Persoalan Klasik Cinta Beda Agama 0 1819

Cinta beda agama kembali dipopulerkan dalam dunia persilatan sosial. Barangkali pembaca bersedia menengok ke media gaul instagram, khususnya akun-akun yang tendensius pada remaja: @kata2anak.remaja, @remaja.gaul.islami,@felixsiauw, atau langsung saja ke tagar #cintabedaagama.

Di sana akan kita jumpai berbagai dinamika yang meliputi adik-adik ini. Jika sampeyan mau lebih radikal menelusuri kolom komentar dalam sebuah postingan dan berani membuka salah satu akun yang terlibat, maka sampeyan tidak akan menyangka bahwa anak-anak sekolahan pemikirannya telah menyamai buronan mertua macam Habib Rizieq.

Imutnya, remaja jenis ini tidak membahas permasalahan yang paling dekat dengan mereka. Seperti, guru yang mengajar sudah kayak militer, kantin kotor yang tidak peduli lingkungan sehat, bangunan yang tidak kunjung direnovasi, bahkan mahalnya biaya belajar menjadi topik yang kurang laku. Pernah, sih, siswa-siswa ini kritis, ya, waktu mereka diancam untuk sekolah sepanjang hari oleh kakanda Muhadjir Effendy.

Padahal kan niat beliau baik: kalau kalian sekolah terus, nanti bisa dapat inspirasi untuk menulis caption. Setidaknya jika kalian yakin dengan peraturan ini, usahakan kalian bisa menyesuaikan cara belajarnya, niscaya sampai lah kalian pada tujuan kapitalis. Raimu!

Jadi begini

Pernah sekali saya dikaruniai kesempatan melihat sebuah postingan yang tulisannya begini, “kadang Tuhan menguji manusia dengan cinta beda agama, hanya untuk memastikan apakah manusia lebih mencintai Pencipta atau CiptaanNya” (akun disamarkan agar tidak dikoyak-koyak netijen).

Selain menggambarkan Tuhan sebagai pengecut yang sampai harus memastikan hambanya beriman atau tidak, saya juga curiga di balik pernyataan itu terdapat wacana penistaan agama jilid 2. Kira-kira penafsirannya begini, “Tuhan menguji keimanan hambanya dengan mempertemukan dia dengan hamba dari Tuhan lain dan menjadikan mereka jatuh cinta. Lalu kedua Tuhan itu memasang taruhan untuk hamba yang paling kuat imannya, tapi nahas, sepasang hamba tersebut dipisahkan oleh sekelompok ormas ketika sedang asik berpacaran – tamat” (apasih!).

Saya takutnya kalau adik-adik ini terlanjur kecewa dengan konsep cinta beda agama, tidak menutup kemungkinan mereka akan menjadi seorang ateis. Pastinya posisi itu bakal tambah mempersulit mereka mencari jodoh. Di negeri ini kan enggak ada orang ateis, sekalinya ada, pasti karena dia belum selesai baca pengantar filsafat.

Walau di tempat kita ateis kadang termarjinalkan, sesungguhnya mereka tetep keren, kok. toh, mereka juga bangga dengan kepercayaan mereka: mempercayai ketiadaan. Status mereka sebagai ateis diusahakan sendiri melalui proses dialektika yang panjang. Meski ada juga yang baru baca pengantar filsafat langsung ateis, maba biasanya begini.

Ateis memegang prinsip dan mempertahankan keidealisannya sebagai pengkhianat umat. Nah! kalau kafir itu sifatnya kondisional. Misalnya pas lagi berjualan pedagangnya ternyata kafir, atau saat sedang pemilu/pilkada calon yang diajukan orangnya kafir, pokoknyaada kontes politik pasti ada kafirnya.

Andai semua orang sadar bahwa cinta adalah cara lain Tuhan menyatukan hambanya setelah agama dan uang. Tentu adik-adik kita yang terkena musibah cinta beda agama tidak akan mengalami keresahan hingga larut dalam kesedihan di media gaul Instagram. Ateis dan kafir pun merdeka.

Dan semoga jangan sampai mereka menjadi ateis hanya karena merasa salah memilih agama (kurang keren alasannya). Dan semoganya-semoganya lagi, jangan sampai mereka menjadi kafir hanya karena salah memilih partai.

Cinta beda agama memang sudah menjadi persoalan lama, apalagi mereka yang bersemi di SMA (soalnya kalau pesantren gak mungkin beda agama). Makanya itu, perlu diberikan juga pembekalan moral, pendidikan karakter, pembentukan tabi’at, yang hanya bisa didapatkan dengan cara menguji kepekaan sosial atau terjun langsung ke masyarakat (lha, kalau seharian di sekolah, terus kapan terjunnya, kak?!).

Mengutip perkataan Tan Malaka dalam Madilog, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali!”

Semisal nanti mereka sudah dewasa (akil baligh) secara pemikiran dan siap berkelana mencari jalan hidup, maka keresahaan seperti cinta beda agama akan mudah saja diatasi. Mengutip quotes netijen, “Jarak terjauh itu ketika Assalamualaikum dibalas dengan Shalom…”. Tapi percaya lah, dik, sebenar-benarnya jarak ialah ketika kita ini menjauh dari persoalan wong cilik!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kilas Balik Media dan Bagaimana Persoalannya Sekarang 0 139

Secara sederhana saja, media merupakan corong penyiaran untuk kenyataan yang tengah dialami masyarakat. Media berhak mencangkok kenyataan tersebut supaya dikabarkan secara terus terang kepada khalayak. Kendati media juga berhak memposisikan perspektif sendiri dalam mengabarkan, namun setidak-tidaknya media harus berpihak pada masyarakat yang memang suaranya butuh disalurkan.

Di samping itu, media juga berperan sebagai kontrol atas kebijakan yang dibentuk pemerintah. Artinya, bila ada barang sepeser kebijakan yang tak terealisasikan, media berhak memberitahukannya pada masyarakat. Dengan begitu, media sebagai ruang publik bagi pemerintah dan masyarakat telah berhasil menjadi medan diskusi bagi konsensus-konsensus yang diperlukan.

Namun, berbeda halnya dengan yang pernah terjadi semasa Orde Baru. Media tidak menjalankan perannya semasif sekarang. Media dijagal habis-habisan oleh rezim Soeharto. Aparatus-aparatus yang mengawasi aktivitas distribusi informasi pun muncul melalui berbagai lembaga seperti Menteri Penerangan, Badan Sensor Film, bahkan masyarakat juga turut serta menjadi perpanjangan tangan dari program yang disebut oleh pemerintah Orde Baru sebagai membangun stabilitas negara.

Tak ayal tumbuhlah suatu pemahaman tersirat bahwa media harus menyampaikan informasi yang sesuai dengan kepentingan negara. Akan tetapi, alih-alih melakukan perlawanan atas kondisi tersebut, media justru melakukan aksi tiarap massal hingga mengakibatkan informasi tidak tersampaikan secara berimbang.

Adapun yang akan terjadi jika sebuah media dianggap menyalahi aturan penyiaran, wartawan yang bekerja di dalamnya tak segan-segan dapat kehilangan profesi. Jajaran redaktur ditandai, diturunkan jabatannya, sampai pada menerima tindakan kekerasan langsung. Misalkan kasus wartawan Udin yang meninggal (1996) karena disiksa oleh orang tak dikenal setelah sebelum itu dirinya aktif menuliskan artikel-artikel kritis menyangkut kebijakan pemerintah.

Di sisi lain, dampak dari teraturnya media memberi pembenaran atas segala aktivitas rezim mengakibatkan atmosfer hegemoni semakin menebal. Masyarakat yang terkena percikan represi mulai menerima segala aturan tanpa perlawanan yang kongkret. Masyarakat terbiasa melegitimasi kekerasan yang dilakukan negara kepada orang-orang yang dianggap menentang. Bagi mereka, barang wajar apabila orang-orang yang menganggu stabilitas negara diberi sanksi.

Menjelang tibanya reformasi, barulah pelahan ikhtiar merawat kesadaran dinyalakan kembali melalui aksi perlawanan dari massa. Media merasa sudah memiliki kawan, maka dari itu, ia kembali ke dalam bentuk idealnya sebagai medan diskusi bagi masyarakat.

Secara bersamaan, masyarakat menyambut niat baik tersebut dengan narasi tajam untuk segera menggugurkan mapannya hegemoni Orde Baru. Maka, hadirlah pula kepulan-kepulan narasi yang menjurus menjadi counter-hegemony.

 

Watak Kekerasan Negara

Reformasi telah lewat semenjak dua puluhan tahun yang lalu. Namun, belum juga kita dapat menyebut era sesudahnya ini sebagai era yang dewasa. Pasalnya, di tengah memburunya media mendistribusikan informasi, justru menjadi buah simalakama bagi masyarakat.

Semakin mudah masyarakat mengepul pengetahuan, semakin turun pula kadar akurasi atas pengetahuan yang didapatkannya. Muatan-muatan kebohongan mewarnai kericuhan di wilayah horizontal. Tidak jarang ditemukan betapa banalnya kenyataan karena tersusun dari kesimpangsiuran informasi.

Atas dasar kebohongan itu, kebijakan yang dibuat pemerintah turut tak masuk akalnya. Beragam peraturan seperti RKUHP, UU ITE atau larangan-larangan tentang mengkritik Presiden, tampil bagai lelucon di tengah semrawutnya ruang publik.

Selain itu, pada tahun 2018, Tempo.co memuat data statistik yang dilansir dari Bidang Advokasi AJI (Aliansi Jurnalis Independen) bahwa setidaknya ada 64 kasus kekerasan terhadap jurnalis yang terjadi sepanjang pertengahan tahun 2018. Peristiwa yang dikategorikan sebagai kekerasan itu meliputi pengusiran, kekerasan fisik, hingga pemidanaan terkait karya jurnalistik (31/12/18).

Menyambut itu juga, Reporters Without Borders for Freedom of Information (RSF) menempatkan indeks kebebasan pers Indonesia pada peringkat 124 dari 180 negara. Data-data yang terungkap ini sedikitnya dapat menandai situasi media yang belum cukup meyakinkan.

Kita lihat saja beberapa bulan lalu masyarakat dibuat terkesiap karena seorang perempuan dikabarkan telah menyabet prestasi bergengsi di Hollywood berkat karya filmnya. Namun setelah itu, menyusul kemudian kabar yang tak kalah mengejutkannya yang menyebut sineas tersebut telah melakukan kebohongan besar.

Jika dilihat bagaimana kelindan informasi ini dirajut, maka terbukti bagaimana media kita belum sungguh-sungguh dewasa dalam menyikapi kenyataan. Negara pun belum cukup mampu memberi kebijakan.

Di satu sisi, media terlalu terburu-buru memproyeksikan identitas seseorang tanpa proses validasi. Akibatnya, dari yang semula bersorak-sorai mengapresiasi, kini menjelma jadi serigala ganas menghardik secara massal atas kebohongan perempuan itu. Namun peristiwa ini dikompromi begitu saja, alih-alih menjadi pembelajaran bersama.

Dan di sisi lain, negara hanya sibuk mengurusi citra pemerintah agar tetap baik di depan konsumen media, tanpa memikirkan nasib peristiwa lain yang menyangkut kemaslahatan masyarakat. Papua dengan segala persoalannya. Ada pula perempuan bernama Veronica yang baru-baru ini diburu, dituduh menyebarkan kabar buruk tentang upaya kemerdekaan di Papua.

Barangkali memang bukan perkara mudah bagi media dalam menyiarkan informasi maupun bagi masyarakat dalam menerima informasi. Atau bagi pemerintah yang masih kelewat lugu di hadapan belukar teknologi komunikasi. Satu tak pandai bicara, satu tak pandai mendengar, dan satunya lagi tak memiliki kepandaian apapun.

Akan tetapi, bukankah tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semua persoalan ini? Jurnalis hidup dan dibesarkan bersama masyarakat dan media menjembatani urusan pemerintah dengan masyarakat. Jika semuanya ini dapat berkolaborasi secara apik, maka diskusi bertujuan konsensus dapat diwujudkan dengan baik dan tidak semerawut. Tanpa perlu khawatir tentang siapa yang didominasi atau siapa yang mendominasi.

Meskipun bayangan itu rasanya cukup sulit untuk dibuktikan, namun tak ada salahnya untuk menyicil perbaikan akibat kerusakan-kerusakan karena ulah media. Harus melalui media pula pembenahannya, kendati semuanya akan berjalan teratih-tatih.

Parade Isu Seksi Jelang Peringatan G30S 0 145

Helloh gess, September telah tiba. Ini bulannya hura-hura tentang trauma. Pasti kamu sudah hapal: sebentar lagi kita akan menyimak debat seolah-olah tentang peristiwa 1965. Tapi sedihnya, tulisan ini bukan ke sana.

Kita akan mencoba merunut isu-isu apa yang hadir, coba dihadirkan, atau dipaksa dihadirkan, menjelang peringatan G30S. Isu-isu yang, yaaa, sesuai tradisi, akan memanas dan sering setiap tahunnya merepotkan rejim. Berikut isunya:

  • Perpindahan Ibukota
  • Livi Zheng
  • Djarum yang disetop audisinya oleh KPAI
  • Jokowi main sama putunya
  • Iuran BPJS naik
  • Esemka diresmikan

Apalagi gess?

Ohya, ini penting karena beberapa sebab. Pertama, mengamati isu-isu “tak penting” justru menjadi sangat penting hari ini untuk melihat bagaimana strategi kekuasaan memainkan lalu-lintas diskusi dan menginterupsi tiap isu. Kalau ente jeli, akan tampak bagaimana pengendalian atas persepsi kita dimainkan dan dikonsentrasikan pada hal-hal tertentu, agar hal-hal lain dapat diminimalkan dampaknya.

Tentu saja arahnya dapat ditebak: mendebat Livi Zheng jauh lebih aman ketimbang ente didatangi Kivlan Zen untuk membeberkan rencana kebangkitan PKI. Atau bicara memindah ibukota lebih asyik daripada memperdebatkan jumlah korban sebetulnya pada genosida 65 duluuu sekali.

Kedua, dari isu-isu tersebut, kesemuanya saksess menjadi tren perbincangan. Esemka, BPJS, dan Ibukota berkaitan langsung dengan agenda pemerintah. Perpindahan ibukota yang terparah, terlalu kentara digunakan sebagai “umpan peluru”, seolah-olah ide ini dilempar untuk dihabisi. BPJS dan Esemka sebelas dua belas, memancing sekaligus mengepung orang dengan kontroversi agar terus-menerus diperdebatkan.

Jadi, mari nanti kita tengok menjelang tumbangnya waktu dan mendekatnya tanggal 30, barang sampah apa saja yang akan dihamburkan oleh media kita.

Tapi toh dibawa santai saja! Kadang-kadang terlalu serius juga tak baik bagi kesehatan jiwa.

 

Annabelle Rukhiyat

Selain menekuni permakelaran tanah, penulis juga magang sebagai penjaga ponten.

Editor Picks