Tulisan Belakang Truk dan Pantulan Keruwetan Kita

Apa yang lebih terus-terang dari kalimat “rejekiku soko silitmu?”

Pembaca boleh terpingkal dengan deret kalimat itu. Tapi musti diajukan pertanyaan besar tentang mengapa sopir-sopir truk mengadu istilah “rejeki” dengan “silit”—sebuah kejenakaan yang teramat sarkastis. Truk itu memang truk Sedot WC, spesialis menyedot apa yang pembaca semburkan saban pagi sebagai residu gaya hidup. Kemarin malam boleh jadi pembaca makan di restoran kelas atas, yang musti reservasi sebulan sebelumnya, dengan menu ikan laut, kodok  kintel asap, disiram kaviar plus arak super mahal, dan sederet menu eksotis lain. Sudah makan, masih selfie pula. Dipamerkan dalam story instagram. Dishare ratusan kali di forum-forum penuh gaya. Mendapat puja-puji dengan caption super-asu: “bahagia itu sederhana”.

Tapi pembaca tahu kan, esok pagi semua jadi tai. Memang bahagia itu ternyata sesederhana itu bukan?

Siraman kaviar itu musnah dibuang di WC. Betapa semua harga super mahal dalam makanan kita bisa begitu mengejek dan menipu kita: bahwa esok semua berpulang di lubang pispot!

Kejenakaan di belakang truk sering menyimpan kesedihannya masing-masing. Contoh lain adalah tulisan “pulang malu nggak pulang rindu”, atau “rindumu tak seberat muatanku”. Ungkapan patah hati memantulkan keruwetan yang lain lagi. Mobilitas tinggi sopir dengan jalur ratusan—bahkan ribuan—kilometer mengharuskan sebuah manajemen asmara tingkat tinggi dalam menghadapi hubungan asmara jarak jauh (el de er, kata orang). Frekuensi pulang menjadi jarang, sementara rindu sudah menggelembung ke ubun-ubun. Bagaimana mendamaikan ini, adalah polemik romantika sopir yang berdiri diantara kesungkanan untuk pulang dan kerinduan yang membuncah. Belum lagi kecurigaan bahwa pujaan hati tak serindu yang ia bayangkan. Aduh, tidakkah ini polemik manis yang mungkin cuma bisa diwakili oleh sinetron-sinetron kelas dua, yang brengsek gombalnya tapi membikin penontonnya merona?

Keruwetan lain disumbang oleh frustrasi ekonomi, misalnya dalam tulisan “lupakan cinta demi rupiah” atau “cinta bersemi saat dompetku terisi”. Disana terkandung pesan bahwa cinta tak berbunyi jika modal tak dipunyai. Mungkin juga ini pertanda bahwa kemelaratan adalah sesuatu yang dijauhi oleh cinta mana pun.

Sepintas sopir ini meremehkan gadis-gadis yang masih pyur hatinya, yang rela menunggu tanpa syarat dengan hati berbunga-bunga, seperti kita menunggu Habibana yang mulia Rizieq pulang. Tapi, tidakkah selalu tersimpan harap di gadis mana pun tentang sebuah kemapanan dan kecukupan dalam materi? Rupiah ternyata masih memegang kendali. Dan habib rizieq masih enggan kembali.

Atau, yang barangkali tak kalah penting adalah bahwa kita harus segera membunuh imajinasi bahwa Sopir tak paham politik. Sebab, kepekaan mereka amat tinggi, dan mungkin juga mengalahkan sensitifitas ilmuwan politik. Ingat tulisan “piye, luwih penak jamanku to?” dengan gambar Soeharto kan? Meski melambangkan kerinduan berbahaya atas kembalinya simbah Harto yang dibenci reformis, tapi ungkapan itu adalah refleksi dari keprihatinan ekonomi hari ini. Harga melonjak tinggi dan hidup tetap sulit. Maka membayangkan situasi membaik “seperti dulu” adalah kemasukakalan.

Belum lagi simpati nasionalisme yang dipancarkan lewat “lagu kita masih sama, Indonesia Raya” yang mengingatkan kesatuan bangsa di tengah hiruk pikuk aksi damai bela ini itu yang mengipasi sumbu konflik.

Pembaca bisa bayangkan pada akhirnya, bahwa imajinasi sopir-sopir dengan segala keruwetannya, patut dipuji bukan hanya sebagai kreatifitas saja. Melainkan juga karena kejujuran yang jenaka meski kadang kurang ajar. Bandingkan dengan sticker yang kini sedang laku dipasang di belakang mobil-mobil pribadi: “real men use three pedals”. Tampak bodoh bukan?