Pledoi Kontroversi Arifin Ilham untuk Jomblo Sakit Hati 0 2436

Bayangkan menghadapi enam mertua!

Itu sebabnya kami menghimbau harap maklum. Di awal tulisan tegas-tegas musti diminta permakluman atas kontroversi istri-istri al mukarom Ustadz Arifin Ilham: ini semua kerjaan jomblo sakit hati. Tak ada yang mampu memberi luapan amarah dan kecewa sedahsyat itu atas poligami, kecuali dari orang-orang yang telanjur sempit hatinya dan tak terlatih menghadapi kenyataan.

Dalam video di laman resmi facebook-nya, Ustadz menulis: “Bersama 3 bidadari, putri Aceh, putri Yaman dan putri Sunda, janda 37 th dg 2 anak saat Liqo Tarbiyyah”. Pujian yang mesra bin asoy ini rupanya yang membetot batin jomblo mencelat keluar. Mereka ini tak tahu sulitnya mendamaikan kerikuhan di antara banyak mertua!

Lagipula, memangnya peraturan apa yang dilanggar oleh pak Ustadz? UU Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam, UU Perlindungan Anak, KUHP, apalagi hukum agama Islam, jelas-jelas tak mampu menggaris-batasi poligami. Negeri kita ini, pembaca yang baik, memang menyediakan bahan baku cukup lengkap pada laki-laki untuk lebih “aktif” kawin, dibanding perempuan. Jika kita ingat situs nikahsirri.com, betapa di sana memantulkan pertanda amat serius bahwa kuasa laki-laki tak bisa dibantah. Embel-embel pengentasan kemiskinan hanyalah satu saja dari sederet lain yang membaptis laki-laki sebagai yang serba nomor satu dalam skema kekuasaan patriarkhis.

Apalagi ditolong oleh legitimasi ayat-ayat agama: bahkan lurah, camat, gubernur, sampai PBB sekalipun akan mikir seribu kali sebelum nyinyir pada Ustadz kita yang bersuara kharismatis ini.

Privilese istimewa ini diwariskan sejak rumusan hukum Islam masuk ke hukum positif Indonesia pada masa Orde Baru, dimulai dari Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Agama tanggal 21 Maret 1985 No. 07/KMA/1985 dan No. 25 Tahun 1985 tentang Penunjukan Pelaksanakan Proyek Pembangunan Hukum Islam. Situasi ini masuk akal andai kita bisa menengok betapa antara kelompok Islam dan rezim Orba saling membangun hubungan antagonistik satu sama lain. Salim Said (2015) melihat jika Negara sesungguhnya tak menghendaki bangkitnya kekuatan politik Islam, tapi pada saat yang sama Negara masih memerlukan dukungan kuat kelompok Islam. Komprominya: masukkan nilai-nilai agama mayoritas ini ke dalam rumusan hukum positif. Yang tak diduga dari skenario ini, dari sinilah nanti ustadz-ustadz Negara api menyerang.

Generasi kita memanen kesemberonoan sejarah masa lalu itu. Maka jika kini orang dibikin bingung oleh mengapa debat poligami tak jua tuntas, atau mengapa peraturan sangat tak berpihak pada perempuan, atau mengapa jumlah jomblo akhirnya membeludak tak keruan, maka itu soal-soal masa lampau.

Sering juga debat poligami ditutup dan dikunci dengan pernyataan “yang penting perempuan rela” atau “yang penting suami bisa berlaku adil” (prasamu pegadaian). Sampai di sana biasanya jomblo-jomblo ngenes itu tak punya pilihan argumentasi lain kecuali meratap-ratapi.

Oh ya hampir lupa, resep mengatasi ini sesungguhnya telah ada pada lagu lawas band Geisha: lumpuhkanlah ingatanku.

 

Manusia Seri

Selain itu, coba hitung ada berapa kasus terkait poligami yang bersifat hangat-hangat tembelek ayam? Mulanya kontroversial, dihajar dan dihakimi beramai-ramai, tapi lalu pelan-pelan dilupakan. Untuk urusan pelan-pelan dilupakan ini, mirip sekali dengan karakter jomblo bukan?

Pendek kata, pembaca musti cerdas dalam menerka keadaan macam ini. Telah berkali-kali terjadi dan berkali-kali di-bully, tapi negeri dan bangsa masih aman sentausa. Artinya, jangan-jangan soal paling besar dari ruwetnya perdebatan poligami ini ada pada kita sendiri. Jean Paul Sartre (nama orang Perancis, cara bacanya wajib sengau) menyebut karakter macam begini sebagai “manusia seri”, tipikal orang yang cerewet bukan main tapi tak mampu mengubah keadaan. Jomblo-jomblo boleh teriak hingga inthil-inthil di tenggorokannya lepas, tapi toh Ustadz dengan harem-nya masih akan sehat-sehat saja.

Bergurulah pada ahlinya. Jangan sok nyinyir padahal dalam sanubari sebetulnya penuh lubang iri. Ngajilah pada pak Ustadz, datang ke majelis taklim, siapa tau ada janda tersesat yang bisa dipinang.

Hendak berharap Negara akan bisa membatasi ruang gerak laki-laki? Ngimpi!

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasib Pegawai KPK Kritis dan Doa untuk Mereka 0 159

Kemarin 1.271 pegawai KPK yang lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) akhirnya sudah dilantik. Kini mereka resmi jadi abdi negara, meninggalkan 75 yang tak lolos.

Tim dokumenter dengan jejaring sangar macam Watchdoc dan kesayangan kita semua, Najwa Shihab, sudah mewawancarai mereka, mengungkap kejanggalan TWK. Pertanyaan-pertanyaan aneh macam urusan rumah tangga, perceraian, gaya pacaran, hingga aliran agama muncul selama sesi tes seleksi wawancara.

Masalahnya, 75 orang yang tidak lolos ini bukan sembarangan personil. Dari antara 75 orang itu, 13 di antaranya adalah penyidik yang berperan penting sebagai lokomotif penggerak berjalannya KPK selama ini. Sebut saja Novel Baswedan, yang kita semua tahu telah berhasil mengungkap kasus besar macam korupsi e-KTP dengan dalang Setya Novanto. Ada pula Rizka Anungnata, penyidik kasus benih lobster yang menyeret mantan Menteri KKP, Edhy Prabowo. Sampai Ronal Paul, yang tengah menangani kasus buron yang ghosting satu negeri ini, Harun Masiku.

Orang-orang ini kini tak bisa melanjutkan kasusnya, dinonaktifkan karena tak lolos tes, bahkan terancam termasuk dari 51 orang yang katanya tak lagi bisa dibina. Dalam kata lain yang lebih mudah namun kasar, sama saja dengan orang bebal.

Orang-orang berprestasi ini mungkin cerminan dari orang kritis. Di satu sisi, Indonesia ini sangat butuh orang-orang kritis agar bisa maju memperbaiki sistem dan mentalitas yang terlanjur bobrok. Tapi atas nama kestabilan, orang-orang macam inilah yang dianggap sebagai penghancur dan pembangkang. Termasuk dalam logika bisnis korporasi, pegawai yang ndablek atau berani melawan pemimpinnya pasti ditendang.

Susah dong ya jadi orang kritis di negara ini? Ya memang bakal susah kalau kamu terlalu radikal, berani bicara dan melawan yang salah. Lantas apa yang harus dilakukan?

Kalau kata pepatah, diam adalah emas. Itu mungkin akan sangat berlaku buat kalian-lalian yang punya pemikiran revolusioner. Jangan keburu emosi dulu! Diam memang tak selamanya baik, dan malah berujung malapetaka karena mendiamkan sesuatu yang salah. Kalau kata mantan komisioner KPK dan pengurus PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas: “membiarkan kejahatan itu sama artinya dengan melakukan kejahatan”.

Saya jadi teringat suatu kisah penyebaran dan perjalanan agama Kristen di Jepang. Alkisah, agama Katolik disebarkan pertama kali oleh misionaris Jesuit dari Portugal tahun 1560-an. Lambat laun, jumlah penganut Kristen bertambah banyak dan pesat. Penguasa politik Jepang merasa terancam dan memutuskan untuk menumpas mereka.

Larangan beribadah ditetapkan. Bahkan memerintahkan semua umat Kristiani menginjak fumie, lempengan tembaga bergambar Yesus disalib pada papan kayu. Tujuannya jelas, untuk mematahkan kepercayaan mereka. Sejarah mengatakan ada sekitar 2 ribu orang meninggal menjadi martirkarena menolak menginjak fumie, tetap setia pada imannya.  Which is (cielah gaya bahasa jaksel), keren.

Tapi, tak sedikit pula yang memilih ingkar, mereka injak fumie, dan tetap hidup. Mereka berpura-pura meninggalkan agamanya, tapi tetap beribadah secara diam-diam. Mereka lah yang membuat penganut Kristiani masih ada di Jepang sampai sekarang. Coba bayangin kalau semua memilih jadi “pahlawan” dan rela mati, mungkin agama Katolik akan benar-benar punah.

Kisah ini saya lihat hampir sama dengan yang terjadi di KPK hari ini. Harapannya, ada beberapa dari 1200 yang lolos TWK itu, adalah orang-orang yang diam-diam “nurut”, menjawab dengan cara aman tes-tes wawancara yang diajukan asesor. Mereka menyembunyikan jati diri kritis, demi bertahan hidup, tetap berada dalam sistem lembaga pemberantas korupsi, dan membawa integritas ke depan. Jika benar demikian, kita tak perlu khawatir KPK akan ambruk.

Lalu bagaimana dengan 51 pegawai yang tak lagi bisa dibina itu? Perjuangan di luar KPK untuk memberantas korupsi masih panjang. Bisa melalui organisasi, lembaga bantuan hukum, dan bertindak sebagai pengamat atau penasehat. Sebab, berlian tetap bisa bersinar di mana saja walaupun ditempa sedemikian rupa. Semoga.

 

*)Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Dukun Abal-abal dan Fitnah pada Genderuwo Nakal 0 209

Oleh: Yogi Dwi Pradana*

 

Nasib tragis dialami seorang bocah perempuan berusia 7 tahun bernama Aisyah. Ia menjadi sebuah korban percobaan dukun abal-abal di Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Aisyah meninggal dunia setelah disuruh memakan cabai dan bunga mahoni oleh dukun abal-abal tersebut, serta ia diminta menenggelamkan kepala di dalam air untuk mengetahui apakah benar Aisyah ini keturunan genderuwo atau bukan.

Kisah ini tragis, tapi juga aneh. Sebab, setahu saya dari cerita rakjat, genderuwo tidak seiseng itu untuk merasuki anak kecil dan membuatnya jadi nakal. Salah satunya adalah Mbah Wagini dari Alas Purwo. Ia diyakini sebagai seorang keturunan genderuwo dengan seluruh badannya ditumbuhi bulu lebat.

Walaupun terlihat menakutkan, Mbah Wagini di alam gaib adalah makhluk yang dipuja. Begitu kata Eyang Ratih, pengasuhnya sejak kecil. Dan dia tidak nakal ya, ingat. Gak semua genderuwo seperti kata dukun abal-abal itu.

Poin lain yang mengherankan bagi saya dari peristiwa ini adalah, motivasi sang orang tua membawa Aisyah ke dukun. Tentu, setelah bertahun-tahun mengasuhnya, mereka sampai pada titik lelah, sehingga tak sanggup lagi mengatasi kenakalan si anak dengan kekuatannya sendiri.

Padahal, bukankah 7 tahun adalah usia normal anak bersikap aktif dan banyak tingkah misalnya, jika demikian yang dikategorikan nakal oleh kebanyakan orang. Di usia ini, anak sudah siap masuk ke jenjang sekolah dasar dan siap beradaptasi dengan hal-hal yang baru ia temui. Justru peranan orang tua dalam mendidik anak di usia ini sangat penting.

Menurut saya yang belum punya anak ini, masih ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendidik anak nakal usia 7 tahun. Misalnya, mengedepankan komunikasi dengan anak. Aktif berbincang untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan si anak. Selanjutnya, ajak anak untuk terbiasa mengatasi masalah secara bersama-sama. Orang tua tugasnya kan membimbing, bukan cuma ngasih makan.

Beberapa poin yang saya sebut tadi, ujungnya adalah agar orang tua bisa mengenali sisi emosi anak. Kalau orang tua kesusahan, “anak nakal” seharusnya bisa diatasi oleh ahlinya. Konsultasi ke psikolog misalnya.

Anak yang nakal seharusnya mendapat edukasi dari orang tua, bukan malah dibawa ke dukun untuk dirukiyah. Kan kita semua tahu, sudah banyak kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika menyelesaikan masalah dengan dukun.

Salah satu kisah soal ini datang Nanang (bukan nama sebenarnya) dari Tasikmalaya, Jawa Barat yang mengaku sebagai dukun. Alih-alih mengobati pasien, Nanang meminta pasien-pasien yang datang padanya untuk melayani hasrat seksualnya.

Eits, tapi tidak semua dukun itu abal-abal dan nol keahlian ya. Nyuwun pangapunten Mbah Dukun! Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk melarang pembaca datang ke dukun (semua kembali ke kepercayaan masing-masing).

Tapi dari pengalaman ini kita belajar, untuk mengatasi persoalan dengan hati dan wawasan yang luas. Jika sudah mentok dengan usaha sendiri, baiknya memang datang ke pakar dengan ilmu yang pasti-pasti aja.

 

*)Seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di organisasi Susastra KMSI UNY, bergiat di komunitas sastra Lampu Tidurmu, dan menjadi penulis artikel di UNY Community.

*) Ilustrasi oleh Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks