Tulisan Belakang Truk dan Pantulan Keruwetan Kita 0 2112

Apa yang lebih terus-terang dari kalimat “rejekiku soko silitmu?”

Pembaca boleh terpingkal dengan deret kalimat itu. Tapi musti diajukan pertanyaan besar tentang mengapa sopir-sopir truk mengadu istilah “rejeki” dengan “silit”—sebuah kejenakaan yang teramat sarkastis. Truk itu memang truk Sedot WC, spesialis menyedot apa yang pembaca semburkan saban pagi sebagai residu gaya hidup. Kemarin malam boleh jadi pembaca makan di restoran kelas atas, yang musti reservasi sebulan sebelumnya, dengan menu ikan laut, kodok  kintel asap, disiram kaviar plus arak super mahal, dan sederet menu eksotis lain. Sudah makan, masih selfie pula. Dipamerkan dalam story instagram. Dishare ratusan kali di forum-forum penuh gaya. Mendapat puja-puji dengan caption super-asu: “bahagia itu sederhana”.

Tapi pembaca tahu kan, esok pagi semua jadi tai. Memang bahagia itu ternyata sesederhana itu bukan?

Siraman kaviar itu musnah dibuang di WC. Betapa semua harga super mahal dalam makanan kita bisa begitu mengejek dan menipu kita: bahwa esok semua berpulang di lubang pispot!

Kejenakaan di belakang truk sering menyimpan kesedihannya masing-masing. Contoh lain adalah tulisan “pulang malu nggak pulang rindu”, atau “rindumu tak seberat muatanku”. Ungkapan patah hati memantulkan keruwetan yang lain lagi. Mobilitas tinggi sopir dengan jalur ratusan—bahkan ribuan—kilometer mengharuskan sebuah manajemen asmara tingkat tinggi dalam menghadapi hubungan asmara jarak jauh (el de er, kata orang). Frekuensi pulang menjadi jarang, sementara rindu sudah menggelembung ke ubun-ubun. Bagaimana mendamaikan ini, adalah polemik romantika sopir yang berdiri diantara kesungkanan untuk pulang dan kerinduan yang membuncah. Belum lagi kecurigaan bahwa pujaan hati tak serindu yang ia bayangkan. Aduh, tidakkah ini polemik manis yang mungkin cuma bisa diwakili oleh sinetron-sinetron kelas dua, yang brengsek gombalnya tapi membikin penontonnya merona?

Keruwetan lain disumbang oleh frustrasi ekonomi, misalnya dalam tulisan “lupakan cinta demi rupiah” atau “cinta bersemi saat dompetku terisi”. Disana terkandung pesan bahwa cinta tak berbunyi jika modal tak dipunyai. Mungkin juga ini pertanda bahwa kemelaratan adalah sesuatu yang dijauhi oleh cinta mana pun. Sepintas sopir ini meremehkan gadis-gadis yang masih pyur hatinya, yang rela menunggu tanpa syarat dengan hati berbunga-bunga, seperti kita menunggu Habibana yang mulia Rizieq pulang. Tapi, tidakkah selalu tersimpan harap di gadis mana pun tentang sebuah kemapanan dan kecukupan dalam materi? Rupiah ternyata masih memegang kendali. Dan habib rizieq masih enggan kembali.

Atau, yang barangkali tak kalah penting adalah bahwa kita harus segera membunuh imajinasi bahwa Sopir tak paham politik. Sebab, kepekaan mereka amat tinggi, dan mungkin juga mengalahkan sensitifitas ilmuwan politik. Ingat tulisan “piye, luwih penak jamanku to?” dengan gambar Soeharto kan? Meski melambangkan kerinduan berbahaya atas kembalinya simbah Harto yang dibenci reformis, tapi ungkapan itu adalah refleksi dari keprihatinan ekonomi hari ini. Harga melonjak tinggi dan hidup tetap sulit. Maka membayangkan situasi membaik “seperti dulu” adalah kemasukakalan.

Belum lagi simpati nasionalisme yang dipancarkan lewat “lagu kita masih sama, Indonesia Raya” yang mengingatkan kesatuan bangsa di tengah hiruk pikuk aksi damai bela ini itu yang mengipasi sumbu konflik.

Pembaca bisa bayangkan pada akhirnya, bahwa imajinasi sopir-sopir dengan segala keruwetannya, patut dipuji bukan hanya sebagai kreatifitas saja. Melainkan juga karena kejujuran yang jenaka meski kadang kurang ajar. Bandingkan dengan sticker yang kini sedang laku dipasang di belakang mobil-mobil pribadi: “real men use three pedals”. Tampak bodoh bukan?

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 144

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 386

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Editor Picks