Tipologi Dosen Menurut Kamus Maha-student 0 2261

Bukan hanya Surabaya yang panasnya seperti neraka. Mau diberi pendingin ruangan sampai suhu kutub utara pun, ruang kelas kuliah bisa menganiaya lebih hebat daripada siksaan kekal itu. Pembaca tahu, sesungguhnya para sarjana yang baru diwisuda dan menyebar foto di Instagram dengan selempang bertuliskan gelar itu tak sebahagia nampaknya. Jika ditarik sejarah hidupnya, dia hampir pasti bersungut-sungut setiap masuk pintu ruang kelas, memaki-maki ketika jadwal bimbingan tak kunjung menemui garis akhir penundaan.

Di tengah perjalanannya, maha-student yang digambarkan kece di sinetron Indonesia itu sesungguhnya membenci rutinitasnya. Konstruksi status maha-agung sebagai agen perubahan itu mungkin hanya hikayat. Sebab, kelulusan terkadang hanya formalitas demi mengejar akreditasi dan hampalah usaha-usaha ingin lulus cum laude itu. Sementara itu, mahasiswa suka mengerjakan tugas secara kolektif asal nunut nama dan setor wajah di hadapan dosen sambil memikirkan wajah gebetan di tengah perkuliahan.

Eits, jangan salahkan mahasiswa terus! Mau berapa banyak dusta lagi yang kau berikan pada mereka setelah cap ‘tukang demo’ yang bertubi-tubi itu?

Bisa jadi, mahasiswa yang perilakunya suka aneh-aneh di dalam ruang kelas merupakan aksi nyata mengganyang dosen yang pantas mendapatkannya. Misalnya dengan sikap gelisah, goyang-goyangkan kaki, bolak-balik badan melihat jam dinding, klik-klik layar handphone (persetanlah sekalipun gak ada yang ngechat).

Karena, tak hanya dosen yang mampu mengklasifikan kelompok mahasiswa yang pintar dan kurang pintar (untuk menerapkan eufemisme atas ‘goblok’). Para mahasiswa juga membuat tipologi dosen dalam gerakan bawah tanah. Berikut ini barangkali hirarki tipikal dosen mulai dari yang mampu menggaet hati mahasiswa, sampai yang (mungkin) gak bakal ditoleh blas.

Tipe sahabat super. Tipe dosen ini bisa masuk hirarki tertinggi bagi mahasiswa yang terlalu depresi sebab rumitnya kuliah serta polemik cinta beda agama. Mereka mengoleksi kutipan-kutipan motivasional dari gugel dan makin bersyukur jika dosennya mampu melengkapi kebutuhan peneguhan iman ini. Di tengah-tengah ribetnya pemikiran kritis, selipan kata-kata mutiara bisa menyegarkan. Selain itu, dapat memenuhi kriteria pendidik yang mengutamakan nilai moral (dengan semboyan excellence with morality).

Jenis wejangan bisa variatif mulai dari sejarah hidup, religiusitas, keuangan, hingga asmara. Atau bisa jadi, motivasi diberikan dengan unjuk prestasi (dengan sedikit dosis pamer). Segala penghargaan, karya ilmiah, pengalaman konferensi dan jalan-jalan keluar negeri mendapat jatah tayang prioritas dalam kelas (mengalahkan materi kuliah).

Tipe penyiar radio. Dosen tipe ini tak jelas porsinya di hati mahasiswa. Ia bisa jadi kutuk sekaligus berkah. Saat jam kuliah di momen kurang ajar (sebut saja kuliah di jam yang enak untuk bobok cantik alias jam guoblok), suara mereka yang merdu sungguh syahdu sebagai penghantar tidur. Atau bisa semakin membawa berkah ketika si dosen terus ngecepret tanpa peduli, memperindah proses komunikasi dengan teman sebelah, atau menjadi backgournd song proses pdkt sejoli yang suka duduk di sudut tersepi kelas. Berubah jadi kutuk, karena suara yang mendayu-dayu itu sialnya tak kunjung selesai sampai tiga sks.

Tipe srimulat. Tipe ini setidaknya membuat kelas jadi ceria tak hanya di bulan September seperti kata Vina Panduwinata. Bakat humoris seseorang memang tidak bisa disembunyikan (dan terkadang sampai kelewatan). Untuk menjelaskan pelajaran, si dosen bisa jatuh-bangun hingga jungkir-walik melucu, pokoknya jatah jam kuliah terpenuhi dan dia (seakan) gak makan gaji buta. Masalah materinya tersampaikan atau tidak, itu urusan nanti saja. Yang pasti, memberi soal ujian sulit itu tetap kewajiban untuk menyiksa mahasiswa.

Tipe anggota dewan. Secara artifisial, tipe ini mungkin jadi pemenang di hati para maha-student. Dosen jenis ini semakin mengamini tradisi ngaret yang dianut khalayak umum. Mereka memberi kesempatan bagi para mahasiswa yang khilaf bangun kesiangan dan terlambat (walau khilafnya setiap hari). Begitu masuk kelas kelewat sejam dari jadwal sesungguhnya, sekonyong-konyong ia sudah bersabda “Mohon maaf hari ini kelasnya gak bisa lama karena setelah ini saya masih ada jadwal lagi”.

Atau, kelas dibatalkan sepuluh menit sebelum pelaksanaan. Atau, karena saking sibuknya, sampai dua jam tega membuat mahasiswa menunggu dalam ketidakpastian, kelas dinyatakan bubar tanpa kabar. Siapa yang tak jatuh hati dengan dosen murah hati seperti ini? Dosen dengan mobilisasi tinggi seperti anggota dewan pengabdi rakyat ini tentu saja jadi idola semua idola.

Tipe penata busana. Untuk tipe yang satu ini, tidak ada yang bisa mengkudeta posisinya dalam stratifikasi terwahid. Mimbar akademis ibarat catwalk. Dosen jenis ini mengajarkan nilai ‘dress like you will meet your enemy today’, mengingat penampilan fisik adalah kesuksesan utama dalam lobi bisnis dan mencari jodoh. Ketika masuk kelas, hal pertama dalam benak para mahasiswa adalah “Gilak sepatunya trendy banget, beli di mana ya?”. Tinggal ganti saja kata ‘sepatu’ dengan baju, celana, cardigan, tas, kacamata, jam tangan, hingga tusuk konde setiap harinya.

Seluruh tipe dan urutan stratifikasi tentu saja bersifat cair. Seorang dosen bisa jadi memenuhi dua atau tiga kategori sekaligus, membuatnya akan dinilai semakin pantas disimak perkuliahannya, atau malangnya semakin dibuang dari list dosen favorit. Tipe-tipe dalam stratifikasi ini dapat bertambah dan berkurang, tergantung dengan suasana hati maha-student yang maha-labil.

Akhir kata, kami ucapkan selamat bertarung memperebutkan posisi tertinggi dalam stratifikasi maha-keji ini, wahai dosen!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cetak Pemimpin Jalur Indie ala Ketua Kelas 0 142

Oleh: Edeliya Relanika*

 

Pernahkah salah seorang teman kuliahmu nyeletuk seperti ini:

”Eh kamu ngapain aja sih selama ini? Enggak gabut apa enggak ikut kepanitiaan atau organisasi di kampus?”

Kalau iya, selamat! Berarti kita masih berada dalam satu lingkaran konspirasi, hehe.

Rupanya berorganisasi di lingkup internal kampus tidak selamanya menjadi passion membara bagi sebagian mahasiswa. Ada yang fokus di organisasi masyarakat luar kampus dan ada juga yang mengembangkan kemampuan survival—dari kerasnya persaingan jadi budak kapital pasca lulus kuliah.

Jujur, saya ingin memberikan opini jalur alternatif terkait glorifikasi organisasi mahasiswa internal atau eksternal kampus sebagai sarana paling tepat memunculkan sari-sari kepemimpinan yang valid, no debat! Sebenarnya, ada banyak cara untuk menyemai jiwa kepemimpinan di lingkungan kampus. Salah satunya dengan menjadi ketua atau koordinator kelas secara sukarela.

Asal kalian pahami hikmahnya, menjadi ketua atau koordinator kelas itu adalah salah satu ajang penempa mental kepemimpinan dengan studi kasus yang tidak mengada-ada. Sini saya coba jelaskan dengan lebih terstruktur, sistematis, dan holistik:

 

Hadapi Berbagai Macam Karakter Dosen dengan Diplomatis

Brace yourself untuk menghadapi berbagai macam karakter dosen yang mengejutkan (seperti mainan Kinderj*y yang gak sebanding dengan mahalnya). Karena sebagai ketua atau koordinator kelas, kalian harus mampu menjembatani arahan dari dosen dengan aspirasi teman-teman sekelas.

Siapkan juga armor sekokoh milik Iron Man dan hati sekuat Superman di pilem Man of Steel. Seriusan deh, agar kalian tidak tumbang saat diberi amanah yang ngadi-ngadi atau terkena teguran hingga membuat klean PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) saat jadi ketua atau koordinator kelas.

 

Belajar Skill Manajemen Krisis Lebih Dini

Biasanya ini terjadi ketika ada dosenmu memberikan tugas — yang membuat anak satu kelas wasted dalam satu malam. Mau tidak mau, kalian harus mengumumkannya ke teman sekelas.

Seremnya nih, siap-siap kalian diprotes dan diumpat teman sekelasmu (akibat tidak terima dan sanggup dengan penugasan amsyong tersebut).

Agar terhindar dari dampratan bertubi-tubi, kalian harus menyusun strategi tertentu dalam mengumumkan tugas dari dosen. Kayak gimana contohnya? Ya cari sendiri dumz! Calon peminpin harus kreatif dalam mencari solusi!

 

Cari Tipe Jiwa Kepemimpinan yang Cocok Untukmu

Mengacu pada teori karakter personal dalam mempersuasi khalayak (dari seorang profesor di bidang Komunikasi asal Amerika serikat bernama Richard M. Perloff), kita bisa mengetahui ada tiga jenis karakter khalayak. Yaitu mereka yang suka dengan pendekatan kognitif tinggi (kritis banget), mereka yang pandai menyesuaikan diri pada situasi apa pun (seorang yang easy-going), dan mereka yang suka dengan ungkapan bersifat dogmatis (saklek/kolot gitu).

Agar setiap ucapan kalian minimal didengar dengan seksama, sesuaikan pesan yang akan disampaikan dengan karakter rata-rata anak di kelas. Walaupun ini agak ndakik, tapi semoga berguna ya ilmunya hehe.

 

Latihan Kerja Keras Bagai Quda

Terakhir nich, kalau lihat anak organisasi sering pulang larut (kadang sampai pagi lagi) karena ada acara kepanitiaan, ketua kelas juga akan mengalami hal serupa (walaupun gak terlalu ekstrem). Misalnya datang paling pagi kalau ada kelas pagi, terus pulang paling malam kalau ada kelas malam. Ya, mau gimana lagi, ketua kelas kan jadi ajudannya dosen hehehe.

 

Keuntungan lain menjadi ketua atau koordinator kelas adalah bisa jadi suatu saat kalian ditawari kerja proyek penelitian bareng dosen. Tentu dengan syarat bahwa kinerja kalian sangat memuaskan di mata dosen tersebut. Menang banyak bukhaan?

 

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Tinggal di Gresik, dan menghasilkan karya dari hobi menulis, salah satunya “Antroposen” di Gramedia Writing Project (Instagram: @edeliyarerelala).

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 144

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks