Apakah “Kahiyang Rabi” dan “Jokowi Mantu” mampu Memperbaiki Hidup Kita? 0 669

Sebelum jauh ngelantur membahas hal-hal lain, maka mula-mula ijinkanlah kami menaksir perwetonan dalam hari pernikahan Kahiyang Ayu-Bobby Nasution. Kahiyang, putri Jokowi, melepas lajang bersama kekasihnya  Muhammad Bobby Afif Nasution pada Rabu, 8 November 2017. Menurut kitab primbon Jawa cetakan ke sepuluh yang belum direvisi, tanggal itu jatuh pada Rabu Pahing, berwatak Lakuning Banyu, Wasesa Segara. Jika dikombinasikan dengan angka delapan, maknanya ciamik soro: pernikahan Kahiyang-Bobby akan dianugerahi oleh perencanaan yang matang dengan kepastian rejeki yang terus melimpah.

Telaah kejawen ini penting untuk melihat bahwa tiap-tiap orang tua selalu berkehendak yang terbaik bagi putra-putrinya, sebuah harapan dan doa yang juga ditiup lewat pemilihan tanggal nikah. Dari pilihan angka cantik itu, tentu saja kita di rumah, yang ngaplo di depan Insert atau Cek dan Ricek atau Kiss Selebriti edisi spesial Jokowi Mantu, juga harus mengirim doa.

Tapi bukan hanya teruntuk pasangan keluarga istana yang sedang berbahagia, melainkan terutama memanjatkan doa untuk diri sendiri.

Ini penting, pembaca yang budiman. Masih ingat pernikahan Anang Hermansyah-Ashanty, yang diarak keliling kota Jember? Atau hari patah hati nasional saat Raisa-Hamish rabi? Atau pernikahan artis yang menjadi spam di seluruh stasiun televisi, Raffi Ahmad-Nagita Slavina, yang liputannya bahkan diperluas hingga edisi “Malam Pertama Raffi-Gigi”?

Kalau pembaca ingat, setelah gegap-gempita dan puja-puji usai, setelah pesta resmi bubar selesai, apa yang tersisa untuk kita? Tidakkah harga-harga bahan pokok masih galak tingginya, rasisme masih berkuasa, dan Setya Novanto masih melenggang dengan gantengnya?

Ini yang musti kita hindari, minimal dengan menyelipkan doa baru: “semoga pernikahan Kahiyang-Bobby ini menjadi peristiwa revolusi kebudayaan dan revolusi politik”. Semoga berita-berita yang berhamburan tentang kebahagiaan ini tidak hanya menjadi bancakan bagi infotainmen, bagi para lambe yang turah-turah itu, tetapi memberi energi baru untuk Jokowi, untuk para pejabat yang hadir bersilaturahmi. Semoga kebaikan-kebaikan dalam pernikahan itu menular seluas-luasnya.

Tak perlu berharap muluk kita kebagian katering Gibran yang konon punya citarasa yang menguras habis liur dari kerongkongannya. Jangan juga ngimpi terlalu lancip untuk diundang datang.

Harapan sederhana saja: bayangkan andai 8.000 tamu undangan itu mampu menyerap tenaga pendorong yang segar dan mengartikulasikannya dalam aktifitas memperbaiki negeri, hukum kita, dan nasib-nasib kita yang masih kere melarat ngenes ini. Bayangkan tatkala para undangan itu menyeruput sirop manis, ia akan teringat senyum manis rakyatnya, dan bukan senyum Setnov. Andai ketika sop buntut disikat, para undangan terkenang bejibun problem penegakan hukum yang juga musti segera dibabat. Saat Terang Bulan martabak manis Markobar disajikan, andai saja para penikmatnya ingat betapa warna-warni topping itu mengisyaratkan variasi dan perbedaan dalam anak bangsa yang indah dan musti dijaga.

Pagi ini, di Gedung Graha Saba Buana, Solo, Jawa Tengah, pernikahan Kahiyang-Bobby dihelat. Di sana pula semoga bukan hanya kekeratonan politik nasional yang diruwat, tetapi juga bangsa keseluruhan. Menuju yang lebih baik. Aseloleeee

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Parade Isu Seksi Jelang Peringatan G30S 0 67

Helloh gess, September telah tiba. Ini bulannya hura-hura tentang trauma. Pasti kamu sudah hapal: sebentar lagi kita akan menyimak debat seolah-olah tentang peristiwa 1965. Tapi sedihnya, tulisan ini bukan ke sana.

Kita akan mencoba merunut isu-isu apa yang hadir, coba dihadirkan, atau dipaksa dihadirkan, menjelang peringatan G30S. Isu-isu yang, yaaa, sesuai tradisi, akan memanas dan sering setiap tahunnya merepotkan rejim. Berikut isunya:

  • Perpindahan Ibukota
  • Livi Zheng
  • Djarum yang disetop audisinya oleh KPAI
  • Jokowi main sama putunya
  • Iuran BPJS naik
  • Esemka diresmikan

Apalagi gess?

Ohya, ini penting karena beberapa sebab. Pertama, mengamati isu-isu “tak penting” justru menjadi sangat penting hari ini untuk melihat bagaimana strategi kekuasaan memainkan lalu-lintas diskusi dan menginterupsi tiap isu. Kalau ente jeli, akan tampak bagaimana pengendalian atas persepsi kita dimainkan dan dikonsentrasikan pada hal-hal tertentu, agar hal-hal lain dapat diminimalkan dampaknya.

Tentu saja arahnya dapat ditebak: mendebat Livi Zheng jauh lebih aman ketimbang ente didatangi Kivlan Zen untuk membeberkan rencana kebangkitan PKI. Atau bicara memindah ibukota lebih asyik daripada memperdebatkan jumlah korban sebetulnya pada genosida 65 duluuu sekali.

Kedua, dari isu-isu tersebut, kesemuanya saksess menjadi tren perbincangan. Esemka, BPJS, dan Ibukota berkaitan langsung dengan agenda pemerintah. Perpindahan ibukota yang terparah, terlalu kentara digunakan sebagai “umpan peluru”, seolah-olah ide ini dilempar untuk dihabisi. BPJS dan Esemka sebelas dua belas, memancing sekaligus mengepung orang dengan kontroversi agar terus-menerus diperdebatkan.

Jadi, mari nanti kita tengok menjelang tumbangnya waktu dan mendekatnya tanggal 30, barang sampah apa saja yang akan dihamburkan oleh media kita.

Tapi toh dibawa santai saja! Kadang-kadang terlalu serius juga tak baik bagi kesehatan jiwa.

 

Annabelle Rukhiyat

Selain menekuni permakelaran tanah, penulis juga magang sebagai penjaga ponten.

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 100

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Editor Picks