Munta(p/h)nya Si Bocah Milenial 0 751

Oleh: Makrom Ubaid*

Jika sodara semasa sekolah dulu pernah dikerahkan untuk menyambut kedatangan presiden di daerah sodara, bersyukurlah. Tradisi penyambutan ini mengajarkan kita semua bagaimana cara menghargai pemimpin dengan cukup berdiri di trotoar jalan, melambaikan bendera kecil-kecil (sekitar 25×15 cm) dan kalo nggak salah, warnanya merah-putih.

Sebaliknya, jika sodara belum pernah mengikuti kegiatan penyambutan ini, tetaplah bersyukur. Sebab, sodara terselamatkan dari beban pikiran masa lalu yang jika diingat-ingat kembali, terasa konyol.

Lalu, darimana tradisi ini muncul? Jika mewajibkan pelajar untuk nobar Pengkhianatan G30S/PKI dalam kurun waktu 14 tahun dengan mudah dilakukan, apa susahnya mengerahkan siswa-siswi untuk menyambut kedatangan penguasa di pinggir-pinggir jalan?

Inilah salah satu warisan tradisi pendidikan masa lampau yang tetap mengajarkan: patuh pada kekuasaan. Pendidikan dasar kita, sejak dulu (baca: Orba) dipaksa untuk patuh pada kekuasaan berikut aktor-aktornya, tak urus bentuk kekuasaannya seperti apa. Salah satunya melalui tradisi penyambutan presiden yang tidak ada inovasi apapun hingga saat ini.

Dan ternyata, tradisi ini tetap dijaga dengan baik dari masa ke masa, rezim ke rezim. Melalui berbagai tradisi penyambutan ataupun peresmian kenegaraan, ada yang unik dengan peristiwa beberapa hari lalu. Mari kita tengok.

Selama menjabat sebagai presiden, dua peristiwa ini akan selalu diingat Jokowi, mungkin seumur hidupnya. Kalaupun lupa, masih bisa diingatkan. Pertama, sodara tentu masih ingat ketika anak SD ketelisut berujar ikan KNTL yang seharusnya TONGKOL. Kedua, baru-baru ini, di tengah peresmian pesawat N-219 di Halim Perdana Kusuma (HPK), salah seorang siswi SD muntah persis di hadapan Jokowi.

Untuk peristiwa pertama, Jokowi mungkin menganggapnya suatu keluguan yang patut ditertawakan. Namun, tidak untuk peristiwa yang kedua. Muntahnya siswa ini bukan suatu keluguan ataupun peristiwa yang menjijikkan.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting terkait peristiwa ini. Pertama, komposisi baris-berbaris antara Jokowi dan siswa-siswi. Bisa sodara praktikkan sendiri jika badan (leher hingga kaki) menghadap ke depan, tapi kepala mengarah ke kanan dan ke kiri (fokus ke presiden). Betapa kemeng-nya leher sodara.

Kedua, sosok perempuan anggun yang dipayungi di saat siswa-siswi menahan teriknya matahari (hm talah). Ketiga, perhatikan kertas merah yang dipegang siswa-siswi, itu adalah origami (seni melipat kertas) berbentuk pesawat. Lipatan kertas itu kemudian diterbangkan dengan cara dilempar dan mendarat tak beraturan di depan pelemparnya. Nah, prosesi ini yang paling garing, karena tidak ada kenikmatan apapun.

Dimana nikmatnya, ketika anak-anak usia 8-10 tahun melempar kertas berbentuk pesawat dan mendarat tepat dihadapannya sendiri? Bukankah lebih layak jika misalnya, pelepasan pesawat kertas sebagai simbol itu dilaksanakan di atas puncak? Sehingga, para siswa dapat melihat pesawat yang dilemparnya itu dengan hati dan pikiran yang tenang, sembari membayangkan cita-cita mereka kelak.

Bukan suatu hal yang sulit bagi Negara untuk mempersiapkan acara ini dengan kemasan yang meriah, nyaman, teduh dan tetap sakral. Namun, ada yang tidak beres dengan prosesi ini. Untuk patuh pun, siswa-siswi ini harus melewati berbagai ujian: kemeng, menahan panas, muntah dan seterusnya.

Terakhir penulis tawarkan pada sodara, cobalah untuk melihat dua peristiwa ini diluar kewajaran. Jangan-jangan, aksi dua anak SD itu merupakan bentuk kritik, atau bahkan ke-muak-kan atas omong kosong pendidikan dasar yang tak jelas juntrungnya ini. Sederhananya, siswa-siswi itu berujar, “mau dibawa kemana kita orang pak, bu, dengan kurikulum yang gitu-gitu aja dan metode pembelajaran yang, gitu-gitu aja.”

Lalu, mereka ekspresikan melalui dua utusan siswa sekolah dasar seantero negeri dengan seradikal-radikalnya tindakan: muntah dan misuh. Apakah ini merupakan pijakan awal evolusi dari kepatuhan menuju ketidakpatuhan yang diprakarsai cah-cah milenial? Entah.

Jika penasaran dengan gambar atau videonya, bisa cari sendiri dengan keyword “PERESMIAN SISWA SD MUNTAH”.

*penulis adalah putera asli Madura dan meneruskan studi pendidikan tinggi di Surabaya. Memiliki weton Jumat Wage (masih dalam konfirmasi)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Logika Hello Kitty Rebus vs Drama Korea 1 107

Beberapa waktu yang lalu, saya tak henti tertawa terbahak-bahak menonton cuplikan sinetron SCTV di mana satu keluarga terbelalak menyaksikan boneka Kekeyi Hello Kitty yang direbus di panci. Sungguh tak terduga, bukan?

Berawal dari seorang ibu-ibu berhijab pergi ke dapur, terkaget-kaget melihat sebuah boneka Hello Kitty yang dengan tabahnya berada di panci penuh air mendidih. “Astagfirullah!!!” kata ibu tersebut lalu dimatikanlah kompornya. Mendengar keributan tersebut, satu-persatu anggota rumah menghampiri ibu itu untuk melihat apa yang terjadi. Sama dengan ibu itu, mereka juga terkaget-kaget.

Tak hanya ihwal Hello Kitty yang direbus, ada adegan lain yang tak masuk akal. Pertama, saat masih di kamar, terlihat bahwa anak perempuan sang pemilik boneka nahas tersebut memiliki boneka Hello Kitty YANG SAMA dengan boneka yang direbus.

Kedua, anak tersebut kaget dan menangis padahal panci tersebut lebih tinggi dari dia, jadi seharusnya anak itu tidak dapat melihat isi dari panci tersebut.

Ketiga, masalah interior, furnitur, wardrobe, dan aspek-aspek artistik lainnya yang tidak cocok dengan latar belakang keluarga tersebut yang ceritanya horang kaya. Terlalu norak dan cheap-looking untuk orang kaya yang tinggal di perkotaan.

Tanpa berlama-lama, saya menutup video tersebut karena takut kantong ketawa saya rusak. Ironisnya, saya baru saja kembali menonton drama The World of The Married, drama Korea (drakor) dengan rating tertinggi yang pernah ditayangkan TV kabel,yakni sekitar 28 persen. Mulai dari plot, akting pemain, unsur artistik, dan sinematografi,semua begitu mengagumkan. Bahkan mereka memasukkan unsur psikologis agar karakter tokoh begitu kuat dan emosi penonton diaduk-aduk sampai mampus.

Seperti biasa, adegan nyeleneh semacam ini dengan cepat menjadi viral terutama di Twitter. Banyak netijen yang mengritik dan menertawai adegan ini. Alhasil, sang penulis skenario angkat bicara melalui “sebuah utasan” di Twitter.

Aya Swords (@ayaswords) menuliskan bahwa sudah tidak penting lagi adegan tersebut bisa dinilai akal sehat atau tidak. Yang terpenting adalah adegan tersebut lulus sensor dan selesai tepat waktu. Saat merumuskan adegan kontroversial tersebut, Aya Swods mengaku benar-benar ditekan deadline.

Penulis naskah tidak henti-hentinya menyusun skenario selama proses produksi berjalan, sedangkan produksi sinetron akan terus berlanjut selama rating masih tinggi. Pun juga deadline yang tak kunjung usai. Saya rasa kalau begini terus, tak hanya penonton yang kesehatan mentalnya terganggu karena sinetron yang tak kunjung tamat,tapi krunya juga!

Aya Swords juga menambahkan tak masalah bila netiken menilai adegan tersebut tak logis, toh ratingnya masih tinggi. Lagi pula, kita-kita memang bukan segmentasi sinetron tersebut, tapi ibu-ibu kampung.

Tentu beda sekali dengan sistem kerja drakor. Beda halnya dengan sinetron yang akhir ceritanya bergantung pada rating pemirsa, ending dari drakor sudah ditentukan sejak awal. Jadi, setelah skrip selesai, diajukan ke produser, dan barulah proses produksi dimulai. Entah ratingnya mau 5 persen atau bahkan 48 persen, kalau dari awal 16 episode, ya sampai akhir 16 episode.

Dengan begini, penulis bisa membuat skenario yang kualitasnya stabil serta logis. Mereka masih berkesempatan untuk menulis naskah berdasarkan riset.

Sayang sekali memang, apabila sinetron hanya mengejar rating dengan memperpanjang episode. Tak hanya kualitasnya yang menurun dan membuat kita mual, tapi lama-lama para pekerja di dalamnya semakin tak optimal kerjanya, seperti yang dipaparkan Aya Swords tadi.

Padahal, drama yang berkualitas sudah otomatis membuat rating jadi tinggi. Kalau sudah waktunya tamat, ya buat lagi yang baru. Dengan begitu, tidak membuat penonton bosan.

Bahkan, apabila sinetron memiliki cerita yang lebih bisa masuk akal sehat, mungkin segmentasi akan meluas. Drakor misalnya yang dulu hanya diminati ciwi-ciwi penggila drakor. Kini mereka yang berikhtiar tidak akan menonton drakor (khususnya laki-laki), pada akhirnya nonton juga.

Sekarang siapa coba yang tidak tahu si ganteng Kapten Ri atau si pelakor Da Kyung? Dengan begini, sudah pasti iklan dan sponsor juga makin bertambah.

Drakor yang memiliki banyak penggemar pada akhirnya punya pengaruh yang luar biasa. Saya pribadi, tahu ada negara bernama Korea Selatan gara-gara drakor Full House yang dibintangi Song Hye Kyo dan Rain.

Drakor bahkan juga punya peranan penting dari mendunianya budaya Korea Selatan, mulai dari makanan,  fashion, hingga bahasa (gara-gara drakor, kalau kaget kita bukan bilang  “astaga” lagi, melainkan “aigoo”).

Selain mempengaruhi penonton akan budaya Korea, barang-barang yang dipakai karakter drakor juga menjadi incaran. Pada tahun 2014, kaus bergambar Bambi keluaran Givenchy serta lipstick warna pink nyentrong ludes di Korea Selatan karena dipakai Cheon Song Yi di drama My Love From The Star.

Meski bukan endorsement, tapi ini membuktikan bahwa drama punya potensi untuk menjadi media promosi yang ampuh. Ternyata tak hanya commercial break, tapi drama itu sendiri juga bisa jadi lapak untuk cari uang.

Entah bisa atau tidak terjadi, tapi saya sangat berharap adanya pembenahan sinetron di Indonesia. Dari drama negeri ginseng kita belajar, bahwa sistem produksi yang lebih “sehat” serta cerita yang gak ngawur, malah membuat drama tersebut lebih menghasilkan duit ketimbang mengulur-ngulur episode.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (Instagram: @petiteanette)

“Gak Sengaja”, Hukum Indonesia, dan Pelakor di Drama Koriyah 0 148

Mau ngumpulin orang-orang yang kecewa dengan hukuman satu tahun para terdakwa penyiram air keras Novel Baswedan, sambil memperingatkan bahwa tulisan ini mengandung sedikit sepoiler drama.

(Penulis masih nggak tahu apa faedah ngumpulin orang-orang secara virtual begini. Nggak tahu lagi ada Corona apa?!)

Beberapa hari lalu, jaksa penuntut umum mengajukan hukuman kurungan 12 bulan bagi Rahmat Kadir Mahulette dan Rony Bugis. Mereka disebut melakukan penganiayaan berat dengan menyiram cairan asam sulfat kepada penyidik senior KPK, Novel Baswedan, sepulang sholat subuh 3 tahun silam. Kita tentu tidak bisa lupa, bahwa kejadian itu menyebabkan Novel kehilangan sebagian indra penglihatannya.

Dari pengajuan hukuman jaksa itu, banyak warga negeri ini yang meradang. Caci maki terhadap hukum Indonesia diajukan melalui laman media sosial, satu-satunya media yang dapat digunakan untuk nyampah aktualisasi diri. Kita semua lantas kecewa dengan sistem hukum Indonesia yang sudah sejak lama memihak pada sang empunya jabatan dan materi.

Tak lupa kita bernostalgia, mengenang betapa heroiknya KPK sebagai lembaga antirasuah, penghapus noda korupsi membandel negeri ini. Kita bersimpatik sungguh pada Novel, seorang yang bahkan ketemu apalagi nraktir semangkuk bakso buat kita aja gak pernah.

Pernyataan “ketidaksengajaan” yang muncul di persidangan dan akhirnya diduga kuat meringankan tuntutan hukum terdakwa itu, dijadikan konten oleh yang mengaku influencer. Betapa kata “gak sengaja” kini ramai dijual, menduduki trending topic. Kita menertawai kata tersebut. Hukum negara ini kita anggap jenaka.

Peristiwa ini memang menjadi pertanda bahwa masyarakat kita, walau nampak di taraf hanya peduli bikin TikTok dan challenge-challenge sembarang kalir di medsos, rupanya juga menaruh perhatian pada persoalan hukum dan politik negeri. Tentu ini kemajuan di satu sisi.

Kemudahan informasi dan akses yang diberikan teknologi membuat kita bisa membaca, menelaah, dan menganalisa kronologi perjalanan kasus Novel. Semua mendadak menjadi pengamat politik dan sarjana hukum jalur Twitter dengan diktat hukumonline.com.

Kita merasa menjadi makhluk paling suci jika ada yang mengusik kehidupan serdadu utama pemberantas korupsi. Kita merasa menjadi kaum yang paling berhak menentukan bahwa 1 tahun saja tak cukup. Kita ingin terdakwa dan otak di balik rencana jahat ini hidup menderita, berharap hakim memvonis hukuman seumur hidup.

Sama seperti kelakuan kita pada tokoh fiksi Yeo Da Kyung, karakter pelakor di drama Korea terlaris tahun ini: The World of Married. Penonton Indonesia ingin sang pelakor hidup menderita atas segala dosa yang diperbuat. Segenap mereka tidak terima melihat ending cerita Da Kyung yang tetap baik-baik saja, hidup dalam gelimang harta.

Kalau bisa, tak hanya meneror akun Instagram sang aktris, netijen gemas ingin menyurati sutradara, agar dibuatkan satu saja scene memuat adegan penyiraman air keras pada sang pelakor. Mungkin dengan berakhirnya wajah Da Kyung yang rusak, baru penonton bisa benar-benar puas (lha kok jadi kayak plot sinetron Endonesah?!).

Yang penonton lupa, Yeo Da Kyung, seorang gadis usia 20-an yang hamil di luar nikah dengan suami orang, telah menghabiskan masa mudanya, tak sempat mengejar cita-citanya, hanya karena nuruti mangan cinta dan janji manis bojone wong liyo.

Dari drama ini, kita lupa belajar tentang kehidupan. Hanya terfokus untuk belajar mengawasi suami ketika keluar rumah agar ia tak selingkuh. Kita lupa belajar bahwa apapun keputusan yang kita buat, telah menemui konsekuensinya masing-masing. Tak ada yang paling berhak menilai apakah ganjaran perbuatan sudah cukup memberatkan atau tidak.

Demikianlah kacamata kita yang sempit. Gak sengaja menertawai kebodohan orang lain, tanpa sadar bahwa perlakuan kita pun tak jauh lebih baik. Kita sengaja memilih satu-dua fakta kesalahan orang lain. Tapi juga sengaja mengabaikan nilai-nilai yang sebaiknya kita petik dan pelajari, agar kesalahan yang sama tak terulang pada hidup kita.

Lha wong menilai drama yang fiktif saja kita sengaja memilih poin yang hanya mau kita dengar, apalagi dalam kehidupan nyata. Hehe.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks