Setelah Hari Santri, adakah Hari Anak IPS? 0 1328

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Karena saya bukan seorang santri (walaupun merokok dan ngopi) dan tidak merasa harus terlibat dalam seremonial hari Santri, bolehlah saya ajukan perayaan lain yang barangkali bisa dipertimbangkan oleh pemangku kuasa, yakni Hari Anak IPS. Kalaupun ada jurusan lain yang luput dari tulisan ini, maka itu tidak lebih dari kurangnya kapasitas saya dalam menjelaskan.

Sampai sejauh ini, sejujurnya, saya masih curiga bahwa stereotip negatif terhadap anak IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) adalah telur propaganda Orde Baru. Tujuannya supaya anak-anak sekolah itu tidak perlu bergelut dengan ilmu-ilmu yang tentu saja bisa menyadarkan orang banyak bahwa sedang ada masalah sosial di bawah rezim Soeharto.

Sejak terakhir saya memakai baju putih-abu, sebagai anak IPS, saya terbiasa dicap sebagai anak nakal: suka balapan (kompetisi), coret tembok sekolahan (mural), bikin guru nangis (debat), sulit diatur (kritis), langganan dipanggil orang tua (silaturahmi), dsb. Ketahui lah, semua mitos ini seringkali dibenarkan begitu saja. Dan tanpa disadari, semua kegiatan yang menjadi indikator kenakalan tersebut sesungguhnya tidak lebih dari hobi seorang anak yang mencoba produktif.

Tren pendidikan yang timbul pada masa Orba terbagi menjadi sempit, yakni, masuk IPA sebagai pembuat pesawat atau mondok di Pesantren sebagai cendekiawan. Anak-anak yang bercita-cita menjadi sosok seperti Habibie misalnya, akan segera memasang jalur pendidikan yang bersinggungan dengan permesinan. Dan jelas saja pembelajaran model tersebut tidak akan didapatkan anak IPS (kecuali mereka yang suka balapan).

Selanjutnya masyarakat tradisional yang masih berpikiran bersih dan jauh dari propaganda akan menitipkan anak-anak mereka di pondok, supaya sepulangnya nanti bisa membuat sejuk sekampung dengan ajaran agama yang didapatkan dari hasil mengabdi pada kyai.

Sedangkan mereka yang memasuki zona Ilmu Sosial dianggap telah menanamkan dalam diri mereka embrio seorang free man (istilah keminggris biar halus, alias: tukang palak). Walau di celah terkecil prasangka itu, terdapat kekhawatiran bahwa mereka akan turut besar menjadi seorang intelektual-organik.

Derajat intelektualitas mereka bisa dianalisis dari hal-hal serius hingga yang paling remeh-temeh. Saat ini FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) terbukti sebagai miniatur negara, merekalah yang bertindak setiap terjadi kekeliruan dalam negara dan kudu memposisikan diri di barisan terdepan. Di dalam fakultas ini para pelajar ilmu sosial meneruskan tugasnya – meneruskan perjuangan. Ini contoh serius.

Anak IPS memiliki kepekaan sosial yang sudah terasah dibandingkan anak dari bidang keilmuan lain. Jika tema romantis boleh dijadikan contoh remeh untuk membuktikan potensi anak IPS, maka, anak IPS bisa dipastikan idaman. Lebih lucu ketimbang anak IPA yang hanya menawarkan agenda kencan sambil ngerjain-PR. Anak IPS memiliki kekayaan topik yang didapat melalui observasi sosial dan membuat pasangan tak henti merasa terhibur.

Sering kita temui juga anak IPA merasa jenuh, meski tidak, tidak semua. Saya hanya membungkus pendapat dominan mereka yang kecewa atas jurusannya ini. Entah masalah pelajaran yang tidak asik: penuh rumus dan keruwetan menjawab soal. Atau teman-teman kelas mendadak kutu buku.

Saya ingat betul bagaimana anak IPS dulu didiskriminasi oleh lingkungannya karena dipandang tidak berprestasi dan jarang menyumbang piala. Jelas saja, dari hasil penelitian sambil main PS selama menjadi pelajar, saya melihat TV/media selalu memberitakan keunggulan anak IPA yang berprestasi dalam berbagai olimpiade ilmu eksak. Ditambah sumbangan sutradara Faozan Rizal dengan penokohan BJ Habibie yang diperankan secara heroik oleh Reza Rahadian, membuat semakin banyaknya generasi muda bercita-cita menekuni ilmu eksak dan meminggirkan aktivitas sosial dari agenda masa depannya.Walau di sisi lain anak IPS juga mencapai prestasi serupa.

Untuk itu saya menawarkan kepada pemangku kuasa, agar segera menjadwalkan Hari Anak IPS. Walau penetapan hari peringatan butuh kesepakatan antar elit politik, tapi setidaknya pemerintah mau berbaik hati untuk memerdekakan anak IPS dari stereotip yang mengurung mereka selama ini.

Sebelumnya, izinkan saya memberi harap pada para santri dan meminta doa semoga anak IPS (dan lainnya) bisa cepat menyusul dan merayakan peringatan bersama. Semoga santri cetusan mazhab mana pun dapat selalu menjadi teladan umat. Menjadi anti-tesa gerakan radikal, memberi solusi tanpa harus mencederai identitas agama. Dan saya kira, semua pelajar dengan bidang keilmuannya masing-masing telah teridentikkan oleh berbagai cerita. Apakah semua itu dibenarkan/disalahkan, setidaknya para pelajar masih mempunyai satu kesamaan, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut andil menghapuskan segala jenis penjajahan di dunia. Wenak…

“Santri bukan yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak seperti santri, dialah santri” kata Gus Mus.

Selamat Hari Santri 2017.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Panduan Nyinyir Berhadiah ala Fahri Hamzah 0 259

Pertama-tama, saya ingin memberi selamat kepada Fahri Hamzah atas prestasi yang ditorehkan  baru-baru ini (13/8). Politikus Partai Gelora ini baru saja menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Naraya 2020 dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) . Tentu ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa, bahkan politikus – yang kini menjadi komisaris Pertamina –  yang tegas melawan korupsi seperti Basuki Tjahaja Purnama pun belum pernah mendapat award super bergengsi ini.

Penghargaan ini sendiri diberikan kepada Fahri Hamzah lantaran keaktivannya dalam “mengkritik” pemerintahan Jokowi. Menurut Fahri, penghargaan yang ia terima dapat dijadikan pelajaran bagi semua orang dalam pemerintahan supaya menghormati kritik. Selain itu, ia menilai bahwa penghargaan ini merupakan bukti bahwa pemerintah tetap menghargai kritik.

Tumben lihat Fahri Hamzah memuji pemerintah? Iya, saya juga baru kali ini baca komentar positif tentang pemerintah dari Fahri Hamzah.

Selama ini, anggota DPR RI yang satu ini dikenal sebagai politikus yang nyinyir, doyan mengkritik apapun yang dilakukan pemerintah. Bahkan, warga net menjulukinya sebagai Lord Fahri karena hanya dialah yang serba benar di negeri +62 ini.

Akan tetapi, pandangan warga net tersebut berbeda di mata Jokowi. Bagi Jokowi, ke-nyinyir-an Lord Fahri merupakan kekritisan yang sangat dibutuhkan pemerintah. Setiap butir dari kesewotan yang dilontarkan Lord Fahri bisa menjadi feedback negatif dan juga input bagi kebijakan-kebijakannya.

Berita Lord Fahri yang meraih penghargaan ini tak pelak menjadi trending di media sosial. Banyak yang kaget kenapa teman “duet” nyinyir Fadli Zon ini bisa mendapat penghargaan dari Jokowi. Banyak yang berasumsi ini adalah akal-akalan rezim pemerintah untuk membuat Fahri Hamzah “sungkan” mengkritiknya.

Dilansir dari Tempo.co, ia menampik dugaan netizen tersebut. Ia mengatakan bahwa dengan dipilihnya ia sebagai penerima penghargaan tidak akan menghentikannya menjadi nyinyir kritis. Ia menambahkan bahwa ia akan terus mengkritik karena presidennya menghargai kritik.

Seharusnya kita dapat melihat hal ini dalam sisi positif. Award yang diraih Lord Fahri ini membukakan mata kita bahwa nyinyir tak selamanya buruk. Tahu tempe kah kamu? Untuk menjalankan sistem agar tetap on the track, sistem tersebut butuh sekali feedback negatif. Maka dari itu, pemerintah (baca: Jokowi) memberi penghargaan sebagai ucapan terima kasih karena membantu sistem pemerintahannya tidak keluar jalur.

Setelah tahu nyinyir rupanya tidak selalu negatif, apakah kita juga boleh nyinyir juga seperti Lord Fahri?

Tentu boleh, tapi coba tanyakan dulu dirimu. Apakah Pembaca yang budiman ini konglomerat penyumbang pajak terbanyak? Petinggi Partai? Anggota DPR? Atau punya pengaruh terhadap kelanggengan kekuasaan rezim pemerintah?

Kalau status Anda tidak memenuhi yang saya sebut di atas, mohon maaf Anda belum bisa “nyinyir yang baik” seperti Lord Fahri. Sekadar mengingatkan, kalau tidak punya posisi atau pengaruh, masih ada UU ITE serta pasal penghinaan presiden yang mengawasi jari dan bibir nyinyir Anda. Hehehe…

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Bagaimana Kita dan Media Membungkus Gilang 0 587

Cerita murung bermula dari cuitan akun Twitter @m_fikris yang menceritakan kronologi bagaimana seorang laki-laki muda, dari suatu kampus kondang di Surabaya, melakukan pelecehan seksual secara verbal melalui pesan elektronik. Kisah pahit itu dijuduli dengan judul bombastis, macam portal berita onlen: “Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset dari Mahasiswa PTN di SBY”. Lantas, satu negara ini sejenak melupakan corona, berpindah gandrung pada ‘Gilang’, nama yang disebut-sebut menjadi pelaku pelecehan.

Cerita bertopik seks semacam ini, pembaca tahu, dengan cepat sambung-menyambung, berbalas, dan dibagikan secara meluas di linimasa. Tak hanya ramai di media sosial, yang bahkan sempat menduduki tingkatan teratas trending topic, ia ramai menjadi buah bibir tetangga, hingga agenda pemberitaan media massa.

Selain soal menumbuhkan kewaspadaan bersama, tapi lalu mengapa media, dan juga kita, sangat berambisi pada cerita-cerita semacam ini? Ada beberapa hal yang penulis ajukan di sini.

Pertama, media kita memang mudah sekali terangsang mengangkat berita-berita berbau seks. Apalagi ada anomali yang baru, fetish atau dorongan seksual dalam konteks kasus Gilang ini unik: napsu melihat orang yang dibungkus seperti pocong dengan kain jarik. Sayangnya, pembawaan berita berputar-putar pada fenomena, bahkan mengungkap sejarah Gilang yang sudah sering melakukan tindakan asusila.

Tapi, kemalasan media membuatnya lupa memberi pendalaman perspektif psikologis atasnya. Apakah benar memang fetish? Atau justru gangguan kejiwaan lainnya yang tak berhubungan dengan seksualitas?

Ah, jangan heran, media kita kan memang dari dulu begitu. Sejak zaman Orde Baru, kita sudah di-ninabobo-kan dengan berita konflik pertumpahan darah dan SEKS, supaya pemerintah tidak perlu repot-repot menjawabi pemberitaan yang mengkritisi kinerjanya.

Kedua, kita sepakat – jika memang ini adalah kasus pelecehan seksual – selalu bak gunung es. Korban-korban Gilang lainnya, yang telah menjadi target operasi bertahun-tahun silam, baru terungkap semuanya, ketika ada satu orang yang berani bicara. Kita memang patut berterima kasih (jika memang baik budi niatnya) pada si pembuat thread pada mulanya.

Demikian pula dengan kasus pelecehan seksual yang sudah-sudah. Entah itu pedofilia, pelecehan dalam keluarga, bahkan dalam konteks pria-wanita, selalu membuat sang korban tak berani bicara. Sebaliknya, korban lebih banyak dirundung, dituduh menggoda dengan pakaian terbuka.

Karena memang, belum ada hukum di negeri ini yang mampu melindungi korban pelecehan seksual. Kalaupun ada kasus yang terungkap ke permukaan dan diproses hukum, ia haruslah viral terlebih dahulu di media sosial (dengan mempermalukan korban 2 kali lipat), agar bisa ditindak pakai ‘Sang Maha-benar’ UU ITE, yang tak pernah benar-benar menggasak betapa brengseknya tindakan pelecehan itu sendiri. Benar apa kata sjw-sjw feminis: RUU PKS harus segera disahkan!

Ketiga, persoalan Gilang ini tak bisa hanya dilihat soal orientasi seksual yang melenceng. Kita sepakat bahwa hal tersebut adalah kemerdekaan hak setiap orang. Yang jadi persoalan, cara Gilang – jika, sekali lagi, memang benar fetish – dalam mengajak si korban memuaskan birahinya.

Gilang menggunakan kata-kata yang manipulatif, membohongi anak-anak yang lebih muda darinya agar mau membantunya mengerjakan ‘tugas kuliah’. Ia juga mendekati orang-orang yang tak ia kenal sebelumnya, dengan bahasa perkenalan yang cenderung superior, dominan, sekaligus minim etika. Unggah-ungguh berkenalan, ngobrol, dan meminta tolong pada orang yang baru dikenal seharusnya milik kita semua, terlepas dari apapun pilihan jalan hidup dan orientasi seksualnya.

Keempat, pendapat netijen yang bermunculan akhir-akhir ini justru bernada mengolok karena menganggap Gilang pantas mendapatkannya. Ejekan itu berkedok guyonan, bahkan nama-nama besar seperti Babe Cabita – yang kemudian banyak dihujat netijen juga – ikut-ikutan menertawakan tindakan Gilang. Selain itu, kamu dan saya, mulut kita semua sudah sibuk ngrasani bersama teman-teman tentang betapa tak warasnya Gilang.

Kita tidak sadar, bahwa diri sendiri ini juga sami mawon: menjauhi dan mencibir entah korban entah pelaku, entah juga orang-orang macam Gilang; tapi lupa bersimpati, mendekati, mencari akar masalah, dan menyelesaikannya bersama-sama. Memang benar, gotong-royong yang diajarkan founding fathers kita hanya tinggal klise sekarang (lihat tulisan: ‘Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif’).

Pada akhirnya, soal bungkus-membungkus ini memang bukan milik Gilang dan rektorat kampusnya yang sibuk memberi pernyataan sikap semata. Ini juga masalah kita semua, yang sudah lama dibungkus rasa egois dan gengsi, menutup mata dan telinga pada persoalan sosial di sekitar kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks