Musik Indie, Industri Rokok dan Kebingungan Seniman Jaman Now 0 1579

Redaksi kalikata.id menerima tulisan “agak serius” dari Rafif Taufani, pegiat seni kolase di Surabaya, yang membagi kegundahannya mulai dari definisi gegabah “seniman” hingga bagaimana industri dan kekuatan ekonomi mengubah wajah dan watak independen dari seni.

 

“…ketok se, tampilanmu ancen seniman banget”

Seniman, nampaknya gelar tersebut sudah diujar beribu orang. Tidak lupa saat menyebutnya, dilekatkan pula imej sosok berambut gondrong, pakaian ala kadarnya, rokok dan totebag, setidaknya itu kata orang-orang. Sebagai salah satu praktisi seni kolase (bukan seniman), nampaknya penggambaran prematur itu selalu dipaksa pada diri penulis juga. Khususnya dari golongan anak yang asing dari persentuhan dunia seni sama sekali.

Tetapi, “dituntut” untuk tampil amburadul sama dengan dituntut untuk juga idealis dalam berpikir. Tuntutan itu bahkan datang dari sesama praktisi seni. Pembaca pasti bisa membayangkan seniman yang dibahas disini adalah seniman dengan mental kiri kere. Dalam artian, tidak materialistik dan rendah diri.

Namun pasca musik independen (indie) bangun dari hibernasi panjangnya, dunia keseni-senian juga ikut terusik. Musik indie dianggap sebagai aliran musik folk saja alias musik warisan budaya, protes, dan erat dengan konteks kelahiran musik itu sendiri. Lirik-liriknya tak pernah jauh dari kata senja, sore, kopi, teh, dan soal-soal lama seperti percintaan—sebuah pengotakkan definisi yang mengancam kemerdekaan musik independen dalam tiap kesederhanaannya.

Tidak ada yang sungguh salah atas pendefinisian itu. Tapi ada baiknya pembaca tahu bahwa musisi atau seniman bergelar independen menyuarakan sifat-sifat pemusik yang tak mau ambil pusing kalau tak ada sumber daya cukup untuk produksi dan tidak hanya terkurung dalam genre saja.

 

Pasar yang Diciptakan

Terhitung sejak 2014 lalu, banyak industri rokok yang menggelar acara dan progam besar-besaran, khusus untuk mengawinkan tiga komponen hidup serba indie: rokok, musik, dan kesenian. Acara yang digelar tidak main-main: ratusan musisi, komunitas seni dan golongan anak muda candu ketenaran dimasak diatas loyang penuh tipu-tipu. Detilnya:

  1. Komunitas seni diundang untuk membuat karya disamping panggung/dibuatkan stand khusus yang menjual pelbagai karya dan info soal komunitasnya
  2. Dalam kemasan acara, produk rokok dikampanyekan pada tiap pengunjung. Lewat penawaran produk secara langsung atau iklan dalam bentuk ad-lips.

Alur ini dianut dan modifikasinya tidak akan jauh-jauh dari situ. Lebih dalam lagi industri rokok juga melakukan penawaran dengan embel-embel ketenaran bagi mereka yang ‘berkarya’. Karya yang dikirim berhak mendapatkan publikasi, bahkan dibuatkan acara pameran sendiri. Sungguh pasar yang sangat naik daun dan bisa diprediksi akan terus berlipat ganda puluhan tahun ke depan. Benar juga kata Efek Rumah Kaca, pasar memang bisa diciptakan. Asal masih ada pemuda yang butuh verifikasi atas jiwake-seni-an mereka.

Namun penulis tidak ingin gelap mata dalam melihat hal ini. Mengingat seniman juga termasuk deretan konsumen rokok dan diadakannya acara oleh industri itu, sekilas nampak seperti simbiosis mutualisme. Belum lagi menimbang penghargaan seniman di kota ini yang amat kurang. Pasti harapan yang dijual diinginkan industri seni dapat dipenuhi setelah acara selesai. Masyarakat mendapatkan literasi, seniman dapat penghargaan, dan industri musik independen tetap hidup sejahtera, aman sentausa.

Harapan tersebut nyatanya tidak terjadi secara utuh. Pengunjung datang di detik-detik terakhir acara, tepat saat konten musik sudah mulai bermain. Maka dari itu, gerakan kelompok independen seniman harusnya bisa menjawab hal itu. Membuat kelompok sendiri dan mengusahakan literasi seni secara otonom pada masyarakat. Tapi lagi-lagi realitas berkata lain. Berjuang sendiri itu sama-sama kere, usaha membangun dari awal tidak semudah ikut publikasi acara rokok yang tinggal men-klik saja.  Akhirnya kita dihadapkan pada hubungan ketergantungan yang haram, tapi apa bole buat masyarakat kita sudah telanjur sayang.

*Rafif Taufani, tinggal di Surabaya dan banyak melakukan eksperimentasi terkait seni kolase.

 

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 137

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Konten Pacaran Artis dan Komentar Jahat Netijen 0 158

Oleh: Annisa Pinastika*

Beberapa waktu lalu, menjelang peringatan Muharram, jagat maya digemparkan dengan tangkapan layar Instagram Story aktris muda tanah air. Video berdurasi kurang dari lima belas detik tersebut menayangkan saat kekasih sang aktris (sebut saja Zara JKT48) menyentuh bagian vitalnya dengan sengaja.

Hal yang menjadi pergunjingan netijen ialah respon dari si aktris yang tidak menunjukkan penolakan atas tindakan kekasih. Malahan menunjukkan ekspresi senang dan meminta perbuatan tersebut diulangi. Jari jemari netizen tentu riuh membagikan ulang lengkap dengan komentar keji dan sumpah serapah.

Netizen maha benar. Tidak hanya mengunggah ulang story tersebut, mereka juga merundung akun orang tua dan saudara dari si aktris dengan kata-kata makian dan hinaan. Tanpa disadari, perilaku mereka telah mencerminkan kekerasan berbasis gender online (KBGO). Salah satu ciri ialah perusakan reputasi atau kredibilitas seseorang baik dengan berbagi data pribadi dengan tujuan merusak reputasi pengguna serta membuat komentar yang bernada menyerang, meremehkan, dengan maksud mencoreng reputasi seseorang (Kusuma dan Arum, 2019).

Fenomena KBGO sendiri mengalami peningkatan selama tiga tahun terakhir. Catahu Komnas Perempuan 2019 menunjukkan bahwa kekerasan jenis ini telah bertambah menjadi 98 kasus pada tahun 2018, meningkat dari tahun 2017 yang mencetak sebanyak 65 kasus dan tahun 2016 yang mencatat lima kasus.

Jika kita mengamati dengan seksama, pembaca yang budiman, kegiatan KBGO, khususnya pada konteks peristiwa ini, sebenarnya dilakukan netizen yang senang melihat orang lain susah. Fenomena kesenangan ketika melihat orang lain sedang bernasib buruk dikenal dengan sebutan “schadenfreude” (van Dijk, Ouwerkerk, van Koningsbruggen & Wesseling, 2011).

Aurelia (2019) memaparkan sebuah penelitian dalam makalah “Schadenfreude Deconstructed and reconstructed: A Tripartite Motivational Modeldalam New Ideas of Psychology. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa responden puas melihat orang sukses sedang mengalami kegagalan dan menganggap hal tersebut layak dialami oleh orang yang “high achiever”.  Dengan begitu, netizen insecure tentu merasa jaya bak di singgasana ketika melihat aktris layar lebar bertalenta di usia muda, dulunya anggota idol yang jago menyanyi dan menari, penyandang gelar brand ambassador produk-produk terkenal, kini tercoreng nama baiknya karena satu konten.

Alih-alih merasa simpati, beberapa golongan justru bangga menjadi agen pelaku kekerasan berbasis gender online dengan berlomba-lomba mereproduksi konten tersebut. Bahkan akun-akun gosip kawakan dan media massa tanpa rasa bersalah memonetisasi video sang aktris yang masih di bawah umur.

Sesungguhnya rasa iri yang memicu schadenfreude mendorong kita untuk bertindak sebagai pelaku kekerasan. Kita lupa bahwasannya setiap orang memiliki kesalahan dan dosa yang berbeda-beda. Apesnya saja si aktris yang-yangan di depan kamera dan tersebar di sosial media. Padahal belum tentu para tukang bully online itu tidak melakukan hal yang serupa. Wong digrepe itu enak, kok!

Mengakhiri tulisan ini, penulis hanya bisa berpesan pada netizen: mbok ya kalau ada skandal, melibatkan anak di bawah umur, jangan lantas senang dan nyumpah-nyumpahin sampe ke keluarganya segala! Malu, lah sama umur! Mending energinya dipakai buat bercocok tanam atau bisnis makanan rumahan gitu, lho!

Melihat tangkah netizen seperti ini justru makin membuat penulis yakin bahwa sekarang masyarakat lebih takut melihat pasangan saling mencinta daripada menyakiti perasaan sesama manusia.

 

*)Perempuan yang menjuluki diri “Ratu Mahabencana”. Enggan mengklaim dirinya sebagai feminis meski suka menulis tentang feminisme.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

 

 

Editor Picks