Tipikal Agamawan Endonesah 2 322

Hari Minggu adalah hari besar bagi siapa saja. Bagi mereka yang jomblo, saatnya tidur panjang. Bagi para pekerja yang sudah dililit rutinitas, saatnya jeda. Bagi para pemuda yang ingin diklaim kekinian, saatnya ke CFD untuk cari jajanan serba manis (tapi mahal), lalu beramai-ramai selfie. Bagi yang nasrani, saatnya beribadah (walaupun kebersihan dan nikah katanya juga ibadah).

Pada sebuah pengamatan saya di hari Minggu, suatu temuan menarik ada layaknya perlu dibagi pada pembaca sekalian. Walau temuan ini adalah kebiasaan dari masa ke masa. Jangan disangka mereka yang bersusah-payah pergi ke rumah ibadah, niatannya sungguh murni seperti konteks ruang dan waktunya. Ternyata orang yang berangkat ke gereja punya motivasi macam semangat persatuan bhineka tunggal ika.

Hal ini wajar, karena pandangan tentang ‘tuhan’ (yang tak pernah mencapai kesatuan final) memang beraneka ragam. Seperti sabda Rene Descartes “saya berpikir, maka saya ada”, konsep peranan tuhan hanya akan ada dan dibentuk oleh orang itu sendiri. Jika ‘tuhan’ diasumsikan merupakan kekuatan yang lebih besar dari dirinya, maka begitulah seorang mempraktekkannya dalam hidup. Berlaku sama apabila ‘tuhan’ di konsep remeh temeh dan hanya candu (seperti lagu Awkarin).

Berikut ini kira-kira tipikal umat gereja tentang konsep ketuhanan yang nampak dari caranya beribadah. Semoga, uraian ini mampu mewakili dan relevan bagi kepercayaan apapun, para agamawan Endonesah (dibaca Indonesia kecuali oleh kids jaman now).

Tuhan adalah kartu kredit. Sebagian agamawan mungkin mengkonstruksi ‘tuhan’ sebagai lumbung uang. Itulah mengapa mungkin jemaat datang musiman ke gereja, menagih janji-Nya yang maha-tepat. “Tuhan, kan aku sudah rajin ibadah. Mosok yo, sampe bisnisku gak lancar?”.

Tuhan adalah dukun. Untuk tipikal ini, kemungkinan gambaran ‘tuhan’ adalah dukun santet yang bisa membawa malapetaka untuk membalaskan dendam kesumat. Misalnya, dengan penuh emosi meluap-luap, seseorang berdoa minta mantannya dikutuk jadi sejelek kera biar tak segera dapat pacar pengganti. Atau dalam suatu doa lainnya, jampi-jampi diucap semoga ‘tuhan’ menyegerakan anugerah diare akut pada dosen yang suka mempersulit kelulusan.

Tuhan adalah mak comblang. Bagi para tuna asmara, ‘tuhan’ harusnya bisa memberi jalan tol bagi mereka yang pesakitan di daftar panjang kaum jomblo semesta alam. “Tuhan, kalau dia jodohku, tolong dekatkanlah! Kalau bukan jodoh, coba dicek lagi, barangkali ada yang salah”.

Tuhan adalah bodyguard. Bagi agamawan yang dirundung keresahan, mereka suka menyugesti diri sendiri bahwa ‘tuhan’ adalah maha-pelindung (dengan cara yang suka berlebihan). “Tuhan, motorku di parkiran gereja. Tolong jaga helm-ku yang mahal itu ya Tuhan biar dihindarkan dari mata dan niatan orang jahat yang mau mencurinya! Engkaukan Maha-mengerti, belinya aja kasbon”.

Tuhan adalah petugas pencatat absen. Pokoknya sudah setor wajah ke tempat ibadah. Perihal jam kedatangan tidak perlu dari awal peribadatan. Ingat, orang penting datangnya terakhir!

Sampai di dalam gereja, mendengarkan kotbah itu kondisional. Kalau bosan, bisa disambi main HP. Mungkin umat yang satu ini bisnis property Meikarta-nya sedang genting dan harus diurus segera, atau pacarnya mengamuk kalau sedetik gak balas chat mengabari. Kalau mengantuk, ajak saja kawan di sebelah mengobrol dan ngrasani umat lainnya yang pakaiannya norak.

Mungkin umat gerejawi jenis ini harus belajar dari mahasiswa. Barangkali, teknologi titip absen harus dikembangkan supaya ‘tuhan’ mengira kita tetap terhitung datang.

Tuhan adalah manifestasi paksaan orang tua. Barangkali, banyak orang tua yang parno akibat terpaan berita terorisme atau komunisme yang begitu hebatnya di media (apalagi di grup Whatsapp). Maka, daripada anak tiba-tiba mengabdi pada ISIS atau jadi antek PKI, lebih baik menggerejakannya. Pokoknya mutlak!

Yang terakhir ini mungkin paling ngenes. Jika tipikal agamawan paham bahwa iman memang tak bisa tumbuh instan, namun mengapa jadinya pilihan merdeka hak asasi individu ini cenderung dipaksakan bukan dilatih? Sayangnya, pemaksaan berlebihan konsep ‘tuhan’ menjadikan tempat ibadah menjelma mirip dalih ‘daripada anakku masuk agama gak jelas lainnya’.

Terlepas dari semua tipikal pandangan ‘tuhan’ ini, kita patut bersyukur setidaknya bangsa ini dikurung dalam karakter agamis. Setidaknya, di Indonesia gereja selalu penuh tiap Minggu. Apalagi kalau musim Natal dan Paskah menjemput, gereja tiba-tiba membeludak, massanya bisa berlipat ganda seperti mujizat. Jika dibandingkan dengan Eropa sebagai tanah kelahiran nasrani itu sendiri, gereja-gereja megah malah kosong melompong mirip setting film drakula.

Bagi Indonesia yang cinta ritual, kita harus bersyukur bahwa pandangan tentang The Almighty masih tetap diilhami. Namun, ketika perziarahan hanya serupa kewajiban bukan kehausan, maka kita sudah final menjadi representasi kedangkalan agamawan. Barangkali, mereka yang memandang bangsa Indonesia agamis harus bersiap mulai menarik ucapan.

Previous ArticleNext Article

2 Comments

  1. Menarik opini yg anda tulis…
    saya senada dengan anda bahwa ketika prinsip “kewajiban” yang mendasari seseorang untuk beribadah, maka yang terjadi hanyalah formalitas dan belum menyentuh dari hakekat dasar hidup rohani (klise/permukaan saja).

    Akan tetapi, saya pikir fase ini (kewajiban entah ke gereja atau rumah ibadah lain) pernah dialami semua orang… namun perlu diketahui bahwa tingkat kedewasaan iman seseorang berbeda. Ada yg masih level “kewajiban”, ada yang sudah level “kehausan”, dan ada juga yang sudah mencapai puncaknya “Manunggaling Kawula Gusti”

    tidak bisa dipungkiri bahwa hidup manusia itu dinamis, maka tidak lantas yang sudah mencapai puncak itu akan terus berada di puncak… sebab tidak ada kata final selama kita masih berada di alam maya pada ini. Jalan spiritual tidak ada yang instan… semua harus dilatih terus menerus…

    hal ini juga sekaligus menanggapi pandangan anda terkait tipikal ke-6 yaitu Tuhan adalah manifestasi paksaan orang tua. di satu sisi saya sependapat dengan anda bahwa pemaksaan orang tua terhadap anak untuk memeluk agama tertentu bisa di lihat sebagai “perampasan hak asasi” sebab tidak ada kebebasan dalam menentukan pilihannya…

    namun di sisi lain, saya tidak setuju bahwa pemaksaan orang tua ini dianggap melanggar HAM… saya lebih memakai term “diarahkan” dari pada “dipaksa”… sebab hal itu sungguh berbeda jauh dan sangat tendensius… kata “diarahkan” lebih mengandung suatu tanggungjawab orang tua untuk mendidik anaknya baik secara kebutuhan jasmani atau rohani… maka dalam Gereja orang, tua memiliki tanggungjawab untuk memberikan bekal rohani yang baik pada anaknya (maka ada baptisan bayi).
    Hal ini jelas beda dengan pemaksaan kehendak atau merampas hak asasi manusia… sebab bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa mengambil keputusan sendiri?
    secara akal budi atau intelektual saja ia belum matang?
    membedakan makanan ini dan itu saja masih kesulitan…
    apalagi harus memilih sendiri agama apa yang harus dianut?
    oleh karena itu… peran orang tua sungguh penting dalam membina anaknya agar bisa mendapatkan bekal rohani yang baik…

    oya… mau menambahkan sedikit… “agama sebagai candu” itu sebenarnya pandangan Karl Marx.. barangkali Awkarin membeo Marx hehe..

    Ok. Secara keseluruhan artikel ini bagus.. Selamat-selamat…
    semoga kita semakin dicerahkan setelah membaca tulisan anda.. ringan, tajam dan provokatif…
    terimakasih…
    just share aja..
    Rahayu….

    1. Terima kasih sudah membaca 🙂
      Benar Mas, kita harus prihatin dengan orang tua yang hanya bisa “memaksa” agama pada anak tanpa memberi penjelasan komprehensif yang masuk akal tentang “apa itu agama” dan “mengapa kita harus beragama”.
      Terus pantau Kalikata dan ikutlah menulis! 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terorisme dan Mabuk Konspirasi 0 318

Riuh bom di kota Surabaya (dan beberapa jam setelahnya, merembet ke Sidoarjo) mengagetkan siapapun, termasuk Kalikata. Tak pernah hadir dalam bayangan kami sebuah keganasan ideologis yang mewujud ke dalam kekerasan teror, yang secara ganjil dilakukan satu keluarga, bisa mengguncang Surabaya–sebuah kota yang diklaim relatif aman.Tapi cukup mengherankan juga bagaimana publik bisa demikian terbelah: antara yang bersimpati, juga yang antipati.

Terorisme sebagai magnet peristiwa telah membuat netijen-netijen hebat itu memuntahkan prediksi-prediksi: bahwa ini semua ada pengalihan isu, bahwa segalanya settingan, dan bahwa ini kesengajaan intelijen dalam membiarkan teror terjadi. Hebat bukan prediksi-prediksi itu?

Ditopang keleluasaan teknologi komunikasi yang terbuka bagi semua orang, maka lalu lintas prediksi tidak saja meruap banyak, melainkan juga liar. Apa yang menonjol dari itu semua adalah perlombaan prediksi atas suasana konspiratif yang melingkungi terorisme. Di media sosial internet, perlombaan ini makin terang dengan narasi konspirasi yang berbeda-beda. Prinsip utama narasi itu satu: bahwa terorisme tidak lebih rekaan dan manipulasi Negara yang sama sekali nisbi, palsu, dan penuh tipu daya. Bahwa korban dengan kondisi hancur dan tergeletak di jalan adalah buah dari settingan.

Karena kebanyakan nonton Avengers (yang spoiler-nya saja ditakuti melebihi ketakutan kepada spoiler Tuhan tentang neraka), sedangkah kita dimabuk teori-teori konspirasi?

 

Saat kepungan teknologi komunikasi telah diterima sebagai nasib, kita barangkali harus mulai terbiasa dengan semangat menggebu dari tiap orang untuk bercerita. Tapi prediksi atas konspirasi teror itu juga menunjukkan betapa kita tak punya modal sama sekali kecuali bondo cangkem. Tanpa memperdulikan akal sehat, lewat teknologi komunikasi, terorisme diciutkan dari kompleksitasnya sekaligus disederhanakan dengan kedunguan prediksi sok hebat.

Ada beberapa hal yang dapat ditarik sebagai soal lebih jauh. Pertama, di sisi lain mabuk teori konspirasi ini adalah pertanda paling jelas dari ketaktersediaan informasi yang relevan dan sepadan guna menjelaskan apa dan bagaimana peristiwa terorisme itu terjadi. Media televisi yang tampak bekerja keras lewat siaran-siaran live, terbukti kedodoran dalam hal kelengkapan informasi dan hanya mementingkan aspek visual. Lebih-lebih, sedikit sekali publikasi atau keterangan resmi dari pemerintah yang dapat diandalkan, sehingga memperlihatkan kelemahan dokumentasi Negara dan kecakapan komunikasi dalam situasi yang membutuhkan kecepatan pesan.

Kedua, publik secara psikis menuntut keterlibatan dalam memikirkan dan menganalisis sebuah peristiwa. Kecerewetan mereka membutuhkan pelarian untuk digubris. Netijen-netijen itu sebetulnya juga orang biasa saja, hanya berkelebihan dalam soal semangat.

Ketiga, bahwa ini menjadi pertanda betapa rentannya kita menjelang hajatan-hajatan penting: momen politik (pilkada 2018 dan pilpres 2019). Keterampilan intelijen mustinya bisa lebih baik dalam mengantisipasi.

Keempat, rupanya harus dicamkan betul-betul, bahwa dalam masyarakat kita sungguh hidup orang-orang dengan pikiran yang ganjil, yang hanya dihidupi oleh dan dari fanatisme. Orang macam begini tidak memedulikan lagi diskusi dan akal sehat, karena di depan matanya segalanya dapat menjadi demikian hitam dan putih.

 

Kewaspadaan bersama adalah kabar baik yang mengimbangi seliweran narasi-narasi konspirasi. Publik menyadari bahwa ia punya sumber daya informasi yang ditempatkan sebagai suplai utama untuk mengatasi kondisi nir-data. Bahaya terorisme, dan juga isu-isu kekerasan lainnya, direspons secara sadar dan serentak sebagai masalah bersama.

Kolektifitas ini dapat dihitung dengan kekompakan gerakan viral media sosial kita atas isu terorisme Surabaya yang mampu membetot perhatian dan simpati dunia internasional. Muncul himbauan untuk tidak menyebar foto-foto korban peristiwa teror di tiga gereja. Sebelumnya, foto-foto ini disebar dengan brutal–sesuatu yang justru diingini oleh teroris itu sendiri dalam mengondisikan situasi mencekam secara visual. Beberapa kelompok masyarakat juga menggelar aksi simpatik untuk mendesak negara turun tangan dan mengecam.

Meski lalu lintas isu konspirasi masih muncul di sana-sini, tetapi bentuk kreatif dari kebersamaan virtual ini harus dipuji bukan hanya sebagai bukti dari partisipasi Indonesia dalam gerakan anti-terorisme, tetapi juga sebagai pengukuhan atas keterlibatan kreatif-simpatik yang terus-terang dan mandiri, tanpa lagi harus mengandalkan Negara sebagai jembatan. Kemandirian ini poin penting yang harus diterima sebagai bagian vital pemulihan kesadaran bersama sebagai bangsa atas ancaman-ancaman yang muncul.

Lagipula, kita tak selalu perlu nuansa sentimentil dan sedramatis konspirasi guna menumbuhkan simpati.

Turut berduka untuk para korban. Semoga damai dan guyub berlimpah di Surabaya.

Lagu Mahasiswa: Buruh Tani, Demokrasi, dan Dinamika Semangat Zaman 0 206

Oleh: Aria Mahatamtama*

Sebelumnya, tulisan ini berusaha merefleksikan semangat zaman tentang isu buruh, masyarakat miskin, dan mahasiswa. Mengingat bulan Mei adalah bulan yang diawali dengan semangat revolusi, iya revolusi buruh, dengan merebut alat produksi, dan menyetarakan tiap lapisan masyarakat. Aliansi mahasiswa kerap berdekatan dengan isu-isu wong cilik (buruh, dan masyarakat yang mengalami penggusuran secara paksa dan masih banyak lagi) karena itu semangat ini harus dikaji secara serius. Mengapa kajian ini harus dilakukan?

Hal mendasar yang menjadi keresahan penulis adalah “Lagu Mahasiswa: Buruh Tani”. Lagu tersebut kerap dinyanyikan oleh mahasiswa, akan tetapi, celakanya semangat zaman yang ada melalui lirik-lirik tersebut yang harus dikaji lebih dalam, kalau perlu diadakan diskusi yang membedah secara serius dampak dari lirik tersebut untuk dikontekstualisasikan dengan semangat zaman masa kini. Sebelum itu, kata “semangat zaman” ini diartikan dengan zaman yang didalamnya memuat pergejolakan pendidikan/pengetahuan, sosial, ekonomi, politik dan budaya yang sedang terjadi. Fokus penulis hanya sampai pada dua baris lirik (lihat gambar).

Sekarang bila diperbolehkan, penulis mengajak pembaca untuk memproyeksikan lagu ini bila dinyanyikan mahasiswa dalam aksi, tetapi anda (pembaca) menjadi pendengar nyanyian tersebut dengan semangat zaman masa kini. Nanti akan terlihat perbedaan semangat zaman yang terjadi.

Pada lirik awal “Buruh tani, Mahasiswa, Rakyat Miskin kota” akan terlihat jelas bahwa anda akan melihat mereka (yang terlibat aksi dan sedang bernyanyi) memberikan gambaran identitas diri mereka. Hanya memberikan gambaran dalam lirik yang dituangkan menjadi nyanyian, bukan diri mereka seutuhnya! Tetapi hanya gambaran. Lalu dilanjutkan “bersatu padu rebut demokrasi”, pada lirik ini akan terlihat ideologi rezim yang berkembang pada semangat zaman lagu ini tercipta, dengan sistem yang otoriter. Otomatis perlakuan yang paling radikal adalah meruntuhkan otoritarian dengan merebut hak-hak kebebasan individu dalam pola demokrasi. Lirik ketiga dan keempat pada baris pertama mengikuti pola lirik pertama dan kedua.

Nah, pada lirik baris kedua akan terlihat sedikit kekacauan “hari-hari esok adalah milik kita”, jika ditilik secara serius “milik kita” ini hanya terjadi, tetapi besok-besok, bukan sekarang! Jadi sekarang masih usaha, belum memiliki, akan–memiliki itu besok-besok lho. Dan “terciptanya masyarakat sejahtera” otomatis pengartian lirik ini bila mengacu pada perihal “milik kita” akan nampak jelas bahwa “masyarakat sejahtera”  ini akan didapat setelah menjadi “milik kita”  yang terjadi pada hari-hari esok. Lalu lirik ketiga pada baris kedua “terbentuknya tatanan masyarakat” ini harus dilihat jika berkaitan pada masyarakat, maka makna “tatanan” ini berbicara mengenai struktur, yaitu struktur masyarakat. Jika berbicara struktur masyarakat, otomatis terdapat dinamika atau pergejolakan yang terjadi di masyarakat dimana terdapat si kaya dan si miskin. Maka–singkatnya tatanan yang dimuat di lirik tersebut malah melanggengkan otonomi kelas borjuis yang memang dia adalah si kaya. Lirik keempat pada baris kedua memperlihatkan keajegan bahwa “Indonesia baru tanpa Orba” syarat tersebut memberikan identitas baru bagi Indonesia. Yaitu perebutan demokrasi, dengan meninggalkan “Orde Baru”.

Akan tetapi pertanyaan nyaadalah ketika demokrasi dan hak-hak kebebasan sudah didapat, lalu apakah demokrasi tidak memiliki sifat tirani; atau gampangnya, apakah demokrasi itu bebas atau tidak? Ini yang harus dikaji lebih dalam. Sebelumnya penulis sudah mengijinkan anda (pembaca) untuk boleh tidak lagi memproyeksikan menjadi pendengar nyanyian aksi tersebut, tetapi berpikir ulang untuk mengoptimalkan semangat zaman masa kini. Yaitu dengan memikirkan ulang, apakah demokrasi itu bebas atau tetap kejam akan tetapi bentuk kekejamannya lebih halus sehalus pipi doi kalau dicubit.

Kebebasan berpendapat selalu terdengar cukup memuaskan bagi kita dalam pola masyarakat demokrasi dewasa ini, tetapi jika kebebasan berpendapat ini hadir, otomatis kebebasan mendengar pun juga masuk dalam sistem demokrasi, lebih-lebih kebebasan mengonsumsi juga menjadi acuan juga dong. Lah kok boleh banyak mengonsumsi… ya iya kan Indonesia sebagai negara Dunia Ketiga dalam pola kapitalisme global bergerak dalam pola demokrasi. Maka dari itu kenapa kita selalu resah dengan jalanan Ahmad Yani yang macet karena kepadatan kendaraan atau tulisan mengenai hipster lokal bahkan tulisan tandingannya. Ya karena pola demokrasi yang bebas ini, membolehkan banyak pemilik modal melakukan ekspansinya untuk meraup banyak keuntungan yang akhirnya kalian-kalian dan pembaca ini loh boleh banyak beraspirasi untuk mengonsumsi. Ya tho? Diem-diem wae, ngopi brow.

Inilah yang menjadi titik tekan, penulis tidak menyalahkan kehadiran lagu tersebut, sama sekali tidak menyalahkan. Penulis memiliki letak asumsi yang optimis (cie) bahwa subjek, atau masyarakat dengan semangat zaman masa kini harus lebih sadar, buruh dan budaya pop tentang musik dangdut dan kepentingan panggung politik praktis harus dipisahkan. Kalau perlu buruh harus disadarkan dulu! Karena yang menjadi gejolak era kontemporer adalah relung-relung ideologi yang menggerakan kita secara halus, relung-relung ideologi itu bekerja tanpa disadari, yang memusat pada pola kapitalisme.

Ilmu itu harus diberikan sebanyak-banyaknya agar kesadaran untuk perubahan dapat terjadi.

*Hormat penulis, yang sedang menunggu film produksinya sendiri rilis dan berdoa agar petani di Aceh tidak dibakar ladangnya secara cuma-cuma.

Editor Picks