Musik Indie, Industri Rokok dan Kebingungan Seniman Jaman Now 0 1187

Redaksi kalikata.id menerima tulisan “agak serius” dari Rafif Taufani, pegiat seni kolase di Surabaya, yang membagi kegundahannya mulai dari definisi gegabah “seniman” hingga bagaimana industri dan kekuatan ekonomi mengubah wajah dan watak independen dari seni.

 

“…ketok se, tampilanmu ancen seniman banget”

Seniman, nampaknya gelar tersebut sudah diujar beribu orang. Tidak lupa saat menyebutnya, dilekatkan pula imej sosok berambut gondrong, pakaian ala kadarnya, rokok dan totebag, setidaknya itu kata orang-orang. Sebagai salah satu praktisi seni kolase (bukan seniman), nampaknya penggambaran prematur itu selalu dipaksa pada diri penulis juga. Khususnya dari golongan anak yang asing dari persentuhan dunia seni sama sekali.

Tetapi, “dituntut” untuk tampil amburadul sama dengan dituntut untuk juga idealis dalam berpikir. Tuntutan itu bahkan datang dari sesama praktisi seni. Pembaca pasti bisa membayangkan seniman yang dibahas disini adalah seniman dengan mental kiri kere. Dalam artian, tidak materialistik dan rendah diri.

Namun pasca musik independen (indie) bangun dari hibernasi panjangnya, dunia keseni-senian juga ikut terusik. Musik indie dianggap sebagai aliran musik folk saja alias musik warisan budaya, protes, dan erat dengan konteks kelahiran musik itu sendiri. Lirik-liriknya tak pernah jauh dari kata senja, sore, kopi, teh, dan soal-soal lama seperti percintaan—sebuah pengotakkan definisi yang mengancam kemerdekaan musik independen dalam tiap kesederhanaannya.

Tidak ada yang sungguh salah atas pendefinisian itu. Tapi ada baiknya pembaca tahu bahwa musisi atau seniman bergelar independen menyuarakan sifat-sifat pemusik yang tak mau ambil pusing kalau tak ada sumber daya cukup untuk produksi dan tidak hanya terkurung dalam genre saja.

 

Pasar yang Diciptakan

Terhitung sejak 2014 lalu, banyak industri rokok yang menggelar acara dan progam besar-besaran, khusus untuk mengawinkan tiga komponen hidup serba indie: rokok, musik, dan kesenian. Acara yang digelar tidak main-main: ratusan musisi, komunitas seni dan golongan anak muda candu ketenaran dimasak diatas loyang penuh tipu-tipu. Detilnya:

  1. Komunitas seni diundang untuk membuat karya disamping panggung/dibuatkan stand khusus yang menjual pelbagai karya dan info soal komunitasnya
  2. Dalam kemasan acara, produk rokok dikampanyekan pada tiap pengunjung. Lewat penawaran produk secara langsung atau iklan dalam bentuk ad-lips.

Alur ini dianut dan modifikasinya tidak akan jauh-jauh dari situ. Lebih dalam lagi industri rokok juga melakukan penawaran dengan embel-embel ketenaran bagi mereka yang ‘berkarya’. Karya yang dikirim berhak mendapatkan publikasi, bahkan dibuatkan acara pameran sendiri. Sungguh pasar yang sangat naik daun dan bisa diprediksi akan terus berlipat ganda puluhan tahun ke depan. Benar juga kata Efek Rumah Kaca, pasar memang bisa diciptakan. Asal masih ada pemuda yang butuh verifikasi atas jiwake-seni-an mereka.

Namun penulis tidak ingin gelap mata dalam melihat hal ini. Mengingat seniman juga termasuk deretan konsumen rokok dan diadakannya acara oleh industri itu, sekilas nampak seperti simbiosis mutualisme. Belum lagi menimbang penghargaan seniman di kota ini yang amat kurang. Pasti harapan yang dijual diinginkan industri seni dapat dipenuhi setelah acara selesai. Masyarakat mendapatkan literasi, seniman dapat penghargaan, dan industri musik independen tetap hidup sejahtera, aman sentausa.

Harapan tersebut nyatanya tidak terjadi secara utuh. Pengunjung datang di detik-detik terakhir acara, tepat saat konten musik sudah mulai bermain. Maka dari itu, gerakan kelompok independen seniman harusnya bisa menjawab hal itu. Membuat kelompok sendiri dan mengusahakan literasi seni secara otonom pada masyarakat. Tapi lagi-lagi realitas berkata lain. Berjuang sendiri itu sama-sama kere, usaha membangun dari awal tidak semudah ikut publikasi acara rokok yang tinggal men-klik saja.  Akhirnya kita dihadapkan pada hubungan ketergantungan yang haram, tapi apa bole buat masyarakat kita sudah telanjur sayang.

*Rafif Taufani, tinggal di Surabaya dan banyak melakukan eksperimentasi terkait seni kolase.

 

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kegundahan Sederhana yang Disebabkan Kartu Nama 1 184

Jika Mas Robbyan Abel sudah bercerita tentang pergulatan mahasiswa tingkat akhir yang nggak tahan kudu mentas, kali ini izinkan hamba bercerita tentang satu tahap di atasnya: pengalaman kerja.

Beberapa waktu yang lalu, saya adalah job seeker, melamar sana-sini dan dipanggil untuk wawancara di perusahaan impian. Di tiap wawancara itu, saya tentu bertemu dengan pelamar lainnya. Di situ, terjadi perkenalan dan perbincangan basa-basi, khas warga Endonesah. Tujuannya jelas, siapa tahu jadi teman kantor saat kami sama-sama diterima. Kalaupun salah satu dari kami tidak beruntung, paling tidak sudah memperluas relasi.

Dalam perkenalan singkat itu, supaya tetap berkawan hingga kemudian hari, saya biasanya yang lebih duluan meminta kontak. Bukan nomor handphone, apalagi alamat rumah.

Saya tanyakan nama akun Instagram-nya.

Pada sebuah tes wawancara kerja, saya bertemu seorang pelamar lain yang ketika saya tanyai akun Instagram-nya, mengaku tidak punya. Saya lantas kaget. Hari gini, gak main Instagram? Padahal, menurut survei awur-awuran versi penulis, anak milenial macam kita ini paling suka menggunakan media sosial Instagram.

Perlu bukti? Kini kebutuhan hidup anak-anak muda adalah mencari tempat nongkrong dan liburan yang Instagram-able. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan istilah itu. Sama seperti munculnya sebutan selebgram, jabatan yang patut diberikan pada mereka yang punya eksposur tinggi di jagad aplikasi berlogo kamera warna pelangi ini. Lantas berikutnya, jumlah followers, like, dan comment kemudian jadi komoditas dan kebutuhan hidup, selain uang tentunya (yang lagi-lagi untuk beli minum di tempat nongkrong yang Instagram-able).

Akibat kenalan baru saya ini tadi nggak punya Instagram, pilihan terakhir bagi saya adalah bertanya media sosial lain apa yang dia mainkan. Ternyata ia punya Twitter, syukurlah. Walau tentu meninggalkan pertanyaan dalam benak, bagaimana kawan saya ini bisa survive di antara teman se-gengnya ketika yang lain sedang ngumpul dan update story di Instagram, sementara dia nggak?

Cerita lain, setelah sebulan bekerja, saya bertemu banyak narasumber yang usianya beragam. Pengalaman lain lagi saya alami. Saat berkenalan dan meminta nomor HP narasumber, mereka menyodorkan barang yang tentu sama sekali asing bagi arek-arek lahiran tahun 2010-an ke atas: kartu nama.

Peristiwa ini membuat saya canggung. Sudah menyiapkan HP, membuat kontak baru di buku telepon HP, bersiap mengetikkan nomor si narasumber, eh dia nyodorin kartu nama. Bahkan, saking lumrahnya barang ini di era hidup si narasumber, mereka bertanya balik apa saya ada kartu nama yang bisa dipertukarkan. Entah harus malu atau bangga, mengaku di hadapan narasumber kalau saya anak milenial: generasi yang sudah tidak punya atau bahkan tidak tahu apa urgensi membuat kartu nama pribadi.

Tapi, saya bukan generasi yang sama sekali nggak kenal kartu nama. Sependek ingatan, saya pernah saling bertukar kartu nama dengan teman-teman di bangku SD. Kala itu, kami suka membuat kartu nama dengan warna dan gambar kartun favorit. Kartu nama di zaman itu jadi sebuah artefak penanda prestis, sangat ikonik, butuh dipamerkan dan dipertukarkan, layaknya kertas binder.

Lambat laun, kartu nama bagi anak seusia saya mulai ditinggalkan. Lantas, peristiwa kartu nama dengan narasumber itu membuat saya bertanya-tanya dalam sukma: apakah memang sudah sejauh itu ketimpangan zaman milenial dengan generasi yang lahir sebelumnya? Kalau saya yang hampir 23 tahun ini saja sudah merasa ada gap gara-gara kartu nama, ndaniyo anake Raditya Dika karo Raisa?

Pertanyaan selanjutnya, salahkah bila kami tak punya kartu nama, dan punya cara berbeda dalam berkenalan dan berkorespondensi? Toh, perkenalan via dunia digital tidak mengurangi substansi dan etika.

Selain jadi komoditas pasar dan target kampanye politik, nasib milenial memang senantiasa jadi kambing hitam atas tuduhan-tuduhan “anak zaman sekarang mana ngerti…”atau “let’s confuse kids nowadays”.

Oalah Gusti, salah ta aku lahire saiki?

Foto: Deedee86 (Pixabay)

(Masih) Perlunya Demonstrasi di Saat Demokrasi Dikebiri 0 139

Oleh: Nabiilah Ulinnuha*

Tulisan ini dibuat teruntuk kalian yang hampir menyerah pada Indonesia, menolak percaya pada pemerintah, dan berharap bisa mengurus pindah kewarganegaraan dengan mudah.

Bukan lagi fenomena baru bahwa hadirnya media sosial memindahkan kanal informasi. Di zaman sekarang, mahasiswa dan pelajar tak perlu menyisihkan uang jajan buat beli koran atau bawa tape kemana-mana agar tak ketinggalan berita baru. Bermodalkan smartphone di genggaman tangan, dua media konvensional itu tentu bukan tandingan.

Bangun tidur, ritualnya adalah buka feed Instagram dan Twitter untuk cek kabar terbaru. Yang lebih nggenah, mungkin membuka kanal berita online gratisan, atau yang harga langganannya masih lebih murah dari paket data. Apa-apa serba mudah, kan? Berkat mbah gugel, kita tak perlu lagi kepo berita pagi ini dengan bertanya kesana-kemari. Tinggal buka layar ponsel saja, dan buka Kalikata ketik di mesin pencarian, voila!Tercerahkan”-lah kita.

Sama hal dengan informasi yang berpindah kanal utamanya, demokrasi pun mulai muncul dalam ruang baru bernama ‘media sosial’. Melalui ratusan tweets viral yang mengeluhkan keadaan, tergambar wajah sebuah kebebasan. Mulai dari kondisi terbaru yang terjadi di gedung KPK hingga gerakan tak setuju pada RUU PKS. Belum lagi situasi genting pada Kebakaran Hutan Liar, serta ketidakadilan bagi masyarakat di timur Indonesia.

Beragam postingan di Instagram tentang kondisi Indonesia terkini seolah saling tak mau kalah. Sebab siapapun bisa berbagi informasi. Demokrasi tumpah ruah di ruang-ruang tanpa sekat.

Masyarakat mulai menyukai hal-hal mudah. Demokrasi tak selalu harus turun ke jalanan. Mahasiswa zaman sekarang lebih suka memilih jalur lebih damai lewat diplomasi, atau menulis pada kolom opini. Yang lebih mudah lagi, tentunya menulis tweet dan membagikan foto kondisi terbaru lewat Instagram.

Rasa-rasanya masyarakat sudah seharusnya mulai bosan dengan pola ini. Sudah berteriak pada berbagai platform media, tapi kok rasanya wakil rakyat seolah bisu dan tuli?

Seharusnya apresiasi tinggi patut diberikan pada ratusan mahasiswa yang mengerumuni gedung pemerintah untuk menagih janji. Di saat-saat genting ini, dan di tengah gempuran alternatif cara “menyuarakan” tuntutan, mereka jadi pahlawan garda terdepan yang berjuang bagi demokrasi dengan langkah-langkah tradisional namun efektif bikin pemerintah rodhok panik.

Mari kita buka kenangan setahun lalu, saat Ketua BEM UI berikan Jokowi kartu kuning. Pembicaraan tentang pro dan kontra sempat bergulir di media sosial. Begitu banyak yang ngedumel. Memalukan, katanya. Mahasiswa kok tidak paham etika. Para netizen yang mahabenar, tidakkah kalian sadar, dulu dan kini, masih juga suka mencaci habis mahasiswa saat turun ke jalanan? Bikin macet, kata kalian. Terlalu anarkis dan mengganggu stabilitas Negara, kata kalian juga.

Barangkali, kita harus mengingat kembali pesan founding fathers bangsa ini. Bung Karno pernah menggaungkan “jasmerah”: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nampaknya pesan ini sungguh selalu relevan pada setiap zaman.

Kali ini penulis mengajak untuk mengingat kembali peristiwa 1998. Tanpa pengorbanan mahasiswa, Orde Baru tak akan mungkin digulingkan. Mereka, para aktivis, termasuk mahasiswa yang tumpah ruah ke jalanan, rela hilang tanpa dikenang namanya. Aksi mereka yang heroik adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia masih berani berjuang walau tak memiliki senjata di tangan. Dan rupanya bentuk aksi ini masih turun dari zaman ke zaman.

Persetan dengan kemacetan dan keamanan! Hari ini, kebebasan dikebiri habis-habisan. Tikus-tikus berdasi di gedung parlemen negara melanggengkan kekuasaannya terang-terangan. Berbagai diskusi sudah menemui jalan buntu. Apakah kemudian gaungan emosi dari gawaimu itu benar dapat merubah nasib bangsa ini?

Mereka yang sekarang sedang berjuang di jalanan nyaris belum mendapat titik terang. Jangankan memberi solusi dan menenangkan massa, menemui mereka pun pemerintah masih enggan. Justru di hari-hari inilah, demokrasi butuh lebih banyak lagi demonstrasi. Sudah selayaknya kita belajar dari sejarah, bahwa yang menang adalah yang tak pernah berhenti berjuang. Sebab pemimpin kita saat ini sungguh masa bodo bila sejatinya telah berubah jiwa jadi pecundang. Asal kekuasaan masih mereka pegang, sepertinya tak ada yang mereka takuti.

 

*Penulis adalah mahasiswa yang suka kopi, sajak, tapi kurang lengkap bila tak ditemani ‘kamu’ yang sekarang hilang. Berzodiak Gemini, oleh sebab itu orangnya ruwet.

Foto: Wanti Anugrah

Editor Picks