Simpati untuk Ahmad Dhani Sebelum Berlaga di Jawa Timur 0 737

Dhani masuk partai? Mau nyalon pilkada? Sudah rumangsa pantes?

Tolong tunda dulu kenyinyiran ala lambe turah macam itu. Analisis model infotainmen yang mengandalkan sentimen benci-cinta sebaiknya minggir dulu (uhuk). Lha, menurut ilmu politik modern, kan harus diketahui dan diverifikasi dulu mutu yang bersangkutan.

Ia konon melepas karirnya sebagai musisi dan banting stir masuk ke kandang macan Gerindra, partai yang diketuai oleh mantan calon presiden Prabowo Subianto. Sebelum lompat ke Gerindra, Dhani merintis karir politiknya dengan gagah berani: menjadi salah satu orator aksi 212, memasang sikap oposisi yang amat keras terhadap Jokowi, dan masuk sebagai salah satu pembela terpenting Anies-Sandi dalam kampanye pilgub Jakarta. Dengan kepala licin dan suara yang familiar, Ia berorasi lewat kalimat-kalimat tajam dengan meminjam tanpa permisi nama-nama di kebun binatang. Beberapa kali ia diperiksa polisi karena tudingan penghasutan, pencemaran nama baik, dan makar. Katanya ringan saja, “saya memang muak dengan para pembela penista agama”. Cukup berani bukan? Tidakkah keberanian dan keterus-terangan ini musti dihargai sebagai salah satu modal politik? Soal mutu beliau, nanti sajalah dibahas.

Kata orang, musik dan politik adalah dua wilayah yang dekat. Kalau Presiden SBY berhasrat menjadi musisi lewat petikan gitar dan lagu-lagunya (tak terlalu terkenal, tapi okelah), maka Dhani adalah pakarnya musik. Dhani Ahmad Prasetyo, pentolan band legendaris Dewa 19, tak diragukan lagi, adalah salah satu musisi dengan pengaruh paling luas. Pembaca pernah remuk redam hatinya tatkala mendengar lagu “Kangen”? Atau mengalami perasaan penuh kembang sewaktu menikmati tembang “Kamulah Satu-satunya”? Atau merasa semriwing magis dengan kenangan lagu “Persembahan dari Surga”? Kalau iya, maka satu lagi variabel modal politik sudah dipunyai: kesan dan namanya tersimpan dengan baik dalam ingatan kita. Soal mutu beliau, nanti sajalah dibahas.

Selain itu, pernahkah pembaca hitung jumlah Baladewa, fans berat grup Dewa? Dibentuk tahun 1986 di Surabaya, Dhani telah tiga dekade menghidupi Dewa 19. Beberapa kali pula ganti personel. Tapi toh Dhani sebagai frontman membuktikan bahwa ia mampu menjaga kapal tetap utuh. Ini pula yang membuat fans tetap bertahan, selain terus mendamba lagu-lagu bikinan Dhani (yang banyak menggunakan chord miring dan enak di telinga itu), juga menyaksikan kedigdayaan Dhani dalam menjaga Dewa. Jumlah fans itu, konon mencapai ratusan ribu (masih agak jauh dari angka 7 juta umat, tapi tak apalah). Nah, pembaca tahu juga kan akhirnya jika keputusan Dhani masuk politik tepat? Sebab, ia tahu ia punya basis massa. Meski belum ada riset berapa fans Dewa yang murtad dari Dewa lantaran kecewa dengan Dhani, tapi kita semestinya chusnudzon saja.

Kelahiran Dhani dan kedekatan kultural dengan Jawa Timur, makin melengkapi kapital politik yang ia perlukan. Walaupun saat ini muncul tren bahwa calon kepala daerah tak perlu berasal asli dari daerah pemilihan, tapi Dhani toh memegang teguh prinsip ini: mengabdi pada wilayah tempat dia dilahirkan. Mulia bukan?

Jadi apa alasan untuk menolak mas Dhani? Riwayat sekolah?

Jangan salah, beliau masuk SMP beken paling kondang di Surabaya, SMPN 6 yang menjadi barometer kecerdasan dan kegaulan, dan tembus ke SMA komplek SMAN 2, yang sampai kini didaku sebagai pusatnya cowo-cewe ganteng-cantik. Kurang apa? Sarjana tak pentinglah di bahas di sini, lha wong SMP SMA mas Dhani sudah mantap jiwa begitu.

Selebritas Dhani pula yang akan diharapkan mampu merebut simpati anak muda milenials, anak-anak kecebong yang masih doyan mendengar Dewa dan mbak Mulan Jameela. Jumlah anak-anak ini tentu banyak. Belum lagi ibu-ibu yang benci Maia Estianty, mantan istri Dhani, dan lebih simpati pada keluguan mbak Mulan. Jika digabung, maka potensi ceruk massa Dhani amatlah besar.

Jadi, terang-benderang bahwa Dhani adalah kandidat yang potensial. Jangan buta politik begitu.

Soal mutu? Nanti sajalah dibahas.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 225

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Perempuan Endonesa di Tengah Jalangnya Panggung Politik 0 162

Perempuan memang harusnya masak di dapur ajah! Gak usah politik-politikan!”

Pernyataan di atas bisa jadi sasaran bahan bully yang empuk di era ini, utamanya karena populasi kaum penganut feminis akut kian meningkat (apalagi yang kelewat pede, merasa lebih unggul dari laki-laki). Keterbukaan pada media sosial membuat kesadaran gender jadi makanan sehari-hari, baik untuk ditenggak maupun di-lepeh lagi.

Namun, nyatanya di kancah perpolitikan, kalimat tersebut ternyata masih pantas-pantas saja dilambungkan. Oke, kini makin banyak politisi perempuan yang muncul ke permukaan. Makin banyak perempuan yang menjadi pimpinan dalam posisi strategis. Catat saja Jawa Timur sudah dikuasai 10 emak-emak sebagai kepala daerah. Tapi masalahnya, apakah kenyataan ini mampu mengobati kekhawatiran kita akan ketimpangan peran perempuan di pertarungan hidup politik yang sengit ini?

Penulis meragukan betul jawabannya. Pasalnya, kemarin, selepas menonton talkshow yang digelar idola, masih belum ada juga stigma negatif terhadap politisi perempuan yang berusaha diubah. Justru, dua wanita dari partai biru-biru, yang saat itu hadir sebagai bintang tamu, yang nyatanya masih mempertahankan pola pikir lama tentang perempuan.

Wanita dari partai biru A menyebut berkali-kali dengan bangga bahwa dirinya adalah politisi perempuan. Sudah, sampai situ saja. Tidak jauh berbeda dengannya adalah politisi dari partai biru B. Menekankan identitasnya sebagai perempuan, ia merasa mengungguli suara di timur Jawa dari ibu-ibu dan anak generasi milenial.

Kemudian hal ini menyisakan pertanyaan dalam benak kita semua, “Terus nek awakmu wedhok, aku kudu lapo?”

Iya. Saudara-saudara, bukankah kita sebagai perempuan memimpikan women empowerment dalam program kerja dan perwujudan hukum di Indonesia dari politisi perempuan juga?

Sayangnya, para mbak-mbak, politisi perempuan di negera kita ini masih dihantui dengan kecenderungan untuk dilemahkan. Benar memang 30% kursi DPR harus diisi oleh mereka yang di KTP-nya tertulis ‘perempuan’. Tapi, bagaimana jika angka tersebut digunakan sebagai syarat formalitas belaka? Sayembara digelar, perempuan dilibatkan, hanya cuma agar supaya angka terpenuhi dan partai politik lolos verifikasi memasukkan benderanya di surat suara.

Sebuah jurnal yang meneliti kinerja DPRD Surabaya menyebut politisi perempuan saat berpendapat di rapat paripurna cenderung tidak dianggap dan bahkan direndahkan dengan kalimat verbal. Demikian pula jurnal ini menyebut pendidikan politik di akar rumput hanya mementingkan pemenuhan syarat keterwakilan perempuan, bukan memilah isu-isu yang seharusnya pas dipegang politisi perempuan. Tidak heran jika istri, anak, dan sanak saudara yang berjenis kelamin perempuan dari para pimpinan parpol ujug-ujug muncul wajahnya di spanduk kampanye pinggir jalan. Nyaleg.

Sebuah tesis berjudul “Gambaran Politisi Perempuan dalam Arena Politik Indonesia di Media Massa” juga menyebut, pemberitaan di media tentang politisi perempuan masih hobi nyerempet ke isu domestik. Identitas sebagai politisi dilengkapi dengan sentuhan “tuntutan” untuk tetap menjadi tukang masak, tukang nyapu-ngepel, dan guru les anak dalam berbagai pemberitaan. Dalam media pun, politisi perempuan cenderung digambarkan ndompleng ke nama besar laki-laki yang menjadi “promotornya”.

Nyatanya, perempuan kalau jadi politisi memang banyak tantangannya. Ranah dapur yang lekat dalam image perempuan didobrak paksa habis-habisan ketika ia memilih ranah publik dengan menjadi politisi. Belum lagi ketika perempuan berhasil merebut jabatan-jabatan vital di tingkat nasional maupun daerah. Segala hukum agama, dan kalau bisa hukum rimba, digunakan untuk menjegal mereka. Hal ini tidak mengherankan mengingat kita hidup dengan catatan sejarah panjang dan konteks budaya yang lekat dengan pandangan patriarki. Kita masih terjebak bahwa politik adalah pekerjaan maskulin.

Lah terus piye? Apakah dengan begitu para pemimpin dan politisi perempuan yang tengah menjabat kini kurang mumpuni? Tidak juga. Tri Rismaharini, yang dikenal suka marah-marah itu, selalu dihujani penghargaan kelas internasional dan tetap teguh menutup jurang Gubeng dalam lima hari. Khofifah Indar Parawansa bisa dikata berhasil memenangkan kontestasi Jatim 1 akibat jaringan massa yang kuat dan prestasi sebelumnya yang bergerak di ranah sosial, bidang yang “cewek banget”.

Tapi ya balik lagi, artinya politisi perempuan memang harus menunjukkan rapot terlebih dahulu baru beroleh penghormatan yang sepadan. Jika tidak kuat menerjang gelombang maut permainan politik yang sarat kecurangan dan dendam, politisi perempuan yang selalu jadi sasaran korban ini tidak akan dipandang.

Sedih ya? Susah amat jadi politisi perempuan!

Editor Picks