Tipikal Agamawan Endonesah 2 1346

Hari Minggu adalah hari besar bagi siapa saja. Bagi mereka yang jomblo, saatnya tidur panjang. Bagi para pekerja yang sudah dililit rutinitas, saatnya jeda. Bagi para pemuda yang ingin diklaim kekinian, saatnya ke CFD untuk cari jajanan serba manis (tapi mahal), lalu beramai-ramai selfie. Bagi yang nasrani, saatnya beribadah (walaupun kebersihan dan nikah katanya juga ibadah).

Pada sebuah pengamatan saya di hari Minggu, suatu temuan menarik ada layaknya perlu dibagi pada pembaca sekalian. Walau temuan ini adalah kebiasaan dari masa ke masa. Jangan disangka mereka yang bersusah-payah pergi ke rumah ibadah, niatannya sungguh murni seperti konteks ruang dan waktunya. Ternyata orang yang berangkat ke gereja punya motivasi macam semangat persatuan bhineka tunggal ika.

Hal ini wajar, karena pandangan tentang ‘tuhan’ (yang tak pernah mencapai kesatuan final) memang beraneka ragam. Seperti sabda Rene Descartes “saya berpikir, maka saya ada”, konsep peranan tuhan hanya akan ada dan dibentuk oleh orang itu sendiri. Jika ‘tuhan’ diasumsikan merupakan kekuatan yang lebih besar dari dirinya, maka begitulah seorang mempraktekkannya dalam hidup. Berlaku sama apabila ‘tuhan’ di konsep remeh temeh dan hanya candu (seperti lagu Awkarin).

Berikut ini kira-kira tipikal umat gereja tentang konsep ketuhanan yang nampak dari caranya beribadah. Semoga, uraian ini mampu mewakili dan relevan bagi kepercayaan apapun, para agamawan Endonesah (dibaca Indonesia kecuali oleh kids jaman now).

Tuhan adalah kartu kredit. Sebagian agamawan mungkin mengkonstruksi ‘tuhan’ sebagai lumbung uang. Itulah mengapa mungkin jemaat datang musiman ke gereja, menagih janji-Nya yang maha-tepat. “Tuhan, kan aku sudah rajin ibadah. Mosok yo, sampe bisnisku gak lancar?”.

Tuhan adalah dukun. Untuk tipikal ini, kemungkinan gambaran ‘tuhan’ adalah dukun santet yang bisa membawa malapetaka untuk membalaskan dendam kesumat. Misalnya, dengan penuh emosi meluap-luap, seseorang berdoa minta mantannya dikutuk jadi sejelek kera biar tak segera dapat pacar pengganti. Atau dalam suatu doa lainnya, jampi-jampi diucap semoga ‘tuhan’ menyegerakan anugerah diare akut pada dosen yang suka mempersulit kelulusan.

Tuhan adalah mak comblang. Bagi para tuna asmara, ‘tuhan’ harusnya bisa memberi jalan tol bagi mereka yang pesakitan di daftar panjang kaum jomblo semesta alam. “Tuhan, kalau dia jodohku, tolong dekatkanlah! Kalau bukan jodoh, coba dicek lagi, barangkali ada yang salah”.

Tuhan adalah bodyguard. Bagi agamawan yang dirundung keresahan, mereka suka menyugesti diri sendiri bahwa ‘tuhan’ adalah maha-pelindung (dengan cara yang suka berlebihan). “Tuhan, motorku di parkiran gereja. Tolong jaga helm-ku yang mahal itu ya Tuhan biar dihindarkan dari mata dan niatan orang jahat yang mau mencurinya! Engkaukan Maha-mengerti, belinya aja kasbon”.

Tuhan adalah petugas pencatat absen. Pokoknya sudah setor wajah ke tempat ibadah. Perihal jam kedatangan tidak perlu dari awal peribadatan. Ingat, orang penting datangnya terakhir!

Sampai di dalam gereja, mendengarkan kotbah itu kondisional. Kalau bosan, bisa disambi main HP. Mungkin umat yang satu ini bisnis property Meikarta-nya sedang genting dan harus diurus segera, atau pacarnya mengamuk kalau sedetik gak balas chat mengabari. Kalau mengantuk, ajak saja kawan di sebelah mengobrol dan ngrasani umat lainnya yang pakaiannya norak.

Mungkin umat gerejawi jenis ini harus belajar dari mahasiswa. Barangkali, teknologi titip absen harus dikembangkan supaya ‘tuhan’ mengira kita tetap terhitung datang.

Tuhan adalah manifestasi paksaan orang tua. Barangkali, banyak orang tua yang parno akibat terpaan berita terorisme atau komunisme yang begitu hebatnya di media (apalagi di grup Whatsapp). Maka, daripada anak tiba-tiba mengabdi pada ISIS atau jadi antek PKI, lebih baik menggerejakannya. Pokoknya mutlak!

Yang terakhir ini mungkin paling ngenes. Jika tipikal agamawan paham bahwa iman memang tak bisa tumbuh instan, namun mengapa jadinya pilihan merdeka hak asasi individu ini cenderung dipaksakan bukan dilatih? Sayangnya, pemaksaan berlebihan konsep ‘tuhan’ menjadikan tempat ibadah menjelma mirip dalih ‘daripada anakku masuk agama gak jelas lainnya’.

Terlepas dari semua tipikal pandangan ‘tuhan’ ini, kita patut bersyukur setidaknya bangsa ini dikurung dalam karakter agamis. Setidaknya, di Indonesia gereja selalu penuh tiap Minggu. Apalagi kalau musim Natal dan Paskah menjemput, gereja tiba-tiba membeludak, massanya bisa berlipat ganda seperti mujizat. Jika dibandingkan dengan Eropa sebagai tanah kelahiran nasrani itu sendiri, gereja-gereja megah malah kosong melompong mirip setting film drakula.

Bagi Indonesia yang cinta ritual, kita harus bersyukur bahwa pandangan tentang The Almighty masih tetap diilhami. Namun, ketika perziarahan hanya serupa kewajiban bukan kehausan, maka kita sudah final menjadi representasi kedangkalan agamawan. Barangkali, mereka yang memandang bangsa Indonesia agamis harus bersiap mulai menarik ucapan.

Previous ArticleNext Article

2 Comments

  1. Menarik opini yg anda tulis…
    saya senada dengan anda bahwa ketika prinsip “kewajiban” yang mendasari seseorang untuk beribadah, maka yang terjadi hanyalah formalitas dan belum menyentuh dari hakekat dasar hidup rohani (klise/permukaan saja).

    Akan tetapi, saya pikir fase ini (kewajiban entah ke gereja atau rumah ibadah lain) pernah dialami semua orang… namun perlu diketahui bahwa tingkat kedewasaan iman seseorang berbeda. Ada yg masih level “kewajiban”, ada yang sudah level “kehausan”, dan ada juga yang sudah mencapai puncaknya “Manunggaling Kawula Gusti”

    tidak bisa dipungkiri bahwa hidup manusia itu dinamis, maka tidak lantas yang sudah mencapai puncak itu akan terus berada di puncak… sebab tidak ada kata final selama kita masih berada di alam maya pada ini. Jalan spiritual tidak ada yang instan… semua harus dilatih terus menerus…

    hal ini juga sekaligus menanggapi pandangan anda terkait tipikal ke-6 yaitu Tuhan adalah manifestasi paksaan orang tua. di satu sisi saya sependapat dengan anda bahwa pemaksaan orang tua terhadap anak untuk memeluk agama tertentu bisa di lihat sebagai “perampasan hak asasi” sebab tidak ada kebebasan dalam menentukan pilihannya…

    namun di sisi lain, saya tidak setuju bahwa pemaksaan orang tua ini dianggap melanggar HAM… saya lebih memakai term “diarahkan” dari pada “dipaksa”… sebab hal itu sungguh berbeda jauh dan sangat tendensius… kata “diarahkan” lebih mengandung suatu tanggungjawab orang tua untuk mendidik anaknya baik secara kebutuhan jasmani atau rohani… maka dalam Gereja orang, tua memiliki tanggungjawab untuk memberikan bekal rohani yang baik pada anaknya (maka ada baptisan bayi).
    Hal ini jelas beda dengan pemaksaan kehendak atau merampas hak asasi manusia… sebab bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa mengambil keputusan sendiri?
    secara akal budi atau intelektual saja ia belum matang?
    membedakan makanan ini dan itu saja masih kesulitan…
    apalagi harus memilih sendiri agama apa yang harus dianut?
    oleh karena itu… peran orang tua sungguh penting dalam membina anaknya agar bisa mendapatkan bekal rohani yang baik…

    oya… mau menambahkan sedikit… “agama sebagai candu” itu sebenarnya pandangan Karl Marx.. barangkali Awkarin membeo Marx hehe..

    Ok. Secara keseluruhan artikel ini bagus.. Selamat-selamat…
    semoga kita semakin dicerahkan setelah membaca tulisan anda.. ringan, tajam dan provokatif…
    terimakasih…
    just share aja..
    Rahayu….

    1. Terima kasih sudah membaca 🙂
      Benar Mas, kita harus prihatin dengan orang tua yang hanya bisa “memaksa” agama pada anak tanpa memberi penjelasan komprehensif yang masuk akal tentang “apa itu agama” dan “mengapa kita harus beragama”.
      Terus pantau Kalikata dan ikutlah menulis! 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengapa Pejabat Emoh dengan Media dan Memilih Channel Deddy Corbuzier 0 302

Pejabat atau pemerintah atau orang-orang penting seperti selebriti sekalipun, dari dulu takut dengan media. Sebab apapun pernyataan yang muncul dari mulut, tentu akan dikutip dan dijadikan judul berita, dari sudut beragam rupa, tergantung siapa wartawannya dan di media mana ia bekerja. Bahkan ketika si figur publik diam saja, bahasa tubuhnya tetap akan jadi berita, lengkap dengan kutipan narasumber ahli pembaca mimik wajah.

Tapi ada satu rahasia: sampai sekarang mereka-mereka ini masih takut dengan media.

Buktinya, mereka lebih mudah ditemui tampil di Youtube sekarang. Seorang teman wartawan dengar-dengar sempat sebel dengan seorang sosok penting. Katanya berhari-hari mengejarnya demi wawancara tak kunjung digubris. Begitu diundang Om Deddy Corbuzier untuk “wan tu tri klos de dor”, langsung mau ngomong panjang lebar dengan durasi 1 jam.

Pembaca tahu kan, channel Om Deddy itu memang ajaib. Di kursi potkesnya, segala macam menteri mulai dari yang kemudian digotong KPK, sampai Lord Luhut, sudah pernah duduk dan bercengkeramah di sana. Bahkan terakhir, sejumlah media mainstream sampai mengutip omongan Luhut dari Youtube Om Deddy, soal cara penanganan corona di Indonesia.

Beberapa orang yang dulu kita temui tenar sekali di layar kaca, sekarang bahkan membangun kanal Youtube sendiri. Buanyak contohnya. Saya rasa pembaca bahkan salah satu subscribernya. Mulai Raffi Ahmad sampai Bambang Soesatyo Ketua MPR RI, kini bikin channel sendiri.

Setidaknya, penulis membaca fenomena ini sebagai berikut:

Pertama, karena mereka-mereka ini tahu siapa target yang disasarnya. Kaum milenial sampai generasi Z dan Alpha. Mereka yang sudah mulai, bahkan sama sekali, meninggalkan media mainstream. Mereka yang menghabiskan hari-hari berselancar di media sosial. Mereka-mereka ini, terlebih para pejabat publik, berusaha meraih perhatian mereka dengan turut aktif bermedsos. Tentu untuk membangun citra baik.

Sebut saja Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang selalu jadi tempat menumpahkan sumpah serapah penyebab banjir, macet, dan episentrum covid-nya ibu kota. Baru kali ini saya lihat Anies marah-marah (loh kok niru-niru mantan walikotaku seh) pada pemimpin perusahaan non-esensial yang masih buka di kala PPKM Darurat mengharuskan 100 persen WFH.

Aksi itu bukan terekam di layar kaca berita loh ya, tapi di story Instargram-nya. Hal ini terjadi di tengah iritnya humas pemprov membagi agenda harian sidak-sidak gubernur pada awak media.

Belum lagi Khofifah Indar Parawansa, bunda-ne arek-arek, yang baru saja mengunggah foto tak biasa di akun Instagramnya. Bukan program kerja, melainkan tangkapan layar balas-balasan komennya dengan seorang netijen pemuda patah hati. Pendekatan yang sama juga sudah lama dilakukan Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng, dan terlebih Ridwan Kamil, Gubernur Jabar.

Mereka paham betul bagaimana bahasa yang harus digunakan pada para muda, dan topik apa saja yang menarik dibahas. Eh ralat, mungkin merekanya gak paham, setidaknya tim jubir, tim staf khusus ahli komunikasi, atau tim kampanye 2024-nya yang paham strategi memenangkan hati rakjat.

Hal kedua, ya tetap bermuara pada kesimpulan pejabat takut dengan media. Podcast para youtuber bisa menjadi pelarian yang paling tepat. Sebab hanya di medsos-lah, pejabat-pejabat ini bisa dengan bebas ngobrol soal musik favorit, hobi, bahkan love story. Hanya di sana, mereka bisa libur sejenak dari pertanyaan-pertanyaan memuakkan wartawan media mainstream yang tak pernah lelah “menyudutkan” (baca: mengkritisi).

Tapi gak apa-apa. Saya rasa, media mainstream tak perlu ikut-ikutan gaya youtuber agar disukai masyarakat atau membuat pejabat mau diwawancarai. Media cukup menjadi dirinya sendiri. Sebab apapun dalam kue kehidupan di dunya ini punya potongan dan porsinya masing-masing.

Media idealnya memang pilar keempat demokrasi dengan segala kekakuan prinsip, struktur, dan etika profesinya. Sementara medsos harus tetap ada pada pondasinya untuk membuat masyarakat kita berproses.

Masyarakat kita bisa tetap kok memilih media mainstream sebagai jujugan utama, landasan teori dan mewacanakan diskursus, yang kemudian bisa direalisasikan dalam tukar pendapat di medsos yang tak ada ambang batasnya, kecuali UU ITE.

Tapi, hal yang barusan saya bicarakan di atas itu kayaknya ya hanya harapan kita saja. Hari-hari ini, pembaca semua tahu, media mainstream dan media sosial sudah dikapitalisasi, jika tak terlalu kasar kita menyebutnya dimonopoli, oleh mereka yang berduit dan berkuasa saja, tak mampu membuat kita bebas mencerna dan berbagi wawasan.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Indonesia Harus Mencetak Lebih Banyak Duta 0 328

Judul tulisan ini bukan sekadar bercanda. Kalimat dalam judul saya tuliskan karena kenyataannya, pada titik ini, Indonesia sudah banyak sekali merekrut duta baru.

Sebut saja dua duta masker dari Bekasi dan Surabaya. Mereka bukan datang dari kalangan orang-orang yang punya wawasan mendalam soal pandemi COVID-19, ataupun influencer yang suka mempromosikan protokol kesehatan.

Alkisah seorang pemuda masjid di Bekasi yang memantik adu mulut karena seorang jamaah pakai masker saat salat. Menurut kepercayaannya, dalam Al-Qur’an tak ada ajaran untuk pakai masker saat menjalankan ibadah.

Sementara itu, dari Surabaya, seorang pemuda di suatu mall dengan bangga memamerkan dirinya yang tak pakai masker, dan justru berteriak mengolok-olok pengunjung lain yang taat prokes.

Pembaca sudah tahu kan, apa kelanjutan kisah dari dua orang itu? Keduanya malah dinobatkan jadi duta masker. Hal inilah yang membuat sebagian dari masyarakat naik pitam.

Dari mana logika para pembuat kebijakan dan yang mengangkat mereka menjadi duta berasal? Bagaimana bisa, seorang pelanggar malah diangkat menjadi duta yang harusnya menjadi contoh bagi orang lain? Begitu paling tidak yang juga dikatakan Om Deddy Corbuzier di salah satu potkes “close the door”-nya.

Eits, tapi cara ini tak sepenuhnya salah, loh! Dalam ilmu psikologi, ada yang namanya reward atau penghargaan, dan punishment atau hukuman. Penelitian menyebut, memberi penghargaan lebih efektif daripada menjatuhi hukuman. Gak percaya? Sini saya jelaskan.

Menurut ilmu neuroscience untuk menjelaskan reward, seseorang akan berusaha keras dan melakukan suatu aksi. Ada sinyal di otak yang dipantik oleh neuron dopaminergik di bagian otak tengah yang bergerak ke motor cortex, dan memengaruhi aksi atau perilaku kita.

Mangkanya waktu kecil, kita diiming-imingi orang tua akan dibelikan es krim kalau nilai matematika bagus. Kita lalu berusaha keras untuk belajar siang-malam, mengerjakan soal ujian dengan sungguh-sungguh, agar meraih penghargaan yang telah dijanjikan orang tua.

Sebaliknya, punishment membuat seseorang berusaha untuk menghindari bahaya dengan cara tidak melakukan suatu aksi. Sinyal di otak yang terjadi hampir sama ketika kita memproses reward. Bedanya, punishment membuat sebuah efek “freeze” di otak, sehingga kita tidak jadi melakukan suatu tindakan.

Misalnya, kita diperingati orang tua untuk tidak suka memanjat pagar agar tidak jatuh. Karena kita tahu jika jatuh menyebabkan sakit, berdarah, dan luka, maka kita tak jadi melakukannya.

Nah, dari kedua reaksi otak dan aksi yang ditimbulkannya, peneliti tersebut menyebut otak lebih mudah menerima informasi positif ketimbang negatif. Artinya, ya manusia normal akan lebih mengejar reward dan menjalankan aksi, ketimbang menghindari aksi untuk tidak mendapat punsihment.

Sudah banyak contohnya kata ilmuan. Misalnya orang akan lebih mudah untuk dimotivasi berolahraga dan makan makanan sehat dengan sejumlah reward kecil berupa hadiah, daripada diingatkan tentang bahaya obesitas dan penyakit. Selain itu, masih buanyak contoh penelitian tentang persoalan ini.

Paling mudah lihat ke diri sendiri saja. Kita lebih suka diberi pujian (reward) oleh bos saat kerjaan kita baik. Kita jadi ingin terus-terusan kerja maksimal agar dipuji lagi. Sebaliknya, kita jadi bekerja makin males-malesan dan setengah hati, ketika terus-terusan diberi punishment oleh atasan. (hehe maaf curhat pengalaman pribadi)

Hal yang sama sebenarnya berlaku pada si duta masker, atau duta-duta lain termasuk Duta Sheila on 7. (sorry iki dicoret wae soale guyonane garing koyok bapack-bapack komplek)

Memberi jabatan sebagai duta sama saja dengan memberi penghargaan baru. Sekaligus justru menjadi tanggung jawab. Sebab, setelah menjadi duta, seseorang akan sadar bahwa dirinya menjadi panutan atau tolok ukur masyarakat.

Seperti pemuda di Bekasi yang bernama Nawir itu. Ia kini mengambil hikmah dari ribut-ribut soal masker dan salat itu. Kini ia jadi aktivis mengingatkan jamaah agar memakai masker sebelum memasuki area masjid. Bahkan ia membagi-bagikan secara gratis masker dan hand sanitizer.

Jika dibina baik-baik, pemuda-pemuda pengikut konspirasi elit global yang tak percaya COVID-19 bisa berubah 180 derajat, justru menjadi pelaku protokol kesehatan yang paling taat.

Jangan-jangan, Indonesia harus mulai memikirkan kembali mengapa rakyatnya sulit sekali memakai masker dan menjaga jarak. Seluruh sanksi sosial dan denda para pelanggar prokes mungkin tak cukup efektif. Justru sebaliknya, sediakan saja dana untuk mengangkat duta-duta baru. Selamat mencoba!

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Editor Picks