Simpati untuk Ahmad Dhani Sebelum Berlaga di Jawa Timur 0 697

Dhani masuk partai? Mau nyalon pilkada? Sudah rumangsa pantes?

Tolong tunda dulu kenyinyiran ala lambe turah macam itu. Analisis model infotainmen yang mengandalkan sentimen benci-cinta sebaiknya minggir dulu (uhuk). Lha, menurut ilmu politik modern, kan harus diketahui dan diverifikasi dulu mutu yang bersangkutan.

Ia konon melepas karirnya sebagai musisi dan banting stir masuk ke kandang macan Gerindra, partai yang diketuai oleh mantan calon presiden Prabowo Subianto. Sebelum lompat ke Gerindra, Dhani merintis karir politiknya dengan gagah berani: menjadi salah satu orator aksi 212, memasang sikap oposisi yang amat keras terhadap Jokowi, dan masuk sebagai salah satu pembela terpenting Anies-Sandi dalam kampanye pilgub Jakarta. Dengan kepala licin dan suara yang familiar, Ia berorasi lewat kalimat-kalimat tajam dengan meminjam tanpa permisi nama-nama di kebun binatang. Beberapa kali ia diperiksa polisi karena tudingan penghasutan, pencemaran nama baik, dan makar. Katanya ringan saja, “saya memang muak dengan para pembela penista agama”. Cukup berani bukan? Tidakkah keberanian dan keterus-terangan ini musti dihargai sebagai salah satu modal politik? Soal mutu beliau, nanti sajalah dibahas.

Kata orang, musik dan politik adalah dua wilayah yang dekat. Kalau Presiden SBY berhasrat menjadi musisi lewat petikan gitar dan lagu-lagunya (tak terlalu terkenal, tapi okelah), maka Dhani adalah pakarnya musik. Dhani Ahmad Prasetyo, pentolan band legendaris Dewa 19, tak diragukan lagi, adalah salah satu musisi dengan pengaruh paling luas. Pembaca pernah remuk redam hatinya tatkala mendengar lagu “Kangen”? Atau mengalami perasaan penuh kembang sewaktu menikmati tembang “Kamulah Satu-satunya”? Atau merasa semriwing magis dengan kenangan lagu “Persembahan dari Surga”? Kalau iya, maka satu lagi variabel modal politik sudah dipunyai: kesan dan namanya tersimpan dengan baik dalam ingatan kita. Soal mutu beliau, nanti sajalah dibahas.

Selain itu, pernahkah pembaca hitung jumlah Baladewa, fans berat grup Dewa? Dibentuk tahun 1986 di Surabaya, Dhani telah tiga dekade menghidupi Dewa 19. Beberapa kali pula ganti personel. Tapi toh Dhani sebagai frontman membuktikan bahwa ia mampu menjaga kapal tetap utuh. Ini pula yang membuat fans tetap bertahan, selain terus mendamba lagu-lagu bikinan Dhani (yang banyak menggunakan chord miring dan enak di telinga itu), juga menyaksikan kedigdayaan Dhani dalam menjaga Dewa. Jumlah fans itu, konon mencapai ratusan ribu (masih agak jauh dari angka 7 juta umat, tapi tak apalah). Nah, pembaca tahu juga kan akhirnya jika keputusan Dhani masuk politik tepat? Sebab, ia tahu ia punya basis massa. Meski belum ada riset berapa fans Dewa yang murtad dari Dewa lantaran kecewa dengan Dhani, tapi kita semestinya chusnudzon saja.

Kelahiran Dhani dan kedekatan kultural dengan Jawa Timur, makin melengkapi kapital politik yang ia perlukan. Walaupun saat ini muncul tren bahwa calon kepala daerah tak perlu berasal asli dari daerah pemilihan, tapi Dhani toh memegang teguh prinsip ini: mengabdi pada wilayah tempat dia dilahirkan. Mulia bukan?

Jadi apa alasan untuk menolak mas Dhani? Riwayat sekolah?

Jangan salah, beliau masuk SMP beken paling kondang di Surabaya, SMPN 6 yang menjadi barometer kecerdasan dan kegaulan, dan tembus ke SMA komplek SMAN 2, yang sampai kini didaku sebagai pusatnya cowo-cewe ganteng-cantik. Kurang apa? Sarjana tak pentinglah di bahas di sini, lha wong SMP SMA mas Dhani sudah mantap jiwa begitu.

Selebritas Dhani pula yang akan diharapkan mampu merebut simpati anak muda milenials, anak-anak kecebong yang masih doyan mendengar Dewa dan mbak Mulan Jameela. Jumlah anak-anak ini tentu banyak. Belum lagi ibu-ibu yang benci Maia Estianty, mantan istri Dhani, dan lebih simpati pada keluguan mbak Mulan. Jika digabung, maka potensi ceruk massa Dhani amatlah besar.

Jadi, terang-benderang bahwa Dhani adalah kandidat yang potensial. Jangan buta politik begitu.

Soal mutu? Nanti sajalah dibahas.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Analisis Sok Serius Atas Mahasiswa dan Panduan Memahami Selebaran Tadi Pagi 0 209

Sebuah selebaran mampir di tanganku, diantar seorang lelaki muda dengan mata berbinar.

“Dibaca, Mas!”

Sebetulnya itu basa-basi saja, tapi mungkin lelaki ini agak meragukan tampang-tampang tipikal yang dikira masa bodoh dan mempersetankan selebaran macam begini. Tentu saja ia salah, meskipun agak sedikit benar pada bagian ‘bodoh’ dan ‘setan’.

Kulirik agak setengah hati selebaran yang masih hangat dan licin dari fotokopian itu. Tulisannya hitam, tebal, dan besar:

QUO VADIS MAHASISWA?

Saya pastikan sekali lagi untuk tidak keliru membaca. Ini penting, pembaca yang budiman, sebab orang macam apa hari ini yang masih: 1) mempertanyakan mahasiswa; dan 2) menganggap mahasiswa ada?!

Bukankah sudah sedemikian jelas dan telanjang bahwa tak ada lagi itu mahasiswa, kecuali jika merujuk kumpulan manusia yang hilir-mudik di gedung itu-itu saja? Orang-orang ini uniknya bukan main. Mereka tahan dalam kepura-puraan, menghidupi rutinitas yang mereka sendiri tak mengerti betul untuk apa, dan menuntut banyak sekali hal—terlalu banyak bahkan—yang amat lacur.

Jadi aku tak tahu apa maksudnya pertanyaan besar dalam selebaran itu.

Lebih-lebih ketika penulisnya menerapkan kaidah satir, yang menyindir-nyindir dan menipu pembacanya seolah-olah sang penulis beraksi serius. (Atau justru ia memang berlagak serius?) Masih relevankah mencoba menggali ulang dan mengais jawaban yang tersisa dari misteri itu pada masa sekarang—masa tatkala senja mendarat cepat di kepala kelompok-kelompok ingusan yang hobi liburan dan jajan? Pada mereka yang ‘rupamu ketulung gadget-mu’?

Atau sebetulnya ada yang tak kutahu dari mereka? Atau sebetulnya ada argumentasi yang dapat diandalkan untuk membela diri? Yaa… misalnya, bahwa hobi liburan harus dikerjakan demi membahagiakan mama yang terus-menerus cerewet di rumah. Kalau bukan, ya demi merawat hubungan romantik dengan pacar di zaman postmodern yang penuh instabilitas ini. Begitu?

Kau tahu kan, di mana letak kelompok ini ketika sejarah konflik politik makin mengeras dan beringas seperti sekarang? Di mana mereka sewaktu tempatnya belajar disergap banyak nian jebakan kapitalisme pendidikan? Atau di mana mereka ketika nyaris semua data-data pembangunan menggilas orang-orang yang terpinggir dan dipinggirkan?

Laki-laki muda bertas selempang itu masih berdiri membagi-bagikan selebaran, berjarak barang selemparan batu saja dari tempatku terduduk. Matanya masih berbinar tapi suaranya pelan, seperti berada di persimpangan antara semangat dan keputusasaan.

Sore lekas mengepung kampus yang tampak murung itu. Dan di sana aku berhenti membaca kalimat-kalimat berikutnya, yang bisa kutebak isi dan arahnya. Kulipat selebarannya dan meluncurlah ia ke saku. Suatu hari akan kukeluarkan kembali, ketika ruh mereka yang telah lama minggat sudah balik lagi.

Nasib Naas Jerman yang Dilibas KorSel 0 185

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Per 27 Juni, tepatnya sejak Panser Jerman keok dilibas Oppa Korea Selatan di Piala Dunia, ada beberapa perubahan besar dalam persepakbolaan – dan mungkin juga – sejarah dunia.

Bagaimana tidak? Jerman adalah petahana Piala Dunia 2014. Kualitas pemain teruji dan track record merumput di Piala Dunia tidak perlu diragukan lagi. Sang langganan semifinal sejak 1938. Setidak-tidaknya kita berharap tinggi musti lolos 16 besar. Boleh dibilang wonder team. Uber alles deh pokoknya. Sedang lawannya, Taeguk Warriors asal Korea Selatan sama sekali antitesis semua itu. No offense loh, Oppa 🙁

Akal sehat jelas memprediksi kemenangan mudah Die Mannschaft atas Taeguk Warriors. Lah ndalah, njeketek, eng ing eng… Kenyataannya Jerman keok, plonga-plongo dihabisi Korea Selatan. Skor telak, 2-0. Gak mashookkk!

Dari awal sebenarnya posisi Jerman terbaca. Tiket melaju ke babak lanjutan dipertaruhkan, maka mereka menyerang terus. Kemungkinan tipis untuk lolos perlu dikejar. Sedang Korsel oleh karena dua kekalahan sebelumnya kontra Swedia dan Meksiko, sudah pasti angkat kaki meski menang atau kalah lawan Jerman malam itu. Tapi toh Korsel tetap on-fire, sampai peluit panjang mereka solid bertahan terus. Dari sini, kita mudah membaca siapa yang ngoyo dan siapa yang got nothing to lose.

Sepanjang pertandingan, Jerman betul menyerang tapi meleset melulu. Entah tidak cocok dengan angin di Rusia apa bagaimana. Melelahkan melihat permainan Jerman, gol tidak kunjung dibuat. Peluang banyak terbuang.

Apa karena ekspektasi penonton yang terlalu tinggi? Apa karena Jerman terlalu percaya diri?? Atau apakah memang mitos kutukan petahana pildun itu nyata adanya? Apakah Jerman memang ditakdirkan bernasib sama seperti Italia, Belanda, dan Spanyol? Sukses angkat trofi juara dunia lalu gagal mempertahankannya gelarnya? Saking mengerikannya kutukan itu, petahana bisa tersepak bahkan saat masih fase penyisihan grup.

Salam saya untuk kiper Korea yang telah bolak-balik menyelamatkan gawang. Juga pada pemain Korea sekalian yang dengan ciamik menghalau bola masuk jaring. Sampai paruh pertama, telur belum juga pecah. Pertahanan Korea Selatan belum bisa dikoyak. Menit ke-60 sekian, keadaan makin genting. Jerman tidak kunjung membuat angka, tiket lanjut dan mempertahankan gelar jadi terasa jauh. (Sebentar, nasib buruk ini apakah karena Jerman bermain di tanah Rusia? Saat Perang Dunia Kedua mereka kan…. *mulai cocoklogi).

Ritme permainan semakin terasa berat dan mendebarkan saat memasuki waktu tambahan. Jerman sudah kepayahan dan putus asa, permainan makin kacau. Korea Selatan konsisten dan merebut momentum lalu berhasil memecah kebuntuan. Skor satu untuk Korea Selatan. Rekaman Video Assistant Referees (VAR) dipakai untuk memutuskan apa gol itu sah atau tidak, sebab awalnya dikira off-side oleh wasit. Selebrasi Korsel bikin Jerman makin kalang kabut. Padahal pemain bintangnya turun. Mueller, Gomez, Oezil, dan Khedira dikerahkan agar segera cetak skor.

Tembakan banyak yang meleset. Terasa moril Jerman sudah merosot. Sampai-sampai, kiper Jerman, Neuer, meninggalkan pos jaganya. Mungkin karena sumpek rekan satu timnya tidak kunjung mencetak skor. Dirinya ikut merumput sampai begitu dekat dengan gawang Korea Selatan. Waktu tambahan sisa satu menit. Korea Selatan kembali mengoyak gawang Jerman yang ditinggalkan tak dijaga itu. Gol kembali dibuat.

Remek dan nelangsa lah Jerman diinjak Korea Selatan. Sisa waktu tidak cukup untuk membuat keajaiban. Panser kita angkat kaki. Kutukan telah tuntas terlaksana. Taeguk Warriors kalah, tapi bakal pulang ke negeranya dan disambut bak pahlawan.

Oppa dan Hyung telah menindas habis bule-bule Eropa itu. Sejarah telah mencatat itu. Daebak! Kemenangan atas Jerman juga berarti telah terjadi kemajuan pada persepakbolaan Korea Selatan di kancah dunia. Mereka telah jadi simbol untuk persebakbolaan Asia. Kini, mereka tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Terbukti pertahanan Korea jelas rapi dan mampu mengimbangi Jerman yang terus menyerang. Tidak kalah kualitas dengan si Panser.

Saya sendiri pendukung Jerman, tapi jujur diam-diam menantikan Korea Selatan menjebol gawang Jerman. Mungkin karena saya merasa terwakili sebagai sesama Asia. Sebab kan selama ini sepak bola rasa-rasanya hanya milik Eropa dan Amerika Latin. Ya kan, tim-tim itu saja toh yang menang. Tim-tim itu lagi yang dijagokan.

Boleh jadi, ini pecut untuk Indonesia agar empat tahun lagi bisa lolos kualifikasi Piala Dunia, lalu mungkin mampu menang telak 2-0 atas Inggris atau Spanyol. Siapa tahu?

Tanpa muluk-muluk, mungkin uji coba dulu dengan sapu bersih kemenangan di Asian Games tahun ini?

*Penulis adalah mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi Surabaya. Doyan nonton dan traktiran.

Editor Picks