Paling Tidak, Robot Tak Mengenal Baper 0 641

Bayangkan, pas kita lagi enak-enak menyetir motor ke kampus, tiba-tiba dari kanan nyelonong motor tanpa pengemudi (mungkin juga tanpa ban). Bisa jadi, saking muaknya sama jalanan beserta seluruh peristiwa syaithonnirojiim di dalamnya, motor itu kini bisa mumbul. Kita tak perlu lagi capek-capek nyalip sana-sini untuk menghindari kemacetan atau sekedar kubangan tai air yang keberadaannya susah diprediksi.

Bayangkan juga, berapa dosa yang bisa kita hemat karena nggak perlu lagi misuhi jalan?

Jangan tanya soal imajinasi apalagi itu. Teknologi yang lima sampai sepuluh tahun lalu hanya ada di pikiran kita—dan filem, tentunya—saat ini banyak yang mulai terwujud. Sebut saja, auto-car, mobil tanpa pengemudi yang cocok buat para wanita karir (dan menyusui) yang tak sempat make-up di rumah; hoverboard, inovasi kendaraan tanpa roda, memakai baling-baling bambu yang berputar sekian ribu rpm agar bisa menyamai aksi-aksi lincah layaknya filem Star Wars; serta yang paling kontroversial ialah penciptaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, yang bisa membuat dan memperbarui programnya sendiri tanpa bantuan manusia.

Meski masih dalam tahap pengembangan, namun pro dan kontra soal penemuan AI terus mencuat. Ada yang berpendapat bahwa AI bisa lebih berbahaya dari manusia sekalipun, sebab (sebut saja) robot itu akan menjadi susah dikendalikan. Bagaimanapun, ia adalah serangkaian program yang didesain “pintar”—ia dapat merekam pola-pola tertentu sekaligus membuat prediksi tentang perilaku seseorang.

Smartphone pun menerapkan sistem kecerdasan buatan, hanya saja dalam bentuk yang sangat sederhana. Saking pintarnya, bahkan kita merelakan daya ingatan dan intuisi pada satu benda mungil itu. Saat kalian nulis ultah pacar di notes, ponsel sudah bekerja untuk mencari kado atau teknik surprise macam apa yang cocok. Harusnya, target operasi cemburu paling tepat di zaman now adalah ponselmu sendiri.

Maka benar kalo simbah Stephen Hawking marah besar dengan teknologi AI. Menurutnya, ketika pengembangan teknologi itu sudah mencapai ma’rifat, bisa saja ia mendesain ulang programnya sendiri lalu membangkang sama penciptanya. Dalam kondisi paling sial, robot-robot yang diisi kecerdasan buatan bisa sewaktu-waktu mendeklarasikan perang kepada manusia, bahkan sampai memusnahkan manusia!

Persis sama filem-filem Amerika yang cuma cari duit.

Namun seyogyanya sebagai umat budiman, kita tidak boleh punya prasangka buruk terhadap apapun. Teknologi robot AI terbukti sangat berguna bagi kebutuhan manusia. Mulai dari makan, minum, nongki, kencan, nugas, dan sederet kegiatan lain bisa termudahkan dengan cuma ngomong: oke, gugel!

Atau bagi mahasiswa semester tanggung yang kebelet dikejar dosen (jomblo pula), pastinya jadwal tidur nggak ada yang ngingetin akan keteteran sehingga butuh assistant dalam bentuk aplikasi seluler. Persis jadwal imsakiyah di TV.

Baru-baru ini, robot dengan AI sudah diciptakan di Saudi Arabia dengan nama Sophia. Ia bahkan mendapat kewarganegaraannya sendiri. Dilihat dari fisik, ia lebih sempurna dan ekspresif dari robot-robot terdahulu yang lebih mirip kaleng krupuk.

Dalam politik, Sophia bisa sangat berguna dalam membantu delegasi maupun pengambilan keputusan. Mungkin, kecerdasan buatannya bahkan bisa memprediksikan sampai tanggal berapa kira-kira Presiden Trump main golf di Bukit Mas dengan Fadli Zon. Atau, prosentase popularitas Ahmad Dhani dibandingkan Nassar ketika mau maju jadi Cagub Jatim.

Nantinya, di saat-saat krisis, Sophia tak perlu kuatir tanggungan rumah sakit waktu dipanggil sama KPK, sebab menghilangkan data kriminal tampaknya lebih mudah dari cuma update foto sakit. Apalagi sampai harus melaporkan balik orang-orang cilik bin nganggur yang kebetulan lagi panjat sosial dengan mengunggah meme.

Paling tidak, Sophia nggak punya perasaan sehingga tak perlu takut di-dzolimi.

Paling-paling, nanti akan muncul banyak pertanyaan, “eh, Sophia, ente kok nggak berjilbab sih? Emang nggak malu sama auratnya?”

Lalu dengan satu jawaban pamungkas, ia jawab: lha wong aku ini robot feminis, kok!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 340

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Surat untuk Bu Pemred dan Semua Anak Jakarte 0 124

Jokowi yang baru-baru saja melempar isu ibukota baru harus bertanggung jawab pada banyak hal. Mula-mula, ehm, ya tentang tuduhan bahwa “Jakarta baru” di Borneo sana adalah semacam pembelokan isu. Tapi tuduhan macam ini biasanya diselesaikan oleh buzzer-buzzer aktip kreatip, jadi kita skip untuk sementara.

Soal serius dari ini: siapa yang mengobati sakit hati Bu Demes yang sudah telanjur tinggal di Jakarta, dan ketika lagi sayang-sayangnya malah ditinggal minggat status ke-ibukota-annya? Berlaku pula teruntuk pesohor-pesohor yang menjadi besar nyali artisnya lantaran status ibukota.

Saya pernah suatu ketika menyimak obrolan superior mahasiswa “lo-gue” yang di telinga bikin geli tapi menarik. Mereka membahas mengapa hidup di Jakarta “ngangenin”, kendati macetnya sungguh luar bioskop, belum lagi polutan-polutan yang biadab. Kata salah satu tokoh dalam obrolan itu (tampaknya ia salah satu selebgram, dilihat dari alis mata dan warna semir rambutnya yang, ehm, keluar lintasan): “..yaa gimana2 jakarta tuh pusat. Lo mo ngomong macet kek, tapi semua-mua dari sana”.

Asoi betul logikanya. Dan dalam beberapa hal betul.

Tapi apa yang ditawarkan Jokowi dari perpindahan Ibukota? Atau sebetulnya tak perlu resep penawar apa-apa bagi mereka yang sudah telanjur sayang? Bagi mereka yang sudah kepalang mengadu nasib di Jakarta? Atau, yang paling gaswat, jangan-jangan tak perlu solusi apapun tentang ini karena perpindahan itu ada atau tiadanya tak punya dampak apapun?

Apa mau syahrini pindah ke Kaltim dan menjadi artis bau tambang? Atau sinetron-sinetron menjadi belepotan dan pada akhirnya membuat semacam reality show “apa dan bagaimana hidup di tengah tambang”?

Jika pada akhirnya perpindahan ibukota Cuma soal pindah status, yaa lalu yang berpindah apanya. Apakah tak ada cara lain yang lebih elegan untuk bakar duit?

Skian dan terima gadis.

 

Joni Locke

Belajar filsahwat, merantau ke negeri jauh.

Editor Picks