Panasnya Surabaya Mendekati Panas Neraka? 2 1474

Mungkin juga karena penduduknya religius dan suka melafalkan ayat kursi, maka hawa kota pahlawan naik ekstrim memanggang syaithon nirrojiim.

Surabaya memang dikenal sebagai salah satu kota terpanas. Apalagi bagi para perantau, titik celcius 37-39 derajat sudah seperti neraka. Pada masa-masa peralihan menyambut musim hujan seperti sekarang, BMKG meramal suhu naik di hamparan kota sebagai sesuatu yang biasa saja. Problem klimatologi di Indonesia yang tropik memang terkadang melempar kita pada ketidakpastian suhu. Suatu waktu bisa kita rasakan angin dingin merambati mbun-mbunan, meski di luar matahari masih siaga. Atau kadang kita lihat keajaiban dunia tatkala hujan mengguyur deras di siang yang terik. Jas hujan yang telanjur dicabut dari jok motor dan dipakai susah-payah akhirnya harus rela dipisuhi karena hujan tetiba reda.

Penduduk asli yang bermukim bertahun-tahun di sini juga akhirnya terbiasa dan mafhum. Gejala suhu ekstrim biasa dihadapi dan diselesaikan dengan jurus nutri sari, coca-cola, es tebu, legen kemringet, atau mungkin jas-jus (ombean legendaris).

Mungkin juga kita perlu ngangsu kawruh pada ibu-ibu berjilbab apalagi bercadar, yang bajunya mengerudungi seluruh tubuh dan masih setrong menghajar jalan Gedangan atau Wiyung atau Jemursari yang panas sekaligus macetnya biadab bukan main. Patut dicurigai bahwa tubuh emak-emak ini telah terbiasa dan terlatih dengan kondisi ongkep. Metabolisme organ-organnya menyesuaikan diri dan dengan cara entah bagaimana kondisi otak mampu mematikan syaraf pengendali keringat.

Atau solusi praktis lain: migrasi massal menuju mall. Indomaret juga boleh. Pokoknya tempat sejuk ber-AC. Sebab, konon, hanya di Surabaya kipas angin (merek apapun, tidak hanya Maspion) mendadak kehilangan tajinya. Kipas angin minder berhadapan dengan sumuknya hawa panas kota pahlawan.

Jadi pembaca yang mulai emosi jiwa di jalanan yang hot, hendaknya disadari bahwa ini bagian dari konsekuensi menjadi warga Surabaya. Pilihan bebas di tangan pembaca: mau telanjang, menenggak legen, beli AC baru, atau justru melatih diri seperti ibu-ibu berjilbab tadi.

 

Redaksi kalikata.id

Previous ArticleNext Article

2 Comments

  1. sudah 2tahun saya merantau disini dan 2tahun itu pula selimut yg dbawain emak dari kampung enggak pernah keluar almari alias ra kanggo!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dosa Besar dan Keleletan Pertamina 0 260

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Sesuai judul, penulis ingin secara terangan-terangan menghujat dan mempersalahkan PT. Pertamina. Bagaimana tidak? Kebocoran pipa di Teluk Balikpapan ini membuat penulis bertanya serius pada PT. Pertamina, “kowe iki becus opo ora toh?”

Sabtu lalu, tajuk utama surat kabar langganan saya mengejutkan sekaligus menyulut emosi. Mulut sudah kebelet mencaci maki dan hati rasanya sakit sekali.

Katanya, ada minyak tumpah di Teluk Balikpapan. Foto tumpahannya, nauudzubilah min zalik!

Isi pemberitaan itu menuding kapal bermuatan batu bara asal Cina, MV Ever Judger membuang limbah minyak bahan bakarnya secara ilegal ke Teluk Balikpapan. Limbah Marine Fuel Oil (MFO) itu kemudian menyebabkan kebakaran hebat di laut. Menurut keterangan saksi mata, terjadi ledakan besar disertai kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi di lokasi. Lima nelayan setempat tewas dilahap api yang tak bisa dikendalikan. Disini, saya sudah habis memaki-maki si Ever Judger ini. Wani-wani ne nyampah nang lautku?  Tenggelamno ae!

Disebutkan pula bahwa kapal MV Ever Judger, yang disangkakan sebagai pelaku, juga ikut-ikutan terbakar. Buritan kapal bagian kiri digilas api, juga sekocinya. Awak kapal dan muatannya bahkan menjerit minta diselamatkan.

Lah katanya mereka yang membuang, kok malah ikutan kebakar? Ganjil? Sangat ganjil.

Makian saya perlahan hilang, seiring akal mengatakan saya sudah salah tuduh. Mohon maaf Ever Judger, saya sudah suudzon berat padamu!

Kemudian disini, aktor amatir kita yang sangat payah mulai tampil bermain.

Sebagai pemilik kilang minyak yang lokasinya berdekatan dengan tumpahan, hari itu juga PT. Pertamina memberi tanggapan. Tanggapan penuh kezaliman.

Mereka menegaskan dengan gagah berani dan percaya diri pada awak media, jelas-jelas yang tumpah itu MFO. Sedangkan, PT Pertamina di Teluk Balikpapan hanya, sekali lagi, hanya memproduksi crude oil atau minyak mentah macam solar atau avtur.

Tolong pikir-pikir lagi lah ya kalau mau menyalahkan Pertamina. Begitulah kira-kira makna klarifikasi itu, bagi mereka yang mampu menangkapnya.

Ever Judger masih tersangka. sedang Pertamina cuci tangan.

Dua hari setelahnya, dengan malu-malu(in), PT Pertamina menjilat kembali ludah yang sudah diinjak dan diesek-esek dengan sepatunya sendiri. Mereka mengaku, minyak yang mengapung di perairan Teluk Balikpapan adalah kesalahan mereka.

Entah bagaimana divisi PR PT. Pertamina ini. Mungkin dulu tidak ambil mata kuliah Dasar-Dasar Public Relations, atau lalai, atau tertekan atasan.

Hasilnya, setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut dengan metode penyelaman dasar laut, didapati temuan mengejutkan sekaligus menampar Pertamina tepat di mukanya (kalau masih punya muka).

Pipa milik PT. Pertamina ditemukan terputus lalu terseret sejauh 100 meter dari asalnya.

Gila! Mau mengelak apa lagi?

Sudah mencla-mencle begitu, mereka pun lamban sekali menangani minyak yang kadung kemana-mana ini. Sampai seminggu sejak minyak mengapung dan mencemari laut, Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) mengeluhkan keleletan Pertamina. Tim yang dikirim Pertamina untuk membantu tindakan pembersihan dan pemulihan bekerja sangat lamban. Pada banyak aspek,  BPBD merasa Pertamina banyak menutup-nutupi perkara ini.

Ini BUMN apa yang bisa-bisanya mencla-mencle memberi pernyataan resmi, lalu berani-beraninya tidak cekatan menangani masalah yang jelas-jelas tanggung jawab dan kesalahannya? Nilai merah untuk Pertamina!

Coba Pembaca bayangkan, tumpahan minyak ini sudah hampir menyentuh Pulau Sulawesi sedangkan Balikpapan itu di Kalimantan! Hal itu disampaikan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Republik Indonesia (LAPAN RI). Lebih jelasnya, tumpahan minyak ini sudah merembes ke Selat Makassar.

Ekosistem laut jelas tercemar berat. Entah berapa barel minyak yang terbuang begitu saja di perairan Teluk Balikpapan. Biota laut pun banyak yang mati dan terancam keberlangsungan hidupnya. Seekor pesut bahkan ususnya sampai terburai, lalu mati dan hanyut ke pantai. Padahal populasi pesut di perairan itu hanya sekitar 60 ekor. Miris! Semoga saja tidak jadi punah karena ulah PT. Pertamina ini.

Lalu, Pembaca tolong bayangkan pohon bakau. Itu, daunnya yang berjarak 1,5 meter dari akarnya menghitam tersebab minyak. Warga dekat teluk pun sudah mulai kena penyakit saluran pernafasan karena bau crude oil yang menyengat dan berbahaya. Keluhan kesehatan lain pastinya makin banyak di sana. Nelayan pun jadi tidak bisa melaut. Lalu lintas perdagangan bahkan lumpuh. Kapal dilarang sama sekali lewat karena minyak yang tumpah mudah sekali terbakar. Bahkan Ever Judger yang sempat difitnah dan dikambinghitamkan pun harus tertahan di sana.

Ini masalah serius! Sangat, sangat serius! Aduh Pertamina, tulung poo seng nggena..

Menurut saya, Pertamina telah melakukan kejahatan lingkungan luar biasa, yang dampaknya tidak main-main. Butuh sanksi tegas dan bentuk pertanggungjawaban konkret yang mampu memperbaiki kerusakan dan pencemaran pada ekosistem Teluk Balikpapan.

Pemerintah pusat harus tegas dan berani memberi sanksi tegas pada BUMN-nya ini. Jangan sampai hanya berdiam diri saja, karena seminggu ini kasus berjalan tanpa ada tanggapan sedikitpun dari Istana. (Padahal katanya di laut kita kuat? Giliran laut tercemar, diam saja. Huh.)

Memalukan bila sampai kasus ini sengaja diabaikan apalagi dilupakan. Karena memang disadari topik lingkungan mesti kalah pamor dengan isu politik ibukota atau penistaan agama. Namun,. ayolah, ini masalah yang jelas amat besar.

Kenapa juga lebih banyak netijen mempermasalahan Sukmawati, cacing makarel, dan Lucinta Luna ketimbang Teluk Balikpapan?  Duh, bikin jengkel saja!

Semoga pembaca Kalikata yang budiman tidak masuk golongan netijen macam itu. Wallahualam.

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Macan karaoke dan penyuka eskrim.

Haruskah Berbelasungkawa untuk Uber? 0 196

Jika nasib hubunganmu dengan arek’e terasa tidak pasti, antara kawin lari tanpa restu orang tua atau putus sekarang kemudian bunuh diri, tenang saja. Nasib Anda sama gamangnya dengan para calon mantan pengemudi Uber.

Sejak diakuisisi oleh Grab per 26 Maret lalu, tiada keputusan terang bagi para pengemudi perusahaan transportasi asal Amerika itu akan otomatis diboyong. Tiada kepastian apakah setelah 8 April besok, mereka akan ganti perilaku, yang awalnya memberi penumpang dengan helm oranye, kemudian jadi helm ijo royo-royo.

Satu hal yang jelas dalam kasus ini adalah angka persentase pembagian saham, dan hitung-hitungan ahli ekonomi tentang berapa keuntungan yang berhasil direngkuh saingannya lord Nadiem Makarim itu. Sisanya, apalagi bagi nasib pengemudinya serta sanak-keluarganya tentu saja buram.

Hari ini, penulis mencoba melalui masa megap-megap bersama Uber dengan bolak-balik memecah jalanan Surabaya yang super padat itu tiga kali (edyan, wes koyok ngombe obat ae).

Benarlah kata orang jika manusia cenderung bertobat ketika mendekati ajal, demikian pula dengan para driver ini. Ketiganya manis – ucapan dan pelayanannya tentu saja – tidak peduli yang roda dua ataupun setir bunder. Semoga tiga driver yang menghantar penulis kali ini bisa jadi sampel yang representatif. Untuk melindungi keamanan bangsa dan negara, identitas driver akan disamarkan, karena toh penulis juga lupa namanya apalagi wajahnya hehe (lali jenenge eling rasane).

Jika biasanya pengemudi ini bertanya lokasi penjemputan dan tujuan dengan sewot tapi minta bintang lima, kini mereka berbeda. Hari ini, ketika hidup mereka tinggal hitungan jam, mereka berusaha jadi teman ngobrol yang asik. Jika penumpang diam, mereka mulai gelisah, posisi duduknya diubah ke kiri dan kanan, badannya condong ke depan, balik lagi ke belakang, berusaha merawat obrolan agar tetap langgeng, persis gebetanmu ketika pdkt.

Mbak kuliah di mana?”

“Kampus x”

“Jauh ya Mbak kalau ke kampus”

“Iya”

“Biasanya naik Uber juga?”

“Iya”

“Besok udah gak bisa lagi, Mbak. Mbak bisanya naik helikopter atau odong-odong”

Mereka sudah tiada mampu ngomel lagi jika kita dapat promo besar-besaran dan tetap minta kita bayar sesuai tarif asli, karena ya buat apa. Mereka juga tiada mengejar lagi prestasi bintang lima atau tambahan komentar seperti ‘good service’ atau ‘good conversation’, karena ya pada akhirnya hanya tinggal kenangan. Penulis menyarankan, jika para driver itu punya predikat expert sebagai penampung keluh kesah penumpang, pernyataan pada aplikasinya harap di-screenshoot, dicetak, dilaminating, dan dipigurakan.

Eits, tapi ini berlaku hanya bagi driverdriver jujur yang tiada pernah kepikiran untuk mendua atau berselingkuh. Kalau Uber, ya Uber thok. Pembaca kan pasti tahu, bahwa penumpang yang Anda temui di jalan pakai helmnya hijau tapi ternyata pesan pakai aplikasi sebelah adalah hal lumrah. Mereka mengaku, bahwa ikut satu aplikasi saja tidak dapat memberi laba signifikan untuk mengganti uang bensin, uang servis kendaraan yang MILIK PRIBADI itu, dan sedikit penghargaan karena panas-panasan dan macet di jalan.

Para pengemudi ini lantas curhat pada penulis. Mereka hanya diSARANkan berpindah ke aplikasi Grab. Selain itu, pendapat lain muncul seperti ‘Baru saja nyemplung 6 bulan, eh Uber sudah tinggal kenangan’. Pendapat yang terakhir ini memang sedih, sama seperti kamu yang ditinggal doi ketika lagi sayang-sayangnya.

Menyoal Uber dan kawan-kawannya memang tidak pernah mencapai garis akhir di belantara Indonesia. Tiada lagi kecocokan konsep driver sebagai mitra dengan keadaan di lapangan. Apalagi jika ditarik kepada konsep relasi kuasa buruh-majikan, proletar-borjuis ala-ala Marx dan sekte-sektenya. Jika memungkinkan, mereka bisa saja bangkit dari kubur untuk mengkaji ulang polemik transportasi online yang ruwet ini.

Belum usai perkara SPM dan regulasi transportasi beserta tetek-bengeknya, sudah muncul kegaduhan baru lainnya. Dan semua muaranya adalah teriak protes keparnoan netijen Indonesia pada pengangguran.

Tapi tidak apa, fenomena ini akan membuat para pekerja media tetap bisa berkarya. Lah wong ada saja persekutuan driver yang berdemo, macam safari dari satu kota ke kota lainnya, muatan berita jadi tetap variatif dan lestari sebagai kolom permanen kalau-kalau tidak ada politisi yang bikin ulah yang bisa diberitakan.

Namun, bagi pengguna loyal macam penulis ini, hilangnya Uber dari gawai kita merupakan suatu peristiwa yang menguras emosi kesedihan. Padahal, rasanya seperti baru kemarin menggunakan aplikasi Uber untuk pertama kalinya, merasakan canggungnya, bolak-balik melihat indikator posisi driver yang akan menjemput kita sambil deg-deg-an macam dijemput pacar. Fitur Uber Eats saja belum sempat kita cicipi nikmatnya, eh keburu dipek Grab. Mereka ini gak mikir apa, bahwa sebagian pelanggan kan bisa jadi sensi atau phobia warna hijau, bisa jadi mengingatkan mereka pada simbol institusi atau kenangan tertentu yang menyakitkan.

Tapi, yang pasti, kepada umat sekalian, para driver ini menyampaikan kata-kata terakhirnya. Bersiaplah beralih ke aplikasi yang lain! Mbok ya, kalau bisa, berpindah hati ke yang produk lokal Indonesia saja. Biar mahal dikit tak apa, yang penting gak banyak promonya, hehe.

Editor Picks