Beberapa Metode Milenial untuk Merayakan Ulang Tahun 0 470

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Berulangtahun di masa sekarang memang nggak seru sama sekali. Apalagi kalau kita tinggal di belantara kota, di antara urbanis pubertas yang cowok-cowoknya hobi pakai kaos ngapret dan cewek-ceweknya gemar pakai choker. Ditambah lagi kalau kita punya geng alias kelompok sepermainan, entah itu di kampus, sekolah, warkop tempat cangkruk, atau LBB.

Kenapa? Simpel jawabnya.

Karena sudah pasti, fix, dan absah hukumnya buat kita untuk dapat SURPRISE! Hore!

Sesuai pengertiannya dalam bahasa persatuan Republik Indonesia, surprise berarti kejutan. Yang namanya kejutan tentunya merujuk pada segala sesuatu yang tak disangka dan diduga-duga.

Nggak sulit kok menyiapkan surprise ulang tahun buat seseorang. Cukup dengan memenuhi surprise starter pack berikut: kue ulang tahun supermarket sebelah—sebisa mungkin blackforest, dikeluarkan dari kotak plastiknya biar nggak kelihatan murmer—lengkap dengan lilinnya, balon-balon foil bentuk huruf atau angka, dan muka tembok biar nggak malu kalau dilihatin orang waktu neriakin ucapan selamat ulang tahun dan nyanyi keras-keras buat si birthday friend di tempat umum.

Itu standar surprise strata terendah. Beda lagi kalau yang ngasih kejutan adalah orang-orang tersepesiyal.

Misalnya sahabat. Rumus surprise untuk sahabat biasanya ditambahi air, tepung, dan telor. Kalau yang macam begini jarang dilakukan di kampus atau sekolah, biasanya di depan rumah. Modusnya mau main atau kerja kelompok. Lalu saat yang berulangtahun keluar pintu… PYAR! Teras rumahnya tiba-tiba putih dan bau amis seketika, yang anehnya, malah membuatnya terharu dan menangis bahagia.

Kalau pacar, bukan tepung dan telor yang diberi, tapi bunga dan boneka (karena subjek surprise lebih sering cewek daripada cowok entah kenapa). Tempo penyerahannya pun cenderung lebih fleksibel. Bisa ndompleng sama surprise dari orang lain, misalnya dengan tiba-tiba muncul dari belakang barisan teman-teman, lalu berlutut sambil nyodorin buket. Bisa juga dibuat lebih romantis dengan yah… paling enggak ngajak candlelit dinner lah supaya hemat listrik juga. Kalau maunya usaha minimal hasil maksimal, cukup Go-Send buket bunga ke rumah doi pagi-pagi. Dijamin, saat sang pacar menemukan kiriman bunga di depan pintu rumahnya, dia bakal meleleh dan mencicit, “Iiih… So swit bingiiit!”

Surprise dan Cocoklogi-nya dengan Eksistensi

Setelah surprise sukses dilaksanakan, biasanya dilanjut dengan sesi foto-foto. Mulai foto satu geng sampai foto berdua-dua dengan yang berulangtahun, semua dapat giliran. Nggak sampai malam harinya, foto-foto itu bakal di-upload di akun media sosial masing-masing, yang anehnya, disertai caption yang berlomba-lomba “menghina”. Semakin jahat semakin keren sepertinya.

Misal, “my bitj (baca: bitch) is now 20” yang secara literal artinya “anjingku sekarang berumur 20 tahun”. Atau “Selamat ulang tahun, munyuk! Tetap jadi sahabatku yang o’on dan lemot ya!”

Yang berulangtahun pun menolak kalah. Diunggahnyalah jepretan hari itu dengan caption berkadar eksklusifitas tinggi seperti, “Thanks for today and for always being there, sisters from other mothers!”. Beda sedikit kalau buat pacar. Biasanya upload fotonya khusus tersendiri dengan pose meluk boneka hadiah sambil nge-tag akun sang kekasih. Niscaya, selama beberapa jam ke depan foto tersebut akan dilimpahi komentar yang memuji keromantisan sang pacar yang pastinya bikin ‘iri banget’.

Belum lagi banjir instagram story yang isinya detik-detik pemberian surprise dalam berbagai bentuk, mulai dari video, foto, sampai bumerang. Konten dalam story nggak mungkin jauh-jauh dari tiga elemen utama ini: si subjek yang berulangtahun, kue dan lilin di depannya, dan jejeran smartphone yang mengelilinginya. Bahkan terkadang, teman yang membawa kue pun juga turut menggenggam ponsel dengan tangan satunya, tidak bersedia kehilangan angle ciamik sebagai momen besar untuk dipajang 24 jam ke depan.

Jangan lantas jadi nyinyir lho ya! Siapa tahu inilah perayaan ulang tahun gaya baru. Siapa tahu tradisi bancaan weton memang sudah kodratnya untuk mengalami evolusi esensi. Kini, ulang tahun bukan lagi momen spesial milik yang berulangtahun saja, tetapi juga bagi yang ikut-ikutan merayakan. Saat yang berulangtahun senang karena hari lahirnya diingat (dan didoakan, semoga), yang merayakan juga senang karena dapat tambahan isi untuk feed-nya. Nggak apa-apa lah ya. Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui.

Lucunya, jika seseorang merasa sudah dibuat berbunga-bunga di hari bahagianya, timbul pula kewajiban dalam dirinya untuk memberikan surprise balas budi. Dengan kata lain, saat teman atau pacarnya yang berulangtahun, adalah gilirannya untuk ganti memberikan kejutan.

Maka, jika kamu milenial yang sedang berulangtahun, waspadalah! Karena cepat atau lambat, kejutan pasti datang. Di mana pun, kapan pun, kejutan pasti datang. Bersiaplah terkejut dengan datangnya kejutan!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Minke dan Nyinyir Kepada Iqbaal Ramadhan 0 686

Hoi, antum-antum yang sok nyinyir, kenapa pula kau cela Iqbaal?

Ini berita biasa. Sangat sehari-hari. Kenapa seolah di kepalamu dunyo kiamat begitu mendengar Iqbaal terpilih dalam casting film Bumi Manusia?

Bahwa Iqbaal dipilih oleh sutradara Hanung Bramantyo untuk memerankan tokoh Minke—intelektual pribumi yang konon adalah RM Tirto Adhi Soerjo dalam roman Pramoedya Ananta Toer, adalah kewenangan Hanung. Film ini industri bung! Siapa yang mau tekor dari bisnis dengan fulus jumbo seperti ini? Bukankah menjadi wajar memilih aktor jaminan mutu yang kini sedang disayang-sayang pasar, seperti tampak pada Iqbaal?

Film Dilan, mau dicaci sejorok apapun, adalah tonggak penting dari eskalasi radikal dari industri film nasional. Beberapa rekor pencapaian telah dipecahkan. Penonton membludak dan menjadi perbincangan, juga bahan gombalan murah para muda-mudi. Dilan, singkatnya, berjasa besar bukan saja pada makin bergairahnya nafas industri film dalam negeri, melainkan juga memberi relaksasi pada banyak hadirin tentang pemeran atau aktor alternatif yang tak monoton. Bukan lagi Vino Bastian yang suaranya serak-serak soak, atau Reza Rahadian yang serakah pada semua macam peran.

Tapi bagaimana dengan mutu aktingnya?

Gaya, nontonmu masih mentok di Avenger-avengeran wae kok nggaya ngurusi akting. Referensi filmmu Air Terjun Pengantin sama Hantu Jeruk Purut aja kok masih rewel menghina akting orang? Lebih parah lagi, tak pernah nonton film tapi turut merasa wajib untuk membagi kenyinyiran? Apalagi tak pernah menamatkan buku aslinya, Bumi Manusia.

Gombal. Dosa besar mencela di bulan yang suci ini kang.

Mari didukung, siapa tahu saja Iqbaal mematangkan aktingnya di sini. Siapa sangka nanti bahwa Bumi Manusia adalah fase penting yang akan mendisiplinkan watak dan karakter dari seorang Iqbaal. Barangkali pula ini akan menjadi salah satu cara jitu untuk memperkenalkan novel legendaris Pram pada generasi milenial, netijen macam kamu-kamu yang alay, untuk sabar dan mencerna dengan baik sentimen jaman revolusi sebagaimana termaktub dalam karya-karya Pram.

Beri kesempatan dululah, baru dihabisi sama-sama. Eh..

Met Gala 2018 dan Kegilaan-kegilaannya 0 485

Oleh: Michelle Florencia*

Met Gala adalah salah satu acara tahunan yang paling dinanti-nantikan insan fesyen dunia. Bagaimana tidak? Acara yang yang sudah 70 tahun terakhir diselenggarakan ini bertabur bintang-bintang Hollywood yang mengenakan kostum super wow rancangan desainer kelas dunia.

Acara yang diinisiasi oleh Eleanor Lambert ini sebenarnya merupakan acara penggalangan dana untuk The Costume Institute dan pameran kostum di Metropolitan Museum of Art (Met), New York. Namun, tidak ada yang tahu pasti – selain tamu undangan pastinya – bagaimana suasana acara Met Gala sendiri dikarenakan acara ini tertutup bagi media dan para undangan juga tidak diperbolehkan mengunggah foto maupun video seputar acara Met Gala untuk menjaga ekslusifitasnya.

Di tahun 2018, Met Gala diselenggarakan pada Seni n (7/5) di New York Metropolitan Museum of Art. Met Gala kali ini merupakan pembuka pameran terbesar yang pernah dibuat The Costume Institute. Mengangkat tema Heavenly Bodies: Fashion and The Catholic Imagination, ekshibisi ini begitu menarik karena bekerjasama dengan keuskupan Vatikan untuk memamerkan benda-benda gereja Vatikan. Tak hanya itu, para desainer kenamaan seperti Jeanne Lanvin, Karl Lagerfeld, John Galliano, Jean Paul Gaultier, dan nama-nama besar lainnya turut serta memamerkan rancangan mereka yang terinspirasi dari simbol-simbol Katolik.

Penulis menilai Met Gala merupakan salah satu acara yang paling gila, terutama Met Gala 2018. Bagaimana tidak? Pertama, harga tiket acara ini adalah USD 30.000/tamu atau Rp 405.000.000 (dengan asumsi kurs Rp 13.500/USD). Itu untuk teko thok, gurung nek mesen mejo. Apabila ingin memesan satu meja, maka tamu tersebut harus membayar USD 275.000 hingga USD 500.000. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp 3.712.500.000 hingga Rp 6.750.000.000—jumlah yang cukup untuk beli pisang naget dan ayam geprek seumur hidup!

Apabila Pembaca merasa punya uang segitu, jangan kepedean dulu bisa datang ke acara ini! Yang diundang hanyalah selebritis top Hollywood, donatur acara, para desainer tersohor dunia, super model kenamaan, dan perwakilan label busana atau aksesoris mewah yang bersedia menyumbang dana. Tak hanya itu, semua tamu undangan harus disetujui oleh Nyah Anna Wintour, pemimpin redaksi majalah Vogue dan juga ketua acara Met Gala. Kalau Pembaca masih seorang mahasiswa yang tinggal di kos-kosan yang hanya bisa ngadem dan numpang wifi di perpus kampus (gratisan), barangkali bisa tidur dulu untuk datang ke acara ini dalam mimpi.

Beauty is pain menjadi selogan bagi para undangan, terutama tamu undangan wanita. Lihat saja Blake Lively  dengan gaun Versace-nya yang super panjang , rawan keselimpet, nyeret-nyeret, dan mau nggak mau rela “mengepel” lantai museum bisa dibilang jadi cleaning service dadakan. Penulis juga sangat mengapresiasi kekuatan dan kekekaran punggung Katy Perry yang memikul sayap dengan ukuran buto. Belum lagi Rihanna yang mampu tetap tegak berdiri saat mengenakan dress, cape, dan topi ala paus yang penuh dengan borci-borci (kosakata ala emak-emak Pasar Atum untuk menyebut payet) rancangan Maison Margiela yang kalau ditotal  barangkali bisa sampai belasan kilogram. Tak kalah hebat, Sarah Jessica Parker mampu menahan beban dari pajangan rumah yang dijadikan bando oleh Dolce and Gabbana itu demi mengalihkan fokus agar tidak terpaku pada wajahnya yang botox-nya tidak merata itu. Penulis saja sudah ngomel-ngomel karena bahu suka salah urat kalau bawa laptop di tas. Luar biasa memang kekuatan para wanita di Met Gala 2018!

Kegilaan selanjutnya ialah keberanian Andrew Bolton, kurator The Costume Institute dan sesosok pencetus tema-tema Met Gala dalam beberapa tahun terakhir, dalam menentukan tema Met Gala tahun ini, yaitu Heavenly Bodies: Fashion and Catholic Imagination. Presiden Kebudayaan Vatikan, Gianfranco Ravasi sendiri bersyukur atas diangkatnya tema ini, sebab artinya simbol Katolik masih bisa menyentuh orang lain.

Tapi, akibat mencetuskan ide kontroversial ini, ia harus bolak-balik New York-Vatikan sebanyak 10 kali dalam satu tahun terakhir! Dikutip dari Tirto, Bolton menjalin relasi dengan lima orang pastur pejabat gereja dan menteri kebudayaan Vatikan untuk bisa meminjam busana pastur, mahkota yang dikenakan Paus, dan benda-benda gereja lainnya. Total ada lebih dari 40 benda yang biasa tersimpan di dalam tempat penyimpanan perlengkapan ekaristi (sakristi) di sebuah gereja di Vatikan. Berani buat ide gila, harus berani kerja gila!

Tak hanya membuat Bolton bolak-balik New York-Vatikan sampai mbulak, tema yang menyentuh ranah keagamaan ini juga menimbulkan kontroversi. Penulis paparkan terakhir karena merupakan klimaks dari kegilaan acara ini. Ide suangar nun gendeng ini  rupanya tidak disambut baik oleh beberapa selebritis, dan bahkan ingin memboikot Met Gala 2018. Dikutip dari Vogue, tema ini jadi kontroversi karena fesyen dinilai tak pantas disandingkan dengan hal-hal yang dianggap sakral atau suci. Tapi, menurut Bolton hal itu lumrah saja, “Ini menegaskan kesetiaan pada agama, eksistensi, dan perbedaan agama,” tukasnya.

Yang jelas, apabila ingin mengangkat tema keagamaan, harusnya pihak Met Gala tetap menjaga kesucian agama itu sendiri. Tak pantas rasanya apabila mengenakan pakaian bertema agamis, tapi dibuat seperti pakaian yang kekurangan kain dan bikin orang salah fokus. Entah bagaimana jadinya kalau acara semacam ini diselenggarakan di Indonesia. Gurung diselenggarakno wes dicekal disek. Hehehe….

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Editor Picks