Kepasrahan Hamba-hamba King Mango 0 1544

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Apalah daya rakyat jelata seperti kita di bawah kuasa King Mango? Sihir paduan jus mangga, es serut mangga, whipped cream, serta (lagi-lagi) potongan mangga dalam porsi besar nyatanya lebih hebat dari janji manis politisi dan rayuan gombal gebetan.

Saking spesialnya, menu Big Mango yang amat populer itu dibandrol 50 ribu rupiah. Lebih spesial lagi, harga itu tentu seimbang oleh sajian rasa yang (mungkin) dianggap seakan bahan dasarnya dilempar langsung oleh Sang Kuasa dari langit.

Alternatif minuman mbujukan yang lahir dari negeri Thailand ini kemudian hijrah ke tanah air sejak Juni 2017. Waktu itu, Neo Soho Mall di Jakarta jadi tempat berlabuh pertama. Tentu saja, ribuan bangsa Indonesia yang konsumtif berlomba-lomba mengantre di kios King Mango. Entah memang penggemar berat olahan buah mangga atau sekedar mengikuti tren, sekali mengantre, para konsumen ini rela mengorbankan waktu hingga berjam-jam lamanya yang harusnya bisa mereka gunakan untuk bersantai ria di rumah sambil nonton live event Jokowi Mantu.

Untuk mengatasi hal tersebut, kios King Mango sampai-sampai harus atur strategi perang menghadapi rakyat yang keranjingan. Untuk sebuah toko penjual olahan mangga, mereka menetapkan peraturan satu orang hanya boleh maksimal membeli 3 porsi dan dibayar tunai, sah!

Fakta-fakta di atas belum cukup fantastis bila dibandingkan dengan munculnya tiruan-tiruan King Mango yang mulai merebak. Yah, bukan orang Endonesah namanya jika tidak buat versi kw-nya. Mulai dari ‘Mango Mango’, ‘Go Mango’, hingga ‘Mango Bomb’ yang digadang oleh pasangan romantis sejagad raya Raffi-Nagita. Untuk keseluruhan brand yang namanya macam-macam ini, menunya tetap jus mangga yang harus ditukar dengan lembaran duit bergambar Ir. H. Djuanda Kartawidjaja (atau I Gusti Ngurah Rai di cetakan lamanya).

Beruntungnya, sensasi segar dan manis yang dijanjikan kawan-kawan minuman mangga ini sudah hadir di Surabaya yang panasnya kayak neraka ini. Di sebuah mall beken di Surabaya, Honey Queen Mango sudah hadir menjawab rasa penasaran netijen budiman sejak Oktober ini. Bahkan di sebuah gerai minuman (yang tak perlu disebut namanya), sudah ada menu ‘Kaisar Mango’.

Penulis menyarankan, besok-besok harus ditambahkan ‘Ndoro Pelem’ dalam menu restoran Anda. Pokok harus ada unsur mangga dan sebutan ‘Yang Mulia’ (yang sedikit diberi sentuhan lokal biar terkesan beda).

Semua ke-mangga-mangga-an ini mendadak jadi angin puting beliung yang menerpa siapa saja. Kalau Anda belum pernah mencoba King Mango (atau paling minimal tiruannya), Anda tentu saja termasuk dalam kasta terendah masyarakat dunia, dikucilkan dari pergaulan kece Anda, dan didiskriminasi oleh negara.

Sungguh, pun kehadiran raja mangga ini di lain sisi menghina abang-abang penjual jus pinggiran jalan atau yang numpang gerai di indomaret. Dengan bahan dasar yang sama, seplastik jus mangga (yang mohon maaf kadang lebih banyak kadar es batu dan airnya itu) hanya cukup mencaplok sepuluh ribu Anda (sik onok susuk’e sisan). Atau pun juga ikut menciderai usaha ibu Anda yang malam ini mungkin sedang ngonceki pelem takut keburu busuk (karena sedang musim-musimnya).

Harus lebih teliti dilihat, demam mangga yang sedang menyerang kids jaman now ini tentu tidak hadir dari kesalahan King Mango yang tiba-tiba datang dan menjajah. Refleksi terhadap diri sendiri jadi agenda penting yang harus ditujukan pada kita sebagai sasaran pasar yang empuk.

Jangan sampai, kita menertawai buah mangga yang bisa tumbuh subur di tanah Indonesia ini secara sederhana dijadikan komoditas yang menguntungkan. Tanpa kita sadar, justru kita lah yang sudah jadi komoditas bagi pelaku bisnis dunia.

Para kapitalis itu sadar, Anda dan saya adalah golongan yang mudah ditipu daya oleh mitos penciptaan tren. Kita menelan bulat-bulat fakta: ‘sekarang lagi in banget minuman jus mangga yang harganya tinggi selangit itu’. Kalau besok-besok ada ‘King Bengkoang’, kita juga secara pasrah menghamba padanya.

Dalam prinsip ekonomi global ini, sungguh sebuah kenaifan apabila kita masih percaya bahwa kedaulatan selera pasar ada di tangan kita. Selera berubah bak prinsip demokrasi: dari, oleh, dan untuk pemilik modal. Kita hanya dalih supaya etika pebisnis memihak pada selera publik seakan terpenuhi. Sisanya, kita dihipnotis agar percaya pada selera dan tren perdagangan yang diciptakan oleh lingkaran para elite.

Eits, ini tidak untuk menghina mereka yang sudah terlanjur gandrung mangga-mangga-an. Hanya sebuah saran, barangkali buah-buah lain juga mulai ditengok untuk dijadikan peluang berbisnis dan penciptaan tren berikutnya. Hehe.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bocoran Soal KPU dalam Kesahihan Tata Hukum Debaters 0 137

Di era ini, banyak muncul pekerjaan baru seperti supir ojek online hingga influencer media sosial. Namun, tak sedikit pula pekerjaan lawas yang masih bertahan. Kita patut bersyukur masih bisa menemui loper koran dan teller bank, dua pekerjaan yang kayaknya terancam punah kalau kita terus-terusan semakin menghamba pada virtual.

Selain itu, ditengarai calo penyedia kunci jawaban soal ujian juga masih terus lestari. Selama ujian masih ada, eksistensi mereka tetap abadi!

Namun, juru pembocor soal ini gak laku di Debat Pilpres 17 Januari 2019 besok. Lah wong KPU sudah membocorkan pertanyaan debat pada masing-masing pasangan calon. Kerja panelis merumuskan pertanyaan sudah di ujung deadline. Semuanya demi Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi supaya bisa memelajari contekannya sambil latihan ngomong di depan cermin sebelum bertemu Ira Koesno dan Imam Priyono di panggung “panas” nanti.

Keputusan KPU ini lantas menuai pro-kontra. Mulai dari drama antar tim pemenangan yang menjemukan, hingga netizen yang selalu hobi sekadar mengingatkan. Simpulnya, KPU dinilai tidak bijak.  Peserta debat jadi tidak benar-benar teruji. Segala dalih KPU ngalor-ngidul yang katanya ingin ‘mengedepankan konten debat, bukan show’ dimentahkan sudah. ‘Ra mashok blas!

Sesungguhnya, kebijakan KPU ini lahir karena fenomena lebih melekatnya di benak kita ketokohan paslon ketimbang visi-misinya. Kita lebih tahu “Game of Thrones-nya Jokowi dan Prabowo ikut natalan ketimbang program kerja yang ditawarkan keduanya. Miris!

Namun, di luar itu, masyarakat kita memang naturnya punya tingkat kepedulian yang tinggi. Saking tingginya, segala macam benda baik yang hidup maupun mati jadi sasaran omelan. Jadi, tidak perlu heran jika bocoran soal KPU ini pun jadi bahan nyinyir. Lah wong warna celana dalam mbak-mbak ayu saja habis dimakan kok.

Padahal memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat sangatlah lumrah. Dalam tata hukum debaters, sebut saja dalam dapur Asian Parliamentary, ada dua macam mosi debat yaitu prepared motion dan impromptu motion.

Prepared motion adalah mosi atau topik debat yang diberitahukan jauh sebelum perdebatan dilangsungkan. Kalau dalam lomba, biasanya separah-parahnya akan diberikan dua atau tiga hari sebelum. Jadi peserta dimungkinkan untuk riset dari berbagai literatur, fisik maupun internet.

Sedangkan impromptu motion maksudnya adalah topik debat spontan, diberikan beberapa menit sebelum memulai debat. Iya, udah macem pacar yang ngasih surprise birthday present, bikin deg-degan isinya. Kita tidak pernah tahu akan dapat topik debat yang seperti apa, walaupun tidak terlepas dari lingkup tema. Walau begitu, akan tetap ada waktu case building bagi peserta, alias mempersiapkan kerangka dan strategi bicara.

Wah berarti lebih gampang yang prepared motion dong ya daripada impromptu? Lah rumangsamu!

Keduanya punya level tantangan yang berbeda. Prepared motion tentu menuntut ketepatan data dan kedalaman analisa. Karena sudah diberi waktu yang lebih untuk mempersiapkan, nek pancet debate ora cetha yo nemen! Demikian pula impromptu motion memang menggoda seluas apa wawasan yang dimiliki peserta debat, serta kepandaian menyusun logika dan taktik “perang” dalam sempitnya waktu.

Kalau dalam debat, tipe mosi manakah yang paling sering dipakai? Jawabannya adalah dua-duanya. Seimbang. Sama seperti Tuhan ketika menjawab doamu, kadang dikabulkan, kadang bodo amat, hehe. Nah, jika penerapan dua tipe mosi ini berlaku di lomba-lomba debat anak sekolahan, memangnya nggak boleh KPU melakukan hal serupa? Makanya, kita ini jadi netizen jangan kayak doi kalau lagi marah, nggak mau denger penjelasan dulu.

Seperti biasa, debat terbuka capres-cawapres akan terbagi menjadi beberapa termin mulai dari visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, debat antar paslon, hingga closing statement. Nah yang disodorkan adalah pertanyaan panelis sejumlah lima buah. Sedangkan pada sistem di hari H nanti, pasangan calon akan mengambil undian dan hanya mendapatkan salah satu pertanyaan. Mau nggak mau mereka harus mempersiapkan jawaban terbaik dari kelimanya, karena nggak tahu bakal dapat pertanyaan yang mana. Jadi, walaupun prepared motion juga gak segampang itu Fergusso!

Toh masih ada pula sesi saling bertanya antar paslon. Nah, ini termasuk tipe pertanyaan impromptu. Mosok ya mereka janjian pertanyaan dulu kalau sudah begitu.

Mbok jangan suudzon dulu! Jangan-jangan personil KPU tipenya humoris, suka ngasih prank. Dikasih kisi-kisi lima, taunya yang keluar soal nomor enam, yaaahh kena deh! Persis seperti kamu yang dulu merasa diplokothoi sama kisi-kisi soal UNAS.

Intinya, janganlah kita ini suka menyalahkan, apalagi menyalahkan KPU. Sakno lho, mumet ndas’e! Persoalan kardus suara pun sudah kamu jadikan bahan olok, sekarang ditambah lagi. Jahat memang kalian, hiks. 🙁

Pokoknya, apapun kata netizen, kami segenap debaters siap pasang badan untuk membela KPU! Dengan ini, kami telah menyatakan, sistem debat KPU ini sudah sesuai dengan tata hukum debaters yang berlaku.

Nasib Naas Jerman yang Dilibas KorSel 0 185

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Per 27 Juni, tepatnya sejak Panser Jerman keok dilibas Oppa Korea Selatan di Piala Dunia, ada beberapa perubahan besar dalam persepakbolaan – dan mungkin juga – sejarah dunia.

Bagaimana tidak? Jerman adalah petahana Piala Dunia 2014. Kualitas pemain teruji dan track record merumput di Piala Dunia tidak perlu diragukan lagi. Sang langganan semifinal sejak 1938. Setidak-tidaknya kita berharap tinggi musti lolos 16 besar. Boleh dibilang wonder team. Uber alles deh pokoknya. Sedang lawannya, Taeguk Warriors asal Korea Selatan sama sekali antitesis semua itu. No offense loh, Oppa 🙁

Akal sehat jelas memprediksi kemenangan mudah Die Mannschaft atas Taeguk Warriors. Lah ndalah, njeketek, eng ing eng… Kenyataannya Jerman keok, plonga-plongo dihabisi Korea Selatan. Skor telak, 2-0. Gak mashookkk!

Dari awal sebenarnya posisi Jerman terbaca. Tiket melaju ke babak lanjutan dipertaruhkan, maka mereka menyerang terus. Kemungkinan tipis untuk lolos perlu dikejar. Sedang Korsel oleh karena dua kekalahan sebelumnya kontra Swedia dan Meksiko, sudah pasti angkat kaki meski menang atau kalah lawan Jerman malam itu. Tapi toh Korsel tetap on-fire, sampai peluit panjang mereka solid bertahan terus. Dari sini, kita mudah membaca siapa yang ngoyo dan siapa yang got nothing to lose.

Sepanjang pertandingan, Jerman betul menyerang tapi meleset melulu. Entah tidak cocok dengan angin di Rusia apa bagaimana. Melelahkan melihat permainan Jerman, gol tidak kunjung dibuat. Peluang banyak terbuang.

Apa karena ekspektasi penonton yang terlalu tinggi? Apa karena Jerman terlalu percaya diri?? Atau apakah memang mitos kutukan petahana pildun itu nyata adanya? Apakah Jerman memang ditakdirkan bernasib sama seperti Italia, Belanda, dan Spanyol? Sukses angkat trofi juara dunia lalu gagal mempertahankannya gelarnya? Saking mengerikannya kutukan itu, petahana bisa tersepak bahkan saat masih fase penyisihan grup.

Salam saya untuk kiper Korea yang telah bolak-balik menyelamatkan gawang. Juga pada pemain Korea sekalian yang dengan ciamik menghalau bola masuk jaring. Sampai paruh pertama, telur belum juga pecah. Pertahanan Korea Selatan belum bisa dikoyak. Menit ke-60 sekian, keadaan makin genting. Jerman tidak kunjung membuat angka, tiket lanjut dan mempertahankan gelar jadi terasa jauh. (Sebentar, nasib buruk ini apakah karena Jerman bermain di tanah Rusia? Saat Perang Dunia Kedua mereka kan…. *mulai cocoklogi).

Ritme permainan semakin terasa berat dan mendebarkan saat memasuki waktu tambahan. Jerman sudah kepayahan dan putus asa, permainan makin kacau. Korea Selatan konsisten dan merebut momentum lalu berhasil memecah kebuntuan. Skor satu untuk Korea Selatan. Rekaman Video Assistant Referees (VAR) dipakai untuk memutuskan apa gol itu sah atau tidak, sebab awalnya dikira off-side oleh wasit. Selebrasi Korsel bikin Jerman makin kalang kabut. Padahal pemain bintangnya turun. Mueller, Gomez, Oezil, dan Khedira dikerahkan agar segera cetak skor.

Tembakan banyak yang meleset. Terasa moril Jerman sudah merosot. Sampai-sampai, kiper Jerman, Neuer, meninggalkan pos jaganya. Mungkin karena sumpek rekan satu timnya tidak kunjung mencetak skor. Dirinya ikut merumput sampai begitu dekat dengan gawang Korea Selatan. Waktu tambahan sisa satu menit. Korea Selatan kembali mengoyak gawang Jerman yang ditinggalkan tak dijaga itu. Gol kembali dibuat.

Remek dan nelangsa lah Jerman diinjak Korea Selatan. Sisa waktu tidak cukup untuk membuat keajaiban. Panser kita angkat kaki. Kutukan telah tuntas terlaksana. Taeguk Warriors kalah, tapi bakal pulang ke negeranya dan disambut bak pahlawan.

Oppa dan Hyung telah menindas habis bule-bule Eropa itu. Sejarah telah mencatat itu. Daebak! Kemenangan atas Jerman juga berarti telah terjadi kemajuan pada persepakbolaan Korea Selatan di kancah dunia. Mereka telah jadi simbol untuk persebakbolaan Asia. Kini, mereka tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Terbukti pertahanan Korea jelas rapi dan mampu mengimbangi Jerman yang terus menyerang. Tidak kalah kualitas dengan si Panser.

Saya sendiri pendukung Jerman, tapi jujur diam-diam menantikan Korea Selatan menjebol gawang Jerman. Mungkin karena saya merasa terwakili sebagai sesama Asia. Sebab kan selama ini sepak bola rasa-rasanya hanya milik Eropa dan Amerika Latin. Ya kan, tim-tim itu saja toh yang menang. Tim-tim itu lagi yang dijagokan.

Boleh jadi, ini pecut untuk Indonesia agar empat tahun lagi bisa lolos kualifikasi Piala Dunia, lalu mungkin mampu menang telak 2-0 atas Inggris atau Spanyol. Siapa tahu?

Tanpa muluk-muluk, mungkin uji coba dulu dengan sapu bersih kemenangan di Asian Games tahun ini?

*Penulis adalah mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi Surabaya. Doyan nonton dan traktiran.

Editor Picks