Tempat Kos Nyaman versi Pak Agus Rahardjo 0 1224

Tak selamanya anak kos kere, Sungguh…

Mari kita sepakat jika banyak yang masih berprasangka bahwa manusia-manusia indekos selalu berada di barisan terdepan antrean makanan gratis. Tentu saja ini ngawur, penuh stereotipe dan datang dari pemahaman yang tidak holistis. Masih ada harap bahwa anak kos sebenarnya memiliki banyak peluang menjadi kaya.

Pertama, anak kos adalah seorang filsuf cum pemikir. Selain mikir karena kehabisan beras, kopi, air galon, atau lupa ngunci pintu kamar pas pergi ke Sutos, anak kos juga banyak merancang strategi agar terhindar dari utang-piutang. Tentu saja caranya bukan dengan bersembunyi, tapi kerja, kerja, kerja. Jenisnya banyak. Mulai dari pekerjaan internal dan eksternal kampus, hingga yang paling bergengsi kalau diajak riset bersama dosen—suatu kebanggaan yang acapkali dibayar sekedar suwun.

Kedua, peluang ini yang paling memungkinkan anak kos jenis mahasiswa bisa menjadi kaya tanpa wisuda. Dalam buku yang disusun oleh Richard Tanter, Kenneth Young, dan kawan-kawan (1993), berjudul “Politik Kelas Menengah Indonesia”, banyak menyebutkan bahwa kelas menengah berada di titik fungsional sebuah Industri. Berbeda dengan kelas atas yang berkutat pada akumulasi modal atau kelas bawah yang sibuk memproduksi barang. Kelas menengah mengantarai keduanya. Selain itu, kelas menengah juga bisa dilacak dengan mengukur estimasi waktu produktifnya.

Semisal kelas menengah golongan mahasiswa, paling-paling waktunya digunakan dari jam 08.00 – 11.30. Itu pun kalau ada dosen. Sisa waktu  lain digunakan untuk menghafal lagu, dari yang patriotik sampai menye-menye, dilanjut dengan membuat instastory gambar gelap + lampu kelapkelip ala tumblr.

Adakah yang berani mengajak anak kos untuk merumuskan masalah sosial sembari mengisi kekosongan produktif mereka? Siapa tau bisa memantik semangatnya bekerja demi hidup yang lebih baik. Daripada leyehleyeh seharian di kamar mendengarkan kimcil kepollen.

Pak Agus

Pernahkah terbit perasaan iri pada para koruptor alias pencuri duit rakjat? Membuat rugi negara lho kok hukumannya jadi anak kos. Sudah begitu difasilitasi tempat olahraga, disediakan sarapan dan makan malam (semoga aja ada micinnya), tak perlu takut kelaparan, kalau sakit bisa langsung dilarikan ke klinik tanpa antre model bpjs. Duh! Nikmat negara mana lagi yang kau dustakan, mas, mbak?

Kabarnya, tempat yang lebih mirip kos-kosan itu mampu menampung sampai 37 ekor tahanan, dilengkapi kipas-angin dan kamar mandi dalam. Pasti ada wifi-nya, cuma tak pakai password, percuma. Oleh mereka, apapun yang tersembunyi akan gagal menjadi rahasia. Di Surabaya saja dengan fasilitas sedemikian lengkap dengan kisaran harga sewa 800 ribu perbulan, sudah bisa ditebak kos tersebut hanya untuk/khusus kelas atas.

Juga mereka ndak butuh jadwal piket ngisi air galon, apalagi pergi ke konter buat beli pulsa listrik. Tak perlu khawatir, dalam naungan pak Agus semua tuntas tanpa masalah. Ya, pak Agus Rahardjo, ketua KPK itu, bapak kos mereka-mereka.

Hanya saja pak kos terlalu mengabaikan jumlah penghuni, sebab tiap rezimnya pasti bakal ada yang nge-kos di sana. Tolong, ya, pak, kamarnya ditambah. Sebentar lagi ada yang mau daftar, tuh. hehe

Sekali lagi, pembaca yang budiman, agaknya kita juga harus mengurangi stereotip jika anak kos itu hidupnya selalu malang dan berada di barisan terdepan antrean makanan gratis. Karena embrio seorang borjuis tertanam di cara berpikir mereka. Kita hanya cukup berdoa agar kids jaman now sesegera mungkin meniatkan diri untuk merubah dunia dengan cara yang adil. Dan mengikutsertakan orang banyak dalam kesejahteraan. Bukan malah seperti anak-anak kos asuhan (dipelihara) pak Agus Rahardjo yang meneruskan hirarki kejahatan.

Sekarang kita sedang dihadapkan oleh berbagai dinamika yang meliputi dua dikotomi pilihan: jujur tapi sengsara atau bohong tapi bahagia. Dari dua studi kasus antara anak kos versi mahasiswa dan versinya pak Agus, kita bisa mengambil hikmah bahwa kesuksesan itu dirintis dari keterbatasan.

Saya tahu betul bagaimana rasanya jadi anak kos, karena saya sudah membuktikan itu secara empiris. Memang kerap kali kita digoda untuk melakukan tindakan di luar norma atau ngerinya lagi sampai melanggar hukum demi tetap hidup. Contoh, maling ayam untuk pedagang crispy yang konon katanya mau menyaingi kentaki milik Amerika. Ada juga yang saat cangkruk makan gorengan 9 tapi yang dibayar cuma 2.

Kids jaman now, sesungguhnya cara-cara ini keliru, seumpama bertani, apa yang kita tanam suatu saat akan kita panen. Dan jika dibiarkan terus-menerus, ini bisa membudaya hingga anak-cucu kita. Tetapi begitu lah yang sedang terjadi sekarang. Kita dapat melihat betapa kebiasaan ini masih diabadikan oleh anak-anak kos asuhan pak Agus. Untuk itu, kita sebagai indekos yang masih menyandang tugas mulia seorang mahasiswa, mari, bersama-sama meluruskan sejarah dan membangun kembali tradisi kejujuran. Tutup rapat-rapat niatan buruk macam mencuri sekalipun lapar sudah mencapai puncaknya. Bekerja lah dengan sungguh-sungguh, insyaallah, Tuhan tidak menutup rezekinya untuk kita.

Eh, betewe, jangan lupa bayar kos ya, jangan sampai ditagih, apalagi pura-pura sakit…

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Renungan Jelang Lepas Kampus 0 163

Setidaknya selama empat tahun lebih sedikit saya sudah menghabiskan waktu di kampus. Melewati banyak cerita-cerita romantik nan dramatik. Kesemuanya itu dikemas dalam tema-tema yang beragam; mulai dari modus politik, organisasi, diskusi intelektual, dan sebagainya-dan sebagainya.

Kalau digelar kembali peta kenangan itu, mungkin sudah membentang ke sejauh mata memandang. Tak ada yang belum saya lakukan untuk rampung disebut mahasiswa. Demonstarsi, aduh, dari senang sampai jenuh. Merasakan dapat nilai rendah dalam mata kuliah statistika, tentu saja pernah. Merantau jauh dari keluarga. Betapa beruntungnya saya sebab pernah mengalami ini juga. Setidaknya kesepian akan menempamu menjadi dewasa, begitu orang-orang bilang.

Dalam hitungan akademik, saya boleh dikata terlambat dalam menyelesaikan studi. Banyak faktor yang menyebabkan ini dapat terjadi, dan kalian pasti bisa menebak-nebak salah-duanya. Misal tentang kesibukan berorgansisasi atau niat yang belum tersusun rapi.

Kemudian saya melihat kawan-kawan saya yang lulus “tepat waktu”. Sebagian besar di antara mereka sudah dapat kerja, sisanya masih nyaman dalam kondisi ketenangan yang tiadatara. Kondisi yang tak mengharuskan mereka untuk memikirkan apakah teori-teori marxis kelak akan menjadi kenyataan. Atau cukupkah sudah gaji UMR untuk membayar prasmanan saat nikahan nanti.

Pada suatu malam, yah selalu malam, saya ketemu dengan kawan lama. Walaupun belum lama-lama amat, tapi kami perlu menyebut ini “lama” karena dia datang menggunakan tampilan baru namun dengan sifat yang lapuk. Saya menjadi sangsi ketika dia berbicara ala mahasiswa tapi gayanya bah pegawai bank: santun dan ekonomis.

Di awal perbincangan kami, semua terasa mudah. Seperti yang pernah-pernah. Kami saling bertukar kabar, berbagi cerita tentang pasangan masing-masing. Aduh memuakkannya. Namun selalu saja ini membikin penasaran. Kawan saya bercerita, isinya sama seperti yang pernah-pernah, tapi cara dia menuturkan dan penuhnya bumbu-bumbu heroisme membuat saya geli.

Dia menceritakan kelakuan pacarnya yang terus minta ditemani makan malam. Dia selalu menyalip manakala pacarnya itu mulai berjalan ke arah kasir sambil berkata, “sudah, aku saja yang bayar.” Kalimat ini disampaikannya dengan tegas, lugas. Begitu kira-kira ia memberikan bayangan pada saya.

Setelah purna bercerita, kawan ini balik bertanya pada saya yang sejak tadi terlalu khidmat mendengarkan sampai sesekali menguap: “skripsimu masih jauh?”. Saya diam sebentar. Saya sudah paham mau menjawab apa. Tapi saya kuwatir, perkataan saya selanjutnya akan membuatnya tersinggung.

Saya membenarkan posisi duduk. Laiknya sedang bersiap mengatakan hal yang terkesan serius, “begini” kata saya, “skripsiku sudah nyaris rampung. Tak lama lagi. Butuh barang satu atau dua minggu bagiku. Tapi aku belum yakin…”

Belum selesai saya bicara kawan ini langsung memotong: “belum yakin apa, bung?” Kawan ini menyesap kopinya dengan singkat lalu berkata lanjut, “lapangan kerja sudah benaran lapang buat kamu, aku taulah jaringanmu itu. Pacarmu sudah tunggu pula. Kamu harus segera cari uang. Pikirkan nasibmu sendiri. Butuh apa lagi?”

Saya membatin: “perilaku yang seperti inilah, bung. Yang seperti kau alami sekarang. Membuatku ngeri bertemu dunia luar.”

Saya tak sampai menjawab begitu memang. Namun saya menjelaskan saja sebagaimana wajarnya. Semata-mata untuk merawat suasana supaya tetap akrab.

Saya ingat betul, dulu, sekitar empat tahun yang lalu. Saya dan kawan ini bareng-bareng pergi ke perpus, sekadar melihat-lihat judul buku-buku filsafat yang bikin diri senang. Pengin sekali baca itu semua tapi naas otak tak sampai. Akhirnya kami hanya foto-foto saja. Jadikan wallpaper hape semata-mata supaya merasa “sudah selesai”.

Pernah juga kami berada dalam satu barisan pada sebuah demonstrasi besar. Ketika itu kami saling mempererat gandengan, untuk membentuk pagar bagi para pembawa tuntutan. Agar tuntutan mereka tidak terserang provokator dari luar massa hingga sampai di meja penguasa.

Yah, kisah-kisah itu cuma pleidoi lama yang tak perlu disayangkan atau disesalkan. Berakhir jadi kenangan di setiap mata memandang pun sudahlah cukup.

Menjelang dini hari, dia undur diri. Kawan saya ini. Dia minta maaf kerna harus pulang lebih cepat. “Ada agenda yang perlu diselesaikan besok pagi di kantor,” katanya.

Tubuh kawan saya tenggelam dalam mobil yang disetirnya sendiri. Saat menancapkan gas, ia memencet klakson seolah-olah memberi tanda bahwa kita bisa berjumpa lagi nanti. Dengan cara yang sama. Cerita yang sama. Namun nasib yang lain. Kelak, ketika kami tak lagi dipisahkan oleh jurang yang lebar. Dalam. Sehingga dasarnya tak terlihat akibat terlalu pekat.

Ke Mana Perginya Aspirasi? 0 71

Idealnya, mengelola aspirasi merupakan unsur politik yang paling kudu diutamakan. Aspirasi dapat dimanifestasikan melalui berbagai kebijakan yang memengaruhi keberlanjutan hidup masyarakatnya.

Aspirasi hadir, tentu saja dari hasil pergulatan masyarakat atas kebutuhannya yang sudah terkonsensus secara luas. Beragam aspirasi pun muncul seiring dengan banyaknya komunitas masyarakat yang merasa aspirasinya paling perlu untuk disegerakan.

Pada titik ini, tidak sedikit masyarakat sampai harus bersusah payah “berperang” untuk menjadi prioritas dalam program pemerintah. Hal yang kadang juga membuat para legislatif atau kepala daerah membulatkan tekadnya untuk berkontestasi dalam gelanggang politik membawa cita-cita mulia dari komunitas yang mereka wakili.

Tetapi sebentar, mungkinkah akan ada waktu yang membuat masyarakat kita melakukan kesepakatan bersama tanpa adanya dikotomi yang sarat kontestasi beraspirasi?

Pada masa Orde Baru, mempersempit aspirasi telah menjadi budaya politik yang dibangun negara. Masyarakat hanya perlu duduk manis di rumah, menerima segala bentuk perhatian negara sebagai yang “patut disyukuri”.

Pernah suatu ketika pada masa itu, sekitar tahun 1976, Soeharto membuat program yang pada intinya menggalakkan televisi untuk masuk ke seantero desa di nusantara. Semata-mata untuk menyiarkan berita melalui TVRI tentang betapa bagusnya proses pembangunan yang dilakukan negara di bawah kepemimpinan Presiden.

Padahal saat itu, aspirasi terbesar datang dari korban 65, serta para aktivis pro demokrasi yang hilang entah kemana. Artinya, aspirasi yang terkonsensus secara luas dan masif pernah terjadi, namun kemudian mudah dirubuhkan melalui serangkaian propaganda yang mengepung masyarakat. Tidak hanya di kota, yang notabene dekat dengan akses informasi, melainkan juga di desa yang pelan-pelan dibuat (dipaksa) mengerti bahwa pergulatan politik di Ibu Kota sedang baik-baik saja.

Hingga menjelang reformasi, kesadaran politik mulai muncul dengan spektrum yang lebih luas. Keinginan untuk melawan kekuasaan meluap, dan demokrasi harus ditegakkan secepat mungkin. Orde Baru pun tumbang, Indonesia merasa dirinya lahir kembali dengan wajah baru.

Orang-orang yang sudah paham tentang situasi politik di Jakarta, cepat-cepat mendekatkan diri untuk mengisi kekosongan personil dalam sistem kenegaraan yang sedang diambang kehancuran. Perpindahan pemimpin dari Habibi, Gus Dur, sampai megawati bergulir secara semrawut. Fenomena ini berhasil menunjukkan wajah lugu negara di hadapan kekuasaan Soeharto yang masih bercecer di mana-mana. Umpama burung yang baru dilepas dari sangkar, burung itu akan terbang ke segala tempat yang nyaris tidak pernah dijumpainya. Bahkan ketika burung itu tidak bisa membedakan, mana langit dan mana mulut buaya.

Preode demi preode dilalui. Hasrat politik masyarakat mulai memudar. Hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin santer meluas ke berbagai penjuru negeri. Menurut Tirto.id yang memuat data tentang tingkat golput, serta kenyataan jumlahnya yang semakin meningkat, mencatat setidaknya pada tahun 2004 (29,10%) dan 2014 (29,1%) adalah yang terbesar. Naas – lagi-lagi – kebudayaan politik kita harus masuk ke jurang yang salah.

Politik mulai terbiasa dibicarakan sebatas hitung-hitungan jumlah suara, alih-alih mendengar apa yang disuarakan. Aspirasi pun lambat laun kehilangam tempat. Jurnalis, yang semestinya hadir sebagai kelompok yang memergoki realitas banal ini turut serta hanyut dalam wacana “hitung-hitungan”.

Kata Seno Gumira Ajidarma, ketika Jurnalis dibungkam, Sastra yang mustinya bicara. Sastra wajib maju di barisan terdepan untuk mengambil peran yang menyalurkan aspirasi orang banyak. Namun pada saat yang bersamaan (pasca reformasi), sastra belum juga bangun dari tiarap panjangnya.

Bukan karena bahasa yang dikenakan sastra terlampau berat, sehingga membuat realitas semakin abstrak alih-alih menerangkan realitas itu sendiri bagi para pembacanya. Akan tetapi karena sastra itu sendiri juga sudah kehilangan tempat. Posisi mereka termonopoli oleh Jurnalis.

Momen-momen puitik yang sebenarnya menjadi menu utama sastra, telah direbut oleh jurnalis. Misal tentang kesibukan seorang politisi menggaruk punggung, atau kacamata seorang artis yang hanyut di laut, bahkan cerita tentang seorang petani yang berhasil menyekolahkan anaknya hingga sarjana pun turut diliput. Kesemuanya itu dikemas secara dramatik nan sastrawi.

Ketika Politik, Jurnalis, bahkan Sastra tidak memfasilitasi aspirasi, kemanakah aspirasi itu sekarang?

Akankah ketiadaan aspirasi tersebut dapat dijadikan alasan untuk menuduh bahwa masyarakat sudah tidak kritis?

Rasanya memang sedang terjadi kekeliruan di sini. Dan perlu diluruskan. Dan perlu dipahami kembali. Sebab akan menjadi hal yang mengkhawatirkan ketika aspirasi bukan hanya sekadar tidak lagi disalurkan, tapi saluran itu sendiri sudah tidak bisa lagi menyalurkan.

Sesungguhnya aspirasi mengudara di sembarang tempat. Kemungkinan besar hanya kitalah; yang luput menghirupnya.

Editor Picks