Persoalan Klasik Cinta Beda Agama 0 1345

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 *Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Cinta beda agama kembali dipopulerkan dalam dunia persilatan sosial. Barangkali pembaca bersedia menengok ke media gaul instagram, khususnya akun-akun yang tendensius pada remaja: @kata2anak.remaja, @remaja.gaul.islami,@felixsiauw, atau langsung saja ke tagar #cintabedaagama.

Di sana akan kita jumpai berbagai dinamika yang meliputi adik-adik ini. Jika sampeyan mau lebih radikal menelusuri kolom komentar dalam sebuah postingan dan berani membuka salah satu akun yang terlibat, maka sampeyan tidak akan menyangka bahwa anak-anak sekolahan pemikirannya telah menyamai buronan mertua macam Habib Rizieq.

Imutnya, remaja jenis ini tidak membahas permasalahan yang paling dekat dengan mereka. Seperti, guru yang mengajar sudah kayak militer, kantin kotor yang tidak peduli lingkungan sehat, bangunan yang tidak kunjung direnovasi, bahkan mahalnya biaya belajar menjadi topik yang kurang laku. Pernah, sih, siswa-siswa ini kritis, ya, waktu mereka diancam untuk sekolah sepanjang hari oleh kakanda Muhadjir Effendy.

Padahal kan niat beliau baik: kalau kalian sekolah terus, nanti bisa dapat inspirasi untuk menulis caption. Setidaknya jika kalian yakin dengan peraturan ini, usahakan kalian bisa menyesuaikan cara belajarnya, niscaya sampai lah kalian pada tujuan kapitalis. Raimu!

Jadi begini

Pernah sekali saya dikaruniai kesempatan melihat sebuah postingan yang tulisannya begini, “kadang Tuhan menguji manusia dengan cinta beda agama, hanya untuk memastikan apakah manusia lebih mencintai Pencipta atau CiptaanNya” (akun disamarkan agar tidak dikoyak-koyak netijen).

Selain menggambarkan Tuhan sebagai pengecut yang sampai harus memastikan hambanya beriman atau tidak, saya juga curiga di balik pernyataan itu terdapat wacana penistaan agama jilid 2. Kira-kira penafsirannya begini, “Tuhan menguji keimanan hambanya dengan mempertemukan dia dengan hamba dari Tuhan lain dan menjadikan mereka jatuh cinta. Lalu kedua Tuhan itu memasang taruhan untuk hamba yang paling kuat imannya, tapi nahas, sepasang hamba tersebut dipisahkan oleh sekelompok ormas ketika sedang asik berpacaran – tamat” (apasih!).

Saya takutnya kalau adik-adik ini terlanjur kecewa dengan konsep cinta beda agama, tidak menutup kemungkinan mereka akan menjadi seorang ateis. Pastinya posisi itu bakal tambah mempersulit mereka mencari jodoh. Di negeri ini kan enggak ada orang ateis, sekalinya ada, pasti karena dia belum selesai baca pengantar filsafat.

Walau di tempat kita ateis kadang termarjinalkan, sesungguhnya mereka tetep keren, kok. toh, mereka juga bangga dengan kepercayaan mereka: mempercayai ketiadaan. Status mereka sebagai ateis diusahakan sendiri melalui proses dialektika yang panjang. Meski ada juga yang baru baca pengantar filsafat langsung ateis, maba biasanya begini.

Ateis memegang prinsip dan mempertahankan keidealisannya sebagai pengkhianat umat. Nah! kalau kafir itu sifatnya kondisional. Misalnya pas lagi berjualan pedagangnya ternyata kafir, atau saat sedang pemilu/pilkada calon yang diajukan orangnya kafir, pokoknyaada kontes politik pasti ada kafirnya.

Andai semua orang sadar bahwa cinta adalah cara lain Tuhan menyatukan hambanya setelah agama dan uang. Tentu adik-adik kita yang terkena musibah cinta beda agama tidak akan mengalami keresahan hingga larut dalam kesedihan di media gaul Instagram. Ateis dan kafir pun merdeka.

Dan semoga jangan sampai mereka menjadi ateis hanya karena merasa salah memilih agama (kurang keren alasannya). Dan semoganya-semoganya lagi, jangan sampai mereka menjadi kafir hanya karena salah memilih partai.

Cinta beda agama memang sudah menjadi persoalan lama, apalagi mereka yang bersemi di SMA (soalnya kalau pesantren gak mungkin beda agama). Makanya itu, perlu diberikan juga pembekalan moral, pendidikan karakter, pembentukan tabi’at, yang hanya bisa didapatkan dengan cara menguji kepekaan sosial atau terjun langsung ke masyarakat (lha, kalau seharian di sekolah, terus kapan terjunnya, kak?!).

Mengutip perkataan Tan Malaka dalam Madilog, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali!”

Semisal nanti mereka sudah dewasa (akil baligh) secara pemikiran dan siap berkelana mencari jalan hidup, maka keresahaan seperti cinta beda agama akan mudah saja diatasi. Mengutip quotes netijen, “Jarak terjauh itu ketika Assalamualaikum dibalas dengan Shalom…”. Tapi percaya lah, dik, sebenar-benarnya jarak ialah ketika kita ini menjauh dari persoalan wong cilik!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 271

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks