Beberapa Metode Milenial untuk Merayakan Ulang Tahun 0 1691

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Berulangtahun di masa sekarang memang nggak seru sama sekali. Apalagi kalau kita tinggal di belantara kota, di antara urbanis pubertas yang cowok-cowoknya hobi pakai kaos ngapret dan cewek-ceweknya gemar pakai choker. Ditambah lagi kalau kita punya geng alias kelompok sepermainan, entah itu di kampus, sekolah, warkop tempat cangkruk, atau LBB.

Kenapa? Simpel jawabnya.

Karena sudah pasti, fix, dan absah hukumnya buat kita untuk dapat SURPRISE! Hore!

Sesuai pengertiannya dalam bahasa persatuan Republik Indonesia, surprise berarti kejutan. Yang namanya kejutan tentunya merujuk pada segala sesuatu yang tak disangka dan diduga-duga.

Nggak sulit kok menyiapkan surprise ulang tahun buat seseorang. Cukup dengan memenuhi surprise starter pack berikut: kue ulang tahun supermarket sebelah—sebisa mungkin blackforest, dikeluarkan dari kotak plastiknya biar nggak kelihatan murmer—lengkap dengan lilinnya, balon-balon foil bentuk huruf atau angka, dan muka tembok biar nggak malu kalau dilihatin orang waktu neriakin ucapan selamat ulang tahun dan nyanyi keras-keras buat si birthday friend di tempat umum.

Itu standar surprise strata terendah. Beda lagi kalau yang ngasih kejutan adalah orang-orang tersepesiyal.

Misalnya sahabat. Rumus surprise untuk sahabat biasanya ditambahi air, tepung, dan telor. Kalau yang macam begini jarang dilakukan di kampus atau sekolah, biasanya di depan rumah. Modusnya mau main atau kerja kelompok. Lalu saat yang berulangtahun keluar pintu… PYAR! Teras rumahnya tiba-tiba putih dan bau amis seketika, yang anehnya, malah membuatnya terharu dan menangis bahagia.

Kalau pacar, bukan tepung dan telor yang diberi, tapi bunga dan boneka (karena subjek surprise lebih sering cewek daripada cowok entah kenapa). Tempo penyerahannya pun cenderung lebih fleksibel. Bisa ndompleng sama surprise dari orang lain, misalnya dengan tiba-tiba muncul dari belakang barisan teman-teman, lalu berlutut sambil nyodorin buket. Bisa juga dibuat lebih romantis dengan yah… paling enggak ngajak candlelit dinner lah supaya hemat listrik juga. Kalau maunya usaha minimal hasil maksimal, cukup Go-Send buket bunga ke rumah doi pagi-pagi. Dijamin, saat sang pacar menemukan kiriman bunga di depan pintu rumahnya, dia bakal meleleh dan mencicit, “Iiih… So swit bingiiit!”

Surprise dan Cocoklogi-nya dengan Eksistensi

Setelah surprise sukses dilaksanakan, biasanya dilanjut dengan sesi foto-foto. Mulai foto satu geng sampai foto berdua-dua dengan yang berulangtahun, semua dapat giliran. Nggak sampai malam harinya, foto-foto itu bakal di-upload di akun media sosial masing-masing, yang anehnya, disertai caption yang berlomba-lomba “menghina”. Semakin jahat semakin keren sepertinya.

Misal, “my bitj (baca: bitch) is now 20” yang secara literal artinya “anjingku sekarang berumur 20 tahun”. Atau “Selamat ulang tahun, munyuk! Tetap jadi sahabatku yang o’on dan lemot ya!”

Yang berulangtahun pun menolak kalah. Diunggahnyalah jepretan hari itu dengan caption berkadar eksklusifitas tinggi seperti, “Thanks for today and for always being there, sisters from other mothers!”. Beda sedikit kalau buat pacar. Biasanya upload fotonya khusus tersendiri dengan pose meluk boneka hadiah sambil nge-tag akun sang kekasih. Niscaya, selama beberapa jam ke depan foto tersebut akan dilimpahi komentar yang memuji keromantisan sang pacar yang pastinya bikin ‘iri banget’.

Belum lagi banjir instagram story yang isinya detik-detik pemberian surprise dalam berbagai bentuk, mulai dari video, foto, sampai bumerang. Konten dalam story nggak mungkin jauh-jauh dari tiga elemen utama ini: si subjek yang berulangtahun, kue dan lilin di depannya, dan jejeran smartphone yang mengelilinginya. Bahkan terkadang, teman yang membawa kue pun juga turut menggenggam ponsel dengan tangan satunya, tidak bersedia kehilangan angle ciamik sebagai momen besar untuk dipajang 24 jam ke depan.

Jangan lantas jadi nyinyir lho ya! Siapa tahu inilah perayaan ulang tahun gaya baru. Siapa tahu tradisi bancaan weton memang sudah kodratnya untuk mengalami evolusi esensi. Kini, ulang tahun bukan lagi momen spesial milik yang berulangtahun saja, tetapi juga bagi yang ikut-ikutan merayakan. Saat yang berulangtahun senang karena hari lahirnya diingat (dan didoakan, semoga), yang merayakan juga senang karena dapat tambahan isi untuk feed-nya. Nggak apa-apa lah ya. Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui.

Lucunya, jika seseorang merasa sudah dibuat berbunga-bunga di hari bahagianya, timbul pula kewajiban dalam dirinya untuk memberikan surprise balas budi. Dengan kata lain, saat teman atau pacarnya yang berulangtahun, adalah gilirannya untuk ganti memberikan kejutan.

Maka, jika kamu milenial yang sedang berulangtahun, waspadalah! Karena cepat atau lambat, kejutan pasti datang. Di mana pun, kapan pun, kejutan pasti datang. Bersiaplah terkejut dengan datangnya kejutan!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasib Pegawai KPK Kritis dan Doa untuk Mereka 0 159

Kemarin 1.271 pegawai KPK yang lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) akhirnya sudah dilantik. Kini mereka resmi jadi abdi negara, meninggalkan 75 yang tak lolos.

Tim dokumenter dengan jejaring sangar macam Watchdoc dan kesayangan kita semua, Najwa Shihab, sudah mewawancarai mereka, mengungkap kejanggalan TWK. Pertanyaan-pertanyaan aneh macam urusan rumah tangga, perceraian, gaya pacaran, hingga aliran agama muncul selama sesi tes seleksi wawancara.

Masalahnya, 75 orang yang tidak lolos ini bukan sembarangan personil. Dari antara 75 orang itu, 13 di antaranya adalah penyidik yang berperan penting sebagai lokomotif penggerak berjalannya KPK selama ini. Sebut saja Novel Baswedan, yang kita semua tahu telah berhasil mengungkap kasus besar macam korupsi e-KTP dengan dalang Setya Novanto. Ada pula Rizka Anungnata, penyidik kasus benih lobster yang menyeret mantan Menteri KKP, Edhy Prabowo. Sampai Ronal Paul, yang tengah menangani kasus buron yang ghosting satu negeri ini, Harun Masiku.

Orang-orang ini kini tak bisa melanjutkan kasusnya, dinonaktifkan karena tak lolos tes, bahkan terancam termasuk dari 51 orang yang katanya tak lagi bisa dibina. Dalam kata lain yang lebih mudah namun kasar, sama saja dengan orang bebal.

Orang-orang berprestasi ini mungkin cerminan dari orang kritis. Di satu sisi, Indonesia ini sangat butuh orang-orang kritis agar bisa maju memperbaiki sistem dan mentalitas yang terlanjur bobrok. Tapi atas nama kestabilan, orang-orang macam inilah yang dianggap sebagai penghancur dan pembangkang. Termasuk dalam logika bisnis korporasi, pegawai yang ndablek atau berani melawan pemimpinnya pasti ditendang.

Susah dong ya jadi orang kritis di negara ini? Ya memang bakal susah kalau kamu terlalu radikal, berani bicara dan melawan yang salah. Lantas apa yang harus dilakukan?

Kalau kata pepatah, diam adalah emas. Itu mungkin akan sangat berlaku buat kalian-lalian yang punya pemikiran revolusioner. Jangan keburu emosi dulu! Diam memang tak selamanya baik, dan malah berujung malapetaka karena mendiamkan sesuatu yang salah. Kalau kata mantan komisioner KPK dan pengurus PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas: “membiarkan kejahatan itu sama artinya dengan melakukan kejahatan”.

Saya jadi teringat suatu kisah penyebaran dan perjalanan agama Kristen di Jepang. Alkisah, agama Katolik disebarkan pertama kali oleh misionaris Jesuit dari Portugal tahun 1560-an. Lambat laun, jumlah penganut Kristen bertambah banyak dan pesat. Penguasa politik Jepang merasa terancam dan memutuskan untuk menumpas mereka.

Larangan beribadah ditetapkan. Bahkan memerintahkan semua umat Kristiani menginjak fumie, lempengan tembaga bergambar Yesus disalib pada papan kayu. Tujuannya jelas, untuk mematahkan kepercayaan mereka. Sejarah mengatakan ada sekitar 2 ribu orang meninggal menjadi martirkarena menolak menginjak fumie, tetap setia pada imannya.  Which is (cielah gaya bahasa jaksel), keren.

Tapi, tak sedikit pula yang memilih ingkar, mereka injak fumie, dan tetap hidup. Mereka berpura-pura meninggalkan agamanya, tapi tetap beribadah secara diam-diam. Mereka lah yang membuat penganut Kristiani masih ada di Jepang sampai sekarang. Coba bayangin kalau semua memilih jadi “pahlawan” dan rela mati, mungkin agama Katolik akan benar-benar punah.

Kisah ini saya lihat hampir sama dengan yang terjadi di KPK hari ini. Harapannya, ada beberapa dari 1200 yang lolos TWK itu, adalah orang-orang yang diam-diam “nurut”, menjawab dengan cara aman tes-tes wawancara yang diajukan asesor. Mereka menyembunyikan jati diri kritis, demi bertahan hidup, tetap berada dalam sistem lembaga pemberantas korupsi, dan membawa integritas ke depan. Jika benar demikian, kita tak perlu khawatir KPK akan ambruk.

Lalu bagaimana dengan 51 pegawai yang tak lagi bisa dibina itu? Perjuangan di luar KPK untuk memberantas korupsi masih panjang. Bisa melalui organisasi, lembaga bantuan hukum, dan bertindak sebagai pengamat atau penasehat. Sebab, berlian tetap bisa bersinar di mana saja walaupun ditempa sedemikian rupa. Semoga.

 

*)Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Dukun Abal-abal dan Fitnah pada Genderuwo Nakal 0 209

Oleh: Yogi Dwi Pradana*

 

Nasib tragis dialami seorang bocah perempuan berusia 7 tahun bernama Aisyah. Ia menjadi sebuah korban percobaan dukun abal-abal di Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Aisyah meninggal dunia setelah disuruh memakan cabai dan bunga mahoni oleh dukun abal-abal tersebut, serta ia diminta menenggelamkan kepala di dalam air untuk mengetahui apakah benar Aisyah ini keturunan genderuwo atau bukan.

Kisah ini tragis, tapi juga aneh. Sebab, setahu saya dari cerita rakjat, genderuwo tidak seiseng itu untuk merasuki anak kecil dan membuatnya jadi nakal. Salah satunya adalah Mbah Wagini dari Alas Purwo. Ia diyakini sebagai seorang keturunan genderuwo dengan seluruh badannya ditumbuhi bulu lebat.

Walaupun terlihat menakutkan, Mbah Wagini di alam gaib adalah makhluk yang dipuja. Begitu kata Eyang Ratih, pengasuhnya sejak kecil. Dan dia tidak nakal ya, ingat. Gak semua genderuwo seperti kata dukun abal-abal itu.

Poin lain yang mengherankan bagi saya dari peristiwa ini adalah, motivasi sang orang tua membawa Aisyah ke dukun. Tentu, setelah bertahun-tahun mengasuhnya, mereka sampai pada titik lelah, sehingga tak sanggup lagi mengatasi kenakalan si anak dengan kekuatannya sendiri.

Padahal, bukankah 7 tahun adalah usia normal anak bersikap aktif dan banyak tingkah misalnya, jika demikian yang dikategorikan nakal oleh kebanyakan orang. Di usia ini, anak sudah siap masuk ke jenjang sekolah dasar dan siap beradaptasi dengan hal-hal yang baru ia temui. Justru peranan orang tua dalam mendidik anak di usia ini sangat penting.

Menurut saya yang belum punya anak ini, masih ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendidik anak nakal usia 7 tahun. Misalnya, mengedepankan komunikasi dengan anak. Aktif berbincang untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan si anak. Selanjutnya, ajak anak untuk terbiasa mengatasi masalah secara bersama-sama. Orang tua tugasnya kan membimbing, bukan cuma ngasih makan.

Beberapa poin yang saya sebut tadi, ujungnya adalah agar orang tua bisa mengenali sisi emosi anak. Kalau orang tua kesusahan, “anak nakal” seharusnya bisa diatasi oleh ahlinya. Konsultasi ke psikolog misalnya.

Anak yang nakal seharusnya mendapat edukasi dari orang tua, bukan malah dibawa ke dukun untuk dirukiyah. Kan kita semua tahu, sudah banyak kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika menyelesaikan masalah dengan dukun.

Salah satu kisah soal ini datang Nanang (bukan nama sebenarnya) dari Tasikmalaya, Jawa Barat yang mengaku sebagai dukun. Alih-alih mengobati pasien, Nanang meminta pasien-pasien yang datang padanya untuk melayani hasrat seksualnya.

Eits, tapi tidak semua dukun itu abal-abal dan nol keahlian ya. Nyuwun pangapunten Mbah Dukun! Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk melarang pembaca datang ke dukun (semua kembali ke kepercayaan masing-masing).

Tapi dari pengalaman ini kita belajar, untuk mengatasi persoalan dengan hati dan wawasan yang luas. Jika sudah mentok dengan usaha sendiri, baiknya memang datang ke pakar dengan ilmu yang pasti-pasti aja.

 

*)Seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di organisasi Susastra KMSI UNY, bergiat di komunitas sastra Lampu Tidurmu, dan menjadi penulis artikel di UNY Community.

*) Ilustrasi oleh Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks