Persoalan Klasik Cinta Beda Ras (Tanggapan Atas Tulisan Serupa) 0 1606

Jika sebelumnya pembaca sudah menyimak tulisan berjudul Persoalan Klasik Cinta Beda Agama”, redaktur kalikata.id akhirnya juga memutuskan untuk menaikkan tulisan Carmen Brillianwati, penulis tamu kali ini. Bukan…bukan karena penulisnya punya cerita khusus dengan salah seorang penulis kalikata.id (sebut saja lele). Tapi karena soal ras kan belakangan jadi topik amat keras dalam politik nasional. Siapa tahu, ehm, soal ras ini juga menjadi penghalang juga dalam hubungan cinta.

 

“Saya adalah orang Cina”.

Apabila kalimat itu membuat pembaca geli, risih, atau rikuh, maka apa yang dituju oleh tulisan ini sesungguhnya sudah terbukti.

Kata “Cina” mengandung begitu banyak konotasi, baik dari sisi positif dan negatif. Dan saya telah memprediksi sebagian pembaca adalah bagian dari mereka yang bereaksi negatif. Beri saya kesempatan untuk menjadi pahlawan guna meluruskan pemahaman macam ini.

Saya lahir sesuai hukum dan lolos dari jerat administratif rumah sakit. Artinya, kelahiran saya procot di dunia ini diakui oleh Negara. Dan mungkin hanya dalam hal seperti ini lah “orang Cina” terakui dan tak terpinggirkan. Saya juga memiliki akta kelahiran yang sama dengan anak-anak lain: sebagai warga negara Indonesia. Tapi titik berat tulisan ini dimaksudkan bukan sekedar membahas detil kesamaan akta kelahiran atau tetek-bengek ihwal dokumen kelurahan-kecamatan dan entah apa lagi. Justru saya akan membahas apa yang berbeda dari diri saya (kecuali urusan mata sipit).

Kalau kita, warga negara Indonesia, menyepakati dan dengan penuh-seluruh memahami dan menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, saya rasa tulisan ini tidak akan menjadi tuduhan penyerangan yang destruktif – dan itu tidak diharapkan sama sekali. Anggap saja tulisan ini mencoba semampunya untuk mengkritik mereka yang fanatik identitas dan menderita superiority complex.

Tapi, ayolah. Kelainan berpikir tersebut sebenarnya sudah menjamur luas di sekeliling kita ini. Superiority complex adalah suatu kondisi ketika seseorang memposisikan dirinya sebagai lebih unggul dibandingkan orang lainnya. Ini dilakukan guna kompensasi akan rasa rendah diri yang sesungguhnya.

Kepercayaan diri saya menyuarakan kaum minoritas selalu runtuh setiap saat saya mengingat bahwa kapasitas intelektual saya masih jauh tertinggal, tapi mari sejenak kita merefleksikan diri atas apa yang sudah mapan selama ini.

Saya mulai dari asumsi-asumsi dasar terhadap “orang Cina”: cara pandang rasial masyarakat terhadap warga Cina tentu melatarbelakangi berbagai stereotipe yang berkembang selama ini. Keuangan/perekonomian keluarga Cina selalu stabil, gaya hidupnya hedonistic, pelit, dsb. Padahal menurut saya tidak ada yang salah ketika semua orang perlu berjaga-jaga – menabung guna masa depan anak-cucu. Oh, ya, dan kami bangga itu buah kerja keras kami sendiri. Salahkah?

Jika saya seorang Marxis, saya akan membiarkan diri saya berada di barisan paling depan untuk mengusir kapitalisme dan menolak menghamba pada mereka. Dan prinsip itu akan tertanam di nafas saya. Sayangnya, saya dibesarkan dalam tradisi yang jauh dari kata resisten. Oleh sebab itu saya hanya berani bersuara pada isu-isu intoleransi seperti ini.

Jika diijinkan jujur, saya hanya seorang warga negara Indonesia yang mencoba memahami pagar penghalang antara saya dan sebagian besar (?) penakluk hati saya yang juga warga negara Indonesia, tapi sayang seribu sayang bukan Cina. Lagipula, saya mengerti bahwa bagi sebagian besar orang, perbedaan iman adalah isu yang tidak boleh dikesampingkan.

Namun, akan beda kisahnya jika ada orang kulit putih (bule) yang datang bertamu meminang saya. Sudah putih, berduit pula. Perbedaan ras dan agama bukanlah keprihatinan. Dan saya yakin ini juga tidak masalah apabila dialami kawan-kawan lainnya. Disinilah inferiority complex hadir berdampingan dengan superiority complex.

Ada semacam keadaan otomatis dimana orang-orang dengan mudah mendiskreditkan perbedaan yang ada, dan dalam menyebut “kafir” dan “asing”, bukanlah suatu persoalan.

Permasalahan ini sebenarnya sudah purba dan sudah seharusnya dimuseumkan, yaitu diskriminasi antara orang kulit terang-gelap, kaya-miskin, beriman-kafir, yang hadir dalam dimensi yang silang-menyilang. Kekhawatiran berkencan dengan orang berkulit lebih gelap bermula ketika orang tua saya mewarisi sebuah cerita, bahwa, Masa-masa Mama mengandung kamu (saya), keluarga dan saudara-saudara kita (yang Cina) dilanda kejadian yang sangat mengerikan, dimana kita menjadi korban pelampiasan terkait apapun yang menyebabkan tragedi 1998 pecah,. Ini disertai dengan ketakutan akan cibiran masyarakat yang entah mengapa merasa perlu menghakimi dua insan yang memilih untuk tidak terusik perbedaan yang hadir di antara mereka berdua.

Saya tidak menyalahkan siapapun atas keadaan dan cara pandang saya yang sekarang. Namun percayalah, kami masih menyimpan harapan agar tragedi itu segera diselesaikan (dalam pengertian apapun).

Dan jika kalian mempertanyakan bagaimana sikap saya terkait kasus penistaan agama dan diskriminasi ras yang melanda seorang tokoh politik di Jakarta? Perbolehkan saya menjawabnya dengan dingin: itu pembodohan massal.

Sekali lagi, saya bukan sedang menggurui pandangan orang dengan provokasi agar mengingat berbagai tragedi yang melibatkan “orang Cina”, dan tentunya saya tidak memposisikan diri sebagai perwakilan dari mereka. Saya menulis ini dengan kesadaran saya sebagai warga negara.

Sebagaimana Buddha pernah berkata, “Semua mahluk berhak mendapatkan kasih sayang, kaya maupun miskin; masing-masing memiliki penderitaan mereka. Beberapa menderita terlalu banyak – beberapa lagi menderita terlalu sedikit”. Saya doakan kita semua bisa mensyukuri itu.

 

*Carmen Brillianwati adalah mahasiswi Ilmu Komunikasi kampus Surabaya. Deskripsi fisik dan weton dirahasiakan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagi Mereka, Antirasisme Tak Lebih dari Sekadar Konten 0 157

George Floyd, pria berkulit hitam yang meninggal karena lehernya ditindih kaki petugas pulisi berkulit putih Minneapolis, AS menimbulkan gelombang protes. Bahkan ribuan warga AS teramasuk selebritis sudah bodo amat dengan korona dan ‘stay at home.

Mereka turun ke jalan untuk memprotes diskriminasi terhadap warga berkulit hitam dan menuntut  pemerintah agar pelaku pembunuhan segera diadili. Di media sosial juga ramai postingan penuh empati yang dibungkus amarah warga net mengenai kasus yang tak kunjung menemukan titik cerah itu.

Louis Vuitton sebagai merek legendaris pun terkena bola api amarah netizen karena marketing masif tas terbarunya ‘Pont 9’. Merek asal Paris ini membayar sejumlah artis dan fashion influencer di seluruh dunia untuk promosi di Instagram.

Namun, tak ada postingan yang menunjukkan empati mereka terhadap isu rasisme yang sedang panas itu. Alhasil, merek high-end ini pun dikecam netizen dan pesohor seperti Emily Ratajkowski karena dinilai tak peka dengan isu sosial. Tak hanya dikecam, pada 31 Mei lalu, butik Louis Vuitton di Oregon dijarah oleh massa.

Tak mau menjadi sasaran amukan massa, merek-merek lain akhirnya memposting foto prihatin terhadap kasus ini dan menyuarakan antirasisme. Diawali dari Versace, lalu dilanjut oleh Dior, Alexander McQueen, dan merek-merek beken lainnya.

Dari observasi kecil-kecilan saya, hingga saat ini, hanya Louis Vuitton yang masih bersih dari postingan antirasisme. Ya sudah, terserah dia.

Saya mengira masalah sudah beres. Ternyata, kasus Louis Vuitton hanyalah appetizer dari masalah empati dan antirasisme yang ada di dunia yang fana ini. Seperti yang tertulis di lirik lagu penyanyi indie terpopuler se-Indonesia, Kekeyi, “ucapanmu manis di bibir saja”, pun juga dengan kampanye antirasisme dari selebgram dan merek-merek kedagingan ini. Rupanya, postingan mereka sebatas wacana yang tidak dipraktikkan di dunia nyata.

Celine, merek asal Perancis ini memposting foto bahwa ia mengecam segala bentuk diskriminasi. Ia juga menuliskan di kepsyen “#BLACKLIVESMATTER” sebagai cherry on top.

Postingan ini diprotes oleh seorang fashion stylist, Jason Bolden. Hal ini dikarenakan Heidi Slimane, sang creative director, enggan mendandani seebritis berkulit hitam, kecuali stylist mereka berkulit putih.

Merek di bawah naungan LVMH ini selalu – semenjak kursi creative director diduduki oleh Heidi Slimane – memiliki jumlah model berkulit hitam di setiap shownya. Pada koleksi musim gugur 2020 misalnya, hanya ada 10 model berkulit hitam dari 111 model (9 persen). Sosok model berkulit hitam sangat jarang ditemui di feed Instagramnya.

Selanjutnya, ada kasus dari L’oréal . Merek mek-ap ini mengunggah foto di Instagram dan twit di Twitter yang intinya melawan segala bentuk diskriminasi warna kulit. Munroe Bergdorf, seorang model berkulit hitam, sontak memberikan tanggapan sinis kepada L’oréal. Rupanya, iapernah didapuk sebagai modelnya pada 2017. Sayangnya, ia dipecat usai menyuarakan protes terhadap white supremacy di Facebook.

Zimmermann, merek pakaian bergaya bohemian ini masuk ke dalam daftar pihak-pihak yang cari aman usai kasus Louis Vuitton. Sama dengan kasus-kasus di atas, merek asal Sydney ini mengatakan bahwa intinya ia berkomitmen untuk melawan praktik-praktik diskriminasi.

Namun, mereka-mereka yang pernah bekerja dan magang di sana angkat bicara. Mereka mengatakan bahwa pekerja kulit hitam kerap kali mendapat diskriminasi dan sering dipojokkan. Tak hanya itu, Zimmermann juga menerapkan beauty standard perempuan berkulit putih Eropa.

Lalu Kris Schitzel, selebgram Rusia yang berfoto di tengah pendemo sambil membawa tulisan “BLACK LIVES MATTER”.  Ia menerima hujatan usai video behind the scene “pemotretan” untuk foto tersebut beredar. Terlihat ia menata pose sedemikian rupa sambil membenarkan gaunnya.

Memang tak seniat video Brojabro dengan sayap Victoria’s Secret-nya saat aksi unjuk rasa mahasiswa di Surabaya silam, namun video tersebut sudah dapat membuat kita menyimpulkan bahwa ternyata gerakan yang ia lakukan tak lebih dari kebutuhan produksi konten di medsos.

Last but not least, kasus yang menyeret perempuan paling berpengaruh di dunia fashion saat ini, Anna Wintour. Vogue AS, majalah ternama yang dikepalai oleh Wintour ini di media sosialnya aktif  menyuarakan Black Lives Matter. Namun, pada Rabu (10/6) lalu, wanita yang mendapat julukan “Nuclear Wintour” ini meminta maaf atas minimnya kesempatan bekerja bagi orang berkulit hitam di kantornya.

Pernyataan tersebut membuat beberapa mantan pekerja berkulit hitam di Vogue angkat bicara di Twitter. Mereka mengungkapkan perlakuan tidak menyenangkan dari Wintour dan pekerja lain. Mulai dari di-bully, hingga gaji yang lebih sedikit harus mereka telan selama bekerja di majalah yang dijuluki fashion bible tersebut.

Miris sekali ya, ketika empati kita sangat dibutuhkan di masa ini, ternyata hanya dijadikan konten guna menaikkan citra mereka, biar seakan-akan peduli dengan isu rasisme. Tuntutan netijen yang begitu besar untuk menampilkan konten empati, malah membuat sejumlah pihak menganggapnya sebagai formalitas belaka.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Renungan Seonggok Pemuja Online Shop 0 74

Sudah hampir 3 bulan kita dihajar kampanye urban yang telah menjadi gaya hidup: #dirumahaja. Walau sebentar kita tak perlu merasa terkurung lagi, tatanan kehidupan yang baru hampir terbentuk dari babak hidup kemarin.

Semua aktivitas lantas dilakukan dari tempat ternyaman, entah sofa atau bahkan tempat tidur, termasuk belanja online.

Mau ke supermarket sebenarnya bisa sih. Toh supermarket dan pasar adalah salah satu ragam bisnis yang senantiasa terkecualikan dengan boleh tetap bernapas, demi mengisi logistik masyarakat.

Tapi sebagian dari kita yang tidak termakan teori konspirasi JRX percaya virus corona ada, menjadi was-was dan meminimalisir kegiatan keluar rumah, sekalipun sekadar untuk berbelanja.  Sebisa mungkin di rumah, menghindari kerumunan, memenuhi bujukan anjuran pemerintah. Beraktivitas di luar rumah menjadi suatu kegiatan yang bahkan mulai terasa asing.

Kita patut bersyukur, bahwa sebelum corona memutuskan untuk mengusik kehidupan kita, teknologi market place sudah berkembang sedemikian rupa. Peluangnya bahkan makin merambah di situasi seperti sekarang ini.

Semua-semua saja dibeli online. Mulai dari susu hingga pisau dapur, dari sayur-mayur hingga cairan pewangi pakaian, kaos kaki impor Cina atau HP hasil pasar gelap, semua dimungkinkan hanya dengan sentuhan jari di gawai.

Bahkan kata teman-teman saya, selama menikmati PSBB di rumah, membuka aplikasi online shop sudah jadi habitus baru yang tak terhindarkan. Ajaibnya, online shop kini berkembang fungsinya, sampai-sampai ikut jadi pereda kebosanan. Ia menjadi obat mujarab atas panas nan jenuhnya hati atau menghindarkan diri dari potensi termakan hoax di grup WhatsApp keluarga.

Namun, ada akibat fatal yang tak kuasa kita taklukkan. Kita tak bisa hanya sekadar “cuci mata” di aplikasi belanja online. Kita susah untuk menolak check out habis keranjang belanja virtual tanpa ampun. Kalau sudah begini, online shop berubah wajah. Justru ialah musuh bebuyutan dompet tipismu.

Pun online shop menghantar kita pada berbagai belahan dan jurang pengalaman. Kadang membeli barang yang mungkin gak terlalu berdayaguna, hanya karena promo dan kode voucher, yang setelah dibeli dan dibayar malah menyesal. Persis kayak habis putus, lalu pengen balikan karena mantan tiba-tiba jadi lebih cakep setelah putus.

Tren online shop sudah merasuk sejak beberapa tahun ke belakang, tapi popularitasnya melonjak dan bahkan menjadi adikuasa yang padanya kita makin menghamba.

Ia hanyalah substitusi emol-emol dan café dengan menu-menu dengan bahasa enggresan ndakik-ndakik. Menggeser rejeki dari mbak-mbak SPG dan mas-mas barista, ke para kurir dan mamang-mamang packaging paket. Merekalah yang memastikan belanjaan kita sampai persis di depan pintu rumah.

Online shop adalah pemain pengganti, dari perasaan tak sabar menunggu antrian kasir di toko, ke perasaan dag-dig-dug tak sabar menunggu teriakan “paket” di depan gerbang rumah.

Begitu pula dengan penggunaan e-wallet dan m-banking yang tersedia di platform e-commerce, yang membuat jasa penukar uang pinggiran jalan gigit jari, teknisi IT start-up digital pesta pora, serta mahasiswa informatika kini jadi kandidat calon mantu idaman, menggantikan dokter yang semakin gak bisa ketemu keluarganya di masa sekarang.

Mungkin ini yang dinamakan “new normal”, sebuah istilah yang sudah sangat lacur penggunaannya dalam konversesyen tiap harinya. Kebaruan yang dianggap normal. Namun juga kenormalan lama yang dibuatkan bentuk barunya. Kebiasaan baru rakjat untuk berbelanja, dan segala lika-liku di baliknya, jadi salah satu bab tak terelakkan di dalamnya.

Editor Picks