Sedang Tuhan Pun Cemburu

Konon, kita telah terjebak pada suatu perputaran hidup yang membuat kita harus memilih: melebur dalam tatanan masyarakat atau melenyapkan standar-standarnya terhadap nilai kemanusiaan. Sebagai makhluk yang tak suka bila dibanding-bandingkan dengan hewan, sudah seyogyanya kita berangkat dari tingkat ciptaan terendah itu menuju pemenuhan akal plus tataran lain dari spiritualisme—kesempurnaan manusia.

Setidaknya, secuil buah pikir Emha Ainun Nadjib itu sudah lahir sejak 1988 dalam bukunya, Sedang Tuhan pun Cemburu. Di dalamnya, terdapat puluhan esai kontemplatif yang ia tulis dari tahun 80 – 90 an.

‘Cak Nun’ secara konsisten menggulirkan gagasan dengan langgam satir bin akrobatik, seolah mendorong pembaca untuk terus tepuk tangan sekaligus bergumam, iya juga ya…

Penulis sekaliber itu tentu melibatkan perspektif beragam dalam tiap tulisannya, dari penghujung universal kemanusiaan sampai pada biji kwaci spiritual yang tak semua orang punya standar sama. Ketika mengarungi per halaman, sepertinya kita dituntun turut hati-hati, tengok kiri kanan, jaga-jaga barangkali ada sekelumit kenakalan hendak keluar dari tubuh kita.

Penulis curiga, mungkin strategi pembagian bab berdasar istilah jalanan macam trayek, traffic light, trotoar, memang ditujukan untuk itu.

Dengan analogi pengalaman berada di jalanan Surabaya yang asu, Cak Nun tak hendak jadi tour guide para pembaca budiman. Sebaliknya, saling mengingatkan, agar tulisan banal macam itu tidak lantas diringkus dalam almari sejarah yang kerap gemboknya dibuang. Mafhum, hampir semua tulisan seolah menuding ke arah pemerintahan saat itu, bukan dengan telunjuk, tapi dengan anekdot yang kadang bikin ketawa, kadang bikin mikir.

Salah satu essai yang berjudul sama dengan buku, misal, merupakan hasil pengamatannya atas gejala kecemburuan di masyarakat. Ada seorang suami yang sampai habis hati menghajar istrinya dengan ber-jirigen minyak tanah berbalut api jeles, hanya karena mendapatinya di-sms cowok lain; atau seorang perempuan yang tega menyantet pacarnya setelah tahu bahwa ia diselingkuhi; serta segenap kecemburuan yang belum bisa dicatat satu persatu.

Bila pacarmu suatu saat ngajak ngobrolsambil pegang jemari dan lirikan mata tak absen melotot—lantas berbisik, cemburu itu tandanya sayang, beb,  jangan langsung naik darah. Coba resapi perlahan, tanyakan lagi, apakah dia sudah wiridan saat ngomong itu.

Suasana kecemburuan macam itu boleh jadi telah menyelinap dalam panggung politik kita yang teatrikal. Saking sayangnya, satu partai tak akan rela jika kadernya sampai keluar dan meminang partai lain. Kalaupun hal itu terjadi, demo berjilid-jilid dengan segera bisa mengguncang aspal ibukota yang sama asunya.

Di sisi lain, seorang lelaki bisa dengan tabah menunggui pacarnya melayani klien di suatu transaksi persenggamaan. Tak ada perselisihan terjadi setelahnya. Kita juga kerap mendapati adegan populer macam ciuman dilakukan oleh para artis dan aktor yang sudah punya pasangan. Malah, beberapa ada yang gilanya menjual pasangan untuk rela memainkan skenario di atas ranjang—demi sebuah kebutuhan materi.

Sebagai bagian dari manusia dan kemanusiaan, akal kita rasanya tak mampu menakar tingkat kewajaran demikian. Betapapun, cemburu bukan sebuah standarisasi oleh tatanan romantik (yang sengaja diciptakan) tentang kapan harus marah dan sikap apa yang perlu ditunjukkan. Toh, ketika masuk ke wacana netijen, simplifikasi kerap sekali dikerjakan: nggak papa-nya cewek itu berarti kenapa-napa.

Tentu, kita boleh cemburu dan tak cemburu. Cak Nun membuat satu paragraf epik,

“Orang cemburu itu posisinya sama dengan orang makan nasi sepiring. Kalau orang itu tak makan sama sekali maka ia berarti membatalkan kehidupan. Tetapi, kalau ia cemburu dengan takaran makan dua atau tiga piring nasi, berarti ia memuakkan kehidupan.”

Dalam permainan kehidupan yang rumit ini, siapa yang menduga bahwa Tuhan pun berhak cemburu? Sejak awal, Tuhan telah menaruh kecintaan pada hamba-hambaNya. Tatkala mereka mulai menuhankan ‘ruh’ lain—Islam menyebutnya syirik—maka jangan heran ketika Tuhan pun jeles, merasa dikhianati.

Pernah mendengar orang baik cepat diambil Tuhan?

Bagi kalian yang tak ingin dan tak bisa cemburu, cemburulah. Ingat-ingatlah bahwa Tuhan itu Maha Cemburu—sekaligus Maha Cinta. Wallahualam bi shawab.