Setelah Hari Santri, adakah Hari Anak IPS? 0 1542

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Karena saya bukan seorang santri (walaupun merokok dan ngopi) dan tidak merasa harus terlibat dalam seremonial hari Santri, bolehlah saya ajukan perayaan lain yang barangkali bisa dipertimbangkan oleh pemangku kuasa, yakni Hari Anak IPS. Kalaupun ada jurusan lain yang luput dari tulisan ini, maka itu tidak lebih dari kurangnya kapasitas saya dalam menjelaskan.

Sampai sejauh ini, sejujurnya, saya masih curiga bahwa stereotip negatif terhadap anak IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) adalah telur propaganda Orde Baru. Tujuannya supaya anak-anak sekolah itu tidak perlu bergelut dengan ilmu-ilmu yang tentu saja bisa menyadarkan orang banyak bahwa sedang ada masalah sosial di bawah rezim Soeharto.

Sejak terakhir saya memakai baju putih-abu, sebagai anak IPS, saya terbiasa dicap sebagai anak nakal: suka balapan (kompetisi), coret tembok sekolahan (mural), bikin guru nangis (debat), sulit diatur (kritis), langganan dipanggil orang tua (silaturahmi), dsb. Ketahui lah, semua mitos ini seringkali dibenarkan begitu saja. Dan tanpa disadari, semua kegiatan yang menjadi indikator kenakalan tersebut sesungguhnya tidak lebih dari hobi seorang anak yang mencoba produktif.

Tren pendidikan yang timbul pada masa Orba terbagi menjadi sempit, yakni, masuk IPA sebagai pembuat pesawat atau mondok di Pesantren sebagai cendekiawan. Anak-anak yang bercita-cita menjadi sosok seperti Habibie misalnya, akan segera memasang jalur pendidikan yang bersinggungan dengan permesinan. Dan jelas saja pembelajaran model tersebut tidak akan didapatkan anak IPS (kecuali mereka yang suka balapan).

Selanjutnya masyarakat tradisional yang masih berpikiran bersih dan jauh dari propaganda akan menitipkan anak-anak mereka di pondok, supaya sepulangnya nanti bisa membuat sejuk sekampung dengan ajaran agama yang didapatkan dari hasil mengabdi pada kyai.

Sedangkan mereka yang memasuki zona Ilmu Sosial dianggap telah menanamkan dalam diri mereka embrio seorang free man (istilah keminggris biar halus, alias: tukang palak). Walau di celah terkecil prasangka itu, terdapat kekhawatiran bahwa mereka akan turut besar menjadi seorang intelektual-organik.

Derajat intelektualitas mereka bisa dianalisis dari hal-hal serius hingga yang paling remeh-temeh. Saat ini FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) terbukti sebagai miniatur negara, merekalah yang bertindak setiap terjadi kekeliruan dalam negara dan kudu memposisikan diri di barisan terdepan. Di dalam fakultas ini para pelajar ilmu sosial meneruskan tugasnya – meneruskan perjuangan. Ini contoh serius.

Anak IPS memiliki kepekaan sosial yang sudah terasah dibandingkan anak dari bidang keilmuan lain. Jika tema romantis boleh dijadikan contoh remeh untuk membuktikan potensi anak IPS, maka, anak IPS bisa dipastikan idaman. Lebih lucu ketimbang anak IPA yang hanya menawarkan agenda kencan sambil ngerjain-PR. Anak IPS memiliki kekayaan topik yang didapat melalui observasi sosial dan membuat pasangan tak henti merasa terhibur.

Sering kita temui juga anak IPA merasa jenuh, meski tidak, tidak semua. Saya hanya membungkus pendapat dominan mereka yang kecewa atas jurusannya ini. Entah masalah pelajaran yang tidak asik: penuh rumus dan keruwetan menjawab soal. Atau teman-teman kelas mendadak kutu buku.

Saya ingat betul bagaimana anak IPS dulu didiskriminasi oleh lingkungannya karena dipandang tidak berprestasi dan jarang menyumbang piala. Jelas saja, dari hasil penelitian sambil main PS selama menjadi pelajar, saya melihat TV/media selalu memberitakan keunggulan anak IPA yang berprestasi dalam berbagai olimpiade ilmu eksak. Ditambah sumbangan sutradara Faozan Rizal dengan penokohan BJ Habibie yang diperankan secara heroik oleh Reza Rahadian, membuat semakin banyaknya generasi muda bercita-cita menekuni ilmu eksak dan meminggirkan aktivitas sosial dari agenda masa depannya.Walau di sisi lain anak IPS juga mencapai prestasi serupa.

Untuk itu saya menawarkan kepada pemangku kuasa, agar segera menjadwalkan Hari Anak IPS. Walau penetapan hari peringatan butuh kesepakatan antar elit politik, tapi setidaknya pemerintah mau berbaik hati untuk memerdekakan anak IPS dari stereotip yang mengurung mereka selama ini.

Sebelumnya, izinkan saya memberi harap pada para santri dan meminta doa semoga anak IPS (dan lainnya) bisa cepat menyusul dan merayakan peringatan bersama. Semoga santri cetusan mazhab mana pun dapat selalu menjadi teladan umat. Menjadi anti-tesa gerakan radikal, memberi solusi tanpa harus mencederai identitas agama. Dan saya kira, semua pelajar dengan bidang keilmuannya masing-masing telah teridentikkan oleh berbagai cerita. Apakah semua itu dibenarkan/disalahkan, setidaknya para pelajar masih mempunyai satu kesamaan, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut andil menghapuskan segala jenis penjajahan di dunia. Wenak…

“Santri bukan yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak seperti santri, dialah santri” kata Gus Mus.

Selamat Hari Santri 2017.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasib Pegawai KPK Kritis dan Doa untuk Mereka 0 159

Kemarin 1.271 pegawai KPK yang lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) akhirnya sudah dilantik. Kini mereka resmi jadi abdi negara, meninggalkan 75 yang tak lolos.

Tim dokumenter dengan jejaring sangar macam Watchdoc dan kesayangan kita semua, Najwa Shihab, sudah mewawancarai mereka, mengungkap kejanggalan TWK. Pertanyaan-pertanyaan aneh macam urusan rumah tangga, perceraian, gaya pacaran, hingga aliran agama muncul selama sesi tes seleksi wawancara.

Masalahnya, 75 orang yang tidak lolos ini bukan sembarangan personil. Dari antara 75 orang itu, 13 di antaranya adalah penyidik yang berperan penting sebagai lokomotif penggerak berjalannya KPK selama ini. Sebut saja Novel Baswedan, yang kita semua tahu telah berhasil mengungkap kasus besar macam korupsi e-KTP dengan dalang Setya Novanto. Ada pula Rizka Anungnata, penyidik kasus benih lobster yang menyeret mantan Menteri KKP, Edhy Prabowo. Sampai Ronal Paul, yang tengah menangani kasus buron yang ghosting satu negeri ini, Harun Masiku.

Orang-orang ini kini tak bisa melanjutkan kasusnya, dinonaktifkan karena tak lolos tes, bahkan terancam termasuk dari 51 orang yang katanya tak lagi bisa dibina. Dalam kata lain yang lebih mudah namun kasar, sama saja dengan orang bebal.

Orang-orang berprestasi ini mungkin cerminan dari orang kritis. Di satu sisi, Indonesia ini sangat butuh orang-orang kritis agar bisa maju memperbaiki sistem dan mentalitas yang terlanjur bobrok. Tapi atas nama kestabilan, orang-orang macam inilah yang dianggap sebagai penghancur dan pembangkang. Termasuk dalam logika bisnis korporasi, pegawai yang ndablek atau berani melawan pemimpinnya pasti ditendang.

Susah dong ya jadi orang kritis di negara ini? Ya memang bakal susah kalau kamu terlalu radikal, berani bicara dan melawan yang salah. Lantas apa yang harus dilakukan?

Kalau kata pepatah, diam adalah emas. Itu mungkin akan sangat berlaku buat kalian-lalian yang punya pemikiran revolusioner. Jangan keburu emosi dulu! Diam memang tak selamanya baik, dan malah berujung malapetaka karena mendiamkan sesuatu yang salah. Kalau kata mantan komisioner KPK dan pengurus PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas: “membiarkan kejahatan itu sama artinya dengan melakukan kejahatan”.

Saya jadi teringat suatu kisah penyebaran dan perjalanan agama Kristen di Jepang. Alkisah, agama Katolik disebarkan pertama kali oleh misionaris Jesuit dari Portugal tahun 1560-an. Lambat laun, jumlah penganut Kristen bertambah banyak dan pesat. Penguasa politik Jepang merasa terancam dan memutuskan untuk menumpas mereka.

Larangan beribadah ditetapkan. Bahkan memerintahkan semua umat Kristiani menginjak fumie, lempengan tembaga bergambar Yesus disalib pada papan kayu. Tujuannya jelas, untuk mematahkan kepercayaan mereka. Sejarah mengatakan ada sekitar 2 ribu orang meninggal menjadi martirkarena menolak menginjak fumie, tetap setia pada imannya.  Which is (cielah gaya bahasa jaksel), keren.

Tapi, tak sedikit pula yang memilih ingkar, mereka injak fumie, dan tetap hidup. Mereka berpura-pura meninggalkan agamanya, tapi tetap beribadah secara diam-diam. Mereka lah yang membuat penganut Kristiani masih ada di Jepang sampai sekarang. Coba bayangin kalau semua memilih jadi “pahlawan” dan rela mati, mungkin agama Katolik akan benar-benar punah.

Kisah ini saya lihat hampir sama dengan yang terjadi di KPK hari ini. Harapannya, ada beberapa dari 1200 yang lolos TWK itu, adalah orang-orang yang diam-diam “nurut”, menjawab dengan cara aman tes-tes wawancara yang diajukan asesor. Mereka menyembunyikan jati diri kritis, demi bertahan hidup, tetap berada dalam sistem lembaga pemberantas korupsi, dan membawa integritas ke depan. Jika benar demikian, kita tak perlu khawatir KPK akan ambruk.

Lalu bagaimana dengan 51 pegawai yang tak lagi bisa dibina itu? Perjuangan di luar KPK untuk memberantas korupsi masih panjang. Bisa melalui organisasi, lembaga bantuan hukum, dan bertindak sebagai pengamat atau penasehat. Sebab, berlian tetap bisa bersinar di mana saja walaupun ditempa sedemikian rupa. Semoga.

 

*)Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Dukun Abal-abal dan Fitnah pada Genderuwo Nakal 0 210

Oleh: Yogi Dwi Pradana*

 

Nasib tragis dialami seorang bocah perempuan berusia 7 tahun bernama Aisyah. Ia menjadi sebuah korban percobaan dukun abal-abal di Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Aisyah meninggal dunia setelah disuruh memakan cabai dan bunga mahoni oleh dukun abal-abal tersebut, serta ia diminta menenggelamkan kepala di dalam air untuk mengetahui apakah benar Aisyah ini keturunan genderuwo atau bukan.

Kisah ini tragis, tapi juga aneh. Sebab, setahu saya dari cerita rakjat, genderuwo tidak seiseng itu untuk merasuki anak kecil dan membuatnya jadi nakal. Salah satunya adalah Mbah Wagini dari Alas Purwo. Ia diyakini sebagai seorang keturunan genderuwo dengan seluruh badannya ditumbuhi bulu lebat.

Walaupun terlihat menakutkan, Mbah Wagini di alam gaib adalah makhluk yang dipuja. Begitu kata Eyang Ratih, pengasuhnya sejak kecil. Dan dia tidak nakal ya, ingat. Gak semua genderuwo seperti kata dukun abal-abal itu.

Poin lain yang mengherankan bagi saya dari peristiwa ini adalah, motivasi sang orang tua membawa Aisyah ke dukun. Tentu, setelah bertahun-tahun mengasuhnya, mereka sampai pada titik lelah, sehingga tak sanggup lagi mengatasi kenakalan si anak dengan kekuatannya sendiri.

Padahal, bukankah 7 tahun adalah usia normal anak bersikap aktif dan banyak tingkah misalnya, jika demikian yang dikategorikan nakal oleh kebanyakan orang. Di usia ini, anak sudah siap masuk ke jenjang sekolah dasar dan siap beradaptasi dengan hal-hal yang baru ia temui. Justru peranan orang tua dalam mendidik anak di usia ini sangat penting.

Menurut saya yang belum punya anak ini, masih ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendidik anak nakal usia 7 tahun. Misalnya, mengedepankan komunikasi dengan anak. Aktif berbincang untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan si anak. Selanjutnya, ajak anak untuk terbiasa mengatasi masalah secara bersama-sama. Orang tua tugasnya kan membimbing, bukan cuma ngasih makan.

Beberapa poin yang saya sebut tadi, ujungnya adalah agar orang tua bisa mengenali sisi emosi anak. Kalau orang tua kesusahan, “anak nakal” seharusnya bisa diatasi oleh ahlinya. Konsultasi ke psikolog misalnya.

Anak yang nakal seharusnya mendapat edukasi dari orang tua, bukan malah dibawa ke dukun untuk dirukiyah. Kan kita semua tahu, sudah banyak kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika menyelesaikan masalah dengan dukun.

Salah satu kisah soal ini datang Nanang (bukan nama sebenarnya) dari Tasikmalaya, Jawa Barat yang mengaku sebagai dukun. Alih-alih mengobati pasien, Nanang meminta pasien-pasien yang datang padanya untuk melayani hasrat seksualnya.

Eits, tapi tidak semua dukun itu abal-abal dan nol keahlian ya. Nyuwun pangapunten Mbah Dukun! Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk melarang pembaca datang ke dukun (semua kembali ke kepercayaan masing-masing).

Tapi dari pengalaman ini kita belajar, untuk mengatasi persoalan dengan hati dan wawasan yang luas. Jika sudah mentok dengan usaha sendiri, baiknya memang datang ke pakar dengan ilmu yang pasti-pasti aja.

 

*)Seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di organisasi Susastra KMSI UNY, bergiat di komunitas sastra Lampu Tidurmu, dan menjadi penulis artikel di UNY Community.

*) Ilustrasi oleh Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks