Masyarakat Gagal Fokus di Zaman Now 0 777

Oleh: Claudya Tio Elleossa*

Jagad media tak henti menemukan menu segar tiap hari. Netizen yang selalu punya waktu luang untuk sosial media dipuaskan dahaganya, entah untuk bahan menambah wawasan atau modal untuk menghakimi sana sini, sebagaimana tampak pada dua peristiwa belakangan ini. Pertama, fenomena makan mayit; dan kedua, duo remaja yang tertangkap basah di ruang ganti sebuah mall di Surabaya. Dari dua kejadian tersebut penduduk dunia maya menyatakan posisi pro dan kontra dengan masing-masing argumen mereka yang—seolah-olah—maha benar.

Mungkin tidak ada yang salah dengan itu. Semacam habit zaman now.

Namun ada satu bagian yang mengusik saya, yaitu mendapati bahwa berbagai isu lain tak pernah menjadi favorit mereka. Jangankan untuk menyebar info, mau tahu pun rasanya enggan. Saya heran bagaimana mereka dengan tergesa menyimpulkan bahwa makan mayit adalah pertanda kerusakan mental, namun merasa baik-baik saja dengan maraknya penggusuran tanah yang nihil keadilan. Problematika antara petani, pabrik semen, dan pemerintah di Kendeng misalnya: berapa banyak yang mau tahu? Pun saya geleng-geleng melihat mereka yang ribut berdebat ada di kubu satpam atau kubu sang remaja di kasus sejoli yang diduga berbuat mesum tersebut, dibandingkan mau tahu isu lain tentang negara yang tak pernah cukup memberikan peluang yang adil bagi para penyandang kebutuhan khusus.

Bagaimana mungkin energi mereka yang melimpah hanya digunakan untuk menghakimi dan menjadi polisi moral dibandingkan untuk membahas hal yang lebih fundamental? Oke, tidak perlu menjadi aktivis atau membuat petisi, cukup menghadirkan rasa tak acuh saja rasanya sudah bagus. Lantas mengapa mereka menjadi begitu vokal atas isu remaja mesum dan makan mayit namun bisu untuk topik yang lain?

Saya rasa semua adalah pilihan yang sadar yang diambil masing-masing orang. Namun salah satunya berakar pada minimnya minat khalayak terhadap in-depth-understanding. Seperti kita tahu, budaya membaca masyarakat kita memang tergolong rendah. Sangat rendah, bahkan. Ketertarikan masyarakat pada dua topik yang saya singgung dari awal difasilitasi oleh ketersediaan informasi yang praktis dan tidak memakan waktu lama untuk ditelan. Maksud saya adalah, harus diakui memang sulit menemukan bahan bacaan yang sederhana (apalagi praktis) untuk topik perampasan lahan dan keadilan bagi kaum berkebutuhan khusus. Benar begitu?

Kemalasan—atau halusnya, keengganan—membaca, membuat masyarakat melakukan seleksi topik secara sembrono. Asal sekali klik semua tersedia, mengapa harus memilih bahan rumit yang perlu berlembar-lembar referensi? Andai saja masyarakat kita lebih mau membaca dan tidak hanya terprovokasi pada gambar yang fenomenal.

Kedua, pola ketertarikan semacam itu membuktikan bahwa habit rata-rata masyarakat kita adalah reaktif dibandingkan responsif. Oh jelas, banyak sekali yang dapat membuktikan hal itu. Ingat berapa kali budaya kita diklaim dan seketika marah-marah? Namun berapa kali kita memakai berbagai budaya tersebut (selain Batik) di kehidupan sehari-hari? Film Upin Ipin saja bahkan menggunakan lagu Rasa Sayange di salah satu episode mereka, bagaimana dengan kita? Hal ini makin kelam dengan adanya sistem logaritma media masa kini yang hanya menumpuk informasi sesuai minat atau pandangan yang kita bagi. Alhasil, jika cinta ya makin cinta. Jika benci makin menjadi. Pilkada DKI contoh yang sempurna.

Bukankah kita lebih senang menghakimi sepasang remaja yang kedapatan berbuat tidak senonoh dibandingkan memberi teladan atas apa yang sepatutnya dilakukan? Bukankah kita lebih gemar menyalahkan pelaku pemerkosaan dibandingkan mengedukasi mereka mengendalikan birahi dan nilai berharga seorang perempuan?

Melelahkan sekali jika kita selalu fokus pada ‘rehabilitasi kesalahan’ dibandingkan introspeksi dan antisipasi. Iya, salah fokus itu memang melelahkan. Namun anehnya, itu favorit di negara ini.

Jadi sebenarnya pola semacam ini salah siapa? 

Jangan-jangan, ini salah kita semua.

 

*Penulis adalah Guru PKN yang berjuang mencintai terik Surabaya tanpa hujat seperti
mencintai Indonesia tanpa muak.
Sosial Media: twitter @a_diss
IG @adiss_cte

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bocoran Soal KPU dalam Kesahihan Tata Hukum Debaters 0 137

Di era ini, banyak muncul pekerjaan baru seperti supir ojek online hingga influencer media sosial. Namun, tak sedikit pula pekerjaan lawas yang masih bertahan. Kita patut bersyukur masih bisa menemui loper koran dan teller bank, dua pekerjaan yang kayaknya terancam punah kalau kita terus-terusan semakin menghamba pada virtual.

Selain itu, ditengarai calo penyedia kunci jawaban soal ujian juga masih terus lestari. Selama ujian masih ada, eksistensi mereka tetap abadi!

Namun, juru pembocor soal ini gak laku di Debat Pilpres 17 Januari 2019 besok. Lah wong KPU sudah membocorkan pertanyaan debat pada masing-masing pasangan calon. Kerja panelis merumuskan pertanyaan sudah di ujung deadline. Semuanya demi Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi supaya bisa memelajari contekannya sambil latihan ngomong di depan cermin sebelum bertemu Ira Koesno dan Imam Priyono di panggung “panas” nanti.

Keputusan KPU ini lantas menuai pro-kontra. Mulai dari drama antar tim pemenangan yang menjemukan, hingga netizen yang selalu hobi sekadar mengingatkan. Simpulnya, KPU dinilai tidak bijak.  Peserta debat jadi tidak benar-benar teruji. Segala dalih KPU ngalor-ngidul yang katanya ingin ‘mengedepankan konten debat, bukan show’ dimentahkan sudah. ‘Ra mashok blas!

Sesungguhnya, kebijakan KPU ini lahir karena fenomena lebih melekatnya di benak kita ketokohan paslon ketimbang visi-misinya. Kita lebih tahu “Game of Thrones-nya Jokowi dan Prabowo ikut natalan ketimbang program kerja yang ditawarkan keduanya. Miris!

Namun, di luar itu, masyarakat kita memang naturnya punya tingkat kepedulian yang tinggi. Saking tingginya, segala macam benda baik yang hidup maupun mati jadi sasaran omelan. Jadi, tidak perlu heran jika bocoran soal KPU ini pun jadi bahan nyinyir. Lah wong warna celana dalam mbak-mbak ayu saja habis dimakan kok.

Padahal memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat sangatlah lumrah. Dalam tata hukum debaters, sebut saja dalam dapur Asian Parliamentary, ada dua macam mosi debat yaitu prepared motion dan impromptu motion.

Prepared motion adalah mosi atau topik debat yang diberitahukan jauh sebelum perdebatan dilangsungkan. Kalau dalam lomba, biasanya separah-parahnya akan diberikan dua atau tiga hari sebelum. Jadi peserta dimungkinkan untuk riset dari berbagai literatur, fisik maupun internet.

Sedangkan impromptu motion maksudnya adalah topik debat spontan, diberikan beberapa menit sebelum memulai debat. Iya, udah macem pacar yang ngasih surprise birthday present, bikin deg-degan isinya. Kita tidak pernah tahu akan dapat topik debat yang seperti apa, walaupun tidak terlepas dari lingkup tema. Walau begitu, akan tetap ada waktu case building bagi peserta, alias mempersiapkan kerangka dan strategi bicara.

Wah berarti lebih gampang yang prepared motion dong ya daripada impromptu? Lah rumangsamu!

Keduanya punya level tantangan yang berbeda. Prepared motion tentu menuntut ketepatan data dan kedalaman analisa. Karena sudah diberi waktu yang lebih untuk mempersiapkan, nek pancet debate ora cetha yo nemen! Demikian pula impromptu motion memang menggoda seluas apa wawasan yang dimiliki peserta debat, serta kepandaian menyusun logika dan taktik “perang” dalam sempitnya waktu.

Kalau dalam debat, tipe mosi manakah yang paling sering dipakai? Jawabannya adalah dua-duanya. Seimbang. Sama seperti Tuhan ketika menjawab doamu, kadang dikabulkan, kadang bodo amat, hehe. Nah, jika penerapan dua tipe mosi ini berlaku di lomba-lomba debat anak sekolahan, memangnya nggak boleh KPU melakukan hal serupa? Makanya, kita ini jadi netizen jangan kayak doi kalau lagi marah, nggak mau denger penjelasan dulu.

Seperti biasa, debat terbuka capres-cawapres akan terbagi menjadi beberapa termin mulai dari visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, debat antar paslon, hingga closing statement. Nah yang disodorkan adalah pertanyaan panelis sejumlah lima buah. Sedangkan pada sistem di hari H nanti, pasangan calon akan mengambil undian dan hanya mendapatkan salah satu pertanyaan. Mau nggak mau mereka harus mempersiapkan jawaban terbaik dari kelimanya, karena nggak tahu bakal dapat pertanyaan yang mana. Jadi, walaupun prepared motion juga gak segampang itu Fergusso!

Toh masih ada pula sesi saling bertanya antar paslon. Nah, ini termasuk tipe pertanyaan impromptu. Mosok ya mereka janjian pertanyaan dulu kalau sudah begitu.

Mbok jangan suudzon dulu! Jangan-jangan personil KPU tipenya humoris, suka ngasih prank. Dikasih kisi-kisi lima, taunya yang keluar soal nomor enam, yaaahh kena deh! Persis seperti kamu yang dulu merasa diplokothoi sama kisi-kisi soal UNAS.

Intinya, janganlah kita ini suka menyalahkan, apalagi menyalahkan KPU. Sakno lho, mumet ndas’e! Persoalan kardus suara pun sudah kamu jadikan bahan olok, sekarang ditambah lagi. Jahat memang kalian, hiks. 🙁

Pokoknya, apapun kata netizen, kami segenap debaters siap pasang badan untuk membela KPU! Dengan ini, kami telah menyatakan, sistem debat KPU ini sudah sesuai dengan tata hukum debaters yang berlaku.

Menulis Kondisi Penulis dan Membaca Kondisi Pembaca 0 276

Banyak penulis—kita sebut saja begitu—terpangkas semangat menulisnya akibat kesulitan membagi porsi antara kapan harus bekerja untuk yang abadi dan kapan harus bekerja untuk yang fana. Menulis dalam definisi puitisnya, adalah bekerja untuk keabadian (selebihnya akan kita temukan sendiri). Jenis-jenis penulis pun tidak sedikit. Penulis puisi, penulis cerpen, penulis berita, penulis maya, penulis skripsi, penulis miskin, penulis kaya, dan sebagainya.

Dalam diskusi di forum-forum literasi, sering disebutkan bahwa minat membaca buku semakin menurun, sejak minat membaca visual dianggap lebih dominan. Anggapan yang tidak hanya mematahkan semangat para penulis dalam proses produktifnya ini, juga mematahkan semangat penerbit buku dalam mencari tulisan-tulisan yang berkualitas.

Gejolak di atas memang pernah terasa nyata ketika toko-toko buku ternama memamerkan buku-buku yang berasal dari penulis dengan kualitas karya yang kurang serius. Contoh kasus, seorang penulis dituntut oleh penerbitnya agar menghasilkan minimal dua buku dalam waktu singkat. Padahal hal ini bisa berdampak pada tenaga penulis tersebut saat melakukan proses kreatif dan berdampak pula pada tulisan yang dihasilkannya. Atau penulis yang melahirkan buku dengan tema-tema ala kadarnya, semata-mata untuk memuaskan selera pasar hiburan.

Akan tetapi, tidak lama ini, dunia literasi kita menemukan angin segar. Dengan munculannya penerbit-penerbit independen yang berdiri di luar arus pasar hiburan mainstream. Tidak sedikit dari mereka memasarkan produknya hanya melalui internet atau media sosial. Keberadaan mereka membuka ruang yang lebih lebar bagi para penulis baru dengan tema yang kemungkinan lebih inovatif. Artinya, selain memberi ruang yang lebih lebar bagi para penulis, penerbit independen juga berpotensi memberi kesempatan bagi buku-buku marxis kiri yang mana peredarannya diawasi oleh negara ormas. Hehehe…

Namun, dilemanya adalah: bolehkah kita menyebut gerakan kiri atau ide-ide progresif yang dimanifestasikan ke dalam sebuah karya literasi sebagai bentuk komodifikasi. Ketika banyak buku bernuansa kiri mempunyai harga yang fantastis. Harga-harga yang bahkan sulit dijangkau oleh pelaku revolusioner itu sendiri. Tidak hanya melalui buku, kaos, topi, tas kecil, dan berbagai jenis atribut lainnya, mengandung semacam upaya pembentukan identitas yang berlebihan. Sedang di sisi lain, banyak rakjat kecil dengan terpaksa mengenakan kaos pemberian partai demi keberlangsungan hidup mereka yang mulai kehilangan esensi.

Fenomena ini kemudian direspon oleh media-media alternatif yang menyebar di internet. Media yang menghadirkan tulisan-tulisan dengan biaya cetak dan ongkos akses Rp 0 bagi siapa saja. Termasuk media alternatif yang sedang anda baca sekarang ini.

Media yang coba menjadi jawaban lain atas, ketidaksembarangan orang dapat berkarya, karya dapat diterbitkan, dan harga dapat dibayar. Dengan demikian, kita pun tidak boleh menyalahkan keadaan ketika masyarakat lebih tertarik mengkonsumsi media online ketimbang media cetak.

Sekarang, penulis dan pembaca perlu saling memberi pengertian satu sama lain. Bahwa, visi kedua pekerjaan ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan hidup atau memenuhi gaya hidup. Kedua pekerjaan ini adalah usaha merawat kesadaran yang perlahan mulai tergerus oleh hal-hal trivial yang sedang mendominasi isi pikiran kita. Pertanyaan selanjutnya: kesadaran seperti apa yang perlu kita bela sebagai penulis atau pembaca? Tentu saja adalah kesadaran bahwa di dunia ini kita hidup bukan untuk diri sendiri.

Jadi ini salahnya siapa? Salahnya remaja yang memperlakukan Marxis sebagai budaya populer, bukan budaya kritis.

Editor Picks