Duka Bersama Setelah Italia Kandas dan Buffon Pensiun 0 329

Tangis pecah di San Siro (juga di warkop-warkop Giras dan Selir yang memutar siaran langsung) tatkala hasil imbang mengirim Italia pulang ke kampung halaman dengan satu berita duka: gagal ke piala dunia. Ini berita besar karena dua hal. Pertama, banyak hadirin Indonesia yang besar dengan tayangan televisi Serie A, dan menjadi basis fans besar klub-klub top negeri Pizza. Tak ada rasanya, atau jarang sekali jika bukan disebut edan, ada fans klub Piacenza atau Siena. Kedua, semua helatan olahraga bermanfaat untuk melenakan diri dari sengkarut bola dalam negeri, yang makin lama makin serius: dari kekacauan manajerial, problem strategi bermain, hingga keringnya prestasi.

Jadi, adegan tatkala Gianluigi Buffon—veteran kiper Italia, legenda Juventus, dan idola banyak fans—gagal menjaga air mata dan dengan suara bergetar meminta maaf pada fans Italia, semua penonton larut dalam sedih. Gigi—begitu Buffon dipanggil—yang mulai tampak menua dan beruban itu, menjadi simbol betapa fakta tersingkirnya Negara mereka sulit diterima akal sehat: bagaimana mungkin wilayah dengan komposisi pemain lengkap, dianugerahi kiper terbaik di muka bumi, dan memiliki tradisi gelar serta filosofi mendunia, gagal lolos?

Sejenak di sana kita melupakan kegawatan dalam diri sendiri. Empati, pembaca tahu, tak mengenal alamat palsu. Semua layak diberikan, sekalipun kini memberi empati pada kepayahan diri sendiri adalah juga perlu.

Sepakbola memang menyimpan keseksiannya sendiri. Semua darinya menyihir, sebagaimana dalam teori fandom, orang bisa fanatik dan menyalurkan kegilaannya sebagai eskapisme. Abdurrahman Wahid, kolomnis, pemikir Islam terkemuka, dan presiden RI, juga menulis sepakbola. Sejarahwan Rojil Nugroho Bayu Aji, kawan kami yang juga peneliti dan dosen yang gibol-nya sulit ditandingi, bahkan meneliti secara serius tinjauan historis tentang sepakbola dalam negeri, juga hubungannya dengan politik dan ras. Rohaniwan dan budayawan Sindhunata juga menulis berpanjang-panjang kolom tentang bola. Anton Sanjoyo terkenal pula sebagai jurnalis olahraga spesialis sepakbola, bermukim di surat kabar nasional Kompas. Ulasan Pangeran Siahaan juga sering dijadikan rujukan, sebagai penulis yang mewakili kelompok muda.

Pendek kata, semua berhak mengklaim sepakbola sebagai apapun dalam hidupnya: dari hobi, pelarian, bahkan fokus studi. Tepat di sinilah maka sebuah perhatian serius bisa dicurahkan dalam berita trivia, bahwa Italia gagal lolos piala dunia. Bahwa pria yang dulu mengisi masa kecil kita sebagai superhero sepakbola, Buffon, sambil tersedu-sedan mengumumkan pensiunnya. Bahwa seisi bumi seolah berduka.

Di sana orang bebas menarik filosofi, silver lining, hikmah, atau data-data.

Pembaca tentu masih ingat pula, bahwa bejibun soal masih berkerumuk di sini: upaya untuk reformasi federasi sepakbola dalam negeri ternyata sama beratnya dengan mengorganisasikan reformasi politik, nalar despotik masih berkuasa, komersialisasi merajalela, prestasi ciut, kerusuhan masih merebak.

Kegagalan Italia sesungguhnya semakin meneguhkan bahwa kita masih bukan dan belum apa-apa.

Kita selama ini terus berduka, ternyata.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 271

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks