Lawakan Media dalam Pengepungan Papa 0 1276

Wah, papa diculik orang jahat malam-malam?

Barangkali beginilah keresahan para kader dan hamba-hamba loyal dari orang paling sakti se-Indonesia saat ini, Setya Novanto. Setelah mangkir jutaan kali dari panggilan baik-baik, KPK Rabu malam menggeruduk rumah istana papa. Tapi bahkan lebih dari lima jam ditelisik, yang dicari-cari tak kunjung nampak batang hidungnya.

Ironisnya, kita disajikan oleh breaking news berlarut-larut dari tiga stasiun televisi berita nasional sekaligus. Jangan ditanya bagaimana visual yang nampak. Mau pembaca berdoa sampai mulut berbusa, SetNov tiada kunjung muncul wajahnya di layar kaca. Lah wong doi (katanya) tak ada di rumah. Lantas apa yang disajikan media dalam siaran langsung itu? Apa yang membuat awak media rela berjam-jam nongkrong di depan rumah SetNov tanpa kejelasan? Siapa yang menggaji untuk pekerjaan infotainment macam itu? Ups.

Karena si artis tidak sedang berada di kediamannya, lantas para awak media mulai mencari-cari bahan untuk liputan langsung. Sejumlah personil disebar ke berbagai titik. Yang jelas tentu di rumah SetNov yang magrong-magrong itu, di kantor KPK, dan di kantor partai berlambang beringin. Laporan yang sampai ke telinga dan mata khalayak tak lebih dari minimnya tanda-tanda pergerakan, ada yang keluar-masuk ke rumah SetNov, dan kekonyolan awak media lain yang menunggu di luar kediaman SetNov.

Malam itu, barangkali tak hanya papa SetNov yang tak bisa tidur. Para kader partai ikut-ikutan insomnia mendadak. Telepon rumah dan handphone berlomba-lomba berdering, tanda panggilan dari kantor media, turut tak menidurkan anak, istri, hingga asisten rumah tangga. Tapi, siapa pula mesin partai yang hendak tidur di saat sang ketua sedang digempur. Satu-dua di antara mereka memilih bungkam, pura-pura budeg. Sisanya, untunglah mau menjawab. Tentu saja secara diplomatis ala-ala politisi.

Sebut saja Mahyudin, salah satu kader yang langsung diserbu wartawan sejak kakinya baru menginjak keluar dari pagar rumah SetNov sekitar pukul 23.30. Dicerca dengan berbagai pertanyaan, Mahyudin justru membuat penonton kecewa. Katanya ia tak memperhatikan percakapan antara pihak keluarga SetNov, kuasa hukum, dan penyidik KPK. Katanya lagi, rumah SetNov terlalu luas, sehingga ia ada di bagian belakang untuk menonton televisi dan mengabaikan peristiwa lain. Kita baru tahu bahwa rumah ketua dewan kini menjelma rental atau warung kopi yang bisa nobar.

Lawakan belum berakhir, Saudara sekalian. Dihubungi melalui panggilan suara, Nurdin Halid, si ketua harian partai kuning, mengaku tidak mengikuti berita ‘penangkapan paksa’ rekannya. Digurui dengan pertanyaan-pertanyaan wartawan yang makin memojokkan, dia kembali membuat skenario terakhir tatap muka dengan SetNov adalah lima hari lalu, dan tak kunjung bertukar kabar di kemudian hari. Kita jua tercerahkan atas fakta rupanya di saat genting sekalipun, dua sejoli pimpinan terpucuk sebuah partai besar tak intens dalam berkomunikasi.

Tak berhenti sampai di situ, idola netizen bersama, Fahri Hamzah, merasa diberi surprise atas kabar ‘apel malam’ KPK itu. Lagi-lagi doi naik pitam, menuding adanya ‘orang kuat’ yang berkuasa memerintah KPK agar melakukan penangkapan di tengah malam. Kira-kira ‘orang kuat’ ini siapa? Apakah Gatutkaca? Atau Hulk?

Segala drama korea ini menghantarkan pemirsa pada perspektif beraneka ragam. Namun kita tentu berharap, para pagar betis SetNov harusnya menyiapkan jawaban yang lebih kreatif dan inovatif ketimbang “tidak tahu”. Rakyat Indonesia yang katanya sudah cerdas berdemokrasi tentu sadar betul ketidatahuan adalah zona teraman agar tak salah bicara. Tentu, sebagai kader partai yang baik, segala rahasia dapur apalagi aib pak ketua harus dilindungi.

Pun wartawan hendaknya juga menyiapkan pertanyaan lain, bukan? Karena berusaha kritis dengan pertanyaan-pertanyaan tajam adalah sia-sia belaka. Toh, jawabannya pasti itu-itu lagi. Netizen tentu bosan dan kehabisan ide menggarap meme baru tentang SetNov.

Pertanyaan mainstream macam “Apakah Anda tahu posisi SetNov di mana?” ada baiknya perlu dipertimbangkan sebelum dilontarkan di hadapan followers akut papa. Jawaban jujur dan budiman tentu mustahil. Ujung-ujungnya, segala proses wawancara hanya demi kewajiban memenuhi follow-up news dan kejar deadline.

Terlepas dari itu semua, keberadaan fisik seorang SetNov masih menjadi misteri. Ia tiba-tiba menghilang ketika dicari (persis kayak gebetan kamu). Kita hanya perlu memanjangkan sabar, menunggu. Siapkan saja kopi, senja, dan diiringi suara gemericik hujan di luar sana. Sambil kita tonton lawakan penculikan papa di malam gelap.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Panduan Nyinyir Berhadiah ala Fahri Hamzah 0 258

Pertama-tama, saya ingin memberi selamat kepada Fahri Hamzah atas prestasi yang ditorehkan  baru-baru ini (13/8). Politikus Partai Gelora ini baru saja menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Naraya 2020 dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) . Tentu ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa, bahkan politikus – yang kini menjadi komisaris Pertamina –  yang tegas melawan korupsi seperti Basuki Tjahaja Purnama pun belum pernah mendapat award super bergengsi ini.

Penghargaan ini sendiri diberikan kepada Fahri Hamzah lantaran keaktivannya dalam “mengkritik” pemerintahan Jokowi. Menurut Fahri, penghargaan yang ia terima dapat dijadikan pelajaran bagi semua orang dalam pemerintahan supaya menghormati kritik. Selain itu, ia menilai bahwa penghargaan ini merupakan bukti bahwa pemerintah tetap menghargai kritik.

Tumben lihat Fahri Hamzah memuji pemerintah? Iya, saya juga baru kali ini baca komentar positif tentang pemerintah dari Fahri Hamzah.

Selama ini, anggota DPR RI yang satu ini dikenal sebagai politikus yang nyinyir, doyan mengkritik apapun yang dilakukan pemerintah. Bahkan, warga net menjulukinya sebagai Lord Fahri karena hanya dialah yang serba benar di negeri +62 ini.

Akan tetapi, pandangan warga net tersebut berbeda di mata Jokowi. Bagi Jokowi, ke-nyinyir-an Lord Fahri merupakan kekritisan yang sangat dibutuhkan pemerintah. Setiap butir dari kesewotan yang dilontarkan Lord Fahri bisa menjadi feedback negatif dan juga input bagi kebijakan-kebijakannya.

Berita Lord Fahri yang meraih penghargaan ini tak pelak menjadi trending di media sosial. Banyak yang kaget kenapa teman “duet” nyinyir Fadli Zon ini bisa mendapat penghargaan dari Jokowi. Banyak yang berasumsi ini adalah akal-akalan rezim pemerintah untuk membuat Fahri Hamzah “sungkan” mengkritiknya.

Dilansir dari Tempo.co, ia menampik dugaan netizen tersebut. Ia mengatakan bahwa dengan dipilihnya ia sebagai penerima penghargaan tidak akan menghentikannya menjadi nyinyir kritis. Ia menambahkan bahwa ia akan terus mengkritik karena presidennya menghargai kritik.

Seharusnya kita dapat melihat hal ini dalam sisi positif. Award yang diraih Lord Fahri ini membukakan mata kita bahwa nyinyir tak selamanya buruk. Tahu tempe kah kamu? Untuk menjalankan sistem agar tetap on the track, sistem tersebut butuh sekali feedback negatif. Maka dari itu, pemerintah (baca: Jokowi) memberi penghargaan sebagai ucapan terima kasih karena membantu sistem pemerintahannya tidak keluar jalur.

Setelah tahu nyinyir rupanya tidak selalu negatif, apakah kita juga boleh nyinyir juga seperti Lord Fahri?

Tentu boleh, tapi coba tanyakan dulu dirimu. Apakah Pembaca yang budiman ini konglomerat penyumbang pajak terbanyak? Petinggi Partai? Anggota DPR? Atau punya pengaruh terhadap kelanggengan kekuasaan rezim pemerintah?

Kalau status Anda tidak memenuhi yang saya sebut di atas, mohon maaf Anda belum bisa “nyinyir yang baik” seperti Lord Fahri. Sekadar mengingatkan, kalau tidak punya posisi atau pengaruh, masih ada UU ITE serta pasal penghinaan presiden yang mengawasi jari dan bibir nyinyir Anda. Hehehe…

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Bagaimana Kita dan Media Membungkus Gilang 0 586

Cerita murung bermula dari cuitan akun Twitter @m_fikris yang menceritakan kronologi bagaimana seorang laki-laki muda, dari suatu kampus kondang di Surabaya, melakukan pelecehan seksual secara verbal melalui pesan elektronik. Kisah pahit itu dijuduli dengan judul bombastis, macam portal berita onlen: “Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset dari Mahasiswa PTN di SBY”. Lantas, satu negara ini sejenak melupakan corona, berpindah gandrung pada ‘Gilang’, nama yang disebut-sebut menjadi pelaku pelecehan.

Cerita bertopik seks semacam ini, pembaca tahu, dengan cepat sambung-menyambung, berbalas, dan dibagikan secara meluas di linimasa. Tak hanya ramai di media sosial, yang bahkan sempat menduduki tingkatan teratas trending topic, ia ramai menjadi buah bibir tetangga, hingga agenda pemberitaan media massa.

Selain soal menumbuhkan kewaspadaan bersama, tapi lalu mengapa media, dan juga kita, sangat berambisi pada cerita-cerita semacam ini? Ada beberapa hal yang penulis ajukan di sini.

Pertama, media kita memang mudah sekali terangsang mengangkat berita-berita berbau seks. Apalagi ada anomali yang baru, fetish atau dorongan seksual dalam konteks kasus Gilang ini unik: napsu melihat orang yang dibungkus seperti pocong dengan kain jarik. Sayangnya, pembawaan berita berputar-putar pada fenomena, bahkan mengungkap sejarah Gilang yang sudah sering melakukan tindakan asusila.

Tapi, kemalasan media membuatnya lupa memberi pendalaman perspektif psikologis atasnya. Apakah benar memang fetish? Atau justru gangguan kejiwaan lainnya yang tak berhubungan dengan seksualitas?

Ah, jangan heran, media kita kan memang dari dulu begitu. Sejak zaman Orde Baru, kita sudah di-ninabobo-kan dengan berita konflik pertumpahan darah dan SEKS, supaya pemerintah tidak perlu repot-repot menjawabi pemberitaan yang mengkritisi kinerjanya.

Kedua, kita sepakat – jika memang ini adalah kasus pelecehan seksual – selalu bak gunung es. Korban-korban Gilang lainnya, yang telah menjadi target operasi bertahun-tahun silam, baru terungkap semuanya, ketika ada satu orang yang berani bicara. Kita memang patut berterima kasih (jika memang baik budi niatnya) pada si pembuat thread pada mulanya.

Demikian pula dengan kasus pelecehan seksual yang sudah-sudah. Entah itu pedofilia, pelecehan dalam keluarga, bahkan dalam konteks pria-wanita, selalu membuat sang korban tak berani bicara. Sebaliknya, korban lebih banyak dirundung, dituduh menggoda dengan pakaian terbuka.

Karena memang, belum ada hukum di negeri ini yang mampu melindungi korban pelecehan seksual. Kalaupun ada kasus yang terungkap ke permukaan dan diproses hukum, ia haruslah viral terlebih dahulu di media sosial (dengan mempermalukan korban 2 kali lipat), agar bisa ditindak pakai ‘Sang Maha-benar’ UU ITE, yang tak pernah benar-benar menggasak betapa brengseknya tindakan pelecehan itu sendiri. Benar apa kata sjw-sjw feminis: RUU PKS harus segera disahkan!

Ketiga, persoalan Gilang ini tak bisa hanya dilihat soal orientasi seksual yang melenceng. Kita sepakat bahwa hal tersebut adalah kemerdekaan hak setiap orang. Yang jadi persoalan, cara Gilang – jika, sekali lagi, memang benar fetish – dalam mengajak si korban memuaskan birahinya.

Gilang menggunakan kata-kata yang manipulatif, membohongi anak-anak yang lebih muda darinya agar mau membantunya mengerjakan ‘tugas kuliah’. Ia juga mendekati orang-orang yang tak ia kenal sebelumnya, dengan bahasa perkenalan yang cenderung superior, dominan, sekaligus minim etika. Unggah-ungguh berkenalan, ngobrol, dan meminta tolong pada orang yang baru dikenal seharusnya milik kita semua, terlepas dari apapun pilihan jalan hidup dan orientasi seksualnya.

Keempat, pendapat netijen yang bermunculan akhir-akhir ini justru bernada mengolok karena menganggap Gilang pantas mendapatkannya. Ejekan itu berkedok guyonan, bahkan nama-nama besar seperti Babe Cabita – yang kemudian banyak dihujat netijen juga – ikut-ikutan menertawakan tindakan Gilang. Selain itu, kamu dan saya, mulut kita semua sudah sibuk ngrasani bersama teman-teman tentang betapa tak warasnya Gilang.

Kita tidak sadar, bahwa diri sendiri ini juga sami mawon: menjauhi dan mencibir entah korban entah pelaku, entah juga orang-orang macam Gilang; tapi lupa bersimpati, mendekati, mencari akar masalah, dan menyelesaikannya bersama-sama. Memang benar, gotong-royong yang diajarkan founding fathers kita hanya tinggal klise sekarang (lihat tulisan: ‘Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif’).

Pada akhirnya, soal bungkus-membungkus ini memang bukan milik Gilang dan rektorat kampusnya yang sibuk memberi pernyataan sikap semata. Ini juga masalah kita semua, yang sudah lama dibungkus rasa egois dan gengsi, menutup mata dan telinga pada persoalan sosial di sekitar kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks