Masyarakat Gagal Fokus di Zaman Now 0 1188

Oleh: Claudya Tio Elleossa*

Jagad media tak henti menemukan menu segar tiap hari. Netizen yang selalu punya waktu luang untuk sosial media dipuaskan dahaganya, entah untuk bahan menambah wawasan atau modal untuk menghakimi sana sini, sebagaimana tampak pada dua peristiwa belakangan ini. Pertama, fenomena makan mayit; dan kedua, duo remaja yang tertangkap basah di ruang ganti sebuah mall di Surabaya. Dari dua kejadian tersebut penduduk dunia maya menyatakan posisi pro dan kontra dengan masing-masing argumen mereka yang—seolah-olah—maha benar.

Mungkin tidak ada yang salah dengan itu. Semacam habit zaman now.

Namun ada satu bagian yang mengusik saya, yaitu mendapati bahwa berbagai isu lain tak pernah menjadi favorit mereka. Jangankan untuk menyebar info, mau tahu pun rasanya enggan. Saya heran bagaimana mereka dengan tergesa menyimpulkan bahwa makan mayit adalah pertanda kerusakan mental, namun merasa baik-baik saja dengan maraknya penggusuran tanah yang nihil keadilan. Problematika antara petani, pabrik semen, dan pemerintah di Kendeng misalnya: berapa banyak yang mau tahu? Pun saya geleng-geleng melihat mereka yang ribut berdebat ada di kubu satpam atau kubu sang remaja di kasus sejoli yang diduga berbuat mesum tersebut, dibandingkan mau tahu isu lain tentang negara yang tak pernah cukup memberikan peluang yang adil bagi para penyandang kebutuhan khusus.

Bagaimana mungkin energi mereka yang melimpah hanya digunakan untuk menghakimi dan menjadi polisi moral dibandingkan untuk membahas hal yang lebih fundamental? Oke, tidak perlu menjadi aktivis atau membuat petisi, cukup menghadirkan rasa tak acuh saja rasanya sudah bagus. Lantas mengapa mereka menjadi begitu vokal atas isu remaja mesum dan makan mayit namun bisu untuk topik yang lain?

Saya rasa semua adalah pilihan yang sadar yang diambil masing-masing orang. Namun salah satunya berakar pada minimnya minat khalayak terhadap in-depth-understanding. Seperti kita tahu, budaya membaca masyarakat kita memang tergolong rendah. Sangat rendah, bahkan. Ketertarikan masyarakat pada dua topik yang saya singgung dari awal difasilitasi oleh ketersediaan informasi yang praktis dan tidak memakan waktu lama untuk ditelan. Maksud saya adalah, harus diakui memang sulit menemukan bahan bacaan yang sederhana (apalagi praktis) untuk topik perampasan lahan dan keadilan bagi kaum berkebutuhan khusus. Benar begitu?

Kemalasan—atau halusnya, keengganan—membaca, membuat masyarakat melakukan seleksi topik secara sembrono. Asal sekali klik semua tersedia, mengapa harus memilih bahan rumit yang perlu berlembar-lembar referensi? Andai saja masyarakat kita lebih mau membaca dan tidak hanya terprovokasi pada gambar yang fenomenal.

Kedua, pola ketertarikan semacam itu membuktikan bahwa habit rata-rata masyarakat kita adalah reaktif dibandingkan responsif. Oh jelas, banyak sekali yang dapat membuktikan hal itu. Ingat berapa kali budaya kita diklaim dan seketika marah-marah? Namun berapa kali kita memakai berbagai budaya tersebut (selain Batik) di kehidupan sehari-hari? Film Upin Ipin saja bahkan menggunakan lagu Rasa Sayange di salah satu episode mereka, bagaimana dengan kita? Hal ini makin kelam dengan adanya sistem logaritma media masa kini yang hanya menumpuk informasi sesuai minat atau pandangan yang kita bagi. Alhasil, jika cinta ya makin cinta. Jika benci makin menjadi. Pilkada DKI contoh yang sempurna.

Bukankah kita lebih senang menghakimi sepasang remaja yang kedapatan berbuat tidak senonoh dibandingkan memberi teladan atas apa yang sepatutnya dilakukan? Bukankah kita lebih gemar menyalahkan pelaku pemerkosaan dibandingkan mengedukasi mereka mengendalikan birahi dan nilai berharga seorang perempuan?

Melelahkan sekali jika kita selalu fokus pada ‘rehabilitasi kesalahan’ dibandingkan introspeksi dan antisipasi. Iya, salah fokus itu memang melelahkan. Namun anehnya, itu favorit di negara ini.

Jadi sebenarnya pola semacam ini salah siapa? 

Jangan-jangan, ini salah kita semua.

 

*Penulis adalah Guru PKN yang berjuang mencintai terik Surabaya tanpa hujat seperti
mencintai Indonesia tanpa muak.
Sosial Media: twitter @a_diss
IG @adiss_cte

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 150

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 173

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks