Mosi Tidak Percaya Atas Kecenya Jurusan Kedokteran 0 1062

Masuk jurusan kedokteran itu nggak keren-keren amat kok gengs. Plis, ini seriusan!

Beberapa waktu lalu, penulis sempat ingin menampol menegur seorang wali murid yang panik berat karena tes rekomendasi penjurusan anaknya, yang duduk di bangku SMA, menunjukkan bahwa si anak cocok masuk IPS. Beliau bahkan mengatakan, dengan teramat menyayat hati jika didengarkan, “Masa iya anakku harus (me)nunda 1 tahun lagi, biar bisa masuk IPA? Kalau masuk IPS, dia nanti nggak bisa jadi dokter…”

Halo? Hai? Adakah logika di sana?

Satu. Memang, kalau sang buah hati masuk dalam peminatan ilmu eksak saat SMA, yang adalah IPA jika di Indonesia, akan lebih mudah memahami materi ajar jika di perkuliahannya nanti ia belajar ilmu eksak juga. Sama seperti anak IPS yang kemudian masuk jurusan sosiologi misalnya, atau komunikasi, yang sama-sama ilmu berbasis teori dengan aroma sosial. Atau anak Bahasa yang kemudian masuk jurusan sastra.

Tapi, apakah dengan masuk kelas IPA, seseorang bisa sekonyong-konyong jadi dokter pada akhirnya? Tydac, saudara-saudara. Apalagi, sistem seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan sejumlah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) saat ini sangat memungkinkan seorang lulusan IPS untuk masuk ke jurusan Saintek, dan sebaliknya, dari peminatan IPA ke jurusan Soshum (yang kepanjangannya Sosial dan Humaniora ya sayang, bukan Sosial dan Hukum). Jadi, kini semua tergantung pada si anak, lulus apa enggak tuh ujian masuk universitasnya? Meskipun kadang juga tergantung deposit rekening atau keampuhan aji-aji sih.

Dua. Selain menyoal itu, ada lagi permasalahan lebih melandas: Memangnya ada apa sich, sama profesi dokter ini? Kenapa semua-mua mengagungkannya? Kenapa kebanyakan kids masih menjawab “Dokter!” kalau ditanya apa cita-citanya? Kenapa orang-orang masih secara spontan melayangkan pujian jika mendengar ada seseorang masuk jurusan kedokteran?

Kenapa masih banyak orang tua yang memaksa anaknya untuk masuk IPA, meskipun anaknya sendiri lebih minat masuk Bahasa atau IPS? (Dan berani taruhan setidaknya setengah dari orang-orang tua itu pengin anaknya jadi dokter.)

Hayo, Kenapa?

Pasti ada saja yang menyahut dengan pernyataan bahwa rasio jumlah dokter dengan penduduk di Indonesia masih belum imbang. Masih lebih banyak orang sakit daripada dokter yang bisa menangani, katanya.

Tapi tapi tapi… apa nggak begitu juga faktanya dengan profesi-profesi lain? Misalnya, kurangnya tenaga kepustakaan dan kearsipan untuk melancarkan proses penyimpanan dan distribusi dokumen di seluruh kantor institusi di Indonesia, bahkan membuat sistem yang bisa memperingkas alur dokumentasi dan migrasi negara. Atau, kurangnya ahli informasi dan teknologi di tataran hukum yang bisa membantu mengentaskan Indonesia dari ketertinggalan masyarakatnya di tengah terjangan globalisasi. Atau lagi, dibutuhkannya ahli dan pengamat sosial untuk mencegah ledakan konflik yang rawan terjadi di tengah masyarakat Indonesia yang kaya budaya nan plural.

Kalau penduduk negara sehat semua, tapi enggak bisa toleran antargolongan masyarakatnya, yo modyar rek!

Lagipula, bagaimana sih, awal mula paradigma bahwa menjadi dokter—atau lebih luas lagi, bekerja di bidang Saintek—itu lebih keren dibandingkan menjalani profesi lainnya? Panjenengan sekalian pasti tahu kan, bahwa bibit-bibit penjajahan masa kolonialisme di negara tersayang kita ini bermula dari apa. Jika jawaban njenengan adalah ‘perdagangan’, benar sudah. Ingat juga kan, dengan nama strategi andalan Belanda untuk menguasai sebagian besar wilayah di Indonesia? Tak lain dan tak bukan, devide et impera.

Di sisi lain, terekam pula bahwa sejarah pendidikan di Indonesia diawali dengan pendirian sekolah di masa kolonialisme yang sama, itupun karena dorongan konsep Politik Etis. Tentu saja pendirian sekolah untuk bumiputera tersebut diharapkan dapat mencetak lulusan yang, pada akhirnya, dapat mendukung pemerintah Belanda juga. Jika tidak jadi pegawai swasta, pegawai negeri, atau anggota militer, para pribumi (yang kali ini tidak ada hubungannya sama Anies) bisa sekolah untuk jadi dokter atau insinyur.

Nah, jangan-jangan, memang sudah ada setting-an sejak jaman itu, bagi pribumi untuk lebih cenderung mempelajari ilmu-ilmu eksak dibanding ilmu-ilmu sosial. Jangan-jangan juga, ilmu eksak sengaja dipopulerkan kala itu untuk melanggengkan penjajahan atas Indonesia, bahkan sampai sekarang. Kalau nggak begitu, lalu kenapa rakyat Indonesia diberi lebih banyak kesempatan belajar ilmu eksak, sementara para penjajah sendiri melahirkan strategi-strategi perdagangan dan politik yang jelas-jelas berangkat dari ilmu sosial? Hayo.

Kembali Lagi ke Jurusan Kedokteran

Berikut adalah fakta terkait jurusan kedokteran di Indonesia jaman saiki, yang perlu dipertimbangkan bilamana pembaca masih kerut-merut untuk masuk—atau memasukkan anak—ke jurusan kedokteran.

Berdasarkan data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), pada tahun 2016, terhitung ada 75 fakultas kedokteran di seluruh universitas di Indonesia. Tetapi, dari jumlah tersebut, sebanyak 36 baru terakreditasi B dan 25 sisanya terakreditasi C. Artinya, hanya 14 biji alias tidak sampai 20% dari keseluruhan jumlah tersebut yang menyandang status akreditasi A. Ditambah lagi, 6 universitas belum melahirkan lulusan dokter sama sekali.

Sudah terkejut enough? Data tersebut belum diperindah dengan pemberian ijin kepada 8 universitas lagi di Indonesia di tahun yang sama, untuk membuka jurusan pendidikan dokter. Pemberian ijin oleh Menristekdikti waktu itu, Muhammad Nasir, dihiasi kritik atas dugaan kuat terhadap absennya visitasi dan penilaian komprehensif di kampus-kampus terkait.

Ayolah. Bukan rahasia lagi bahwa kampus dengan akreditasi A saja masih dinodai hal-hal “kurang beres” seperti kurangnya tenaga pengajar, polemik sarana dan prasarana, serta tidak terjaminnya pemenuhan kurikulum akademis sesuai silabus (misalnya karena sering kelas kosong). Apalagi yang tingkat akreditasinya di bawah itu… Aduh! Takut mau bayangin!

Belum lagi dugaan-dugaan yang membikin tidak nyaman (dugaan lho ya, bukan tuduhan) seperti isu kenakalan dokter, yang meresepkan obat lebih dari yang dibutuhkan pasien, lalu mendapat bonus penjualan obat berupa liburan ke luar negeri di akhir tahun. Hadeh… Plis… Nggak keren blas!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 150

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 172

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks