Lawakan Media dalam Pengepungan Papa 0 746

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Wah, papa diculik orang jahat malam-malam?

Barangkali beginilah keresahan para kader dan hamba-hamba loyal dari orang paling sakti se-Indonesia saat ini, Setya Novanto. Setelah mangkir jutaan kali dari panggilan baik-baik, KPK Rabu malam menggeruduk rumah istana papa. Tapi bahkan lebih dari lima jam ditelisik, yang dicari-cari tak kunjung nampak batang hidungnya.

Ironisnya, kita disajikan oleh breaking news berlarut-larut dari tiga stasiun televisi berita nasional sekaligus. Jangan ditanya bagaimana visual yang nampak. Mau pembaca berdoa sampai mulut berbusa, SetNov tiada kunjung muncul wajahnya di layar kaca. Lah wong doi (katanya) tak ada di rumah. Lantas apa yang disajikan media dalam siaran langsung itu? Apa yang membuat awak media rela berjam-jam nongkrong di depan rumah SetNov tanpa kejelasan? Siapa yang menggaji untuk pekerjaan infotainment macam itu? Ups.

Karena si artis tidak sedang berada di kediamannya, lantas para awak media mulai mencari-cari bahan untuk liputan langsung. Sejumlah personil disebar ke berbagai titik. Yang jelas tentu di rumah SetNov yang magrong-magrong itu, di kantor KPK, dan di kantor partai berlambang beringin. Laporan yang sampai ke telinga dan mata khalayak tak lebih dari minimnya tanda-tanda pergerakan, ada yang keluar-masuk ke rumah SetNov, dan kekonyolan awak media lain yang menunggu di luar kediaman SetNov.

Malam itu, barangkali tak hanya papa SetNov yang tak bisa tidur. Para kader partai ikut-ikutan insomnia mendadak. Telepon rumah dan handphone berlomba-lomba berdering, tanda panggilan dari kantor media, turut tak menidurkan anak, istri, hingga asisten rumah tangga. Tapi, siapa pula mesin partai yang hendak tidur di saat sang ketua sedang digempur. Satu-dua di antara mereka memilih bungkam, pura-pura budeg. Sisanya, untunglah mau menjawab. Tentu saja secara diplomatis ala-ala politisi.

Sebut saja Mahyudin, salah satu kader yang langsung diserbu wartawan sejak kakinya baru menginjak keluar dari pagar rumah SetNov sekitar pukul 23.30. Dicerca dengan berbagai pertanyaan, Mahyudin justru membuat penonton kecewa. Katanya ia tak memperhatikan percakapan antara pihak keluarga SetNov, kuasa hukum, dan penyidik KPK. Katanya lagi, rumah SetNov terlalu luas, sehingga ia ada di bagian belakang untuk menonton televisi dan mengabaikan peristiwa lain. Kita baru tahu bahwa rumah ketua dewan kini menjelma rental atau warung kopi yang bisa nobar.

Lawakan belum berakhir, Saudara sekalian. Dihubungi melalui panggilan suara, Nurdin Halid, si ketua harian partai kuning, mengaku tidak mengikuti berita ‘penangkapan paksa’ rekannya. Digurui dengan pertanyaan-pertanyaan wartawan yang makin memojokkan, dia kembali membuat skenario terakhir tatap muka dengan SetNov adalah lima hari lalu, dan tak kunjung bertukar kabar di kemudian hari. Kita jua tercerahkan atas fakta rupanya di saat genting sekalipun, dua sejoli pimpinan terpucuk sebuah partai besar tak intens dalam berkomunikasi.

Tak berhenti sampai di situ, idola netizen bersama, Fahri Hamzah, merasa diberi surprise atas kabar ‘apel malam’ KPK itu. Lagi-lagi doi naik pitam, menuding adanya ‘orang kuat’ yang berkuasa memerintah KPK agar melakukan penangkapan di tengah malam. Kira-kira ‘orang kuat’ ini siapa? Apakah Gatutkaca? Atau Hulk?

Segala drama korea ini menghantarkan pemirsa pada perspektif beraneka ragam. Namun kita tentu berharap, para pagar betis SetNov harusnya menyiapkan jawaban yang lebih kreatif dan inovatif ketimbang “tidak tahu”. Rakyat Indonesia yang katanya sudah cerdas berdemokrasi tentu sadar betul ketidatahuan adalah zona teraman agar tak salah bicara. Tentu, sebagai kader partai yang baik, segala rahasia dapur apalagi aib pak ketua harus dilindungi.

Pun wartawan hendaknya juga menyiapkan pertanyaan lain, bukan? Karena berusaha kritis dengan pertanyaan-pertanyaan tajam adalah sia-sia belaka. Toh, jawabannya pasti itu-itu lagi. Netizen tentu bosan dan kehabisan ide menggarap meme baru tentang SetNov.

Pertanyaan mainstream macam “Apakah Anda tahu posisi SetNov di mana?” ada baiknya perlu dipertimbangkan sebelum dilontarkan di hadapan followers akut papa. Jawaban jujur dan budiman tentu mustahil. Ujung-ujungnya, segala proses wawancara hanya demi kewajiban memenuhi follow-up news dan kejar deadline.

Terlepas dari itu semua, keberadaan fisik seorang SetNov masih menjadi misteri. Ia tiba-tiba menghilang ketika dicari (persis kayak gebetan kamu). Kita hanya perlu memanjangkan sabar, menunggu. Siapkan saja kopi, senja, dan diiringi suara gemericik hujan di luar sana. Sambil kita tonton lawakan penculikan papa di malam gelap.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Met Gala 2018 dan Kegilaan-kegilaannya 0 455

Oleh: Michelle Florencia*

Met Gala adalah salah satu acara tahunan yang paling dinanti-nantikan insan fesyen dunia. Bagaimana tidak? Acara yang yang sudah 70 tahun terakhir diselenggarakan ini bertabur bintang-bintang Hollywood yang mengenakan kostum super wow rancangan desainer kelas dunia.

Acara yang diinisiasi oleh Eleanor Lambert ini sebenarnya merupakan acara penggalangan dana untuk The Costume Institute dan pameran kostum di Metropolitan Museum of Art (Met), New York. Namun, tidak ada yang tahu pasti – selain tamu undangan pastinya – bagaimana suasana acara Met Gala sendiri dikarenakan acara ini tertutup bagi media dan para undangan juga tidak diperbolehkan mengunggah foto maupun video seputar acara Met Gala untuk menjaga ekslusifitasnya.

Di tahun 2018, Met Gala diselenggarakan pada Seni n (7/5) di New York Metropolitan Museum of Art. Met Gala kali ini merupakan pembuka pameran terbesar yang pernah dibuat The Costume Institute. Mengangkat tema Heavenly Bodies: Fashion and The Catholic Imagination, ekshibisi ini begitu menarik karena bekerjasama dengan keuskupan Vatikan untuk memamerkan benda-benda gereja Vatikan. Tak hanya itu, para desainer kenamaan seperti Jeanne Lanvin, Karl Lagerfeld, John Galliano, Jean Paul Gaultier, dan nama-nama besar lainnya turut serta memamerkan rancangan mereka yang terinspirasi dari simbol-simbol Katolik.

Penulis menilai Met Gala merupakan salah satu acara yang paling gila, terutama Met Gala 2018. Bagaimana tidak? Pertama, harga tiket acara ini adalah USD 30.000/tamu atau Rp 405.000.000 (dengan asumsi kurs Rp 13.500/USD). Itu untuk teko thok, gurung nek mesen mejo. Apabila ingin memesan satu meja, maka tamu tersebut harus membayar USD 275.000 hingga USD 500.000. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp 3.712.500.000 hingga Rp 6.750.000.000—jumlah yang cukup untuk beli pisang naget dan ayam geprek seumur hidup!

Apabila Pembaca merasa punya uang segitu, jangan kepedean dulu bisa datang ke acara ini! Yang diundang hanyalah selebritis top Hollywood, donatur acara, para desainer tersohor dunia, super model kenamaan, dan perwakilan label busana atau aksesoris mewah yang bersedia menyumbang dana. Tak hanya itu, semua tamu undangan harus disetujui oleh Nyah Anna Wintour, pemimpin redaksi majalah Vogue dan juga ketua acara Met Gala. Kalau Pembaca masih seorang mahasiswa yang tinggal di kos-kosan yang hanya bisa ngadem dan numpang wifi di perpus kampus (gratisan), barangkali bisa tidur dulu untuk datang ke acara ini dalam mimpi.

Beauty is pain menjadi selogan bagi para undangan, terutama tamu undangan wanita. Lihat saja Blake Lively  dengan gaun Versace-nya yang super panjang , rawan keselimpet, nyeret-nyeret, dan mau nggak mau rela “mengepel” lantai museum bisa dibilang jadi cleaning service dadakan. Penulis juga sangat mengapresiasi kekuatan dan kekekaran punggung Katy Perry yang memikul sayap dengan ukuran buto. Belum lagi Rihanna yang mampu tetap tegak berdiri saat mengenakan dress, cape, dan topi ala paus yang penuh dengan borci-borci (kosakata ala emak-emak Pasar Atum untuk menyebut payet) rancangan Maison Margiela yang kalau ditotal  barangkali bisa sampai belasan kilogram. Tak kalah hebat, Sarah Jessica Parker mampu menahan beban dari pajangan rumah yang dijadikan bando oleh Dolce and Gabbana itu demi mengalihkan fokus agar tidak terpaku pada wajahnya yang botox-nya tidak merata itu. Penulis saja sudah ngomel-ngomel karena bahu suka salah urat kalau bawa laptop di tas. Luar biasa memang kekuatan para wanita di Met Gala 2018!

Kegilaan selanjutnya ialah keberanian Andrew Bolton, kurator The Costume Institute dan sesosok pencetus tema-tema Met Gala dalam beberapa tahun terakhir, dalam menentukan tema Met Gala tahun ini, yaitu Heavenly Bodies: Fashion and Catholic Imagination. Presiden Kebudayaan Vatikan, Gianfranco Ravasi sendiri bersyukur atas diangkatnya tema ini, sebab artinya simbol Katolik masih bisa menyentuh orang lain.

Tapi, akibat mencetuskan ide kontroversial ini, ia harus bolak-balik New York-Vatikan sebanyak 10 kali dalam satu tahun terakhir! Dikutip dari Tirto, Bolton menjalin relasi dengan lima orang pastur pejabat gereja dan menteri kebudayaan Vatikan untuk bisa meminjam busana pastur, mahkota yang dikenakan Paus, dan benda-benda gereja lainnya. Total ada lebih dari 40 benda yang biasa tersimpan di dalam tempat penyimpanan perlengkapan ekaristi (sakristi) di sebuah gereja di Vatikan. Berani buat ide gila, harus berani kerja gila!

Tak hanya membuat Bolton bolak-balik New York-Vatikan sampai mbulak, tema yang menyentuh ranah keagamaan ini juga menimbulkan kontroversi. Penulis paparkan terakhir karena merupakan klimaks dari kegilaan acara ini. Ide suangar nun gendeng ini  rupanya tidak disambut baik oleh beberapa selebritis, dan bahkan ingin memboikot Met Gala 2018. Dikutip dari Vogue, tema ini jadi kontroversi karena fesyen dinilai tak pantas disandingkan dengan hal-hal yang dianggap sakral atau suci. Tapi, menurut Bolton hal itu lumrah saja, “Ini menegaskan kesetiaan pada agama, eksistensi, dan perbedaan agama,” tukasnya.

Yang jelas, apabila ingin mengangkat tema keagamaan, harusnya pihak Met Gala tetap menjaga kesucian agama itu sendiri. Tak pantas rasanya apabila mengenakan pakaian bertema agamis, tapi dibuat seperti pakaian yang kekurangan kain dan bikin orang salah fokus. Entah bagaimana jadinya kalau acara semacam ini diselenggarakan di Indonesia. Gurung diselenggarakno wes dicekal disek. Hehehe….

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Sembilan Dosa Bocah Milenial 2 372

Redaksi kali ini memuat hal menarik: panduan ringkas memahami karakteristik masyarakat milenial! Barangsiapa hendak mengikuti tren yang terjadi (juga mungkin keganjilan-keganjilannya), bolehlah disimak:

1. Raimu ketulung mobilmu

Begitulah kira-kira perumpamaan paling sahih untuk menggambarkan skala prioritas para milenial. Mereka menghidupi nilai di mana penampilan adalah segalanya. Sebetulnya tak cuma dandanan luar, tapi juga keseluruhan atribut yang dapat dilekatkan dan dapat meningkatkan status sosial. Pengeluaran per bulan untuk mendandani diri adalah prioritas nomor satu. Pomade, baju branded (preloved rapopo sing penting Zara), sepatu, lipstick (musti matte biar kalo mimik di gelas tanpa bekas), mobil (kredit dijabani pokoke pantes, minimal Agya Ayla) dan seterusnya.

2. Hape apel krowak sebagai sekte agama

Milenial melihat ponsel sebagai ritus baru beragama. Rutin dihayati dan disayang-sayang. Coba periksa di manapun mereka berada, ponsel tak pernah absen di pelukan. Mulai bobo cantik sampai menjelang cawik, hape tak lepas di genggaman. Merek didominasi apel krowak, tapi isi aplikasi paling melip hanya game, youtube atau instant messenger (karena memang mampunya mengoperasikan itu, mohon dimaklumi). Sesekali diisi fasilitas editing foto, biar aduhai kalau selfie diunggah ke media sosial.

3. Nongkrong sampe mbulak

Kapanpun harus disisakan waktu luang. Ini ciri yang sangat kentara, sebab milenial senantiasa mencari sekeras-kerasnya waktu luang, sekalipun di tengah kesibukan maha padat. Nongki-nongki sambil isep Vape biasanya menjadi pilihan. Sekedar di kafe kelas menengah, atau sampai kelas atas, yang menunya punya prinsip ra enak ra popo sing penting instagrammable. Kadang karena ingin dinilai memahami selera elite, pergilah mereka ke Setarbak—yang andai kopinya dituker dengan kapal api 2.500 rupiah pun milenial tak sadar beda rasanya. Pokoke nggaya!

 4. My trip my adventure, mak crit mak plekentur

Banyak milenial ababil yang tega menabung banyak untuk dihabiskan seluruhnya demi vakansi. Liburan ini konon adalah pelarian semi-intelektual: kembali pada alam, menghayati ciptaan Tuhan, menepi ke pantai, kontemplasi ke pegunungan, dan segudang alasan-alasan gombal mbelgedhes. Intine kepingin hura-hura kok harus repot mencari alasan filosofis. Tiket kereta api atau pesawat bisa di-booking jauh-jauh hari. Kalau perlu sampai ke luar negeri, biar kaffah liburannya, Havana o nana. Singapore gakpapalah, lumayan bisa poto-poto di depan singa muntah. Atau negeri-negeri eksotis lainnya, agar bisa wisata kuliner unik-unik, lalu bikin vlog, atau story. Tujuannya jelas: mari dipamerkan ke handai-taulan ngenes yang melas di media sosial.

5. Isolasi sosyel

Milenial acapkali mengisolasi dirinya atau kumpulan gengnya dari orang lain. Asyik-asyik sendiri, galo-galo sendiri dan kalau berkumpul, menu utama selalu ghibah. Jarang bertemu atau sulit membuka diri dari kelompok lain. Akibatnya, tak ada tradisi dalam diri mereka untuk merekat secara sosial, saling tegur sapa, memahami secara intens dunia sosialnya. Mungkin sudah terlalu lelah masturbasi dengan identitasnya sendiri.

6. Susah setia

Para millenial ini senang hidup tanpa pilihan, jadi nihilis ben filosofis. Tiada kuasa mereka bertahan lebih dari 2 jam hanya mengerjakan satu kegiatan. Bosenan. Sebentar buka Line, beberapa menit kemudian pindah ke instagram, lalu Twitter-an. Bentar-bentar buka pintu dapur, buka kulkas, gak ada apa-apa, dikit-dikit mie instan lagi. Ini dapat dipahami kerena mereka hanya menunggang tren yang amat sementara. Setelah tren gaya itu perlahan mereda, berpindahlah mereka ke wilayah lain. Milenial adalah orang-orang yang nomaden dalam bergaya.

7. Antologi quotes berjalan

Kutap-kutip kalimat indah antologi biar keliatan sentimentil. Kalau bisa jangan hanya jadi antologi berjalan; jadilah kamus, atau perpustakaan sekalian. Ini demi perbendaharaan kata-kata mutiara yang jitu untuk melengkapi caption foto Instagram, selfie di bawah pohon rindang yang korelasinya tentu bernilai nol. Atau jadi senjata mutakhir untuk merayu mbak’e, berjajarlah amunisi gombalan Dilan sampai Ditto, tinggal dipilih sesuai situasi. Tentu yang diutamakan bukan quotes berbau masalah politik-ekonomi-sosial, apalagi religi. Semua berputar pada ranah romansa, satu-satunya aspek kehidupan yang paling dikuasai millenials. Cinta-cintaan, menghindar dari mantan. Ncen kakehan gaya. Mbayar iuran kas kelas ae sek kredit.

8. Cenayang nirkabel

Hanya bermodalkan kuota internet, itu pun kadang numpang tethering, milenial bisa tahu aktivitas terbaru dari teman-temannya (baca: following dan follower). Milenial mengumpulkan pundi-pundi informasi itu dari story, postingan, tweet, dan seabrek fitur medsos lain. Jelas sekali, nuansa nongki cantik jadi tidak diwarnai dengan saling menanyakan kabar, tapi sekedar klarifikasi. Kondisi ini menuntut milenial untuk selalu up to date. Asu tenan.

9. Ra ngurus dapuranmu

“Situ sapah kok ngurusi hidup eike?” Begitulah filosofi hidup milenial. Maksudnya ingin tampil independen dan mandiri, tapi sering tersesat pada apatisme. Maksudnya berupaya mendobrak konservatisme nilai-nilai, tapi meleset ke kebodohan. Sangat sensitif pada privasi, dan menjadi paranoid agar hidupnya tak diinterupsi oleh orang lain. Sebaliknya, karena terlalu berkonsentrasi pada diri sendiri, individu milenial mengabaikan dunia lain. Orang lain adalah antah-berantah. Yang penting urusan diri sendiri beres, situ mau jumpalitan juga terserah. Sangat cuek dan masa bodoh.

Itu tadi sembilan ulasan dari kami. Jika ada bantahan atau tambahan, bolehlah dikirimkan pada kami. Siapa tau juru bicara milenial tersinggung. Hehehe.

Editor Picks