Setelah Hari Santri, adakah Hari Anak IPS? 0 1692

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Karena saya bukan seorang santri (walaupun merokok dan ngopi) dan tidak merasa harus terlibat dalam seremonial hari Santri, bolehlah saya ajukan perayaan lain yang barangkali bisa dipertimbangkan oleh pemangku kuasa, yakni Hari Anak IPS. Kalaupun ada jurusan lain yang luput dari tulisan ini, maka itu tidak lebih dari kurangnya kapasitas saya dalam menjelaskan.

Sampai sejauh ini, sejujurnya, saya masih curiga bahwa stereotip negatif terhadap anak IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) adalah telur propaganda Orde Baru. Tujuannya supaya anak-anak sekolah itu tidak perlu bergelut dengan ilmu-ilmu yang tentu saja bisa menyadarkan orang banyak bahwa sedang ada masalah sosial di bawah rezim Soeharto.

Sejak terakhir saya memakai baju putih-abu, sebagai anak IPS, saya terbiasa dicap sebagai anak nakal: suka balapan (kompetisi), coret tembok sekolahan (mural), bikin guru nangis (debat), sulit diatur (kritis), langganan dipanggil orang tua (silaturahmi), dsb. Ketahui lah, semua mitos ini seringkali dibenarkan begitu saja. Dan tanpa disadari, semua kegiatan yang menjadi indikator kenakalan tersebut sesungguhnya tidak lebih dari hobi seorang anak yang mencoba produktif.

Tren pendidikan yang timbul pada masa Orba terbagi menjadi sempit, yakni, masuk IPA sebagai pembuat pesawat atau mondok di Pesantren sebagai cendekiawan. Anak-anak yang bercita-cita menjadi sosok seperti Habibie misalnya, akan segera memasang jalur pendidikan yang bersinggungan dengan permesinan. Dan jelas saja pembelajaran model tersebut tidak akan didapatkan anak IPS (kecuali mereka yang suka balapan).

Selanjutnya masyarakat tradisional yang masih berpikiran bersih dan jauh dari propaganda akan menitipkan anak-anak mereka di pondok, supaya sepulangnya nanti bisa membuat sejuk sekampung dengan ajaran agama yang didapatkan dari hasil mengabdi pada kyai.

Sedangkan mereka yang memasuki zona Ilmu Sosial dianggap telah menanamkan dalam diri mereka embrio seorang free man (istilah keminggris biar halus, alias: tukang palak). Walau di celah terkecil prasangka itu, terdapat kekhawatiran bahwa mereka akan turut besar menjadi seorang intelektual-organik.

Derajat intelektualitas mereka bisa dianalisis dari hal-hal serius hingga yang paling remeh-temeh. Saat ini FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) terbukti sebagai miniatur negara, merekalah yang bertindak setiap terjadi kekeliruan dalam negara dan kudu memposisikan diri di barisan terdepan. Di dalam fakultas ini para pelajar ilmu sosial meneruskan tugasnya – meneruskan perjuangan. Ini contoh serius.

Anak IPS memiliki kepekaan sosial yang sudah terasah dibandingkan anak dari bidang keilmuan lain. Jika tema romantis boleh dijadikan contoh remeh untuk membuktikan potensi anak IPS, maka, anak IPS bisa dipastikan idaman. Lebih lucu ketimbang anak IPA yang hanya menawarkan agenda kencan sambil ngerjain-PR. Anak IPS memiliki kekayaan topik yang didapat melalui observasi sosial dan membuat pasangan tak henti merasa terhibur.

Sering kita temui juga anak IPA merasa jenuh, meski tidak, tidak semua. Saya hanya membungkus pendapat dominan mereka yang kecewa atas jurusannya ini. Entah masalah pelajaran yang tidak asik: penuh rumus dan keruwetan menjawab soal. Atau teman-teman kelas mendadak kutu buku.

Saya ingat betul bagaimana anak IPS dulu didiskriminasi oleh lingkungannya karena dipandang tidak berprestasi dan jarang menyumbang piala. Jelas saja, dari hasil penelitian sambil main PS selama menjadi pelajar, saya melihat TV/media selalu memberitakan keunggulan anak IPA yang berprestasi dalam berbagai olimpiade ilmu eksak. Ditambah sumbangan sutradara Faozan Rizal dengan penokohan BJ Habibie yang diperankan secara heroik oleh Reza Rahadian, membuat semakin banyaknya generasi muda bercita-cita menekuni ilmu eksak dan meminggirkan aktivitas sosial dari agenda masa depannya.Walau di sisi lain anak IPS juga mencapai prestasi serupa.

Untuk itu saya menawarkan kepada pemangku kuasa, agar segera menjadwalkan Hari Anak IPS. Walau penetapan hari peringatan butuh kesepakatan antar elit politik, tapi setidaknya pemerintah mau berbaik hati untuk memerdekakan anak IPS dari stereotip yang mengurung mereka selama ini.

Sebelumnya, izinkan saya memberi harap pada para santri dan meminta doa semoga anak IPS (dan lainnya) bisa cepat menyusul dan merayakan peringatan bersama. Semoga santri cetusan mazhab mana pun dapat selalu menjadi teladan umat. Menjadi anti-tesa gerakan radikal, memberi solusi tanpa harus mencederai identitas agama. Dan saya kira, semua pelajar dengan bidang keilmuannya masing-masing telah teridentikkan oleh berbagai cerita. Apakah semua itu dibenarkan/disalahkan, setidaknya para pelajar masih mempunyai satu kesamaan, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut andil menghapuskan segala jenis penjajahan di dunia. Wenak…

“Santri bukan yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak seperti santri, dialah santri” kata Gus Mus.

Selamat Hari Santri 2017.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Semua Akan Korea Pada Waktunya, Tapi Gak Gini Juga 0 249

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

“Semua akan Korea pada waktunya”, begitulah kalimat yang dapat mewakili kondisi masyarakat negara +62.

Sempat menghina K-pop-ers dengan sebutan alay karena dianggap mengidolakan artis-artis negeri ginseng, kini wajah mulus tak bercela para artis Korea ramai kita jumpai di iklan-iklan merek lokal. Bisa dibilang para artis Korea tersebut dijadikan koentji dalam marketing produk dan jasa.

Kapan hari, internet diguncang berita aktris Felicya Angelista yang diwujudkan ngidamnya oleh sang suami untuk video call bersama pemeran Mas Mafia Vincenzo, Song Joong Ki (baca lagi: Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea).

Usai viral karena dianggap fan yang beruntung, muncullah berita aktor “Space Sweepers” tersebut didapuk sebagai brand ambassador skinker milik Felicya, Scarlett Whitening. Hancik, cuma marketing ternyata. Hampir bersamaan, muncul lagi berita yang menyebutkan bahwa boy group TREASURE akan menjadi brand ambassador bimbingan belajar online “penguasa” stasiun televisi kita, Ruangguru.

Pemilihan artis Korea sebagai brand ambassador merek lokal bukanlah hal baru.  Tahun 2016 silam, aktor “The Heirs” Lee Min Ho didapuk jadi brand ambassador Luwak White Koffie. Kemudian, cara ini diikuti oleh Mie Sedap yang menjadikan Siwon “Super Junior” sebagai brand ambassador-nya untuk mempromosikan mie rasa ayam pedas korea. Lalu, disusul Tokopedia yang membuat kita ter-kamcagiya (kaget) dengan menggandeng boy group terpopuler segalaksi bima sakti dalam promosinya.

Memang menggandeng artis Korea bisa menjadi jalan ninja untuk mempopulerkan merek produk atau jasa. Merek tersebut akan seketika menjadi buah bibir para fans artis Korea, baik membicarakan artis idola mereka atau sangking tajir melintirnya perusahaan tersebut.

Buktinya, permen Kopiko selalu menjadi buah bibir dan viral setiap permen rasa kopi tersebut muncul di adegan-adegan drama Vincenzo dan Mine. Benar-benar tidak rugi setelah menggelontorkan miliyaran rupiah!

Selain menjadi populer, produk atau jasa dijamin akan laris manis setelah memilih artis Korea sebagai bintang iklan mereka. Itu karena kesetiaan para fans artis Korea untuk mendukung artis idola mereka yang tidak dapat diragukan lagi.

Masih ingat kan dengan kasus antre menu BTS Meal dari McDonald’s? Jangankan dijadikan bintang iklan, lha wong barang yang “nampil” di siaran langsung artis Korea saja bisa ludes dibeli para fans.

Mungkin Korean celebrity endorsement bisa menjadi marketing tool yang sangat efektif, tapi mbok ya artisnya disesuaikan dengan mereknya. Misalnya, pemilihan boy group TREASURE sebagai brand ambassador Ruangguru. Jujurly, menurut saya sangat aneh karena boy group ini tidak memiliki sangkut paut dengan dunia pendidikan.

Masih banyak artis yang terkenal memiliki prestasi akademik semasa sekolah seperti Cha Eun Woo “ASTRO” atau Giselle “aespa” yang lebih bisa merepresentasikan merek tersebut.

Dan anehnya lagi, produk dan jasa yang memakai artis Korea tersebut tidak merambah pasar Koerea Selatan. Saya bisa memaklumi Kopiko yang mengeluarkan uang miliyaran rupiah untuk menjadi sponsor beberapa drama korea, karena mereka memang memasarkan kopi tersebut ke sana.

Tapi, bagaimana dengan Scarlett Whitening? Apakah Anda yakin wajah putih mulus Song Joong Ki didapat dari memakai produk tersebut, lha wong produknya aja tidak ada di sana.

Meski menjadi marketing tool yang efektif, saya berharap Korean celebrity endorsement ini tidak dijadikan tren yang “wajib” diikuti. Masih banyak, kok artis Indonesia yang mampu merepresentasikan sebuah merek, apalagi untuk menjadikan iklan menjadi viral.

Contohnya  pemilihan komika Babe Cabita sebagai brand ambassador menjadikan iklan MS Glow menjadi viral. Meski banyak yang sewot karena Babe Cabita kurang ganteng, tapi menurut iklan tersebut sangat realistis dan relatable. Karena, wajah Babe Cabita yang lebih glowing seusai menggunakan produk MS Glow jauh lebih bisa dipercaya dari pada wajah mulus Song Joongki usai menggunakan skinker lokal, hehe.

 

 

Panduan Killing Time 12 Tahun untuk yang Terkasih, Pak Juliari 0 252

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

 

Majelis hakim Pengadilan Tipikor sudah ketok palu vonis terhadap mantan Mensos Juliari Peter Batubara 12 tahun penjara dan denda 500 juta subsidair 6 bulan kurungan. Juliari terbukti sah menerima suap 10 ribu rupiah per bansos alias 32,4 M kalo dikumpulin.

Kami gak mau membuli seperti yang mahabenar tuan dan nyonya netijen. Kami tahu, betapa tersiksa batin Pak Juliari yang kami kasihi. Kalo katanya arek-arek saiki: sudah kena mental.

Apalagi, Bapak sempat memohon belas kasih buat meringankan hukuman, karena tak bisa membayangkan akan meninggalkan anak istri di rumah. Sungguh sebuah teladan family man bagi kaum penerus bangsa. Poin ini lebih membuat kami tak tega menambah-nambahi beban Bapak dengan sumpah serapah (karena porsi itu sudah diamalkan netijen dengan sebaik-baiknya).

Untuk itu, pada kesempatan ini, kami justru ingin memberi sejumlah saran: panduan mengisi waktu selama nanti di kurungan. Tujuannya tentu agar Bapak tidak cepat bosan.

Panduan ini kami rasa manjur buat Bapak. Karena, sebagian besarnya sudah kami lakukan selama 1,5 tahun ke belakang, yang harus banyak-banyak di rumah karena terdampak pandemi (dan terdampak dapet bansos kualitas jelek gara-gara anggarannya dipotong).

Ini yang pertama, Pak. Bapak tentu ingat kopi dalgona yang sempat tenar itu. Sudah lama sekali tren membuatnya ditinggalkan dengan begitu cepat. Ada baiknya tren ini dihidupkan kembali.

Ikuti panduannya ya, Pak! Campurkan kopi hitam sachet pahitnya kehidupan dengan air panasnya neraka bagi koruptor. Kemudian aduk terus menerus dengan rasa ego sampai berbusa dan meluapkan keserakahan. Terakhir, letakkan buih kopi itu di atas segelas susu Bear Brand yang masih aja 15 ribu sampe sekarang. Selamat menikmati!

Cara ini cukup mudah Pak. Kami rasa, meminta kopi dan susu ke sipir penjara bukan suatu hal yang neko-neko kok. Pasti dikabulkan. Wong minta kamar VIP aja (udah pasti) dilayani kan, hehehehe.

Kedua, era pandemi ini eranya webinar, Pak. Hidup ini gak afdol kalo belum ikut webinar, minimal sekali seminggu. Tentu posisi Bapak bukan sebagai peserta yang cuma nunut “izin nyimak”. Pak Juliari mah pantesnya narasumber utama, keynote speaker.

Tema yang cocok tentu: “Say No to Korupsi!”. Masyarakat di Indonesia kita tercinta ini Pak, lebih percaya testimoni daripada hasil riset, soalnya mereka males baca. Kita lebih suka motivasi dari mereka yang telah berpengalaman dan sukses, ya seperti Bapak ini.

Materinya sederhana, Pak. Boleh dilengkapi power point yang eye-catching biar keliatan berkredibel. Inti pembicaraannya cuma ini: “Sumpah gais, dipenjara itu gak enak. Plis jangan korupsi! Ini gak di-endorse ya. Real testi”

Sasaran peserta buat webinar ini luas banget, Pak. Mulai dari pejabat rt-rw, sampai lingkaran pertama kayak jabatan terdahulu Bapak. Materinya bakal relateable. Dan semoga mampu menyadarkan mereka biar kapok korupsi. Yah, meskipun kalimat terakhir ini kayaknya utopis hehe.

Ketiga, coba deh, Pak, mulai nonton drama korea. Atau kalau langkah itu masih terlalu ekstrem buat Bapak, minimal nonton video klip boyband dan girlband korea. Saya jamin sih nagih, pengen lagi, pengen terus.

Bapak juga harus ingat, sebagian dari netijen kita ini penggemar apa-apa yang berbau Korea, Pak. Apapun yang trending nomer 1 di Twitter sudah pasti adalah hasil cuitan akun berfoto idol Kpop yang substansinya gak nyambung sama sekali sama topik yang lagi dibicarakan. Itu sudah pertanda seberapa menguasainya populasi mereka di alam dunia maya.

Artinya, ini bisa jadi langkah strategis Bapak untuk menguasai mereka. Mulai dengan menyukai apa yang mereka sukai, dekati, rayu, dan jadi akrab sama mereka. Bila perlu, kita bisa bikin ruang diskusi di Clubhouse yang bahas soal drakor terbaru, Pak.

Hukuman Bapak cuma empat tahun untuk tidak dipilih dalam jabatan publik. Empat tahun itu cuma kurang dari 1 periode presiden, Pak. Bentar itu, mah. Selanjutnya, netijen Korean wave yang sudah mencintai Bapak, tetap bisa menghantarkan Bapak ke kursi tertinggi di dunya ini.

Yah kalo impian ini sulit terwujud, setidaknya Bapak nanti tinggal ganti nama jadi JPB, bikin Youtube, dan bismillah komisaris BUMN.

Demikian panduan ini dibuat dengan sepenuh hati Pak. Kami percaya Bapak pasti bisa melalui cobaan ini semua dengan kepala tegak dan kebanggaan di dada. Kalo kami aja bisa melakukan hal-hal ini selama setahun di rumah aja, Bapak juga pasti bisa, tinggal dikaliin 12.

Editor Picks