Seharusnya Syahrini menjadi Gubernur… 0 1425

Anugerah terbesar Indonesia hari ini tidak lain adalah Syahrini. Tak ada satu makhluk pun yang bisa membantah perempuan manis bernama lengkap Fatimah Syahrini Jaelani sebagai ciptaan Tuhan yang maha bisa. Pesonanya pernah membuat bintang senior sekelas Anang Hermansyah terkiwir-kiwir, menciptakan banyak ungkapan hits dan dipuja berjamaah oleh netizen, serta mematok tarif endorse hingga ratusan juta untuk sekali postingan promosi darinya di media sosial pribadi—sebuah jumlah yang hampir-hampir menghina akal sehat.

Dari semua kualifikasi yang ia punya, bangsa ini seharusnya sadar betapa mutu yang dipunyai Syahrini sudah semestinya dimanfaatkan dalam dunia politik. Bukan sekedar sebagai pengepul massa yang terkagum-kagum pada bulu mata atau kacamata super-mahalnya, tetapi sebagai Gubernur!

Bagaimana bisa?

 

 

Rendah Hati

Ini adalah mutu Syahrini yang paling utama, yang memantaskan dia menjadi pejabat selevel Gubernur. Kalau tak percaya, dengarkan tembangnya yang berjudul “Jangan Memilih Aku”. Bayangkan saja kalau ia nyanyikan itu—tentu saja dengan gaya centil mendesah—sewaktu berkampanye: simpati akan banjir dan orang bisa rela dan cuma-cuma untuk menjadi hamba politiknya! Sebab, tak ada di muka bumi Indonesia ini satu pun politisi yang berani bilang “jangan pilih aku”.

Religius

Pembaca tau kan, Indonesia sedang haus pemimpin religius. Syahrini adalah solusi yang dijamin anti penistaan agama. Tiap mengawali kalimat, mukadimah dan pembukaan pidatonya akan senantiasa diawali oleh puji-pujian “…alhamdulillah yaah”. Eggi Sudjana dijamin leleh hatinya! Tinggal diberi kerudung, jadilah Syahrini yang Islami bingits.

 

Fleksibilitas

Syahrini akan menerapkan kebijakan yang amat lentur dan fleksibel, juga adaptif. Bandul kebijakannya bisa ia gerakkan maju, juga mundur, “maju mundur cantiiik”. Tak mungkin Syahrini akan dicibir sebagai pemimpin otoriter, fasis atau berkacamata kuda, sebab keterampilannya untuk mengatur ritme sudah diakui dunia (netizen). Kelincahan dalam memimpin semacam ini sedang diperlukan pada Indonesia yang makin gawat bukan?

 

Konkret dan Realistis

Semua proyek pembangunan haruslah “terpampang nyata”. Tak ada sembunyi-sembunyi dan main belakang. Demikian konkretnya janji Syahrini, publik akan dilibatkan untuk melakukan supervisi bersama, mengawasi janji-janji yang satu per satu akan ia buktikan dan wujudkan. Bandingkan dengan janji manis DP 0% yang berubah-ubah. Atau tentang gagasan lucu memindah rute Transjakarta (uhuk).

 

Tak Akan Ada Aksi Demonstrasi Berjilid-jilid

Kalau ada yang protes menjurus keras, bulu mata anti badai dan anti huru-hara akan mendisiplinkannya. Dalam satu-dua kerlipan, Syahrini akan mampu memadamkan aksi demonstrasi paling keras sekalipun. Dengan mata bening dan nyalang, provokator akan dibikin tiarap oleh pesonanya.

 

Sensitif

Rakjat sekarang juga merindu sosok yang tak hanya populer nan flamboyan, tetapi juga sensitif. Harus diakui bahwa Syahrini amatlah peka dalam melakukan kerja-kerja identifikasi masalah: selalu berhasil ia temukan “sesuatuuuu” di tiap-tiap kondisi, sehingga dengan sigap dapat ia selesaikan sebelum menjadi makin buruk.

 

Demikianlah enam karakter yang Syahrini miliki. Lantas, kenapa tak ada satu pun partai politik yang melamarnya untuk menjadi kader? Sebodoh dan sebuta itukah politik kita???? Sedih tau.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 340

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Surat untuk Bu Pemred dan Semua Anak Jakarte 0 124

Jokowi yang baru-baru saja melempar isu ibukota baru harus bertanggung jawab pada banyak hal. Mula-mula, ehm, ya tentang tuduhan bahwa “Jakarta baru” di Borneo sana adalah semacam pembelokan isu. Tapi tuduhan macam ini biasanya diselesaikan oleh buzzer-buzzer aktip kreatip, jadi kita skip untuk sementara.

Soal serius dari ini: siapa yang mengobati sakit hati Bu Demes yang sudah telanjur tinggal di Jakarta, dan ketika lagi sayang-sayangnya malah ditinggal minggat status ke-ibukota-annya? Berlaku pula teruntuk pesohor-pesohor yang menjadi besar nyali artisnya lantaran status ibukota.

Saya pernah suatu ketika menyimak obrolan superior mahasiswa “lo-gue” yang di telinga bikin geli tapi menarik. Mereka membahas mengapa hidup di Jakarta “ngangenin”, kendati macetnya sungguh luar bioskop, belum lagi polutan-polutan yang biadab. Kata salah satu tokoh dalam obrolan itu (tampaknya ia salah satu selebgram, dilihat dari alis mata dan warna semir rambutnya yang, ehm, keluar lintasan): “..yaa gimana2 jakarta tuh pusat. Lo mo ngomong macet kek, tapi semua-mua dari sana”.

Asoi betul logikanya. Dan dalam beberapa hal betul.

Tapi apa yang ditawarkan Jokowi dari perpindahan Ibukota? Atau sebetulnya tak perlu resep penawar apa-apa bagi mereka yang sudah telanjur sayang? Bagi mereka yang sudah kepalang mengadu nasib di Jakarta? Atau, yang paling gaswat, jangan-jangan tak perlu solusi apapun tentang ini karena perpindahan itu ada atau tiadanya tak punya dampak apapun?

Apa mau syahrini pindah ke Kaltim dan menjadi artis bau tambang? Atau sinetron-sinetron menjadi belepotan dan pada akhirnya membuat semacam reality show “apa dan bagaimana hidup di tengah tambang”?

Jika pada akhirnya perpindahan ibukota Cuma soal pindah status, yaa lalu yang berpindah apanya. Apakah tak ada cara lain yang lebih elegan untuk bakar duit?

Skian dan terima gadis.

 

Joni Locke

Belajar filsahwat, merantau ke negeri jauh.

Editor Picks