Persoalan Klasik Cinta Beda Ras (Tanggapan Atas Tulisan Serupa) 0 1721

Jika sebelumnya pembaca sudah menyimak tulisan berjudul Persoalan Klasik Cinta Beda Agama”, redaktur kalikata.id akhirnya juga memutuskan untuk menaikkan tulisan Carmen Brillianwati, penulis tamu kali ini. Bukan…bukan karena penulisnya punya cerita khusus dengan salah seorang penulis kalikata.id (sebut saja lele). Tapi karena soal ras kan belakangan jadi topik amat keras dalam politik nasional. Siapa tahu, ehm, soal ras ini juga menjadi penghalang juga dalam hubungan cinta.

 

“Saya adalah orang Cina”.

Apabila kalimat itu membuat pembaca geli, risih, atau rikuh, maka apa yang dituju oleh tulisan ini sesungguhnya sudah terbukti.

Kata “Cina” mengandung begitu banyak konotasi, baik dari sisi positif dan negatif. Dan saya telah memprediksi sebagian pembaca adalah bagian dari mereka yang bereaksi negatif. Beri saya kesempatan untuk menjadi pahlawan guna meluruskan pemahaman macam ini.

Saya lahir sesuai hukum dan lolos dari jerat administratif rumah sakit. Artinya, kelahiran saya procot di dunia ini diakui oleh Negara. Dan mungkin hanya dalam hal seperti ini lah “orang Cina” terakui dan tak terpinggirkan. Saya juga memiliki akta kelahiran yang sama dengan anak-anak lain: sebagai warga negara Indonesia. Tapi titik berat tulisan ini dimaksudkan bukan sekedar membahas detil kesamaan akta kelahiran atau tetek-bengek ihwal dokumen kelurahan-kecamatan dan entah apa lagi. Justru saya akan membahas apa yang berbeda dari diri saya (kecuali urusan mata sipit).

Kalau kita, warga negara Indonesia, menyepakati dan dengan penuh-seluruh memahami dan menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, saya rasa tulisan ini tidak akan menjadi tuduhan penyerangan yang destruktif – dan itu tidak diharapkan sama sekali. Anggap saja tulisan ini mencoba semampunya untuk mengkritik mereka yang fanatik identitas dan menderita superiority complex.

Tapi, ayolah. Kelainan berpikir tersebut sebenarnya sudah menjamur luas di sekeliling kita ini. Superiority complex adalah suatu kondisi ketika seseorang memposisikan dirinya sebagai lebih unggul dibandingkan orang lainnya. Ini dilakukan guna kompensasi akan rasa rendah diri yang sesungguhnya.

Kepercayaan diri saya menyuarakan kaum minoritas selalu runtuh setiap saat saya mengingat bahwa kapasitas intelektual saya masih jauh tertinggal, tapi mari sejenak kita merefleksikan diri atas apa yang sudah mapan selama ini.

Saya mulai dari asumsi-asumsi dasar terhadap “orang Cina”: cara pandang rasial masyarakat terhadap warga Cina tentu melatarbelakangi berbagai stereotipe yang berkembang selama ini. Keuangan/perekonomian keluarga Cina selalu stabil, gaya hidupnya hedonistic, pelit, dsb. Padahal menurut saya tidak ada yang salah ketika semua orang perlu berjaga-jaga – menabung guna masa depan anak-cucu. Oh, ya, dan kami bangga itu buah kerja keras kami sendiri. Salahkah?

Jika saya seorang Marxis, saya akan membiarkan diri saya berada di barisan paling depan untuk mengusir kapitalisme dan menolak menghamba pada mereka. Dan prinsip itu akan tertanam di nafas saya. Sayangnya, saya dibesarkan dalam tradisi yang jauh dari kata resisten. Oleh sebab itu saya hanya berani bersuara pada isu-isu intoleransi seperti ini.

Jika diijinkan jujur, saya hanya seorang warga negara Indonesia yang mencoba memahami pagar penghalang antara saya dan sebagian besar (?) penakluk hati saya yang juga warga negara Indonesia, tapi sayang seribu sayang bukan Cina. Lagipula, saya mengerti bahwa bagi sebagian besar orang, perbedaan iman adalah isu yang tidak boleh dikesampingkan.

Namun, akan beda kisahnya jika ada orang kulit putih (bule) yang datang bertamu meminang saya. Sudah putih, berduit pula. Perbedaan ras dan agama bukanlah keprihatinan. Dan saya yakin ini juga tidak masalah apabila dialami kawan-kawan lainnya. Disinilah inferiority complex hadir berdampingan dengan superiority complex.

Ada semacam keadaan otomatis dimana orang-orang dengan mudah mendiskreditkan perbedaan yang ada, dan dalam menyebut “kafir” dan “asing”, bukanlah suatu persoalan.

Permasalahan ini sebenarnya sudah purba dan sudah seharusnya dimuseumkan, yaitu diskriminasi antara orang kulit terang-gelap, kaya-miskin, beriman-kafir, yang hadir dalam dimensi yang silang-menyilang. Kekhawatiran berkencan dengan orang berkulit lebih gelap bermula ketika orang tua saya mewarisi sebuah cerita, bahwa, Masa-masa Mama mengandung kamu (saya), keluarga dan saudara-saudara kita (yang Cina) dilanda kejadian yang sangat mengerikan, dimana kita menjadi korban pelampiasan terkait apapun yang menyebabkan tragedi 1998 pecah,. Ini disertai dengan ketakutan akan cibiran masyarakat yang entah mengapa merasa perlu menghakimi dua insan yang memilih untuk tidak terusik perbedaan yang hadir di antara mereka berdua.

Saya tidak menyalahkan siapapun atas keadaan dan cara pandang saya yang sekarang. Namun percayalah, kami masih menyimpan harapan agar tragedi itu segera diselesaikan (dalam pengertian apapun).

Dan jika kalian mempertanyakan bagaimana sikap saya terkait kasus penistaan agama dan diskriminasi ras yang melanda seorang tokoh politik di Jakarta? Perbolehkan saya menjawabnya dengan dingin: itu pembodohan massal.

Sekali lagi, saya bukan sedang menggurui pandangan orang dengan provokasi agar mengingat berbagai tragedi yang melibatkan “orang Cina”, dan tentunya saya tidak memposisikan diri sebagai perwakilan dari mereka. Saya menulis ini dengan kesadaran saya sebagai warga negara.

Sebagaimana Buddha pernah berkata, “Semua mahluk berhak mendapatkan kasih sayang, kaya maupun miskin; masing-masing memiliki penderitaan mereka. Beberapa menderita terlalu banyak – beberapa lagi menderita terlalu sedikit”. Saya doakan kita semua bisa mensyukuri itu.

 

*Carmen Brillianwati adalah mahasiswi Ilmu Komunikasi kampus Surabaya. Deskripsi fisik dan weton dirahasiakan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Huru-Hara Anti-masker di Negeri Pak Trump 0 74

Oleh: Deanita Nurkhalisa*

 

Kisah datang dari Amerika Serikat (AS), negeri nun jauh dengan jumlah penderita terkonfirmasi Covid-19 terbanyak di level global mencapai titik tertinggi 3,4 juta kasus, 67 ribu kasus baru dan total kematian sebanyak 136 ribu jiwa. Ketika tak kunjung tampak terobosan signifikan dalam penanganan kasus, pada saat yang sama muncul pula sikap meremehkan yang datang dari berbagai kelompok, dari awam hingga figur berpengaruh. Anjuran dan nasihat kesehatan dimentahkan oleh gerakan anti-masker.

Gerakan anti-masker (anti-mask) menuai perhatian semenjak persyaratan lockdown perlahan diangkat dan fasilitas umum kembali dibuka dengan ketentuan wajib seperti pengenaan masker. Mereka menentang keras pendapat ilmiah, seperti dari Central for Disease Control and Prevention (CDC) yang meyakinkan publik bahwa penggunaan masker mengurangi risiko penularan. Tindakan ini sejalan dengan istilah keren ‘flatten the curve’, merebahkan kurva jumlah penderita dengan menginstruksikan penggunaan masker atau sarana pencegahan lain demi menekan laju Covid-19.

Kerumunan anti-masker mencuri perhatian atas apa yang mereka lakukan di pusat-pusat perbelanjaan, provokasi demonstrasi, maupun menyuarakan aspirasi lewat pertemuan dewan kota. Bentuk protes terhadap mandat penggunaan masker juga ditunjukkan melalui ejekan penggunaan masker berbentuk jaring (mesh mask) yang tentunya tidak melindungi wajah dari partikel berbahaya. Di Roseville, Sacramento, seorang warga mengencingi lantai toko Verizon Store karena menolak diusir meninggalkan toko akibat tidak mengenakan masker.

Di kesempatan tertentu, sekelompok anti-maskers meneriakkan kalimat ‘I can’t breathe’ (‘aku ra isa ambegan’) yang sebelumnya menjadi slogan solidaritas gerakan Black Lives Matter, mengutip kalimat terakhir George Floyd sebelum ia menjadi korban rasisme yang dilakukan aparat kepolisian di AS. Ironisnya, kalimat tersebut diinisiasi oleh anggota dewan kota Scottsdale, Arizona, pada aksi protes pengenaan masker akhir bulan lalu. Fakta-fakta itu menunjukkan egoisme, ketidakpekaan, dan minimnya empati dalam kelompok protes tersebut.

Klaim utama kelompok antimasker adalah bahwa kewajiban penggunaan masker oleh pemerintah ‘merenggut hak asasi dan kebebasan atas tubuh’ atau ‘perbudakan, penundukan, dan penaklukan’ oleh negara atas warga.

Beberapa pernyataan ini mengherankan karena beberapa alasan.

Adanya pandemi global memerlukan pencegahan yang dalam jangka panjang dapat memberikan hasil efektif, apabila dilakukan dengan benar dan secara massal untuk mencegah penularan. Tujuan untuk kebaikan bersama tersebut yang menjadi dasar pemerintah menggalakkan penggunaan masker. Tidak ada yang dapat menjamin seseorang akan dapat terinfeksi atau bahkan menginfeksi orang lain. Namun, tindakan pencegahan dapat membantu menurunkan risiko tersebut.

Masker bukanlah simbol atas penaklukan, apalagi menempatkan penggunanya sebagai ‘budak’, melainkan hanyalah sebuah alat penghalau partikel berbahaya di udara agar tubuh manusia tidak terinfeksi. Tidak ada anggapan implisit rasis atau misoginis yang ditemukan dari pengenaan masker. Pun bukanlah wujud dari agenda politis pihak oposisi untuk tujuan tertentu.

Tindakan pencegahan di masa pandemi ini tidak seharusnya menjadi isu politis maupun konspiratif yang dapat memecah opini. Dibutuhkan solidaritas, empati dan kebesaran hati untuk bergerak saling melindungi demi berakhirnya pandemi. Hal tersebut juga harus diiringi oleh informasi yang sesuai dan data yang cukup serta kemampuan berdialog secara efektif berdasarkan fakta yang ada. Bukan didasari sentimen apapun seperti pandangan politik, sehingga perdebatan mengenai pengenaan masker setidaknya dapat dilakukan secara substantif dan tidak sewenang-wenang.

Begitu juga dengan figur pemerintah yang memiliki pengaruh signifikan ke masyarakat. Sudah seharusnya mereka menyediakan edukasi, jaminan dan kepastian yang dibutuhkan oleh masyarakat agar negara tetap utuh dalam menghadapi krisis pandemi global.

 

*)Mahasiswi yang senang puisi, kucing, dan antariksa. Terbuka atas masukan atau cuma basa-basi lewat akun Instagram @ohitsjustdenit.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Tips Buat Para Penganggur di Masa Pandemi 1 170

Oleh: Putu Gadis Arvia Puspa*

Karena tulisan ini terbit sehari setelah hari kemerdekaan, maka penulis hendak mengucapkan: dirgahayu Indonesiaku yang ke tujuh puluh lima! 17 Agustus-an tahun ini terasa sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Indonesia dan dunia sedang menghadapi perang pandemi Covid-19.

Atmosfer orang ketika batuk akan berubah. Perlahan akan timbul rasa cemas kemudian diantisipasi penyebaran virusnya oleh masyarakat dengan mundur beberapa langkah, lengkap dengan masker yang sudah menempel di wajah.

Dari segi ekonomi, tentu ada yang kehilangan pekerjaan. Dari segi hubungan kedekatan, bisa juga kehilangan pasangannya. Yang paling tragis adalah sampai kehilangan orang tua dan keluarga tercinta. Semuanya membekaskan luka dan duka.

Tahun 2020 ini benar-benar menguji kesabaran, kewaspadaan dan kemampuan adaptif kita sebagai mahluk hidup untuk tetap berjuang walau rasanya hidup ini bagai kiamat. Masalah itu akan selalu ada, sehingga menjadi tantangan untuk diri sendiri dan bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaannya.

Sama juga seperti artikel ini yang sengaja ditulis H-1 hari kemerdekaan Indonesia biar kerasa vibes-nya kayak lagi mempersiapkan proklamasi di Renglasdengklok bareng Bung Karno. Ihiy. Yaaaa anggap saja ini seperti proklamasi versi saya. Secara ini tulisan pertama saya kalo jadi terbit di Kalikata (red: jadi terbit kok, tapi butuh waktu buat ngeditnya aja, hehe).

Pintu kamar saya tutup rapat. Pertanda saatnya beraksi mencari inspirasi dan pengalaman baru di internet. Saking lamanya di rumah, saya biasanya jadi terlalu dalam menjelajah internet, akhirnya jadi lupa waktu, lupa makan, tapi tetap mandi kok.

Gilak! Rasanya tuh kayak bener-bener pusing sih. Mata kabur, punggung pegal, kaki keram. Tapi, diri ini tetap asyik seharian baca-baca artikel, main gartic bareng teman, typing test, dan nonton TikTok. Pengen sih nonton Netflix, tapi gak punya duit buat langganan. Yaudah, manfaatkan apa yang bisa ditonton saja dulu, di mana lagi kalau bukan di Youtubeee. Karena Youtube Youtube Youtube lebih dari Tv boom! Ea.

Kangen sebenarnya sama lambe-lambe di tongkrongan yang bilang “Udah tau belom, kalo si itu… bla bla bla bla“, nggosip. Tidak ada yang bisa mengalahkan asyiknya bisa bersosialisasi sekaligus diskusi. Kurang lebih sama lah ya kayak Chaerul Saleh dan kawan-kawan yang ngumpul buat diskusi politik di masa itu.

Tapi situasi sekarang kan susah ya kalo mau diskusi seaysik itu. Harus chat dulu, nunggu di-read, share link, saling debat pake paragraph panjang-panjang. Itupun cepet-cepetan ngetik ya kan. Belom lagi urusan sinyal. Story tellingnya kurang dapet gitu loh. Ekspresi dan nada suara teman kita itu ga bisa lagi untuk menendang gejolak emosi jiwa kompetitif dari kaum yang suka keributan ini.

Ada sih alternatif misalnya pake Zoom, Google Meet, dan platform video call lainnya buat ngatasin masalah tadi. Tapi tetep aja rasanya gak afdol gitu kalo ga ketemu langsung. Huhhh..

Ngomongin internet, kasus kan lagi banyak nih yang viralnya bukan main di medsos. Apalagi momentumnya sekarang orang lagi di rumah aja, jadi tingkat fokusnya dalam menyimak berita terkini lebih tinggi, ya walaupun belum tentu tajam.

Ketidakseriusan sejak awal pemerintah dalam menghadapi pandemi akhirnya makin merusak dan membakar emosi dari harapan rakyat. Transparansi selalu dituntut guna mengetahui kenyataan, namun ditahan dengan niat agar tidak menghawatirkan rakyat.

Baru-baru ini, juga ada kabar seorang aktivis pegiat HAM diminta mengembalikan beasiswa senilai 773 juta dari LPDP. Netijen pun berasumsi, hal ini diduga kuat sebagai upaya terbaru untuk menekan Veronica Koman berhenti melakukan advokasi HAM Papua.

Kasus lain lagi, berbagai kekerasan seksual yang mulai terkuak. Ini semua berkat pengakuan para korban yang akhirnya berani speak up di media sosial.

Ada pula kenyataan bahwa politik dinasti yang kian ramai mengisi pilkada Indonesia. Pun, tragedi kecurangan pada seleksi masuk perguruan tinggi negeri hingga sekolah kedinasan. Di sisi lain, dampak buruk akibat Covid-19 di hampir semua sektor secara global, semakin mengancam dan menghantui negara kita untuk resesi ekonomi.

Tidak cukup sampai di situ, saya pun sempat menengok Twitter, yang juga baru-baru ini menjadi tempat ajang demo online oleh mahasiswa Unair dalam menyuarakan isi hati. Isu ini juga jadi trending di media sosial: soal tuntutan penurunan UKT.

Di balik semua masalah yang memaksa otak kita untuk berpikir sok kritis, tentu ada juga banyak hal trending yang bisa membuat kita tetap terhibur, terinspirasi, sampai speechless. Misalnya lalu lintas TikTok yang kini makin populer, karena dianggap lebih seru. Aplikasi yang satu ini bikin auto menggerakan saraf manusia untuk joget ala TikTok (bahkan sudah dianggap cabang tarian). Terkadang, kontennya juga dinilai bermanfaat karena informatif.

Makin banyak orang-orang kreatif yang memamerkan karyanya di tengah pandemic ini. Misalnya Lathi challenge yang hypenya super dimana-mana. Mulai dari jadi backsound time lapse orang gambar animasi baju adat Indonesia lewat ipad, sampai backsound make up oleh Jharnabhagwani. Kalo di Twitter abang Fiersa Besari, terakhir Lathi dipake buat senam sama ibu ibu.

Untungnya, di hari kesekian menghabiskan waktu di rumah, tentu saja saya melakukan berbagai aktivitas yang sudah saya sebutkan tadi. Berbeda dengan video Youtube Sobat Miskin Official dengan konten “2 jam gak ngapa-ngapain” (dan saya pun kena prank nonton videonya sampai habis), yang bikin saya mikir “kok ada-ada aja ya ide orang di tengah pandemi ini”.

Sebagai pengamat Youtube, saya mau sedikit berpesan pada para pembaca. Menghabiskan waktu di rumah aja memang membosankan, tapi ada banyak hal yang bisa dilakukan kok. Kreativitas kita yang tanpa batas masih bisa ditampung dengan konten audio visual, dan dipublikasikan di Youtube atau media sosial lainnya. Tapi, memang harus serba hati-hati dengan derasnya informasi, karena bisa bikin pusing sendiri.

Yang terpenting, jangan sampai gara gara stock anime atau film atau drama korea habis, kalian malah mengisi waktu luang dengan membuat prank aneh-aneh atau video cringe “ara ara”. Mending review film ae lah! Kalo gak, mukbang atau ASMR. Atau nonton Youtube Got Talentnya SkinnyIndonesian24, juga bisa jadi pilihan.

 

*) Penonton setia Youtube, drama korea, kartun, dan anime, tapi ga terlalu. Tujuan utama dalam hidup adalah untuk mencapai moksa. Mata sipit belum tentu Cina, siapa tahu Bali.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks