Pahlawan Kita Hari Ini Adalah: Perpustakaan! 0 954

Kalau pahlawan didefinisikan sebagai figur berjasa bagi bangsa-negara, yang darinya seisi anak bangsa hari ini berhutang terlampau banyak, maka menjadi sah jika kami deklarasikan pahlawan kita hari ini adalah perpustakaan. Indikator lain kepahlawanan adalah bahwa figur/sosok itu biasanya telah almarhum. Sudirman, Otto Iskandar, Tan Malaka, Soeharto (ups), sudah tiada dan juga biasa disebut pahlawan.

Tepat sekali bukan? Tidakkah kini perpustakaan-perpustakaan mirip zombie tak bernyawa? Sudah terbunuh atau kita bunuh dalam pilihan-pilihan di pikiran kita?

Padahal, bukankah masa-masa belia kita juga diiringi kenangan berkunjung ke perpus yang berjasa amat banyak pada pengerjaan tugas dan hal-hal lain?

Di abad pertengahan, para pendeta ordo Benedictus berpayah-payah melestarikan dan menciptakan perpustakaan yang menyimpan literatur kuno jaman Hellenis untuk diwariskan pada para generasi sesudahnya. Di masa kini, enam puluh empat gigabita memori dalam ponsel pintar kita mampu menyimpan buku lebih kaya dibanding perpustakaan kampus—yang sepi dan makin angker itu. Jauh sekali bedanya bukan?

Siapa yang masih meminjam buku ke perpus ketika berita-berita atau artikel dan e-book, yang asli maupun abal-abal, makin cepat dan mudah didapat? Atau, yang lebih cetha, siapa yang masih bersemangat memburu buku-buku klasik di rak-rak magis, sementara blingsatan tatkala WhatsApp, beberapa hari yang lalu, kolaps mendadak dan berhenti layanannya?

Semua hanya membuktikan bahwa kita makin melupakan kepahlawanan yang telah disumbang perpustakaan-perpustakaan itu.

Ruang perpus, yang kini menjadi makin dingin sekaligus sendu, adalah alternatif yang dulu acapkali diakses demi mencapai pengetahuan, tidak harus melalui guru atau dosen sebagai sumber pengetahuan tunggal. Perpustakaan secara tidak langsung mampu menumbuh-kembangkan kesadaran kritis dan kemandirian orang untuk mencari ilmunya sendiri, bukan cuma diandalkan dan mendadak ramai karena dipaksa guru atau dosen. Bukan hanya didatangi semata lantaran di sana sumber wifi cepat melesat dan gratis pula.

Di samping itu, perpustakaan bukanlah sekedar ruang fisiologis yang berisi deret demi deret buku. Lebih dari itu, perpustakaan adalah ruang kultural di mana terjadi pertukaran ide-ide dan imajinasi sosial bagi para penggunanya—juga tempat tepe-tepe pada para aduhai kutu buku berkacamata yang manis. Ruang perpustakaan dapat digunakan sebagai, apa yang disebut Jurgen Habermas, “ruang publik” (public sphere), tempat terjadinya kebebasan mengakses informasi, memperbincangkan serta mendiskusikan suatu isu dengan leluasa dan otonom.

Kota-kota metropolitan memiliki luas raksasa dan dipenuh-sesaki dengan himpitan gedung mal yang menjulang. Perpustakaan silakan minggir dulu dari prioritas pembangunan. Buku-buku tak lagi penting karena kecerdasan bukan lagi urusan Negara: perkara otak kini menjadi tanggung-jawabmu sendiri!

Pahlawan memang ditakdirkan untuk selalu dalam ancaman dilupakan. Itu sebabnya kita diminta terus mengingat-ingat.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 340

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Surat untuk Bu Pemred dan Semua Anak Jakarte 0 123

Jokowi yang baru-baru saja melempar isu ibukota baru harus bertanggung jawab pada banyak hal. Mula-mula, ehm, ya tentang tuduhan bahwa “Jakarta baru” di Borneo sana adalah semacam pembelokan isu. Tapi tuduhan macam ini biasanya diselesaikan oleh buzzer-buzzer aktip kreatip, jadi kita skip untuk sementara.

Soal serius dari ini: siapa yang mengobati sakit hati Bu Demes yang sudah telanjur tinggal di Jakarta, dan ketika lagi sayang-sayangnya malah ditinggal minggat status ke-ibukota-annya? Berlaku pula teruntuk pesohor-pesohor yang menjadi besar nyali artisnya lantaran status ibukota.

Saya pernah suatu ketika menyimak obrolan superior mahasiswa “lo-gue” yang di telinga bikin geli tapi menarik. Mereka membahas mengapa hidup di Jakarta “ngangenin”, kendati macetnya sungguh luar bioskop, belum lagi polutan-polutan yang biadab. Kata salah satu tokoh dalam obrolan itu (tampaknya ia salah satu selebgram, dilihat dari alis mata dan warna semir rambutnya yang, ehm, keluar lintasan): “..yaa gimana2 jakarta tuh pusat. Lo mo ngomong macet kek, tapi semua-mua dari sana”.

Asoi betul logikanya. Dan dalam beberapa hal betul.

Tapi apa yang ditawarkan Jokowi dari perpindahan Ibukota? Atau sebetulnya tak perlu resep penawar apa-apa bagi mereka yang sudah telanjur sayang? Bagi mereka yang sudah kepalang mengadu nasib di Jakarta? Atau, yang paling gaswat, jangan-jangan tak perlu solusi apapun tentang ini karena perpindahan itu ada atau tiadanya tak punya dampak apapun?

Apa mau syahrini pindah ke Kaltim dan menjadi artis bau tambang? Atau sinetron-sinetron menjadi belepotan dan pada akhirnya membuat semacam reality show “apa dan bagaimana hidup di tengah tambang”?

Jika pada akhirnya perpindahan ibukota Cuma soal pindah status, yaa lalu yang berpindah apanya. Apakah tak ada cara lain yang lebih elegan untuk bakar duit?

Skian dan terima gadis.

 

Joni Locke

Belajar filsahwat, merantau ke negeri jauh.

Editor Picks