Tipologi Dosen Menurut Kamus Maha-student 0 2033

Bukan hanya Surabaya yang panasnya seperti neraka. Mau diberi pendingin ruangan sampai suhu kutub utara pun, ruang kelas kuliah bisa menganiaya lebih hebat daripada siksaan kekal itu. Pembaca tahu, sesungguhnya para sarjana yang baru diwisuda dan menyebar foto di Instagram dengan selempang bertuliskan gelar itu tak sebahagia nampaknya. Jika ditarik sejarah hidupnya, dia hampir pasti bersungut-sungut setiap masuk pintu ruang kelas, memaki-maki ketika jadwal bimbingan tak kunjung menemui garis akhir penundaan.

Di tengah perjalanannya, maha-student yang digambarkan kece di sinetron Indonesia itu sesungguhnya membenci rutinitasnya. Konstruksi status maha-agung sebagai agen perubahan itu mungkin hanya hikayat. Sebab, kelulusan terkadang hanya formalitas demi mengejar akreditasi dan hampalah usaha-usaha ingin lulus cum laude itu. Sementara itu, mahasiswa suka mengerjakan tugas secara kolektif asal nunut nama dan setor wajah di hadapan dosen sambil memikirkan wajah gebetan di tengah perkuliahan.

Eits, jangan salahkan mahasiswa terus! Mau berapa banyak dusta lagi yang kau berikan pada mereka setelah cap ‘tukang demo’ yang bertubi-tubi itu?

Bisa jadi, mahasiswa yang perilakunya suka aneh-aneh di dalam ruang kelas merupakan aksi nyata mengganyang dosen yang pantas mendapatkannya. Misalnya dengan sikap gelisah, goyang-goyangkan kaki, bolak-balik badan melihat jam dinding, klik-klik layar handphone (persetanlah sekalipun gak ada yang ngechat).

Karena, tak hanya dosen yang mampu mengklasifikan kelompok mahasiswa yang pintar dan kurang pintar (untuk menerapkan eufemisme atas ‘goblok’). Para mahasiswa juga membuat tipologi dosen dalam gerakan bawah tanah. Berikut ini barangkali hirarki tipikal dosen mulai dari yang mampu menggaet hati mahasiswa, sampai yang (mungkin) gak bakal ditoleh blas.

Tipe sahabat super. Tipe dosen ini bisa masuk hirarki tertinggi bagi mahasiswa yang terlalu depresi sebab rumitnya kuliah serta polemik cinta beda agama. Mereka mengoleksi kutipan-kutipan motivasional dari gugel dan makin bersyukur jika dosennya mampu melengkapi kebutuhan peneguhan iman ini. Di tengah-tengah ribetnya pemikiran kritis, selipan kata-kata mutiara bisa menyegarkan. Selain itu, dapat memenuhi kriteria pendidik yang mengutamakan nilai moral (dengan semboyan excellence with morality).

Jenis wejangan bisa variatif mulai dari sejarah hidup, religiusitas, keuangan, hingga asmara. Atau bisa jadi, motivasi diberikan dengan unjuk prestasi (dengan sedikit dosis pamer). Segala penghargaan, karya ilmiah, pengalaman konferensi dan jalan-jalan keluar negeri mendapat jatah tayang prioritas dalam kelas (mengalahkan materi kuliah).

Tipe penyiar radio. Dosen tipe ini tak jelas porsinya di hati mahasiswa. Ia bisa jadi kutuk sekaligus berkah. Saat jam kuliah di momen kurang ajar (sebut saja kuliah di jam yang enak untuk bobok cantik alias jam guoblok), suara mereka yang merdu sungguh syahdu sebagai penghantar tidur. Atau bisa semakin membawa berkah ketika si dosen terus ngecepret tanpa peduli, memperindah proses komunikasi dengan teman sebelah, atau menjadi backgournd song proses pdkt sejoli yang suka duduk di sudut tersepi kelas. Berubah jadi kutuk, karena suara yang mendayu-dayu itu sialnya tak kunjung selesai sampai tiga sks.

Tipe srimulat. Tipe ini setidaknya membuat kelas jadi ceria tak hanya di bulan September seperti kata Vina Panduwinata. Bakat humoris seseorang memang tidak bisa disembunyikan (dan terkadang sampai kelewatan). Untuk menjelaskan pelajaran, si dosen bisa jatuh-bangun hingga jungkir-walik melucu, pokoknya jatah jam kuliah terpenuhi dan dia (seakan) gak makan gaji buta. Masalah materinya tersampaikan atau tidak, itu urusan nanti saja. Yang pasti, memberi soal ujian sulit itu tetap kewajiban untuk menyiksa mahasiswa.

Tipe anggota dewan. Secara artifisial, tipe ini mungkin jadi pemenang di hati para maha-student. Dosen jenis ini semakin mengamini tradisi ngaret yang dianut khalayak umum. Mereka memberi kesempatan bagi para mahasiswa yang khilaf bangun kesiangan dan terlambat (walau khilafnya setiap hari). Begitu masuk kelas kelewat sejam dari jadwal sesungguhnya, sekonyong-konyong ia sudah bersabda “Mohon maaf hari ini kelasnya gak bisa lama karena setelah ini saya masih ada jadwal lagi”.

Atau, kelas dibatalkan sepuluh menit sebelum pelaksanaan. Atau, karena saking sibuknya, sampai dua jam tega membuat mahasiswa menunggu dalam ketidakpastian, kelas dinyatakan bubar tanpa kabar. Siapa yang tak jatuh hati dengan dosen murah hati seperti ini? Dosen dengan mobilisasi tinggi seperti anggota dewan pengabdi rakyat ini tentu saja jadi idola semua idola.

Tipe penata busana. Untuk tipe yang satu ini, tidak ada yang bisa mengkudeta posisinya dalam stratifikasi terwahid. Mimbar akademis ibarat catwalk. Dosen jenis ini mengajarkan nilai ‘dress like you will meet your enemy today’, mengingat penampilan fisik adalah kesuksesan utama dalam lobi bisnis dan mencari jodoh. Ketika masuk kelas, hal pertama dalam benak para mahasiswa adalah “Gilak sepatunya trendy banget, beli di mana ya?”. Tinggal ganti saja kata ‘sepatu’ dengan baju, celana, cardigan, tas, kacamata, jam tangan, hingga tusuk konde setiap harinya.

Seluruh tipe dan urutan stratifikasi tentu saja bersifat cair. Seorang dosen bisa jadi memenuhi dua atau tiga kategori sekaligus, membuatnya akan dinilai semakin pantas disimak perkuliahannya, atau malangnya semakin dibuang dari list dosen favorit. Tipe-tipe dalam stratifikasi ini dapat bertambah dan berkurang, tergantung dengan suasana hati maha-student yang maha-labil.

Akhir kata, kami ucapkan selamat bertarung memperebutkan posisi tertinggi dalam stratifikasi maha-keji ini, wahai dosen!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tragedi Webinar Mr. Blukutuk dan Para Pemuja Sertifikat Online 0 258

Mr. Blukutuk menghela napas panjang. Jari telunjuknya meluncur di atas trackpad, menutup jendela browser di hadapannya. Layar laptopnya kembali menampilkan desktop­­­-nya ceria nan meriah, warna-warni kotoran kucing virtual berjuluk Nyan Cat. Wallpaper ini ampuh membuatnya tersenyum geli sesaat walaupun sedang galau betul.

Ia baru saja meninggalkan sebuah online workshop. Bukan sebagai host alias pembawa acara, melainkan sebagai pengajar fasilitator.

Dengan usia yang sudah hampir kepala lima, ia sering dipuja karena dianggap gaul, nggak gaptek, cepat sekali apdet dengan aplikasi ponsel baru yang populer di kalangan anak muda, termasuk ber-Zum-dan-Gugelmit-ria, yang mendadak beken di tengah pandemi.

Sebagai ilustrator cukup ternama, Mr. Blukutuk merasa dirinya beruntung. Di masa pandemi, harus diakui pendapatannya telah jauh berkurang. Sejumlah universitas, tempat ia mengajar sebagai dosen luar biasa, meniadakan sama sekali kelas ilustrasi dengan tatap muka, berubah bentuk menjadi daring. Demikian pula tempat-tempat kursus yang menyewa jasanya untuk mengajar, berhenti beroperasi sementara.

Ia maklum. Kelas ilustrasi yang efektif memang mengutamakan interaksi aktif antara pengajar dan muridnya, karena ada proses koreksi, penggambaran sudut ruang dan objek, demonstrasi ekspresi, de-el-el.

Mr. Blukutuk agak menyesal tidak giat menjaga hubungan baik dengan stakeholder pontensial selain di bidang pengajaran ilustrasi. Seperti portal berita online, perintis bisnis start-up, dan terutama lagi ruang kolaborasi online yang entah kenapa selalu punya nama-nama beken semi-puitis. Merekalah yang kini gencar membuat konten online variatif, terutama di media sosial.

Tapi Mr. Blukutuk sendiri, sebagai dirinya yang idealis dan sadar usia, agak wegah juga kalau sampai harus bekerja dengan tiga bidang itu. Dia merasa emoh aja gitu sama apa-apa yang kelihatan cuma bisa ngebut dalam satu sampai pol-pol-an tiga tahun, lalu hilang tak berbau. Beberapa orang memuji prinsipnya itu, sisanya menyebut dia kolot.

Nggak apa-apa. Toh, masih banyak ilustrator muda yang keren, lebih edgy, dan mampu mengikuti tingginya kecepatan kerja masa kini. Mr. Blukutuk sendiri lebih suka kerja dengan jam produksi yang manusiawi jelas.

Sesekali ia menerima orderan ilustrasi untuk iklan media, hanya jika proses kerjanya tidak mengganggu jam tidurnya. Mr. Blukutuk nggak akan kuat melekan semalaman demi menuruti revisi klien DUA JAM sebelum deadline. Kabarnya sih, sekarang makin banyak model klien seperti itu.

Kalau permintaan revisi ditolak, si klien akan merayu-rayu. Bahkan, dengan pasif-agresif: “Ayolah, kami ini brand tenar, lho. Kalau memuaskan, kami bisa rekomendasikan Anda pada brand-brand lain. Masa untuk satu revisi saja Anda mempertaruhkan masa depan karir?”

Biasanya, Mr. Blukutuk jadi salting jika kena pertanyaan seperti itu. Makanya sebaiknya menghindar saja, walau bisa jadi cuan-nya gedhe. Alhasil, karirnya justru menanjak sebagai mentor atau guru ilustrasi. Baginya, lebih menyenangkan seperti ini.

Untungnya, di masa pandemi, usaha-usaha rumah tangga tumbuh pating mbrubul bagai jamur. Mr. Blukutuk hampir tidak berhenti menggarap logo merek-merek kecil, label untuk packaging, juga brosur. Kebanyakan untuk bisnis makanan atau snack online. Jadi desainnya sederhana saja, tidak harus estetik dan bergaya vintage atau retro. Lumayan, kadang dapat icip-icip gratis.

Kembali soal Zoominar, seminggu yang lalu, Mr. Blukutuk ditawari jadi fasilitator oleh seorang anak muda, yang memperkenalkan diri sebagai founder komunitas bernama ‘Generasi Cita Indonesia’. Pemuda ini dengan penuh kebanggaan menceritakan visi komunitasnya, yaitu menciptakan generasi muda Indonesia yang kreatif, produktif, dan berdaya-saing tinggi; dengan mengembangkan soft skill, salah satunya dengan belajar menggambar.

Mr. Blukutuk sempat agak curiga dengan nama dan visi komunitas yang agak absurd. Tapi, ia merasa tenang setelah melihat komunitas ini punya lebih dari 4.000 followers di Instagram. Feeds-nya juga penuh dengan poster dan dokumentasi acara lain yang nampak seperti kelas-kelas edukasi.

Maka, segala hal menyangkut materi dan teknis workshop pun disepakati hari itu juga. Mr. Blukutuk sempat agak kehilangan mood ketika diberitahu bahwa komunitas ini ternyata tidak menyiapkan budget untuk honornya mengajar, dengan dalih workshop ini gratis buat para pesertanya. Katanya, kalau ada honor pengajar, otomatis workshop akan berbayar, dan nanti nggak ada yang mau ikut.

Hampir saja Mr. Blukutuk mengurungkan kesediaannya. Tapi ia lalu menenangkan diri dan berusaha menyampaikan secara baik-baik, bahwa meski ilmu adalah hak semua orang, ia juga butuh makan dan bayar listrik. Komunitas tersebut akhirnya setuju. Walau menurut Mr. Blukutuk, bila membandingkan dengan level materi yang diajarkan, nominal yang disepakati lumayan tidak berakhlak. Workshop tetap gratis.

Hari H pun tiba. Acara molor setengah jam karena peserta tidak kunjung bergabung. Padahal formulir pendaftaran yang dibatasi untuk 50 orang sudah terisi penuh. Akhirnya acara dimulai dengan peserta seadanya.

Dari seluruh peserta, tidak sampai 10 yang mengaktifkan kamera video. Padahal sudah ditulis di poster publikasi, bahwa Mr. Blukutuk akan secara aktif memperhatikan proses peserta saat menggambar dan memberi tanggapan. Host acara pun telah berulang kali mengingatkan. Namun kotak-kotak hitam tetap mendominasi layar.

Sampai akhir acara, total hanya 28 peserta bergabung. Entah ke mana sisanya. Acara jadi super garing karena yang aktif memberi pertanyaan cuma host. Lainnya diam tak bersuara. Yah, setidaknya Mr. Blukutuk cukup puas melihat 10 peserta yang menunjukkan hasil gambar mereka di akhir. Acara ditutup dengan screenshot layar foto bersama.

Tak lama kemudian, ponsel pintar Mr. Blukutuk tiba-tiba berbunyi beberapa kali, notifikasi chat baru dari grup WA workshop barusan. Grup ini awalnya dibuat oleh komunitas penyelenggara untuk mem-broadcast alat dan bahan apa saja yang harus disiapkan peserta sehari sebelum workshop.

Kekesalannya memuncak kala melihat isi-isi pesan yang dikirimkan para peserta.

“Acara ini ada sertifnya kan, Kak? Sertifikatnya kapan dibagikan ya?”

“Makasiiih Pak Blukutuk masterrrr!!! Miiin, sertifnya dikirim lewat apaa nantii???”

Sial! Setelah sebegitu besar effort-nya menjabarkan teori, mencoret kertas dengan badan menekuk-nekuk demi tidak menghalangi kamera, serta menjelaskan teknik tiap guratan tinta, ternyata yang paling ditunggu adalah sertifikat elektronik!

Mengapa, anak-anak muda ini tidak bersemangat memanfaatkan acara ini sebagai kesempatan mengembangkan diri? Atau ada yang salah dengan caranya membawakan materi? Mungkinkah wawasan dan jejak karya yang dimilikinya sudah tidak relevan lagi?

Ia teringat teman-temannya, para dosen dan pekerja profesional, yang sudah duluan jadi narasumber untuk beragam topik webinar. Kesemuanya pernah bertanya-tanya tentang acara mereka yang sepi antusiasme. Sebelumnya ia selalu membalas asal dengan mengatakan ‘Ah, mungkin cuma kebetulan,’ atau ‘Sabar, mungkin banyak peserta yang koneksinya nggak lancar’. Tapi, ia pun akhirnya merasakan dan mengalaminya sendiri. Miris!

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Bagaimana Kita dan Media Membungkus Gilang 0 479

Cerita murung bermula dari cuitan akun Twitter @m_fikris yang menceritakan kronologi bagaimana seorang laki-laki muda, dari suatu kampus kondang di Surabaya, melakukan pelecehan seksual secara verbal melalui pesan elektronik. Kisah pahit itu dijuduli dengan judul bombastis, macam portal berita onlen: “Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset dari Mahasiswa PTN di SBY”. Lantas, satu negara ini sejenak melupakan corona, berpindah gandrung pada ‘Gilang’, nama yang disebut-sebut menjadi pelaku pelecehan.

Cerita bertopik seks semacam ini, pembaca tahu, dengan cepat sambung-menyambung, berbalas, dan dibagikan secara meluas di linimasa. Tak hanya ramai di media sosial, yang bahkan sempat menduduki tingkatan teratas trending topic, ia ramai menjadi buah bibir tetangga, hingga agenda pemberitaan media massa.

Selain soal menumbuhkan kewaspadaan bersama, tapi lalu mengapa media, dan juga kita, sangat berambisi pada cerita-cerita semacam ini? Ada beberapa hal yang penulis ajukan di sini.

Pertama, media kita memang mudah sekali terangsang mengangkat berita-berita berbau seks. Apalagi ada anomali yang baru, fetish atau dorongan seksual dalam konteks kasus Gilang ini unik: napsu melihat orang yang dibungkus seperti pocong dengan kain jarik. Sayangnya, pembawaan berita berputar-putar pada fenomena, bahkan mengungkap sejarah Gilang yang sudah sering melakukan tindakan asusila.

Tapi, kemalasan media membuatnya lupa memberi pendalaman perspektif psikologis atasnya. Apakah benar memang fetish? Atau justru gangguan kejiwaan lainnya yang tak berhubungan dengan seksualitas?

Ah, jangan heran, media kita kan memang dari dulu begitu. Sejak zaman Orde Baru, kita sudah di-ninabobo-kan dengan berita konflik pertumpahan darah dan SEKS, supaya pemerintah tidak perlu repot-repot menjawabi pemberitaan yang mengkritisi kinerjanya.

Kedua, kita sepakat – jika memang ini adalah kasus pelecehan seksual – selalu bak gunung es. Korban-korban Gilang lainnya, yang telah menjadi target operasi bertahun-tahun silam, baru terungkap semuanya, ketika ada satu orang yang berani bicara. Kita memang patut berterima kasih (jika memang baik budi niatnya) pada si pembuat thread pada mulanya.

Demikian pula dengan kasus pelecehan seksual yang sudah-sudah. Entah itu pedofilia, pelecehan dalam keluarga, bahkan dalam konteks pria-wanita, selalu membuat sang korban tak berani bicara. Sebaliknya, korban lebih banyak dirundung, dituduh menggoda dengan pakaian terbuka.

Karena memang, belum ada hukum di negeri ini yang mampu melindungi korban pelecehan seksual. Kalaupun ada kasus yang terungkap ke permukaan dan diproses hukum, ia haruslah viral terlebih dahulu di media sosial (dengan mempermalukan korban 2 kali lipat), agar bisa ditindak pakai ‘Sang Maha-benar’ UU ITE, yang tak pernah benar-benar menggasak betapa brengseknya tindakan pelecehan itu sendiri. Benar apa kata sjw-sjw feminis: RUU PKS harus segera disahkan!

Ketiga, persoalan Gilang ini tak bisa hanya dilihat soal orientasi seksual yang melenceng. Kita sepakat bahwa hal tersebut adalah kemerdekaan hak setiap orang. Yang jadi persoalan, cara Gilang – jika, sekali lagi, memang benar fetish – dalam mengajak si korban memuaskan birahinya.

Gilang menggunakan kata-kata yang manipulatif, membohongi anak-anak yang lebih muda darinya agar mau membantunya mengerjakan ‘tugas kuliah’. Ia juga mendekati orang-orang yang tak ia kenal sebelumnya, dengan bahasa perkenalan yang cenderung superior, dominan, sekaligus minim etika. Unggah-ungguh berkenalan, ngobrol, dan meminta tolong pada orang yang baru dikenal seharusnya milik kita semua, terlepas dari apapun pilihan jalan hidup dan orientasi seksualnya.

Keempat, pendapat netijen yang bermunculan akhir-akhir ini justru bernada mengolok karena menganggap Gilang pantas mendapatkannya. Ejekan itu berkedok guyonan, bahkan nama-nama besar seperti Babe Cabita – yang kemudian banyak dihujat netijen juga – ikut-ikutan menertawakan tindakan Gilang. Selain itu, kamu dan saya, mulut kita semua sudah sibuk ngrasani bersama teman-teman tentang betapa tak warasnya Gilang.

Kita tidak sadar, bahwa diri sendiri ini juga sami mawon: menjauhi dan mencibir entah korban entah pelaku, entah juga orang-orang macam Gilang; tapi lupa bersimpati, mendekati, mencari akar masalah, dan menyelesaikannya bersama-sama. Memang benar, gotong-royong yang diajarkan founding fathers kita hanya tinggal klise sekarang (lihat tulisan: ‘Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif’).

Pada akhirnya, soal bungkus-membungkus ini memang bukan milik Gilang dan rektorat kampusnya yang sibuk memberi pernyataan sikap semata. Ini juga masalah kita semua, yang sudah lama dibungkus rasa egois dan gengsi, menutup mata dan telinga pada persoalan sosial di sekitar kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks