
Weton Om Anies ini apa ya?
Pertanyaan ini kami pandang penting demi tercapainya pengetahuan yang komprehensif: dari mana datangnya sikap gagah berani Om Anies itu? Pidato pertamanya pasca dilantik Gubernur DKI Jakarta sungguh menggebrak. Ia sorongkan gagasan tentang superioritas pribumi, dihadapan publik ibu kota yang multikultural! Sebuah keberanian—kalau bukan keajaiban—dari orang bermental Tupperware yang amat kokoh dan awet! Mungkin juga ia datang dari masa depan, yang mampu meramalkan dengan tepat apa dan bagaimana Jakarta musti diperbaiki.
“Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan, kini telah merdeka, saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Om Anies, dengan mata nyalang.
Pembaca ingat, Om Anies juga mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Jadi tentulah ia sadar, paham, dan menguasai manajemen kebudayaan yang serba rumit itu. Tak mungkin ia silap lidah atau keliru omong. Pasti segalanya telah ia ukur, termasuk keberatan pembaca (jika ada), dan tentu juga dukungan dari kami. Mengapa harus didukung?
Sebab, Om Anies punya selera humor yang tinggi dan berkualitas. Celetukan pribumi itu bukti sahihnya. Ia—yang keturunan Arab itu—mencoba untuk menertawakan diri sendiri dengan menyebut-nyebut ihwal pribumi, dimana ia sesungguhnya tak masuk dalam kategori itu. Jadi, bukankah ini level lelucon tertinggi yang patut dipuji, ketika komedian mampu memilih topik untuk menertawakan dirinya sendiri? Tanyalah Indro Warkop, juri kompetisi stand-up comedy, jika tak percaya.
Pembaca boleh mencari daftar pemimpin yang dengan legowo merelakan diri agar ditertawai begitu. Tak banyak!
Ke-Arab-an Om Anies justru makin menonjol dan menjadikan ia sasaran tembak dengan membicarakan pribumi. Lagipula, di muka bumi Indonesia ini, siapa pula yang berani mengklaim diri paling pribumi ketimbang yang lain? Kalau darah pembaca telah bercampur baur darah etnis atau ras lain, apakah masih sah mendaku diri pribumi?
Bagaimana dengan mereka yang lahir-besar di Jawa tapi lalu berpindah kewarganegaraan, misalnya mbak Anggun di belantara Prancis itu? Masihkah ia pribumi?
Juga, lantas dengan apa kita menyebut orang-orang yang tak pernah kenal Indonesia dalam setengah paruh hidupnya, tapi pada akhirnya memutuskan berpindah kewarganegaraan, sebut saja seperti el Loco Christian Gonzales, dan membela timnas Indonesia dalam tiap pertandingan internasional?
Dengan batas apa kita menyebut engkau pribumi dan engkau tidak, adalah sesuatu yang teramat cair dan sukar ditetapkan. Dengan risiko yang ia ketahui itu, Om Anies melempar lelucon. Maka kita selayaknya menaruh hormat padanya.
*Redaksi