Tipikal Agamawan Endonesah 2 663

Hari Minggu adalah hari besar bagi siapa saja. Bagi mereka yang jomblo, saatnya tidur panjang. Bagi para pekerja yang sudah dililit rutinitas, saatnya jeda. Bagi para pemuda yang ingin diklaim kekinian, saatnya ke CFD untuk cari jajanan serba manis (tapi mahal), lalu beramai-ramai selfie. Bagi yang nasrani, saatnya beribadah (walaupun kebersihan dan nikah katanya juga ibadah).

Pada sebuah pengamatan saya di hari Minggu, suatu temuan menarik ada layaknya perlu dibagi pada pembaca sekalian. Walau temuan ini adalah kebiasaan dari masa ke masa. Jangan disangka mereka yang bersusah-payah pergi ke rumah ibadah, niatannya sungguh murni seperti konteks ruang dan waktunya. Ternyata orang yang berangkat ke gereja punya motivasi macam semangat persatuan bhineka tunggal ika.

Hal ini wajar, karena pandangan tentang ‘tuhan’ (yang tak pernah mencapai kesatuan final) memang beraneka ragam. Seperti sabda Rene Descartes “saya berpikir, maka saya ada”, konsep peranan tuhan hanya akan ada dan dibentuk oleh orang itu sendiri. Jika ‘tuhan’ diasumsikan merupakan kekuatan yang lebih besar dari dirinya, maka begitulah seorang mempraktekkannya dalam hidup. Berlaku sama apabila ‘tuhan’ di konsep remeh temeh dan hanya candu (seperti lagu Awkarin).

Berikut ini kira-kira tipikal umat gereja tentang konsep ketuhanan yang nampak dari caranya beribadah. Semoga, uraian ini mampu mewakili dan relevan bagi kepercayaan apapun, para agamawan Endonesah (dibaca Indonesia kecuali oleh kids jaman now).

Tuhan adalah kartu kredit. Sebagian agamawan mungkin mengkonstruksi ‘tuhan’ sebagai lumbung uang. Itulah mengapa mungkin jemaat datang musiman ke gereja, menagih janji-Nya yang maha-tepat. “Tuhan, kan aku sudah rajin ibadah. Mosok yo, sampe bisnisku gak lancar?”.

Tuhan adalah dukun. Untuk tipikal ini, kemungkinan gambaran ‘tuhan’ adalah dukun santet yang bisa membawa malapetaka untuk membalaskan dendam kesumat. Misalnya, dengan penuh emosi meluap-luap, seseorang berdoa minta mantannya dikutuk jadi sejelek kera biar tak segera dapat pacar pengganti. Atau dalam suatu doa lainnya, jampi-jampi diucap semoga ‘tuhan’ menyegerakan anugerah diare akut pada dosen yang suka mempersulit kelulusan.

Tuhan adalah mak comblang. Bagi para tuna asmara, ‘tuhan’ harusnya bisa memberi jalan tol bagi mereka yang pesakitan di daftar panjang kaum jomblo semesta alam. “Tuhan, kalau dia jodohku, tolong dekatkanlah! Kalau bukan jodoh, coba dicek lagi, barangkali ada yang salah”.

Tuhan adalah bodyguard. Bagi agamawan yang dirundung keresahan, mereka suka menyugesti diri sendiri bahwa ‘tuhan’ adalah maha-pelindung (dengan cara yang suka berlebihan). “Tuhan, motorku di parkiran gereja. Tolong jaga helm-ku yang mahal itu ya Tuhan biar dihindarkan dari mata dan niatan orang jahat yang mau mencurinya! Engkaukan Maha-mengerti, belinya aja kasbon”.

Tuhan adalah petugas pencatat absen. Pokoknya sudah setor wajah ke tempat ibadah. Perihal jam kedatangan tidak perlu dari awal peribadatan. Ingat, orang penting datangnya terakhir!

Sampai di dalam gereja, mendengarkan kotbah itu kondisional. Kalau bosan, bisa disambi main HP. Mungkin umat yang satu ini bisnis property Meikarta-nya sedang genting dan harus diurus segera, atau pacarnya mengamuk kalau sedetik gak balas chat mengabari. Kalau mengantuk, ajak saja kawan di sebelah mengobrol dan ngrasani umat lainnya yang pakaiannya norak.

Mungkin umat gerejawi jenis ini harus belajar dari mahasiswa. Barangkali, teknologi titip absen harus dikembangkan supaya ‘tuhan’ mengira kita tetap terhitung datang.

Tuhan adalah manifestasi paksaan orang tua. Barangkali, banyak orang tua yang parno akibat terpaan berita terorisme atau komunisme yang begitu hebatnya di media (apalagi di grup Whatsapp). Maka, daripada anak tiba-tiba mengabdi pada ISIS atau jadi antek PKI, lebih baik menggerejakannya. Pokoknya mutlak!

Yang terakhir ini mungkin paling ngenes. Jika tipikal agamawan paham bahwa iman memang tak bisa tumbuh instan, namun mengapa jadinya pilihan merdeka hak asasi individu ini cenderung dipaksakan bukan dilatih? Sayangnya, pemaksaan berlebihan konsep ‘tuhan’ menjadikan tempat ibadah menjelma mirip dalih ‘daripada anakku masuk agama gak jelas lainnya’.

Terlepas dari semua tipikal pandangan ‘tuhan’ ini, kita patut bersyukur setidaknya bangsa ini dikurung dalam karakter agamis. Setidaknya, di Indonesia gereja selalu penuh tiap Minggu. Apalagi kalau musim Natal dan Paskah menjemput, gereja tiba-tiba membeludak, massanya bisa berlipat ganda seperti mujizat. Jika dibandingkan dengan Eropa sebagai tanah kelahiran nasrani itu sendiri, gereja-gereja megah malah kosong melompong mirip setting film drakula.

Bagi Indonesia yang cinta ritual, kita harus bersyukur bahwa pandangan tentang The Almighty masih tetap diilhami. Namun, ketika perziarahan hanya serupa kewajiban bukan kehausan, maka kita sudah final menjadi representasi kedangkalan agamawan. Barangkali, mereka yang memandang bangsa Indonesia agamis harus bersiap mulai menarik ucapan.

Previous ArticleNext Article

2 Comments

  1. Menarik opini yg anda tulis…
    saya senada dengan anda bahwa ketika prinsip “kewajiban” yang mendasari seseorang untuk beribadah, maka yang terjadi hanyalah formalitas dan belum menyentuh dari hakekat dasar hidup rohani (klise/permukaan saja).

    Akan tetapi, saya pikir fase ini (kewajiban entah ke gereja atau rumah ibadah lain) pernah dialami semua orang… namun perlu diketahui bahwa tingkat kedewasaan iman seseorang berbeda. Ada yg masih level “kewajiban”, ada yang sudah level “kehausan”, dan ada juga yang sudah mencapai puncaknya “Manunggaling Kawula Gusti”

    tidak bisa dipungkiri bahwa hidup manusia itu dinamis, maka tidak lantas yang sudah mencapai puncak itu akan terus berada di puncak… sebab tidak ada kata final selama kita masih berada di alam maya pada ini. Jalan spiritual tidak ada yang instan… semua harus dilatih terus menerus…

    hal ini juga sekaligus menanggapi pandangan anda terkait tipikal ke-6 yaitu Tuhan adalah manifestasi paksaan orang tua. di satu sisi saya sependapat dengan anda bahwa pemaksaan orang tua terhadap anak untuk memeluk agama tertentu bisa di lihat sebagai “perampasan hak asasi” sebab tidak ada kebebasan dalam menentukan pilihannya…

    namun di sisi lain, saya tidak setuju bahwa pemaksaan orang tua ini dianggap melanggar HAM… saya lebih memakai term “diarahkan” dari pada “dipaksa”… sebab hal itu sungguh berbeda jauh dan sangat tendensius… kata “diarahkan” lebih mengandung suatu tanggungjawab orang tua untuk mendidik anaknya baik secara kebutuhan jasmani atau rohani… maka dalam Gereja orang, tua memiliki tanggungjawab untuk memberikan bekal rohani yang baik pada anaknya (maka ada baptisan bayi).
    Hal ini jelas beda dengan pemaksaan kehendak atau merampas hak asasi manusia… sebab bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa mengambil keputusan sendiri?
    secara akal budi atau intelektual saja ia belum matang?
    membedakan makanan ini dan itu saja masih kesulitan…
    apalagi harus memilih sendiri agama apa yang harus dianut?
    oleh karena itu… peran orang tua sungguh penting dalam membina anaknya agar bisa mendapatkan bekal rohani yang baik…

    oya… mau menambahkan sedikit… “agama sebagai candu” itu sebenarnya pandangan Karl Marx.. barangkali Awkarin membeo Marx hehe..

    Ok. Secara keseluruhan artikel ini bagus.. Selamat-selamat…
    semoga kita semakin dicerahkan setelah membaca tulisan anda.. ringan, tajam dan provokatif…
    terimakasih…
    just share aja..
    Rahayu….

    1. Terima kasih sudah membaca 🙂
      Benar Mas, kita harus prihatin dengan orang tua yang hanya bisa “memaksa” agama pada anak tanpa memberi penjelasan komprehensif yang masuk akal tentang “apa itu agama” dan “mengapa kita harus beragama”.
      Terus pantau Kalikata dan ikutlah menulis! 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Privasi Siapa yang Dibela di RKUHP? 1 79

Saya jurnalis (profesional untuk 2 bulan terakhir). Saya terlibat di dalam peliputan aksi mahasiswa yang berakhir rusuh di hari pertama rapat paripurna, 24 September. Saya saksi mata ketika mereka mulai merapat di gerbang DPR, orasi, bakar ban, sampai akhirnya water canon plus gas air mata menyerang, dan saya sebagai anak pupuk bawang tentu lari menyelamatkan diri.

Selain UU KPK yang sudah disahkan itu, saya mendengar dan membaca semua demonstran menggarisbawahi RKUHP (yang telah saya bahas di tulisan lalu: ‘Bagaimana Seharusnya Kita Sikapi RKUHP‘). Banyak pasal yang dianggap bermasalah (kita harus akui ini). Terutama teriakan privasi kita yang (katanya) semakin dirampas negara.

Di sisi lain, suatu kali saya juga untuk kedua kalinya mewawancarai artis (walau definisi ‘artis’ bagi saya masih sangat debatable). Saya sih sebenarnya males. Kalau gak karena permintaan kantor, kapabilitas ‘orang yang sering nongol di tv’ untuk menjawab angle berita masih jadi pertanyaan besar bagi saya.

Saya berusaha memancing diskusi dengan mbak artis. Melempar pertanyaan reflektif serta menghindari pertanyaan dangkal dan tak bermutu. Berharap jawaban bisa mendalam dan melontarkan ide-ide cemerlang bagi para fans yang nanti menonton hasil wawancara ini.

Ternyata realita tidak seindah ekspetasi, kawan-kawan! Doi menjawab semua pertanyaan umum saya dengan mengasosiakannya pada dirinya seorang. Demikian pula wartawan lain justru menyiram air garam pada luka, nyamber dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggali urusan pribadi dan keluarga mbak artis.

Ketimbang menjawab pertanyaan saya tentang tren berlibur saat ini, destinasi wisata yang ciamik di Indonesia, dan sebagainya; si artis lebih suka menjawab rencana liburannya bersama suami dan anak, preferensinya dalam menggunakan layanan aplikasi penyedia perjalanan, dan kawan-kawan pertanyaan lainnya.

Saya gak tahu, di sini siapa yang salah. Pasalnya, wartawan membutuhkan jawaban bersifat pribadi itu untuk membuat tulisan yang mengundang klik di website medianya. Sebaliknya, jawaban-jawaban yang melulu soal diri dan pribadi si artis mungkin sudah jadi template wajib dalam ekosistem infotainment. Barangkali, justru memang saya yang salah nyemplung ke dunia wawancara dengan orang-orang jenis ini. Salah yang gagal paham dan gagal menaruh harapan.

Demikian pula dengan kelakuan rakyat yang suka sekali mengonsumsi berita-berita macam ini. Tentu lebih ringan ketimbang ikut repot memutar otak tentang persoalan bangsa ini.

Dari sini, mari kita merenungkan lagi. Apakah benar privasi kita terancam karena RKUHP? Apakah kita lupa, bahwa privasi bangsa ini sudah ternodai sejak dulu kala? Sejak kehidupan pribadi bintang layar kaca jadi konsumsi publik. Bahkan, hal ini juga berlaku pada tokoh-tokoh politik kita.

Masyarakat kan lebih ingat kisah cinta dan kehidupan keluarga sejahtera Almarhum B.J. Habibie ketimbang karya N-250 dan perjuangannya merintis BPPT. Kita lebih ingat tato menteri dan menteri loncat pagar. Kita lebih paham sneaker, jaket, sepeda, moge, dan cucu Jokowi.

Gak usah jauh-jauh juga. Ketika nongkrong bersama teman, teman lain yang tidak kelihatan batang hitungnya jadi bahan gosip, kan? Saat bepergian, belanja, minum kopi di kedai dengan nama lucu-lucu, gatal juga tanganmu uptade di Insta Story. Jangan lupa bubuhkan lokasi, biar disangka anak gaul. Lha kok saiki guayamu sak langit, sok memperjuangkan privasi?

Kan tentu ironis, memperjuangkan privasi, orientasi seksual, dunia malam, urusan seks dan percintaan, tapi abai kalau selama ini juga tak punya batasan dalam menjaga rahasia diri ke dunia maya. Jadi privasi siapa yang kalian bela?

Ada Cuan di Balik Sayang Lingkungan 0 66

Pada suatu hari, saya berbelanja di sebuah minimarket yang tak perlu disebutkan namanya. Saat membayar belanjaannya, kasir tersebut berkata, “Maaf, Mbak. Kami tidak menyediakan kantong plastik,” ujarnya. Saya kira minimarket tersebut sedang kehabisan kantong plastik, atau dalam terminologi ilmiahnya disebut kresek.

Ternyata tidak. Ketidaktersediaan kresek tersebut rupanya disebabkan oleh imbauan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Katanya sih, toko-toko retail sudah tidak boleh memakai kresek lagi.

Lalu beberapa hari berikutnya, saya ke minimarket lain dan ternyata masih menggunakan kresek berbayar. Lho, gimana, sih?

Akhirnya saya browsing tentang imbauan Pemkot Surabaya yang dimaksud. Terdapat  lima imbauan yang terdapat dalam surat bernomor 660.1/7953/436.7.12/2019 tertanggal 13 Agustus 2019 itu, yaitu tidak lagi menggunakan bungkus plastik dan styrofoam pada makanan dan minuman; menghindari penggunaan styrofoam dan bahan plastik yang tidak ramah lingkungan untuk wadah dan/atau kemasan; menggunakan kantong plastik atau bioplastik yang ramah lingkungan sesuai dengan standar yang ditetapkan; melakukan pemilahan sampah sekurang-kurangnya untuk tiga jenis, yaitu sampah sisa makanan, plastik, dan kertas; serta mendaur ulang sampah plastik dan kertas yang dapat didaur ulang (recycleable) baik dilakukan sendiri atau menunjuk pihak lain yang kompeten.

Dari imbauan tersebut ternyata tak ada tulisan bahwa Pemkot Surabaya benar-benar melarang penggunaan kresek untuk toko retail. Penggunaan kresek sebenarnya tak masalah selama sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Hal ini memperkuat dugaan saya bahwa gerakan cinta lingkungan dengan mengurangi plastik dimanfaatkan segelintir pengusaha untuk mengurangi modal dan menaikkan laba, atau dalam bahasa bisnis tacik-kokoh disebut dengan cuan.

Saya memiliki beberapa alasan mengapa gerakan sayang lingkungan yang dikampanyekan beberapa toko retail dan restoran (menghentikan penggunaan sedotan) merupakan usaha meningkatkan cuan.

 

Tidak konsisten mengurangi plastik

Ketidakkonsistenan ini dilakukan oleh beberapa restoran cepat saji yang menghentikan penggunaan sedotan plastik. Memang bagus menghentikan penggunaan sedotan plastik mengingat banyaknya penyu yang kesogrok alat bantu nyedot minuman ini.

Akan tetapi, saya meragukan motivasi sayang lingkungan tersebut lantaran masih menggunakan wadah sambal sekali pakai dan styrofoam sebagai wadah minuman. Padahal benda yang  terbuat dari stirena ini lebih bahaya karena tak bisa diuraikan sama sekali. Kalau memang bertujuan menyelamatkan lingkungan, harusnya mereka tak hanya  melarang penggunaan sedotan, namun juga menghentikan penggunaan  wadah sambal sekali pakai dan styrofoam  (setidaknya kalau makan  di tempat, styrofoam diganti gelas dari material yang bisa dipakai berulang-ulang).

Menurut saya, pemberhentian penggunaan sedotan ini dijadikan alat untuk meningkatkan cuan. Satu pak saja harganya Rp10.000,00. Bayangkan berapa banyak  pak sedotan yang dipakai dalam sehari. Andai ada tiga pak, lumayan hemat Rp 30.000. Selain itu, kampanye antisedotan ini juga bertujuan untuk menyedot orang-orang berjiwa aktivis lingkungan untuk makan di sana, alias meningkatkan penjualan.

 

Nggak ngefek

Pasti pembaca yang budiman pernah ditanya sewaktu di supermarket, “Maaf, Kak. Pakai kantong kresek nggak? Kalau iya, bayar lagi Rp100,00,ya”. Pasti mayoritas dari kita menjawab, “Pakai, Mbak,” apalagi kala itu kita sedang tidak membawa kresek.

Katanya, kresek berbayar ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan kresek. Tapi kalau dijual hanya Rp 100,00 sampai Rp500,00 mana ngefek?! Apakah dengan harga segitu kita bakal keberatan dan akhirnya membawa kresek sendiri?  Kalau saya pribadi sih tidak  meskipun hati dan pikiran bergejolak dan mbatin, “gilak kresek doang bayar!”

Bayangkan apabila kresek dihargai Rp500,00 dan ada 100 orang belanja dalam sehari dengan pikiran yang sama seperti saya. Lumayan banget dalam sehari nambah pemasukan Rp50.000,00. Kalau kresek berbayar hanya dihargai segini, kampanye ini hanya ngefek di kalangan emak-emak pelit stadium lanjut.

Kalau niatnya untuk menyelamatkan lingkungan, mungkin bisa mencontoh Lotte Mart Waru yang memberi harga kreseknya Rp3.000,00. Tak satupun pengunjung tidak membawa kresek karena harga tersebut lumayan berasa menguras kantong.

 

Malah jualan kantong belanja

Kembali ke minimarket yang tidak menyediakan kresek tadi. Seusai ia menjelaskan alasan ketidaktersediaan kresek, ia menawarkan solusi untuk membawa belanjaan saya. Membeli tas belanja seharga Rp15.000,00. Tentu jiwa pelit saya terpanggil.

Rupanya kebijakan Pemkot Surabaya dimanfaatkan untuk memasarkan tas belanja tersebut. Pengusaha ini benar-benar cerdik memanfaatkan keadaan. Entah berapa banyak untung yang didapat dari jualan kantong belanja kain dengan warna  ngejreng dengan harga segitu.

Saya sendiri sebenarnya agak mengagumi kreativitas para pengusaha memanfaatkan keadaan dan concern people zaman now. Tapi, kalau mengambil cuan dari concern orang-orang terhadap lingkungan yang begitu mulia dan mengkomersilkannya, menurut saya kurang etis.

Kalau memang mau kampanye cinta lingkungan, ya harus total sekalian! Kalau mau mencari untung, jangan membungkus dengan isu yang melibatkan hati nurani seperti ini! Eaa….

Editor Picks