Tulisan Belakang Truk dan Pantulan Keruwetan Kita 0 1733

Apa yang lebih terus-terang dari kalimat “rejekiku soko silitmu?”

Pembaca boleh terpingkal dengan deret kalimat itu. Tapi musti diajukan pertanyaan besar tentang mengapa sopir-sopir truk mengadu istilah “rejeki” dengan “silit”—sebuah kejenakaan yang teramat sarkastis. Truk itu memang truk Sedot WC, spesialis menyedot apa yang pembaca semburkan saban pagi sebagai residu gaya hidup. Kemarin malam boleh jadi pembaca makan di restoran kelas atas, yang musti reservasi sebulan sebelumnya, dengan menu ikan laut, kodok  kintel asap, disiram kaviar plus arak super mahal, dan sederet menu eksotis lain. Sudah makan, masih selfie pula. Dipamerkan dalam story instagram. Dishare ratusan kali di forum-forum penuh gaya. Mendapat puja-puji dengan caption super-asu: “bahagia itu sederhana”.

Tapi pembaca tahu kan, esok pagi semua jadi tai. Memang bahagia itu ternyata sesederhana itu bukan?

Siraman kaviar itu musnah dibuang di WC. Betapa semua harga super mahal dalam makanan kita bisa begitu mengejek dan menipu kita: bahwa esok semua berpulang di lubang pispot!

Kejenakaan di belakang truk sering menyimpan kesedihannya masing-masing. Contoh lain adalah tulisan “pulang malu nggak pulang rindu”, atau “rindumu tak seberat muatanku”. Ungkapan patah hati memantulkan keruwetan yang lain lagi. Mobilitas tinggi sopir dengan jalur ratusan—bahkan ribuan—kilometer mengharuskan sebuah manajemen asmara tingkat tinggi dalam menghadapi hubungan asmara jarak jauh (el de er, kata orang). Frekuensi pulang menjadi jarang, sementara rindu sudah menggelembung ke ubun-ubun. Bagaimana mendamaikan ini, adalah polemik romantika sopir yang berdiri diantara kesungkanan untuk pulang dan kerinduan yang membuncah. Belum lagi kecurigaan bahwa pujaan hati tak serindu yang ia bayangkan. Aduh, tidakkah ini polemik manis yang mungkin cuma bisa diwakili oleh sinetron-sinetron kelas dua, yang brengsek gombalnya tapi membikin penontonnya merona?

Keruwetan lain disumbang oleh frustrasi ekonomi, misalnya dalam tulisan “lupakan cinta demi rupiah” atau “cinta bersemi saat dompetku terisi”. Disana terkandung pesan bahwa cinta tak berbunyi jika modal tak dipunyai. Mungkin juga ini pertanda bahwa kemelaratan adalah sesuatu yang dijauhi oleh cinta mana pun. Sepintas sopir ini meremehkan gadis-gadis yang masih pyur hatinya, yang rela menunggu tanpa syarat dengan hati berbunga-bunga, seperti kita menunggu Habibana yang mulia Rizieq pulang. Tapi, tidakkah selalu tersimpan harap di gadis mana pun tentang sebuah kemapanan dan kecukupan dalam materi? Rupiah ternyata masih memegang kendali. Dan habib rizieq masih enggan kembali.

Atau, yang barangkali tak kalah penting adalah bahwa kita harus segera membunuh imajinasi bahwa Sopir tak paham politik. Sebab, kepekaan mereka amat tinggi, dan mungkin juga mengalahkan sensitifitas ilmuwan politik. Ingat tulisan “piye, luwih penak jamanku to?” dengan gambar Soeharto kan? Meski melambangkan kerinduan berbahaya atas kembalinya simbah Harto yang dibenci reformis, tapi ungkapan itu adalah refleksi dari keprihatinan ekonomi hari ini. Harga melonjak tinggi dan hidup tetap sulit. Maka membayangkan situasi membaik “seperti dulu” adalah kemasukakalan.

Belum lagi simpati nasionalisme yang dipancarkan lewat “lagu kita masih sama, Indonesia Raya” yang mengingatkan kesatuan bangsa di tengah hiruk pikuk aksi damai bela ini itu yang mengipasi sumbu konflik.

Pembaca bisa bayangkan pada akhirnya, bahwa imajinasi sopir-sopir dengan segala keruwetannya, patut dipuji bukan hanya sebagai kreatifitas saja. Melainkan juga karena kejujuran yang jenaka meski kadang kurang ajar. Bandingkan dengan sticker yang kini sedang laku dipasang di belakang mobil-mobil pribadi: “real men use three pedals”. Tampak bodoh bukan?

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 225

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Nasib Naas Jerman yang Dilibas KorSel 0 227

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Per 27 Juni, tepatnya sejak Panser Jerman keok dilibas Oppa Korea Selatan di Piala Dunia, ada beberapa perubahan besar dalam persepakbolaan – dan mungkin juga – sejarah dunia.

Bagaimana tidak? Jerman adalah petahana Piala Dunia 2014. Kualitas pemain teruji dan track record merumput di Piala Dunia tidak perlu diragukan lagi. Sang langganan semifinal sejak 1938. Setidak-tidaknya kita berharap tinggi musti lolos 16 besar. Boleh dibilang wonder team. Uber alles deh pokoknya. Sedang lawannya, Taeguk Warriors asal Korea Selatan sama sekali antitesis semua itu. No offense loh, Oppa 🙁

Akal sehat jelas memprediksi kemenangan mudah Die Mannschaft atas Taeguk Warriors. Lah ndalah, njeketek, eng ing eng… Kenyataannya Jerman keok, plonga-plongo dihabisi Korea Selatan. Skor telak, 2-0. Gak mashookkk!

Dari awal sebenarnya posisi Jerman terbaca. Tiket melaju ke babak lanjutan dipertaruhkan, maka mereka menyerang terus. Kemungkinan tipis untuk lolos perlu dikejar. Sedang Korsel oleh karena dua kekalahan sebelumnya kontra Swedia dan Meksiko, sudah pasti angkat kaki meski menang atau kalah lawan Jerman malam itu. Tapi toh Korsel tetap on-fire, sampai peluit panjang mereka solid bertahan terus. Dari sini, kita mudah membaca siapa yang ngoyo dan siapa yang got nothing to lose.

Sepanjang pertandingan, Jerman betul menyerang tapi meleset melulu. Entah tidak cocok dengan angin di Rusia apa bagaimana. Melelahkan melihat permainan Jerman, gol tidak kunjung dibuat. Peluang banyak terbuang.

Apa karena ekspektasi penonton yang terlalu tinggi? Apa karena Jerman terlalu percaya diri?? Atau apakah memang mitos kutukan petahana pildun itu nyata adanya? Apakah Jerman memang ditakdirkan bernasib sama seperti Italia, Belanda, dan Spanyol? Sukses angkat trofi juara dunia lalu gagal mempertahankannya gelarnya? Saking mengerikannya kutukan itu, petahana bisa tersepak bahkan saat masih fase penyisihan grup.

Salam saya untuk kiper Korea yang telah bolak-balik menyelamatkan gawang. Juga pada pemain Korea sekalian yang dengan ciamik menghalau bola masuk jaring. Sampai paruh pertama, telur belum juga pecah. Pertahanan Korea Selatan belum bisa dikoyak. Menit ke-60 sekian, keadaan makin genting. Jerman tidak kunjung membuat angka, tiket lanjut dan mempertahankan gelar jadi terasa jauh. (Sebentar, nasib buruk ini apakah karena Jerman bermain di tanah Rusia? Saat Perang Dunia Kedua mereka kan…. *mulai cocoklogi).

Ritme permainan semakin terasa berat dan mendebarkan saat memasuki waktu tambahan. Jerman sudah kepayahan dan putus asa, permainan makin kacau. Korea Selatan konsisten dan merebut momentum lalu berhasil memecah kebuntuan. Skor satu untuk Korea Selatan. Rekaman Video Assistant Referees (VAR) dipakai untuk memutuskan apa gol itu sah atau tidak, sebab awalnya dikira off-side oleh wasit. Selebrasi Korsel bikin Jerman makin kalang kabut. Padahal pemain bintangnya turun. Mueller, Gomez, Oezil, dan Khedira dikerahkan agar segera cetak skor.

Tembakan banyak yang meleset. Terasa moril Jerman sudah merosot. Sampai-sampai, kiper Jerman, Neuer, meninggalkan pos jaganya. Mungkin karena sumpek rekan satu timnya tidak kunjung mencetak skor. Dirinya ikut merumput sampai begitu dekat dengan gawang Korea Selatan. Waktu tambahan sisa satu menit. Korea Selatan kembali mengoyak gawang Jerman yang ditinggalkan tak dijaga itu. Gol kembali dibuat.

Remek dan nelangsa lah Jerman diinjak Korea Selatan. Sisa waktu tidak cukup untuk membuat keajaiban. Panser kita angkat kaki. Kutukan telah tuntas terlaksana. Taeguk Warriors kalah, tapi bakal pulang ke negeranya dan disambut bak pahlawan.

Oppa dan Hyung telah menindas habis bule-bule Eropa itu. Sejarah telah mencatat itu. Daebak! Kemenangan atas Jerman juga berarti telah terjadi kemajuan pada persepakbolaan Korea Selatan di kancah dunia. Mereka telah jadi simbol untuk persebakbolaan Asia. Kini, mereka tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Terbukti pertahanan Korea jelas rapi dan mampu mengimbangi Jerman yang terus menyerang. Tidak kalah kualitas dengan si Panser.

Saya sendiri pendukung Jerman, tapi jujur diam-diam menantikan Korea Selatan menjebol gawang Jerman. Mungkin karena saya merasa terwakili sebagai sesama Asia. Sebab kan selama ini sepak bola rasa-rasanya hanya milik Eropa dan Amerika Latin. Ya kan, tim-tim itu saja toh yang menang. Tim-tim itu lagi yang dijagokan.

Boleh jadi, ini pecut untuk Indonesia agar empat tahun lagi bisa lolos kualifikasi Piala Dunia, lalu mungkin mampu menang telak 2-0 atas Inggris atau Spanyol. Siapa tahu?

Tanpa muluk-muluk, mungkin uji coba dulu dengan sapu bersih kemenangan di Asian Games tahun ini?

*Penulis adalah mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi Surabaya. Doyan nonton dan traktiran.

Editor Picks