Persoalan Klasik Cinta Beda Agama

Cinta beda agama kembali dipopulerkan dalam dunia persilatan sosial. Barangkali pembaca bersedia menengok ke media gaul instagramkhususnya akun-akun yang tendensius pada remaja: @kata2anak.remaja, @remaja.gaul.islami,@felixsiauw, atau langsung saja ke tagar #cintabedaagama.

Di sana akan kita jumpai berbagai dinamika yang meliputi adik-adik ini. Jika sampeyan mau lebih radikal menelusuri kolom komentar dalam sebuah postingan dan berani membuka salah satu akun yang terlibat, maka sampeyan tidak akan menyangka bahwa anak-anak sekolahan pemikirannya telah menyamai buronan mertua macam Habib Rizieq.

Imutnya, remaja jenis ini tidak membahas permasalahan yang paling dekat dengan mereka. Seperti, guru yang mengajar sudah kayak militer, kantin kotor yang tidak peduli lingkungan sehat, bangunan yang tidak kunjung direnovasi, bahkan mahalnya biaya belajar menjadi topik yang kurang laku. Pernah, sih, siswa-siswa ini kritis, ya, waktu mereka diancam untuk sekolah sepanjang hari oleh kakanda Muhadjir Effendy.

Padahal kan niat beliau baik: kalau kalian sekolah terus, nanti bisa dapat inspirasi untuk menulis caption. Setidaknya jika kalian yakin dengan peraturan ini, usahakan kalian bisa menyesuaikan cara belajarnya, niscaya sampai lah kalian pada tujuan kapitalis. Raimu!

Jadi begini

Pernah sekali saya dikaruniai kesempatan melihat sebuah postingan yang tulisannya begini, “kadang Tuhan menguji manusia dengan cinta beda agama, hanya untuk memastikan apakah manusia lebih mencintai Pencipta atau CiptaanNya” (akun disamarkan agar tidak dikoyak-koyak netijen).

Selain menggambarkan Tuhan sebagai pengecut yang sampai harus memastikan hambanya beriman atau tidak, saya juga curiga di balik pernyataan itu terdapat wacana penistaan agama jilid 2. Kira-kira penafsirannya begini, “Tuhan menguji keimanan hambanya dengan mempertemukan dia dengan hamba dari Tuhan lain dan menjadikan mereka jatuh cinta. Lalu kedua Tuhan itu memasang taruhan untuk hamba yang paling kuat imannya, tapi nahas, sepasang hamba tersebut dipisahkan oleh sekelompok ormas ketika sedang asik berpacaran – tamat” (apasih!).

Saya takutnya kalau adik-adik ini terlanjur kecewa dengan konsep cinta beda agama, tidak menutup kemungkinan mereka akan menjadi seorang ateis. Pastinya posisi itu bakal tambah mempersulit mereka mencari jodoh. Di negeri ini kan enggak ada orang ateis, sekalinya ada, pasti karena dia belum selesai baca pengantar filsafat.

Walau di tempat kita ateis kadang termarjinalkan, sesungguhnya mereka tetep keren, kok. toh, mereka juga bangga dengan kepercayaan mereka: mempercayai ketiadaan. Status mereka sebagai ateis diusahakan sendiri melalui proses dialektika yang panjang. Meski ada juga yang baru baca pengantar filsafat langsung ateis, maba biasanya begini.

Ateis memegang prinsip dan mempertahankan keidealisannya sebagai pengkhianat umat. Nah! kalau kafir itu sifatnya kondisional. Misalnya pas lagi berjualan pedagangnya ternyata kafir, atau saat sedang pemilu/pilkada calon yang diajukan orangnya kafir, pokoknyaada kontes politik pasti ada kafirnya.

Andai semua orang sadar bahwa cinta adalah cara lain Tuhan menyatukan hambanya setelah agama dan uang. Tentu adik-adik kita yang terkena musibah cinta beda agama tidak akan mengalami keresahan hingga larut dalam kesedihan di media gaul Instagram. Ateis dan kafir pun merdeka.

Dan semoga jangan sampai mereka menjadi ateis hanya karena merasa salah memilih agama (kurang keren alasannya). Dan semoganya-semoganya lagi, jangan sampai mereka menjadi kafir hanya karena salah memilih partai.

Cinta beda agama memang sudah menjadi persoalan lama, apalagi mereka yang bersemi di SMA (soalnya kalau pesantren gak mungkin beda agama). Makanya itu, perlu diberikan juga pembekalan moral, pendidikan karakter, pembentukan tabi’at, yang hanya bisa didapatkan dengan cara menguji kepekaan sosial atau terjun langsung ke masyarakat (lha, kalau seharian di sekolah, terus kapan terjunnya, kak?!).

Mengutip perkataan Tan Malaka dalam Madilog, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali!”

Semisal nanti mereka sudah dewasa (akil baligh) secara pemikiran dan siap berkelana mencari jalan hidup, maka keresahaan seperti cinta beda agama akan mudah saja diatasi. Mengutip quotes netijen, “Jarak terjauh itu ketika Assalamualaikum dibalas dengan Shalom…”. Tapi percaya lah, dik, sebenar-benarnya jarak ialah ketika kita ini menjauh dari persoalan wong cilik!