Marlina Menjagal Drama Tiga Babak 0 1779

Dengan muka manis nan bersahaja, segala pernak-pernik menggantung di tubuh, plus lenggokan anggun dan elegan, wanita kerap kali disimbolkan dalam berbagai rupa keindahan. Venus, Athena, Aisyah, Nyi Roro Kidul, pun sederet tokoh lain ialah korban dari wacana masyarakat yang suka memosisikan perempuan dalam konstruksi “indah”. Apakah wanita selalu identik dengan keindahan?

Rupanya tidak juga. Dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, kita tidak sedang duduk kagum dengan kecantikan Marsha Timothy sebagai pemeran utama, melainkan akan bergumam: ngeri bos!

Mula-mula penonton dihadapkan pada kehidupan seorang janda muda Marlina. Ditinggal mati oleh suami dan anak yang masih kecil, ia habiskan sisa waktu hanya di dalam rumah, itupun tanpa tetangga. Kesendirian itu menimbulkan hasrat para pencuri untuk menyikat apapun yang ia punya, entah itu ternak, masakan, uang, ponsel, bahkan harga diri Marlina.

Marlina tak mau malam berakhir dengan digilir tujuh pria, juga merasa bahwa tak ada jalan kabur. Maka ia putuskan menaruh racun pada masakannya, dan seketika maling-maling itu koit. Apesnya, tiga di antara mereka sedang tak menikmati hidangan. Bahkan, Markus, pemimpin komplotan punya kesempatan untuk memerkosanya.

Di saat itulah, Markus harus kehilangan kepala sekaligus orgasme rencana setannya. Marlina memenggalnya dari tubuh. Amit-amit, ia malah membawa sepenggalan itu menuju kantor polisi demi menunjukkan bahwa dirinya habis mengalami perampokan.

Film terbagi dalam empat babak, sesuai judul: the robbery, the journey, the confession, dan the born. Pembagian alur ini ditampakkan jelas pada teks film, juga pada tujuan di masing-masing babak. Hawa kengerian yang tidak jelas terasa melalui serangkaian adegan pembunuhan, sosok Marlina, pertemuan dengan hantu Markus, kekerasan pada perempuan, lalu ditabrakkan pada set hamparan savana Sumba yang menakjubkan.

Gambaran yang kontradiktif itu bisa jadi usaha Mouly Surya, si sutradara, untuk membuat penonton merasa ganjil. Ada sesuatu yang salah dalam film ini. Bisa jadi, pembunuhan perampok tidak disalahkan karena upaya bela diri. Bisa jadi, pemerkosaan juga sah-sah saja bila tak ada alat visumnya. Bahkan, bisa jadi, menuduh istri mengandung anak sungsang pun diijinkan oleh para sesepuh. Siapakah yang salah?

Semua keganjilan itu pada akhirnya ditujukan guna membahas satu isu genting: kekerasan terhadap perempuan. Ketika selesai menonton, penulis spontan menyampaikan statement: film ini “sangat perempuan”. Dengan kapasitas Mouly sebagai sutradara perempuan, sudah pasti ia tak bisa lepas dari ihwal keperempuanan. Hal itu dipertegas melalui konten cerita soal posisi perempuan yang serba salah, baik ketika menjadi janda, istri, ibu, bahkan korban pemerkosaan. Masyarakat selalu bersifat maskulin lewat relasi kuasa bin oposisi gender yang kuat oleh dominasi kaum laki-laki.

Pertanyaan-pertanyaan soal Mana suamimu? Siapa aja yang sudah memakaimu? Anakmu kok nggak lahir-lahir? Sungsang ya! serta ketidakwarasan untuk memvisum korban pemerkosaan adalah anak kandung dari sistem patriarkis. Ia menggerogoti otak masyarakat untuk sesegera mungkin memosisikan perempuan sebagai ‘objek’.

Karena itu pula, alam Sumba ditampilkan dalam film. Terhampar menguning, namun mereka bukan cuma objek feeds instagram atau lokasi pre-wedding. Mereka tetap ekosistem savana dengan beragam kehidupan yang patut dijaga. Pun sama soal perempuan bersama segenap kehidupannya.

 

Drama Tiga Babak

Nyatanya, meski dibagi dalam empat bagian, metode alur normatif tiga babak masih terasa kental. Ada proses pengenalan-konflik-resolusi yang rajin diaplikasikan pada film-filmmainstream bioskop. Pengenalan karakter melalui percakapan Markus-Marlina, dimulainya konflik rumit atas pembelaan diri si tokoh utama, perjalanan penuh teror, hingga sampai pada terbunuhnya semua perampok—yang ditampilkan sebagai musuh utama.

Namun, film ini tak hanya cerdas dalam pengolahan isu, juga pada eksekusi konsep. Pola drama tiga babak tidak dibikin sesuai film mahal komersil lain. Malah, film seleksi Director’s Fortnite Cannes Film Festival 2017 ini bisa membuat parameter baru bagi perfilman Indonesia.

Dimulai dari percakapan maling-tuan rumah yang menunjukkan masing-masing karakter, konflik langsung timbul. Kekuatan motif para tokoh pun semakin menguatkan konflik. Marlina dengan pelaporan kriminal sekaligus pengakuan dosa; Novi yang hamil 10 bulan dan harus menemui suaminya pun terjebak dalam masalah Marlina; Franz yang mencari-cari kepala Markus; hingga padang savana yang ikut-ikutan meneror selera penonton.

Menjelang akhir, para tokoh dipertemukan dalam rumah Marlina. Kesemuanya telah mencapai tujuan masing-masing. Namun, resolusi yang mereka lakukan hanya akan menimbulkan masalah baru di lain hari.

Konflik boleh jadi selesai, tapi film ini menyumbang tanya baru pada kita semua: adakah kini perempuan telah bebas dari segala macam teror budaya?

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menangisi Gagalnya Nobar di Bioskop 0 341

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia, sudah fix menunda pembukaan bioskop yang seharusnya terjadwal 29 Juli ini, sampai waktu yang belum ditentukan. Tentu saja niatnya baik: demi memutus mata rantai penularan COVID-19, yang makin hari angkanya makin naik gak karu-karuan.

Di kolom ini tentu saja kita tidak perlu membahas efektivitas kebijakan menahan pembukaan sejumlah tempat hiburan malam dan bioskop, namun membiarkan tempat wisata lain (yang lebih banyak digunakan untuk pesepeda dadakan) tetap beroperasi.

Yang jelas, sebagian dari kita tentu mengeluh dalam hati. Rasanya bak diberi harapan tapi diputus tiba-tiba. Setelah lebih dari seribu bioskop di 52 kota di Indonesia tutup sejak 26 Maret 2020, mengurung jiwa-jiwa hedon kita. Berbulan-bulan loh gak nonton bioskop! Rasanya mau mati, kalau katanya influencer review makanan. Se-introvert-introvert-nya saya (maaf ngaku-ngaku), saya pun sama dengan kalian: rindu nonton bioskop.

Saya paham betul anyep-nya ketawa sendirian sepanjang nonton film genre komedi, dan sepinya menangis sendiri saat nonton adegan yang mengharukan. Saya sadar betul betapa gak mbois-nya nonton film di layar kecil HP, atau paling banter di layar laptop 14 inci. Saya juga gak bisa merasakan sensasi spiker D*lby all around you, apalagi layar Imax yang segede lapangan futsal itu.

Kita tentu rindu rasa-rasa ketika baru masuk gedung bioskop, mendengar teriakan mas-mas penjual popcorn supaya kita tertarik beli dagangannya, berasa artis yang disoraki fans. Kita tentu kangen sekali perjuangan mencari promo tiket melalui platform daring. Kita mungkin rindu rasa balap-balapan pre-order booking kursi untuk penayangan premiere film kesayangan yang sudah kita tunggu-tunggu serialnya.

Sudah lama juga ya rasanya gak makan popcorn, yang gara-gara saking asyiknya sampai habis duluan sebelum filmnya mulai. Sampai lupa rasanya pamer foto tiket nobar bioskop film yang sedang hype di Instagram Story—yang kalau teman-teman kita kebetulan sudah nonton duluan, kita wajib ancam mereka dengan segenap kekuatan jiwa-raga supaya mereka tidak spoiler.

Tentu jadi kerinduan bersama pula buat pegangan tangan dengan kekasih sepanjang film berlangsung—apalagi kalau filmnya horor (wes ngakuo ae, aku yo eruh modusmu!)—untuk saling menyalurkan rasa hangat tubuh, meminimalisir begitu br*ngs*knya dinginnya AC gedung teater. Hal sesederhana tertawa bersama penonton lain di adegan-adegan konyol, atau berteriak bersama ketika ada jumpscare, semua itu bikin kangen.

Kita semua memang bersedih dan tak kunjung kelar mengeluh dengan tertundanya pembukaan bioskop ini. Mengutuki dalam hati: koronah gatheeeel! Walau sebenarnya sudah ada Netflix yang sudah dibuka blokirnya oleh Indihome, atau aplikasi lain (dan website streaming ilegal yang belum diblokir pemerintah) yang bisa diakses, menambal kerinduan-kerinduan kita akan nobar di bioskop.

Tapi mungkin gara-gara kita sibuk berduka, kita sampai lupa ada yang nasibnya lebih terkatung-katung.

Ketua Umum Asosisasi Produser Film Indonesia menyebut, ada sekitar 15 proyek film yang gagal produksi tahun ini. Hal ini tentu berdampak pula bagi para sutradara dan kisah produksi mereka. Mulai dari Joko Anwar sampai Livi Zheng, semua gigit jari.

Para aktor dan aktris, walau setenar Reza Rahadian dan Tara Basro sekalipun, di masa begini, pupus sudah seluruh jadwal syuting yang telah tersusun rapi sepanjang tahun 2020. Jangan lupa keseluruhan kru film, yang dalam sekali pembuatan film, bisa ada 80-100 orang bahkan lebih. Bisa jadi, side job supir G*jek sempat melintas di benak mereka (atau bahkan ada yang sudah merealisasikannya) demi menyambung hidup.

“Loh kan filmnya bisa tayang secara onlen”. Mulut gampang bicara. Tapi bagaimana menggaji kru film dan biaya produksi yang bermiliar-miliar hanya dengan online streaming? Bagaimana caranya menutup kekurangan biaya 80-90 persen yang selama ini didapatnya dari bioskop?

Juga mereka, para reviewer atau kritikus film, tak lagi punya bahan untuk dikomentari. Tak lagi mereka mengirim tulisan untuk media, di mana juga berarti hilangnya sebagian besar penghasilan (dan passion) mereka.

Mbak-mbak penyobek tiket nontonmu, mereka yang membersihkan sampah bekas popcorn yang kamu tinggalkan begitu saja di kursi, tukang pel kamar mandi eks-eks-wan, mereka semua juga ingin kembali ke bioskop. Mereka yang harus dirumahkan, kena pengurangan gaji, atau bahkan PHK, semua sama kangennya dengan bioskop seperti kita, gaes!

Tapi, berbeda dengan kamu semua yang rindu mencari hiburan di tengah kebosanan, mereka ingin kembali ke bioskop karena rindu kembali bekerja.

Kata Kakak Anji: “Corona gak semengerikan itu kok”. Mungkin benar bagi sebagian orang, tapi tidak bagi mereka, para pejuang seni garda terdepan dan pekerja kreatif, yang sama sekali kehilangan pekerjaannya gara-gara Corona.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

CCTV Setarbak dan Ekspektasi Kesetaraan Gender 0 324

Semua ini gara-gara mas-mas Setarbak. Karena keisengan mereka memperbesar layar monitor CCTV untuk melihat dan memuja-muja kemolekan tubuh pelanggan wanita yang sedang asyik menikmati kopi produk kapitalis dan penambal gengsi itu.  Setelah kejadian ini diketahui publik, perdebatan isu gender kembali mencuat ke permukaan, menjadi trending topic yang tak terelakkan. Netijen sibuk menguji materi dan menyebar twit mengenai siapa yang salah: yang ngintip atau yang pakai baju minim?

Kasus seperti ini bukan yang pertama kalinya. Sudah acap terjadi, bahkan membuat kita begah karena saking seringnya. Sudah capek rasanya diri ini mau membahas isu gender. Pembahasan gender seakan tak ada ujungnya, dan selalu memantik pertengkaran. Mereka yang setuju wanita harus menutup aurat versus mereka yang meminta laki-laki mengendalikan libidonya.

Misalkan kasus lain tentang istri yang membikinkan bekal untuk suaminya. Dalam kasus tersebut, banyak netijen berkomentar yang pada intinya berkata, bahwa thread viral “Bekal Buat Suami” telah menginjak-injak harga diri perempuan dan memposisikan perempuan sebatas babu rumah tangga. Dengan begitu tanggap, netijen segera membantu menghitung pendapatan yang mungkin bisa diterima sang istri jika bekerja, apabila tidak sibuk memasakkan makanan untuk suami.

Namun, tidak jarang perdebatan di kolom komentar tersebut justru menggeser cita-cita gerakan feminis sesungguhnya (baca: yang menginginkan kesetaraan gender). Kesan yang seringkali muncul – setidaknya bagi saya – dari perdebatan itu seakan-akan laki-laki harus dibasmi, hamil, mengurus anak, dan memasak di rumah adalah aktivitas yang haram dan ketinggalan zaman.

Walau demikian, kita memang tak boleh menyerah untuk mengedukasi pakdhe dan budhe kita, mengenai kesetaraan gender dan betapa muaknya kita dengan lelucon berbau seksis. Kita tetap harus optimis mengenai tatanan kehidupan baru (bukan new normal katanya pemerintah): di mana masyarakat kita sudah cukup memahami dan bisa berlaku adil dalam berhubungan intim, dan tentang betapa urgentnya meresmikan RUU PKS. Meski harapan ini rasanya masih terlalu jauh. Sebab kita harus ingat, bahwa kita sedang hidup di Indonesia dengan beragam konteks ruang dan waktunya saat ini. Kultur patriarki dan dominasi kepercayaan konservatif tentang perempuan harus menutup auratnya agar tak merangsang napsu pria masih terlalu kuat.

Kita harus sadar dan terbangun, bahwa kita masih berada di lingkungan yang akan menyalahkan pakaian korban perkosaan dan pelecehan seksual ketimbang menggali pikiran kotor pemerkosa itu. Tak jarang kita mendengar perempuan-perempuan yang hamil karena diperkosa, akhirnya dipaksa menikah demi menutupi aib keluarga.

Kamu semua boleh liberalis dan open minded, tapi jangan lupa bahwa kamu hidup di Indonesia yang yaaahh masih kayak gini. Butuh jalan yang puanjang untuk mengubah pola pikir ini, menghabiskan satu generasi terdahulu dan mendidik generasi Z dan seterusnya akan sex education yang baik dan benar. Ingat, penulis tak sedang berusaha bilang usaha ini tidak mungkin loh ya!

Kamu semua harus siap, jika berpendapat tentang isu kesetaraan gender, apapun bentuk dan konteks peristiwanya, akan mendapat nasihat “semoga kamu dapat hidayah”. Kamu juga harus siap, jika punya prinsip sex bebas dengan consent, akan dipandang rendah dan gagal jadi wanita. Pun kamu harus siaga jika tak bisa ikut tertawa di lelucon seksis teman-teman kantor, kamu akan dicap gak asik.

Kita hidup di negara yang hukum pelecehan dan kekerasan seksual masih belum dianggap penting dibawa pada prolegnas petinggi Senayan. Hukum yang lebih mudah menangkap pelaku pelecehan seksual jika sudah viral dan sudah ada aduan dari yang merasa dirugikan. Hukum yang cuma bisa menjerat pelaku yang ketahuan karena kontennya menyebar di media sosial: dengan UU ITE yang serba bisa dan maha benar itu.

Dan yang terpenting untuk kita sadari: kita bisa saja asyik berdebat di dunia maya, sementara petinggi-petinggi negeri ini tak menaruh peduli. Mereka sibuk mengejar kursi kepemimpinan dan menghitung keuntungan investasi asing. Mereka tidak menganggap suara-suara kita di medsos adalah wacana publik yang cukup signifikan dan layak diperhitungkan, untuk kemudian mengolah sistem pendidikan rakyat dan menjadikannya undang-undang.

Sementara ini, diskusi tentang gender dan segala cita-cita mulia lainnya masih menjadi sekadar algoritma yang berputar-putar di timeline media sosial bagai lingkaran setan.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art

Editor Picks