Munta(p/h)nya Si Bocah Milenial 0 1064

Oleh: Makrom Ubaid*

Jika sodara semasa sekolah dulu pernah dikerahkan untuk menyambut kedatangan presiden di daerah sodara, bersyukurlah. Tradisi penyambutan ini mengajarkan kita semua bagaimana cara menghargai pemimpin dengan cukup berdiri di trotoar jalan, melambaikan bendera kecil-kecil (sekitar 25×15 cm) dan kalo nggak salah, warnanya merah-putih.

Sebaliknya, jika sodara belum pernah mengikuti kegiatan penyambutan ini, tetaplah bersyukur. Sebab, sodara terselamatkan dari beban pikiran masa lalu yang jika diingat-ingat kembali, terasa konyol.

Lalu, darimana tradisi ini muncul? Jika mewajibkan pelajar untuk nobar Pengkhianatan G30S/PKI dalam kurun waktu 14 tahun dengan mudah dilakukan, apa susahnya mengerahkan siswa-siswi untuk menyambut kedatangan penguasa di pinggir-pinggir jalan?

Inilah salah satu warisan tradisi pendidikan masa lampau yang tetap mengajarkan: patuh pada kekuasaan. Pendidikan dasar kita, sejak dulu (baca: Orba) dipaksa untuk patuh pada kekuasaan berikut aktor-aktornya, tak urus bentuk kekuasaannya seperti apa. Salah satunya melalui tradisi penyambutan presiden yang tidak ada inovasi apapun hingga saat ini.

Dan ternyata, tradisi ini tetap dijaga dengan baik dari masa ke masa, rezim ke rezim. Melalui berbagai tradisi penyambutan ataupun peresmian kenegaraan, ada yang unik dengan peristiwa beberapa hari lalu. Mari kita tengok.

Selama menjabat sebagai presiden, dua peristiwa ini akan selalu diingat Jokowi, mungkin seumur hidupnya. Kalaupun lupa, masih bisa diingatkan. Pertama, sodara tentu masih ingat ketika anak SD ketelisut berujar ikan KNTL yang seharusnya TONGKOL. Kedua, baru-baru ini, di tengah peresmian pesawat N-219 di Halim Perdana Kusuma (HPK), salah seorang siswi SD muntah persis di hadapan Jokowi.

Untuk peristiwa pertama, Jokowi mungkin menganggapnya suatu keluguan yang patut ditertawakan. Namun, tidak untuk peristiwa yang kedua. Muntahnya siswa ini bukan suatu keluguan ataupun peristiwa yang menjijikkan.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting terkait peristiwa ini. Pertama, komposisi baris-berbaris antara Jokowi dan siswa-siswi. Bisa sodara praktikkan sendiri jika badan (leher hingga kaki) menghadap ke depan, tapi kepala mengarah ke kanan dan ke kiri (fokus ke presiden). Betapa kemeng-nya leher sodara.

Kedua, sosok perempuan anggun yang dipayungi di saat siswa-siswi menahan teriknya matahari (hm talah). Ketiga, perhatikan kertas merah yang dipegang siswa-siswi, itu adalah origami (seni melipat kertas) berbentuk pesawat. Lipatan kertas itu kemudian diterbangkan dengan cara dilempar dan mendarat tak beraturan di depan pelemparnya. Nah, prosesi ini yang paling garing, karena tidak ada kenikmatan apapun.

Dimana nikmatnya, ketika anak-anak usia 8-10 tahun melempar kertas berbentuk pesawat dan mendarat tepat dihadapannya sendiri? Bukankah lebih layak jika misalnya, pelepasan pesawat kertas sebagai simbol itu dilaksanakan di atas puncak? Sehingga, para siswa dapat melihat pesawat yang dilemparnya itu dengan hati dan pikiran yang tenang, sembari membayangkan cita-cita mereka kelak.

Bukan suatu hal yang sulit bagi Negara untuk mempersiapkan acara ini dengan kemasan yang meriah, nyaman, teduh dan tetap sakral. Namun, ada yang tidak beres dengan prosesi ini. Untuk patuh pun, siswa-siswi ini harus melewati berbagai ujian: kemeng, menahan panas, muntah dan seterusnya.

Terakhir penulis tawarkan pada sodara, cobalah untuk melihat dua peristiwa ini diluar kewajaran. Jangan-jangan, aksi dua anak SD itu merupakan bentuk kritik, atau bahkan ke-muak-kan atas omong kosong pendidikan dasar yang tak jelas juntrungnya ini. Sederhananya, siswa-siswi itu berujar, “mau dibawa kemana kita orang pak, bu, dengan kurikulum yang gitu-gitu aja dan metode pembelajaran yang, gitu-gitu aja.”

Lalu, mereka ekspresikan melalui dua utusan siswa sekolah dasar seantero negeri dengan seradikal-radikalnya tindakan: muntah dan misuh. Apakah ini merupakan pijakan awal evolusi dari kepatuhan menuju ketidakpatuhan yang diprakarsai cah-cah milenial? Entah.

Jika penasaran dengan gambar atau videonya, bisa cari sendiri dengan keyword “PERESMIAN SISWA SD MUNTAH”.

*penulis adalah putera asli Madura dan meneruskan studi pendidikan tinggi di Surabaya. Memiliki weton Jumat Wage (masih dalam konfirmasi)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasib Pegawai KPK Kritis dan Doa untuk Mereka 0 159

Kemarin 1.271 pegawai KPK yang lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) akhirnya sudah dilantik. Kini mereka resmi jadi abdi negara, meninggalkan 75 yang tak lolos.

Tim dokumenter dengan jejaring sangar macam Watchdoc dan kesayangan kita semua, Najwa Shihab, sudah mewawancarai mereka, mengungkap kejanggalan TWK. Pertanyaan-pertanyaan aneh macam urusan rumah tangga, perceraian, gaya pacaran, hingga aliran agama muncul selama sesi tes seleksi wawancara.

Masalahnya, 75 orang yang tidak lolos ini bukan sembarangan personil. Dari antara 75 orang itu, 13 di antaranya adalah penyidik yang berperan penting sebagai lokomotif penggerak berjalannya KPK selama ini. Sebut saja Novel Baswedan, yang kita semua tahu telah berhasil mengungkap kasus besar macam korupsi e-KTP dengan dalang Setya Novanto. Ada pula Rizka Anungnata, penyidik kasus benih lobster yang menyeret mantan Menteri KKP, Edhy Prabowo. Sampai Ronal Paul, yang tengah menangani kasus buron yang ghosting satu negeri ini, Harun Masiku.

Orang-orang ini kini tak bisa melanjutkan kasusnya, dinonaktifkan karena tak lolos tes, bahkan terancam termasuk dari 51 orang yang katanya tak lagi bisa dibina. Dalam kata lain yang lebih mudah namun kasar, sama saja dengan orang bebal.

Orang-orang berprestasi ini mungkin cerminan dari orang kritis. Di satu sisi, Indonesia ini sangat butuh orang-orang kritis agar bisa maju memperbaiki sistem dan mentalitas yang terlanjur bobrok. Tapi atas nama kestabilan, orang-orang macam inilah yang dianggap sebagai penghancur dan pembangkang. Termasuk dalam logika bisnis korporasi, pegawai yang ndablek atau berani melawan pemimpinnya pasti ditendang.

Susah dong ya jadi orang kritis di negara ini? Ya memang bakal susah kalau kamu terlalu radikal, berani bicara dan melawan yang salah. Lantas apa yang harus dilakukan?

Kalau kata pepatah, diam adalah emas. Itu mungkin akan sangat berlaku buat kalian-lalian yang punya pemikiran revolusioner. Jangan keburu emosi dulu! Diam memang tak selamanya baik, dan malah berujung malapetaka karena mendiamkan sesuatu yang salah. Kalau kata mantan komisioner KPK dan pengurus PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas: “membiarkan kejahatan itu sama artinya dengan melakukan kejahatan”.

Saya jadi teringat suatu kisah penyebaran dan perjalanan agama Kristen di Jepang. Alkisah, agama Katolik disebarkan pertama kali oleh misionaris Jesuit dari Portugal tahun 1560-an. Lambat laun, jumlah penganut Kristen bertambah banyak dan pesat. Penguasa politik Jepang merasa terancam dan memutuskan untuk menumpas mereka.

Larangan beribadah ditetapkan. Bahkan memerintahkan semua umat Kristiani menginjak fumie, lempengan tembaga bergambar Yesus disalib pada papan kayu. Tujuannya jelas, untuk mematahkan kepercayaan mereka. Sejarah mengatakan ada sekitar 2 ribu orang meninggal menjadi martirkarena menolak menginjak fumie, tetap setia pada imannya.  Which is (cielah gaya bahasa jaksel), keren.

Tapi, tak sedikit pula yang memilih ingkar, mereka injak fumie, dan tetap hidup. Mereka berpura-pura meninggalkan agamanya, tapi tetap beribadah secara diam-diam. Mereka lah yang membuat penganut Kristiani masih ada di Jepang sampai sekarang. Coba bayangin kalau semua memilih jadi “pahlawan” dan rela mati, mungkin agama Katolik akan benar-benar punah.

Kisah ini saya lihat hampir sama dengan yang terjadi di KPK hari ini. Harapannya, ada beberapa dari 1200 yang lolos TWK itu, adalah orang-orang yang diam-diam “nurut”, menjawab dengan cara aman tes-tes wawancara yang diajukan asesor. Mereka menyembunyikan jati diri kritis, demi bertahan hidup, tetap berada dalam sistem lembaga pemberantas korupsi, dan membawa integritas ke depan. Jika benar demikian, kita tak perlu khawatir KPK akan ambruk.

Lalu bagaimana dengan 51 pegawai yang tak lagi bisa dibina itu? Perjuangan di luar KPK untuk memberantas korupsi masih panjang. Bisa melalui organisasi, lembaga bantuan hukum, dan bertindak sebagai pengamat atau penasehat. Sebab, berlian tetap bisa bersinar di mana saja walaupun ditempa sedemikian rupa. Semoga.

 

*)Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Dukun Abal-abal dan Fitnah pada Genderuwo Nakal 0 209

Oleh: Yogi Dwi Pradana*

 

Nasib tragis dialami seorang bocah perempuan berusia 7 tahun bernama Aisyah. Ia menjadi sebuah korban percobaan dukun abal-abal di Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Aisyah meninggal dunia setelah disuruh memakan cabai dan bunga mahoni oleh dukun abal-abal tersebut, serta ia diminta menenggelamkan kepala di dalam air untuk mengetahui apakah benar Aisyah ini keturunan genderuwo atau bukan.

Kisah ini tragis, tapi juga aneh. Sebab, setahu saya dari cerita rakjat, genderuwo tidak seiseng itu untuk merasuki anak kecil dan membuatnya jadi nakal. Salah satunya adalah Mbah Wagini dari Alas Purwo. Ia diyakini sebagai seorang keturunan genderuwo dengan seluruh badannya ditumbuhi bulu lebat.

Walaupun terlihat menakutkan, Mbah Wagini di alam gaib adalah makhluk yang dipuja. Begitu kata Eyang Ratih, pengasuhnya sejak kecil. Dan dia tidak nakal ya, ingat. Gak semua genderuwo seperti kata dukun abal-abal itu.

Poin lain yang mengherankan bagi saya dari peristiwa ini adalah, motivasi sang orang tua membawa Aisyah ke dukun. Tentu, setelah bertahun-tahun mengasuhnya, mereka sampai pada titik lelah, sehingga tak sanggup lagi mengatasi kenakalan si anak dengan kekuatannya sendiri.

Padahal, bukankah 7 tahun adalah usia normal anak bersikap aktif dan banyak tingkah misalnya, jika demikian yang dikategorikan nakal oleh kebanyakan orang. Di usia ini, anak sudah siap masuk ke jenjang sekolah dasar dan siap beradaptasi dengan hal-hal yang baru ia temui. Justru peranan orang tua dalam mendidik anak di usia ini sangat penting.

Menurut saya yang belum punya anak ini, masih ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendidik anak nakal usia 7 tahun. Misalnya, mengedepankan komunikasi dengan anak. Aktif berbincang untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan si anak. Selanjutnya, ajak anak untuk terbiasa mengatasi masalah secara bersama-sama. Orang tua tugasnya kan membimbing, bukan cuma ngasih makan.

Beberapa poin yang saya sebut tadi, ujungnya adalah agar orang tua bisa mengenali sisi emosi anak. Kalau orang tua kesusahan, “anak nakal” seharusnya bisa diatasi oleh ahlinya. Konsultasi ke psikolog misalnya.

Anak yang nakal seharusnya mendapat edukasi dari orang tua, bukan malah dibawa ke dukun untuk dirukiyah. Kan kita semua tahu, sudah banyak kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika menyelesaikan masalah dengan dukun.

Salah satu kisah soal ini datang Nanang (bukan nama sebenarnya) dari Tasikmalaya, Jawa Barat yang mengaku sebagai dukun. Alih-alih mengobati pasien, Nanang meminta pasien-pasien yang datang padanya untuk melayani hasrat seksualnya.

Eits, tapi tidak semua dukun itu abal-abal dan nol keahlian ya. Nyuwun pangapunten Mbah Dukun! Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk melarang pembaca datang ke dukun (semua kembali ke kepercayaan masing-masing).

Tapi dari pengalaman ini kita belajar, untuk mengatasi persoalan dengan hati dan wawasan yang luas. Jika sudah mentok dengan usaha sendiri, baiknya memang datang ke pakar dengan ilmu yang pasti-pasti aja.

 

*)Seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di organisasi Susastra KMSI UNY, bergiat di komunitas sastra Lampu Tidurmu, dan menjadi penulis artikel di UNY Community.

*) Ilustrasi oleh Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks