Persoalan Klasik Cinta Beda Ras (Tanggapan Atas Tulisan Serupa) 0 1143

Jika sebelumnya pembaca sudah menyimak tulisan berjudul Persoalan Klasik Cinta Beda Agama”, redaktur kalikata.id akhirnya juga memutuskan untuk menaikkan tulisan Carmen Brillianwati, penulis tamu kali ini. Bukan…bukan karena penulisnya punya cerita khusus dengan salah seorang penulis kalikata.id (sebut saja lele). Tapi karena soal ras kan belakangan jadi topik amat keras dalam politik nasional. Siapa tahu, ehm, soal ras ini juga menjadi penghalang juga dalam hubungan cinta.

 

“Saya adalah orang Cina”.

Apabila kalimat itu membuat pembaca geli, risih, atau rikuh, maka apa yang dituju oleh tulisan ini sesungguhnya sudah terbukti.

Kata “Cina” mengandung begitu banyak konotasi, baik dari sisi positif dan negatif. Dan saya telah memprediksi sebagian pembaca adalah bagian dari mereka yang bereaksi negatif. Beri saya kesempatan untuk menjadi pahlawan guna meluruskan pemahaman macam ini.

Saya lahir sesuai hukum dan lolos dari jerat administratif rumah sakit. Artinya, kelahiran saya procot di dunia ini diakui oleh Negara. Dan mungkin hanya dalam hal seperti ini lah “orang Cina” terakui dan tak terpinggirkan. Saya juga memiliki akta kelahiran yang sama dengan anak-anak lain: sebagai warga negara Indonesia. Tapi titik berat tulisan ini dimaksudkan bukan sekedar membahas detil kesamaan akta kelahiran atau tetek-bengek ihwal dokumen kelurahan-kecamatan dan entah apa lagi. Justru saya akan membahas apa yang berbeda dari diri saya (kecuali urusan mata sipit).

Kalau kita, warga negara Indonesia, menyepakati dan dengan penuh-seluruh memahami dan menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, saya rasa tulisan ini tidak akan menjadi tuduhan penyerangan yang destruktif – dan itu tidak diharapkan sama sekali. Anggap saja tulisan ini mencoba semampunya untuk mengkritik mereka yang fanatik identitas dan menderita superiority complex.

Tapi, ayolah. Kelainan berpikir tersebut sebenarnya sudah menjamur luas di sekeliling kita ini. Superiority complex adalah suatu kondisi ketika seseorang memposisikan dirinya sebagai lebih unggul dibandingkan orang lainnya. Ini dilakukan guna kompensasi akan rasa rendah diri yang sesungguhnya.

Kepercayaan diri saya menyuarakan kaum minoritas selalu runtuh setiap saat saya mengingat bahwa kapasitas intelektual saya masih jauh tertinggal, tapi mari sejenak kita merefleksikan diri atas apa yang sudah mapan selama ini.

Saya mulai dari asumsi-asumsi dasar terhadap “orang Cina”: cara pandang rasial masyarakat terhadap warga Cina tentu melatarbelakangi berbagai stereotipe yang berkembang selama ini. Keuangan/perekonomian keluarga Cina selalu stabil, gaya hidupnya hedonistic, pelit, dsb. Padahal menurut saya tidak ada yang salah ketika semua orang perlu berjaga-jaga – menabung guna masa depan anak-cucu. Oh, ya, dan kami bangga itu buah kerja keras kami sendiri. Salahkah?

Jika saya seorang Marxis, saya akan membiarkan diri saya berada di barisan paling depan untuk mengusir kapitalisme dan menolak menghamba pada mereka. Dan prinsip itu akan tertanam di nafas saya. Sayangnya, saya dibesarkan dalam tradisi yang jauh dari kata resisten. Oleh sebab itu saya hanya berani bersuara pada isu-isu intoleransi seperti ini.

Jika diijinkan jujur, saya hanya seorang warga negara Indonesia yang mencoba memahami pagar penghalang antara saya dan sebagian besar (?) penakluk hati saya yang juga warga negara Indonesia, tapi sayang seribu sayang bukan Cina. Lagipula, saya mengerti bahwa bagi sebagian besar orang, perbedaan iman adalah isu yang tidak boleh dikesampingkan.

Namun, akan beda kisahnya jika ada orang kulit putih (bule) yang datang bertamu meminang saya. Sudah putih, berduit pula. Perbedaan ras dan agama bukanlah keprihatinan. Dan saya yakin ini juga tidak masalah apabila dialami kawan-kawan lainnya. Disinilah inferiority complex hadir berdampingan dengan superiority complex.

Ada semacam keadaan otomatis dimana orang-orang dengan mudah mendiskreditkan perbedaan yang ada, dan dalam menyebut “kafir” dan “asing”, bukanlah suatu persoalan.

Permasalahan ini sebenarnya sudah purba dan sudah seharusnya dimuseumkan, yaitu diskriminasi antara orang kulit terang-gelap, kaya-miskin, beriman-kafir, yang hadir dalam dimensi yang silang-menyilang. Kekhawatiran berkencan dengan orang berkulit lebih gelap bermula ketika orang tua saya mewarisi sebuah cerita, bahwa, Masa-masa Mama mengandung kamu (saya), keluarga dan saudara-saudara kita (yang Cina) dilanda kejadian yang sangat mengerikan, dimana kita menjadi korban pelampiasan terkait apapun yang menyebabkan tragedi 1998 pecah,. Ini disertai dengan ketakutan akan cibiran masyarakat yang entah mengapa merasa perlu menghakimi dua insan yang memilih untuk tidak terusik perbedaan yang hadir di antara mereka berdua.

Saya tidak menyalahkan siapapun atas keadaan dan cara pandang saya yang sekarang. Namun percayalah, kami masih menyimpan harapan agar tragedi itu segera diselesaikan (dalam pengertian apapun).

Dan jika kalian mempertanyakan bagaimana sikap saya terkait kasus penistaan agama dan diskriminasi ras yang melanda seorang tokoh politik di Jakarta? Perbolehkan saya menjawabnya dengan dingin: itu pembodohan massal.

Sekali lagi, saya bukan sedang menggurui pandangan orang dengan provokasi agar mengingat berbagai tragedi yang melibatkan “orang Cina”, dan tentunya saya tidak memposisikan diri sebagai perwakilan dari mereka. Saya menulis ini dengan kesadaran saya sebagai warga negara.

Sebagaimana Buddha pernah berkata, “Semua mahluk berhak mendapatkan kasih sayang, kaya maupun miskin; masing-masing memiliki penderitaan mereka. Beberapa menderita terlalu banyak – beberapa lagi menderita terlalu sedikit”. Saya doakan kita semua bisa mensyukuri itu.

 

*Carmen Brillianwati adalah mahasiswi Ilmu Komunikasi kampus Surabaya. Deskripsi fisik dan weton dirahasiakan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Solusi untuk Kekecewaan Netijen atas Debat Pilpres 2019 0 299

Tak perlulah menunggu 24 jam berlalu untuk menyimpulkan ketidakpuasan khalayak masyarakat Endonesa dengan jalannya Debat Capres-Cawapres 2019 seri pertama tempo hari. Wong belum dimulai saja netijen sudah berebut saling menuduh kok! (Persis seperti performa kedua paslon di panggung debat kemarin.)

Indikator ‘mboseni’ jadi tajuk utama pidato-pidato tertulis rakyat dunia maya di kanal media sosial masing-masing. Maka, tidak heran jika para moderator debat kini kudu banget menyapa mereka dengan sebutan ‘warganet’ secara spesifik. Sebab, nonton netijen tonjok-tonjokan via live chat bisa jadi lebih seru ketimbang debat berkisi-kisi kemarin.

Penulis mengamati lalu lintas online dan menemukan minimal tiga tipe penonton debat Endonesa. Satu, warganet fanatik. Tipe ini bersorak kapan saja paslon dukungannya berbicara. Tidak peduli omongan bodoh kekanakan atau tidak, mereka merayakan argumen paslon tersebut dan mendiskreditkan argumen paslon lawan, meskipun kadang-kadang sing diomong sakjane podho intine.

Dua, warganet semi-teredukasi. Ini adalah golongan unik yang punya kesantunan cukup dan kesadaran mumpuni bahwa sebenarnya kedua paslon pancene podho wae. Meski demikian, spesies satu ini umumya sudah menetapkan jagoan pribadinya dan hanya menonton debat untuk mengonfirmasi bahwa pilihannya sudah tepat. Kemampuan mereka untuk nyelimur  tidak diragukan di kala paslon jagoannya kelihatan nggak menguasai topik. Caranya, mencari cocokologi supaya bisa membela paslonnya di hadapan warganet kubu satunya.

Tiga, warganet super-teredukasi. Nama lain golongan ini adalah golongan plegmatis-utopis. Didominasi oleh mereka yang doyan banget nonton tontonan luar negeri, golongan ini gemar sekali memuja dan mengonsumsi apa-apa yang dari luar Indonesia—biasa, dengan merujuk negara-negara “maju” saja—dan memicingkan mata untuk persoalan-persoalan genting di negaranya sendiri. Boro-boro mencari tahu dan mengomparasi keabsahan data argumen para paslon, umumnya ketertarikan politik mereka berhenti seraya mengucap kalimat, “Tuh kan. Ya gini ini Indonesia, politiknya kotor. Capres nggak ada yang bener. Mending gue tinggal di negara XXX daripada disalahin karena golput.

Padahal, dengan mayoritas kaum milenial-belum-cukup-dewasa, tipe terakhir ini cukup banyak jumlahnya. Sumbangan suaranya tidak bisa dianggap kecil, apalagi sumbangan partisipasi politiknya di masa depan. Sungguh eman bahwa justru tipe inilah yang memiliki keberjarakan paling lebar dengan persoalan politik dan hukum Indonesia.

Tapi di sisi lain, mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan juga. Dari debat kemarin saja, kedua paslon terang-terangan kalah telak untuk mengelaborasi visi-misi mereka secara konseptual dan rinci seperti yang dilakukan Nurhadi-Aldo, hehe. Alhasil, performa kedua pasangan bukan hanya mengecewakan bagi mereka yang teredukasi secara politik, melainkan juga para pendukung, tim sukses, dan tim kampanye masing-masing.

Penulis juga paham, andaikata memang kedua paslon tampil all out dan argumennya “saling terkam”, bisa-bisa bacok-bacokan kedua kubu jadi lebih panas. Skak mat emang jadi capres-cawapres 2019 – yang senantiasa harus diingatkan lagi dan lagi untuk kampanye damai.

 

Ya Sudah Begini Saja

Di tahun 2016 lalu, penulis menemukan fenomena internet yang lucu bin ajaib, unik bin geli, sekaligus mampu jadi solusi mujarab. Ditemukan di sebuah dimensi yang biasa dieksplorasi warganet super-teredukasi, penulis menyimpulkan bahwa ini pastilah sesuatu yang bisa banget menarik hati (dan suara) para netijen plegmatis-utopis. Temuan ini berjudul “Anies x Sandi Fanfiction”, sebuah naskah bromance.

Sebagian pembaca mungkin sudah familiar dengan istilah ini, namun sebagian lain mungkin tidak. Bromance, atau yang merupakan singkatan dari brother dan romance, adalah sebuah genre kultur populer yang merayakan dan mengomersilkan kemesraan antara lelaki dengan lelaki lainnya.

Bukti-bukti nyata lain dari keberadaan fenomena ini adalah berkembangnya fanfiction atau fiksi fantasi di situs-situs online penggemar. Mulai dari tayangan televisi, anime, grup idola, hingga selebriti, para fans ini memasang-masangkan dua atau lebih tokoh laki-laki dalam satu cerita, umumnya dengan tema asmara. Skalanya sangat lebar, mulai dari cinta vanila hingga hardcore romance, yang tentunya demi kepuasan fantasi para penggemar semata.

Bukti selanjutnya adalah membludaknya video bromance moments yang mengompilasikan momen-momen kedekatan selebriti laki-laki K-Pop di Yutub. Mulai dari yang rangkul-rangkulan sampai yang—yah apa aja ada lah ya. Video-video tersebut ditonton ratusan ribu bahkan jutaan orang, dengan kolom komentar didominasi pujian dan ekspresi gemes. Berani taruhan, nyaris separuh dari total penonton itu adalah fans dari Indonesia, yang hobi cekikikan di atas kasur tengah malam menyaksikan para idolanya bertingkah mesra satu sama lain.

Mungkin di sinilah keunggulan Sandi-Prabowo dibanding Jokowi-Ma’ruf. Segelintir rakjat berhasil dibuat jerit-jerit dengan aksi mesra mereka kemarin, lengkap dengan setelan jas necis ala oppa-oppa kaya dari drama Korea. Sepertinya, salah satu alasan keberadaan sejumlah fiksi fan macam ‘Anies x Sandi’ adalah karena Sandiaga Uno memang orang yang boyfriend goal bingits. Lihat saja, dengan pasangan barunya—ehem—Sandi bahkan berani pijet-pijetan di depan umum! Apalagi setelah Prabowo mencuit kalau doi bisa tidur nyenyak setelahnya… Kyah! Mana bisa otak-otak fangirl tidak berfantasi?!

Begini lho maksudnya. Janganlah hal-hal seperti bromance ini lalu dilihat sebagai penistaan budaya bangsa, apalagi degradasi moral para milenial, sebagaimana kerap diujar para orang tua (dan polisi moral). Lihatlah ini sebagai sebuah ekspresi kedekatan antara satu pribadi dengan pribadi lain. Lihatlah ini sebagai sebuah cara baru saling mencintai dan mengapresiasi sesama manusia, yang sesuai dengan cita-cita bangsa untuk hidup rukun tanpa banyak masalah.

Bromance, sebagai ekspresi baru cinta dan kedamaian, juga bisa jadi jalan tengah bagi persoalan capres-cawapres 2019 saat ini. Tim kampanye yang buntu jalan bisa banget mengeksplorasi cara ini untuk mem-branding paslonnya. Siapa sih, yang nggak suka menyaksikan dua orang yang berkomitmen menggenggam negara selama bertahun-tahun bisa dekat dan mesra satu sama lain? Sama seperti sejoli yang cubit-cubitan, dorong-dorongan, rangkul-rangkulan, sambil memandang mata satu sama lain dengan senyum mengembang.

Minimal, bromance ini seenggaknya bisa lah menarik mata dan hati dan suara tipe warganet ketiga tadi. Lumayan kan untuk memerbaiki image paslon pasca-debat pertama dan mencairkan ketegangan hari-hari ini? Sudah menarik, kyuti, damai pula. Komplit!

Bocoran Soal KPU dalam Kesahihan Tata Hukum Debaters 0 207

Di era ini, banyak muncul pekerjaan baru seperti supir ojek online hingga influencer media sosial. Namun, tak sedikit pula pekerjaan lawas yang masih bertahan. Kita patut bersyukur masih bisa menemui loper koran dan teller bank, dua pekerjaan yang kayaknya terancam punah kalau kita terus-terusan semakin menghamba pada virtual.

Selain itu, ditengarai calo penyedia kunci jawaban soal ujian juga masih terus lestari. Selama ujian masih ada, eksistensi mereka tetap abadi!

Namun, juru pembocor soal ini gak laku di Debat Pilpres 17 Januari 2019 besok. Lah wong KPU sudah membocorkan pertanyaan debat pada masing-masing pasangan calon. Kerja panelis merumuskan pertanyaan sudah di ujung deadline. Semuanya demi Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi supaya bisa memelajari contekannya sambil latihan ngomong di depan cermin sebelum bertemu Ira Koesno dan Imam Priyono di panggung “panas” nanti.

Keputusan KPU ini lantas menuai pro-kontra. Mulai dari drama antar tim pemenangan yang menjemukan, hingga netizen yang selalu hobi sekadar mengingatkan. Simpulnya, KPU dinilai tidak bijak.  Peserta debat jadi tidak benar-benar teruji. Segala dalih KPU ngalor-ngidul yang katanya ingin ‘mengedepankan konten debat, bukan show’ dimentahkan sudah. ‘Ra mashok blas!

Sesungguhnya, kebijakan KPU ini lahir karena fenomena lebih melekatnya di benak kita ketokohan paslon ketimbang visi-misinya. Kita lebih tahu “Game of Thrones-nya Jokowi dan Prabowo ikut natalan ketimbang program kerja yang ditawarkan keduanya. Miris!

Namun, di luar itu, masyarakat kita memang naturnya punya tingkat kepedulian yang tinggi. Saking tingginya, segala macam benda baik yang hidup maupun mati jadi sasaran omelan. Jadi, tidak perlu heran jika bocoran soal KPU ini pun jadi bahan nyinyir. Lah wong warna celana dalam mbak-mbak ayu saja habis dimakan kok.

Padahal memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat sangatlah lumrah. Dalam tata hukum debaters, sebut saja dalam dapur Asian Parliamentary, ada dua macam mosi debat yaitu prepared motion dan impromptu motion.

Prepared motion adalah mosi atau topik debat yang diberitahukan jauh sebelum perdebatan dilangsungkan. Kalau dalam lomba, biasanya separah-parahnya akan diberikan dua atau tiga hari sebelum. Jadi peserta dimungkinkan untuk riset dari berbagai literatur, fisik maupun internet.

Sedangkan impromptu motion maksudnya adalah topik debat spontan, diberikan beberapa menit sebelum memulai debat. Iya, udah macem pacar yang ngasih surprise birthday present, bikin deg-degan isinya. Kita tidak pernah tahu akan dapat topik debat yang seperti apa, walaupun tidak terlepas dari lingkup tema. Walau begitu, akan tetap ada waktu case building bagi peserta, alias mempersiapkan kerangka dan strategi bicara.

Wah berarti lebih gampang yang prepared motion dong ya daripada impromptu? Lah rumangsamu!

Keduanya punya level tantangan yang berbeda. Prepared motion tentu menuntut ketepatan data dan kedalaman analisa. Karena sudah diberi waktu yang lebih untuk mempersiapkan, nek pancet debate ora cetha yo nemen! Demikian pula impromptu motion memang menggoda seluas apa wawasan yang dimiliki peserta debat, serta kepandaian menyusun logika dan taktik “perang” dalam sempitnya waktu.

Kalau dalam debat, tipe mosi manakah yang paling sering dipakai? Jawabannya adalah dua-duanya. Seimbang. Sama seperti Tuhan ketika menjawab doamu, kadang dikabulkan, kadang bodo amat, hehe. Nah, jika penerapan dua tipe mosi ini berlaku di lomba-lomba debat anak sekolahan, memangnya nggak boleh KPU melakukan hal serupa? Makanya, kita ini jadi netizen jangan kayak doi kalau lagi marah, nggak mau denger penjelasan dulu.

Seperti biasa, debat terbuka capres-cawapres akan terbagi menjadi beberapa termin mulai dari visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, debat antar paslon, hingga closing statement. Nah yang disodorkan adalah pertanyaan panelis sejumlah lima buah. Sedangkan pada sistem di hari H nanti, pasangan calon akan mengambil undian dan hanya mendapatkan salah satu pertanyaan. Mau nggak mau mereka harus mempersiapkan jawaban terbaik dari kelimanya, karena nggak tahu bakal dapat pertanyaan yang mana. Jadi, walaupun prepared motion juga gak segampang itu Fergusso!

Toh masih ada pula sesi saling bertanya antar paslon. Nah, ini termasuk tipe pertanyaan impromptu. Mosok ya mereka janjian pertanyaan dulu kalau sudah begitu.

Mbok jangan suudzon dulu! Jangan-jangan personil KPU tipenya humoris, suka ngasih prank. Dikasih kisi-kisi lima, taunya yang keluar soal nomor enam, yaaahh kena deh! Persis seperti kamu yang dulu merasa diplokothoi sama kisi-kisi soal UNAS.

Intinya, janganlah kita ini suka menyalahkan, apalagi menyalahkan KPU. Sakno lho, mumet ndas’e! Persoalan kardus suara pun sudah kamu jadikan bahan olok, sekarang ditambah lagi. Jahat memang kalian, hiks. 🙁

Pokoknya, apapun kata netizen, kami segenap debaters siap pasang badan untuk membela KPU! Dengan ini, kami telah menyatakan, sistem debat KPU ini sudah sesuai dengan tata hukum debaters yang berlaku.

Editor Picks