Mosi Tidak Percaya Atas Kecenya Jurusan Kedokteran

Masuk jurusan kedokteran itu nggak keren-keren amat kok gengs. Plis, ini seriusan!

Beberapa waktu lalu, penulis sempat ingin menampol menegur seorang wali murid yang panik berat karena tes rekomendasi penjurusan anaknya, yang duduk di bangku SMA, menunjukkan bahwa si anak cocok masuk IPS. Beliau bahkan mengatakan, dengan teramat menyayat hati jika didengarkan, “Masa iya anakku harus (me)nunda 1 tahun lagi, biar bisa masuk IPA? Kalau masuk IPS, dia nanti nggak bisa jadi dokter…”

Halo? Hai? Adakah logika di sana?

Satu. Memang, kalau sang buah hati masuk dalam peminatan ilmu eksak saat SMA, yang adalah IPA jika di Indonesia, akan lebih mudah memahami materi ajar jika di perkuliahannya nanti ia belajar ilmu eksak juga. Sama seperti anak IPS yang kemudian masuk jurusan sosiologi misalnya, atau komunikasi, yang sama-sama ilmu berbasis teori dengan aroma sosial. Atau anak Bahasa yang kemudian masuk jurusan sastra.

Tapi, apakah dengan masuk kelas IPA, seseorang bisa sekonyong-konyong jadi dokter pada akhirnya? Tydac, saudara-saudara. Apalagi, sistem seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan sejumlah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) saat ini sangat memungkinkan seorang lulusan IPS untuk masuk ke jurusan Saintek, dan sebaliknya, dari peminatan IPA ke jurusan Soshum (yang kepanjangannya Sosial dan Humaniora ya sayang, bukan Sosial dan Hukum). Jadi, kini semua tergantung pada si anak, lulus apa enggak tuh ujian masuk universitasnya? Meskipun kadang juga tergantung deposit rekening atau keampuhan aji-aji sih.

Dua. Selain menyoal itu, ada lagi permasalahan lebih melandas: Memangnya ada apa sich, sama profesi dokter ini? Kenapa semua-mua mengagungkannya? Kenapa kebanyakan kids masih menjawab “Dokter!” kalau ditanya apa cita-citanya? Kenapa orang-orang masih secara spontan melayangkan pujian jika mendengar ada seseorang masuk jurusan kedokteran?

Kenapa masih banyak orang tua yang memaksa anaknya untuk masuk IPA, meskipun anaknya sendiri lebih minat masuk Bahasa atau IPS? (Dan berani taruhan setidaknya setengah dari orang-orang tua itu pengin anaknya jadi dokter.)

Hayo, Kenapa?

Pasti ada saja yang menyahut dengan pernyataan bahwa rasio jumlah dokter dengan penduduk di Indonesia masih belum imbang. Masih lebih banyak orang sakit daripada dokter yang bisa menangani, katanya.

Tapi tapi tapi… apa nggak begitu juga faktanya dengan profesi-profesi lain? Misalnya, kurangnya tenaga kepustakaan dan kearsipan untuk melancarkan proses penyimpanan dan distribusi dokumen di seluruh kantor institusi di Indonesia, bahkan membuat sistem yang bisa memperingkas alur dokumentasi dan migrasi negara. Atau, kurangnya ahli informasi dan teknologi di tataran hukum yang bisa membantu mengentaskan Indonesia dari ketertinggalan masyarakatnya di tengah terjangan globalisasi. Atau lagi, dibutuhkannya ahli dan pengamat sosial untuk mencegah ledakan konflik yang rawan terjadi di tengah masyarakat Indonesia yang kaya budaya nan plural.

Kalau penduduk negara sehat semua, tapi enggak bisa toleran antargolongan masyarakatnya, yo modyar rek!

Lagipula, bagaimana sih, awal mula paradigma bahwa menjadi dokter—atau lebih luas lagi, bekerja di bidang Saintek—itu lebih keren dibandingkan menjalani profesi lainnya? Panjenengan sekalian pasti tahu kan, bahwa bibit-bibit penjajahan masa kolonialisme di negara tersayang kita ini bermula dari apa. Jika jawaban njenengan adalah ‘perdagangan’, benar sudah. Ingat juga kan, dengan nama strategi andalan Belanda untuk menguasai sebagian besar wilayah di Indonesia? Tak lain dan tak bukan, devide et impera.

Di sisi lain, terekam pula bahwa sejarah pendidikan di Indonesia diawali dengan pendirian sekolah di masa kolonialisme yang sama, itupun karena dorongan konsep Politik Etis. Tentu saja pendirian sekolah untuk bumiputera tersebut diharapkan dapat mencetak lulusan yang, pada akhirnya, dapat mendukung pemerintah Belanda juga. Jika tidak jadi pegawai swasta, pegawai negeri, atau anggota militer, para pribumi (yang kali ini tidak ada hubungannya sama Anies) bisa sekolah untuk jadi dokter atau insinyur.

Nah, jangan-jangan, memang sudah ada setting-an sejak jaman itu, bagi pribumi untuk lebih cenderung mempelajari ilmu-ilmu eksak dibanding ilmu-ilmu sosial. Jangan-jangan juga, ilmu eksak sengaja dipopulerkan kala itu untuk melanggengkan penjajahan atas Indonesia, bahkan sampai sekarang. Kalau nggak begitu, lalu kenapa rakyat Indonesia diberi lebih banyak kesempatan belajar ilmu eksak, sementara para penjajah sendiri melahirkan strategi-strategi perdagangan dan politik yang jelas-jelas berangkat dari ilmu sosial? Hayo.

Kembali Lagi ke Jurusan Kedokteran

Berikut adalah fakta terkait jurusan kedokteran di Indonesia jaman saiki, yang perlu dipertimbangkan bilamana pembaca masih kerut-merut untuk masuk—atau memasukkan anak—ke jurusan kedokteran.

Berdasarkan data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), pada tahun 2016, terhitung ada 75 fakultas kedokteran di seluruh universitas di Indonesia. Tetapi, dari jumlah tersebut, sebanyak 36 baru terakreditasi B dan 25 sisanya terakreditasi C. Artinya, hanya 14 biji alias tidak sampai 20% dari keseluruhan jumlah tersebut yang menyandang status akreditasi A. Ditambah lagi, 6 universitas belum melahirkan lulusan dokter sama sekali.

Sudah terkejut enough? Data tersebut belum diperindah dengan pemberian ijin kepada 8 universitas lagi di Indonesia di tahun yang sama, untuk membuka jurusan pendidikan dokter. Pemberian ijin oleh Menristekdikti waktu itu, Muhammad Nasir, dihiasi kritik atas dugaan kuat terhadap absennya visitasi dan penilaian komprehensif di kampus-kampus terkait.

Ayolah. Bukan rahasia lagi bahwa kampus dengan akreditasi A saja masih dinodai hal-hal “kurang beres” seperti kurangnya tenaga pengajar, polemik sarana dan prasarana, serta tidak terjaminnya pemenuhan kurikulum akademis sesuai silabus (misalnya karena sering kelas kosong). Apalagi yang tingkat akreditasinya di bawah itu… Aduh! Takut mau bayangin!

Belum lagi dugaan-dugaan yang membikin tidak nyaman (dugaan lho ya, bukan tuduhan) seperti isu kenakalan dokter, yang meresepkan obat lebih dari yang dibutuhkan pasien, lalu mendapat bonus penjualan obat berupa liburan ke luar negeri di akhir tahun. Hadeh… Plis… Nggak keren blas!