Benjol Bakpao Papa dan Duka Fortuner 0 800

Apakah ini penistaan terhadap Fortuner?

Besi baja dengan 161 tenaga kuda, yang dibandrol setengah miliar ini dan punya Dual Front SRS Airbags, tak mampu menghajar tiang listrik hitam mungil di depannya. Fitur airbags tak mengembang, body depan ringsek, lampu kaca hancur. Dan Papa kita bersama, yang berada di bangku depan Fortuner ini, menderita benjol kepala sebesar bakpao.

***

Pagi tadi, Mas Ndemo penjual bakpao kondang se-Sidoarjo (dan sekitarnya, tentu saja) bermerk Aan Jaya, menyorongkan dagangannya kepada kami. Postur bakpaonya nyaris sebesar dua kepal bogem orang dewasa. Dengan ilustrasi standar ini, hampir tak bisa kami bayangkan derajat gegar kepala dan memar parah macam apa yang Papa alami, andai betul benjolnya sebesar bakpao. Aan Jaya pula! Apakah petugas rumah sakit tak ngiler melihat benjol Papa, mengingat bakpao yang rasanya kita tahu bersama amat nyamleng di tenggorokan itu? Sudah barang tentu yang seperti ini, apalagi bagi umat yang baik macam kita, haruslah didoakan agar mendapat kesembuhan yang paripurna.

Pembaca yang jahat dan tukang nyinyir, mohon hormati sakit Papa. Kita harus pahami bahwa Papa kita semua sedang ditimpa kemalangan dengan musibah yang tak main-main. Kendati tiang itu sendiri masih gagah tegak berdiri, tapi Papa kita kolaps. Ia digotong ke rumah sakit. Jidat dan kepalanya diperban kecil saja. Benjol bakpaonya barangkali telah kempes. Menurut keterangan pengacara terakhir kami baca, kondisi Papa: “sudah sadar, tapi lemas”.

Tiang itu memang asu. Bagaimana bisa ia nongkrong di sana menghalangi niat baik Papa bersilaturahmi ke KPK—lembaga cerewet yang amat memburunya karena nge-fans. Bagaimana pula ia masih nekat berdiri, tak tumbang meski telah disikat oleh mobil sekelas Fortuner.

Jika kita gunakan akal sehat dan penelusuran akademik, maka tampaklah trikotomi kekuasaan yang musti kita pahami bersama: Tiang, Bakpao, dan Fortuner.

Inilah tiga kekuasaan yang akhirnya mengirim Papa kita ke rumah sakit. Teoritisi politik harus mengganti keseluruhan paradigmatik yang mapan bertahun-tahun terakhir, dan memasukkan konfigurasi baru. Ini penting. Sebab, konfigurasi baru inilah yang mampu menarik keluar seorang Papa, yang diburu dan disergap media di rumahnya dan menjadi buron KPK.

Teori tentang tiang harus segera dibikin, karena dari sanalah ia tegak berdiri menggantikan KPK yang kepayahan memburu DPO-nya. Aparat penegak hukum kalah oleh kokohnya tiang—ini teori yang amat berbunyi dan harus masuk dokumen akademis.

Berikutnya, teori bakpao (Bakpao Theorema, atau Bakpao Effect kedengarannya keren untuk nama teori) juga jangan dinafikan begitu saja. Bakpao tidak saja menjadi metafora atas kesulitan Papa, tetapi juga dari cedera sebesar bakpao inilah Papa lemas tak berdaya, dan KPK akhirnya bisa menemui dan menahan beliau.

Terakhir, teori Fortuner. Kita tak bisa bayangkan jika Fortuner itu nyatanya bisa tetap melaju dan mengalahkan tiang: apakah Papa masih akan ada dalam persembunyiannya dan belum dapat ditemukan? Ini memang menjadi duka bagi pemilik lisensi merk Toyota, yang daya tahannya di hadapan tiang rupanya mirip kerupuk. Seseorang harus membereskan ini untuk mengembalikan citra gagah Fortuner.

***

Pembaca, tak ada salahnya kan mendoakan kesehatan orang? Kita masih sama-sama manusia toh?

Jadi demi apapun yang mengatasnamakan kecurigaan, kepalsuan, dan kebiadaban hukum, mari doakan apa saja yang terbaik dan menyehatkan. Sebab, dari sana kita akan tahu kebenaran ilahiah: barangsiapa yang memalsukan anugerah-Nya, akan dicabut sekalian apa yang telah didapatkan.

Uhuk uhuk uhuk. By the way, bakpao Aan Jaya dapat ditemui di sekitaran Lingkar Timur, Bluru, Magersari, dan sekitarnya.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 340

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Surat untuk Bu Pemred dan Semua Anak Jakarte 0 124

Jokowi yang baru-baru saja melempar isu ibukota baru harus bertanggung jawab pada banyak hal. Mula-mula, ehm, ya tentang tuduhan bahwa “Jakarta baru” di Borneo sana adalah semacam pembelokan isu. Tapi tuduhan macam ini biasanya diselesaikan oleh buzzer-buzzer aktip kreatip, jadi kita skip untuk sementara.

Soal serius dari ini: siapa yang mengobati sakit hati Bu Demes yang sudah telanjur tinggal di Jakarta, dan ketika lagi sayang-sayangnya malah ditinggal minggat status ke-ibukota-annya? Berlaku pula teruntuk pesohor-pesohor yang menjadi besar nyali artisnya lantaran status ibukota.

Saya pernah suatu ketika menyimak obrolan superior mahasiswa “lo-gue” yang di telinga bikin geli tapi menarik. Mereka membahas mengapa hidup di Jakarta “ngangenin”, kendati macetnya sungguh luar bioskop, belum lagi polutan-polutan yang biadab. Kata salah satu tokoh dalam obrolan itu (tampaknya ia salah satu selebgram, dilihat dari alis mata dan warna semir rambutnya yang, ehm, keluar lintasan): “..yaa gimana2 jakarta tuh pusat. Lo mo ngomong macet kek, tapi semua-mua dari sana”.

Asoi betul logikanya. Dan dalam beberapa hal betul.

Tapi apa yang ditawarkan Jokowi dari perpindahan Ibukota? Atau sebetulnya tak perlu resep penawar apa-apa bagi mereka yang sudah telanjur sayang? Bagi mereka yang sudah kepalang mengadu nasib di Jakarta? Atau, yang paling gaswat, jangan-jangan tak perlu solusi apapun tentang ini karena perpindahan itu ada atau tiadanya tak punya dampak apapun?

Apa mau syahrini pindah ke Kaltim dan menjadi artis bau tambang? Atau sinetron-sinetron menjadi belepotan dan pada akhirnya membuat semacam reality show “apa dan bagaimana hidup di tengah tambang”?

Jika pada akhirnya perpindahan ibukota Cuma soal pindah status, yaa lalu yang berpindah apanya. Apakah tak ada cara lain yang lebih elegan untuk bakar duit?

Skian dan terima gadis.

 

Joni Locke

Belajar filsahwat, merantau ke negeri jauh.

Editor Picks