Munta(p/h)nya Si Bocah Milenial 0 830

Oleh: Makrom Ubaid*

Jika sodara semasa sekolah dulu pernah dikerahkan untuk menyambut kedatangan presiden di daerah sodara, bersyukurlah. Tradisi penyambutan ini mengajarkan kita semua bagaimana cara menghargai pemimpin dengan cukup berdiri di trotoar jalan, melambaikan bendera kecil-kecil (sekitar 25×15 cm) dan kalo nggak salah, warnanya merah-putih.

Sebaliknya, jika sodara belum pernah mengikuti kegiatan penyambutan ini, tetaplah bersyukur. Sebab, sodara terselamatkan dari beban pikiran masa lalu yang jika diingat-ingat kembali, terasa konyol.

Lalu, darimana tradisi ini muncul? Jika mewajibkan pelajar untuk nobar Pengkhianatan G30S/PKI dalam kurun waktu 14 tahun dengan mudah dilakukan, apa susahnya mengerahkan siswa-siswi untuk menyambut kedatangan penguasa di pinggir-pinggir jalan?

Inilah salah satu warisan tradisi pendidikan masa lampau yang tetap mengajarkan: patuh pada kekuasaan. Pendidikan dasar kita, sejak dulu (baca: Orba) dipaksa untuk patuh pada kekuasaan berikut aktor-aktornya, tak urus bentuk kekuasaannya seperti apa. Salah satunya melalui tradisi penyambutan presiden yang tidak ada inovasi apapun hingga saat ini.

Dan ternyata, tradisi ini tetap dijaga dengan baik dari masa ke masa, rezim ke rezim. Melalui berbagai tradisi penyambutan ataupun peresmian kenegaraan, ada yang unik dengan peristiwa beberapa hari lalu. Mari kita tengok.

Selama menjabat sebagai presiden, dua peristiwa ini akan selalu diingat Jokowi, mungkin seumur hidupnya. Kalaupun lupa, masih bisa diingatkan. Pertama, sodara tentu masih ingat ketika anak SD ketelisut berujar ikan KNTL yang seharusnya TONGKOL. Kedua, baru-baru ini, di tengah peresmian pesawat N-219 di Halim Perdana Kusuma (HPK), salah seorang siswi SD muntah persis di hadapan Jokowi.

Untuk peristiwa pertama, Jokowi mungkin menganggapnya suatu keluguan yang patut ditertawakan. Namun, tidak untuk peristiwa yang kedua. Muntahnya siswa ini bukan suatu keluguan ataupun peristiwa yang menjijikkan.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting terkait peristiwa ini. Pertama, komposisi baris-berbaris antara Jokowi dan siswa-siswi. Bisa sodara praktikkan sendiri jika badan (leher hingga kaki) menghadap ke depan, tapi kepala mengarah ke kanan dan ke kiri (fokus ke presiden). Betapa kemeng-nya leher sodara.

Kedua, sosok perempuan anggun yang dipayungi di saat siswa-siswi menahan teriknya matahari (hm talah). Ketiga, perhatikan kertas merah yang dipegang siswa-siswi, itu adalah origami (seni melipat kertas) berbentuk pesawat. Lipatan kertas itu kemudian diterbangkan dengan cara dilempar dan mendarat tak beraturan di depan pelemparnya. Nah, prosesi ini yang paling garing, karena tidak ada kenikmatan apapun.

Dimana nikmatnya, ketika anak-anak usia 8-10 tahun melempar kertas berbentuk pesawat dan mendarat tepat dihadapannya sendiri? Bukankah lebih layak jika misalnya, pelepasan pesawat kertas sebagai simbol itu dilaksanakan di atas puncak? Sehingga, para siswa dapat melihat pesawat yang dilemparnya itu dengan hati dan pikiran yang tenang, sembari membayangkan cita-cita mereka kelak.

Bukan suatu hal yang sulit bagi Negara untuk mempersiapkan acara ini dengan kemasan yang meriah, nyaman, teduh dan tetap sakral. Namun, ada yang tidak beres dengan prosesi ini. Untuk patuh pun, siswa-siswi ini harus melewati berbagai ujian: kemeng, menahan panas, muntah dan seterusnya.

Terakhir penulis tawarkan pada sodara, cobalah untuk melihat dua peristiwa ini diluar kewajaran. Jangan-jangan, aksi dua anak SD itu merupakan bentuk kritik, atau bahkan ke-muak-kan atas omong kosong pendidikan dasar yang tak jelas juntrungnya ini. Sederhananya, siswa-siswi itu berujar, “mau dibawa kemana kita orang pak, bu, dengan kurikulum yang gitu-gitu aja dan metode pembelajaran yang, gitu-gitu aja.”

Lalu, mereka ekspresikan melalui dua utusan siswa sekolah dasar seantero negeri dengan seradikal-radikalnya tindakan: muntah dan misuh. Apakah ini merupakan pijakan awal evolusi dari kepatuhan menuju ketidakpatuhan yang diprakarsai cah-cah milenial? Entah.

Jika penasaran dengan gambar atau videonya, bisa cari sendiri dengan keyword “PERESMIAN SISWA SD MUNTAH”.

*penulis adalah putera asli Madura dan meneruskan studi pendidikan tinggi di Surabaya. Memiliki weton Jumat Wage (masih dalam konfirmasi)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keterancaman Klepon yang Tak Islami 0 263

Kejutan deklaratif dari satu akun media sosial tentang pengumuman penting, bahwa klepon adalah jajanan “tak Islami”, menggegerkan orang banyak. Sebagian besarnya tentu saja mempertanyakan dengan nada nyinyir tapi juga was-was: apakah kita sepengangguran itu hingga menyoal sebuah objek tak penting dengan klaim biner Islami dan tak Islami? Apa kehabisan alternatip membahas yang lain, yang important-important aja gitu?

Eittsss. Maap, sekadar mengingatkan. Klepon adalah subjek maha-penting. Ia berdiri mewarisi ingatan kolektif populasi, mengantarai kenangan-kenangan bertetangga dan pulang kampung. Ia barang sederhana yang ditumpangi oleh bejibun kepentingan pertemuan, kenduren, rapat-rapat, dan bingkisan hangat — itu sebabnya, klepon juga bagian penting dari peristiwa kebudayaan. Singkatnya, klepon adalah pantulan diri kita sendiri. Menyebutnya sebagai tidak penting tentu adalah penyederhanaan dan ketakpahaman tentang hakikat rasa dan ikatan peristiwa.

Lalu, tentang klaim tak Islami. Kau tahu, resep berjualan praktis dan taktis kini sering mengawinkan apapun dengan agama: hotel Syariah, pariwisata Islami, bank Syariah, kredit umat (sebuah peristilahan yang sangat membingungkan), gadai Syariah dan tentu saja termasuk jajanan Islami.

Maka, kemegahan klepon sebagai barang maha-penting hanya bisa dikalahkan secara ekonomi dengan melabelinya sebagai yang lain, yang asing, yang ‘bukan Islam’. Seolah-olah kompetisi melawan klepon — seperti halnya politik — hanya dapat dimenangkan dengan jurus agama. Masih ingat dengan Inul Daratista? Ia harus dihajar dengan ‘goyang ngebor tak bermoral’ sekadar untuk menghabisinya dari puncak daftar lagu paling laku saat itu.

Tapi lalu tatkala dilacak muasal geger ini, tak ditemukan akun yang tersemat dalam gambar provokatif iklan klepon. Antara lenyap atau palsu. Dan, sebagaimana biasanya, segera muncul spekulasi bahwa ini adalah cara-cara licik untuk mendiskreditkan umat Islam. Sebuah pemikiran yang dapat saja diterima, meski tak kalah ganjilnya.

Keanehan terbesarnya adalah mengapa kita menjadi begitu mendarahdagingkan corak berpikir Islam dan bukan Islam, kelompok sana dan kelompok sini. Seolah-olah Islam senantiasa berada dalam keterancaman dari luar yang gawat, yang sangat genting dan berisiko membinasakan. Semua hal yang tak sesuai, berbeda, apalagi melawan, akan segera masuk kotak sebagai “mereka yang mengancam”, hal-hal yang nista dan patut diberi pelajaran.

Pada saat yang sama, ada semacam kesadaran bahwa kita mempersepsi diri sebagai kelompok yang sangat rapuh ringkih, yang mudah goyah oleh sesuatu yang berbeda. Kita paranoid dengan apa saja yang dikemas dengan agama. Kita ketakutan pada manipulasi postingan klepon hingga mengancam pelakunya sebagai mendiskreditkan Islam!

Kau kenal PKI? Yang katanya ateis itu? Berpuluh-puluh tahun punah, terlarang, dan dibunuh, tapi ada orang percaya bahwa 60 juta PKI masih hidup di Indonesia. Kita dibentuk dan dibesarkan oleh keyakinan politis bahwa eksistensi kita akan selalu rentan. Terhadap apapun yang diyakini berbahaya.

Mungkin saja ada benarnya, bahwa ada bahaya di luar sana. Bahwa ada upaya sistematis kebangkitan PKI, bahwa ada strategi rapi untuk melemahkan umat. Tapi, kita perlahan lupa hidup untuk apa. Terlampau sibuk mengutuki (hantu?) apa-apa saja yang dirasa tajam mengancam.

Dan yang jauh lebih gawat dari itu: kita larut pada bentukan-bentukan arah politik para elite nun jauh di sana. Kau tahu, mereka-mereka ini rajin sekali membentuk opini. Mereka harus membuatmu yakin terhadap musuh tertentu, agar kau menyatu bersama kau-kau yang lain, membentuk sekumpulan yang solid dan akan segera diklaim sebagai “dukungan politik” bagi elite yang memulai isu tersebut.

Kita seolah-olah dipersatukan sebagai umat yang melawan hal-hal tak “Islami”, tapi pada akhirnya, kita dilihat sebagai sekumpulan pemilik suara, digembalakan oleh pemandu yang mahir mengawin-ngawinkan apapun dengan agama. Untuk dukungan politik. Untuk pemilu lalu dan nanti tentu saja.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Kemarahan Jokowi dan Kambing Hitam Menteri 0 282

Oleh: Reggy Dio Geo Fanny*

Beredar video Jokowi yang tengah marah-marah dan ancam akan reshuffle para menterinya, dalam Sidang Kabinet Paripurna tanggal 18 Juni lalu di Istana Negara. Saya tertarik dengan beberapa statement yang dikemukakan oleh sejumlah ahli terkait video tersebut. Salah satunya ialah dari Hendri Satrio, analis Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina.

Hendri mengatakan: “Kemarahan ini seperti rakyat yang lagi marah” dan “Jokowi ini kerasukan rakyat, jiwa rakyat ada di dia.” Beberapa statement selanjutnya kemudian berusaha menghubungkan tindakan Jokowi sebagai sosok yang berada di pihak rakyat. Sementara para bawahannya sebagai pihak yang selama ini antipati terhadap situasi dan kondisi Indonesia.

Apakah benar seperti itu? Menurut saya, sebagian bisa jadi benar.

Salah satu indikator komunikasi kampanye sosial adalah role playing. Dalam tulisan Bettinghaus dan Cody di buku berjudul “Persuasive Communication” (1994), role playing adalah peran imajiner yang digunakan dengan sengaja untuk mempengaruhi orang lain agar dapat diterima di lingkungan sosial. Hal ini secara implisit ditunjukkan Jokowi dengan berusaha menunjukkan diri sebagai pemimpin yang berada di ‘pihak rakyat’. Di lain pihak, menciptakan peran kambing hitam: menteri dalam kabinetnya.

Tujuannya tidak lain adalah agar rakyat menerima pengakuan dosa dari pemerintah: kegagalan menjalankan tugas penanganan pandemi. Kalaupun rakyat tidak puas, masih ada ‘kambing hitam’ yang dapat mereka jadikan objek kekesalan, yaitu para menteri.

Namun, ada hal yang saya tetap tidak setuju.

Salah satunya ialah pernyataan Hendri yang menyamakan kemarahan ini sebagai kemarahan rakyat. Terlambat sudah untuk mengatakan ini adalah kemarahan rakyat. Kemarahan rakyat sudah terjadi sejak lama.

Rakyat sudah marah sejak beberapa pejabat istana terkesan menggampangkan Covid-19, seperti Menko Polhukam Mahfud MD yang mengatakan bahwa Covid-19 tidak akan masuk ke Indonesia karena susahnya perizinan. Rakyat sudah marah sejak beberapa pejabat pemerintah membuat gurauan terkait bahaya Covid-19, seperti pernyataan Menkes Terawan yang menyebut corona bak virus flu biasa dan dapat sembuh dengan sendirinya. Rakyat sudah lama marah sejak beberapa menteri terkesan tidak peduli terhadap Covid-19, seperti Menko Perekonomian Airlangga Hartanto yang justru ingin menambah anggaran influencer demi memancing masuknya turis.

Jadi, agak berlebihan untuk mengatakan kemarahan Jokowi merupakan kemarahan rakyat.

Jika pemerintah memang benar merupakan representasi dari rakyat, dan kemarahannya ialah kemarahan rakyat, maka Indonesia tidak akan mencapai taraf yang menyedihkan seperti sekarang – di mana angka penyebaran virus corona semakin tidak terkendali, fasilitas dan bantuan kesehatan tidak tersebar merata, dan tidak adanya kejelasan regulasi penanganan di daerah. Sebab – sekali lagi – bila Jokowi benar merupakan corong kemarahan rakyat, dia pasti telah marah jauh-jauh hari, bila perlu reshuffle kabinet lebih dini.

Akhir kata, perlu digarisbawahi bahwa di sini saya bukan tidak mendukung pernyataan atau ekspresi kemarahan Jokowi. Saya justru mengapresiasi tindakan ini sebagai hal yang positif, di tengah tabiat bawahannya yang nampak tidak serius di situasi darurat (atau extraordinary kalau kata beliau).

Saya hanya merasa bahwa hal ini tidak tepat untuk diglorifikasi. Toh faktanya, sejak kemarahan pakdhe sampai tulisan ini terunggah, masih belum ada perubahan signifikan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat (sebagai pihak yang disebut mewakili ‘kemarahan’).

 

*)Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Disebut kawan-kawan kampus ambisius ikut lomba kampus, padahal juga hobi ketiduran dan rebahan. Bisa dihubungi melalui akun medsos @reggydio.

*)Tulisan ini juga dimuat di e-Book “Eka-citta Writing Workshop Kamadhis UGM 2020” dan diedit seperlunya oleh tim redaksi.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks