Benjol Bakpao Papa dan Duka Fortuner 0 659

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Apakah ini penistaan terhadap Fortuner?

Besi baja dengan 161 tenaga kuda, yang dibandrol setengah miliar ini dan punya Dual Front SRS Airbags, tak mampu menghajar tiang listrik hitam mungil di depannya. Fitur airbags tak mengembang, body depan ringsek, lampu kaca hancur. Dan Papa kita bersama, yang berada di bangku depan Fortuner ini, menderita benjol kepala sebesar bakpao.

***

Pagi tadi, Mas Ndemo penjual bakpao kondang se-Sidoarjo (dan sekitarnya, tentu saja) bermerk Aan Jaya, menyorongkan dagangannya kepada kami. Postur bakpaonya nyaris sebesar dua kepal bogem orang dewasa. Dengan ilustrasi standar ini, hampir tak bisa kami bayangkan derajat gegar kepala dan memar parah macam apa yang Papa alami, andai betul benjolnya sebesar bakpao. Aan Jaya pula! Apakah petugas rumah sakit tak ngiler melihat benjol Papa, mengingat bakpao yang rasanya kita tahu bersama amat nyamleng di tenggorokan itu? Sudah barang tentu yang seperti ini, apalagi bagi umat yang baik macam kita, haruslah didoakan agar mendapat kesembuhan yang paripurna.

Pembaca yang jahat dan tukang nyinyir, mohon hormati sakit Papa. Kita harus pahami bahwa Papa kita semua sedang ditimpa kemalangan dengan musibah yang tak main-main. Kendati tiang itu sendiri masih gagah tegak berdiri, tapi Papa kita kolaps. Ia digotong ke rumah sakit. Jidat dan kepalanya diperban kecil saja. Benjol bakpaonya barangkali telah kempes. Menurut keterangan pengacara terakhir kami baca, kondisi Papa: “sudah sadar, tapi lemas”.

Tiang itu memang asu. Bagaimana bisa ia nongkrong di sana menghalangi niat baik Papa bersilaturahmi ke KPK—lembaga cerewet yang amat memburunya karena nge-fans. Bagaimana pula ia masih nekat berdiri, tak tumbang meski telah disikat oleh mobil sekelas Fortuner.

Jika kita gunakan akal sehat dan penelusuran akademik, maka tampaklah trikotomi kekuasaan yang musti kita pahami bersama: Tiang, Bakpao, dan Fortuner.

Inilah tiga kekuasaan yang akhirnya mengirim Papa kita ke rumah sakit. Teoritisi politik harus mengganti keseluruhan paradigmatik yang mapan bertahun-tahun terakhir, dan memasukkan konfigurasi baru. Ini penting. Sebab, konfigurasi baru inilah yang mampu menarik keluar seorang Papa, yang diburu dan disergap media di rumahnya dan menjadi buron KPK.

Teori tentang tiang harus segera dibikin, karena dari sanalah ia tegak berdiri menggantikan KPK yang kepayahan memburu DPO-nya. Aparat penegak hukum kalah oleh kokohnya tiang—ini teori yang amat berbunyi dan harus masuk dokumen akademis.

Berikutnya, teori bakpao (Bakpao Theorema, atau Bakpao Effect kedengarannya keren untuk nama teori) juga jangan dinafikan begitu saja. Bakpao tidak saja menjadi metafora atas kesulitan Papa, tetapi juga dari cedera sebesar bakpao inilah Papa lemas tak berdaya, dan KPK akhirnya bisa menemui dan menahan beliau.

Terakhir, teori Fortuner. Kita tak bisa bayangkan jika Fortuner itu nyatanya bisa tetap melaju dan mengalahkan tiang: apakah Papa masih akan ada dalam persembunyiannya dan belum dapat ditemukan? Ini memang menjadi duka bagi pemilik lisensi merk Toyota, yang daya tahannya di hadapan tiang rupanya mirip kerupuk. Seseorang harus membereskan ini untuk mengembalikan citra gagah Fortuner.

***

Pembaca, tak ada salahnya kan mendoakan kesehatan orang? Kita masih sama-sama manusia toh?

Jadi demi apapun yang mengatasnamakan kecurigaan, kepalsuan, dan kebiadaban hukum, mari doakan apa saja yang terbaik dan menyehatkan. Sebab, dari sana kita akan tahu kebenaran ilahiah: barangsiapa yang memalsukan anugerah-Nya, akan dicabut sekalian apa yang telah didapatkan.

Uhuk uhuk uhuk. By the way, bakpao Aan Jaya dapat ditemui di sekitaran Lingkar Timur, Bluru, Magersari, dan sekitarnya.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 271

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks