Tipikal Agamawan Endonesah 2 725

Hari Minggu adalah hari besar bagi siapa saja. Bagi mereka yang jomblo, saatnya tidur panjang. Bagi para pekerja yang sudah dililit rutinitas, saatnya jeda. Bagi para pemuda yang ingin diklaim kekinian, saatnya ke CFD untuk cari jajanan serba manis (tapi mahal), lalu beramai-ramai selfie. Bagi yang nasrani, saatnya beribadah (walaupun kebersihan dan nikah katanya juga ibadah).

Pada sebuah pengamatan saya di hari Minggu, suatu temuan menarik ada layaknya perlu dibagi pada pembaca sekalian. Walau temuan ini adalah kebiasaan dari masa ke masa. Jangan disangka mereka yang bersusah-payah pergi ke rumah ibadah, niatannya sungguh murni seperti konteks ruang dan waktunya. Ternyata orang yang berangkat ke gereja punya motivasi macam semangat persatuan bhineka tunggal ika.

Hal ini wajar, karena pandangan tentang ‘tuhan’ (yang tak pernah mencapai kesatuan final) memang beraneka ragam. Seperti sabda Rene Descartes “saya berpikir, maka saya ada”, konsep peranan tuhan hanya akan ada dan dibentuk oleh orang itu sendiri. Jika ‘tuhan’ diasumsikan merupakan kekuatan yang lebih besar dari dirinya, maka begitulah seorang mempraktekkannya dalam hidup. Berlaku sama apabila ‘tuhan’ di konsep remeh temeh dan hanya candu (seperti lagu Awkarin).

Berikut ini kira-kira tipikal umat gereja tentang konsep ketuhanan yang nampak dari caranya beribadah. Semoga, uraian ini mampu mewakili dan relevan bagi kepercayaan apapun, para agamawan Endonesah (dibaca Indonesia kecuali oleh kids jaman now).

Tuhan adalah kartu kredit. Sebagian agamawan mungkin mengkonstruksi ‘tuhan’ sebagai lumbung uang. Itulah mengapa mungkin jemaat datang musiman ke gereja, menagih janji-Nya yang maha-tepat. “Tuhan, kan aku sudah rajin ibadah. Mosok yo, sampe bisnisku gak lancar?”.

Tuhan adalah dukun. Untuk tipikal ini, kemungkinan gambaran ‘tuhan’ adalah dukun santet yang bisa membawa malapetaka untuk membalaskan dendam kesumat. Misalnya, dengan penuh emosi meluap-luap, seseorang berdoa minta mantannya dikutuk jadi sejelek kera biar tak segera dapat pacar pengganti. Atau dalam suatu doa lainnya, jampi-jampi diucap semoga ‘tuhan’ menyegerakan anugerah diare akut pada dosen yang suka mempersulit kelulusan.

Tuhan adalah mak comblang. Bagi para tuna asmara, ‘tuhan’ harusnya bisa memberi jalan tol bagi mereka yang pesakitan di daftar panjang kaum jomblo semesta alam. “Tuhan, kalau dia jodohku, tolong dekatkanlah! Kalau bukan jodoh, coba dicek lagi, barangkali ada yang salah”.

Tuhan adalah bodyguard. Bagi agamawan yang dirundung keresahan, mereka suka menyugesti diri sendiri bahwa ‘tuhan’ adalah maha-pelindung (dengan cara yang suka berlebihan). “Tuhan, motorku di parkiran gereja. Tolong jaga helm-ku yang mahal itu ya Tuhan biar dihindarkan dari mata dan niatan orang jahat yang mau mencurinya! Engkaukan Maha-mengerti, belinya aja kasbon”.

Tuhan adalah petugas pencatat absen. Pokoknya sudah setor wajah ke tempat ibadah. Perihal jam kedatangan tidak perlu dari awal peribadatan. Ingat, orang penting datangnya terakhir!

Sampai di dalam gereja, mendengarkan kotbah itu kondisional. Kalau bosan, bisa disambi main HP. Mungkin umat yang satu ini bisnis property Meikarta-nya sedang genting dan harus diurus segera, atau pacarnya mengamuk kalau sedetik gak balas chat mengabari. Kalau mengantuk, ajak saja kawan di sebelah mengobrol dan ngrasani umat lainnya yang pakaiannya norak.

Mungkin umat gerejawi jenis ini harus belajar dari mahasiswa. Barangkali, teknologi titip absen harus dikembangkan supaya ‘tuhan’ mengira kita tetap terhitung datang.

Tuhan adalah manifestasi paksaan orang tua. Barangkali, banyak orang tua yang parno akibat terpaan berita terorisme atau komunisme yang begitu hebatnya di media (apalagi di grup Whatsapp). Maka, daripada anak tiba-tiba mengabdi pada ISIS atau jadi antek PKI, lebih baik menggerejakannya. Pokoknya mutlak!

Yang terakhir ini mungkin paling ngenes. Jika tipikal agamawan paham bahwa iman memang tak bisa tumbuh instan, namun mengapa jadinya pilihan merdeka hak asasi individu ini cenderung dipaksakan bukan dilatih? Sayangnya, pemaksaan berlebihan konsep ‘tuhan’ menjadikan tempat ibadah menjelma mirip dalih ‘daripada anakku masuk agama gak jelas lainnya’.

Terlepas dari semua tipikal pandangan ‘tuhan’ ini, kita patut bersyukur setidaknya bangsa ini dikurung dalam karakter agamis. Setidaknya, di Indonesia gereja selalu penuh tiap Minggu. Apalagi kalau musim Natal dan Paskah menjemput, gereja tiba-tiba membeludak, massanya bisa berlipat ganda seperti mujizat. Jika dibandingkan dengan Eropa sebagai tanah kelahiran nasrani itu sendiri, gereja-gereja megah malah kosong melompong mirip setting film drakula.

Bagi Indonesia yang cinta ritual, kita harus bersyukur bahwa pandangan tentang The Almighty masih tetap diilhami. Namun, ketika perziarahan hanya serupa kewajiban bukan kehausan, maka kita sudah final menjadi representasi kedangkalan agamawan. Barangkali, mereka yang memandang bangsa Indonesia agamis harus bersiap mulai menarik ucapan.

Previous ArticleNext Article

2 Comments

  1. Menarik opini yg anda tulis…
    saya senada dengan anda bahwa ketika prinsip “kewajiban” yang mendasari seseorang untuk beribadah, maka yang terjadi hanyalah formalitas dan belum menyentuh dari hakekat dasar hidup rohani (klise/permukaan saja).

    Akan tetapi, saya pikir fase ini (kewajiban entah ke gereja atau rumah ibadah lain) pernah dialami semua orang… namun perlu diketahui bahwa tingkat kedewasaan iman seseorang berbeda. Ada yg masih level “kewajiban”, ada yang sudah level “kehausan”, dan ada juga yang sudah mencapai puncaknya “Manunggaling Kawula Gusti”

    tidak bisa dipungkiri bahwa hidup manusia itu dinamis, maka tidak lantas yang sudah mencapai puncak itu akan terus berada di puncak… sebab tidak ada kata final selama kita masih berada di alam maya pada ini. Jalan spiritual tidak ada yang instan… semua harus dilatih terus menerus…

    hal ini juga sekaligus menanggapi pandangan anda terkait tipikal ke-6 yaitu Tuhan adalah manifestasi paksaan orang tua. di satu sisi saya sependapat dengan anda bahwa pemaksaan orang tua terhadap anak untuk memeluk agama tertentu bisa di lihat sebagai “perampasan hak asasi” sebab tidak ada kebebasan dalam menentukan pilihannya…

    namun di sisi lain, saya tidak setuju bahwa pemaksaan orang tua ini dianggap melanggar HAM… saya lebih memakai term “diarahkan” dari pada “dipaksa”… sebab hal itu sungguh berbeda jauh dan sangat tendensius… kata “diarahkan” lebih mengandung suatu tanggungjawab orang tua untuk mendidik anaknya baik secara kebutuhan jasmani atau rohani… maka dalam Gereja orang, tua memiliki tanggungjawab untuk memberikan bekal rohani yang baik pada anaknya (maka ada baptisan bayi).
    Hal ini jelas beda dengan pemaksaan kehendak atau merampas hak asasi manusia… sebab bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa mengambil keputusan sendiri?
    secara akal budi atau intelektual saja ia belum matang?
    membedakan makanan ini dan itu saja masih kesulitan…
    apalagi harus memilih sendiri agama apa yang harus dianut?
    oleh karena itu… peran orang tua sungguh penting dalam membina anaknya agar bisa mendapatkan bekal rohani yang baik…

    oya… mau menambahkan sedikit… “agama sebagai candu” itu sebenarnya pandangan Karl Marx.. barangkali Awkarin membeo Marx hehe..

    Ok. Secara keseluruhan artikel ini bagus.. Selamat-selamat…
    semoga kita semakin dicerahkan setelah membaca tulisan anda.. ringan, tajam dan provokatif…
    terimakasih…
    just share aja..
    Rahayu….

    1. Terima kasih sudah membaca 🙂
      Benar Mas, kita harus prihatin dengan orang tua yang hanya bisa “memaksa” agama pada anak tanpa memberi penjelasan komprehensif yang masuk akal tentang “apa itu agama” dan “mengapa kita harus beragama”.
      Terus pantau Kalikata dan ikutlah menulis! 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kegundahan Sederhana yang Disebabkan Kartu Nama 1 184

Jika Mas Robbyan Abel sudah bercerita tentang pergulatan mahasiswa tingkat akhir yang nggak tahan kudu mentas, kali ini izinkan hamba bercerita tentang satu tahap di atasnya: pengalaman kerja.

Beberapa waktu yang lalu, saya adalah job seeker, melamar sana-sini dan dipanggil untuk wawancara di perusahaan impian. Di tiap wawancara itu, saya tentu bertemu dengan pelamar lainnya. Di situ, terjadi perkenalan dan perbincangan basa-basi, khas warga Endonesah. Tujuannya jelas, siapa tahu jadi teman kantor saat kami sama-sama diterima. Kalaupun salah satu dari kami tidak beruntung, paling tidak sudah memperluas relasi.

Dalam perkenalan singkat itu, supaya tetap berkawan hingga kemudian hari, saya biasanya yang lebih duluan meminta kontak. Bukan nomor handphone, apalagi alamat rumah.

Saya tanyakan nama akun Instagram-nya.

Pada sebuah tes wawancara kerja, saya bertemu seorang pelamar lain yang ketika saya tanyai akun Instagram-nya, mengaku tidak punya. Saya lantas kaget. Hari gini, gak main Instagram? Padahal, menurut survei awur-awuran versi penulis, anak milenial macam kita ini paling suka menggunakan media sosial Instagram.

Perlu bukti? Kini kebutuhan hidup anak-anak muda adalah mencari tempat nongkrong dan liburan yang Instagram-able. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan istilah itu. Sama seperti munculnya sebutan selebgram, jabatan yang patut diberikan pada mereka yang punya eksposur tinggi di jagad aplikasi berlogo kamera warna pelangi ini. Lantas berikutnya, jumlah followers, like, dan comment kemudian jadi komoditas dan kebutuhan hidup, selain uang tentunya (yang lagi-lagi untuk beli minum di tempat nongkrong yang Instagram-able).

Akibat kenalan baru saya ini tadi nggak punya Instagram, pilihan terakhir bagi saya adalah bertanya media sosial lain apa yang dia mainkan. Ternyata ia punya Twitter, syukurlah. Walau tentu meninggalkan pertanyaan dalam benak, bagaimana kawan saya ini bisa survive di antara teman se-gengnya ketika yang lain sedang ngumpul dan update story di Instagram, sementara dia nggak?

Cerita lain, setelah sebulan bekerja, saya bertemu banyak narasumber yang usianya beragam. Pengalaman lain lagi saya alami. Saat berkenalan dan meminta nomor HP narasumber, mereka menyodorkan barang yang tentu sama sekali asing bagi arek-arek lahiran tahun 2010-an ke atas: kartu nama.

Peristiwa ini membuat saya canggung. Sudah menyiapkan HP, membuat kontak baru di buku telepon HP, bersiap mengetikkan nomor si narasumber, eh dia nyodorin kartu nama. Bahkan, saking lumrahnya barang ini di era hidup si narasumber, mereka bertanya balik apa saya ada kartu nama yang bisa dipertukarkan. Entah harus malu atau bangga, mengaku di hadapan narasumber kalau saya anak milenial: generasi yang sudah tidak punya atau bahkan tidak tahu apa urgensi membuat kartu nama pribadi.

Tapi, saya bukan generasi yang sama sekali nggak kenal kartu nama. Sependek ingatan, saya pernah saling bertukar kartu nama dengan teman-teman di bangku SD. Kala itu, kami suka membuat kartu nama dengan warna dan gambar kartun favorit. Kartu nama di zaman itu jadi sebuah artefak penanda prestis, sangat ikonik, butuh dipamerkan dan dipertukarkan, layaknya kertas binder.

Lambat laun, kartu nama bagi anak seusia saya mulai ditinggalkan. Lantas, peristiwa kartu nama dengan narasumber itu membuat saya bertanya-tanya dalam sukma: apakah memang sudah sejauh itu ketimpangan zaman milenial dengan generasi yang lahir sebelumnya? Kalau saya yang hampir 23 tahun ini saja sudah merasa ada gap gara-gara kartu nama, ndaniyo anake Raditya Dika karo Raisa?

Pertanyaan selanjutnya, salahkah bila kami tak punya kartu nama, dan punya cara berbeda dalam berkenalan dan berkorespondensi? Toh, perkenalan via dunia digital tidak mengurangi substansi dan etika.

Selain jadi komoditas pasar dan target kampanye politik, nasib milenial memang senantiasa jadi kambing hitam atas tuduhan-tuduhan “anak zaman sekarang mana ngerti…”atau “let’s confuse kids nowadays”.

Oalah Gusti, salah ta aku lahire saiki?

Foto: Deedee86 (Pixabay)

(Masih) Perlunya Demonstrasi di Saat Demokrasi Dikebiri 0 139

Oleh: Nabiilah Ulinnuha*

Tulisan ini dibuat teruntuk kalian yang hampir menyerah pada Indonesia, menolak percaya pada pemerintah, dan berharap bisa mengurus pindah kewarganegaraan dengan mudah.

Bukan lagi fenomena baru bahwa hadirnya media sosial memindahkan kanal informasi. Di zaman sekarang, mahasiswa dan pelajar tak perlu menyisihkan uang jajan buat beli koran atau bawa tape kemana-mana agar tak ketinggalan berita baru. Bermodalkan smartphone di genggaman tangan, dua media konvensional itu tentu bukan tandingan.

Bangun tidur, ritualnya adalah buka feed Instagram dan Twitter untuk cek kabar terbaru. Yang lebih nggenah, mungkin membuka kanal berita online gratisan, atau yang harga langganannya masih lebih murah dari paket data. Apa-apa serba mudah, kan? Berkat mbah gugel, kita tak perlu lagi kepo berita pagi ini dengan bertanya kesana-kemari. Tinggal buka layar ponsel saja, dan buka Kalikata ketik di mesin pencarian, voila!Tercerahkan”-lah kita.

Sama hal dengan informasi yang berpindah kanal utamanya, demokrasi pun mulai muncul dalam ruang baru bernama ‘media sosial’. Melalui ratusan tweets viral yang mengeluhkan keadaan, tergambar wajah sebuah kebebasan. Mulai dari kondisi terbaru yang terjadi di gedung KPK hingga gerakan tak setuju pada RUU PKS. Belum lagi situasi genting pada Kebakaran Hutan Liar, serta ketidakadilan bagi masyarakat di timur Indonesia.

Beragam postingan di Instagram tentang kondisi Indonesia terkini seolah saling tak mau kalah. Sebab siapapun bisa berbagi informasi. Demokrasi tumpah ruah di ruang-ruang tanpa sekat.

Masyarakat mulai menyukai hal-hal mudah. Demokrasi tak selalu harus turun ke jalanan. Mahasiswa zaman sekarang lebih suka memilih jalur lebih damai lewat diplomasi, atau menulis pada kolom opini. Yang lebih mudah lagi, tentunya menulis tweet dan membagikan foto kondisi terbaru lewat Instagram.

Rasa-rasanya masyarakat sudah seharusnya mulai bosan dengan pola ini. Sudah berteriak pada berbagai platform media, tapi kok rasanya wakil rakyat seolah bisu dan tuli?

Seharusnya apresiasi tinggi patut diberikan pada ratusan mahasiswa yang mengerumuni gedung pemerintah untuk menagih janji. Di saat-saat genting ini, dan di tengah gempuran alternatif cara “menyuarakan” tuntutan, mereka jadi pahlawan garda terdepan yang berjuang bagi demokrasi dengan langkah-langkah tradisional namun efektif bikin pemerintah rodhok panik.

Mari kita buka kenangan setahun lalu, saat Ketua BEM UI berikan Jokowi kartu kuning. Pembicaraan tentang pro dan kontra sempat bergulir di media sosial. Begitu banyak yang ngedumel. Memalukan, katanya. Mahasiswa kok tidak paham etika. Para netizen yang mahabenar, tidakkah kalian sadar, dulu dan kini, masih juga suka mencaci habis mahasiswa saat turun ke jalanan? Bikin macet, kata kalian. Terlalu anarkis dan mengganggu stabilitas Negara, kata kalian juga.

Barangkali, kita harus mengingat kembali pesan founding fathers bangsa ini. Bung Karno pernah menggaungkan “jasmerah”: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nampaknya pesan ini sungguh selalu relevan pada setiap zaman.

Kali ini penulis mengajak untuk mengingat kembali peristiwa 1998. Tanpa pengorbanan mahasiswa, Orde Baru tak akan mungkin digulingkan. Mereka, para aktivis, termasuk mahasiswa yang tumpah ruah ke jalanan, rela hilang tanpa dikenang namanya. Aksi mereka yang heroik adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia masih berani berjuang walau tak memiliki senjata di tangan. Dan rupanya bentuk aksi ini masih turun dari zaman ke zaman.

Persetan dengan kemacetan dan keamanan! Hari ini, kebebasan dikebiri habis-habisan. Tikus-tikus berdasi di gedung parlemen negara melanggengkan kekuasaannya terang-terangan. Berbagai diskusi sudah menemui jalan buntu. Apakah kemudian gaungan emosi dari gawaimu itu benar dapat merubah nasib bangsa ini?

Mereka yang sekarang sedang berjuang di jalanan nyaris belum mendapat titik terang. Jangankan memberi solusi dan menenangkan massa, menemui mereka pun pemerintah masih enggan. Justru di hari-hari inilah, demokrasi butuh lebih banyak lagi demonstrasi. Sudah selayaknya kita belajar dari sejarah, bahwa yang menang adalah yang tak pernah berhenti berjuang. Sebab pemimpin kita saat ini sungguh masa bodo bila sejatinya telah berubah jiwa jadi pecundang. Asal kekuasaan masih mereka pegang, sepertinya tak ada yang mereka takuti.

 

*Penulis adalah mahasiswa yang suka kopi, sajak, tapi kurang lengkap bila tak ditemani ‘kamu’ yang sekarang hilang. Berzodiak Gemini, oleh sebab itu orangnya ruwet.

Foto: Wanti Anugrah

Editor Picks