Marlina Menjagal Drama Tiga Babak 0 908

Dengan muka manis nan bersahaja, segala pernak-pernik menggantung di tubuh, plus lenggokan anggun dan elegan, wanita kerap kali disimbolkan dalam berbagai rupa keindahan. Venus, Athena, Aisyah, Nyi Roro Kidul, pun sederet tokoh lain ialah korban dari wacana masyarakat yang suka memosisikan perempuan dalam konstruksi “indah”. Apakah wanita selalu identik dengan keindahan?

Rupanya tidak juga. Dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, kita tidak sedang duduk kagum dengan kecantikan Marsha Timothy sebagai pemeran utama, melainkan akan bergumam: ngeri bos!

Mula-mula penonton dihadapkan pada kehidupan seorang janda muda Marlina. Ditinggal mati oleh suami dan anak yang masih kecil, ia habiskan sisa waktu hanya di dalam rumah, itupun tanpa tetangga. Kesendirian itu menimbulkan hasrat para pencuri untuk menyikat apapun yang ia punya, entah itu ternak, masakan, uang, ponsel, bahkan harga diri Marlina.

Marlina tak mau malam berakhir dengan digilir tujuh pria, juga merasa bahwa tak ada jalan kabur. Maka ia putuskan menaruh racun pada masakannya, dan seketika maling-maling itu koit. Apesnya, tiga di antara mereka sedang tak menikmati hidangan. Bahkan, Markus, pemimpin komplotan punya kesempatan untuk memerkosanya.

Di saat itulah, Markus harus kehilangan kepala sekaligus orgasme rencana setannya. Marlina memenggalnya dari tubuh. Amit-amit, ia malah membawa sepenggalan itu menuju kantor polisi demi menunjukkan bahwa dirinya habis mengalami perampokan.

Film terbagi dalam empat babak, sesuai judul: the robbery, the journey, the confession, dan the born. Pembagian alur ini ditampakkan jelas pada teks film, juga pada tujuan di masing-masing babak. Hawa kengerian yang tidak jelas terasa melalui serangkaian adegan pembunuhan, sosok Marlina, pertemuan dengan hantu Markus, kekerasan pada perempuan, lalu ditabrakkan pada set hamparan savana Sumba yang menakjubkan.

Gambaran yang kontradiktif itu bisa jadi usaha Mouly Surya, si sutradara, untuk membuat penonton merasa ganjil. Ada sesuatu yang salah dalam film ini. Bisa jadi, pembunuhan perampok tidak disalahkan karena upaya bela diri. Bisa jadi, pemerkosaan juga sah-sah saja bila tak ada alat visumnya. Bahkan, bisa jadi, menuduh istri mengandung anak sungsang pun diijinkan oleh para sesepuh. Siapakah yang salah?

Semua keganjilan itu pada akhirnya ditujukan guna membahas satu isu genting: kekerasan terhadap perempuan. Ketika selesai menonton, penulis spontan menyampaikan statement: film ini “sangat perempuan”. Dengan kapasitas Mouly sebagai sutradara perempuan, sudah pasti ia tak bisa lepas dari ihwal keperempuanan. Hal itu dipertegas melalui konten cerita soal posisi perempuan yang serba salah, baik ketika menjadi janda, istri, ibu, bahkan korban pemerkosaan. Masyarakat selalu bersifat maskulin lewat relasi kuasa bin oposisi gender yang kuat oleh dominasi kaum laki-laki.

Pertanyaan-pertanyaan soal Mana suamimu? Siapa aja yang sudah memakaimu? Anakmu kok nggak lahir-lahir? Sungsang ya! serta ketidakwarasan untuk memvisum korban pemerkosaan adalah anak kandung dari sistem patriarkis. Ia menggerogoti otak masyarakat untuk sesegera mungkin memosisikan perempuan sebagai ‘objek’.

Karena itu pula, alam Sumba ditampilkan dalam film. Terhampar menguning, namun mereka bukan cuma objek feeds instagram atau lokasi pre-wedding. Mereka tetap ekosistem savana dengan beragam kehidupan yang patut dijaga. Pun sama soal perempuan bersama segenap kehidupannya.

 

Drama Tiga Babak

Nyatanya, meski dibagi dalam empat bagian, metode alur normatif tiga babak masih terasa kental. Ada proses pengenalan-konflik-resolusi yang rajin diaplikasikan pada film-filmmainstream bioskop. Pengenalan karakter melalui percakapan Markus-Marlina, dimulainya konflik rumit atas pembelaan diri si tokoh utama, perjalanan penuh teror, hingga sampai pada terbunuhnya semua perampok—yang ditampilkan sebagai musuh utama.

Namun, film ini tak hanya cerdas dalam pengolahan isu, juga pada eksekusi konsep. Pola drama tiga babak tidak dibikin sesuai film mahal komersil lain. Malah, film seleksi Director’s Fortnite Cannes Film Festival 2017 ini bisa membuat parameter baru bagi perfilman Indonesia.

Dimulai dari percakapan maling-tuan rumah yang menunjukkan masing-masing karakter, konflik langsung timbul. Kekuatan motif para tokoh pun semakin menguatkan konflik. Marlina dengan pelaporan kriminal sekaligus pengakuan dosa; Novi yang hamil 10 bulan dan harus menemui suaminya pun terjebak dalam masalah Marlina; Franz yang mencari-cari kepala Markus; hingga padang savana yang ikut-ikutan meneror selera penonton.

Menjelang akhir, para tokoh dipertemukan dalam rumah Marlina. Kesemuanya telah mencapai tujuan masing-masing. Namun, resolusi yang mereka lakukan hanya akan menimbulkan masalah baru di lain hari.

Konflik boleh jadi selesai, tapi film ini menyumbang tanya baru pada kita semua: adakah kini perempuan telah bebas dari segala macam teror budaya?

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Siapa Bilang Kartini Feminis?! 0 458

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Kartini bukan feminis.

Itu jelas.

Kartini adalah nasionalis sejati, dan disitu yang banyak orang salah kaprah.

Bahwa benar dalam konteks sejarah dan asal-usul keningratan Kartini, ia harus dipingit dan dibatasi adat-adat kesopanan  dan kebangsawanan yang rumit. Dipaksa menikah muda (lagi-lagi karena adat) dengan suami yang jauh lebih tua dan sudah beristri tiga. Bahwa ia tidak setuju dan “memberontak” pada adat yang begitu rupa, adalah juga benar. Tapi, apa hanya begitu saja yang kita ingat dan ketahui dari Kartini?

Hal itu berdampak dalam pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah, Kartini lebih banyak dieksploitasi pada satu aspek saja, yakni ketidaksetujuannya pada adat itu dan bahwa ia kemudian membuka sekolah untuk perempuan. Ia diperkenalkan dalam rupa potret wanita Jawa berkebaya dan berkonde. Wanita yang hari lahirnya 21 April ini akhirnya diperingati sebagai momentum emansipasi wanita. Ia diingat sebagai Raden Ajeng Kartini, wanita Jepara yang kumpulan surat korespondensinya dalam buku berjudul ikonik: Habis Gelap Terbitlah Terang.

Secara parsial, pemahaman sepihak inilah (entah oleh siapa yang mencetuskan ini, tetapi kemungkinan besar adalah Tuan Abendanon dan suasana politik etis Belanda seperti diduga dalam Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer) yang melekat dan berasosiasi pada Kartini. Padahal, jika kita bersama menilik dan mengenal siapa Kartini sekaligus dengan apa serta bagaimana pemikirannya, kita akan dibuat begitu takjub dan tercengang.

Pembaca tidak akan lagi sampai hati mengucapkan “Selamat Hari Kartini” hanya pada perempuan. Ekstrimnya, Pembaca tidak akan pernah lagi memasang embel-embel keperempuanan, kebaya, konde, atau apa sajalah yang menjuruskan perhatian hanya sebatas pada isu perempuan. Karena Kartini bukan milik perempuan, tetapi seluruh Rakyat.

Mengapa?

Karena Ibu Kita Kartini, Sang Pendekar Kaumnya, tidak pernah hanya memperjuangkan perempuan saja!

Sungguh langkah yang tergesa-gesa dan menyalahi sejarah jika Pembaca menjadikannya pahlawan emansipasi wanita, apalagi feminis! Iya beliau perempuan, iya, tapi Kartini bukan feminis.

Nyanyikan lagi lagu “Ibu Kita Kartini” dan pahamilah bahwa kaumnya bukan hanya perempuan, tapi sekalian seluruh Rakyatnya!

Perputaran sejarah tidak mengizinkannya untuk berjuang selain dengan tulisan dan keberadaannya di Jepara. Segala konsepsi yang ia tuang dalam tulisan komprehensif dan penuh pertimbangan dan observasi dalam tiap surat, buku, dan artikel karyanya adalah cikal bakal Indonesia. Hal ini karena pemikirannya selalu mencakup keseluruhan Rakyatnya.

Hal ini dirasa tidak berlebihan, sebab dalam alur sejarahnya pun, pemikiran Kartini banyak mempengaruhi tokoh yang lahir setelahnya. Misal saja W.R. Supratman, yang lantas menjadikannya inspirasi lagunya. Jelas sudah ada dasar nasionalisme yang sengaja diletakkan Kartini untuk diwariskan pada mereka yang lahir setelahnya demi kebaikan dan kemajuan bangsanya.

Menurut penulis, bisa dikatakan, Kartini adalah kritikus sosial yang humanis sekaligus pengamat dengan intelektualisme tinggi. Tidak hanya berhenti di situ, ia mampu menawarkan solusi. Misalkan soal pendidikan. Jauh sebelum Anies Baswedan menggetolkan pendidikan berkarakter, dalam suratnya pada E.C Abendanon tertanggal 15 Agustus 1902, dikatakan Kartini, “Duh, karena itu aku inginkan, hendaknya di lapangan pendidikan itu pembentukan watak diperhatikan dengan tidak kurang baiknya akan dan terutama sekali pendidikan ketabahan. Dalam pendidikan ini harus dapat dikembangkam dalam diri kanak-kanak, terus-terus..

Ah.. indah sekali.

Buah pemikirannya luhur, yang selalu terjun sekaligus bermuara pada bagaimana melepaskan Rakyatnya dari feodalisme Jawa yang sakit dan Belanda yang menghisap Utamanya, bagaimana agar Rakyatnya maju dan sejahtera termashyur seni dan kearifan lokalnya, terdidik dan beradab, serta tak lupa, menjadi Rakyat yang merdeka. Sejauh diketahui, Kartini mengangkat kritik soal feodalisme dan “penindasan” yang dilakukan pembesar Jawa dan Belanda yang merasa dirinya ideal dan “lebih”, dalam bahasa Kartini (istilah Indonesia baru gencar digunakan kaum nasionalis sejak berdirinya Budi Oetomo tahun 1908, empat tahun setelah kematian Kartini). Usahanya memajukan kesenian Jepara, membukakan pendidikan perempuan dengan sekolah. Ia pun memikirkan soal pertanian!

Penulis tidak membela Kartini. Itu mubazir dan tidak perlu. Biarlah pembaca mengenal Kartini melalui perjumpaan pribadi dengan Kartini. Melalui tulisannya sendiri, melalui surat-suratnya. Karena sungguhpun, dalam surat-suratnya pada Estelle Zeehandelaar, Keluarga Ovink-Soer, ataupun Abendanon, tidak pernah sekalipun ia hanya membincangkan semata-mata soal perempuan saja. Kartini dan segala pemikiran dan intelektualisme humanismenya tidak sesempit dan tergesa-gesa itu.

Tidak banyak yang tahu juga kalau Kartini berminat dalam sastra, seni lukis, dan tari. Ia pun mewujudkan sisi filosofisnya dalam peraduan dan pemikiran-pertimbangannya soal Tuhan dan agama.

Berikut beberapa penggalan surat Kartini yang dihimpun, semata-mata untuk memberi gambaran sekilas soal isi pikiran dan keberpihakan Kartini dalam kelangsungan sejarah pergerakan Indonesia.

Surat pada Estelle Zeehandelaar tertanggal 10 Juni 1902 yang dikutip dari Panggil Aku Kartini Saja karya Pram, berbunyi : “Alangkah mesra rasanya di hati karena antusiasme publik Eropa terhadap karya dan seni Rakyat kami, mesra sekali. Kami bangga pada Rakyat kami, yang begitu sedikit dikenal dan tidak diakui itu! Hore! Demi seni dan kerajinan tangan Pribumi! Dengan para artis itu menghadapi hari depan yang indah!”

Kemudian adapun pendapatnya soal feodalisme adat yang kaku dan seringkali  sampai-sampai tidak “manusiawi” dalam surat tertanggal 18 Agustus 1899, juga kepada Estelle Zeehandelaar, “Duh, kau akan menggigil, kalau ada di tengah-tengah keluarga Pribumi yang terkemuka. Bicara dengan atasan haruslah sedemikian pelannya, hanya orang di dekatnya saja bisa dengar. Kalau seorang wanita muda tertawa o-heo, tak boleh dia membuka mulutnya.”

Surat pada Nyonya Abendanon tertanggal 8 April 1902, “ […] Dan lebih keras dari pada erang dan rintih itu, mendesing dan menderu di kupingku: Kerja! Kerja! Kerja! Perjuangkan kebebasanmu! […] Aku dengar itu begitu jelas, nampak tertulis di depan mataku.”

Sekali waktu ia menyergah, membantah, dan menyerang Nyonya Abendanon, melalui surat tertanggal 27 Oktober 1902, “Kami berpendapat bahwa Bunda haruslah mengetahui, apa-apa yang kami temukan dalam masyarakat Bunda; karena rupa-rupanya Bunda berpendapat, bahwa kami menganggap dunia Eropa sebagai ideal. […] dan kami pun mengetahui, bahwa Bunda pun sependapat dengan kami: peradaban yang sebenarnya sama sekali belum menjadi milik negeri-negeri peradaban. Yang sebenarnya itu pun terdapat pada Rakyat-Rakyat, yang oleh massa besar orang kulit putih yang yakin akan kenomor-wahidannya, dipandang hina.” Kartini tidak segan berkata demikian, ia tidak terima Rakyatnya diremehkan, dipandang sebelah mata.

Soal seni Rakyat, ia katakan kepada Estelle Zeehandelaar, tertanggal 11 Oktober 1901, “Siapakah yang dapat menggarap kepentingan-kepentingan kesenian Jawa dengan lebih baik kalau bukan putra Rakyat sendiri, yang kahir bersama kecintaannya pada kesenian Pribumi dan bukan karena kecintaan itu diajarkan padanya? Sebagai anak nasion Jawa itu sendiri, Rukmini di mana pun akan di terima, di mana orang Eropa, betapapun baik maksudnya, akan ditolak.”

Soal keagamaan, ia katakan pada Estelle Zeehandelaar pada surat tertanggal 6 November 1899, “[…] Benarkah agama menjadi karunia bagi umat manusia? Sering pertanyaan itu timbul dalam hatiku yang ragu. Agama yang harusnya melindungi diri kita dari dosa ini, berapa saja kejahatan yang orang telah lakukan atas namaMu!”

Kepada Estelle Zeehandelaar, tertanggal 17 Mei 1902 bernada bahagia, “[…] disebut bersama dengan Rakyatku; dengannyalah dia akan berada buat selama-lamanya! Aku sangat bangga, Stella, disebut dengan satu nafas dengan Rakyatku.”

Lalu sekarang, masihkah Pembaca menyakini anggapan bahwa cita-cita Kartini sekedar emansipasi wanita?

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Berminat pada isu-isu keperempuanan dan gender.

 

Masih Ada Amerika di Wakanda 0 323

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Tulisan ini adalah untuk mengulas bagaimana buah pikir penulis terhadap Wakanda land yang (baju kokonya) jadi gandrungan baru masyarakat dunia pecinta film. Tulisan ini sengaja dituliskan justru setelah euforia sudah berlalu, supaya ulasan ini tidak jadi spoiler bagi kawan-kawan pembaca nan budiman (alasan tok, ngomong wae gak mood nulis).

Kemunculan people colored dalam berbagai karakter film jebolan negeri Paman Sam akhir-akhir ini memberi kita harapan baru bahwa keterbukaan serta kesetaraan semakin nyata. Marvel yang seluruh pahlawannya berkulit putih, rambut pirang, hidung mancung, dan mata biru – atau gampangnya disebut orang Indonesia sebagai bule – kini berani menampilkan T’Challa alias Black Panther sebagai pahlawan asal Afrika.

Tentu usaha mengangkat harkat martabat dunia ketiga ke permukaan layar lebar ini mengundang sambutan baik dari umat manusia (mboh umat seng endi). Terutama dalam film dengan rate 7.8/10 IMDb dan menguasai Box Office Amerika Serikat ini, unsur Afrika dan figur orang kulit hitam dengan segala kebudayaannya sungguh terasa kental. Mulai dari seluruh aktornya – pun masih menyisakan satu lakon Amerika yang jadi pupuk bawang – latar tempat, pakaian, bahasa, musik, hingga font yang digunakan sepanjang film. Semuanya membawa kita seakan-akan percaya dibawa tenggelam dalam budaya asli benua yang dicap termiskin di dunia itu.

Sepintas, kita tentu memuji-muji Amerika atas keberaniannya mengekspos Afrika ke media, suatu tindakan yang selama ini mustahil. Kita dimanjakan dengan tayangan yang berbeda sama sekali, mengentaskan kita atas tuduhan film Amerika yang monoton. Kita puas dan tak mampu beranjak dari kursi penonton hingga dua trailer setelah credit title usai ditampilkan di bioskop – membuat mas-mas petugas bioskop menunggui kita dengan tatapan harap untuk segera angkat kaki. Tapi, who the hell is America sehingga kita pantas untuk memuja-muja atas sukses besarnya dalam Black Panther?

Michael O’Shaughnessy (1951) memberi penjelasan tentang ideologi dominan dan hegemoni dalam kaitannya dengan media. Ideologi sebagai nilai dan kepercayaan seperti dikutip dari Althusser (dengan pijakan pemikiran Mbah Marx tentu saja) diciptakan dan disebarluaskan oleh kelompok berkuasa dalam sebuah tatanan sosial. Ideologi ini kemudian diterima dan dipercaya oleh banyak orang, terutama kelompok yang dianggap sebagai kelas bawah. Ideologi ini bukan suatu standar ideal untuk kemaslahatan umat tentu saja. Ideologi dominan digelar untuk merawat kekuasaan ‘ruling class’.

Sementara Antonio Gramsci menjabarkan konsensus sebagai cara agar orang menyetujui suatu nilai, termasuk ideologi dominan. Inilah yang disebut hegemoni, sebuah proses negosiasi untuk mempertahankan kekuasaan. Hegemoni adalah suatu bentuk penjajahan baru, dengan memberikan kesempatan bagi warga seakan-akan mereka mendapat kebebasan. Memberi ‘hadiah’ kepada kelompok bawahan, dengan syarat kelompok dominan tetap berkuasa.

Saudara-saudara, sayangnya, peran penanaman ideologi dominan sebagai bentuk hegemoni diambil alih oleh kekuatan terbesar sepanjang sejarah: MEDIA. Media yang diawali dari peradaban kelas atas akan terus dan selamanya mendukung ideologi kaum dominan. Kaum dominan di sini bisa diartikan beraneka ragam seperti kultur orang kulit putih, kelas ekonomi menengah-atas, laki-laki, dan sebagainya.

Dalam tulisan ini, khususnya Amerika sebagai negara demokrasi terbesar di dunia – yang oonnya kita agungkan sebagai kiblat membangun negara demokrasi – adalah aktor utama penyebar ideologi dominan yang kini kita yakini bagai agama. Bahwa Amerika adalah negara besar, negara kuat, negara yang tak terkalahkan, sumber segala kehidupan.

Bagaimana bisa wacana ini merasuk dalam film Black Panther padahal ia justru menampilkan kaum terbelakang? Kawan, sayangnya, seperti disebutkan O’Shaughnessy, media justru memberi kesempatan bagi kaum kelas bawah untuk muncul dan dielu-elukan, memberikan kebebasan sebagian agar mereka muncul, tetapi “will never allow power to be completely taken away from them” (O’Shaughnessy 1951, 189).

Hal ini nampak dari penggambaran negeri Wakanda sebagai kerjaaan antah-berantah yang barbar, hidup tertutup, tidak pernah membangun diplomasi dengan dunia. Bahkan, secara kejam Amerika membuat posisi Afrika yang kaya sumber daya alam itu sebagai SERAKAH, hanya menyimpan kekuatan untuk kesejahteraan mereka sendiri: tidak mau vibranium disebarkan ke seluruh dunia.

Wakanda sebagai representasi Afrika kemudian disindir hanya ‘jago kandang’, nampak jelas dari sabda T’Challa “I am the King of Wakanda, not the King of every people” (maaf kalau quotenya salah ya). Mungkin, dalam hal ini Amerika juga tengah menyindir negara-negara lain yang dianggap ‘tidak mau berbagi rezeki’, melalui Afrika sebagai ‘kambing hitam’, hiks kasian bingits. Atau semata-mata hanya ‘gertakan sambel’nya Amerika untuk menutupi ketakutan berlebihan mereka akan negara-negara superpower lainnya.

Pun Wakanda di akhir cerita yang digambarkan membuka diri pada dunia, tergambar dengan adegan pidatonya di PBB – yang oh lagi-lagi produk Amerika dan bermarkas di Amerika. Itu pun, lagi-lagi Wakanda mengambil langkah diplomasi karena diberi stimulus serangan N’Jadaka a.k.a Killmonger, seakan-akan mereka tidak secara sadar dan memiliki kematangan berpikir tanpa gertakan. Maaf ya, sepertinya penulis dalam nyinyiran hari ini sedang sensi dengan Amerika, selain sama doi.

Sesungguhnya, masih banyak diskursus lain yang menarik untuk dibahas. Misal, Nakiya dan Okoye sebagai jenderal beserta anak buahnya yang butak-butak sebagai ksatria wanita tangguh. Biarlah para pejuang kesetaraan gender dan pencadu feminisme akut yang akan membahasnya.

Yang pasti, kawan-kawan masih akan dibujuki Marvel sepanjang tahun ini. Masih ada Infinity War, Ant Man, dan hegemoni-hegemoni lainnya yang siap sedia ditanamkan pada benak Anda sekalian. Masih ada 35 hingga 60 ribu duit ping sewu (ini harga tiket nonton normal di mall-mall beken Surabaya) dihamburkan demi melihat Amerika masih, akan, dan selamanya menguasai dunia. Hehe.

Editor Picks