Kepasrahan Hamba-hamba King Mango 0 2141

Apalah daya rakyat jelata seperti kita di bawah kuasa King Mango? Sihir paduan jus mangga, es serut mangga, whipped cream, serta (lagi-lagi) potongan mangga dalam porsi besar nyatanya lebih hebat dari janji manis politisi dan rayuan gombal gebetan.

Saking spesialnya, menu Big Mango yang amat populer itu dibandrol 50 ribu rupiah. Lebih spesial lagi, harga itu tentu seimbang oleh sajian rasa yang (mungkin) dianggap seakan bahan dasarnya dilempar langsung oleh Sang Kuasa dari langit.

Alternatif minuman mbujukan yang lahir dari negeri Thailand ini kemudian hijrah ke tanah air sejak Juni 2017. Waktu itu, Neo Soho Mall di Jakarta jadi tempat berlabuh pertama. Tentu saja, ribuan bangsa Indonesia yang konsumtif berlomba-lomba mengantre di kios King Mango. Entah memang penggemar berat olahan buah mangga atau sekedar mengikuti tren, sekali mengantre, para konsumen ini rela mengorbankan waktu hingga berjam-jam lamanya yang harusnya bisa mereka gunakan untuk bersantai ria di rumah sambil nonton live event Jokowi Mantu.

Untuk mengatasi hal tersebut, kios King Mango sampai-sampai harus atur strategi perang menghadapi rakyat yang keranjingan. Untuk sebuah toko penjual olahan mangga, mereka menetapkan peraturan satu orang hanya boleh maksimal membeli 3 porsi dan dibayar tunai, sah!

Fakta-fakta di atas belum cukup fantastis bila dibandingkan dengan munculnya tiruan-tiruan King Mango yang mulai merebak. Yah, bukan orang Endonesah namanya jika tidak buat versi kw-nya. Mulai dari ‘Mango Mango’, ‘Go Mango’, hingga ‘Mango Bomb’ yang digadang oleh pasangan romantis sejagad raya Raffi-Nagita. Untuk keseluruhan brand yang namanya macam-macam ini, menunya tetap jus mangga yang harus ditukar dengan lembaran duit bergambar Ir. H. Djuanda Kartawidjaja (atau I Gusti Ngurah Rai di cetakan lamanya).

Beruntungnya, sensasi segar dan manis yang dijanjikan kawan-kawan minuman mangga ini sudah hadir di Surabaya yang panasnya kayak neraka ini. Di sebuah mall beken di Surabaya, Honey Queen Mango sudah hadir menjawab rasa penasaran netijen budiman sejak Oktober ini. Bahkan di sebuah gerai minuman (yang tak perlu disebut namanya), sudah ada menu ‘Kaisar Mango’.

Penulis menyarankan, besok-besok harus ditambahkan ‘Ndoro Pelem’ dalam menu restoran Anda. Pokok harus ada unsur mangga dan sebutan ‘Yang Mulia’ (yang sedikit diberi sentuhan lokal biar terkesan beda).

Semua ke-mangga-mangga-an ini mendadak jadi angin puting beliung yang menerpa siapa saja. Kalau Anda belum pernah mencoba King Mango (atau paling minimal tiruannya), Anda tentu saja termasuk dalam kasta terendah masyarakat dunia, dikucilkan dari pergaulan kece Anda, dan didiskriminasi oleh negara.

Sungguh, pun kehadiran raja mangga ini di lain sisi menghina abang-abang penjual jus pinggiran jalan atau yang numpang gerai di indomaret. Dengan bahan dasar yang sama, seplastik jus mangga (yang mohon maaf kadang lebih banyak kadar es batu dan airnya itu) hanya cukup mencaplok sepuluh ribu Anda (sik onok susuk’e sisan). Atau pun juga ikut menciderai usaha ibu Anda yang malam ini mungkin sedang ngonceki pelem takut keburu busuk (karena sedang musim-musimnya).

Harus lebih teliti dilihat, demam mangga yang sedang menyerang kids jaman now ini tentu tidak hadir dari kesalahan King Mango yang tiba-tiba datang dan menjajah. Refleksi terhadap diri sendiri jadi agenda penting yang harus ditujukan pada kita sebagai sasaran pasar yang empuk.

Jangan sampai, kita menertawai buah mangga yang bisa tumbuh subur di tanah Indonesia ini secara sederhana dijadikan komoditas yang menguntungkan. Tanpa kita sadar, justru kita lah yang sudah jadi komoditas bagi pelaku bisnis dunia.

Para kapitalis itu sadar, Anda dan saya adalah golongan yang mudah ditipu daya oleh mitos penciptaan tren. Kita menelan bulat-bulat fakta: ‘sekarang lagi in banget minuman jus mangga yang harganya tinggi selangit itu’. Kalau besok-besok ada ‘King Bengkoang’, kita juga secara pasrah menghamba padanya.

Dalam prinsip ekonomi global ini, sungguh sebuah kenaifan apabila kita masih percaya bahwa kedaulatan selera pasar ada di tangan kita. Selera berubah bak prinsip demokrasi: dari, oleh, dan untuk pemilik modal. Kita hanya dalih supaya etika pebisnis memihak pada selera publik seakan terpenuhi. Sisanya, kita dihipnotis agar percaya pada selera dan tren perdagangan yang diciptakan oleh lingkaran para elite.

Eits, ini tidak untuk menghina mereka yang sudah terlanjur gandrung mangga-mangga-an. Hanya sebuah saran, barangkali buah-buah lain juga mulai ditengok untuk dijadikan peluang berbisnis dan penciptaan tren berikutnya. Hehe.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keterancaman Klepon yang Tak Islami 0 251

Kejutan deklaratif dari satu akun media sosial tentang pengumuman penting, bahwa klepon adalah jajanan “tak Islami”, menggegerkan orang banyak. Sebagian besarnya tentu saja mempertanyakan dengan nada nyinyir tapi juga was-was: apakah kita sepengangguran itu hingga menyoal sebuah objek tak penting dengan klaim biner Islami dan tak Islami? Apa kehabisan alternatip membahas yang lain, yang important-important aja gitu?

Eittsss. Maap, sekadar mengingatkan. Klepon adalah subjek maha-penting. Ia berdiri mewarisi ingatan kolektif populasi, mengantarai kenangan-kenangan bertetangga dan pulang kampung. Ia barang sederhana yang ditumpangi oleh bejibun kepentingan pertemuan, kenduren, rapat-rapat, dan bingkisan hangat — itu sebabnya, klepon juga bagian penting dari peristiwa kebudayaan. Singkatnya, klepon adalah pantulan diri kita sendiri. Menyebutnya sebagai tidak penting tentu adalah penyederhanaan dan ketakpahaman tentang hakikat rasa dan ikatan peristiwa.

Lalu, tentang klaim tak Islami. Kau tahu, resep berjualan praktis dan taktis kini sering mengawinkan apapun dengan agama: hotel Syariah, pariwisata Islami, bank Syariah, kredit umat (sebuah peristilahan yang sangat membingungkan), gadai Syariah dan tentu saja termasuk jajanan Islami.

Maka, kemegahan klepon sebagai barang maha-penting hanya bisa dikalahkan secara ekonomi dengan melabelinya sebagai yang lain, yang asing, yang ‘bukan Islam’. Seolah-olah kompetisi melawan klepon — seperti halnya politik — hanya dapat dimenangkan dengan jurus agama. Masih ingat dengan Inul Daratista? Ia harus dihajar dengan ‘goyang ngebor tak bermoral’ sekadar untuk menghabisinya dari puncak daftar lagu paling laku saat itu.

Tapi lalu tatkala dilacak muasal geger ini, tak ditemukan akun yang tersemat dalam gambar provokatif iklan klepon. Antara lenyap atau palsu. Dan, sebagaimana biasanya, segera muncul spekulasi bahwa ini adalah cara-cara licik untuk mendiskreditkan umat Islam. Sebuah pemikiran yang dapat saja diterima, meski tak kalah ganjilnya.

Keanehan terbesarnya adalah mengapa kita menjadi begitu mendarahdagingkan corak berpikir Islam dan bukan Islam, kelompok sana dan kelompok sini. Seolah-olah Islam senantiasa berada dalam keterancaman dari luar yang gawat, yang sangat genting dan berisiko membinasakan. Semua hal yang tak sesuai, berbeda, apalagi melawan, akan segera masuk kotak sebagai “mereka yang mengancam”, hal-hal yang nista dan patut diberi pelajaran.

Pada saat yang sama, ada semacam kesadaran bahwa kita mempersepsi diri sebagai kelompok yang sangat rapuh ringkih, yang mudah goyah oleh sesuatu yang berbeda. Kita paranoid dengan apa saja yang dikemas dengan agama. Kita ketakutan pada manipulasi postingan klepon hingga mengancam pelakunya sebagai mendiskreditkan Islam!

Kau kenal PKI? Yang katanya ateis itu? Berpuluh-puluh tahun punah, terlarang, dan dibunuh, tapi ada orang percaya bahwa 60 juta PKI masih hidup di Indonesia. Kita dibentuk dan dibesarkan oleh keyakinan politis bahwa eksistensi kita akan selalu rentan. Terhadap apapun yang diyakini berbahaya.

Mungkin saja ada benarnya, bahwa ada bahaya di luar sana. Bahwa ada upaya sistematis kebangkitan PKI, bahwa ada strategi rapi untuk melemahkan umat. Tapi, kita perlahan lupa hidup untuk apa. Terlampau sibuk mengutuki (hantu?) apa-apa saja yang dirasa tajam mengancam.

Dan yang jauh lebih gawat dari itu: kita larut pada bentukan-bentukan arah politik para elite nun jauh di sana. Kau tahu, mereka-mereka ini rajin sekali membentuk opini. Mereka harus membuatmu yakin terhadap musuh tertentu, agar kau menyatu bersama kau-kau yang lain, membentuk sekumpulan yang solid dan akan segera diklaim sebagai “dukungan politik” bagi elite yang memulai isu tersebut.

Kita seolah-olah dipersatukan sebagai umat yang melawan hal-hal tak “Islami”, tapi pada akhirnya, kita dilihat sebagai sekumpulan pemilik suara, digembalakan oleh pemandu yang mahir mengawin-ngawinkan apapun dengan agama. Untuk dukungan politik. Untuk pemilu lalu dan nanti tentu saja.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Lawakan Jerome Polin yang Melawan Stigma Ilmu Eksak 0 203

Ada banyak hal di dunia ini yang bisa membuat kita tertawa. Percaya atau tidak, salah satunya adalah matematika. Bukan, bukan menertawakan nilai matematika kita saat sekolah. Namun, matematika – monster dalam kehidupan banyak orang – juga bisa dijadikan bahan lawakan untuk menghibur manusia lain.

Jerome Polin, seorang laki-laki muda dengan kelebihan sel otak bagian menghitung, adalah tersangka dari lawakan yang saya maksud. Mahasiswa Wasenda University ini mampu mengubah “wajah” matematika yang menyeramkan menjadi lucu, hingga membuat saya tertawa sendiri (eh wong gendheng lak an).

Youtuber satu ini berkali-kali membuat lawakan dengan matematika di Twitter dan Instagram, salah satunya adalah pantun maut dari Story-nya berikut ini:

Sumber: Instagram @jeromepolin

Sumber: Instagram story @jeromepolin

 

Sederhana, tapi berhasil membuat saya tertawa kecil. Bahkan, saya sampai lupa pernah berkonflik dengan trigonometri. Bahkan, saya pernah sampai mencari-cari blogspot untuk belajar matematika (lagi) usai membaca lawakan-lawakan cerdasnya (literally cerdas).

Pemilik jargon “mantappu jiwa” ini memang bukanlah satu-satunya orang yang membuat matematika menjadi guyonan segar. 9gag misalnya, situs humor asal Amerika, juga beberapa kali memposting meme matematika yang mampu mengocok perut.

 

 

Sumber: 9gag.com

 

Akan tetapi, di Indonesia sendiri masih sedikit yang menjadikan pelajaran eksak menjadi bahan guyonan. Selain itu, yang terkenal memainkan matematika jadi humor di Indonesia memang Jerome Polin.

Mungkin Jerome Polin tidak memiliki intensi untuk mengubah stigma dari ilmu eksak. Tapi, sedikit banyak pandangan kita terhadap ilmu eksak dan orang-orangnya jadi berubah. Ya, seketika matematika yang merupakan ilmu eksak acap kali dicap sebagai mata pelajaran yang kaku abis, jadi terlihat seru dan fun.

Matematika, salah satu cabang ilmu eksak, tak jauh beda dengan teman-temannya, yakni fisika, biologi, dan kimia, dicap sebagai ilmu yang kaku. Hal ini dikarenakan tidak terbukanya jawaban lain atas suatu permasalahan. Misal, 2+2=4 merupakan aksioma, sehingga tidak mungkin ada jawaban lain selain itu.

Selain saklek, kekakuan ilmu eksak juga disebabkan oleh kecenderungan untuk mengeneralisasi. Misal, alasan jerapah berleher pendek sudah tidak ada karena (semua) hewan jenis ini tidak memiliki kemampuan adaptasi yang baik.

Beda halnya dengan ilmu sosial yang memberi kesempatan orang untuk menemukan jawaban lainnya. Contoh, alasan seseorang menyukai permen kaki tak hanya karena rasanya, akan tetapi juga karena bentuk, warna, dan memori masa lalu yang mengingatkannya akan permen tersebut.

Stigma kaku mengenai ilmu eksak sendiri tak hanya ditujukan pada pelajarannya sendiri, tapi juga pada mereka yang mendalami ilmu eksak. Contohnya, pada saat SMA, kelas IPA di sekolah saya mendapat stereotip sebagai kelas yang anak-anaknya pendiam, suka belajar, dan serius. Padahal, kebisingan kami dan mesin pesawat boleh diadu.

Selain itu, sering juga saya dengar orang-orang berkata, “anak FK (Fakultas Kedokteran) orangnya kaku-kaku”, “kelas di FK itu hening sangking seriusnya kalau belajar”, “anak sains gak asik, terlalu serius”, dan lain sebagainya.

Dari lawakan-lawakan berbau matematika Jerome Polin, kita bisa belajar tiga hal. Pertama, yang terlihat kaku bukan berarti  tidak bisa menjadi fun. Jerome membuktikan ilmu sesaklek matematika juga bisa dibecandain, bahkan membuat orang jadi tertarik belajar matematika.

Kedua, tidak semua orang yang mendalami ilmu eksak juga orang yang serius, kaku, dan tidak bisa bercanda. Banyak yang berpikir paradigma positvistik dalam ilmu eksak menyetir mereka yang mendalaminya, menjadikan mereka sama kakunya dengan ilmu eksak. Padahal tidak juga.

Ada yang memang dari lahir bawaannya sudah kaku, ada yang kesulitan bercanda karena beban pelajaran yang terlalu berat sehingga tidak sempat untuk “main-main”. Buktinya ada kok yang mendalami ilmu eksak tapi pencicilan dan humoris seperti Jerome Polin dan saya.

Ketiga, lucu gak harus menyinggung orang lain kok. Kalau mau ngelawak, bisa kan pakai pelajaran – mungkin setelah ini pembaca mau mencoba melawak pakai teori stimulus-respons dari Ivan Pavlov, monggo. Jadi gak harus menghina orang lain, apalagi fisik.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks