Setelah Hari Santri, adakah Hari Anak IPS? 0 482

Karena saya bukan seorang santri (walaupun merokok dan ngopi) dan tidak merasa harus terlibat dalam seremonial hari Santri, bolehlah saya ajukan perayaan lain yang barangkali bisa dipertimbangkan oleh pemangku kuasa, yakni Hari Anak IPS. Kalaupun ada jurusan lain yang luput dari tulisan ini, maka itu tidak lebih dari kurangnya kapasitas saya dalam menjelaskan.

Sampai sejauh ini, sejujurnya, saya masih curiga bahwa stereotip negatif terhadap anak IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) adalah telur propaganda Orde Baru. Tujuannya supaya anak-anak sekolah itu tidak perlu bergelut dengan ilmu-ilmu yang tentu saja bisa menyadarkan orang banyak bahwa sedang ada masalah sosial di bawah rezim Soeharto.

Sejak terakhir saya memakai baju putih-abu, sebagai anak IPS, saya terbiasa dicap sebagai anak nakal: suka balapan (kompetisi), coret tembok sekolahan (mural), bikin guru nangis (debat), sulit diatur (kritis), langganan dipanggil orang tua (silaturahmi), dsb. Ketahui lah, semua mitos ini seringkali dibenarkan begitu saja. Dan tanpa disadari, semua kegiatan yang menjadi indikator kenakalan tersebut sesungguhnya tidak lebih dari hobi seorang anak yang mencoba produktif.

Tren pendidikan yang timbul pada masa Orba terbagi menjadi sempit, yakni, masuk IPA sebagai pembuat pesawat atau mondok di Pesantren sebagai cendekiawan. Anak-anak yang bercita-cita menjadi sosok seperti Habibie misalnya, akan segera memasang jalur pendidikan yang bersinggungan dengan permesinan. Dan jelas saja pembelajaran model tersebut tidak akan didapatkan anak IPS (kecuali mereka yang suka balapan).

Selanjutnya masyarakat tradisional yang masih berpikiran bersih dan jauh dari propaganda akan menitipkan anak-anak mereka di pondok, supaya sepulangnya nanti bisa membuat sejuk sekampung dengan ajaran agama yang didapatkan dari hasil mengabdi pada kyai.

Sedangkan mereka yang memasuki zona Ilmu Sosial dianggap telah menanamkan dalam diri mereka embrio seorang free man (istilah keminggris biar halus, alias: tukang palak). Walau di celah terkecil prasangka itu, terdapat kekhawatiran bahwa mereka akan turut besar menjadi seorang intelektual-organik.

Derajat intelektualitas mereka bisa dianalisis dari hal-hal serius hingga yang paling remeh-temeh. Saat ini FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) terbukti sebagai miniatur negara, merekalah yang bertindak setiap terjadi kekeliruan dalam negara dan kudu memposisikan diri di barisan terdepan. Di dalam fakultas ini para pelajar ilmu sosial meneruskan tugasnya – meneruskan perjuangan. Ini contoh serius.

Anak IPS memiliki kepekaan sosial yang sudah terasah dibandingkan anak dari bidang keilmuan lain. Jika tema romantis boleh dijadikan contoh remeh untuk membuktikan potensi anak IPS, maka, anak IPS bisa dipastikan idaman. Lebih lucu ketimbang anak IPA yang hanya menawarkan agenda kencan sambil ngerjain-PR. Anak IPS memiliki kekayaan topik yang didapat melalui observasi sosial dan membuat pasangan tak henti merasa terhibur.

Sering kita temui juga anak IPA merasa jenuh, meski tidak, tidak semua. Saya hanya membungkus pendapat dominan mereka yang kecewa atas jurusannya ini. Entah masalah pelajaran yang tidak asik: penuh rumus dan keruwetan menjawab soal. Atau teman-teman kelas mendadak kutu buku.

Saya ingat betul bagaimana anak IPS dulu didiskriminasi oleh lingkungannya karena dipandang tidak berprestasi dan jarang menyumbang piala. Jelas saja, dari hasil penelitian sambil main PS selama menjadi pelajar, saya melihat TV/media selalu memberitakan keunggulan anak IPA yang berprestasi dalam berbagai olimpiade ilmu eksak. Ditambah sumbangan sutradara Faozan Rizal dengan penokohan BJ Habibie yang diperankan secara heroik oleh Reza Rahadian, membuat semakin banyaknya generasi muda bercita-cita menekuni ilmu eksak dan meminggirkan aktivitas sosial dari agenda masa depannya.Walau di sisi lain anak IPS juga mencapai prestasi serupa.

Untuk itu saya menawarkan kepada pemangku kuasa, agar segera menjadwalkan Hari Anak IPS. Walau penetapan hari peringatan butuh kesepakatan antar elit politik, tapi setidaknya pemerintah mau berbaik hati untuk memerdekakan anak IPS dari stereotip yang mengurung mereka selama ini.

Sebelumnya, izinkan saya memberi harap pada para santri dan meminta doa semoga anak IPS (dan lainnya) bisa cepat menyusul dan merayakan peringatan bersama. Semoga santri cetusan mazhab mana pun dapat selalu menjadi teladan umat. Menjadi anti-tesa gerakan radikal, memberi solusi tanpa harus mencederai identitas agama. Dan saya kira, semua pelajar dengan bidang keilmuannya masing-masing telah teridentikkan oleh berbagai cerita. Apakah semua itu dibenarkan/disalahkan, setidaknya para pelajar masih mempunyai satu kesamaan, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut andil menghapuskan segala jenis penjajahan di dunia. Wenak…

“Santri bukan yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak seperti santri, dialah santri” kata Gus Mus.

Selamat Hari Santri 2017.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Panduan Ghibah untuk Zumi Zola 0 209

Oleh: Michelle Florencia*

“Resmi Ditahan, Inilah Deretan Artis Cantik yang Pernah Dekat Dengan Zumi Zola”.

Begitulah judul sebuah artikel di suatu portal berita online ketika saya mengetik “Zumi Zola ditahan” di gugel. Tidak, saya tidak akan berkomentar mengenai EYD-nya yang salah, tapi isi artikel itu sendiri yang begitu menggelitik saya. Artikel cap opo iki?!

Sesuai judulnya, artikel ini membahas wanita-wanita yang pernah dekat dengan mantan Bupati Jambi ini. Dan ternyata, yang artis cuma satu. Hmmm… kenek bojok, su!

Berita ini dirilis sehari setelah penangkapan mantan Bupati yang kalo senyum bisa bikin cewek-cewek semaput, yaitu pada hari Selasa (10/02). Ya, Zumi Zola memang menjadi hot potato! Mungkin, Sang Jurnalis berpikir apapun yang mengandung “Zumi Zola” akan menjadi berita yang “menarik” bagi kalangan, khususnya ibu-ibu tukang rumpi – bodohnya, saya juga meng-klik berita ecek-ecek ini. Selain itu, mungkin fakta-fakta yang didapatkan portal berita online ini mengenai penahanan mantan tunangan Ayu Dewi ini tampak terbatas. Otomatis, pemberitaan mengenai penangkapan Zumi Zola juga terbatas.

Tapi, karena nama Zumi Zola merupakan news value yang harus dimaksimalkan penggunaannya dan fakta tentang penangkapannya terbatas, dibuatlah artikel yang nyeleneh dari kasus yang sedang umub ini. Wes, opo ae pokok’e onok jenenge Zumi Zola!

Poin pertama yang ingin saya kritisi ialah artikel yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus yang terjadi, penahanan Zumi Zola oleh KPK. Dimana korelasi deretan wanita yang pernah atau sedang menghiasi hidup Zumi Zola dengan kasus suapnya?!

Yang kedua, berita seperti ini mengaburkan permasalahan utama yang terjadi. Ghibahan mengenai mantan-mantan Zumi Zola ini mendistraksi publik yang awalnya membahas penahanan menjadi barisan para mantan. Membahas masa lalu kelam para tokoh – apalagi tentang mantan dan affair – memang selalu lebih menarik.

Yang ketiga, sama sekali tidak ada faedahnya masyarakat tahu tentang mantan-mantannya Zumi Zola. Parahnya, nama saya tidak dicantumkan. Buatlah berita yang memiliki news value dan penting bagi orang untuk tahu. Seumpama tidak ada hubungannya dengan kasus penangkapan Zumi Zola, setidaknya mengedukasi. Mungkin perjuangan Zumi Zola menjadi pejabat kek, prestasi Zumi Zola semasih menjabat kek, apa kek…. Jadikan tulisan Anda bermanfaat bagi orang lain. Tulisan Anda memiliki pengaruh yang besar lho bagi orang lain. Jangan membuat orang terbiasa berghibah tentang masalah pribadi orang.

Yang terakhir, judul click-bait. Ya, saya tahu betapa pentingnya jumlah klik bagi berita online. Tapi, mbok yo ojok mbojok, Rek. Mosok judul ambe artikel iso sueje. Katanya deretan para artis, tapi ternyata yang artis hanya satu, Ayu Dewi. Boleh banget kok menulis judul semenarik mungkin, tapi harus punya korelasi dengan artikelnya. Eniwei, artikel ini bukan satu-satunya artikel jahiliah yang bermunculan di tengah-tengah kasus yang menimpa tersangka suap enam miliar yang bening ini. Masih banyak artikel aneh-aneh seperti, “Pakai Rompi Oranye, Zumi Zola Masih Ganteng”, “Mantan Aktor Zumi Zola Ditahan KPK, Beginilah Potret Kebersamaannya Bersama Istri”, dan sebagainya. Mungkin mereka yang menyebut diri mereka sebagai jurnalis tapi masih membuat berita semacam ini harus kembali ke semester dua dan mengambil mata kuliah Dasar-dasar Jurnalistik bersama Rendy Pahrun Wadipalapa (Note dari editor: bagian terakhir ini tidak diedit, selain karena alasan kebenaran absolut, juga lantaran pembelaan kemanusiaan atas pentingnya edukasi).

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. “Mencari tambatan hati dan memenuhi selera travelling”, katanya.

Peran Cawagub di “Film Debat” Jilid Satu 0 206

Semua warga negara yang baik pastilah kemarin menjadi saksi debat perdana Pilgub Jawa Timur di televisi nasional. Debat wilayah potensial negeri ini tentu sayang dilewatkan oleh para pencari porsi kepentingan, apalagi yang secara legal-formal ber-KTP Jawa Timur (kalau sudah jadi eKTP-nya sih). Durasi yang berharga di televisi-televisi besar Endonesah saja berhasil diluluhkan demi dua sejoli yang eyel-eyelan kemarin malam.

Yang terpenting, sebelum debat perdana ini dihelat, kita sudah mengetahui mereka berdua memang lawan seimbang yang penuh catatan historis. Tahun ini, hattrick sudah Khofifah bertemu Saifullah Yusuf di panggung pemilihan! Piala bergilir sudah mantap di tangan mereka!

Pengetahuan netijen tentang biografi sosok kedua pasangan sudah selesai. Termasuk untuk mengenal calon wakilnya yang unyu-unyu. Emil dengan Arumi-nya, dan Mbak Puti dengan nama kebesaran Bung Karno-nya (udah lah gak apa-apa, yang penting jadi kenal kan).

Dalam perdebatan kemarin, syukur kepada Allah Yang Mahakuasa, disediakan sesi bagi calon wakil gubernur untuk saling melawan. Ini demi memberi gambaran kepada kita-kita yang awam agar tahu sejauh apa si wakil bisa jadi pasangan yang baik ketika memimpin kelak.

Sejauh mata kita mampu mengamati, terdapat pembagian yang seimbang pada para wakil ini. Kapan ia harus bicara, kapan harus ngompori, kapan harus senyum, kapan harus ikut berdiri, kapan harus menunjukkan gesture tepuk tangan agar pasangannya semangat, semua sudah diatur dengan rapi di balik layar.

Akibatnya, sebagai sebuah karya film, tayangan debat kemarin potensial sekali untuk masuk box office atau menembus nominasi FFI Indonesia. Bagaimana tidak, kehadiran calon wakil-wakil ini memang begitu pas sebagai pemanis. (Penulis gak bilang ‘hanya jadi pemanis’ lho ya. Karena apalah arti karya kalau tiada pemanisnya, sama seperti teh tanpa gula dan aku tanpa kamu).

Maka, mari kita bahas satu per satu, siapa para calon wagub jika mereka adalah bagian dari film.

Yang pertama, Emil Elestianto Dardak (yang berikutnya kita panggil saja Mas Ganteng) ini hadir sebagai adegan-adegan flashback dalam film. Adegan ini tentu perlu, untuk memberi gambaran lebih komprehensif kepada penonton film, siapa background story dari si tokoh-tokoh utama. Gambar film dapat menunjukkan sosok tokoh utama yang sudah dewasa, kemudian terlihat si tokoh nampak memandangi jendela yang sedang hujan dan menunjukkan langit senja, dan sambil meminum kopi, si tokoh teringat masa kecilnya, kemudian gambar terlempar ke puluhan tahun lalu.

Nah, hal ini turut hadir di film debat perdana kemarin. Mas Ganteng secara konsisten menyebut siapa para lawan di masa lalu, “Gus Ipul ini kan wakil gubernur…” dan “Mbak Puti kan ada di komisi sepuluh DPR”. Hal ini perlu, agar poin penyerangan terhadap visi-misi dan kegagalan lawan di masa lalu dibawakan secara elegan dan cerdas ala lulusan doktoral negeri Jepang nun jauh di sana.

Tapi sayang oh sayang, si Mas Ganteng mulai naik pitam ketika dibalas menyematkan flashback pada karirnya. Bicara angka kemiskinan Kabupaten Trenggalek, si bupati darah muda ini tentu tiada terima. Cekcok lah ia dengan Mbak Puti. Lho kok? Iya, bukankah esensi debat adalah berusaha meng-goblok-kan lawan? Mas Ganteng seharusnya sadar dan lebih sabar. Untuk menunjukkan lawan kita goblok adalah dengan memberinya lebih banyak ruang untuk bicara, di mana kalimatnya akan mbulet dan muter-muter di pusaran yang sama, kemudian netijen kita yang super pandai ini akan menghujatnya sendiri.

Yang kedua adalah sosok Puti Guntur Soekarno yang hadir macam iklan yang tiba-tiba nongol di tengah-tengah film. Iya, misal ketika kita melihat adegan Ben, Jody, dan El sehabis bercengkeramah, eh tiba-tiba muncul truk bergambar merek Sekoci Api.

Ini sama seperti kemarin ketika kita sedang nikmat kita mendengar Gus Ipul memberi ulasan untuk menjawab pertanyaan panelis, kuasa mic dipindahtangankan ke Mbak Puti, dan tada, ia melanjutkan dengan “karena itu kami punya program Mas Metal, Seribu Dewi, Dik Dilan,…”. Iya, yang terakhir tadi itu menarik hati. Barangkali jika diberi durasi lebih panjang, harusnya Mbak Puti melanjutkan dengan tagline “jadi wakil gubernur itu berat, biar aku saja” (maaf ya Editor, guyonan Dilan harus dicantumkan di sini, buntu eh –ttd, Penulis).

Pasangan calon yang ini memang punya nama-nama program kerjanya yang cute dan kekinian bingits, jadi kumbang bagi kuping kembang-kembang milenial macem kita-kita ini. Segenap pendukung calon nomor dua harus bersyukur, berkat performa Mbak Puti kemarin, nama-nama cute program kerja berhasil dilontarkan. Toh film bisa lahir dan ada karena iklan, kan?

Yang pasti, kedua wakil ini berusaha menggaet hati para pemilih pemula. Kata millennial jadi habitus yang tekun disebutkan keduanya selama film berlangsung kemarin. Mas Ganteng dengan janji Millenial Job Center-nya, Mbak Puti dengan janjinya menebar koneksi internet di seluruh pelosok Jatim (kalau bisa ke rumah penulis juga ya, Mbak, please).

Seperti biasa, audiens diminta tenang oleh moderator selama perfilman berlangsung. Moderator tidak mengerti, bahwa yang minta ditenangkan adalah para milenial yang dicatut namanya berulang ini. Kedua pasangan calon tidak mengerti, kalau ingin menjadi idola di hati para millenials, paling tidak jawab masalah kejombloan mereka, atau jadi guru madingnya Dilan. Atau, keduanya memang harus sering-sering pasang ekspresi wajah dan gesture unik, agar tertangkap kamera paparazzi, yang tentu kelak menjadi ladang subur dan memajukan kesejahteraan para petani meme macem awak dhewe.

Editor Picks