Toilet Jamban, Peradaban, dan Kita 0 981

Sumpah pemuda hari ini mari kita ingat sebagai hari berduka karena problem jamban.

Kami tercekat, kemarin pagi di sebuah televisi lokal (SBO TV—disebut semata-mata untuk mengantisipasi para duta kepo) mencuat berita yang ganjil bukan main: sebanyak 15.000 rumah di Surabaya tak memiliki jamban! Bahkan ditemukan satu Rukun Tetangga (RT) yang hanya memiliki dua jamban umum. Seorang anggota DPRD bahkan langsung dengan lantang mengusulkan gagasan program dengan nama yang amat provokatif sekaligus menggelikan: “jambanisasi”. Mungkin mau meniru kekerenan konsep-konsep dengan akhiran –isasi, macam “marjinalisasi”, “politisasi”, dan seterusnya. Tapi istilah “jambanisasi” malah terdengar “mbuletisasi”.

Pembaca tahu, ajaib dan luar biasa menggelegar berita itu sampai ke telinga kami. Satu anggota kami langsung mulas—secara harfiah—dan pergi memburu toilet, begitu mendengar kabar itu, mencoba memastikan bahwa jamban masih di tempatnya semula. Bagaimana tidak, ini di luar imajinasi paling nakal kami. Jamban sudah bertahun-tahun telah menjadi konsep yang mapan dan tak dipertanyakan lagi, apalagi untuk dicari tau soal “eksistensinya”. Semua sudah final dan selesai.

Sama finalnya dengan kenyataan yang kita imani bersama bahwa kita hidup pada periode modern. Meikarta dibangun dan kita tak bertanya sekalipun tentang bagaimana jambannya. Perumahan-perumahan elite didirikan, kafe, bandara internasional, sekolah berdaya saing internasional didirikan segagah-gagahnya—semuanya tanpa kita tanyai lagi ihwal jambannya. Masa teknologi digital yang meringkas hidup dan membikin segalanya jauh lebih cepat, telah mengalihkan perhatian siapapun pada satu persoalan yang amat purba: bagaimana dan ke mana harus buang hajat.

Maka, berita ribuan rumah tak berjamban itu menandakan sebuah soal yang sangat serius. Ini bukan semata problem hidup higienis. Ini juga masalah paradigmatik hidup, bahwa Negara dan warganya telah mengira kemapanan sudah ditenggak, sementara urusan merawat metabolisme mendasar dari rutinitas membuang kotoran tubuh tak digubris dan dianggap selesai. Betapa sesat pikirnya.

Adakah ini peristiwa budaya? Bahwa ini dilihat secara malas sebagai kealamiahan dari masyarakat yang memang doyan buang hajat di sungai?

Terserah pembaca apakah mau percaya narasi “budaya anti-jamban” semacam ini atau tidak. Yang pasti, Negara harus bersikap untuk memfasilitasi hidup bersih dan sehat. Bisa bayangkan ente-ente semua selfie manis-cantik di depan makanan aduhai, tapi ketika mulas mendera ente kebingungan karena rumah ente tak dilengkapi jamban?

Sumpah pemuda hari ini memang harus kita ingat untuk kembali pada hal-hal yang teramat mendasar dalam hidup kita. Tak perlu bertakik-takik dan bicara besar tentang nasionalisme. Lha wong soal jamban saja ternyata kita belum selesai.

Tabik.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keterancaman Klepon yang Tak Islami 0 262

Kejutan deklaratif dari satu akun media sosial tentang pengumuman penting, bahwa klepon adalah jajanan “tak Islami”, menggegerkan orang banyak. Sebagian besarnya tentu saja mempertanyakan dengan nada nyinyir tapi juga was-was: apakah kita sepengangguran itu hingga menyoal sebuah objek tak penting dengan klaim biner Islami dan tak Islami? Apa kehabisan alternatip membahas yang lain, yang important-important aja gitu?

Eittsss. Maap, sekadar mengingatkan. Klepon adalah subjek maha-penting. Ia berdiri mewarisi ingatan kolektif populasi, mengantarai kenangan-kenangan bertetangga dan pulang kampung. Ia barang sederhana yang ditumpangi oleh bejibun kepentingan pertemuan, kenduren, rapat-rapat, dan bingkisan hangat — itu sebabnya, klepon juga bagian penting dari peristiwa kebudayaan. Singkatnya, klepon adalah pantulan diri kita sendiri. Menyebutnya sebagai tidak penting tentu adalah penyederhanaan dan ketakpahaman tentang hakikat rasa dan ikatan peristiwa.

Lalu, tentang klaim tak Islami. Kau tahu, resep berjualan praktis dan taktis kini sering mengawinkan apapun dengan agama: hotel Syariah, pariwisata Islami, bank Syariah, kredit umat (sebuah peristilahan yang sangat membingungkan), gadai Syariah dan tentu saja termasuk jajanan Islami.

Maka, kemegahan klepon sebagai barang maha-penting hanya bisa dikalahkan secara ekonomi dengan melabelinya sebagai yang lain, yang asing, yang ‘bukan Islam’. Seolah-olah kompetisi melawan klepon — seperti halnya politik — hanya dapat dimenangkan dengan jurus agama. Masih ingat dengan Inul Daratista? Ia harus dihajar dengan ‘goyang ngebor tak bermoral’ sekadar untuk menghabisinya dari puncak daftar lagu paling laku saat itu.

Tapi lalu tatkala dilacak muasal geger ini, tak ditemukan akun yang tersemat dalam gambar provokatif iklan klepon. Antara lenyap atau palsu. Dan, sebagaimana biasanya, segera muncul spekulasi bahwa ini adalah cara-cara licik untuk mendiskreditkan umat Islam. Sebuah pemikiran yang dapat saja diterima, meski tak kalah ganjilnya.

Keanehan terbesarnya adalah mengapa kita menjadi begitu mendarahdagingkan corak berpikir Islam dan bukan Islam, kelompok sana dan kelompok sini. Seolah-olah Islam senantiasa berada dalam keterancaman dari luar yang gawat, yang sangat genting dan berisiko membinasakan. Semua hal yang tak sesuai, berbeda, apalagi melawan, akan segera masuk kotak sebagai “mereka yang mengancam”, hal-hal yang nista dan patut diberi pelajaran.

Pada saat yang sama, ada semacam kesadaran bahwa kita mempersepsi diri sebagai kelompok yang sangat rapuh ringkih, yang mudah goyah oleh sesuatu yang berbeda. Kita paranoid dengan apa saja yang dikemas dengan agama. Kita ketakutan pada manipulasi postingan klepon hingga mengancam pelakunya sebagai mendiskreditkan Islam!

Kau kenal PKI? Yang katanya ateis itu? Berpuluh-puluh tahun punah, terlarang, dan dibunuh, tapi ada orang percaya bahwa 60 juta PKI masih hidup di Indonesia. Kita dibentuk dan dibesarkan oleh keyakinan politis bahwa eksistensi kita akan selalu rentan. Terhadap apapun yang diyakini berbahaya.

Mungkin saja ada benarnya, bahwa ada bahaya di luar sana. Bahwa ada upaya sistematis kebangkitan PKI, bahwa ada strategi rapi untuk melemahkan umat. Tapi, kita perlahan lupa hidup untuk apa. Terlampau sibuk mengutuki (hantu?) apa-apa saja yang dirasa tajam mengancam.

Dan yang jauh lebih gawat dari itu: kita larut pada bentukan-bentukan arah politik para elite nun jauh di sana. Kau tahu, mereka-mereka ini rajin sekali membentuk opini. Mereka harus membuatmu yakin terhadap musuh tertentu, agar kau menyatu bersama kau-kau yang lain, membentuk sekumpulan yang solid dan akan segera diklaim sebagai “dukungan politik” bagi elite yang memulai isu tersebut.

Kita seolah-olah dipersatukan sebagai umat yang melawan hal-hal tak “Islami”, tapi pada akhirnya, kita dilihat sebagai sekumpulan pemilik suara, digembalakan oleh pemandu yang mahir mengawin-ngawinkan apapun dengan agama. Untuk dukungan politik. Untuk pemilu lalu dan nanti tentu saja.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Lawakan Jerome Polin yang Melawan Stigma Ilmu Eksak 0 222

Ada banyak hal di dunia ini yang bisa membuat kita tertawa. Percaya atau tidak, salah satunya adalah matematika. Bukan, bukan menertawakan nilai matematika kita saat sekolah. Namun, matematika – monster dalam kehidupan banyak orang – juga bisa dijadikan bahan lawakan untuk menghibur manusia lain.

Jerome Polin, seorang laki-laki muda dengan kelebihan sel otak bagian menghitung, adalah tersangka dari lawakan yang saya maksud. Mahasiswa Wasenda University ini mampu mengubah “wajah” matematika yang menyeramkan menjadi lucu, hingga membuat saya tertawa sendiri (eh wong gendheng lak an).

Youtuber satu ini berkali-kali membuat lawakan dengan matematika di Twitter dan Instagram, salah satunya adalah pantun maut dari Story-nya berikut ini:

Sumber: Instagram @jeromepolin

Sumber: Instagram story @jeromepolin

 

Sederhana, tapi berhasil membuat saya tertawa kecil. Bahkan, saya sampai lupa pernah berkonflik dengan trigonometri. Bahkan, saya pernah sampai mencari-cari blogspot untuk belajar matematika (lagi) usai membaca lawakan-lawakan cerdasnya (literally cerdas).

Pemilik jargon “mantappu jiwa” ini memang bukanlah satu-satunya orang yang membuat matematika menjadi guyonan segar. 9gag misalnya, situs humor asal Amerika, juga beberapa kali memposting meme matematika yang mampu mengocok perut.

 

 

Sumber: 9gag.com

 

Akan tetapi, di Indonesia sendiri masih sedikit yang menjadikan pelajaran eksak menjadi bahan guyonan. Selain itu, yang terkenal memainkan matematika jadi humor di Indonesia memang Jerome Polin.

Mungkin Jerome Polin tidak memiliki intensi untuk mengubah stigma dari ilmu eksak. Tapi, sedikit banyak pandangan kita terhadap ilmu eksak dan orang-orangnya jadi berubah. Ya, seketika matematika yang merupakan ilmu eksak acap kali dicap sebagai mata pelajaran yang kaku abis, jadi terlihat seru dan fun.

Matematika, salah satu cabang ilmu eksak, tak jauh beda dengan teman-temannya, yakni fisika, biologi, dan kimia, dicap sebagai ilmu yang kaku. Hal ini dikarenakan tidak terbukanya jawaban lain atas suatu permasalahan. Misal, 2+2=4 merupakan aksioma, sehingga tidak mungkin ada jawaban lain selain itu.

Selain saklek, kekakuan ilmu eksak juga disebabkan oleh kecenderungan untuk mengeneralisasi. Misal, alasan jerapah berleher pendek sudah tidak ada karena (semua) hewan jenis ini tidak memiliki kemampuan adaptasi yang baik.

Beda halnya dengan ilmu sosial yang memberi kesempatan orang untuk menemukan jawaban lainnya. Contoh, alasan seseorang menyukai permen kaki tak hanya karena rasanya, akan tetapi juga karena bentuk, warna, dan memori masa lalu yang mengingatkannya akan permen tersebut.

Stigma kaku mengenai ilmu eksak sendiri tak hanya ditujukan pada pelajarannya sendiri, tapi juga pada mereka yang mendalami ilmu eksak. Contohnya, pada saat SMA, kelas IPA di sekolah saya mendapat stereotip sebagai kelas yang anak-anaknya pendiam, suka belajar, dan serius. Padahal, kebisingan kami dan mesin pesawat boleh diadu.

Selain itu, sering juga saya dengar orang-orang berkata, “anak FK (Fakultas Kedokteran) orangnya kaku-kaku”, “kelas di FK itu hening sangking seriusnya kalau belajar”, “anak sains gak asik, terlalu serius”, dan lain sebagainya.

Dari lawakan-lawakan berbau matematika Jerome Polin, kita bisa belajar tiga hal. Pertama, yang terlihat kaku bukan berarti  tidak bisa menjadi fun. Jerome membuktikan ilmu sesaklek matematika juga bisa dibecandain, bahkan membuat orang jadi tertarik belajar matematika.

Kedua, tidak semua orang yang mendalami ilmu eksak juga orang yang serius, kaku, dan tidak bisa bercanda. Banyak yang berpikir paradigma positvistik dalam ilmu eksak menyetir mereka yang mendalaminya, menjadikan mereka sama kakunya dengan ilmu eksak. Padahal tidak juga.

Ada yang memang dari lahir bawaannya sudah kaku, ada yang kesulitan bercanda karena beban pelajaran yang terlalu berat sehingga tidak sempat untuk “main-main”. Buktinya ada kok yang mendalami ilmu eksak tapi pencicilan dan humoris seperti Jerome Polin dan saya.

Ketiga, lucu gak harus menyinggung orang lain kok. Kalau mau ngelawak, bisa kan pakai pelajaran – mungkin setelah ini pembaca mau mencoba melawak pakai teori stimulus-respons dari Ivan Pavlov, monggo. Jadi gak harus menghina orang lain, apalagi fisik.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks