Kita (Tidak) Lebih Baik dari Kids Zaman Now 0 632

Oleh: Khairina F. Hidayati*

Dulu, saat masih sekolah dasar, saya pernah kena nyinyir kakak kelas. Disindir, ditaksir (uhuk), di-bully di depan mereka.

Tapi—mungkin tiap-tiap kita kini sudah lupa bagaimana kita diperlakukan senior kala dulu. Senior yang hobi ikut ghibah terhadap adik kelas saat mereka lebih hits dari siapapun di angkatan tua. Adik kelas unyu-unyu tadi kena bully—hanya karena mereka dirasa lebih trendi dan kekinian ketimbang yang tuwek-tuwek.

Lupakan drama-drama labil ala anak sekolahan, mari pergi ke masa kini.

Saya seringkali mendengar Ayah saya membanding-bandingkan perkuliahannya di tahun 80-an dengan perkuliahan saya sekarang. Bukan cuma soal biaya kuliah dan gadget-gadget kuliah macam proyektor atau alat praktikum yang makin lumrah, tapi juga soal kehidupan kemahasiswaan yang kadang menyita waktu. Sering pulang malam, akhir minggu tidak di rumah, dan sebagainya.

Berani taruhan, deh. Ayah saya juga dibanding-bandingkan generasinya oleh kakek saya. Jangan-jangan saat generasi saya sudah punya anak, kami akan melakukan hal yang sama pada mereka.

Kalau memang terlalu jauh membandingkan saya dengan Ayah saya yang lahir pertengahan 60-an, mari bandingkan kakak saya, saya, dan adik saya.

Kakak saya lahir di awal 90-an. Saya lahir akhir 90-an, dan adik saya ada di awal 2000-an. Generasi kakak saya kenal dengan kaset pita, beyblade, dan kartun Minggu pagi. Adik saya kenal aplikasi lagu di ponsel pintar, fidget spinner, dan nonton YouTube. Saya? Tidak jelas. Bukan tipikal anak berciri 90-an, sekaligus juga bukan berkarakter 2000-an juga. Saya kenal kartun minggu pagi, tapi belum sempat mendengarkan lagu lewat kaset pita.

Kakak saya dan generasinya seringkali bernostalgia dengan gadget-gadget  yang tumbuh bersamanya. Hey, tidak ada yang salah dengan itu. Yang sebenarnya membuat saya bertanya-tanya adalah kalimat “Kids zaman now bisanya cuma bermain smartphone, bukan bermain layangan di lapangan”.

Oke. Saya setuju kalau bermain di lapangan punya efek sehat lebih baik daripada smartphone. Tapi saya yakin penutur tidak sedang membicarakan kesehatan. In spite of konten-konten negatif di smartphone, dia punya banyak sekali efek mendidik. Dia memudahkan komunikasi. Satu lagi, dia juga digunakan oleh generasi tua di atas saya. Podo ae.

Banyak juga produk-produk generasi Kakak saya yang masih relevan hingga sekarang. Jajanan anak sekolah salah satunya. Atau, menjadi relevan lagi. Produk fashion misalnya. Tapi dengan berkembangnya teknologi, dunia akan selalu berubah, dan begitulah seharusnya. Perubahan berarti perkembangan, perkembangan berarti kemajuan.

Jadi sampai kapan senioritas dunia ini akan berlangsung? Apakah Adik saya juga akan nyinyirin generasi bawah-bawahnya?

Kalau berbicara soal ini, saya ingat isu rasisme. Contoh yang agak ekstrim. Tapi coba pikirkan ini: dia yang merasa darahnya paling Indonesia akan selalu merasa paling baik diantara yang sudah tercampur-campur darahnya. Dia yang merasa lebih tua, selalu merasa bahwa mereka lebih bahagia karena khatam bertemu benda-benda tertentu.

Bukannya kita juga melakukan perlawanan pada yang lebih lama? Cara-cara dulu kadangkala punya beberapa kekurangan. Meski punya tujuan yang sama, dan sama-sama tercapai jua. Tapi bila yang baru tidak dicoba, mana bisa kita berkembang?

Yang baru lebih segar, yang muda yang berkarya. Kita-kita, generasi baru yang menggantikan yang dulu. Katanya. Tapi pertanyaannya masih sama. Apakah anak yang lebih muda dari, tidak boleh lebih baik daripada kita? Apa biar terus-terusan begini-begini saja?

*Penulis masih berstatus mahasiswi. Klik kacamatakai.wordpress.com untuk membaca tulisannya. Juga tinggal di twitter dan instagram @krnfad.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 271

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks