada Genderuwo Nakal 0 209

Oleh: Yogi Dwi Pradana*

 

Nasib tragis dialami seorang bocah perempuan berusia 7 tahun bernama Aisyah. Ia menjadi sebuah korban percobaan dukun abal-abal di Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Aisyah meninggal dunia setelah disuruh memakan cabai dan bunga mahoni oleh dukun abal-abal tersebut, serta ia diminta menenggelamkan kepala di dalam air untuk mengetahui apakah benar Aisyah ini keturunan genderuwo atau bukan.

Kisah ini tragis, tapi juga aneh. Sebab, setahu saya dari cerita rakjat, genderuwo tidak seiseng itu untuk merasuki anak kecil dan membuatnya jadi nakal. Salah satunya adalah Mbah Wagini dari Alas Purwo. Ia diyakini sebagai seorang keturunan genderuwo dengan seluruh badannya ditumbuhi bulu lebat.

Walaupun terlihat menakutkan, Mbah Wagini di alam gaib adalah makhluk yang dipuja. Begitu kata Eyang Ratih, pengasuhnya sejak kecil. Dan dia tidak nakal ya, ingat. Gak semua genderuwo seperti kata dukun abal-abal itu.

Poin lain yang mengherankan bagi saya dari peristiwa ini adalah, motivasi sang orang tua membawa Aisyah ke dukun. Tentu, setelah bertahun-tahun mengasuhnya, mereka sampai pada titik lelah, sehingga tak sanggup lagi mengatasi kenakalan si anak dengan kekuatannya sendiri.

Padahal, bukankah 7 tahun adalah usia normal anak bersikap aktif dan banyak tingkah misalnya, jika demikian yang dikategorikan nakal oleh kebanyakan orang. Di usia ini, anak sudah siap masuk ke jenjang sekolah dasar dan siap beradaptasi dengan hal-hal yang baru ia temui. Justru peranan orang tua dalam mendidik anak di usia ini sangat penting.

Menurut saya yang belum punya anak ini, masih ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendidik anak nakal usia 7 tahun. Misalnya, mengedepankan komunikasi dengan anak. Aktif berbincang untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan si anak. Selanjutnya, ajak anak untuk terbiasa mengatasi masalah secara bersama-sama. Orang tua tugasnya kan membimbing, bukan cuma ngasih makan.

Beberapa poin yang saya sebut tadi, ujungnya adalah agar orang tua bisa mengenali sisi emosi anak. Kalau orang tua kesusahan, “anak nakal” seharusnya bisa diatasi oleh ahlinya. Konsultasi ke psikolog misalnya.

Anak yang nakal seharusnya mendapat edukasi dari orang tua, bukan malah dibawa ke dukun untuk dirukiyah. Kan kita semua tahu, sudah banyak kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika menyelesaikan masalah dengan dukun.

Salah satu kisah soal ini datang Nanang (bukan nama sebenarnya) dari Tasikmalaya, Jawa Barat yang mengaku sebagai dukun. Alih-alih mengobati pasien, Nanang meminta pasien-pasien yang datang padanya untuk melayani hasrat seksualnya.

Eits, tapi tidak semua dukun itu abal-abal dan nol keahlian ya. Nyuwun pangapunten Mbah Dukun! Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk melarang pembaca datang ke dukun (semua kembali ke kepercayaan masing-masing).

Tapi dari pengalaman ini kita belajar, untuk mengatasi persoalan dengan hati dan wawasan yang luas. Jika sudah mentok dengan usaha sendiri, baiknya memang datang ke pakar dengan ilmu yang pasti-pasti aja.

 

*)Seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di organisasi Susastra KMSI UNY, bergiat di komunitas sastra Lampu Tidurmu, dan menjadi penulis artikel di UNY Community.

*) Ilustrasi oleh Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks