Tipologi Dosen Menurut Kamus Maha-student 0 1138

Bukan hanya Surabaya yang panasnya seperti neraka. Mau diberi pendingin ruangan sampai suhu kutub utara pun, ruang kelas kuliah bisa menganiaya lebih hebat daripada siksaan kekal itu. Pembaca tahu, sesungguhnya para sarjana yang baru diwisuda dan menyebar foto di Instagram dengan selempang bertuliskan gelar itu tak sebahagia nampaknya. Jika ditarik sejarah hidupnya, dia hampir pasti bersungut-sungut setiap masuk pintu ruang kelas, memaki-maki ketika jadwal bimbingan tak kunjung menemui garis akhir penundaan.

Di tengah perjalanannya, maha-student yang digambarkan kece di sinetron Indonesia itu sesungguhnya membenci rutinitasnya. Konstruksi status maha-agung sebagai agen perubahan itu mungkin hanya hikayat. Sebab, kelulusan terkadang hanya formalitas demi mengejar akreditasi dan hampalah usaha-usaha ingin lulus cum laude itu. Sementara itu, mahasiswa suka mengerjakan tugas secara kolektif asal nunut nama dan setor wajah di hadapan dosen sambil memikirkan wajah gebetan di tengah perkuliahan.

Eits, jangan salahkan mahasiswa terus! Mau berapa banyak dusta lagi yang kau berikan pada mereka setelah cap ‘tukang demo’ yang bertubi-tubi itu?

Bisa jadi, mahasiswa yang perilakunya suka aneh-aneh di dalam ruang kelas merupakan aksi nyata mengganyang dosen yang pantas mendapatkannya. Misalnya dengan sikap gelisah, goyang-goyangkan kaki, bolak-balik badan melihat jam dinding, klik-klik layar handphone (persetanlah sekalipun gak ada yang ngechat).

Karena, tak hanya dosen yang mampu mengklasifikan kelompok mahasiswa yang pintar dan kurang pintar (untuk menerapkan eufemisme atas ‘goblok’). Para mahasiswa juga membuat tipologi dosen dalam gerakan bawah tanah. Berikut ini barangkali hirarki tipikal dosen mulai dari yang mampu menggaet hati mahasiswa, sampai yang (mungkin) gak bakal ditoleh blas.

Tipe sahabat super. Tipe dosen ini bisa masuk hirarki tertinggi bagi mahasiswa yang terlalu depresi sebab rumitnya kuliah serta polemik cinta beda agama. Mereka mengoleksi kutipan-kutipan motivasional dari gugel dan makin bersyukur jika dosennya mampu melengkapi kebutuhan peneguhan iman ini. Di tengah-tengah ribetnya pemikiran kritis, selipan kata-kata mutiara bisa menyegarkan. Selain itu, dapat memenuhi kriteria pendidik yang mengutamakan nilai moral (dengan semboyan excellence with morality).

Jenis wejangan bisa variatif mulai dari sejarah hidup, religiusitas, keuangan, hingga asmara. Atau bisa jadi, motivasi diberikan dengan unjuk prestasi (dengan sedikit dosis pamer). Segala penghargaan, karya ilmiah, pengalaman konferensi dan jalan-jalan keluar negeri mendapat jatah tayang prioritas dalam kelas (mengalahkan materi kuliah).

Tipe penyiar radio. Dosen tipe ini tak jelas porsinya di hati mahasiswa. Ia bisa jadi kutuk sekaligus berkah. Saat jam kuliah di momen kurang ajar (sebut saja kuliah di jam yang enak untuk bobok cantik alias jam guoblok), suara mereka yang merdu sungguh syahdu sebagai penghantar tidur. Atau bisa semakin membawa berkah ketika si dosen terus ngecepret tanpa peduli, memperindah proses komunikasi dengan teman sebelah, atau menjadi backgournd song proses pdkt sejoli yang suka duduk di sudut tersepi kelas. Berubah jadi kutuk, karena suara yang mendayu-dayu itu sialnya tak kunjung selesai sampai tiga sks.

Tipe srimulat. Tipe ini setidaknya membuat kelas jadi ceria tak hanya di bulan September seperti kata Vina Panduwinata. Bakat humoris seseorang memang tidak bisa disembunyikan (dan terkadang sampai kelewatan). Untuk menjelaskan pelajaran, si dosen bisa jatuh-bangun hingga jungkir-walik melucu, pokoknya jatah jam kuliah terpenuhi dan dia (seakan) gak makan gaji buta. Masalah materinya tersampaikan atau tidak, itu urusan nanti saja. Yang pasti, memberi soal ujian sulit itu tetap kewajiban untuk menyiksa mahasiswa.

Tipe anggota dewan. Secara artifisial, tipe ini mungkin jadi pemenang di hati para maha-student. Dosen jenis ini semakin mengamini tradisi ngaret yang dianut khalayak umum. Mereka memberi kesempatan bagi para mahasiswa yang khilaf bangun kesiangan dan terlambat (walau khilafnya setiap hari). Begitu masuk kelas kelewat sejam dari jadwal sesungguhnya, sekonyong-konyong ia sudah bersabda “Mohon maaf hari ini kelasnya gak bisa lama karena setelah ini saya masih ada jadwal lagi”.

Atau, kelas dibatalkan sepuluh menit sebelum pelaksanaan. Atau, karena saking sibuknya, sampai dua jam tega membuat mahasiswa menunggu dalam ketidakpastian, kelas dinyatakan bubar tanpa kabar. Siapa yang tak jatuh hati dengan dosen murah hati seperti ini? Dosen dengan mobilisasi tinggi seperti anggota dewan pengabdi rakyat ini tentu saja jadi idola semua idola.

Tipe penata busana. Untuk tipe yang satu ini, tidak ada yang bisa mengkudeta posisinya dalam stratifikasi terwahid. Mimbar akademis ibarat catwalk. Dosen jenis ini mengajarkan nilai ‘dress like you will meet your enemy today’, mengingat penampilan fisik adalah kesuksesan utama dalam lobi bisnis dan mencari jodoh. Ketika masuk kelas, hal pertama dalam benak para mahasiswa adalah “Gilak sepatunya trendy banget, beli di mana ya?”. Tinggal ganti saja kata ‘sepatu’ dengan baju, celana, cardigan, tas, kacamata, jam tangan, hingga tusuk konde setiap harinya.

Seluruh tipe dan urutan stratifikasi tentu saja bersifat cair. Seorang dosen bisa jadi memenuhi dua atau tiga kategori sekaligus, membuatnya akan dinilai semakin pantas disimak perkuliahannya, atau malangnya semakin dibuang dari list dosen favorit. Tipe-tipe dalam stratifikasi ini dapat bertambah dan berkurang, tergantung dengan suasana hati maha-student yang maha-labil.

Akhir kata, kami ucapkan selamat bertarung memperebutkan posisi tertinggi dalam stratifikasi maha-keji ini, wahai dosen!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Met Gala 2018 dan Kegilaan-kegilaannya 0 339

Oleh: Michelle Florencia*

Met Gala adalah salah satu acara tahunan yang paling dinanti-nantikan insan fesyen dunia. Bagaimana tidak? Acara yang yang sudah 70 tahun terakhir diselenggarakan ini bertabur bintang-bintang Hollywood yang mengenakan kostum super wow rancangan desainer kelas dunia.

Acara yang diinisiasi oleh Eleanor Lambert ini sebenarnya merupakan acara penggalangan dana untuk The Costume Institute dan pameran kostum di Metropolitan Museum of Art (Met), New York. Namun, tidak ada yang tahu pasti – selain tamu undangan pastinya – bagaimana suasana acara Met Gala sendiri dikarenakan acara ini tertutup bagi media dan para undangan juga tidak diperbolehkan mengunggah foto maupun video seputar acara Met Gala untuk menjaga ekslusifitasnya.

Di tahun 2018, Met Gala diselenggarakan pada Seni n (7/5) di New York Metropolitan Museum of Art. Met Gala kali ini merupakan pembuka pameran terbesar yang pernah dibuat The Costume Institute. Mengangkat tema Heavenly Bodies: Fashion and The Catholic Imagination, ekshibisi ini begitu menarik karena bekerjasama dengan keuskupan Vatikan untuk memamerkan benda-benda gereja Vatikan. Tak hanya itu, para desainer kenamaan seperti Jeanne Lanvin, Karl Lagerfeld, John Galliano, Jean Paul Gaultier, dan nama-nama besar lainnya turut serta memamerkan rancangan mereka yang terinspirasi dari simbol-simbol Katolik.

Penulis menilai Met Gala merupakan salah satu acara yang paling gila, terutama Met Gala 2018. Bagaimana tidak? Pertama, harga tiket acara ini adalah USD 30.000/tamu atau Rp 405.000.000 (dengan asumsi kurs Rp 13.500/USD). Itu untuk teko thok, gurung nek mesen mejo. Apabila ingin memesan satu meja, maka tamu tersebut harus membayar USD 275.000 hingga USD 500.000. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp 3.712.500.000 hingga Rp 6.750.000.000—jumlah yang cukup untuk beli pisang naget dan ayam geprek seumur hidup!

Apabila Pembaca merasa punya uang segitu, jangan kepedean dulu bisa datang ke acara ini! Yang diundang hanyalah selebritis top Hollywood, donatur acara, para desainer tersohor dunia, super model kenamaan, dan perwakilan label busana atau aksesoris mewah yang bersedia menyumbang dana. Tak hanya itu, semua tamu undangan harus disetujui oleh Nyah Anna Wintour, pemimpin redaksi majalah Vogue dan juga ketua acara Met Gala. Kalau Pembaca masih seorang mahasiswa yang tinggal di kos-kosan yang hanya bisa ngadem dan numpang wifi di perpus kampus (gratisan), barangkali bisa tidur dulu untuk datang ke acara ini dalam mimpi.

Beauty is pain menjadi selogan bagi para undangan, terutama tamu undangan wanita. Lihat saja Blake Lively  dengan gaun Versace-nya yang super panjang , rawan keselimpet, nyeret-nyeret, dan mau nggak mau rela “mengepel” lantai museum bisa dibilang jadi cleaning service dadakan. Penulis juga sangat mengapresiasi kekuatan dan kekekaran punggung Katy Perry yang memikul sayap dengan ukuran buto. Belum lagi Rihanna yang mampu tetap tegak berdiri saat mengenakan dress, cape, dan topi ala paus yang penuh dengan borci-borci (kosakata ala emak-emak Pasar Atum untuk menyebut payet) rancangan Maison Margiela yang kalau ditotal  barangkali bisa sampai belasan kilogram. Tak kalah hebat, Sarah Jessica Parker mampu menahan beban dari pajangan rumah yang dijadikan bando oleh Dolce and Gabbana itu demi mengalihkan fokus agar tidak terpaku pada wajahnya yang botox-nya tidak merata itu. Penulis saja sudah ngomel-ngomel karena bahu suka salah urat kalau bawa laptop di tas. Luar biasa memang kekuatan para wanita di Met Gala 2018!

Kegilaan selanjutnya ialah keberanian Andrew Bolton, kurator The Costume Institute dan sesosok pencetus tema-tema Met Gala dalam beberapa tahun terakhir, dalam menentukan tema Met Gala tahun ini, yaitu Heavenly Bodies: Fashion and Catholic Imagination. Presiden Kebudayaan Vatikan, Gianfranco Ravasi sendiri bersyukur atas diangkatnya tema ini, sebab artinya simbol Katolik masih bisa menyentuh orang lain.

Tapi, akibat mencetuskan ide kontroversial ini, ia harus bolak-balik New York-Vatikan sebanyak 10 kali dalam satu tahun terakhir! Dikutip dari Tirto, Bolton menjalin relasi dengan lima orang pastur pejabat gereja dan menteri kebudayaan Vatikan untuk bisa meminjam busana pastur, mahkota yang dikenakan Paus, dan benda-benda gereja lainnya. Total ada lebih dari 40 benda yang biasa tersimpan di dalam tempat penyimpanan perlengkapan ekaristi (sakristi) di sebuah gereja di Vatikan. Berani buat ide gila, harus berani kerja gila!

Tak hanya membuat Bolton bolak-balik New York-Vatikan sampai mbulak, tema yang menyentuh ranah keagamaan ini juga menimbulkan kontroversi. Penulis paparkan terakhir karena merupakan klimaks dari kegilaan acara ini. Ide suangar nun gendeng ini  rupanya tidak disambut baik oleh beberapa selebritis, dan bahkan ingin memboikot Met Gala 2018. Dikutip dari Vogue, tema ini jadi kontroversi karena fesyen dinilai tak pantas disandingkan dengan hal-hal yang dianggap sakral atau suci. Tapi, menurut Bolton hal itu lumrah saja, “Ini menegaskan kesetiaan pada agama, eksistensi, dan perbedaan agama,” tukasnya.

Yang jelas, apabila ingin mengangkat tema keagamaan, harusnya pihak Met Gala tetap menjaga kesucian agama itu sendiri. Tak pantas rasanya apabila mengenakan pakaian bertema agamis, tapi dibuat seperti pakaian yang kekurangan kain dan bikin orang salah fokus. Entah bagaimana jadinya kalau acara semacam ini diselenggarakan di Indonesia. Gurung diselenggarakno wes dicekal disek. Hehehe….

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Lagu Mahasiswa: Buruh Tani, Demokrasi, dan Dinamika Semangat Zaman 0 206

Oleh: Aria Mahatamtama*

Sebelumnya, tulisan ini berusaha merefleksikan semangat zaman tentang isu buruh, masyarakat miskin, dan mahasiswa. Mengingat bulan Mei adalah bulan yang diawali dengan semangat revolusi, iya revolusi buruh, dengan merebut alat produksi, dan menyetarakan tiap lapisan masyarakat. Aliansi mahasiswa kerap berdekatan dengan isu-isu wong cilik (buruh, dan masyarakat yang mengalami penggusuran secara paksa dan masih banyak lagi) karena itu semangat ini harus dikaji secara serius. Mengapa kajian ini harus dilakukan?

Hal mendasar yang menjadi keresahan penulis adalah “Lagu Mahasiswa: Buruh Tani”. Lagu tersebut kerap dinyanyikan oleh mahasiswa, akan tetapi, celakanya semangat zaman yang ada melalui lirik-lirik tersebut yang harus dikaji lebih dalam, kalau perlu diadakan diskusi yang membedah secara serius dampak dari lirik tersebut untuk dikontekstualisasikan dengan semangat zaman masa kini. Sebelum itu, kata “semangat zaman” ini diartikan dengan zaman yang didalamnya memuat pergejolakan pendidikan/pengetahuan, sosial, ekonomi, politik dan budaya yang sedang terjadi. Fokus penulis hanya sampai pada dua baris lirik (lihat gambar).

Sekarang bila diperbolehkan, penulis mengajak pembaca untuk memproyeksikan lagu ini bila dinyanyikan mahasiswa dalam aksi, tetapi anda (pembaca) menjadi pendengar nyanyian tersebut dengan semangat zaman masa kini. Nanti akan terlihat perbedaan semangat zaman yang terjadi.

Pada lirik awal “Buruh tani, Mahasiswa, Rakyat Miskin kota” akan terlihat jelas bahwa anda akan melihat mereka (yang terlibat aksi dan sedang bernyanyi) memberikan gambaran identitas diri mereka. Hanya memberikan gambaran dalam lirik yang dituangkan menjadi nyanyian, bukan diri mereka seutuhnya! Tetapi hanya gambaran. Lalu dilanjutkan “bersatu padu rebut demokrasi”, pada lirik ini akan terlihat ideologi rezim yang berkembang pada semangat zaman lagu ini tercipta, dengan sistem yang otoriter. Otomatis perlakuan yang paling radikal adalah meruntuhkan otoritarian dengan merebut hak-hak kebebasan individu dalam pola demokrasi. Lirik ketiga dan keempat pada baris pertama mengikuti pola lirik pertama dan kedua.

Nah, pada lirik baris kedua akan terlihat sedikit kekacauan “hari-hari esok adalah milik kita”, jika ditilik secara serius “milik kita” ini hanya terjadi, tetapi besok-besok, bukan sekarang! Jadi sekarang masih usaha, belum memiliki, akan–memiliki itu besok-besok lho. Dan “terciptanya masyarakat sejahtera” otomatis pengartian lirik ini bila mengacu pada perihal “milik kita” akan nampak jelas bahwa “masyarakat sejahtera”  ini akan didapat setelah menjadi “milik kita”  yang terjadi pada hari-hari esok. Lalu lirik ketiga pada baris kedua “terbentuknya tatanan masyarakat” ini harus dilihat jika berkaitan pada masyarakat, maka makna “tatanan” ini berbicara mengenai struktur, yaitu struktur masyarakat. Jika berbicara struktur masyarakat, otomatis terdapat dinamika atau pergejolakan yang terjadi di masyarakat dimana terdapat si kaya dan si miskin. Maka–singkatnya tatanan yang dimuat di lirik tersebut malah melanggengkan otonomi kelas borjuis yang memang dia adalah si kaya. Lirik keempat pada baris kedua memperlihatkan keajegan bahwa “Indonesia baru tanpa Orba” syarat tersebut memberikan identitas baru bagi Indonesia. Yaitu perebutan demokrasi, dengan meninggalkan “Orde Baru”.

Akan tetapi pertanyaan nyaadalah ketika demokrasi dan hak-hak kebebasan sudah didapat, lalu apakah demokrasi tidak memiliki sifat tirani; atau gampangnya, apakah demokrasi itu bebas atau tidak? Ini yang harus dikaji lebih dalam. Sebelumnya penulis sudah mengijinkan anda (pembaca) untuk boleh tidak lagi memproyeksikan menjadi pendengar nyanyian aksi tersebut, tetapi berpikir ulang untuk mengoptimalkan semangat zaman masa kini. Yaitu dengan memikirkan ulang, apakah demokrasi itu bebas atau tetap kejam akan tetapi bentuk kekejamannya lebih halus sehalus pipi doi kalau dicubit.

Kebebasan berpendapat selalu terdengar cukup memuaskan bagi kita dalam pola masyarakat demokrasi dewasa ini, tetapi jika kebebasan berpendapat ini hadir, otomatis kebebasan mendengar pun juga masuk dalam sistem demokrasi, lebih-lebih kebebasan mengonsumsi juga menjadi acuan juga dong. Lah kok boleh banyak mengonsumsi… ya iya kan Indonesia sebagai negara Dunia Ketiga dalam pola kapitalisme global bergerak dalam pola demokrasi. Maka dari itu kenapa kita selalu resah dengan jalanan Ahmad Yani yang macet karena kepadatan kendaraan atau tulisan mengenai hipster lokal bahkan tulisan tandingannya. Ya karena pola demokrasi yang bebas ini, membolehkan banyak pemilik modal melakukan ekspansinya untuk meraup banyak keuntungan yang akhirnya kalian-kalian dan pembaca ini loh boleh banyak beraspirasi untuk mengonsumsi. Ya tho? Diem-diem wae, ngopi brow.

Inilah yang menjadi titik tekan, penulis tidak menyalahkan kehadiran lagu tersebut, sama sekali tidak menyalahkan. Penulis memiliki letak asumsi yang optimis (cie) bahwa subjek, atau masyarakat dengan semangat zaman masa kini harus lebih sadar, buruh dan budaya pop tentang musik dangdut dan kepentingan panggung politik praktis harus dipisahkan. Kalau perlu buruh harus disadarkan dulu! Karena yang menjadi gejolak era kontemporer adalah relung-relung ideologi yang menggerakan kita secara halus, relung-relung ideologi itu bekerja tanpa disadari, yang memusat pada pola kapitalisme.

Ilmu itu harus diberikan sebanyak-banyaknya agar kesadaran untuk perubahan dapat terjadi.

*Hormat penulis, yang sedang menunggu film produksinya sendiri rilis dan berdoa agar petani di Aceh tidak dibakar ladangnya secara cuma-cuma.

Editor Picks