Lawakan Media dalam Pengepungan Papa 0 923

Wah, papa diculik orang jahat malam-malam?

Barangkali beginilah keresahan para kader dan hamba-hamba loyal dari orang paling sakti se-Indonesia saat ini, Setya Novanto. Setelah mangkir jutaan kali dari panggilan baik-baik, KPK Rabu malam menggeruduk rumah istana papa. Tapi bahkan lebih dari lima jam ditelisik, yang dicari-cari tak kunjung nampak batang hidungnya.

Ironisnya, kita disajikan oleh breaking news berlarut-larut dari tiga stasiun televisi berita nasional sekaligus. Jangan ditanya bagaimana visual yang nampak. Mau pembaca berdoa sampai mulut berbusa, SetNov tiada kunjung muncul wajahnya di layar kaca. Lah wong doi (katanya) tak ada di rumah. Lantas apa yang disajikan media dalam siaran langsung itu? Apa yang membuat awak media rela berjam-jam nongkrong di depan rumah SetNov tanpa kejelasan? Siapa yang menggaji untuk pekerjaan infotainment macam itu? Ups.

Karena si artis tidak sedang berada di kediamannya, lantas para awak media mulai mencari-cari bahan untuk liputan langsung. Sejumlah personil disebar ke berbagai titik. Yang jelas tentu di rumah SetNov yang magrong-magrong itu, di kantor KPK, dan di kantor partai berlambang beringin. Laporan yang sampai ke telinga dan mata khalayak tak lebih dari minimnya tanda-tanda pergerakan, ada yang keluar-masuk ke rumah SetNov, dan kekonyolan awak media lain yang menunggu di luar kediaman SetNov.

Malam itu, barangkali tak hanya papa SetNov yang tak bisa tidur. Para kader partai ikut-ikutan insomnia mendadak. Telepon rumah dan handphone berlomba-lomba berdering, tanda panggilan dari kantor media, turut tak menidurkan anak, istri, hingga asisten rumah tangga. Tapi, siapa pula mesin partai yang hendak tidur di saat sang ketua sedang digempur. Satu-dua di antara mereka memilih bungkam, pura-pura budeg. Sisanya, untunglah mau menjawab. Tentu saja secara diplomatis ala-ala politisi.

Sebut saja Mahyudin, salah satu kader yang langsung diserbu wartawan sejak kakinya baru menginjak keluar dari pagar rumah SetNov sekitar pukul 23.30. Dicerca dengan berbagai pertanyaan, Mahyudin justru membuat penonton kecewa. Katanya ia tak memperhatikan percakapan antara pihak keluarga SetNov, kuasa hukum, dan penyidik KPK. Katanya lagi, rumah SetNov terlalu luas, sehingga ia ada di bagian belakang untuk menonton televisi dan mengabaikan peristiwa lain. Kita baru tahu bahwa rumah ketua dewan kini menjelma rental atau warung kopi yang bisa nobar.

Lawakan belum berakhir, Saudara sekalian. Dihubungi melalui panggilan suara, Nurdin Halid, si ketua harian partai kuning, mengaku tidak mengikuti berita ‘penangkapan paksa’ rekannya. Digurui dengan pertanyaan-pertanyaan wartawan yang makin memojokkan, dia kembali membuat skenario terakhir tatap muka dengan SetNov adalah lima hari lalu, dan tak kunjung bertukar kabar di kemudian hari. Kita jua tercerahkan atas fakta rupanya di saat genting sekalipun, dua sejoli pimpinan terpucuk sebuah partai besar tak intens dalam berkomunikasi.

Tak berhenti sampai di situ, idola netizen bersama, Fahri Hamzah, merasa diberi surprise atas kabar ‘apel malam’ KPK itu. Lagi-lagi doi naik pitam, menuding adanya ‘orang kuat’ yang berkuasa memerintah KPK agar melakukan penangkapan di tengah malam. Kira-kira ‘orang kuat’ ini siapa? Apakah Gatutkaca? Atau Hulk?

Segala drama korea ini menghantarkan pemirsa pada perspektif beraneka ragam. Namun kita tentu berharap, para pagar betis SetNov harusnya menyiapkan jawaban yang lebih kreatif dan inovatif ketimbang “tidak tahu”. Rakyat Indonesia yang katanya sudah cerdas berdemokrasi tentu sadar betul ketidatahuan adalah zona teraman agar tak salah bicara. Tentu, sebagai kader partai yang baik, segala rahasia dapur apalagi aib pak ketua harus dilindungi.

Pun wartawan hendaknya juga menyiapkan pertanyaan lain, bukan? Karena berusaha kritis dengan pertanyaan-pertanyaan tajam adalah sia-sia belaka. Toh, jawabannya pasti itu-itu lagi. Netizen tentu bosan dan kehabisan ide menggarap meme baru tentang SetNov.

Pertanyaan mainstream macam “Apakah Anda tahu posisi SetNov di mana?” ada baiknya perlu dipertimbangkan sebelum dilontarkan di hadapan followers akut papa. Jawaban jujur dan budiman tentu mustahil. Ujung-ujungnya, segala proses wawancara hanya demi kewajiban memenuhi follow-up news dan kejar deadline.

Terlepas dari itu semua, keberadaan fisik seorang SetNov masih menjadi misteri. Ia tiba-tiba menghilang ketika dicari (persis kayak gebetan kamu). Kita hanya perlu memanjangkan sabar, menunggu. Siapkan saja kopi, senja, dan diiringi suara gemericik hujan di luar sana. Sambil kita tonton lawakan penculikan papa di malam gelap.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kilas Balik Media dan Bagaimana Persoalannya Sekarang 0 87

Secara sederhana saja, media merupakan corong penyiaran untuk kenyataan yang tengah dialami masyarakat. Media berhak mencangkok kenyataan tersebut supaya dikabarkan secara terus terang kepada khalayak. Kendati media juga berhak memposisikan perspektif sendiri dalam mengabarkan, namun setidak-tidaknya media harus berpihak pada masyarakat yang memang suaranya butuh disalurkan.

Di samping itu, media juga berperan sebagai kontrol atas kebijakan yang dibentuk pemerintah. Artinya, bila ada barang sepeser kebijakan yang tak terealisasikan, media berhak memberitahukannya pada masyarakat. Dengan begitu, media sebagai ruang publik bagi pemerintah dan masyarakat telah berhasil menjadi medan diskusi bagi konsensus-konsensus yang diperlukan.

Namun, berbeda halnya dengan yang pernah terjadi semasa Orde Baru. Media tidak menjalankan perannya semasif sekarang. Media dijagal habis-habisan oleh rezim Soeharto. Aparatus-aparatus yang mengawasi aktivitas distribusi informasi pun muncul melalui berbagai lembaga seperti Menteri Penerangan, Badan Sensor Film, bahkan masyarakat juga turut serta menjadi perpanjangan tangan dari program yang disebut oleh pemerintah Orde Baru sebagai membangun stabilitas negara.

Tak ayal tumbuhlah suatu pemahaman tersirat bahwa media harus menyampaikan informasi yang sesuai dengan kepentingan negara. Akan tetapi, alih-alih melakukan perlawanan atas kondisi tersebut, media justru melakukan aksi tiarap massal hingga mengakibatkan informasi tidak tersampaikan secara berimbang.

Adapun yang akan terjadi jika sebuah media dianggap menyalahi aturan penyiaran, wartawan yang bekerja di dalamnya tak segan-segan dapat kehilangan profesi. Jajaran redaktur ditandai, diturunkan jabatannya, sampai pada menerima tindakan kekerasan langsung. Misalkan kasus wartawan Udin yang meninggal (1996) karena disiksa oleh orang tak dikenal setelah sebelum itu dirinya aktif menuliskan artikel-artikel kritis menyangkut kebijakan pemerintah.

Di sisi lain, dampak dari teraturnya media memberi pembenaran atas segala aktivitas rezim mengakibatkan atmosfer hegemoni semakin menebal. Masyarakat yang terkena percikan represi mulai menerima segala aturan tanpa perlawanan yang kongkret. Masyarakat terbiasa melegitimasi kekerasan yang dilakukan negara kepada orang-orang yang dianggap menentang. Bagi mereka, barang wajar apabila orang-orang yang menganggu stabilitas negara diberi sanksi.

Menjelang tibanya reformasi, barulah pelahan ikhtiar merawat kesadaran dinyalakan kembali melalui aksi perlawanan dari massa. Media merasa sudah memiliki kawan, maka dari itu, ia kembali ke dalam bentuk idealnya sebagai medan diskusi bagi masyarakat.

Secara bersamaan, masyarakat menyambut niat baik tersebut dengan narasi tajam untuk segera menggugurkan mapannya hegemoni Orde Baru. Maka, hadirlah pula kepulan-kepulan narasi yang menjurus menjadi counter-hegemony.

 

Watak Kekerasan Negara

Reformasi telah lewat semenjak dua puluhan tahun yang lalu. Namun, belum juga kita dapat menyebut era sesudahnya ini sebagai era yang dewasa. Pasalnya, di tengah memburunya media mendistribusikan informasi, justru menjadi buah simalakama bagi masyarakat.

Semakin mudah masyarakat mengepul pengetahuan, semakin turun pula kadar akurasi atas pengetahuan yang didapatkannya. Muatan-muatan kebohongan mewarnai kericuhan di wilayah horizontal. Tidak jarang ditemukan betapa banalnya kenyataan karena tersusun dari kesimpangsiuran informasi.

Atas dasar kebohongan itu, kebijakan yang dibuat pemerintah turut tak masuk akalnya. Beragam peraturan seperti RKUHP, UU ITE atau larangan-larangan tentang mengkritik Presiden, tampil bagai lelucon di tengah semrawutnya ruang publik.

Selain itu, pada tahun 2018, Tempo.co memuat data statistik yang dilansir dari Bidang Advokasi AJI (Aliansi Jurnalis Independen) bahwa setidaknya ada 64 kasus kekerasan terhadap jurnalis yang terjadi sepanjang pertengahan tahun 2018. Peristiwa yang dikategorikan sebagai kekerasan itu meliputi pengusiran, kekerasan fisik, hingga pemidanaan terkait karya jurnalistik (31/12/18).

Menyambut itu juga, Reporters Without Borders for Freedom of Information (RSF) menempatkan indeks kebebasan pers Indonesia pada peringkat 124 dari 180 negara. Data-data yang terungkap ini sedikitnya dapat menandai situasi media yang belum cukup meyakinkan.

Kita lihat saja beberapa bulan lalu masyarakat dibuat terkesiap karena seorang perempuan dikabarkan telah menyabet prestasi bergengsi di Hollywood berkat karya filmnya. Namun setelah itu, menyusul kemudian kabar yang tak kalah mengejutkannya yang menyebut sineas tersebut telah melakukan kebohongan besar.

Jika dilihat bagaimana kelindan informasi ini dirajut, maka terbukti bagaimana media kita belum sungguh-sungguh dewasa dalam menyikapi kenyataan. Negara pun belum cukup mampu memberi kebijakan.

Di satu sisi, media terlalu terburu-buru memproyeksikan identitas seseorang tanpa proses validasi. Akibatnya, dari yang semula bersorak-sorai mengapresiasi, kini menjelma jadi serigala ganas menghardik secara massal atas kebohongan perempuan itu. Namun peristiwa ini dikompromi begitu saja, alih-alih menjadi pembelajaran bersama.

Dan di sisi lain, negara hanya sibuk mengurusi citra pemerintah agar tetap baik di depan konsumen media, tanpa memikirkan nasib peristiwa lain yang menyangkut kemaslahatan masyarakat. Papua dengan segala persoalannya. Ada pula perempuan bernama Veronica yang baru-baru ini diburu, dituduh menyebarkan kabar buruk tentang upaya kemerdekaan di Papua.

Barangkali memang bukan perkara mudah bagi media dalam menyiarkan informasi maupun bagi masyarakat dalam menerima informasi. Atau bagi pemerintah yang masih kelewat lugu di hadapan belukar teknologi komunikasi. Satu tak pandai bicara, satu tak pandai mendengar, dan satunya lagi tak memiliki kepandaian apapun.

Akan tetapi, bukankah tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semua persoalan ini? Jurnalis hidup dan dibesarkan bersama masyarakat dan media menjembatani urusan pemerintah dengan masyarakat. Jika semuanya ini dapat berkolaborasi secara apik, maka diskusi bertujuan konsensus dapat diwujudkan dengan baik dan tidak semerawut. Tanpa perlu khawatir tentang siapa yang didominasi atau siapa yang mendominasi.

Meskipun bayangan itu rasanya cukup sulit untuk dibuktikan, namun tak ada salahnya untuk menyicil perbaikan akibat kerusakan-kerusakan karena ulah media. Harus melalui media pula pembenahannya, kendati semuanya akan berjalan teratih-tatih.

Parade Isu Seksi Jelang Peringatan G30S 0 70

Helloh gess, September telah tiba. Ini bulannya hura-hura tentang trauma. Pasti kamu sudah hapal: sebentar lagi kita akan menyimak debat seolah-olah tentang peristiwa 1965. Tapi sedihnya, tulisan ini bukan ke sana.

Kita akan mencoba merunut isu-isu apa yang hadir, coba dihadirkan, atau dipaksa dihadirkan, menjelang peringatan G30S. Isu-isu yang, yaaa, sesuai tradisi, akan memanas dan sering setiap tahunnya merepotkan rejim. Berikut isunya:

  • Perpindahan Ibukota
  • Livi Zheng
  • Djarum yang disetop audisinya oleh KPAI
  • Jokowi main sama putunya
  • Iuran BPJS naik
  • Esemka diresmikan

Apalagi gess?

Ohya, ini penting karena beberapa sebab. Pertama, mengamati isu-isu “tak penting” justru menjadi sangat penting hari ini untuk melihat bagaimana strategi kekuasaan memainkan lalu-lintas diskusi dan menginterupsi tiap isu. Kalau ente jeli, akan tampak bagaimana pengendalian atas persepsi kita dimainkan dan dikonsentrasikan pada hal-hal tertentu, agar hal-hal lain dapat diminimalkan dampaknya.

Tentu saja arahnya dapat ditebak: mendebat Livi Zheng jauh lebih aman ketimbang ente didatangi Kivlan Zen untuk membeberkan rencana kebangkitan PKI. Atau bicara memindah ibukota lebih asyik daripada memperdebatkan jumlah korban sebetulnya pada genosida 65 duluuu sekali.

Kedua, dari isu-isu tersebut, kesemuanya saksess menjadi tren perbincangan. Esemka, BPJS, dan Ibukota berkaitan langsung dengan agenda pemerintah. Perpindahan ibukota yang terparah, terlalu kentara digunakan sebagai “umpan peluru”, seolah-olah ide ini dilempar untuk dihabisi. BPJS dan Esemka sebelas dua belas, memancing sekaligus mengepung orang dengan kontroversi agar terus-menerus diperdebatkan.

Jadi, mari nanti kita tengok menjelang tumbangnya waktu dan mendekatnya tanggal 30, barang sampah apa saja yang akan dihamburkan oleh media kita.

Tapi toh dibawa santai saja! Kadang-kadang terlalu serius juga tak baik bagi kesehatan jiwa.

 

Annabelle Rukhiyat

Selain menekuni permakelaran tanah, penulis juga magang sebagai penjaga ponten.

Editor Picks