Kepasrahan Hamba-hamba King Mango 0 1709

Apalah daya rakyat jelata seperti kita di bawah kuasa King Mango? Sihir paduan jus mangga, es serut mangga, whipped cream, serta (lagi-lagi) potongan mangga dalam porsi besar nyatanya lebih hebat dari janji manis politisi dan rayuan gombal gebetan.

Saking spesialnya, menu Big Mango yang amat populer itu dibandrol 50 ribu rupiah. Lebih spesial lagi, harga itu tentu seimbang oleh sajian rasa yang (mungkin) dianggap seakan bahan dasarnya dilempar langsung oleh Sang Kuasa dari langit.

Alternatif minuman mbujukan yang lahir dari negeri Thailand ini kemudian hijrah ke tanah air sejak Juni 2017. Waktu itu, Neo Soho Mall di Jakarta jadi tempat berlabuh pertama. Tentu saja, ribuan bangsa Indonesia yang konsumtif berlomba-lomba mengantre di kios King Mango. Entah memang penggemar berat olahan buah mangga atau sekedar mengikuti tren, sekali mengantre, para konsumen ini rela mengorbankan waktu hingga berjam-jam lamanya yang harusnya bisa mereka gunakan untuk bersantai ria di rumah sambil nonton live event Jokowi Mantu.

Untuk mengatasi hal tersebut, kios King Mango sampai-sampai harus atur strategi perang menghadapi rakyat yang keranjingan. Untuk sebuah toko penjual olahan mangga, mereka menetapkan peraturan satu orang hanya boleh maksimal membeli 3 porsi dan dibayar tunai, sah!

Fakta-fakta di atas belum cukup fantastis bila dibandingkan dengan munculnya tiruan-tiruan King Mango yang mulai merebak. Yah, bukan orang Endonesah namanya jika tidak buat versi kw-nya. Mulai dari ‘Mango Mango’, ‘Go Mango’, hingga ‘Mango Bomb’ yang digadang oleh pasangan romantis sejagad raya Raffi-Nagita. Untuk keseluruhan brand yang namanya macam-macam ini, menunya tetap jus mangga yang harus ditukar dengan lembaran duit bergambar Ir. H. Djuanda Kartawidjaja (atau I Gusti Ngurah Rai di cetakan lamanya).

Beruntungnya, sensasi segar dan manis yang dijanjikan kawan-kawan minuman mangga ini sudah hadir di Surabaya yang panasnya kayak neraka ini. Di sebuah mall beken di Surabaya, Honey Queen Mango sudah hadir menjawab rasa penasaran netijen budiman sejak Oktober ini. Bahkan di sebuah gerai minuman (yang tak perlu disebut namanya), sudah ada menu ‘Kaisar Mango’.

Penulis menyarankan, besok-besok harus ditambahkan ‘Ndoro Pelem’ dalam menu restoran Anda. Pokok harus ada unsur mangga dan sebutan ‘Yang Mulia’ (yang sedikit diberi sentuhan lokal biar terkesan beda).

Semua ke-mangga-mangga-an ini mendadak jadi angin puting beliung yang menerpa siapa saja. Kalau Anda belum pernah mencoba King Mango (atau paling minimal tiruannya), Anda tentu saja termasuk dalam kasta terendah masyarakat dunia, dikucilkan dari pergaulan kece Anda, dan didiskriminasi oleh negara.

Sungguh, pun kehadiran raja mangga ini di lain sisi menghina abang-abang penjual jus pinggiran jalan atau yang numpang gerai di indomaret. Dengan bahan dasar yang sama, seplastik jus mangga (yang mohon maaf kadang lebih banyak kadar es batu dan airnya itu) hanya cukup mencaplok sepuluh ribu Anda (sik onok susuk’e sisan). Atau pun juga ikut menciderai usaha ibu Anda yang malam ini mungkin sedang ngonceki pelem takut keburu busuk (karena sedang musim-musimnya).

Harus lebih teliti dilihat, demam mangga yang sedang menyerang kids jaman now ini tentu tidak hadir dari kesalahan King Mango yang tiba-tiba datang dan menjajah. Refleksi terhadap diri sendiri jadi agenda penting yang harus ditujukan pada kita sebagai sasaran pasar yang empuk.

Jangan sampai, kita menertawai buah mangga yang bisa tumbuh subur di tanah Indonesia ini secara sederhana dijadikan komoditas yang menguntungkan. Tanpa kita sadar, justru kita lah yang sudah jadi komoditas bagi pelaku bisnis dunia.

Para kapitalis itu sadar, Anda dan saya adalah golongan yang mudah ditipu daya oleh mitos penciptaan tren. Kita menelan bulat-bulat fakta: ‘sekarang lagi in banget minuman jus mangga yang harganya tinggi selangit itu’. Kalau besok-besok ada ‘King Bengkoang’, kita juga secara pasrah menghamba padanya.

Dalam prinsip ekonomi global ini, sungguh sebuah kenaifan apabila kita masih percaya bahwa kedaulatan selera pasar ada di tangan kita. Selera berubah bak prinsip demokrasi: dari, oleh, dan untuk pemilik modal. Kita hanya dalih supaya etika pebisnis memihak pada selera publik seakan terpenuhi. Sisanya, kita dihipnotis agar percaya pada selera dan tren perdagangan yang diciptakan oleh lingkaran para elite.

Eits, ini tidak untuk menghina mereka yang sudah terlanjur gandrung mangga-mangga-an. Hanya sebuah saran, barangkali buah-buah lain juga mulai ditengok untuk dijadikan peluang berbisnis dan penciptaan tren berikutnya. Hehe.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Kamuh yang Anti Incess Syahrini 0 325

Sebagai tim pembela Syahrini yang fanatik, akhirnya saya toh harus angkat bicara. Saya tak punya kalimat pembuka yang paling kuat selain manifesto ini: kamuh-kamuh yang dibeking Luna Maya itu sudah melakukan penistaan kelas berat kepada Princess kami!

Bagaimana mungkin cinta Princess diatur-atur? Bukankah Aa Reino Barack sudah memberi komitmennya kepada Incess kami dan bukan Luna Maya[k]?

Sini, kuberitahu pelajaran berharga dan prinsip nomor satu: manusia tak punya kekuatan barang sedikitpun untuk menyetir cinta sesamanya. Tak pernah ada agama yang berani memasang badan untuk sebuah keyakinan atas Tuhan yang melepaskan diri dari tanggung jawab atas perasaan dan hati umatnya. Bahkan Habibana Rizieq saja, di masa belio masih sehat dan bebas (ehem), tak pernah menggugat soal ini.

Oh ya, lupa, tapi ini dengan asumsi bahwa ikatan Syahrini-Reino sungguh karena cinta loh yaa. Dan tentu saja saya harus yakin bahwa cinta mereka sungguhlah ada dan bukan sekadar rupiah belaka. BUKAN SEKADAR.

Sudahlah, mending situ kembali ke habitat nggak mutu dan ekosistem receh yang sudah situ hidupi bertahun-tahun. Dari orang-orang macam ini, yang hidupnya Senin-Kemis itu, apa kapasitasnya mengomentari—apalagi menista—junjungan kami Fatimah Syahrini Jaelani yang termasyhur? Hidupnya berantakan kok berani-berani menakar kadar cinta idola? Apakah mereka tak pernah menghayati lagu “Sesuatuuuuu” yang sungguh populer di kalangan [k]anak muda itu?

Telah terpampang nyata dalam khatulistiwa perasaan seluruh umat Indonesia bahwa Incess adalah salah seorang yang amat berpengaruh. Dan pengaruh itu merentang sampai pada bagaimana kita menyibukkan diri dalam menolak atau membelanya. Merepotkan diri dalam nyinyir dan puja-puji. Seperti surat terbuka ini…

(Surat ini dibuka dengan gairah menyala tapi ditutup dengan loyo… Sudahlah, namanya juga hidup: antara pesona dan derita kadang beda tipis bingit).

 

Salam hangat,

dari pemuja Syahrini di suatu sore yang murungnya mewakili hati Luna Maya. (Bingung yo ben.)

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 299

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Editor Picks