Seharusnya Syahrini menjadi Gubernur… 0 1228

Anugerah terbesar Indonesia hari ini tidak lain adalah Syahrini. Tak ada satu makhluk pun yang bisa membantah perempuan manis bernama lengkap Fatimah Syahrini Jaelani sebagai ciptaan Tuhan yang maha bisa. Pesonanya pernah membuat bintang senior sekelas Anang Hermansyah terkiwir-kiwir, menciptakan banyak ungkapan hits dan dipuja berjamaah oleh netizen, serta mematok tarif endorse hingga ratusan juta untuk sekali postingan promosi darinya di media sosial pribadi—sebuah jumlah yang hampir-hampir menghina akal sehat.

Dari semua kualifikasi yang ia punya, bangsa ini seharusnya sadar betapa mutu yang dipunyai Syahrini sudah semestinya dimanfaatkan dalam dunia politik. Bukan sekedar sebagai pengepul massa yang terkagum-kagum pada bulu mata atau kacamata super-mahalnya, tetapi sebagai Gubernur!

Bagaimana bisa?

 

 

Rendah Hati

Ini adalah mutu Syahrini yang paling utama, yang memantaskan dia menjadi pejabat selevel Gubernur. Kalau tak percaya, dengarkan tembangnya yang berjudul “Jangan Memilih Aku”. Bayangkan saja kalau ia nyanyikan itu—tentu saja dengan gaya centil mendesah—sewaktu berkampanye: simpati akan banjir dan orang bisa rela dan cuma-cuma untuk menjadi hamba politiknya! Sebab, tak ada di muka bumi Indonesia ini satu pun politisi yang berani bilang “jangan pilih aku”.

Religius

Pembaca tau kan, Indonesia sedang haus pemimpin religius. Syahrini adalah solusi yang dijamin anti penistaan agama. Tiap mengawali kalimat, mukadimah dan pembukaan pidatonya akan senantiasa diawali oleh puji-pujian “…alhamdulillah yaah”. Eggi Sudjana dijamin leleh hatinya! Tinggal diberi kerudung, jadilah Syahrini yang Islami bingits.

 

Fleksibilitas

Syahrini akan menerapkan kebijakan yang amat lentur dan fleksibel, juga adaptif. Bandul kebijakannya bisa ia gerakkan maju, juga mundur, “maju mundur cantiiik”. Tak mungkin Syahrini akan dicibir sebagai pemimpin otoriter, fasis atau berkacamata kuda, sebab keterampilannya untuk mengatur ritme sudah diakui dunia (netizen). Kelincahan dalam memimpin semacam ini sedang diperlukan pada Indonesia yang makin gawat bukan?

 

Konkret dan Realistis

Semua proyek pembangunan haruslah “terpampang nyata”. Tak ada sembunyi-sembunyi dan main belakang. Demikian konkretnya janji Syahrini, publik akan dilibatkan untuk melakukan supervisi bersama, mengawasi janji-janji yang satu per satu akan ia buktikan dan wujudkan. Bandingkan dengan janji manis DP 0% yang berubah-ubah. Atau tentang gagasan lucu memindah rute Transjakarta (uhuk).

 

Tak Akan Ada Aksi Demonstrasi Berjilid-jilid

Kalau ada yang protes menjurus keras, bulu mata anti badai dan anti huru-hara akan mendisiplinkannya. Dalam satu-dua kerlipan, Syahrini akan mampu memadamkan aksi demonstrasi paling keras sekalipun. Dengan mata bening dan nyalang, provokator akan dibikin tiarap oleh pesonanya.

 

Sensitif

Rakjat sekarang juga merindu sosok yang tak hanya populer nan flamboyan, tetapi juga sensitif. Harus diakui bahwa Syahrini amatlah peka dalam melakukan kerja-kerja identifikasi masalah: selalu berhasil ia temukan “sesuatuuuu” di tiap-tiap kondisi, sehingga dengan sigap dapat ia selesaikan sebelum menjadi makin buruk.

 

Demikianlah enam karakter yang Syahrini miliki. Lantas, kenapa tak ada satu pun partai politik yang melamarnya untuk menjadi kader? Sebodoh dan sebuta itukah politik kita???? Sedih tau.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 271

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks