Agama Baru itu Bernama Duren 0 463

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Kita tentu bertanya-tanya dalam sukma, siapakah yang pertama kali menobatkan durian menjadi king of fruit, raja diraja segala buah? Pun seluruh umat manusia mengamini tanpa pernah menyimpan dendam sedikit pun atas jabatan yang melekat pada doi. Bahwa ‘durian itu enak’ adalah mutlak yang tak perlu dibuktikan. ‘Enak’ itu sendiri juga tak kunjung mendapat definisi operasional yang ilmiah sehingga semua orang dapat memiliki kesamaan makna atasnya.

Para pemakan durian kemudian tak hanya sekedar memiliki motif memasukkan buah berkulit duri ini ke dalam mulutnya. Pun tentu saja tak bisa dikatakan sebagai pemuas rasa lapar. Durian kemudian menjelma menjadi kegemaran dan ‘tuhan’ baru, membuat siapa saja yang telah berkenalan mendadak jadi tergila-gila.

Kedatangan buah ini dinanti bagai para fans oppa-oppa Korea, mengingat durian termasuk buah yang masaknya musiman. Beruntungnya, fans akut durian ini tinggal keliling saja ke seluruh Indonesia untuk paling tidak memenuhi asupan hawa nafsu. Meski awal penyebarannya terpusat di pulau Kalimantan, tapi dari Asoe Kaya unggulan ujung Aceh hingga Kumara asal Maluku sana, terbentang berbagai varietas nama durian dengan spesifikasi terpercaya.

Penggemar buah dengan daging yang lembut dan berwarna kekuningan ini rata-rata tergolong dalam kategori fanatik. Di mana ada durian, baunya yang semerbak menyengat itu langsung menggugah dan menenangkan walau pikiran carut-marut perkara hutang-piutang. Jika sudah begitu, iman mulai goyah:“Beli tidak ya? Makan tidak ya?” (bacanya gak perlu sambil dinyanyikan dengan nada lagu Al Ghazali).

Kadar fanatisme ini begitu mudah dibuktikan. Coba saja memancing asumsi “Kok bisa sih kamu suka durian? Padahal gak enak”, maka boleh jadi besok Anda pulang tinggal nama. Pendapat tentang kecintaan mereka pada rasa dan bau durian yang menggoda lubuk hati terdalam itu tidak bisa dibantah sedikit pun. Mereka fanatik sekaligus otoriter demi mempertahankan durian sebagai rajanya buah.

Fanatisme ini tak hanya berhenti di sana. Dalam versi yang lebih parah, para durian lovers ini berusaha menyebarkan semangat berjihad mencintai durian sampai liang kubur. Sebagian orang yang menganggap bau durian memusingkan akan dituduh menista. Mereka mengkategorikan yang tak suka dengan aroma durian sebagai manusia lemah.

Untuk mereka yang bahkan tak sudi mengincip durian sedikit pun akan dianggap buruh imigran dari negeri terbelakang. Sungguh bukanlah manusia yang waras bukan jika mereka termasuk outsider pemakan durian? Fanatisme berlanjut sampai pada propaganda dan pemaksaan keyakinan ‘durian itu enak’. Pada beberapa peristiwa yang mengenaskan, ada yang tega mencekoki kawannya agar katanya tuntas mengincipi durian walau sekali seumur hidupnya.

Sungguh hal ini tidak terjadi pada buah-buah yang lainnya. Yang tak suka durian akan dianggap aneh. Mengapa yang tak suka pepaya, nangka, sirsak, rambutan, jeruk, dan lain sebagainya diperlakukan biasa saja? Lihat betapa tak adilnya perlakuan kita pada buah hati kingdom plantae ini.

Sesungguhnya, fanatisme pada duren ini kemudian dapat menghantar kita pada filosofi yang lebih jauh. Kita cenderung memaksakan gagasan tentang nikmatnya rasa dan aroma durian lalu menutup rapat pintu diskusi dan permakluman buat mereka yang tidak suka. Alhasil, inilah mungkin yang membuat mengapa si durian tetap saja jadi ‘king of fruit’ tanpa pernah digantikan putra mahkotanya.

Sama seperti mereka yang memaksakan semua orang harus suka durian, dalam hidup perkawanan, kita akan merasa lebih nyaman apabila mendapat teman senasib dan seperjuangan. Wani mbengok lek onok kancane. Terpaku pula pada latar belakang negeri kita yang mampu merdeka karena podo sorone.

Ah, namanya juga makhluk sosyel. Kita mencari individu-individu dengan frame of reference dan field of experience yang serupa, kemudian membuat kelompok tersendiri yang hidup berdampingan. Begitu ada mereka yang berbeda, kita jadi resisten dan menjaga jarak, menganggapnya makhluk asing yang pantas dicurigai bahkan dibenci di kemudian hari.

Jika fanatisme pada durian saja sudah mengakar kuat, maka mengapa kita masih saja bingung ada orang yang suka ngotot dengan pendapatnya? Jika cinta pada durian saja mereka paksakan pada semua orang, maka mengapa masih saja kita terheran ketika banyak gerakan radikal dan diskriminatif yang kelewat batas?

Fanatisme pada duren ini setidaknya dapat menjelaskan pada kita mengapa kita kalah berdebat dengan kawan sendiri teruntuk hal-hal yang bahkan sepele. Fanatisme pada duren ini turut pula menyertai pemakluman kita atas berbagai aksi damai gerakan sok idealis para mahasiswa yang turun ke jalan. Memang maha-benar umat manusia atas segala agamanya pada duren.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Renungan atas Dinginnya SBY (Surabaya, maksudnya..) 0 471

Surabaya sedang dingin beberapa hari belakangan. Jika kita menuntut BMKG untuk menjelaskan fenomena ini, katanya masa-masa ini adalah ketika musim kemarau mencapai klimaksnya. Lha kok malah udaranya dingin?

Dalam istilah astronomis yang lebih teknis, udara yang bikin kita tak mau beranjak dari selimut ini konon berasal muasal dari fenomena aphelion. Terjadi satu kali dalam setahun pada kisaran Juli-Agustus gara-gara massa udara dari benua kangguru yang dingin dan kering berhembus menuju Indonesia. Pembaca sekalian tidak hanya akan dihajar hawa dingin yang bikin pengen kelonan, tapi juga hujan lebat yang akan mengguyur di beberapa kota pada bulan Juli ini.

Pedagang bakso atau wedhang ronde di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan daerah-daerah lain di Indonesia bagian selatan mengalami nasib sama mujurnya pada masa-masa suhu rata-rata 26-27 derajat celcius ini. Sementara lapak es kepal milo – yang sempat sangat lacur itu – terpantau sepi pengunjung.

Yang paling penting dalam perubahan cuaca ini adalah menjaga kesehatan baik fisik maupun mental. Sebab pada masa ini pun, mulut kita tetap tidak bisa direm untuk sambat: “kok adhem?”. Mau diberi panas terik ngomel, katanya Surabaya adalah tempat training neraka. Pun diparingi Gusti dengan hujan yang dingin pun ngedumel.

Bukankah itu hakikat kita sebagai manusia? Terbiasa menjadi oposisi atas kemapanan apapun yang bertahta, menjadi komentator ulung, dan/atau kritikus handal – termasuk pada masalah seremeh cuaca. Kesadaran kita untuk selalu mengomentari dan tak mudah menerima keadaan sesungguhnya adalah baik. Pola berpikir kita terbiasa merespon stimulus di lingkungan sosial kita, berusaha bertahan pada posisi kehidupan yang stabil dan tenang bagai ombak di laut, atau dalam istilah arek-arek: comfort zone.

Tanpa sadar, kepusingan kita melihat politikus yang saling sepak terjang dalam mempertahankan kekuasaan adalah refleksi atas diri kita sendiri yang selalu tidak terima (atau dalam kamus-kamus agama disebut kurang bersyukur). Sebagai makhluk yang didesain tidak pernah puas, kita menciptakan dikotomi hitam-putih, baik-buruk, panas-dingin. Tetapi sekaligus melanggarnya dengan mengatakan ada range di antara setiap dua kutub: seberapa hitam-seberapa putih, seberapa baik-seberapa buruk, seberapa panas-seberapa dingin.

Pokoknya, jangan heran mengapa Rocky Gerung dan kawan-kawannya mati-matian menolak presidential threshold yang diduga diotaki barisan pendukung pemerintah. Jangan geleng-geleng kepala melihat aksi ibu mertuanya Rio Dewanto marah-marah di posko tim pencarian KM Sinar Bangun. Pun ketika rombongan Gus Ipul membubuhkan label ‘curang’ pada hasil hitung KPU yang resmi memenangkan kompetitornya, BPOM yang menolak eksistensi susu kental manis sebagai susu, atau aksi Menkominfo yang memblokir Bowo Alpenliebe dan para umat TikToknya, adalah serangkaian reaksi kita sebagai manusia.

Sudah sepatutnya kita sebagai manusia yang hidup harus selalu berkomentar, mengeluh, semata-mata untuk merawat hadirnya diskusi dan alternatif pemikiran. Terhadap segala hal yang menimpa kita, hendaknya kita selalu siap sedia menyusun argumen, menandingi kemapanan, menolak narasi yang berlaku di masyarakat, tidak tinggal diam.

Jika udara dingin yang menyelimuti Surabaya sekarang adalah suatu bentuk kemapanan, maka rakyat harus mulai menyusun amunisi, menghadirkan antitesis berharap panas datang kembali. Karena Surabaya dingin adalah sesuatu yang asing. Surabaya dan panas adalah suatu yang tiada bisa terpisahkan. Surabaya tanpa panas ibarat Jokowi tanpa sepeda, Suarez tanpa Cavani, film Indonesia tanpa Reza Rahadian, sendok tanpa garpu, ataupun aku tanpa kamu (halah).

Akhir kata, refleksi ini akan ditutup dengan motto: “Cukup udara Surabaya saja yang dingin, hatimu jangan”.

Lidah Bahasa Lokal pada Pilgub Jatim 0 245

Pada 27 Juni, segala pertarungan di 171 daerah di Indonesia telah mengalami puncaknya. Segenap mesin partai hanya tinggal berdoa dan berjaga di tiap TPS, sementara si ‘tokoh utama’ (maksudnya para calon pemimpin daerah) justru siap menghadapi pertarungan selanjutnya – antara bersiap menduduki puncak pimpinan atau melawan rasa kekecewaan menerima kekalahan.

Penulis ingin sedikit kilas balik ke masa debat Pilgub Jatim digelar untuk terakhir kalinya 23 Juni silam. Dalam debat terbuka pamungkas tersebut, seperti biasa pasangan Khofifah-Emil dan Gus Ipul-Puti saling berseteru, khususnya mengulik habis tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik.

Pertarungan yang masih tetap seru seperti debat-debat sebelumnya lantas sempat membuat rakyat menghadapi dilema. Mau menjadi saksi debat calon pemimpinnya atau Belgia vs Tunisia yang berlaga dari lapangan rumput Moskow.

Jika pilihan pembaca jatuh pada tontonan engkel-engkelan pucuk teratas pasukan Wis Wayahe vs Kabeh Sedulur, pembaca tentu turut menyaksikan sesi terakhir debat menggunakan bahasa Jawa. Barangkali, Mbak Brigita Manohara, sang moderator, tak punya masalah dalam membacakan pertanyaan. Lidah doi tentu fasih, apalagi menurut pengakuannya yang pernah membawakan berita berbahasa Jawa Timur-an sebelumnya.

Yang jadi soal tentu bagi para peserta yang sedang berlaga. Bagi Mas ‘Ganteng’ Emil Elestianto Dardak dan Mbak Puti Guntur Soekarno yang tak bisa memungkiri takdir sebagai pendatang dari Jakarta, lebih baik memilih diam seribu bahasa. Percayakan saja kepada para calon gubernur, Khofifah yang asli Surabaya dan Saifullah Yusuf kelahiran Pasuruan. Tentu beliau berdua bagai mobil meluncur di jalan tol jika sudah bersentuhan dengan bahasa lokal Jawa Timur.

Namun, sayang disayang, ekspetasi muluk-muluk yang demikian harus dikurung rapat. Nyatanya Khofifah dan Gus Ipul nampak cukup kesulitan menjelentrehkan ide mereka dengan bahasa lokal yang baik dan benar. Bahasa Indonesia atau ‘gado-gado’ antara krama dan ngoko harus terselip di tengah-tengahnya.

Kita tentu tidak boleh suudzon dan terlalu dini menjatuhkan vonis negatif terhadap mereka. Tentu ada banyak faktor yang membuat pembaca harus mengapresiasi betul segala upaya yang dikeluarkan keduanya ketika menjawab pertanyaan. Banyak penyebab pula yang melatarbelakangi kebingungan keduanya dalam merangkai kata.

Pertama, sudah terlalu lama kemampuan berbahasa lokal disimpan rapat dalam peti harta karun keduanya. Khofifah sendiri sudah mengadu nasib di perpolitikan Jakarta sejak tahun 90an sebagai anggota DPR hingga menteri. Gus Ipul pun tak jauh berbeda. Sebelum menjalani dua periodenya mendampingi Pakde Karwo di JaTim, dirinya juga beradu di Senayan dan mendapuk jabatan menteri.

Selain itu, selalu berkecimpung di ranah formal, rapat kenegaraan, sambutan, pidato, hingga tampil di layar kaca nasional tidak pernah mengasah kembali kemampuan berbahasa lokal ini. Tak apalah jika lupa sedikit-sedikit!

Kedua, para calon gubernur ini barangkali bingung menentukan bahasa Jawa mana yang harus dipergunakan. Apakah dialek Arekan atau Kulonan. Apakah berbahasa yang berkiblat Madura, atau memihak Tengger, Kangean, Osing yang cukup minor penggunanya. Iya, bahasa Jawa Timur sendiri sudah beraneka ragamnya.

Lantas, bahasa mana yang harus digunakan dalam ajang ‘unjuk gigi’ untuk menarik hati 38 juta umat Jawa Timur? Dialek mana yang sekiranya sungguh merepresentasikan Jawa Timur banget dan tidak membuat penutur lainnya iri hati? Sekali salah pilih, netjien yang maha-tahu tentu habis-habisan menghujat. Aih, susah nian mau jadi gubernur!

Di luar itu, yang menjadi perhatian bagi kita semua adalah wacana membawa bahasa lokal dalam debat publik Pilkada. Penulis secara pribadi melihat sesi berbahasa lokal harus selalu dimasukkan sebagai salah satu sesi, seperti yang diawali Pilgub Jatim.

Bagaimana tidak, kemahiran berbahasa lokal juga turut membuktikan apakah benar calon pemimpin yang digadang adalah asli putra daerah. Ah, tapi trennya sekarang kan plotting calon pemimpin berdasarkan kapasitas dan sekenanya partai politik. Jadi, coba kita geser ke alasan berikutnya.

Kemampuan berbahasa lokal yang ditunjukkan dalam debat publik sesungguhnya juga mencerminkan hasil pendekatan calon pemimpin dengan yang akan dipimpinnya 5 tahun ke depan. Bahasa Indonesia formal, apalagi ditambah penjelasan data angka yang njelimet dalam debat barangkali hanya bisa dipahami masyarakat kota dan manusia-manusia berpendidikan. Lalu, pada siapa tanggung jawab harus dilemparkan untuk menjelaskan janji kampanye kepada rakyat kecil di pedesaan yang gak teteh berbahasa Indonesia? Apakah tim sukses kampanye? Apakah Ivan Lanin? Apakah superhero yang mati di Infinity War?

Hanya bahasa lokal lah yang dapat menjembatani apa maunya mbah-mbah di rumah reyot tak berlistrik pelosok desa sana dengan janji manis calon pemimpin daerah. Jika tak pakai bahasa lokal, dengan apakah para calon pemimpin ini mendekati rakyat? Apakah dengan kaos dan stiker? Apakah dengan Via Vallen dan Anang Hermansyah? Apakah dengan ‘uang kaget’ ketika fajar menyingsing?

Dalam hemat penulis, kemampuan bersilat lidah di panggung debat publik memang perlu. Apalagi kemampuan merangkai bunga bahasa dalam barisan visi misi, jangan sampai absen. Tambahkanlah kemampuan menguasai bahasa lokal sebagai bekal. Hati pakdhe dan bulik manakah yang tak berhasil dipanah jika para calon penguasa ini mampu ngopi bareng sambil bertutur bahasa sehari-hari mereka?

Editor Picks