Agama Baru itu Bernama Duren 0 647

Kita tentu bertanya-tanya dalam sukma, siapakah yang pertama kali menobatkan durian menjadi king of fruit, raja diraja segala buah? Pun seluruh umat manusia mengamini tanpa pernah menyimpan dendam sedikit pun atas jabatan yang melekat pada doi. Bahwa ‘durian itu enak’ adalah mutlak yang tak perlu dibuktikan. ‘Enak’ itu sendiri juga tak kunjung mendapat definisi operasional yang ilmiah sehingga semua orang dapat memiliki kesamaan makna atasnya.

Para pemakan durian kemudian tak hanya sekedar memiliki motif memasukkan buah berkulit duri ini ke dalam mulutnya. Pun tentu saja tak bisa dikatakan sebagai pemuas rasa lapar. Durian kemudian menjelma menjadi kegemaran dan ‘tuhan’ baru, membuat siapa saja yang telah berkenalan mendadak jadi tergila-gila.

Kedatangan buah ini dinanti bagai para fans oppa-oppa Korea, mengingat durian termasuk buah yang masaknya musiman. Beruntungnya, fans akut durian ini tinggal keliling saja ke seluruh Indonesia untuk paling tidak memenuhi asupan hawa nafsu. Meski awal penyebarannya terpusat di pulau Kalimantan, tapi dari Asoe Kaya unggulan ujung Aceh hingga Kumara asal Maluku sana, terbentang berbagai varietas nama durian dengan spesifikasi terpercaya.

Penggemar buah dengan daging yang lembut dan berwarna kekuningan ini rata-rata tergolong dalam kategori fanatik. Di mana ada durian, baunya yang semerbak menyengat itu langsung menggugah dan menenangkan walau pikiran carut-marut perkara hutang-piutang. Jika sudah begitu, iman mulai goyah:“Beli tidak ya? Makan tidak ya?” (bacanya gak perlu sambil dinyanyikan dengan nada lagu Al Ghazali).

Kadar fanatisme ini begitu mudah dibuktikan. Coba saja memancing asumsi “Kok bisa sih kamu suka durian? Padahal gak enak”, maka boleh jadi besok Anda pulang tinggal nama. Pendapat tentang kecintaan mereka pada rasa dan bau durian yang menggoda lubuk hati terdalam itu tidak bisa dibantah sedikit pun. Mereka fanatik sekaligus otoriter demi mempertahankan durian sebagai rajanya buah.

Fanatisme ini tak hanya berhenti di sana. Dalam versi yang lebih parah, para durian lovers ini berusaha menyebarkan semangat berjihad mencintai durian sampai liang kubur. Sebagian orang yang menganggap bau durian memusingkan akan dituduh menista. Mereka mengkategorikan yang tak suka dengan aroma durian sebagai manusia lemah.

Untuk mereka yang bahkan tak sudi mengincip durian sedikit pun akan dianggap buruh imigran dari negeri terbelakang. Sungguh bukanlah manusia yang waras bukan jika mereka termasuk outsider pemakan durian? Fanatisme berlanjut sampai pada propaganda dan pemaksaan keyakinan ‘durian itu enak’. Pada beberapa peristiwa yang mengenaskan, ada yang tega mencekoki kawannya agar katanya tuntas mengincipi durian walau sekali seumur hidupnya.

Sungguh hal ini tidak terjadi pada buah-buah yang lainnya. Yang tak suka durian akan dianggap aneh. Mengapa yang tak suka pepaya, nangka, sirsak, rambutan, jeruk, dan lain sebagainya diperlakukan biasa saja? Lihat betapa tak adilnya perlakuan kita pada buah hati kingdom plantae ini.

Sesungguhnya, fanatisme pada duren ini kemudian dapat menghantar kita pada filosofi yang lebih jauh. Kita cenderung memaksakan gagasan tentang nikmatnya rasa dan aroma durian lalu menutup rapat pintu diskusi dan permakluman buat mereka yang tidak suka. Alhasil, inilah mungkin yang membuat mengapa si durian tetap saja jadi ‘king of fruit’ tanpa pernah digantikan putra mahkotanya.

Sama seperti mereka yang memaksakan semua orang harus suka durian, dalam hidup perkawanan, kita akan merasa lebih nyaman apabila mendapat teman senasib dan seperjuangan. Wani mbengok lek onok kancane. Terpaku pula pada latar belakang negeri kita yang mampu merdeka karena podo sorone.

Ah, namanya juga makhluk sosyel. Kita mencari individu-individu dengan frame of reference dan field of experience yang serupa, kemudian membuat kelompok tersendiri yang hidup berdampingan. Begitu ada mereka yang berbeda, kita jadi resisten dan menjaga jarak, menganggapnya makhluk asing yang pantas dicurigai bahkan dibenci di kemudian hari.

Jika fanatisme pada durian saja sudah mengakar kuat, maka mengapa kita masih saja bingung ada orang yang suka ngotot dengan pendapatnya? Jika cinta pada durian saja mereka paksakan pada semua orang, maka mengapa masih saja kita terheran ketika banyak gerakan radikal dan diskriminatif yang kelewat batas?

Fanatisme pada duren ini setidaknya dapat menjelaskan pada kita mengapa kita kalah berdebat dengan kawan sendiri teruntuk hal-hal yang bahkan sepele. Fanatisme pada duren ini turut pula menyertai pemakluman kita atas berbagai aksi damai gerakan sok idealis para mahasiswa yang turun ke jalan. Memang maha-benar umat manusia atas segala agamanya pada duren.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

(Masih) Perlunya Demonstrasi di Saat Demokrasi Dikebiri 0 74

Oleh: Nabiilah Ulinnuha*

Tulisan ini dibuat teruntuk kalian yang hampir menyerah pada Indonesia, menolak percaya pada pemerintah, dan berharap bisa mengurus pindah kewarganegaraan dengan mudah.

Bukan lagi fenomena baru bahwa hadirnya media sosial memindahkan kanal informasi. Di zaman sekarang, mahasiswa dan pelajar tak perlu menyisihkan uang jajan buat beli koran atau bawa tape kemana-mana agar tak ketinggalan berita baru. Bermodalkan smartphone di genggaman tangan, dua media konvensional itu tentu bukan tandingan.

Bangun tidur, ritualnya adalah buka feed Instagram dan Twitter untuk cek kabar terbaru. Yang lebih nggenah, mungkin membuka kanal berita online gratisan, atau yang harga langganannya masih lebih murah dari paket data. Apa-apa serba mudah, kan? Berkat mbah gugel, kita tak perlu lagi kepo berita pagi ini dengan bertanya kesana-kemari. Tinggal buka layar ponsel saja, dan buka Kalikata ketik di mesin pencarian, voila!Tercerahkan”-lah kita.

Sama hal dengan informasi yang berpindah kanal utamanya, demokrasi pun mulai muncul dalam ruang baru bernama ‘media sosial’. Melalui ratusan tweets viral yang mengeluhkan keadaan, tergambar wajah sebuah kebebasan. Mulai dari kondisi terbaru yang terjadi di gedung KPK hingga gerakan tak setuju pada RUU PKS. Belum lagi situasi genting pada Kebakaran Hutan Liar, serta ketidakadilan bagi masyarakat di timur Indonesia.

Beragam postingan di Instagram tentang kondisi Indonesia terkini seolah saling tak mau kalah. Sebab siapapun bisa berbagi informasi. Demokrasi tumpah ruah di ruang-ruang tanpa sekat.

Masyarakat mulai menyukai hal-hal mudah. Demokrasi tak selalu harus turun ke jalanan. Mahasiswa zaman sekarang lebih suka memilih jalur lebih damai lewat diplomasi, atau menulis pada kolom opini. Yang lebih mudah lagi, tentunya menulis tweet dan membagikan foto kondisi terbaru lewat Instagram.

Rasa-rasanya masyarakat sudah seharusnya mulai bosan dengan pola ini. Sudah berteriak pada berbagai platform media, tapi kok rasanya wakil rakyat seolah bisu dan tuli?

Seharusnya apresiasi tinggi patut diberikan pada ratusan mahasiswa yang mengerumuni gedung pemerintah untuk menagih janji. Di saat-saat genting ini, dan di tengah gempuran alternatif cara “menyuarakan” tuntutan, mereka jadi pahlawan garda terdepan yang berjuang bagi demokrasi dengan langkah-langkah tradisional namun efektif bikin pemerintah rodhok panik.

Mari kita buka kenangan setahun lalu, saat Ketua BEM UI berikan Jokowi kartu kuning. Pembicaraan tentang pro dan kontra sempat bergulir di media sosial. Begitu banyak yang ngedumel. Memalukan, katanya. Mahasiswa kok tidak paham etika. Para netizen yang mahabenar, tidakkah kalian sadar, dulu dan kini, masih juga suka mencaci habis mahasiswa saat turun ke jalanan? Bikin macet, kata kalian. Terlalu anarkis dan mengganggu stabilitas Negara, kata kalian juga.

Barangkali, kita harus mengingat kembali pesan founding fathers bangsa ini. Bung Karno pernah menggaungkan “jasmerah”: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nampaknya pesan ini sungguh selalu relevan pada setiap zaman.

Kali ini penulis mengajak untuk mengingat kembali peristiwa 1998. Tanpa pengorbanan mahasiswa, Orde Baru tak akan mungkin digulingkan. Mereka, para aktivis, termasuk mahasiswa yang tumpah ruah ke jalanan, rela hilang tanpa dikenang namanya. Aksi mereka yang heroik adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia masih berani berjuang walau tak memiliki senjata di tangan. Dan rupanya bentuk aksi ini masih turun dari zaman ke zaman.

Persetan dengan kemacetan dan keamanan! Hari ini, kebebasan dikebiri habis-habisan. Tikus-tikus berdasi di gedung parlemen negara melanggengkan kekuasaannya terang-terangan. Berbagai diskusi sudah menemui jalan buntu. Apakah kemudian gaungan emosi dari gawaimu itu benar dapat merubah nasib bangsa ini?

Mereka yang sekarang sedang berjuang di jalanan nyaris belum mendapat titik terang. Jangankan memberi solusi dan menenangkan massa, menemui mereka pun pemerintah masih enggan. Justru di hari-hari inilah, demokrasi butuh lebih banyak lagi demonstrasi. Sudah selayaknya kita belajar dari sejarah, bahwa yang menang adalah yang tak pernah berhenti berjuang. Sebab pemimpin kita saat ini sungguh masa bodo bila sejatinya telah berubah jiwa jadi pecundang. Asal kekuasaan masih mereka pegang, sepertinya tak ada yang mereka takuti.

 

*Penulis adalah mahasiswa yang suka kopi, sajak, tapi kurang lengkap bila tak ditemani ‘kamu’ yang sekarang hilang. Berzodiak Gemini, oleh sebab itu orangnya ruwet.

Foto: Wanti Anugrah

Privasi Siapa yang Dibela di RKUHP? 1 79

Saya jurnalis (profesional untuk 2 bulan terakhir). Saya terlibat di dalam peliputan aksi mahasiswa yang berakhir rusuh di hari pertama rapat paripurna, 24 September. Saya saksi mata ketika mereka mulai merapat di gerbang DPR, orasi, bakar ban, sampai akhirnya water canon plus gas air mata menyerang, dan saya sebagai anak pupuk bawang tentu lari menyelamatkan diri.

Selain UU KPK yang sudah disahkan itu, saya mendengar dan membaca semua demonstran menggarisbawahi RKUHP (yang telah saya bahas di tulisan lalu: ‘Bagaimana Seharusnya Kita Sikapi RKUHP‘). Banyak pasal yang dianggap bermasalah (kita harus akui ini). Terutama teriakan privasi kita yang (katanya) semakin dirampas negara.

Di sisi lain, suatu kali saya juga untuk kedua kalinya mewawancarai artis (walau definisi ‘artis’ bagi saya masih sangat debatable). Saya sih sebenarnya males. Kalau gak karena permintaan kantor, kapabilitas ‘orang yang sering nongol di tv’ untuk menjawab angle berita masih jadi pertanyaan besar bagi saya.

Saya berusaha memancing diskusi dengan mbak artis. Melempar pertanyaan reflektif serta menghindari pertanyaan dangkal dan tak bermutu. Berharap jawaban bisa mendalam dan melontarkan ide-ide cemerlang bagi para fans yang nanti menonton hasil wawancara ini.

Ternyata realita tidak seindah ekspetasi, kawan-kawan! Doi menjawab semua pertanyaan umum saya dengan mengasosiakannya pada dirinya seorang. Demikian pula wartawan lain justru menyiram air garam pada luka, nyamber dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggali urusan pribadi dan keluarga mbak artis.

Ketimbang menjawab pertanyaan saya tentang tren berlibur saat ini, destinasi wisata yang ciamik di Indonesia, dan sebagainya; si artis lebih suka menjawab rencana liburannya bersama suami dan anak, preferensinya dalam menggunakan layanan aplikasi penyedia perjalanan, dan kawan-kawan pertanyaan lainnya.

Saya gak tahu, di sini siapa yang salah. Pasalnya, wartawan membutuhkan jawaban bersifat pribadi itu untuk membuat tulisan yang mengundang klik di website medianya. Sebaliknya, jawaban-jawaban yang melulu soal diri dan pribadi si artis mungkin sudah jadi template wajib dalam ekosistem infotainment. Barangkali, justru memang saya yang salah nyemplung ke dunia wawancara dengan orang-orang jenis ini. Salah yang gagal paham dan gagal menaruh harapan.

Demikian pula dengan kelakuan rakyat yang suka sekali mengonsumsi berita-berita macam ini. Tentu lebih ringan ketimbang ikut repot memutar otak tentang persoalan bangsa ini.

Dari sini, mari kita merenungkan lagi. Apakah benar privasi kita terancam karena RKUHP? Apakah kita lupa, bahwa privasi bangsa ini sudah ternodai sejak dulu kala? Sejak kehidupan pribadi bintang layar kaca jadi konsumsi publik. Bahkan, hal ini juga berlaku pada tokoh-tokoh politik kita.

Masyarakat kan lebih ingat kisah cinta dan kehidupan keluarga sejahtera Almarhum B.J. Habibie ketimbang karya N-250 dan perjuangannya merintis BPPT. Kita lebih ingat tato menteri dan menteri loncat pagar. Kita lebih paham sneaker, jaket, sepeda, moge, dan cucu Jokowi.

Gak usah jauh-jauh juga. Ketika nongkrong bersama teman, teman lain yang tidak kelihatan batang hitungnya jadi bahan gosip, kan? Saat bepergian, belanja, minum kopi di kedai dengan nama lucu-lucu, gatal juga tanganmu uptade di Insta Story. Jangan lupa bubuhkan lokasi, biar disangka anak gaul. Lha kok saiki guayamu sak langit, sok memperjuangkan privasi?

Kan tentu ironis, memperjuangkan privasi, orientasi seksual, dunia malam, urusan seks dan percintaan, tapi abai kalau selama ini juga tak punya batasan dalam menjaga rahasia diri ke dunia maya. Jadi privasi siapa yang kalian bela?

Editor Picks