Tempat Kos Nyaman versi Pak Agus Rahardjo 0 2111

Tak selamanya anak kos kere, Sungguh…

Mari kita sepakat jika banyak yang masih berprasangka bahwa manusia-manusia indekos selalu berada di barisan terdepan antrean makanan gratis. Tentu saja ini ngawur, penuh stereotipe dan datang dari pemahaman yang tidak holistis. Masih ada harap bahwa anak kos sebenarnya memiliki banyak peluang menjadi kaya.

Pertama, anak kos adalah seorang filsuf cum pemikir. Selain mikir karena kehabisan beras, kopi, air galon, atau lupa ngunci pintu kamar pas pergi ke Sutos, anak kos juga banyak merancang strategi agar terhindar dari utang-piutang. Tentu saja caranya bukan dengan bersembunyi, tapi kerja, kerja, kerja. Jenisnya banyak. Mulai dari pekerjaan internal dan eksternal kampus, hingga yang paling bergengsi kalau diajak riset bersama dosen—suatu kebanggaan yang acapkali dibayar sekedar suwun.

Kedua, peluang ini yang paling memungkinkan anak kos jenis mahasiswa bisa menjadi kaya tanpa wisuda. Dalam buku yang disusun oleh Richard Tanter, Kenneth Young, dan kawan-kawan (1993), berjudul “Politik Kelas Menengah Indonesia”, banyak menyebutkan bahwa kelas menengah berada di titik fungsional sebuah Industri. Berbeda dengan kelas atas yang berkutat pada akumulasi modal atau kelas bawah yang sibuk memproduksi barang. Kelas menengah mengantarai keduanya. Selain itu, kelas menengah juga bisa dilacak dengan mengukur estimasi waktu produktifnya.

Semisal kelas menengah golongan mahasiswa, paling-paling waktunya digunakan dari jam 08.00 – 11.30. Itu pun kalau ada dosen. Sisa waktu  lain digunakan untuk menghafal lagu, dari yang patriotik sampai menye-menye, dilanjut dengan membuat instastory gambar gelap + lampu kelapkelip ala tumblr.

Adakah yang berani mengajak anak kos untuk merumuskan masalah sosial sembari mengisi kekosongan produktif mereka? Siapa tau bisa memantik semangatnya bekerja demi hidup yang lebih baik. Daripada leyehleyeh seharian di kamar mendengarkan kimcil kepollen.

Pak Agus

Pernahkah terbit perasaan iri pada para koruptor alias pencuri duit rakjat? Membuat rugi negara lho kok hukumannya jadi anak kos. Sudah begitu difasilitasi tempat olahraga, disediakan sarapan dan makan malam (semoga aja ada micinnya), tak perlu takut kelaparan, kalau sakit bisa langsung dilarikan ke klinik tanpa antre model bpjs. Duh! Nikmat negara mana lagi yang kau dustakan, mas, mbak?

Kabarnya, tempat yang lebih mirip kos-kosan itu mampu menampung sampai 37 ekor tahanan, dilengkapi kipas-angin dan kamar mandi dalam. Pasti ada wifi-nya, cuma tak pakai password, percuma. Oleh mereka, apapun yang tersembunyi akan gagal menjadi rahasia. Di Surabaya saja dengan fasilitas sedemikian lengkap dengan kisaran harga sewa 800 ribu perbulan, sudah bisa ditebak kos tersebut hanya untuk/khusus kelas atas.

Juga mereka ndak butuh jadwal piket ngisi air galon, apalagi pergi ke konter buat beli pulsa listrik. Tak perlu khawatir, dalam naungan pak Agus semua tuntas tanpa masalah. Ya, pak Agus Rahardjo, ketua KPK itu, bapak kos mereka-mereka.

Hanya saja pak kos terlalu mengabaikan jumlah penghuni, sebab tiap rezimnya pasti bakal ada yang nge-kos di sana. Tolong, ya, pak, kamarnya ditambah. Sebentar lagi ada yang mau daftar, tuh. hehe

Sekali lagi, pembaca yang budiman, agaknya kita juga harus mengurangi stereotip jika anak kos itu hidupnya selalu malang dan berada di barisan terdepan antrean makanan gratis. Karena embrio seorang borjuis tertanam di cara berpikir mereka. Kita hanya cukup berdoa agar kids jaman now sesegera mungkin meniatkan diri untuk merubah dunia dengan cara yang adil. Dan mengikutsertakan orang banyak dalam kesejahteraan. Bukan malah seperti anak-anak kos asuhan (dipelihara) pak Agus Rahardjo yang meneruskan hirarki kejahatan.

Sekarang kita sedang dihadapkan oleh berbagai dinamika yang meliputi dua dikotomi pilihan: jujur tapi sengsara atau bohong tapi bahagia. Dari dua studi kasus antara anak kos versi mahasiswa dan versinya pak Agus, kita bisa mengambil hikmah bahwa kesuksesan itu dirintis dari keterbatasan.

Saya tahu betul bagaimana rasanya jadi anak kos, karena saya sudah membuktikan itu secara empiris. Memang kerap kali kita digoda untuk melakukan tindakan di luar norma atau ngerinya lagi sampai melanggar hukum demi tetap hidup. Contoh, maling ayam untuk pedagang crispy yang konon katanya mau menyaingi kentaki milik Amerika. Ada juga yang saat cangkruk makan gorengan 9 tapi yang dibayar cuma 2.

Kids jaman now, sesungguhnya cara-cara ini keliru, seumpama bertani, apa yang kita tanam suatu saat akan kita panen. Dan jika dibiarkan terus-menerus, ini bisa membudaya hingga anak-cucu kita. Tetapi begitu lah yang sedang terjadi sekarang. Kita dapat melihat betapa kebiasaan ini masih diabadikan oleh anak-anak kos asuhan pak Agus. Untuk itu, kita sebagai indekos yang masih menyandang tugas mulia seorang mahasiswa, mari, bersama-sama meluruskan sejarah dan membangun kembali tradisi kejujuran. Tutup rapat-rapat niatan buruk macam mencuri sekalipun lapar sudah mencapai puncaknya. Bekerja lah dengan sungguh-sungguh, insyaallah, Tuhan tidak menutup rezekinya untuk kita.

Eh, betewe, jangan lupa bayar kos ya, jangan sampai ditagih, apalagi pura-pura sakit…

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pleidoi Singkat Tentang Ratusan Hari Kesedihan 0 409

Kita sedang berada di puncak ironi. Tawa dilepaskan sekadarnya saja, seperti hela napas yang berlangsung pendek. Selebihnya, wajah kita akan kembali dipupuri kecemasan.

Kini, dering telepon membawa kesan tersendiri; apakah kabar duka selanjutnya sudah datang?

Suara sirine menyayat tabir waktu, dan kita – entah sejak kapan – akan hening sebentar tiap kali ia berlalu; mengira-ngira siapa yang diangkut dari arah sana? Dari kamar sunyi seorang perawat kah? Atau kurir yang tergeletak setelah diprotes karena mengantar barang tak sesuai dengan pesanan si pembeli?

Sementara di tempat yang jauh dari segala bunyi kematian itu, kita tahu, sekawanan orang yang mestinya bertanggung-jawab atas kesengsaraan ini sedang melakukan hal-hal yang biasa kita bayangkan tentang mereka.

(Sudah dapat berapa poin di lapangan golf, kamerad-kamerad sekalian? Saya izin mengeluh dulu, ya. Mohon jangan dinganu).

Belakangan kita mulai sering menonton aksi semprot aparat. Sejumlah pedagang kecil tak beruntung menjadi sasaran amuk masa (/masa tanpa dobel ‘s’) kebijakan babibu. Seorang pedagang menangis, dan dari airmatanya kita bisa melihat pantulan cahaya lampu mal, lampu kamera, lampu sirine ambulans yang kebetulan lewat, lampu lalu lintas, lampu mobil yang terjebak kemacetan, lampu bakul pedagang itu sendiri yang sesaat kemudian dipecahkan pakai pentungan. Betapa airmatanya kelewat gemerlap untuk tampil menjadi bagian dari kesedihan.

Pernah viral juga sebuah video seorang aparat tengah memamerkan kemampuannya mematahkan gitar-gitar milik para pengamen yang terjaring razia. Para pengamen itu mungkin, sama halnya dengan nasib para pedagang yang disemprot, kini sedang kebingungan mencari cara baru mengisi perut yang senantiasa berbunyi “krek” seperti denyit ranjang tua. Semoga saja tangan para pengamen itu tak ikut dipotong, paling tidak mereka masih bisa menguarkan irama dari tepukan. Kebetulan kalian belum pernah mendengar lagu Indonesia Raya dibawakan dalam format punk, bukan?

Saya sebenarnya ingin menulis lebih banyak dari yang bisa dibaca sekarang, tapi jujur saja, saya takut akan segala kemungkinannya. Seperti kemungkinan-kemungkinan yang biasa menimpa orang-orang bersuara nyaring itu. Saya tak bisa seberani mereka, setidaknya untuk sekarang. Saya masih terlalu Abu Janda untuk menjadi Dandhy Laksono.

Tentu kita sangat berharap suara-suara nyaring itu benar-benar dapat memekakkan gendang demokrasi, membangunkan hentakan revolusi yang selama ini mengendap di dasar kesabaran. Menyumbang sebanyak-banyaknya polusi protes di dinding twitter, mengedarkan berlembar-lembar halaman buku yang disusupi pamflet perlawanan, memperjuangkan kualitas akal-kesadaran agar tetap mendapat perawatan yang layak, serta berbagai tujuan progresif mulia lainnya. Peluang perubahan dari gerakan-gerakan itu mungkin memanglah masih seukuran lubang semut, tapi biarlah peluang tetap menjadi peluang yang berhak diharapkan.

Satu-satunya hal yang paling memungkinkan untuk kita lakukan saat ini ialah menjaga orang-orang tersayang dengan sebaik-baiknya cara. Ketika sudah kehilangan negara, setidaknya kita masih memiliki mereka.

Sungguh, saya tak tahu harus mengatakan apalagi setelah mengatakan semua ini, selain berharap kita semua tetap terlindung dalam haribaan semesta yang sehat.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Mengapa Pejabat Emoh dengan Media dan Memilih Channel Deddy Corbuzier 0 302

Pejabat atau pemerintah atau orang-orang penting seperti selebriti sekalipun, dari dulu takut dengan media. Sebab apapun pernyataan yang muncul dari mulut, tentu akan dikutip dan dijadikan judul berita, dari sudut beragam rupa, tergantung siapa wartawannya dan di media mana ia bekerja. Bahkan ketika si figur publik diam saja, bahasa tubuhnya tetap akan jadi berita, lengkap dengan kutipan narasumber ahli pembaca mimik wajah.

Tapi ada satu rahasia: sampai sekarang mereka-mereka ini masih takut dengan media.

Buktinya, mereka lebih mudah ditemui tampil di Youtube sekarang. Seorang teman wartawan dengar-dengar sempat sebel dengan seorang sosok penting. Katanya berhari-hari mengejarnya demi wawancara tak kunjung digubris. Begitu diundang Om Deddy Corbuzier untuk “wan tu tri klos de dor”, langsung mau ngomong panjang lebar dengan durasi 1 jam.

Pembaca tahu kan, channel Om Deddy itu memang ajaib. Di kursi potkesnya, segala macam menteri mulai dari yang kemudian digotong KPK, sampai Lord Luhut, sudah pernah duduk dan bercengkeramah di sana. Bahkan terakhir, sejumlah media mainstream sampai mengutip omongan Luhut dari Youtube Om Deddy, soal cara penanganan corona di Indonesia.

Beberapa orang yang dulu kita temui tenar sekali di layar kaca, sekarang bahkan membangun kanal Youtube sendiri. Buanyak contohnya. Saya rasa pembaca bahkan salah satu subscribernya. Mulai Raffi Ahmad sampai Bambang Soesatyo Ketua MPR RI, kini bikin channel sendiri.

Setidaknya, penulis membaca fenomena ini sebagai berikut:

Pertama, karena mereka-mereka ini tahu siapa target yang disasarnya. Kaum milenial sampai generasi Z dan Alpha. Mereka yang sudah mulai, bahkan sama sekali, meninggalkan media mainstream. Mereka yang menghabiskan hari-hari berselancar di media sosial. Mereka-mereka ini, terlebih para pejabat publik, berusaha meraih perhatian mereka dengan turut aktif bermedsos. Tentu untuk membangun citra baik.

Sebut saja Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang selalu jadi tempat menumpahkan sumpah serapah penyebab banjir, macet, dan episentrum covid-nya ibu kota. Baru kali ini saya lihat Anies marah-marah (loh kok niru-niru mantan walikotaku seh) pada pemimpin perusahaan non-esensial yang masih buka di kala PPKM Darurat mengharuskan 100 persen WFH.

Aksi itu bukan terekam di layar kaca berita loh ya, tapi di story Instargram-nya. Hal ini terjadi di tengah iritnya humas pemprov membagi agenda harian sidak-sidak gubernur pada awak media.

Belum lagi Khofifah Indar Parawansa, bunda-ne arek-arek, yang baru saja mengunggah foto tak biasa di akun Instagramnya. Bukan program kerja, melainkan tangkapan layar balas-balasan komennya dengan seorang netijen pemuda patah hati. Pendekatan yang sama juga sudah lama dilakukan Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng, dan terlebih Ridwan Kamil, Gubernur Jabar.

Mereka paham betul bagaimana bahasa yang harus digunakan pada para muda, dan topik apa saja yang menarik dibahas. Eh ralat, mungkin merekanya gak paham, setidaknya tim jubir, tim staf khusus ahli komunikasi, atau tim kampanye 2024-nya yang paham strategi memenangkan hati rakjat.

Hal kedua, ya tetap bermuara pada kesimpulan pejabat takut dengan media. Podcast para youtuber bisa menjadi pelarian yang paling tepat. Sebab hanya di medsos-lah, pejabat-pejabat ini bisa dengan bebas ngobrol soal musik favorit, hobi, bahkan love story. Hanya di sana, mereka bisa libur sejenak dari pertanyaan-pertanyaan memuakkan wartawan media mainstream yang tak pernah lelah “menyudutkan” (baca: mengkritisi).

Tapi gak apa-apa. Saya rasa, media mainstream tak perlu ikut-ikutan gaya youtuber agar disukai masyarakat atau membuat pejabat mau diwawancarai. Media cukup menjadi dirinya sendiri. Sebab apapun dalam kue kehidupan di dunya ini punya potongan dan porsinya masing-masing.

Media idealnya memang pilar keempat demokrasi dengan segala kekakuan prinsip, struktur, dan etika profesinya. Sementara medsos harus tetap ada pada pondasinya untuk membuat masyarakat kita berproses.

Masyarakat kita bisa tetap kok memilih media mainstream sebagai jujugan utama, landasan teori dan mewacanakan diskursus, yang kemudian bisa direalisasikan dalam tukar pendapat di medsos yang tak ada ambang batasnya, kecuali UU ITE.

Tapi, hal yang barusan saya bicarakan di atas itu kayaknya ya hanya harapan kita saja. Hari-hari ini, pembaca semua tahu, media mainstream dan media sosial sudah dikapitalisasi, jika tak terlalu kasar kita menyebutnya dimonopoli, oleh mereka yang berduit dan berkuasa saja, tak mampu membuat kita bebas mencerna dan berbagi wawasan.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks