Pledoi Kontroversi Arifin Ilham untuk Jomblo Sakit Hati 0 1873

Bayangkan menghadapi enam mertua!

Itu sebabnya kami menghimbau harap maklum. Di awal tulisan tegas-tegas musti diminta permakluman atas kontroversi istri-istri al mukarom Ustadz Arifin Ilham: ini semua kerjaan jomblo sakit hati. Tak ada yang mampu memberi luapan amarah dan kecewa sedahsyat itu atas poligami, kecuali dari orang-orang yang telanjur sempit hatinya dan tak terlatih menghadapi kenyataan.

Dalam video di laman resmi facebook-nya, Ustadz menulis: “Bersama 3 bidadari, putri Aceh, putri Yaman dan putri Sunda, janda 37 th dg 2 anak saat Liqo Tarbiyyah”. Pujian yang mesra bin asoy ini rupanya yang membetot batin jomblo mencelat keluar. Mereka ini tak tahu sulitnya mendamaikan kerikuhan di antara banyak mertua!

Lagipula, memangnya peraturan apa yang dilanggar oleh pak Ustadz? UU Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam, UU Perlindungan Anak, KUHP, apalagi hukum agama Islam, jelas-jelas tak mampu menggaris-batasi poligami. Negeri kita ini, pembaca yang baik, memang menyediakan bahan baku cukup lengkap pada laki-laki untuk lebih “aktif” kawin, dibanding perempuan. Jika kita ingat situs nikahsirri.com, betapa di sana memantulkan pertanda amat serius bahwa kuasa laki-laki tak bisa dibantah. Embel-embel pengentasan kemiskinan hanyalah satu saja dari sederet lain yang membaptis laki-laki sebagai yang serba nomor satu dalam skema kekuasaan patriarkhis.

Apalagi ditolong oleh legitimasi ayat-ayat agama: bahkan lurah, camat, gubernur, sampai PBB sekalipun akan mikir seribu kali sebelum nyinyir pada Ustadz kita yang bersuara kharismatis ini.

Privilese istimewa ini diwariskan sejak rumusan hukum Islam masuk ke hukum positif Indonesia pada masa Orde Baru, dimulai dari Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Agama tanggal 21 Maret 1985 No. 07/KMA/1985 dan No. 25 Tahun 1985 tentang Penunjukan Pelaksanakan Proyek Pembangunan Hukum Islam. Situasi ini masuk akal andai kita bisa menengok betapa antara kelompok Islam dan rezim Orba saling membangun hubungan antagonistik satu sama lain. Salim Said (2015) melihat jika Negara sesungguhnya tak menghendaki bangkitnya kekuatan politik Islam, tapi pada saat yang sama Negara masih memerlukan dukungan kuat kelompok Islam. Komprominya: masukkan nilai-nilai agama mayoritas ini ke dalam rumusan hukum positif. Yang tak diduga dari skenario ini, dari sinilah nanti ustadz-ustadz Negara api menyerang.

Generasi kita memanen kesemberonoan sejarah masa lalu itu. Maka jika kini orang dibikin bingung oleh mengapa debat poligami tak jua tuntas, atau mengapa peraturan sangat tak berpihak pada perempuan, atau mengapa jumlah jomblo akhirnya membeludak tak keruan, maka itu soal-soal masa lampau.

Sering juga debat poligami ditutup dan dikunci dengan pernyataan “yang penting perempuan rela” atau “yang penting suami bisa berlaku adil” (prasamu pegadaian). Sampai di sana biasanya jomblo-jomblo ngenes itu tak punya pilihan argumentasi lain kecuali meratap-ratapi.

Oh ya hampir lupa, resep mengatasi ini sesungguhnya telah ada pada lagu lawas band Geisha: lumpuhkanlah ingatanku.

 

Manusia Seri

Selain itu, coba hitung ada berapa kasus terkait poligami yang bersifat hangat-hangat tembelek ayam? Mulanya kontroversial, dihajar dan dihakimi beramai-ramai, tapi lalu pelan-pelan dilupakan. Untuk urusan pelan-pelan dilupakan ini, mirip sekali dengan karakter jomblo bukan?

Pendek kata, pembaca musti cerdas dalam menerka keadaan macam ini. Telah berkali-kali terjadi dan berkali-kali di-bully, tapi negeri dan bangsa masih aman sentausa. Artinya, jangan-jangan soal paling besar dari ruwetnya perdebatan poligami ini ada pada kita sendiri. Jean Paul Sartre (nama orang Perancis, cara bacanya wajib sengau) menyebut karakter macam begini sebagai “manusia seri”, tipikal orang yang cerewet bukan main tapi tak mampu mengubah keadaan. Jomblo-jomblo boleh teriak hingga inthil-inthil di tenggorokannya lepas, tapi toh Ustadz dengan harem-nya masih akan sehat-sehat saja.

Bergurulah pada ahlinya. Jangan sok nyinyir padahal dalam sanubari sebetulnya penuh lubang iri. Ngajilah pada pak Ustadz, datang ke majelis taklim, siapa tau ada janda tersesat yang bisa dipinang.

Hendak berharap Negara akan bisa membatasi ruang gerak laki-laki? Ngimpi!

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 246

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Nasib Naas Jerman yang Dilibas KorSel 0 239

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Per 27 Juni, tepatnya sejak Panser Jerman keok dilibas Oppa Korea Selatan di Piala Dunia, ada beberapa perubahan besar dalam persepakbolaan – dan mungkin juga – sejarah dunia.

Bagaimana tidak? Jerman adalah petahana Piala Dunia 2014. Kualitas pemain teruji dan track record merumput di Piala Dunia tidak perlu diragukan lagi. Sang langganan semifinal sejak 1938. Setidak-tidaknya kita berharap tinggi musti lolos 16 besar. Boleh dibilang wonder team. Uber alles deh pokoknya. Sedang lawannya, Taeguk Warriors asal Korea Selatan sama sekali antitesis semua itu. No offense loh, Oppa 🙁

Akal sehat jelas memprediksi kemenangan mudah Die Mannschaft atas Taeguk Warriors. Lah ndalah, njeketek, eng ing eng… Kenyataannya Jerman keok, plonga-plongo dihabisi Korea Selatan. Skor telak, 2-0. Gak mashookkk!

Dari awal sebenarnya posisi Jerman terbaca. Tiket melaju ke babak lanjutan dipertaruhkan, maka mereka menyerang terus. Kemungkinan tipis untuk lolos perlu dikejar. Sedang Korsel oleh karena dua kekalahan sebelumnya kontra Swedia dan Meksiko, sudah pasti angkat kaki meski menang atau kalah lawan Jerman malam itu. Tapi toh Korsel tetap on-fire, sampai peluit panjang mereka solid bertahan terus. Dari sini, kita mudah membaca siapa yang ngoyo dan siapa yang got nothing to lose.

Sepanjang pertandingan, Jerman betul menyerang tapi meleset melulu. Entah tidak cocok dengan angin di Rusia apa bagaimana. Melelahkan melihat permainan Jerman, gol tidak kunjung dibuat. Peluang banyak terbuang.

Apa karena ekspektasi penonton yang terlalu tinggi? Apa karena Jerman terlalu percaya diri?? Atau apakah memang mitos kutukan petahana pildun itu nyata adanya? Apakah Jerman memang ditakdirkan bernasib sama seperti Italia, Belanda, dan Spanyol? Sukses angkat trofi juara dunia lalu gagal mempertahankannya gelarnya? Saking mengerikannya kutukan itu, petahana bisa tersepak bahkan saat masih fase penyisihan grup.

Salam saya untuk kiper Korea yang telah bolak-balik menyelamatkan gawang. Juga pada pemain Korea sekalian yang dengan ciamik menghalau bola masuk jaring. Sampai paruh pertama, telur belum juga pecah. Pertahanan Korea Selatan belum bisa dikoyak. Menit ke-60 sekian, keadaan makin genting. Jerman tidak kunjung membuat angka, tiket lanjut dan mempertahankan gelar jadi terasa jauh. (Sebentar, nasib buruk ini apakah karena Jerman bermain di tanah Rusia? Saat Perang Dunia Kedua mereka kan…. *mulai cocoklogi).

Ritme permainan semakin terasa berat dan mendebarkan saat memasuki waktu tambahan. Jerman sudah kepayahan dan putus asa, permainan makin kacau. Korea Selatan konsisten dan merebut momentum lalu berhasil memecah kebuntuan. Skor satu untuk Korea Selatan. Rekaman Video Assistant Referees (VAR) dipakai untuk memutuskan apa gol itu sah atau tidak, sebab awalnya dikira off-side oleh wasit. Selebrasi Korsel bikin Jerman makin kalang kabut. Padahal pemain bintangnya turun. Mueller, Gomez, Oezil, dan Khedira dikerahkan agar segera cetak skor.

Tembakan banyak yang meleset. Terasa moril Jerman sudah merosot. Sampai-sampai, kiper Jerman, Neuer, meninggalkan pos jaganya. Mungkin karena sumpek rekan satu timnya tidak kunjung mencetak skor. Dirinya ikut merumput sampai begitu dekat dengan gawang Korea Selatan. Waktu tambahan sisa satu menit. Korea Selatan kembali mengoyak gawang Jerman yang ditinggalkan tak dijaga itu. Gol kembali dibuat.

Remek dan nelangsa lah Jerman diinjak Korea Selatan. Sisa waktu tidak cukup untuk membuat keajaiban. Panser kita angkat kaki. Kutukan telah tuntas terlaksana. Taeguk Warriors kalah, tapi bakal pulang ke negeranya dan disambut bak pahlawan.

Oppa dan Hyung telah menindas habis bule-bule Eropa itu. Sejarah telah mencatat itu. Daebak! Kemenangan atas Jerman juga berarti telah terjadi kemajuan pada persepakbolaan Korea Selatan di kancah dunia. Mereka telah jadi simbol untuk persebakbolaan Asia. Kini, mereka tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Terbukti pertahanan Korea jelas rapi dan mampu mengimbangi Jerman yang terus menyerang. Tidak kalah kualitas dengan si Panser.

Saya sendiri pendukung Jerman, tapi jujur diam-diam menantikan Korea Selatan menjebol gawang Jerman. Mungkin karena saya merasa terwakili sebagai sesama Asia. Sebab kan selama ini sepak bola rasa-rasanya hanya milik Eropa dan Amerika Latin. Ya kan, tim-tim itu saja toh yang menang. Tim-tim itu lagi yang dijagokan.

Boleh jadi, ini pecut untuk Indonesia agar empat tahun lagi bisa lolos kualifikasi Piala Dunia, lalu mungkin mampu menang telak 2-0 atas Inggris atau Spanyol. Siapa tahu?

Tanpa muluk-muluk, mungkin uji coba dulu dengan sapu bersih kemenangan di Asian Games tahun ini?

*Penulis adalah mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi Surabaya. Doyan nonton dan traktiran.

Editor Picks