Lawakan Media dalam Pengepungan Papa 0 1363

Wah, papa diculik orang jahat malam-malam?

Barangkali beginilah keresahan para kader dan hamba-hamba loyal dari orang paling sakti se-Indonesia saat ini, Setya Novanto. Setelah mangkir jutaan kali dari panggilan baik-baik, KPK Rabu malam menggeruduk rumah istana papa. Tapi bahkan lebih dari lima jam ditelisik, yang dicari-cari tak kunjung nampak batang hidungnya.

Ironisnya, kita disajikan oleh breaking news berlarut-larut dari tiga stasiun televisi berita nasional sekaligus. Jangan ditanya bagaimana visual yang nampak. Mau pembaca berdoa sampai mulut berbusa, SetNov tiada kunjung muncul wajahnya di layar kaca. Lah wong doi (katanya) tak ada di rumah. Lantas apa yang disajikan media dalam siaran langsung itu? Apa yang membuat awak media rela berjam-jam nongkrong di depan rumah SetNov tanpa kejelasan? Siapa yang menggaji untuk pekerjaan infotainment macam itu? Ups.

Karena si artis tidak sedang berada di kediamannya, lantas para awak media mulai mencari-cari bahan untuk liputan langsung. Sejumlah personil disebar ke berbagai titik. Yang jelas tentu di rumah SetNov yang magrong-magrong itu, di kantor KPK, dan di kantor partai berlambang beringin. Laporan yang sampai ke telinga dan mata khalayak tak lebih dari minimnya tanda-tanda pergerakan, ada yang keluar-masuk ke rumah SetNov, dan kekonyolan awak media lain yang menunggu di luar kediaman SetNov.

Malam itu, barangkali tak hanya papa SetNov yang tak bisa tidur. Para kader partai ikut-ikutan insomnia mendadak. Telepon rumah dan handphone berlomba-lomba berdering, tanda panggilan dari kantor media, turut tak menidurkan anak, istri, hingga asisten rumah tangga. Tapi, siapa pula mesin partai yang hendak tidur di saat sang ketua sedang digempur. Satu-dua di antara mereka memilih bungkam, pura-pura budeg. Sisanya, untunglah mau menjawab. Tentu saja secara diplomatis ala-ala politisi.

Sebut saja Mahyudin, salah satu kader yang langsung diserbu wartawan sejak kakinya baru menginjak keluar dari pagar rumah SetNov sekitar pukul 23.30. Dicerca dengan berbagai pertanyaan, Mahyudin justru membuat penonton kecewa. Katanya ia tak memperhatikan percakapan antara pihak keluarga SetNov, kuasa hukum, dan penyidik KPK. Katanya lagi, rumah SetNov terlalu luas, sehingga ia ada di bagian belakang untuk menonton televisi dan mengabaikan peristiwa lain. Kita baru tahu bahwa rumah ketua dewan kini menjelma rental atau warung kopi yang bisa nobar.

Lawakan belum berakhir, Saudara sekalian. Dihubungi melalui panggilan suara, Nurdin Halid, si ketua harian partai kuning, mengaku tidak mengikuti berita ‘penangkapan paksa’ rekannya. Digurui dengan pertanyaan-pertanyaan wartawan yang makin memojokkan, dia kembali membuat skenario terakhir tatap muka dengan SetNov adalah lima hari lalu, dan tak kunjung bertukar kabar di kemudian hari. Kita jua tercerahkan atas fakta rupanya di saat genting sekalipun, dua sejoli pimpinan terpucuk sebuah partai besar tak intens dalam berkomunikasi.

Tak berhenti sampai di situ, idola netizen bersama, Fahri Hamzah, merasa diberi surprise atas kabar ‘apel malam’ KPK itu. Lagi-lagi doi naik pitam, menuding adanya ‘orang kuat’ yang berkuasa memerintah KPK agar melakukan penangkapan di tengah malam. Kira-kira ‘orang kuat’ ini siapa? Apakah Gatutkaca? Atau Hulk?

Segala drama korea ini menghantarkan pemirsa pada perspektif beraneka ragam. Namun kita tentu berharap, para pagar betis SetNov harusnya menyiapkan jawaban yang lebih kreatif dan inovatif ketimbang “tidak tahu”. Rakyat Indonesia yang katanya sudah cerdas berdemokrasi tentu sadar betul ketidatahuan adalah zona teraman agar tak salah bicara. Tentu, sebagai kader partai yang baik, segala rahasia dapur apalagi aib pak ketua harus dilindungi.

Pun wartawan hendaknya juga menyiapkan pertanyaan lain, bukan? Karena berusaha kritis dengan pertanyaan-pertanyaan tajam adalah sia-sia belaka. Toh, jawabannya pasti itu-itu lagi. Netizen tentu bosan dan kehabisan ide menggarap meme baru tentang SetNov.

Pertanyaan mainstream macam “Apakah Anda tahu posisi SetNov di mana?” ada baiknya perlu dipertimbangkan sebelum dilontarkan di hadapan followers akut papa. Jawaban jujur dan budiman tentu mustahil. Ujung-ujungnya, segala proses wawancara hanya demi kewajiban memenuhi follow-up news dan kejar deadline.

Terlepas dari itu semua, keberadaan fisik seorang SetNov masih menjadi misteri. Ia tiba-tiba menghilang ketika dicari (persis kayak gebetan kamu). Kita hanya perlu memanjangkan sabar, menunggu. Siapkan saja kopi, senja, dan diiringi suara gemericik hujan di luar sana. Sambil kita tonton lawakan penculikan papa di malam gelap.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Asmara Putra Presiden dan Kita yang Suka Kepo 0 232

Kaesang selingkuh??!!

Ini sih bukan cuma bahan omongan netijen di media sosial, tapi juga persoalan kita semua!

Persoalan ini menempati posisi teratas trending topic di linimasa media sosial. Bermula dari unggahan akun gosip junjungan kita semua, Lambe Turah, dan dikonfirmasi oleh beberapa postingan feed dan story akun melia_lau yang merupakan ibunda dari Felicia, pacarnya Mas Kaesang.

Pendek cerita, Kaesang dinyatakan menghilang tanpa kabar alias ghosting, lalu ketahuan jalan dengan perempuan lain. Naasnya, perempuan lain itu pegawainya sendiri. Bilang WOW gak nih?

Oh, betapa runyamnya persoalan ini bagi bangsa dan negara. Mendadak kita semua mengurusi persoalan asmara putra presiden. Setelah ini, wartawan infotainment yang brutal itu akan menyerbu istana, menghujani Jokowi dengan pertanyaaan personal seputar anak bungsunya.

Untuk sementara, istana hanya akan sibuk menjawabi persoalan ini, dan melupakan penanganan corona, atau urusan Moeldoko dan Demokrat.

Tapi, menurut hemat penulis, setidaknya ada sejumlah poin andai-andai yang bisa diserap dari peristiwa ini.

 

Kalau saja selingkuhnya di tempat yang tepat

Kata teman-teman saya sih, tempat terbaik di ibukota untuk selingkuh adalah Kuningan City. Konon, mal ini selalu sepi walau akhir pekan. Pun di dalamnya disewa oleh tenant ternama dengan harga diskon semua. Niscaya selingkuh aman dan hemat jika mbaké minta dibelikan baju baru.

Atau di Blok M misalnya. Pusat belanja yang hampir sekarat. Di mana penjualnya hanya fokus melariskan dagangan, tak peduli siapa yang sedang kencan, entah beneran pasangan atau simpanan.

Kalau di Surabaya, Anda bisa mengajak mbaké ke DTC. Bisa sekalian blusukan pelaku UMKM yang sesungguhnya. Siapa tahu mau studi banding.

Sayangnya, Mas Kaesang, kita ini memang hidup di zaman edan. Pacaran dengan pacar orang kurang afdol rasanya jika belum diposting ke media sosial, entah untuk apa tujuannya. Mungkin, untuk menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan khalayak.

 

Kalau saja Kaesang bukan anak pleciden

Pasti kisah drama asmara ini akan biasa-biasa saja. Kaesang juga hanyalah mas-mas biasa usia 20-an yang suka main mobel lejen dan papji. Tapi status sebagai anak orang nomor satu di Indonesia ini menjadikan beban moral berat harus ditanggungnya.

Padahal, semua hubungan tentu punya masalah dan bisa saja menemui akhirnya. Semua dari kita pasti pernah mengalami ghosting, baik jadi korban atau pelakunya. Kaesang pun manusia adanya, yang bisa mengalami hal-hal tersebut. Bukan karena anak presiden, terus Kaesang jadi manusia paling sempurna dan idaman.

Kita semua ini kan pernah berdosa, cuma belum ketahuan boroknya aja. Tapi ya beginilah tabiat kita menjadi manusia. Menghakimi, menghujat, seakan-akan kita orang paling benar di dunia.

 

Kalau saja semua ini hanya prank

Siapa tahu kan, Kaesang butuh ide konten baru di akun Youtube-nya. Siapa tahu semua drama ini memang disiapkan untuk melamar Felicia di Desember 2021, seperti yang dijanjikannya pada keluarga.

Atta dan Aurel saja habis putus tiba-tiba mengumumkan pernikahan. Siapa tahu kan, yang satu ini juga bernasib demikian.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Terlanjur Mencinta pada Artis Korea 0 174

 

Pada awal Maret ini, ada yang mengejutkan di jagat Youtube. Ryeowook personil grup boyband kenamaan asal Korea Selatan, Super Junior, merilis video clip cover lagu dalam bahasa Indonesia: Terlanjur Mencinta.

Lagu ini sebenarnya sudah keluar setahun silam, dinyanyikan dengan 3 versi yang berbeda oleh penyanyi jebolan Indonesian Idol: Tiara Andini, Lyodra Ginting, dan Ziva Magnolya. Walaupun dengan 3 gaya berbeda, lirik lagu ciptaan Yovie Widianto ini dipersatukan dalam satu prinsip: kehandalannya dalam mengiris hati.

Cover lagu oleh idol Kpop yang satu ini lantas langsung melesat ke puncak perbincangan dunia maya dan nyata. Hingga tulisan ini sedang dibuat, video “Ryeowook #TerlanjurMencinta” menempati urutan ke-8 trending Youtube dan ditonton lebih dari 900 ribu kali.

Videonya juga langsung mendapat komen dari penyanyi pertamanya, Tiara, dan tentu saja ribuan komen fans berat Kpop dari Indonesia.

Dengan mengesampingkan berbagai nilai yang Anda percayai tentang  Kpop idol, mari kita mengapresiasi pelafalan dan artikulasi yang hampir sempurna dari Ryeowook dalam menyanyikan lagu berbahasa Indonesia. Yah, paling agak terpeleset di kata “bertemu”, apalagi “mencinta”. Wajar dan sangat bisa diampuni.

Pun teknik pengambilan gambar yang banyak meng-close-up wajah Ryeowook menunjukkan penghayatan yang sungguh-sungguh. Tandanya, si penyanyi tahu betul makna lirik dan tujuan utama lagu.

Cover Ryeowook juga menjadi pegangan bahwa lagu yang emang dari sananya enak ini, cocok dinyanyikan semua gender, termasuk (ehemm) laki-laki. Jujur saja, sebagai mantan penggemar Kpop, ini pertama kalinya saya mendengarkan teknik vokal yang ciamik dari salah satu personil boyband. Biasanya sih, saya salah fokus sama tarian dan pakaiannya (ups).

Belakangan, salah satu Youtuber keluarga favorit saya juga melakukan kolaborasi dengan idol Kpop. Kimbab Family, keluarga campuran Indonesia-Korea dengan 3 anak mereka yang biasanya menampilkan kehidupan sehari-hari sebagai keluarga multi-kultural, dan bahkan menerbitkan buku dengan sub-judul “bukan (drama) Korea”, akhirnya “jatuh” juga. Mereka bahkan membuat 2 video yang menampilkan si idol Kpop yang mereka temui, alias 2 personil Shinee. Ini belum termasuk story Instagram mereka ya.

Mundur ke belakang lagi, kita juga sempat dihebohkan dengan “keberhasilan” dara asli Indonesia, Dita Karang, menjadi anggota girlband Kpop Secret Number.

Jangan lupa juga Siwon Super Junior yang wajahnya nampak di mana-mana, memakan mie instan produk Indonesia dengan rasa ke-Korea-korea-an. Pun BTS dan Blackpink yang dipakai sebagai brand ambassador dari platform jual-beli digital Indonesia.

Jadi, sebenarnya ada apa dengan idol Kpop dan Indonesia?

Mungkin, ini berita bahagia bagi kalian para penggemar Kpop. Ini artinya, mereka, sang artis, idola, dan junjungan kalian semua, tertarik terhadap Indonesia, berikut orang-orang dan budayanya.

Tapi, sadar gak, sebenarnya manajemen para idol Kpop itu paham betul, betapa empuknya rakyat Indonesia Raya ini menjadi sasaran pasar. Kita adalah pasar yang sangat potensial bagi para penjaja hiburan, dan rela mengais kocek berapa saja asal bisa membeli tiket konser, album, merchandise, dan poster foto mereka untuk dipajang di kamar.

Dalam psikologis endek-endekan, perilaku ngefans berat ini tergolong dalam kelainan mental. Bukan saya yang ngomong ya, ini saya dapet di… website-website kesehatan.

Dalam bahasa kerennya, perilaku ini disebut celebrity worship syndrome, alias memuja berlebihan dan punya ikatan secara emosional dengan sang idola. Dengan bahasa yang lebih kekinian, sebut saja bucin.

Tahu sendiri kan, kalau terlalu mencintai seseorang, kita tidak akan rela jika sang idola sakit hati, atau dihina orang lain. Inilah alasan betapa militannya penggemar Kpop saat melakukan twit-war. Dalam versi yang lebih ekstrem karena halusinasi yang berlebihan, beberapa penggemar Kpop ada yang rela melakukan percobaan bunuh diri hanya karena idola memilih keluar dari grup boyband mereka.

Semakin sakit jiwanya kita membela sang idola, semakin banyak pula pundi-pundi uang yang dihasilkan manajemen artis di negeri jauh sana.

“Loh tapi Bund, saya cuma sekadar ngefans. Gak pernah beli album apalagi tiket konsernya mereka”

Betul. Mereka memang tidak sepenuhnya berhasil membuat kita jadi budak konsumtif produk-produk mereka. Tapi paling tidak, mereka berhasil menambah jumlah klik dan share, melumpuhkan algoritma media sosial, dan merajai trending topic.

Kita tahu kan betapa ributnya konten Korea memenuhi hashtag-hashtag trending yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan substansi utama? Yang justru menjauhkan kita dari informasi sesungguhnya?

Jangan-jangan, Korea-koreaan ini tak hanya menutup mata dan hati kita pada idola lain, tapi juga menutup kesempatan dan kepercayaan kita, bahwa media digital mencerdaskan kita dengan berbagai alternatif wawasan.

Ya tapi mau gimana lagi. Tak ada yang bisa mengalahkan cinta fans kepada idolanya. Mereka betul-betul sudah terlanjur mencinta.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks