Kita (Tidak) Lebih Baik dari Kids Zaman Now 0 798

Oleh: Khairina F. Hidayati*

Dulu, saat masih sekolah dasar, saya pernah kena nyinyir kakak kelas. Disindir, ditaksir (uhuk), di-bully di depan mereka.

Tapi—mungkin tiap-tiap kita kini sudah lupa bagaimana kita diperlakukan senior kala dulu. Senior yang hobi ikut ghibah terhadap adik kelas saat mereka lebih hits dari siapapun di angkatan tua. Adik kelas unyu-unyu tadi kena bully—hanya karena mereka dirasa lebih trendi dan kekinian ketimbang yang tuwek-tuwek.

Lupakan drama-drama labil ala anak sekolahan, mari pergi ke masa kini.

Saya seringkali mendengar Ayah saya membanding-bandingkan perkuliahannya di tahun 80-an dengan perkuliahan saya sekarang. Bukan cuma soal biaya kuliah dan gadget-gadget kuliah macam proyektor atau alat praktikum yang makin lumrah, tapi juga soal kehidupan kemahasiswaan yang kadang menyita waktu. Sering pulang malam, akhir minggu tidak di rumah, dan sebagainya.

Berani taruhan, deh. Ayah saya juga dibanding-bandingkan generasinya oleh kakek saya. Jangan-jangan saat generasi saya sudah punya anak, kami akan melakukan hal yang sama pada mereka.

Kalau memang terlalu jauh membandingkan saya dengan Ayah saya yang lahir pertengahan 60-an, mari bandingkan kakak saya, saya, dan adik saya.

Kakak saya lahir di awal 90-an. Saya lahir akhir 90-an, dan adik saya ada di awal 2000-an. Generasi kakak saya kenal dengan kaset pita, beyblade, dan kartun Minggu pagi. Adik saya kenal aplikasi lagu di ponsel pintar, fidget spinner, dan nonton YouTube. Saya? Tidak jelas. Bukan tipikal anak berciri 90-an, sekaligus juga bukan berkarakter 2000-an juga. Saya kenal kartun minggu pagi, tapi belum sempat mendengarkan lagu lewat kaset pita.

Kakak saya dan generasinya seringkali bernostalgia dengan gadget-gadget  yang tumbuh bersamanya. Hey, tidak ada yang salah dengan itu. Yang sebenarnya membuat saya bertanya-tanya adalah kalimat “Kids zaman now bisanya cuma bermain smartphone, bukan bermain layangan di lapangan”.

Oke. Saya setuju kalau bermain di lapangan punya efek sehat lebih baik daripada smartphone. Tapi saya yakin penutur tidak sedang membicarakan kesehatan. In spite of konten-konten negatif di smartphone, dia punya banyak sekali efek mendidik. Dia memudahkan komunikasi. Satu lagi, dia juga digunakan oleh generasi tua di atas saya. Podo ae.

Banyak juga produk-produk generasi Kakak saya yang masih relevan hingga sekarang. Jajanan anak sekolah salah satunya. Atau, menjadi relevan lagi. Produk fashion misalnya. Tapi dengan berkembangnya teknologi, dunia akan selalu berubah, dan begitulah seharusnya. Perubahan berarti perkembangan, perkembangan berarti kemajuan.

Jadi sampai kapan senioritas dunia ini akan berlangsung? Apakah Adik saya juga akan nyinyirin generasi bawah-bawahnya?

Kalau berbicara soal ini, saya ingat isu rasisme. Contoh yang agak ekstrim. Tapi coba pikirkan ini: dia yang merasa darahnya paling Indonesia akan selalu merasa paling baik diantara yang sudah tercampur-campur darahnya. Dia yang merasa lebih tua, selalu merasa bahwa mereka lebih bahagia karena khatam bertemu benda-benda tertentu.

Bukannya kita juga melakukan perlawanan pada yang lebih lama? Cara-cara dulu kadangkala punya beberapa kekurangan. Meski punya tujuan yang sama, dan sama-sama tercapai jua. Tapi bila yang baru tidak dicoba, mana bisa kita berkembang?

Yang baru lebih segar, yang muda yang berkarya. Kita-kita, generasi baru yang menggantikan yang dulu. Katanya. Tapi pertanyaannya masih sama. Apakah anak yang lebih muda dari, tidak boleh lebih baik daripada kita? Apa biar terus-terusan begini-begini saja?

*Penulis masih berstatus mahasiswi. Klik kacamatakai.wordpress.com untuk membaca tulisannya. Juga tinggal di twitter dan instagram @krnfad.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 340

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Surat untuk Bu Pemred dan Semua Anak Jakarte 0 124

Jokowi yang baru-baru saja melempar isu ibukota baru harus bertanggung jawab pada banyak hal. Mula-mula, ehm, ya tentang tuduhan bahwa “Jakarta baru” di Borneo sana adalah semacam pembelokan isu. Tapi tuduhan macam ini biasanya diselesaikan oleh buzzer-buzzer aktip kreatip, jadi kita skip untuk sementara.

Soal serius dari ini: siapa yang mengobati sakit hati Bu Demes yang sudah telanjur tinggal di Jakarta, dan ketika lagi sayang-sayangnya malah ditinggal minggat status ke-ibukota-annya? Berlaku pula teruntuk pesohor-pesohor yang menjadi besar nyali artisnya lantaran status ibukota.

Saya pernah suatu ketika menyimak obrolan superior mahasiswa “lo-gue” yang di telinga bikin geli tapi menarik. Mereka membahas mengapa hidup di Jakarta “ngangenin”, kendati macetnya sungguh luar bioskop, belum lagi polutan-polutan yang biadab. Kata salah satu tokoh dalam obrolan itu (tampaknya ia salah satu selebgram, dilihat dari alis mata dan warna semir rambutnya yang, ehm, keluar lintasan): “..yaa gimana2 jakarta tuh pusat. Lo mo ngomong macet kek, tapi semua-mua dari sana”.

Asoi betul logikanya. Dan dalam beberapa hal betul.

Tapi apa yang ditawarkan Jokowi dari perpindahan Ibukota? Atau sebetulnya tak perlu resep penawar apa-apa bagi mereka yang sudah telanjur sayang? Bagi mereka yang sudah kepalang mengadu nasib di Jakarta? Atau, yang paling gaswat, jangan-jangan tak perlu solusi apapun tentang ini karena perpindahan itu ada atau tiadanya tak punya dampak apapun?

Apa mau syahrini pindah ke Kaltim dan menjadi artis bau tambang? Atau sinetron-sinetron menjadi belepotan dan pada akhirnya membuat semacam reality show “apa dan bagaimana hidup di tengah tambang”?

Jika pada akhirnya perpindahan ibukota Cuma soal pindah status, yaa lalu yang berpindah apanya. Apakah tak ada cara lain yang lebih elegan untuk bakar duit?

Skian dan terima gadis.

 

Joni Locke

Belajar filsahwat, merantau ke negeri jauh.

Editor Picks