Seratus Cara Menyelamatkan Nyawa dari Sidang Skripsi 0 1855

Seumur hidup, selain sunat dan  ijab kabul, momen sidang skripsi adalah salah satu masa ketika jantung kita relakan copot saja. Terbayang di ruang sana bahwa dosen menjelma sebagai dalbo yang sewaktu-waktu bisa menggilas dan meng-untal mahasiswa.

Entah kenapa karya akhir skripsi selalu menghantui imajinasi tiap-tiap kepala mahasiswa. Nyaris semua jurus sudah dikuasai—mulai dari melatih presentasi di depan cermin, menabung bahan pustaka sekaya mungkin, menyatroni kediaman dosen pembimbing, menjumput tanah makam dan menebar ke rumah pembimbing, dan sejenisnya—tapi selalu belum tuntas untuk menggapai nilai terbaik dalam skripsi.

Bagi mereka yang kapasitas otaknya mini, yang sekedar menyusun satu kalimat saja harus didahului ayat kursi, sebaiknya waspada. Sebab, mereka yang pintar dan jenius saja bisa terpeleset kalau tak hati-hati. Pembaca tahu kan, terlalu banyak faktor x dalam ruang sidang. Mood buruk penguji misalnya: sebaik apapun argumentasi mahasiswa, kalau pagi tadi dosen penguji itu dahinya tak sengaja diguyur tai perkutut, tentu semua dunia akan dilihatnya salah belaka. Seluruh dunia!

Nah, agar terhindar dari tai nasib buruk, maka redaksi kalikata.id kali ini akan membagi kiat-kiat mempertahankan hidup di sidang skripsi.

Berikut seratus cara menyambung nyawa di meja sidang skripsi:

 

Bohong sedikit-sedikit boleh, asal jangan kebanyakan

Seperti micin, sedikit saja sudah enak. Kalau banyak bikin goblok. Prinsip micin ini sebaiknya dicamkan dalam menjalankan operasi kebohongan yang terpaksa kita lakukan. Kalau sebuah pertanyaan tak berhasil kita jawab, sebaiknya kita akali dengan kebohongan. Misal muncul pertanyaan: jelaskan dalam skripsi anda mengapa kids jaman now suka sekali gadget berlogo apel krowak? Mahasiswa yang tak tau jawabnya berbohong saja, contohnya, “karena dalam penelitian Materrazzi (cari nama sulit biar dosen percaya) di tahun 2009 disebutkan bahwa ada hubungan antara kegagalan KB dan penjualan apel krowak”.

 

Selalu minta sidang terbuka untuk umum

Jangan gengsi dan terlalu percaya diri dengan minta ujian tertutup, seolah-olah atimu terbuat dari hape Mito (hapenya master Limbad) yang tahan banting. Mengusulkan sidang terbuka akan lebih baik sebab kedatangan kawan-kawan sebagai penonton akan mengintimidasi penguji secara tidak langsung. Beri briefing kode-kode lebih dulu pada mereka. Misal, kalau anda berdehem, maka pemimpin rombongan penonton akan memekik: cemungudh kakh.

Atau cara lain, bawa orang tua masuk, sekaligus sesepuh desa dan kamitua kampung.

 

Pelajari kebiasaan penguji

Mahasiswa mutlak mengetahui tradisi-tradisi sebelumnya yang pernah dilakukan oleh penguji. Pelajari tipe pertanyaannya, emosinya dalam tiap komentar, gerak mata, sampai perpindahan bokong di kursi. Ini penting karena mahasiswa musti tahu suasana batiniah penguji, sedang baikkah dia atau sedang buruk. Menghapal tipe pertanyaan juga pasti menolong karena akan mudah diantisipasi jawabannya.

 

Pilih tanggal berbeda dari weton

Tadi sudah dibilang bahwa ada banyak faktor x kan? Selalu upayakan dengan taruhan nyawa agar tanggal sidang tidak sama dengan weton lahir. Sebab, pada hari lahir weton, keapesan mudah datang. Mood juga mudah berubah dan tak tentu, sedetik penuh tawa dan dalam detik berikutnya penuh birahi. Ini tentu tak ingin kita alami dalam sidang bukan?

 

Dandan serius

Berdandanlah seolah-olah mau mati. Artinya, beri sentuhan make-up seserius mungkin. Setidaknya ini mampu menggeser fokus penguji, dari keinginan mengomentari skripsi, menjadi keharusan mengomentari tampilan. Kalau dianjurkan memakai kemeja putih, coba modifikasi kemeja itu, misalnya dengan menambahkan hiasan ikat yang melingkari dagu hingga kepala. Kelihatannya cara yang remeh, tapi manfaatnya pasti tampak lho.

Itu tadi baru empat cara menyelamatkan diri dari sidang skripsi. Sembilan puluh enam cara lain akan dicicil di kemudian hari. Nunggu ide mampir.

 

Disclaimer: bila panduan di atas gagal total dan menyebabkan skripsi ditolak, disobek, dicampakkan, dan diasingkan oleh penguji, harap maklum. Kan, penentu segalanya di dunia ini cuma Gusti Allah 🙂

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 299

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Analisis Sok Serius Atas Mahasiswa dan Panduan Memahami Selebaran Tadi Pagi 0 353

Sebuah selebaran mampir di tanganku, diantar seorang lelaki muda dengan mata berbinar.

“Dibaca, Mas!”

Sebetulnya itu basa-basi saja, tapi mungkin lelaki ini agak meragukan tampang-tampang tipikal yang dikira masa bodoh dan mempersetankan selebaran macam begini. Tentu saja ia salah, meskipun agak sedikit benar pada bagian ‘bodoh’ dan ‘setan’.

Kulirik agak setengah hati selebaran yang masih hangat dan licin dari fotokopian itu. Tulisannya hitam, tebal, dan besar:

QUO VADIS MAHASISWA?

Saya pastikan sekali lagi untuk tidak keliru membaca. Ini penting, pembaca yang budiman, sebab orang macam apa hari ini yang masih: 1) mempertanyakan mahasiswa; dan 2) menganggap mahasiswa ada?!

Bukankah sudah sedemikian jelas dan telanjang bahwa tak ada lagi itu mahasiswa, kecuali jika merujuk kumpulan manusia yang hilir-mudik di gedung itu-itu saja? Orang-orang ini uniknya bukan main. Mereka tahan dalam kepura-puraan, menghidupi rutinitas yang mereka sendiri tak mengerti betul untuk apa, dan menuntut banyak sekali hal—terlalu banyak bahkan—yang amat lacur.

Jadi aku tak tahu apa maksudnya pertanyaan besar dalam selebaran itu.

Lebih-lebih ketika penulisnya menerapkan kaidah satir, yang menyindir-nyindir dan menipu pembacanya seolah-olah sang penulis beraksi serius. (Atau justru ia memang berlagak serius?) Masih relevankah mencoba menggali ulang dan mengais jawaban yang tersisa dari misteri itu pada masa sekarang—masa tatkala senja mendarat cepat di kepala kelompok-kelompok ingusan yang hobi liburan dan jajan? Pada mereka yang ‘rupamu ketulung gadget-mu’?

Atau sebetulnya ada yang tak kutahu dari mereka? Atau sebetulnya ada argumentasi yang dapat diandalkan untuk membela diri? Yaa… misalnya, bahwa hobi liburan harus dikerjakan demi membahagiakan mama yang terus-menerus cerewet di rumah. Kalau bukan, ya demi merawat hubungan romantik dengan pacar di zaman postmodern yang penuh instabilitas ini. Begitu?

Kau tahu kan, di mana letak kelompok ini ketika sejarah konflik politik makin mengeras dan beringas seperti sekarang? Di mana mereka sewaktu tempatnya belajar disergap banyak nian jebakan kapitalisme pendidikan? Atau di mana mereka ketika nyaris semua data-data pembangunan menggilas orang-orang yang terpinggir dan dipinggirkan?

Laki-laki muda bertas selempang itu masih berdiri membagi-bagikan selebaran, berjarak barang selemparan batu saja dari tempatku terduduk. Matanya masih berbinar tapi suaranya pelan, seperti berada di persimpangan antara semangat dan keputusasaan.

Sore lekas mengepung kampus yang tampak murung itu. Dan di sana aku berhenti membaca kalimat-kalimat berikutnya, yang bisa kutebak isi dan arahnya. Kulipat selebarannya dan meluncurlah ia ke saku. Suatu hari akan kukeluarkan kembali, ketika ruh mereka yang telah lama minggat sudah balik lagi.

Editor Picks