Tipologi Dosen Menurut Kamus Maha-student 0 1579

Bukan hanya Surabaya yang panasnya seperti neraka. Mau diberi pendingin ruangan sampai suhu kutub utara pun, ruang kelas kuliah bisa menganiaya lebih hebat daripada siksaan kekal itu. Pembaca tahu, sesungguhnya para sarjana yang baru diwisuda dan menyebar foto di Instagram dengan selempang bertuliskan gelar itu tak sebahagia nampaknya. Jika ditarik sejarah hidupnya, dia hampir pasti bersungut-sungut setiap masuk pintu ruang kelas, memaki-maki ketika jadwal bimbingan tak kunjung menemui garis akhir penundaan.

Di tengah perjalanannya, maha-student yang digambarkan kece di sinetron Indonesia itu sesungguhnya membenci rutinitasnya. Konstruksi status maha-agung sebagai agen perubahan itu mungkin hanya hikayat. Sebab, kelulusan terkadang hanya formalitas demi mengejar akreditasi dan hampalah usaha-usaha ingin lulus cum laude itu. Sementara itu, mahasiswa suka mengerjakan tugas secara kolektif asal nunut nama dan setor wajah di hadapan dosen sambil memikirkan wajah gebetan di tengah perkuliahan.

Eits, jangan salahkan mahasiswa terus! Mau berapa banyak dusta lagi yang kau berikan pada mereka setelah cap ‘tukang demo’ yang bertubi-tubi itu?

Bisa jadi, mahasiswa yang perilakunya suka aneh-aneh di dalam ruang kelas merupakan aksi nyata mengganyang dosen yang pantas mendapatkannya. Misalnya dengan sikap gelisah, goyang-goyangkan kaki, bolak-balik badan melihat jam dinding, klik-klik layar handphone (persetanlah sekalipun gak ada yang ngechat).

Karena, tak hanya dosen yang mampu mengklasifikan kelompok mahasiswa yang pintar dan kurang pintar (untuk menerapkan eufemisme atas ‘goblok’). Para mahasiswa juga membuat tipologi dosen dalam gerakan bawah tanah. Berikut ini barangkali hirarki tipikal dosen mulai dari yang mampu menggaet hati mahasiswa, sampai yang (mungkin) gak bakal ditoleh blas.

Tipe sahabat super. Tipe dosen ini bisa masuk hirarki tertinggi bagi mahasiswa yang terlalu depresi sebab rumitnya kuliah serta polemik cinta beda agama. Mereka mengoleksi kutipan-kutipan motivasional dari gugel dan makin bersyukur jika dosennya mampu melengkapi kebutuhan peneguhan iman ini. Di tengah-tengah ribetnya pemikiran kritis, selipan kata-kata mutiara bisa menyegarkan. Selain itu, dapat memenuhi kriteria pendidik yang mengutamakan nilai moral (dengan semboyan excellence with morality).

Jenis wejangan bisa variatif mulai dari sejarah hidup, religiusitas, keuangan, hingga asmara. Atau bisa jadi, motivasi diberikan dengan unjuk prestasi (dengan sedikit dosis pamer). Segala penghargaan, karya ilmiah, pengalaman konferensi dan jalan-jalan keluar negeri mendapat jatah tayang prioritas dalam kelas (mengalahkan materi kuliah).

Tipe penyiar radio. Dosen tipe ini tak jelas porsinya di hati mahasiswa. Ia bisa jadi kutuk sekaligus berkah. Saat jam kuliah di momen kurang ajar (sebut saja kuliah di jam yang enak untuk bobok cantik alias jam guoblok), suara mereka yang merdu sungguh syahdu sebagai penghantar tidur. Atau bisa semakin membawa berkah ketika si dosen terus ngecepret tanpa peduli, memperindah proses komunikasi dengan teman sebelah, atau menjadi backgournd song proses pdkt sejoli yang suka duduk di sudut tersepi kelas. Berubah jadi kutuk, karena suara yang mendayu-dayu itu sialnya tak kunjung selesai sampai tiga sks.

Tipe srimulat. Tipe ini setidaknya membuat kelas jadi ceria tak hanya di bulan September seperti kata Vina Panduwinata. Bakat humoris seseorang memang tidak bisa disembunyikan (dan terkadang sampai kelewatan). Untuk menjelaskan pelajaran, si dosen bisa jatuh-bangun hingga jungkir-walik melucu, pokoknya jatah jam kuliah terpenuhi dan dia (seakan) gak makan gaji buta. Masalah materinya tersampaikan atau tidak, itu urusan nanti saja. Yang pasti, memberi soal ujian sulit itu tetap kewajiban untuk menyiksa mahasiswa.

Tipe anggota dewan. Secara artifisial, tipe ini mungkin jadi pemenang di hati para maha-student. Dosen jenis ini semakin mengamini tradisi ngaret yang dianut khalayak umum. Mereka memberi kesempatan bagi para mahasiswa yang khilaf bangun kesiangan dan terlambat (walau khilafnya setiap hari). Begitu masuk kelas kelewat sejam dari jadwal sesungguhnya, sekonyong-konyong ia sudah bersabda “Mohon maaf hari ini kelasnya gak bisa lama karena setelah ini saya masih ada jadwal lagi”.

Atau, kelas dibatalkan sepuluh menit sebelum pelaksanaan. Atau, karena saking sibuknya, sampai dua jam tega membuat mahasiswa menunggu dalam ketidakpastian, kelas dinyatakan bubar tanpa kabar. Siapa yang tak jatuh hati dengan dosen murah hati seperti ini? Dosen dengan mobilisasi tinggi seperti anggota dewan pengabdi rakyat ini tentu saja jadi idola semua idola.

Tipe penata busana. Untuk tipe yang satu ini, tidak ada yang bisa mengkudeta posisinya dalam stratifikasi terwahid. Mimbar akademis ibarat catwalk. Dosen jenis ini mengajarkan nilai ‘dress like you will meet your enemy today’, mengingat penampilan fisik adalah kesuksesan utama dalam lobi bisnis dan mencari jodoh. Ketika masuk kelas, hal pertama dalam benak para mahasiswa adalah “Gilak sepatunya trendy banget, beli di mana ya?”. Tinggal ganti saja kata ‘sepatu’ dengan baju, celana, cardigan, tas, kacamata, jam tangan, hingga tusuk konde setiap harinya.

Seluruh tipe dan urutan stratifikasi tentu saja bersifat cair. Seorang dosen bisa jadi memenuhi dua atau tiga kategori sekaligus, membuatnya akan dinilai semakin pantas disimak perkuliahannya, atau malangnya semakin dibuang dari list dosen favorit. Tipe-tipe dalam stratifikasi ini dapat bertambah dan berkurang, tergantung dengan suasana hati maha-student yang maha-labil.

Akhir kata, kami ucapkan selamat bertarung memperebutkan posisi tertinggi dalam stratifikasi maha-keji ini, wahai dosen!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Seharusnya Kita Sikapi RKUHP 1 118

 

Saya tahu, masih banyak yang dirundung duka atas wafatnya KPK (lihat tulisan sebelumnya: ‘Polemik Hubungan Asmara KPK‘). Tapi, karena hidup ini terus berjalan, mari kita move on… menuju kesedihan berikutnya!

Perlu diingat, 24 September besok, rencananya petinggi senayan akan membawa RKUHP ke rapat paripurna. Satu set produk hukum bawaan kolonial itu akan diperbarui.

Yang perlu menjadi poin keprihatinan bukanlah karena banyaknya pasal bermasalah. Namun ada yang jauh lebih penting: riuh redamnya media kita atas perdebatan pro-kontra pengesahan RKUHP ini.

Dari sisi pemerintah yang mengajukan undang-undang, tiada pernah ada penjelasan gamblang yang mudah diakses oleh masyarakat. Mengapa pasal ini dan itu ditambahkan, dipaksa ada, dikurangi, dan atau dihilangkan. Mengapa begitu genting dan terburu-buru sekali revisi di masa akhir jabatan DPR periode ini. Minim sekali layar untuk menjelaskan ini.

Sementara itu, koalisi masyarakat yang mengkritik keras aksi DPR ini, berusaha mencari celah untuk bicara. Mulai dari long march dan orasi besar-besaran yang mengundang peliputan di depan gedung DPR, sampai yang kecil-kecilan di CFD ibukota.

Pun, kelompok ini mencoba menyuarakan pendapatnya secara lebih luas. Satu-satunya akses yang mudah dan cepat adalah media sosial. Ketika media massa punya limit dan filter ketat untuk menyeleksi pendapat mana yang bisa masuk.

Fungsi edukasi hukum pada masyarakat, justru diambil oleh kelompok-kelompok kecil ini. Kita tidak pernah tahu apa itu RKUHP dan beberapa jumlah pengubahan pasalnya, kalau jurnalis dan netijen tidak koar-koar di media online. Hal ini tentu berimplikasi baik dalam meningkatkan kesadaran publik tentang isu RKUHP.

Tapi di sisi lain, penjelasan tentang pasal-pasal yang dianggap bermasalah itu tidak menyeluruh. Siapapun yang punya akun dan pengikut di media sosial mengungkap pendapatnya, disukai dan dibagikan. Begitu seterusnya, sehingga tidak tahu harus percaya yang mana, karena kredibilitas dan tingkat akurasi yang semu di dunia digital ini. Duh Gusti, aku ngelu.

Pasal-pasal yang dianggap bermasalah, dibahas sebagian dengan cara masing-masing orang. Semua berlomba-lomba membenarkan pendapatnya di media sosial. Sebagian digital content creator mungkin berhasil secara jeli mengupas dari segi ilmu hukum dan implikasinya bagi masyarakat. Tapi sekali lagi, sudahkah pendapat netijen itu juga didasari riset literatur dan wawasan atas histori keputusan hukum di Indonesia?

Suara mereka mengatakan, sejumlah pasal akan mengkriminalisasi perzinaan, pornografi, LGBT, gelandangan, hingga penyebaran ajaran marxisme-komunisme. Mereka menyebut pasal-pasal RKUHP akan menghalangi kebebasan berpendapat dan merampas privasi bangsa. Lebih-lebih, mereka mengklaim RKUHP adalah bentuk kemunduran dan bahkan matinya demokrasi.

Opini telah tergiring ke satu sudut pandang. Kita dibuat bersedih hati karena percaya RKUHP yang disahkan akan membuat satu Indonesia runtuh. Kita diminta percaya oleh media sosial hari ini, bahwa RKUHP gak ada bagus-bagusnya. Benarkah?

Penulis yakin, seburuk-buruknya DPR, paling tidak mereka sekolah tinggi dan sadar hukum, mahir analisa dan berpolitik. Tentu RKUHP hadir bukan tanpa alasan. Entah karena demi kebaikan dan penyesuaian hukum dengan perubahan zaman. Atau hanya sekadar politik lobi-lobian dan semata para penguasa yang lagi hajatan.

Pokoknya, penulis ‘percaya’ RKUHP bukan proyek iseng dan tiba-tiba muncul lah. Pasti ada pasal-pasal yang menunjukkan kemajuan demokrasi negeri ini! Eh, ya gak sih? Kuamini saja, deh. Karena Tuhan bersabda: “Berbahagialah orang yang tidak melihat, namun percaya”. Hehe.

Rakyat bagian demonstrasi ini berteriak menuduh DPR punya kepentingan untuk mempermudah koruptor, baik di RKUHP maupun UU Permasyarakatan yang baru disahkan (walau kenyataannya jelas ae iyo lah). Tapi, bukankah kelompok yang menolak ini juga punya kepentingan?

Secara alamiah, kebebasan yang dibatasi itu tentu membuat tidak nyaman. Waktu sekolah dulu, kita tentu gelisah karena harus berseragam rapi, lengkap dengan dasi dan sabuk.

Barangkali, mereka yang menolak adalah yang merasa tidak bisa lagi ena-ena dengan bebas, tidak bisa bikin meme-meme lucu tentang presiden, tidak bisa lagi asik nongkrong baca Daskapital di warung kopi sambil bersabda “agama itu candu, mending jadi agnostik”.

Kita tiba-tiba membandingkan hukuman bagi koruptor yang diberi pembebasan bersyarat, sementara pemilik dan penyebar pornografi dihukum 10 tahun. Menurut kita, ini tidak adil.

Sujiwo Tejo pernah bersua “tiap ada pejabat korup yang di-OTT, tiba-tiba kita mencibir dan merasa paling suci, hanya karena bentuk dosa yang kita lakukan berbeda dari mereka”. Kira-kira demikian kita-kita ini. Sok memaki DPR sebagai tukang bohong, padahal hingga dini hari mereka masih berjuang arisan di ruang rapat. Sementara itu, kita lupa kalau kegiatan memaki, juga tidak kalah berdosanya.

Yang jelas, masyarakat kita ini pelupa. Seperti lupa kalau dulu batu akik pernah berjaya, demikian pula akan alpa bahwa DPR di hari-hari akhirnya dengan sangat sakti mengesahkan sejumlah undang-undang yang katanya bakal merobohkan Indonesia. Ketika ibukota nanti sudah di Kalimantan, masyarakat bakal lupa kalau pernah mengolok Jokowi atas ide gilanya.

Mungkin besok-besok, masyarakat kita akan banyak-banyak bersyukur, bahwa kebijakan hari-hari terakhir ini pernah dibuat.

Parade Isu Seksi Jelang Peringatan G30S 0 70

Helloh gess, September telah tiba. Ini bulannya hura-hura tentang trauma. Pasti kamu sudah hapal: sebentar lagi kita akan menyimak debat seolah-olah tentang peristiwa 1965. Tapi sedihnya, tulisan ini bukan ke sana.

Kita akan mencoba merunut isu-isu apa yang hadir, coba dihadirkan, atau dipaksa dihadirkan, menjelang peringatan G30S. Isu-isu yang, yaaa, sesuai tradisi, akan memanas dan sering setiap tahunnya merepotkan rejim. Berikut isunya:

  • Perpindahan Ibukota
  • Livi Zheng
  • Djarum yang disetop audisinya oleh KPAI
  • Jokowi main sama putunya
  • Iuran BPJS naik
  • Esemka diresmikan

Apalagi gess?

Ohya, ini penting karena beberapa sebab. Pertama, mengamati isu-isu “tak penting” justru menjadi sangat penting hari ini untuk melihat bagaimana strategi kekuasaan memainkan lalu-lintas diskusi dan menginterupsi tiap isu. Kalau ente jeli, akan tampak bagaimana pengendalian atas persepsi kita dimainkan dan dikonsentrasikan pada hal-hal tertentu, agar hal-hal lain dapat diminimalkan dampaknya.

Tentu saja arahnya dapat ditebak: mendebat Livi Zheng jauh lebih aman ketimbang ente didatangi Kivlan Zen untuk membeberkan rencana kebangkitan PKI. Atau bicara memindah ibukota lebih asyik daripada memperdebatkan jumlah korban sebetulnya pada genosida 65 duluuu sekali.

Kedua, dari isu-isu tersebut, kesemuanya saksess menjadi tren perbincangan. Esemka, BPJS, dan Ibukota berkaitan langsung dengan agenda pemerintah. Perpindahan ibukota yang terparah, terlalu kentara digunakan sebagai “umpan peluru”, seolah-olah ide ini dilempar untuk dihabisi. BPJS dan Esemka sebelas dua belas, memancing sekaligus mengepung orang dengan kontroversi agar terus-menerus diperdebatkan.

Jadi, mari nanti kita tengok menjelang tumbangnya waktu dan mendekatnya tanggal 30, barang sampah apa saja yang akan dihamburkan oleh media kita.

Tapi toh dibawa santai saja! Kadang-kadang terlalu serius juga tak baik bagi kesehatan jiwa.

 

Annabelle Rukhiyat

Selain menekuni permakelaran tanah, penulis juga magang sebagai penjaga ponten.

Editor Picks