Marlina Menjagal Drama Tiga Babak 0 1330

Dengan muka manis nan bersahaja, segala pernak-pernik menggantung di tubuh, plus lenggokan anggun dan elegan, wanita kerap kali disimbolkan dalam berbagai rupa keindahan. Venus, Athena, Aisyah, Nyi Roro Kidul, pun sederet tokoh lain ialah korban dari wacana masyarakat yang suka memosisikan perempuan dalam konstruksi “indah”. Apakah wanita selalu identik dengan keindahan?

Rupanya tidak juga. Dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, kita tidak sedang duduk kagum dengan kecantikan Marsha Timothy sebagai pemeran utama, melainkan akan bergumam: ngeri bos!

Mula-mula penonton dihadapkan pada kehidupan seorang janda muda Marlina. Ditinggal mati oleh suami dan anak yang masih kecil, ia habiskan sisa waktu hanya di dalam rumah, itupun tanpa tetangga. Kesendirian itu menimbulkan hasrat para pencuri untuk menyikat apapun yang ia punya, entah itu ternak, masakan, uang, ponsel, bahkan harga diri Marlina.

Marlina tak mau malam berakhir dengan digilir tujuh pria, juga merasa bahwa tak ada jalan kabur. Maka ia putuskan menaruh racun pada masakannya, dan seketika maling-maling itu koit. Apesnya, tiga di antara mereka sedang tak menikmati hidangan. Bahkan, Markus, pemimpin komplotan punya kesempatan untuk memerkosanya.

Di saat itulah, Markus harus kehilangan kepala sekaligus orgasme rencana setannya. Marlina memenggalnya dari tubuh. Amit-amit, ia malah membawa sepenggalan itu menuju kantor polisi demi menunjukkan bahwa dirinya habis mengalami perampokan.

Film terbagi dalam empat babak, sesuai judul: the robbery, the journey, the confession, dan the born. Pembagian alur ini ditampakkan jelas pada teks film, juga pada tujuan di masing-masing babak. Hawa kengerian yang tidak jelas terasa melalui serangkaian adegan pembunuhan, sosok Marlina, pertemuan dengan hantu Markus, kekerasan pada perempuan, lalu ditabrakkan pada set hamparan savana Sumba yang menakjubkan.

Gambaran yang kontradiktif itu bisa jadi usaha Mouly Surya, si sutradara, untuk membuat penonton merasa ganjil. Ada sesuatu yang salah dalam film ini. Bisa jadi, pembunuhan perampok tidak disalahkan karena upaya bela diri. Bisa jadi, pemerkosaan juga sah-sah saja bila tak ada alat visumnya. Bahkan, bisa jadi, menuduh istri mengandung anak sungsang pun diijinkan oleh para sesepuh. Siapakah yang salah?

Semua keganjilan itu pada akhirnya ditujukan guna membahas satu isu genting: kekerasan terhadap perempuan. Ketika selesai menonton, penulis spontan menyampaikan statement: film ini “sangat perempuan”. Dengan kapasitas Mouly sebagai sutradara perempuan, sudah pasti ia tak bisa lepas dari ihwal keperempuanan. Hal itu dipertegas melalui konten cerita soal posisi perempuan yang serba salah, baik ketika menjadi janda, istri, ibu, bahkan korban pemerkosaan. Masyarakat selalu bersifat maskulin lewat relasi kuasa bin oposisi gender yang kuat oleh dominasi kaum laki-laki.

Pertanyaan-pertanyaan soal Mana suamimu? Siapa aja yang sudah memakaimu? Anakmu kok nggak lahir-lahir? Sungsang ya! serta ketidakwarasan untuk memvisum korban pemerkosaan adalah anak kandung dari sistem patriarkis. Ia menggerogoti otak masyarakat untuk sesegera mungkin memosisikan perempuan sebagai ‘objek’.

Karena itu pula, alam Sumba ditampilkan dalam film. Terhampar menguning, namun mereka bukan cuma objek feeds instagram atau lokasi pre-wedding. Mereka tetap ekosistem savana dengan beragam kehidupan yang patut dijaga. Pun sama soal perempuan bersama segenap kehidupannya.

 

Drama Tiga Babak

Nyatanya, meski dibagi dalam empat bagian, metode alur normatif tiga babak masih terasa kental. Ada proses pengenalan-konflik-resolusi yang rajin diaplikasikan pada film-filmmainstream bioskop. Pengenalan karakter melalui percakapan Markus-Marlina, dimulainya konflik rumit atas pembelaan diri si tokoh utama, perjalanan penuh teror, hingga sampai pada terbunuhnya semua perampok—yang ditampilkan sebagai musuh utama.

Namun, film ini tak hanya cerdas dalam pengolahan isu, juga pada eksekusi konsep. Pola drama tiga babak tidak dibikin sesuai film mahal komersil lain. Malah, film seleksi Director’s Fortnite Cannes Film Festival 2017 ini bisa membuat parameter baru bagi perfilman Indonesia.

Dimulai dari percakapan maling-tuan rumah yang menunjukkan masing-masing karakter, konflik langsung timbul. Kekuatan motif para tokoh pun semakin menguatkan konflik. Marlina dengan pelaporan kriminal sekaligus pengakuan dosa; Novi yang hamil 10 bulan dan harus menemui suaminya pun terjebak dalam masalah Marlina; Franz yang mencari-cari kepala Markus; hingga padang savana yang ikut-ikutan meneror selera penonton.

Menjelang akhir, para tokoh dipertemukan dalam rumah Marlina. Kesemuanya telah mencapai tujuan masing-masing. Namun, resolusi yang mereka lakukan hanya akan menimbulkan masalah baru di lain hari.

Konflik boleh jadi selesai, tapi film ini menyumbang tanya baru pada kita semua: adakah kini perempuan telah bebas dari segala macam teror budaya?

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Caleg dan Spion Bundarnya 0 236

Pemasangan spion bundar di pojokan jalan itu nampaknya makin menambah geram warga. Berkali-kali anggota PKK tak mau membayar iuran hanya karena tidak mendapat transparansi siapa yang memasang cermin itu. Pengajian saban Kamis malam yang biasanya ramai, kini tidak terlihat barang separuh saja jamaahnya yang masih setia. Pula, Minggu pagi yang seharusnya jadi ajang adu kejantanan pria dalam membersihkan selokan, mengecat ulang tiang listrik—yang belakangan memudar karena banyak ditempeli brosur tak jelas—atau bahkan memeriksa megafon surau yang dipakai untuk azan pun putus-putus.

Adalah Karmidi, bapaknya Kamila, perempuan paruh baya yang sekarang gemar ngartis daripada mengurusi anak, yang mengawali serangkaian aksi boikot itu. Pada tiap bubaran sholat berjamaah, ia berbisik pada kanan-kiri shaf, agar memaksa Pak RT (yang juga imam surau) buka suara terkait spion itu. Itu terjadi sekitar dua bulan lalu, ketika Karmidi, istrinya Solikah, yang sedang lanjut S3 di Jogja, mendapati ada dua kaca besar yang menggantung di pojokan gang. Satu buah menghadap timur, memantulkan susur gang yang bisa ditengok melalui jalanan di sebelah selatan atau sebaliknya. Di ujung timur, ada juga satu biji spion yang dipasang pas di atas pagar Warno, yang muskil tak menjemur celana jins di paving teras rumah (kenapa ya?).

Belakangan, warga jadi maklum atas hadirnya dua cermin bulat di kampung itu. Sebab apa boleh kata, Sutarji, yang menikah lagi tiga tahun lalu, adalah kader desa salah satu partai yang tak bisa disebut namanya (kenapa ya selalu begini?). Dulu, ketika dia mengumumkan maju caleg pada sebuah pengajian, orang bertanya-tanya tentang penghasilannya.

“Sekarang, coba kalian pikir, asalnya duit dari langit mana itu? Sampai dua istrinya bisa akur, punya tiga mobil, dan dalam dua tahun saja, rumahnya jadi tiga lantai!” sinis Masrukhin, istri Warno.

Namun, bukannya senang karena dapat bantuan dari calon pejabat itu, Karmidi merasa masih ada yang tak kena di hati. Ia menganggap kaca-kaca itu sebagai spionase, mata-mata bagi kampung, agar kelak tidak lagi ada warga menggunjing di depan teras rumah mereka. “Meminimalisasi gibah kita atas Cak Tarji,” sahut Burhan, remaja tamatan pondok pesantren modern—setidaknya menurut sekolah itu sendiri.

Tolakan juga tak hanya datang dari situ. Warno, yang rumahnya jadi tempat pemasangan spion, juga merasa terganggu berkat lalainya izin dari Cak Tarji. Ia bahkan berani mengadu ke Pak Lurah bila Sutarji tidak juga mengaku salah. Sampai hati ia melangkahi si empu rumah untuk memasang barang yang bukan haknya.

Atas komplain dari warga, Pak RT bukanlah tipe orang yang asal ngeles. Dengan sabar, ia dengarkan keluh kesah dari Karmidi, Warno, Burhan serta Masrukhin dan ibu-ibu pengajian lainnya. Sambil meminum teh bekas pagi tadi—sampai warnanya tak lagi pekat—ia meminta mereka tidak perlu risau, sebab semua sudah dia perhitungkan. Tetapi soal pemasangan di depan rumah Warno, itu adalah kekhilafan.

“Besok akan saya minta Minto untuk membongkar spion di depan rumah bapak. Saya akan geser ke titik yang lebih menguntungkan kita semua.”

Bahkan sepuluh hari menjelang pencoblosan pun, spion itu masih menggantung, masih setia memberi waspada bagi tiap orang yang hendak berbelok, masih di sudut yang sama persis, dengan lanskap yang terkesiap di cermin sebagai berikut: gapura gang berwarna kuning kehijauan, ornamen lampion melintang atap rumah, paving jalanan tidak lagi pudar, serta umbul-umbul bertuliskan, “Bersama Cak Tarji, Pemimpin Masa Depan Umat”.

Tidak. Warga tidak protes ke Pak RT atas rayuan politik itu. Mereka masih hidup bertetangga, saling bersahut nama. Tetap datang ke pengajian yang sama, membayar iuran PKK yang sama, sampai bersama-sama memperbaiki surau. Mungkin yang membedakan adalah ini: baik Karmidi, Warno, Burhan serta Masrukhin tidak terdengar lagi kabarnya di sana. (Kenapa ya? Saya juga tidak tahu.)

‘Yowis Ben 2’: Film Band-band-an yang Yowislah 0 516

Setamat Bayu dan kawan-kawan menempuh masa sekolah, tibalah mereka pada tantangan hidup berikutnya: lanjut kuliah atau kerja.

Belum sempat daftar kuliah bersama gadis kecintaan, boneka Susan, Bayu keburu disalip Roy yang—dengan mudahnya—mengajak Susan melanjutkan pendidikan di Jerman. Tak cukup dibuat jatuh oleh kandasnya hubungan, ia terancam masa kontrak rumah yang hampir habis. Bayu dibuat pusing. Satu-satunya jalan keluar ialah dengan membesarkan band-nya, Yowis Ben.

Jika ingin jujur berbicara film tentang band di Indonesia, apalagi yang berformat komedi, bisa dikatakan ada dua hal yang tidak mampu dilepaskan: persoalan wanita dan pertarungan idealisme. Plot pertama, tokoh utama berusaha mengejar gadis idaman lalu tanpa sengaja melupakan band; sedang di lain sisi, ada personil lain yang ketimpa masalah sehingga harus meninggalkan band. Atau plot kedua, band butuh panggung untuk berkembang, sedangkan realitanya, tak semua band mampu membawa semangat idealisnya, hingga harus berkongsi dengan pasar; personil lain ada yang setuju ada pula yang tidak.

Film Yowis Ben 2 tetap terjebak pola semacam itu. Melanjutkan kesuksesan dari film pertama, Fajar Nugros dan Bayu Skak mendamba lebih. Maka jadilah mereka merekrut nama-nama besar macam Anya Geraldine, Andovi dan Jovial da Lopez, serta sederet artis lain. Demi pasar yang lebih luas, mereka pun memaksakan memadukan bahasa Jawa dan Sunda, meski tak paham juga mengapa sebenarnya mereka harus ke Bandung (sekalian aja ke Jakarta, cuk).

Dua puluh menit pertama menonton, film ini masih terasa masuk akal. Beragam problem muncul, dari masalah galau remaja hingga persoalan finansial, juga ketidakbecusan Cak Jon mengurus Yowis Ben. Sampailah mereka bertemu Cak Jim, seorang manajer artis profesional yang mengaku sudah mengorbitkan banyak band dan berniat membesarkan Yowis Ben.

Bagaimana caranya? Dengan mengirim mereka ke Bandung! Alasannya, karena dari sana—dan seolah-olah hanya dari sana saja—banyak band bisa terkenal. Sementara Jawa Timur, latar belakang yang awalnya mengangkat betapa idealisnya film ini, iklimnya ternyata nggak bagus buat ngartis.

Memasuki setengah film, kacau. Banyak logika cerita yang tumpang tindih. Bagaimana mungkin para orang tua personil band ini bisa percaya lulusan SMA bisa bertahan hidup di kota orang—mek bondho percoyo ke Cak Jim yang bahkan belum pernah mereka temui?

Bagaimana juga Mia, istri Yayan, bisa menyusul ke Bandung tanpa sepengetahuan si suami? Sedangkan di awal film, Yayan mengaku kesulitan secara finansial karena pendapatan dari band tak sebesar yang diharapkan. Oh… mungkin karena Mia—ternyata si suami cukup bodoh sampai nggak tahu—adalah anak tentara yang asli Bandung. (Cuuk, serius?)

Ke-mbulet-an ditambah lagi dengan kehadiran Stevie di Bandung, yang juga tak memerbaiki masalah apapun, selain demi kontrak Devina Aurel yang belum habis di film ini. Apa cuma biar bisa pegang-pegangan sama Nando?

Kalaupun ingin menunjukkan sisi Islam yang syar’i melalui pernikahan muda Mia-Yayan, justru penggambaran dalam film ini bisa jadi bumerang. Baik Mia maupun Yayan masing-masing tak mampu menjalani kedewasaan, selain dengan memarahi Yowis Ben karena nggak bangun shubuhan. Atau, saat Mia memilih tidur berdua dengan suami ketimbang dengan Stevie, sehingga tak tersisa lagi kamar buat Bayu dkk.

Karakter kekanak-kanakan ini diperparah dengan kondisi Yayan yang belum mapan secara finansial namun nekat menikah. Bisa jadi, pernikahan muda, yang selama ini sering digaungkan berpotensi rapuh oleh karena manten yang belum matang secara usia, memang benar berbahaya.

Kemunculan Asih juga jadi pertanyaan besar. Bagi orang-orang selevel pengusaha Markobar martabak yang ramai dan laris manis, Asih harusnya tak perlu lagi kuliah jauh di Malang, apalagi mendaftar di IKIP yang notabene nggak nyambung dengan usahanya. Bahkan bagi perempuan se-geulis dan setajir dia, lelaki macam Bayu normalnya cuma seliweran depan mata. Tapi toh film ini punya Bayu sehingga, mau tak mau, Anya harus bersedia mesra-mesraan sama anak band yang nggak jelas juntrungannya (jiancuk tenan).

Bayu pun, yang awalnya digambarkan megap-megap lantaran kondisi ibunya yang jualan pecel, dihimpit hutang kontrakan selama tiga tahun, biaya kuliah, dan masalah finansial sampai bikin nekat ke Bandung, ternyata masih sempat kencan dengan pengusaha martabak! Ada baiknya, bapaknya Asih menambah jam workout supaya akal sehatnya makin segar. Maksudnya, biar nggak langsung menerima orang asing yang datang di waktu-waktu tak wajar. Apa coba yang pembaca lakukan jika melihat seorang lelaki main ke rumah malam-malam, melompati tembok, ngaku ingin beli martabak, namun ternyata cuma modus biar bisa colek-colekan tepung sama Anya Geraldine?

Selain beragam logika cerita yang aneh, kemunculan figur wanita kurang lebih hanya dimanfaatkan sebagai gimmick semata. Seolah-olah benar kata Stevie, “Arek band-band-an iku lak mesti wedhokan ae”. Kalau di film pertama dengan cewek yang ini, di film kedua pasti cewek ini pergi dan diganti cewek lain. Siklus yang sama bakal terjadi pula di film ketiga.

The Tarix Jabrix (2008, 2009, 2011) dengan band The Changcuters, sama-sama menggunakan formula tersebut. Hanya saja, Yowis Ben menambah perbendaharaan bahasa lokal sebagai fondasi cerita maupun aksentuasi guyonan. Tanpa bahasa Jawa, film ini bagaikan Real Madrid tanpa Zidane soto tanpa kunyit; jadinya akan lain cerita.

Di luar kesia-siaan itu, rasanya sinema Indonesia masih dan tetap perlu diperkaya dengan tontonan dengan yang memadukan penggunaan bahasa lokal—yang tentunya tanpa dibumbui stereotip aneh. Biar filem kita isinya tak melulu lu gua lu gua lu gua lu gua lu gua…

Ciuuukk, ajur tenan.

Editor Picks