Munta(p/h)nya Si Bocah Milenial 0 566

Oleh: Makrom Ubaid*

Jika sodara semasa sekolah dulu pernah dikerahkan untuk menyambut kedatangan presiden di daerah sodara, bersyukurlah. Tradisi penyambutan ini mengajarkan kita semua bagaimana cara menghargai pemimpin dengan cukup berdiri di trotoar jalan, melambaikan bendera kecil-kecil (sekitar 25×15 cm) dan kalo nggak salah, warnanya merah-putih.

Sebaliknya, jika sodara belum pernah mengikuti kegiatan penyambutan ini, tetaplah bersyukur. Sebab, sodara terselamatkan dari beban pikiran masa lalu yang jika diingat-ingat kembali, terasa konyol.

Lalu, darimana tradisi ini muncul? Jika mewajibkan pelajar untuk nobar Pengkhianatan G30S/PKI dalam kurun waktu 14 tahun dengan mudah dilakukan, apa susahnya mengerahkan siswa-siswi untuk menyambut kedatangan penguasa di pinggir-pinggir jalan?

Inilah salah satu warisan tradisi pendidikan masa lampau yang tetap mengajarkan: patuh pada kekuasaan. Pendidikan dasar kita, sejak dulu (baca: Orba) dipaksa untuk patuh pada kekuasaan berikut aktor-aktornya, tak urus bentuk kekuasaannya seperti apa. Salah satunya melalui tradisi penyambutan presiden yang tidak ada inovasi apapun hingga saat ini.

Dan ternyata, tradisi ini tetap dijaga dengan baik dari masa ke masa, rezim ke rezim. Melalui berbagai tradisi penyambutan ataupun peresmian kenegaraan, ada yang unik dengan peristiwa beberapa hari lalu. Mari kita tengok.

Selama menjabat sebagai presiden, dua peristiwa ini akan selalu diingat Jokowi, mungkin seumur hidupnya. Kalaupun lupa, masih bisa diingatkan. Pertama, sodara tentu masih ingat ketika anak SD ketelisut berujar ikan KNTL yang seharusnya TONGKOL. Kedua, baru-baru ini, di tengah peresmian pesawat N-219 di Halim Perdana Kusuma (HPK), salah seorang siswi SD muntah persis di hadapan Jokowi.

Untuk peristiwa pertama, Jokowi mungkin menganggapnya suatu keluguan yang patut ditertawakan. Namun, tidak untuk peristiwa yang kedua. Muntahnya siswa ini bukan suatu keluguan ataupun peristiwa yang menjijikkan.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting terkait peristiwa ini. Pertama, komposisi baris-berbaris antara Jokowi dan siswa-siswi. Bisa sodara praktikkan sendiri jika badan (leher hingga kaki) menghadap ke depan, tapi kepala mengarah ke kanan dan ke kiri (fokus ke presiden). Betapa kemeng-nya leher sodara.

Kedua, sosok perempuan anggun yang dipayungi di saat siswa-siswi menahan teriknya matahari (hm talah). Ketiga, perhatikan kertas merah yang dipegang siswa-siswi, itu adalah origami (seni melipat kertas) berbentuk pesawat. Lipatan kertas itu kemudian diterbangkan dengan cara dilempar dan mendarat tak beraturan di depan pelemparnya. Nah, prosesi ini yang paling garing, karena tidak ada kenikmatan apapun.

Dimana nikmatnya, ketika anak-anak usia 8-10 tahun melempar kertas berbentuk pesawat dan mendarat tepat dihadapannya sendiri? Bukankah lebih layak jika misalnya, pelepasan pesawat kertas sebagai simbol itu dilaksanakan di atas puncak? Sehingga, para siswa dapat melihat pesawat yang dilemparnya itu dengan hati dan pikiran yang tenang, sembari membayangkan cita-cita mereka kelak.

Bukan suatu hal yang sulit bagi Negara untuk mempersiapkan acara ini dengan kemasan yang meriah, nyaman, teduh dan tetap sakral. Namun, ada yang tidak beres dengan prosesi ini. Untuk patuh pun, siswa-siswi ini harus melewati berbagai ujian: kemeng, menahan panas, muntah dan seterusnya.

Terakhir penulis tawarkan pada sodara, cobalah untuk melihat dua peristiwa ini diluar kewajaran. Jangan-jangan, aksi dua anak SD itu merupakan bentuk kritik, atau bahkan ke-muak-kan atas omong kosong pendidikan dasar yang tak jelas juntrungnya ini. Sederhananya, siswa-siswi itu berujar, “mau dibawa kemana kita orang pak, bu, dengan kurikulum yang gitu-gitu aja dan metode pembelajaran yang, gitu-gitu aja.”

Lalu, mereka ekspresikan melalui dua utusan siswa sekolah dasar seantero negeri dengan seradikal-radikalnya tindakan: muntah dan misuh. Apakah ini merupakan pijakan awal evolusi dari kepatuhan menuju ketidakpatuhan yang diprakarsai cah-cah milenial? Entah.

Jika penasaran dengan gambar atau videonya, bisa cari sendiri dengan keyword “PERESMIAN SISWA SD MUNTAH”.

*penulis adalah putera asli Madura dan meneruskan studi pendidikan tinggi di Surabaya. Memiliki weton Jumat Wage (masih dalam konfirmasi)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Parade Isu Seksi Jelang Peringatan G30S 0 70

Helloh gess, September telah tiba. Ini bulannya hura-hura tentang trauma. Pasti kamu sudah hapal: sebentar lagi kita akan menyimak debat seolah-olah tentang peristiwa 1965. Tapi sedihnya, tulisan ini bukan ke sana.

Kita akan mencoba merunut isu-isu apa yang hadir, coba dihadirkan, atau dipaksa dihadirkan, menjelang peringatan G30S. Isu-isu yang, yaaa, sesuai tradisi, akan memanas dan sering setiap tahunnya merepotkan rejim. Berikut isunya:

  • Perpindahan Ibukota
  • Livi Zheng
  • Djarum yang disetop audisinya oleh KPAI
  • Jokowi main sama putunya
  • Iuran BPJS naik
  • Esemka diresmikan

Apalagi gess?

Ohya, ini penting karena beberapa sebab. Pertama, mengamati isu-isu “tak penting” justru menjadi sangat penting hari ini untuk melihat bagaimana strategi kekuasaan memainkan lalu-lintas diskusi dan menginterupsi tiap isu. Kalau ente jeli, akan tampak bagaimana pengendalian atas persepsi kita dimainkan dan dikonsentrasikan pada hal-hal tertentu, agar hal-hal lain dapat diminimalkan dampaknya.

Tentu saja arahnya dapat ditebak: mendebat Livi Zheng jauh lebih aman ketimbang ente didatangi Kivlan Zen untuk membeberkan rencana kebangkitan PKI. Atau bicara memindah ibukota lebih asyik daripada memperdebatkan jumlah korban sebetulnya pada genosida 65 duluuu sekali.

Kedua, dari isu-isu tersebut, kesemuanya saksess menjadi tren perbincangan. Esemka, BPJS, dan Ibukota berkaitan langsung dengan agenda pemerintah. Perpindahan ibukota yang terparah, terlalu kentara digunakan sebagai “umpan peluru”, seolah-olah ide ini dilempar untuk dihabisi. BPJS dan Esemka sebelas dua belas, memancing sekaligus mengepung orang dengan kontroversi agar terus-menerus diperdebatkan.

Jadi, mari nanti kita tengok menjelang tumbangnya waktu dan mendekatnya tanggal 30, barang sampah apa saja yang akan dihamburkan oleh media kita.

Tapi toh dibawa santai saja! Kadang-kadang terlalu serius juga tak baik bagi kesehatan jiwa.

 

Annabelle Rukhiyat

Selain menekuni permakelaran tanah, penulis juga magang sebagai penjaga ponten.

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 103

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Editor Picks