Kepasrahan Hamba-hamba King Mango 0 2445

Apalah daya rakyat jelata seperti kita di bawah kuasa King Mango? Sihir paduan jus mangga, es serut mangga, whipped cream, serta (lagi-lagi) potongan mangga dalam porsi besar nyatanya lebih hebat dari janji manis politisi dan rayuan gombal gebetan.

Saking spesialnya, menu Big Mango yang amat populer itu dibandrol 50 ribu rupiah. Lebih spesial lagi, harga itu tentu seimbang oleh sajian rasa yang (mungkin) dianggap seakan bahan dasarnya dilempar langsung oleh Sang Kuasa dari langit.

Alternatif minuman mbujukan yang lahir dari negeri Thailand ini kemudian hijrah ke tanah air sejak Juni 2017. Waktu itu, Neo Soho Mall di Jakarta jadi tempat berlabuh pertama. Tentu saja, ribuan bangsa Indonesia yang konsumtif berlomba-lomba mengantre di kios King Mango. Entah memang penggemar berat olahan buah mangga atau sekedar mengikuti tren, sekali mengantre, para konsumen ini rela mengorbankan waktu hingga berjam-jam lamanya yang harusnya bisa mereka gunakan untuk bersantai ria di rumah sambil nonton live event Jokowi Mantu.

Untuk mengatasi hal tersebut, kios King Mango sampai-sampai harus atur strategi perang menghadapi rakyat yang keranjingan. Untuk sebuah toko penjual olahan mangga, mereka menetapkan peraturan satu orang hanya boleh maksimal membeli 3 porsi dan dibayar tunai, sah!

Fakta-fakta di atas belum cukup fantastis bila dibandingkan dengan munculnya tiruan-tiruan King Mango yang mulai merebak. Yah, bukan orang Endonesah namanya jika tidak buat versi kw-nya. Mulai dari ‘Mango Mango’, ‘Go Mango’, hingga ‘Mango Bomb’ yang digadang oleh pasangan romantis sejagad raya Raffi-Nagita. Untuk keseluruhan brand yang namanya macam-macam ini, menunya tetap jus mangga yang harus ditukar dengan lembaran duit bergambar Ir. H. Djuanda Kartawidjaja (atau I Gusti Ngurah Rai di cetakan lamanya).

Beruntungnya, sensasi segar dan manis yang dijanjikan kawan-kawan minuman mangga ini sudah hadir di Surabaya yang panasnya kayak neraka ini. Di sebuah mall beken di Surabaya, Honey Queen Mango sudah hadir menjawab rasa penasaran netijen budiman sejak Oktober ini. Bahkan di sebuah gerai minuman (yang tak perlu disebut namanya), sudah ada menu ‘Kaisar Mango’.

Penulis menyarankan, besok-besok harus ditambahkan ‘Ndoro Pelem’ dalam menu restoran Anda. Pokok harus ada unsur mangga dan sebutan ‘Yang Mulia’ (yang sedikit diberi sentuhan lokal biar terkesan beda).

Semua ke-mangga-mangga-an ini mendadak jadi angin puting beliung yang menerpa siapa saja. Kalau Anda belum pernah mencoba King Mango (atau paling minimal tiruannya), Anda tentu saja termasuk dalam kasta terendah masyarakat dunia, dikucilkan dari pergaulan kece Anda, dan didiskriminasi oleh negara.

Sungguh, pun kehadiran raja mangga ini di lain sisi menghina abang-abang penjual jus pinggiran jalan atau yang numpang gerai di indomaret. Dengan bahan dasar yang sama, seplastik jus mangga (yang mohon maaf kadang lebih banyak kadar es batu dan airnya itu) hanya cukup mencaplok sepuluh ribu Anda (sik onok susuk’e sisan). Atau pun juga ikut menciderai usaha ibu Anda yang malam ini mungkin sedang ngonceki pelem takut keburu busuk (karena sedang musim-musimnya).

Harus lebih teliti dilihat, demam mangga yang sedang menyerang kids jaman now ini tentu tidak hadir dari kesalahan King Mango yang tiba-tiba datang dan menjajah. Refleksi terhadap diri sendiri jadi agenda penting yang harus ditujukan pada kita sebagai sasaran pasar yang empuk.

Jangan sampai, kita menertawai buah mangga yang bisa tumbuh subur di tanah Indonesia ini secara sederhana dijadikan komoditas yang menguntungkan. Tanpa kita sadar, justru kita lah yang sudah jadi komoditas bagi pelaku bisnis dunia.

Para kapitalis itu sadar, Anda dan saya adalah golongan yang mudah ditipu daya oleh mitos penciptaan tren. Kita menelan bulat-bulat fakta: ‘sekarang lagi in banget minuman jus mangga yang harganya tinggi selangit itu’. Kalau besok-besok ada ‘King Bengkoang’, kita juga secara pasrah menghamba padanya.

Dalam prinsip ekonomi global ini, sungguh sebuah kenaifan apabila kita masih percaya bahwa kedaulatan selera pasar ada di tangan kita. Selera berubah bak prinsip demokrasi: dari, oleh, dan untuk pemilik modal. Kita hanya dalih supaya etika pebisnis memihak pada selera publik seakan terpenuhi. Sisanya, kita dihipnotis agar percaya pada selera dan tren perdagangan yang diciptakan oleh lingkaran para elite.

Eits, ini tidak untuk menghina mereka yang sudah terlanjur gandrung mangga-mangga-an. Hanya sebuah saran, barangkali buah-buah lain juga mulai ditengok untuk dijadikan peluang berbisnis dan penciptaan tren berikutnya. Hehe.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 144

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Asmara Putra Presiden dan Kita yang Suka Kepo 0 279

Kaesang selingkuh??!!

Ini sih bukan cuma bahan omongan netijen di media sosial, tapi juga persoalan kita semua!

Persoalan ini menempati posisi teratas trending topic di linimasa media sosial. Bermula dari unggahan akun gosip junjungan kita semua, Lambe Turah, dan dikonfirmasi oleh beberapa postingan feed dan story akun melia_lau yang merupakan ibunda dari Felicia, pacarnya Mas Kaesang.

Pendek cerita, Kaesang dinyatakan menghilang tanpa kabar alias ghosting, lalu ketahuan jalan dengan perempuan lain. Naasnya, perempuan lain itu pegawainya sendiri. Bilang WOW gak nih?

Oh, betapa runyamnya persoalan ini bagi bangsa dan negara. Mendadak kita semua mengurusi persoalan asmara putra presiden. Setelah ini, wartawan infotainment yang brutal itu akan menyerbu istana, menghujani Jokowi dengan pertanyaaan personal seputar anak bungsunya.

Untuk sementara, istana hanya akan sibuk menjawabi persoalan ini, dan melupakan penanganan corona, atau urusan Moeldoko dan Demokrat.

Tapi, menurut hemat penulis, setidaknya ada sejumlah poin andai-andai yang bisa diserap dari peristiwa ini.

 

Kalau saja selingkuhnya di tempat yang tepat

Kata teman-teman saya sih, tempat terbaik di ibukota untuk selingkuh adalah Kuningan City. Konon, mal ini selalu sepi walau akhir pekan. Pun di dalamnya disewa oleh tenant ternama dengan harga diskon semua. Niscaya selingkuh aman dan hemat jika mbaké minta dibelikan baju baru.

Atau di Blok M misalnya. Pusat belanja yang hampir sekarat. Di mana penjualnya hanya fokus melariskan dagangan, tak peduli siapa yang sedang kencan, entah beneran pasangan atau simpanan.

Kalau di Surabaya, Anda bisa mengajak mbaké ke DTC. Bisa sekalian blusukan pelaku UMKM yang sesungguhnya. Siapa tahu mau studi banding.

Sayangnya, Mas Kaesang, kita ini memang hidup di zaman edan. Pacaran dengan pacar orang kurang afdol rasanya jika belum diposting ke media sosial, entah untuk apa tujuannya. Mungkin, untuk menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan khalayak.

 

Kalau saja Kaesang bukan anak pleciden

Pasti kisah drama asmara ini akan biasa-biasa saja. Kaesang juga hanyalah mas-mas biasa usia 20-an yang suka main mobel lejen dan papji. Tapi status sebagai anak orang nomor satu di Indonesia ini menjadikan beban moral berat harus ditanggungnya.

Padahal, semua hubungan tentu punya masalah dan bisa saja menemui akhirnya. Semua dari kita pasti pernah mengalami ghosting, baik jadi korban atau pelakunya. Kaesang pun manusia adanya, yang bisa mengalami hal-hal tersebut. Bukan karena anak presiden, terus Kaesang jadi manusia paling sempurna dan idaman.

Kita semua ini kan pernah berdosa, cuma belum ketahuan boroknya aja. Tapi ya beginilah tabiat kita menjadi manusia. Menghakimi, menghujat, seakan-akan kita orang paling benar di dunia.

 

Kalau saja semua ini hanya prank

Siapa tahu kan, Kaesang butuh ide konten baru di akun Youtube-nya. Siapa tahu semua drama ini memang disiapkan untuk melamar Felicia di Desember 2021, seperti yang dijanjikannya pada keluarga.

Atta dan Aurel saja habis putus tiba-tiba mengumumkan pernikahan. Siapa tahu kan, yang satu ini juga bernasib demikian.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks