Marlina Menjagal Drama Tiga Babak 0 1174

Dengan muka manis nan bersahaja, segala pernak-pernik menggantung di tubuh, plus lenggokan anggun dan elegan, wanita kerap kali disimbolkan dalam berbagai rupa keindahan. Venus, Athena, Aisyah, Nyi Roro Kidul, pun sederet tokoh lain ialah korban dari wacana masyarakat yang suka memosisikan perempuan dalam konstruksi “indah”. Apakah wanita selalu identik dengan keindahan?

Rupanya tidak juga. Dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, kita tidak sedang duduk kagum dengan kecantikan Marsha Timothy sebagai pemeran utama, melainkan akan bergumam: ngeri bos!

Mula-mula penonton dihadapkan pada kehidupan seorang janda muda Marlina. Ditinggal mati oleh suami dan anak yang masih kecil, ia habiskan sisa waktu hanya di dalam rumah, itupun tanpa tetangga. Kesendirian itu menimbulkan hasrat para pencuri untuk menyikat apapun yang ia punya, entah itu ternak, masakan, uang, ponsel, bahkan harga diri Marlina.

Marlina tak mau malam berakhir dengan digilir tujuh pria, juga merasa bahwa tak ada jalan kabur. Maka ia putuskan menaruh racun pada masakannya, dan seketika maling-maling itu koit. Apesnya, tiga di antara mereka sedang tak menikmati hidangan. Bahkan, Markus, pemimpin komplotan punya kesempatan untuk memerkosanya.

Di saat itulah, Markus harus kehilangan kepala sekaligus orgasme rencana setannya. Marlina memenggalnya dari tubuh. Amit-amit, ia malah membawa sepenggalan itu menuju kantor polisi demi menunjukkan bahwa dirinya habis mengalami perampokan.

Film terbagi dalam empat babak, sesuai judul: the robbery, the journey, the confession, dan the born. Pembagian alur ini ditampakkan jelas pada teks film, juga pada tujuan di masing-masing babak. Hawa kengerian yang tidak jelas terasa melalui serangkaian adegan pembunuhan, sosok Marlina, pertemuan dengan hantu Markus, kekerasan pada perempuan, lalu ditabrakkan pada set hamparan savana Sumba yang menakjubkan.

Gambaran yang kontradiktif itu bisa jadi usaha Mouly Surya, si sutradara, untuk membuat penonton merasa ganjil. Ada sesuatu yang salah dalam film ini. Bisa jadi, pembunuhan perampok tidak disalahkan karena upaya bela diri. Bisa jadi, pemerkosaan juga sah-sah saja bila tak ada alat visumnya. Bahkan, bisa jadi, menuduh istri mengandung anak sungsang pun diijinkan oleh para sesepuh. Siapakah yang salah?

Semua keganjilan itu pada akhirnya ditujukan guna membahas satu isu genting: kekerasan terhadap perempuan. Ketika selesai menonton, penulis spontan menyampaikan statement: film ini “sangat perempuan”. Dengan kapasitas Mouly sebagai sutradara perempuan, sudah pasti ia tak bisa lepas dari ihwal keperempuanan. Hal itu dipertegas melalui konten cerita soal posisi perempuan yang serba salah, baik ketika menjadi janda, istri, ibu, bahkan korban pemerkosaan. Masyarakat selalu bersifat maskulin lewat relasi kuasa bin oposisi gender yang kuat oleh dominasi kaum laki-laki.

Pertanyaan-pertanyaan soal Mana suamimu? Siapa aja yang sudah memakaimu? Anakmu kok nggak lahir-lahir? Sungsang ya! serta ketidakwarasan untuk memvisum korban pemerkosaan adalah anak kandung dari sistem patriarkis. Ia menggerogoti otak masyarakat untuk sesegera mungkin memosisikan perempuan sebagai ‘objek’.

Karena itu pula, alam Sumba ditampilkan dalam film. Terhampar menguning, namun mereka bukan cuma objek feeds instagram atau lokasi pre-wedding. Mereka tetap ekosistem savana dengan beragam kehidupan yang patut dijaga. Pun sama soal perempuan bersama segenap kehidupannya.

 

Drama Tiga Babak

Nyatanya, meski dibagi dalam empat bagian, metode alur normatif tiga babak masih terasa kental. Ada proses pengenalan-konflik-resolusi yang rajin diaplikasikan pada film-filmmainstream bioskop. Pengenalan karakter melalui percakapan Markus-Marlina, dimulainya konflik rumit atas pembelaan diri si tokoh utama, perjalanan penuh teror, hingga sampai pada terbunuhnya semua perampok—yang ditampilkan sebagai musuh utama.

Namun, film ini tak hanya cerdas dalam pengolahan isu, juga pada eksekusi konsep. Pola drama tiga babak tidak dibikin sesuai film mahal komersil lain. Malah, film seleksi Director’s Fortnite Cannes Film Festival 2017 ini bisa membuat parameter baru bagi perfilman Indonesia.

Dimulai dari percakapan maling-tuan rumah yang menunjukkan masing-masing karakter, konflik langsung timbul. Kekuatan motif para tokoh pun semakin menguatkan konflik. Marlina dengan pelaporan kriminal sekaligus pengakuan dosa; Novi yang hamil 10 bulan dan harus menemui suaminya pun terjebak dalam masalah Marlina; Franz yang mencari-cari kepala Markus; hingga padang savana yang ikut-ikutan meneror selera penonton.

Menjelang akhir, para tokoh dipertemukan dalam rumah Marlina. Kesemuanya telah mencapai tujuan masing-masing. Namun, resolusi yang mereka lakukan hanya akan menimbulkan masalah baru di lain hari.

Konflik boleh jadi selesai, tapi film ini menyumbang tanya baru pada kita semua: adakah kini perempuan telah bebas dari segala macam teror budaya?

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Perempuan Endonesa di Tengah Jalangnya Panggung Politik 0 211

Perempuan memang harusnya masak di dapur ajah! Gak usah politik-politikan!”

Pernyataan di atas bisa jadi sasaran bahan bully yang empuk di era ini, utamanya karena populasi kaum penganut feminis akut kian meningkat (apalagi yang kelewat pede, merasa lebih unggul dari laki-laki). Keterbukaan pada media sosial membuat kesadaran gender jadi makanan sehari-hari, baik untuk ditenggak maupun di-lepeh lagi.

Namun, nyatanya di kancah perpolitikan, kalimat tersebut ternyata masih pantas-pantas saja dilambungkan. Oke, kini makin banyak politisi perempuan yang muncul ke permukaan. Makin banyak perempuan yang menjadi pimpinan dalam posisi strategis. Catat saja Jawa Timur sudah dikuasai 10 emak-emak sebagai kepala daerah. Tapi masalahnya, apakah kenyataan ini mampu mengobati kekhawatiran kita akan ketimpangan peran perempuan di pertarungan hidup politik yang sengit ini?

Penulis meragukan betul jawabannya. Pasalnya, kemarin, selepas menonton talkshow yang digelar idola, masih belum ada juga stigma negatif terhadap politisi perempuan yang berusaha diubah. Justru, dua wanita dari partai biru-biru, yang saat itu hadir sebagai bintang tamu, yang nyatanya masih mempertahankan pola pikir lama tentang perempuan.

Wanita dari partai biru A menyebut berkali-kali dengan bangga bahwa dirinya adalah politisi perempuan. Sudah, sampai situ saja. Tidak jauh berbeda dengannya adalah politisi dari partai biru B. Menekankan identitasnya sebagai perempuan, ia merasa mengungguli suara di timur Jawa dari ibu-ibu dan anak generasi milenial.

Kemudian hal ini menyisakan pertanyaan dalam benak kita semua, “Terus nek awakmu wedhok, aku kudu lapo?”

Iya. Saudara-saudara, bukankah kita sebagai perempuan memimpikan women empowerment dalam program kerja dan perwujudan hukum di Indonesia dari politisi perempuan juga?

Sayangnya, para mbak-mbak, politisi perempuan di negera kita ini masih dihantui dengan kecenderungan untuk dilemahkan. Benar memang 30% kursi DPR harus diisi oleh mereka yang di KTP-nya tertulis ‘perempuan’. Tapi, bagaimana jika angka tersebut digunakan sebagai syarat formalitas belaka? Sayembara digelar, perempuan dilibatkan, hanya cuma agar supaya angka terpenuhi dan partai politik lolos verifikasi memasukkan benderanya di surat suara.

Sebuah jurnal yang meneliti kinerja DPRD Surabaya menyebut politisi perempuan saat berpendapat di rapat paripurna cenderung tidak dianggap dan bahkan direndahkan dengan kalimat verbal. Demikian pula jurnal ini menyebut pendidikan politik di akar rumput hanya mementingkan pemenuhan syarat keterwakilan perempuan, bukan memilah isu-isu yang seharusnya pas dipegang politisi perempuan. Tidak heran jika istri, anak, dan sanak saudara yang berjenis kelamin perempuan dari para pimpinan parpol ujug-ujug muncul wajahnya di spanduk kampanye pinggir jalan. Nyaleg.

Sebuah tesis berjudul “Gambaran Politisi Perempuan dalam Arena Politik Indonesia di Media Massa” juga menyebut, pemberitaan di media tentang politisi perempuan masih hobi nyerempet ke isu domestik. Identitas sebagai politisi dilengkapi dengan sentuhan “tuntutan” untuk tetap menjadi tukang masak, tukang nyapu-ngepel, dan guru les anak dalam berbagai pemberitaan. Dalam media pun, politisi perempuan cenderung digambarkan ndompleng ke nama besar laki-laki yang menjadi “promotornya”.

Nyatanya, perempuan kalau jadi politisi memang banyak tantangannya. Ranah dapur yang lekat dalam image perempuan didobrak paksa habis-habisan ketika ia memilih ranah publik dengan menjadi politisi. Belum lagi ketika perempuan berhasil merebut jabatan-jabatan vital di tingkat nasional maupun daerah. Segala hukum agama, dan kalau bisa hukum rimba, digunakan untuk menjegal mereka. Hal ini tidak mengherankan mengingat kita hidup dengan catatan sejarah panjang dan konteks budaya yang lekat dengan pandangan patriarki. Kita masih terjebak bahwa politik adalah pekerjaan maskulin.

Lah terus piye? Apakah dengan begitu para pemimpin dan politisi perempuan yang tengah menjabat kini kurang mumpuni? Tidak juga. Tri Rismaharini, yang dikenal suka marah-marah itu, selalu dihujani penghargaan kelas internasional dan tetap teguh menutup jurang Gubeng dalam lima hari. Khofifah Indar Parawansa bisa dikata berhasil memenangkan kontestasi Jatim 1 akibat jaringan massa yang kuat dan prestasi sebelumnya yang bergerak di ranah sosial, bidang yang “cewek banget”.

Tapi ya balik lagi, artinya politisi perempuan memang harus menunjukkan rapot terlebih dahulu baru beroleh penghormatan yang sepadan. Jika tidak kuat menerjang gelombang maut permainan politik yang sarat kecurangan dan dendam, politisi perempuan yang selalu jadi sasaran korban ini tidak akan dipandang.

Sedih ya? Susah amat jadi politisi perempuan!

Omelan-omelan Baru Berkat ‘Aquaman’ 0 237

Kemarin akhirnya penulis menaati sihir-sihir netizen untuk segera menonton film terbaik sepanjang sejarah DC Comics, Aquaman. Nyatanya, dalam 143 menit kita disajikan paduan gambar serba apik garapan Warner Bross Pictures di tangan sutradara yang tepat, James Wan. Petualangan bersama manusia amfibi nan gondrong ini tidak langsung dihadirkan lewat adegan berantem pake ototnya, yang serba bikin hati mbak-mbak gemes dagdigdug gak karuan. Bahkan jauh sebelum itu, cerita dimulai dari Arthur Curry, si tokoh utama, dalam tahapan belum sama sekali terencana di benak kedua orang tuanya.

Kali ini, penulis tidak punya cukup amunisi untuk ngomeli film ini. Pertama, karena penulis takut dihajar fans berat DC Extended Universe. Kedua, karena nyatanya film ini menghibur banget, walaupun mudah dilupakan sepulang keluar dari pintu Exit gedung bioskop lantaran formulasi film hero yang ya-gitu-itu (loh kok sidone ngomel?).

Penulis cukup memberikan satu alasan besar mengapa kamu harus nonton film ini. Tidak lain tidak bukan, adalah supaya cukup menampar kamu dengan kebiasaan yang acuh tak acuh dengan kondisi bumi dan lingkungan. Hehe.

Alkisah Arthur Curry adalah putra sulung Atlanna, Ratu Atlantis, hasil dari perkawinan silang dengan manusia biasa akibat kabur dari perjodohan. Tapi pada akhirnya laut tetap menjemput dan pernikahan yang semestinya tetap terjadi. Lahirlah putra kedua, Orm, yang pada masa mendatang berambisi menjadi penguasa lautan, menyatukan berbagai kerajaan untuk melawan manusia daratan. Alasannya satu, karena bangsa manusia yang terus-terusan mencemari laut. Hmm kon. Ya opo gak kesindir awakmu?

Untuk menyegarkan ingatan kita bersama, Indonesia sebagai negara mayoritas lautan digadang-gadang sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. Bahkan Indonesia sudah dapat berbagai macam sempritan kecaman dari mana-mana.

Sebuah penelitian oleh Indonesia, Amerika Serikat, Australia, dan Kanada menunjukkan 26 bagian per 100 meter persegi terumbu karang Indonesia tercemar limbah plastik. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat sampah plastik yang dihasilkan rakjat mencapai 24.500 ton per hari.Sampeyan semua tahu kan, kalau sampah plastik butuh lebih dari 20 tahun untuk akhirnya benar-benar terurai? 79% dari jumlah itu hanya berakhir di TPA. 80% ikan terkontaminasi sekitar 8-9 biji kecil-kecil plastik. Plastik-plastik itu kemudian turut memercepat kematian penyu sebesar 50%.

Pertanyaannya, kok bisa sampai separah ini kondisi persampahan di laut Indonesia?

Jawabnya sederhana, karena konsumsi produk berkemasan plastik, terutama dari food and beverage–karena orang kita suka makan kali ya–yang terlalu buanyak di daratan ini. Kedua, karena ya begonya kita aja suka buang sampah di kali, pantai, atau laut.

Segala usaha sebenarnya sudah dilakukan pemerintah kita. Pernah ingat kan di awal 2016 ketika keramahan mbak-mbak minimarket berubah menjengkelkan dengan pertanyaan plus-plus ‘Pakai kantong kresek bayar 200 rupiah ya kak?’, selain ‘Nambah pulsanya sekalian?’ atau ‘Kuenya lagi promo beli dua gratis satu’. Peraturan dari KLHK itu bertahan tidak lebih lama dari hubunganmu dengan arek’e, sekitar tiga bulan saja. Pun sama tragisnya dengan pelajaran lingkungan hidup di sekolah, yang membuat sekolah rela beli tiga macam tong sampah supaya siswanya belajar memilah sampah. Ketika sampai di TPA, ya semua nyampur jadi satu.

Sampai akhirnya, muncullah solusi baru, yaitu peniadaan sedotan plastik di berbagai resto fast food. Peluang ini dilihat betul dengan menghadirkan mahakarya stainless steel straw, yang penggunaannya kerap kali dipamerkan arek-arek di story Instagram mereka biar kelihatan kayak aktivis lingkungan. Sedotan logam yang harganya bervariasi mulai dari belasan hingga puluhan ribu rupiah itu katanya tidak mengandung BisphenoIA (BPA) yang biasa terkandung di sedotan plastik, sehingga mengurangi resiko kegagalan reproduksi, diabetes, dan serangan jantung.

Selain menawarkan kesehatan dan reuseable-ness, sedotan logam ini akhirnya mulai mewabah, menjelma jadi tren kekinian. Jika pembaca adalah penggemar berat sedotan ini lantaran cinta pada Fishermen, Trench, Brine, dan kawan-kawannya, penulis hargai betul. Yang patut dicurigai adalah yang punya motif-motif lain. Misalnya, karena rasa terpaksa akibat setarbak dan mekdi mengeluarkan produk gelas langsung cucup. Ya sudah kan, akhirnya berpasrah lagi kita pada produk-produk kapitalis ini.Penulis juga makin curiga, film Aquaman ini pada akhirnya bisa dimanfaatkan untuk soft selling buat stainless straw, meningkatkan awareness dan menyasar conviction konsumen. Sayangnya, kita terjebak dengan perasaan seakan-akan telah turut berpartisipasi dalam kampanye ‘say no to plastic’ di balik gelas-gelas teh cantik dan kopi manja dengan paduan elemen stainless straw dan sedikit effort untuk menjadikannya Instagramable. Ya, penulis berdoa semoga tidak.

Anyway, film Aquaman ini menurut hemat penulis setidaknya turut melanggengkan plot favorit perfilman yang kudu banget pakai formula konflik cinta terlarang. Film ini turut menghidupkan imajinasi jombloers di luar sana, berharap bujang lapuk yang kesepian di tepian ombak tiba-tiba dapet rejeki wanita cantik yang terdampar. Doa baik penulis untukmu, semoga scene serupa terjadi atas kita semua, dan tidak ada lagi diksi ‘cinta terlarang’, baik di dunia manusia darat maupun perairan, hiks.

Editor Picks