Pledoi Kontroversi Arifin Ilham untuk Jomblo Sakit Hati 0 2004

Bayangkan menghadapi enam mertua!

Itu sebabnya kami menghimbau harap maklum. Di awal tulisan tegas-tegas musti diminta permakluman atas kontroversi istri-istri al mukarom Ustadz Arifin Ilham: ini semua kerjaan jomblo sakit hati. Tak ada yang mampu memberi luapan amarah dan kecewa sedahsyat itu atas poligami, kecuali dari orang-orang yang telanjur sempit hatinya dan tak terlatih menghadapi kenyataan.

Dalam video di laman resmi facebook-nya, Ustadz menulis: “Bersama 3 bidadari, putri Aceh, putri Yaman dan putri Sunda, janda 37 th dg 2 anak saat Liqo Tarbiyyah”. Pujian yang mesra bin asoy ini rupanya yang membetot batin jomblo mencelat keluar. Mereka ini tak tahu sulitnya mendamaikan kerikuhan di antara banyak mertua!

Lagipula, memangnya peraturan apa yang dilanggar oleh pak Ustadz? UU Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam, UU Perlindungan Anak, KUHP, apalagi hukum agama Islam, jelas-jelas tak mampu menggaris-batasi poligami. Negeri kita ini, pembaca yang baik, memang menyediakan bahan baku cukup lengkap pada laki-laki untuk lebih “aktif” kawin, dibanding perempuan. Jika kita ingat situs nikahsirri.com, betapa di sana memantulkan pertanda amat serius bahwa kuasa laki-laki tak bisa dibantah. Embel-embel pengentasan kemiskinan hanyalah satu saja dari sederet lain yang membaptis laki-laki sebagai yang serba nomor satu dalam skema kekuasaan patriarkhis.

Apalagi ditolong oleh legitimasi ayat-ayat agama: bahkan lurah, camat, gubernur, sampai PBB sekalipun akan mikir seribu kali sebelum nyinyir pada Ustadz kita yang bersuara kharismatis ini.

Privilese istimewa ini diwariskan sejak rumusan hukum Islam masuk ke hukum positif Indonesia pada masa Orde Baru, dimulai dari Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Agama tanggal 21 Maret 1985 No. 07/KMA/1985 dan No. 25 Tahun 1985 tentang Penunjukan Pelaksanakan Proyek Pembangunan Hukum Islam. Situasi ini masuk akal andai kita bisa menengok betapa antara kelompok Islam dan rezim Orba saling membangun hubungan antagonistik satu sama lain. Salim Said (2015) melihat jika Negara sesungguhnya tak menghendaki bangkitnya kekuatan politik Islam, tapi pada saat yang sama Negara masih memerlukan dukungan kuat kelompok Islam. Komprominya: masukkan nilai-nilai agama mayoritas ini ke dalam rumusan hukum positif. Yang tak diduga dari skenario ini, dari sinilah nanti ustadz-ustadz Negara api menyerang.

Generasi kita memanen kesemberonoan sejarah masa lalu itu. Maka jika kini orang dibikin bingung oleh mengapa debat poligami tak jua tuntas, atau mengapa peraturan sangat tak berpihak pada perempuan, atau mengapa jumlah jomblo akhirnya membeludak tak keruan, maka itu soal-soal masa lampau.

Sering juga debat poligami ditutup dan dikunci dengan pernyataan “yang penting perempuan rela” atau “yang penting suami bisa berlaku adil” (prasamu pegadaian). Sampai di sana biasanya jomblo-jomblo ngenes itu tak punya pilihan argumentasi lain kecuali meratap-ratapi.

Oh ya hampir lupa, resep mengatasi ini sesungguhnya telah ada pada lagu lawas band Geisha: lumpuhkanlah ingatanku.

 

Manusia Seri

Selain itu, coba hitung ada berapa kasus terkait poligami yang bersifat hangat-hangat tembelek ayam? Mulanya kontroversial, dihajar dan dihakimi beramai-ramai, tapi lalu pelan-pelan dilupakan. Untuk urusan pelan-pelan dilupakan ini, mirip sekali dengan karakter jomblo bukan?

Pendek kata, pembaca musti cerdas dalam menerka keadaan macam ini. Telah berkali-kali terjadi dan berkali-kali di-bully, tapi negeri dan bangsa masih aman sentausa. Artinya, jangan-jangan soal paling besar dari ruwetnya perdebatan poligami ini ada pada kita sendiri. Jean Paul Sartre (nama orang Perancis, cara bacanya wajib sengau) menyebut karakter macam begini sebagai “manusia seri”, tipikal orang yang cerewet bukan main tapi tak mampu mengubah keadaan. Jomblo-jomblo boleh teriak hingga inthil-inthil di tenggorokannya lepas, tapi toh Ustadz dengan harem-nya masih akan sehat-sehat saja.

Bergurulah pada ahlinya. Jangan sok nyinyir padahal dalam sanubari sebetulnya penuh lubang iri. Ngajilah pada pak Ustadz, datang ke majelis taklim, siapa tau ada janda tersesat yang bisa dipinang.

Hendak berharap Negara akan bisa membatasi ruang gerak laki-laki? Ngimpi!

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 200

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 444

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Editor Picks